Anda di halaman 1dari 14

Laporan Modul III, MG2212

Sampling dan Analisis Ayak


Claudy Sonly Daniel (12511036) / Kelompok 5 / Rabu, 27-03-2013
Laboratorium Pengolahan Bahan Galian
Program Studi Teknik Metalurgi
Asisten : Thona Elisa Harungguan (12510010)
Fakultas Teknik Pertambangan dan
Perminyakan

Abstrak Praktikum Modul III Pada praktikum ini dipelajari tentang sampling (pemercontohan) dan juga analisis ayak.
Percobaan untuk modul sampling dan analisis ayak. ini bertujuan untuk mempelajari teknik-teknik sampling dan reduksi
jumlahnya. Selain itu, bertujuan untuk menguasai data-data statistika yang digunakan pada sampling. Data-data yang didapat
dari praktikum ini seperti variansi, standar deviasi, dan selang kepercayaan untuk metode riffle, metode coning dan
quartening, dan juga untuk menentukan persamaan Gaudin Schumann . Persamaan tersebut akan menunjukan distribusi
ukuran partikel hasil ayakan dan ukuran maksimum dalam contoh. Sampling sendiri adalah operasi pengambilan sebagian
yang banyaknya cukup untuk dianalisis atau uji fisik dari sesuatu yang besar jumlahnya, sedemikian rupa sehingga
perbandingan dan distribusi kualitas adalah sama pada keduanya. Metode yang dipakai adalah dengan menggunakan riffle
dan juga dengan teknik coning dan quartering. Dari percobaan ini akan diketahui metode yang paling baik untuk sampling
dari suatu populasi. Untuk metode menggunakan riffle mineral dibagi menjadi dua bagian yang sama. Kemudian contoh
mineral diambil sedikit dengan jari dan disebar secara merata pada kotak grain counting (dijatuhkan ke kotak di tengah),
dihitung butiran cassiterite dan kuarsa pada masing masing kotak. Sedangkan untuk metode coning and quartening, mineral
dibentuk seperti kerucut kemudian dibagi 4 sama rata, diambil yang berseberangan kemudian dilakukan grain counting
seperti metode riffle sebelumnya. Analisis ayak sangat banyak digunakan dalam pengolahan bahan galian, antara lain
digunakan untuk menentukan efisiensi berbagai peralatan, menghitung derajat liberasi, mencari penyebab dan ukuran mineral
berharga yang hilang bersama tailing. Pada analisis ayak, mineral diayak dengan sieving dan ditimbang berat mineral pada
tiap ayakan 65 mesh, 100 mesh, 150 mesh, dan 200 mesh.Hasil yang didapat variansi, standar deviasi untuk metode riffle
masing-masing adalah 57.34% dan 7.57 . Dan selang rataannya untuk kasiterit dan silika masing-masing adalah 90.35% <
< 96.59% dan 3.41% < < 9.65%. Sedangkan variansi, standar deviasi untuk metode coning dan quartening masing-masing
adalah 61.02% dan 7.81. Dan selang rataannya untuk kasiterit dan silika masing-masing adalah 90.64% < < 97.08% dan
2.92% < < 9.36%. Dan didapat metode riffle lebih baik untuk digunakan dalam malakukan sampling. Sedangkan untuk
analisis ayak didapat ukuran ayakan untuk meloloskan 80% partikel didapat adalah 353.64 m dan modulus distribusi sebesar
4.6048.

A. Tinjauan Pustaka Random sampling adalah cara mengumpulkan


contoh sedemkian rupa sehingga setiap unit yang
Sampling adalah pengambilan sebagian kecil dari membentuk lot mempunyai kesempatan atau
dari keseluruhan yang cukup untuk dilakukan analisis peluang yang sama untuk diikutkan ke dalam
dan berbagai uji fisik yang disesuaikan dengan contoh.
jumlahnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
distribusi dan perbandingan kualitas sampel dengan 2. Sistematic Sampling
keseluruhan sama. Sampling ini merupakan tahap Sistematic sampling adalah cara mengumpulkan
awal dari suatu analisis. contoh dari lot pada interval yang spesifik dan
teratur, baik dalam istilah jumlah, waktu, dan
Ada beberapa istilah yang dipakai dalam teknik ruang.
sampling ini. Pertama adalah lot atau populasi yaitu
suatu yang besar jumlahnya seperti disebut di atas, Increment adalah jumlah satuan mineral yang
misalnya produksi satu hari atau pengiriman bijih dikumpulkan dari populasi sebagai bagian dari
satu kapal, dll. Yang ingin kita ketahui datanya contoh yang diperoleh dengan sekali pengambilan
seperti kandungan logam, distribusi ukuran, dengan menggunakan alat sampling. Contohnya
kandngan air, dll. Contoh yang diperoleh harus pengambilan material yang diambil dari lot sebagai
representatif atau dapat dipercaya. Artinya harus contoh dengan satu kali sekop.
diambil menurut teknik dan prosedur yang benar.
Ada pula yang disebut parameter yaitu data atau Dari mekanismenya, sampling dapat dibagi menjadi :
besaran tentang populasi sedangkan besaran yang
diperoleh dari contoh disebut statistik. Parameter 1. Hand sampling
tidak pernah diketahui secara mutlak. Jadi statistik
merupakan perkiraan terhadap parameter. Dengan Pada hand sampling pengambilan contoh
demikian, sampling merupakan teknik statistika yang dilakukan dengan tangan, sehingga hasilnya sangat
didasarkan pada teori peluang atau probabilitas. tergantung pada ketelitian operator.

Metode sampling yang dapat dilakuakan terbagi Grab sampling Pengambilan sampel pada
menjadi beberapa jenis, yaitu : material yang homogen dan dilakukan dengan
interval tertentu dengan menggunakan sekop.
1. Random Sampling Contoh yang diperoleh biasanya kurang
representatif.
1. Sub sampling analisa
Shovel sampling Pengambilan sampel dengan
menggunakan shovel, keuntungan cara ini Prosedur sampling mungkin melibatkan sejumlah
lebih murah, waktu pengambilan cepat dan tahap sebelum materialnya dapat dianalisis.
memerlukan tempat yang tidak begitu luas.
Outline tahap sampling sebagai berikut:
Stream sampling Alat yang digunakan Hand
sampling cutter. Conto yang diambil berupa Untuk bagian terbanyak, bulk material adalah
pulp (basah) dan pengambilan searah dengan mengandung material non-homogen contohnya
aliran (stream). mineral, sedimen, dan foodstuffs. Mereka
mungkin terkandung dalam komposisi yang
Pipe sampling Alat yang digunakan berbeda dimana distribusinya tidak seragam di
pipa/tabung dengan diameter 0.5, 1.0, dan 1.5
dalam material.
inchi.

Coning and quatering Disini sejumlah increments diambil secara acak


dari berbagai point dalam bulk material sehingga
2. Mechanical Sampling setiap bagian memiliki kesempatan yang sama
untuk dipilih.Kombinasi dari increment ini
Teknik pengambilan contoh serta reduksi jumlah kemudian berupa gross sample. Gross sample ini
yang umum dilakukan di pabrik pengolahan adalah masih terlalu besar untuk analisa dan harus dibagi
mechanical sampling. Mechanical sampling lagi untuk menghasilkan sub sample. Sub sample
digunakan untuk pengambilan contoh dalam mungkin memerlukan berbagai perlakuan lagi,
jumlah besar dengan hasil yang lebih representatif misalnya pengecilan ukuran partikel, mixing, etc.,
dibandingkan hand sampling. Dalam mechanical sebelum sample dianalisis.
sampling ini alat yang digunakan terbagi menjadi
dua yaitu riffle dan vein sampler. 2. Metode Coning

Riffle sampler Alat ini bentuknya persegi Dari mekanismenya, pengambilan contoh metode
panjang dan didalamnya terbagi beberapa
coning termasuk dalam
sekat yang arahnya berlawanan. Riffle-riffle
ini berfungsi sebagai pembagi conto agar kelompok Hand sampling.
dapat terbagi sama rata.
Langkah-langkah yang dilakukan :
Vein sampler Pada bagian dalam dilengkapi Material dicampur sehingga homogen
dengan revolving cutter, yaitu pemotong yang Diambil secukupnya dan dibuat bentuk
dapat berputar pada porosnya sehingga akan kerucut
membentuk area yang bundar sehingga dapat
memotong seluruh alur bijih. Ujung kerucut ditekan sehingga
membentuk kerucut terpotong dan dibagi
Beberapa macam teknik sampling : empat bagian sama besar
Dua bagian yang berseberangan diambil
untuk dijadikan contoh yang dianalisis.

3. Pembagi Model Riffle

Pembagi Model Riffle termasuk kelompok


mechanical sampling yang digunakan untuk
pengambilan contoh dalam jumlah yang besar
dengan hasil yang lebih representative
dibandingkan hand sampling. Alat yang
dipergunakan adalah Riffle Sampler. Alat ini
berbentuk persegi panjang dan di dalamnya
terbagi beberapa sekat yanga rarahnya
berlawanan. Riffle-riffle ini berfungsi sebagai
pembagi contoh agar dapat terbagi sama rata.

Langkah selanjutnya setelah sampling adalah analisa


yang meliputi penimbangan, pengayakan, mikroskopis
dan analisis kimiawi jika diperlukan. Tapi yang
Teknik sampling sendiri pada bidang pengolahan terpenting adalah analisis ayak. Analisis ayak sendiri
adalah : adalah metode yang kita gunakan dalam kaitannya
memanfaatkan pesebaran ukuran material yang
kemudian dianalisis dan disimpulkan untuk menilai Ayakan dari batang sejajar, atau biasa disebut
proses sebelum ataupun menentukan proses sesudah. dengan grizzly atau red deck surface. Permukaan
Analisa ayak juga dapat digunakan untuk menentukan ayakan ini terbuat dari batang-batang atau rel atau
efisiensi berbagai peralatan, menghitung derajat rod yang disusun sejajar dengan jarak atau celah
liberasi, mencari penyebab dan ukuran mineral tertentu. Ayakan grizzly dapat bergerak, bergetar,
berharga yang hilang bersama tailing. atau diam. Umumnya digunakan untuk operasi
scalping
Tujuan analisis ayak adalah untuk mengetahui :
Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh
1. Jumlah produksi suatu alat beberapa hal, yaitu :
2. Distribusi partikel pada ukuran tertentu
3. Ratio of concentration 1. Ukuran material yang sesuai dengan lubang
4. Recovery suatu mineral pada setiap fraksi ayakan
2. Ukuran rata-rata material yang menembus lubang
Analisis ayak dilakukan dalam suatu alat yang terdiri ayakan
dari susunan ayakan dan mesin penggetar atau vibrator. 3. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel
4. Komposisi air dalam material yang akan diayak
Ayakan disusun dengan lubang ayakan besar di atas
5. Letak perlapisan material pada permukaan
dan ayakan berlubang kecil di bawah secara berurutan. sebelum diayak
Sampel dimasukkan di ayakan teratas.
Besaran untuk ukuran partikel yang digunakan dalam
Prinsip pemisahannya didasarkan pada ukuran relative analisis ayakan bisa dalam skala mesh (#) ataupun
antara ukruan partikel dengan lubang ayakan. Partikel- milimeter (mm), namun yang digunakan dalam analisis
ayak pada modul 3 ini dinyatakan dalam skala mesh
partikel yang memiliki ukuran lebih kecil daripada
karena ukuran partikel sudah cukup halus.
ukuran lubang ayakan akan lolos ayakan. Kelompuk
partikel ini disebut undersize atau partikel minus. Arti skala mesh itu sendiri adalah jumlah lubang yang
Sedangkan partikel-partikel yang berukuran lebih besar ada pada permukaan ayak dalam 1 inch persegi.
daripada lubang aykan akan tertinggal di atas ayakan. Semakin tinggi nilai mesh, menandakan semakin
Partikel ini dikelompokkan sebagai oversize atau banyak lubang dan semakin kecil lubang tersebut, yang
partikel plus. artinya semakin kecil ukuran partikel yang bisa
melewatinya. Perbandingan antara luas lubang bukaan
dan luas permukaan screen disebut prosentase opening.
Operasi pemisahannya dilakukan dengan melewatkan
partikel-partikel di atas ayakan atau screen yang Presentase opening dipengaruhi oleh:
memiliki lubang dengan ukurant ertentu. Pengayakan
dilakukan dengan alat yang disebut ayakan atau screen 1. Luas penampang screen
seperti : grizzly yang terbuat dari batang-batang sejajar 2. Ukuran bukaan.
atau plat berlubang, atau anyaman kawat berlubang. 3. Sifat dari umpan seperti; berat jenis, kandungan
air, temperatur.
4. Tipe mechanical screen yang digunakan
Berdasarkan model lubang pada permukaannya,
ayakan dibagi menjadi tiga tipe: Kapasitas screen secara umum tergantung pada :

Pelat berlubang, Punched Plate 1. Luas penampang screen


Pelat berlubang atau punched plate yaitu pelat yang 2. Ukuran bukaan
3. Sifat dari umpan seperti ; berat jenis, kandungan
baisanya terbuat dari baja yang diberi lubang
air, temperatur
dengan bentuk tertentu. Contoh bentuk lubang 4. Tipe mechanical screen yang digunakan
dapat dilihat pada gambar. Selain pelat yang terbuat
dari baja, bahan umum yang digunakan untuk Faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi screen :
ayakan adalah karet keras atau plastic. Karet atau
plastic digunakan untuk memisahkan material yang 1. Lamanya umpan berada dalam screen
abrasive atau digunakan pada lingkungan yang 2. Jumlah lubang yang terbuka
3. Kecepatan umpan
korosif 4. Tebalnya lapisan umpan
5. Cocoknya lubang ayakan dengan bentuk dan
Anyaman Kawat, Woven Wire, Mesh ukuran rata-rata material yang diolah.
Ayakan dari anyaman kawat. Kawat terbuat dari
metal yang dianyam membentuk dan menghasilkan Setelah dilakukan analisis ayak, pengamatan teliti
bentuk dan ukruan lubang tertentu. Umumnya dengan mikroskop akan menunjukkan makin halus
partikel yang teramati, akan makin besar derajat
lubang berbentuk bujur sangkar, namun dapat pula
kebebasannya, atau makin murni pula mineral tersebut
bentuk lainnya, seperti segienam. terpisah dari pengotornya. Sehingga derajat liberasi pun
bisa diukur dengan analisis ayak. Selain itu dari hasil
Batang Sejajar, Grizzly pengayakan yang dilakukan dengan dua ayakan akan
dapat dibandingkan satu sama lainnya sehingga dapat Langkah kerja
diketahui efisiensi pengayakan yang paling baik.
I. SAMPLING
Yang dimaksud dengan derajat liberasi adalah
perbandingan antara jumlah berat mineral bebas dan Dengan riffle
berat mineral yang sama seluruhnya (bebas dan
terikat). Sedangkan efisiensi yaitu perbandingan antara
undersize yang lolos dengan undersize yang seharusnya 1. Ambil Kasiterit & silika 500 gr dan
lolos. diaduk secara homogen

Dalam mengukur distribusi data, digunakan metode


grain counting dimana contoh dijatuhkan keatas 5
kotak berukuran 1 cm2 yang diatur secara menyilang. 2. Lalu dibagi dengan riffle contoh
dengan ditaburkan secara searah.
Data hasil analisis ayak umumnya dipresentasikan
dalam bentuk grafik, yaitu memplot ukuran partikel
pada absis (sumbu-x) dan berat sebagai ordinat
(sumbu-y). Ada dua pendekatan dalam
menggambarkan berat yaitu jumlah berat masing- 3. Bagi dengan riffle sebanyak 3x
masing fraksi dalam persen atau jumlah berat kumulatif
yaitu jumlah berat dalam persen yang lebih besar dan
lebih kecil ukuran tertentu.

1. Direct Plot 4. Lalu buat kotak berukuran 9x9 cm yang


Pada grafik ini ukuran partikel pada jarak yang dibagi menjadi 9 kotak dengan ukuran 3x3
sama sebagai absis diplot terhadap persen berat cm, dan beri nomor 1-5 untuk 5 kotak kecil
tertampung pada masing-masing ayakan berukuran yang dibuat
tertentu.

2. Cumulative Direct Plot


Pada grafik ini persen berat kumulatif tertampung
atau persen berat kumulatif lolos ayakan diplot 5. Ambil sejumput contoh dengan tangan
dengan ukuran. Tipe grafik semacam ini banyak
dipergunakan.

3. Semi-log Plot
Pada grafik ini sumbu-x menggunakan skala 6. Lalu disebarkan contoh itu pada 5
logaritmik. kotak kecil yang telah dibuat

4. Log-log Plot
Baik sumbu tegak maupun sumbu horizontal
menggunakan skala logaritmik. 7. Dihitung jumlah Kasiterit dan silika
di setiap kotak kecil
Log-log plot dimana berat kumulatif lolos ayakan
sebagai ayakan dan ukuran partikel sebagai absis
disebut Gaudin-Schumann plot dan grafik dapat
dinyatakan dalam
8. Kembalikan contoh itu

= 100 ( )

dimana :
9. Lalu ulangi langkah 5-8 sebanyak 4x
Y : % berat kumulatif lolos ukuran x lagi
m : modulus distribusi
k : modulus ukuran dalam micrometer
x : ukuran partikel Dengan teknik coning dan quartering
Modulus distribusi m adalah kemiringan log-log plot
dan menunjukkan distribusi ukuran. Makin besar m,
makin kecil distribusi ukurannya. Nilai k menunjukkan
ukuran maksimum dalam contoh. Dalam prakteknya, k
adalah ukuran ayakan dalam micrometer di mana 80%
material lolos. Fungsi Gaudin-Schumann hanya berlaku
untuk produk penggerusan dan peremukan.

B. Data Percobaan
1. Ambil Kasiterit & silika 500 gr dan diaduk secara 1. Ambil Kasiterit & silika sebanyak 500 gr
homogen

2. Lalu dengan kertas yang dibuat seperti kerucut, 2. Lalu diayak dengan susunan ayakkan 65, 100, 150,
diletakkan pada atas kertas sehingga berbentuk seperti 200 mesh selama 15 menit
kerucut

3. Ditimbang masing-masing fraksi dan nyatakan


3. Ditekan hingga datar agar homogen dalam %berat contoh

4. Bagi contoh itu menjadi 4 bagian sama besar. 4. Dihitung % berat tertampung, % berat kumuatif
Lalu ambil dua bagian yang bersebrangan. tertampung, % berat kumulatif lolos

5. Lakukan langkah 2-4 sebanyak 2x lagi 5. Lalu digambar data dalam direct plot dan log-log
plot

Persamaan-persamaan yang dipakai


6. Lalu buat kotak berukuran 9x9 cm yang dibagi
menjadi 9 kotak dengan ukuran 3x3 cm, dan beri 1. Persamaan persen berat Kasiterit (misal H = Kasiterit)
nomor 1-5 untuk 5 kotak kecil yang dibuat
:

% =
+
7. Ambil sejumput contoh dengan tangan
2. Persamaan persen berat silika (misal P = silika) :

% =
+
8. Lalu disebarkan contoh itu pada 5 kotak kecil
yang telah dibuat 3. Persamaan Selang Rataan

. < < + .
2 2
9. Dihitung jumlah Kasiterit dan silika di setiap
kotak kecil : = 0.05 dan = 25

4. Persamaan grafik Gaudin-Schuhman:



= 100[ ]
10. Kembalikan contoh itu, lalu ulangi langkah 5-8
sampai 5x dimana
Y : % berat kumulatif lolos ukuran x
m : modulus distribusi
II. ANALISIS AYAK k : modulus ukuran (m)
x : ukuran partikel

5. Persamaan Variansi dan Standar Deviasi


( )2
=
1
=

Konversi satuan yang dipakai

Dari mesh ke m:
200 mesh = 74 m
100 mesh = 74 x 2 m

Asumsi yang digunakan


1. Contoh homogen
2. Metode Riffle membagi 2 sama banyak C. Pengolahan Data Percobaan
3. Tidak ada berat contoh yang hilang dalam
1. Sampling dengan metode Riffle
tiap proses percobaan

Data fisis mineral a. Kasiterit

Berat Jenis (gr/cm3)


No. H %H

( )
Kasiterit (H) 7.5
Silika (P) 2.75 1 16 93.57 0.10 0.01

Data hasil percobaan 2 10 96.46 2.99 8.96

3 9 92.47 -1.00 1.01


Ukuran mineral = +65#
4 12 100.00 6.53 42.65
1. Sampling dengan metode Riffle
5 7 95.02 1.55 2.41

Percobaan 6 33 93.75 0.28 0.08

RIFFLE 1 2 3 4 5 7 1 73.17 -20.30 412.04

H P H P H P H P H P 8 4 100.00 6.53 42.65

1 16 3 33 6 10 3 24 3 62 9 9 3 89.11 -4.36 19.01

2 10 1 1 1 6 2 2 0 2 0 10 3 89.11 -4.36 19.01


Kotak

3 9 2 4 0 5 1 1 0 2 0 11 10 90.09 -3.38 11.42

4 12 0 3 1 6 0 5 0 2 1 12 6 89.11 -4.36 19.01

5 7 1 3 1 1 1 0 0 2 0 13 5 93.17 -0.30 0.09

2. Sampling dengan metode Coning dan quartering 14 6 100.00 6.53 42.65

15 1 73.17 -20.30 412.04


Percobaan
16 24 95.62 2.15 4.61
CONING &
QUARTERING 1 2 3 4 5
17 2 100.00 6.53 42.65
H P H P H P H P H P
18 1 100.00 6.53 42.65
1 13 4 8 1 25 9 7 3 53 11
19 5 100.00 6.53 42.65
2 4 0 1 0 1 0 0 0 5 1
20 0 - - -
Kotak

3 2 2 1 0 0 0 1 0 0 0
21 62 94.95 1.48 2.18
4 3 0 4 0 2 1 1 0 1 1
22 2 100.00 6.53 42.65
5 4 0 2 0 0 0 2 0 0 0
23 2 100.00 6.53 42.65

3. Analisis Ayak 24 2 84.51 -8.96 80.32

25 2 100.00 6.53 42.65


Ukuran (mesh) Berat (g)
Rata-rata
+ 65 421.4 % berat 93.47 (
) 1376.05
kuarsa
- 65 + 100 45.9
Variansi :
- 100 + 150 3.6
( )2 1376,05
- 150 + 200 1.8 2 = = = 57.34
1 24
- 200 0.2
Standar Deviasi : 25 0 0.00 6.53 42.65
Rata-rata
= 57.34 = 7.57 6.53 (
) 1376.05
% berat silika

Selang Rataan : Variansi :

( )2 1376,05
< < + 2 = = = 57.34
2 2 1 24

7.57 7.57 Standar Deviasi :


93.47 2.06 < < 93.47 + 2.06
5 5
= 57.34 = 7.57

90.35 < < 96.59


Selang Rataan :
b. Silika

< < +
2 2
No. P %P

( )
7.57 7.57
1 3 6.43 0.10 0.01 6.53 2.06 < < 6.53 + 2.06
5 5
2 1 3.54 2.99 8.96
3.41 < < 9.65
3 2 7.53 1.00 1.01
2. Sampling dengan metode Coning dan quartering
4 0 0.00 6.53 42.65

5 1 4.98 1.55 2.41 a. Kasiterit

6 6 6.25 0.28 0.08 No. H %H


(
)
7 1 26.83 20.30 412.04 13 89.86 -4.00 15.98
1
8 0 0.00 6.53 42.65 4 100.00 6.14 37.71
2
9 1 10.89 4.36 19.01 2 73.17 -20.69 428.01
3
10 1 10.89 4.36 19.01 3 100.00 6.14 37.71
4
11 3 9.91 3.38 11.42
4 100.00 6.14 37.71
5
12 2 10.89 4.36 19.01
8 95.62 1.76 3.09
6
13 1 6.83 0.30 0.09
1 100.00 6.14 37.71
7
14 0 0.00 6.53 42.65
1 100.00 6.14 37.71
8
15 1 26.83 20.30 412.04
4 100.00 6.14 37.71
16 3 4.38 2.15 4.61 9
2 100.00 6.14 37.71
17 0 0.00 6.53 42.65 10
25 88.34 -5.52 30.47
18 0 0.00 6.53 42.65 11
1 100.00 6.14 37.71
19 0 0.00 6.53 42.65 12

20 0 - - 0 - - -
13
21 9 5.05 1.48 2.18 2 84.51 -9.35 87.46
14
22 0 0.00 6.53 42.65 0 - - -
15
23 0 0.00 6.53 42.65 7 86.42 -7.44 55.34
16
24 1 15.49 8.96 80.32 0 - - -
17
1 100.00 6.14 37.71 12 0 0.00 -6.14
18 12
1 100.00 6.14 37.71 13 13 0 - -
19
2 100.00 6.14 37.71 14 14 1 15.49 9.35
20
53 92.93 -0.93 0.87 15 15 0 - -
21
5 93.17 -0.69 0.48 16 16 3 13.58 7.44
22
0 - - - 17 17 0 - -
23
1 73.17 -20.69 428.01 18 18 0 0.00 -6.14
24
19 19 0 0.00 -6.14
0 - - -
25
20 20 0 0.00 -6.14
Rata-rata % berat
93.86 (
) 1464.52
Kasiterit 21 21 11 7.07 0.93

Variansi : 22 22 1 6.83 0.69

( )2 1464.52 23 23 0 - -
2 = = = 61.02
1 24 24 24 1 26.83 20.69

Standar Deviasi : 25 25 0 - -
Rata-rata
6.14 (
) 1464.52
= 61.02 = 7.81 % berat silika

Variansi :
Selang Rataan :

( )2 1464.52


< < +
2 = = = 61.02
1 24
2 2

7.81 7.81 Standar Deviasi :


93.86 2.06 < < 93.86 + 2.06
5 5
= 61.02 = 7.81
90.64 < < 97.08
Selang Rataan :
b. Silika

< < +
No. P %P
( ) 2 2
1 1 4 10.14 4.00 7.81 7.81
6.14 2.06 < < 6.14 + 2.06
2 2 0 0.00 -6.14 5 5

3 3 2 26.83 20.69 2.92 < < 9.36

4 4 0 0.00 -6.14 3. Analisis Ayak


5 5 0 0.00 -6.14
Ukuran ayak Ukuran ayak
Berat (g)
6 1 4.38 -1.76 (mesh) (m)
6
+ 65 +230 421.4
7 7 0 0.00 -6.14
- 65 + 100 -230 +149 45.9
8 8 0 0.00 -6.14
- 100 + 150 -149 +100 3.6
9 9 0 0.00 -6.14
- 150 + 200 -100 +74 1.8
10 10 0 0.00 -6.14
- 200 -74 0.2
11 11 9 11.66 5.52
%Berat %Berat
Ukuran %Berat
ayak (m) Tertampung
Kumulatif
Tertampung
Kumulatif
Lolos
Cumulative Direct Plot
+230 102.00
89.11 89.11 10.89

%Berat Kumulatif Tertampung


-230 +149 100.00
9.71 98.82 1.18
98.00
-149 +100
0.76 99.58 0.42
96.00
-100 +74
0.38 99.96 0.04 94.00
-74
0.04 100.00 0.00 92.00
y = -0.0703x + 106.58
90.00 R = 0.8633
Ukuran ayak Log ukuran Log %Berat
(m) ayak Kumulatif Lolos 88.00
+230 50 100 150 200 250
2.361727836 1.037037915
Ukuran ayak (m)
-230 +149
2.173186268 0.073418713
-149 +100
2 -0.373739318 % Berat kumulatif lolos vs ukuran ayak (m)
-100 +74
1.86923172 -1.373739318
-74
1.740362689 Cumulative Direct Plot
12.00
4. Grafik hasil analisis ayak
10.00 y = 0.0703x - 6.5845
%Berat Kumulatif Lolos

a. Direct Plot R = 0.8633


8.00

6.00
Direct Plot
4.00
100.00
2.00
80.00 y = 0.5824x - 55.531
R = 0.8652 0.00
%Berat Tertampung

60.00 50 100 150 200 250


-2.00
Ukuran ayak (m)
40.00

20.00 c. Grafik Semi Log Plot

0.00
50 100 150 200 250
-20.00
Semi Log Plot
Ukuran ayak (m) 13.00
%Berat Kumulatif Lolos

11.00
b. Kumulatif Direct Plot
9.00 y = 20.946x - 40.874
R = 0.7439
% Berat kumulatif tertampung vs ukuran 7.00
ayak (m)
5.00

3.00

1.00

-1.00 1.8 2 2.2 2.4


Log Ukuran ayak
d. Grafik Log Log Plot
4.6048
= 100 [ ]
353.64
Log Log Plot
D. Analisis Hasil Percobaan
1.50
Log %Berat Kumulatif Lolos

y = 4.6084x - 9.8417 Setelah dilakukan pengolahan pada data percobaan.


1.00 R = 0.9686 Didapat dengan grain counting untuk metode riffle,
variansinya adalah 57.34% . Sedangkan nilai dari
0.50
standar deviasi 7.57%. Dan selang rataannya :
90.35% < < 96.59% untuk kasiterit
0.00
3.41% < < 9.65% untuk silika
1.8 2 2.2 2.4
-0.50
Sedangkan dengan metode perhitungan yang sama
-1.00 untuk metode coning dan quartening variansi yang
didapat adalah 61.02%. Sedangkan nilai dari standar
-1.50 deviasi 7.81%. Dan selang rataannya :
Log Ukuran ayak 90.64% < < 97.08% untuk kasiterit
2.92% < < 9.36% untuk silika.

Dari grafik log-log plot di atas dapat kita peroleh grafik Dalam hal ini tingkat signifikansinya adalah 95%.
Gaudin Schuhman, yang persamaannya dinyatakan
dalam Dari nilai variansi dan selang rataannya terlihat
bahwa metode untuk coning dan quartening nilai
= 100 [ ] variansinya lebih besar dengan nilai selang rataan

dimana antara kedua metode tersebut tidak begitu jauh.
Y : % berat kumulatif lolos ukuran x Perbedaan variansinya adalah 3.68 % dengan metode
m : modulus distribusi coning dan quartening yang lebih besar. Hal ini
k : modulus ukuran (m) menunjukkan hasil dari metode coning dan
x : ukuran partikel quartening masih kurang baik dibandingkan untuk
metode riffle. Sehingga untuk melakukan sampling
Dalam prakteknya, k adalah ukuran ayakan dalam lebih baik untuk menggunakan metode riffle.
micrometer di mana 80% material lolos. Berarti pada
kurva cumulative direct plot antara %berat kumulatif Hal yang dapat menyebabkan metode riffle ini
lolos dan ukuran ayak, nilai y = log 80 dan akan didapat memiliki variansi yang lebih kecil adalah ketika
nilai k (modulus ukuran). menggunakan alat riffle pembagiannya menjadi dua
lebih terbagi dengan merata. Sedangkan dengan
y = 4.6084x - 9.8417 menggunakana metode coning dan quartening yang
log 80 = 4.6084 log k - 9.8417 pemisahannya menggunakan kertas dan penggaris,
log k = 2.5486 akan menyebabkan berbagai kesalahan baik dari segi
k = 353.64 m alatnya maupun dari orangnya yang melakukan
pemisahan itu yaitu saat untuk mengambil dua bagian
yang saling berseberangan.. Sehingga hasilnya akan
Persamaan Gaudin Schuhman dapat diubah dalam bentuk : kurang teliti dan tidak memrepresentatifkan populasi
yang ada dibandingkan dengan metode riffle.

= 100 [ ]
Dari hasil percobaan yang didapat juga menunjukkan

= 2 + [ ] selang rataan yang berbeda walaupun hanya berbeda
sedikit, pada kedua metode yang digunakan.
= ( ) + 2 Kesalahan-kesalahan yang terjadi termasuk yang
= + ( + 2) menyebabkan perbedaan nilai selang rataan itu selain
= + ) yang telah disebutkan antara lain dari faktor
Dari grafik diketahui persamaan garis Gaudin Schuhman: praktikan saat melakukan metode grain counting.
Saat melakukan metode ini perbedaan cara
y = 4.6084x - 9.8417 menyebarkan partikel pada kotak 9x9 cm itu
berbeda-beda tiap orangnya. Sehingga didapat data
Kemiringannya yaitu modulus distribusi (m) = 4.6048.
yang bervariatif untuk tiap kotaknya. Seperti ada
Jadi persamaan Gaudin Schumann : yang dalam kotak itu terdapat banyak sekali partikel.
Dan ada kotak yang berisi partikel yang sangat
sedikit. Bahkan tidak ada sama sekali. Selain itu kumulatif lolos), dan grafik log log plot (antara log
perbedaan itu juga dapat disebabkan saat menghitung ukuran ayakan dan log % berat kumulatif lolos).
banyaknya partikel yang ada. Mungkin saja ada Grafik log log plot ini sering disebut grafik Gaudin
partikel yang terlewat untuk dihitung karena terlalu Schumann. Dari keempat metode grafik tersebut,
kecilnya partikel-partikel yang diuji itu. Apalagi grafik log log plot menunjukkan grafik dengan R2
partikel silika berwarna putih yang warnanya itu yang paling tinggi yaitu 0.9686 (hampir mendekati
sama dengan warna kertas. Sehingga sangat 1). Hal ini menunjukkan hubungan antara logaritma
dimungkinkan ada partikel itu yang tidak terhitung ukuran ayak dengan logaritma %berat kumulatif lolos
karena kurangnya kejelian praktikan untuk melihat sudah cukup baik untuk dibuat hubungannya dengan
partikelnya. Partikelnya yang sangat kecil itu juga regresi linier biasa.
mungkin saja ada yang tertiup keluar oleh angin atau
tergeser keluar sehingga terjadi kesalahan di data Pada grafik Gaudin-Schuhman didapat nilai k sebesar
percobaannya. Selain itu kesalahan yang dapat 353.64 m dan nilai m adalah 4.6048. Nilai k
dilakukan adalah saat penimbangan berat partikel- menunjukkan ukuran maksimum dalam contoh.
partikel. Alat yang digunakan untuk mengukur tidak Namun dalam prakteknya menunjukkan ukuran
memiliki skala yang jelas sehingga ketelitian dalam ayakan yang dapat meloloskan 80% umpan. Nilai ini
mengukur partikel menjadi tidak baik. Dan kesalahan juga dapat digunakan untuk menentukan efisiensi
yang terjadi disebabkan juga material yang diuji tidak alat. Sedangkan m menunjukkan modulus distribusi.
terdistribusi secara merata dan tidak homogen Makin besar m, makin kecil distribusi ukurannya.
sehingga saat melakukan grain counting sample yang Sehingga dari nilai m dan k itu didapat persamaan
diambil tidak mewakili lot/populasi yang ada. Gaudin-Schumann nya yaitu
Misalnya saja ada kotak yang terisi dengan satu 4.6048
mineral saja (kasiterit). Atau dengan jumlah mineral = 100 [ ]
353.64
itu yang jauh lebih banyak dari mineral yang lainnya.
Fungsi Gaudin-Schumann hanya berlaku untuk
Kesalahan saat menggunakan alat yang digunakan produk penggerusan dan peremukan.
disini, seperti riffle atau kertas dan penggaris untuk
Pada percobaan analisis ayak ini juga terdapat
coning dan quartening juga dapat menyebabkan
beberapa kesalahan. Kesalahan tersebut disebabkan
terjadinya kesalahan dalam percobaan. Ketika
antara lain karena adannya penimbangan di awal dan
membagi dengan riffle, mungkin membaginya masih
di akhir masih kurang akurat dan juga mungkin saja
kurang merata, yaitu saat menuangkan material ke
ada partikel-partikel halus yang berterbangan saat
dalam riffle tidak tepat di bagian tengahnya. Hal ini
dikeluarkan atau ditimbang di akhir sehingga hasil di
membuat pembagian mineral jadi tidak merata, dan
awal dan akhir terdapat perbedaan sehingga
kurang bisa merepresentasikan populasi. Sedangkan
menimbulkan perbedaan berat antara awal dan akhir
pada coning dan quartening, kurang cermatnya
percobaan. Selain itu kesalahan yang sama seperti
praktikan saat memisahkan tumpukan dengan
yang terdapat pada percobaan sampling yaitu dari
penggaris, dapat mempengaruhi hasil yang didapat.
praktikannya saat melakukan metode grain counting.
Saat praktikum pembagiannya masih tidak sama
Terdapat perbedaan cara menyebarkan partikel pada
besar antara keempat bagian yang telah dipisahkan.
kotak 9x9 cm itu untuk tiap orangnya. Sehingga
muncul data yang bervariatif untuk tiap kotaknya.
Berikutnya adalah analisis untuk hasil dari analisis
Selain itu juga saat perhitungan partikel dengan
ayak. Berat partikel yang dipakai saat dilakukan
metode grain counting diperlukan ketelitian yang
analisis ayak adalah 500 gram tetapi saat ditotal berat
cukup tinggi, untuk melihat partikel-partikel yang
dari mineral di masing-masing ayakan adalah tidak
berada di atas kertas.
mencapai 500 gram. Hal ini mungkin disebabkan
penimbangan di awal dan di akhir masih kurang
Selain itu faktor dari alat yang digunakan dapat
akurat. Selain itu mungkin saja hal ini karena ada
mempengaruhi hasil yang didapat. Kualitas dari
partikel-partikel halus yang berterbangan saat
pengayak yang digunakan sudah tidak cukup baik
dikeluarkan atau ditimbang di akhir sehingga hasil di
sehingga hasil yang didapat menjadi kurang optimal.
awal dan akhir terdapat perbedaan.

Setelah dilakukan pengolahan untuk data yang


E. Jawaban Pertanyaan
didapat dengan analisis ayak dapat dibuat beberapa
grafik. Yaitu grafik direct plot (ukuran ayak dalam
Pertanyaan :
m dan %berat tertampung), grafik cumulative direct
plot (antara ukuran ayakan dalam m dan %berat
1. Jelaskan teknik pengambilan contoh serta reduksi
kumulatif tertampung, dan antara ukuran ayakan
jumlah yang umum dilakukan di pabrik
dalam m dan % berat kumulatif lolos), grafik semi
pengolahan !
log plot (antara log ukuran ayakan dan % berat
F. Simpulan
2. Pada pengambilan contoh, perlu ditentukan lebih
dahulu berat contoh atau banyaknya increment Sampling adalah pengambilan sebagian kecil dari
yang akan diambil. Jelaskan faktor-faktor yang dari keseluruhan yang cukup untuk dilakukan analisis
mempengaruhi banyaknya increment atau berat dan berbagai uji fisik yang disesuaikan dengan
jumlahnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
contoh yang akan diambil.
distribusi dan perbandingan kualitas sampel dengan
keseluruhan sama. Sampling ini merupakan tahap
Jawaban : awal dari suatu analisis.

1. Teknik pengambilan contoh serta reduksi jumlah Dari pengolahan data dengan metode perhitungan
yang umum dilakukan di pabrik pengolahan adalah grain counting didapat nilai untuk metode riffle,
mechanical sampling. Mechanical sampling variansinya adalah 57.34% . Sedangkan nilai dari
standar deviasi 7.57%. Dan selang rataannya :
digunakan untuk pengambilan contoh dalam
90.35% < < 96.59% untuk kasiterit
jumlah besar dengan hasil yang lebih representatif
3.41% < < 9.65% untuk silika
dibandingkan hand sampling (pengambilan contoh
secara manual).. Dalam mechanical sampling ini
Sedangkan dengan metode perhitungan yang sama
alat yang digunakan terbagi menjadi dua yaitu
untuk metode coning dan quartening variansi yang
riffle dan vein sampler.
didapat adalah 61.02%. Sedangkan nilai dari standar
deviasi 7.81%. Dan selang rataannya :
Riffle merupakan alat berbentuk persegi panjang
90.64% < < 97.08% untuk kasiterit
dan didalamnya terbagi beberapa sekat yang
2.92% < < 9.36% untuk silika.
arahnya berlawanan. Riffle-riffle ini berfungsi
sebagai pembagi conto agar dapat terbagi sama
Dalam hal ini tingkat signifikansinya adalah 95%.
rata. Sedangkan Vein sampler adalah alat yang
pada bagian dalamnya dilengkapi dengan
Dari nilai variansi dan selang rataannya dapat
revolving cutter, yaitu pemotong yang dapat
disimpulkan sampling dengan metode riffle lebih
berputar pada porosnya sehingga akan membentuk
baik untuk digunakan.
area yang bundar sehingga dapat memotong
seluruh alur bijih. Pada pabrik pengolahan
Analisis ayak adalah metode yang digunakan dalam
biasanya menggunakan vein sampler. Karena akan
kaitannya memanfaatkan pesebaran ukuran material
lebih representatif hasilnya.
yang kemudian dianalisis dan disimpulkan untuk
menilai proses sebelum ataupun menentukan proses
2. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seberapa
sesudah. Analisa ayak juga dapat digunakan untuk
banyak increment atau berat contoh yang akan
menentukan efisiensi berbagai peralatan, menghitung
diambil ,yaitu
derajat liberasi, mencari penyebab dan ukuran
Banyaknya material yang akan dianalisis.
mineral berharga yang hilang bersama tailing.
Ukuran materialnya
Karakteristik dari partikel mineral berharga
Setelah dilakukan pengolahan pada data, didapat
yang akan kita ambil
ukuran ayakan untuk meloloskan 80% partikel
Teknik sampling yang akan digunakan. didapat adalah 353.64 m dan modulus distribusi
Seberapa banyak sebaran mineral berharga di sebesar 4.6048. Sehingga dari nilai itu didapat
dalam bijih (low grade ore, rich ore). persamaan Gaudin-Schumann nya yaitu
Halus atau kasarnya ukuran mineral/material 4.6048
untuk diolah, misalkan pada batubara, ukuran = 100 [ ]
353.64
partikelnya harus 0.1 mm atau lebih halus,
maka agar mendapatkan data statika yang G. Daftar Pustaka
akurat dapat mewakili pada sampling, ukuran
yang harus diambil untuk sampel adalah http://kuliahd3fatek.blogspot.com/2009/05/bab-iii-
sekitar 0,1 mm atau lebih halus (homogenya pengolahan-bahan-galian.html (diakses tanggal :
pada ukuran tertentu ). Semakin halus bijih 1 April 2013)
yang akan diambil sampel, maka akan Kelly, E.G & Spottiwood, D.J., 1982., Introduction to
Mineral Processing., John Wiley & Sons, New
semakin kecil berat yang dibutuhkan
York. Hal. 23-24
untuk merepresentasikan bijih tersebut. Wills B.A., Napier-Munn T.J., Wills Mineral
Selain itu adalah tingkat keakuratan yang Processing Technology 7th edition, Elsevier
diinginkan. Artinya semakin banyak contoh Science & Technology Books. 2006. Hal. 97
yang diambil, semakin akurat perbandingan 104
kualitas contoh dengan lotnya keseluruhan.
H. Lampiran
Gambar sieving

Gambar riffle

Gambar Coning dan Quartering

Electric Sieving Set

Gambar Metode Grain Counting

1 2

5
Gambar ayakan pelat berlubang atau Punched Plate
3 4
Inclined Screen

Gambar ayakan dengan ayaman kawat

Horizontal screen

Gambar ayakan grizzly

\Vibrating Screen

Dewatering Screen