Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Menghadapi era globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

disegala bidang termasuk bidang kesehatan dan untuk mewujudkan visi Indonesia

sehat 2010, maka peningkatan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan

terjangkau sudah saatnya dilakukan. Hal ini mengandung makna bahwa salah satu

tanggung jawab sektor kesehatan adalah menjamin tersedianya pelayanan

kesehatan yang bermutu.

Menurut Undang-Undang Kesehatan No.23 Tahun 1992 pasal 10, untuk

mewujudkan derajad kesehatan yang optimal tersebut, maka diselenggarakan

pelayanan kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan

(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan

pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh,

terpadu dan berkesinambungan.

Pelayanan kesehatan meliputi pelayanan keperawatan profesional, Perawat

Indonesia di masa mendatang harus dapat memberikan asuhan keperawatan yang

berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK dan tuntutan kebutuhan

masyarakat (Nursalam, 2003), sehingga fokus perawatan beralih dari pendekatan

yang berorientasi medis-penyakit ke model yang berfokus pada klien. Klien

dilihat sebagai partisipan aktif dan bukan penerima perawatan yang pasif,

1
sehingga peran asuhan keperawatan harus memperhatikan kebutuhan klien yang

meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual (Ellis, Gate dan Kenworthy, 2000).

Komunitas keperawatan meyakini manusia sebagai makhluk bio-psikososio-

kultural dan spiritual yang utuh berespon terhadap suatu perubahan yang terjadi,

antara lain karena gangguan kesehatan dan penyimpangan pemenuhan kebutuhan

manusia. Untuk dapat memenuhi kebutuhan secara holistic dan unik diperlukan

pendekatan yang komprehensif dan bersifat individu bagi setiap klien. Pendekatan

yang holistic dan unik ini pada dasarnya merupakan menifestasi dari keterpaduan

intelektual, interpersonal, teknikal dan etika dari tiap perawat.

Salah satu fungsi perawat adalah fungsi independen yang merupakan fungsi

mandiri dan tidak tergantung pada petugas medis lain, dimana perawat dalam

melaksanakan tugasnya dilakukan secara mandiri dengan keputusannya sendiri

dalam melakukan tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar manusia

(Hidayat, 2004). Disini perawat harus mempunyai kemampuan untuk memberikan

asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni yaitu dalam upaya

memberikan kepuasan dan kenyamanan kepada klien, sehingga perawat perlu

menggunakan kiat-kiat tertentu (Gaffar, 1999).

Efek dari penyakit terhadap tubuh akan menimbulkan rasa nyeri (Guyton dan

Hall, 1997). Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu.

Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan kesehatan.

Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang paling sering tejadi di bidang

medis, nyeri merupakan salah satu yang paling sedikit dipahami. Individu yang

merasakan nyeri merasa tertekan atau menderita dan mencari upaya untuk
menghilangkan nyeri. Perawat menggunakan berbagai intervensi untuk

menghilangkan nyeri atau mengembalikan kenyamanan. Perawat tidak dapat

melihat atau merasakan nyeri yang klien rasakan. Nyeri bersifat subjektif, tidak

ada dua kejadian nyeri yang sama menghasilkan respons atau perasaan yang

identik pada seorang individu. Nyeri dapat merupakan faktor utama yang

menghambat kemampuan dan keinginan individu untuk pulih dari suatu penyakit

bahkan menyebabkan frustasi, baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan.

Perawat, klien, keluarga, dan anggota tim perawatan kesehatan harus

berkolaborasi untuk mencari pendekatan yang paling efektif dalam upaya

mengontrol nyeri. Perawat bertanggung jawab secara etis untuk mengontrol nyeri

dan menghilangkan penderitaan nyeri klien. Penatalaksanaan nyeri yang efektif

tidak hanya mengurangi ketidaknyamanan fisik tetapi juga meningkat mobilisasi

lebih awal dan membantu klien kembali bekerja lebih dini, mengurangi kunjungan

klinik, memperpendek masa hospitalisasi, dan mengurangi biaya perawatan

kesehatan.

Penanganan nyeri dengan cara non farmakologi perlu diterapkan.Tetapi,

kenyataan dilapangan klien yang mengeluh nyeri diberi analgetik (Wiknjosastro,

2005). Pada umumnya pasien dan anggota tim kesehatan berpendapat bahwa

analgetik sebagai satu-satunya penghilang nyeri (Smeltzer dan Bare, 2002).

Padahal yang seharusnya diberikan tindakan paliatif sebelum menggunakan obat-

obatan (Priharjo, 1993). Tetapi pemberian analgetik harus sesuai dengan yang

diresepkan. Hal ini disebabkan karena pemberian analgetik yang dalam jangka

panjang dapat menyebabkan ketergantungan (Sodikin, 2001).


Telah diketahui bahwa pemberian intervensi farmakologi seperti analgetik

untuk mengatasi nyeri sebagaimana sesuai dengan fenomena di atas, harus

diseleksi untuk menghilangkan atau mengurangi efek samping dari obat-obatan

terhadap kesehatan tubuh individu, karena penggunaan obat analgetik dalam

jangka panjang dan dosis yang tinggi dapat menimbulkan hepatotoksik yang

berlanjut timbulnya nekrosis hati, selain itu pengunaan obat farmakologi tersebut

khususnya jenis narkotik dapat menyebabkan depresi sistem pusat pernafasan

yang akhirnya dapat menyebabkan kematian (Kee dan Hayes, 1996).

Dalam hal lain, seperti pada nyeri yang sangat hebat yang berlangsung berjam-

jam atau bahkan berhari-hari, pengkombinasian antara teknik farmakologi dan

teknik non farmakologi adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan

nyeri (Smeltzer dan Bare, 2002). Menurut Susilo (2005) penanganan nyeri dengan

metode paliatif merupakan modal utama untuk menuju kenyamanan. Dipandang

dari segi biaya dan manfaat, penggunaan metode paliatif (manajemen nyeri non

farmakologi) lebih ekonomis dan tidak ada efek sampingnya jika dibandingkan

dengan penggunaan manajemen nyeri dengan farmakologi (Burroughs, 2001).

Di Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara dengan ilmu dan teknologi

yang berkembang pesat ternyata pengobatan alternatif juga berkembang dengan

baik. Sekitar separoh dari dokter keluarga di sana meresepkan atau menerapkan

pengobatan alternatif. Bahkan dikatakan dimasa depan pelaksana pengobatan

tersebut akan dilakukan sebagian besar oleh dokter yang dididik secara

konvensional. Hampir sepertiga dari pendidikan dokter konvensional seperti

Harvard, Yale, dan John Hoopkins juga menawarkan kursus tentang pengobatan
alternatif. Hal tersebut menandakan kebutuhan akan pengobatan alternatif masih

tinggi diantara masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern

(Handayani, 2004).

Di Indonesia terjadi kerancuan pengertian dimana pengobatan alternatif atau

tradisional dianggap sebagai cara pengobatan kuno warisan leluhur yang terkesan

belum tersentuh modernisasi sama sekali. Menurut SK-Menkes RI No. 1076

(2003) pengobatan tradisional adalah pengobatan atau keperawatan dengan cara,

obat, dan pengobatnya yang mengacu pada pengalaman, keterampilan turun-

temurun, atau pendidikan/pelatihan dan diterapkan sesuai norma yang berlaku

dalam masyarakat (Handayani, 2004). Survei Depkes RI tahun 1995 menunjukkan

bahwa 32,5 % penduduk Indonesia mencari pertolongan ke pengobat tradisional

dan jumlah pengobat tradisional saat itu 281.492 orang yaitu lebih dari 2 kali lipat

dibanding tahun 1989 yaitu 112.994 orang.

Pengobatan alternatif dengan metode bekam, bukanlah hal baru di kalangan

masyarakat Indonesia. Pengobatan itu bahkan telah dipraktikkan ribuan tahun lalu

dari di Timur Tengah. Bahkan Rasululloh Muhammad SAW menurut riwayat para

sahabatnya sering melakukan pengobatan dengan bekam untuk mengatasi

penyakit yang dideritanya (Zainuddin, 2005). Dalam perkembanganya, bekam

tidak hanya terkenal di Timur Tengah namun menyebar ke daratan Eropa dan Asia

seperti Cina dan Indonesia. Masyarakat Cina mengenal bekam sebagai therapi

kop, sedangkan warga Eropa menyebutnya terapi cupping (Omar et al, 2007).

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah di lakukan pada bulan November

2007 di UPT Panti Wrheda Budi Dharma Yogyakarta di dapatkan data bahwa
lansia yang terdapat di Panti Wrheda tersebut 10 dari 60 responden sering

mengeluh nyeri baik itu nyeri kepala atau nyeri sendi/ keju linu yang skala

nyerinya bervariasi berdasarkan interview menggunakan skala nyeri dari

rentang1-10 dimana dari 10 responden tersebut terdapat 3 responden dengan

skala nyeri 8, 5 responden dengan skala nyeri 6 dan 2 responden dengan skala

nyeri 4. Selama ini di Panti Wrheda tersebut cara penaganan nyeri yang dialami

oleh para lansia selalu menggunakan obat- obat yang telah di resepkan oleh dokter

yang memerikasanya (hasil interview lansia Panti Wrheda Budi Dharma

Yogyakarta).

Berkaitan dengan metode penanganan nyeri berupa Terapi Bekam yang

belum pernah dilakukan di Panti Wrheda Budi Dharma Yogyakarta, maka penulis

tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh Terapi Bekam terhadap

perubahan tingkat nyeri pada lansia di Panti Wrheda Budi Dharma Yogyakarta.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah tersebut diatas, dapat

dirumuskan masalah penelitian, yaitu: Bagaimana Pengaruh Terapi Bekam

Terhadap Perubahan Tingkat Nyeri Pada Lansia Di Panti Wrheda Budi Dharma

Yogyakarta.

C. TUJUAN PENELITIAN
Dengan memperhatikan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka

tujuan penelitian ini adalah:

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh Terapi Bekam terhadap perubahan tingkat nyeri pada

lansia.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat nyeri pada lansia sebelum intervensi.

b. Diketahuinya tingkat nyeri pada lansia sesudah intervensi.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Petugas Panti

Sebagai kajian ilmiah terhadap metode penanganan nyeri dengan Terapi

Bekam untuk lebih dikembangkan menjadi strategi yang lebih baik dalam

mengontrol nyeri pasien, khususnya Di Panti Wrheda Budi Dharma

Yogyakarta.

2. Masyarakat/ Lansia

Mengurangi toleransi terhadap nyeri sehingga dapat meningkatkan efek

dari analgetik dan mengurangi dosis pemberian analgetik yang pada akhirnya

dapat meringankan biaya pengobatan.

3. Ilmu Keperawatan
Sebagai kajian ilmiah terhadap metode penanganan nyeri dengan teknik

terapi bekam untuk lebih dikembangkan menjadi strategi yang lebih baik

dalam mengontrol nyeri pasien.

4. Peneliti Selanjutnya

Sebagai acuan dalam penelitian berikutnya yang berkaitan dengan terapi

bekam.

E. RUANG LINGKUP

1. Variabel yang akan diteliti

Penelitian dibatasi dengan dua variabel yang mempengaruhi dan variabel

yang dipengaruhi yaitu Terapi Bekam sebagai variabel yang mempengaruhi

dan tingkat nyeri pada lansia sebagai variabel yang dipengaruhi.

2. Responden

Responden hanya dibatasi pada lansia dengan keluhan nyeri di Panti

Wrheda Budi Dharma Yogyakarta

3. Lokasi penelitian

Panti Wrheda Budi Dharma Yogyakarta

4. Waktu penelitian

Penelitian akan dilakukan pada periode bulan April- Juni 2008

F. KEASLIAN PENELITIAN
Sebatas pengetahuan peneliti, penelitian tentang pengaruh terapi bekam

terhadap perubahan tingkat nyeri pada lansia belum pernah dilakukan. Tetapi ada

penelitian yang serupa diantaranya adalah:

1. Wahyuni, Sri (2007) Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Penurunan

Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Desa Jabon Kalidawir

Tulungagung Jawa Timur, Penelitian ini merupakan penelitian dengan

menggunakan metode eksperimental yaitu menilai pengaruh pemberian

terapi bekam terhadap penurunan tekanan darah dengan pendekatan Pre

Experimental Design menggunakan One Group Pretest-Postest. Metode

pengambilan sampel dengan Purposive Sampling (sampel bertujuan). Uji

analisis pada penelitian ini adalah Paired t-Test. Dengan hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna pada pemberian terapi

bekam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di

desa Jabon Kalidawir Tulungagung Jawa Timur dengan nilai signifikasi

0,000 (P0,05).

Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pada variabel

dependen di mana penelitian dahulu menggunakan penurunan tekanan

darah sedang pada penelitian yang akan datang menggunakan perubahan

intensitas nyeri.

2. Darussalam, Miftafu (2007) Pengaruh Pemberian Teknik Nafas

Ritmik Terhadap Perubahan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi.


Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yaitu menilai pengaruh

pemberian teknik nafas ritmik terhadap perubahan intensitas nyeri pada

pasien post operasi dengan menggunakan desain time series dengan

mengambil lokasi di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Metode

pengambilan sampel dengan total sampling. Uji analisis pada penelitian ini

adalah One-Way Anova dengan menggunakan SPSS 12. Dengan hasil

penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan skala nyeri sebelum

pemberian teknik nafas ritmik dengan skala nyeri setelah pemberian teknik

nafas ritmik dengan nilai signifikasi 0,039

Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pada pada

variabel independen di mana penelitian dahulu menggunakan pemberian

teknik nafas ritmik sedang pada penelitian yang akan datang

menggunakan terapi bekam, pada penelitian dahulu menggunakan desain

penelitian time series, analisis data One-Way Anova sedang pada penelitian

yang akan datang mengguanakan desain one- group pra test- post test

design, Uji analisis pada penelitian ini adalah Paired t-Test

3. Fatmawati(2007) pengaruh pemberian teknik stimulasi kutan

terhadap perubahan intensitas nyeri. Penelitian ini merupakan penelitian

eksperimental yaitu menilai pengaruh pemberian teknik stimulasi kutan

terhadap perubahan intensitas nyeri dengan pendekatan eksperimen time

series, dengan mengambil lokasi di BPRB Dharma Husada Pagerharjo.

Metode pengambilan sampel dengan simple random sampling, dengan

jumlah sample sebanyak 10 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan


eksklusi. Uji analisis pada penelitian ini adalah Uji Paired T-Test dan One

Way Annova dengan menggunakan SPSS 11,5.

Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan skala nyeri

sebelum pemberian teknik stimulasi kutan dengan skala nyeri setelah

pemberian teknik stimulasi kutan dengan nilai signifikasi 0,000

Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pada pada

variabel independen di mana penelitian dahulu menggunakan pemberian

teknik stimulasi kutan sedang pada penelitian yang akan datang

menggunakan terapi bekam, pada penelitian dahulu menggunakan desain

penelitian time series, sedang pada penelitian yang akan datang

mengguanakan desain one- group pra test- post test design.