Anda di halaman 1dari 116

Laporan Kimia Dasar II Redoks

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Oksigen dapat membentuk suatu senyawa yang disebut oksida dan sejak
oksigen ditemukan, istilah oksidasi dihubungkan dengan berbagai reaksi
yang menggunakan oksigen. Magnesium, sebagai contohnya, dapat bereaksi
langsung dengan oksigen, pemukaan logam yang terbuka segera dioksidasi
membentuk suatu lapisan magnesium oksida(Mgo). Contoh lain adalah besi.
Besi (Fe) juga dapat dioksida secara perlahan-lahan di udara, proses ini
dapat mengakibatkan karat pada logam yang terdiri dari Fe2O3. Suatu logam
yang dapat diperoleh kembali dari oksida logamnya dikenal dengan nama
reduksi.
Dalam istilah sekarang proses oksidasi maupun reduksi mempunyai arti
yang lebih luas. Tidak hanya reaksi suatu zat dengan oksigen, tapi
oksidasi juga dapat bearti sebagai suatu peristiwa pelepasan electron oleh
suatu zat, atom atau ion ke zat, atom, atau ion lin.begitu pula dengan
reduksi, pengertian reduksi tidak hanya suatu proses pelepasan oksigen,
tapi reduksi juga dapat berarti pengambilan electron dari suatu zat, atom,
atau ion ke zat, atom, atau ion lainnya. Suatu reaksi yang melibatkan
peristiwa oksidasi dan reduksi sering disebut reaksi oksidasi atau reaksi
redoks sebagai singkatannya.
Pengertian yang lebih rinci tentang reaksi redoks, akan dijelaskan
dalam lapoan ini. Selain itu akan dibahas beberapa ontoh reaksi oksidasi
reduksi dalam suasana asam, serta zar-zat yang terlibat dalam reaksi
redoks seperti zat pengoksidasi atau oksidator, dan zat reduksi atau
reduktor dan aplikasi redoks dalam kehidupan sehri-hari.

1.2 Tujuan percobaan


Menentukan fungsi reagen yang digunakan
Mengetahui reduktor dan oksidator yag digunakan dalam percobaan
Mengetahui titik akhir titrasi pada percobaan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Reaksi reduksi oksidasi atau reaksi redoks berperan dalam banyak hal
dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi redoks dapat berguna bagi pembakaran
bahan bakar minyak bumi, dan digunakan juga sebagai cairan pemutih. Selain
itu, sebagai unsure logam dan nonlogam diperoleh dari bijihnya melalui
proses oksidasi atau reduksi. Contohnya dalam reaksi pembentukan kalsium
oksida (Cao) dari kalsium dan oksigen.
2Ca(s) + O2(g)2CaO(s)
Kalsium oksida (CaO) adalah senyawa ionic yang tersusun atas ion
Ca2+ dan O2-. Dalam reaksi pertama, dua atom Ca memberikan atau memindahkan
empat electron pada dua atom O (dalam O2). Agar lebih mudah dipahami,
proses ini dibuat sebagai dua tahap terpisah, tahap yang satu melibatkan
hilangnya empat electron dari dua atom Ca dan tahap lain melibatkan
penangkapan empat electron oleh molekul O2.
2Ca 2Ca2+ + 4e-
O2 + 4 2O2-
Setiap tahap diatas dapat disebut sebagai reaksi setengah sel ( hal-
reaction), yang secara eksplisit menunjukkan banyaknya electron yant
terlibat dalam reaksi.
Reaksi setengah sel yang melibatkan hilangnya electron disebut
reaksi oksidasi. Istilah Oksidasi pada awalnya berarti kombinasi unsur
dengan oksigen. Namun, istilah itu sekarang memiliki arti yang lebih lua.
Reaksi setengah sel yang melibatkan penengkapan electron disebut reaksi
reduksi. Dalam contoh diatas, kalsium bertindak sebagai zat pereduksi
karena memberikan electron pada oksigen dan menyebabkan oksigen tereduksi.
Oksigen tereduksi bertindak sebagai zat pengoksida Karena menerima
electron dari kalsium dan menyebabkan kalsium teroksidasi. Dalam persamaan
reaksi redoks tingkat oksidasi harus sama dengan tingkat reduksi yaitu
jumlah electron yang hilang oleh zat pereduksi harus sama dengan jumlah
electron yang diterima oleh suatu zat pengoksida (Raymond, Chang,2005).
Definisi tentang oksidasi dan reduksi dapat juga dikembangkan
menjadi pengertian yang lebih luas dan jelas Oksidasi adalah suatu proses
yang mengakibatkan hilangnya satu electron atau lebih dari dalam zat (
atom, ion atau molekul ). Bila suatu unsur dioksida, keadaan oksidasinya
berubah ke harga lebih positif. Suatu zat pengoksidasi diartikan sebagai
zat yang memperoleh electron, dan dalam proses itu zat itu direduksi.
Reduksi, sebaliknya adalah suatu proses yang melibatkan
diperolehnya satu electron atau lebih dari suatu zat ( atom, ion atau
molekul ). Bila suatu unsure direduksi, keadaaan oksidasi berubah menjadi
lebih negative ( kurang positif ). Jadi zat pereduksi merupakan zat yag
kehilangan electron, dalam proses itu zat ini dioksidasi. Definisi reduksi
juga sangat umum dan berlaku juga untuk proses dalam zat padat, lelehan,
maupun gas.
Sejumlah besar reaksi oksidasi dan reduksi akan dicantumkan
diantara reaksi yang digunakan untuk identifikasi ion. Beberapa contoh zat
pengoksidasi kuat adalah KMnO4.
1. Kalium permanganat (KMnO4), merupakan zat padat cokelat tua yang
merupakan pengoksidasi kuat, yang bekerja berlainan menurut pH dari
medium. Dalam suasana asam, ion pemanganat direduksi menurut proses 5
elektron, Mn berubah dari + ke +2,
MnO4- + 8H++5 Mn2+ + 4H2O
dalam suasana netral atau setengah basa permanangat direduksi jadi mangan
dioksida.
MnO4- + 4H+ + 3 MnO2 + 2H2O
2. Logam seperti zink, besi, dan aluminium, seringkali logam ini digunakan
sebagai bahan pereduksi. Kerja logam ini disebabkan oleh pembentukan ion,
biasanya ion itu ada dalam keadaan oksidasi terendah, Contohnya :
Zn Zn2+ + 2
Fe Fe2+ + 2
AI AI3+ + 3
( G. Svehla, 1990 ).
a. Bilangan Oksidasi
Suatu unsur dapat bergabung dengan unsure lain membentuk senyawa
dengan valensi tertentu. Istilah valensi dikemukakan oleh Wichelhaus yang
artinya jumlah ikatan suatu unsure terhadap yang lainnya. Dalam menentukan
valensi unsur, kita harus menuliskan struktur molekul senyawa terlebih
dahulu. Oleh karena itu, cara ini kurang praktis dan sebagai gantinya
ditemukan cara bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi suatu unsure adalah
muatan suatu atom dalam senyawa, seandainya semua electron yang dipakai
bersama menjadi milik atom yang lebih elektronegatif. Contohnya molekul
H2O, karena O2 lebih elektronegatif maka ia kelebihan dua electron dari
dua hydrogen. Akibatnya bilangan oksidasi oksigen = -2 dan hydrogen = +1.
Bilangan oksidasi dapat positif atau negative. Nilai itu bukan merupakan
hasil percobaan melainkan merupakan perjanjian. Perjanjian atau atau
aturan dalam menentukan bilangan oksidasi adalah sebagai berikut :
1. Setiap unsur bebas mempunyai bilangan oksidasi = 0, Contohnya H2, Fe, He,
S8, dan P4
2. Hidrogen dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi +1, Contohnya HCI,
H2SO4 dan HCIO4.
3. Oksigen dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi -2 Contohnya H2O,
HIVO3 dan NOH.
4. Unsur-unsur golongan alkali ( IA ) dalam senyawa mempunyai bilangan
oksidasi +1, Contohnya NaCI, KOH, dan Li2SO4.
5. Unsur-unsur golongan dikali tanah ( II A ) dalam senyawa mempunyai
bilangan oksidasi +2 contohnya CaO, BaCO, dan SrSO4.
6. Ion Fluar ( F ) dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi -1, Contohnya
Hf, LIF, dan CaF2.
7. Sebuah ion mempunyai bilangan oksidasi sama dengan muatannya Contohnya
C1-=-1, SO42-=-2, dan Ca+2=2.
8. Senyawa netral mempunyai bilangan oksidasi 0 contohnya HCI = 0, KBr = 0,
dan Na2SO4 = 0.
Dari aturan diatas dapat ditentukan bilangan oksidasi suatu unsur dalam
senyawa tanpa menuliskan struktur molekulnya. Bilangan oksidasi berguna
dalam menuliskan rumus senyawa antara ion positif dan ion negative. Rumus
harus sedemikian rupa sehingga bilangan oksidasi senyawa adalah 0 atau
jumlah muatan negatf dan positifnya sama ( Syukri S, 1999 ) .

b. Penggunaan Bilangan Oksidasi


Dalam reaksi redoks, ada beberapa perbedaan dalam bidang oksidasi atau
keadaan oksidasi atau keadaan oksidasi ( istilah ini digunakan untuk
memperlihatkan sesuatu yang saling mengubah ) dari dua atau lebih suatu
unsure. Perhatikan suatu reaksi yang melibatkan magnesium dan oksigen.
2Mg + O2 2MgO
0 0 +2 -2
Dimana ditulis bilangan oksidasinya dibawah nama senyawa tesebut,
terlihat bahwa bilangan oksidasi Mg berubah dari 0 menjadi +2 dan bilangan
oksidasi 0 berubah dari 0 menjadi -2. Dengan demikian, oksidasi Mg diikuti
oleh bertambahnya bilangan oksidasi ( bertambah maksudnya disini adalah
bilangan oksidasi Mg menjadi lebih positif ). Reduksi O2 sebaliknya
diikuti oleh berkurangnya bilangan oksidasi 0 menjadi kurang positif atau
kurang negatif.
Dengan demikian, hal ini memberikan kita cara yang lebiih umum untuk
mendefinisikan oksidasi dan reduksi yang berkaitan dengan perubahaan
bilangan oksidasi. Berdasarkan perubahan bilangan oksidasinya, oksidasi
adalah bertambahnya bilangan oksidasi dan reduksi adalah berkurangnya
bilangan oksidasi.
Untuk tetap konsisten dengan definisi sebelumnya, senyawa Pengoksidasi
adalah zat yang direduksi, dan senyawa pereduksi adalah zat yang
dioksidasi ( James E. Brady,1987 )
c. Menyeimbangkan Persamaan Oksidasi Reduksi
Ada satu cara untuk menyeimbangkan persamaan oksidasi-reduksi.
Cara ini disebut metode setengah reaksi atau electron ion. Pendekatan cara
lainnya berdasarkan pada definisi oksidasi dan reduksi dalam hubungannya
dengan bilanganoksidasi disebut metode perubahaan bilangan oksidasi.
Metode electron ion atau setengah reaksi, terdiri dari
beberapa tahap. Dalam metode ini setengah persamaan oksidasi dan reduksi
ditulis terpisah kemudian digabungkan menjadi persamaan keseluruhan yang
seimbang. Beberapa tahap dalam metode electron ion atau setengah reaksi
antara lain :
Tahap 1 : Identifikasi spesies yangterlibat dalam perubahan bilangan oksidasi
dan tulislah rangka setengah reaksi melibatkan penambahan bilangan
oksidasi. Reduksi setengah reaksi melibatkan pengurangan bilangan
oksidasi. Contohnya pada reaksi sulfite dan Peermanganat
SO3-2 + H+ +Mn04 SO42- + Mn2+ + H2O
Oksidasi : SO3-2 SO42-
Reduksi : Mn04 Mn 2+
Tahap 2 : Seimbangkan Jumlah atom dari tiap persamaan. Untuk mendapatkan
jumlah atom yang sama perlu ditambahkan H2O dan H+ ( untuk suasana asam )
dan OH- ( untuk suasana basa, pada sisi yang kekurangan O )
Oksidasi :SO32- + H2O SO42- + 2H+
Reduksi : MnO4- + 8H+ Mn2+ + 4H2O
Tahap 3 : Seimbangkan muatan listrik dari tiap setengah persamaan. Pada
sisi kanan setengah persamaan oksidasi ditambahkan sejumlah electron agar
kedua sisi memiliki muatan keseluruhan yang sama. Lakukan hal yang sama
untuk reduksi, penambahan electron disebelah kiri
Oksidasi : SO3-2 + H2O SO42- + 2H+ + 2
( Muatan keseluruhan
tiap sisi, -2 )
Reduksi : MnO4- + 8H+ + 5 Mn 2+ + 4H2O
( Muatan keseluruhan
tiap sisi +2 )
Tahap 4 : Dapatkan persamaan oksidasi-reduksi keseluruhan dengan menggabungkan
kedua setengah pesamaan. Kalikan electron oksidasi dengan electron reduksi
agar electron dalam pesamaan dapat saling menghapuskan.

Electron tidak boleh terlihat pada suatu persamaan keseluruhan. Pada contoh ini
oksidasi dikalikan 5 dan reduksi dikalikan 2.
Oksidasi : 5SO32- + 5H2O 5SO4-2 + 10H+ + 10
Reduksi : 2MnO4-2 +
16H+ + 10 2Mn+2 + 8H2O
5SO3-2 +5H2O + 2MnO4- + 16 H+ 5SO4-2 +10H+ + 2 Mn2+ + 8H2O
Tahap 5 : Sederhanakan, Bila persamaan keseluruhan mengandung spesies yang
sama pada kedua sisinya yang jumlahnya lebih sedikit. Kurangi lima H2O
dari tiap sisi persamaan keseluruhan pda langkah 4, dengan demikian akan
tersisa 3 H2O pada sisi kanan, Serta pengurangan 10 H+ dari tiap sisi
sehingga tinggal 6 H+ pada sisi kiri.
5SO3-2 + 2MnO4- + 6 H+ 5SO4-2+ 2 Mn2+ + 3H2O
Tahap 6 : Teliti persamaan keseluruhan yang telah selesai. Pastikan bahwa
persamaan keseluruhan seimbang, baik jumlah atom yang ada dalam pesamaan
maupun jumlah elektronnya. Pada contoh terebut dapat dilihat jumlah
electron kiri dan kanan adalah -6 (Ralph H. Petrucci, 1987).

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat :
Pipet Tetes
Buret & Statif
Elenmeyer
Labu Ukur
Beaker glass
Pipet Volume
Termometer
Tabung Reaksi
Klem
3.1.2 Bahan :
Vitamin C
KMnO4
H2C2O4
I2
H2SO4
H2O

3.2 Prosedur Percobaan :


Kualitatif :
1. - Diambil 1 ml vitamin C didalam tabung reaksi,
- Ditambahkan 5 tetes KMnO4
- Diamati perubahan warna yang terjadi
2. - Diambil 1 ml vitamin C didalam tabung reaksi,
- Ditambahkan 5 tetes I2
- Diamati perubahan warna yang terjadi
3. - Diambil 5 ml asam oksalat dalam beaker glass,
- Ditambahkan 2 ml H2C2O4
- Dipanaskan hingga suhu 70C
- Diteteskan beberapa tetes KMnO4 0,1 N
- Diamati perubahan warna yang terjadi
Kuantitatif :
- Diambil 10 ml H2C2O4 dalam labu elenmeyer
- Ditambahkan 3 ml H2SO4
- Dipanaskan pada suhu 70C
- Dititrasi dengan KMnO4 0,1N
- Diamati perubahan warna yang terjadi.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Perlakuan Pengamatan
No
1. - Kualitatif - Vitamin C mengalami oksidasi
-Reaksi antara 1 ml (pereduktor)
vitamin C ditambah 5- KMnO4 mengalami reduksi (
tetes KMnO4 pengoksidasi )
- Diamati - Warna vitamin C yang semula
kuning berubah jadi orange
setelah penambahan 15 tetes
KMnO4
-Reaksi Vitamin C 1 ml - Vitamin C mengalami oksidasi
dengan 5 tetes I2 ( pereduktor )
- I2Mengalami reduksi (
- Diamati perubahan warna oksidator )
yang terjadi - Warna Vitamin C yang semula
kuning berubah menjadi orange
setelah penambahan 20 tetes I2.
-Reaksi 5 ml H2C2O4 dengan - H2C2O4(Reduktor)
H2SO4 dan dititrasi dengan - KMnO4 ( Oksidator )
KMnO4pada suhu 70C - Warna larutan sebelumnya
bening, setelah dititrasi
dengan KMnO4 larutan berubah
warna menjadi cokelat
2. Kuantitatif
-Reaksi 10 ml H2C2O4dengan - H2C2O4(Reduktor)
3 ml H2SO4dipanaskan pada - KMnO4 ( Oksidator )
suhu 70C -Terjadi perubahan warna pada
- Dititrasi dengan penambahan 1 ml KMnO4 menjadi
KMnO40,1 N hingga terjadi merah lembayung,
perubahan warna - H2SO4 ( Autokatalisator )
- V1.N1 = V2. N2
I0. N1 = I.0,1
NIC2H2O4 = 0,01N

4.2 Reaksi

- Vitamin C dan KMnO4

O O

C C

HOC OC

O + MnO4 O + MnO4
HOC OC

HC HC

HOCH HOC

CH2OH CH2OH
- Vitamin C dan I2
O O

C C

HOC OC

O + I2 O + 2H+ + 2I-
HOC OC

HC HC

HOCH HOC

CH2OH CH2OH

- H2C2O4 dan KMnO4


C2O4-2 + MnO4- 2CO2 + Mn2+
Reduksi : MnO4- Mn2+
Oksidasi : C2O4-22CO2
Reduksi : MnO4- + 8H+ = 5e- Mn2+ + 4H2O (x2)
Oksidasi : C2O4-22CO2 + 2e-
(x5)
Reduksi - + - 2+
: 2MnO4 + 16H = 10e 2Mn +8H2O
Oksidasi : 5C2O4-
210CO + 10e-
2

2MnO4 + 16 H + + 5C2O4-2 2Mn2++8H2O + 10CO2

4.3 Perhitungan
Titik akhir titrasi = 1 ml
V1. N1 = V2. N2
1O. N1 = 1. 0,1
N1 = 0,1/ 10
N C2H2O4 = 0,01 N
4.4 Pembahasan
Reaksi reduksi oksidasi ( redoks ) merupakan suatu reaksi serah
terima electron. Dalam suatu reaksi penggabungan ion, dimana bilangan
oksidasinya berubah. Bilangan oksidasi dapat berubah menjadi lebih positif
atau lebih negative, perubahan bilangan oksidasi dalam reaksi ini yang
disertai dengan pertukaran electron antara pereaksi ini sering disebut
reaksi oksidasi reduksi ( redoks ). Selain itu, jika saat membicarakan
oksidasi suatu zat, kita harus ingat bahwa pada saat yang sama reduksi
dari suatu zat lain juga berlangsung. Oleh karena itu, sangatlah logis
untuk mendefinisikan redoks sebagai proses yang melibatkan serah terima
electron yang terjadi dalam suatu reaksi yang serempak.
Oksidasi dan reduksi memiliki perbedaan pada pengikatan oksigen,
perubahaan electron, dan perubahan bilangan oksidasi. Reaksi oksidasi
adalah suatu reaksi yang mengikat oksigen, mengalami pelepasan sejumlah
electron, serta mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Sedangkan reduksi
adalah peristiwa pelepasan oksigen, mengalami penurunan bilangan oksidasi
serta menerima electron.
Reaksi antara kalium Permanganat (KMnO4 ) dengan vitamin C 1 ml,
yang berfungsi sebagai reduktor adalah vitamin C, artinya vitamin C dalam
reaksi sebagai zat yang mengalami oksidasi. Sedangkan kalium permanganat (
KMnO4 ) adalah zat yang mengalami reduksi, artinya KMnO4 dalam reaksi ini
berfungsi sebagai oksidator.
Pada percobaan kedua yaitu reaksi antara vitamin C dan I2, yang
berfungsi sebagai reduktor adalah vitamin C dan I2yang berfungsi sebagai
oksidator, karena I2mengalami perubahan bilangan oksidasi dari 0 menjadi -
1
Reaksi antara asam oksalat (H2C2O4) dan Kalium Permanganat ( KMnO4 ).
Dipanaskan pada suhu 70C. Dalam reaksi ini asam oksalat berfungsi sebagai
reduktor karena H2C2O4 mengalami oksidasi dengan perubahan bilangan
oksidasi dari +3 menjadi +4, selain itu asam oksalat juga berfungsi
sebagai filter atau larutan yang dititrasi. Sedangkan KMnO4 berfungsi
sebagai oksidator, Selain itu KMnO4 dalam reaksi juga berfungsi sebagai
titran.
Reaksi antara 10 ml H2C2O4 dengan 3 ml H2SO4 dan titrasi dengan
KMnO4 . Pada reaksi ini digunakan H2SO4 sebagai autokatalisator yang
berfungsi mempercepat reaksi. KMnO4Merupakan oksidator kuat tapi belum
bias mengoksidasi asam oksalat, oleh karena itu dugunakan H2SO4 . Asam
oksalat dalam reaksi ini berfungsi sebagai reduktor dan juga sebagai
titer. Selain itu juga dilakukan pemanasan pada suhu 70C agar reaksi ini
dapat berlangsung dengan stabil.
Dalam pecobaan yang dilakukan, terdapat berbagai hasil percobaan
yang berbeda-beda. Pada percobaan pertama yaitu vitmin C yang direaksikan
dengan KMnO4. Warna Vitamin C awalnya kuning, setelah penambahan 15 tetes
KMnO4 warna larutan berubah jadi orange.
Untuk percobaan kedua, reaksi antara vitamin C dengan I2. Vitamin C
yang belum dicampur dengan I2 berwarna kuning, setelah penambahan 20 tetes
I2 warna larutan vitamin C brubah menjadi warna orange. I2dalam larutan
ini berfungsi sebagai oksidator
Reaksi H2C2O4 dengan larutan H2SO4berwarna bening. Setelah dipanaskan
sampai 70C, larutan tersebut dititrasi dengan KMnO4. Warna larutan yang
awalnya berwarna bening berubah menjadi warna cokelat tua. Selain sebagai
oksidator KMnO4 juga sebagai titran.
Reaksi antara asam oksalat( H2C2O4 ) dengan asam sulfat (H2SO4) yang
dipanaskan pada suhu 70C dan dititrasi dengan larutan KMnO4 0,1 N.
Warna larutan awalnya bening setelah mencapai titik akhir titrasi dengan
titran KMnO4 warna larutan berubah menjadi merah lembayung, Asam oksalat
juga berfungsi sebagai autokatalisator.
Autokatalisator adalah senyawa yang dapat mempercepat terjadinya
reaksi tanpa memerlukan bantuan dari katalis yang lainnya. Contohnya asam
sulfat (H2SO4). Selain autokalisator terdapat pula autondikator.
Autondikator adalah senyawa yang dapat meangubah warnanya sendiri ketika
terdapat titik akhir titrasi tanpa memerlukan suatu indicator lainnya,
Contohnya KMnO4.
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif terletak pada bentuk, ukuran
dan kadar suatu larutan. Kualitatif menjelaskan tentang keadaan fisik
suatu larutan, misalnya saat perubahan warna larutan, pemanasan larutan,
dan sifatnya yang berhubungan dengan fisik larutan yang terlihat.
Sedangkan kuantitatif lebih menyatakan ukuran dan kadar suatu larutan
misalnya normalitas larutan, ukuran volume larutan yang digunakan dan
kadar atau tingkatan persentase larutan.
Dalam percobaan ini digunakan suatu reagen yaitu H2SO4 .
H2SO4 berfungsi sebagai autakatalisator. Penambahan H2SO4 dalam reaksi ini
bertujuan untuk menghasilkan suatu reaksi yang lebih cepat berlangsung.
Walaupun KMnO4 merupakan oksidator kuat, tapi KMnO4 belum bias digunakan
untuk mengoksidasi asam oksalat. Selain itu H2SO4juga berfungsi untuk
mengsuasanakan asam dalam larutan.
Pemanasan yang dilakukan pada suhu 70C dilakukan agar reaksi dapat
berlangsung dengan baik dan stabil. Jika pemanasan yang dilakukan berada
pada suhu diatas 70C, maka larutan yang dipanaskan akan menguap senyawa
H2C2O4 jika dipanaskan pada suhu diatas 70C asam oksalat akan terurai dan
menguap menjadi CO2 dan air, sehingga titrasi gagal terjadi. Sedangkan
jika dibawah 70C akan terbentuk endapan Mn0 terlebih dulu.
Kalium permanganat (KMnO4 ) dapat menghasilkan warna merah lembayung
jika dilarutkan dalam air, yang merupakn cirri khas untuk ion
permanganate. Kalium permanganat merupakan pengoksidasi kuat, yang bekerja
berlainan menurut PH Medium. Dalam larutan asam ion permanganate direduksi
menurut proses penambahan 5 elektrn, bila bilangan oksidasi Mn berubah
dari +7 ke +2.
MnO4- + 8H+ + 5 Mn2+ + 4H2O ( Suasana asam )
Dalam larutan netral atau sedikit asam permanganat direduksi menjadi
mangan dioksida, bila dalam suatu proses ditambahkan 3, keadaan oksidasi
Mn berubah dari +7 menjadi +4
MnO4- + 3H+ + 3 MnO2 + 2H2O ( Suasana sedikit asam atau netral
)
Dalam larutan basa kuat ( pada pH 13 atau lebih ) permanganat dapat
diredusi menjadi manganat dalam suatu proses satu electron.
MnO4- + MnO4-2 ( suasana basa )
TE / Titik ekivalen adalah titik dimana mol ekivalen titran sama dengan
mol ekivalen titrat sehingga bercampur sempurna. Sedangkan TAT / Titik
akhir titrasi adalah titik dimana itran telah mencukupi ditandai dengan
perubahan warna larutan.
Bilangan oksidasi Mn dalam MnO4-2 adalah +6. Ion MnO4-2 menunjukkan suatu
warna hijau yang khas . Bila permanganat dipanasi dengan basa terjadi
reduksi semacam itu dan tebentuk oksigen.
4MnO4-2 + 4OH- 4MnO4-2 + 2H2O + O2
Sebagai reaksi KMnO4 dan H2C2O4 dalam suasana asam dapat dalam
reaksi ini adalah.
C2O4-2 + MnO4- 2CO2 + Mn2+
Reduksi : MnO4- Mn2+
Oksidasi : C2O4-22CO2
Reduksi : MnO4- + 8H+ = 5e- Mn2+ + 4H2O (x2)
-2
Oksidasi : C2O4 2CO2 + 2e -

(x5)
- + -
Reduksi : 2MnO4 + 16H = 10e 2Mn +8H2O2+

Oksidasi : 5C2O4-
210CO
2 + 10e
-

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

2MnO4 + 16 H + + 5C2O4-2 2Mn2++8H2O + 10CO2


Dalam suatu reaksi reduksi oksidasi, pastinya terjadi reaksi
oksidasi maupun reduksi. Suatu zat yang mengalami reaksi oksidasi
dikatakan zat tersebut sebagai reduktor, dan juga dapat mereduksi zat lain
dalam reaksi redoks. Sedangkan suatu zat yang mengalami reaksi reduksi di
sebut oksidator. Oksidator juga dapat mengoksidsi zat lain dalam reaksi
reoks. Contoh dari reduktor pada percobaan ini adalah H2C2O4dan Vitamin C,
Sedangkan contoh oksidator dalam percobaan ini adalah KMnO4 dan I2.
Reaksi oksidasi reduksi berperan dalam banyak hal dalam kehidupan
sehari-hari. Reaksi reedoks dapat bergua bagi pembakaran bahan bakar
minyak bumi, dan juga dapat digunakan sebagai cairan pemutih yang
digunakan dalam rumah tangga. Selain itu, sebagian unsur logam dan
nonlogam diperoleh dari bijihnya melalui proses oksidasi-reduksi,
contohnya pembentukan kalsium oksida (CaO) dari kalsium dan oksigen.
Faktor kesalahan yang sering terjadi dalam suatu percobaan adalah
kurangnya kepekatan larutan yang dibuat. Contohnya pada larutan vitamin C
yang digunakan kurang pekat sehingga dibutuhkan lebih dari 5 tetes
KMnO4 dan I2 agar tercapai titik akhir titrasnya.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Reagen yang digunakan dalam pecobaan ini seperti H2SO4 yang berfungsi
untuk mempercepat reaksi juga disebut sebagai Autokatalisator
Pada reaksi antara Vitamin C dengan KMnO4 , yang befungsi sebagai reduktor
adalah vitamin C dan oksidatornya KMnO4. Pada percobaan kedua reaksi
vitamin C dengan I2 yang berfungsi sebagai reduktor adalah vitamin C dan
oksidatornya I2. Untuk percobaan ketiga yaitu H2C2O4 dan KMnO4 , yang
berfungsi reduktor adalah H2C2O4 dan oksidatornya KMnO
Pada percobaan yang dilakukan yaitu reaksi antara vitamin C dan KMnO4,
yang befungsi sebagai reduktor adalah Vitamin C dan Oksidatornya KMnO4.
Pada percobaan kedua, Vitamin C berfungsi sebagai reduktor sedangkan
I2sebagai Oksidator.
Percobaaan ketiga antara H2C2O4 dan oksidatonya KMnO4
Penambahan H2SO4 dalam percobaan ini sebagai katalisator.
Untuk mengetahui titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan
warna larutan saat penambahan suatu titran.
5.2 Saran
Pembuatan larutan harus diatur kepekaannya agar tidak terjadi kesalahan
saat larutan dititrasi
Harus cepat dilakukan titrasi saat 70C agar suhu tak turun

DAFTAR PUSTAKA
Brady, James. E. 1987. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jilid 1. Edisi 5.
Binarupa Askara : Jakarta
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep Konsep Inti. Jilid 1. Edisi
3 Erlangga : Jakarta
Pttrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar. Edisi 4 . Jilid
3. Erlangga : Jakarta
S.Sukri . 1990. Kimia Dasar 1. ITB : Bandung
Svehla, G. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif .PT Kaman Media
Pustaka
: Jakarta
Laporan Praktikum Reaksi RedOks
PERCOBAAN II
TITRASI OKSIDASI REDUKSI

A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mempelajari reaksi reduksi oksidasi
2. Menghintung konsentrasi KMnO4
3. Menghitung konsentrasi (COOH)2

B. DASAR TEORI
Dari sejarahnya istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh
suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat.
Kemudian penangkapan hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen disebut
oksidasi.
Contoh reaksi:
2Fe3+ + Sn2+ 2Fe2+ + Sn4+
Melihat contoh reaksi ini dapat ditarik beberapa kesimpulan umum definisi oksidasi dan
reduksi dengan cara berikut :
1. Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam
zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga
yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam
proses itu zat direduksi.
2. Reduksi sebaliknya adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya satu elektron atau
lebih oleh zat (atom,ion, atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah
menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan
elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi,
3. Dari contoh reaksi nampak bahwa oksidasi dan reduksi selalu berlangsung dengan serempak. Ini
sangat jelas, karena elektron (elektron-elektron) yang dilepaskan oleh sebuah zat harus diambil
oleh zat yang lain (svehla 1985).

Titrasi berdasarkan reaksi redoks yaitu perpindahan elektron, disini terdapat unsr-unsur yang
mengalami perubahan tingkat oksidasi. Contoh-contohnya :
5(COOH)2 + 2KMnO4 + 3H2SO4 10CO2 + 8H2O + K2SO4 + 2MnSO4
Ce4+ + Fe2+ Ce3+ + Fe3+
I2 + 2Na2S2O3 2NaI + Na2S2O3
Titrasi berdasarkan reaksi redoks sering dibedakan menjadi :
1. Titrasi iodometri atau iodimetri, yaitu titrasi-titrasi yang menyangkut reaksi larutan iod.
2. Titrasi berdasarkan penggunaan oksidator kuat seperti KMnO4, K2Cr2O7, Ce(SO4)2, atau reduktor
kuat. Kadang-kadang titrasi yang menggunakan KMnO4 sebagai titrant dinamakan juga
permanganometri.
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan cara yang
berbeda-beda, tergantung dari pH larutannya. Kekuatannya sebagai oksidator juga berbeda-beda
sesuai dengan reaksi yang terjadi pada pH yang berbeda itu. Reaksi yang bermacam ragam ini
disebabkan oleh keragaman valensi mangan, dari 1 sampai dengan 7 yang semuanya stabil
kecuali valensi 1 dan 5.
Reduksi MnO2- berlangsung sebagai berikut :
1. Dalam larutan asam, [H+] 0,1 N atau lebih
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O Eo = 1,51 volt
2. Dalam larutan netral, pH 4 10
MnO4- + 4H+ + 3e MnO2 + 2H2O Eo = 1,70 volt
3. Dalam larutan basa, [OH-] 1 N atau lebih
MnO4- + e MnO42- Eo = 0,56 volt
Titrasi dengan KMnO4 kebanyakan dilakukan dengan cara langsung atas analat yang dapat
dioksidasi seperti misalnya Fe2+, asam/garam oksalat yang dapat larut, dan sebagainya (Harjadi
1990).
Kalium permanganat bukanlah suatu standar primer. Zat ini sukar diperoleh sempurna murni
dan bebas sama sekali dari mangan oksida. Lagi pula, air suling yang biasa mungkin
mengandung zat-zat pereduksi (runutan bahan-bahan organik, dan sebagainya), yang akan
bereaksi dengan kalium permanganat itu dengan membentuk mangan dioksida. Adanya zat
tersebut sangantlah mengganggu, karena ia mengkatalisis penguraian sendiri dari larutan
permanganat setelah didiamkan. Penguraian :
4MnO4- + 2H2O 4MnO2 + 3O2 + 4OH-
dikatalis oleh mangan dioksida padat. Permanganat tak stabil dengan adanya ion-ion
Mn2+ (Basset 1994) :
2MnO4- + Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+

C. ALAT DAN BAHAN


A. Alat yang digunakan
1. Buret 50ml

2. Klem dan Statif

4. Corong

5. Erlenmeyer

6. Pipet gondok 10 ml

7. Pipet gondok 25 ml

8. Termometer

9. Hot plate

10. Gelas ukur 25 ml

11. Gelas beaker 50 ml


B. Bahan yang digunakan
1. Larutan KMnO4 0,02 M
2. Larutan (COOH)2 0,05 M
3. Larutan (COOH)2 unknown
4. Larutan H2SO4 3 M
5. Aqudest

D. CARA KERJA
A. Standarisasi Larutan KMnO4
1. Dipipet 10ml larutan (COOH)2 0,05 M ke dalam 3 buah erlenmeyer
2. Ditambahkan 15 ml aquades ke dalam masing-masing erlenmeyer
3. Ditambahkan perlahan-lahan 25 ml larutan H2SO4 3 M
4. Cuplikan dipanaskan sampai suhu 70-80oC, suhu diukur dengan termometer
5. Cuplikan dititrasi dalam keadaan panas dengan KMnO4 0,02 M dalam buret, warna
KMnO4 sebagai indikator

B. Analisis Larutan (COOH)2 unknown


1. Dipipet 10 ml larutan (COOH)2 unknown ke dalam 3 buah erlenmeyer
2. Ditambahkan 15 ml aquades ke dalam masing-masing erlenmeyer
3. Ditambahkan perlahan-lahan 25 ml larutan H2SO4 3 M
4. Cuplikan dipanaskan sampai suhu 70-80oC, suhu diukur dengan termometer
5. Cuplikan dititrasi dalam keadaan panas dengan KMnO4 0,02 M standar dalam buret, warna
KMnO4 sebagai indikator

E. DATA PERCOBAAN
Tabel II.I Data Standarisasi Larutan KMnO4
Sampel (COOH)2 0,05 M KMnO4
Cuplikan 1 10 ml 10,7 ml
Cuplikan 2 10 ml 10,5 ml
Cuplikan 3 10 ml 10,5 ml
Rata Rata Cuplikan 10,56 ml

Tabel II.II Standarisasi Larutan KMnO4


Rata-rata
Molaritas Ratarata
Sampel KMnO4 Molaritas
KmnO4 Berat KMnO4
KmnO4
Cuplikan 1 10,7 ml 0,02 M
Cuplikan 2 10,5 ml 0,02 M 0,02 M 0,0332 gr
Cuplikan 3 10,5 ml 0,02 M
Tabel II.III Data Analisis Larutan (COOH)2 unknown
Sampel (COOH)2 unknown KMnO4
Cuplikan 1 10 ml 10,6 ml
Cuplikan 2 10 ml 10,1 ml
Cuplikan 3 10 ml 10,1 ml
Rata Rata Cuplikan 10,23 ml

Tabel II.IV Analisis Larutan (COOH)2 unknown


Rata-rata
Molaritas Ratarata Berat
Sampel KMnO4 Molaritas
(COOH)2unknown (COOH)2unknown
(COOH)2unknown
Cuplikan
10,6 ml 0,05 M
1
Cuplikan
10,1 ml 0,05 M 0,05 M 0,0460 gr
2
Cuplikan
10,1 ml 0,05 M
3

F. PERHITUNGAN
G. PEMBAHASAN
Praktikum yang telah dilakukan merupakan titrasi reduksi oksidasi atau sering disingkat
menjadi titrasi redoks yang menggunakan metode permanganometri. Prinsip dasar dari titrasi
reduksi oksida ialah mereaksikan sejumlah tertentu zat yang akan dianalisa yang memiliki
bilangan oksidasi dan potensial reduksi tertentu dengan standar bilangan oksidasi dan juga
memiliki harga potensial reduksi tertentu yang memungkinkan untuk bereaksi.
Salah satu percobaan yang dilakukan berdasarkan titrasi reduksi oksidasi ialah standarisasi
larutan baku KMnO4 dengan bahan baku asam oksalat yang sudah diketahui konsentrasinya dan
menentukan konsentrasi (COOH)2 unknown. Hal pertama yang harus dilakukan ialah memipet
10 ml asam oksalat ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan H2SO4 3 M yang memberikan
suasana asam dan dipanaskan diatas hot plate sampai suhu mencapai 70-80oC yang diukur
menggunakan termometer. Seteleh itu dititrasi dengan KMnO4 sampai berubah warna dari
larutan bening menjadi merah muda.
Fungsi penambahan asam sulfat ialah untuk memberikan suasana asam. Untuk mempercepat
reaksi, cuplikan dipanaskan terlebih dahulu sebelum dititrasi. Pemanasan dilakukan pada suhu
sampai sekitar 80oC, tetapi jangan sampai melebihi 80oC karena pada suhu tersebut asam oksalat
akan terurai menjadi H2O + CO + CO2 dan pada suhu kurang dari 80oC reaksi akan berjalan
lambat. Setelah pemanasan larutan asam oksalat yang sudah ditambah H2SO4 langsung dititrasi
dengan KMnO4. Dalam titrasi ini tidak menggunakan indikator tambahan, karena larutan
KMnO4 memiliki warna yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi atau yang lebih dikenal
bersifat autoindikator.
Reaksi yang terjadi ialah :
2KMnO4 + 5(COOH)2+ 3H2SO4 10CO2 + 2KMnO4 + 3 H2SO4 +5H2
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat karena memiliki harga potensial reduksi
yang besar yang berarti KMnO4 sangat mudah direduksi sehingga memiliki daya oksidasi (sifat
oksidator) terhadap zat lain yang menjadi lawannya, dengan reaksi :
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O
Berdasarkan reaksi, kalium permanganat hanya bersifat oksidator kuat dalam suasana asam,
tetapi pada suasana basa daya oksidasi kalium permanganat rendah sehingga harus ditambahkan
H2SO4.
Dalam pembuatannya, larutan kalium permanganat dilarutkan dengan aquades kemudian
dipanaskan diatas penangas air selama 10-15 menit untuk mempercepat oksidasi zat organik
dalam air dan membentuk endapan MnO2. Setelah dingin, larutan disimpan dalam keadaan
tertutup selama semalam untuk kemudian disaring menggunakan kaca masir dan disimpan dalam
botol reagen gelap untuk menghindari penguraian MnO4- menjadi MnO2 kembali yang
disebabkan oleh cahaya.

H. KESIMPULAN
1. Reaksi oksidasi reduksi merupakan sejumlah reaksi dimana keadaan oksidasi berubah yang
disertai dengan pertukaran elektron antara pereaksi.
2. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil konsentrasi larutan KMnO4 dengan
menggunakan bahan baku (COOH)2 yaitu 0,02 M.
3. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan konsentrasi (COOH)2unknown yaitu 0,05 M
dengan menggunakan peniter Larutan KMnO4 0,02 M yang sudah distandarisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. Dkk. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Penerbit PT Gramedia.
Svehla, G. 1985. Vogel : Buku Teks Analisis Anorganik Kulitatif Makro dan Semimakro. Jakarta : PT. Kalman Media
Pusaka.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

Judul : Reaksi Redoks


Tujuan : Melihat reaksi redoks spontan dan tidak spontan.
Tempat,waktu : Laboratorium kimia SMA N 4 Lahat,
Jumat 6 September 2013
Alat dan bahan :

Alat
1. Tabung reaksi 4
2. Rak tabung reaksi 1
3. Ampelas 1
4. Pipet tetes 4
Bahan
1. Larutan ZnSO4 4mL
2. Larutan CuSO4 4mL
3. Larutan HCl 8mL
4. Lempengan seng 2 potong
5. Lempengan tembaga 2 potong

Landasan teori :
Konsep reduksi dan oksidasi (redoks) berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen,
penyerahan dan penerimaan elektron, serta peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi. Reaksi
reduksi-oksidasi merupakan reaksi yang berlangsung pada proses-proses elektrokimia, yaitu
proses kimia yang menghasilkan arus listrik dan proses kimia yang menggunakan arus listrik.
Reaksi redoks adalah gabungan dari reaksi reduksi dan reaksi oksidasi yang
berlangsung bersamaan. Tidak ada peristiwa pelepasan elektron (reaksi oksidasi) tanpa disertai
peristiwa penangkapan elektron (reaksi reduksi). Reaksi redoks dapat berlangsung spontan
maupun tidak spontan.
Reaksi redoks antara logam dan asam berlangsung spontan bergantung pada mudah atau
sukarnya logam itu mengalami oksidasi (kuat ataulemahnya sifatreduktor).Alessandro
Volta melakukan eksperimen dan berhasil menyusun deretkeaktifan logam atau deret potensial
logam yang dikenal dengan deret Volta.
Li K Ba Ca Na Mg Al Nu Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn (H) Cu Ag Hg Pt Au
Semakin ke kiri suatu unsur dalam deret Volta, sifat reduktornya semakin kuat. Artinya,
suatu unsur akan mampu mereduksi ion-ion unsur di sebelah kanannya, tetapi tidak mampu
mereduksi ion-ion dari unsur di sebelah kirinya.

Langkah kerja :
1. Ampelas lempengan seng dan tembaga hingga bersih, kemudian potong secukupnya, masing-
masing 2 potong
2. Siapkan empat tabung reaksi yang bersih dan beri nomor 1 sampai 4, isilah keempat tabung itu
sebagai berikut.
Tabung 1 dengan larutan CuSO4 4mL,
Tabung 2 dengan larutan ZnSO4 4mL,
Tabung 3 dan 4 dengan larutan HCl masing-asing 4 mL.
3. Tambahkan lempeng seng ketabung 1 dan 3, sedangkan lempeng tembaga kedalam tabung 2 dan
4.
4. Catat pengamatan anda.
Hasil :
Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3 Tabung 4
Larutan yang diisikan CuSO4 ZnSO4 HCl HCl
Warna larutan Biru Tidak Tidak Tidak
berwarna berwarna berwarna
Logam yang Zn Cu Zn Cu
ditambahkan
Perubahan setelah Terjadi Tidak terjadi Logam Tidak terjadi
ditambahkan logam penyepuhan perubahan perlahan perubahan
habis

Pembahasan :
Dari tabel hasil pengamatan dapat kita ketahui mana reaksi spontan dan mana bukan
reaksi spontan. Pada percobaan tabung satu dan tabung tiga dapat kita ketahui bahwa reaksi yang
terjadi berupa reaksi spontan.
Berdasarkan teori deret kereaktifan logam yang disusun oleh Alessandro Volta, Zn
berada disebelah kiri dari Cu sehingga Zn lebih reaktif dan sifat reduktornya lebih besar sehingga
dapat mereduksi Cu dan terbentukla endapan Cu pyang terlihat seperti penyepuhan pada
lempengan Zn.
Sedangkan pada tabung dua terdapat lempengan Cu didalam larutan Zn, dimana Cu
berada disebelah kanan dari larutan Zn sehingga Cu kurang reaktif (sifat reduktornya kurang)
dan tidak dapat mereduksi Zn. Berarti reaksi lempengan Cu dan larutan Zn bukan reaksi spontan.
Pada tabung ketiga terdapat lempengan Zn dalam larutan HCl, dimana Zn berada
disebelah kiri dari H, sehingga Zn lebih reaktif dan dapat mereduksi H dan membentuk gas H2,
sedangkan pada tabung keempat terdapat lepengan Cu didalam larutan HCl dimana Cu berada
disebelah kanan H, jadi Cu tidak dapat mereduksi H (tidak terjadi reaksi).
Pertanyaan :
1. Pada tabung manakah terjadi reaksi redoks spontan dan pada tabung yang mana tidak terjadi
reaksi?
Jawab : redoks spontan terjadi pada tabung satu dan tabung tiga. Redoks tidak spontan terjadi pada
tabung dua dan tabung empat.

2. Tuliskan persamaan reaksi setara untuk reaksi yang berlangsung spontan!


Jawab :
Tabung 1
Rx. red : Cu2+ + 2e Cu
Rx oks : Zn Zn2+ + 2e
2+ 2+
Rx satu sel : Cu + Zn Cu + Zn

Tabung 3
Rx red : 2H+ + 2e H2
Rx oks : Zn Zn2+ + 2e
Rx satu sel : 2H+ + Zn H2 + Zn2+

Kesimpulan :
Reaksi redoks antara logam dan asam berlangsung spontan bergantung pada mudah atau
sukarnya logam itu mengalami oksidasi (kuat ataulemahnya sifatreduktor).
Semakin ke kiri suatu unsur dalam deret Volta, sifat reduktornya semakin kuat. Artinya,
suatu unsur akan mampu mereduksi ion-ion unsur di sebelah kanannya, tetapi tidak mampu
mereduksi ion-ion dari unsur di sebelah kirinya.

Diposkan oleh venny heart di 09.07


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Faceb
laporan praktikum kimia reaksi
oksidasi dan reduksi
Sabtu, 26 Oktober 2013

reaksi oksidasi dan reduksi


BAB I

PENDAHULUAN

A. Oksidasi Reduksi

Pengertian oksidasi untuk menyatakan setiap perubahan kimia yang memberikan arti adanya
kenaikan dalam bilangan oksidasi, contoh bila sukrosa (C12H22O11) di bakar menjadi karbon dioksida
maka bilangan oksida karbon berubah dari 0 menjadi +4 sehingga dapat di katakan sukrosa teroksida
dan juga dapat di katakana sukrosa mereduksi, karena oksidasi dan reduksi harus terjadi bersama-sama
dan saling mengimbangi satu sama lain

Zat pengoksidasi di denifisikan sebagai senyawa yang mengoksidasi : yaitu senyawa yang
mengandung atom yang menunjukan suatu penurunan bilangan oksidasi, begitu pula zat pereduksi
didenifisikan sebagai senyawa yang mereduksi : yaitu senyawa yang mengandung atom yang
menunjukan suatu kenaikan bilangan oksidasi

Gula yang menpunyai gugus aldehida atau keton bebas mereduksi ion kupri dalam suasana alkalis
menjadi kuprooksida yang tidak larut dan berwarna merah bata, banyaknya endapan merah bata yang
terbentuk sesuai kadar gula pereduksi dalam suatu sediaan.

Larutan benedict. Merupakan larutan kupri sulfat dengan natrium hidrosida berwarna kebiru-biruan
di mana larutan tersebut terjadi keseimbangan kimia dengan hasil reaksi kupri dihidrosida dan natrium
sulfat. Kupri dihidrosida dalam larutan tersebut tereduksi oleh gula pereduksi menjadi cuprohidroksida
yang mula-mula berwarna kuning dan akhirnya menjadi endapan merah cuprooksida.

CuSO4 + 2 NaOH Cu(OH)2 + Na2SO4

Kebiru-biruan

Gula Pereduksi

2Cu(OH)2 2CuOH + H2O


+O

Pemanasan (diambil oleh gula produk2nya)

Cu2O + H2O

Endapan merah bata


B. Tujuan Praktikum

1. Untuk mempelajari terbentuknya reaksi oksidasi dan reduksi

2. Untuk mengetahui gula secara kualitatif dalam sampel

C. Alat

1. Tabung reaksi

2. Pipet mohr 10 ml

3. Pipet tetes

4. Bunzen / alat pemanas

5. Jepit tabung

D.Bahan

1. Larutan benedict

2. Aquadest

3. Larutan gula

4. Sepritus

E.Prosedur/Cara Kerja

1. Buatlah larutan gula dengan berbagai pengenceran

2. Masing-masing pengenceran masukkan dalam tabung reaksi sebanyak 4 tetes dan 2,5 ml larutan
benedict

3. Panaskan selama 2 menit memakai alat pemanas

4. Dinginkan perlahan-lahan

5. Perhatikan endapan dan warna yang terbentuk

6. Tuliskan hasilnya dalam bentuk table

7. Buat kesimpulan sementara untuk pembuatan laporan lengkap

8. Bersihkan semua alat dan tempat pratikum

9. Simpan alat dan bahan pada tempatnya dengan rapi


10.Semua prosedur dikerjakan dengan tertib

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pelepasan Dan Penggabungan Oksigen

Pada awalnya pengertian Reaksi Oksidasi Reduksi hanya digunakan untuk reaksi reaksi yang
berlangsung dengan adanya perpindahan Oksigen. Sesuai dengan asal katanya Oksidasi berarti
pemberian Oksigen atau Peng-oksigenan. Jadi Reaksi Oksidasi adalah Penggabungan Unsur / Zat
dengan Oksigen

Contoh :

2Cu(s) + O2(g) 2CuO(s)

4Fe(s) + 3O2(g) 2Fe2O3(s)

4Na(s) + O2(g) 2Na2O(s)

C(s) + 3O2(g) 2CO2(s)

4Cl(g) + O2(g) 2Cl2O3(g)

2N2(g) + 5O2(g) 2N2O5(g)

Pada reaksi di atas Oksigen disebut zat pengoksidasi atau Oksidator, sedangkan Cu, Fe, Na, C dan Cl
disebut zat pereduksi atau Reduktor

Reaksi Reduksi adalah reaksi pelepasan Oksigen dari suatu zat atau oksida

Contoh :

2H2O(l) H2(g) + O2(g)

2Cl2O3(g) 4Cl(g) + O2(q)

CuO(s) + H2(g) Cu(s) + H2O(g)

Fe2O3(s) 3CO(g) 2Fe(s) + 3CO2(g)


2MgO(s) 2Mg(s) + O2(g)

Na2O(s) Na(s) + O2(g)

Jadi Reaksi Reduksi adalah kebalikan dari Reaksi Oksidasi

B. Pelepasan Dan Penerimaan Elektron

Reaksi Oksidasi adalah Reaksi yang terjadi karena pelepasan elektron dan

Reaksi Reduksi adalah Reaksi yang terjadi karena penerimaan elektron

Contoh :

a. 2Cu 2Cu2+ + 4e ( Oksidasi )

O2 + 4e 2O2- ( Reduksi ) +

2Cu + O2 2Cu2+ + 2O2- ( Redoks )

b. Cu Cu2+ + 2e ( Oksidasi )

Cl2 + 2e 2Cl- ( Reduksi ) +

Cu + Cl2 Cu2+ + 2Cl- ( Redoks )

c. 2Fe2+ 2Fe3+ + 2e ( Oksidasi )

Cu2+ + 2e Cu ( Reduksi ) +

2Fe2+ + Cu2+ 2Fe3+ + Cu ( Redoks )

d. Mg Mg2+ + 2e ( Oksidasi )

2Cl + 2e 2Cl- ( Reduksi ) +

Mg + 2Cl Mg2+ +2Cl- ( Redoks )

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa reaksi Oksidasi selalu disertai dengan reaksi
Reduksi. Bila suatu zat melepaskan elektron maka zat lain akan menerima elektron itu.

Zat yang mengakibatkan zat lain mengalami oksidasi atau zat yang cenderung menerima elektron
dari zat lain disebut Oksidator, misalnya : Cl2, O2, Br2, I2 dan lain-lain sebaliknya zat yang mengakibatkan
zat lain mengakibatkan zat lain mengalami reduksi atau zat yang cenderung melepaskan elektron
disebutReduktor, misalnya : Na, K, Fe, Ca, Mg dan lain-lain
C. Peningkatan Dan Penurunan Bilangan Oksidasi

Untuk reaksi : H2(g) + Cl2(g) 2HCl(g), kita tidak dapat mengatakan bahwa pada reaksi ini terjadi
perpindahan elektron dari H2 ke Cl2 karena perbedaan keelektronegatifan kedua unsur ini sangat kecil.
Untuk reaksi ini lebih tepat dikatakan terjadi pergeseran elektron dari atom H mendekati atom Cl.

Bilangan Oksidasi atau Tingkat Oksidasi suatu unsur adalah bilangan yang menunjukkan muatan
unsur yang disumbangkannya pada pembentukan molekul ataupun ion.

Secara umum, untuk dua jenis atom yang berikatan ionik maupun kovalen : Atom unsur yang
keelektronegatifannya lebih besar akan memiliki Bilangan Oksidasi Positif dan unsur yang
keelektronegatifannya lebih kecil akan memilikiBilangan Oksidasi Negatif

Beberapa aturan yang telah disepakati untuk menentukan Bilangan Oksidasi adalah sebagai berikut :

1. Bilangan Oksidasi Unsur-unsur dalam keadaan bebas (Unsur-unsur yang belum berikatan dengan unsur
lain) adalah nol

2. Bilangan Oksidasi Unsur H dalam senyawanya adalah +1, kecuali dalam senyawa Hidrida
Logam (senyawa yang terbentuk dari unsur logam dengan unsur H misalnya : KH, NaH, CaH2, dan BaH2 ),
bilangan oksidasi H dalam senyawa ini sama dengan -1

3. Bilangan Oksidasi O dalam senyawanya adalah -2, kecuali dalam senyawa Peroksida (senyawa yang
mengikat atom O berlebih misalnya : H2O2, Na2O2 ) Bilangan Oksidasi O dalam senyawa ini sama
dengan -1 dan Bilangan Oksidasi O dalam senyawa OF2 sama dengan +2

4. Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan IA (Unsur-unsur Alkali ) dalam senyawanya adalah +1 Dan
Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan IIA (Unsur-unsur Alkali Tanah ) dalam senyawanya adalah +2

5. Pada ion Poliatom ( ion yang dibentuk oleh dua jenis unsur atau lebih ), jumlah aljabar bilangan oksidasi
unsur-unsur pembentuknya adalah sama dengan muatan ionnya

6. Pada senyawa Netral (senyawa yang tidak bermuatan), jumlah aljabar bilangan Oksidasi unsur-unsur
pembentuknya adalah sama dengan nol

7. Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan VIIA (Unsur-unsur Halogen) dalam senyawa Biner (senyaw yang
terdiri dari dua jenis unsur) adalah sama dengan -1

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas,saya dapat menyimpulkan bahwa Reaksi Oksidasi adalah
Penggabungan Unsur / Zat dengan Oksigen.Dan juga Reaksi Oksidasi adalah Reaksi yang terjadi karena
pelepasan elektron dan Reaksi Reduksi adalah Reaksi yang terjadi karena penerimaan elektron.

Dan dalam praktikum yang dilakukan,saya mendapatkan hasil Hijau/hijau kekuningan pada
larutan pertama,Biru/hijau keruh pada larutan kedua dan pada larutan keempat, dan Kuning/kehijauan
kuning pada larutan ketiga.Larutan gula pada tabung ketiga yang mempunyai warna kuning
kehijauan/kuning memiliki konsentrasi lebih besar dibandingkan dengan larutan tabung lainnya.Jadi
dapat disimpulkan bahwa larutan benedict merupakan larutan kupri sulfat dengan natrium hidroksida
berwarna kebiru-biruan dimana larutan tersebut terjadi keseimbangan kimia dengan hasil reaksi kupri
dihidroksida dalam larutan tersebut tereduksi oleh gula pereduksi menjadi cuprohidroksida yang mula-
mula berwarna kuning dan akhirnya menjadi endapan warna merah cuprooksida.

B.Saran

Saran saya sebagai penulis bahwa ketika kita akan melakukan suatu Praktek kimia kita harus
mengetahui apa tujuan dan manfaat Redoks dalam kehidupan kita.Agar dalam praktek kita tidak
mengalami kesulitan. Dan dalam melakukan praktikum kimia kita harus berhati-hati dengan alat-alat dan
bahan agar tidak ada yang celaka.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep Konsep Inti. Jilid 1. Edisi 3 Erlangga : Jakarta.

http://www.slideshare.net/kimiaunib/reaksi-redoks

Syukri, S., Kimia Dasar 1, Penerbit ITB, Bandung, 1999

Syukri, S., Kimia Dasar 2, Penerbit ITB, Bandung, 1999

http://reaksioksidasidanreduksi.blogspot.com/
PERCOBAAN VI
Judul Praktikum : Reaksi-reaksi Kimia dan Reaksi Redoks
Tujuan Praktikum : Mempelajari jenis reaksi kimia secara sistematis
Mengamati tanda-tandaterjadinya reaksi

Menulis persamaan reaksi dengan benar


Menyelesaikan reaksi redoks dari setiap percobaan
Pertanyaan Prapraktek
1. Berikan definisi dari istilah berikut;Katalis,Deret elektromatif,Reaksi eksotermik,Endapan,Produk dan Pereaksi !
Katalis adalah zat yang dapat mempercepat terjadinya suatu reaksi dengan menurunkan energ aktivitasi.
Deret elektromatif ialah suatu deret yang menyatakan susunan unsur-unsur berdasarkan kemampuan mereduksi
dari yang paling kuat ke yang pling lemah.
Reaksi eksotermik merupakan reaksi dimana sistem melepaskan kalor keluar (lingkungan).
Endapan adalah timbunan atau sisa yang berupa hasil dari percampuran suatu zat atau bagian dari suatu zat yang
tidak dapat larut lagi.
Produk ialah hasil dari reaksi kimia atau suatu unsur yang didapatkan dari percampuran zat kimia.
Pereaksi merupakan penghasil dari reaksi kimia atau suatu unsur yang menyebabkan terjadinya reaksi yang akan
menghasilkan produk.

2. Terangkan arti dari lambang berikut; , WR, (s), (l), (g), dan (aq).
melambangkan bahwa telah terjadinya perubahan dalam suatu satuan.
WR melambangkan
(s) melambangkan suatu zat dalam bentuk solid (padat).
(l) melambangkan suatu zat dalam bentuk liquid (cair).
(g) melambangkan suatu zat dalam bentuk gas (gas).
(aq) melambangkan suatu zat dalam bentuk aqua (larutan).

3. Berapa kira-kira volume dalam tabung reaksi yang berisi sepersepuluh bagian

4. Apakah warna indkator PP dalam larutan asam


Tidak Berwrna atau Bening.

5. Hitung massa atom Cu dari data berikut:


Bobot cawan penguap + Logam M yang tidak diketahui = 45,82 g
Bobot cawan penguap = 45,36 g
Bobot cawan penguap + Logam Cu = 45,78 g

6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Oksidasi dan Reduksi


Oksidasi merupakan peristiwa pelepasan elektron mengakibatkan BO bertambah.
Reduksi merupakan peristiwa penangkapan elektron mengakibatkan BO berkurang.

7. Jelaskan apa yang dimaksud dengn Oksidator dan Reduktor


Oksidator merupakan zat yang mengalami Reduksi.
Reduktor merupakan zat yang mengalami Oksidasi.

Landasan Teori
Reaksi Redoks merupakan reaksi dimana terdapat perubahan bilangan oksidasi,valensi atau muatan. Dalam
reaksi redoks selalu terdapat unsur yang tepat unsur yang teroksidasi bersama-sama dengan unsur yang tereduksi
sebab reaksi redoks terjadi karena perpindahan elektron. Reduktor melepaskan elektron sedangkan oksidator
menangkap atau menerima elektron.unsur yang teroksidasi naik BO-nya, sedagkan unsur yang tereduksi turun BO-
nya atau yang sering disebut muatan positifnya.
Reduktor : Unsur yang mereduksi
Unsur yang melepaskan elektron
Unsur yang naik BO-nya
Unsur yang naik muatan positifnya
Oksidator : Unsur yang dioksidasi
Unsur yang menerima elektron
Unsur yang turun BO-nya
Unsur yang turun muatan positifnya
Mengenali reaksi Redoks:
Ada unsur bebas yang terlihat (terdapat sebagai pereaksi atau hasil) sebab muatan dan BO-nya sama dengan 0,
dan senyawa tidak 0 tapi positif atau negatif. Unsur bebas dalam reaksi terjadi dari senyawa atau berubah
menjadi senyawa hingga terjadi perubahan.
Ada unsur yang diketahui dapat berubah nilai valensi atau BO, ini membutuhkan pengetahuan tentang valensi atau
BO unsur-unsur.
(Harjadi.1993:36-37)

(Pharing.2003:30-31) Menyatakan bahwa melalui persamaan reaksi setara dapat kita lakukan perhitungan jumlah
partikel zat reaktan dan zat hasil reaksi. persamaan reaksi setara adalah persamaan reaksi yang atom-atom
jenisnya jumlahnya sama pada ruas kiri dan kanan. Peramaan reaksi dapat disertakan dengan cara mengatur angka
didepan reaktan (koefisien) dan hasil reaksi.
Langkah-langkah penyertaan reaksi (Pharing.2003:30-31) :
Tulis persamaan reaksi yang belum setara
Tetapkan koefisien zat yang lebih rumit, ialah zat yang umumnya lebih banyak
Aturlah besarnya koefisien reaktan dan hasil reaksi agar reaksi setara
Jika diinginkan, maka kalikanlah dengan bilangan bulat terkecil hingga menghilangkan koefisien yang berbentuk
pecahan.

Reaksi penetralan merupakan reaksi antara asam dan basa. Reaksi asam basa dalam medium air biasanya
menghasilkan air dan garam yang merupakan senyawa ionik yang terbentuk dari suatu kation selain H + dan anion
OH- dan juga O2.
Asam + basa garam + air
semua garam merupakan elektrolit kuat
contoh :
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(s) + H2O(l)
jika kita lihat reaksi diatas dengan jumlah mol dari asam basa yang sama, pada akhir reaksi hanya akan
menghasilkan garam dan tidak ada asam basa yang tersisa. ini merupakan ciri-ciri dari penetralan asam basa
(Chang.Rayrion.2004:99).

Ada lima jenis reaksi kimia biasa. jenis pertama ialah sintesis atau jenis senyawa dari 2 zat atau lebih. jenis ini
dinamakanRreaksi Penggabungan.
A + Z AZ
Jenis kedua disebut Reaksi Penguraian, yaitu terpecahnya suatu senyawa menjadi 2 zat atau lebih, biasanya
dengan penambahan kalor.
AZ A + Z
jenis rekasi ketiga, dinamakan Reaksi Penggantian, disini satu unsur menggantikan unsur lain dalam senyawa.
unsur yang digantikan adalah yang letaknya lebih bawah dalam deret elektromotif (deret elektromotif: Li, K, Ba,
Ca, Na, Mg, Al, Zn, Fe, Cd, Ni, Sn, Pb, H, Cu, Hg, Ag, Au).
A + BZ AZ + B
jenis reaksi keempat dinamakan Penggantian Rangkap, dua zat dalam larutan bertukar pasang, artinya anion dari
salah satu zat bertukar dengan senyawa anion lain.
X + BZ AZ + BX
Jenis reaksi kelima ialah Reaksi Netralisasi, asam dan basa bereaksi membentuk garam dan air.
HX + BOH BX + HOH
reaksi netralisasi sesungguhnya merupakan jenis khusus dari reaksi penggantian rangkap dengan satu kation
hidrogen dan satu anion hidroksida. hidrogen dalam asam menetralkan hidroksida dalam basa untuk membentuk
air. jika rumus air ditulis sebagai HOH, persamaan reaksi lebih mudah diimbangkan. disamping kelima reaksi itu
perlu pula di kaji reaksi oksiodasi reduksi (redoks). banyak logam reaksi dengan asam membentuk garam dari
logam tersebut dan gas hidrogen. beberapa logam tak aktif dapat bereaksi dengan asam nitrat (HNO 3). yang terjadi
bukan gas hidrogen melainkan oksidasi dari nitrogen (Epinur, dkk. 2012: 47-48).

Sunarya, Yayan (2012: 248-253) menyatakan bahwa :


reaksi-reaksi kimia terdiri dari reaksi reduksi oksidasi (redoks)
pada bagian ini akan dibahas terminologi yang digunakan untuk menjelaskan reaksi reduksi oksidasi (redoks)
kemudian jenis-jenis reaksi redoks.
Terminologi
ketika besi dicelupkan kedalam larutan tembaga (II) sulfat yang berwarna biru, besi menjadi terlapisi oleh logam
tembaga yang warnanya kemerah-merahan. persamaan elemennya :
Fe + CuSO4 FeSO4 + Cu
persamaan ion brsihnya adalah :
Fe0+ + Cu2+ Fe2+ + Cu
Reaksi disproporsionasi
merupakan reaksi dimana pereaksi mengalami oksidasi dan juga reduksi, dengan kata lain reduktor dan
oksidatornya adalah senyawa yang sama.
contoh reaksi dalam larutan air
+1 0 +2
2Cu+(aq) Cu(s) + Cu2+(aq)
Reaksi redoks dalam anion
tidak semua reaksi redoks sesederhana reaksi yang bukan redoks. misalkan pada uji standar bromin dalam larutan
air. sejumlah kecil arutan yang diduga mengandung ion bromida diolah dengan KMnO 4 dalam suasana asam. jika
terdapat ion bromida akan dihasilakan Br2. Keberadaan Br2 dapat dideteksi, sebab Br2 larut dalam cairan tertentu
yang tiodak larutdalam air mengahasilkan lapisan berwarna ungu. persamaan reaksi :
10Br-(aq) + 2MnO-4(aq) + 16H+(aq) 5Br2(aq) + 2Mn22+(aq) + 8H2O(l)

Alat dan Bahan


Alat: Bahan:
Tabung reaksi Mg dan kristal CuSO4 .5H2O
Pipet tetes Larutan AgNO3 0,01 m
Bunsen Larutan HCl 0,1 m
Sudip Larutan Hg(NO3)2 0,1 m
Krus Larutan Al(NO3)3 0,1 m danCuSO4 0,5 m
Serbuk Cu 0,1 g Larutan NaPO4 0,1 m
Larutan HNO2 0,1 m
Larutan H2SO4 0,1 m
Larutan H3PO 0,1 m
Larutan NaOH 0,1 m
Larutan KMnO4 0,1 m
Larutan Na2C2O4 0,1 m
Larutan NaHSO3 0,1 m
Larutan Zn dan Cu
Larutan ZnSO4 0,5 m
Larutan Pb(NO3)2 0,5 m
Larutan NaNO3 0,1 m
Larutan H2O2 0,1
m KI 0,1 m dan FeCl 0,1 m
Serbuk Cu 0,1 g
Indikator PP
Logam Zn dan Cu

Prosedur Kerja
A. Reaksi Penggabungan
Mg seujung sudip
dimasukkan kedalam krus
dibakar pada bunsen
diamatidan dicatat hasil
Hasil
B. Reaksi Penguraian
Kristal CuSO4 .5H2O
dimasukkan seujung sudip kedalam
Tabung reaksi
dipanaskan
Bunsen
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil
C. Reaksi Penggantian Tunggal
Tabung reaksi
diisi dengan 1 ml AgNO3
Larutan AgNO3
dimasukkan 0,1 gr Cu
dikocok
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil

Tabung reaksi
diisi dengan
Larutan HCl 0,1 m
ditambah dengan
Serbuk Mg
diamati
dicatat hasil pengamatan
Hasil

D. Reaksi Penggantian Rangkap


Tabung reaksi
I,II, dan III
masing-masing tabung dimasukkan
Larutan AgNO3 0,01 m
Larutan Hg(NO3)2 0,1 m
Larutan Al(NO3)3 0,1 m
ditambahkan 1 ml KI 0,1 m kedalam masing-masing tabung
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil

Tabung reaksi
IV, V dab VI
ditambahkan kedalam masing-masing tabung 1 ml
Larutan AgNO3 0,01 m
Larutan Hg(NO3)2 0,1 m
Larutan Al(NO3)3 0,1 m
ditambahkan kedalam masing-masing tabung reaksi
Larutan NaPO4 0,1 m
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil
E. Reaksi Netralisasi
Tabung reaksi
VII, VIII dan IX
diisi dengan
1 ml HNO3 0,1 m
1ml H2SO4 0,1 m
1 ml H3PO4 0,1 m
ditambahkan kedalam masing-masing tabung 1 tetes
Indikator PP
diamati dan dicatat hasil pengamatan
kemudian ditetesi dengan
Larutan NaOH 0,1 m
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil

F. Reaksi Redoks
Tabung reaksi X
diisi dengan 0,5 ml
H2SO4 6 m
KMnO4 0,1 m
kemudian ditetesi dengan Na2C2O4 0,1 m, hingga terjadi perubahan warna
Tabung reaksi XI
diisi dengan, sambil diaduk/dikocok
NaHSO3 0,1 m
NaOH 0,1 m
ditetesi dengan
KMnO4 0,1 m
diamati, hingga terjadi perubahan warna
dicatat hasil pengamatan, dan juga jumlah tetes KMnO4 yang digunakan
Tabung reaksi XII
ditetesi dengan
1 ml HCl 6 m
ditambahkan
1 g KMnO4
dipanaskan dalam lemari asam
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil

G. Beberpa Reaksi Redoks


1.
2 ml CuSO4 0,5 m
dimasukkan kedalam
Tabung reaksi
ditambahkan
Logam Zn
dibiarkan beberapa detik sambil amati apa yang terjadi
dicatat hasil pengamatan
2 ml ZnSO4
dimasukkan kedalam
Tabung reaksi
ditambahkan
Logam Cu
dibiarkan beberapa detik sambil amati apa yang terjadi
dicatat hasil pengamatan
Hasil

2.
Pb(NO3)2 0,5 m
NaNO3 0,1 m
ditambahkan sedikit
Serbuk Logam Mg
dicatat urutan logam sesuai kereaktifannya
ditulis persamaan reaksinya

dijaga tabung reaksi agar tidak goyang

3.
Tabung reaksi
dimasukkan
5 tetes H2O2 0,1 m
ditambahkan
5 tetes H2SO4 1 m
10 tetes KI 0,1 m
ditambahkan
Larutan Kanji
dicatat hasil pengamatan

4.
FeCl3 0,1 m
dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan
10 tetes H2SO4 1 m
10 tetes KI 0,1 m
dipanaskan selama 2 menit
ditambah dengan 1 tetes
Larutan Kanji
diamati dan dicatat hasil pengamatan
Hasil

Hasil Pengamatan
Persamaan Reaksi Bukti Terjadinya Reaksi
A. Reaksi Penggabungan
Timbulnya Asap putih (O2) dan berbau.
Mg+ O MgO

B. Reaksi Penguraian
Terdapat uap air pada tabung reaksi dan warna
CuSO4 . 5H2O CuSO4 + 5H2O biru menjadi putih.
C. Reaksi Penggantian Tunggal
Cu (s) + AgNO3 (s) Cu (NO3)2 (s) + Terdapat dua lapisan (coklat bening) dan
Ag gumpalan berwarna hitam.
Mg + 2HCl MgCl + H2 .
Perubahan warna, perubahan suhu, berbuih atau
timbulnya gelembung gasdan terbentuk endapan.
D. Reaksi Penggantian Rangkap
AgNO3 + KI AgI + K NO3 Terjadi perubahan warna
Hg (NO3)2 + KI HgI + K NO3 Terjadi perubahan warna dan terdapat endapan
Al(NO3) + KI TR
Tidak bereaksi
AgNO3 + Na3PO4 Ag PO4 + Na
NO3 Perubahan warna dari bening menjadi keruh

Hg(NO3)3 + Na3PO4 Hg3 PO4 + Adanya endapan dan terjadi perubahan warna
3NaNO3

Al(NO3)3 + Na3PO4 Al3 PO4 + Perubahan warna dari bening menjadi putih susu
3NaNO3

E. Reaksi Netralisasi
HNO3 + NaOH NaNO3 + H2O Perubahan warna dari bening menjadi ungu (50
tetes)
H2SO4 + NaOH NaSO4 + H2O
Perubahan warna dari bening menjadi ungu (20
HCl + NaOH NaCl + H2O tetes)

Perubahan warna dari bening menjadi ungu (50


tetes)

F. Reaksi Redoks

Na2C2O4 + KMnO4 + MnO(aq) + Perubahan warna dari ungu menjadi coklat


Na2CO3(aq)+ H2O(g)

C2O42- + MnO4 - Mn2+ + CO2

NaHSO4 + KMnO4 - Perubahan warna (atas: coklat kehitaman, bawah:


kuning)
MnO4- + HSO3- MnO42- + SO42-

HCl + KMnO4 KCl + Cl2 + MnO + Adanya gelembung gas terjadi, perubahan suhu
H2O
dan mendidih

G. Beberpa Reaksi Redoks


No Percobaan Pengamatan Reaksi
1. CuSO4 + Logam Zn Terjadinya perubahan suhu menjadi panas
Serbuk Cu mengendap karena Zn menggumpal
Zn SO4 + Logam Cu
Terbentuk endapan
Serbuk Mg + Pb(NO3)2 Reaksi penggantian tunggal
Terbentuk endapan Mg
2. Serbuk Mg + Pb(NO3)2 Suhu menjadi panas
Mg menggumpal dan terdapat gelembung-
Serbuk Mg + Na(NO3)2
gelembung gas
Terdapat gelembung gas
Mg bersatu denga NaNO3 warna menjadi
bening
3. H2O2 + H2SO4 + KI + Kanji Warna berubah dari coklat menjadi kehitaman
Terbentuk endapan dan terjadi perubahan suhu
4. FeCl + H2SO4 + KI + Kanji Terjadi perubahan warna dari kuning menjadi
bening
Tidak terbentuk endapan maupun gelembung
gas
Terdapat asap ungu saat dipanaskan
Warna kuning memudar pada saat pemanasan

Pembahasan
A. Reaksi Penggabungan
Reaksi Penggabungan atau yang seriing juga disebut dengan sintesis merupakan suatu reaksi dimana suatu unsur
atau senyawa tergabung dengan O2 membentuk senyawa yang mengandung Oksigen sederhana.
Mg+ O MgO
Tanda-tanda terjadinya reaksi ialah dengan adanya asap putih (O2) dan timbul bau. Semua logam alkali tanah
terkorosi terus-menerus diudara membentuk Oksigen, Oksida, Hidrokarbon/karbonat. Apabila semua logan alkali
tanah dipanaskan.

B. Reaksi Penguraian
Reaksi Penguraian merupakan reaksi dimana suatu zat dipecahkan menjadi zat-zat sederhana.
CuSO4 . 5H2O CuSO4 + 5H2O
Tanda-tanda terjadinya reaksi ialah dengan terjadinya perubahan
warna dari hasil Kristal putih, perubahan suhu,dengan adanya Uap Air dan gelembung Gas.
C. Reaksi Penggantian Tunggal
Reaksi Penggantian Tunggal yaitu suatu reaksi dimana unsur memindahkan unsur lain dari suatu senyawa. Pada
Percobaan ini senyawa AgNO3dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan Cu lalu dikocok.
Selanjutnya larutan HCl dimasukkan kedalam tabung reaksi lain dan ditambahkan dengan serbuk Mg.
Cu (s) + AgNO3 (s) Cu (NO3)2 (s) + Ag
Tanda-tanda terjadinya reaksi ialah dengan menghaslkan endapan Cu.
Mg + 2HCl MgCl + H2 .
Terjadinya Perubahan warna, menghasilkan Endapan serta Gelembung dari H2 .

D. Reaksi Penggantian Rangkap

1. AgNO3 + KI Ag I + K NO3
Hasil dari reaksi ini ialah terjadinya perubahan warna dari Bening Kuning keruh/Krem. Hal inimenyatakan
bahwa AgNO3 telah bereksi dengan KI.
2. Hg (NO3)2 + KI HgI + K NO3
Ketika dua senyawa ini digabungkan atau dicampur, reaksi yang dihasilkan ialah terjadinya perubahan warna dari
Bening Orange, dan terbentuk pula endapan yang menandakan terjadinya perubahan yang semakinmembuktikan
bahwa reaksi benar-benar terjadi.
3. Al(NO3) + KI TR
Pada percobaan ini tidak terjadi perubahan warna, bau, maupun bentuk yang menandakan terjadinya reaksi dan
endapan pun tidak ditemukan dalam prosedur yang kami lakukan. Hingga kesimpulannya bahwa percobaanini
tidakmenghasilkan apa-apa.
4. AgNO3 + Na3PO4 Ag PO4 + Na NO3
Hasil dari percobaan ini adalah terjadinya perubahan warna dari Bening Keruh.
5. Hg(NO3)3 + Na3PO4 Hg3 PO4 + 3NaNO3
Tanda-tanda terjadinya reaksi pada percobaan ini adalah timbulnya gelembung gas, adanya endapan dan juga
perubahan warna dari Bening Kuning.
6. Al(NO3)3 + Na3PO4 Al3 PO4 + 3NaNO3
Hasil percampuran dari dua senyawa ini ialah terjadinya perubahan warna dari Bening Putih susu namun tidak
terbentuk endapan.

E. Reaksi Netralisasi
1. HNO3 + NaOH NaNO3 + H2O
Percobaan ini merupakan reaksi titrasi asam oleh basa. HNO3 dimasukkan sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi.
Larutan HNO3ditetesi dengan 1tetes Indikator PP (fenoftalin). Kemudian larutan HNO 3 tersebut ditetesi dengan
NaOH hinggawarnanya berubah menjadi Ungu. Jumlah tetesan NaOH adalah 50 tetes.
2. H2SO4 + NaOH NaSO4 + H2O
1 ml H2SO4 dimasukkan kedalam tabung reaksi. Setelah itu, ditetesi dengan 1tetes Indikator PP (fenoftalin).
Untuk mengubah warna HCl manjadi Ungu.
3. HCl + NaOH NaCl + H2O
HCl dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 1ml,kemudian ditetesi dengan Indikator PP (fenoftalin) untuk
mengubah warnanya menjadi Ungu dibutuhkan sebanyak 50 tetes NaOH.
F. Reaksi Redoks
yaitu reaksi kimia yang disertai dengan perubahan Bilangan Oksidasi/Biloks(BO).
1. Na2C2O4 + KMnO4 + MnO(aq) + Na2CO3(aq) + H2O(g)
Langkah pertama yang harus dilakukan pada percobaan ini ialah dimasukkan Larutan H2SO4 dan KMnO4 masing-
masing sebanyak 0,5 ml kedalam tabung reaksi. Hasil yang didapatkan yaitu terjadinya perubahan suhu (Eksoterm)
dan warna menjadi Ungu muda. Kemudian larutan ditetesi dengan larutan Na2C2O4 sebanyak 20 tetes maka warna
berubah menjadi Cokelat.
C2O42- + MnO4 - Mn2+ + CO2

2. NaHSO4 + KMnO4 -
3 ml larutan NaHSO4 ditambahkan dengan 1 ml NaOH sambil dikocok, kemudian ditetesi dengan KMnO4 0,1 m.
Larutan mengalami perubahan suhu (Eksoterm), tapi warna nya berubah menjadi bagian diatas Cokelat kehitam-
hitaman dan bawah Kuning.
MnO4- + HSO3- MnO42- + SO42-

3. HCl + KMnO4 KCl + Cl2 + MnO + H2O


1ml HCl ditambahkan dengan kurang-lebih 1 g kristal KMnO4. Terjadiperubahan warna dari Bening hitam pekat
kemudian mengendap, saat dipanaskan warnanya berubah menjadi ke Abu-abuan. Setelah dipanaskan lagi warna
kembali menjadi Hitam pekat.
G. Beberpa Reaksi Redoks
1. CuSO4 + Zn Zn SO4 + Cu
CuSO4 sebanyak 2 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan sepotong logan Zn. Yang
dihasilkan ialah larutan menjadi Eksoterm, adanya endapan, dan mengalami perubahan warna dari biru muda
menjadi biru tua
Zn SO4 + Cu
Logam Cu dimasukkan kedalam larutan Zn SO4.Yang dihasilkan ialah adanya endapan berwarna Cokelat tapi tidak
terjadi perubahan warna pada larutan.
2. Serbuk Mg + Pb(NO3)2
Serbuk logam Mg dimasukkan kedalam larutan 1 ml Pb(NO3). Yang dihasilkan ialah adanya endapan dan warna
beerubah dari Bening menjadi Keruh.
Mg + Na(NO3)2
Setelah serbuk logam Mg dimasukkan kedalam larutan NaNO3 yang terjadi ialah teerbentuknya endapandan
perubahan warna menjadi Bening.
3. H2O2 + H2SO4 + KI + Kanji 2H2O(aq) + I2(q) + K2SO4(aq)
Tanda-tanda terjadinya reaksi yaitu warna berubah dari cokelat menjadi keHitam-hitaman setelah dimasukkan
atauditambah dengan kanji.
4. FeCl + H2SO4 + KI + Kanji 2FeCl(aq) + K2SO4(aq) +6HCl(q)+ I2(q)
Tanda-tanda terjadinya reaksi yaitu ketika dipanaskan timbil asap berwarna ungu dan warna kuning berubah
memudar secara perlahan dan adanya penguapan yang dihasilkan dari pembakaran.

Diskusi
A. Reaksi Penggabungan
yaitu suatu reaksi dimana unsur / senyawa tergabung dari oksigen dengan membentuk senyaw yang mengandung
oksigen sederana.
A+Z AZ
Pada percobaan ini direaksikan Mg dengan O2 yaitu :
Mg+ O MgO
menghasilkan Asap putih yang merupakan O2 dan berbau.

B. Reaksi Penguraian
yaitu suatu reaksi dimana unsur / senyawa yang diuraikan menjadi lebih sederhana lagi.
AZ A+Z
Pada percobaan ini diamati penguraian dengan menggunakan CuSO4 . 5H2O yaitu :
CuSO4 . 5H2O CuSO4 + 5H2O
menghasilkan Kristal putih,serta Uap Air dan gelembung Gas.

C. Reaksi penggantia Tungggal


yaitu suatu reaksi dimana unsur memindahkan unsur lain dari suatu senyawa.
A + BZ AZ + B
Cu (s) + AgNO3 (s) Cu (NO3)2 (s) + Ag

Pada percobaan ini diamati penguraian tunggal dengan menggunakan Cu (s) + AgNO3 (s) yaitu :
Mg + 2HCl MgCl + H2 .
menghasilkan Endapan serta Gelembung dari H2 .

D. Reaksi Penggantian Rangkap


yaitu suatu reaksi dimana terdapat dua unsur yang mengalami pemindahkan dari suatu senyawa.
AX + BZ AZ + BX
Pada percobaan ini diamati Penggantian Rangkap ini, yaitu :
a. AgNO3 + KI AgI + K NO3
b. Al(NO3) + KI TR
c. AgNO3 + Na3PO4 Ag PO4 + Na NO3
d. Al(NO3)3 + Na3PO4 Al3 PO4 + Na NO3
dengan reaksi yang ditandai dengan adanya:
a. Terbentuk endapan AgI dan terjadi perubahan warna.
b. TR.
c. Terjadi perubahan warna dan terbentuknya endapan Ag3PO4 yang berwarna kuning.
d. Terjadi perubahan warna dan terbentuknya endapan Al3PO4 yang berwarna putih susu.

E. Reaksi Netralisasi
yaitu suatu reaksi Penetralan antara asam dan basa yang menghasilkan garam dan juga air.
HX + BOH BX + HOH
pada percobaan ini digunakan:
1) HNO3 + NaOH NaNO3 + H2O
2) H2SO4 + NaOH NaSO4 + H2O
3) HCl + NaOH NaCl + H2O
Terjadi perubahan warna keungu-unguan (pada 1, 2, dan 3) da ketiga-tiganyanya menghasilkan perubahan
suhu/temperatur.

F. ReaksiRedoks
yaitu reaksi kimia yang disertai dengan perubahan Bilangan Oksidasi/Biloks(BO).
Bukti terjadinya reaksi yang ditandai oleh:
terjadi perubahan warna dari ungu cokelat.
terjadi perubahan warna atas = cokelat kehitaman, bawah = kuning.
terjadi perubahan warna dari hitam pekat hitam pudar, serta timbul gas H2, dan terbentuk endapan hitam.
G. Beberapa Reaksi Redoks
1. a. terjadi perubahan warna dari biru hitam, adanya endapan Cu dan suhu meningkat dengan ditandai terasa
panas.
b. TR
c.TR
2. a. seharusnya bereaksi
b.TR.
3. terjadi perubahan warna dari kuning cokelat setelah ditetesi kanji.
4. ketika dipanaskan warna yang tadinya hitam pekat menjad memudar, dan ada gas yang berwarna ungu.

PERTANYAAN PASCAPRAKTEK
1.Identifikasikanlah zat-zat berikut ini. Lihat kembali hasil pengamatan anda
a) Asap putih (A.1) Gas O2

b) Cairan tidak berwarna (B1) Indikator PP

c) Gas yang dapat memadamkan api (B.2) CO2

d) Padatan kelabu C.1) Endapan Ag

e) Gas tak berwarna (c.2) Gas H2

f) Endapan jingga (D.2) PbI2

g) Endapan kuning (D.4) Ag3PO4

h) Yang mengubah warna indicator (E.1) NaOH

2.Persamaan reaksi
a) Tembaga logam + Oksigen Tembaga (II) Oksida

Cu + O2 CuO
b) Merkuri (II) Nitrat + Kalium bromide Merkuri (I) Bromida + Kalium Nitrat

Hg(NO3)2 + 2KBrHgBr2 + 2KNO3


3.Persamaan reaksi
a) Hg + Fe (NO3)3TR

b) Zn +Ni (OH)2Zn (OH)2 +Ni

c) Pb (NO3)2 + K2CrO4TR

d) Zn (HO3)2Zn + 2HCO3
KESIMPULAN
Jenis-jenis reaksi
Reaksi Penggabungan adalah Sintesis 1 senyawa dari 2 zat/lebih.
Reaksi Penguraian adalah Terpecahnya 1 senyawa menjadi 2 zat/lebih.
Reaksi Penggantian adalah 1 unsur menggantikan unsure lain dalam senyawa.
Reaksi penggantian rangkap adalah 2 zat yang bertukar posisi membentuk pasangan.
Reaksi netralisis adalah Asam basa bereaksi membentuk garam dan air.
Tanda-tanda terbentuknya endapan

Terjadi perubahan warna,suhu,timbulnya gas dan adanya endapan atau lapisan


Persamaan reaksi dapat disertakan dengan reaksi dan persamaan sebelum dan sesudah reaksi.

Reaksi Redoks dapat disertakan dengan metodesetengah reaksi dan persamaan Biloks,reaksi ini dapat dikatakan
ssetara apabila jumlah zat sebelum dan sesudah reaksi serta reaktan dan muatan produk sama.

Deret Elektromagnetif:

Li, K, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Zn, Fe, Cd, Ni, Sn, Pb, H, Cu, Hg, Ag, Au

DAFTAR PUSTAKA
Epinur, dkk. 2012. Penuntun Praktikun Kimia Dasar. Jambi : UNJA
Harjadi. 1993. Materi Pokok Kimia Dasar. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Pharing. 2003. Kimia. Surabaya : Media Ilmu
Sunarya. Yayan. 2012. Kimia Dasar 2. Bandung : Yrama Widya

http://chic-al-kiimaa-iyyu.blogspot.com/2015/01/laporan-praktikum-kimia-dasar-reaksi.html
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar balakang
Pentingnya reaksi-reaksi dikenali sejak awal kimia. Reaksi oksidasi dan reduksi ialah
reaksi kimia yang di sertai dengan perubahan bilangan oksidasi. Reaksi redoks ada yang
berlangsung spontan ada juga yang berlangsung tidak sepontan. Reaksi redoks yang berlangsung
sepontan digunakan sebagai sumber arus yaitu dalam sel volta seperti baterai dan aki reaksi
redoks yang berlangsung non. Spontan dapat berlangsung dengan menggunakan arus listrik yaitu
dalam elektrolisis yang diterapkan dalam industry pengolahan aluminium dan pengolahan
lainnya.
Dalam oksidasi reduksi suatu intensitas diambil atau dibarikan dari dua zat yang bereaksi
situasinnya mirip dengan reaksi asam basa. Singkatnya reaksi oksidasi-reduksi dan asam basa.
Merupakan pasangan system dalam kimia reaksi oksidasi-reduksi dan asam basa memiliki nasib
sama, dalam hal keduannya digunakan dalam banyak praktek kimia sebelum reaksi ini
dipahami.
Perkembangan sel elektrik juga sangat penting penyusunan komponen reaksi oksidasi.
Reduksi merupakan praktek yang penting dan memuaskan secara intelektual. Sel dan elektrolisis
adalah contoh penting keduanya sangat erat dengan kehidupan sehari-hari dan dalam industry
kimia.
Oleh karena itu yang melatar belakangi percobaan ini untuk mengetahui dan dapat
memahami konsep reaksi oksidasi-reduksi dilakukan percobaan sederhana dan dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Tujuan percobaan


- Mengetahui hasil reaksi vitamin c ditetesi KMNo4 dan I2.
- Mengetahui normalitas KMNO4 setelah penitrasian H2C2O4 0,02 N.
- Mengetahui titrasi akhir titrasi pada percobaan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Redoks (reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan hambatannya bilangan oksidasi (
keadaan oksidasi ) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia. Hal ini dapat berupa proses redoks
yang sederhana seperti oksidasi karbon yang menghasilkan karbon dioksida, ataureduksi karbon
oleh hydrogen yang menghasilka metana (CH4) ataupun ia dapat berupa proses yang kompleks
sseperti oksidasi gula pada tubuh manusia melalui rentetan transfer electron yang rumit.
a. Penemu oksigen
Karena udara mengandung oksigen dalam jumlah yang besar kombinasi antara zat dan oksigen
yakni oksidasi paling sering berlangsung di alam. Pembakaran dan perkataran logam pasti telah
menarik perhatian orang sejak dulu.
Reaksi perkaratan : 4Fe + 3O2 ==> 2Fe2O3
Namun, baru di akhir abad ke-18 kimiawan dapat memahami pembakaran dengan sebenarnya.
Pembakaran dapat di pahami hanya ketika oksigen di pahami.
Oksidasi : reduksi dan hydrogen
Oksidasi : mendorong hydrogen
Reduksi : menerima hydrogen
b. Peran hydrogen
Ternyata tidak semua reaksi oksidasi dengan senyawa organic dapat di jelaskan dengan
pemberian dan penerimaan oksigen. Misalnya walaupun reaksi untuk mensintesis aniline dengan
mereaksikan nitro benzene dan besi dengan kehadiran HCl adalah reaksi oksidasi reduksi dalam
kerangka pemberian dan penerimaan oksigen pembentuk CH3CH3 dengan penambahan
hydrogen pada CH2 = CH2, tidak melibatkan pemberian dan penerimaan oksigen. Namun 1
penambahan hydrogen berefek sama dengan pemberiaan oksigen. Jadi, etana di reduksi dalam
reaksi ini :
Oksidasi : reduksi dan hydrogen
Oksidasi : mendonorkan hydrogen
Reduksi : menerima hydrogen
c. Peran electron
Pembakaran magnesium jelas reaksi oksidasi reduksi yang melibatkan pemberian dan
penerimaan oksigen
2Ng + O2 ==> 2MgO
Reaksi antara magnesium dan klorin tidak di ikuti dengan pemberian dan penerimaan oksigen
Mg + Cl2 ==> MgCl2
Namun, mempertimbangkan valensi magnesium merupakan hal yang logis untuk mengangap ke
dua reaksi dalam kategori yang sama memang, perubahan magnesium Mg ==> Mg ####3,
umum unutk kedua reaksi dan dalam kedua reaksi magnesium dioksida dalam kerangka ini
keberlakuan yang lebih umum akan dicapai bila oksidasi-reduksi didefinisikan dalam rangka
pemberian dan penerimaan electron.
Oksidasi : reaksi electron
Oksidasi : mendorong electron
Reduksi : menerima electron
Oksidasi reduksi seperti dua sisi dari selembaran kertas, jadi tidak mungkin oksidasi atau reduksi
berlangsung tanpa disertai lawannya, bila zat menerima electron maka harus ada yang
mendonorkan electron tersebut. Dalam oksidasi reduksi, senyawa yang menerima electron dari
lawannya disebut oksidasi (bahan pengoksidasi) sebab lawannya akan teroksidasi. Lawan
oksidan yang medonorkan electron pada oksidan disebut dengan redukton ( bahan pereduksi )
karena lawannya oksidan tadi tereduksi suatu senyawa dapat berlaku sebagai oksidan dan juga
redukton. Suatu senyawa dapat berlaku sebagai oksidan dan juga redukton. Bila senyawa itu
mendonorkan electron pada lawannya, senyawa ini dapat menjadi redukton. Sebaiknya bila
senyawa ini muda menerima electron senyawa itu adalah oksidan.
d. Bilangan oksidasi
Bilangan oksidasi suatu unsure menyatakan banyaknya electron yang dapat dilepas di terima
maupun digunakan bersama dalam membentuk ikatan dengan unsure lain bilangan oksidasi
dapat berupa positif nol atau negative.
Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan unutk mengoksidasi senyawa lain di katakan
sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen oksidasi. Oksidator melepaskan
electron dari senyawa lain sehingga dirinnya sendiri tereduksi oleh karena ia menerima elktron
ia juga di sebut sebagai penerima electron. Oksidator biasannya adalah senyawa-senyawa yang
memiliki unsure. Unsure dengan bilangan oksidasi yang tinggi seperti H2O2, MNO4#,
CrO3,Cr2O##, O5Ou) atau senyawa, senyawa yang sangat elektro negative sehingga dapat
mendapatkan satu atau dua electron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa (misalnya
oksigen ). Fluorin, klorin, dan bromine).
Untuk memperluas konsen bilangan molekul pada molekul poliatomik. Penting untuk
mengetahui distributor electron dalam molekul dengan akurat. Karena hal ini sukar, di putuskan
bahwa muatan formal di besikan pada tiap atom dengan mengunakan aturan tertentu dan
bilangan oksidasi di definisikan berdasarkan muatan formal untuk lebih jelaasnya lihat table 2.1
Table 2.1 bilangan oksidasi

No Keterangan Biloks Contoh

1 Unsure-unsur bebas 0 Cu,Zn,Ni,Ag

2 Unsure-unsur dalam 0 H2SO4, NH4


senyawa

Unsure-unsur penyusun
3 dalam ion Sama dengan muatan
dalam ionnya

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa. Senyawa lain


dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktor atau agen reduksi. Reduktor melepaskan
elektronnya kee senyawa lain sehinggga ia sendiri teroksidasi. Oleh karena itu is mendonorkan
elektrodanya ia juga di sebut sebagai penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa sebagai
reduktor sangat bervariasi. Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn dan Al dapat
digunakan sebagai reduktor logam-logam ini dapat memberikan elektrodannya dengan mudah.
Reduktor jenis lainnya adalah reagen transfer hibrida, misalnya NaBH4 dan L##, reagen ini
digunakan dengan luas dalam kimia organik, terutama dalam reduksi senyawa-senyawa karbonil
menjadi alcohol . metode reduksi lainnya yang juga berguna melibatkan gas hidrogen (H2)
dengan katalis paladium, platinum,atau riak reduksi katalitik ini utamanya di gunakan pada
reduksi ikatan rangkap dua atau tiga karbon-karbon cara yang mudah unutk melihat proses
redoks adalah redactor mentransfer elektronya ke teroksidasisehingga dalam reaksi , reduktor
melepaskan elektrondan teroksidasi dan oksidator mendapatkan electron dan tereduksi. Pasangan
oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi di sebut sebagai pasangan redoks
(petrucci, ralp H. 1999).
Penyusun persamaan reduksi oksidasi penyesun setengah reaksi dapat dengan mudah di
tentukan dengan setengah reaksi dan reaksi total.
a. Penyusun setengah reaksi oksidasi reduksi
1. Tuliskan persamaan perubahan oksidasi dan redukton
2. Setarakan jumlah hydrogen dari ke dua sisi persamaan dengan menambahkan sejumlah H2O
3. Setarakan jumlah hydrogen di ke dua sisi persamaan dengan menambahkan jumlah H+yang
tepat
4. Setarakan muatanya dengan menambahkan sejumlah electron sekali setengah reaksi telah di
susun mudah untuk menyusun persamaan reduksi oksidasi keseluruhan dalam osidasi reduksi
penerunan bilangan oksidasi oksidan dan kenaikan bilangan oksidasi redukton harus sama hal ini
sama dengan hubungan ekuivalen dalam reaksi asam basa.
b. Penyusunan reaksi oksidasi reduksi total.
1. Pilihlah persamaan untuk oksidasi dan reduktan yang terlibat dalam reaksi kalikan sehingga
jumlah electron yang terlibat sama.
2. Jumlah kan kedua reaksi (elektronya akan saling meniadakan)
3. Ion lawan yang mungkin muncul dalam oersamaan harus di tambahkan ke dua sisi bersamaan
sehingga kesetaraan bahan tetap di pertahankan.
Jumlah kuantitatif oksidan dan reduktan sehingga reaksi oksidasi reduksi lengkap mirip
dengan stoikiometri asam basa.
Stoikiometri oksidasi reduksi

nOMOVO = nRMRVR

Jumlah ekuantitatif oksidasi dan reduktor sehingga reaksi


oksidasi di setarakan

Keterangan : O = oksidasi
R = reduktor
n = perubahan bilangan oksidasi
M = konsentrasi mular
V = volume
Prinsip yang terlibat dalam titrasi oksidasi reduksi secara prinsip identik dengan
dalam titrasi asam basa. Dalam titrasi reduksi oksidasi pilihan indikatornya untuk menunjukan
titik akhir terbatas kadang hantar larutan di gunakan sebagai indicator berbagai maam senyawa
aromatic di reduksi oleh enzim untuk membentuk senyawa redikal bebas. Secara umum
penderma elektrodanya adalah berbagai jenis Havoenzim dan koenzimnya. Seketika terbentuk
radikal-radikal bebas anion ini akan mereduksi oksigen menjadi super oksida. Rekasi bersihnya
adalah oksidasi koenzim Havoenzim dan reduksi oksigen menjadi super oksida. Tingkah laku
katalitik ini di jelaskan sebagai siklus redoks (Keenam, 1984).
Redoks sering di hubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih sering dari
pada yang di amati dalam reaksi asam basa reaksi redoks melibatkan pertukaran elektron dan
selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsur dari reaksi kimia.
Penerjemaan reaksi redoks agak lebih sulit di tulis dan di kembangkan dari persamaan reaksi
biasa lainya. Karena, jumlah zat yang di pertukarkan dalam reaksi redoks sering kali lebih dari
satu sama lainya dengan persamaan reaksi lain. Persamaan reaksi redoks harus di seimbangkan
dari segi muatan dan materi pengembangan materi biasanya dapat di lakukan dengan mudah
sedangkan penyeimbangan muatan agak sulit karena itu perhatian harus di curahkan pada
penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan faktor stiokiometri menurut batasan
umum, reaksi redoks adalah proses serah terima elektron antara dua system redoks.
Oksidasi reduksi seperti dua sisi dari selembar kertas jadi tidak mungkin oksidasi
dari reduksi berlangsung tanpa di sertai lawanya. Bila zat menerima elektron maka harus ada
yang mendonorkan electron tersebut. Dalam oksidasi reduksi senyawa yang menerima electron
dari lawanya di sebut oksidan seban lawanya akan teroksidasi lawan oksidan yang mendonorkan
electron pada oksidan di sebut dengan reduktan karena lawan oksidan tadi tereduksi suatu
senyawa yang dapat berlaku selaku oksidan dan juga reduktan. Bila senyawa itu mudah
mendonorkan electron pada lawanya senyawa ini dapat menjadi reduktan sebaliknya bila
senyawa ini mudah menerima electron sennyawa itu adalah oksidan.
Ternyata tidak semua reaksi oksidasi dengan senyawa organic dapat di jelaskan
dengan pemberian dan penerimaan oksigen misalnya walaupun reaksi untuk mesentisis anlin
denga mereaksikan nitro benzene dan besi dengan kehadiraan HCl adalah reaksi oksidasi
pembentukan CH3CH3 dengan penambahan hydrogen pada CH2CH2 tidak melibatkan
pemberiaan dan penerimaan oksigen.
Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain sehingga dirinya sendiri
tereduksi. Oleh karena ia menerima elektron dapat disebut sebagai penerima elektron oksidator
biasanya adalah senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi.
Metode reduksi lainya yang juga berguna melibatkan gas hydrogen (H2) dengan
katalis poladium atau nikel reduksi katalitik ini utamanya di utamakan pada ikatan rangkap dua
atau tiga karbon-karbon cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah reduktor
mentransfer elektronya ke oksidator (Rivai, 1995).
BAB 3
METODELOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan bahan
3.1.1 Alat
- Tabung reaksi
- Beaker gelas
- Biuret
- Pipet tetes
- Labu erlenmayer
- Hot plate
- Gelas ukur
- Thermometer
- Rak tabung reaksi
- Pipet volume

3.1.2 Bahan
- Vitamin C
- Asam oksalat
- KMnO4
- H2C2O4 (0,01 M)
- H2SO4 (1 M)
- I2
- Tissue
- Kertas label

3.2 prosedur percobaan


3.2.1 Analisa kuantitatif vitamin C
- Diambil 20 tetes vitamin C di masukan ke dalam tabung reaksi
- Di tambahkan KMnO4 4 tetes
- Dikocok
- Di amati dan di catat perubahan yang terjadi
- Di ambil 20 tetes vitamin C di masukan ke dalam tabung reaksi
- Di tambahkan I2 sebanayak 2 tetes
- Di kocok
- Di amati dan di catat perubahan yang terjadi

3.2.2 Standarisasi larutan KMnO4


- diambil 10 ml H2C2O4 0,01 M dimasukkan dalam labu erlenmayer
- ditambahkan 2 ml H2SO4 1 M
- dipanaskan hingga suhu 60 - 70c
- dititrasikan dengan KMnO4 hingga titik akhir titrasi
- dicatat volume KMnO4 dan hitung konsentrasinya

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Perlakuan Pengamatan

Analisis kuantitatif vitamin C

- diambil 20 tetes vitamin C dimasukkan- warna larutan kuning pekat


dalam tabung reaksi

- ditambahkan KMnO4 4 tetes, dikocok

- diamati
- warna larutan menjadi kuning muda

- warna larutan kuning pekat


- diambil 20 tetes vitamin C dimasukkan
dalam tabung reaksi

- ditambahkan I2, 2 tetes di kocok - warna larutan kuning muda

- diamati - warna larutan setelah di tambahkan


KMnO4 lebih muda dari warna
larutan setelah I2

standarilisasi larutan KMnO4 - warna larutan kuning


- diambil 10 ml H2C2O4 0,01 M dimasukkan
kedalam erlenmayer

- ditambahkan 2 ml H2SO4 1 M

- dipanaskan hingga suhu 60o-70oC


- warna larutan menjadi merah
- dititrasi dengan KMnO4 hingga titik akhir lembayung
titrasi (lembayung) 2,15 ml
V=2,15ml
- dicatat volume KMnO4
N1=H2C2O4 N2=KMnO4

V1= 10ml V2=2,15ml

N1.V1 = N2.V2

= 0,0465116 N

4.2 Reaksi
2.4.1. Reaksi KMnO4 + vitamin C

2.4.2. Vitamin C + I2

2.4.3. Reaksi KMnO4 + 5H2C2O4


4.3 Perhitungan

4.4 Pembahasan
prinsip percobaan reaksi oksidasi reduksi adalah pemberian dan penerimaan elektron
atom ataupun ion. Dengan kata lain senyawa yang memiliki elektron lebih maka akan
didonorkan kepada senyawa yang kekurangan elektron begitu pula sebaliknya.
Fungsi reagen KMnO4 sebagai oksidator H2SO4 sebagai pemberi suasana, autokatalisator
dan autoindikator, I2 sebagai oksidator, autokatalisator dan autoindikator, H2C2O4 sebagai
reduktor fungsi perlakuan mengapa pada percobaan kuantitatif harus dipanaskan dengan suhu
60-70 c sebab bila larutan H2C2O4 dipanaskan dibawah suhu 60 c maka ketika larutan tersebut
dititrasi KMnO4. Pada suhu kurang dari 60 70 c akan menghasilkan endapan MnO4. Apabila
dipanaskan pada suhu diatas 70 c maka H2C2O4 akan terurai menjadi C02 dan H2O, hingga
reaksi berjalan lambat Oleh karena itu suhu optimal yang digunakan adalah 60-70oC.
Pada percobaan analisa kuantitatif vitamin C dilakukan 2 percobaan yang berbeda
percobaan pertama adalah pertama-tama diambil vitamin C sebanyak 20 tetes. Kemudian
kedalamannya ditambahkan 4 tetes KMnO4, maka akan menghasilkan titrat yang awalnya orage
tua menjadi orange muda. Dalam hal ini dapat terjadi demikian disebabkan KMnO4mengalami
reduksi dan vitamin C dan kedalamannya ditambahkan 2 tetes I2 sebagai pengganti
KMnO4 warna akan berubah warna menjadi yang awalnya orage tua menjadi warna orange
muda. Sebab I2 mengalami reduksi pada percobaan terakhir yaitu percobaan standarlisasi larutan
KMnO4 pada percobaan ini mula-mula diambil 10 ml H2C2 0,01 ml ditambahkan 2ml H2SO4 1
N. kemudiaan dipanaskan pada suhu 60-70 ## dititrasi dengan KMnO4 hingga berubah warna
menjadi merah lembayung. Pada percobaan kali ini volume pentitrasi yang diperoleh adalah 2 ml
sehingga dari perhitungan dapat diketahui normalitasnya adalah sebesar 1 N berbeda dengan
KMnO4 sebelum dititrasi. Hal ini dapat terjadi karena konsentrasi KMnO4 sebelum titrasi
merupakan konsentrasi larutan, sedangkan konsentrasi KMnO4 setelah dititrasi merupakan titik
ekuivalen.
Redoks adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi atom-atom dalam
sebuah reaksi kimia pengertian dan oksidasi dapat dijelaskan tiga konsep
a. konsep pengikat oksigen
berdasarkan konsep ini oksidasi didefinisikan sebagai reaksi pengikat oksigen Oleh suatu zat dan
reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen dari suatu Zat
b. konsep pengikatan hidrogen
berdasarkan konsep ini oksidasi didefinisikan sebagai reaksi pengikatan hidrogen Oleh suatu zat
dan redukai adalah reaksi pelepasan hidrogen dari suatu zat
c. Konsep ini berlaku umum tidak hanya melibatkan reaksi pengikatan atau pelepasan oksigen atau
elektron.
Faktor-faktor kesalahan sering terjadi dalam praktikum yaitu sebagai berikut.
Ketidaktepatan praktikan dalam melakukan pemanasan seharusnya 60-70% dapat menjadi
kurang atau lebih, kekurangtelitian dalam melakukan titrasi sehingga volume yang diperoleh
tidak sesuai keinginan, ketidaktepatan praktikan dalam pengambilan larutan.
KMnO4 adalah senyawa yang stabil yang menghasilkan larutan warna lembayung.
Semuanya merupakan zaty pengoksidasi yang kuat. KMnO4 merupakan zat pengoksida yang
penting yang dimana untuk analisa kimia biasanya digunakan pada larutan asam dimana senyawa
tersebut direduksi menjadi Mn2+. Sumber utama senyawa mangan adalah MnO2. Juka
MnO2 dipanaskan dengan penambahan alkali dan zat pengoksidasi garam permanganat dapat
terbentuk.
3MnO2 + 6KOH + KClO3 K2MnO4 + KCl + 3H2O
Reaksi penganganan bila direaksikan dalam suasuana asam, basa, netral
Basa

Autokatalisator adalah katalis yang dihasilkan oleh suatu preaksinya atau hasil reaksinya
contohnya: KMnO4 berwarna ungu bila direduksi berubah menjadi ion Mn2+ yang tidak
berwarna larutan I2 yang berwarna kuning coklat, titik akhir dapat diketahui dari awal
terbentuknya atau hilangnya warna kuning. Perubahan warna ini dipertajam dengan larutan
amilum atau kloroform atau karbon tetraklorida, ion permanganat dan asam oksalat sedangkan
autoindikator adalah terjadi apabila pereaksi mempunyai warna yang kuat kemudian warna
tersebut hilang/berubah. Apabila direaksikan dengan zat lain contohnya KMnO4 berubah
menjadi ungu apabila direduksi menjadi Mn2+ reaksi KMnO4 dan H2C2O4reaksi ini makin lama
makin cepat karena terbentuk Mn2+ yang merupakan katalisator bagi reaksi tersebut. I2 atau CO
yang bersifat inhibitor pada reaksi
2H2(g) + O2 (g) 2H2O(g)
Kekuatan oksidator yaitu logam-logam. Yang terletak disisi kiri H+ memiliki E red
bertanda negatif. Semakin ke kiri nilai E red semakin keci (semakin negatif). Hal ini
menandakan bahwa logam-logam tersebut semakin sulit mengalami reduksi akan meningkat dari
kanan ke kiri. Sebaliknya logam-logam yang terletak disisi kanan H+ memiliki E red bertanda
positif. Semakin ke kanan nilai E red semakin besar (semakin positif). Hal ini berarti bahwa
logam-logam tersebut semakin mudah mengalami reduksi dan sulit mengalami oksidasi.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Volume KMnO4 setelah dilakukan percobaan diperoleh V=2mL
Hasil yang dihasilkan Vitamin C ditambahkan KMnO4 maka menghasilkan titrat yang awalnya
orange tua menjadi orange muda atau tampak agak sedikit memudar atau bening. Begitu pula
pada saat ditetesi dengan I2.
Titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna larutan pada saat penambahan suatu
titran.

5.2 Saran
Agar tidak terbentuk endapan MnO2 maka titrasi dilakukan segera setelah pemanasan
selesai.

DAFTAR PUSTAKA

Keenan. 1989. Ilmu Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga


Pettrucci, Ralph H. 1995. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan. Jakarta: Erlangga
Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Erlangga
http://semuacoretankuliah.blogspot.com/2012/12/laporan-kimia-dasar-ii-reaksi-reduksi.html
REAKSI REDOKS

A. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah mengikuti percobaan ini diharapkan dapat mempelajari beberapa reaksi redoks.
B. KAJIAN TEORI
Reaksi kimia adalah suatu reaksi antara senyawa kimia atau unsur kimia yang
melibatkan perubahan struktur dari molekul, yang umumnya berkaitan dengan
pembentukan dan pemutusan ikatan kimia. Dalam suatu reaksi kimia terjadi proses
ikatan kimia, di mana atom zat mula-mula (edukte) bereaksi menghasilkan hasil
(produk). Berlangsungnya proses ini dapat memerlukan energi (reaksi endotermal)
atau melepaskan energi(reaksi eksotermal).
Ciri ciri reaksi kimia :
Terbentuknya endapan
Terbentuknya gas
Terjadinya perubahan warna
Terjadinya perubahan suhu atau temperatur
(www.wikipedia.com)
Redoks sering dihubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih sering
dari pada yang diamati dalam reaksi asam-basa. Reaksi redoks melibatkan pertukaran
elektron dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsur dari
reaksi kimia. Persamaan reaksi redoks agak lebih sulit ditulis dan dikembangkan dari
persamaan reaksi biasa yang lainnya karena jumlah zat yang dipertukarkan dalam
reaksi redoks sering kali lebih dari satu. Sama halnya dengan persamaan reaksi lain,
persamaan reaksi redoks harus disetimbangkan dari segi muatan dan materi,
penyeimbangan materi biasanya dapat dilakukan dengan mudah sedangkan
penyeimbangan muatan agak sulit. Karena itu perhatian harus dicurahkan pada
penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan faktor stoikiometri.
Menurut batasan umum reaksi redoks adalah suatu proses serah terima elektron
antara dua system redoks (Rivai, 1995).
Dalam sejarahnya istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana
oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen
diambil dari dalam suatu zat. Kemudian penangkapan hidrogen juga disebut reduksi,
sehingga kehilangan hidrogen harus disebut oksidasi. Sekali lagi reaksi-reaksi lain
dimana baik oksigen maupun hidrogen tidak ambil bagian belum dapat dikeolmpokkan
sebagai oksidasi atau reduksi sebelum didefinisikan oksidasi dan reduksi yang paling
umum, yang didasarkan pada pelepasan dan pengambilan elektron. Dengan melihat
contoh-contoh reaksi dari reaksi redoks , dapat ditarik kesimpulan umum dan
dapatlah didefinisikan okdidasi dan reduksi dengan cara berikut. Oksidasi adalah suatu
proses yang mengakibatka hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam zat (atom,
ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga
yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah yang memperoleh elektron, dan
dalam proses itu zat itu direduksi. Definisi oksidasi ini sangat umum, karena itu
berlaku juga untuk proses dalam zat padat, lelehan maupun gas. Sedangkan reduksi
sebaliknya adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya satu elektron atau
lebih zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi
berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi, suatu zat pereduksi adalah zat
yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi. Definisi reduksi ini juga
sangat umum dan berlaku juga untuk proses dalam zat padat, leleham maupun gas
(Shevla,1979).
Partikel (unsur, ion, atau senyawa) yang dapat mengokdidasi partkel lain
disebut pengoksidasi, tetapi ia sendiri tereduksi. Sebaliknya partikel yang mereduksi
partikel lain disebut pereduksi, tetapi ia sendiri teroksidasi. Reaksi redoks dapat
terjadi bila suatu pengoksidasi bercampur dengan zat lain yang dapat teroksidasi,
atau perediksi bercampur dengan zat yang dapat tereduksi. Dari perubahan masing-
masing dapat ditetukan pereaksi dengan hasil reaksi beserta koefisiennya masing-
masing (Syukri,1999).
Redoks adalah reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Setiap
reaksi redoks terdiri atas reaksi-reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi
adalah reaksi kimia yang ditandai kenaikan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi
reduksi adalah reaksi kimia yang ditandai penurunan bilangan bilangan oksidasi.
Bilangan oksidasi didefinisikan sebagai muatan yang dimiliki suatu atom jika
seandainya elektron diberikan kepada atom yang lain yang keelektronegatifannya
lebih besar. Jika kedua atom diberikan maka atom yang keelektronegatifannya lebih
kecil lebih positif sedangkan atom yang keelektronegatifannya lebih besar memiliki
bilangan oksidasi negatif (Dogra, 1998).
Perubahan penting yang terjadi dalam suatu reaksi reduksi-oksidasi paling
mudah terlihat dengan cara memisahkan reaksi reaksi keseluruhan ke dalam dua
setengah reaksi. Dalam setengah-reaksi oksidasi atom-atom tertentu mengalami
peningkatan bilangan oksidasi, dan elektron tampak pada sebelah kanan persamaan
setengah-reaksi. Dalam setengah reaksi reduksi, bilangan oksidasi dari atom-atom
tertentu menurun, dan elektron pada sebelah kiri dari persamaan reaksi. Dalam suatu
persamaan oksidasi reduksi keselurahan, jumlah elektron yang sama harus tampak
dalam masing-masing persamaan setengah reaksi. Ketentuan ini merupakan dasar dari
persamaan keseimbangan oksidasi-reduksi (Petrucci, 1985).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Alat :
Tabung Reaksi
Rak tabung
Pipet tetes
Gelas kimia
Gelas ukur
Pemanas
Thermometer
2. Bahan :
Logam Al
Logam Fe
Pb(NO ) 3 2

Zn(NO ) 3 2

PbNO 3

H O 1 M, 0,1 M
2 2

MnO padat
2

H SO encer
2 4

H SO pekat
2 4

FeCl 3

KI 0,1 M
KMnO 1 M, 0,1 M, 0,01 M
4

NaOH 2 M
NaOH padat
MnSO 1 M 4

Larutan Kanji 1%
Aquades

D. PROSEDUR KERJA
1. Beberapa reaksi redoks

a. Logam Aluminium (Al), Tembaga (Cu), dan Besi (Fe)

Logam Al

Logam Cu

Logam Fe

Al + Pb(NO3)2 bereaksi

Al + Zn(NO3)2 bereaksi

Al + NaNO3 tidak bereaksi

Cu + Pb(NO3)2 tidak bereaksi

Cu + Zn(NO3)2 tidak bereaksi

Cu + NaNO3 tidak bereaksi

Fe + Pb(NO3)2 bereaksi

Fe + Zn(NO3)2 tidak bereaksi


Fe + NaNO3 tidak bereaksi

Masing-masing di masukkan ke dalam larutan Pb(NO3)2, Zn(NO3)2, dan NaNO3.

Disusun menurut kereaktifannya


b. Reaksi disproporsionasi

10 tetes H2O2 0,1 M

Ditambahkan sedikit MnO2

Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi

H2O2 + MnO2 bereaksi


c. Reaksi H O 0,1 M
2 2

Ditambahkan 5 tetes H2SO4 1M

Ditambahkan 10 tetes KI 0,1 M

Ditambahkan 1 tetes kanji

Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi

5 tetes H2O2 0,1 M

H2O2 + H2SO4 Bening kuning

H2O2 + H2SO4 + KI Kuning kuning pekat

H2O2 + H2SO4 + KI + larutan kanji Kuning pekatbiru lembayung


d. Reaksi FeCl 0,1 M + KI 0,1 M dalam suasana asam
3

5 tetes FeCl3 0,1 M

Ditambahkan 10 tetes H2SO4 1 M

Ditambahkan 10 tetes KI 0,1 M

Dipanaskan

Ditambahkan 1 tetes kanji

Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi


FeCl3 + H2SO4 Kuning kuning pekat

FeCl3 + H2SO4 + KI Kuning pekat biru lembayung

2. Mangan (VI)

5 mL KMnO4 0,01 M

KMnO4 + H2SO4 tidak bereaksi

KMnO4 + H2SO4 encer tidak bereaksi

KMnO4 + MnO2 padat bereaksi


Dimasukkan kedalam 4 tabung reaksi masing-masing

Didalam tb 1 dimasukkan 5 mL H2SO4 encer, tb 2 dimasukkan 5 mL NaOH encer, tb 3 dimasukkan


sedikit MnO2 padat, dan tb IV sebagai control

Dikocok setiap tb

Diamati

Dicatat setiap perubahan yang terjadi

3. Mangan (III)
a. Reaksi Larutan Mn(II) + NaOH 2 M

2 mL larutan MnSO4 1M

Dimasukkan 2 mL larutan NaOH 2 M

Dicatat perubahan yang terjadi

Dijelaskan
Mangan (II) + NaOH bereaksi

b. Reaksi MnSO4 + H2SO4 encer + H2SO4 pekat

1 mL larutan MnSO4 1M

Dimasukkan 2 mL larutan H2SO4 encer

Dimasukkan 5 tetes larutan H2SO4 pekat

Didinginkan

Ditambahkan 5 tetes KMnO4 1 M

Diamati perubahan warna

Ditambahkan 25 mL air

Diaduk dan dijelaskan

2. Mangan (IV)

5 tetes KMnO4 0,1 M

Ditambahkan 2 butir NaOH padat

Dicatat perubahan yang terjadi

Dijelaskan
E. HASIL PENGAMATAN
1.Beberapa reaksi redoks

Hasil Pengamatan Keterangan

No Pereaksi

Al + Pb(NO3)2 Ada gelembung gas Terjadi reaksi.


1.
Al + Zn(NO3)2

2.
Ada gelembung gas Terjadi reaksi
3. Tidak terjadi reaksi

Al + NaNO3 Tetap

4. Tidak terjadi reaksi

Cu + Pb(NO3)2 Tetap

Cu + Zn(NO3)2 Tidak terjadi reaksi

5. Tetap

Tidak terjadi reaksi

Cu + NaNO3

6. Tetap

Terjadi reaksi

7. Fe + Pb(NO3)2 Larutan keruh


Tidak terjadi reaksi

Fe + Zn(NO3)2

8. Tetap

Fe + NaNO3 Tidak terjadi reaksi

9. Tetap

Terjadi reaksi

10.

H2O2 + MnO2 Ada oksigen dan air

Bening kuning
Terjadi reaksi
H2O2 + H2SO4

Kuning kuning pekat


Terjadi reaksi
H2O2 + H2SO4 + KI

11.
H2O2 + H2SO4 + KI + larutan Kuning pekatbiru
kanji lembayung Terjadi reaksi

Kuning kuning pekat


FeCl3 + H2SO4 Terjadi reaksi

12.
Kuning pekat biru
FeCl3 + H2SO4 + KI lembayung Terjadi reaksi
2.Mangan (VI)

Pereaksi

No
Hasil Pengamatan Keterangan
KMnO4 + H2SO4

1. Tetap Terjadi tidak bereaksi

KMnO4 +
H2SO4encer

2. Tetap Terjadi tidak bereaksi

KMnO4 + MnO2-
3. padat

Ungu hijau Terjadi reaksi

3.Mangan (III)

No Pereaksi Hasil pengamatan Keterangan

Endapan putih

1. Mangan (II) + NaOH (Adanya mangan (IV)) Terjadi reaksi

2. MnSO4 + H2SO4 encer Tetap Tidak terjadi reaksi

MnSO4 + H2SO4 encer


3. + H2SO4 pekat Tetap Tidak terjadi reaksi

MnSO4 + H2SO4 encer


+ H2SO4 pekat +
4. KMnO4 Putih coklat Terjadi reaksi
4.Mangan (IV)

No Pereaksi Hasil pengamatan Keterangan

KMnO4 + NaOH Ungu biru lembayung (adanya


1. padat Mangan (IV)) Terjadi reaksi

Reaksi yang terjadi :

1. Beberapa reaksi redoks


a. Reaksi beberapa logam

Logam Almunium (Al)

Al (s) Al3+(s) + 3e x 2 oksidasi

Pb2+(s) +2e Pb (s) x 3 reduksi

2Al (s) + 3 Pb2+ (s) 2 Al3+ (s)+ 3 Pb (s)

2Al (s) + 3 Pb(NO3)2 (aq) 2 Al(NO3)2 (aq) + 3 Pb (s)

Al (s) Al3+(s) + 3e x 2 oksidasi

Zn2+(s) +2e Zn (s) x 3 reduksi

2Al (s) + 3 Zn2+ (s) 2 Al3+ (s)+ 3 Zn (s)

2Al (s) + 3 Zn(NO3)2 (aq) 2 Al(NO3)2 (aq) + 3 Zn (s)


Al (s) + NaNO3 (aq)

Logam Tembaga (Cu)

Cu + Pb(NO3)2 (aq

Cu + Zn(NO3)2 (aq

Cu + NaNO3 (aq)

Logam Besi (Fe)

Fe (s) Fe l3+(s) + 3e x 2 oksidasi

Pb2+(s) +2e Pb (s) x 3 reduksi

2 Fe (s) + 3 Pb2+ (s) 2 Fe 3+ (s)+ 3 Pb (s)

2 Fe (s) + 3 Pb(NO3)2 (aq) 2 Fe(NO3)2 (aq) + 3 Pb (s)

2 Fe (s) + 3 Zn(NO3)2 (aq)

2 Fe (s) + NaNO3 (aq)

b. Reaksi disproporsionasi
H2O2 O2 + 2H+ + 2e oksidasi

H2O2 + 2H+ + 2e 2H2O reduksi

2H2O2 O2 + 2H2O

2H2O2 MnO2 O2 + 2H2O

c. H2O2 + 2H+ + 2e 2H2O reduksi

2I I2 + 2e oksidasi

H2O2 + 2I + 2H+ 2H2O + I2

H2O2 + 2KI + H2SO4 2H2O2 + I2 + K2SO4

d. Fe3+ + e Fe2+ (Reduksi)

2 I I2 + 2 e (Oksidasi)

2Fe3+ + 2 I 2Fe3+ + I2

2 FeCl3 2 KI + 2 KI asam 2 FeCl2 + I2 + 2 KCl

2. Mangan (VI)

MnO4 + 4 H+ + 3 e MnO2 + 2 H2O

4MnO4 + 4 OH MnO4 + O2 + 2 H2O


MnO4 + MnO2

MnO2 + 4 H+ + 2e Mn+2 + 2 H2O

MnO2 + 4 OH + O2 2MnO42- + 2 H2O

3. Mangan (III)

Mn+2 + 4 OH + O2 MnO42- + 2 H2O

3Mn+2 + 2MnO4 + 2 H2O 5MnO2 + 4 H+

4 Mangan (IV)

KMnO4 + NaOH padat

MnO4 + 2 H2O + 3 e MnO2(s) + 4 OH

F. PEMBAHASAN
Reaksi yang disertai dengan pertukaran elektron disebut reaksi oksidasi reduksi atau lebih
pendek disebut reaksi redoks. Redoks sering dihubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih
sering dari pada yang diamati dalam reaksi asam-basa. Reaksi redoks melibatkan pertukaran elektron
dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsur dari reaksi kimia. . Bilangan
oksidasi didefinisikan sebagai muatan yang dimiliki suatu atom jika seandainya elektron diberikan
kepada atom yang lain yang keelektronegatifannya lebih besar. Oksidasi adalah suatu proses yang
mengakibatka hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu
unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah
yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat itu direduksi. Sedangkan reduksi sebaliknya adalah
suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya satu elektron atau lebih zat (atom, ion atau molekul).
Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi, suatu
zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi.

Pada percobaan ini, dipelajari beberapa reksi redoks, yakni reaksi dari beberapa logam. Pada
pengamatan yang pertama pencampuran antara larutan Pb(NO3)2 dengan logam Al terjadi reaksi dengan
terbentuknya endapan logam Pb yang berwarna coklat dimana yang tereduksi adalah Pb dan yang
teroksidasi adalah Logam Al. Selanjutanya pencampuran antara larutan Zn(NO3)2 dengan logam Al terjadi
reaksi dengan terbentuknya endapan logam Zn, yang tereduksi adalah Zn dan yang teroksidasi adalah
logam Al. Serta reaksi antara pencampuran larutan Pb(NO3)2 dengan logam Fe terjadi reaksi dengan
terbentuknya endapan logam Pb yang berwarna coklat yang bertibdak sebagai oksidator adalah Zn dan
yang bertindak sebagai reduktor adalah logam Fe. Namun pada pengamatan kali ini, ada beberapa
pencampuran yang tidak menghasilkan reaksi redoks yakni reaksi antara NaNO3 dengan logam Al dan
logam Fe serta pencampuran antara Zn(NO3)2 dengan logam Fe. Hal ini disebabkan karena sifat dari
beberapa logam pada deret volta. Semakin ke kanan maka logam tersebut makin mudah tereduksi,
semakin ke kiri logam tersebut semakin sulit untuk tereduksi dengan kata lain lebih mudah untuk
melakukan oksidasi. Serta suatu logam hanya dapat mereduksi logam yang terdapat di sebelah
kanannya dalam deret volta hal ini dilihat dari potensial oksidasi dan reduksinya.

Pada pengamatan yang kedua, dipelajari reaksi disproporsionasi,yakni reaksi dimana zat yang
bereksi mengalami oksidasi sekaligus reduksi dalam hal ini H2O2. Meskipun sering dikutip sebagai zat
pengoksidasi kuat, hidrogen peroksida dapat bertindak baik sebagai zat pengoksidasi maupun zat
reduksi. Kerja oksidasinya pada proses dua-elektron, yang mengakibatkan terbentuknya air (H2O).
Sebagai pereduksi, hidrogen peroksida melepaskan 2 elektron dan terbentuk gas oksigen (O2).
Peranannya dalam reaksi redoks bergantung pada kuat pengoksid ataupun pereduksi dari pasangan
reaksinya, dan juga pH larutan. Pada reaksi berikutnya yakni reaksi antara KI dan FeCl3. ion iodida
mereduksi sejumlah zat, sementara ion ini sendiri dioksidasi menjadi iod (I2). Bilangan oksidasi iod
berubah dari 1 menjadi 0. dalam hal ini yang tereduksi adalah Fe3+ menjadi Fe2+, besi mengalami
perubahan bilangan oksidasi dari +3 menjadi +2.

Pada pengamatan selanjutnya, yakni mempelajari beberapa bilangan oksidasi dari mangan (Mn).
Ada enam bilangan oksidasi dari Mangan, MnO, Mn2O3, MnO2, Mn2O7, dan Mn3O4. Lima dari oksidasi ini,
mempunyai keadaan oksidasi masing-masing +2, +3, +4, +6, dan +7. sedang yang terakhir, Mn3O4,
merupakan mangan (II)-mangan (III) oksida, (MnO.Mn2O3). Dalam pengamatan kali ini, yang dipelajari
adalah mangan (III), mangan (IV) dan mangan (VI). Untuk mempelajari bilangan oksidasi dari mangan
(IV) digunakan larutan KMnO4 dengan penambahan beberapa pereaksi, yang pertama penambahan
H2SO4 encer, tidak terbentuk mangan (IV), tetapi terbentuk Mn2+, ion permanganat direduksi menurut
proses lima elektron, bilangan oksidasi mangan berubah dari +7 menjadi +2. Dengan penambahan NaOH
pekat, permanganat dapat tereduksi menjadi menjadi manganat (MnO42-) dalam suatu proses satu
elektron. Bilangan oksidasi mangan dalam manganat adalah +6. Ion MnO42- menunjukkan suatu warna
hijau khas. Selanjutnya untuk mempelajari reaksi redoks dari mangan (III) digunakan larutan Mn(II) yang
ditambahkan dengan NaOH dan H2SO4 encer serta penambahan H2SO4 pekat..Untuk mempelajari reaksi
redoks mangan (IV) digunakan larutan KMnO4 dengan penambahan NaOH padat.

G. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa dalam reaksi redoks
akan terjadi oksidasi dan reduksi dan pertukaran elektron dari zat-zat yang bereaksi. Reaksi yang
melibatkan hanya satu zat dimana zat tersebut (H2O2) akan mengalami oksidasi serta reduksi disebut
reaksi disproporsionasi.Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatka hilangnya satu elektron atau
lebih dari dalam zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah
ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah yang memperoleh elektron, dan dalam proses
itu zat itu direduksi. Sedangkan reduksi sebaliknya adalah suatu proses yang mengakibatkan
diperolehnya satu elektron atau lebih zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan
oksidasi berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi, suatu zat pereduksi adalah zat yang
kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Univeritas Haluoleo. Kendari.

Dogra.1998. Kimia Fisiska. Universitas Indonesia. Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_kimia. Diakses tanggal 5 Desember 2007.

Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar Prinsip Terapan Modern Jilid 1 Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.

Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta.

Shevla G. 1979. Vogel I Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro Bagian I. PT
Kalman Media Pusaka. Jakarta.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 3. jilid II. ITB. Bandung.

https://aatunhalu.wordpress.com/2008/12/06/laporan-praktikum/
PERCOBAAN I
REAKSI OKSIDASI-REDUKSI

Tujuan Percobaan
Memperkenalkan beberapa reaksi redoks dan menentukan zat yang bertindak
sebagai oksidator dan reduktor.
Teori
Reaksi oksidasi-reduksi (redoks) adalah reaksi pengikatan dan pelepasan elektron.
Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron sedangkan reaksi reduksi adalah penerimaan /
penyerapan elektron oleh suatu zat kimia. Pelepasan dan penerimaan elektron terjadi
secara simultan artinya jika suatu senyawa kimia melepaskan elektron berarti ada
senyawa kimia lain yang menerima elektron. Reaksi redoks ditandai dengan perubahan
bilangan oksidasi pada saat pereaksi berubah menjasi hasil reaksi atau pada oksidasi
terjadi penambahan bilangan oksidasi sedangkan pada reduksi terjadi penurunan bilangan
oksidasi.

1. Reaksi Redoks Pada Senyawa Organik


Reagen kimia :
Alkohol 50 %
H2SO4 pekat
Larutan K2Cr2O7 (kalium dikromat) 0,1 M
Peralatan :
Tabung reaksi
Gelas ukur
Gabus
Lampu spiritus
Kawat kasa, kaki tiga
Beaker gelas

Cara kerja :
Kedalam tabung reaksi masukkan 1 ml K2Cr2O7 (note : 1 ml = 20 tetes)
Kemudian secara perlahan-lahan masukkan 0,5 ml H2SO4 pekat. (note : 10 tetes-dari lemari
asam).
Selanjutnya tabung reaksi dimasukkan ke dalam beaker yang telah berisi air dan dibiarkan
beberapa menit.
Setelah dingin tambahkan perlahan-lahan alkohol.
Amati warna yang terbentuk dan bau yang terjadi, dan bandingkan dengan bau alkohol.

2. Hidrogen Peroksida sebagai Oksidator dan Reduktor


Bahan-bahan yang digunakan :
Larutan CrCl3 0,1 M
Larutan NaOH 1 M
Larutan H2O2 3%
Larutan KMnO4 0,05 M
Larutan H2SO4 2 M
Alat-alat yang digunakan :
Tabung reaski beserta rak
Gelas ukur
Pipet tetes

Cara kerja
Ambil dua tabung reaksi A dan B
Masukkan ke dalam tabung reaksi A larutan CrCl3 sebanyak 1 ml dan kemudian tambahkan
1 ml larutan NaOH, selanjutnya tambahkan 2 ml larutan H2O2, amati perubahan yang
terjadi.
Masukkan ke dalam tabung reaksi B larutan KMnO4 sebanyak 1 ml dan kemudian
tambahkan 1 ml larutan H2SO4. Selanjutnya ke dalam tabung ini tambahkan 2 ml larutan
H2O2, amati perubahan yang terjadi.
LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM KIMIA DASAR II
Nama : Rika Diani Dasopang
NIM : 1103114097
Fakultas/Jurusan : FMIPA/Kimia B
Tanggal percobaan : 26 April 2012
Asisten : Dwiwahyuni Primita Sari
Paraf Asisten :

Reaksi Redoks
1. Reaksi Redoks pada Senyawa Organik
Zat Warna Bau
Alkohol Tidak berwarna Alkohol
Alkohol+H2SO4+ K2Cr2O7 Tidak berwarna Alkohol

Pertanyaan :
Tulis reaksi yang terjadi
3C2H5OH + 2H2SO4 + 3K2Cr2O4 > 2Cr(SO4)3 + 2K2SO4 + 3CH3COOH + 11H2O
Senyawa yang terbentuk adalah Asam Karboksilat

2. Hidrogen Peroksida sebagai Oksidator dan Reduktor


Larutan Warna
CrCl3 Biru
CrCl3 + NaOH larutan hijau
CrCl3 + NaOH + H2O2 Larutan kuning

Larutan Warna
KMnO4 Ungu
KMnO4 + H2SO4 Ungu
KMnO4 + H2SO4 + H2O2 Bening/tidak berwarna

Pertanyaan :
Tulis reaksi redoks dari CrCl3 + NaOH + H2O2
2 CrCl3 + 10NaOH + 9H2O2 > 2 Na2CrO7 + 6NaCl + 14H2O
Oksidator pada reaksi CrCl3 + NaOH + H2O2 adalah H2O2
Tulislah reaksi redoks dari KMnO4 + H2SO4 + H2O2
2KMnO4 + 3H2SO4+ 5 H2O2 > K2SO4 + 2MnSO4 + 8H2O + 5O2
Pada reaksi KMnO4 + H2SO4 + H2O2 oksidatornya adalah KMnO4 dan reduktornya
adalah H2O2.

Note : Laporan diatas merupakan hasil revisi yang telah disesuaikan dengan hasil
praktikum yang sebenarnya menurut referensi akhir semester dari asisten dan laboran.
Silahkan klik disini untuk mendapatkan postingan ini versi PDF!
KESPONTANAN REAKSI REDOKS
00.45 nova febrina

Tujuan Praktikum :
Mengamati kespontanan reaksi redoks

Teori Dasar :
Reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi disebut reaksi redoks. Setiap reaksi redoks terdiri atas setengah
reaksi reduksi dan setengah reaksi oksidasi. Reduksi adalah penurunan bilangan oksidasi atau penyerapan elektron
sedangkan oksidasi adalah kenaikan bilangan oksidasi atau pelepasan elekron. Reaksi redoks ada yang berlangsung
spontan , ada juga yang tidak spontan.

Alat :
- tabung reaksi
- pipet tetes
- gelas ukur
- kertas ampelas

Bahan :
- larutan CuSO4
- larutan ZnSO4
- larutan HCl
- lempengan tembaga
- seng
- lempengan magnesium
Prosedur kerja :
1. siapkan 6 tabung reaksi dan berilah label 1 sampai 6
2. isikan larutan CuSO4, ZnSO4, dan HCl ke dalam 6 tabung reaksi. (1 CuSO4, 2 ZnSO4, 3 HCl)
3. ambil tembaga, seng, dan magnesium yang sudah di ampelas masing2 2 potong dan berukuran sama
4. masukan potongan seng, alumunium, dan magnesium tadi ke dalam 6 tabung reaksi tadi.
5. amati dan catatlah hasil pengamatan anda!

Data Pengamatan
Tabung Warna Sebelum Warna Sesudah
Logam Larutan Jenis Reaksi Gelembung
Reaksi Reaksi Reaksi
I Zn CuSO4 Putih Hitam Spontan Ada

Coklat Coklat Tidak


II Cu ZnSO4 Tidak Ada
Keemasan Keemasan Spontan

III Mg ZnSO4 Abu-abu Hitam Spontan Ada

IV Mg HCl Abu-abu Hitam Spontan Ada

V Zn HCl Putih Abu-abu Spontan Ada

Coklat Coklat Tidak


VI Cu HCl Tidak Ada
Keemasan Keemasan Spontan

Analisis Data
o Reaksi yang merupakan reaksi redoks spontan, yaitu :

o Ada gelembung gas;


HASIL DATA PENGAMATAN :

1. Seng ditambah larutan CuSO4 mengalami perubahan warna logam dari putih menjadi hitam, tidak bergelembung.

2. Tembaga ditambah larutan ZnSO4 mengalami perubahan logam tidak berubah warna, dan bergelembung.

3. Magnesium ditambah larutan ZnSO4 mengalami perubahan warna pada logam dari putih menjadi hitam, dan
bergelembung,
4. Seng ditambah larutan HCl, tidak ada perubahan warna, ada gelembung.

5. Magnesium tambah larutan HCl, magnesium habis melebur, banyak gelembung gas.
6. Tembaga tambah larutan HCl,tidak ada perubahan warna, tidak bergelembung.

Kesimpulan :
Dari hasil pecobaan, dapat disimpulkan bahwa reaksi yang terdapat gelembung/perubahan warna merupakan reaksi
spontan. Sedangkan yang tidak terdapat gelembung atau berubah warna bukan reaksi spontan
Laporan Praktikum Kimia Dasar Reaksi-Reaksi Kimia

REAKSI-REAKSI KIMIA

Nur Aini Solihat

133020382
Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Pasundan

ABSTRAK
Reaksi kimia adalah suatu proses reaksi antar senyawa kimia yang mengakibatkan perubahan struktur dan
molekul. Dalam suatu reaksi terjadi proses ikatan dimana senyawa pereaksi bereaksi menghasilkan senyawa baru (produk).
Dalam ilmu kimia reaksi itu merupakan salah satu cara untuk mengetahui sifat sifat kimia dari satu atau berbagai jenis zat.
Sifat sifat kimia, kemudian di catat sebagai data kuantitatif. Tujuan percobaan Reaksi-Reaksi Kimia untuk mengetahui dan
mempelajari jenis dan sifat (sifat kimia dan fisika) darizat yang direaksikan, serta untuk mencari rumus senyawa dan koefisien
reaksi dari senyawa dengan cara mereaksikan dua buah zat atau lebih yang dibuktikan adanya perubahan warna, bau, suhu,
timbulnya gas dan endapan. (Sutrisno, E,T. Nurminabari, I,S, 2012). Hasil pengamatan dari praktikum reaksi-reaksi kimia dapat
disimpulkan bahwa adanya perubahan reaksi-reaksi kimia adalah dengan adanya perubahan dari percampuran dua reaksi atau
lebih, baik perubahan warna, suhu, bau, endapan, dan adanya gas.

Key Words: Reaksi Kimia, Indikasi Kimia, dan Perubahan yang Terjadi.

PENDAHULUAN
Reaksi kimia (chemical reaction) yaitu suatu proses dimana zat atau senyawa diubah menjadi satu atau lebih
senyawa baru. Untuk berkomunikasi satu sama lain tentang reaksi kimia, para kimiawan menggunakan cara standar untuk
menggambarkan reaksi tersebut melalui persamaan kimia. Persamaan kimia (chemical equation) menggunakan lambang
kimia untuk menunjukan apa yang terjadi saat reaksi kimia berlangsung.
Tujuan percobaan Reaksi-Reaksi Kimia untuk mengetahui dan mempelajari jenis dan sifat (sifat kimia dan fisika)
darizat yang direaksikan, serta untuk mencari rumus senyawa dan koefisien reaksi dari senyawa dengan cara
mereaksikan dua buah zat atau lebih yang dibuktikan adanya perubahan warna, bau, suhu, timbulnya gas dan endapan.
Perinsip percobaan adalah berdasarkan penggabungan molekul terbagi menjadi dua bagian atau lebih.
Perinsip percobaan adalah berdasarkan penggabungan molekul terbagi menjadi dua bagian atau lebih. Molekul
yang kecil atau atom-atom dalam molekul. Reaksi kimia selalu melibatkan terbentuk dan terputusnya ikatan kimia.
Berdasarkan Hukum Kekekalan Massa yang di temukan oleh Lavoisier: Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah
sama dan berdasarkan Hukum Perbandungan Tetap (Hukum Proust) : Dalam setiap persenyawaan perbandingan
massa unsur-unsur selalu tetap. Berdasarkan bronsted Lowry : Asam sebagai setiap zat sembarang yang menyumbang
proton dan basa sebagai setiap zat sembarang yang menerima proton.

METODOLOGI
Alat Yang Digunakan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung, pipet tetes, penjepit tabung, pipa U,
bunsen, kertas lakmus, botol semprot, neraca digital, tisyu,korek api.

Bahan Yang Digunakan


Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah NaOH , HCl, CH3COOH, K2CrO4 ,K2CrO7,
Al2(SO4)3, NH4OH, ZnSO4, (NH4)2SO4, Pb(NO3)2, NaCl, AgNO3, BaCl2, CaCO3, Ba(OH)2, H2C2O4, H2SO4, KMnO4, Besi (II)
/ Fe2+, CuSO4, Besi (III) / Fe3+,,KSCN, Na3PO4, phenolphthalein (PP), metil merah (MM).
Metode Percobaan

Tabel 1. Metode Percobaan Reaksi Reaksi Kimia


No Reaksi
1. a. 1ml NaOH 0,05 ml + 1 tetes phenolphthalein
(pp)
b. 1ml NaOH 0,05 ml + 1 tetes metil merah
(MM)
c. HCl 1 M + 1 tetes phenolphthalein (pp)
d. HCl 1 M + 1 tetes metil merah (MM)
2. a. 1 ml CH3COOH 0,05 M + 1 tetes
phenolphthalein (pp)
b. 1 ml CH3COOH 0,05 M + 1 tetes metil merah
(MM)
c. 1 ml NaOH 2 M + 1 tetes phenolphthalein
(pp)
d. 1 ml NaOH 2 M + 1 tetes metil merah (MM)
3. a. 1 ml NaOH 0,05 M (pp) + 1 ml HCl 0,1 M
(pp)
b. 1 ml NaOH 0,05 M (mm) + 1 ml HCl 0,1 M
(mm)
c. 1 ml NaOH 0,05 M (pp) + 1 ml CH3COOH 0,5
M
d. 1 ml NaOH 0,05 M (mm) + 1 ml CH3COOH
0,5 M (mm)
4. a. 1 ml K2CrO4 0,1 M + 1 ml HCl 0,1 M
b. 1 ml K2CrO4 0,1 M + 1 ml NaOH 0,05 M
5. a. 1 ml K2Cr2O7 1 M + 1 ml HCl 0,1 M
b. 1 ml K2Cr2O7 1 M + 1 ml NaOH 0,05 M
6. 1 ml Al2(SO4)3 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M
7. 1 ml Al2(SO4)3 + 5 tetes NaOH + 30
tetesNH4OH
8. a. 1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M
b. 1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M +
30 tetes NH4OH
9. Tabung pertama : 4 ml (NH4)2SO4 + NaOH 1
ml
Tabung kedua : Lakmus merah
10. 1 ml Pb(NO3)2 0,1 M + 1 ml NaCl 0,1
M dipanaskan dan amati
11. 1 ml NaCl 0,5 M + 10 tetes AgNO3
12. 1 ml BaCl2 0,1 M + 1ml K2CrO4 0,1 M
13. 1 ml BaCl2 0,1 M + 1 ml K2Cr2O7 0,1 M
14. 1 ml BaCl2 0,1 M + 1 ml HCl 0,1 M + 1
ml K2CrO4 0,1 M
15. Tabung pertama : 1 gram CaCO3 + HCl
Tabung kedua : Ba(OH)2
16. 1 ml H2C2O4 0,1 M + 2 tetes H2SO4 + 8 tetes
KMnO4 0,05 M
17. 1 ml Fe2+ 0,1 M + 2 tetes H2C2O4 + 3 tetes
KMnO4 0,05 M
18. 1 ml CuSO4 0,05 M + 30 tetes NaOH 1 M
19. 1 ml CuSO4 0,05 M + 26 tetes NH4OH 1 M
Tabung pertama
20. : 2 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml KSCN 0,1 M + 1 ml
Na3PO4
Tabung kedua : 2 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml KSCN 0,1 M
(Sumber: Nur Aini Solihat, Kelompok P, Meja 1, 2013)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 2. Hasil Pengamatan Reaksi Kimia


No Reaksi Hasil Reaksi
1. a.1ml NaOH 0,05 ml + 1 Warna larutan : Pink
tetes phenolphthalein Endapan :-
(pp) Gas :-
b.1ml NaOH 0,05 ml + 1 Warna larutan : Kuning
tetes metil Endapan :-
merah (MM) Gas :-
c.HCl 1 M + Warna larutan : (Bening)
1 tetes Endapan :-
phenolphthalein (pp) Gas :-
d.HCl 1 M Warna
+ larutan : Merah muda
1 tetes metil merah Endapan :-
(MM) Gas :-
2. a.1 ml CH3COOH 0,05 M Warna larutan : (Bening)
+ Endapan :-
1 tetes Gas :-
phenolphthalein (pp)
b.1 ml CH3COOH 0,05 M Warna larutan : Merah
+ muda
1 tetes metil merah Endapan :-
(MM) Gas :-
c.1 ml NaOH 2 M + Warna larutan : (Bening)
1 tetes phenolphthalein Endapan :-
(pp) Gas :-
d.1 ml NaOH 2 M + Warna larutan : Kuning
1 tetes metil merah Endapan :-
(MM) Gas :-
3. a.1 ml NaOH 0,05 M (pp) Warna larutan : (Bening)
+ Endapan :-
1 ml HCl 0,1 M (pp) Gas :-
b.1 ml NaOHWarna
0,05 Mlarutan : Merah muda
(mm) + 1 ml HCl 0,1 Endapan :-
M (mm) Gas :-
c.1 ml NaOH 0,05 M (pp) Warna larutan : (Bening)
+ 1 ml CH3COOH 0,5 Endapan :-
M Gas :-
d.1 ml NaOH 0,05 M Warna larutan : Orange
(mm) + Endapan :-
1 ml CH3COOH 0,5 M Gas :-
(mm)
4. a.1 ml K2CrO4 0,1 M + 1 Warna larutan : Orange
ml HCl 0,1 M Endapan :-
Gas :-
b.1 ml K2CrO4 0,1 M + 1 Warna larutan : Kuning
ml NaOH Endapan :-
0,05 M Gas :-

5. a.1 ml K2CrWarna
2O7 1 M
larutan
+ : Orange gelap
1 ml HCl 0,1 M Endapan :-
Gas :-
b.1 ml K2Cr2O7 1 M + Warna larutan : Orange
1 ml NaOH 0,05 M muda
Endapan :-
Gas :-
6. 1 ml Al2(SO4)3 0,1 M + Warna larutan : (Bening)
5 tetes NaOH 1 M Endapan : Putih
Gas :-
7. 1 ml Al2(SO4)3 + Warna larutan : (Bening)
5 tetes NaOH + Endapan : Putih
30 tetes NH4OH Gas :-
8. a. 1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 Warna larutan : (Bening)
tetes Endapan : Putih
NaOH 1 M Gas :-
b. 1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 Warna larutan : (Bening)
tetes NaOH 1 M + Endapan : Putih
30 tetes NH4OH Gas :-
9. Tabung pertama : Tabung pertama
4 ml (NH4)2SO4 + Warna larutan : (Bening)
NaOH 1 ml Endapan :-
Tabung kedua : Gas :-
Lakmus merah Tabung kedua : Lakmus
tetap
10. 1 ml Pb(NO3)2 0,1 M + Warna larutan : (Bening)
1 ml NaCl 0,1 M Endapan :-
dipanaskan dan Gas :-
amati Tidak terjadi perubahan
ketika sudah dipanaskan
11. 1 ml NaCl 0,5 M + Warna larutan : (Bening)
10 tetes AgNO3 Endapan : Putih
Gas :-
12. 1 ml BaCl2 0,1 M + Warna larutan : Kuning
1ml K2CrO4 0,1 M susu
Endapan : Kuning
Gas :-
13. 1 ml BaCl2 0,1 M + Warna larutan : Kuning
1 ml K2Cr2O7 0,1 M bening
Endapan : Kuning
Gas :-
14. 1 ml BaCl2 0,1 M + Warna larutan : Kuning
1 ml HCl 0,1 M + keorangean
1 ml K2CrO4 0,1 M Endapan :-
Gas :-
15.Tabung pertama : 1 gram Tabung pertama
CaCO3 + HCl Warna larutan : Putih susu
Tabung kedua : Endapan :-
Ba(OH)2 Gas :-
Tabung kedua
Warna larutan : (Bening )
Endapan : Putih
Gas :-

16. 1 ml H2C2O4 0,1 M + Warna larutan : Bening


2 tetes H2SO4 + setelah dipanaskan 6 detik
8 tetes KMnO4 Endapan :-
0,05 M Gas :-
17. 1 ml Fe2+ 0,1 M + Warna larutan : Bening
2 tetes H2C2O4 + setelah dipanaskan 3 detik
3 tetes KMnO4 Endapan :-
0,05 M Gas :-
18. 1 ml CuSO4 0,05 M + Warna larutan : Hijau
30 tetes lumut seperti gel
NaOH 1 M Endapan :-
Gas :-
19. 1 ml CuSO4 0,05 M + Warna larutan : Biru tua
26 tetes NH4OH Endapan : Putih
1M Gas :-
20.
Tabung pertama : 2 ml Tabung pertama
Fe3+ 0,1 MWarna
+2 ml larutan : Merah kehitaman
KSCN 0,1 M +1 ml Endapan :-
Na3PO4 Gas :-
Tabung kedua : 2 ml Tabung kedua
Fe3+ 0,1 MWarna
+2 ml larutan : Merah bening
KSCN 0,1 M Endapan : Merah
kehitaman seperti gel
Gas :-
(Sumber: Nur Aini Solihat, Kelompok P, Meja 1, 2013)

Percobaan reaksi kimia yang telah dilakukan masih memiliki banyak kesalahan. Hasil yang didapat sering kali
berbeda dari hasil reaksi yang benar. Kesalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya
ketelitian praktikan saat mengguakan pipet. Pipet yang telah dipakai untuk mengambil zat sebelumnya tidak dibersihkan
terlebih dahulu saat akan mengambil zat yang lain, sehingga zat sebelumnya tercampur dengan zat lain dan
mempengaruhi hasil akhir dari reaksi kimia tersebut. Bila terjadi perbedaan baik itu perubahan warna, endapan, dan tidak
adanya endapan, hal itu bisa terjadi karena faktor lingkungan. Faktor lingkungan disekitar seperti tinggi rendahnya suhu
ruangan yang mempengaruhi proses kelarutan, takaran yang tidak sesuai ataupun botol larutan yang tidak ditutup kembali
itu sangat mempengaruhi reaksi kimia ini. Sehingga ketika kita akan melakukan percobaan kita harus memperhatikan
sekali kebersihan dan keadaan lingkungan disekitar kita.
Reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat atau senyawa diubah menjadi satua atau lebih senyawa baru. Untuk
berkomunikasi satu sama lain tentang reaksi kimia, para ilmuwan menggunakan cara standar untuk menggambarkan
reaksi tersebut melalui persamaan kimia. Persamaan kimia adalah menggunakan lambang kimia untuk menunjukkan apa
yang terjadi saat reaksi kimia tersebut berlangsung. Pereaksi ( reaktan ) Hasil reaksi ( produk )
Reaksi kimia selalu melibatkan terbentuk dan terputusnya ikatan kimia. Reaksi kimia adalah perubahan yang
melibatkan perubahan sifat fisik zat dengan membentuk zat baru, biasanya melibatkan perubahan sifat fisik seperti,
perubahan suhu, perubahan warna, bau, terbentuknya endapan dan timbulnya gelembung gas. (Sutrisno, E,T.
Nurminabari, I,S, 2012).
Beberapa dari percobaan reaksi kimia diatas dapat digolongkan menjadi beberapa jenis reaksi, yaitu reaksi asam
basa terdapat pada nomor 1, 2, 3, 4, dan 5. Reaksi pengendapan terdapat pada nomor 6, 8, 11, 12, 13, 18 dan19. Reaksi
redoks terdapat pada 9, 16 dan 17. Reaksi metatesis terdapat pada nomor 10. Reaksi penguraian terdapat pada nomor
14. Reaksi pembentukan terdapat pada nomor 15. Reaksi kompleks terdapat pada nomor 20.
Reaksi Kimia dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu:
1. Reaksi asam basa, secara luas merupakan reaksi antara asam dengan basa. Ia memiliki berbagai definisi tergantung
pada konsep asam basa yang digunakan. Beberapa definisi yang paling umum adalah:
a.Definisi Arrhenius: asam berdisosiasi dalam air melepaskan ion H3O+; basa berdisosiasi dalam air melepaskan ion OH-.
b.Definisi Brnsted-Lowry: Asam adalah pendonor proton (H+) donors; basa adalah penerima (akseptor) proton. Melingkupi
definisi Arrhenius.
c.Definisi Lewis: Asam adalah akseptor pasangan elektron; basa adalah pendonor pasangan elektron. Definisi ini melingkupi
definisi Brnsted-Lowry.
2. Reaksi pengendapan adalah reaksi antara zat ion logam yang sukar larut dalam air, sehingga terbentuklah endapan.
Untuk mengetahui apakah suatu reaksi terbentuk endapan atau tidak, harus diketahui kelarutan zat yang terjadi. Sebagai
contoh beberapa zat yang sukar larut dalam air, yaitu I+, Mg2+, Fe2+, dan Cl-.
3. Reaksi redoks, yang mana terjadi perubahan pada bilangan oksidasi atom senyawa yang bereaksi. Reaksi ini dapat
diinterpretasikan sebagai transfer elektron. Contoh reaksi redoks adalah:
2 S2O32(aq) + I2(aq) S4O62(aq) + 2 I(aq)
4. Metatesis (pemindahan tanggal) adalah suatu reaksi dimana terjadi pertukaran antara dua reaksi.
AgNo3(ag)NaCL(a g) AgCL(p) + NaNO3(ag)
5. Penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat-zat yang lebih sederhana
2Ag2O(p)4Ag(p) + O2(9)
6. Penggabungan (sintetis) suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang
lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa).
2H2 (9) + O2 (9) 2H2O (9)
CO (9) + 2H2 (9) CH3OH (9)
7. Reaksi kompleksometri adalah reaksi ion logam, yaitu kation dengan anion atau molekul netral yang terdiri dari atom
pusat dan sejumlah ligan.
Pada saat reaksi kimia berlangsung, akan muncul beberapa peristiwa yang menjadi tanda-tanda bahwa suatu
materi sedang mengalami perubahan kimia. Tanda-tanda terjadinya reaksi kimia pada suatu materi dapat diketahui dari
beberapa hal berikut ini:
1.Terjadi pembentukan endapan. Hal ini terjadi jika zat baru yang terbentuk tidak larut / sukar larut dalam air.
2.Terjadi pembentukan gas. Hal ini terjadi jika zat baru yang dihasilkan berbentuk gas sehingga menimbulkan gelembung-
gelembung gas yang seringkali memiliki bau yang khas.
3.Terjadi perubahan warna. Hal ini biasa terjadi jika zat baru yang terbentuk mempunyai warna yang berbeda dengan warna
zat semula.
4.Terjadi perubahan suhu. Pada setiap reaksi kimia berlangsung selalunya disertai dengan penyerapan dan pelepasan
energi panas (kalor). Jika suhu materi naik, maka terjadi reaksi Eksoterm. Sedangkan jika suhu materi menurun maka
terjadi reaksi Endoterm.
Laju reaksi atau kecepatan reaksi yang menyatakan banyaknya reaksi kimia yang berlangsung per satuan waktu.
Laju reaksi menyatakan molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan tiap detik reaksi. Laju reaksi dapat dipengaruhi
oleh beberapa factor, yaitu:
1. Luas permukaan, untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan luas permukaan dapat menceritakan luas permukaan
bola. Berbeda dengan luas permukaan bola, yang dimaksud dengan luas permukaan dalam reaksi kimia adalah luas
permukaan zat-zat pereaksi yang bersentuhan untuk menghasilkan reaksi. Dalam reaksi kimai, tidak semua luas
permukaan zat yang bereaksi dapat bersentuhan hingga terjadi reaksi, hal ini bergantung pada bentuk partikel zat-zat
yang bereaksi. Suatu reaksi dapat saja melibatkan pereaksi dalam bentuk padatan. Luas permukaan zat ini akan
berkaitan dengan bidang sentuh zat tersebut.Luas permukaan zat padat akan bertambah jika ukurannya diperkecil. Luas
permukaan mempercepat laju reaksi karena semakin luas permukaan zat, semakin banyak bagian zat yang saling
bertumbukan dan semakin besar peluang adanya tumbukan efektif menghasilkan perubahan. Semakin luas permukaan
zat, semakin kecil ukuran partikel zat. Jadi semakin kecil ukuran partikel zat, reaksi pun akan semakin cepat.
2. Konsentrasi Larutan: Jika konsentrasi suatu larutan makin besar, larutan akan mengandung jumlah partikel semakin
banyak sehingga partikel-partikel tersebut akan tersusun lebih rapat dibandingkan larutan yang konsentrasinya lebih
rendah. Susunan partikel yang lebih rapat memungkinkan terjadinya tumbukan semakin banyak dan kemungkinan terjadi
reaksi lebih besar. Makin besar konsentrasi zat, makin cepat laju reaksinya.
3. Suhu: Partikel-partikel dalam zat selalu bergerak. Jika suhu zat dinaikkan, maka energi kinetik partikel-partikel akan
bertambah sehingga tumbukan antar partikel akan mempunyai energi yang cukup untuk melampaui energi pengaktifan.
Hal ini akan menyebabkan lebih banyak terjadi tumbukan yang efektif dan menghasilkan reaksi. Di samping memperbesar
energi kinetik, ternyata peningkatan suhu juga meningkatkan energi potensial suatu zat. Dengan semakin besarnya energi
potensial zat, maka semakin besar terjadinya tumbukan yang efektif, sehingga laju reaksi semakin cepat.
4. Katalis: Katalis adalah zat yang pada umumnya ditambahkan dalam ke dalam suatu sistem reaksi untuk mempercepat
reaksi. Pada akhir reaksi, katalis diperoleh kembali dalam bentuk zat semula. Katalis bekerja dengan cara turut terlibat
dalam setiap tahap reaksi, tetapi pada akhir tahap, katalis terbentuk kembali. Jika suatu campuran zat tidak dapat
bereaksi, penambahan katalis pun tidak akan membuat reaksi terjadi. Dengan kata lain, katalis tidak dapat memicu reaksi,
tetapi hanya membantu reaksi yang berlangsung lambat menjadi lebih cepat. Katalis bekerja secara khusus. Artinya, tidak
semua reaksi dapat dipercepat dengan satu macam katalis. Dengan kata lain, katalis bekerja hanya pada satu atau dua
macam reaksi, tetapi untuk reaksi yang lain tidak dapat digunakan. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan
sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada
suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan
energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.
5. Molaritas adalah banyaknya mol zat trelarut tiap satuan volum zat pelarut. Hubungannya dengan laju reaksi adalah bahwa
semakin besar molaritas suatu zat, maka semakin cepat reaksi berlangsung. Dengan demikian pada molaritas yang
rendah suatu reaksi akan berjalan lebih lambat dari pada molaritas yang tinggi
Aplikasi dalam bidang pangan dapat berguna dan membantu kita dalam menentukan zat yang terdapat di dalam
bahan pangan, yang berguna untuk menentukan kadar lemak, protein, kadar karbohidrat, dapat di tentukan dengan reaksi
reaksi kimia, dengan adanya perubahan warna, pembentukan gas atau bau, perubahan suhu dan pembentukan endapan.

KESIMPULAN
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri adanya reaksi kimia adalah adanya perubahan dari
pencampuran dua reaksi atau lebih, baik perubahan warna, suhu, bau, adanya endapan dan adanya gas. Maka dengan
hasil percobaan ini kita dapat menuliskan sebuah persamaan reaksi. Reaksi kimia ini digunakan untuk menetukan
kandungan zat dalam suatu bahan pangan, menilai kadar mutu pangan. Contoh indikator menilai kandungan zat bahan
pangan komponen lemak, protein, karbohidrat, mineral, asam lemak dan gula untuk mengetahui dan menguji yang terjadi
pada bahan pangan tersebut.

DAFTAR PUSATAKA
Brady, E., James, (1999), Kimia Universitas Asas dan Struktur, BinarupaAksara : Jakarta
Djulana, D. 2001. Kimia Analitik Kuantitatif Anorganik. Akademi analis kesehatan: Bandung
Kemdiknas, Pustekkom. 2010. Jenis-jenis Reaksi Kimia. www.kemendik.go.id. diakses: 23 Oktober 2013.
Turmala, ElaSutrisno, Dra, M.S.(2010). PenuntunPraktikum Kimia Dasar, UniversitasPasundan : Bandung
Yanisestria,(2012), Laporan Praktikum Kimia Analitik, yanisestria.blogspot.com diakses: 23oktober 2013

LAMPIRAN
No Reaksi Hasil Reaksi
1. a.1ml NaOH 0,05 ml + 1 Warna larutan : Ungu
tetes phenolphthalein Endapan :-
(pp) Gas :-
b.1ml NaOH 0,05 ml + 1 Warna larutan : Kuning
tetes metil Endapan :-
merah (MM) Gas :-
c.HCl 1 M + Warna larutan : (Bening)
1 tetes Endapan :-
phenolphthalein (pp) Gas :-
d.HCl 1 M Warna
+ larutan : Merah muda
1 tetes metil merah Endapan :-
(MM) Gas :-
2. a.1 ml CH3COOH 0,05 M Warna larutan : (Bening)
+ Endapan :-
1 tetes Gas :-
phenolphthalein (pp)
b.1 ml CH3COOH
Warna0,05
larutan
M : Merah muda
+ Endapan :-
1 tetes metil merah Gas :-
(MM)
c.1 ml NaOH 2 M + Warna larutan : (Bening)
1 tetes phenolphthalein Endapan :-
(pp) Gas :-
d.1 ml NaOH 2 M + Warna larutan : Kuning
1 tetes metil merah Endapan :-
(MM) Gas :-
3. a.1 ml NaOH 0,05 M (pp) Warna larutan : (Bening)
+ Endapan :-
1 ml HCl 0,1 M (pp) Gas :-
b.1 ml NaOHWarna
0,05 Mlarutan : Merah
(mm) + 1 ml HCl 0,1 Endapan :-
M (mm) Gas :-
c.1 ml NaOH 0,05 M (pp) Warna larutan : (Bening)
+ 1 ml CH3COOH 0,5 Endapan :-
M Gas :-
d.1 ml NaOH 0,05 M Warna larutan : Merah
(mm) + Endapan :-
1 ml CH3COOH 0,5 M Gas :-
(mm)
4. a.1 ml K2CrOWarna
4 0,1 M
larutan
+ 1 : Kuning keemasan
ml HCl 0,1 M Endapan :-
Gas :-
b.1 ml K2CrOWarna
4 0,1 M
larutan
+ 1 : Kuning cerah
ml NaOH Endapan :-
0,05 M Gas :-

5. a.1 ml K2CrWarna
2O7 1 Mlarutan
+ : kuning keemasan
1 ml HCl 0,1 M Endapan :-
Gas :-
b.1 ml K2CrWarna
2O7 1 Mlarutan
+ : kuning cerah
1 ml NaOH 0,05 M Endapan :-
Gas :-
6. 1 ml Al2(SO
Warna
4)3 0,1larutan
M + : putih keruh
5 tetes NaOH 1 M Endapan :-
Gas :-
7. 1 ml Al2(SO4Warna
)3 + larutan : putih keruh kental
5 tetes NaOH + Endapan :-
30 tetes NH4OH Gas :-
8. a. 1 ml ZnSOWarna
4 0,1 Mlarutan
+ 5 : Putih keruh
tetes Endapan :
NaOH 1 M Gas :-
b. 1 ml ZnSOWarna
4 0,1 M larutan
+ 5 : putih keruh
tetes NaOH 1 M + Endapan : Putih
30 tetes NH4OH Gas :-
9. Tabung pertama : Tabung pertama
4 ml (NH4)2SO4 + Warna larutan : (Bening)
NaOH 1 ml Endapan :-
Tabung kedua : Gas :-
Lakmus merah Tabung kedua : Lakmus
merah mnejadi biru
10. 1 ml Pb(NO3)2 0,1 M + Warna larutan : (Bening)
1 ml NaCl 0,1 M Endapan :-
dipanaskan dan Gas :-
amati Tidak terjadi perubahan
ketika sudah dipanaskan
11. 1 ml NaCl 0,5 M + Warna larutan : Putih
10 tetes AgNO3 Endapan : Putih
Gas :-
12. 1 ml BaCl2 0,1 Warna
M + larutan : Kuning kental susu
1ml K2CrO4 0,1 M Endapan : Kuning
Gas :-
13. 1 ml BaCl2Warna0,1 M larutan
+ : Kuning tua
1 ml K2Cr2O7 0,1 M Endapan : Kuning
Gas :-
14. 1 ml BaCl2Warna0,1 Mlarutan
+ : Kuning keemasan
1 ml HCl 0,1 M + Endapan :-
1 ml K2CrO4 0,1 M Gas :-
15.Tabung pertama : 1 gram Tabung pertama
CaCO3 + HCl Warna larutan : Soda
Tabung kedua : Endapan :-
Ba(OH)2 Gas :-
Tabung kedua
Warna larutan : (Bening )
Endapan : Putih
16. 1 ml H2C2O4 0,1 M + Warna larutan : Bening
2 tetes H2SO4 + setelah dipanaskan 6 detik
8 tetes KMnO4 berubah menjadi warna
0,05 M coklat
Endapan : coklat
Gas :-
17. 1 ml Fe2+ 0,1 M + Warna larutan : coklat tua
2 tetes H2C2O4 + setelah dipanaskan 3 detik
3 tetes KMnO4 Endapan : coklat
0,05 M Gas :-
18. 1 ml CuSO4 0,05 M + Warna larutan : Biru
30 tetes Endapan : Hijau
NaOH 1 M lumut
Gas :-
19. 1 ml CuSO4 0,05 M + Warna larutan : Biru
26 tetes NH4OH Endapan : Putih
1M Gas :-
20.
Tabung pertama : 2 ml Tabung pertama
Fe3+ 0,1 MWarna
+2 ml larutan : Merah
KSCN 0,1 M +1 ml Endapan : Merah
Na3PO4 Gas :-
Tabung kedua : 2 ml Tabung kedua
Fe3+ 0,1 M +2 mlWarna larutan : coklat tua
KSCN 0,1 M kemerahan
Endapan :
Gas :-
REAKSI-REAKSI KIMIA DAN REAKSI REDOKS

1. Tujuan percobaan
a) Mempelajari jenis reaksi kimia secara sistematis
b) Mengamati tanda-tanda terjadinya reaksi
c) Menulis persamaan reaksi dengan benar
d) Menyelesaikan reaksi redoks dari setiap percobaan
2. Pertanyaan prapraktek
Berikan definisi dari istilah-istilah berikut :
- Katalis : suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi
- Deret elektromatif : suatu deret yang menyatakan susunan unsur-unsur berdasarkan kemampuan mereduksi,dari
yang paling kuat ke yang paling lemah
- Reaksi eksoterm : reaksi yang melepaskan energi dalam bentuk panas ditandai dengan naiknya suhu
- Endapan : zat yang berada di dasar campuran
- Produk : hasil reaksi kimia
- Pereaksi : zat-zat yang mengalami reaksi
Terangkan arti lambang-lambang berikut :
- : perubahan
- WR : energi rata-rata dalam reaksi kimia
- (s) : zat dalam bentuk solid
- (l) : zat dalambentuk liquid
- (aq) : zat dalam bentuk aquos
Berapa kira-kira volome dalam tabung reaksi yangberisi sepersepuluh bagian ?
Jawab : misalkan volume tabung reaksi adalah 500ml, maka spersepuluh volume tabung tersebut adalah 50ml.
Apakah warna indikator PP dalam larutan asam ?
Jawab : tidak berwarna
Hitung massa atom Cu dari data :
- Bobot cawan penguap + logam M yang tidak diketahui = 45,82gr
- Bobot cawan penguap = 45,361
Jawab : massa atom Cu = 45,781 45,361 = 0,42 gr
Jelaskan apa yang dimaksud dengan oksidasi dan reduksi ?
- Oksidasi = peristiwa pelepasan elektron,akibatnya biloks bertambah
- Reduksi = peristiwa penangkapan elektron, akibatnya biloks berkurang
Jelaskan apa yang dimaksud dengan oksidator dan reduktor ?
- Oksidator = zat yang mengalami reduksi, menangkap elektron
- Reduktor = zat yang mengalami oksidasi,melepas elektron

3. Landasan Teori
Reaksi kimia merupakan reaksi senyawa dalam larutan (air). Perubahan yang terjadi adalah bukti terjadinya reaksi
kimia. Dalam ilmu kimia, reaksi merupakan salah satu cara untuk mengetahui sifat-sifat kimia dari suatu atau
berbagai zat. Perubahan dalam reaksi kimia dapat berupa perubahan warna, timbulnya panas, timbulnya gas,
terjadinya endapan dan sebagainya. Reaksi kimia secara umum dibagi 2, yaitu reaksi asam-basa dan reaksi redoks.
Pada reaksi redoks terjadi perubahan biloks (bilangan oksidasi), sedangkan pada reaksi asam-basa tidak ada
perubahan biloks. Keduanya ini terdapat ke dalam 4 tipe reaksi, yaitu :
A. Reaksi Sintetis
Reaksi dimana dua atau lebih zat tunggal dalam suatu reaksi kimia (kombinasi, komposisi).
Unsur + Unsur Senyawa, misal : Fe + S FeS
Senyawa + Senyawa Senyawa yang lebih kompleks,
B. Reaksi Dekomposisi
Reaksi yang menghasilkan dua atau lebih zat yang terbentuk dari suatu zat tunggal.
Senyawa Dua atau lebih zat yang lebih sederhana,
C. Reaksi Penggantian Tunggal
Reaksi dimana suatru unsur menggantikan unsure lainnya
D. Reaksi Penggantian Ganda
Reaksi dimana ion-ion positif dari dua senyawa saling dipertukarkan.

Cara teringkas untuk memberikan suatu reaksi kimia adalah dengan menulis suatu persamaan kimia berimbang yang
merupakan pernyataan kualitatif maupun kuantitatif mengenai pereaksi yang terlibat. Tiap zat diwakili oleh rumus
molekulnya. Menyatakan banyaknya atom-atom dari tiap macam dalam suatu satuan zat itu. Rumus molekulnya
merupakan kelipatan bilangan bulat rumus emperis zat itu yang menyatakan
Jumlah minimal yang mungkin dalam perbandingan yang benar atom-atom dari tiap macamnya. Tiga kelas umum
reaksi yang dijumpai dengan melaus dalam kimia ialah reaksi kombinasi langsung, reaksi penukargantian sederhana
dan reaksi penukargantian rangkap.
Hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dalam suatu persamaan kimia berimbang memberikan dasar
stoikiometri. Perhitungan stoikiomentri mengharuskan penggunaan bobot atom unsur dan bobot molekul senyawa.
Banyaknya suatu hasil reaksi tertentu yang menurut perhitungan akan diperoleh dalam suatu reaksi kimia rendemen
teoritis untuk suatu reaksi kimia. Penting untuk mengetahui mana yang merupakan pereaksi pembatas yakni
pereaksi yang secara teoritis dapat bereaksi sampai habis, sedangkan pereaksi-pereaksi lain berlebih.
(Keenan, 1984)

Jika terjadi reaksi kimia, dapat diamati tiga macam perubahan :


a. Perubahan Sifat
b. Perubahan Susunan
c. Perubahan Energi
Semua perubahan kimia tentu induk pada hukum pelestarian hukum energi dan hukum pelestarian energi massa.
Susunan senyawa kimia tertentu oleh hukum susunan pasti dan hukum perbandingan berada.
Azas fundamental yang mendasari semua perubahan kimia merupakan daerah kimia teoritis, korelasi antara konsep
unsur dan senyawa dengan keempat hukum tersebut diatas diperoleh dalam Teori Asam Dalton, teori modern
pertama mengenai atom dan molekul sebagai partikel fundamental dari zat-zat yang tumbuh dari teori ini antara lain
adalah skala, bobot atom relatif unsur-unsur dilarutkan menurut bertambahnya bobot atom, munculnya unsur-unsur
secara teratur dengan sifat-sifat tertentu mendorong meddeleu menyusun tabel berkala dari unsur-unsur dan
meramalkan adanya beberapa unsur yang belum diketahui. Bayaknya dan dari situ proporsi relatif sebagai atom
dalam satuan terkecil senyawa diberikan oleh rumus senyawa, dalam mana digunakan lambang unsur kimia itu.
(Keenan, 1984)
Redoks sering dihubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih sering dari pada yang diamati dalam reaksi
asam-basa. Reaksi redoks melibatkan pertukaran elektron dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua
atau lebih unsur dari reaksi kimia. Persamaan reaksi redoks agak lebih sulit ditulis dan dikembangkan dari
persamaan reaksi biasa yang lainnya karena jumlah zat yang dipertukarkan dalam reaksi redoks sering kali lebih dari
satu. Sama halnya dengan persamaan reaksi lain, persamaan reaksi redoks harus disetimbangkan dari segi muatan
dan materi, penyeimbangan materi biasanya dapat dilakukan dengan mudah sedangkan penyeimbangan muatan
agak sulit. Karena itu perhatian harus dicurahkan pada penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan
faktor stoikiometri. Menurut batasan umum reaksi redoks adalah suatu proses serah terima elektron antara dua
system redoks
(Rivai, 1995).
Redoks adalah reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Setiap reaksi redoks terdiri atas reaksi-reaksi
reduksi dan reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi adalah reaksi kimia yang ditandai kenaikan bilangan oksidasi.
Sedangkan reaksi reduksi adalah reaksi kimia yang ditandai penurunan bilangan bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi
didefinisikan sebagai muatan yang dimiliki suatu atom jika seandainya elektron diberikan kepada atom yang lain yang
keelektronegatifannya lebih besar. Jika kedua atom diberikan maka atom yang keelektronegatifannya lebih kecil lebih
positif sedangkan atom yang keelektronegatifannya lebih besar memiliki bilangan oksidasi negatif
(Dogra, 1998).
Perubahan penting yang terjadi dalam suatu reaksi reduksi-oksidasi paling mudah terlihat dengan cara memisahkan
reaksi reaksi keseluruhan ke dalam dua setengah reaksi. Dalam setengah-reaksi oksidasi atom-atom tertentu
mengalami peningkatan bilangan oksidasi, dan elektron tampak pada sebelah kanan persamaan setengah-reaksi.
Dalam setengah reaksi reduksi, bilangan oksidasi dari atom-atom tertentu menurun, dan elektron pada sebelah kiri
dari persamaan reaksi. Dalam suatu persamaan oksidasi reduksi keselurahan, jumlah elektron yang sama harus
tampak dalam masing-masing persamaan setengah reaksi. Ketentuan ini merupakan dasar dari persamaan
keseimbangan oksidasi-reduksi
(Petrucci, 1985).

4. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan


1) Tabung reaksi
2) Rak tabung reaksi
3) Pipet tetes
4) Selang tabung reaksi
5) Kaca arloji
6) Neraca analitik

Bahan
1) HCl 0,1 N 16) CuSO4 0,1 M
2) CH3COOH 0,1 N 17) (NH4)2SO4
3) NaOH 0,1 N 18) Lakmus merah
4) Indikator PP 19) Pb(NO3)2 0,1 M
5) K2CrO4 0,1 M 20) NaCl 0,1 M
6) HCl 1 M 21) AgNO3 0,1 M
7) NaOH 1 M 22) CaCO3
8) K2Cr2O7 0,1 M 23) Ba(OH)2
9) Al2(SO4)3 0,1 M 24) Asam nitrat
10) NH4OH 1 M 25) KI 0,1 M
11) BaCl2 0,1 M 26) CHCl3
12) H2C2O4 0,1 N
13) H2SO4 2 M
14) KMnO4 0,1 M
15) Fe2 0,1 M

5. PROSEDUR KERJA

1. a. Ke dalam 2 tabung reaksi masukkan masing-masing tepat 1,0 mL HCl 0,1 N dan larutan CH3COOH 0,1 N.
tambahkan masing-masing 1 tetes larutan indicator PP. amati warna larutan-larutan tersebut.
b. Ke dalam 2 tabung reaksi lain masukkan larutan NaOH 0,1 N masing-masing 1 mL. tambahkan pada kedua
tabung tersebut masing-masing 1 tetes larutan indicator PP. amati warna larutan tersebut.
c. Campurkan kedua asam dengan basa pada nomor 1.a. dan 1.b. Amati perubahan yang terjadi.
2. a. masukkan kedalam 2 tabung reaksi masingmasing 1 mL larutan K2CrO4 0,1 M. Ke dalam tabung pertama
tambahkan larutan HCl 1 M. Kocok dan amati. Ke dalam tabung lainnya tambahkan larutan NaOH 1 M. Simpan
kedua larutan ini, untuk dibandingkan dengan larutan nomor 2.b.
b. Masukkan ke dalam 2 tabung reaksi masing-masing 1 mL larutan K2CrO7 0,1 M. Perlakukan seperti pada nomor
2.a. Bandingkan larutan-larutan pada nomor 2.a. dan 2.b.
3. a. Masukkan 1 mL larutan Al2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Tambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M.
Perhatikan apa yang terjadi.
b. Masukkan 1 mL larutan Al2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 5 tetes larutan NH4OH 0,1 M dan
amati. Tambahkan lagi tetes demi tetes NH4OH 1 M dan amati. Bandingkan dengan nomor 3.a.
4. a. Campurkan 1 mL BaCl2 0,1 M dalam tabung reaksi dengan 1 mL K2CrO4 0,1 M. Amati, simpan untuk
dibandingkan dengan nomor 4.b. dan 4.c.
b. Ke dalam 1 mL larutan BaCl2 0,1 M tambahkan 1 mL K2CrO4 0,1 M. Amati.
c. Ke dalam 1 mL larutan BaCl2 0,1 M tambahkan 1 mL HCl 1 M dan 1 mL K2CrO4 0,1 M.
5. a. Ke dalam campuran 1 mL asam oksalat (H2C2O4) 0,1 N dan 2 tetes H2SO4 2 M, teteskan larutan KMnO4 0,1
M sambil dikocok. Teteskan terus larutan KMnO4 sampai warnanya tidak hilang lagi.
b. Ke dalam campuran 1 mL larutan besi (II) 0,1 M dan 2 tetes H2SO4 0,5 M, teteskan larutan KMnO4 0,1 M sambil
di kocok. Bandingkan kecepatan hilangnya warna KMnO4 pada nomor 5.a. dan 5.b.
6. a. Tambahkan sedikit demi sedikit larutan NaOH 1 M kedalam 1 mL larutan CuSO4 0,1 M. Tambahkan lagi NaOH
sampai berlebihan.
b. Ulangi pekerjaan nomor 6.a., tetapi gantilah larutan NaOH dengan larutan NH4OH 1 M. Bandingkan hasil
pengamatan nomor 6.a. dan 6.b.
7. Kedalam tabung yang bersaluran, masukkan 4 mL larutan (NH4)2SO4. Tambahkan larutan NaOH. Gas yang
terbentuk dikenakan pada kertas lakmus yang telah dibasahi dengan air dan diletakkan di mulut tabung.
8. Campurkan 1 mL larutan Pb(NO3)2 0,1 M dengan 1 mL larutan NaCl 0,1 M. Amati apa yang terjadi. Panaskan
campuran tersebut sambil dikocok. Kemudian campuran didinginkan. Catat pengamatan.
9. Kedalam 1 mL larutan NaCl 0,1 M tambahkan 10 tetes larutan AgNO3 0,1 M. Catat pengamatan (campuran
jangan dibuang, kumoulkan ditempat khusus sisa AgNO3).
10. Masukkan 1 gram serbuk CaCO3 ke dalam tabung reaksi yang bersaluran. Tambahkan larutan HCl. Gas yang
terjadi dialirkan ke dalam tabung lain yang berisis larutan Ba(OH)2
11. Campurkan ke dalam tabung reaksi 1 mL asam nitrat dan 1 mL larutan KI 0,1 M. Amati warna larutan.
Tambahkan 1 mL CHCl3 atau CHCl4 lalu kocok. Diamkan kemudian amati larutan yang terjadi

6. HASIL PERCOBAAN

Hasil Percobaan
a. Percobaan 1
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. HCl + PP HCl (tidak berwarna) + indikator PP (tidak berwarna), pada campuran tidak terjadi perubahan apapun
2. CH3COOH + PP CH3COOH (tidak berwarna) + indikator PP (tidak berwarna), pada campuran tidak terjadi
perubahan apapun
3. NaOH + PP NaOH (tidak berwarna) + indikator PP (tidak berwarna), campuran ini menghasilkan warna ungu.
4. NaOH + PP NaOH (tidak berwarna) + indikator PP (tidak berwarna), campuran ini menghasilkan warna ungu.
5. (NaOH + PP) + (HCl + PP) (NaOH + PP) berwarna ungu + (HCl + PP) tidak berwarna, menghasilkan campuran
tidak berwarna, sebab asam kuat bertemu basa kuat akan menjadi netral.
6. (NaOH + PP) + (CH3COOH + PP) (NaOH + PP) berwarna ungu + (CH3COOH + PP) tidak berwarna,
menghasilkan campuran berwarna ungu tua, sebab asam lemah bertemu basa kuat maka konsentrasinya akan basa.

b. Percobaan 2
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. K2CrO4 + HCl K2CrO4 (kuning) + HCl (tidak berwarna) menjadi larutan berwarna orange.
2. K2CrO4 + NaOH K2CrO4 (kuning) + NaOH (tidak berwarna) menjadi larutan berwarna kuning dengan endapan di
dasar tabung reaksi.
3. K2Cr2O7 + HCl K2Cr2O7 (orange) + HCl (tidak berwarna) menjadi larutan yang berwarna kuning.
4. K2Cr2O7 + NaOH K2Cr2O7 (orange) + NaOH (tidak berwarna) menjadi larutan yang berwarna kuning.

c. Percobaan 3
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. Al2(SO4)3 + NaOH Al2(SO4)3 (tidak berwarna) + NaOH (tidak berwarna menjadi campuran yang tidak berwarna
dengan endapan putih di dasar tabung reaksi.
2. Al2(SO4)3 + NH4OH Al2(SO4)3 (tidak berwarna) + NH4OH (tidak berwarna) menjadi campuran yang tidak
berwarna dengan endapan putih, pada saat di campur dengan NH4OH berlebih sebanyak 5 tetes, tetap endapan
tidak larut.

d. Percobaan 4
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. BaCl2 + K2CrO4 Pada reaksi BaCl2 (tidak berwarna) + K2Cr2O4 (kuning) menghasilkan larutan berwarna kuning
keruh
2. BaCl2 + NaOH + K2CrO4 BaCl2 (tidak berwarna) + NaOH (tidak berwarna) mengasilkan larutan berwarna putih
dengan endapan di dasar tabung. Kemudian ditambahkan K2CrO4 (kuning) menjadi larutan berwarna kuning dengan
endapan di dasar tabung.
3. BaCl2 + HCl + K2CrO4 BaCl2 ditambahkan dengan HCl tetap tidak berwarna, kemudian dimasukkan K2CrO4
maka larutan tersebut menjadi warna orange dengan endapan di dalam tabung.

e. Percobaan 5
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. H2C2O4 + H2SO4 + K2MnO4 H2C2O4 tidak berwarna + 2 tetes H2SO4 sebagai katalis + K2MnO4 sebanyak 7
tetes, pada tetes ke 8 warnanya hilang (warna menghilang dalam jangka waktu yang cukup lama)
2. Fe2 + H2SO4 + K2MnO4 Fe22+ + 2 tetes H2SO4 sebagai katalis + K2MnO4 sebanyak 3 tetes pada tetes ke-4
warnanya hilang (warna menghilang dengan cepat)

f. Percobaan 6
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. NaOH + CuSO4 NaOH yang tidak berwarna dicampurkan dengan CuSO4 berwarna biru, dan hasil campurannya
adalah biru tua dengan endapan. Hasil reaksi di pindahkan sedikit, dan ditambahkan larutan NaOH sehingga
endapan akan larut pada tetes ke 19.
2. NH4OH + CuSO4 (NH4)OH dengan CuSO4 berwarna biru, dan hasil campurannya adalah biru tua dengan
endapan. Hasil reaksi di pindahkan sedikit, dan ditambahkan larutan (NH4)OH sehingga endapan akan larut pada
tetes ke 10.

g. Percobaan 7
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. (NH4)2SO4 + NaOH 4 mL larutan (NH4)SO4 + NaOH 2 mL sehingga terbentuk gas NH3 yang diketahui dengan
berubahnya warna lakmus merah menjadi biru.

h. Percobaan 8
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. Pb(NO3)2 + NaCl Pb(NO3)2 tidak bewarna + 1 mL NaCl tidak berwarna, terbentuk endapan putih dari campuran
tersebut. Setelah dipanaskan dan didinginkan maka endapan itu pun hilang.

i. Percobaan 9
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. NaCl + AgNO3 NaCl tidak berwarna + AgNO3 tidak berwarna menghasilkan endapan putih pada dasar tabung
reaksi.

j. Percobaan 10
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. CaCO3 + HCl CaCO3 + HCl menghasilkan gas (O2 karena bereaksi dengan Ba(OH)2 ditabung yang lain
terbentuk endapan putih BaCO3 + H2O.

k. Percobaan 11
No Prosedur Pengamatan dan Penjelasan
1. Cl2 + KI + CHCl3 Campuran dari 1 mL asam nitrat dengan 1 mL KI menjadi larutan berwarna orange.
Ditambahkan dengan CHCl3 dan dikocok terbentuk 2 larutan yang berwarna ungu (dibawah) dan orange (diatas),
dua larutan tersebut tidak menyatu (seperti air dan minyak).
6. Pembahasan
a. Percobaan 1
1) Saat HCl (asam kuat) yang berwarna bening dicampurkan dengan indikator PP maka menghasilkan campuran
tidak bewarna, demikian juga dengan CH3COOH yang dicampurkan dengan indikator PP maka hasilnya tidak
berwarna.
2) NaOH dicampurkan dengan indikator PP berubah warna dari tidak bewarna menjadi ungu, sebab indikator PP
akan bereaksi pada basa yang pHnya lebih dari 7.
3) Saat NaOH (dengan indikator PP) dan HCl (dengan indikator PP) di reaksikan, maka warna dari NaOH menjadi
hilang, karena asam kuat bertemu dengan basa kuat akan menjadi nertral. Sedangkan, saat NaOH direaksikan
dengan CH3COOH akan berubah warna menjadi ungu tua, sebab terjadi reaksi antara basa kuat dengan asam
lemah.
NaOH + HCl NaCl + H2O
NaOH + CH3COOH CH3COONa + H2O

b. Percobaan 2
1) K2CrO4 (kuning) direaksikan dengan HCl (tidak berwarna) maka hasil reaksinya berwarna orange, sedangkan
apabila K2CrO4 direaksikan dengan NaOH maka hasil reaksinya berwarna kuning dengan adanya endapan didasar
tabung.
2) K2Cr2O7 (orange) direaksikan dengan HCl (tidak berwarna) maka hasil reaksinya berwarna kuning. Sedangkan
saat K2Cr2O7 direaksikan dengan NaOH maka hasil reaksinya menjadi berwarna orange.
K2CrO4 + 2HCl 2KCl + H2CrO4
K2CrO4 + 2NaOH 2KOH +Na2CrO4
K2Cr2O7 + 2HCl 2KCl + H2CrO7
K2Cr2O7 + 2NaOH 2KOH + Na2CrO7

c. Percobaan 3
1) Al2(SO4)3 (tidak berwarna) direaksikan dengan NaOH (tidak berwarna), maka akan menghasilkan larutan tidak
berwarna dan terdapat endapan putih.
2) Al2(SO4)3 (tidak berwarna) direaksikan dengan NH4OH (tidak berwarna), maka akan menghasilkan larutan tidak
berwarna dan terdapat endapan putih. Sedangkan saat ditambahkan dengan NH4OH berlebih sebanyak 5 tetes,
maka endapannya larut.
Al2(SO4)3 + 6 NH4OH 2Al(OH)3 + 3(NH4)2SO4

d. Percobaan 4
1) BaCl2 (tidak berwarna) direaksikan dengan K2CrO4 (kuning) menghasilakn larutan berwarna kuning keruh.
2) BaCl2 (tidak berwarna) direaksikan dengan NaOH (tidak berwarna) mengahasilkan senyawa dengan endapan
putih. Dan pada saat ditambahkan K2CrO4 maka hasil reaksinya terdapat endapan kuning.
3) BaCl2 (tidak berwarna) direaksikan dengan HCl (tidak berwarna) mengahasilkan larutan tidak berwarna. Dan pada
saat ditambahkan K2CrO4 maka hasil reaksinya menjadi berwarna orange dengan endapan.
BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 + 2KCl
2BaCl2 + K2CrO4 + 2NaOH BaCrO4 + Ba(OH)2 + 2KCl + 2NaCl

e. Percobaan 5
1) H2C2O4 direaksikan dengan H2SO4 (sebagai katalis) dan KMnO4 sebanyak 7 tetes, pada saat tetasan ke 8 maka
warnanya belum menghilang. Warnanya menghilang dalam jangka waktu yang cukup lama.
2) Fe (II)2+ direaksikan dengan H2SO4 (sebagai katalis) dan KMnO4 sebanyak 3 tetes, pada saat tetasan ke 3 maka
warnanya menghilang. Warnanya menghilang dalam jangka waktu yang cepat.

f. Percobaan 6
1) NaOH (tidak berwarna) direaksikan dengan CuSO4 (biru) menghasilkan endapan Cu(OH)2 dan NaSO4, saat
ditambahkan NaOH berlebih maka endapannya pun larut pada tetesan ke-19.
2) NH4OH (tidak berwarna) direaksikan dengan CuSO4 (biru) menghasilkan endapan, saat ditambahkan NH4OH
berlebih maka endapannya pun larut pada tetesan ke-10.
CuSO4 + NaOH Cu(OH)2 + Na2SO4

g. Percobaan 7
(NH4)SO4 ditambahkan dengan NaOH sehingga terbentuk gas NH3 yang dapat diketahui dari perubahan kertas
lakmus merah menjadi biru.

h. Percobaan 8
Pb(NO3)2 (tidak berwarna) direaksikan dengan NaCl (tidak berwarna) menghasilkan endapan pada larutan tersebut.
Namun pada saat dipanaskan dan didinginkan, makan endapannya menghilang.

i. Percobaan 9
NaCl (tidak berwarna direaksikan dengan AgNO3 (tidak berwarna) menghasilkan larutan dengan endapan putih.
NaCl + AgNO3 NaNO3 + AgCl

j. Percobaan 10
CaCO3 yang direaksikan dengan HCl menghasilkan gas CO2 yang bereaksi melalui selang bersaluran dengan
Ba(OH)2 yang berada ditabung lain, maka terbentuk endapan BaCO3 dan H2O
CaCO3 + HCl CaCl2 + H2CO3
H2CO3 CO2 + H2O

k. Percobaan 11
Asam nitrat yang dicampurkan dengan KI menjadikan warna larutan berwarna orange. Dan ditambahkan lagi CHCl3.
Setelah dikocok maka terbentuk latutan berwarna ungu (dibawah) dan yang berwarna orange (diatas). Larutan
tersebut tidak menyatu sepeti minyak dan air karena kerapatan larutan tersebut berbeda.

7. Pertanyaan pasca praktek


1. Buatlah persamaan reaksinya :
a. Cu + O2 CuO
b. Hg(NO3)2 + 2KBr 2KNO3 + HgBr2
2. Lengkapi persamaan reaksi berikut,bila tidak ada reaksi tulis TR?
a. Hg + Fe(NO3)3 TR
b. Zn + Ni(OH)2 Zn(OH)2 + Ni

8.KESIMPULAN

Dari hasil kegitan praktikum baik dalam pengamatan, perhitungan serta pembahasan dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Reaksi kimia dikatakan berlangsung apabila salah satu hal teramati diantaranya:
- Reaksi tersebut menghasilkan gas.
- Reaksi tersebut menghasilkan perubahan suhu.
- Reaksi tersebut menghasilkan perubahan warna
2. Reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat-zat baru yaitu hasil reaksi terbentuk dari
beberapa zat aslinya yang disebut pereaksi.
3. Reaksi kimia dibagi beberapa jenis diantaranya :
- Pembakaran
- Penggabungan
- Penguraian
- Pemindahan Tanggal
DAFTAR PUSTAKA

Keenan, A. Hadyana Pudjaatmaja, PH. CL, 1992. Kimia Untuk Universitas, Jilid 1. Bandung: Erlangga.

Petrucci, H. Ralph, Suminar,1989,Kimia Dasar,Edisi Ke-4 Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Brady, James E. 1998. Kimia Universitas Asas & Struktur Edisi Kelimi Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara

Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta


PERCOBAAN VII
Judul : Reaksi Redoks dan Sel Elektrokimia
Tujuan : 1. Untuk mempelajari pendesakan
2. Untuk mempelajari reaksi redoks pada sel volta
Hari / Tanggal : Sabtu / 1 Desember 2012
t : Laboratorium Kimia PMIPA FKIP Unlam Banjarmasin

I. DASAR TEORI
Sejumlah reaksi yang mana keadaan oksidasinya berubah, yang disertai dengan pertukaran
elektron antara pereaksi disebut sebagai reaksi oksidasi-reduksi atau dengan pendek disebut
reaksi redoks. Istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh suatu
zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat . Atau
dengan kata lain oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau
lebih dari dalam zat (atom,ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya
berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh
elektron, dan dalam proses itu zat tersebut direduksi. Berlaku untuk zat padat,lelehan maupun
gas.
Reduksi adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya satu elektron atau lebih
oleh zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah menjadi
lebih negatif. Jadi, suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses ini zat
tersebut dioksidasi. Berlaku untuk zat padat,lelehan maupun gas.
Oksidasi dan reduksi selalu berlangsung serempak, karena elektron yang dilepas oleh suatu
zat harus diambil oleh zat yang lain. Jadi, proses-proses oksidasi dan reduksi berubah menjadi
hasil reaksi, contoh :

2 Cl- + MnO2+ 4 H+ Cl2 + Mn2+ + 2 H2O

Reaksi di atas telah memenuhi hukum kekekalan muatan dan hukum kekekalan massa,
pada reaksi tersebut pereaksi Cl- mengalami kenaikan bilangan oksidasi menjadi hasil pereaksi
Cl2, sedangkan Mn dan MnO2 mengalami penurunan bilangan oksidasi menjadi Mn2+. Pada
suatu reaksi redoks zat mereduksi zat lain disebut oksidator, sedangkan zat yang mengoksidasi
zat lain disebut reduktor.
Reaksi redoks yang terjadi oleh suatu spesi disebut disproporsionasi atau reaksi
autooksidasi. Spesi ini mengandung unsur yang mempunyai bilangan oksidasi di antara bilangan
oksidasi tertinggi dan terendah yang saling bereaksi satu sama lain.
Metode percobaan langsung untuk menentukan potensial elektroda yaitu berdasarkan
penentuan percobaan potensial. Antara dua elektroda, bila dibuat suatu hubungan listrik antara
dua daerah yang mempunyai rapatan muatan yang berbeda maka muatan listrik akan mengalir
dari daerah yang mempunyai rapatan muatan yang lebih tinggi atau potensial listrik yang lebih
tinngi menuju daerah dengan potensial listrik yang lebih rendah. Gabungan dua setengah sel
disebut sel elektokimia.
Hubungan listrik antara dua setengah sel harus dilakukan dengan cara tertentu, kedua
elektroda logam dan larutannya harus berhubungan secara sederhana elektroda saling
dihubungkan dengan kawat logam yang memungkinkan aliran elektroda.
Aliran listrik di antara dua larutan harus berbentuk migrasi ion. Hal ini hanya dapat
dilakukan melalui larutan yang menjembatani kedua setengah sel. Hubungan ini disebut
jembatan garam. Jembatan garam ini terdiri dari pipa U terbaik yang diisi dengan elektrolit yang
menghantarkan listrik seperti kalium klorida, dan disumbat dengan kapas pada kedua ujungnya
untuk mencegah aliran mekanis. Jembatan ini menghubungkan kedua cairan tanpa
mencampurnya. Elektrolit dalam jembatan garam selalu dipilih sedemikian rupa sehingga tidak
bereaksi dengan masing-masing larutan yang dihubungkan nama alat ini biasa disebut sel
Galvani atau Sel Volta.
Angka yang biasanya tertera di pengukuran lingkar arus listrik menunjukan perbedaan
potensial di antara dua setengah sel tersebut. Karena perbedaan potensial ini merupakan daya
dorong elektron, maka sering disebut daya elektromotif (eruf) sel atau potensial sel satuan yang
digunakan untuk mengukur potensial listrik adalah Volt, jadi potensial sel disebut juga Voltase
Sel.
Dua aturan yang cocok untuk menghitung daya gerak listrik suatu sel penentuan reaksi sel,
dan untuk menentukan apakah reaksi sel seperti tertulis berlangsung spontan daya gerak listrik
sel E0 adalah daya gerak listrik bila semua konstituen terdapat pada keaktifan satu.
1) Daya gerak listrik suatu sel sama dengan potensial elektroda standar elektroda katode dikurangi
potensial elektroda anode.
E0 sel = E0 katode - E0anode
Hasil E0 sel > 0 menyatakan reaksi berlangsung spontan, dan E0 sel < 0 maka menyatakan reaksi
berlangsung tidak spontan.
2) Reaksi yang berlangsung pada anode ditulis sebagai reaksi oksidasi dan reaksi yang berlangsung
pada anode ditulis sebagai reaksi oksidasi dan reaksi yang berlangsung pada katode adalah reaksi
reduksi. Reaksi sel adalah jumlah dari kedua reaksi ini.
Untuk mengetahui reaksi redoks spontan atau tidak juga bisa dilihat dalam deret keaktifan
logam yaitu :
Li K Ba Ca Na Mg Al Mn (H2O) Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb (H) Cu Hg Ag Pt Au, semakin kekanan
maka potensial reduksinya semakin meningkat sehingga semakin mudah untuk direduksi, dan
semakin ke kiri makin mudah untuk dioksidasi.
Elektroda acuan untuk mengukur potensial elektroda dipilih elektroda hidrogen baku. Potensial
elektroda standar suatu elektroda diberi nilai positif bila elektroda ini lebih positif dari pada
elektroda hidrogen standar, dan tandanya negatif bila lebih negatif daripada elekrtoda hidrogen
standar.
Penulisan dengan lambang kerap kali digunakan untuk menggambarkan sebuah sel. Penulisan ini
disebut diagram sel, untuk sel elektrokimia :
Zn /Zn2+ Ag+ Ag
Berdasarkan konvensi, maka sebelah kiri merupakan elektroda dimana terjadi oksidasi dan
disebut anode. Sedangkan kanan merupakan elektroda dimana terjadi reduksi disebut katode.
Garis tegak lurus tunggal merupakan batas antara suatu elektroda dan fase lain. Garis tegak lurus
ganda menekankan bahwa larutan tersebut dihubungkan oleh jembatan garam.
Dengan menghubungkan elektroda dengan sumber energi luar (berupa suatu generator atau
baterai timbal), elektroda dapat dibuat mengalir dalam arah yang berlawanan. Dalam reaksi
elektrolisis, energi listrik digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan kimia yang tidak akan
terjadi secara spontan (E sel bernilai negatif).
Dalam beberapa hal tegangan yang diperlukan untuk menjalankan reaksi elektroda tertentu
dapat melampaui hitungan secara teori, interaksi yang disebut polarisasi mungkin terjadi antara
permukaan elektroda yang terdapat direaksi elektrolisis.
Hukum Faraday adalah hukum dasar untuk elektrolisis dan elektroanalisis. Hukum ini
digunakan untuk menjelaskan pemakaian sel elektrolitik dalam pemeriksaan kimia. Sehubungan
dengan ini, Faraday merumuskan dua hukum dasar yang dikenal hukum elektrolisis, yaitu :
a) Massa zat yang bereaksi pada elektroda sebanding dengan jumlah kelistrikan yang mengalir
melalui sel.
b) Massa ekivalen zat yang berbeda dihasilkan atau dipakai pada elektroda dengan melewatkan
sejumlah tertentu muatan listrik melalui sel.

II. ALAT DAN BAHAN


2.1 Alat
Alat yang digunakan:
1. Gelas kimia : 4 buah
2. Spatula : 1 buah
3. Pipet tetes : 1 buah
4. LCD : 1 buah
5. Laptop : 1 buah
6. Gunting : 1 buah
2.2 Bahan
Bahan yang digunakan:
1. Larutan CuSO4
2. Zn
3. Larutan ZnSO4
4. Cu

III. PROSEDUR KERJA


3.1 Beberapa Reaksi Redoks
1. Memasukkan 2 ml larutan CuSO4 kedalam gelas kimia, kemudian menambahkan sedikit logam
Zn dan mendiamkannya selama beberapa menit.
2. Mencatat apa yang terjadi.
3. Pada tabung yang lain memasukkan logam Cu kedalam gelas kimia yang berisi Larutan ZnSO4 1
M.
4. Mengamati apa yang terjadi.
3.2 Reaksi Redoks pada Sel Volta
1. Mendengarkan, melihat, mencatat penjelasan asisten dosen tentang sel elektrokimia.

IV. HASIL PENGAMATAN


4.1 Beberapa Reaksi Redoks
No Variabel yang diamati Hasil pengamatan
1 5 ml larutan CuSO4 + sedikit Larutan CuSO4 bewarna biru
logam Zn. Logam Zn bewarna abu-abu
Membiarkannya selama 5 menit. Ada gas / gelembung
Logam Zn berubah warna
menjadi abu-abu menjadi
hitam lalu menjadi cokelat.
2 Larutan ZnSO4 1 M sebanyak 5 Larutan ZnSO4 bewarna putih
ml + Logam Cu. bening.
Logam Cu bewarna merah
bata / cokelat
Membiarkannya selama 5 menit. Tidak terjadi reaksi

4.2 Reaksi Redoks pada Sel Volta


No Variabel yang diamati Hasil pengamatan
1 Anode E0 sel = 1,56 V
Logam : Zn Elektron mengalir dari anode
Larutan: Zn(NO3)2 1 M. ke katode
Katode .
Logam : Ag
Larutan : Ag(NO3)2 1 M.
2 Anode E0 sel = -
Logam : Ag Elektron tidak mengalir dan
Larutan: Zn(NO3)2 1 M. tidak terjadi reaksi
Katode
Logam : Zn
Larutan : Ag(NO3)2 1 M.

V. ANALISIS DATA
5.1 Beberapa Reaksi Redoks
Pertama memasukkan logam Zn ke dalam larutan 5 ml CuSO4 1 M, yang berada dalam
gelas kimia. Sesaat setelah dimasukkan gelas kimia menjadi hangat, dan terdapat endapan di
gelas kimia. Pada reaksi kedua yaitu memasukkan logam Cu kedalam larutan 10 ml ZnSO 4 1 M
yang berada dalam gelas kimia. Setelah didiamkan beberapa saat, tidak terjadi apa-apa dalam
larutan tersebut.
Zn yang dimasukkan ke dalam larutan CuSO4 akan mengalami reaksi seperti berikut :
Zn + CuSO4 ZnSO4 + Cu E0 = 1,1 V
Oksidasi

0 +2 +2 0

Reduksi

Reaksi ini termasuk reaksi spontan, karena menurut deret keaktifan logam Cu berada lebih
karena dari pada Zn, sehingga dalam reaksi. Cu2+tereduksi menjadi Cu dan Zn lebih kiri
mengakibatkan Zn teroksidasi menjadi ionnya yaitu Zn2+. Gelas kimia yang terasa hangat juga
menyatakan bahwa terjadi reaksi spontan dalam reaksi tersebut, yaitu adanya pelepasan elektron
dari Zn sehingga Zn menjadi Zn2+ dan penangkapan elektron oleh Cu2+sehingga menjadi Cu dan
mengendap. Zn yang berubah warna itu sebenarnya bukan Zn tapi Cu yang berubah dari larutan
menjadi padatan (endapan) sedangkan Zn menjadi larutan ZnSO4. Itu dibuktikan dengan endapan
berwarna merah bata, warna khas dari tembaga. Adanya gas/gelembung itu membuktikan bahwa
telah terjadi reaksi kimia dari Zn dengan CuSO4. Dan kalau dilihat dengan kecepatan reaksinya
pada saat praktikum maka nilai E0 selnya positif.

Logam Cu yang dimasukkan ke dalam larutan ZnSO4 mengalami reaksi karena potensial
reduksi Cu lebih besar daripada Zn. Jadi Cu tidak bisa dioksidasi oleh Zn2+ menjadi Cu2+ dan
Zn2+ tidak bisa direduksi oleh Cu2+menjadi Zn, hal ini juga terlihat dari deret keaktifan logam,
Cu lebih mudah direduksi dibandingkan Zn. Agar bisa bereaksi diperlukan energi luar yaitu
dengan konsep elektrolisis. Maka nilai E0 selnya adalah negatif.

5.2 Reaksi Redoks pada Sel Volta


Di dalam sel volta diisi logam Zn dengan larutan Zn(NO3)2 yang berperan sebagai anode.
Kemudian di katode diisi logam Ag dengan larutan Ag(NO3)2 . Zn yang berperan sebagai anode
dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung ion Zn2+ yaitu larutan Zn(NO3)2 dan logam Ag
dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung ion Ag2+ yaitu Ag(NO3)2.
Bila logam Zn dihubungkan dengan logam Ag melalui kawat penghantar, maka terjadi
reaksi. Pada anode logam Zn akan melepas elektron melalui kawat penghantar dan logam Zn
teroksidasi menjadi Zn2+ kemudian memasuki larutan. Elektron dari Zn mengalir dari melalui
kawat penghantar,dan menuju katode. Di katode, elektron ditangkap oleh ion Ag2+ yang berada
di dalam larutan dan mengendap sebagai logam Ag. Jembatan garam memungkinkan cepat
berjalannya arus listrik antara keduanya. Tanpa adanya jembatan garam maka larutan akan
menjadi larutan setengah sel, Zn akan kelebihan ion Zn2+dan bermuatan positif. Sedangkan
dalam setengah sel Ag akan kekurangan ion Ag2+ dan kelebihan anodanya menumpuk muatan
negatif. Dengan demikian arus listrik akan berhenti.
Ion negatif dari garam (Cl-) akan menetralkan kelebihan ion positif dalam setengah sel Zn
dan ion positif dari garam (Na+) akan menetralkan kelebihan muatan negatif dari setengah sel
Ag. E0 sel yang berharga +1,56 V dinyatakan bahwa terjadi reaksi spontan dan pereaksi ini
elektronnya mengalir dari anode ke katode. Diagramnya Zn /Zn2+ //Ag+ /Ag.
Apabila kita tukar logam Zn dan larutan Zn(NO3)2 diletakkan di katode dan logam Ag
dengan larutan Ag (NO3)2 diletakkan di anode. Maka harga E0selnya akan negatif, yaitu -1,56 V.
di karenakan elektron mengalir dari katode ke anode. Sehingga terbaca oleh Voltmeter negatif
atau dapat dibuktikan dengan teori yang dinyatakan dalam rumus :
E0 Sel = E katode E anode
Di karenakan elektron mengalir dari katode ke anode maka nilai E anode akan lebih besar
dari nilai E katode, setelah melalui perhitungan maka nilai E selnya negatif.
Sehingga akan lebih sesuai ketika Zn dan larutan Zn(NO3)2 diletakkan di anode sedangkan
Ag dan Larutan Ag(NO3)2 diletakkan di katode karena potensial reduksi Zn lebih kecil daripada
Ag. Reaksi kimianya adalah :
Oksidasi : Zn (s) Zn2+ (aq) + 2e-

Reduksi : 2Ag+ (aq) + 2e- 2Ag(s)


+
Keseluruhan : Zn (s) + 2Ag (aq) Zn2+ (aq) + 2Ag (s)
Sedangkan apabila larutannya dibalik Zn larutannya Ag(NO3)2 dan logam. Ag larutannya
Zn (NO3)2 maka elektronnya tidak mengalir sehingga tidak terjadi reaksi. Antara anode dan
katode, ion Ag2+ akan masuk ke dalam logam Zn dan Zn akan melepas Zn2+ . dengan kata lain
logam Zn bereaksi dengan larutan Ag(NO3)2 sedangkan Ag tidak bereaksi dengan larutannya
maka tidak ada elekton yang mengalir melalui kawat, dan maka nilai E0 selnya tidak ada.

VI. KESIMPULAN
1. Logam Zn dengan larutan Zn(NO3)2 di anode dan logam Ag dengan larutan Ag(NO3)2 di katode
mendapat nilail E0 Sel sebesar + 1,56 V.
2. Logam Zn dengan larutan Zn(NO3)2 di katode dan logam Ag dengan larutan Ag(NO3)2 dianode
mendapat nilail E0 Sel sebesar -1,56 V.
3. Logam Zn dengan larutan Ag(NO3)2 di anode dan logam Ag dengan larutan Zn(NO3)2 di katode
tidak terdapat reaksi dan elektron tidak mengalir.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Day & Underwood. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi ke-6. Jakarta: Erlangga.
Dosen-dosen Kimia di Perguruan Tinggi Wilayah Barat. 1994. Penuntun Praktikum Kimia
Dasar. Bandung: ITB.
Petrucci, Ralp.H. 1999. Kimia Dasar Edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
Syahmani. 2012. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin: FKIP UNLAM Banjarmasin.
Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro 1 & 2 Edisi ke-
5. Jakarta: Kalman Media Pustaka.