Anda di halaman 1dari 8

BAB III

PEMBAHASAN

Bab ini adalah bagian kedua dari buku Foundations of Education yaitu bagian
landasan historis dan filosofis. Bab ke 4 dari buku Pioneers of Teaching and
Learning ini mengkaji bagaimana para pelopor pendidikan terkemuka membangun
filosofi-filosofi dan teori-teori pendidikan mereka. Mereka mengembangkan format
gagasan tentang sekolah, kurikulum, dan metode-metode pengajaran yang secara
berkesinambungan membentuk persiapan preservice guru dan praktik pengajaran di
kelas sampai hari ini. Mereka adalah orang-orang penting yang hidup, ide, dan
perilakunya dijadikan sebagai model atau rujukan bagi orang lain. Berikut ini adalah
mereka yang telah meletakkan landasan untuk diterapkan dan terus dikembangkan
demi pendidikan yang terbaik:

1. Sekolah dan Kurikulum


Commenius memperhatikan kebutuhan dan minat siswa, beliau menolak
doktrin bahwa anak-anak memiliki kecenderungan untuk menjadi anak nakal
sehingga guru perlu menggunakan hukuman fisik untuk mendisiplinkan mereka.
Sebaliknya, Comenius ingin guru menjadi orang yang peduli dan menciptakan ruang
kelas yang menyenangkan. Pestalozzi sangat terinspirasi oleh Roeussau terutama
dalam gagasan yang menganggap bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik
namun lingkungan yang tidak baik membuat manusia melenceng dari kodratnya.
Namun Pestalozzi merevisi pendapat Roeussau yang hanya menekankan lingkungan
dan mengabaikan peran sekolah. Pestalozzi yakin bahwa sekolah mampu menjadi
pusat pembelajaran yang efektif.
Commenius berpendapat bahwa pelajaran harus sesuai untuk tahap alami
perkembangan. Idenya tersebut kemudian mempengaruhi Piaget dalam
mengelompokkan masa-masa perkembangan anak. Piaget membangun konsep
tentang realitas dengan cara aktif mengeksplorasi lingkungan sesuai dengan tahap
perkembangan, antara lain: a) sensorimotor (0-2 tahun); b) praoperasional (27 tahun;
c) operasional khusus, (7-11 tahun); d) periode operasional formal (11 tahun sampai
masa dewasa awal).
Meskipun seorang naturalis dalam pendidikan, Spencer mendefinisikan
alam/kodrat yang sangat berbeda dari Rousseau dan Pestalozzi. Baginya, alam berarti
hukum rimba dan yang bisa bertahan hanyalah yang terkuat (terpengaruh oleh teori
evolusi Darwin). Spencer merumuskan tujuan pendidikan membuat manusia mampu
hidup efektif, ekonomis, dan saintifik serta adaptif terhadap segala perubahan.
Sebagai ras yang kompetitif, kurikulum pun disiapkan untuk menciptakan masyarakat
industri yang kompetitif, sehingga Spencer memfokuskan pada kurikulum Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Spencer mengidentifikasi lima jenis kegiatan dalam
kurikulum: (1) kegiatan pemeliharaan diri yang diperlukan untuk melakukan semua
kegiatan lain; (2) kegiatan kerja atau profesional yang memungkinkan seseorang
untuk mencari nafkah; (3) kegiatan mengasuh anak; (4) sosial dan politik; dan (5)
waktu luang dan rekreasi kegiatan.
Filosofi Dewey mendorong reformasi sosial yang progresif serta menyatukan
unsur unsur teori evolusi Darwin dengan teori relativitas Einstein. Dewey
mempercayai bahwa kegiatan kerja kelompok mampu meningkatkan kecerdasan
sosial serta Dewey menolak Teori Darwinisme Sosial Spencer yang menekankan
pada kompetisi individu. Meskipun sama-sama melihat efek dari dari urbanisasi,
industrialisasi, dan teknologi di masyarakat, Jane Addams memiliki pemikiran
berbeda dengan Spencer yang ingin menyertakan ilmu sains dan teknologi dalam
kurikulum, Addams menginginkan sekolah umum menyertakan sejarah, adat istiadat,
lagu, kerajinan, dan cerita dari kelompok etnis dan ras dalam kurikulum. Menurut
Addams, kurikulum harus disusun kembali untuk memberikan pengalaman yang
diperluas yang mengeksplorasi lingkungan terdekat anak-anak dan menyorot
hubungan dengan masyarakat teknologi.
Tokoh perempuan yang juga memperjuangkan hak-hak perempuan adalah
Montessori. Ia merancang metode internasional yang populer dengan sebutan
pendidikan anak usia dini. Seperti Pestalozzi dan Froebel, Montessori mengakui
bahwa pengalaman awal anak-anak memiliki peran penting dan terus mempengaruhi
pada kehidupan mereka nanti. Sebagai salah satu pelopor pendidik perempuan, beliau
penuh semangat menantang orang-orang yang berpendapat bahwa perempuan tidak
boleh masuk dalam program yang lebih tinggi dan profesional. Kurikulum yang
diperkenalkan oleh Montessori yaitu keterampilan dan studi praktis, sensorik, dan
formal.

2. Model Pembelajaran dan Pengajaran


Commenius ingin para guru pada persiapan preservice belajar mengenali
bagaimana tahap perkembangan dan kesiapan anak-anak khususnya untuk
pembelajaran yang spesifik. Dia menyarankan para guru untuk mendorong anak-anak
menggunakan indera mereka dalam belajar serta agar tidak terburu-buru atau
memberikan tekanan pada siswa dan sebaliknya, guru dituntut untuk menciptakan
suasana kelas yang menyenangkan dan nyaman. Dia menyarankan guru untuk
mengatur pelajaran mereka menjadi langkah-langkah kecil yang membuat belajar
menjadi bertahap, kumulatif, dan menyenangkan. Prinsip-prinsip Comenian berikut
berlaku untuk persiapan preservice dari guru dan penerapan di kelas: (1)
menggunakan benda-benda atau gambar-gambar untuk menggambarkan konsep-
konsep; (2) mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa; (3)
menyajikan pelajaran secara langsung dan sederhana; (4) menekankan konsep-konsep
umum sebelum pada prinsip-prinsip yang lebih detil; (5) menekankan bahwa semua
makhluk dan benda merupakan bagian dari seluruh alam semesta; (6) menyajikan
pelajaran secara berurutan dan menekankan satu hal pada satu waktu; (7) tidak
meninggalkan keterampilan atau konsep tertentu sampai siswa benar-benar
menguasainya.
Sejalan dengan Commenius, Pestalozzi juga mengembangkan langkah-langkah
pembelajaran, yaitu memulai dengan sesuatu yang konkret sebelum masuk pada
konsep yang abstrak, mulai mempelajari tentang segala sesuatu yang berkaitan
dengan lingkungan terdekat peserta didik sebelum berurusan dengan apa yang jauh
dan terpencil, dimulai dengan latihan mudah dan sederhana sebelum
memperkenalkan yang kompleks, dan selalu melanjutkan secara bertahap dan
kumulatif.
Tidak mau kalah dengan Commenius dan Pestalozzi, Herbart membuat
pengajaran menjadi sistematis dengan membuat lima urutan tahap pengajaran:
Persiapan, Presentasi, Asosiasi, Generalisasi, dan Penerapan. Sistematisasi
pengajaran Herbart menyebar dan menjadi acuan bagi Amerika Serikat dan beberapa
negara lain seperti Jepang. Namun, ada beberapa pihak yang mengkritiknya, salah
satunya adalah John Dewey yang mengatakan bahwa sistematisasi pengajaran
Herbart membuat pembelajaran menjadi pasif sehingga siswa hanya sebagai penerima
materi daripada sebagai pembelajar yang aktif.
Froebel diinspirasi oleh gurunya, Pestalozzi. Semenjak Pestalozzi merevisi
pemikiran orang yang menginspirasinya yaitu Rousseau, Froebel menjadi sangat
selektif dalam menerapkan metode Pestalozzi. Froebel menambahkan landasan
filosofis pada metode Pestalozzi serta menjadikan metode pembelajarannya menjadi
lebih bermakna dengan memasukkan kegiatan mendongeng, menyanyi, menggambar,
dan sebagainya agar imajinasi siswa berkembang dan mengenalkan siswa pada nilai-
nilai spiritual dan nasionalisme.
Dewey menganggap metode ilmiah/saintifik adalah proses yang paling efektif
dalam memecahkan masalah. Dengan menggunakan metode ilmiah dalam
memecahkan masalah, anak-anak belajar merefleksikan dan mengarahkan
pengalaman yang mereka dapat dari eksperimen dalam pertumbuhan kepribadian dan
sikap sosial. Langkah-langkah berikut, menurut Dewey sangat penting pada
penerapan metode ilmiah untuk mengajar dan belajar:
a) Pelajar, dalam pengalaman yang asli, menemukan masalah yang benar-benar
menarik baginya;
b) Dalam pengalaman ini, pelajar menempatkan dan mendefinisikan masalah;
c) Dengan merefleksikan pada pengalaman sebelumnya dan dengan membaca,
melakukan penelitian, diskusi, dan lainnya, pelajar memperoleh informasi yang
dibutuhkan untuk memecahkan masalah;
d) Pelajar menentukan kemungkinan-kemungkinan/alternatif-alternatif yang dapat
dijadikan solusi tentatif untuk memecahkan masalah;
e) Siswa memilih solusi yang mungkin dan menguji untuk melihat apakah solusi
tersebut mampu memecahkan masalah sehingga siswa mampu membangun dan
memvalidasi pengetahuannya sendiri.
Sebagai seorang dokter, Montessori bekerja dengan anak-anak yang
dikategorikan sebagai cacat mental dan psikologis terganggu. Anak-anak belajar
untuk melakukan seperti kegiatan praktis seperti pengaturan meja, melayani
makanan, mencuci piring, mengikat dan mengancingkan pakaian. Latihan berulang
mengembangkan koordinasi sensorik dan otot. Anak-anak belajar untuk menulis dan
kemudian belajar membaca. Mereka menggunakan batang berwarna berbagai ukuran
dan cangkir untuk belajar menghitung dan mengukur. Metode yang beliau terapkan
terhadap anak-anak tersebut begitu efektif, kemudian beliau menyimpulkan metode
tersebut bisa berlaku untuk semua anak.
Paulo Freire adalah perintis teori kritis kontemporer, ia mengubah cara
mengajar dan belajar dari konsep transmisi informasi menjadi pembelajaran yang
terlibat dalam proyek penyelesaian identitas seseorang dalam dunia yang lebih adil
dan manusiawi. Menurut Freire, persiapan pre-service harus melibatkan guru yang
kritis menilai kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang berdampak pada sekolah-
sekolah. Guru harus membantu siswa untuk bekerja bagi keadilan sosial dengan
menciptakan kesadaran yang mengekspos kondisi yang memarginalkan mereka dan
komunitasnya. Pestalozzi mengembangkan pendidikan preservice guru di sekolahnya
untuk menyebarkan dan menerapkan ide-idenya tentang pendidikan. Prinsip
pengajarannya adalah guru harus berlaku sebagai fasilitator yang mampu
menciptakan sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan aman. Siswa dibuat
seolah-olah berada di rumahnya sendiri, ini yang kemudian diterapkan di Sekolah
Dasar di masa kini baik di Eropa dan Amerika.
Para tokoh di atas mampu menjadi pionir karena mengembangkan format
gagasan tentang sekolah, kurikulum, dan metode-metode pengajaran yang belum ada
sebelumnya kemudian pemikiran mereka secara berkesinambungan membentuk
persiapan preservice guru dan praktik pengajaran di kelas sampai hari ini. Mereka
adalah orang-orang penting yang hidup, ide, dan perilakunya dijadikan sebagai model
atau rujukan bagi orang lain.

3. Implementasi di Indonesia
Beberapa filosofi pemikiran tokoh-tokoh di atas tidak hanya menjadi rujukan
bagi negara-negara maju seperti Amerika Serikat tetapi juga Indonesia. Secara
langsung atau tidak, pemikiran Rousseau, Froebel, dan Addams mempengaruhi
pemikiran para pionir pendidikan Indonesia. Latar belakang penjajahan,
nasionalisme, keterbatasan yang dialami oleh perempuan, dan penindasan terhadap
minoritas dan kaum yang lemah telah menginspirasi Ki Hajar Dewantara, Raden
Ajeng Kartini, dan Raden Dewi Sartika, pada masa-masa perjuangan kemerdekaan
mirip dengan kondisi yang melatarbelakangi teori yang dibangun oleh Comenius,
Rousseau, Froebel, Addams, Montessori, dan Freire. Lebih mengerucut lagi,
perjuangan yang dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika agar
perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki khususnya dalam
pendidikan memiliki pola yang mirip dengan pendidikan antibias gender yang
dikemukakan oleh Addams dan Montessori.
Secara umum, pandangan mengenai pendidikan yang harus didasarkan pada
perkembangan anak (Comenius, Rousseau, Piaget) dilaksanakan di Indonesia melalui
penjenjangan sekolah formal dengan struktur kurikulum yang spesifik pada masing-
masing jenjang. Sedangkan penerapan kurikulum berbasis kompetensi, yang hingga
saat ini masih dalam proses penyempurnaan, merupakan bentuk adaptasi dari teori
pendidikan Spencer dan Dewey yang menekankan bahwa muatan pembelajaran harus
bernilai guna bagi kehidupan peserta didik. Pandangan pragmatism pendidikan
Spencer dan Dewey juga diterapkan dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan
(diklat). Pemikiran Dewey tentang penekanan metode ilmiah (discovery learning,
problem-based learning, contextual learning) pada pendidikan diadopsi secara
(hampir) penuh pada kurikulum yang baru diterapkan, yaitu kurikulum 2013.
Karakteristik kurikulum pembelajaran dan penyelenggaraan pendidikan untuk anak
usia rendah (peserta didik pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, dan kelas
rendah sekolah dasar) sebagian besar menggunakan metode dan strategi pembelajaran
yang dikembangkan oleh Montessori dan Froebel. Ide Rousseau mengenai
pendidikan yang memaksimalkan potensi alamiah atau bakat peserta didik serta ide
para pionir lainnya yang menekankan pendidikan langsung dari alam (naturalistik)
diadopsi di Indonesia oleh sekolah alam dan homeschooling dengan penyesuaian-
penyesuaian tertentu. Selain itu, teori mengenai pendidikan naturalistik banyak
diadaptasi oleh pendidikan luar sekolah.
Meskipun demikian, tidak semua pandangan pionir pendidikan Amerika sesuai
untuk diterapkan di Indonesia secara luas. Sebagai contoh, pendidikan individual
yang dikembangkan Rousseau tidak dapat diterapkan sepenuhnya di Indonesia karena
intervensi nilai dan norma masih kental dalam penyelenggaraan pendidikan.
Penyelenggaraan homeschooling di Indonesia, yang merupakan gambaran dari
pendidikan individu, tidak dapat sepenuhnya memberikan kebebasan kepada peserta
didik untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan bawaan alamiahnya secara bebas,
misalnya masih adanya batasan dan tekanan (terdapat rancangan konten pembelajaran
dan format evaluasi belajar) yang diberikan oleh orang dewasa/guru dalam proses
pembelajaran meskipun cenderung lebih longgar dibandingkan dengan pendidikan
formal. Bahkan pendidikan karakter yang dikembangkan di Indonesia merupakan
manifestasi dari penanaman nilai-nilai dan norma-norma yang melekat pada
masyarakat Indonesia. Gagasan dasar pendidikan karakter relevan dengan pendidikan
moral yang dikembangkan Herbart, pendidikan yang mengedepankan nilai universal
(tanpa diskriminasi) yang dikemukakan Freire dan Comenius serta selaras dengan
pendidikan spiritual yang disampaikan oleh Phroebel.