Anda di halaman 1dari 21

SUDUT PANDANG

KEBIJAKAN PEMBUATAN KURIKULUM

Oleh:

AZIZ

PASCA SARJANA PENDIDIKAN IPS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2015

1
Mata Kuliah : Kurikulum dan Pembelajaran
Dosen : Dr. Een Y Haenilah, M. Pd.
Mahasiswa : Aziz
NIM : 1423031068
Topik Bahasan : Sudut Pandang Kebijakan Pembuatan Kurikulum

Berdasarkan Buku Schubbert

Bab I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebijakan kurikulum merupakan permasalahan yang sangat pelik dewasa ini, muncul anggapan

dari masyarakat ketika ganti menteri maka akan ganti kurikulum. Hal ini tidak sepenuhnya

benar ataupun salah. Setiap pembuatan kurikulum memerlukan pengkajian yang cukup

mendalam tentang beberapa hal yang nantinya akan dijadikan sebagai landasan dasar dalam

pembuatan kurikulum. Ada beberapa landasan yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan

pembuatan kurikulum diantaranya landasan filosofis, sejarah, psikologi, social-budaya, dan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

Riwayat kebijakan tentang kurikulum sangat sedikit, meskipun demikian, berbagai pandangan

Sampai pertengahan 1960, banyak lembaga pendidikan memiliki jurusan sejarah, filsafat

pendidikan, yang secara bervariasi mengacu sebagai yayasan pendidikan. Tahun 1965 Stanley E

2
Ballinger memfokuskan kembali sejarah, filosofi, dan yayasan pendidikan social sebagai

masalah-masalah kebijakan public dalam pendidikan. Lebih dari satu decade sebelumnya Daniel

Lerner dan Harold Lasswell (1951) membuat tujuan yang sama untuk semua disiplin ilmu dan

kajian belajar. Mereka berpendapat bahwa kebijakan ilmu pengetahuan akan membuat

permasalahan dan kesalahan pembelajaran dalam dunia kependidikan secara potensial atau

secara actual memiliki dampak pada masyarakat luas. Inti dari pendapat Lawsell adalah

menitikberatkan kepada dampak dari pengetahuan. Pendapat ini sejalan dengan apa yang

diinginkan oleh Ballinger tentang ilmu pengetahuan sebagai pendidikan secara terpisah-pisah.

Meskipun mempelajari kebijakan dalam lapangan pendidikan secara umum menjadi penting.

Mempelajari kebijakan belum menjadi permasalahan dalam kurikulum. kebijakan adalah bab

tentang menyimpulkan dengan cara yang masuk akal. Mengapa harus ada lapangan kurikulum,

jika tidak berpengaruh secara nyata kepada pelaku professional? Mengapa kita harus meninjau

peristiwa sejarah dahulu, jika bukan berasal dari aturan-aturan terdahulu untuk kebijakan

sekarang dan yang akan datang? Mengapa kita harus mempelajari context dari kurikulum, jika

tidak memungkinkan kita untuk meletakkan prinsip-prinsip kurikulum dan prakteknya antara

social, ekonomi, moral? Akhirnya mengapa seseorang harus setuju dengan asumsi filosof, jika

bukan untuk mengklarifikasi arti dan tujuan dari pembelajaran.

Poin-poin pertanyaan ini dibutuhkan untuk memberlakukan kurikulum sebagai sebuah

kebijakan. Hasil dari beberapa penelitian pendidikan menyatakan setuju dengan tujuan

kurikulum. Pada bagian lain dari tulisan ini kita melihat kebijakan kurikulum sebagai bagian

terkecil dari kebijakan pendidikan, sebagai bagian dari kebijakan public, dan sebagai akhir dari

3
penelitian bidang pendidikan. Kemudian kita menuju pada pertentangan konsep dari kebijakan

kurikulum. tulisan ini diikuti dengan sebuah pertimbangan dari sejumlah actor yang berbeda

yang berkontribusi dalam kebijakan kurikulum.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalah dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimanakah Pembuatan kurikulum dilihat dari beberapa sudut pandang kebijakan.

C. Tujuan Penulisan Makalah

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan:

1. Untuk mengetahui pengembangan Kurikulum dari berbagai sudut pandang.

D. Manfaat Penulisan Makalah

1. Secara teoritis makalah ini berguna untuk mengetahui pendekatan yang dipakai dalam

pembuatan sebuah kurikulum.

2. sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang

konsep pembuatan kurikulum.

E. Metode Penelitian

Metode yang digunakan penulis pada makalah ini yaitu menggunakan metode kepustakaan,

yaitu mencari sumber dari buku atau media, baik konvensional maupun elektronik.

4
Bab II

PEMBAHASAN

1. KURRIKULUM SEBAGAI KEBIJAKAN

Belajar kebijakan pendidikan atau juga sering disebut sebagai analisis kebijakan pendidikan

atau mempelajari kebijakan pendidikan sering dihubungkan dengan ahli pendidikan dari

lembaga pendidikan dan administrasi pendidikan. Analisis kebijakan dimulai pertamakali oleh

mereka yang memiliki latar belakang sejarah, filosofi, dan yayasan social dan kependidikan.

Para ahli ini menganalisis, menginterpretasi, menilai, dan mengkirik pandangan untuk usulan

kebijakan pendidikan. Mereka mempelajari seperti dimensi kebijakan sebagai asumsi,

konsistensi dari pendapat, konteks politik, dan sejarah. Pada bagian akhir persatuan lembaga

kependidikan Amerika mengeluarkan pernyataan standar untuk membinging para academic

dan profesional di lembaga pendidikan, studi kependidikan, dan study kebijakan kependidikan

(Warren, de Vitis, et al. 1978) lulusan sekolah administrasi pertamakali dirancang untuk

menyiapkan pembuat kebijakan dan implementasinya untuk posisi administrasi dalam sistem

sekolah. Tentu saja jurusan di Universitas juga menyiapkan para ahli dan peneliti administrasi

kependidikan. Tapi ini terjadi dalam jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan proses

pendidikan tenaga kependidikan yang memiliki pekerjaan untuk membuat dan menerapkan

keputusan kebijakan. Dengan demikian terdapat dua bidang kajian besar dari mempelajari

kebijakan pendidikan yaitu analisis kebijakan dan perkembangan kebijakan.

5
Bagian Dari Kebijakan Pendidikan

Kebijakan kurkikulum adalah bagian dari kebijakan pendidikan, beberapa kebijakan pendidikan

menyinggung intrik dari rencana anggaran keuangan, masalah personil, sarana dan prasarana

gedung, masalah hukum, pengembangan staff dan hubungan masyarakat. apakah tujuan dari

itu semua itu? Nampak bahwa teknik mengarang kebijakan yang difasilitasi seperti wilayah yang

harus dikerjakan untuk alasan yang lebih baik dari pada menjaga diri sendiri saja dari birokrasi

pendidikan. Di samping itu akan nampak bahwa tujuan akhir dari semua kebijakan adalah untuk

mencapai pembelajaran pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak dan remaja, yang berarti

kurikulum lebih baik.

Oleh karena itu kurikulum sendiri adalah bentuk dari kebijakan pendidikan. Ketika dituliskan

kebijakan tersebut ditujukan pada pengalaman pembelajaran atau isi (bersama dengan tujuan,

pengelolaan, dan evaluasi) kebijakan pendidikan adalah sebuah sistem sekolah yang

memutuskan untuk memperlengkapi siswa. Bahkan ketika tidak dituliskan kebijakan sering kali

merupakan sebuah kombinasi dari dokumen dan pembelajaran praktikal. Kurikulum adalah

sebuah sistem kebijakan sekolah tentang pengetahuan dan pembelajaran/pengalaman yang

harus dimiliki siswa. Sebagai contoh, kelas IPA akan diajarkan dengan pendekatan ilmiah,

disamping itu pengelompokan berdasarkan kemampuan yang homogen akan digunakan pada

pembelajaran di sekolah menengah atas.

6
Bagian Dari Kebijakan Public

Kebijakan public cakupannya lebih luas dari keputusan, peraturan, dan jenis operasi dalam

ranah kebijakan pendidikan. Kebijakan ini dapat membedakan dari kebijakan swasta dengan

kebijakan utama yang berhubungan erat dengan pemerintah. Walaupun demikian, kebijakan

itu meredup dengan tumbuhnya kerjasama antara lingkungan swasta dengan public.

Kerjasama dengan perusahaan swasta, contohnya iklan televise memiliki maksud yang jelas

yang berdampak pada pandangan masyarakat. Dan dengan cara demikian cakupannya telah

memenuhi syarat dalam definisi secara umum tentang kebijakan public.

Lebih luas lagi, kebijakan public adalah representasi untuk mempertahankan atau merubah

sikap tertentu, pandangan, dan perilaku. Secara garis besar adalah bagaimana membuat

kebijakan public yang mendidik. Tentu saja dengan unsur atau sudut pandang mengajar, tetapi

kenyataannya sangat sulit sekali dilakukan. Pelajaran tertentu tidak perlu disamakan dengan

pendidikan jika dengan pendidikan kita memasukkan tujuan nilai/moral. Dengan kata lain

mendidik berarti mendatangkan atau menginspirasi pengetahuan pada dunia kebaikan.

Kemudian pendidikan tidak bisa disamakan dengan gagasan immoral dan amoral dalam

pembelajaran. Tetapi pendidikan tidak begitu. Dengan cara yang lain, kebijakan public sering

dianggap sebagai sistem dari keputusan, peraturan, prinsip-prinsip, dan prosedur yang

membimbing untuk memutuskan dan berprilaku dalam berbagai wilayah umum. Termasuk

didalamnya adalah strategi berunding secara hati-hati untuk mencapai kemerdekaan.

Bekerjasama, dan keadilan social.

7
Dalam beberapa kasus, perkembangan dan praktek kebijakan public memerlukan pengkajian

yang lebih mendalam. Pengkajian secara mendalam mengenai penerapan kurikulum bahwa

pembelajaran memerlukan rentetan peristiwa atau situasi. Sebuah kurikulum membawa

pembelajaran. Pembelajaran, peristiwa sederhana seperti kepatuhan atau ketaatan, yang tidak

dapat terjadi pada pengalaman sebenarnya yang mendorongnya. Jika kebijakan diterapkan,

pembelajaran mendapatkan tempat, pembelajaran akan terjadi, kurikulum pasti eksis.

Pendapat di atas meninggalkan pertanyaan yang sangat penting. Kapan pembelajaran

mendidik? Kapan memperbaiki moral? Dengan kata lain. Jenis kebijakan public apa mengenai

pelajaran kedepan yang secara moral diinginkan pada akhirnya. Perbedaan ini antara

pembelajaran sebagai sebuah kategori yang termasuk (mengambil alih amoral dari

pengetahuan dan pembelajaran yang merubah secara konseptual, perilaku, dan sikap) dalam

pendidikan. Dimana pembelajaran secara langsung dihadapkan pada perkembangan kehidupan

yang adil dan baik.

Akhir Dari Pendidikan Dan Kebijakan Publik

Apakah sebuah rangkaian pelajaran diberikan dari perilaku yang baik?, apakah di dalamnya

membawa kualitas yang diinginkan? Dan siapa yang harus memutuskannya? Apakah

didistribusikan dengan adil? Efek samping apa yang harus disadari secara hati-hati sebagai

suatu konsekuensi yang direncanakan? Pertanyaan selanjutnya seperti pertanyaan dalam

aktivitas sehari-hari dari pembuat keputusan dan pembuat pertimbangan kelompok sebenarnya

dari analisis kebijakan public dan pembuatan kebijakan public.

8
Untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan di atas pada masyarakat umum dapat disamakan

dengan mengusulkan bahwa pertanyaan dasar kurikulum yang diidentifikasi melalui tulisan ini

seharusnya ditanyakan oleh semua guru dan siswa, pengetahuan dan pembelajaran apa yang

lebih diperhatikan? Untuk menjawabnya banyak sekali alasan untuk berargumentasi bahwa

pertanyaan kurikulum adalah qosinus antara pendidikan dan kebijakan public. Alasan untuk

permasalahan kebijakan pendidikan non kurikulum pada akhirnya menyadari pendidikan yang

lebih baik (kurikulum) untuk siswa. Lebih dari itu siswa sebagai masyarakat dimasa depan

adalah bukti bahwa sebuah kurikulum yang mendidik merupakan bagian dari arti yang luas dari

kebijkan public itu sendiri.

2. KONSEP ALTERNATIVE KEBIJAKAN KURIKULUM

Berbagai permasalahan tentang definisi kurikulum dan istilahnya digunakan dalam tulisan ini.

Ada beberapa perbedaan pemahaman dari istilah kebijakan, Apakah artinya kurikulum?

Alternative apa yag digunakan dalam literature kebijakan dan bagaimana mereke

menerapkannya dalam kurikulum? Sebegai penerapannya disini. Empat konsep kebijakan

diringkas, Pertama, kebijakan sebagai petunjuk praktis, Kedua, kebijakan sebagai perlakuan

secara hari-hati dan khusus untuk dibuktikan. Ketiga kebijakan secara garis besar benar-benar

terjadi, akhirnya kebijakan sebagai perkembangan rasa tanggung jawab bimbingan. Setiap

alasan memiliki perbedaan tujuan dalam kebijakan kurikulum atau paling tidak mengandung

aspek yang berbeda. Penyajian setiap posisi dijelaskan secara singkat dalam penjelasan dan

contoh yang mengandung pernyataan tujuan, dan kemudian dikritisi.

9
a. Kebijakan Kurikulum Sebagai Petunjuk Praktis

Kebijakan kurikulum bisa dipahami sebagai rekomendasi atau keharusan mata pelajaran yang

diterapkan pada situasi kondisi dan jarak tertentu.

Contoh. Sistem sekolah, universitas, atau lembaga pendidikan lainnya memiliki pernyataan

hukum dari misi, tujuan, dan prosedur pemerintahan. Seperti dokumen yang membicarakan

kurikulum dan program akademis dengan cara yang langsung dan tidak langsung. Sebuah

sistem sekolah yang hirarki mungkin atau tidak mungkin memasukkan direktur kurikulum.

Contoh, jika kantor atau lembaga dipegang oleh seorang asisten atau seorang komisaris yang

memiliki otoritas lebih dari kepala sekolah dan terpisah dari sekolah. Dia memiliki peranan yang

berbeda dari seorang anggota penasehat yang memberi saran tetapi tidak mengerjakannya.

Tentu saja keuntungan dan kerugian dihubungkan dengan posisi masing-masing. Tetapi poinnya

adalah bahwa mereka mewakili perbedaan dalam kebijakan pemerintah yang secara langsung

berpengaruh terhadap kurikulum. Mereka adalah ilustrasi sebuah bentuk dari kebijakan

kurikulum.

Petunjuk praktis lainnya dihubungkan secara langsung dalam kurikulum. Di universitas catalog

lulusan dan tingkat sarjana atau bulletin adalah kebijakan resmi kurikulum. Setiap lembaga atau

departemen memiliki perincian secara tertulis atau tidak tertulis yang menyediakan petunjuk

kurikulum yang lebih jauh untuk fakultas. Kecuali untuk sesuatu yang lebih besar.

Bagaimanapun juga mereka membuat petunjuk kurikulum untuk mata pelajaran tertentu, level

tingkatan, dan topic khsusus. Mereke saling beraviliasi dengan unit penelti, unit pembelajaran,

dan materi pendukungnya (seperti lembar kerja, buku kerja, conoth silabus) dan bukan materi

10
pendukung (seperti buku teks, audio visual, program computer). Ini merupakan petunjuk

praktis dan materi kurikulum yang riil yang digunakan dalam proses pembelajaran. Ujian dibuat

di dalam wilayah sekolah dan dipimpin dari sumber luar. Sering dijadikan perunjuk paraktis

sejak tes berstandar digunakan sebagai ukuran sukses dan produktif. Ini godaan bagi

pengembang kurikulum dan mengajar untuk penampilan pada waktu test. Ada kecendderungan

untuk isi test digunakan sebagai petunjuk praktis

Pembelaan. Dari contoh-contoh tersebut terdapat range yang besar diantara kebijakan sebagai

petunjuk praktis, petunjuk kurikulum, dan materi pembelajaran dibuat oleh sekolah local yang

memiliki spesifikasi yang lebih tinggi, sementara komisi nasional melaporkan secara umum.

Penulis kemudian menyadari pemahaman terpisah harus dilakukan dalam pandangan local,

range, dan kebutuhan local. Untuk itu tujuan konsep bimbingan dari kebijakan kurikulum

adalah untuk menyediakan (1) pedoman wewenang untuk praktisi (2) keragaman dalam

parakteknya. Para pendahulu mengenalkan pentingnya sumber internal dan eksternal dari ahli

yang memberikan kestabilan lembaga, dan yang terakhir menyediakan sebuah produk

pendidikan yang lebih standar. Tanpa petunjuk praktis, praktisi akan kebingungan, peniruan,

dan tidak konsisten bisa terjadi. Lebih jauh lagi ini bukan menjadi permasalahan pada otonomi

professional yang akan dihapus. Tetapi petunjuk praktis membantu pendidik untuk berfungsi

lebih efektif melalui sebuah ketergantungan dengan professional lain.

Kritik. Walaupun pernyataan-pernyataan tersebut mendukung konsep bimbingan dari

kebijakan kurikulum, petunjuk menjadi sebuah tuntutan. Dan entah bagaimana mereka

11
berkembang dengan pesat kedalam perintah yang kaku. Petunjuk nasional sangat bervariasi

yang memiliki motif ekonomi dan politik dibelakangnya. Standarisasi kurikulum berasal dari

pengumuman pemerintah (kadag-kadang berpacu) ke dalam petunjuk local yang lebih baik.

Persoalan petunjuk, oleh kantor administrasi pusat tidak lama menjadi bimbingan dan

kemungkinan yang berguna, tetapi perintah harus dipatuhi. Guru-guru sebagai dampaknya,

menghilangkan aturan mereka sebagai professional dan menurunkan level yang sedang

mengikuti petunjuk saja. Cotohnya, ketika guru diharapkan mengikuti kebijakan sebagai

petunjuk praktis dikritisi berdasarkan pada daerah seperti membuka kotak Pandora dari

tuntutan-tuntutan yang membuat guru kurang professional dan lebih tergantung pada otoritas

keahlian daripada tanggung jawab professional.

b. Kebijakan Sebagai Tuntutan Khusus

Tahun 1970 ketika masa kejayaan untuk penemuan pendidikan mulai mengecil, kekuatan politik

lebih menggunakan tuntutan pembuktian hasil dari dana yang diberikan. Ketika banyak yang

melihat kebelakang kurang suksesnya kurikulum postsputnik. Mereke menuntut lebih

akuntabel untuk program seperti Head Staff dan beberapa project berikutnya. Respon pertama

diberikan pada apa yang telah dilakukan oleh ahli social dan psikologi, yang memasukkan

pendidikan selama pergerakan reformasi pada pusat disiplin ilmu tahun 1960. Menggunakan

teknik model yang lebih maju, pada penelitian kuantitatif. Peneliti-peneliti ini dan evaluator

menganjurkan perlakuan yang lebih khusus dan ketat. Berhati-hati memferifikasi tingkatan

perlakuan yang diterapkan dan ukuran yang detil dari hasil akhirnya. Bagaimanapun berlatih

dengan tekun akan lebih cepat.

12
Contoh. Perlakuan yang lebih khusus dan verivikasi model kebijakan kurikulum dapat dilihat

sebagai sebuah pendekatan yang berorientasi pada penelitian yang telah digariskan. Dimulai

dengan definisi operasional pada perlakuan yang secara hati-hati menegaskan jumlah yang

akan menerima. Termasuk yang didalamnya tujuan pernyataan istilah perilaku apakah mungkin

dan rencana tindakan khusus yang menjelaskan intervensi model yang berpengaruh pada

jumlah perlakuan dengan cara yang khusus. Evaluasi sumatif dirancang untuk menilai tingkatan

hasil pendidikan yang sesuai dengan tujuan yang lebih spesifik. Evaluasi formatif dirancang

untuk menemukan tingkat rencana tindakan yang secara actual menghantarkan program yang

direncanakan.

Pembelaan. Tujuan dari sebuah pendekatan pelakuan yang spesifikasi dan verivikasi kepada

kebijakan kurikulum mendekati formula kebijakan, implementasi, dan evaluasi. Seringkali tiga

fungsi ini dalam pembuatan kebijakan membawa perbedaan kelompok dari orang atau

peristiwa dari lembaga yang berbeda untuk meningkatkannya. Kemungkinan tersebut karena

adanya sedikit komunikasi diantara mereka yang menerapkan mungkin tidak tahu apa formula

yang dimiliki dalam fikirannya. Komisi yang merancang pendekatan baru dalam membaca

kurikulum mungkin memiliki sesuatu yang sedikit berbeda dalam pikirannya dari apa yang

dimediasi melalui konsultan gedung dan wilayah kepala sekolah dan guru. Dengan cara yang

sama guru yang bekerja di gedung yang mengembangkan sebuah unit baru kajian social

memikirkan dan menerapkan banyak perbedaan dari guru-guru yang menerimanya beberapa

tahun kemudian dan tidak berpartisipasi dalam pembuatan formula.

13
Semua ini untuk menggambarkan pentingnya komunikasi yang cermat untuk menjamin

pedoman atau kecocokan antara formula, impelementasi, dan evaluasi. Hanya ketika formula

tersebut adalah kebijakan yang secara eksplisit dan spesifik dapat diterapkan dengan akurat

dan dapat dipercaya. Hanya ketika spesifikasi yang cermat bisa mengevaluasi perkembangan

secara akurat dan mengukuhkan konsistensi antara tujuan dan implementasinya,dan hanya

ketika antara spesifikasi dan verifikasi konsisten bisa memiliki satu dasar yang kuat untuk

membuat evaluasi penilaian tentang sebuah formula kebijakan dan penerapannya. Evaluasi tipe

ini menyediakan dasar pertahanan untuk perubahan dan refisi.

Kritik, Meletakkan banyak keyakinan dalam tujuan yang belum spesifik dan rencana tindakan

bisa membawa bencana pada kebijakan kurikulum. Ketika pembuat kebijakan belum

menspesifikasikan rangkaian tindakan, dia berasumsi sangat mutlak pengetahuan diterapkan

pada semua kondisi. Kenyataannya orang yang berpartisipasi dalam penerapan situasi itu tahu

mereka membutuhkan pembuat kebijakan yang lebih baik. Satu bisa, tentu pendapat bahwa

pembuat kebijakan dapat mempelajari kebutuhan tersebut dalam penerapan situasi sebelum

membuat spesifikasi. Ini adalah esensi dari sebuah kebutuhan yang diperkirakan . masalahnya

adalah bahwa hanya kebenaran yang layak diperhatikan membutuhkan perkiraan yang terjadi

secara berkelanjutan dan ini hasil dari feed back ke dalam sistem untuk perbaikan pada

landasan yang sedang berjalan. Penerapan model Spesifikasi-verifikasi, Feed back, dan revisi

hanya terjadi di akhir project.

Ketika evaluasi formatif digunakan hanya untuk mendapatkan project kembali pada jalur yang

belum menentukan/spesifik. Dengan melepas tanggung jawab untuk menyatakan bahwa jalur

14
ini sendiri mungkin akan dipikirkan. Faktanya itu tidak mungkin untuk seorang ahli dari luar

dapat memahami kebutuhan-kebutuhan dari sebuah situasi secara penuh dibandingkan dengan

orang yang tinggal didalamnya. Lebih dari itu perubahan situasi diantara analisis kebutuhan dan

penerapan project dibutuhkan penemuan selama analisis dan tahap presifikasi tidak perlu sama

seperti penemuan selama implementasi. Pelaksanaan project mungkin juga mengembangkan

wawasan yang lebih dalam dan lebih luas pada situasi melalui interaksi mereka dengan

perumus presifikasi.

c. Kebijakan Sebagai Sesuatu Yang Terjadi

Beberapa ahli menegaskan bahwa kebijakan bukan rencana biimbingan bukan juga perlakuan

khusus. Mereka berpendapat bahwa kebijakan kurang sistematis dan sepenuhnya aktivitas

public. Dengan kata lain, kebijakan perlakuan presifikasi menunjang hubungan kecil pada apa

yang sebenarnya terjadi. Apa yang terjadi, aktivitas transaksi public, apakah yang dibutuhkan

untuk belajar. Situasi tersebut sama seperti perbandingan janji kampanye politik dengan

penampilan sesungguhnya selama menjabat. Satu mungkin menunjang hubungan kecil dengan

lainnya. Untuk itu siapa yang ingin mempelajari kebijakan pendidikan seharusnya belajar

paraktis, bukan rancangan saja.

Contoh, paradigma lama atau konsep kerangka kurikulum 25 tahun terakhir menjadi pemikiran

Tyler (Tyler 1949). Tyler memiliki empat topic utama untuk menganalisis kurikulum- tujuan,

pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi- yang dapat dijadikan dasar untuk

menggambarkan dan memahami praktek kurikulum yang masih ada. Bagaimanapun juga, ini
15
tidak penting lagi sebagai dasar yang mereka gunakan. Kategori-kategori yang penting

digunakan untuk pengembangan kebijakan kurikulum dan prakteknya.

Banyak pernyataan dari kurikulum harus kebijakan harus dikembangkan oleh sekolah dan

institusi lembaga pendidikan lannya. Tidak harus sama prakteknya dari institusi itu. Deker

walker (1971) mengenalkan model naturalistic pada pengembangan kurikulum

menggambarkan lebih baik dari pada ketentuan-ketentuan dan menegaskan fakta bahwa

rancangan kurikulum pada prakteknya sering merupakan kumpulan secara tidak sistematis.

Point penting disini adalah bahwa pembuat kebijakan kurikulum tidak secara tiba-tiba

mengubah dari manusia, dengan semua kelemahan yang menemani pos itu. Menjadi rasional

dan pembuat keputusan adil secara sederhana karena mereka mempekerjakan dalam

pembuatan kebijakan kurikulum para praktisi yang tidak memiliki keistimewaan untuk

berunding sepanjang sebagai kegiatan akademik. Untuk itu rancangan kurikulum muncul ketika

siswa nampak terpegaruh oleh kurikulum yang dibicarakan. Kehadiran siswa secara terus

menerus adalah keharusan yang disengaja dengan semua ketidaklengkapan dan ketidak

konsistenan menjadi rancangan seperti yang ditemukan guru, pelajar, dan bahan pembahasan.

Disamping mencoba untuk mengerti kebijakan kurikulum dengan bertanya bagaimana pembuat

membuat tujuan, pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi dan dengan menjelaskan

prinsip-prinsip dari praktisi yang secara rasional diterapkan sebelumnya.

Pembelaan, kita semua tahu pernyataan apa yang kamu bicarakan dengan keras maka kita

tidak bisa mendengar apa yang kamu katakana sangat tepat dengan pendekatan ini dala usaha

16
mempelajari kebijakan untuk menguasai skala pendidikan. Setiap orang tahu bahwa

perselisihan besar yang ada diantara apa yang dikatakan sekolah resmi dengan humas mereka,

dan apa yang mereka lakukan sebenarnya. Mungkin itu seharusnya dengan cara ini. Tetapi jika

hubungkan denga realitasnya itu mempengaruhi kehidupan guru dan siswa. Kita seharusnya

tidak sibuk dengan retorika dari pengumuman kebijakan. Untuk itu semestinya mempelajari

kebijakan seharusnya berusaha untuk mengumpulkan berita prinsip-prinsip. Pada dasarnya ini

adalah penemuan inti terbaik dari penelitian yang cermat pada prakteknya. Seperti prinsip-

prinsip ketika ditemukan dalam semua situasi seharusnya dianalisis ketidak konsistennya dan

kontradiksinya. prinsip-prinsip tersebut membimbing secara praktis dalam sebuah situasi yang

seharusnya terjadi kemudian dibandingkan dengan situasi yang berhubungan dengan kebijakan

itu. Ini adalah cara untuk menghasilkan sebuah teori yang mempertahankan formula kebijakan

politik dan implementasinya.

Kritik, untuk berasumsi bahwa kebijakan kurikulum adalah apa yang terjadi untuk memutuskan

bagian dari fungsi kebijakan yang bernama keharusan untuk menurunkan studi kebijakan

sepenuh hati untuk dunia dari apakah, apakah untuk berkelana dalam bimbingan dari

kekeliruan naturalistic. Jika kita bisa menghasilkan sebuah set yang diperkuat dengan prinsip-

prinsip yang membimbing formula kebijakan dan implementasinya. Pembuatan kebijakan pada

dasarnya sebuah proses yang sarat dengan nilai dari keputusan yang layak diperhatikan

arahnya. Bahkan analisis kebijakan tidak bisa mempertahankan hanya menganalisis kebijakan

yang ada. Juga harus mempertimbangkan apa yang seharusnya ada. Seandainya itu

17
menentukan apa yang seharusnya ada di kurikulum bisa menguntungkan secara besar-besaran

dari memiliki sebuah latar belakang yang kuat didalamnya..

d. Kurikulum Sebagai Kepribadian/Jatidiri

Sepanjang pembuat kebijakan atau analisis kebijakan terpisah dari situasi dimana kebijakan

diterapkan, mereka meninggalkan aturan dari pemegang otoritas. Sebuah alternative muncul,

bagaimanapun juga ketika otoritas merealisasikan apa yang terbaik yang bisa dilakukan dengan

menentukan sebuah arah pengertian dalam berdialog dengan mereka yang tinggal dalam

situasi dimana kebijakan itu diterapkan. Dalam kasus ini, formula kebijakan menjadi klarifikasi

dari sebuah petunjuk atau petunjuk arti. Pedoman yang tidak kaku atau prespesifikasi yang

tidak bervariasi. Penerapan kebijakan menjadi sebuah proses dari evolusi, atau

keberlangsungan, kesadaran perbaikan siapa yang berkecimpung dalam kebijakan. (lihat

Wildavsky, 1979, Prisman dan Wildavsky, 1979) ini berorientasi secara radikal untuk mengubah

karakter evaluasi perkembangan(formatif) sebagai pemahaman dalam model perlakuan

spesifikasi-verifikasi. Evaluasi formatif tidak menjadi sebuah penyesuaian kembali praktek untuk

tunduk pada perlakuan spesifikasi, tetapi proses berkesinambungan dari revisi, jahitan, dan

adaptasi dari kepribadian awal yang ditemukan dari sebuah peningkatan pemahaman situasi

yang lebih baik.

Contoh, wildavsky berpendapat bahwa lebih penting untuk menciptakan organisasi yang ingin

belajar dari pada menceritakan kepada mereka apa yang harus mereka pelajari. Dicontohkan

juga oleh Ronald swartz (1983), siapa yang membedakan kebijakan kurikulum dari Mortimer J
18
Adler dari A.S Neill. Swartz melihat Addler sebagai penasehat kebijakan modern dari sebuah

otoritas yang berasumsi dengan Plato dan aristoteles bahwa harus ada sebuah kategori

spesialis dari manusia. Menganggap lebih reliable dari yang lainnya. Siapa yang membuat

keputusan otorias kependidikan tidur. Dalam proposal Paideria Adler menceritakan kepada

pembaca bahwa pendidikan terbaik untuk yang terbaik adalah dengan pendidikan yang

terbaik untuk semua kebijakan pendidikan ini adalah yang diharapkan oleh otoritas. Untuk itu

siapa yang belajar menerima kebijakan dan dipengaruhi olehnya. Mereke memiliki sedikit atau

tidak menyerahkan dalam pembuatannya.

Pembelaan, secara luas, kebijakan konsep terbuka mengizinkan partisipan dalam mencipta

dengan pengaruh dari kebijakan itu. Siapa yang terpengaruh oleh kebijakan itu dalam

perkembangan dan evolusi. Kepribadian akan membawa pemahaman terbuka sebagai sebuah

ilustrasi dari Golden Rule. Perngatan Sokratis untuk melihat kebajikan atau pelajaran Budhis

untuk sebuah kerakusan. Pemahaman secara situasional tentang banyak kepribadian atau

keistimewaan adalah tanggung jawab secara personal kurikulum belajar untuk mencapai akhir

dari permasalahan yang tidak pernah diberikan. Sejak realisasi ide-ide tidak bisa dicapai dan

sejak situasi kepribadian dibutuhkan untuk mencapai perubahan.

Kritik, banyak orang kurang mampu berdiskusi tentang permasalahan dasar kependidikan. Akan

menjadi indah jika ya. Tetapi mereka membutuhkan pakar yang spesialis dalam masalah itu

untuk menceritakan apa yang layak diperhatikan. Lewat sejarah manusia memiliki keraguan

kepada pakar yang memberikan jawaban kepada mereka. Mereka harus kembali ke

19
kepercayaan, magis, pemimpin politik, orang bijaksana, penguasa industry, dan ilmuwan. Ini

adalah tanggung jawab dari pembuat kebijakan dan analisis kebijakan untuk melakukan lebih

dari sekedar tahapan set yang disengaja. Mereka harus bertanggug jawab untuk setiap

keputusan

3. PEMBUAT KEBIJAKAN KURIKULUM

Pembuat kebijakan kurikulum merupakan kumpulan dari berbagai tingkatan yang berbeda.

Diantaranya:

a. Administrator kurikulum

b. Kepala sekolah

c. Pengawas

d. Komunitas

e. Peneliti pendidikan

f. Pendidik guru

g. Guru

h. Penerbit

i. Badan Akreditasi Nasional

j. Orang tua

k. Siswa

20
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kebijakan kurikulum adalah cara yang secara actual berpengaruh terhadap anak-anak dan

remaja di ruang kelas dan situasi pembelajaran lainnya. Kebijakan kurikulum adalah akhir dari

kebijakan pendidikan dan kebijakan public yang meniitikberatkan pada pengaruh kebijakan

tersebut pada anak didik dalam proses pembelajaran. Kebijakan yang benar adalah apa yang

benar-benar terjadi dengan mempertimbangkan landasan-landasannya dan jati diri sebagai

sebuah bangsa.

Dengan memperhatikan landasan filosofis, psikologis, sejarah, social budaya, dan iptek akan

terbentuklah rancangan kurikulum yang lebih baik dari kurikulum sebelumnya. Dan dengan

kurikulum yang baik pada akhirnya akan turut membentuk manusia yang cerdas dalam rangka

mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia

21