Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya manusia merupakan suatu makhluk daratan, yang sudah
menyesuaikan diri dengan kehidupan di daratan. Maka situasi kehidupan di
udara (suatu penerbangan) tentu merupakan hal yang asing/aneh, sehingga
akan mengakibatkan stress bagi yang bersangkutan. Disamping itu suatu
penerbangan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan keadaan di
sekitar tubuh antara lain perubahan tekanan udara yang dapat mengakibatkan
gangguan pada tubuh manusia.
Dalam suatu penerbangan seseorang akan mengalami perubahan
ketinggian yang mengakibatkan terjadinya perubahan tekanan udara
disekitarnya. Tekanan udara tersebut akan menurun pada saat naik/ascend,
dan akan meninggi bila descend.
Hukum Boyle menyatakan bahwa suatu penurunan atau peningkatan
pada tekanan lingkungan akan memperbesar atau menekan suatu volume gas
dalam ruang tertutup. Bila gas terdapat dalam struktur yang lentur, maka
struktur tersebut dapat rusak karena ekspansi atau kompresi. Barotrauma
dapat terjadi bilamana ruang-ruang berisi gas dalam tubuh (telinga tengah,
paru-paru) mejadi ruang tertututup dengan menjadi buntunya jaras-jaras
ventilasi normal.
Barotrauma adalah kerusakan jaringan yang terjadi akibat
kegagalan untuk menyamakan tekanan udara antara ruang berudara pada
tubuh (seperti telinga tengah) dan tekanan pada lingkungan sewaktu
melakukan perjalanan dengan pesawat terbang atau pada saat menyelam.
Barotrauma dapat terjadi pada telinga, wajah (sinus), dan paru, dalam hal ini
bagian tubuh yang memiliki udara di dalamnya.
Barotrauma merupakan segala sesuatu yang diakibatkan oleh tekanan
kuat yang tiba- tiba dalam ruangan yang berisi udara pada tulang temporal,
yang diakibatkan oleh kegagalan tuba eustakius untuk menyamakan tekanan
dari bagian telinga tengah dan terjadi paling sering selama turun dari
ketinggian atau naik dari bawah air saat menyelam. Barotrauma telinga
tengah merupakan cedera terbanyak yang dapat terjadi pada saat menyelam.
Barotrauma dapat menyebabkan berbagai manifestasi mulai dari nyeri
telinga, sakit kepala sampai nyeri persendian, paralisis, koma dan kematian.
Tiga manifestasi yang paling sering dari barotrauma termasuk kerusakan
pada sinus paranasalis, paru-paru, telinga tengah, penyakit dekompresi, luka
akibat ledakan (bom) dan terbentuknya emboli udara dalam arteri.
Barotrauma juga bisa diinduksi oleh pemasangan ventilator mekanik.
Barotrauma dapat berpengaruh pada beberapa area tubuh yang berbeda,
termasuk telinga, muka (sinus paranasalis), dan paru-paru. Berdasarkan latar
belakang diatas, maka kelompok kami tertarik untuk membahas mengenai
asuhan keperawatan pada pasien dengan Barotrauma.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat dari latar belakang diatas
adalah:
1. Apakah pengertian dari barotrauma?
2. Apa sajakah etiologi dari barotrauma?
3. Bagaimanakah tanda dan gejala penyakit barotrauma?
4. Bagaimanakan patofisiologi dari penyakit barotrauma?
5. Bagaimanakan pathway dari penyakit barotrauma?
6. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostic pada penderita barotrauma?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis pada klien barotrauma?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien barotrauma ?
9. Bagaimana contoh asuhan keperawatan pada klien barotrauma?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
a. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit barotrauma
b. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien barotrauma.
c. Untuk mengetahui contoh asuhan keperawatan pada klien barotrauma
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pengertian barotrauma.
b. Untuk mengetahui etiologi barotrauma.
c. Untuk mengetahui tanda dan gejala barotrauma
d. Untuk mengetahui patofisiologi barotrauma.
e. Untuk mengetahui pathway dari barotrauma
f. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic pada klien barotrauma.
g. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis pada klien barotrauma.
D. Manfaat Penulisan
Makalah ini dibuat oleh mahasiswa dengan harapan dapat menjadi bahan
bacaan untuk mahasiswa lain dalam memahami konsep dasar penyakit
barotrauma yang meliputi pengertian, penyebab, jalannya penyakit sampai
dengan penatalaksanaannya. Selain itu juga untuk mengetahui konsep dasar
asuhan keperawatan pasien meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan,
tindakan, sampai dengan evaluasi tindakan. Semoga makalah ini dapat
menambah wawasan mahasiswa dalam melakukan asuhan keperawatan
sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada mastarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Dasar Penyakit


A. Definisi Barotrauma
Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sekuelenya yang terjadi akibat
perbedaan antara tekanan udara (tekan barometrik) di dalam rongga udara
fisiologis dalam tubuh dengan tekanan di sekitarnya. Barotrauma paling sering
terjadi pada penerbangan dan penyelaman dengan scuba. Tubuh manusia
mengandung gas dan udara dalam jumlah yang signifikan. Beberapa diantaranya
larut dalam cairan tubuh. Udara sebagai gas bebas juga terdapat di dalam saluran
pencernaan, telinga tengah, dan rongga sinus, yang volumenya akan bertambah
dengan bertambahnya ketinggian.
Ekspansi gas yang terperangkap di dalam sinus bisa menyebabkan sakit
kepala, ekspansi gas yang terperangkap dalam telinga tengah bisa menyebabkan
nyeri telinga, dan perasaan kembung atau penuh pada perut jika ekspansi terjadi
pada gas di saluran pencernaan. Ekspansi gas yang terperangkap dalam usus halus
bisa menyebabkan nyeri yang cukup hebat hingga terkadang bisa menyebabkan
tidak sadarkan diri. Pada ketinggian 8000 kaki gas-gas yang terperangkap dalam
rongga tubuh volumenya bertambah 20% dari volume saat di darat. Semakin cepat
kecepatan pendakian maka semakin besar risiko mengalami ketidaknyamanan
atau nyeri.
Barotrauma Telinga adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan
ketidaknyamanan atau kerusakan pada telinga akibat perbedaan tekanan antara
telinga tengah dengan lingkungan sekitar. Hal ini biasa terjadi ketika ada
perubahan ketinggian. Tekanan udara di dalam telinga tengah biasanya sama
dengan tekanan udara di luar tubuh. Apabila tuba Eustachii (suatu pipa yang
menghubungkan telinga dengan bagian belakang tenggorokan) terhalangi, hal ini
dapat menyebabkan tekanan udara di telinga berbeda dengan tekanan udara di luar
gendang telinga. Ada 3 tipe Barotrauma Telinga, tergantung pada bagian telinga
mana hal ini terjadi: luar, tengah, dan dalam. Barotrauma Telinga yang paling
umum terjadi adalah barotrauma telinga tengah. Barotrauma telinga luar terjadi
ketika ada benda yang memerangkap udara di telinga luar, yang menyebabkan
baik peningkatan tekanan yang berlebihan atau kekosongan di dalam rongga udara
yang terperangkap. Barotrauma telinga tengah terjadi ketika seorang penyelam
tidak dapat menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah dengan tekanan air
di sekitarnya. Barotrauma telinga dalam terjadi karena ketidakmampuan untuk
menyeimbangkan tekanan di dalam telinga. Apabila kondisinya parah, mungkin
akan ada perdarahan di belakang gendang telinga.
B. Klasifikasi
Ada 3 tipe Barotrauma Telinga, tergantung pada bagian telinga mana: luar,
tengah, dan dalam. Barotrauma Telinga yang paling umum terjadi adalah
barotrauma telinga tengah.
1. Barotrauma telinga luar terjadi ketika ada benda yang memerangkap
udara di telinga luar, yang menyebabkan baik peningkatan tekanan yang
berlebihan atau kekosongan di dalam rongga udara yang terperangkap.
2. Barotrauma telinga tengah terjadi ketika seorang penyelam tidak dapat
menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah dengan tekanan air di
sekitarnya.
3. Barotrauma telinga dalam terjadi karena ketidakmampuan untuk
menyeimbangkan tekanan di dalam telinga. Apabila kondisinya parah,
mungkin akan ada perdarahan di belakang gendang telinga.

C. Etiologi
Barotrauma paling sering terjadi pada perubahan tekanan yang besar seperti
pada penerbangan, penyelaman misalkan pada penyakit dekompresi yang dapat
menyebabkan kelainan pada telinga, paru-paru, sinus paranasalis serta emboli
udara pada arteri yang dimana diakibatkan oleh perubahan tekanan yang secara
tiba-tiba, misalkan pada telinga tengah sewaktu dipesawat yang menyebabkan
tuba eustacius gagal untuk membuka. Tuba eustacius adalah penghubung antara
telinga tengah dan bagian belakang dari hidung dan bagian atas tenggorokan.
Untuk memelihara tekanan yang sama pada kedua sisi dari gendang telinga yang
intak, diperlukan fungsi tuba yang normal. Jika tuba eustakius tersumbat, tekanan
udara di dalam telinga tengah berbeda dari tekanan di luar gendang telinga,
menyebabkan barotrauma.

D. Patofisiologi
Bumi diselubungi oleh udara yang disebut Atmosfer Bumi.atmosfer itu
terbentang mulai dari permukaan Bumi sampaikeketinggian 3000 km. Udara
tersebut mempunyai massa, dan berat lapisan udara ini akan menimbulkan suatu
tekanan yang disebut tekanan udara. Makin tinggi lokasi semakin renggang
udaranya, berarti semakin kecil tekanan udaranya. Sehingga pinggiran Atmosfer
Bumi tersebut akan berakhir dengan suatu keadaan hampaudara. Lihat Tabel 1.
Ukuran tekanan gas : mm Hg, mm H2O , Atmosfir (Atm) ,PSI (Pound per Square
Inch), Torr ,Barr dsb.
Table 1. Tekana Udara pada ketinggian tertentu
Ketinggian Tekanan udara

0 km 1 atm
16 km 0,1 atm
31 km 0,01 atm
48 km 0,001 atm
64 km 0,0001 atm

Table 2.
Tekanan Udara & volume gas pada kedalaman tertentu di Bawah air
Depth Pressure Gas vol. Density
0 1 atm 1 1x
33 2 atm 1/2 2x
66 3 atm 1/3 3x
99 4 atm 1/4 4x

Trauma akibat perubahan tekanan, secara umum dijelaskan melalui


Hukum Boyle. Hukum boyle menyatakan bahwa volume gas berbanding terbalik
dengan tekanan. Ada bagian-bagian tubuh yang berbentuk seperti rongga,
misalnya : cavum tympani, sinus paranasalis, gigi yang rusak, traktus digestivus
dan traktus respiratorius. Pada penerbangan, sesuai dengan Hukum Boyle yang
mengatakan bahwa volume gas berbanding terbalik dengan tekanannya, maka
pada saat tekanan udara di sekitar tubuh menurun/meninggi, terjadi perbedaan
tekanan udara antara di rongga tubuh dengan di luar, sehingga terjadi
penekanan/penghisapan terhadap mukosa dinding rongga dengan segala
akibatnya.
Berdasarkan Hukum Boyle diatas dapat dijelaskan bahwa suatu penurunan
atau peningkatan pada tekanan lingkungan akan memperbesar atau menekan
(secara berurutan) suatu volume gas dalam ruang tertutup. Bila gas terdapat dalam
struktur yang lentur, maka struktur tersebut dapat rusak karena ekspansi ataupun
kompresi. Barotrauma dapat terjadi bilamana ruang-ruang berisi gas dalam tubuh
(telinga tengah, paru-paru) menjadi ruang tertutup dengan menjadi buntunya
jaras-jaras ventilasi normal.
Kelainan pada telinga
Tuba eustachius secara normal selalu tertutup namun dapat terbuka pada
gerakan menelan, mengunyah, menguap, dan dengan manuver Valsava. Pilek,
rinitis alergika serta berbagai variasi anatomis individual, semuanya merupakan
predisposisi terhadap disfungsi tuba eustakius. Barotrauma, dengan ruptur
membran timpani (MT), dapat terjadi setelah suatu penerbangan pesawat atau
setelah berenang atau menyelam. Mekanisme bagaimana ini dapat terjadi,
dijelaskan dibawah ini.
Saluran telinga luar, telinga tengah, telinga dalam dapat dianggap sebagai
3 kompartemen tersendiri, ketiganya dipisahkan satu dengan yang lain oleh
membran timpani dan membran tingkap bundar dan tingkap oval.(gambar 1)

Gambar 1. Anatomi telinga

Telinga tengah merupakan suatu rongga tulang dengan hanya satu


penghubung ke dunia luar, yaitu melalui tuba Eustachii. Tuba ini biasanya selalu
tertutup dan hanya akan membuka pada waktu menelan, menguap, Valsava
maneuver. Valsava maneuver dilakukan dengan menutup mulut dan hidung, lalu
meniup dengan kuat. Dengan demikian tekanan di dalam pharynx akan meningkat
sehingga muara dapat terbuka.
Dari skema diatas ini dapat dilihat bahwa ujung tuba dibagian telinga
tengah akan selalu terbuka, karena terdiri dari massa yang keras/tulang.
Sebaliknya ujung tuba di bagian pharynx akan selalu tertutup karena terdiri dari
jaringan lunak,yaitu mukosa pharynx yang sewaktu-waktu akan terbuka disaat
menelan. Perbedaan anatomi antara kedua ujung tuba ini mengakibatkan udara
lebih mudah mengalir keluar daripada masuk kedalam cavum tympani. Hal inilah
yang menyebabkan kejadian barotitis lebih banyak dialami pada saat menurun
dari pada saat naik tergantung pada besamya perbedaan tekanan, maka dapat
terjadi hanya rasa sakit (karena teregangnya membrana tympani) atau sampai
pecahnya membrana tympani.
Barotrauma descent dan ascent dapat terjadi pada penyelaman. Imbalans tekanan
terjadi apabila penyelam tidak mampu menyamakan tekanan udara di dalam
rongga tubuh pada waktu tekanan air bertambah atau berkurang. Barotrauma
telinga adalah yang paling sering ditemukan pada penyelam. dibagi menjadi 3
jenis yaitu barotrauma telinga luar, tengah dan dalam , tergantung dari bagian
telinga yang terkena. Barotrauma telinga ini bisa terjadi secara bersamaan dan
juga dapat berdiri sendiri. Barotrauma telinga luar berhubungan dengan dunia
luar, maka pada waktu menyelam, air akan masuk ke dalam meatus akustikus
eksternus. Bila meatus akustikus eksternus tertutup, maka terdapat udara yang
terjebak. Pada waktu tekanan bertambah, mengecilnya volume udara tidak
mungkin dikompensasi dengan kolapsnya rongga (kanalis akustikus eksternus),
hal ini berakibat terjadinya decongesti, perdarahan dan tertariknya membrana
timpani ke lateral. Peristiwa ini mulai terjadi bila terdapat perbedaan tekanan air
dan tekanan udara dalam rongga kanalis akustikus eksternus sebesar 150 mmHg
atau lebih, yaitu sedalam 1,5 2 meter. Barotrauma telinga tengah akibat adanya
penyempitan, inflamasi atau udema pada mukosa tuba mempengaruhi
kepatenannya dan merupakan penyulit untuk menyeimbangkan tekanan telinga
tengah terhadap tekanan ambient yang terjadi pada saat ascent maupun descent,
baik penyelaman maupun penerbangan. Terjadinya barotrauma tergantung pada
kecepatan penurunan atau kecepatan peningkatan tekanan ambient yang jauh
berbeda dengan kecepatan peningkatan tekanan telinga tengah.
Barotrauma telinga dalam biasanya adalah komplikasi dari barotrauma
telinga tengah pada waktu menyelam, disebabkan karena malakukan maneuver
valsava yang dipaksakan. Bila terjadi perubahan dalam kavum timpani akibat
barotrauma maka membran timpani akan mengalami edema dan akan menekan
stapes yang terletak pada foramen ovale dan membran pada foramen rotunda,
yang mengakibatkan peningkatan tekanan di telinga dalam yang akan merangsang
labirin vestibuler sehingga terjadi deviasi langkah pada pemeriksaan Stepping
Test. Dapat disimpulkan , gangguan pada telinga tengah dapat berpengaruh pada
labirin vestibuler dan menampakkan ketidakseimbangan laten pada tonus otot
melalui refleks vestibulospinal.
Seperti yang dijelaskan di atas, tekanan yang meningkat perlu diatasi
untuk menyeimbangkan tekanan, sedangkan tekanan yang menurun biasanya
dapat diseimbangkan secara pasif. Dengan menurunnya tekanan lingkungan,
udara dalam telinga tengah akan mengembang dan secara pasif akan keluar
melalui tuba eustachius. Dengan meningkatnya tekanan lingkungan, udara dalam
telinga tengah dan dalam tuba eustachius menjadi tertekan. Hal ini cenderung
menyebabkan penciutan tuba eustachius. Jika perbedaan tekanan antara rongga
telinga tengah dan lingkungan sekitar menjadi terlalu besar (sekitar 90 sampai
100mmhg), maka bagian kartilaginosa diri tuba eustachius akan semakin menciut.
Jika tidak ditambahkan udara melalui tuba eustachius untuk memulihkan volume
telinga tengah, maka struktur-struktur dalam telinga tengah dan jaringan
didekatnya akan rusak dengan makin bertambahnya perbedaan. Terjadi rangkaian
kerusakan yang dapat dipekirakan dengan berlanjutnya keaadan vakum relatif
dalam rongga telinga tengah. Mula-mula membrana timpani tertarik kedalam.
Retraksi menyebabkan membrana dan pecahnya pembuluh-pembuluh darah kecil
sehingga tampak gambaran injeksi dan bula hemoragik pada gambaran injeksi dan
bula hemoragik pada gendang telinga tengah juga mukosa telinga tengah juga
akan berdilatasi dan pecah, menimbulkan hemotapimum. Kadang-kadang tekanan
dapat menyebabkan ruptur membrana timpani.
D. Gejala-gejala klinik barotrauma telinga:
1. .Gejala descent barotrauma:
a. Nyeri (bervariasi) pada telinga yang terpapar.
b. Kadang ada bercak darah dihidung atau nasofaring.
c. Rasa tersumbat dalam telinga/tuli konduktif.
2. Gejala ascent barotrauma:
a. Rasa tertekan atau nyeri dalam telinga.
b. Vertigo.
c. Tinnitus/tuli ringan.
d. Barotrauma telinga dalam sebagai komplikasi.
e. Grading klinis kerusakan membrane timpani akibat barotrauma adalah
- Grade 0 : bergejala tanpa tanda-tanda kelainan.
- Grade 1 : injeksi membrane timpani.
- Grade 2 : injeksi, perdarahan ringan pada membrane timpani.
- Grade 3 : perdarahan berat membrane timpani.
- Grade 4 : perdarahan pada telinga tengah (membrane timpani
menonjoldan agak kebiruan.
- Grade5 : perdarahan pada meatus eksternus + rupture membrane
timpani.

E. Kompikasi : Ruptur atau perforasi gendang telinga, infeksi telinga akut,


kehilangan pendengaran yang menetap, tinnitus yang menetap, dan vertigo.

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien dengan barotrauma adalah
pemeriksaan lab berupa :
1. Analisa Gas darah
Untuk mengevaluasi gradien alveolus-arteri untuk mengetahui terjadinya
emboli gas.
2. Darah Lengkap
Pasien yang memiliki hematokrit lebih dari 48% memiliki sekuele
neurologis yang persisten selama 1 bulan setelah perlukaan.
3. Kadar Serum Creatin Phosphokinase
Peningkatan kadar serum kreatin fosfokinase menandakan peningkatan
kerusakan jaringan karena mikroemboli.

G. Penatalaksanaan
Untuk mengurangi nyeri telinga atau rasa tidak enak pada telinga, pertama-
tama yang perlu dilakukan adalah berusaha untuk membuka tuba eustakius dan
mengurangi tekanan dengan mengunyah permen karet, atau menguap, atau
menghirup udara, kemudian menghembuskan secara perlahan-lahan sambil
menutup lubang hidung dengan tangan dan menutup mulut. Selama pasien tidak
menderita infeksi traktus respiratorius atas, membrane nasalis dapat mengkerut
dengan semprotan nosinefrin dan dapat diusahakan menginflasi tuba eustakius
dengan perasat Politzer, khususnya dilakukan pada anak-anak berusia 3-4 tahun.
Kemudian diberikan dekongestan, antihistamin atau kombinasi keduanya selama
1-2 minggu atau sampai gejala hilang, antibiotic tidak diindikasikan kecuali bila
terjadi perforasi di dalam air yang kotor. Perasat Politzer terdiri dari tindakan
menelan air dengan bibir tertutup sementara ditiupkan udara ke dalam salah satu
nares dengan kantong Politzer atau apparatus senturi; nares yang lain ditutup.
Kemudian anak dikejutkan dengan meletuskan balon ditelinganya, bila tuba
eustakius berhasil diinflasi, sejumlah cairan akan terevakuasi dari telinga tengah
dan sering terdapat gelembung-gelembung udara pada cairan.
Untuk barotrauma telinga dalam, penanganannya dengan perawatan di
rumah sakit dan istirahat dengan elevasi kepala 30-400. Kerusakan telinga dalam
merupakan masalah yang serius yang memungkinkan adanya pembedahan untuk
mencegah kehilangan pendengaran yang menetap. Suatu insisi dibuat didalam
gendang telinga untu menyamakan tekanan dan untuk mengeluarkan
caioran(myringitomy) dan bila perlu memasang pipa ventilasi. Walaupan demikian
pembedahan biasanya jarang dilakukan. Kadang-kadang, suatu pipa ditempatkan
di dalam gendang telinga, jika seringkali perubahan tekanan tidak dapat dihindari,
atau jika seseorang rentan terhap barotrauma

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
Identitas Pasien :
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Pekerjaan :
Agama :
Tanggal Masuk RS :
Alasan Masuk :

1. Pengkajian Primer
a. Airway (jalan napas)
Kaji Bunyi napas tambahan seperti napas ber-bunyi, stridor, ronkhi,
pada klien dengan peningkatan produksi secret, dan kemampuan batuk
yang menurun sehingga sering didapatkan sumbatan jalan nafas.
b. Breathing (pernapasan)
Pada pengkajian breathing dilakukan dengan look, listen, feel yang
dinilai yaitu irama nafas apakah teratur atau tidak teratur atau pola nafas
tidak efektif, adakah hipoksemia berat , adakah retraksi otot interkosta,
dispnea, sesak nafas , adakah bunyi whezing atau ronchi.
c. Circulation (sirkulasi)
Hal yang perlu dikaji dan diperhatikan adalah denyut nadi pasien baik
frekuensi dan kualitas denyut nadi pasien, bunyi jantung
irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun, warna kulit dan
kelembaban berubah, missal; pucat sianosis, berkeringat, edema,
haluaran urine menurun bila curah jantung menurun berat. Pertanyaan
yang bisa muncul yaitu sebagai berikut.
Apakah nadi takikardi atau apakah bradikardi ?
Apakah terjadi penurunan TD ?
Bagaimana kapilery refill ?
Apakah ada sianosis ?
d. Disability (kesadaran)
Pemeriksaan Neurologis
GCS : E:- , V:- , M:-
Reflex Fisiologis : Reflex Patologis :

Kekuatan Otot :

Skala nyeri :-
e. Exposure
Tergantung keadaan pasien, pada beberapa pasien terjadi peningkatan
suhu tubuh ada juga yang tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.

2. Pengkajian Sekunder
a. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Pada kasus barotrauma, ditemukan keluhan utama yaitu
nyeri pada telinga.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Kronologi pasien dari mulai sakit pada saat itu sampai
dirawat di Rumah Sakit dan perawatan yang sudah di berikan
selama di rawat. Pada kasus barotrauma pasien biasanya
mengeluh nyeri telinga, rasa penuh pada telinga, kehilangan
pendengaran, serumen keras, nyeri berat, bahkan penurunan
pendengaran, adanya cairan yang keluar dari kanalis auditorius
eksternus, nyeri tekan pada aural, demam, selulitis, tinnitus,
persisten bau busuk
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji adanya riwayat terdahulu seerti benda asing yang masuk
pada telinga, trauma tulang, hantaman keras pada telinga, reaksi
alergi, dll
4) Riwayat kesehatan keluarga
Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang menderita
penyakit seperti yang diderita pasien sekarang atau penyakit
menular dan keturunan lainnya seperti DM,HT,TB dll.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
Adanya otorea, dengan otoskopi : eritema, edema, lesi, adanya
benda asing, cairan abnormal yang keluar dan terjadi peradangan
pada membrane timpani dan edema bahkan hematoma pada
sekitar telinga.
2) Palpasi
Adanya nyeri tekan pada aural dan sekitar telinga

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
2. Gangguan persepsi sensori pendengaran
3. Risiko Infeksi
4. Hipertermia
C. Intervensi Keperawatan

1 Nyeri Akut Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama NIC


...x.. jam diharapkan nyeri berkurang Analgesic Administration
dengan kriteria hasil : Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
NOC: derajat nyeri sebelum pemberian obat
Pain Level Cek riwayat alergi terhadap obat
Melaporkan gejala nyeri berkurang Pilih analgesik yang tepat atau kombinasi dari
Melaporkan lama nyeri berkurang
analgesik lebih dari satu jika diperlukan
Tidak tampak ekspresi wajah
Tentukan analgesik yang diberikan (narkotik, non-
kesakitan
Tidak gelisah narkotik, atau NSAID) berdasarkan tipe dan
Respirasi dalam batas normal
keparahan nyeri
(dewasa: 16-20 kali/menit)
Tentukan rute pemberian analgesik dan dosis
untuk mendapat hasil yang maksimal
Pilih rute IV dibandingkan rute IM untuk
pemberian analgesik secara teratur melalui injeksi
jika diperlukan
Evaluasi efektivitas pemberian analgesik setelah
dilakukan injeksi. Selain itu observasi efek
samping pemberian analgesik seperti depresi
pernapasan, mual muntah, mulut kering dan
konstipasi.
Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali
2 Gangguan Persepsi Sensori Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama NIC
Pendengaran ...x.. jam diharapkan nyeri berkurang Communication Enhancement : Hearing Deficit
dengan kriteria hasil : Bersihkan serumen dengan irigasi, suntion,
NOC spoeling atau instrumentasi
Kompensasi Tingkah Laku Pendengaran Kurangi kegaduhan lingkungan.
Kriteria hasil : Ajari klien untuk menggunakan tanda non verbal
Pasien bisa mendengar dengan baik dan bentuk komunikasi lainnya.
Telinga bersih Kolaborasi dalam pemberian terapi obat
Pantau gejala kerusakan pendengaran Beritahu pasien bahwa suara akan terdengar
Posisi tubuh untuk menguntungkan berbeda dengan memakai alat bantu
pendengaran Jaga kebersihan alat bantu
Menghilangkan gangguan Mendengar dengan penuh perhatian
Memperoleh alat bantu pendengaran Menahan diri dari berteriak pada pasien yang
Menggunakan layananan pendukung mengalami gangguan komunikasi
untuk pendegaran yang lemah Dapatkan perhatian pasien melalui sentuhan
3 Risiko infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama NIC
...x.. jam diharapkan nyeri berkurang Infection Control
dengan kriteria hasil : Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
NOC Pertahankan teknik isolasi
1. Immune Status Batasi pengunjung bila perlu
2. Risk Control Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci
Kriteria Hasil : tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
Klien bebas dari tanda dan gejala Gunakan sabun antimikroba untuk mencuci tangan
infeksi Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
Mendeskripsikan proses penularan keperawatan
penyakit, faktor yang mempengaruhi Gunakan baju, sarung tangan sebagai pelindung
penularan serta penatalaksanaannya Pertahankan lingkungan aseptik selama
Menunjukkan kemampuan untuk pemasangan alat
mencegah timbulnya infeksi Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan
Jumlah leukosit dalam batas normal infeksi kandung kencing
Menunjukkan perilaku hidup sehat Berikan terapi antibiotik bila perlu Infection
Protection
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit, WBC
Monitor kerentanan terhadap infeksi
Pertahankan teknik asepsis pada pasien berisiko
Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai
resep
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
Ajarkan cara menghindari infeksi
4 Hipertermia Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Fever Treatment
...x.. jam diharapkan nyeri berkurang Monitor suhu sesering mungkin
dengan kriteria hasil : Monitor IWL
NOC Monitor warna dan suhu kulit
Thermoregulation Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Kriteria hasil : Monitor penurunan tingkat kesadaran
Suhu tubuh dalam rentang normal Monitor WBC, Hb, dan Hct
Nadi dan RR dalam rentang normal Monitor intake dan output
Tidak ada perubahan warna kulit dan Berikan anti piretik
tidak ada pusing Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab
demam
Kolaborasi pemberian cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Berikan pengobatan untuk mencegah menggigil
Temperature regulation
Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Rencanakan monitoring suhu secara kontinu
Monitor TD, nadi dan RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negative dari kedinginan
Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan
dan penanganan emergency yang diperlukan
Berikan anti piretik jika perlu
Vital sign Monitoring
Monitor TD, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
D. Implementasi
Pada tahap ini penulis melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan
perencanaan yang telah disusun sebelumnya yang disesuaikan dengan
diagnosa yang dirumuskan dengan mengacu kepada NOC (Nursing Outcome
Classification) dan NIC (Nursing Intervention Classification).

E. Evaluasi
Pada akhir pelaksanaan asuhan keperawatan didadapatkan evaluasi.
Evalusai juga tidak ada kesenjang teori dan kasus. Evaluasi adalah
membandingkan suatu hasil / perbuatna dengan standar untuk tujuan
pengambilan keputusan yang tepat sejauh mana tujuan tercapai.
1. Evaluasi keperawatan : membandingkan efek / hasil suatu tindakan
keperawatan dengan norma atau kriteria tujuan yang sudah dibuat.
2. Tahap akhir dari proses keperawatan.
3. Menilai tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak.
4. Menilai efektifitas rencana keperawatan atau strategi askep.
5. Menentukan efektif / tidaknyatindakan keperawatan dan perkembangan
pasien terhadap masalah kesehatan.
Perawat bertanggung jawab untuk mengevaluasi status dan kemajuan
klien terhadap pencapaian hasil setiap hari. Tujuan evaluasi adalah untuk
menentukan seberapa efektifnya tindakan keperawatan itu untuk mendegah
atau mengobati respon manusia terhadap prosedur kesehatan.

BAB III

Anda mungkin juga menyukai