Anda di halaman 1dari 74

TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

DAFTAR ISI
1. Imam Pemberontak Dari Malangbong .................................................................................... 1
2. Santri Abangan dari Hutan Jati ............................................................................................... 5
3. Murid Tjokroaminoto di Peneleh ............................................................................................ 8
4. Mampir di Masyumi............................................................................................................... 10
5. Akar Yang Terserak ............................................................................................................... 12
6. Kekasih Orang Pergerakan ..................................................................................................... 14
7. Kenang-kenangan Institut Suffah ........................................................................................... 17
8. Ratu Adil Bermodal Keris ...................................................................................................... 19
9. Kecewa Lalu Gerilya ............................................................................................................. 21
10. Upaya Hampa Natsir .............................................................................................................. 24
11. Kartosoewirjo Vs Alex Kawilarang ........................................................................................ 26
12. Jejak Gerilya di Belantara Priangan ........................................................................................ 28
13. Misteri Ki Dongkol dan Ki Rompang ..................................................................................... 30
14. Tiga Berpayung Kecewa ........................................................................................................ 33
15. Jalur Komando Praktis di Era Revolusi .................................................................................. 36
16. Lubang Peluru di Menara Masjid ........................................................................................... 38
17. Dodol Garut dan Susu Bubuk dalam Gubuk ........................................................................... 41
18. Asimilasi setelah Eksekusi ..................................................................................................... 44
19. Sidang Kilat Kawan Soekarno ................................................................................................ 46
20. Masih Misteri Setelah 45 Tahun ............................................................................................. 49
21. Pembangkangan Sebuah Gagasan........................................................................................... 52
22. Negara Setengah Hati............................................................................................................. 55
23. Pasang Surut Pesantren Darul Islam ....................................................................................... 58
24. Surat Perpisahan dari Johor Bahru .......................................................................................... 60
25. Perlawanan Tak Pernah Padam............................................................................................... 63
26. Dua Tahap Revolusi ............................................................................................................... 66
27. Kartosoewirjo ........................................................................................................................ 68
28. Relevansi Darul Islam untuk Masa Kini ................................................................................. 70

http://semaraks.blogspot.com
0
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Imam Pemberontak Dari Malangbong

M
ajalah Tempo Terbitan Edisi 16 Agustus 2010 menyajikan edisi khusus hari kemerdekaan
yang menyajikan kisah seputar Negara Islam Indonesia. Dalam Laporan utamanya
menyajikan beberapa tulisan diantaranya berjudul : Imam Pemberontak Dari
Malangbong. Berikut tulisannya :

Berasal dari keluarga abangan, sekarmadji maridjan Kartosoewirjo menjadi pemimpin


pemberontakan darul islam. hampir lima puluh tahun setelah kematiannya, pemikiran dan cita-cita
mendirikan negara islam masih bergelora di kalangan sebagian umat islam negeri ini.

DI Teluk Jakarta, sang Imam mengembuskan napas terakhir setelah tubuhnya diterjang
peluru regu tembak. Toh, hampir lima puluh tahun setelah kematiannya, Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo masih terus mengilhami berbagai kelompok di negeri ini yang ingin menegakkan
sebuah Negara Islam-baik dengan jalan damai maupun kekerasan.

Kendati dikenal sebagai pemimpin Islam, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1907,
itu sesungguhnya sosok yang tak terlalu islami. Ayahnya, Kartosoewirjo, adalah seorang mantri
candu-pangkat yang cukup tinggi untuk seorang inlander di masa kolonial. Candu dan Islam jelas
bukan pasangan yang padan.

Keluarga Kartosoewirjo memang tergolong priayi feodal, dan bukan pemeluk Islam yang
taat. Keluarga kami cenderung abangan, kata salah seorang anggota keluarga di Cepu. Masa kecil
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pun tak karib dengan pendidikan agama. Dia terus-menerus
menempuh pendidikan di sekolah Belanda.

Setelah menamatkan Inlandsche School der Tweede Klasse, yang dikenal sebagai Sekolah
Ongko Loro, Karto kecil melanjutkan sekolah ke Hollands Inlandsche School di Rembang, Jawa
Tengah. Setelah itu, dia meneruskan pendidikan ke Europeesche Lagere School, sekolah elite khusus
untuk anak Belanda, di Bojonegoro, Jawa Timur.

Hanya anak pribumi cerdas dan berasal dari keluarga amtenar yang boleh masuk sekolah itu.
Kemudian dia melanjutkan lagi pendidikan ke Nederlandsch Indische Artsen School-biasa disebut
Sekolah Dokter Jawa-di Surabaya.

Di masa remaja, Kartosoewirjo yang mulai tertarik pada dunia pergerakan justru akrab
dengan pemikiran kebangsaan-bahkan kiri. Dia diketahui banyak membaca buku sosialisme yang
diperoleh dari pamannya, Mas Marco Kartodikromo.

Marco dikenal sebagai wartawan dan aktivis Sarekat Islam beraliran merah. Terpengaruh
bacaan itu, Kartosoewirjo terjun ke politik dengan bergabung di Jong Java dan kemudian Jong
Islamieten Bond.

Pengetahuan agama Islam praktis digalinya secara otodidak, lewat literatur berbahasa
Belanda dan persentuhan dengan sejumlah kiai. Guru mengajinya yang pertama adalah
Notodihardjo, aktivis Partai Sarekat Islam Indonesia sekaligus Muhammadiyah di Bojonegoro.

http://semaraks.blogspot.com
1
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Penampilan Notodihardjo tipikal Islam-Jawa: tutur katanya halus dan dia selalu mengenakan
blangkon, beskap, dan selop.

Adapun gurunya di dunia pergerakan, sekaligus guru agamanya terbesar, tak pelak lagi
adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto-tokoh yang disebut Belanda Raja Jawa tanpa Mahkota.
Terpesona oleh pidato singa podium itu, Karto melamar menjadi murid dan mulai mondok di
rumah Ketua Sarekat Islam itu di Surabaya.

Untuk membayar uang pondokan, Karto bekerja di surat kabar Fadjar Asia milik
Tjokroaminoto. Ketekunan dan kecerdasan membawa Kartosoewirjo menjadi sekretaris pribadi
mertua pertama Soekarno itu.

Patut dicatat, Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru bagi Semaoen yang beraliran
komunis dan Soekarno yang beraliran nasionalis. Kesamaan tujuan untuk memerdekakan Indonesia
dari penjajahan Belanda membuat mereka bersatu dan mengesampingkan perbedaan.

lll

KETIKA tinggal di Malangbong, Garut, Kartosoewirjo kembali mempelajari Islam dari


sejumlah ajengan, alias kiai lokal, seperti Ardiwisastra dari Malangbong, Kiai Mustafa Kamil dari
Tasikmalaya, dan Kiai Yusuf Tauziri dari Wanareja. Ardiwisastra belakangan menjadi mertua dan
sekutu dekatnya dalam perjuangan menegakkan Negara Islam.

Sebaliknya, Yusuf Tauziri menjadi lawan tangguh dalam arti sesungguhnya bagi
Kartosoewirjo. Beberapa kali anak buah Yusuf yang menolak proklamasi Darul Islam terlibat baku
tembak dengan pasukan Kartosoewirjo di medan tempur.

Dengan latar belakang Islam-Jawa seperti itu, bukan hal ajaib jika muncul cerita
Kartosoewirjo pernah melakukan tapa geni tidak makan dan tidak minum selama 40 hari di Gua
Walet, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dia meyakinkan pengikutnya bahwa bertapa juga dilakukan
Rasulullah ketika memperoleh wahyu pertama di Gua Hira.

Dalam buku Pedoman Dharma Bhakti Negara Islam Indonesia jilid ketiga, Kartosoewirjo
disebut dengan banyak julukan: Ratu Adil, Imam Mahdi, Sultan Heru Tjokro, dan Satrija Sakti. Julukan
itu sesuai dengan ramalan Joyoboyo, raja sekaligus pujangga Jawa yang menubuatkan akan
munculnya seorang pemimpin umat manusia.

Konon ada pula kepercayaan mistis di kalangan masyarakat Jawa Barat bahwa Kartosoewirjo
akan bisa menjadi Ratu Adil dan selalu menang perang jika bisa menyatukan dua senjata pusaka:
keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang. Kedua pusaka itu memang selalu dibawanya ketika
bergerilya di hutan.

Menyimak profil Kartosoewirjo itu, tak aneh bila ahli politik Islam, Bahtiar Effendy, menilai
dia sesungguhnya tak memiliki landasan ideologi yang kuat untuk mendirikan Negara Islam. Bahtiar-
dan beberapa ahli politik Islam lain-lebih merujuk pada kekecewaan Kartosoewirjo terhadap
Perjanjian Renville, yang dianggapnya merugikan kepentingan umat Islam, untuk memberontak dari
pemerintahan kafir Soekarno.

http://semaraks.blogspot.com
2
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Toh, pemberontakan Kartosoewirjo di Jawa Barat bersama Daud Beureueh di Aceh dan
Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan telah ikut mewarnai sejarah pembentukan Republik yang masih
berusia muda. Puluhan tahun setelah ketiga tokoh itu wafat, semangat mendirikan Negara Islam
terbukti tak kunjung padam di kalangan sebagian umat Islam. Kaderisasi di antara mereka pun
sepertinya tak pernah terputus.

Pengusung cita-cita Negara Islam itu boleh saja terpecah-belah karena alasan ideologi atau
kepentingan pribadi pemimpinnya. Ada yang memilih mengembangkan pendidikan, berjuang
dengan program advokasi, ada pula yang tetap menghalalkan jalan kekerasan. Kelompok lain
diyakini menjadi cikal bakal Jamaah Islamiah. Namun semuanya tetap mengaku penerus cita-cita
Kartosoewirjo.

lll

UNTUK mengumpulkan bahan penulisan edisi khusus Kartosoewirjo ini, kami mengundang
beberapa ilmuwan, peneliti, dan saksi sejarah dalam beberapa sesi diskusi di kantor redaksi Tempo.
Ahli politik Islam, Bahtiar Effendy, dan Solahudin, seorang peneliti Darul Islam, memberikan banyak
perspektif tentang tokoh karismatis ini. Mereka juga memberikan rujukan sejumlah literatur
mengenai Kartosoewirjo dan gerakan Darul Islam, dari karya klasik sampai kontemporer.

Sardjono, putra bungsu Kartosoewirjo, menceritakan pergulatan keluarganya yang dianggap


sebagai gembong pemberontak. Memang, setelah ayahnya dieksekusi, giliran dua kakak
kandungnya, Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmat Basuki, tampil menjadi tokoh baru Darul
Islam.

Riwayat Sardjono sendiri cukup unik. Dia lahir di hutan, di medan gerilya ayah dan ibunya.
Usianya baru lima tahun ketika Kartosoewirjo tertangkap dan seluruh keluarganya memutuskan
menyerah dan keluar dari hutan. Dengan ingatan kanak-kanak yang terbatas, dia membantu
merekonstruksi apa yang terjadi di hutan, di saat-saat terakhir perlawanan sang Imam dan
pengikutnya.

Kami juga mengundang Sofwan, bekas juru warta Mahad Al-Zaytun, yang dikenal sebagai
pesantren milik bekas pengikut Negara Islam Indonesia. Mantan tangan kanan Abdussalam Toto
alias Panji Gumilang ini mengaku sudah keluar secara baik-baik dari Al-Zaytun. Diskusi yang
berlangsung seru dan kadang diselingi gelak tawa itu selalu diawali makan siang atau makan malam
ala Tempo.

Melengkapi tulisan, kami melakukan napak tilas ke sejumlah tempat bersejarah. Sardjono
menemani dan menunjukkan lokasi-lokasi tempat Kartosoewirjo dan anak buahnya pernah
bergerilya selama 13 tahun di hutan dan gunung sekitar Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bersama Sardjono pula kami pergi ke Pulau Onrust di Teluk Jakarta. Di sana ada sebuah
makam yang diyakininya sebagai kubur ayahnya. Selama ini sejumlah literatur dan saksi sejarah
hanya bercerita bahwa Kartosoewirjo dieksekusi dengan ditembak mati di sekitar Teluk Jakarta.
Namun tak diketahui di mana jenazah sang Imam dikebumikan.

Tim Edisi Khusus :

http://semaraks.blogspot.com
3
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Penanggung Jawab: Nugroho Dewanto Kepala Proyek: Bagja Hidayat Penyunting: Nugroho Dewanto,
Bina Bektiati, Mardiyah Chamim, Idrus F. Shahab, Purwanto Setiadi, Arif Zulkifli, Budi Setyarso,
Muhammad Taufiqurohman, L.R. Baskoro, Seno Joko Suyono, Hermien Y. Kleden, Amarzan Loebis
Penulis: Nugroho Dewanto, Bagja Hidayat, Sunudyantoro, Harun Mahbub Billah, Dwidjo Utomo
Maksum, Yandi M. Rofiyandi, Anton Aprianto, Wahyu Dhyatmika, Budi Riza, Yophiandi Kurniawan,
Anne L. Handayani, Nurkhoiri, Fery Firmansyah, Angelus Tito Sianipar, Yuliawati, Ramidi, Erwin
Dariyanto, Ahmad Taufik, Oktamandjaya Wiguna, Sapto Pradityo, Nurdin Kalim, Retno Sulistyowati,
Suryani Ika Sari Penyumbang Bahan: Widiarsi Agustina, Cheta Nilawaty (Jakarta), Gilang Mustika
Ramdani, Ahmad Fikri, Angga Wijaya (Bandung), Sigit Zulmunir (Garut), Jayadi Supriyadin
(Tasikmalaya), Deden abdul Aziz (Sukabumi) Sudjatmiko (Rembang, Cepu, Bojonegoro), Sohirin
(Semarang), Erwin Dariyanto (Brebes), Kukuh S. Wibowo (Surabaya) Bahasa: Uu Suhardi, Dewi
Kartika Teguh W., Sapto Nugroho Foto: Aryus P. Soekarno (Koordinator), Bismo Agung, Dwi
Narwoko, Aditya Herlambang Desain: Gilang Rahadian, Eko Punto Pambudi, Hendy Prakasa, Kiagus
Auliansyah, Ajibon, Agus Darmawan S., Tri Watno Widodo

http://semaraks.blogspot.com
4
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Santri Abangan dari Hutan Jati

S
EKARMADJI Maridjan Kartosoewirjo lahir pada 7 Januari 1907 di Cepu, Jawa Tengah-kota
dengan romansa Bengawan Solo dan belukar hutan jati. Sang ayah, Kartosoewirjo, mantri
candu pemerintah Belanda, memberinya nama Sekarmadji Maridjan. Kelak nama ayahnya
disematkan di belakang nama sang bayi. Kakek si orok adalah Kartodikromo, Lurah Cepu. Rumah
sang kakek tempat Sekarmadji lahir, di belakang pasar lama, kini telah musnah.

Yang tersisa adalah rumah di Jalan Raya Cepu 15, milik Kartodimedjo, paman Sekarmadji,
yang sempat menjadi pamong praja pemerintah Belanda. Rumah kayu jati berkapur putih yang
dibangun pada 1890 itulah tempat berkumpul keluarga besar Kartodikromo. Ini rumah induk,
tempat jujugan keluarga besar kami, kata Nuk Mudarti, 75 tahun, keponakan Sekarmadji.

Pada usia enam tahun, Sekarmadji masuk Inlandsche School der Tweede Klasse Cepu,
sekolah yang biasa disebut sekolah ongko loro (angka dua).

Sebagai anak pegawai pemerintah, Sekarmadji hidup berpindah-pindah mengikuti tugas


ayahnya. Selain di Cepu, ayahnya pernah berdinas di Pamotan, Rembang, Jawa Tengah. Di kota ini,
Sekarmadji melanjutkan sekolah ke Hollands Inlandsche School. Ketika pindah ke Padangan,
Bojonegoro, Jawa Timur, pada 1919, ia meneruskan pendidikan ke Europeesche Lagere School,
sekolah elite khusus anak Belanda. Hanya pribumi cerdas yang boleh masuk. Di kala libur, Sekarmadji
kerap bermalam di rumah Jalan Raya Cepu 15.

Pada 1923, Sekarmadji meneruskan pendidikan ke Nederlandsch Indische Artsen School,


sekolah kedokteran Belanda di Surabaya. Saat itu Sekarmadji sudah hafal Al-Quran berikut tafsirnya.
Kemampuan ini dikembangkan ketika dia kuliah di Surabaya dan mempertemukannya dengan tokoh
Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Masa kecil Sekarmadji dihabiskan di lingkungan abdi dalem pemerintah Belanda. Kami
keturunan birokrat, kata Nuk. Ronodikromo, kakek buyut Sekarmadji, adalah Lurah Merak, Panolan,
Cepu. Soal keyakinan beragama, Keluarga Kartodikromo cenderung abangan, kata Nuk. Kami
priayi feodal.

Meski priayi feodal, keluarga Kartodikromo demokratis. Perbedaan prinsip, pandangan


politik, dan ideologi dihargai. Anak-anak diajari berpendirian teguh. Itulah mengapa Mas Marco dan
Sekarmadji teguh mempertahankan prinsip.

Mas Marco, satu dari tujuh anak Kartodikromo, meninggal di pengasingan Digul karena
menentang pemerintah Belanda. Marco dikenal sebagai aktivis kiri di era kolonial. Sekarmadji
memimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Keislaman Sekarmadji banyak dipengaruhi ajaran Notodihardjo, pemuka Partai Sarekat Islam
Indonesia (PSII) di Padangan, Bojonegoro. Pikiran kritis Sekarmadji terus bertumbuh ketika dia kuliah
di Surabaya.

Suatu malam pada 1948, Sekarmadji datang ke rumah nomor 15. Nuk Mudarti masih
mengingatnya. Kehadiran pamannya ini mencemaskan orang serumah. Jika Sekarmadji datang, polisi

http://semaraks.blogspot.com
5
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

dan intelijen mengitari rumah. Menakutkan, kata Nuk. Saya masih kecil, tak tahu mengapa intel
menguntitnya. Sejak 1940-an, Sekarmadji tak pernah lagi singgah di rumah induk. Hingga kami
mendengar dia merantau ke Malangbong, kata Nuk. Hubungannya dengan Cepu putus.

Soemarti alias Dora, saudara kandung Sekarmadji, turut hijrah ke Malangbong, Garut, Jawa
Barat. Dia pernah mengajak keluarga Cepu berkunjung ke Malangbong. Oleh-oleh hasil bumi sudah
disiapkan. Tapi kunjungan itu tak pernah terwujud.

Saat meletus peristiwa pemberontakan DI/TII, keluarga Cepu menutup diri. Ketertutupan
berlanjut sampai zaman Orde Baru. Keluarga besar Cepu, yang rata-rata pegawai pemerintahan,
khawatir disangkutpautkan dengan gerakan Sekarmadji.

Kami jadi kepaten obor, kehilangan jejak, kata Kusparyono, 55 tahun, keponakan
Sekarmadji di Cepu. Sardjono, putra bungsu Sekarmadji, membenarkan soal putusnya hubungan
keluarga ini. Sejak Ayah hijrah ke Malangbong, tak pernah lagi ke Cepu, katanya.

Zaman berganti. Kini perjalanan hidup Sekarmadji justru membuat keluarga Cepu bangga.
Kami rindu bertemu anak-cucu Sekarmadji, kata Nuk. Sardjono merasakan hal yang sama. Kami
tak punya bayangan bagaimana Cepu itu, ujarnya.

lll

RUMAH tua di Jalan Dr Soetomo, Pengkok, Padangan, Bojonegoro, itu kosong, tak terurus.
Bangunan besar berwarna merah dengan lis abu-abu itu milik Mashudi (almarhum), pengusaha
transportasi, anggota PSII pada 1940-an. Ini rumah bersejarah, kata Yunani, 58 tahun, putra
Mashudi.

Sebelum masa pendudukan Jepang, rumah ini ditempati Notodihardjo alias Abdurrahman,
aktivis PSII yang bergabung dengan Muhammadiyah. Saban bulan, Noto mengadakan pengajian
sambil mengumpulkan bantuan untuk kaum fakir. Warga Bojonegoro, Ngawi, Blora, dan Cepu
datang menghadiri pengajian. Mbah Noto ini guru ngaji Sekarmadji, kata Yunani. Beliau punya
mesin tik.

Murid Noto lainnya adalah Suroatmodjo, juga anggota PSII. Putranya, Slamet, 67 tahun,
berkisah tentang sang guru ngaji berdasarkan penuturan ayahnya. Noto berasal dari Surakarta.
Istrinya dari Montong, Tuban. Tutur katanya halus, dia selalu mengenakan blangkon, beskap, dan
selop. Katanya, Noto keturunan Keraton Mangkunegaran, ujar Slamet.

Dalam perenungan guru-murid menurut kisah yang didengar Ahmad, muncul dua sosok.
Noto menaiki macan putih, yang diartikan sebagai pandita. Adapun sosok Sekarmadji muncul
dengan menaiki kuda putih, simbol pengelana.

Rumah ayah Slamet, Suroatmodjo, di Dusun Sale, Sumembramum, Ngraho, sekitar 45


kilometer di barat Bojonegoro. Rumah ini kerap digunakan sebagai tempat rapat tokoh PSII. Kami
menyebutnya pertemuan rahasia, sering dihadiri orang tak dikenal, kata Slamet.

Pada 1950-an, sebulan penuh Noto diperiksa polisi Ngawi. Polisi tidak menemukan bukti
keterlibatannya dalam pemberontakan DI/TII. Hubungan Noto dan Sekarmadji dianggap hanya
bersifat keagamaan. Pensiunan sinder kehutanan itu pun bebas dari tuduhan.

http://semaraks.blogspot.com
6
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Tak jelas benar kapan persisnya Sekarmadji berguru pada Noto. Mungkin ketika Sekarmadji
masih tinggal bersama ayahnya, atau ketika dia kuliah di Surabaya. Kami tak tahu, kata Nuk
Mudarti.

Haji Damamini, 81 tahun, tokoh Masyumi dan Muhammadiyah di Ngraho, bercerita tentang
sosok Noto. Menurut dia, Noto tersohor di seantero Cepu dan kota-kota di sekitarnya. Dia punya
indra keenam, kata Damamini. Kemampuan itulah yang menerbitkan simpati dan hormat banyak
orang kepada Noto.

Hubungan Noto-Sekarmadji banyak diwarnai kisah yang susah ditelusuri kebenarannya.


Ahmad, 60 tahun, salah satu santri Noto, pernah mendengar kisah pertemuan Noto-Sekarmadji di
tepi Bengawan Solo pada 1948. Ketika itu, sang murid hendak mengambil keputusan penting: hijrah
ke Malangbong.

Dalam perenungan guru-murid, menurut kisah yang didengar Ahmad, muncul dua sosok.
Noto menaiki macan putih, yang diartikan sebagai pandita. Adapun sosok Sekarmadji muncul
dengan menaiki kuda putih, simbol pengelana. Noto meminta muridnya memperdalam agama dulu.
Namun Sekarmadji nekat dan memilih pergi ke Malangbong. Mereka lalu berpisah, kata Ahmad.

Noto terus mengajar ngaji hingga wafat, pada 1971. Dia dimakamkan di Padangan. Jejak
Sekarmadji pun semakin kabur sepeninggal sang guru. Ahmad mengenang, Hanya Mbah Noto yang
tahu hati Sekarmadji.

http://semaraks.blogspot.com
7
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Murid Tjokroaminoto di Peneleh

R
UMAH bercat putih di Jalan Peneleh, Surabaya, itu baru dikapur ulang. Di bagian depan, pintu
kayu jati dan dua jendela kecil yang mengapitnya pun baru dicat warna hijau. Selebihnya, tak
ada yang baru dari rumah yang dulu dimiliki Haji Oemar Said Tjokroaminoto ini. Lantainya
saja masih dari semen, kata Mariyun, ketua rukun tetangga setempat.

Rumah pendiri Sarekat Islam yang punya banyak kamar itu pernah menjadi tempat indekos
tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia dari berbagai aliran, di antaranya Soekarno dan
Semaoen, pendiri Partai Komunis Indonesia. Soekarno pernah tinggal di salah satu kamar berlangit-
langit rendah di loteng.

Tjokroaminoto memang membuka pintu rumahnya untuk orang-orang muda yang tertarik
pada pemikiran politiknya. Salah satunya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, yang pindah ke
Surabaya pada 1923, selulus dari Europeesche Lagere School-sekolah dasar Eropa khusus untuk
kalangan Eropa dan yang berdarah Indo-Eropa, dengan pengecualian bagi pribumi berstatus sosial
tinggi.

Anak-anak pribumi yang mengenyam pendidikan elite ini diharapkan bisa menjadi tenaga
pembantu jika disekolahkan ke lembaga pendidikan dokter, sekolah ahli hukum, atau sekolah
pamong praja. Ayah Sekarmadji, Kartosoewirjo, menginginkan anaknya yang saat itu berusia 18
tahun ini menjadi dokter.

Dari Europeesche Lagere School di Bojonegoro, ia dikirim ke Nederlandsch Indische Artsen


School atau Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya. Namun lulusan sekolah tingkat dasar
sepertinya baru bisa mengikuti pelajaran kedokteran setelah lulus kelas persiapan selama tiga tahun.

Saat mengikuti kelas persiapan itulah Kartosoewirjo mulai aktif di politik. Mula-mula ia
bergabung ke Jong Java. Organisasi ini pecah karena anggotanya yang lebih radikal memilih
mendirikan gerakan yang tak terlalu mengagungkan tradisi Jawa dan pemikiran Barat. Mereka
mendirikan Jong Islamieten Bond, yang lebih menyuarakan aspirasi Islam. Kartosoewirjo pun
memilih hijrah ke organisasi baru ini.

Menurut peneliti sejarah Islam di Indonesia, Bahtiar Effendy, sikap radikal Kartosoewirjo itu
memang sudah bawaan. Kartosoewirjo itu kan orang Cepu, ujarnya. Kalau kita bicara Cepu saat
itu kan abangan, bahkan kekiri-kirian. Kartosoewirjo yang dikenal gila membaca ini terpengaruh
buku-buku aliran kiri dan antikolonialisme, yang kebanyakan dia peroleh dari pamannya, Mas Marco
Kartodikromo.

Marco adalah satu dari enam saudara kandung ayah Kartosoewirjo. Ia memilih profesi
wartawan dan menulis di berbagai media ketika itu, bahkan beberapa kali mendirikan penerbitan
sendiri. Marco sendiri sempat aktif di Sarekat Islam, tapi belakangan bergabung dengan Partai
Komunis Indonesia.

http://semaraks.blogspot.com
8
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Bagi pemerintah kolonial, Marco tak ubahnya duri dalam daging. Ia rajin mengkritik secara
terbuka, bahkan tak ragu menyindir pejabat pemerintah, di antaranya penasihat Gubernur Jenderal
Hindia Belanda Urusan Bumiputra, D.A. Rinkes.

Buku-buku Marco-lah yang membuat pemerintah Hindia Belanda mencoret nama


Kartosoewirjo dari Sekolah Dokter. Ia didepak pada 1927 lantaran kedapatan memiliki bacaan
komunis dan antikolonial.

Akibat menganggur, Kartosoewirjo malah mendapat banyak waktu luang mendengarkan


pidato-pidato Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Saya tertarik pada pidato-pidatonya, kata
Kartosoewirjo kepada Panglima Tentara Islam Indonesia Ateng Jaelani.

Kartosoewirjo tak pernah masuk pesantren. Ia mempelajari agama secara serabutan dari
kiai-kiai yang ditemuinya. Saat Sarekat Islam menggelar rapat akbar di Surabaya, Kartosoewirjo ikut
serta. Bubar rapat, anggota Sarekat pergi salat, juga Kartosoewirjo. Seusai sembahyang,
Kartosoewirjo mendekati Tjokroaminoto untuk menyatakan ingin menjadi murid. Ia diterima.

Kartosoewirjo kemudian mondok di rumah Tjokroaminoto. Sebagai pengganti ongkos


pemondokan, Karto diminta bekerja di surat kabar Fadjar Asia, kata putra bungsu Kartosoewirjo,
Sardjono. Kartosoewirjo juga sempat menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Dia berguru soal
Islam dan politik kepada Tjokroaminoto, kata Bahtiar Effendy.

Tjokroaminoto menggembleng muridnya itu di koran yang banyak menulis tema


antikolonial. Awalnya, Kartosoewirjo cuma korektor. Lalu pelan-pelan dia naik pangkat menjadi
redaktur, bahkan sampai ke tingkat pemimpin redaksi.

Saat mengasuh koran tersebut, Kartosoewirjo tidak cuma menulis soal kekejaman
pemerintah kolonial. Ia juga membahas soal Islam dengan bahasa yang keras. Dalam artikel yang
ditulisnya pada 1929, dia menyerukan agar orang Islam bersedia berkorban demi membela agama
Islam.

Tak sekadar menulis, Kartosoewirjo bergabung dengan Partai Sarekat Islam, organisasi yang
dibentuk Tjokroaminoto. Di partai itu, Kartosoewirjo selalu berada dalam faksi nonkooperatif.

Sampai titik ini, hidup Kartosoewirjo mirip Mas Marco, pamannya. Bedanya: Marco komunis,
Kartosoewirjo mengikuti langkah Tjokroaminoto yang memilih Islam sebagai dasar perjuangan.

Pada 1929, kursus ilmu politik dan Islam di rumah Tjokroaminoto rampung. Kartosoewirjo
ditunjuk menjadi wakil Partai Sarekat Islam Indonesia di Jawa Barat. Ia hijrah dari Surabaya ke
Malangbong, Garut. Kota di Jawa Barat itu menjadi basis Kartosoewirjo dalam memimpin Darul
Islam.

http://semaraks.blogspot.com
9
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Mampir di Masyumi

M
ASYUMI lahir pada 7 Agustus 1945, ketika Jepang mulai sibuk bertahan dalam Perang
Pasifik. Dalam bukunya Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Harry J. Benda melihat: Jepang
merestui pendirian organisasi Islam itu dengan harapan kekuatan Islam membantu
dalam perang. Padahal para pendiri Masyumi-Kiai Haji Wachid Hasyim, Mohammad Natsir,
Kartosoewirjo, dan lainnya-menghendaki organisasi ini dapat menghadirkan semangat Islam dalam
perang kemerdekaan.

Waktu itu Kartosoewirjo bukan pendatang baru. Sebelum terpilih sebagai Komisaris Jawa
Barat merangkap Sekretaris I Masyumi, ia sudah aktif dalam Majelis Islam Alaa Indonesia (MIAI),
salah satu organisasi cikal bakal Masyumi. Bersama kawan-kawannya, atas izin Aseha-residen Jepang
di Bandung-ia mendirikan cabang MIAI di lima kabupaten di Priangan.

Kartosoewirjo cukup dekat dengan Jepang. Dalam Soeara MIAI, ia menulis betapa ajaran
Islam akan berkembang bila umatnya ikut membangun dunia baru bersama keluarga Asia Timur
Raya.

Beberapa tahun setelah Proklamasi, dalam Pedoman Dharma Bhakti ia menjelaskan strategi
kerja sama ini terbukti efektif. Masyumi dan MIAI, keduanya buatan Jepang, dengan perantaraan
agen para kiai ala Tokyo, sebenarnya kamp konsentrasi. Namun akhirnya menjadi pendorong dan
daya kekuatan yang hebat (dalam pergerakan Indonesia), tulisnya.

Atas usul Kartosoewirjo pula, Wachid Hasyim, Natsir, dan anggota lainnya, pada 7
November 1945 di Yogyakarta, menyatakan Masyumi sebagai partai politik. Kartosoewirjo tetap
menjabat sekretaris pertama. Programnya menciptakan negara hukum berdasarkan ajaran agama
Islam. Kartosoewirjo juga diberi tugas mendirikan pusat Masyumi di daerah Priangan.

Tujuh bulan setelah itu, pada Juni 1946, Masyumi daerah Priangan mengadakan konferensi
pemilihan pengurus baru di Garut. Kartosoewirjo menunjuk Kiai Haji Mochtar sebagai ketua umum
dan ia sendiri sebagai wakilnya. Nama tokoh politik Islam setempat, seperti Isa Anshari, Sanusi
Partawidjaja, KH Toha, dan Kamran, masuk kepengurusan. Dalam pidatonya, Kartosoewirjo meminta
pengikutnya memahami ajaran Islam yang hanif, menjaga persatuan, dan menghentikan konflik
karena perbedaan ideologi.

Karena konflik sesama bangsa Indonesia hanya akan menguntungkan Belanda, katanya. Ia
mematangkan partai yang diharapkan menjadi wahana organisasi bagi semua kelompok Islam,
sambil mempersiapkan tentaranya sendiri, laskar Hizbullah dan Sabilillah di Priangan.

Semua menyaksikan Kartosoewirjo merupakan sosok berpengaruh dan keras hati. Sikap
kerasnya pada persetujuan Renville mendorong Perdana Menteri Amir Sjarifuddin meminta
Kartosoewirjo menjabat Menteri Pertahanan. Tapi dia menolak, karena masih merasa terikat dengan
Masyumi dan tak menyukai arah politik Amir yang condong ke kiri.

Sebelumnya, dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat di Malang, Jawa Timur,
Februari-Maret 1947, Kartosoewirjo yang mewakili Masyumi menegaskan menolak persetujuan

http://semaraks.blogspot.com
10
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Linggarjati. Sebab, kesepakatan itu menguntungkan Belanda, yang nyata-nyata ingin kembali
menjajah Indonesia. Penolakan itu menimbulkan konflik, Kartosoewirjo diancam gerilyawan sayap
kiri, Pesindo. Bung Tomo meminta Kartosoewirjo mencegah pasukan Hizbullah menembaki
kelompok Pesindo.

Melihat persetujuan Linggarjati dilanjutkan dengan agresi militer Belanda, Kartosoewirjo


memfokuskan perjuangan bersenjatanya dengan basis Islam. Dalam pertemuan di Cisayong, ia dan
kawan-kawan membekukan Masyumi dan semua cabangnya di Jawa Barat. Kartosoewirjo
membentuk Majelis Umat Islam. Masyumi tidak mendukung, walaupun tidak ikut menghantam.

Ketika Masyumi memegang pemerintahan, Natsir mengirimkan surat yang mengajaknya


turun gunung, kembali berjuang dalam batas-batas hukum negara yang ada. Namun Kartosoewirjo
membalas surat Natsir dengan pahit, Barangkali saudara belum menerima proklamasi (Darul Islam)
kami.

http://semaraks.blogspot.com
11
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Akar Yang Terserak

A
WAL tahun lalu, Bambang Soerjadi, 74 tahun, kaget kedatangan tiga tamu tak dikenal.
Mereka berbicara dengan aksen Sunda. Setelah disilakan duduk di kursi tua di ruang tamu
rumahnya, salah seorang tamu-yang kurus dan berkumis-memperkenalkan diri sebagai
Herman. Ia menantu Dianti, salah seorang anak Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Setelah itu,
saya senang sekali, kata Soerjadi. Seperti sudah kenal lama.

Bersama saudara-saudaranya, Herman datang dari Garut, Jawa Barat, untuk mengumpulkan
kembali keluarga besar Imam-panggilan Kartosoewirjo-yang terserak. Selama ini silaturahmi
terputus, kata Herman, yang dihubungi terpisah. Ia mengemban tugas wakil keluarga
Kartosoewirjo. Pertemuan penuh haru di rumah di Jalan Setiabudi Nomor 20, Rembang, Jawa
Tengah, itu diakhiri pelukan emosional.

Soerjadi sendiri tak pernah mengenal sosok Kartosoewirjo. Bahkan fotonya saja saya ndak
punya, katanya. Tapi dia adalah cucu dari kakak Kartosoewirjo, yang bernama Soemarti Ning.
Lantaran ayah mereka bekerja sebagai mantri candu, Soemarti kecil mendapat nama panggilan
Belanda: Dora. Saya lebih mengenalnya sebagai Eyang Dora, kata Soerjadi. Belakangan ia baru
tahu, Eyang Dora adalah kakak Kartosoewirjo. Ibu saya selalu menutupi.

Soemarti dan Sekarmadji Maridjan merupakan sepasang anak Kartosoewirjo, pegawai


perusahaan kehutanan milik Belanda. Mereka tumbuh dan mengecap pendidikan di sekolah Belanda
di Kota Rembang. Selama ini, nama ibu mereka tidak pernah diketahui. Saya juga tidak tahu, kata
Sardjono, anak bungsu Sekarmadji.

Sejak muda, Sekarmadji gemar merantau, dan terakhir mengikuti H.O.S. Tjokroaminoto di
Surabaya. Soemarti terus menetap di Rembang. Soemarti menikah dengan Soero Dipo Menggolo,
yang bekerja sebagai mantri guru-semacam kepala sekolah. Mereka memiliki seorang anak
perempuan bernama Sri Suryowati. Sedangkan Sekarmadji, sejak menikahi Dewi Siti Kalsum, tinggal
di Malangbong, Garut. Keturunan Soemarti berbahasa Jawa, sedangkan keturunan Sekarmadji
sehari-hari bercakap dalam bahasa Sunda.

Sri Suryowati menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan Soedarmo, pemuda asal Blora,
dikaruniai dua anak, yakni Sri Rahayu Siti Jumilah dan R. Handoyo. Setelah bercerai, Sri menikah
dengan Roesman, asal Rembang. Ia melahirkan dua anak, yakni Bambang Soerjadi dan Bambang
Soerjono. Setelah bercerai lagi, Sri menikah dengan Soeryanto, asal Kebumen, dan membuahkan dua
anak, yaitu Bambang Irawan dan Endang Irowati.

Dari enam anak Sri, hanya Soerjadi dan Bambang Irawan yang masih hidup. Dia kena stroke
dan sulit berkomunikasi, kata Soerjadi tentang saudara tirinya itu. Soerjadi juga tidak mengetahui
keberadaan keturunan saudara-saudaranya yang lain.

Dari enam bersaudara itu, Bambang Soerjono merupakan yang paling unik. Dia memeluk
agama Kristen, mengikuti agama istrinya, Iswati, asal Semarang. Dari pernikahan itu, lahir tiga anak
yang kini menetap di Semarang, yakni Rony, Arianto, dan Fifi. Saya tidak pernah bertemu mereka
dan kehilangan kontak, Soerjadi menerawang.

http://semaraks.blogspot.com
12
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Belakangan, Soerjono bercerai dan balik ke Rembang. Ia menikah lagi dengan Sasanti, yang
juga beragama Kristen. Dari pernikahan itu, lahir dua anak: Emi dan Bagus. Dengan keluarga satu
kota ini pun Soerjadi tidak punya kontak. Bahkan, pada saat Lebaran, keponakannya tidak ada yang
datang menjenguknya. Paling cuma papasan bertemu di jalan, ujar Soerjadi. Sepeninggal Soerjono,
Sasanti lebih banyak menetap di Jakarta dengan keluarga lainnya.

Soerjadi, yang memiliki lima anak dan sebelas cucu, tinggal bersama anak perempuan dan
dua cucunya. Ia pernah datang ke Malangbong, pada 1980-an, untuk menemui Eyang Dora, yang di
Malangbong lebih dikenal sebagai Wak Mantri. Ternyata (waktu itu) sudah meninggal, katanya.
Soemarti alias Eyang Dora menetap di Malangbong sejak 1960-an setelah bercerai dari Dipo
Menggolo. Soemarti wafat pada 1975 dan dikubur di pemakaman keluarga di Malangbong.
Nisannya tak bernama, kata Herman.

http://semaraks.blogspot.com
13
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kekasih Orang Pergerakan

B
ATU-BATU kali di atas nisan itu telah berlumut, di bawah payungan pohon-pohon menjulang.
Ini sebuah kompleks makam keluarga di belakang Masjid Jamik di Kampung Bojong,
Malangbong, di Garut, sebuah kota pedalaman di Jawa Barat. Suasana hening dan adem
ketika Tempo berziarah ke sana pada Juli lalu. Di sinilah Dewi Siti Kalsum, istri Kartosoewirjo, yang
akrab dipanggil Wiwiek, beristirahat untuk selamanya.

Lahir pada 1913, Dewi wafat 12 tahun lalu dalam usia 85 tahun. Bersebelahan dengan
makam Dewi adalah kuburan Raden Rubu Asiyah, ibundanya, perempuan menak asal Keraton
Sumedang, Jawa Barat. Di pemakaman ini Kartosoewirjo ingin dikuburkan. Bapak ingin jenazahnya
dekat dengan keluarga Malangbong, kata Sardjono, anak bungsu Kartosoewirjo, kepada Tempo.

Tapi pemerintah Soekarno punya kemauan lain. Sampai sekarang tak jelas keberadaan jasad
Kartosoewirjo setelah dia dieksekusi mati pada September 1962 di sebuah tempat di Teluk Jakarta.
Kartosoewirjo agaknya ingin menunjukkan cintanya kepada Dewi hingga akhir hayat: meminta
dirinya dikuburkan di Malangbong-kendati tak kesampaian.

Pada masa gadisnya, Dewi adalah kembang Malangbong. Dia putri Ajengan Ardiwisastra, kiai
sekaligus ningrat kaya di Malangbong ketika itu. Dewi sangat dekat dan terkesan dengan sikap hidup
ayahnya. Pada usia delapan tahun, ibunya mengajak dia berjalan belasan kilometer ke Tarogong,
Garut, untuk menengok ayahnya yang ditahan Belanda. Pengalaman ini amat membekas di hati dia.

Ardiwisastra ditahan Belanda karena bersama sejumlah ajengan memelopori


pembangkangan terhadap perintah Belanda, yang mewajibkan penjualan padi hanya kepada
pemerintah Hindia Belanda. Pada 1916, Belanda menembak mati Haji Sanusi, tokoh berpengaruh di
Cimareme, Garut. Terjadi pula penangkapan secara besar-besaran terhadap para ajengan, termasuk
Ardiwisastra dan santri-santrinya.

Dewi lulusan Hollandsch Inlandsche School (HIS) met de Quran Muhammadiyah Garut. HIS
adalah sekolah yang pertama berdiri pada 1914, seiring dengan berlakunya politik etis atau balas
budi penjajah Belanda kepada tanah jajahannya. Pendidikan setingkat sekolah dasar ini
menggunakan pengantar bahasa Belanda. Ini berbeda dengan Inlandsche School yang menggunakan
bahasa daerah. Umumnya yang bersekolah di HIS anak bangsawan, tokoh terkemuka, atau pegawai
negeri.

Ketika Dewi sedang mekar mewangi pada 1928, muncullah seorang pemuda di rumahnya. Ia
pintar bicara dan penuh daya tarik bagi Dewi, yang juga mulai aktif di dunia pergerakan. Pemuda itu
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ia mampir ke rumah Ardiwisastra untuk mengumpulkan
sumbangan warga Sarekat Islam guna mengongkosi Haji Agoes Salim ke Belanda. Agoes Salim ke
Negeri Kincir Angin untuk berdiplomasi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ardiwisastra
tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia di Garut.

Sekarmadji saat itu sudah terkenal di kalangan Partai Sarekat Islam Indonesia. Dialah
sekretaris pribadi singa podium Haji Oemar Said Tjokroaminoto-yang ikut melambungkan nama
Kartosoewirjo ke kancah gerakan perlawanan terhadap Belanda. Pada Desember 1927 Karto terpilih

http://semaraks.blogspot.com
14
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

sebagai Sekretaris Umum Partai Sarekat Islam Indonesia. Sejak itu, ia banyak melakukan perjalanan
ke cabang-cabang Sarekat Islam.

Turne itu pula yang akhirnya membawa dia ke Malangbong menemui Ajengan Ardiwisastra.
Setahun setelah pertemuan itu, pada April 1929, Sekarmadji menikahi Dewi di Malangbong. Tentang
pernikahan ini, seorang ulama seusia Ardiwisastra mengatakan Sekarmadji diambil menantu semata-
mata karena motif kepartaian. Apakah calon menantunya tampan atau buruk muka tidak penting,
kata ulama tadi kepada Pinardi, penulis buku Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terbitan 1964.

Bagi Sekarmadji, Dewi punya semacam pertalian darah dengan dia, sama-sama keturunan
Arya Penangsang. Dalam sejarah Kerajaan Demak abad ke-15, Arya Penangsang adalah penguasa
kawasan Jipang yang terbunuh dalam perebutan kekuasaan setelah pamor Demak merosot.

Kepada Ateng Jaelani, tokoh Darul Islam yang lain, Sekarmadji pernah bakal menjadi
menantu Haji Agoes Salim. Tapi, karena Agoes Salim kalah berdebat dengan Sekarmadji, akhirnya
batal. Penyebab lain, Sarekat Islam pecah. Kartosoewirjo tak sehaluan dengan Agoes Salim yang mau
berunding dengan Belanda untuk bicara kemerdekaan. Dan Kartosoewirjo memilih jalan politik
nonkooperatif terhadap Belanda.

Ardiwisastra memandang Sekarmadji pemuda ideal. Apalagi dia punya haluan politik serupa.
Pada Adiwisastra, Sekarmadji memperdalam keislaman dan kepartaiannya.

Dalam sebagian babak pernikahan mereka, Dewi turut bergerilya. Tapi dia tak mampu
menjelaskan alasannya bersusah payah selama 13 tahun keluar-masuk hutan bersama suaminya.
Karena apa ya, saya sendiri tidak tahu, kata Dewi kepada Tempo edisi 5 Maret 1983 (basa Kisah
Pengalamannya ). Kalau disebut karena cinta, Bapak itu sebetulnya orangnya (mukanya) kan
jelek, kata Dewi.

Yang pasti, pada hari tuanya-tanpa Kartosoewirjo-Dewi hidup tenang dan cenderung dingin.
Riwayat hidup yang lebih banyak dilumuri cerita duka bergerilya dengan Kartosoewirjo pernah ia
ceritakan kepada Tempo 27 tahun lalu itu tanpa emosi.

Sebagai istri orang pergerakan, Dewi selalu berpindah-pindah ikut suami. Ia mondar-mandir
Jakarta-Bandung-Garut-Yogyakarta, menumpang di rumah kenalan atau rumah kontrakan. Belum
lagi jika Kartosoewirjo berurusan dengan rumah tahanan. Biasanya, kalau suaminya ditahan, Dewi
pulang ke Malangbong. Saya juga pulang kampung kalau mau melahirkan, kata Dewi.

Dewi melahirkan 12 anak. Lima di antaranya meninggal. Tiga anak terakhir: Ika Kartika,
Komalasari, dan Sardjono, lahir di tengah hutan. Anak-anak yang lain lahir di rumah. Mereka: si
sulung Tati yang meninggal ketika masih bayi, Tjukup yang tertembak dan meninggal pada 1951 di
hutan pada usia 16 tahun, Dodo Muhammad Darda, Rochmat (meninggal pada usia 10 tahun karena
sakit), Sholeh yang meninggal ketika bayi, Tahmid, Abdullah (meninggal saat bayi), Tjutju yang
lumpuh, dan Danti.

Sebagai perempuan, Dewi mula-mula takut juga hidup di hutan. Apalagi saat itu Dewi
menggendong Danti yang baru berusia 40 hari. Dewi sempat berpikir tentang masa depan anak-
anaknya dan sering tercenung sedih. Tapi Kartosoewirjo yang ia kagumi selalu menghibur. Kok,

http://semaraks.blogspot.com
15
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

sedih amat sih! Itu kalimat yang kerap Kartosoewirjo ucapkan jika Dewi sedang bermuram durja.
Biasanya, jika suaminya bilang seperti itu, Dewi langsung merasa tenteram.

Sebelum menjalani eksekusi mati, Kartosoewirjo sempat berwasiat di hadapan istri dan
anak-anaknya di sebuah rumah tahanan militer di Jakarta. Menurut Dewi, saat itu Kartosoewirjo
antara lain berkata tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun mendatang. Dewi
menitikkan air mata. Karto, yang mencoba tabah, akhirnya meleleh. Perlahan-lahan, dia mengusap
kedua matanya.

http://semaraks.blogspot.com
16
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kenang-kenangan Institut Suffah

J
AGUNG, kelapa, ilalang, dan perdu-perduan liar. Kalau Anda datang ke Desa Bojong,
Malangbong, Jawa Barat, tak terlihat bahwa di kebun itu pernah ada sebuah pesantren. Padahal
di situlah, dulu, Kartosoewirjo mendirikan Institut Suffah, pesantren yang mengajarkan agama,
politik, dan kemiliteran.

Di Malangbonglah awal Kartosoewirjo mempelajari Islam. Ia berguru kepada mertuanya,


Ajengan Ardiwisastra, Kiai Mustafa Kamil dari Tasikmalaya, juga Kiai Yusuf Tauziri dari Wanaraja,
yang boleh dibilang sangat berpengaruh terhadap sikap religius Kartosoewirjo.

Keakraban Kartosoewirjo dengan Kiai Yusuf Tauziri terjalin antara 1931 dan 1938, saat sang
Kiai duduk dalam Dewan Sentral Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Kiai Yusuf kemudian menjadi
salah seorang penasihat Kartosoewirjo. Kadang Yusuf, yang berkecenderungan berat ke tasawuf,
dianggap bertanggung jawab atas kegemaran Kartosoewirjo pada mistik. Bahkan beberapa peneliti
mengatakan Kiai Yusuf sebenarnya pemimpin spiritual yang sesungguhnya dari gerakan Darul Islam
pada tahap permulaan. Ia membantu gerakan itu dari segi keuangan dan militer.

Pada 1936, dalam Kongres PSII di Batavia, Kartosoewirjo terpilih sebagai wakil ketua partai.
Kongres ke-22 PSII itu menjadi momentum penting dalam karier politik Kartosoewirjo. Pada 1938,
dalam kongres partai yang ke-24, diputuskan akan didirikan suatu lembaga pendidikan kader di
Malangbong dengan nama Suffah PSII. Rencananya, lembaga yang bertujuan menjadi sarana
pendidikan politik bagi kaum muslim ini akan dibuka pada 20 Februari 1939 di bawah pimpinan
Kartosoewirjo sendiri sebagai Wakil Ketua PSII.

Namun rencana itu tak berjalan mulus. Pada 1939 terjadi perpecahan dalam tubuh PSII.
Puncaknya, dalam kongres partai ke-25 di Palembang, Januari 1940, Kartosoewirjo yang
berseberangan dengan para petinggi partai akhirnya dipecat melalui keputusan Dewan Eksekutif
PSII. Ia juga dituduh telah menyalahgunakan dana partai.

Bersama Kiai Yusuf Tauziri, ia kemudian membentuk Komite Pembela Kebenaran (KPK) PSII,
yang menurut dia merupakan kelanjutan yang sebenarnya dari PSII.

Pada 24 Maret 1940, Kartosoewirjo mendirikan Institut Suffah yang sempat tertunda.
Nama itu diambil dari bahasa Arab, suffah, yang berarti menyucikan diri. Menempati area
perbukitan sekitar empat hektare milik Ardiwisastra, lembaga pendidikan ini berada di sekitar jalan
raya Malangbong-Blubur Limbangan. Tempatnya terpencil dari keramaian kota, di tengah-tengah
kebun kelapa, dan masuk beberapa meter dari jalan raya.

Lembaga itu mirip pesantren. Siswanya menetap di sana. Selain mendapat pengajaran ilmu
pengetahuan umum dan pendidikan agama, para siswa dididik ilmu politik. Kartosoewirjo sendiri
mengajar bahasa Belanda, ilmu falak (astronomi), dan ilmu tauhid kepada siswanya yang berasal dari
Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

http://semaraks.blogspot.com
17
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Dalam masa pendudukan Jepang, KPK-PSII-nya Kartosoewirjo di Malangbong dibubarkan


Jepang. Meski begitu, Kartosoewirjo tetap memfungsikan Institut Suffah. Tapi dengan fokus
pendidikan kemiliteran, karena saat itu Jepang getol memberi pelatihan militer. Siswa yang dilatih
kemiliteran di Suffah lalu menjadi laskar Islam, Hizbullah dan Sabilillah, yang menurut sejumlah
sejarawan kelak menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.

Dalam perjalanannya, Institut Suffah berujung tragis. Pada 1948, bangunan lembaga itu
dihancurkan tentara Belanda, dan hanya menyisakan puing-puing batu bata. Belakangan batu bata
reruntuhan itu pun dijual istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum, untuk membiayai pendidikan putra
bungsunya, Sardjono. Meski memiliki kenang-kenangan yang sangat berarti, apa boleh buat saya
butuh uang untuk menyekolahkan Sardjono, kata Dewi, seperti dikutip majalah ini edisi 5 Maret
1983.

Kini bekas Institut Suffah yang berada di belakang rumah Sardjono di Desa Bojong,
Malangbong, itu tak sedikit pun menyisakan jejak kejayaan pesantren yang didirikan Kartosoewirjo.

http://semaraks.blogspot.com
18
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Ratu Adil Bermodal Keris

K
ABAR itu disiarkan melalui radio tabung ketika fajar baru terbit, 4 Juni 1962. Sekarmadji
Maridjan Kartosoewirjo, Imam Negara Islam Indonesia, diringkus tentara di
persembunyiannya yang becek dan basah, di sebuah hutan yang tidak lebat di Jawa Barat.

Kastolani, komandan kompi Tentara Islam Indonesia di Brebes, Jawa Tengah, tak mampu
menahan amarah. Ia berniat mengajak sembilan anak buahnya menyerbu markas Tentara Nasional
Indonesia. Berusia 29 tahun ketika itu, Kastolani bertambah geram akan sikap para komandannya.

Komandan Batalion dan Komandan Resor Militer Tentara Islam Indonesia di Brebes
justru menganjurkan prajuritnya menyerah. Saya tegaskan: komandan yang menyerah akan saya
tembak, tuturnya kepada Tempo di rumahnya di Salem, Brebes, akhir Juli lalu.

Tapi, melihat para komandan dan anggota Tentara Islam tak berniat melanjutkan
perlawanan setelah Kartosoewirjo tertangkap, ia melunak. Saya perintahkan anak buah saya,
silakan turun kalau mau menyerah, ia mengenang, dengan nada pahit. Tapi, saya ingatkan, jangan
tinggalkan salat.

Kastolani bergabung dengan Tentara Islam Indonesia di Brebes pada 1953. Ia terpikat janji
negara berbasis syariah. Diproklamasikan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949 di Desa Cisampah,
Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, Negara Islam Indonesia memikat ribuan orang pada mulanya.

Tidak ada angka pasti, tapi diperkirakan 50 ribu orang menjadi anggota ketika Kartosoewirjo
ditangkap. Kepada pengikutnya, Karto selalu mengobarkan semangat jihad dan memerangi
pemerintahan kafir Soekarno.

Dianggap memberontak, pengikut Negara Islam Indonesia diburu Tentara Nasional


Indonesia. Sejak itu, mereka masuk hutan. Kastolani menjelajahi hutan di kawasan Bantar Kawung,
Salem, Majenang, Songgong, Cibinbin, dan Jati Rokek. Desa-desa itu merupakan wilayah
pegunungan di Brebes yang hutannya masih tersisa hingga kini.

Kartosoewirjo menggagas Negara Islam setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Agustus
1945. Ia melontarkan keinginan itu ketika menjadi Sekretaris Partai Masyumi Jawa Barat pada
Oktober 1945. Meski ditolak partai, gagasan ini didukung banyak ulama di Jawa Barat.

Melalui para ulama, Karto mempengaruhi anggota Sabilillah dan Hizbullah-sayap


ketentaraan Masyumi-di Jawa Barat pimpinan Oni. Dua laskar itu merupakan cikal bakal Tentara
Islam Indonesia yang dibentuk pada Februari 1948. Merasa mendapat dukungan kuat dari
pengikutnya dan Tentara Islam Indonesia, Kartosoewirjo membekukan kegiatan Partai Masyumi
Jawa Barat. Ia mendirikan Negara Islam Indonesia.

Solahudin, peneliti Darul Islam dari Universitas Indonesia, mengatakan keberhasilan


memperoleh dukungan tak lepas dari strategi Karto menggunakan ajaran tasawuf. Modelnya
tasawuf bercampur unsur kebatinan, katanya.

http://semaraks.blogspot.com
19
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Ia mencontohkan, pada suatu kesempatan, Karto melakukan tapa geni di Gunung Kidul,
Yogyakarta. Dengan bertapa, Karto mengasingkan diri dari keramaian, membersihkan diri dari
pengaruh duniawi. Dalam bahasa Arab, aktivitas ini disebut riyadhoh. Kepada pengikutnya, menurut
Solahudin, Karto meyakinkan bahwa bertapa juga dilakukan Rasulullah ketika memperoleh wahyu
pertama kali di Gua Hira.

Setelah bertapa, Karto mengaku mendapat wahyu cakraningrat-sinar terang yang


disebutkan berbentuk kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Sinar itu disebutkan melingkari wajah
Karto. Ateng Jaelani Setiawan, mantan Panglima Tentara Islam Indonesia, yang ditangkap pada
Maret 1962, mengatakan bahwa dengan wahyu cakraningrat Karto mengklaim dirinya sebagai
khalifatullah. Kartosoewirjo mengangkat dirinya sebagai imam seluruh umat Islam di dunia.

Dalam buku Pedoman Dharma Bhakti Negara Islam Indonesia jilid ketiga, Kartosoewirjo
disebut dengan banyak julukan: Ratu Adil, Imam Mahdi, Sultan Heru Tjokro, dan Satrija Sakti. Julukan
itu disesuaikan dengan ramalan Joyoboyo, pujangga Jawa, tentang orang yang akan memimpin umat
manusia. Konon Kartosoewirjo akan bisa menjadi Ratu Adil jika bisa menyatukan dua senjata pusaka,
yakni Ki Dongkol dan Ki Rompang. Ketika ia ditangkap pada 3 Juni 1962, keris Ki Dongkol ada di
tangannya.

Dalam buku manifesto politiknya, Heru Tjokro Bersabda: Indonesia Kini dan Kelak,
Kartosoewirjo menulis, Heru Tjokro merupakan makhluk Allah yang suci, menguasai dan
memutar roda dunia menuju mardlotillah sejati, yaitu Negara Islam Indonesia. Heru Tjokro juga
diartikan sebagai: penyapu masyarakat jahiliah. Pemerintah Soekarno dianggap kafir karena tidak
menjalankan syariat Islam, dianggap jahiliah, dan harus diperangi.

Karto menganggap situasi Indonesia ketika itu sama dengan masa penyebaran Islam oleh
Nabi Muhammad di Mekah. Sementara Muhammad menghadapi perlawanan kaum Quraisy,
Kartosoewirjo mengatakan menghadapi Tentara Nasional Indonesia. Menurut Solahudin, alih-alih
mengikuti cara tasawuf yang tidak agresif, Kartosoewirjo meminta anak buahnya memerangi
pemerintah.

Karto juga membaurkan ritual keagamaan dengan kebatinan. Pada malam-malam tertentu,
dia mengumpulkan 41 ulama di daerah D-Satu-daerah yang sepenuhnya dikuasai Negara Islam
Indonesia. Mereka berdoa, berzikir, dan bersalat tahajud bersama. Semua dilakukan, menurut
Solahudin, demi menggapai wangsit dari langit.

Al-Chaidar, peneliti gerakan Islam Indonesia dari Universitas Malikussaleh, Nanggroe Aceh
Darussalam, ragu Kartosoewirjo menggunakan pengaruh tasawuf, apalagi yang berbau mistik.
Informasi itu bias, hanya cerita dari mulut ke mulut, katanya.

Untuk menguatkan ketaatan, konsep baiat-pernyataan setia kepada imam-diberlakukan bagi


pengikut. Sebelum berbaiat dengan Kartosoewirjo, seseorang belum dianggap menjadi muslim.
Dengan baiat, pengikut Negara Islam Indonesia dituntut tunduk dan patuh kepada pemimpin.
Dengan kesetiaan ini, sebagian besar pengikut menjadi puritan. Tak aneh, Tentara Nasional
Indonesia butuh 13 tahun untuk melumpuhkan kekuatan Tentara Islam Indonesia.

http://semaraks.blogspot.com
20
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kecewa Lalu Gerilya


Menumpang Momentum Renville

K
artosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia karena kecewa terhadap hasil
perundingan Renville yang ia nilai merugikan umat muslim. Ia pun hijrah ke hutan-hutan di
Garut dan Tasikmalaya. Operasi Pagar Betis melumpuhkan perlawanannya.

Kecewa terhadap perjanjian dengan Belanda, Kartosoewirjo memproklamasikan Negara


Islam. Merasa penguasa de facto di Jawa Barat.

KEDUA tokoh pejuang Islam Jawa Barat itu bertemu dengan hati penuh kuciwa pada awal
1948. Raden Oni Syahroni adalah Panglima Laskar Sabilillah, sedangkan Kalipaksi alias Sekarmadji
Maridjan Kartosoewirjo dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Institut Suffah-yang murid-muridnya
menjadi tenaga inti Laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Mereka membicarakan isi Perjanjian Renville, 17 Januari 1948, yang mengharuskan tentara
dan laskar bersenjata mundur ke belakang garis Van Mook. Kantong-kantong wilayah berisi pasukan
bersenjata di dalam garis itu harus dikosongkan. Ketika itu santer terdengar Divisi Siliwangi yang
menjadi kebanggaan rakyat Jawa Barat akan hijrah ke Yogyakarta.

Pengalaman Perjanjian Linggarjati yang tak dipatuhi Belanda mengingatkan mereka untuk
tak mudah percaya kepada taktik penjajah. Cornelis van Dijk, dalam bukunya, Darul Islam, menulis
bahwa para pejuang Islam kecewa terhadap Perjanjian Renville itu. Mereka menganggap Republik
dan Tentara Nasional Indonesia tak hanya menunjukkan sikap kompromistis terhadap Belanda, tapi
juga membiarkan rakyat Jawa Barat tak terlindungi.

Mudah ditebak hasil pertemuan kedua tokoh itu: Sabilillah-laskar yang awalnya dibentuk
oleh Partai Masyumi-dan Hizbullah menolak perintah pengosongan. Anggota Hizbullah dan Sabilillah
yang hijrah akan dilucuti senjatanya. Beberapa literatur menulis, tentara resmi yang tidak hengkang
juga diwajibkan menyerahkan senjata. Aksi kelompok Hizbullah dan Sabilillah ini memicu
ketegangan. Kelompok bersenjata yang menolak dilucuti kerap melawan.

Oni dan Karto juga sepakat segera menggelar konferensi pemimpin umat Islam se-Jawa
Barat. Menurut Pinardi, dalam bukunya, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, konferensi itu digelar di
Desa Pamedusan, Cisayong, Tasikmalaya, pada Februari 1948.

Konferensi dihadiri 160 perwakilan organisasi Islam. Karto hadir sebagai wakil pengurus
besar Masyumi Jawa Barat. Salah satu keputusan konferensi itu adalah semua organisasi Islam-
termasuk Masyumi-melebur menjadi Majelis Islam Pusat, dan menunjuk Kartosoewirjo sebagai
imam.

Pada Konferensi itu pula tercetus ide pembentukan Negara Islam Indonesia. Salah satu
pengusulnya, Komandan Teritorial Sabilillah, Kasman, merujuk pada dua kekuatan besar dunia saat
itu. Kalau mengikuti Rusia, kita akan digempur Amerika. Begitu pula sebaliknya, kata Kasman.

http://semaraks.blogspot.com
21
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Karena itu, kita harus mendirikan negara baru, yaitu negara Islam, untuk menyelamatkan negeri
ini.

Namun konferensi belum mengambil keputusan tentang negara Islam. Peserta hanya
menyepakati perlunya gerakan perlawanan sementara, berupa pembentukan Tentara Islam
Indonesia, dan menunjuk Raden Oni sebagai pemimpin. Pasukan Tentara Islam ini memilih
bermarkas di lereng Gunung Cupu, di daerah Gunung Mandaladatar, Jawa Barat.

Mengenai pembentukan TII ini, Al-Chaidar dalam bukunya, Pemikiran Politik Proklamator
Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, mencatat beberapa hari setelah konferensi ada
pertemuan lain untuk mewujudkan bentuk konkret TII. Akhirnya, para pejuang Islam itu tidak hanya
membentuk TII, tapi juga sejumlah korps khusus, seperti Barisan Rakyat Islam, Pahlawan Darul Islam
(Padi), dan Pasukan Gestapu. Ada pula pembentukan korps polisi dan polisi rahasia Mahdiyin.

Untuk mematangkan rencana pendirian NII, Karto melakukan serangkaian pertemuan dan
konferensi lanjutan. Dua bulan setelah konferensi pertama, mereka menggelar Konferensi
Cipeundeuy, Bantarujeg, Cirebon. Konferensi itu meminta pemerintah Indonesia membatalkan
sejumlah perundingan dengan Belanda. Jika tidak berhasil, pemerintah RI diminta membubarkan diri
atau membentuk pemerintah baru.

Konferensi juga memutuskan mengadakan persiapan negara Islam untuk menandingi negara
Pasundan bentukan Belanda. Persiapan itu meliputi pembuatan aturan-aturan ala Islam. Setelah di
Cipeundeuy, konferensi lain digelar di Cijoho, Kuningan, yang membahas secara mendalam bentuk-
bentuk ketatanegaraan. Dalam pertemuan ini terbentuk Dewan Imamah (Dewan Menteri), Dewan
Fatwa (Dewan Pertimbangan Agung), dan penyusunan Kanun Azazi atau Undang-Undang Dasar.

Di tengah persiapan pembentukan NII, pada akhir 1948, Ibu Kota Yogyakarta diserang
Belanda. Para pemimpin nasional yang berkantor di sana ditawan, termasuk Presiden Soekarno dan
Wakil Presiden Mohammad Hatta. Peristiwa ini dimanfaatkan Kartosoewirjo sebagai propaganda
tamatnya riwayat republik yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Maka, pada 21 Desember 1948, Kartosoewirjo mengumumkan komando perang suci, perang
total melawan penjajah. Dalam kondisi perang itu, Dewan Imamah dan Dewan Fatwa menjadi
kekuasaan tertinggi.

Akhirnya, melalui Maklumat Nomor 6, Kartosoewirjo mengumumkan kejatuhan Negara RI


dan lahirnya Negara Islam Indonesia. Dia menganggap Jawa Barat sebagai daerah de facto NII,
sehingga setiap pasukan dan kekuatan lain-termasuk tentara resmi-yang melewati wilayah ini
dianggap melanggar kedaulatan. Mereka harus bergabung dengan TII atau dilucuti. Ketika itulah NII
mulai menyerukan jihad fisabilillah.

Pada saat bersamaan, Divisi Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah telah kembali ke Jawa
Barat dengan melakukan long march. Masuknya kembali tentara Siliwangi ke daerah yang dikuasai
pasukan TII menimbulkan gesekan, dan mengakibatkan perang segitiga TII-TNI-Belanda. Perang itu
baru padam setelah digelarnya Perjanjian Roem-Royen.

http://semaraks.blogspot.com
22
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Toh, perjanjian ini tak lebih bagus daripada perjanjian sebelumnya. Kartosoewirjo
mengecam hasil perjanjian itu, seperti tertuang dalam Pedoman Dharma Bhakti Jilid II. Ia menuding
Mohammad Roem, wakil Masyumi yang memimpin perundingan itu, telah menjual negara.

Perjanjian itu dinilainya menimbulkan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Dalam kondisi


vakum itu, menurut dia, tidak ada kekuasaan dan pemerintahan yang bertanggung jawab. Maka
keadaan itu digunakan oleh Kartosoewirjo untuk memproklamasikan berdirinya Negara Islam
Indonesia, 7 Agustus 1949.

Belakangan diketahui, rencana memproklamasikan Negara Islam Indonesia itu bukan yang
pertama kali bagi Kartosoewirjo. Ulama Garut masa itu, Kiai Haji Yusuf Tauziri, memberikan
pernyataan pernah dua kali diminta Karto memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Namun
permintaan itu ditolak Yusuf, Pinardi menulis.

Melihat proses pembentukan Negara Islam Indonesia itu, tak aneh bila ahli politik Islam,
Bahtiar Effendy, menilai Kartosoewirjo tak memiliki landasan ideologi yang kuat. Apalagi mengingat
latar belakangnya sebagai anak mantri candu yang berpendidikan Belanda, dan hanya belajar Islam
secara otodidak. Soekarno jauh lebih kuat pengetahuan keislamannya, kata Bahtiar.

Bahtiar menunjuk kekecewaan Kartosoewirjo terhadap Perjanjian Renville dan perjanjian-


perjanjian berikutnya yang dianggap merugikan kepentingan Indonesia sebagai faktor yang lebih
menentukan pemberontakannya. Tatkala pemerintah Soekarno-Hatta terdesak karena agresi militer
Belanda, Kartosoewirjo memanfaatkan momen itu untuk memproklamasikan NII.

Pendapat ini disanggah putra bungsu Kartosoewirjo, Sardjono. Menurut dia, perjuangan
ayahnya berlandaskan ideologi Islam yang diperjuangkan sejak ia mulai bergabung dengan Sarekat
Islam dengan tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto. Perjanjian Renville hanya momentumnya,
katanya.

http://semaraks.blogspot.com
23
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Upaya Hampa Natsir

P
ERLAWANAN Kartosoewirjo bersemai ketika Indonesia mengikat perjanjian dengan Belanda.
Perdana Menteri Amir Sjarifuddin menandatangani perjanjian di atas kapal perang USS
Renville milik Amerika Serikat pada 17 Januari 1948. Salah satu butir kesepakatan Renville,
penetapan garis Van Mook sebagai batas wilayah Indonesia dengan Belanda. Konsekuensinya,
semua tentara Indonesia harus keluar dari wilayah Jawa Barat yang dikuasai Belanda.

Kartosoewirjo kecewa. Bersama pasukan Sabilillah dan Hizbullah, Kartosoewirjo menolak


mengikuti jejak Divisi Siliwangi mundur ke Jawa Tengah. Dia bertekad tetap bertahan di Jawa Barat
serta terus melawan Belanda.

Melihat ini, Perdana Menteri Mohammad Hatta menunjuk Mohammad Natsir sebagai
penghubung pemerintah-yang saat itu berdomisili di Yogyakarta-dengan Kartosoewirjo. Hatta
menganggap Natsir cukup kenal Kartosoewirjo. Selain sama-sama orang Masyumi, Natsir dan
Kartosoewirjo beberapa kali berjumpa di rumah guru Natsir, A. Hassan, tokoh Persatuan Islam, di
Bandung.

Natsir, dalam wawancara dengan Tempo, Desember 1989, menggambarkan hubungan


Kartosoewirjo dengan pemerintah saat itu masih lumayan mesra. Berkali-kali Kartosoewirjo datang
ke Yogyakarta minta bantuan makanan atau dana bagi pasukannya. Bung Hatta memberikan
bantuan supaya Kartosoewirjo bisa mendinginkan hati orang-orang Jawa Barat yang merasa
ditinggalkan Republik, kata Natsir.

Namun baku tembak antara pasukan Tentara Islam dan Tentara Nasional Indonesia tak
terhindarkan. Kontak senjata pertama terjadi 25 Januari 1949 di Kampung Antralina, Ciawi,
Tasikmalaya. Pertempuran pecah akibat masing-masing pihak mengklaim diserang lawan. Sejak itu,
bara permusuhan Tentara Islam dan Tentara Nasional Indonesia terus menyala.

Bagi Kartosoewirjo, kekosongan kekuasaan di Jawa Barat berarti peluang mendirikan Negara
Islam. Puncaknya, pada 7 Agustus 1949, di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan
Cisayong, Tasikmalaya, Kartosoewirjo mendeklarasikan Negara Islam Indonesia. Tanggal itu persis
dengan keberangkatan Hatta ke Den Haag, Belanda, untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menghentikan niat Kartosoewirjo


mendeklarasikan Negara Islam Indonesia, atau Darul Islam. Sebelum berangkat, Hatta berpesan
kepada Natsir agar berbicara dengan Kartosoewirjo. Ketika itu, 4 Agustus, Natsir menginap di Hotel
Homann, Bandung. Dia menulis pesan di selembar kertas hotel, kemudian meminta tolong A. Hassan
menyampaikan ke Kartosoewirjo. Apa daya, surat itu sampai ke tangan Kartosoewirjo tiga hari
setelah proklamasi Darul Islam. Ya, terlambat. Itu namanya takdir Tuhan, kata Natsir, 21 tahun
lalu.

Menurut Natsir, Kartosoewirjo dijaga ketat pengawal. Tak sembarang orang bisa bertemu. A.
Hassan pun diminta menunggu beberapa hari. Kalaupun tiba tepat waktu, tak mudah menggeser
sikap Kartosoewirjo. Bagi dia, yang berat itu menjilat ludah sendiri, kata Natsir.

http://semaraks.blogspot.com
24
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kartosoewirjo terus bergerilya. Tapi hubungan Kartosoewirjo-Natsir tetap tersambung.


Selama bergerilya, paling tidak dua kali Kartosoewirjo mengirim surat rahasia kepada Presiden
Soekarno, yang ditembuskan kepada Natsir.

Surat pertama dikirim 22 Oktober 1950, berisi pujian atas keputusan pemerintah menjadi
anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut dia, kebijakan itu menunjukkan sikap pemerintah
telah bergeser dari politik netral menjadi politik antikomunis. Di surat berikutnya, enam bulan
kemudian, Kartosoewirjo menjanjikan dukungan kepada pemerintah melawan komunisme.
Republik Indonesia akan mempunyai sahabat sehidup semati, katanya. Namun Kartosoewirjo
memberikan syarat: pemerintah harus mengakui Darul Islam.

Usaha Natsir melunakkan hati sang Imam tak berhenti. Pada Juni 1950, Natsir mengutus
Wali Al-Fatah menemuinya. Ia teman lama Kartosoewirjo. Namun Kartosoewirjo menolak bertemu.
Sang Imam menyatakan hanya bersedia menerima pejabat tinggi Indonesia, bukan utusan. Memang
bukan Natsir yang menaklukkan sang Imam. Ia peluru yang menembus dada Kartosoewirjo pada
September 1962 di Teluk Jakarta.

http://semaraks.blogspot.com
25
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kartosoewirjo Vs Alex Kawilarang

A
WAL 1950. Satu batalion Siliwangi bersenjata lengkap mengepung rapat sebuah rumah di
daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Pasukan bersiaga di segenap penjuru. Semua senapan
teracung ke arah rumah itu. Di situlah diduga tinggal salah satu perwira Darul Islam/Tentara
Islam Indonesia, Haji Syarif alias Ghozin.

Tak menunggu lama, perintah tembak berkumandang. Peluru pun berhamburan. Sang target
utama, Ghozin, malah luput dan berhasil melarikan diri. Hanya istri dan pembantu Ghozin yang bisa
dibekuk.

Aneh. Kolonel Alex Evert Kawilarang, Panglima Tentara Teritorium III/Siliwangi, yang dua hari
kemudian datang memeriksa, menaruh syak. Harusnya seekor ayam pun tidak akan bisa kabur,
kata Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu Imam Darul Islam, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Alex meminta semua anggota pasukan yang terlibat pertempuran itu diperiksa. Dari hasil
pemeriksaan, ditemukan beberapa anggota pasukan Siliwangi punya hubungan kerabat dengan
tokoh Darul Islam. Hubungan kerabat itulah yang membuat prajurit Siliwangi terkesan ragu melawan
tentara Kartosoewirjo.

Cerita itu tidak benar, kata Kolonel (Purnawirawan) Suhanda, 82 tahun, mantan Komandan
Kompi C Batalion 328 Kujang. Anak buah Suhanda, yakni Sersan Mayor (Purnawirawan) Dana, 68
tahun, juga ragu akan kesaksian Sardjono. Dua belas tahun setelah peristiwa pengepungan itu, Juni
1962, Kompi C berhasil menangkap Kartosoewirjo.

Tentara Islam ini memang liat dan ulet. Persenjataannya ala kadarnya dan pasokan logistik
pun ekstraseret. Mereka bertahan bergerilya, dari gunung ke gunung, selama belasan tahun.

Dana mengakui keuletan Tentara Islam. Tapi ada juga faktor lain. Fokus TNI terpecah
karena banyak pemberontakan lain di luar Jawa, ujar Dana.

Pada awal pemberontakan Tentara Islam, semula pasukan Siliwangi belum menemukan
taktik yang jitu. Kolonel Alex menilai pasukan yang dipakai untuk menumpas tentara Kartosoewirjo
terlalu besar. Mobilitasnya jadi kurang. Lamban sekali, kata Alex dalam biografinya. Alex mengakui
kesulitannya menundukkan Kartosoewirjo kendati di awal pemeberontakan dia sempat berjanji akan
menumpas Darul Islam dalam waktu enam bulan saja. Dia kemudian meminta pasukannya
membentuk tim patroli dalam jumlah lebih kecil, tapi lebih gesit. Cukup satu peleton saja, tapi
harus terus bergerak, baik siang maupun malam.

Patroli dalam tim-tim kecil ini pun kurang memadai menghadang pasukan Kartosoewirjo.
Sebagian warga Priangan yang mendukung Kartosoewirjo memberikan tempat persembunyian bagi
Tentara Islam. Alex menganalisis situasi pihak lawan menguasai medan dan didukung sebagian
rakyat. Strategi yang dibutuhkan, menurut Alex, adalah strategi antigerilya.

Alex sudah kenyang pengalaman dalam perang gerilya dari penumpasan pemberontakan
Republik Maluku Selatan. Dia melatih anak buahnya berbagai jurus antigerilya, terutama hinderlaag

http://semaraks.blogspot.com
26
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

(penghadangan), juga menentukan gevechtstelling atau posisi tempur. Strategi inilah yang akhirnya
mematahkan perlawanan Tentara Islam.

Dua peneliti, Cornelis van Dijk dan Karl D. Jackson, punya sejumlah teori kenapa perlawanan
Tentara Islam Indonesia bisa bertahan lama, bahkan jauh lebih lama dibanding Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Permesta, yang digerakkan sejumlah tokoh politik dan
perwira militer.

Dukungan rakyat terhadap Darul Islam memang lebih kuat ketimbang respons masyarakat
terhadap PRRI, yang elitis. Pada akhir 1960-an, Jackson meneliti 19 desa di Jawa Barat.
Kesimpulannya, enam desa memihak Darul Islam, tujuh desa condong ke Pemerintah Republik, dan
sisanya hanya mengikuti arah angin.

Harus diakui pula bahwa Kartosoewirjo lihai merengkuh simpati masyarakat dengan simbol
Islam yang digunakannya.

http://semaraks.blogspot.com
27
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Jejak Gerilya di Belantara Priangan

S ARDJONO Kartosoewirjo-putra Almarhum Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo-menegakkan


posisi duduknya dan mengencangkan volume pemutar musik di mobil itu. Suara penyanyi
balada Amerika, John Denver, terdengar melantunkan Take Me Home, Country Roads.

Almost heaven, West Virginia

Blue Ridge Mountains

Shenandoah River

Mobil yang ditumpanginya memasuki gugus pegunungan di pinggiran Kota Bandung. Saya
anak hutan, lahir dan tumbuh di hutan, kata pria 48 tahun itu. Sardjono dilahirkan ketika ayahnya
bergerilya setelah memproklamasikan Negara Islam Indonesia dan baru keluar dari hutan pada usia
lima tahun.

Pertengahan Juli lalu, Sardjono bersama Tempo melakukan napak tilas menyusuri daerah
gerilya Kartosoewirjo. Rombongan berangkat dari Jakarta siang hari, senja sampai Bandung, dan
masuk pegunungan Jawa Barat saat rembang petang.

Mendekati daerah Malangbong, Garut, sekitar satu jam perjalanan dari Bandung, Sardjono
membaca selarik sajak dengan suara bergetar.

Di jalan ini kami pernah menerobos pagar betis tentara, mau ketemu Bapak di gunung
seberang, katanya. Ayahnya dieksekusi regu tembak di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta.

lll

MOBIL tumpangan itu terseok-seok melintasi daerah pegunungan. Hujan deras mengganggu
penglihatan dan pendengaran. Sardjono, yang duduk di kursi depan, terus bercerita tentang masa
kecilnya. Jalanan naik-turun berkelok tajam, kanan-kiri berselang-seling area permukiman dan hutan.

Di rerimbunan hutan, 60 tahun lalu Kartosoewirjo bersama para pengikutnya menggalang


kekuatan. Hutan tempat gerilya terbentang luas di gugus pegunungan Priangan-Ciamis, Garut,
Sumedang, dan Tasikmalaya.

Pemberontakan Kartosoewirjo dipicu oleh kekecewaan terhadap pemerintah pusat, juga


oleh hasil perundingan pemerintah pusat dan Belanda yang dinilai merugikan. Perjanjian Renville
pada 1949, misalnya, yang berisi kesepakatan membagi daerah kekuasaan Indonesia dengan
Belanda, mendorong pasukan Siliwangi di Jawa Barat melakukan long march ke Jawa Tengah, di
daerah kekuasaan Republik. Kartosoewirjo dan pengikutnya menolak ikut serta.

Batas daerah kekuasaan Republik dengan Belanda dipisahkan garis Van Mook-yang
memanjang di daerah Tasikmalaya sepanjang Sungai Citanduy. Daerah kekuasaan Indonesia berada
di sebelah timur sungai, termasuk Ciamis. Daerah di sebelah barat, termasuk Tasikmalaya, menjadi
wilayah Belanda. Di Jalan Dr M. Hatta terdapat jembatan yang melintasi sungai itu. Papan reklame
komersial bertebaran di sekitarnya. Di daerah aliran sungai, pepohonan masih rimbun.

http://semaraks.blogspot.com
28
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Jejak garis Van Mook kini juga direpresentasikan Jembatan Cirahong, 15 menit perjalanan
dari pusat Kota Tasikmalaya. Jembatan sepanjang 200 meter itu dibagi dua. Separuh masuk Ciamis,
separuhnya masuk Tasik, kata warga pengatur arus kendaraan di mulut jembatan.

Karena perlintasan hanya searah, kendaraan yang lewat harus meluncur bergantian. Bagian
bawah jembatan merupakan jalan kendaraan umum, dan bagian atasnya untuk lintasan kereta api.
Air sungai terletak 30 meter di bawah.

lll

JOHN Denver telah mengganti lagunya menjadi Forest Lawn. Mobil tumpangan itu kini
melintasi jalan tanah berbatu 10 kilometer di sekitar Gunung Galunggung. Di sekeliling terlihat
gerombolan kera berkerumun.

Dari jalanan terlihat tebing yang menyangga punggung gunung. Atas gunung itu dulu
dijadikan tempat pemantau, Sardjono mengisahkan. Dari sana, petugas mengamati gerakan
pasukan musuh. Komunikasi antarpetugas menggunakan siulan atau suara burung.

Daerah bawah punggung gunung dijadikan markas karena tersembunyi dan dekat dengan
aliran sungai. Kebutuhan sehari-hari cukup tersedia. Itu adalah markas terbesar-menampung sang
Imam, julukan Kartosoewirjo, dan 500 orang pengikutnya, termasuk pengawal dan keluarga.

Durasi menetap rombongan Kartosoewirjo di satu tempat bergantung pada potensi


ancaman. Di daerah yang tak aman, mereka tinggal hanya dua malam. Di tempat sebaliknya, mereka
bertahan hingga setahun. Kawasan hutan itu kini masih lebat oleh pohon. Ketika bergerilya dulu,
rombongan Kartosoewirjo masuk jauh ke dalam hutan. Di atas sana, kata petugas wisata Cipanas
Galunggung menunjuk ke arah pedalaman.

Banyak kegiatan membunuh sunyi. Salah satunya olahraga. Favoritnya senam lantai, kata
Sardjono. Dalam masa berpindah-pindah itu, peralatan senam berupa ring besar selalu dibawa.
Nantinya ring digantungkan di tangkai pohon yang besar. Saat senggang, Kartosoewirjo senam
bergelantungan. Tangannya kekar, lebih kuat dari kakinya.

Kartosoewirjo dan timnya juga mendekati penduduk desa, merekrut anggota, sekaligus
mencari tambahan logistik. Pernah ada cerita tentang suami-istri dari desa pinggir hutan yang
menitipkan bayinya ke rombongan Kartosoewirjo. Mereka khawatir si bayi bakal dimangsa harimau
karena sang ayah mendalami ilmu pamacan-kesaktian yang bisa meningkatkan kemampuan diri
hingga mirip macan. Setiap malam, pasukan Kartosoewirjo bergantian menjaga si bayi dengan
tombak yang ujungnya dibebat kain yang dibakar. Naas, di malam ke-40, semua penjaga ketiduran.
Esoknya, tinggal ibu jari bayi yang tersisa, Sardjono mengisahkan.

Kegiatan rutin lain adalah bergerilya menghindari kepungan tentara, terutama ketika
Operasi Pagar Betis digelar. Ada saatnya rombongan harus menyeberangi pagar betis tentara.
Barikade tentara Republik sangat ketat. Setiap 10 meter ada posko pasukan. Tali penghubung
antarpos digantungi kaleng-kaleng sehingga berisik bila terlanggar.

Kisah lucu menerobos pagar betis pernah terjadi saat rombongan Kartosoewirjo akan
menyeberang ke daerah Garut. Sekitar 200 orang mengendap-endap di malam hari. Memasuki area

http://semaraks.blogspot.com
29
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

perkebunan, kendaraan patroli tentara mondar-mandir. Pemimpin rombongan di depan


memberikan pesan dengan berbisik secara beruntun. Awalnya, pesan berbunyi: Hati-hati ada
patroli. Tapi, sampai tengah, pesan mulai menyimpang, dan sampai ke belakang menjadi: Aya
huwi, aya huwi-bahasa Sunda yang berarti ada ubi. Sebagian anggota rombongan berhamburan
mengejar fatamorgana. Untung tidak tertangkap, kata Sardjono geli.

lll

KEMAL masih fasih melafalkan cukilan ayat Al-Quran-Dan tidaklah engkau melempar ketika
melemparkan, Allah yang melempar. Dulu, ayat itu selalu dibacanya setiap kali akan meletupkan
senjata mesin otomatis sesuai dengan petunjuk komandannya. Saya pemegang bren, katanya.
Waktu muda perkasa, Kemal adalah tentara Darul Islam. Sekarang dia sudah renta, ringkih. Ia hanya
bisa berbahasa Sunda.

Rumahnya di Ciakar, Cibeureum, Tasikmalaya. Kampungnya berbatasan dengan hutan, tepat


di kaki Gunung Galunggung. Saat disambangi, dia sedang menunggu magrib: bersarung, dengan peci
hitam dan sorban merah lusuh. Kemal tak tahu tahun kapan dilahirkan. Dia hanya ingat usianya 17
tahun ketika bergabung dengan Kartosoewirjo.

Awalnya, Kemal masuk Institut Suffah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan
Kartosoewirjo pada 1940-an, yang berlokasi di jalan Malangbong-Blubur Limbangan. Orang tua
Kemal terpesona oleh ajaran Kartosoewirjo sehingga menyekolahkan anaknya di sana.

Selama menjadi tentara, Kemal sering bertugas menyusup ke desa-desa pinggir hutan.
Karena itu, dia jarang bertemu dengan Kartosoewirjo. Yang jelas, Setiap perintah Imam harus kami
laksanakan, katanya.

Di matanya, Kartosoewirjo adalah pribadi yang keras dan bijaksana. Dalam banyak
kesempatan di markas, dia selalu memberikan pengajian dan tuntunan kepada anak buahnya.
Rujukannya Al-Quran. Kartosoewirjo dasarnya Islam. Kalau Soekarno kan Pancasila, ujar Kemal.

Selain mengajarkan agama, Kartosoewirjo menggelar latihan kemiliteran bagi laki-laki dan
keterampilan khusus untuk perempuan. Seperti jahit-menjahit, kata Dudung, 85 tahun, bekas
tentara Darul Islam yang kini tinggal di Kampung Padakarya, Sariwangi, Tasikmalaya.

Mendapat ajaran agama, para anggota menggebu. Kami berjuang menegakkan Islam, kata
Kemal. Tapi Operasi Pagar Betis pelan-pelan melemahkan mereka. Pasokan logistik terhenti, ruang
gerak menyempit. Satu per satu anggota menyerah. Kartosoewirjo akhirnya menginstruksikan turun
gunung. Kembalilah bertani di kampung, kata Kemal menirukan sang Imam.

http://semaraks.blogspot.com
30
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Misteri Ki Dongkol dan Ki Rompang

K
EDUA pusaka itu selalu menyertai ke mana pun Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pergi. Jika
tak terselip di pinggang pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1907 tersebut, Bajuri,
pembantunya, selalu setia membawa. Di mana ada Kartosoewirjo, di situ ada Bajuri dan di
situ pula ada keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang. Kedua pusaka itu baru terpisah dari si
empunya saat Kartosoewirjo ditangkap pada 3 Juni 1962.

Saat ditangkap, pemimpin Darul Islam ini menyerahkan kembali keris dan pedang itu kepada
keluarga yang memang seharusnya memegang secara turun-temurun. Kedua pusaka tersebut
didapat Kartosoewirjo sekitar 1936 dari seorang tokoh Garut bernama Eyang Sinunuk. Eyang melihat
sosok Kartosoewirjo sebagai pribadi penuh kredibilitas. Kedua pusaka itu diserahkan kepada
Ibrahim Adji. Kebetulan Eyang Sinunuk adalah leluhur Pangdam Siliwangi Ibrahim Adji, kata
Sardjono Kartosoewirjo, salah satu putra Kartosoewirjo.

Peran keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang selama perjuangan Kartosoewirjo memimpin
pemberontakan DI/TII sangat diakui. Kartosoewirjo dikenal sebagai orang yang fanatik terhadap
Islam tapi kental dengan unsur Jawa tradisional. Sebagaimana orang Jawa, ia pun gemar melakukan
tapa dengan cara pati geni (tidak makan, tidak tidur, dan tidak minum) selama 40 hari di gua Walet,
di sekitar Gunung Kidul.

Syahdan, kedua pusaka itu menjadi salah satu senjata andalan Kartosoewirjo menanamkan
pengaruhnya di daerah pegunungan Jawa Barat. Banyak anggota masyarakat yang percaya bahwa
orang yang memiliki kedua pusaka itu adalah seorang Ratu Adil Kawedal atau Ratu Adil yang baru
muncul.

Dalam buku Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo karangan Pinardi H.Z.A., salah satu bekas
panglima kelompok Kartosoewirjo mengatakan terdapat kepercayaan mistis dalam masyarakat Jawa
Barat bahwa orang yang dapat menyatukan kedua pusaka itu akan memiliki kemenangan dalam
perjuangan. Ia mengatakan kedua pusaka itu tak pernah terlepas dari badan Kartosoewirjo. Hanya
kadang-kadang saja dititipkan kepada orang kepercayaannya yang bernama Raspati, katanya.

Alhasil, kedua pusaka tersebut menjadi daya tarik mistis tersendiri kaum Islam tradisional.
Tingginya kepercayaan itu terlihat saat dipamerkannya kedua pusaka tersebut di pameran Usaha
Pemulihan Keamanan yang diselenggarakan Kodam VI Siliwangi pada pekan industri di Bandung,
Agustus-September 1962. Hampir semua pengunjung yang datang ke pameran itu hanya ingin
melihat bentuk keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang.

Namun keampuhan kedua pusaka itu dibantah oleh Sardjono. Menurut dia, pada kedua
pusaka itu sama sekali tak ada unsur gaib. Senjata biasa saja, bahkan yang satunya rompang,
makanya jadi sebutan, katanya. Ia juga menampik jika disebutkan kedua pusaka tersebut selalu
terselip di pinggang Kartosoewirjo. Masak Imam ke mana-mana selalu bawa-bawa barang, yang
bawa pembantunya, namanya Bajuri. Kadang-kadang saja diselipkan di pinggang, katanya.

Sardjono mengakui banyak orang yang selalu bertanya-tanya akan keampuhan kedua pusaka
itu. Bahkan pernah sekali waktu salah satu pengawal Kartosoewirjo, Kadar Sulihat, menanyakan

http://semaraks.blogspot.com
31
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

kepada Kartosoewirjo soal kedua pusaka yang selalu dibawanya itu. Dengan lugas Kartosoewirjo
menjawab, Pusaka ini menjadi pengingat. Dulu orang berjuang hanya dengan pisau, sekarang
dengan senjata modern. Harus lebih berani.

http://semaraks.blogspot.com
32
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Tiga Berpayung Kecewa

D
AFTAR 300-an tokoh Aceh itu membuat gempar Tanah Rencong. Itulah nama-nama yang
dinilai melawan pemerintah pusat. Operasi penangkapan pun terjadi. Berdasarkan daftar
hitam itu, Jaksa Tinggi Sunarjo memburu mereka dan menjebloskan mereka ke penjara.

Daftar nama itu diperoleh pemerintah dari Mustafa pada 1953. Mustafa adalah utusan
Kartosoewirjo-pemimpin Negara Islam Indonesia. Dia ditangkap di Jakarta sepulang mengunjungi
Daud Beureueh di Aceh. Aparat menemukan pula dokumen pengangkatan Daud Beureueh sebagai
Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh yang ditandatangani Kartosoewirjo.

Dua kali Mustafa Rasjid atau Abdul Fatah setidaknya bertemu dengan Daud Beureueh.
Pertemuan itu juga disaksikan Hasan Saleh, salah satu pemimpin militer Aceh. Seru juga saya
berdebat dengannya, disaksikan Teungku Daud Beureueh, kata Hasan dalam bukunya, Mengapa
Aceh Bergolak. Rupanya ia lebih banyak menguasai bidang politik daripada agama.

Penangkapan beberapa tokoh Aceh menjadi pemicu gerakan Aceh melawan pusat. Pada 21
September 1953 meletus perang antara masyarakat Aceh pimpinan Beureueh dan pemerintah
pusat. Ini ironis. Sebab, pada Mei di tahun yang sama, di hadapan peserta Kongres Ulama di Medan,
Beureueh menyatakan keputusannya mengadakan kerja sama erat dengan pemerintah untuk
menegakkan amar makruf nahi munkar. Membela yang benar, menjauhi yang salah.

Perasaan tidak puas dan kekecewaan rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat sebenarnya
sudah bergejolak pascakemerdekaan. Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh, organisasi bentukan
Beureueh, menuntut otonomi dengan menjadikan Aceh provinsi. Tuntutan itu tidak dipenuhi.
Pemerintah Republik Indonesia Serikat pada 1950, yang membagi wilayah Indonesia menjadi 10
provinsi, menjadikan Aceh kabupaten dan bagian dari Provinsi Sumatera Utara.

Saat perjuangan kemerdekaan, Beureueh menjabat gubernur militer wilayah Aceh, Langkat,
dan Tanah Karo. Dia dikenal sebagai ulama karismatis. Majalah Indonesia Merdeka, dalam
terbitannya pada 1 Oktober 1953, menulis bagaimana Beureueh mampu menyihir orang lewat
ceramahnya berjam-jam yang biasa dilakukannya di masjid.

Abu-demikian Daud Beureueh biasa dipanggil-mendirikan Persatuan Ulama-ulama Seluruh


Aceh pada 1939. Van Dijk, dalam bukunya, Darul Islam Sebuah Pemberontakan, menyebut watak
organisasi Persatuan Ulama mirip Muhammadiyah. Organisasi ini juga bertujuan memurnikan ajaran
Islam sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Persatuan Ulama menggembleng rakyat untuk melawan
Hindia Belanda.

Daud Beureueh memiliki mimpi Aceh menjadi negara Islam yang besar dan jaya. Kami
mendambakan masa kekuasaan Sutan Iskandar Muda ketika Aceh menjadi negara Islam, kata
Beureueh, seperti dikutip Boyd R. Compton dalam bukunya, Kemelut Demokrasi Liberal.

Pasca pembagian kekuasaan di masa kemerdekaan pada akhirnya membuat hubungan pusat
dan daerah tegang. Tidak hanya Aceh yang tak puas, hal yang sama muncul juga di sejumlah daerah.
Di Sulawesi Selatan, Kahar Muzakkar alias Abdul Qahhar Mudzakkar mengangkat senjata melakukan

http://semaraks.blogspot.com
33
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

perlawanan terhadap pusat. Kahar sebelumnya adalah pemimpin Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan
dengan pangkat terakhir letnan kolonel. Kahar marah kepada pusat karena, antara lain, tuntutan
agar anak buahnya diterima menjadi tentara nasional tanpa proses seleksi ditolak.

Pada Agustus 1951, Kahar mendapat tawaran dari Kartosoewirjo melalui utusan Buchari,
Wakil Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia, dan Abdullah Riau Soshby. Kahar menerima tawaran
dan pada 7 Agustus 1953 ia pun memproklamasikan penggabungan gerakannya dengan Negara
Islam Indonesia. Ia menjadi panglima Divisi Hasanuddin Negara Islam Indonesia. Adapun Syamsul
Bachri ditunjuk sebagai Gubernur Militer Sulawesi Selatan.

Kartosoewirjo merencanakan Negara Islam Indonesia berbentuk kesatuan dengan rotasi tiga
imam: Kartosoewirjo, Daud Beureueh, dan Kahar Muzakkar. Kahar adalah imam pertama pengganti
Kartosoewirjo. Berdasarkan faktor usia, semestinya Beureueh yang menjadi imam pengganti
pertama. Rotasi model ini ditolak Beureueh.

Menurut dia, sistem imam tak memberikan rencana yang jelas mengenai pembagian
kekuasaan atau struktur negara. Protes Beureueh terhadap Kartosoewirjo sebenarnya tak semata
perihal imam ini. Dia kerap mengkritik kebijakan Negara Islam Indonesia Jawa Barat. Dalam pidato
Majelis Syura pada 1960, misalnya, Beureueh menyebut sistem militer Negara Islam Indonesia
sebagai sistem bobrok. Beureueh menunjuk Kartosoewirjo telah menghilangkan Dewan Imamah
atau pemimpin yang dikuasai para ulama.

Katosoewirjo membentuk Dewan ini pada Agustus 1948 dengan melibatkan sejumlah ulama
besar, seperti Sanusi Partawidjaja, Kiai Haji Gozali Tusi, dan R. Oni Mandalatar. Pemimpin atau imam
dipegang Kartosoewirjo sebagai panglima tertinggi. Pascaagresi militer Agustus 1949, Kartosoewirjo
mengganti Dewan Imamah menjadi Komandemen Tertinggi.

Lalu Negara Islam Indonesia pun dibagi menjadi lima wilayah: tiga di Jawa serta dua lainnya
di Sulawesi Selatan dan Aceh. Tiap wilayah dijabat panglima atau komandan. Organisasi model
militer ini pun menghilangkan struktur Majelis Syura yang juga diatur dalam konstitusi Negara Islam
Indonesia. Kelompok Jawa Barat memandang struktur militer dibutuhkan saat perang. Sementara
Aceh memandang prinsip sebuah negara tak dapat dihilangkan dalam suasana apa pun.

Perbedaan pendapat terus berlanjut. Pada Januari 1955, Aceh mengeluarkan struktur
pemerintah dengan presiden Imam Kartosoewirjo dan sebagai wakil presiden Daud Beureueh.
Beureueh mengembalikan dua ulama yang sempat bergabung dengan Dewan Imamah. Selain itu, dia
mengumumkan Aceh sebagai bagian dari negara bagian atau negara konstituen Negara Islam
Indonesia. Kartosoewirjo tak setuju dengan tindakan Beureueh. Pada 7 Maret 1957, Kartosoewirjo
mengirim surat, menegur Beureueh. Dia menyatakan perubahan itu belum saatnya.

Meski Kahar tak banyak melakukan protes atas kebijakan Kartosoewirjo seperti Beureueh,
secara mendasar terdapat perbedaan ideologi di antara keduanya. Kahar ingin wilayah
kekuasaannya mengikuti negara Islam model kekhalifahan pasca-Rasulullah. Kahar mengubah
istilah imam menjadi khalifah, kata anak sulung Kahar, Hasan Kamal Qahhar Mudzakkar, kepada
Tempo. Selain itu, Kahar menggunakan istilah Darul Islam untuk menggantikan sebutan Negara
Islam.

http://semaraks.blogspot.com
34
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kahar sangat tegas menentang terjadinya bidah dan khurafat dalam Islam. Menurut Hasan,
sikap ini berbeda dengan Kartosoewirjo. Mungkin karena pemahaman agama Kartosoewirjo yang
berbeda, katanya. Menurut buku Al-Chaidar, Pemikiran Politik S.M. Kartosoewirjo, pada akhir 1955,
Kahar mengeluarkan Piagam Makalua yang menggambarkan sifat gerakan yang berusaha
melenyapkan praktek-praktek tradisional. Dia ingin rakyat meninggalkan gelar adat, seperti andi,
daeng, gede-bagus, teuku, dan raden. Gelar haji pun dilarang karena dianggapnya bentuk
feodalisme.

Kahar pun melakukan perombakan organisasi sosial dan ekonomi negara. Rakyat dilarang
memakai emas dan permata, mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan mahal seperti wol atau
sutra, memakai minyak rambut, hingga makan dan minum dari makanan dan minuman yang dibeli di
kota seperti susu, cokelat, dan mentega. Darul Islam ingin menciptakan ragam masyarakat yang
sama derajat dan puritan, kata Hasan.

Karakter dan gaya yang berbeda dari tiga imam ini pada akhirnya membuat gerakan yang
mereka pimpin berbeda pula nasibnya. Gerakan Aceh pimpinan Beureueh berakhir damai dengan
pemerintah tanpa ada tokoh penting yang ditembak mati. Ulama terkemuka itu turun gunung pada
1962 dan meninggal pada 1987 dalam usia 91. Adapun soal kematian Kahar ada dua versi. Ada yang
mengatakan dia tewas tertembak di tepi Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara, dalam Operasi Kilat pada
3 Februari 1965 dan ada yang menyatakan ia tidak pernah tertembak. Yang pasti jenazahnya
memang tak pernah ditemukan. Karena itu, ujar Hasan, Keluarga tak berani menyebut ayah itu
almarhum.

http://semaraks.blogspot.com
35
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Jalur Komando Praktis di Era Revolusi

N
EGARA Islam Indonesia, menurut Kanun Azazi, berbentuk djumhuriah, yakni republik Islam
yang dipimpin oleh seorang imam. Tapi kenyataannya, struktur negara semacam ini bersifat
teokrasi dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo menjadi pemimpin tunggal. Karto
mengangkat dirinya sebagai imam bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

Karto menggagas sendiri sistem pemerintahan-nya. Ia mengatur administrasi pemerintah, negara,


dan militer. Semula, melalui Maklumat Nomor 1, dia memisahkan urusan politik dan militer.
Pemimpin pemerintahan sipil sekaligus bertugas sebagai komandan pertahanan di daerah masing-
masing. Sementara itu, pemimpin militer memimpin pertempuran.

Setahun kemudian, atau dua bulan setelah Negara Islam diproklamasikan, pada 3 Oktober 1949,
maklumat itu direvisi menjadi Maklumat Komandemen Tertinggi Nomor 1, yang menyatukan urusan
politik dan militer. Tujuannya mencegah dualisme kepemimpinan dan pertentangan yang mungkin
disebabkan oleh perasaan superior antargolongan. Misalnya golongan militer yang merasa lebih
tinggi ketimbang sipil atau sebaliknya.

Menurut Kartosoewirjo, organisasi mesti praktis dan sesuai dengan tuntutan pergolakan revolusi.
Dengan demikian, kewajiban dapat dilaksanakan dengan cepat dan tegas. Intinya, ahli politik harus
dimiliterkan, dan ahli militer dipolitikkan. Seorang kepala daerah yang telah dimiliterkan bisa
menginstruksikan pasukan bersenjata menghadapi keadaan yang muncul tiba-tiba. Demikian pula
sebaliknya.

STRUKTUR PEMERINTAHAN NEGARA ISLAM INDONESIA

BERDASARKAN MAKLUMAT KOMANDEMEN TERTINGGI NOMOR 1

KOMANDEMEN TERTINGGI

Imam merupakan pemimpin umum secara politik dan militer, sebagai panglima tertinggi. Adapun
pemimpin harian dipegang oleh kepala staf umum atau generale staff.

KW 1:

Priangan Timur (berpusat di Tasikmalaya, meliputi Jakarta, Purwakarta, dan Cirebon)

KW 2:

Jawa Tengah

KW 3:

Jawa Timur

KW 4:

Sulawesi Selatan dan sekitarnya

http://semaraks.blogspot.com
36
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

KW 5:

Sumatera

KW 6:

Kalimantan

KW 7:

Serang-Banten, Bogor, Garut, Sumedang, Bandung

KOMANDEMEN WILAYAH (KW)

Terdapat tujuh Komandemen Wilayah. Panglima Komandemen Wilayah memimpin secara politik
dan militer di tingkat wilayah atau setara dengan provinsi. Dia memiliki dua wakil, yakni Wakil I dan
Wakil II Panglima Komandemen Wilayah yang bisa menggantikan panglima jika panglima
berhalangan. Adapun kepengurusan harian dijalankan oleh Kepala Staf Komandemen Wilayah.

KOMANDEMEN DAERAH

Dipimpin oleh seorang Komandan Komandemen Daerah. Ia memiliki dua wakil, yakni Wakil I dan
Wakil II Komandan Komandemen Daerah, yang bisa menggantikan pemimpin mereka jika pemimpin
berhalangan. Pemimpin harian dipegang oleh Kepala Staf Komandemen Daerah.

KOMANDEMEN KABUPATEN

Dipimpin oleh Komandan Komandemen Kabupaten. Jika berhalangan, perannya bisa digantikan
Wakil I atau Wakil II. Pemimpin harian dipegang oleh Kepala Staf Komandemen Kabupaten.

KOMANDEMEN KECAMATAN

Dipimpin oleh seorang Komandan Komandemen Kecamatan, dan dibantu oleh seorang wakil.
Pengurus harian dijalankan oleh Kepala Staf Komandemen Kecamatan.

Sistem pemerintahan Negara Islam Indonesia juga mengenal kepala desa atau lurah di posisi paling
bawah, yakni pemegang kekuasaan di tingkat desa. Malah di level terendah ini gerakan memperluas
pengaruh dan meningkatkan dukungan masyarakat lebih efektif. Di sebuah area yang baru dikuasai,
misalnya, langsung dibentuk pemimpin pemerintahan dengan ketua-nya lurah. Karena area
kekuasaannya sempit-terbatas pada daerah yang baru direbut-lurah tentu punya semangat
berekspansi memperluas wilayahnya menjadi kecamatan.

SUMBER: PINARDI, DALAM SEKARMADJI MARIDJAN KARTOSOEWIRJO, 1964

http://semaraks.blogspot.com
37
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Lubang Peluru di Menara Masjid

K
ABAR itu berembus dari mulut ke mulut: kelompok Darul Islam akan menyerbu. Malam
sehabis isya pada 17 April 1952, Kampung Cipari, Wanaraja, Garut, Jawa Barat, senyap.
Sebagian penduduk kampung itu meninggalkan rumah. Mereka berkumpul di kompleks
Pesantren Darussalam milik KH Yusuf Tauziri.

Salaf Sholeh terus mengajar beberapa santri yang mengaji di rumahnya. Ia belum
mengungsi. Rumahnya hanya 50 meter dari pesantren. Sekalian berjaga, pikirnya. Berusia 18 tahun
ketika itu, ia tiba-tiba mendengar ledakan dan suara tembakan. Dari gorden jendela yang ia buka,
terlihat semburat merah di langit. Serangannya mendadak, katanya kepada Tempo.

Ia memperkirakan penyerang datang lewat tengah malam. Ternyata, kelompok Darul Islam
pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo datang lebih cepat. Bunyi kentongan pun bersahutan.
Sekitar 3.000 penyerang mengurung desa. Pesantren Darussalam jadi sasaran. Beberapa rumah di
sekitarnya dibakar. Sholeh dan seisi rumah melompat dari jendela, lari menuju pesantren.

Di dalam kompleks pesantren, Yusuf Tauziri, paman Sholeh, mengatur komando menahan
serangan. Ia berdiri di puncak menara masjid, lalu melempar granat. Para santri di bawah bersiaga
dengan senapan dan batu. Bentrok berlangsung sampai pukul tiga dinihari. Masjid 30 x 70 meter itu
menjadi benteng terakhir Kiai Yusuf dan para santrinya. Desingan pelurunya masih terdengar
sampai sekarang, tutur Sholeh.

Tak mudah bertahan dari gempuran Darul Islam. Menurut Sholeh, jumlah penyerbu lima kali
lipat dari penyokong pesantren. Konsentrasi para pengawal juga pecah karena harus menjaga
pengungsi perempuan dan anak-anak. Senjata mereka pun tak cukup. Kiai Yusuf dan pengawalnya
hanya memiliki tujuh pucuk senapan dan dua peti granat. Karena kurang peluru, Kiai Yusuf
memerintahkan anak buahnya hanya menembak sasaran yang mendekat.

Suara salawat dan takbir bergema di dalam masjid. Tangisan dan teriakan anak-anak
terdengar. Kepanikan memuncak ketika penyerbu berusaha membobol tembok barat masjid dengan
granat. Usaha itu gagal karena tembok terlalu tebal, sekitar 40 sentimeter dengan fondasi batu satu
setengah meter.

Serangan mulai surut lewat tengah malam. Pertahanan laskar Pesantren Darussalam tak bisa
ditembus. Tentara Siliwangi pun datang membantu Kiai Yusuf. Namun pasukan bantuan tak dapat
masuk lingkungan pesantren. Tank mereka tertahan di tikungan jalan, sekitar 1,5 kilometer dari
masjid.

Menjelang subuh penyerang mundur. Penduduk yang bertahan di masjid dan madrasah baru
berani keluar setelah matahari meninggi. Semua jendela madrasah pecah kena peluru. Banyak
pengungsi terluka. Kepulan asap dari rumah yang dibakar masih terlihat. Dari 50 rumah
semipermanen di sekitar masjid, hanya tiga yang utuh.

Dalam pertempuran itu, empat pengawal pesantren dan tujuh penduduk Cipari tewas. Kiai
Bustomi, kakak ipar Yusuf, juga menjadi korban. Ia ditembak ketika hendak berlindung di masjid.

http://semaraks.blogspot.com
38
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Serbuan ini menimbulkan kengerian penduduk Cipari. Mereka menemukan lusinan mayat di sawah
dan empang ikan. Bahkan air kolam di sekitar pesantren pun berwarna kemerahan.

Peristiwa itu menghantui penduduk, terutama perempuan dan anak-anak. Mereka


ketakutan setiap kali mendengar langkah kaki orang di luar rumah pada malam hari. Temuan mayat
juga membuat banyak warga Cipari enggan bersawah. Mereka pun tak mau makan ikan. Selama
dua tahun ikan kami tak laku dijual, ujar Sholeh.

Kiai Yusuf mulai membenahi pesantren dan desa. Cipari kembali pulih. Peristiwa malam itu
dianggap mukjizat. Aksi Yusuf di puncak menara dianggap heroik. Kini, jalan Garut-Wanaraja
sepanjang enam kilometer menuju pesantren diberi nama Jalan KH Yusuf Tauziri.

Yusuf, pemimpin pesantren, sasaran penyerbuan malam itu, bekas sahabat Kartosoewirjo.

lll

Persahabatan itu sudah terjalin sekitar 20 tahun. Kiai Yusuf mengenal Kartosoewirjo ketika
menjadi anggota Dewan Sentral Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada 1931-1938. Peneliti
Jepang, Hiroko Horikoshi, dari Cornell University, Amerika Serikat, menyebutkan hubungan mereka
akrab. Yusuf pun menjadi salah seorang penasihat Kartosoewirjo.

Keluarga keduanya juga bahu-membahu dalam perjuangan melawan penjajah di Jawa Barat.
Istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum, bergaul akrab dengan adik-adik perempuan Kiai Yusuf yang
memimpin seksi wanita Gerakan Pemuda Islam Indonesia Garut.

Kepada Hiroko, Kiai Yusuf bercerita tentang perbedaan pendapatnya dengan Kartosoewirjo.
Pada awal 1940, Kartosoewirjo mengusulkan lembaga Suffah dalam kongres Komite Pembela
Kebenaran. Komite ini merupakan pecahan PSII yang memilih jalan nonkooperatif dengan Belanda.

Dalam kongres itu, Kartosoewirjo memperkenalkan konsep hijrah, sama pengertiannya


dengan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Ia meminta setiap anggota
menyumbangkan 2.500 kencring (2.500 sen atau 25 gulden) serta bergabung ke Suffah.

Berbeda dengan Kartosoewirjo, Kiai Yusuf berpendapat belum saatnya hijrah total.
Alasannya, persiapan belum matang. Ia mengusulkan uang ditanamkan di bidang pertanian. Hasilnya
bisa dimanfaatkan untuk membantu pendidikan para calon ulama dan pemimpin. Kartosoewirjo lalu
mendirikan lembaga Suffah pada Maret 1940.

Kiai Yusuf sebenarnya secara tak langsung masih mendukung Suffah. Pada awal
pendiriannya, ia mengirimkan dua anak laki-laki sebagai pengajar. Ia pun memasukkan
keponakannya sebagai pelajar.

Pada Februari 1948, Kartosoewirjo mengadakan konferensi Darul Islam pertama di Cisayong,
Tasikmalaya. Pertemuan itu membentuk struktur organisasi gerakan perlawanan, yang dipertegas
dalam konferensi kedua di Cipeundeuy, Cirebon. Kartosoewirjo makin mematangkan gagasan negara
Islam yang terpisah dari republik ini.

Kiai Yusuf dan pengikutnya menganggap gagasan mendirikan negara Islam dengan
meninggalkan Republik terlalu jauh. Pesantren Darussalam dianggap melawan Imam Kartosoewirjo.

http://semaraks.blogspot.com
39
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Apalagi tempat ini selalu menjadi tempat berlindung penduduk yang tak mau memberikan hartanya
kepada tentara Darul Islam.

Pesantren pun menjadi target. Pada 1949-1958, pasukan Darul Islam menyerang Desa Cipari
lebih dari 46 kali. Kartosoewirjo berniat menghabisi Kiai Yusuf sekeluarga serta pengikutnya dengan
serangan besar-besaran pada April 1952. Kepungan di Desa Cipari tak membuyarkan Pesantren
Darussalam.

Menara masjid itu masih berdiri hingga kini, menjadi saksi keteguhan Kiai Yusuf. Bekas
tembakan dibiarkan di dinding menara bergaris tengah sekitar satu meter dan tinggi 20 meter ini.
Banyak penduduk memanjat menara. Mereka hanya ingin tahu, sekalian berdoa, ujar Sholeh.

http://semaraks.blogspot.com
40
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Dodol Garut dan Susu Bubuk dalam


Gubuk

G
UBUK kecil di tengah hutan itu dibuat dari dedaunan hingga setinggi orang dewasa. Tapi di
dalamnya ada makanan yang jarang ditemui Sersan Ara Suhara di rumah orang biasa saat
itu: dodol garut, jeruk garut, dan susu.

Ketika melihat ada seorang kakek bersarung dan berbaju di samping makanan mewah itu,
Ara, prajurit Batalion Infanteri 328/Kujang Siliwangi, langsung berpikir kakek itu pasti orang penting.
Mungkinkah ia Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang ia buru selama ini? Ara pun bertanya,
memastikan: Pak Karto?

Si kakek merangkul Ara. Iya, Nak, katanya mengakui.

Jawaban Kartosoewirjo itu tak hanya mengakhiri perburuan Ara selama berhari-hari untuk
menemukan Kartosoewirjo sekaligus menunjukkan keberhasilan strategi perang wilayah tentara
Indonesia.

Dengan taktik itu, tentara Indonesia menyekat-nyekat daerah perlawanan, sehingga


Kartosoewirjo sulit bergerak. Operasi ini bernama Brata Yuda, tapi lebih dikenal sebagai Operasi
Pagar Betis. Digelar mulai April 1962, operasi ditargetkan kelar setengah tahun, tapi baru tiga bulan
dilangsungkan Ara sudah menangkap Kartosoewirjo.

Salah satu kunci sukses operasi ini adalah keterlibatan rakyat sipil sehingga kepungan
terhadap DI/TII sangat rapat dan bisa dikatakan tak tertembus. Keterlibatan rakyat ini yang
membuat operasi lebih dikenal sebagai Operasi Pagar Betis.

Dalam operasi, militer meminta para pemuda dan pamong desa di sekitar wilayah operasi
bersiaga. Mereka yang berangkat diinstruksikan untuk membawa bekal logistik sendiri
secukupnya, kata Abdul Mahmud Latif, warga Desa Cilampung Hilir, Leuwisari, Tasikmalaya, yang
saat operasi digelar berusia 25 tahun.

Sebagai pemuda, ia ikut menjadi pagar betis. Tiga hari saya di sana, katanya. Di lokasi yang
ditentukan, Mahmud, para tetangganya, dan tentara membuat sejumlah tenda mengelilingi hutan di
sekitar Galunggung.

Toto Toriah, nenek yang saat masih muda menemani suaminya yang menjadi pengikut
Kartosoewirjo, Adang, saat ini 82 tahun, mengungkapkan masalah pagar betis ini bagi pasukan
Kartosoewirjo. Sulit sekali makanan masuk, kata Toto, yang sekarang tinggal di Desa Linggarsari,
Sariwangi, Tasikmalaya. Sebelumnya, warga yang bersimpati kepada mereka terkadang mengirim
beras, jagung, gula, atau garam.

Di luar makanan itu, pasukan Kartosoewirjo juga belajar hidup dengan memanfaatkan apa
saja yang ada di hutan. Pasukan Kartosoewirjo mengandalkan makanan bongborosan, seperti pisang,
honje, kapulaga, jahe, atau lengkuas sebagai bahan makanan setiap hari. Singkong rebus tambah
gula merah ataupun garam mungkin menjadi menu favoritnya, kata suami Toto, Adang.

http://semaraks.blogspot.com
41
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Mereka juga berburu burung, kancil, atau ikan untuk lauk. Sayuran kegemaran lain adalah
daun reundeu. Daun ini bisa langsung dimakan bila keadaan perut prajurit sudah tidak kuat
menahan lapar, kata Adang.

Para tentara DI/TII juga gemar merokok. Favorit mereka adalah Escort, merek rokok
nonkretek populer di Indonesia sejak zaman Belanda hingga 1970-an. Jika sudah kehabisan rokok,
tutur Dudung, 85 tahun, rekan Adah Djaelani, ia tidak segan-segan meminta kepada Raden Oni
Syahroni, kepala Resimen I DI/TII yang terkenal. Beliau terkadang hanya memberi kami Rp 5, kata
Adah. Itu sudah cukup bagi kami untuk membeli rokok.

Tapi Operasi Pagar Betis menghentikan hubungan mereka dengan dunia luar. Pemerintah
Jakarta pun menawarkan amnesti bagi pasukan DI/TII yang menyerah pada 1961. Dengan posisi
tertekan kuat sekaligus diberi jalan keluar yang bagus, yakni amnesti, kekuatan DI/TII mulai
berkurang.

Para pejabat kelompok pemberontak ini mulai satu per satu menyerahkan diri. Yang
terakhir, Mei 1962, Adah Djaelani Tirtapradja, seorang komandan wilayah, juga menyerahkan diri di
pos pagar betis Gunung Cibitung. Praktis sejak saat itu Kartosoewirjo tinggal ditemani segelintir
pengikut setianya.

Operasi ini juga memaksa istri dan anak kelompok Kartosoewirjo terpisah dari induknya.
Salah satunya Sardjono, anak Kartosoewirjo yang saat itu baru lima tahun dan diasuh Mustiah.

Sardjono menuturkan ia beserta rombongan perempuan dan anak-anak itu hanya makan
daun-daunan seadanya di hutan. Kami sudah tidak makan seminggu, di gunung buahnya pahit
semua, katanya mengenang.

Selain itu, pasukan pengawal mereka merasa bahwa mereka malah menjadi beban. Akhirnya
diputuskan para perempuan itu turun gunung alias menyerah. Si komandan dan pasukannya akan
mencoba membuat kontak dengan induk pasukan.

Selain pagar betis yang dijaga warga sebagai benteng pasif, tentara juga aktif memburu
pasukan Kartosoewirjo seperti yang dilakukan Ara dan Kompi C yang dipimpin Letnan Dua Anda
Suhanda-tempat Ara bertugas. Kompi ini berpatroli dari desa ke desa dan hutan ke hutan. Saat
beristirahat dan menginap di Joglo, Majalaya, setelah tiga hari berpatroli dengan berjalan kaki,
mereka mendengar ada penggarongan. Aksi itu terjadi di Desa Pangauban, beberapa kilometer
sebelah barat Joglo.

Mereka mengikuti jejak penggarong yang ternyata memutari Gunung Rakutak. Saat pertama
mengejar, mereka memulai dari Pangauban di barat Rakutak. Tapi hari berikutnya mereka sampai
Sungai Ciharus, tempat mereka kehilangan jejak.

Ara meminta izin atasannya, Suhanda, untuk menyeberang sungai dan mencari sendiri
jejaknya. Setelah berapa lama, ia menemukan jejak itu. Ia segera menjadi pelacak hingga sampai ke
lembah Geber di sekitar Gunung Rakutak, tempat ia menemukan sepasukan anak buah
Kartosoewirjo.

http://semaraks.blogspot.com
42
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Setelah menunggu sejumlah rekan datang, Ara merangsek maju. Ia sempat menembak salah
satu penjaga pos pengintai. Ia sempat berhadapan dengan Aceng Kurnia, dan salah satu tangan
kanan Kartosoewirjo itu kemudian angkat tangan. Tidak terjadi banyak perlawanan karena kelompok
Kartosoewirjo sudah kehabisan amunisi.

Agak jauh, sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri, tampak gubuk tanpa dinding. Di depan
gubuk itu ada pemuda yang ternyata, tiada lain, adalah Dodo Muhammad Darda, salah satu putra
Kartosoewirjo. Di dalam gubuk Ara menemukan makanan mewah dan Kartosoewirjo yang tergeletak
sakit.

Ara-meninggal pada Juni silam tapi sudah menuliskan ceritanya dalam satu buku yang
disimpan keluarganya-menuturkan bahwa Kartosoewirjo mengaku sudah tahu Ara bakal datang.
Kartosoewirjo bahkan mengatakan tahu istri Ara sedang mengandung dan akan punya anak laki-laki.

Ara tidak pernah melupakan kejadian pada 4 Juni itu. Anak yang tengah dikandung istrinya
itu kemudian lahir dan, seperti ramalan Kartosoewirjo, laki-laki. Ara memberi nama anak itu Asep
Sekar Ibrahim. Ibrahim dari nama Panglima Kodam Siliwangi saat itu, yakni Ibrahim Adjie. Sekar? Ara
mengambil dari nama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

http://semaraks.blogspot.com
43
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Asimilasi setelah Eksekusi

P
AGI masih terang-terang tanah. Di tengah hawa dingin perbukitan Tambakbaya, Kecamatan
Cisurupan, Garut, Jawa Barat, Ika Kartika, Komalasari, dan Sardjono berjalan terseok-seok
menuruni lereng. Ditemani Mustiah, sang pengasuh, tiga anak Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo itu berusaha mencapai pos tentara yang sudah di depan mata. Masih terngiang
ucapan pengawal yang sebelumnya mengiringi mereka. Kalian turun, serahkan diri ke pagar betis.

Kedatangan anak-anak itu mengagetkan tentara dan warga yang tengah berjaga di sebuah
lahan terbuka. Keempatnya ditangkap dan dibawa ke markas Batalion 328 Siliwangi di Cicalengka,
Kabupaten Bandung. Setelah diberi pertolongan, mereka menjalani serangkaian interogasi. Awalnya
Mustiah mengaku sebagai orang tua ketiga anak itu. Menjelang malam baru penyamarannya
terbongkar. Sorak-sorai pun membahana. Tentara gembira setelah mengetahui siapa kami ini, kata
Sardjono Kartosoewirjo, yang saat itu baru berusia lima tahun.

Penyerahan diri Sardjono, kini 53 tahun, dan dua saudarinya berjarak sebulan dari Maklumat
Kartosoewirjo pada 6 Juni 1962. Dalam pengumuman yang dikeluarkan dua hari setelah
Kartosoewirjo ditangkap di Gunung Rakutak, Kabupaten Bandung itu, sang Imam memerintahkan
pengikutnya menghentikan tembak-menembak dan kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Kami
turun selain menaati maklumat juga lantaran logistik menipis, ujar Sardjono, bungsu dari 12
bersaudara buah pernikahan Kartosoewirjo dengan Dewi Siti Kalsum.

Peristiwa itu pula yang mengawali babak baru kehidupan keluarga Kartosoewirjo setelah
bertahun-tahun hidup di tengah rimba. Sardjono ingat, selepas masa penyidikan, mereka mulai
merasakan hidup di kawasan urban: Bandung.

Ketiga anak Karto dan Mustiah ditempatkan di Wisma Siliwangi, Jalan Ciumbuleuit 134. Di
tempat itu mereka mendapat perlakuan baik, makanan layak, dan pelayanan medis. Mereka juga
dibekali sejumlah uang. Namun mereka tak bebas penuh. Kami jadi semacam tahanan rumah.
Penginapan dijaga ketat dan pergaulan dibatasi, kata Sardjono.

Di tempat itu pula Sardjono dan kedua kakaknya bertemu kembali dengan kedua orang tua
mereka setelah terpencar sekian lama. Belakangan diketahui, penahanan di Wisma Siliwangi
terkait dengan pengadilan Kartosoewirjo di Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang. Pada
akhir persidangan, Kartosoewirjo divonis melakukan makar dan berencana membunuh Presiden. Ia
dihukum mati, 5 September 1962.

Sepeninggal Kartosoewirjo, pemerintah bersikap lunak kepada Dewi Siti Kalsum dan anak-
anaknya. Setelah beberapa bulan tinggal di Ciumbuleuit, mereka pun dipindahkan ke sebuah rumah
di Jalan Banda 21, tak jauh dari Gedung Sate. Di sinilah keluarga gerilya ini mulai membaur dengan
masyarakat. Sardjono menuturkan, ketika itu tempat tinggal mereka tak lagi dijaga ketat. Fasilitas
yang diberikan lumayan banyak, di antaranya mobil dan sopir. Anak-anak bebas ke luar rumah untuk
bergaul dengan warga sekitar. Saya sering bermain bola dengan anak-anak sekitar situ, ujar
Sardjono.

http://semaraks.blogspot.com
44
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Para tetangga bersikap baik. Sekalipun mengetahui Sardjono dan kedua kakaknya anak
pemimpin gerakan yang dicap gerombolan pemberontak, warga tak pernah mempersoalkannya.
Rupanya, penempatan keluarga Kartosoewirjo di tengah kota ialah cara Kodam Siliwangi mengetahui
sejauh mana reaksi masyarakat. Belakangan saya tahu dari tentara, ini persiapan kami untuk
bebas, ujar Sardjono.

Namun segala kenyamanan ini tak menghilangkan keresahan Dewi Siti Kalsum dan anak-
anaknya. Proses asimilasi terasa tak sempurna. Silaturahmi dengan sanak famili terdekat malah tak
terjalin. Sewaktu Dewi memilih pulang ke kampung halamannya di Malangbong, Garut, tak satu pun
kerabat mau menjemput lantaran takut. Sialnya lagi, tanah warisan ayahnya, Kiai Ardiwisastra,
tersisa kurang dari separuhnya. Sebagian dikuasai saudara, selebihnya diserobot tentara.

Setelah lama menunggu, datanglah Titi Aisyah, sepupu Dewi. Bibi saya itu berani datang
lantaran suaminya perwira TNI, ujar Sardjono. Titi, menurut Sardjono, tak lain dari ibunda penyanyi
Raden Terry Tantri Wulansari alias Mulan Jameela. Di Malangbong, perlahan-lahan mereka menata
kehidupan.

Jejak Kartosoewirjo dan keluarganya di Bandung kini lenyap tak berbekas. Wisma Siliwangi di
Ciumbuleuit yang sempat mereka tempati telah dihancurkan sejak 1999. Di lahan 500 meter persegi
yang ditutupi pagar seng itu tak lagi ada sisa bangunan. Sedangkan rumah di Jalan Banda kini
dijadikan tempat kursus bahasa Inggris.

Kisah itu makin pudar lantaran juga tak ada catatan di Kodam Siliwangi. Kepada Tempo,
Mayor Paiman, Kepala Badan Pelaksana Sejarah Dinas Pembinaan Mental, mengatakan catatan yang
ada hanya seputar penumpasan pemberontakan DI/TII. Hanya ada sejarah yang umum, katanya.

http://semaraks.blogspot.com
45
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Sidang Kilat Kawan Soekarno

M
ARKAS Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di Gambir, Jakarta Pusat, 14
Agustus 1962. Hari itu, sidang pertama Imam Besar Negara Islam Indonesia Sekarmadji
Maridjan Kartosoewirjo dimulai. Sebuah pengadilan khusus dibentuk. Namanya
Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Jawa dan Madura. Wartawan dilarang
masuk.

Seperti laiknya persidangan militer, TNI Angkatan Darat memilih tiga perwira sebagai majelis
hakim: Letnan Kolonel Ckh Sukana, BcHk, sebagai ketuanya, didampingi dua anggota, Mayor Inf Rauf
Effendy dan Mayor Muhammad Isa. Tentara juga menentukan jaksa penuntut umum sendiri: Mayor
Chk Sutarjono, BcHk. Bahkan anggota tim pembela Kartosoewirjo juga diangkat oleh tentara: empat
orang pengacara dipimpin Wibowo, SH.

Tentara hanya butuh dua bulan untuk mempersiapkan sidang besar ini. Kartosoewirjo
ditangkap pada awal Juni 1962 dan langsung dibawa ke Jakarta untuk persiapan persidangan.
Sardjono, putra bungsunya, mengaku keluarganya sama sekali tidak diberi tahu. Kami ditahan di
Bandung, tidak bisa ke mana-mana, katanya, dua pekan lalu. Kami baru tahu vonis Bapak setelah
sidang selesai.

Dalam buku Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang disusun Pinardi pada 1964, disebutkan
bahwa bahan-bahan persidangan disiapkan oleh Komando Daerah Militer Siliwangi dan Pemerintah
Provinsi Jawa Barat. Buku ini bisa dibilang sumber sahih informasi dari tentara soal persidangan
Kartosoewirjo. Kepala Staf Angkatan Bersenjata ketika itu, Jenderal Abdul Haris Nasution, menulis
sambutan dalam buku tersebut.

Karena sidang dinyatakan tertutup, sulit memperoleh gambaran mengenai jalannya sidang
dari media massa ataupun sumber tak berpihak lain. Sumber resmi tentara-yang banyak dikutip
koran-koran-menyebutkan bahwa pada sidang perdana, Kartosoewirjo ditanyai soal kejelasan
identitas dan perkara yang dia hadapi. Jangan sampai yang dihadirkan di sidang ini adalah
Kartosoewirjo tukang cukur, bukan Kartosoewirjo pemimpin gerombolan, kata salah satu
pengacara, pembela terdakwa.

Jaksa menuntut Kartosoewirjo-yang saat disidangkan berusia 55 tahun-dengan pasal


berlapis. Dia dituduh hendak menggulingkan pemerintah yang sah, memberontak melawan Negara
Republik Indonesia, dan merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno. Untuk menguatkan
dakwaannya, jaksa Sutarjono menghadirkan enam saksi-semuanya anak buah Kartosoewirjo di Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia.

Mereka adalah Djaja Sudjadi alias Widjaja (Menteri Keuangan Negara Islam Indonesia),
Mardjuki (Bupati Tasikmalaya NII), Asbar (Komandan Resimen Tentara Islam Indonesia), Agus
Abdullah (perwira berpangkat brigadir jenderal di TII), Sanusi Fikrap, dan Kamil Ali. Dua yang disebut
terakhir adalah tersangka yang tersangkut insiden percobaan pembunuhan Presiden Soekarno saat
salat Idul Adha di Istana Merdeka pada 14 Mei 1962.

http://semaraks.blogspot.com
46
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Keenam saksi memberikan keterangan yang memberatkan Kartosoewirjo. Mereka mengakui


peran sang Imam dalam mengatur dan mengendalikan operasi perlawanan NII di hutan-hutan Jawa
Barat. Sejumlah peristiwa diangkat khusus, misalnya penyerangan di Garut pada Juli 1961 dan
bentrok di Sumedang pada November 1961. Pada dua insiden penyerangan tentara Kartosoewirjo ke
desa-desa di sekitar wilayah gerilya mereka itu, TNI mengklaim ada ratusan warga yang menjadi
korban.

Jaksa juga menyoroti peran Kartosoewirjo dalam rencana pembunuhan Soekarno. Salah satu
saksi, Asbar, mengaku mendapat perintah langsung dari Kartosoewirjo, yang dikuatkan dengan
sebuah gigi junjungannya itu. Gigi itu dianggap sebagai jimat dan tanda kepercayaan Kartosoewirjo
untuk melaksanakan perintah itu, kata jaksa, sebagaimana terungkap dalam risalah sidang yang
dimuat media. Asbar kemudian meneruskan perintah itu kepada Mardjuki, Bupati Tasikmalaya
dalam struktur NII. Dalam sidang, Mardjuki membenarkan adanya perintah itu.

Selain oleh tiga peristiwa itu, dakwaan atas Kartosoewirjo diperkuat dengan laporan
kerugian dan korban jiwa selama pemberontakan DI/TII. Jaksa menyebutkan, pada periode 1953-
1960 saja, ada 22.895 orang yang tewas serta 115.822 rumah yang musnah, dan negara dirugikan
hampir Rp 650 juta.

Tak begitu dijelaskan bagaimana angka-angka itu diperoleh. Namun, dalam risalah
persidangan, dinyatakan bahwa pemberontakan Kartosoewirjo mengganggu upaya pemerintah Orde
Lama mencapai Tri-Program: pemenuhan sandang-pangan, penjagaan keamanan, dan operasi
perebutan Irian Barat. Biaya yang seharusnya digunakan untuk operasi Irian Barat jadi digunakan
untuk memulihkan keamanan akibat pemberontakan gerombolan ini, kata hakim dalam
putusannya.

Tak tercatat ada saksi meringankan dalam persidangan ini. Namun, ketika diminta membela
diri, Kartosoewirjo dilaporkan menyangkal tuduhan bahwa ia melawan Negara Republik Indonesia
dan merencanakan pembunuhan Soekarno. Dia hanya menerima tuduhan pertama: menyerang
pemerintah yang sah. Dari Ibu, saya diberi tahu bahwa jaksa memang mengejar tuntutan ketiga:
terlibat pembunuhan presiden, karena ancaman hukumannya mati, kata Sardjono mengenang.

Pembelaan dan penyangkalan Kartosoewirjo diabaikan majelis hakim. Dalam sidang


tertutup, didampingi tim pembela yang tidak dia pilih sendiri, Kartosoewirjo memang terpojok. Alat
bukti dan keterangan saksi cukup untuk mengabaikan penyangkalan terdakwa, kata ketua majelis
hakim Letnan Kolonel Sukana.

Saking tertutupnya, berita mengenai persidangan Kartosoewirjo sama sekali tak ada di
halaman-halaman koran. Baru pada Sabtu, 19 Agustus 1962, dua hari setelah vonis dibacakan,
Harian Pikiran Rakjat menulis kabar soal vonis hukuman mati untuk Kartosoewirjo.

Diletakkan di bagian bawah halaman pertama, koran yang terbit di Bandung, Jawa Barat, itu
juga memasang foto kecil Kartosoewirjo dengan rambut awut-awutan. Keterangan foto yang
bertulisan Pendam VI alias Penerangan Kodam VI Siliwangi menandakan sumber informasi utama
berita itu hanya berasal dari tentara.

Dalam berita itu, Kartosoewirjo dilaporkan menghadapi sidang pembacaan vonis dengan
tenang. Dengan kemeja putih lengan panjang, celana biru, dan sepatu hitam, dia tampak klimis.

http://semaraks.blogspot.com
47
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Rambutnya, yang panjang saat ditangkap, sudah dipotong, tulis koran itu. Sejumlah pejabat tinggi
hadir dalam sidang tersebut. Ada Menteri Kehakiman Sahardjo, Kepala Staf Angkatan Bersenjata
Jenderal A.H. Nasution, Ketua Mahkamah Agung Wirjono Prodjodikoro, dan Jaksa Agung
Kadarusman.

Setelah palu hakim diketuk, barulah Kartosoewirjo bereaksi. Wajahnya pucat pasi dan
tangannya gemetar. Dua polisi militer sampai harus memapahnya ke luar sidang, tulis Pikiran
Rakjat. Pengacaranya, Wibowo, sempat berujar akan meminta grasi sebelum sidang kilat itu ditutup.

Tapi Sardjono punya cerita lain soal akhir sidang ayahnya. Menurut dia, Kartosoewirjo
sempat ditanya apa wasiat atau permintaannya yang terakhir. Dia minta bertemu perwira
terdekatnya, namun ditolak hakim, katanya. Lalu Kartosoewirjo mencoba meminta jenazahnya
nanti dikuburkan di makam keluarganya di Malangbong, Garut. Ini juga ditampik. Akhirnya,
terakhir, Bapak cuma minta bertemu keluarga, ujar Sardjono. Ini pun tak dikabulkan.

Setelah eksekusi, keluarga Kartosoewirjo hanya mendapat kiriman barang-barang


pribadinya. Ada piyama bermotif kotak-kotak cokelat, jam tangan Rolex, pulpen Parker, tempat
rokok cap Kuda, dan gigi palsu.

Dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno berujar tentang hukuman mati
Kartosoewirjo, Menandatangani hukuman mati tidaklah memberikan kesenangan kepadaku.
Ambillah, misalnya, Kartosoewirjo. Di tahun 1918, dia kawanku yang baik. Di tahun 20-an, di
Bandung, kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama, katanya. Namun
putusan harus diambil. Seorang pemimpin harus bertindak, tanpa memikirkan betapapun getir
jalan yang ditempuh, ujar Soekarno.

Pada 5 September 1962, Kartosoewirjo dieksekusi di depan regu tembak, setelah


permohonan ampunnya ditolak. Dia ditembak bersama lima anak buahnya, yang dituduh terlibat
percobaan pembunuhan presiden. Sebagian dari mereka yang dieksekusi hari itu bersaksi
memberatkan Kartosoewirjo dalam persidangan sebulan sebelumnya.

http://semaraks.blogspot.com
48
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Masih Misteri Setelah 45 Tahun

P
ERAHU kayu bercat biru dengan tudung terpal di bagian tengah itu melaju membelah laut
menuju Pulau Onrust, meninggalkan tepian Muara Kamal di Jakarta Utara. Dua buah mesin
tua berkekuatan masing-masing 40 tenaga kuda meraung di bokong kapal pada Selasa siang
akhir Juli lalu.

Di bawah tudung itu, Sardjono Kartosoewirjo, 53 tahun, duduk bersila di bagian lantai kapal
yang sedikit lebih tinggi. Tak ada kursi di perahu yang kini melaju ke utara itu. Ini pertama kalinya
saya ke sana. Sardjono mengenakan baju hangat lengan panjang berwarna cokelat bergaris kuning
serta celana hitam dan sepatu karet sewarna. Ia membawa tas berisi baju koko dan kopiah putih.

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai Pulau Onrust, sekitar 14 kilometer dari
tepi utara daratan Kota Jakarta. Selain di Muara Kamal, dermaga yang bisa digunakan ada di Marina
Ancol dan Muara Angke.

Onrust dalam bahasa Belanda berarti tanpa istirahat (sibuk). Pada pertengahan abad ke-16,
di pulau ini terdapat galangan kapal yang lumayan besar. Ia melayani ratusan kapal, terutama milik
kongsi dagang Belanda (VOC) Saat itu, Onrust dikuasai Pangeran Jayakarta, kemudian dipinjamkan
untuk jangka waktu tertentu kepada VOC.

Pulau ini dilengkapi gudang-gudang untuk menyimpan muatan kapal yang sedang diperbaiki.
Belakangan, pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda membangun tak kurang dari 35
barak haji bagi penduduk yang hendak berangkat ke Mekah. Pulau ini lantas menjadi tempat
karantina jemaah yang kembali sebelum pulang ke rumah.

Ketika itu, Onrust masih seluas sekitar 12 hektare dan penuh dengan pepohonan besar.
Kayunya banyak digunakan untuk pembuatan kapal. Sebuah benteng segi lima sempat dibangun
Belanda di sini sebagai pertahanan menghadapi Inggris. Juga sebuah penjara. Westerling, perwira
Belanda yang dikenal karena pembunuhan puluhan ribu warga Sulawesi, sempat ngendon di sini
sebelum melarikan diri.

Beberapa tokoh Partai Komunis Indonesia juga sempat dipenjarakan di sini. Nama
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo tertoreh di salah satu sudut gedung museum yang belakangan
dibangun pemerintah Indonesia. Gedung itu tadinya rumah dokter dan perawat yang bertugas
mengurusi kesehatan jemaah haji. Namanya tertulis di dalam semacam pigura, kata Muhammad
Giri, cucu Kartosoewirjo, yang pernah datang sekitar tahun 2000.

lll

PERAHU melamban mendekati dermaga kecil Pulau Onrust. Dadang, pemilik kapal yang
merangkap nakhoda, meminta dua adiknya yang menjadi anak buah kapal menstabilkan perahu
dengan berpegangan pada perahu lain yang sedang ditambat.

Tak ada petugas yang berjaga di pulau yang hampir tidak berpenghuni ini. Hanya ada dua
warung mi instan dan sebuah bangunan semipermanen dari kayu di sisi timur, yang ditempati para

http://semaraks.blogspot.com
49
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

nelayan yang sedang beristirahat. Sebuah tugu hitam berbentuk batu besar menyambut setiap orang
yang datang. Di permukaannya tertulis ringkasan sejarah pulau.

Sardjono berjalan perlahan menapaki konblok. Seseorang yang baru saja kelar memancing
memberitahukan arah menuju makam. Di depan bangunan itu, lalu belok kiri, katanya. Butuh
waktu sekitar 20 menit untuk mencapai makam.

Melewati pemakaman Belanda, Sardjono sempat berhenti sebentar. Di bawah pohon besar
di tengah makam, ia lalu mengeluarkan baju koko dan melepaskan baju hangatnya. Setelah bersalin,
ia kembali berjalan mengikuti petunjuk arah tadi.

Di sisi barat pemakaman ini terdapat pemakaman pribumi, yang melintang dari utara ke
selatan. Ini berbeda dengan pemakaman Belanda, yang memanjang dari timur ke barat. Di sisi paling
barat kompleks pemakaman pribumi ini, ada bangunan dari bambu beratap asbes. Bangunan tua itu
miring dan bambunya sudah menghitam.

Di sisi kiri pintu masuk terdapat plang berwarna biru bertuliskan informasi bahwa ada tokoh
Darul Islam yang dimakamkan di dalam. Pada sisi kanan bangunan, botol-botol kosong air bunga
mawar tergeletak. Pohon-pohon pinus tumbuh menaungi makam ini. Di bagian dalam pondok
bambu ini terdapat dua makam, yang permukaannya telah dilapisi porselen biru.

Sardjono lalu melangkah masuk ke tengah makam dan menghadap ke makam sebelah
kanan. Makam ini tidak memiliki batu nisan. Hanya ada batu apung yang dibungkus kain putih.
Sedangkan pada kuburan di sebelahnya terdapat papan nisan bertulisan H-Hasan. Ia lalu
berjongkok memegang batu nisan dengan tangan kiri dan mulai berdoa.

Sekitar 15 menit kemudian, ia usai berdoa. Setelah 45 tahun terpisah, katanya tenang. Ini
anugerah yang tidak ternilai bagi saya. Sardjono terpisah dengan ayahnya saat ia masih berusia
sekitar lima tahun. Ketika itu, Kartosoewirjo tertangkap pasukan Siliwangi saat bergerilya di hutan
perbukitan.

lll

PADA suatu hari 1-2 tahun setelah kabar eksekusi Kartosoewirjo diterima keluarga, datang
seorang lelaki membawa sepucuk surat. Surat berkops tentara itu merupakan laporan tentara
kepada Presiden Soekarno mengenai lokasi eksekusi Kartosoewirjo, yaitu di Pulau Ubi. Saat itu
Umar Wirahadikusumah menjadi Pangdam Jaya, kata Sardjono meyakini surat itu.

Keluarga kemudian berembuk untuk mendatangi pulau yang terletak dua-tiga kilometer di
sebelah utara Pulau Onrust itu. Meski mereka meyakininya, niat ini akhirnya diurungkan. Alasan
utamanya adalah keluarga masih khawatir bahwa surat itu merupakan jebakan aparat untuk
mengetahui seberapa besar sebenarnya kekuatan para pengikut sang Imam.

Ini adalah satu informasi dari sekian banyak informasi yang diterima keluarga mengenai
keberadaan Kartosoewirjo setelah ditangkap militer. Ada orang yang mengaku melihat sang Imam di
Jawa Tengah atau Jawa Timur. Ada yang mengaku bertemu beliau di Banten. Namun informasi
tentang makam di Pulau Ubi dan belakangan berubah menjadi Pulau Onrustlah yang diyakini
keluarga.

http://semaraks.blogspot.com
50
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Menurut Muhammad Giri, sang cucu, informasi mengenai keberadaan makam tidak pernah
dibicarakan secara terbuka di dalam keluarga. Saya juga hanya mendengar kalau orang tua bicara,
katanya. Ia pun mencari informasi di Internet. Saya baca adanya di Pulau Onrust, kata Giri, yang
sempat datang bersama 20-an temannya sambil bertamasya.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Pulau Onrust Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Provinsi DKI Jakarta Husnison Nizar, informasi mengenai makam ini memang disampaikan di dalam
museum di pulau itu. Namun ia juga mengakui bahwa hingga saat ini belum ada penelitian ataupun
dokumen resmi yang mendukung hal itu. Baru sebatas keyakinan masyarakat, katanya.

Menurut wartawan senior Alwi Shahab, makam Kartosoewirjo memang terletak di Pulau
Onrust. Informasi ini ia peroleh dari Solichin Salam, penulis buku Bung Karno Putra Fajar, yang terbit
pada 1966. Menurut Alwi, Solichin sempat menanyakan hal ini langsung kepada Bung Karno.

Makam itu, menurut Alwi, adalah salah satu dari dua makam yang dinaungi pondok bambu
tersebut. Belum tahu yang kiri atau yang kanan, katanya. Makam itu ada dua untuk menghindari
penyembahan atau sesajen yang terkadang dibawa masyarakat. Sesajen merupakan hal terlarang
dalam ajaran Islam. Jadi makamnya disamarkan, ujarnya.

Sardjono berharap pemerintah memperhatikan kejelasan makam ini karena menyangkut


rangkaian sejarah bangsa. Lebih baik jika ada tes genetik, katanya. Jika hasil tes menunjukkan
positif bahwa itu makam sang ayah, Sardjono ingin melakukan satu bakti terakhir. Pesan beliau agar
dimakamkan di makam keluarga.

Di salah satu sisi pulau, sehabis berziarah, Sardjono membaca puisi yang dipersembahkan
untuk sang ayah, Kematian Adalah Sebuah Misteri. Di bawah rintik hujan, ia berteriak:

Kuburmu dicari

Jejakmu diselusuri

Ajaranmu dikaji

Mujahid tidak pernah mati.

http://semaraks.blogspot.com
51
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Pembangkangan Sebuah Gagasan


Jihad Sebatang Korek
Komando Jihad menjadi awal kebangkitan sekaligus perpecahan pentolan DI/TII. Intelijen
menggembosinya dari dalam.

P
ANGGILAN dari kantor Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban Jawa Barat membuat Sardjono Kartosoewirjo bergetar. Waktu itu, pada 1975,
anak bungsu Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ini baru kelas tiga sekolah menengah atas.
Dipanggil tentara pada zaman ketika Orde Baru menancapkan pengaruhnya sungguh membuat kecut
remaja 18 tahun ini.

Bersama ibu, dua kakak, dan pentolan Darul Islam seperti Danu Muhammad Hasan, Ateng
Jaelani, Adah Djaelani, dan Aceng Kurnia, Sardjono diterima Letnan Kolonel Pitut Soeharto. Dengan
gaya kalemnya, Direktur III Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) tersebut menyodorkan kertas
yang harus diteken 11 orang itu. Isinya ikrar kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang berasas Pancasila. Meski masih anak-anak, saya diminta ikut tanda tangan karena
saya bisa dianggap simbol DI/TII, katanya tiga pekan lalu.

Sardjono tak mengerti, ikrar itu adalah upaya pemerintah meredam aksi teror yang
dilancarkan pentolan eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di pelbagai daerah. Gaos Taufik,
misalnya, mengebom sejumlah hotel dan rumah sakit Kristen, merampok bank, dan membunuh
sejumlah orang. Gaos adalah Komandan Perang Wilayah Besar Darul Islam Sumatera Utara.

Pitut mengaku diutus lang-sung oleh Presiden Soeharto untuk secara rahasia mendekati
pentolan-pentolan Darul Islam. Pak Harto menawarkan amnesti penuh kepada mereka asal tak ada
lagi aksi teror, kata Pitut, kini 81 tahun. Bentuk pengampunan itu antara lain tawaran menjadi
anggota DPRD dari Fraksi Golkar jika partai ini menang dalam Pemilihan Umum 1971.

Darul Islam memang sudah memaklumatkan diri menjadi pendukung Golkar setelah Bakin
mengumpulkan pemimpin dan anggota DI di rumah Danu Muhammad Hasan di Jalan Situ Aksan 120,
Bandung, pada 1971. Pertemuan tiga hari tiga malam ini dihadiri 3.000 orang dengan deklarasi
dukungan terhadap partai pemerintah itu. Meski Golkar menang dalam pemilu, mereka tak pernah
menjadi legislator di parlemen pusat ataupun daerah.

Tanpa setahu Pitut, tokoh-tokoh ini diam-diam mendiskusikan kemungkinan kembali ke cita-
cita mendirikan Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949.
Tak semua setuju, memang. Beberapa orang kecewa karena ada isu reuni dibiayai Bakin yang
ditandai kehadiran Pitut sebagai pejabat telik sandi itu.

Kepada Tempo, Pitut membantah membiayai reuni lintas generasi Darul Islam itu. Duit dari
mana? Kami tak punya uang, katanya. Ia mengaku datang hanya untuk menyaksikan acara karena
ini pertemuan terbesar pertama setelah Kartosoewirjo meninggal pada 1962.

http://semaraks.blogspot.com
52
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Diskusi tersembunyi itu berlangsung alot. Djaja Sudjadi, bekas menteri Negara Islam
Indonesia, menolak ide kembali ke jalan jihad. Ia menyatakan keluar dan mendirikan DI Fillah,
kelompok yang menentang perjuangan bersenjata. Sebaliknya, Aceng dan Danu setuju
menghidupkan semangat Kartosoewirjo dan membentuk DI Fisabilillah.

Rencana pun dimatangkan. Pada 1974, dibentuk Komando Perang Wilayah Besar yang dibagi
tiga: Sulawesi, Jawa, dan Sumatera. Sulawesi dipegang oleh Ali A.T., Sumatera oleh Gaos, dan Jawa
oleh Danu Hasan. Aksi pertama adalah merekrut anggota Darul Islam baru dari kalangan muda,
sebelum jihad benar-benar dikobarkan. Gaoslah yang pertama akan beraksi. Dia kemudian
meledakkan acara Musabaqah Tilawatil Quran di Medan, disusul pengeboman rumah sakit Kristen di
Bukit Tinggi.

Namun aksi itu tak direspons sama sekali oleh Jawa Barat. Danu dan Aceng, yang merestui
gerakan Gaos, hanya bungkam. Padahal Jawa Barat sudah berjanji, walaupun dengan sebatang
korek api, jihad akan disambut oleh Jawa, kata Solahudin, peneliti DI/TII. Kenapa Jawa Barat tak
merespons, masih misterius.

Ada dugaan, Jawa Barat memang sudah gembos sebelum jihad terjadi secara masif.
Pernyataan ikrar di hadapan Pitut itu salah satunya. Belakangan diketahui bahwa Danu ternyata bisa
dibina Bakin. Ada tiga yang ikut saya: Danu, Ateng, dan Dodo Muhammad Darda, kata Pitut. Dodo
adalah kakak Sardjono Kartosoewirjo.

Kepada Danu dan Aceng, Pitut memberikan modal untuk berdagang. Tapi Danu, yang lama
bergerilya di hutan, tak paham cara ambil untung. Usahanya bangkrut. Pitut lalu menawarkan kerja
di Bakin dengan ruang kantor dan gaji rutin. Sedangkan Ateng dan Adah Djaelani sukses sebagai
penyalur minyak tanah untuk seluruh Jawa Barat di bawah perusahaan PT Taman Sebelas.

Gampangnya Danu dibujuk juga tak lepas dari peran Ali Moertopo, Deputi Kepala Bakin
waktu itu. Ali dan Danu sama-sama pejuang di zaman revolusi kemerdekaan. Juga ada nama lain
yang bisa dibina, yakni Haji Ismail Pranoto, yang populer dipanggil Hispran. Dia memimpin
Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam, organisasi di bawah Golkar, dan menjadi kontraktor
yang kerap bekerja sama dengan Ahmad Rivai, tokoh DI Lampung.

Tapi Hilmi Aminuddin menyangkal pernyataan bahwa ayahnya bisa dibina dengan mendapat
gaji dari Bakin. Menurut Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera ini, Danu Hasan mendapat
tunjangan dan beras dari Komando Daerah Militer Jawa Barat sebagai eks pejuang 1945. Saya yang
ambil amplop dan berasnya, kata Hilmi kepada Tempo.

Menjelang Pemilihan Umum 1977 memang terjadi penangkapan besar-besaran eks Darul
Islam. Menurut Pitut, itu terjadi karena tenggat menyerah bagi anggota Darul Islam telah habis.
Sebab, pentolan yang tak bisa dibujuk Pitut masih menjalankan gerilya di hutan-hutan Tasikmalaya
dan Garut, seperti Ules Sudjai. Ia menyangkal penangkapan itu berkaitan dengan Pemilu 1977 untuk
menggembosi suara umat Islam ke Partai Persatuan Pembangunan. Mereka ditangkap untuk dibina,
bukan dibui atau isu pemilu, katanya.

Entah siapa yang pertama memunculkannya, penangkapan oleh Kodam Siliwangi di bawah
komando Mayor Jenderal Himawan Soetanto itu dituding sebagai penumpasan gerakan Komando
Jihad atau Neo-DI. Sebab, yang ditangkap bukan hanya mereka yang belum bisa dijinakkan,

http://semaraks.blogspot.com
53
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

melainkan juga Danu, Hispran, Aceng, dan Ateng. Belakangan Jaksa Agung Ali Said mengklarifikasi
sebutan Komando Jihad untuk segala jenis teror yang merongrong Pancasila.

Kalangan Darul Islam sendiri tak mengenal istilah ini. Itu istilah pemerintah, kata Sardjono.
Namun penangkapan ini menandai babak baru Darul Islam. Di pengadilan, para terdakwa saling
tuding telah menjadi pengkhianat sehingga tentara menangkapi mereka. Ada tokoh DI yang dibina
Bakin, kata Ateng Jaelani saat bersaksi di pengadilan Hispran. Yang dia maksud tentu Danu
Muhammad Hasan.

Sebaliknya, Hispran menuding Ateng juga binaan intelijen dengan menikmati hidup sebagai
penyalur minyak tanah. Ia meminta maaf telah memprovokasi jemaahnya untuk kembali kepada
cita-cita Negara Islam Indonesia.

Rupanya, reuni 1971 di rumah Danu Hasan memang benar-benar dijadikan pijakan untuk
menghidupkan Negara Islam Indonesia. Namun gerakan sporadis di Jawa Tengah dan Timur ini
berantakan sebelum mencapai target. Komando Jihad menjadi pertanda kebangkitan sekaligus
keterpurukan pengikut Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

http://semaraks.blogspot.com
54
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Negara Setengah Hati

D
IKEPUNG hamparan lahan persawahan yang sejuk sepi, Babakan Cipari menyimpan bara. Di
kampung berjarak 20 kilometer dari Kota Garut, Jawa Barat, itu hidup sekelompok orang
yang tak mengakui Republik Indonesia.

Sensen Komara, 46 tahun, pemimpinnya. Dia imam atau panglima tertinggi bagi kelompok-
tak lebih dari 20 orang-yang mengklaim menghidupkan kembali Negara Islam Indonesia (NII), yang
pernah diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949 atau 12 Syawal
1368 Hijriah. Saya hanya meneruskan perjuangan Bapak, kata Sensen.

Keberadaan NII di kampung itu memang tak lepas dari peran ayah Sensen, Bakar Misbah.
Dialah Bupati NII Garut di masa NII pertama diproklamasikan.

Kampung Babakan Cipari, Desa Sukarasa, Kecamatan Pangatikan, adalah basis pergerakan
Darul Islam. Sekitar 500 meter dari sana, terdapat pesantren Darussalam yang didirikan KH Yusuf
Tauziri, saudara Bakar Misbah. Pendiri pesantren itu pernah menjadi teman seperjuangan
Kartosoewirjo, lalu pecah kongsi dan melawan Darul Islam.

Setelah Kartosoewirjo menyerah pada Batalion Kujang, Juni 1962, pengikut Darul Islam
kocar-kacir. Mereka bersembunyi karena diburu tentara Indonesia. Setelah situasi aman, mereka
yang selamat keluar dari persembunyian, termasuk Bakar Misbah. Ia menjalani sisa hidup di
Kampung Babakan bersama kelima anaknya. Bakar meninggal pada 1993.

Sepeninggal sang ayah, Sen-sen bergabung dengan keturunan pengikut Darul Islam yang
lain. Mereka menghidupkan kembali NII di kampung para petani itu.

Sensen, anak kedua Bakar, mendeklarasikan diri sebagai imam ke-15. Rumahnya dijadikan
pusat komando. Berukuran 11 x 11 meter, berdinding bambu, dan berlantai papan, rumah itu
menjadi pusat pemerintahan atau istana negara NII.

Saat Tempo mengunjungi rumah itu dua pekan lalu, tidak tampak simbol kenegaraan di
sana. Tak ada simbol NII, apalagi simbol RI seperti gambar presiden dan burung Garuda. Di ruangan
tamu, hanya ada foto Kartosoewirjo berukuran kuarto. Semua simbol negara kami dirampas
pemerintah Indonesia, kata Sensen.

Dalam menjalankan pemerintahan, Sensen dibantu para menteri. Ada menteri luar negeri,
menteri keuangan, menteri pertahanan, dan menteri pendidikan. Bersama para pembantunya,
lulusan Institut Agama Islam Negeri Bandung, Jawa Barat, ini menggelar rapat kabinet di rumahnya.
Sama seperti istana presiden di Indonesia, katanya.

NII, Sensen mengaku, memiliki alat pertahanan yang kuat. Kami punya pesawat tempur tipe
F-16 dan Sukhoi, katanya. Namun ia tak mau memberitahukan keberadaan pesawat eksklusif itu-
rahasia negara.

http://semaraks.blogspot.com
55
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Sensen dan warganya memiliki usaha ternak ayam potong. Ini usaha bersama yang
keuntungannya digunakan untuk operasional dan buat menopang ekonomi negara. Rakyat NII,
Sensen berujar, tak dibebani pajak seperti di negara lain.

Akses transportasi dan jaringan telepon yang dimiliki NII, menurut Sensen, digunakan untuk
meluaskan jangkauan. Sensen menghimpun keturunan pengikut Darul Islam di 42 kecamatan di
seantero Garut untuk menjadi warga NII. Saat ini jumlahnya 3.000-an orang. Mereka mau
bergabung karena wasiat orang tua untuk meneruskan perjuangan Darul Islam, kata Sensen.

Darsun Sudrajat, 48 tahun, warga NII dari Kampung Papandak, Desa Sukamenak, Kecamatan
Wanarja, berkomentar tentang hidup sebagai warga NII. Hidup di sini lebih damai karena saling
mendidik, berbeda dengan di Indonesia, katanya.

Awalnya, aktivitas NII di Babakan tertutup. Barulah pada 17 Januari 2008, masyarakat tahu
apa yang terjadi. Saat itu, Sensen dan dua menterinya mengibarkan bendera NII, merah-putih
bergambar bulan-bintang, di depan rumahnya.

Akibat insiden pengibaran bendera itu, ketiganya ditangkap kepolisian. Tapi Sensen dilepas
karena jiwanya dianggap terganggu. Sebaliknya, dua menterinya divonis Pengadilan Negeri Garut
tiga tahun enam bulan penjara pada 15 Oktober 2008.

Kendati ada yang masuk penjara, gerakan mereka tak kendur. Mei lalu, pemimpin NII di Desa
Purbayani, Wowo Wahyudin, berkirim surat ke pejabat desa setempat. Mereka meminta warga NII
tidak dimasukkan ke daftar pemilu presiden. Kami sudah punya imam, kata Wowo. Mereka pun
menolak sensus penduduk beberapa bulan lalu.

Gesekan pun terjadi. Masyarakat setempat bereaksi. Puncaknya terjadi pada 4 September
2009. Kepolisian Resor Garut mengamankan 16 warga NII dari amuk massa saat menggelar
musyawarah di Kantor Desa Tegal Gede, Kecamatan Pakenjeng.

Amuk massa itu buah kejengkelan warga melihat aktivitas ibadah NII. Di Kampung Situ Bodol
pada 4 September 2009, misalnya, warga NII melakukan salat Jumat dengan membelakangi arah
kiblat. Mereka juga mengubah kata Muhammad dengan Sensen Komara dalam kalimat syahadat
dan azan.

Akibatnya, tiga pentolan NII di Purbayani, termasuk Wowo, divonis tiga tahun penjara oleh
Pengadilan Negeri Garut.

Setelah rentetan kejadian itu, warga NII mulai tiarap karena diawasi ketat kepolisian. Arah
kiblat pun kembali seperti sedia kala. Supaya tidak rame lagi, kata Sensen. Tapi syahadat dan lafal
azan masih tetap versi NII.

Kendati dianggap menyimpang dari ajaran yang lazim, masyarakat sekitar tak terlalu hirau.
Salaf Sholeh, sesepuh pesantren Darussalam, menilai ajaran NII tak perlu dihiraukan. Karena
imamnya gila, katanya.

Paham kenegaraan Sensen juga unik, lebih tepatnya pragmatis. Kendati menolak eksistensi
Negara Indonesia, warga NII tetap mengurus kartu tanda penduduk serta menerima bantuan
langsung tunai, pembagian beras untuk orang miskin, bahkan pembagian jatah kompor gas gratis.

http://semaraks.blogspot.com
56
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Mereka juga tak malu menagih kepada pamong setempat jika tak kebagian jatah gratisan.
Masak, pemberian ditolak, ujar Sensen.

http://semaraks.blogspot.com
57
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Pasang Surut Pesantren Darul Islam

R ENCANANYA, menara Masjid Rahmatan Lil Alamin di kompleks Pesantren Al-Zaytun akan
tegak 145 meter. Tapi hingga kini tingginya baru setengahnya. Marmer Cina dan Spanyol
untuk pelapis tembok menara sampai saat ini belum tersedia.

Pembangunan pondok pesantren di Desa Mekarjaya, Kecamatan Haurgeulis, Indramayu,


Jawa Barat, ini sebenarnya sudah dimulai pada 1996 oleh pendirinya, Syekh Abdussalam Panji
Gumilang. Tiga tahun kemudian, pesantren ini diresmikan Presiden B.J. Habibie. Tapi proyek di atas
lahan 1.200 hektare itu belum berhenti. Cuma, prosesnya tersendat-sendat lantaran biaya mulai
menipis. Uangnya sudah seret karena pengikutnya tak sebanyak dulu, tutur Sofwan, bekas juru
warta di media milik Mahad Al-Zaytun.

Al-Zaytun didirikan dengan obsesi menjadi pesantren terbesar di Asia Tenggara. Muridnya
pernah tercatat 5.300 orang, dari dalam dan luar negeri. Pesantren ini menggelar pendidikan mulai
taman kanak-kanak hingga universitas. Untuk masuk ke sana, calon murid harus lulus serangkaian
tes: hafalan Juz Amma, tes kesehatan, tes psikologi, dan wawancara. Para siswa tak cuma belajar
bahasa Inggris dan Arab, tapi juga bahasa Rusia, Cina, dan Prancis. Ratusan unit komputer dan
notebook melengkapi fasilitas belajar.

Untuk ongkos belajar selama enam tahun, Al-Zaytun menarik US$ 3.500 atau sekitar Rp 31,5
juta. Orang tua santri juga diminta menyumbangkan bibit pohon jati. Dalam waktu enam tahun,
International Accreditation and Recognition Council, yang berkedudukan di Australia, memberi Al-
Zaytun sertifikat bintang empat, sebuah penghargaan internasional di bidang pendidikan.

Al-Zaytun adalah pesantren modern yang lengkap. Semua ruangannya berpenyejuk udara,
dapur komplet dengan peralatan masak listrik, serta ada binatu, supermarket, dan saluran telepon
internasional.

Seribu hektare lahan dikhususkan untuk pengembangan pertanian, peternakan, perikanan,


dan perkebunan, juga pabrik garmen. Kebutuhan sandang-pangan sekitar 10 ribu penghuninya
terpenuhi secara swasembada.

Untuk urusan kesehatan, tersedia tenaga dokter dan paramedis, psikiater, serta tim
konseling. Pesantren juga dilengkapi dengan aneka sarana olahraga: lapangan sepak bola, atletik,
hoki, voli, basket, dan tenis, juga kolam renang, plus stadion berkualitas Olimpiade internasional.

Sukses Al-Zaytun tak lepas dari tangan dingin Syekh Abdussalam Panji Gumilang, 64 tahun.
Lelaki kelahiran Gresik, Jawa Timur, ini adalah tokoh Negara Islam Indonesia. Dia aktivis Gerakan
Pemuda Islam, juga pengikut Lembaga Kerasulan pimpinan Karim Hasan-lembaga yang berafiliasi
kepada NII.

Sebelum Al-Zaytun berdiri, Panji Gumilang dikenal dengan nama Abdussalam Toto atau Abu
Toto. Pada 1996, ia menerima mandat dari Adah Djaelani, sesepuh NII, untuk memimpin NII
Komandemen Wilayah 9 (NII KW-9).

http://semaraks.blogspot.com
58
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Penunjukan Abu Toto ditentang keras kalangan internal NII, yang berujung pada pembatalan
Adah sebagai Imam NII. Tapi Abu Toto maju terus dan mengembangkan Harakat Qurban-program
penggalangan besar-besaran dana umat untuk gerakan. Wilayah KW-9 meluas dengan pola
rekrutmen yang seperti multi-level marketing, kata Sofwan, yang ikut gerakan itu ketika baru
kuliah semester pertama di Institut Teknologi Indonesia. Syarat masuk NII KW-9 adalah ikut
pengajian, mengakui gagasan negara Islam, mengingkari Negara Republik Indonesia, dan bersedia
dibaiat.

Menurut Sofwan, NII KW-9 Abu Toto bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka, misalnya,
menggelar pengajian tertutup serta tidak mewajibkan jemaahnya melakukan salat lima waktu dan
menutup aurat. Jemaah juga diwajibkan menyetor uang kepada kelompok sebagai biaya hijrah dari
situasi kafir menjadi Islam.

Kebijakan Abu Toto itu ditentang bekas aktivis NII lainnya. Itu Darul Islam gadungan yang
mencemarkan NII, ujar Kastolani, bekas komandan kompi Tentara Islam Indonesia di Brebes, Jawa
Tengah. Kartosoewirjo pun tak mengajarkan bahwa orang di luar kelompoknya adalah orang kafir.
Kalau pemerintahannya kafir, iya, tapi bukan orangnya, ucap Kastolani.

Ketika perekrutan dan penggalangan dana mulai menggelisahkan di awal dekade 2000,
gelombang anti-Zaytun pun bermunculan. Ratusan orang mengadu sebagai korban ke Forum Ulama
Umat yang dibentuk ulama Jawa Barat. Forum mengeluarkan fatwa sesat terhadap gerakan NII KW-9
Panji Gumilang.

Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) dan Solidaritas Umat Islam untuk Korban NII KW-9, Al-
Zaytun, dan Abu Toto (SIKAT) dibentuk masyarakat. Tak ada yang tahu persis berapa total anggota
jemaah NII KW-9. SIKAT pernah memperkirakan jumlahnya sekitar 100 ribu. Tak jelas pula berapa
nilai duit yang sudah dikumpulkan kelompok ini.

Investigasi majalah Tempo pada 2002 menemukan bahwa ada setoran Rp 7 miliar per bulan
hanya dari satu wilayah. Di seluruh Indonesia ada 28 wilayah kerja NII. Jurnal Van Zorge
menyebutkan pendapatan tahunan Al-Zaytun adalah Rp 162 miliar. Perhitungan tim investigasi
Tempo menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi: sekitar Rp 770 miliar.

Berapa persisnya, ya, cuma Syekh dan Tuhan yang tahu, ucap Sofwan. Uang umat yang dia
duga hingga triliunan itu, menurut Sofwan, disimpan di sembilan rekening Bank CIC-kini menjadi
Bank Century.

Panji Gumilang menolak permintaan wawancara Tempo. Pengurus Al-Zaytun juga melarang
Tempo mengunjungi pesantren besar itu. Kami tidak memperbolehkan siapa pun masuk tanpa izin
pimpinan, kata seorang anggota staf humas Al-Zaytun. Tapi pada 2002, kepada Tempo, Panji
Gumilang mengatakan sumber dana Al-Zaytun adalah sedekah umat Islam di Indonesia dan luar
negeri.

http://semaraks.blogspot.com
59
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Surat Perpisahan dari Johor Bahru

T
IBA-TIBA ia balik badan. Ajengan Masduki di depannya ia tinggalkan. Hadi Surya lari,
menghidupkan motor bebek, lalu memacunya ke luar desa. Surat dalam amplop putih yang
sedianya hendak disampaikan kepada Imam Darul Islam itu masih ia bawa. Enggak tega saya
setelah melihat dia, ujar Hadi, kini 47 tahun, saat ditemui di rumahnya di Bandung tiga pekan lalu.

Hadi masih ingat, pada Februari 1995, ia diutus Abdurohim Toyib, pemimpin Darul Islam
Jawa Tengah, menyampaikan surat untuk Ajengan Masduki. Ketika itu, Hadi komandan Darul Islam
Wilayah Semarang. Mengendarai sepeda motor dari Solo, ia menuju Desa Beji, Purwokerto, Jawa
Tengah, tempat tinggal Ajengan setelah lari dari asalnya di Cianjur, Jawa Barat.

Ia bertemu dengan sang Imam di rerimbunan tanaman singkong dan ubi jalar. Di
sekelilingnya empang lele seluas 600 meter persegi. Ajengan Masduki alias Damhuri, ketika itu 63
tahun, sedang santai di empangnya. Menyambut Hadi, Damhuri melepas caping, mengangguk,
tersenyum, dan menghampiri.

Hadi Surya bukan orang asing bagi Ajengan. Sejak 1980-an, Hadi sering datang mengaji ke
tempatnya. Pada saat yang sama, Hadi juga mengaji ke Abdullah Sungkar di Solo. Sang guru yang lari
dari kejaran rezim Orde Baru ke Malaysia itu telah banyak bergaul dengan aktivis dari Afganistan,
Yaman, dan Arab Saudi. Dia menekuni ajaran salafi jihadi dan kemudian mendirikan Jamaah
Islamiyah. Kepada murid-muridnya, Sungkar menyatakan sejumlah ajaran Ajengan Masduki
menyimpang dari Islam.

Kepada Tempo, Hadi mencontohkan, Ajengan mengajarkan kisah Raja Zulkarnaen yang
bertanduk. Juga cerita lembah di Pandeglang, Rangkas Bitung, yang menjadi tempat bertemunya roh
Sembilan Wali. Kalau berdoa di sana, niscaya dikabulkan, kata Hadi.

Surat yang dikirim Abdurohim Toyib berisi pernyataan pemisahan diri Abdullah Sungkar dari
Darul Islam. Tapi hati sang kurir menjadi luluh demi melihat Ajengan.

Di ujung jalan, Hadi tertegun: Ke mana surat itu mesti saya kasih? Dia pun menuju rumah
orang kepercayaan Ajengan, Kholid Sarbini. Surat diterima Abdul Gofar anaknya. Saya wanti-wanti
agar surat itu disampaikan ke Ajengan, kata Hadi.

Surat perpisahan itu diketik dan ditandatangani Abdul Halim alias Abdullah Sungkar dan Abu
Somad alias Abu Bakar Baasyir. Sekitar 20 tahun bergabung di Darul Islam, keduanya keluar dan
membentuk Jamaah Islamiyah pada Januari 1995. Abdul Halim menjadi amir dan Abu Somad
menjadi wakilnya.

Menurut Solahudin, peneliti Darul Islam, Sungkar dan Baasyir masuk Darul Islam pada 1975-
1976, setelah direkrut Haji Ismail Pranoto. Setahun sebelumnya, Darul Islam melakukan konsolidasi
dan merekrut banyak aktivis muda Islam. Sungkar dan Baasyir lari ke Malaysia pada 1985. Di Johor
Bahru, mereka mendirikan Pesantren Lukmanul Hakiem. Pengikutnya kebanyakan anggota Darul
Jawa Tengah dan Indonesia Timur, tempat Sungkar menjadi komandan.

http://semaraks.blogspot.com
60
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Hubungan Sungkar dan Baasyir di Malaysia semakin luas. Akses ke Timur Tengah pun
terbuka. Sejak 1987, Sungkar aktif dalam pengiriman anggota Darul Islam untuk berperang melawan
pasukan Uni Soviet di Afganistan. Kegiatan ini melancarkan akses ke aktivis Islam internasional. Sejak
1990, Sungkar menjadi komandan tertinggi Darul Islam dan orang kedua di bawah Ajengan Masduki.

Meski beberapa literatur menyebutkan Jamaah Islamiyah dibentuk pada 1993, menurut
Hadi, ketika itu masih berupa gagasan Sungkar dan Baasyir. Setahun kemudian, Sungkar mengubah
organisasinya menjadi Ring Darul Islam. Masih dalam keluarga Darul Islam atau Negara Islam
Indonesia, tapi sudah berbeda ajaran, katanya.

Baasyir berulang kali menyangkal keterlibatannya dengan Jamaah Islamiyah. Dia hanya
mengakui berbeda pandangan dengan Ajengan Masduki. Kami berpendapat Negara Islam itu sudah
tak ada, namanya tak perlu disebut-sebut lagi, ujarnya dua pekan lalu usai berceramah di Masjid
Iqwanul Qorib, Bandung.

Kendati begitu, Baasyir mengakui memiliki hubungan dengan orang-orang Darul Islam dan
Negara Islam Indonesia karena kesatuan paham. Kami kadang-kadang ziarah ke sana. Mereka
orang-orang yang perjuangannya lurus, ujarnya.

Pengikut Darul Islam yang bergabung ke Jamaah Islamiyah dibaiat lagi. Sungkar
memformalkan struktur organisasi seperti markaziah, mantiqiah, wakalah, dan katibah. Organisasi
baru ini dibagi menjadi dua mantiqiah: satu untuk urusan luar negeri, dipimpin Hambali, dan lainnya
urusan dalam negeri, dipimpin Anshori alias Ibnu Thoyib atau Abu Fatih.

Mukhlas atau Ali Ghufron, kader yang cemerlang dan baru pulang dari Afganistan,
bergabung dengan Hambali. Begitu juga Amrozi, adik Mukhlas. Ketika itu, 2.000 lebih kader telah
dikirim ke Afganistan. Sebagian besar dari Jawa Tengah.

Hambali pun jadi orang penting. Ia berhubungan dan mendapatkan dana dari Al-Qaidah
pimpinan Usamah bin Ladin.

lll

Sebelum Jamaah Islamiyah terbentuk, Darul Islam sudah pecah menjadi tiga. Satu faksi
dipimpin Ajengan, satu dipimpin Abdul Fatah Wiranagapati, dan lainnya KW-9 yang dipimpin Abi
Karim. Layaknya partai politik, perpecahan dipantik masalah jabatan.

Awalnya pada 1974, ketika Darul Islam memutuskan kembali ke gerakan bersenjata. Daud
Beureueh diangkat menjadi imam pertama. Tapi, tahun berikutnya, ia ditangkap dan dibui. Adah
Djaelani tampil menggantikan Daud Beureueh.

Pada 1980, Adah juga dijebloskan ke penjara. Ia dianggap terlibat sepak terjang Warman,
pemimpin pasukan khusus Darul Islam, yang mencari modal dengan melakukan fai-alias merampok-
di berbagai tempat di Jawa Barat. Warman juga membunuh Djaja Sudjadi, pentolan Darul Islam masa
Kartosoewirjo yang menolak bergabung dengan gerakan fisabilillah pimpinan Beureueh. Masduki
pun mengambil alih pimpinan.

Adah menolak bergabung dengan Ajengan. Ia menganggap pengangkatan imam baru itu tak
sesuai dengan prosedur karena tak melalui mekanisme dewan syura. Beberapa pengikut Adah,

http://semaraks.blogspot.com
61
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

terutama Abi Karim, yang menguasai KW-9-Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Banten-ikut
menolak Ajengan.

Begitu juga Abdul Fatah Wiranagapati, yang mengklaim pengikut paling murni
Kartosoewirjo. Ia menganggap mereka yang mengklaim diri sebagai pentolan tak berhak lagi menjadi
anggota Darul Islam. Alasannya, para pentolan itu menandatangani perjanjian 1962 yang
menyatakan Darul Islam batal, kata Solahudin.

Hingga 2000, ada tujuh kelompok Darul Islam yang masih memegang prinsip fisabilillah,
dengan konsep amal, hijrah, dan jihad yang diajarkan Kartosoewirjo. Salah satunya dipimpin Tahmid
Rahmat Basuki, putra Kartosoewirjo. Tahmid awalnya bergabung dengan Adah Djaelani. Dia dan
pengikutnya marah ketika Adah menggantinya dengan Abu Toto alias Panji Gumilang sebagai kepala
staf umum.

Tahmid kemudian menjadi imam hasil pemilihan dewan syura di Cisarua, Jawa Barat.
Langkah ini tak memuaskan Gaos Taufik, pentolan Darul Islam Sumatera, yang menganggap lebih
pantas menjadi pemimpin. Gaos merasa lebih senior, kata Solahudin.

Darul Islam pimpinan Tahmid juga tak mulus. Pengikutnya, Akdam alias Jaja, tak puas
dengan keputusan Tahmid menyetop pengiriman kader Darul ke Mindanao, Filipina Selatan.
Pengiriman kader ini dianggap penting setelah kamp pelatihan Afganistan tak beroperasi lagi.

Pada 1999, setahun setelah Sungkar dan Baasyir kembali ke Indonesia, pecah konflik
Ambon. Inilah momentum kader Jamaah Islamiyah diterjunkan. Dipimpin Zulkarnaen alias Arif
Sunarso, sebagian besar yang dikirim ke Ambon berasal dari Mantiqi Satu. Mantiqi Tiga yang
berbasis di Sulawesi pun dibentuk.

Yang berangkat ke Ambon, selain anggota Jamaah Islamiyah, juga anggota Darul Islam yang
tadinya masih mengakui kepemimpinan Ajengan. Menurut Solahudin, penolakan terlibat di Ambon
membuat DI Ajengan pecah lagi. Yang ingin berjihad disebut DI Akram-diambil dari nama tokohnya.
Di Ambon, DI Akram bersatu dengan Jamaah Islamiyah. Dan dalam kamp pelatihan di Mindanao
pada 1993-1999, semua kader Darul yang terpecah-pecah bersatu kembali. Mereka seperti
melupakan klaim pengikut Kartosoewirjo paling murni.

http://semaraks.blogspot.com
62
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Perlawanan Tak Pernah Padam


SETELAH NII diproklamasikan pada 7 Agustus 1949, gerilya Darul Islam bertahan hingga 4 Juni 1962.
Namun semangat menghidupkan cita-cita S.M. Kartosoewirjo tak padam, meski gagal.

DI PASCA-1962

1963.

Achmad Sobari, mantan Bupati Priangan Timur (bupati wilayah Darul Islam), mendirikan Negara
Islam Tejamaya, yang disebut gerakan Islam murni.

1968.

Aceng Kurnia membentuk Penggerakan Rumah Tangga Islam/Persiapan Tentara Islam Indonesia. Ia
mendatangi sejumlah komandan wilayah: Adah Djaelani, Ateng Jaelani, Danu Muhammad Hasan,
dan Haji Ismail Pranoto (Hispran).

1971.

Reuni 3.000 eks DI/TII di Situ Aksan 120, Bandung. Pertemuan yang disokong Bakin ini deklarasi
mendukung Golkar.

Perlawanan NII pasca-Kartosoewirjo terbagi dua:

DI Fillah, yang meninggalkan perjuangan bersenjata. Tokohnya Djaja Sudjadi, bekas menteri NII.

DI Fisabilillah, yang mengobarkan perang. Tokohnya Aceng Kurnia. Ideologinya iman, hijrah, jihad.

1973.

Pertemuan Mahoni (Aceh, Sulawesi, Jawa) yang menghidupkan kembali Darul Islam. Daud Beureueh
dari Aceh diangkat sebagai imam baru pengganti Kartosoewirjo.

1974-1976.

Haji Ismail Pranoto merekrut Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir.

1976.

Peledakan rumah sakit Kristen di Bukit Tinggi dan pelemparan granat pada acara Musabaqah
Tilawatil Quran di Medan di bawah komando Gaos Taufik.

1977.

Penangkapan 800 pengikut DI karena dituding terlibat gerakan Komando Jihad.Tokohnya Danu
Muhammad Hasan, Dodo Muhammad Darda, Gaos Taufik, dan Haji Ismail Pranoto.

http://semaraks.blogspot.com
63
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Warman dan kawan-kawan melakukan aksi fai (perampokan) untuk membiayai gerakan. Aksi
dilakukan di IAIN Yogyakarta, IKIP Malang, Cicalengka (Bandung), dan Depok.

1978.

Djaja Sudjadi dibunuh oleh anggota DI karena dituding menjadi imam tandingan dan membocorkan
aksi Komando Jihad kepada aparat.

1978-1979.

Adah Djaelani menjadi imam menggantikan Daud Beureueh, yang jadi tahanan rumah.

1983.

Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir ditangkap dengan tuduhan golput dalam pemilu.

1985 Sungkar dan Baasyir lari ke Malaysia.

Di Malaysia, mereka mengirim sejumlah kader Darul Islam ke Afganistan.

1987-1990.

Ajengan Masduki, mantan Bupati Darul Islam Tasikmalaya, diangkat sebagai imam baru
menggantikan Adah Djaelani, yang dipenjarakan. Pengikut Adah menolak Ajengan. Abu Toto alias
Panji Gumilang bergabung dengan KW-9. :

Abdul Fatah Wiranagapati mengklaim berhak menjadi imam karena tak menandatangani pernyataan
1962 yang menyatakan Darul Islam telah batal.

Kelompok Ajengan Masduki:

DI Ansyarullah.

1999.

DI Akram yang berperang di Ambon.

KW-9 pimpinan Abi Karim yang setia kepada Adah Djaelani:

1992.

Ajengan Masduki pecah dengan Abu Bakar Baasyir/Abdullah Sungkar

1 Januari 1993.

Jamaah Islamiyah lahir.

1995.

Adah Djaelani diangkat jadi imam menggantikan Masduki setelah Adah, Tahmid Rahmat Basuki, dan
beberapa bekas anggota Darul Islam dibebaskan.

http://semaraks.blogspot.com
64
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

1997.

Adah Djaelani bergabung dengan KW-9.

Desember 1998.

Tahmid menjadi imam baru menyaingi kelompok Adah dan Abu Toto.

1998.

Gaos Taufik membentuk kelompok sendiri.

2000.

DI Akdam ring Banten pimpinan Jaja yang mengirim kader ke Moro.

Adah Djaelani mengangkat Panji Gumilang sebagai Kepala Staf Umum Darul Islam menggantikan
Tahmid.

SUMBER: WAWANCARA DENGAN SOLAHUDIN, PENELITI DARUL ISLAM

http://semaraks.blogspot.com
65
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Dua Tahap Revolusi

T
AK banyak buku atau risalah yang ditulis Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Selama 13 tahun
bergerilya di hutan-hutan Tasikmalaya, ia memang membawa mesin tik sebesar meja. Tapi ia
hanya menulis pikiran-pikirannya tentang cita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia dalam
bentuk pedoman dan artikel pendek, yang dimuat koran Fadjar Asia pada 1930-an.

Karena itu, meski ada tujuh buku yang menghimpun buah pikirannya, setiap buku
menyuarakan hal sama. Sementara Soekarno atau Tan Malaka merumuskan ideologinya secara
runtut, bahkan lebih dari rumusan traktat akademik, tulisan-tulisan Kartosoewirjo lebih seperti
propaganda. Kalimatnya lincah meski dengan nada rendah.

Ada memang ia menyelipkan info terbaru seperti penemuan planet Pluto pada 1930 ketika
membahas perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa ke Sidratulmuntaha. Menurut Kartosoewirjo, tujuh
lapis langit tujuh lapis bumi yang disebut Quran tak lain dari susunan planet di antariksa yang
berjumlah tujuh buah. Informasi itu ia peroleh karena mendengarkan siaran radio di seluruh dunia
dari radio Zenit yang memakai 52 baterai kering, yang ia bawa ke mana pun pergi.

Dalam buku Haluan Politik Islam (1946), Kartosoewirjo membayangkan sebuah negara yang
damai sentosa dan hukum Tuhan tegak mengatur hajat hidup orang banyak, dalam nama Negara
Islam Indonesia. Untuk mencapainya, menurut dia, dibutuhkan dua tahap revolusi.

Tahap pertama adalah revolusi nasional, yaitu pengusiran penjajah dari bumi Indonesia.
Revolusi ini selesai pada 1945 ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Setelah itu,
masuk revolusi tahap kedua, yakni revolusi sosial. Pada masa inilah Indonesia harus berada di jalan
Tuhan dengan mencontoh perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad.

Ia menyamakan kondisi Mekah sebelum Nabi hijrah dengan Indonesia sebelum 1945:
jahiliah, tak ada tuntunan, dijajah dan diperangi ideologi lain. Nabi pun hijrah ke Madinah untuk
mencapai kegemilangan. Di Madinah umat muslim mencapai masa keemasan. Agar Indonesia sama
seperti periode Madinah, menurut Kartosoewirjo, rakyat Indonesia juga harus hijrah di semua lini:
politik, sosial, ekonomi.

Caranya dengan jihad fisabilillah, bukan jihad fillah atau jihad yang hanya mengekang hawa
nafsu. Jihad itu, menurut Kartosoewirjo, harus dirumuskan dan dilakukan secara cermat di semua
sektor. Karena jihad adalah menegakkan hukum Tuhan yang sulit, dan bertempur dengan ideologi-
ideologi lain, satu-satunya jalan adalah berperang. Perang menghadapi negara Pancasila menjadi
wajib hukumnya, tulisnya dalam Perdjalanan Soetji Isra dan Miraj Rasoeloellah (1953).

Tapi, sebelum bisa berjihad dan hijrah, rakyat Indonesia harus beriman dulu, yakin bahwa
hukum-hukum Allah adalah hukum terbaik untuk mengatur perikehidupan. Kartosoewirjo menyebut
periode ini sebagai periode revolusi individu. Para cerdik cendekia seperti dia dan kadernya harus
mendorong revolusi individu ini seraya melakukan revolusi sosial. Tiga konsep inilah-iman, jihad,
hijrah-yang kemudian menjadi basis ideologi Darul Islam dalam mencapai Negara Islam Indonesia
dan ia sebagai imamnya.

http://semaraks.blogspot.com
66
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Maka ia bergerilya masuk hutan menentang pemerintahan yang dipimpin Soekarno, negara
yang kemerdekaannya juga dia perjuangkan.

Kartosoewirjo selalu menghubungkan apa yang terjadi di Indonesia dengan peristiwa yang
menyertai hijrah Nabi. Medio 1947, ketika mengumumkan perang suci menghalau Belanda, ia
menyamakannya dengan proklamasi Nabi memerangi kaum Quraish. Begitu pula Revolusi Gunung
Cupu pada 17 Februari 1948, dan terakhir proklamasi Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949.

Ia percaya, peristiwa di zaman Nabi dan kejadian-kejadian yang dia alami bersama
pengikutnya sama-sama di luar dugaan dan perhitungan manusia. Dalam Sikap Hidjrah (1936),
Kartosoewirjo yakin rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam akan sukarela menerima
negara Islam sebagai bentuk baru pengganti republik. Keyakinan yang terbukti keliru.

http://semaraks.blogspot.com
67
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Kartosoewirjo
Oleh : Bahtiar Effendy ; Dekan Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Islam Negeri Jakarta

S
EKARMADJI Maridjan Kartosoewirjo adalah tokoh menarik. Dari segi nama, penilaian subyektif
saya mengatakan figur ini tidak memiliki Islamic credential yang kuat. Demikian pula jika
dilihat dari sisi penampilan. Potret dirinya, seperti tampak dalam buku Cornelis van Dijk yang
berjudul Darul Islam, tidak mengesankan sebagai santri dalam perspektif Clifford Geertz. Foto itu
bahkan lebih tampak berkarakter abangan.

Kesan nonsantri ini diperkuat dengan asal-usul sosialnya yang berspektrum priayi-
abangan. Ayahnya adalah, menurut Van Dijk, mantri penjual candu, seorang perantara dalam
jaringan distribusi candu siap pakai yang dikontrol dan diusahakan pemerintah. Dan sekolahnya pun
sekuler: Inlandsche School der Tweede Klasse, HIS, ELS, dan kemudian NIAS-sekolah dokter Jawa.

Menariknya, warna nonsantri itu tidak muncul dalam pembicaraan mengenai Kartosoewirjo.
Sebaliknya, figur ini justru dikenal sebagai bagian penting dari pergerakan Islam, khususnya dalam
kaitannya dengan gagasan dan eksperimen negara Islam.

Di Indonesia, wacana dan karya kesarjanaan tentang negara Islam sering dikaitkan dengan
aspirasi ideologis dan politis golongan agama-yang kemudian bermetamorfosis menjadi partai
Islam. Ini karena mereka, sebagaimana tecermin dalam perdebatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (1945) dan Sidang Konstituante (1956-1957), ingin menjadikan
Islam sebagai dasar negara.

Meski demikian, Kartosoewirjolah yang berasal-usul sosial nonsantri itu, yang menyatakan
sikap politiknya secara lebih tegas: memaklumkan berdirinya Negara Islam Indonesia melalui
gerakan Darul Islam. Sementara golongan agama atau partai Islam hanya berani mengusulkan
Islam sebagai dasar negara, Kartosoewirjo tanpa ragu memilih mendeklarasikan negara Islam.

Terlepas dari soal nama, penampilan, dan asal-usul keluarga yang bukan santri, kehidupan
Kartosoewirjo tidak kosong dari warna Islam. Setidaknya dia pernah dekat dengan H.O.S.
Tjokroaminoto-bapak penggerak nasionalisme Indonesia melalui Sarekat Islam. Berbeda dengan
Soekarno atau Semaoen-Darsono yang juga menjadikan Tjokroaminoto sebagai mentor,
Kartosoewirjo bahkan pernah bergabung dengan PSII dan Masyumi. Dia juga melatih pemuda-
pemuda dalam lembaga Suffah yang dibangunnya.

Atas dasar itu dapatlah dikatakan bahwa Islamic credential yang disandang Kartosoewirjo
lebih bersifat institusional daripada substansial. Kartosoewirjo barangkali memang tidak memiliki
pengetahuan tentang Islam sedalam Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, atau Isa Anshari. Lagi-lagi
menurut Van Dijk, substansi Islam diperolehnya secara otodidak melalui buku-buku berbahasa
Belanda, yang dia dapatkan dari kiai-kiai Malangbong, seperti Yusuf Tauziri dan Ardiwisastra-
mertuanya.

Barangkali sadar akan hal ini, yaitu keterbatasan mengenai keluasan dan kedalaman Islam,
Kartosoewirjo tidak bersedia membuang waktu untuk menggali dasar-dasar teologi tentang perlunya

http://semaraks.blogspot.com
68
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

negara Islam. Dan memang, Negara Islam Indonesia yang dia proklamasikan pada 7 Agustus 1949
lebih merupakan reaksi politis daripada agama atas situasi yang berkembang waktu itu.

Deliar Noer, misalnya, percaya bahwa gerakan Darul Islam muncul karena Kartosoewirjo-
yang ketika itu memimpin sebagian kekuatan bersenjata umat di daerah Jawa Barat-tidak setuju
dengan Persetujuan Renville. Inti persetujuan itu adalah ditariknya kekuatan bersenjata Indonesia,
termasuk Hizbullah dan Sabilillah, dari daerah yang dianggap dikuasai Belanda.

Tapi sebenarnya, di luar Persetujuan Renville, ada faktor lain yang menyebabkan kelahiran
Negara Islam Indonesia, seperti berdirinya Negara Pasundan ciptaan Belanda pada Maret 1948 dan-
ini barangkali yang paling menentukan-jatuhnya pemerintahan RI di Yogyakarta pada Desember
1948 karena aksi polisional Belanda.

Dalam konteks seperti itu, kental warna kebencian terhadap kolonialisme Belanda dalam
kaitannya dengan berdirinya Negara Islam Indonesia. Bahwa kemudian Kartosoewirjo memberi
makna jihad dalam reaksinya terhadap perkembangan keadaan, hal itu merupakan sesuatu yang
lumrah.

Gagasan mengenai jihad memberikan dimensi lain, nilai tambah, dalam perang melawan
Belanda-walaupun harus pula disadari, dalam tradisi masyarakat agraris yang masih sangat
tradisional, belum tentu pemahaman tentang jihad memiliki kedalaman makna teologis. Bisa saja
jihad dimengerti dalam konteks mesianistik-menghadirkan juru selamat yang diridhoi Tuhan.
Bukankah, sekali lagi menurut Van Dijk, Kartosoewirjo juga dilukiskan sebagai pemimpin yang
memiliki kekuatan mistik, lengkap dengan keris dan pedangnya-Ki Dongkol dan Ki Rompang?

Tentu, kualitas yang dimiliki Kartosoewirjo tidak unik, tidak hanya ada pada dirinya sendiri.
Sejak awal abad ke-20 sampai sekarang, pejuang negara Islam tidak selalu berasal dari kalangan
muslim yang-dalam kerangka antropologis masyarakat Indonesia-disebut santri. Di belahan dunia
lain, pejuang negara Islam itu ada yang berasal-usul seperti Kartosoewirjo, setidaknya jebolan
perguruan tinggi sekuler, bukan madrasah.

Ini artinya, seperti tampak dalam sejarah pergerakan Darul Islam di Indonesia, gagasan
mengenai negara Islam tidak mesti muncul karena kesadaran keagamaan. Ide itu bisa juga lahir
sebagai respons atas perkembangan keadaan.

http://semaraks.blogspot.com
69
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Relevansi Darul Islam untuk Masa Kini


Oleh : Sidney Jones ; Penasihat Senior International Crisis Group

B
ANYAK yang bisa kita pelajari dari sejarah Darul Islam yang ada relevansinya untuk Indonesia
sekarang ini-dan bukan saja tentang bagaimana suatu gerakan radikal bisa menyesuaikan diri
dengan perubahan zaman dan melahirkan suatu generasi baru. Ada pelajaran juga tentang
akibat buruk saat ketidakpuasan di daerah diabaikan oleh pusat; bahayanya memanfaatkan
kelompok Islam garis keras untuk kepentingan politik; bagaimana pentingnya ikatan lintas generasi
sehingga masa depan anak-anak anggota kelompok ekstrem harus diperhatikan; dan bagaimana
harapan untuk daulah islamiyah tetap hidup.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Jawa Barat, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan
Daud Beureueh di Aceh menjadi pahlawan untuk daerah mereka masing-masing. Setiap tokoh
memimpin suatu pemberontakan melawan Republik atas nama DI, setiap orang membayar mahal
atas perannya masing-masing, dan setiap orang menjadi sumber ilham untuk gerakan baru-
pengaruh ketiganya masih terasa sampai hari ini:

Kartosoewirjo, yang memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) pada 1949,


ditangkap pada 1962 dan kemudian dieksekusi oleh regu tembak; banyak di antara ajudannya yang
top diberi amnesti dan dana untuk kembali hidup seperti warga biasa dalam semacam program
deradikalisasi zaman dulu. Sampai hari ini, dia menjadi inspirasi untuk semua kelompok, baik yang
memilih jalan kekerasan maupun tidak, yang ingin mendirikan negara Islam, termasuk Jamaah
Islamiyah (JI), Ring Banten, dan banyak kelompok sempalan lain.

Kahar Muzakkar tewas tertembak oleh tentara pada 1965; beberapa pengikutnya lari ke
Sabah, sebagian lainnya lari ke Maluku. Kekacauan dan pengungsian yang terjadi sebagai dampak
pemberontakannya ada bekasnya di Sulawesi sampai sekarang. Warisan yang tidak langsung
termasuk jaringan Pesantren Hidayatullah, yang didirikan oleh salah satu pengagum Kahar, dan
Komite Persiapan Penerapan Syariat Islam di Makassar, yang ingin melanjutkan perjuangan dia
melalui upaya advokasi.

Pemberontakan Daud Beureueh di Aceh berakhir pada 1962. Setelah kesepakatan


perdamaian ditandatangani dengan pemerintah pada 1963, Beureueh ditarik kembali sebagai imam
gerakan Darul Islam untuk seluruh Indonesia pada 1973. Tapi, empat tahun kemudian, dia ditangkap
lagi dan menjadi tahanan rumah sampai wafatnya pada 1987. Gerakan Aceh Merdeka mewarisi
nasionalisme Aceh dari DI Aceh, dan banyak pejuang pertama Gerakan Aceh Merdeka adalah anak
para pejuang gerakan Daud Beureueh.Setiap versi DI dimulai sebagai balasan terhadap keluhan-
keluhan setempat-misalnya kegagalan Jakarta memenuhi janji kepada Aceh tentang status istimewa.
Pemunculan mereka menggarisbawahi bahwa salah satu pelajaran kunci untuk Negara Indonesia,
yang masih relevan dengan kondisi Papua hari ini, adalah ketidakpedulian pemerintah pusat
terhadap keresahan di daerah yang bisa menjadi motor radikalisasi.

Kartosoewirjo secara khusus mengembangkan semacam ideologi dan justifikasi untuk jihad
terhadap negara kafir (awalnya Belanda, kemudian Republik Indonesia), yang banyak aspeknya mirip
dengan yang disebut salafi-jihadisme. Sebuah buku yang ditulis Solahudin, wartawan Aliansi Jurnalis

http://semaraks.blogspot.com
70
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Independen, yang akan diterbitkan dalam waktu dekat, menunjukkan salah satu alasan kenapa
ideologi yang dikaitkan dengan Al-Qaidah menemukan tanah yang begitu subur di Indonesia, yakni
sudah ada landasan yang ditanam oleh pendiri DI.

Pada akhir 1950-an, tiga pemimpin DI itu sudah saling menghubungi dan bersepakat
memperjuangkan suatu federasi Islam, meski konsep tersebut tidak pernah berhasil-antara lain
karena tujuan setempat jauh lebih penting untuk rekrutmen dan mobilisasi daripada tujuan
bersama. Empat puluh tahun kemudian, dalam konteks politik yang jauh berbeda, mujahidin
Indonesia mendapat pelajaran yang mirip: entah betapa kuatnya kemarahan rakyat Indonesia
terhadap kebijakan Amerika di Timur Tengah, tetap lebih gampang merekrut orang lewat diskusi soal
Ambon dan Poso daripada tentang Palestina dan Irak.

Tidak lama setelah tentara Indonesia mengalahkan pemberontakan DI di Jawa Barat, pada
1965 terjadi peristiwa Gestapu. Prioritas utama dari tentara dan Jenderal Soeharto, yang pada 1966
mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, adalah membasmi Partai Komunis Indonesia. Dengan
tujuan ini, prinsip musuh dari musuh adalah teman berlaku. Beberapa mantan pemimpin DI, yang
melihat komunisme sebagai ancaman terhadap Islam, diangkat sebagai mitra TNI dalam operasi
melawan PKI, sampai disebarkan senjata.

Pada 1971, ketika Soeharto sedang merencanakan pemilu pertama Orde Baru, anggota DI
dilihat sebagai alat rahasia untuk memenangkan Golkar di Jawa Barat dan daerah lain. Mereka
dikasih uang oleh Badan Koordinasi Intelijen Negara untuk menyelenggarakan reuni selama tiga
hari, yang katanya dihadiri oleh lebih dari 3.000 orang eks anggota DI.

Dus, dana dan fasilitas pemerintahlah yang memungkinkan gerakan setengah mati ini hidup
kembali-yang dengan cepat menggigit tangan yang memberinya makan. Dengan diradikalisasi, baik
oleh kebijakan Soeharto yang dilihat anti-Islam, seperti asas tunggal, maupun oleh tulisan
cendekiawan militan dari Timur Tengah yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia,
anggota DI dengan cepat memulai kegiatan klandestin untuk melawan negara.

Sebagai satu-satunya kelompok di Indonesia dengan sejarah berperang untuk negara Islam,
makin banyak pemuda dan mahasiswa yang bisa direkrut-apalagi setelah represi Orde Baru
meningkat. Di antara mereka ada Abdullah Sungkar, pendiri JI, dan sesama ustad dan temannya, Abu
Bakar Baasyir. Salah satu pelajaran yang seharusnya diangkat, tapi ternyata tidak, adalah kooptasi
atau kerja sama dengan Islam garis keras untuk tujuan politik lain tidak akan berhasil, dan
mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Pukulan keras terhadap DI/NII dilaksanakan oleh Komando Operasi Pemulihan Keamanan
dan Ketertiban pada akhir 1970-an dan 1980-an, dengan akibat bahwa hampir semua tokoh penting
dalam DI ditangkap. Salah satu aspek dari penangkapan ini menonjol: banyak narapidana dan
tahanan politik ini punya anak laki-laki yang 20 tahun kemudian muncul sebagai pemimpin JI
dan/atau pelaku terorisme.

Sebut saja empat pemimpin DI yang ditangkap pada waktu itu: Haji Faleh dan Achmad
Hussein dari Kudus; Muhammad Zainuri dari Madiun; dan Bukhori dari Magetan. Anak Haji Faleh,
Thoriquddin alias Abu Rusdan, menjadi amir sementara JI setelah Abu Bakar Baasyir ditangkap.
Salah satu putra Achmad Hussein, Taufik Ahmad alias Abu Arina, menjadi tokoh JI Jawa Tengah. Anak

http://semaraks.blogspot.com
71
TEMPO edisi khusus Kartosoewirjo

Zainuri, Fathurrahman al-Ghozi, tewas tertembak di Mindanao pada 2003; dia terlibat dalam
pengeboman di Jakarta dan Manila. Adik Al-Ghozi, Ahmad Rofiq Ridho alias Ali Zein, ditangkap
karena menolong Noor Din M. Top, dan sekarang bebas. Anak Bukhori, Lutfi Haedaroh alias Ubeid,
baru ditangkap untuk kedua kalinya karena ikut kamp militer di Aceh. Ubeid dan Umar Burhanuddin
bekerja sama dengan Noor Din sebelum pengeboman Kedutaan Australia pada 2004. Putri-putri
tahanan DI juga muncul sebagai istri orang JI pada 1990-an.

Kalau Indonesia bisa belajar dari masa lalu, seharusnya program kontra-radikalisasi
ditargetkan kepada adik dan anak para tahanan radikal dan kepada sekolah yang mereka ikuti.
Kartosoewirjo, lebih dari Daud Beureueh atau Kahar Muzakkar, mengerti bahwa indoktrinasi dan
regenerasi harus dilaksanakan bersama. Lembaga Suffah yang dia dirikan di Jawa Barat, yang
menggabungkan kajian agama dan politik dengan latihan militer, mungkin merupakan sumber
teladan dan inspirasi bagi sekolah JI yang terkenal, seperti Al-Mukmin di Ngruki atau Lukmanul
Hakiem di Johor, Malaysia.

Walaupun JI untuk sementara rupanya tidak tertarik melakukan amaliyat (operasi


pengeboman dan lain-lain), pesantren-pesantren dalam jaringannya di Jawa, Lampung, Lombok, dan
daerah lain adalah kunci kelangsungan hidup, karena di situlah anak-anak pemimpin JI dididik. Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme seharusnya memprioritaskan program pengawasan secara
ketat terhadap sekolah-sekolah ini-sekarang lebih dari 50-dan menarik anak-anak di dalamnya ikut
dalam kegiatan di luar, supaya jaringan sosial mereka bisa diperluas.

Sejarah Darul Islam memberikan pelajaran lain yang seharusnya dipetik oleh Indonesia: pada
saat para pemimpin gerakan radikal mulai dilihat terlalu pasif oleh pengikutnya, sayap lebih militan
sering muncul, dengan semangat perjuangan lebih tinggi. Perpecahan ini tidak selalu menjadi
indikasi bahwa organisasi mau mati. Setelah DI dihidupkan kembali pada 1970-an sampai sekarang,
perpecahan ideologi serta kebijakan dan pribadi baru sering muncul. Yang paling terkenal adalah
perpecahan JI dari DI pada 1992/1993, tapi ada faksi lain yang keluar karena tidak puas dengan
keterlambatan DI merespons setelah konflik Ambon meledak pada 1999. Noor Din M. Top
melepaskan diri dari JI pada 2003/2004 dengan membawa pengikutnya ke arah lebih militan. Baru-
baru ini, aliansi lintas tanzim yang mendirikan kamp latihan di Aceh terdiri atas unsur-unsur sakit hati
atau kurang puas dari sekitar sembilan kelompok berbeda-dan semuanya sangat kritis terhadap JI,
yang dilihat tidak mau lagi berjihad.

Darul Islam jelas bukan suatu obyek kuno untuk museum. Setelah 50 tahun, ia masih tetap
berkembang dan sempalannya masih tetap menjadi inti gerakan Islam radikal di Indonesia-
bagaimanapun, ide negara Islam masih tetap bergema untuk generasi baru. Kalau ada yang masih
ragu tentang kedigdayaan DI untuk mendorong anak muda berjihad, baca saja tulisan Iqbal alias
Arnasan, salah satu pengebom bunuh diri di Bali pada Oktober 2002. Dia menulis kepada keluarga
dan teman di Malingping, Banten, bekas basis DI:

Ingat wahai Mujahidin yang di Malingping. Imam kita S.M. Kartosoewirjo dulu waktu
membangun dan menegakkan sekaligus memproklamasikan kemerdekaan NII dengan darah dan
nyawa para syuhada bukan dengan berleha-leha, santai-santai saja seperti kita sekarang. Kalau
kalian benar-benar ingin membangun kembali kejayaan NII yang hari ini terkubur, siramlah dengan
darah-darah antum agar antum tidak malu di hadapan Allah. Padahal kalian mengaku sebagai anak
DII/NII.

http://semaraks.blogspot.com
72