Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

STOIKIOMETRI DAN TERMOKIMIA


Dosen:
Julfi Restu Amelia
Dewi Ayu Kusumaningrum, STp., M.M

Disusun oleh: Kelompok 2


1. Afrilda Astarina Putri 2014340075
2. Annisa Pramesti 2017340002
3. Norbertus Andika S. D. Y. 2017340012
4. Putri Monica Wardahni 2017340019
5. Nisrina Aulia Damayanti 2017340041

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS SAHID JAKARTA

2017
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoiceon (unsur) dan metrein
(mengukur). Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur dalam hal ini adalah
partikel atom ion, molekul yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat
dalam reaksi kimia. Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung
hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia)
yang didasarkan pada hukum-hukum dasar dan persamaan reaksi.
Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan massa unsur-unsur
dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan kimia secara
stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia.
Termokimia merupakan cabang ilmu kimia yang merupakan bagian dari
termodinamika yang mempelajari perubahan perubahan panas yang mengikuti
reaksi reaksi kimia. Reaksi termokimia terbagi menjadi reaksi eksoterm dan
endoterm.

B. Tujuan
Untuk mempelajari hubungan massa antar unsur dalam suatu senyawa dan
antar zat dalam suatu reaksi kimia dan mengamati setiap reaksi kmia disertai
perubahan energi dan perubahan kalor yang dapet diukur.
BAB 2
TEORI SINGKAT

Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan


kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) yang
didasarkan pada hukum-hukum dasar dan persamaan reaksi. Kata stoikiometri
berasal dari bahasa Yunani yaitu stoicheon yang artinya unsur dan metron yang
berarti mengukur.
Penentuan pereaksi pembatas bergantung pada komposisi awal zat-zat
dalam campuran. Sebagai contoh, kita mempunyai campuran yang terdiri dari 2 mol
N2 dan 5 mol H2, dimana persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:

N2(g) + 3 H2(g) 2 NH3(g)

Dari persamaan reaksi di atas, kita dapat melihat bahwa untuk menghasilkan
2 mol NH3, 1 mol N2 memerlukan 3 mol H2. Jika 2 mol N2 yang tersedia maka
jumlah H2 yang dibutuhkan sebanyak 6 mol, tetapi pada kenyataannya H2 yang
tersedia hanya 5 mol. Dengan demikian, N2 akan habis terlebih dahulu dan menjadi
pereaksi pembatas.

Pada perhitungan kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum


hukum dasar ilmu kimia. Diantaranya :

a. Hukum Lavoisier (Hukum kekekalan masa)


Massa zat zat sebelum bereaksi sama dengan massa zat zat setelah
bereksi.
b. Hukum Proust (Hukum perbandingan tetap)
Perbandingan massa unsur unsur penyusun suatu senyawa selalu
tetap.
c. Hukum Dalton (Hukum perbandingan berganda)
Apabila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, jika
massa salah satu unsur tersebut tetap (sama) maka perbandingan massa
unsur yang lain dalam senyawa senyawa tersebut merupakan bilangan
bulat dan sederhana.
d. Hukum Gay-Lussac (Hukum perbandingan volum)
Pada suhu dan tekanan tetap, volume gas gas yang bereaksi dan volume
gas gas hasil reaksi berbanding lurus dengan koefisien reaksinya sebagai
bilangan bulat dan sederhana.
e. Hukum Avogadro
Pada suhu dan tekanan sama, gas gas yang volumenya sama
mengandung jumlah molekul yang sama.

Termokimia adalah cabang dari kimia fisika yang mempelajari tentang kalor
dan energi berkaitan dengan reaksi kimia dan/atau perubahan fisik. Sebuah reaksi
kimia dapat melepaskan atau menerima kalor. Begitu juga dengan perubahan fase,
misalkan dalam proses mencair dan mendidih. Termokimia fokus pada perubahan
energi, secara khusus pada perpindahan energi antara sistem dengan lingkungan.
Jika dikombinasikan dengan entropi, termokimia juga digunakan untuk
memprediksi apakah reaksi kimia akan berlangsung spontan atau tak spontan.
Termokimia berawal dari hasil kerja Antoine Laurent Lavoisier pada abad ke 18,
dilanjutkan dengan adanya hukum Hess. Termokimia masuk dalam kategori hukum
pertama termodinamika.

Sejarah Termokimia

Termokimia mengalami dua macam generalisasi. Pernyataan tentang


termokimia bervariasi sesuai dengan pengusulnya, yaitu:

Hukum Lavoisier dan Laplace: Perubahan energi selama reaksi bisa sama
dengan atau berkebalikan dengan perubahan energi pada proses kebalikan.
Hukum Hess: Perubahan energi selama reaksi adalah sama, walaupun
perubahan itu berjalan tahap demi tahap.
Lavoisier, Laplace, dan Hess juga meneliti tentang kalor jenis dan kalor
laten. Selanjutnya Joseph Black yang memberi peranan besar dalam
penelitian kalor laten. Gustav Kirchoff menunjukkan bahwa variasi kalor
reaksi diungkapkan dalam kapasitas kalor antara produk dan reaktan dengan
rumus:

dH / dT = Cp

Bentuk integral persamaan ini mengindikasikan adanya koreksi panas


pada satu temperatur dari perhitungan dengan temperatur lain.

Persamaan Kalor

Kalor (heat) adalah energi yang ditransfer antara suatu sistem dan
sekelilingnya sebagai akibat dari perbedaan suhu. Jika dilihat dari jenis reaksi,
terdapat beberapa macam jenis kalor, yaitu:

Kalor pembentukan

Kalor pembentukan adalah kalor yang dilepas atau diterima pada saat satu
mol senyawa terbentuk dari unsur-unsurnya. Sebagai contoh adalah pada
saat pembentukan amonia dari unsur-unsurnya, maka akan dilepaskan
energi sebesar 46 kJ.

N2 (g) + 1 H2 (g) NH3 (g) Ho = -46 kJ mol-1

Kalor penguraian

Kalor penguraian adalah kalor yang dilepas atau diterima pada saat satu mol
senyawa terurai menjadi unsur-unsur pembentuknya. Contohnya adalah
peruraian asam fluorida menjadi unsur-unsurnya membutuhkan kalor
sebesar 271 kJ.

HF(g) H2 (g) + F2 (g) H = +271 kJ mol-1


Kalor pembakaran

Kalor pembakaran adalah kalor yang dilepaskan pada saat satu mol senyawa
dibakar menggunakan oksigen.

CH4 (g) + 2 O2 (g) CO2 (g) + H2O (g) H = +-802 kJ mol-1

Simbol negatif (-) pada H menyatakan sistem melepaskan kalor,


sedangkan simbol positif (+) menyatakan sistem menerima kalor.

Kalorimetri

Pengukuran perubahan kalor dilakukan menggunakan kalorimetri, yang


biasanya berupa chamber tertutup yang dapat mengukur perubahan energi.
Kalorimetri adalah pengukur jumlah kalor yang dilepas atau diserap pada reaksi
kimia.
Temperatur chamber diamati menggunakan termometer atau thermocouple.
Temperatur yang didapatkan diplot melawan waktu membentuk grafik.
Kalorimeter modern dapat membaca informasi yang dibutuhkan dengan cepat.
Sebagai contoh adalah DSC (Differential Scanning Calorimeter).

Reaksi eksoterm ialah apabila daya adhesi antara partikel pereaksi yang
tidak sejenis lebih kuat daripada daya kohesi, maka reaksi akan mengeluarkan
panas / kalor / energi.
Reaksi endoterm ialah apabila daya kohesi lebih kuat daripada daya adhesi,
maka reaksi akan membutuhkan atau menyerap kalor / panas.
BAB 3
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Stoikiometri

ALAT BAHAN
1. Tabung Reaksi & Sumbat Karet 1. Na2CO3
2. Erlenmeyer 2. HCL 1M
3. Balon Tiup 3. CaCl2
4. Pipet Volumetric 4. Pita Mg
5. Rak Tabung Reaksi

Termokimia

ALAT BAHAN
1. Kalorimeter 1. Serbuk Zn
2. Termometer 2. CuSO4 1M
3. Gelas Piala 3. HCL 2M
4. Tabung Reaksi 4. NaOH 2M
5. Rak Tabung Reaksi
B. Prosedur

Stoikiometri

1. Pengaruh banyaknya reaksi yang terbatas

Siapkan 4 tabung reaksi yang


dilengkapi dengan sumbat
karet

Tambahkan 5 mL
Na2CO3

Tambahkan 5 mL
CaCl2 dengan
konsentrasi 1M, 0,5M,
0,1M, 0,05M pada
masing2 tabung

Tutup dengan sumbu karet

Kocok (+/- 20 kali)


2. Hubungan antara mol pereaksi dengan mol produk

Siapkan 3 erlenmeyer

Tambahkan 50
mL HCL 1M

Potong pita Mg masing


masing 6cm, 8cm, dan
10cm. Lalu timbang pita
tersebut

Tempelkan pita Mg pada


leher erlenmeyer pada
masing masing tabung

Pasang balon pada masing


masing leher erlenmeyer.
lalu jatuhkan masing
masing pita Mg pada
larutan HCL 1M.

Amati
Termokimia

1. Penentuan tetapan calorimeter

Siapkan gelas kalorimeter

Tambahkan 20
mLaquadest

Ukur suhu tiap 1 menit


selama 5 menit

Panaskan air hingga 40C.


ukur suhu tiap 1 menit
selama 5 menit

Campurkan kedua
aquadest tersebut.dan ukur
suhu campuran tiap 1
menit selama 5 menit.

Amati
2. Penentuan kalor reaksi Zn - CuSO4

Siapkan gelas kalorimeter

Tambahkan 40
mLCuSO4

Ukur suhu awal

Tambahkan 3g sebuk
Zn

Ukur suhu akhir campuran


3. penentuan kalor penetralan HCL NaOH

Siapkan gelas kalorimeter

Tambahkan 20 mL
HCL 1M

Ukur suhu tiap 1 menit


selama 5 menit

Tambahkan 20 mL
NaOH 1M.

Ukur suhu awal.

Campurkan kedua larutan.


ukur suhu campuran
4. Kalor pelarutan berbagai zat

Siapkan 4 tabung reaksi

Tambahkan 1cm serbuk


NaOH, NaCL, CaCl2,
dan KI pada masing
masing tabung

Tambahkan 5 cm
aquadest pada
masing masing
tabung

Ukur suhu masing masing


tabung

Amati.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

Stoikiometri

Hasil

1. Pengaruh banyaknya reaksi yang terbatas


No. Tabung Konsentrasi Pengamatan
Na2CO3 CaCl2
1. 1M 0,05M Terdapat endapan putih yang
sangat sedikit
2. 1M 0,1M Terdapat endapan putih halus
yang sedikit
3. 1M 0,5M Terdapat endapan putih yang
agak sedikit
4. 1M 1M Terdapat endapan putih yang
cukup banyak

Pembahasan

Pada percobaan stoikiometri pertama untuk mengetahui pengaruh


banyaknya reaksi yang terbatas pertama tama disiapkan empat tabung reaksi yang
dilengkapi dengan sumbat karet lalu ditambahkan 5 ml Na2CO3 lalu tambahkan
CaCl2 dengan konsentrasi 1M; 0,5M; 0,1M; dan 0,05M pada masing-masing
tabung. Kemudian tutup masing-masing tabung dengan sumbu karet dan kocok 20
kali. Dari data di atas dapat dilihat bahwa jika konsentrasi larutan Na2CO3 dan
CaCl2 tinggi, maka tinggi endapan larutan pun tinggi, sebaliknya jika konsentrasi
larutan Na2CO3 dan CaCl2 rendah, maka tinggi endapan larutan pun juga rendah.
Pada percobaan yang telah dilakukan, tabung pertama terdapat endapan putih yang
sangat sedikit, tabung kedua terdapat endapan putih halus yang sedikit, tabung
ketiga terdapat endapan putih yang agak sedikit, dan tabung keempat terdapat
endapan putih yang cukup banyak.

Pada praktikum stoikiometri ini didapat reaksi :


Na2CO3 + CaCl2 2 NaCl + CaCO3

Dari reaksi tersebut, dapat dicari pereaksi pembatasnya, yaitu sebagai berikut :

1. Na2CO3 0,1 M dengan CaCl2 0,05 M


Na2CO3 + CaCl2 2 NaCl + CaCO3
Awal : 0,1 M x 5 ml 0,05 M x 5 ml
(0,5 mmol) ( 0,25 mmol ) - -
Reaksi : 0,25 mmol 0,25 mmol - 2 x 0,5 mmol 0,5 mmol +
Sisa : 0,25 mmol 0 mmol 0,5 mmol 0,25 mmol
Pereaksi Pembatas : CaCl2

2. Na2CO3 0,1 M dengan CaCl2 0,1 M


Na2CO3 + CaCl2 2 NaCl + CaCO3
Awal : 0,1 M x 5 ml 0,1 M x 5 ml
(0,5 mmol) ( 0,5 mmol ) - -
Reaksi : 0,5 mmol 0,5 mmol - 2 x 0,5 mmol 0,5 mmol +
Sisa : 0 mmol 0 mmol 1 mmol 0,5 mmol
Pereaksi Pembatas: -

3. Na2CO3 0,1 M dengan CaCl2 0,5 M


Na2CO3 + CaCl2 2 NaCl + CaCO3
Awal : 0,1 M x 5 ml 0,5 M x 5 ml
(0,5 mmol) ( 2,5 mmol ) - -
Reaksi : 0,5 mmol 0,5 mmol - 2 x 0,5 mmol 0,5 mmol +
Sisa : 0 mmol 2 mmol 1 mmol 0,5 mmol
Pereaksi Pembatas : Na2CO3
4. Na2CO3 0,1 M dengan CaCl2 1 M
Na2CO3 + CaCl2 2 NaCl + CaCO3
Awal : 0,1 M x 5 ml 1 M x 5 ml
(0,5 mmol) ( 5 mmol ) - -
Reaksi : 0,5 mmol 0,5 mmol - 2 x 0,5 mmol 0,5 mmol +
Sisa : 0 mmol 4,5 mmol 1 mmol 0,5 mmol
Pereaksi Pembatas : Na2CO3

Setelah direaksikan, didapat bahwa pada reaksi ketiga dan keempat reaksi
pembatasnya (cepat habis) adalah Na 2CO3. Pada reaksi pertama, reaksi
pembatasnya adalah CaCl2. Sedangkan pada reaksi kedua tidak ada pereaksi
pembatasnya, karena kedua larutan sama-sama habis, dan hanya menyisakan
garam. Hal itu dikarenakan konsentrasi kedua larutan yang direaksikan sama besar,
yaitu 0,1 M.

Hasil

2. Hubungan antara mol pereaksi dengan mol produk

Erlenmeyer V.HCL pita Mg Waktu pengamatan


(g)
1 50mL 0,105 g 1 menit 20 Terdapat gelembung,
detik pita Mg larut, terjadi
kenaikan suhu, balon
terisi agak lambat.
2 50 mL 0,140 g 44 detik Terdapat gelembung,
pita Mg larut, terjadi
kenaikan suhu, balon
terisi agak cepat.
3 50 mL 0,1749 g 35 detik Terdapat gelembung,
pita Mg larut, terjadi
kenaikan suhu, balon
terisi lebih cepat.

Perhitungan volume H2 yang terbentuk

Mol HCL = Konsentrasi HCL Volume HCL


= 1 M 50 mL
= 50 mmol = 0,05 mol

Mol Mg (6cm) = gram pita Mg/ Ar.Mg = 0,105/24 = 0,004375


mol
Volume H2 = mol H2 22,4

= [ , ] 22,4

= 0,0098 liter

Mol Mg (8cm) = gram pita Mg/ Ar.Mg = 0,140/24 = 0,00583


mol
Volume H2 = mol H2 22,4

= [ , ] 22,4

= 0,1306 liter

Mol Mg (10cm) = gram pita Mg/ Ar.Mg = 0,174/24 = 0,0078


mol
Volume H2 = mol H2 22,4

=[ , ] 22,4

= 0,1747 liter
Pembahasan

Pada percobaan ini, pertama tama siapkan tiga erlenmeyer lalu tambahkan
50 ml HCl 1M. Lalu potong pita Mg masing-masing 6 cm, 8 cm, dan 10 cm
kemudian timbang pita tersebut. Setelah ditimbang, tempelkan pita Mg pada leher
erlenmeyer di masing-masing tabung. Kemudian pasang balon pada masing-masing
leher erlenmeyer lalu jatuhkan masing-masing pita Mg pada larutan HCl 1M,
kemudian amati yang terjadi.
Pada percobaan ini, larutan HCl bereaksi dengan logam Mg maka akan
menghasilkan gas H2 yang langsung ditampung masuk ke dalam balon karet
sehingga menambah volume balon dan reaksi tersebut berlangsung eksoterm. Pada
saat pita Mg di jatuhkan ke larutan HCL pita Mg tersebut larut, terdapat gelembung
gelembung dan terjadi kenaikan suhu. Semakin besar bobot pita Mg maka semakin
cepat balon terisi H2 (semakin besar gelembung balon) dan waktu bereaksi semakin
cepat pula.

Termokimia

Hasil

1. Penentuan tetapan calorimeter

Air biasa Air panas


Massa (gr) 20 mL 20 mL
T awal 303 0K 314 0K
Campuran air biasa dan air panas
Waktu (menit) Temperatur
1 3050K
2 3050K
3 3030K
4 3030K
5 3020K

Perhitungan:

kalor yang diterima air biasa (Q1) = m S T = 20 4,2 2


= 168 J
T = suhu menit 1 pencampuran suhu awal air biasa =
= 3050K 3030K = 20K
Kalor yang diterima air panas (Q2) = m S T = 20 4,2
9 = 756 J
t = suhu menit awal air panas suhu menit 1 campuran =
3140K 3050K = 90K
Kalor yang diterima Kalorimeter (Q3) = Q2 Q1 = 756 168
= 588 J
3 588
Tetapan calorimeter = = = 588 JK -1
T 1

Pembahasan

Pada percobaan ini memakai alat calorimeter. Calorimeter adalah alat


mengukur perubahan panas. Kalorimeter juga dapat digunakan untuk mengukur
kalor. 20 mL aquadest biasa dicampurkan dengan 20 mL aquadest dengan suhu
40C. Maka aquadest panas akan melepas kalor sedangkan aquadest biasa akan
menerima kalor. Sehingga akan didapatkan suhu campuran yang seimbang. Pada
percobaan ini di menit pertama dan kedua temperaturnya tetap 32 0C. pada menit
ketiga temperaturnya sudah mulai menurun sebanyak 20C sehingga menjadi 300C.
menit keempat temperature tetap (tidak berubah), tetapi pada menit temperature
menurun 10C sehingga menjadi 290C.
Pada percobaan kali ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Joseph
Black yang dikenal dengan asaz Black apabila dua benda yang suhunya berbeda
dan dicampur, maka benda yang lebih panas melepas kalor kepada benda yang lebih
dingin sampai suhu keduanya sama. Banyaknya kalor yang dilepas benda yang
lebih panas sama dengan banyaknya kalor yanga diterima benda yang lebih dingin.

Hasil

2. Penentuan kalor reaksi Zn - CuSO4

Massa serbuk Zn = 3,0010 gr


Tetapan calorimeter = 588 JK -1
Kalor jenis larutan CuSO4 = 4,00 JK -1 g -1
Campuran larutan CuSO4 dengan serbuk Zn

Waktu (menit) Temperatur


1 290C
2 300C
3 310C
4 310C
5 320C

Perhitungan:

Zn + CuSO4 ZnSO4 + Cu
Massa jenis larutan ZnSO4 = 1,14 gr/cm3
Kalor jenis larutan ZnSO4 = 4,00 JK -1 g -1
Volume CuSO4 = 40 mL = 0,04 L
T awal CuSO4 = 290C
T akhir campuran Zn + CuSO4 = 320C
T = T akhir T awal = 32 29 = 30C
K = 3 + 273 = 2760K
Massa larutan ZnSO4 = massa jenis ZnSO4 Volume CuSO4
(mL)
= 1,14 gr/cm3 40mL = 45,6 gr
Kalor yang diserap calorimeter = tetapan calorimeter T
= 588 JK -1 276K = 162.288 J
Kalor yang diserap larutan = massa ZnSO 4 Kalor jenis ZnSO4
T
= 3,0010 gr 4,00 JK -1 g -1 276 K
= 3.313,104 J
Kalor reaksi = Kalor yang diserap calorimeter Kalor yang
diserap larutan
= 162.288 J 3.313,104 J
= 537.677.022 J
Mol pereaksi CuSO4 = M Volume (L) = 1 M 0,04 L = 0,04

H reaksi (entalpi reaksi) = == =
0,04

1,3442 10 10

Pembahasan

Berdasarkan rata-rata temperatur CuSO4 memilki suhu 28,50C. Setelah


dilakuan pencampuran dengan 3,0010 gram Zn padat, suhu larutan naik menjadi 29
o
C. kenaikan suhu ini terjadi. Pada menit ke-5 suhu pencampuran naik menjadi
32oC. pada saat ini seluruh zat dalam larutan bereaksi seutuhnya sehingga
menghasilkan suhu maksimal, pada saat yang sama suhu larutan konstan. suhu
sistem dengan lingkungan pada saat itu sudah mengalami kesetimbangan sehingga
suhu sistem tetap.
Hasil

3. Penentuan kalor penetralan HCL NaOH

Waktu hasil pengujian HCL


Waktu Temperature
(menit) (oC)
1 29
2 29
3 29
4 29
5 29

Waktu hasil pengujian NaOH


Waktu Temperature
(menit) (oC)
1 30
2 30
3 30
4 30
5 30

Waktu hasil pengujian NaOH-HCL


Waktu Temperature
(menit) (oC)
1 31
2 32
3 32
4 32
5 32
Berat jenis larutan = 1,02 g/cm3
Kalor jenis larutan = 4,02 JK -1 g -1
HCL + NaOH NaCl + H2O
T awal HCL = 29oC
T awal NaOH = 30oC
T awal pencampuran = 31oC
T = T awal pencampuran T awal HCl
31oC - 29oC = 2oC
Massa larutan = Berat jenis larutan x Volume = 40 gr
Mol (n) = massa larutan = 40 gr = 0,68 mol
Mr NaCl 58,5 gr/mol
Kalor yang diserap kalorimeter Q1 = Tetapan Kalorimeter x T
- 70 x 2 C = -140 J
Kalor yang diserap larutan Q2= massa larutan x kalor jenis larutan x T
40 gr x 4,02 JK -1 g -1 x 2oC = 321,6
J
Kalor reaksi Q3 = Q1 + Q2 = 181,6 J
H penetralan = Q3 = 181,6 J/mol = 267,05 J/mol
n 0,68

Pembahasan

Pada percobaan penentuan kalor penetralan, larutan asam dan basa harus
memiliki suhu yang sama, sebab jika suhunya berbeda maka perubahan kalor yang
terjadi bukan hanya berasal dari kalor reaksi melainkan dari kalor campuran kedua
larutan dengan suhu berbeda. Setelah suhu kedua larutan sudah sama barulah
dicampurkan kedalam kalorimeter untuk melihat perubahan suhu yang terjadi untuk
menentukan perubahan kalor reaksi penetralan.
Setelah dicampurkan, ternyata suhunya mengalami kenaikan sebesar 29oC
menjadi 32oC. Suhu tersebut merupakan suhu maksimal karena pada kondisi
tersebut telah terjadi penyerapan kalor dari kalorimeter ke dalam larutan campuran
(reaksi endoterm).
Pada percobaan ini suhu larutan meningkat dari suhu awal, hal ini terjadi
karena pada saat reaksi terjadi pelepasan kalor. Kalor yang dilepaskan oleh
sistem reaksi (HCL NaOH) diserap oleh lingkungan pelarut dan material lain.
Akibatnya suhu lingkungan naik yang ditunjukkan oleh keaikan suhu larutan.

4. Kalor pelarutan berbagai zat

zat yang Temperature air Temperature Reaksi


diamati larutan
NaOH 300C 500C eksoterm
NaCl 300C 310C eksoterm
CaCl2 300C 320C eksoterm
KI 300C 290C Penetralan

Pembahasan

Kalor pelarutan adalah panas yang dilepaskan atau diserap ketika satu mol
senyawa dilarutkan dalam pelaryut berlebih yaitu sampai suatu keadan dimana pada
penambahan pelarut selanjutnya tidak ada panas yang diserap atau dilepaskan lagi.
Pada percobaan ini yang dimaksud dengan kalor pelarutan adalah kalor
reaksi pada reaksi pelarutan 1 mol zat ke dalam pelarutnya. Pada pelarutan senyawa
dengan air hampir semua larutan reaksinya bersifat eksoterm karena terjadi
pelepasan kalor dari sitem ke lingkungan sehingga terjadi perubahan suhu. Reaksi
eksoterm adalah reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan ( kalor dibebaskan oleh sistem ke lingkungannya ) ditandai dengan
adanya kenaikan suhu lingkungan di sekitar sistem.
BAB 5
KESIMPULAN

Dari hasil praktikum stoikiometri, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Pengaruh banyaknya reaksi yang terbatas: Dari percobaan ini, dapat


disimpulkan bahwa besarnya konsentrasi suatu larutan yang direaksikan
akan mempengaruhi jumlah hasil dari reaksi tersebut. Sehingga semakin
besar konsentrasi suatu larutan yang direaksikan, maka hasil reaksi akan
semakin banyak. Dan semakin kecil konsentrasi larutan yang direaksikan
maka hasil reaksi akan semakin sedikit.
2. Hubungan antara mol produk dengan mol peraksi: Dari percobaan ini,
dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah zat yang direaksikan
dengan jumlah dan konsentrasi pereaksi yang sama maka waktu yang
dibutuhkan untuk bereaksi sempurna semakin lama. Jika dikaitkan dengan
hukum dasar kimia maka tertuju pada hukum kekekalan massa. Massa zat
sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.

Dari hasil praktikum termokimia, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Penentuan tetapan calorimeter: Dari percobaan ini, dapat disimpulkan


bahwa sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Joseph Black yang
dikenal dengan asaz Black apabila dua benda yang suhunya berbeda dan
dicampur, maka benda yang lebih panas melepas kalor kepada benda yang
lebih dingin sampai suhu keduanya sama.
2. Penentuan kalor reaksi Zn - CuSO4 : Dari percobaan ini, dapat
disimpulkan bahwa pada menit ke-5 suhu pencampuran naik menjadi 32oC.
pada saat ini seluruh zat dalam larutan bereaksi seutuhnya sehingga
menghasilkan suhu maksimal, pada saat yang sama suhu larutan konstan.
3. Penentuan kalor penetralan HCL NaOH: Dari percobaan ini, dapat
disimpulkan bahwa terdapat reaksi endoterm pada penentuan kalor
penetralan HCL NaOH.
4. Kalor pelarutan berbagai zat: Dari percobaan ini, dapat disimpulkan
bahwa NaOH, NaCl, dan CaCl2 bersifat eksoterm. Sedangkan KI bersifat
netral
BAB 6
DAFTAR PUSTAKA

Suriadi, Alfius. Laporan Praktikum Fisika 1 10 Oktober 2017


https://www.academia.edu/8914515/TERMOKIMIA
http://www.chemistry.org/materi_kimia/kimia_dasar/lahirnya_teori_atom/
stoikiometri/
https://id.scribd.com/document/326255875/JURNAL-TERMOKIMIA-pdf
Tim Fisika Dasar. 2010. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Jember :
Fakultas MIPA
Wahyu, dkk. 2010. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta Utami, Budi dan
Nugroho, Agung.2009 Kimia Dasar Universitas.Jakarta Erlangga
Murni,jurnal Termokimia 3 Oktober 2016
staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/.../ppm-termokimia.pdf
LAMPIRAN

Gambar Keterangan

Larutan Na2CO3 + CaCL2 dengan


konsentrasi 1M, 0,5M, 0,1M, dan
0,005M

Mengukur suhu campuran air biasa


dan air dengan suhu 40 C

Mengukur suhu awal larutan


CuSO4

Menambahkan 3 gr serbuk Zn pada


larutan CuSO4
Karakteristik campuran 20 ml HCL
1M dan 20 ml NaOH 1M

Serbuk NaOH, NaCl, CaCl2, dan


KI sebanyak
1 cm

Serbuk yang sudah ditambahkan


aquades sebanyak 5cm, masing
masing serbuk larut dalam aquades

Terdapat gas H2 sehingga balon


mengembang

Anda mungkin juga menyukai