Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata autis berasal dari bahasa Yunani auto berarti sendiri yang ditujukan pada
seseorang yang menunjukkan gejala hidup dalam dunianya sendiri. Pada umumnya
penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan
mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada
reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial
(pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner,
seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada
tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala
kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara
berkomunikasi yang aneh.Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin,
di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di
dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan
terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil
yang lebih baik.

Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini
mencapai 40% sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9
kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir
dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah
tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih
misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Di Amerika
Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan
lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang
mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka
kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis.
Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 4 : 1, namun anak perempuan yang
terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

1
Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa
persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan jumlah anak austime dapat mencapai 150
200 ribu orang.

Berdasarkan hal diatas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih memahami konsep
anak dengan autisme, dimana konsep ini saling terkait satu sama lain. Semoga Askep ini
dapat membantu para orang tua, masyarakat umum dan khusnya kami (mahasiswa
keperawatan) dalam memahami anak dengan autisme, sehingga kami harapkan kedua anak
dengan kondisi ini dapat diperlakukan dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Pengertian autis?
1.2.2 Apa saja etiologi autis?
1.2.3 Apa tanda dan gejala autis?
1.2.4 Apa manifestasi klinis autis?
1.2.5.Apa saja klasifikasi autis?
1.2.6 Bagaimana penatalaksanaan autis?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui Autis.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian autis
b. Mengetahui etiologi dan manifestasi klinis autis
c. Mengetahui tanda dan gejala autis
d. Mengetahui klasifikasi dan penatalaksanaan autis

1.4 Manfaat Penulisan


Dapat menambah wawasan tentang Autis

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Autis

Autisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Autos yang berarti sendiri. Istilah autisme
pertama kali digunakan untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita
skizofrenia oleh psikiater Swiss, Eugen Bleuler, pada tahun 1906. Anak-anak dengan
gangguan autisme dahulu dideskripsikan sebagai atypical children, symbiotic psychotic
children,dan childhood schizophrenia. Istilah psikosis kemudian dihilangkan dan diganti
dengan istilah gangguan perkembangan pervasive. Kelompok gangguan perkembangan
pervasive ditandai oleh abnormal kualitatif yang merupakan gambaran gangguan meluas dari
fungsi individu dalam segala situasi. Berbeda dengan gangguan spesifik, anak-anak yang
mengalami gangguan pervasive menunjukkan gangguan kualitatif berat yang tidak normal
bagi setiap tahap perkembangan manapun, karena gangguannya berupa penyimpangan dalam
perkembangan.

Gaya berpikir autistik merupakan kecenderungan memandang diri sendiri sebagai


pusat dunia dan percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri.
Psikiater Leo Kanner, pada tahun 1943, dalam tulisannya Autistic Disturbance of Affective
Contact memunculkan istilah autisme infantile awal yang digunakan untuk sekelompok
anak dengan ciri utama 15 tidak dapat berhubungan dengan orang lain, seolah-olah mereka
hidup dalam dunia mereka sendiri. Penjelasan bahwa anak-anak tersebut hidup didunia
mereka sendiri menggambarkan keterpisahan dan sikap mereka yang tidak bisa dimengerti
(Nevid, 2003). PPDGJ (1993) mendefinisikan autis sebagai gangguan perkembangan pervasif
yang ditandai oleh adanya abnormalitas dan atau hendaya perkembangan, dengan ciri fungsi
abnormal dalam bidang interaksi sosial, komunikasi serta perilaku yang terbatas dan
berulang. Gangguan ini muncul sebelum usia 3 tahun dan dijumpai 3 sampai 4 kali lebih
banyak pada laki-laki dibanding dengan anak perempuan.

Pendapat senada dikemukakan oleh Santrock (2009), bahwa gangguan autistik adalah
gangguan perkembangan parah yang dimulai pada 3 tahun pertama kehidupan dalam bentuk
keterbatasan hubungan sosial; komunikasi yang abnormal; serta pola perilaku yang terbatas,
repetitif dan tetap. Yatim (2003) berpendapat bahwa autis merupakan suatu kumpulan gejala
kelainan perilaku dan kemajuan perkembangan sehinga menyebabkan penyimpangan

3
perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, kepedulian terhadap sekitar, hidup dalam
dunianya sendiri, kelainan emosi, intelektual dan kemauan. Durand (2007) menuliskan
gangguan autis sebagai gangguan masa kanak-kanak yang ditandai hendaya signifikan dalam
interkasi sosial, dan komunikasi dan oleh pola-pola perilaku, interes, dan aktivitas yang
terbatas. Tidak berbeda jauh, Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah (2013) mendefinisikan autis sebagai 16 gangguan perkembangan
pervasif pada anak ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang
kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Pengertian autis dengan penjelasan yang lebih mendalam diberikan oleh Handojo
(2008). Handojo (2008) memberi pengertian bahwa autis merupakan salah satu jenis kelainan
pada anak-anak dengan kebutuhan khusus yang disertai dengan gejala-gejala seperti perilaku
selektif berlebihan terhadap rangsang, tidak mempunyai keinginan untuk menjelajahi
lingkungan baru, respon stimulasi diri sehingga mengganggu integrasi sosial dan respon unik
terhadap imbalan (reinforcement). Imbalan yang dimaksud disini adalah imbalan berupa hasil
pengindraan terhadap dari perilaku stimulasi diri. Hal inilah yang menyebabkan muncul
perilaku berulang yang khas pada anak autis. Turkington (2007) dalam bukunya yang
berjudul The Encyclopediaof Autism Spectrum Disorder menjelaskan banyak hal tentang
gangguan autistik. Turkington (2007) menuliskan bahwa gangguan autis adalah sebuah
gangguan perkembangan yang berat sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain, dan berespon dengan tepat pada stimulus dari
lingkungan. Gangguan autis merupakan sebuah spektrum gangguan yang berarti bahwa
gejala dan karakteristiknya dapat muncul variasi kombinasi yang sangat luas, dari ringan
sampai dengan berat. Gangguan autis merupakan sebuah gangguan perkembangan yang
berarti bahwa gejalanya biasa muncul selama tiga tahun pertama masa kanakkanak dan
berlangsung sepanjang hidup. Banyak ahli mulai menyadari bahwa autis bukan hanya
merupakan gangguan perkembangan pervasif, tetapi juga merupakan gangguan
neurobiologis.

Smith menjelaskan bahwa autis adalah suatu kelainan neurologis yang seringkali
mengakibatkan ketidakmampuan interaksi komunikasi dan sosial. Anak autis seringkali
menunjukkan sifat-sifat kelainan yang dimulai sejak masa bayi, beberapa sifat tersebut adalah
tidak tanggap terhadap orang lain, gerakan yang diulang-ulang (seperti bergoyang, berputar,
dan memilin tangan), menghindari kontak mata dengan orang lain, tetap dalam rutinitas,
sikap-sikap yang ritualitas. Yayasan Penyandang Anak Cacat (2013) mempunyai pendapat

4
bahwa Anak autis adalah salah satu jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang
mengalami gangguan dalam fungsi komunikasi, motorik sosial dan perhatian disebabkan oleh
adanya hambatan secara neurobiologis yaitu fungsi syaraf otak.

Sutadi (2002) dalam YPAC (2013) menyebutkan autistik sebagai gangguan


perkembangan neurobiologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi
dan berelasi (berhubungan dengan orang lain). Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dan
mengerti perasaan orang lain18 menyebabkan penyandang autis memiliki gangguan pada
interaksi sosial, komunikasi (baik verbal maupun non-verbal), imajinasi, pola perilaku
repetitif dan resistensi terhadap perubahan pada rutinitas. Penyandang autisme juga memiliki
gangguan untuk membangun hubungan dengan orang lain sehingga tidak dapat membentuk
hubungan yang berarti. Organisasi peduli autis di Australia bernama Amaze, pada tahun 2015
menjelaskan bahwa gangguan autistik merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan
pervasif dalam DSM-IV (APA, 1994) namun yang sekarang berada pada diagnosis neuro
developmental problems (NDP) dalam DSM V (APA, 2013). autis adalah kondisi yang
berlangsung sepanjang hayat, sehingga tidak memungkinkan individu untuk keluar dari
gangguan autis dan belum diketahui obat penyembuhnya. Terapi dan dukungan efektif hanya
membantu untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh gangguan autis,
mengendalikan berbagai karakteristik dan membantu memastikan bahwa orang dengan
gangguan autis menjalani kehidupan yang bahagia. Berdasar pemaparan diatas, penulis dapat
menarik kesimpulan bahwa terdapat banyak pengertian autis dengan beragam penekanan
menurut sudut pandang setiap ahli. Autis merupakan sebuah gangguan perkembangan
pervasif yang juga merupakan gangguan neurobiologis sehingga menyebabkan hendaya
signifikan dalam interaksi sosial, kemampuan berbahasa, motorik sosial, kepedulian terhadap
sekitar, hidup dalam dunianya sendiri, kelainan emosi, intelektual serta pola-pola perilaku,
interes, dan aktivitas yang terbatas

2.2 Etiologi

Handojo (2008) menjelaskan bahwa terdapat 3 penyebab munculnya gangguan autis, yaitu :
a. Kelainan otak

Ada tiga lokasi pada otak anak autis yang dijumpai kelainan neuroanatomis yaitu lobus
parietalis, cerebellum dan sistem limbik. Kelainan pada lobus parietalis menyebabkan anak
acuh terhadap lingkungan. Kelainan pada cerebellum menyebabkan gangguan lalu-lalang
impuls, sensori, daya ingat, berpikir, berbahasa dan atensi. Gangguan sistem limbik

5
mengakibatkan individu autis mengalami berbagai kesulitan yang berhubungan dengan
tanggung jawab sistem limbik, seperti kontrol fungsi agresi emosi, fungsi belajar dan
rangsangan sensoris kelima panca indera.

b.Faktor prenatal dan post natal

Terdapat kelainan kromosom pada anak autis, namun kelainan itu tidak berada pada
kromosom yang selalu sama. Faktor pemicu seperti infeksi, logam berat, alergi berat, obat-
obatan, jamu peluntur, muntahmuntah hebat, pendarahan berat pada kehamilan trisemester
pertama berperan dalam timbulnya gejala autis. Kejadian-kejadian sesudah
kelahiran banyak yang menjadi pemicu munculnya autis, antara lain oksigenasi janin, infeksi
bayi, logam berat, pemakaian antibiotika berlebih, serta gangguan nutrisi.

c.Sensory Interpretation Errors

Rangsangan sensori dari reseptor visual, auditori dan taktil mengalami proses yang kacau
pada otak anak autis sehingga menimbulkan persepsi kacau yang pada akhirnya
menyebabkan kebingungan dan ketakutan. Perasaan bingung dan takut membuat anak
menarik diri dari lingkungan sekitar. Senada dengan pendapat Handojo, Triantoro (2005)
menjelaskan bahwa beberapa penyebab autis diketahui, antara lain keracunan logam berat
dan masalah neurologis. Penjelasan dari pendapat tersebut yaitu:

a. Anak yang masih berada dalam kandungan dapat mengalami keracunan yang disebabkan
oleh logam berat seperti timbal,merkuri,cadmium, spasma infantile, rubella kongenital,
sclerosis tuberosa, lipidosis serebral, dan animali kromosom X rapuh.

b. Anak yangmenderita autis ditemukan adanya masalah neurologis dengan cerebral cortex,
cerebellum, otak tengah, otak kecil, batang otak, spons, hipotalamus, hipofisis, medulla dan
saraf-saraf panca indera seperti saraf penglihatan, atau saraf pendengaran.

Nevid (2003) menyebutkan bahwa penyebab autisme belum diketahui dan tetap
menjadi misteri. Kemungkinan faktor penyebab autis antara lain:
a. Penyebab majemuk yang melibatkan lebih dari satu tipe abnormalitas otak. Abnormalitas
otak yang terpindai pada anak laki-laki dan pria dewasa penyandang autis adalah
membesarnya ventrikel yang mengindikasi hilangnya sel-sel otak.

b.Kerusakan gen atau pengaruh racun terhadap bayi dalam kandungan. Turkington (2007)
menjelaskan bahwa belum diketahui penyebab pasti yang secara spesifik menimbulkan

6
gangguan autis. Penelitian sekarang mengasosiasikan gangguan autis dengan kelainan
biologis atau neurologis pada otak.

Lebih lanjut, Turkington menjelaskan penyebab gangguan autis yaitu: a. Hereditas Genetika
memainkan peran penting dalam munculnya gangguan autis. Terdapat 0,2 persen
kemungkinan kelahiran anak dengan gangguan autis pada populasi dan presentasi meningkat
10 sampai 20 persen untuk resiko memiliki anak kedua dengan gangguan autis. Sampai
sekarang belum ada gen yang secara spesifik menandai gangguan autis. b. Gangguan sistem
imun Banyak studi menemukan bahwa individu dengan gangguan autis memiliki sistem imun
yang lemah. Sistem imun melemah dikarenakan kelainan genetik atau pemicu seperti paparan
bahan kimia sewaktu lahir.

c.Vaksinasi
Vaksinasi yang menyebabkan gangguan autis merupakan hal yang masih kontroversial
dikalangan peneliti. Beberapa ahli percaya bahwa imunisasi MMR dan hepatitis B
menyebabkan autis. Ahli lain percaya bahwa Thimerosal, sebuah vaksin hepatitis B yang
berbasis merkuri dapat meracuni anak dan menyebabkan simptom yang sangat identik
dengan simptom gangguan autis.

d. Masalah lingkungan Anak yang kekurangan magnesium, yodium, potassium mungkin


dapat terkena gangguan autis. Ibu hamil yang memakan olahan hasil laut yang mengandung
banyak merkuri dapat meracuni janin dikandungan sehingga memunculkan gangguan autis.

Durand (2007) memaparkan bahwa secara garis besar penyebab gangguan autis
adalah: penyebab dimensi biologis, pengaruh genetik dan pengaruh neurobiologis. Penyebab
dimensi psikososial seperti pola asuh yang buruk agaknya tidak bertanggung jawab atas
terjadinya autisme.

Adapaun penjelasan lebih lanjut mengenai pendapat tersebut antara lain:

a. Dimensi biologis
Kondisi medis yang dikaitkan dengan autisme adalah congentital
rubella (campak Jerman),hypsarrythmia,tuberoussclerosis,cytomegalovirus, dan
berbagai masalah kehamilan serta persalinan.
b. Pengaruh genetik

7
Gen-gen yang secara pasti terlibat dalam perkembangan autis masih belum
jelas.Keluarga yang memiliki seorang anak autis mempunyai resiko lebih tinggi untuk
melahirkan anak dengan gangguan yang sama.

c. Pengaruh neurobiologis

Sekitar 30% sampai 75 % anak autis memperlihatkan abnormalitas neurobiologis tertentu


seperti kekakuan, postur atau cara berjalan yang abnormal. Pemindaian menggunakan CI
dan MRI memberikan hasil bahwa serebelum anak autis jauh lebih kecil secara abnormal
dibandingkan dengan ukuran serebelum anak-anak yang tidak memiliki gangguan autis.

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan pemaparan diatas adalah bahwa ada tiga
faktor utama yang dapat menimbulkan gangguan autis. Pertama, faktor kerusakan otak
dimana ditemukan bukti keabnormalan otak penyandang autis. Kedua, faktor genetik
yang walaupun belum diketemukan gen spesifik namun kerusakan gen jelas ditemukan
pada anak autis. Terakhir, autis disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan baik saat
anak masih dalam kandungan (keracunan logam, infeksi virus, dan lain-lain) maupun
setelah kelahiran (gangguan nutrisi, pengaruh obat-obatan, dan lain-lain).

2.3 Tanda dan Gejala

Frith dan kawan-kawan tahun 1991 pertama kali melakukan studi tentang pendekatan
untuk memetakan gangguan autis berdasarkan aspek biologi, kognisi, perilaku dan sosial.
Adapun penjelasan lebih lanjut tentang pendekatan gangguan autis adalah sebagai berikut:

a.Biologi
Faktor biologis memainkan peran terhadap penyebab adanya gangguan autis. Anak autis
diketahui memiliki kondisi medis yang beragam sebagai faktor latar belakang. 37% dari
keseluruhan kasus autis muncul dengan kondisi abnormal secara medis seperti gen X rapuh,
tuberous sclerosis, neurofibromatosis, sindrom Rett dan hidrosefalus
kongenital. Pengaruh genetik selama ini menjadi kandidat kuat tentang penyebab gangguan
autis. Penyebab lain yang mungkin adalah permasalahan kelahiran, kelemahan imun, dan
penyakit yang disebabkan virus. Individu normal memiliki sistem otak tertentu yang
diperlukan untuk mencapai perkembangan normal, sedangkan anak autis memiliki gangguan
dalam sistem tersebut sehingga memunculkan abnormalitas neurologis. Kerusakan otaklah

8
yang memungkinkan timbulnya keterbelakangan intelektual umum, sebagai mana kondisi
penyerta yang sering muncul dalam autis.

b. Kognisi

Banyak teori telah berusaha untuk memberikan penjelasan yang meyakinkan tentang
karakteristik fungsi kognitif yang menjadi ciri autis. Beberapa teori yang menonjol akan
dibahas disini merupakan gabungan dari beberapa penelitian, tidak hanya penelitian dari Frith
(1991) saja, teori tersebut meliputi: Mindblindness, yang mempunyai hipotesis bahwa
individu dengan autism tidak memiliki "teori pikiran" (Theory of Mind) yaitu mereka tidak
mempunyai anggapan tentang keyakinan mental orang lain; Disfungsi Eksekutif, yang
menunjukkan bahwa individu dengan autism memiliki defisit dalam fungsi eksekutif seperti
perencanaan, fleksibilitas mental, dan penghambatan impuls; dan lemahnya koherensi sentral,
yang menyatakan bias terhadap hal lokal dan bukannya pengolahan informasi global (Kunde
& Goel, 2008). Anak autis sekalipun memiliki kelemahan dalam fungsi kognitif, mereka juga
memiliki kelebihan yaitu mereka merupakan pemikir visual.

c. Perilaku

Autis merupakan gangguan perkembangan yang membuat individu membutuhkan hampir


seumur hidup dukungan dan pendidikan khusus. Terdapat ciri utama dalam gangguan autis
yaitu kelemahan sosial, yang berarti kelemahan spesifik dalam kualitas hubungan timbal-
balik interaksi, kemudian kelemahan bahasa, yang berarti penundaan akuisisi bahasa, sedikit
penggunaan bahasa verbal dan non verbal dalam komunikasi.Terakhir, kelemahan imaginasi,
yang berarti kelemahan dalam melakukan premainan pura-pura dengan spontan.

d. Sosial

Anak autis, dalam konteks sosial seringkali dideskripsikan memperlakukan manusia sama
seperti memperlakukan objek. Perilaku sosial anak autis dapat bervariasi dari sama sekali
menarik diri sampai mengganggu orang lain secara berulang. Sangat jelas, anak autis tidak
menyadari dampak dari perilaku mereka pada orang lain dan sekalipun memiliki kesadaran,
maka interaksi sosial anak autis tersebut tetaplah aneh. Permasalahan dalam interaksi sosial
ini kemudian memunculkan konsekuensi seperti permasalahan interpersonal, permasalahan
dalam keluarga, permasalahan dengan teman sebaya. Anak autis juga memiliki permasalahan
sosial seperti tidak memiliki teman, tidak menikah, mengalami penolakan secara sosial serta

9
melakukan penghindaran sosial. Kapplan & Sadock (1997) memberikan gambaran klinis
tentang individu-individu yang mengalami gangguan autis.

Gambaran klinis terbagi menjadi dua kelompok yaitu etiologi gangguan dan
karakteristik perilaku. Adapun penjelasan lebih dalam dari pendapat tersebut adalah:

a. Etiologi gangguan

Gangguan autis memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan prognosis yang terbatas.
Sekitar dua per tiga dari individu yang mengalami autis tetap berada dalam kondisi kecacatan
yang parah dan hidup dengan ketergantungan penuh atau setengah tergantung.Prognosis
membaik jika lingkungan keluarga dan pendidik bersifat supportif dan memenuhi semua
kebutuhan anak autis. Terapi membantu menurunkan gejala perilaku dan mengembangkan
perkembangan fungsi yang terlambat, seperti ketrampilan bahasa dan merawat diri sendiri.

b. Karakteristik perilaku

1) Gangguan kualitatif pada interaksi sosial

Anak autis gagal membentuk keakraban, perilaku melekat pada orang-orang penting dalam
kehidupan seperti orang tua, saudara kandung dan guru. Individu autis saat kanak-kanak
gagal bermain bersama teman sebaya dan gagal membentuk empati. Setelah remaja, mereka
tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengmbangkan hubungan seksual dengan
lawan jenis.

2) Gangguan komunikasi dan bahasa Anak autistik sedikit menggunakan arti dalam daya
ingat dan proses berpikir. `Penyandang autis tipe verbal lebih banyak berkata dibandingkan
yang dimengertinya.

3) Perilaku stereotipik Memanipulasi mainan dalam cara yang tidak semestinya, dengan
sedikit variasi, kreativitas dan imaginasi. Anak-anak autis tidak dapat meniru atau
menggunakan pantomin abstrak. Aktivitas dan permainan bersifat kaku, berulang dan
monoton.

4) Ketidakstabilan mood dan afek Anak autis tidak mengekspresikan pikiran yang sesuai
dengan afek dan menunjukkan perubahan emosi yang tiba-tiba. Tangisan atau tawa anak autis
sering terlihat tanpa alasan.

10
5) Respon terhadap stimuli sensorik Anak autis memiliki peningkatan ambang nyeri atau
perubahan respon terhadap nyeri.

6) Gejala perilaku lain Agresivitas, tantrum, perilaku melukai diri sendiri sering terlihat
dengan alasan yang tidak jelas atau karena perubahan lingkungan. Gejala perilaku lain adalah
ketidakmampuan memusatkan perhatian, insomnia dan masalah pemberian makanan.

Puspita (2010) berpendapat bahwa individu dapat dikatakan mengalami gangguan


autis apabila memiliki gejala-gejala berikut:

a. Gangguan komunikasi

Anak autis mengalami berbagai bentuk gangguan komunikasi antara lain: hambatan
mengekspresikan diri, hambatan komunikasi dua arah, membeo, menirukan ucapan orang
lain dan bahkan hambatan bicara total.

b. Gangguan perilaku

Adanya perilaku stereotipi / khas pada anak autis seperti mengepakkan tangan, melompat-
lompat, berjalan jinjit, senang pada benda yang berputar atau memutar-mutarkan
benda,mengketuk-ketukkan benda ke benda lain,obsesi pada bagian benda atau benda yang
tidak wajar dan berbagai bentuk masalah perilaku lain yang tidak wajar bagi anak seusianya.

c. Gangguan interaksi

Individu autis secara umum memiliki keengganan untuk berinteraksi secara aktif dengan
orang lain, sering terganggu dengan keberadaan orang lain di sekitarnya, tidak dapat bermain
bersama anak lain serta lebih senang menyendiri.

Dikutip dari Puspita (2010), Siegel (1996) melaporkan bahwa individu autis memiliki
berbagai ciri khas, antara lain:

a. Pemikiran visual

Ingatan atas berbagai konsep tersimpan dalam bentuk video atau gambar yang membuat
individu autis lebih mudah memahami hal konkrit (dapat dilihat dan dipegang) daripada hal
abstrak. Proses berpikir seperti ini jelas lebih lambat daripada proses berpikir verbal sehingga
penyadang autis perlu jeda beberapa saat sebelum bisa memberikan jawaban atas pertanyaan

11
tertentu. Individu dengan gaya berpikir seperti ini, juga lebih menggunakan asosiasi daripada
berpikir secara logis menggunakan logika.

b. Masalah pemrosesan

Individu autis mengalami kesulitan saat diminta mengingat sesuatu sambil mengerjakan hal
lain, sulit memahami bahasa verbal/lisan serta sulit merangkai informasi verbal yang panjang
(rangkaian instruksi).

c. Sensitivitas sensori

Kurang optimalnya perkembangan neurobiologis mempengaruhi perkembangan panca indra


individu autis. Permasalahan ini biasanya menyebabkan kurang peka atau kepekaan
berlebihan pada sensor suara, sentuhan dan ritme. Keabnormalan sensori memunculkan
masalah perilaku pada individu autis, antara lain: ketakutan pada suara, mendengung atau
bergumam, menolak sentuhan, berbicara terus menerus dan bahkan memotong pembicaraan
orang lain.

d. Frustrasi dalam komunikasi

Gangguan perkembangan berbicara membuat individu autis sulit untuk mengekspresikan diri
secara efektif, mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan diri dan memahami tuntutan
lingkungan. Kesulitan mengungkapkan diri menimbulkan perilaku negatif individu autis
sehingga mereka seringkali tidak dimengerti oleh lingkungan dan menimbulkan frustrasi.

e. Permasalahan sosial dan emosional

Ciri khas penyandang autis adalah kekakuan pada rutinitas dan ketakutan pada perubahan.
Hal ini menyebabkan mereka sulit untuk beradaptasi dalam berbagai situasi sosial seperti
tata cara pergaulan dan bermasyarakat. Individu autis juga mengalami kesulitan untuk
memahami sudut pandang orang lain karena tidak mempunyai Theory of Mind sehingga
menimbulkan empati yang rendah.

f.Masalah dalam kontrol

Akibat permasalahan neurologis, individu autis mengalami kesulitan mengontrol perilaku


sehingga menimbulkan banyak permasalahan perilaku. Permasalahan perilaku antara lain
seperti tantrum saat rutinitas berubah, kecemasan yang besar, keterpakuan pada objek tertentu
dan masih banyak lainnya.

12
f. Masalah dalam toleransi

Kepekaan berlebihan terhadap rangsangan membuat anak autis kurang dapat mentolerir
rangsangan sehingga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Mereka bingung dan cemas
bila tidak dapat memahami pesanpesan emosi yang terjadi saat bergaul.

g. Masalah dalam penalaran

Berbagai masalah yang terjadi pada penyandang autis berkaitan dengan penalaran antara lain:
masalah pemusatan perhatian, masalah proses persepsi, sistem integrasi otak yang
tunggal,dan masalah left-right hemisphere-integration. Berbagai masalah tersebut membuat
anak autis menjadi mudah terdistraksi, bingung sehingga menghindari orang lain, sulit
memproses beberapa hal sekaligus dan tidak sepenuhnya sadar pada apa yang sedang terjadi.

Sastry (2014) menuliskan tentang lima ciri-ciri anak autis, ciri-ciri tersebut adalah:

a.Persoalan indrawi

Banyak anak autis yang mempunyai kepekaan ekstrem yang membuatnya sulit untuk
memberi perhatian pada lebih dari satu input rangsangan sekaligus. Tactile defensiveness
merupakan salah satu contoh akibat kepekaan ekstrim dimana anak autis bertahan dan tidak
mau disentuh karena merasakan sentuhan sebagai sesuatu yang menyiksa.

b. Stiming

Istilah stim mengacu pada perilaku atau aktivitas menenangkan (selfcalming) maupun
memicu diri (self-stimulation) yang dianggap bisa mempertahankan tingkat pembangkitan
diri (self-arousal) yang tepat. Anak autis mungkin menepuk-nepuk tangan, memelintir atau
mengeraskan tubuh, melompat atau menjilat-jilat sesuatu sebagai upaya stiming untuk
menenangkan diri.

c.Perilaku bermasalah

Anak autis memperlihatkan perilaku ganjil sebagai upaya untuk mengkomunikasikan atau
mengontrol apa yang mereka rasakan. Ketika rangsangan indrawi terlalu besar bagi anak
autis, mereka akan cenderung menarik diri dari lingkungan atau memunculkan perilaku
mengganggu, perilaku merusak dan perilaku yang tidak bisa diterima secara sosial. Beberapa

13
anak autis ada yang sampai menunjukkan perilaku melukai diri sendiri seperti membentur-
benturkan kepala ke tembok, atau melukai matanya sendri.

d. Minat yang tidak lazim

Anak autis memiliki minat tidak lazim yang terfokus dan terbatas. Minat yang sempit
membatasi kemampuan anak autis untuk bermain, belajar dari dan bersenang-senang dengan
teman sebaya.

e. Tantangan dalam interaksi sosial dan komunikasi anak autis kurang mampu
menyimpulkan, memahami dan menindaklanjuti emosi orang lain saat berada dalam sebuah
interaksi sosial. Pemahaman pengguanaan norma-norma budaya, gambar-gambar ujaran,
idiom, gesture, kontak mata dan bahasa tubuh adalah hal-hal yang sulit dipahami anak autis,
karenanya menyulitkan mereka untuk berkomunikasi dua arah

2.4 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis yang ditemui pada penderita Autisme :

a. Penarikan diri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang tidak
atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu dan istilah yang
didengarnya, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan
pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan sosial abnormal,
tidak adanya empati dan ketidakmampuan berteman. Dalam tes non verbal yang memiliki
kemampuan bicara cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan kapasitas
intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi, berbakat luar biasa, analog
dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain
sendiri.

b. Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit,
keasyikan dengan bagian-bagian tubuh.

c. Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek.
Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak tercenggang
dengan objek mekanik.

14
d. Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara
lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi terikat dan tidak bisa
dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan .

e. Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.

f. Kontak mata minimal atau tidak ada.

g. Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan
menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas terhadap
rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut
terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya sensitivitas pada rangsangan
lain.

h. Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada emosional

i. Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat
berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal, bentuk
bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk berbicara pada
sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun.

j. Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara


fungsional.

k. Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan mengedipkan mata,
wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan berjingkat-jingkat.

Ciri yang khas pada anak yang austik :

a. Defisit keteraturan verbal.

b. Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik.

c. Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau dipikirkan orang
lain).

15
Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah:

a. Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal.

b. Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal.

c. Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel dan tidak
imajinatif.

Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.

2.5 Klasifikasi Autis

Dikutip dari YPAC (2013), klasifikasi autis dapat dibagi berdasarkan berbagai
pengelompokan kondisi. Klasifikasi tersebut adalah:

a. Klasifikasi berdasarkan saat munculnya kelainan

1) Autisme infantile adalah anak autis yang sudah dari sejak lahir nampak kelainannya.

2) Autisme fiksasi adalah anak yang terlahir normal namun kemudian memunculkan tanda-
tanda autis setelah berumur dua tiga tahun.

b. Klasifikasi berdasarkan intelektual

1) Autis dengan keterbelakangan mental sedang dan berat yang memiliki IQ dibawah 50.
Sebanyak 60% dari anak autis berada pada klasifikasi ini.

2) Autis dengan keterbelakangan mental ringan yang memiliki IQ 50-70. Sebanyak 20% dari
anak autis berada pada klasifikasi ini.

3) Autis tanpa mengalami keterbelakangan mental yang memiliki tingkat Intelegensi diatas
70. Sebanyak 20% dari anak autis berada pada klasifikasi ini.

c. Klasifikasi berdasarkan prediksi kemandirian:

1) Prognosis buruk, tidak dapat mandiri (2/3 dari penyandang autis)

2) Prognosis sedang, terdapat kemajuan dibidang sosial dan pendidikan walaupun problem
perilaku tetap ada (1/4 dari penyandang autis).

16
3) Prognosis baik; mempunyai kehidupan sosial yang normal atau hampir normal dan
berfungsi dengan baik di sekolah ataupun ditempat kerja. (1/10 dari penyandang autis).

DSM-V (APA, 2013) juga memberikan klasifikasi autis yang didasarkan pada tingkat
keparahannya. Berdasarkan tingkat keparahannya, individu autis diklasifikasikan menjadi
tiga tingkatan, yaitu:

a. Tingkatan 1, individu yang memerlukan dukungan Gambaran komunikasi sosial


untuk penyandang autis pada level ini adalah: kelemahan komunikasi sosial terlihat saat tidak
ada dukungan, kesulitan memulai interaksi sosial dan penurunan ketertarikan dalam
interaksi sosial. Contohnya adalah individu autis yang mampu berbicara dengan lancar
namun gagal mempertahankan komunikasi dan gagal membentuk jalinan pertemanan.
Gambaran perilaku berulang untuk penyandang autis pada level ini adalah: mengalami
kesulitan dalam peralihan aktivitas, permasalahan dalam mengorganisasi dan membuat
perencanaan sehingga menghambat kemandirian.

b. Tingkatan 2, individu memerlukan dukungan yang kuat Gambaran komunikasi


sosial untuk penyandang autis pada level ini adalah: terlihat kelemahan dalam ketrampilan
komunikasi sosial verbal dan non-verbal, kelemahan sosial jelas terlihat bahkan saat disertai
dukungan, inisiatif interaksi sosial yang terbatas dan respon abnormal pada stimulus sosial.
Gambaran perilaku berulang untuk penyandang autis pada level ini adalah: perilaku yang
tidak fleksibel, kesulitan menghadapi perubahan, perilaku berulang atau terbatas dengan
frekuensi tinggi sehingga menganggu fungsi individu dalam banyak konteks, distress dan
atau kesulitan saat mengganti fokus atau kegiatan.

c. Tingkatan 3, individu sangat memerlukan dukungan kuat Gambaran komunikasi


sosial untuk penyandang autis pada level ini adalah: kekurangan yang parah dalam
ketrampilan komunikasi sosial verbal dan non-verbal mengakibatkan kelemahan yang parah
dalam fungsi, inisiatif interaksi sosial sangat terbatas dan respon yang sangat minim pada
rangsangan sosial. Contohnya adalah seseorang dengan sedikit berbicara yang jarang
berinteraksi,hanya berinteraksi jika membutuhkan sesuatu, pendekatan yang aneh dan tidak
biasa saat berinteraksi. Gambaran perilaku berulang untuk penyandang autis pada level ini
adalah: perilaku yang tidak fleksibel, kesulitan yang ekstrim dalam menghadapi perubahan,
perilaku berulang dan terbatas mengganggu fungsi dalam semua bidang.

17
2.6 Penatalaksanaan Autis

Penanganan sejak dini untuk individu autis mutlak diperlukan. Penanganan yang
diberikan dapat berupa pengajaran pendidikan serta intervensi. YPAC (2013) menjelaskan
terdapat 5 model pengajaran untuk anak autis,antara lain:

a. Terstruktur

Pengajaran terstruktur berarti memberikan materi pengajaran mulai dari yang mudah dan
dapat dipahami, terstruktur secara waktu, dalam ruangan yang nyaman sehingga tidak
menimbulkan perilaku negatif serta struktur kegiatan yang disukai oleh individu autis.
Pembelajaran untuk anak autis mungkin dapat memakan waktu yang lama oleh karenanya
pendidik harus memiliki kesabaran dan ketelatenan dalam mendidik anak autis.

b. Terpola

Kegiatan anak autis terbentuk dari rutinitas terpola dan terjadwal mulai dari bangun tidur
sampai tidur kembali. Anak autis adalah tipe anak yang monoton, mereka kurang dapat
beradaptasi dengan baik pada perubahan baik sekecil apapun dalam rutinitas kehidupannya.
Perubahan yang baru dapat menimbulkan kecemasan dalam diri anak sehingga memunculkan
agresivitas, berontak atau marah.

c. Terprogram

Materi pendidikan dilakukan secara bertahap dan berdasar pada kemampuan anak autis.
Pembelajaran yang dipersiapkan haruslah benarbenar mematangkan konsepnya.

d. Konsisten

Konsisten berarti pembelajaran harus selaras dengan perilaku anak autis. Anak autis yang
berperilaku positif harus mendapatkan respon positif dari pendidik seperti reward atau
penguatan-penguatan.Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda
(maintenance) secara tepat.

e. Kontinyu

Kontinyu meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan
pelaksanaanya. Pengajaran mutlak memerlukan prinsip kesinambungan sehingga pengajaran
tidak terputus dan dapat mencapai tujuan pengajaran.

18
YPAC (2013) menambahkan beberapa jenis terapi yang dapat diberikan untuk individu autis,
antara lain:

a. Terapi perilaku

Terapi perilaku (behavior theraphy) adalah terapi yang dilaksanakan untuk mendidik dan
mengembangkan kemampuan perilaku anak yang terhambat dan untuk mengurangi perilaku-
perilaku yang tidak wajar dan menggantikannya dengan perilaku yang bisa diterima dalam
masyarakat. Terapi perilaku yang biasanya diberikan pada individu autis adalah ABA yang
diciptakan oleh Lovaas, TEACCH serta Son-rise.

b. Terapi okupasi

Dilakukan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot


pada anak autis dengan kata lain untuk melatih motorik halus anak. Terapi okupasi sangat
penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar, contohnya
Floortime.

c.Terapi fisik

Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan
otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuh anak autis. Hydroterapi, merupakan salah
satu contoh terapi fisik yang dapat membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang
berlebihan pada diri anak.

d.Terapi bermain

Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial.
Terapi bermain ini bertujuan selain untuk bersosialisasi juga bertujuan untuk terapi perilaku,
bermain sesuai aturan.

e.Terapi pengobatan

Pemberian farmakoterapi hanya boleh dilakukan oleh dokter yang berkompeten sehingga
tidak menimbulkan masalah baru bagi individu autis. Kemajuan perbaikan perkembangan
individu autis akan lebih baik apabila dilakukan gabungan terapi dari luar dan dari dalam,
yaitu farmakoterapi.

19
f. Terapi sosial

Individu autis mengalami kekurangan dalam ketrampilan berkomunikasi dan bersosialisasi.


Terapi sosial mengajarkan individu autis bagaimana cara bersosialisasi seperti misalnya
mengucapkan salam, lalu bermain bersama, membagi makanan yang dia punya dan
sebagainya.

g.Media visual

Individu autis lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual


thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar
komunikasi melalui gambar-gambar,misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange
Communication System),computer picture serta pictorial activity schedule. Beberapa video
games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi. Pemilihan terapi
tersebut diatas yang diberikan pada anak, tergantung dari kondisi kemampuan dan kebutuhan
anak. Jadi tidak semua terapi sesuai dengan kebutuhan anak

20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Autis merupakan sebuah gangguan perkembangan pervasif yang juga merupakan
gangguan neurobiologis sehingga menyebabkan kendala signifikan dalam interaksi sosial,
kemampuan berbahasa, motorik sosial, kepedulian terhadap sekitar, hidup dalam dunianya
sendiri, kelainan emosi, intelektual serta pola-pola perilaku, interes, dan aktivitas yang
terbatas

3.2 Saran
Diharapkan dapat meningkatkan kamampuan mahasiswa tentang autis

21