Anda di halaman 1dari 5

Amendemen Konvensi STCW (Standard of Training, Certification and Watchkeeping)

1978 dan STCW Code telah disahkan di Manila hari ini (25/6). Amandemen STCW
2010 dimaksudkan untuk menyesuaikan perkembangan dan kemajuan teknologi
serta tantangan baru di industri pelayaran. Keselamatan dan keamanan pelayaran
internasional dan lingkungan hidup diharapkan dapat ditingkatkan melalui
amandemen tersebut. Di samping itu, transportasi laut menjadi lebih efisien.

Amandemen Konvensi dirumuskan dengan mengedepankan prinsip good corporate


governance dan social responsibility. Amandemen juga diwujudkan melalui
penyeragaman kompentensi minimum dalam penerbitan sertifikat kepelautan,
peningkatan pelatihan para peluat dan penetapan kriteria kesehatan yang diimbangi
dengan peningkatan perhatian kesehatan para pelaut dengan pengaturan rest hours
yang memadai.

Pengaturan waktu istirahat dalam amandemen, dimaksudkan untuk meminimalisasi


penyebab human errors akibat kelelahan yang dapat membahayakan keselamatan
pelayaran dan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat khusus kegiatan
pelayaran.

Pengesahan Amandemen STCW 2010 (juga disebut Manila Amendment) dilakukan


melalui penandatanganan Final Act oleh para ketua Delegasi yang hadir pada
pertemuan.

Penandatanganan dokumen Final Act sendiri bukan merupakan pengikatan negara


terhadap Amandemen STCW 2010, melainkan suatu proses seremonial yang
menandai tercapainya konsensus terhadap dokumen hukum yang telah dirundingkan
selama 4 tahun terakhir oleh negara-negara anggota IMO yang merupakan negara
pihak dari Konvensi STCW (Party of the STCW Convention).

Pengesahan Amandemen Konvensi STCW 2010 bertetapan dengan penetapan tahun


2010 oleh International Maritime Organization (IMO) sebagai The Year of Seafarers.
Sekaligus untuk memperingati hal ini, IMO pada konferensi diplomatik ini
menetapkan tanggal 25 Juni sebagai The Day of Seafarers (Hari Pelaut Sedunia).

Konferensi diplomatik untuk perubahan Konvensi STCW dibuka empat hari lalu
(21/6) oleh Wapres Filipina, Noli de Castro dan dihadiri sekitar 500 delegasi negara-
negara anggota IMO dan organisasi-organisasi internasional serta para pemangku kepentingan
(stakeholders) di bidang industri pelayaran

Kebutuhan Diklat Khusus bagi SDM Perhubungan Laut


Ditulis Oleh Tim Merah Putih
A. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut merupakan suatu institusi yang sebagian
besar ( 80%) memerlukan tenaga-tenaga yang mempunyai keahlian khusus
(spesialisasi). Latar belakang pendidikan umum diperlukan untuk penempatan di Bidang
Kesekretariatan, Perencanaan, Hukum, Keuangan dan Perlengkapan.

Dalam memenuhi 80% SDM dengan keahlian khusus tersebut, Direktorat


Jenderal Perhubungan Laut merekrut pegawai yang berasal baik dari pendidikan
Akademi Pelayaran maupun pendidikan teknis setara S-1 yang mempunyai latar
belakang teknik. Selama ini penerimaan pegawai tidak di tindaklanjuti dengan
program pendidikan dan pelatihan untuk bidang-bidang khusus yang sesuai
dengan kebutuhan. Seharusnya darimanapun latar belakang pendidikan pegawai
harus melalui pendidikan dan pelatihan awal yang berorientasi kepada keahlian
yang dibutuhkan oleh organisasi. Selama ini pendidikan dan pelatihan awal
merupakan Diklat yang orientasinya kepada Pengetahuan Umum yang telah
didapat di SLTA (P4, Sejarah, Bahasa Indonesia, Korpri dan lain-lain).

Pendidikan dan pelatihan awal ini perlu ditindaklanjuti dengan pendidikan dan
pelatihan tambahan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Ironisnya Departemen Perhubungan memiliki Lembaga Diklat tentang
Kepelautan dan Perhubungan Laut yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (dahulu
AIP/PLAP), Balai Diklat P3B di Semarang, Surabaya dan Makassar, Rating
Pelaut di Barombong (Sul-Sel). Namun, lembaga-lembaga Diklat tersebut
menghasilkan lulusan yang pada umumnya mengisi kebutuhan Perusahaan
Swasta (Pelayaran, EMKL dan sebagainya) dan sangat kecil sekali persentasenya
yang memilih untuk mengisi posisi sebagai Regulator. Hal ini patut di
pertanyakan sebab mengapa para lulusan memilih untuk bekerja dilingkungan
swasta. Salah satu penyebab paling utama adalah adanya proses penerimaan
pegawai yang tidak sesuai dengan prosedur.

Sesuai dengan kelembagaan yang ada di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut


maka pendidikan dan pelatihan yang diperlukan antara lain :

1. Untuk Direktorat Lalulintas Angkutan Laut :

a. Pelayaran dan Kepelabuhanan;


b. Manajemen Armada Pelayaran;
c. Manajemen dan Operasi Pelayaran;
d. Bongkar Muat;
e. Kepabeanan;
f. Ekspedisi Muatan Kapal Laut;
g. Kontainer/Multi Modal Perhubungan;
h. Kesyahbandaran;
i. TTPL (Teknis Terpadu Perhubungan Laut)
2. Untuk Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan :

a. Pelayaran dan Kepelabuhanan;


b. Manajemen Pelayaran dan Kepelabuhanan;
c. Perencanaan Pelabuhan;
d. Pengawasan Pembangunan (Surveyor Pembangunan);
e. Kepanduan;
f. Pengerukan dan Reklamasi;
g. Kesyahbandaran;
h. Analisa Dampak Lingkungan;
i. Manajemen Lingkungan;
j. Tarif dan Biaya;
k. TTPL (TeknisTerpadu Perhubungan Laut)
2. Untuk Direktorat Perkapalan dan Kepelautan :

a. Pelayaran dan Kepelabuhanan;


b. Kepelautan (Nautis, Teknis, Radio);
c. Kesyahbandaran;
d. Administrasi Pelaut;
e. Marine Inspector;
f. ISM Code (untuk kapal & permasalahan pelayaran);
g. Pendaftaran kapal;
h. Jual beli dan Hipotik Kapal
i. Pengukuran dan Klasifikasi kapal ;
j. Keselamatan dan Sertifikasi Kapal;
k. Pengawasan Keselamatan Kapal;
l. Perlengkapan Keselamatan Kapal;
m. TTPL (Teknis Terpadu Perhubungan Laut)
2. Untuk Direktorat Kenavigasian :

Pelayaran dan Kepelabuhanan;


b. Manajemen Kenavigasian Pelayaran;
c. Pemeliharaan Rambu Laut;
d. Perbaikan dan Perlengkapan Pelayaran;
e. Penegakan Hukum di Laut, khusus bagi calon Nakhoda untuk
kapal-kapal negara;
f. Telekomunikasi Pelayaran/Manajemen Radio Pantai;
g. Kesyahbandaran;
h. Kejuruan Kapal (Bintara dan Tantama);
i. TTPL (Teknis Terpadu Perhubungan Laut)
2. Untuk Direktorat Keamanan Penjagaan Laut dan Pantai :

Pelayaran dan Kepelabuhanan


b. Manajemen Operasi Keamanan Laut;
c. Manajemen Pengamanan Pelabuhan dan Pantai;
d. Perbaikan dan Perlengkapan Pelayaran;
e. Penegakan Hukum di Laut dan Pantai;
f. Pekerjaan di Bawah Air;
g. Manajemen Lingkungan;
h. Manajemen Pangkalan Armada;
i. SAR;
j. Kesyahbandaran;
k. TTPL (Teknis Terpadu Perhubungan Laut)

Untuk Marine Inspektur dilakukan pendidikan khusus sesuai dengan kebutuhan


(Sertifikat Kelas A, B, C) bagi para Petugas Pemeriksa Kapal yang ditempatkan
di lapangan baik dibawah Syahbandar, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) maupun
yang berada di Direktorat Perkapalan dan Kepelautan.

Dalam pengembangan ke depan diperlukan satu lembaga pendidikan khusus


sebagaimana yang ada di Jepang dan Amerika dengan nama Marine Safety
Academy. Marine Inspektur merupakan salah satu jurusan dari lembaga
pendidikan ini.

Disamping itu, untuk pengisian jabatan para Syahbandar diperlukan pendidikan


Kesyahbandaran yang juga merupakan salah satu jurusan dari lembaga
pendidikan ini.

B. Berdasarkan International Convention on Standard of Training for Seafarer


Certificate and Watchkeeping (STCW) 1978 Amandemen 1995, setiap orang yang
dipekerjakan di atas kapal diwajibkan untuk memiliki sertifikat kecakapan pelaut untuk
Perwira, Bintara dan Tantama.

Selama ini institusi pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan


tersebut adalah institusi yang berada dibawah pembinaan Badan Diklat
Departemen Perhubungan dan institusi swasta dibawah pembinaan Departemen
Perdidikan Nasional.

Peralatan (simulator) yang dimiliki oleh institusi dibawah pembinaan Badan


Diklat Perhubungan pada umumnya sudah memenuhi ketentuan Konvensi STCW
1978/1995 dan diperoleh dari biaya pinjaman lunak luar negeri.

Sementara itu, institusi swasta dibawah pembinaan Departemen Pendidikan


Nasional belum ada yang memiliki peralatan (simulator) yang harganya sangat
tinggi sehingga untuk dapat melakukan praktek penggunaan peralatan (simulator)
tersebut terpaksa menggunakan fasilitas yang ada di institusi pendidikan berada
dibawah pembinaan Badan Diklat Departemen Perhubungan. Sangat disayangkan
bahwa mereka dikenakan biaya yang sangat tinggi dluar jangkauan kemampuan
dari institusi diklat pelaut swasta.

Masalah ini sudah berlangsung lama yang tidak pernah terselesaikan.


Ada beberapa opsi penyelesaian, antara lain :

a. Institusi diklat pelaut swasta bekerjasama dengan Diklat Perhubungan dengan


biaya yang terjangkau dan cukup untuk biaya pemeliharaan yang tidak berorientasi
mencari keuntungan karena peralatan (simulator) yang dibeli oleh Diklat Perhubungan
adalah atas biaya negara.
b. Beberapa institusi diklat pelaut swasta melakukan konsorsium dalam
pembelian peralatan (simulator).
c. Diijinkannya pembuatan peralatan (simulator) di dalam negeri yang
kemudian diminta rekomendasi sertifikasi dari IMO (International
Maritime Organization) dimana pembiayaan sertifikasi harus dibiayai oleh
negara.

Catatan :
IPTN pernah mengajukan untuk memproduksi peralatan (stimulator) dan
meminta ijin kepada Badan Diklat Departemen Perhubungan, namun tidak
diijinkan karena dianggap tidak mempunyai kompetensi sementara IPTN telah
menghasilkan flight simulator yang dipakai di negara negara ASEAN.

1. Bagi institusi diklat pelaut swasta perlu diklasifikasikan menjadi 3 (tiga)


kelompok untuk memenuhi persyaratan sesuai dengan peralatan, pengajar dan
kurikulum. Setelah diklasifikasikan maka kelompok ke 3 (tiga) dikenakan sanksi
penutupan apabila tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut dalam jangka waktu 6
(enam) bulan. Bagi kelompok 1 (satu) dan 2 (dua) Pemerintah berkewajiban untuk
membinanya agar dapat menghasilkan lulusan pelaut sesuai dengan standar kompetensi
pelaut internasional (STCW 1978/1995).

Masalah lain adalah bahwa sebenarnya STCW 1978/1995 sudah harus


diberlakukan sejak bulan Juli 2000, hal ini telah beberapa kali diperingatkan
dalam sidang sidang IMO sejak tahun 1995 yang dilaksanakan setiap tahun.
Namun, Pemerintah Indonesia tidak menganggap serius peringatan-peringatan
tersebut bahkan berusaha memperpanjang waktu pemberlakuan dengan cara
pemutihan sehingga berdampak kepada Pelaut Indonesia yang bekerja di kapal
asing diturunkan dari kapal. Apakah cara seperti ini masih harus
dipertahankan?????.

Hal lain yang diperlukan untuk menjadi perhatian dari Pemerintah cq. Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut adalah mengenai tugas pembinaan terhadap
stakeholders (asosiasi) antara lain dibidang kepelautan. Seharusnya Dirjen
Perhubungan Laut tidak dapat lepas tangan terhadap tanggung jawab selaku
pembina teknis dan seharusnya menjadi fasilitator dari stakeholders yang ada.

Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) yang selama ini diakui oleh International
Seafarers Union dalam hal penyelesaian yang berkaitan dengan kepelautan,
selama ini kurang mendapat perhatian dari Pemerintah sehingga terjadilah
perpecahan dalam kepengurusan organisasi KPI. Hal ini juga banyak terjadi di
asosiasi lainnya seperti INSA (Indonesian National Shipowners Association).
Banyaknya permasalahan keorganisasi tanpa campur tangan dari Pemerintah
mengakibatkan pembinaan dibidang kepelautan/pelayaran tidak tercapai secara
optimal khususnya profesionalitas pelaut Indonesia di pasar internasional.