Anda di halaman 1dari 32

TUGAS-TUGAS KAJIAN PERSEKOLAHAN

1. LAPORAN STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN


2. LAPORAN STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
3. MAKALAH EVALUASI STANDAR PENGELOLAAN DAN
STANDAR SARANA PRASARANA DI SEKOLAH DASAR SE-
KABUPATEN BULELENG

DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH:


Prof. Dr. NYOMAN DANTES

Oleh Kelompok 2
Kelas A/Semester 3

Putu Ariantini 1529041015


Komang Trisna Mahartini 1529041001
I Kadek Kharisma 1529041020
Faisal Faliyandra 1529041012
Nuris Hidayat 1529041013
I Dewa Putu Yudiprasetya 1529101009
I Made Mulyarta 1529041004
Hadiatul Rodiyah 1529041002
I Wayan Andika Sari putra 1529041008
Putu Ida Arsani Dewi 1529041003
Kadek Bayu Indrayasa 1529041018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2017
LAPORAN
STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya
manusia, dimana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor
pendukung upaya manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Pendidikan
juga merupakan suatu proses dan modal dasar untuk menyiapkan sumber daya
manusia yang berkualitas dan mampu membudayakan suatu masyarakat kearah
sistem berpikir menurut acuan norma dan budaya tertentu yang relevan dengan
tuntutan jaman. Pendidikan sebagaimana diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional menerangkan bahwa, pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Namun di balik itu, pendidikan merupakan suatu kegiatan rekayasa
manusia sehingga manusia ikut terlibat dalam menentukan keberhasilan dan
penyelesaian masalah pendidikan demi keberhasilan dan kemasyalatan manusia
juga. Pelaksanaan pendidikan harus mampu berangkat dari tujuan pendidikan
nasional. Hal tersebut dilakukan demi terselenggaranya pendidikan yang utuh
sesuai tujuan pendidikan di suatu Negara dan mampu menjawab permasalahan
yang berkenaan dengan pembangunan manusia. Pencapaian kualitas pendidikan
ini memiliki hubungan langsung dan signifikan terhadap pencapaian kualitas
sumber daya manusia.
Untuk memenuhi kualitas pendidikan yang diharapkan, pemerintah
menetapkan delapan standar nasional pendidikan sebagai berikut; standar
kompetensi lulusan, standar pengelolaan, standar tenaga kependidikan, standar
pembiayaan, standar sarana dan prasarana, standar isi, standar proses, dan, standar
penilaian. Kualitas penyelenggaraan pendidikan dapat dilihat berdasarkan
ketercapaian dari masing-masing standar yang ada/diacu. Dengan demikian

2
kedelapan standar tersebut dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kualitas dari
satuan pendidikan yang ada.
Kualitas sekolah merupakan salah satu indikator masyarakat untuk
menyekolahkan anak mereka di sekolah bersangkutan. Kualitas penyelenggaraan
pendidikan itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor bisa
berupa materil dan imateriil. Dapat berupa faktor yang datang dari luar dan dari
dalam sekolah. Segala hal yang menyangkut penentu kualitas penyelenggaraan
sekolah bergantung pada manajemen atau pengelolaan dari sekolah yang
bersangkutan. Maka dari itu, pola manajemen/pengelolaan menjadi salah satu
standar pendidikan. Standar pengelolaan menjadi acuan pelaksanaan pendidikan
yang berkenaan dengan pola kepemimpinan dan tata kelola segala sumber daya
yang ada di dalam satuan pendidikan.
Diberlakukannya standar pengelolaan dalam satuan pendidikan diharapkan
mampu menciptakan kualitas pendidikan yang bermutu. Tentunya hal ini dapat
terwujud ketika standar pengelolaan telah berlangsung maksimal. Namun yang
terjadi dilapangan masih jauh dari ekspektasi, hal ini terjadi dikarenakan satuan
pendidikan yang ada masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang
mampu menjabarkan dan menerapkan Permendiknas No.19 tahun 2007. Sebagai
contoh jika dilihat dari aspek kurikulum, pola penerapan K13 terbentur pada
masih minimnya kualitas guru dan sekolah, sarana dan prasarana pendukung.
Sebagian besar guru belum bisa diharapkan memberikan kontribusi pemikiran dan
ide-ide kreatif untuk menjabarkan panduan kurikulum itu (K13), baik di atas
kertas maupun di depan kelas. Salah satu penyebabnya antara lain masih
rendahnya kualifikasi akademik tenaga pendidik dan kependidikan. Permasalahan
seperti yang telah disebutkan di atas diduga juga terjadi di Kabupaten Buleleng.
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan kajian mengenai pola
pengelolaan di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Buleleng dengan mengacu
pada standar pengelolaan pendidikan itu sendiri.

3
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam laporan ini adalah bagaimana
implementasi standar pengelolaan di Sekolah Dasar se-Kabupaten Buleleng.

1.3 Tujuan
Penyusunan laporan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
implementasi standar pengelolaan di Sekolah Dasar se-Kabupaten Buleleng.

BAB II
TINJAUAN TENTANG STANDAR PENGELOLAAN

2.1 Pengertian Standar Pengelolaan Pendidikan


Pengelolaan pendidikan adalah kriteria mengenai perencanaan,
pelaksanaan,dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan. Standar Pengelolaan adalah Standar nasional
pendidikan yang berkaitan dngan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, propinsi,
atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan.

4
Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan
kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Pengelolaan
sekolah didasarkan pada perencanaan program, pelaksanaan rencana kerja,
pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi
manajemen. Sekolah mengembangkan perencanaan program mulai dari penetapan
visi, misi, tujuan, dan rencana kerja.
Pelaksanaan rencana kerja sekolah didasarkan pada struktur organisasi dan
pedoman pengelolaan secara tertulis di bidang kesiswaan, kurikulum dan kegiatan
pembelajaran, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
keuangan dan pembiayaan Di samping itu pelaksanaannya juga
mempertimbangkan budaya dan lingkungan sekolah, serta melibatkan peran serta
masyarakat.

2.2 Permendiknas Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan


Berdasarkan Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 Tanggal 23 Mei 2007
tentang Standar Pengelolaan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,
disebutkan pada Pasal 1 ayat (1) Setiap satuan pendidikan wajib memenuhi
standar pengelolaan pendidikan yang berlaku secara nasional.
Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni Standar Pengelolaan
oleh satuan pendidikan, Standar Pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan Standar
Pengelolaan oleh Pemerintah. Berikut ini, Peraturan Menteri pendidikan Nasional
Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Pengelolaan. Peraturan
Menteri pendidikan Nasional Republik Indonesia No 19 Tahun 2007 tentang
Standar Pengelolaan pendidikan oleh Satuan pendidikan Dasar dan Menengah.
1. Standar Pengelolaan oleh Satuan pendidikan, menurut Pasal 49
Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjkan dengan
kemandirian,kemitraan,partisipasi,keterbukaan,dan akuntabilitas Pengelolaan
satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi
perguruan tinggi
2. Standar Pengelolaan Oleh Pemerintah
Pemerintah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan
memprioritaskan program wajib belajar; peningkatan angka partisipasi
pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi; penuntasan

5
pemberantasan buta aksara; penjaminan mutu pada satuan pendidikan,baik
ysng diselengarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, peningkatan status
guru sebagai profesi.
a. Peningkatan mutu guru/dosen
b. Standarisasi pendidikan
c. Akreditasi pendidikan
d. Peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan lokal,nasional,dan
global
e. Pemenuhan Standar Pelayanan Minima (SPM ) bidang pendidikan; dan
f. Penjaminan mutu pendidikan nasional.
3. Standar Pengelolaan Oleh Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan
dengan memprioritaskan program:
a. Wajib belajar
b. Peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan
menengah
c. Penuntasan pemberantasan buta aksara
d. Penjaminan mutu pada satuan pendidikan,baik yang diselengarakan oleh
Pemerintah Daerah maupun masyarakat
e. Peningkatan status guru sebagai profesi
f. Akreditasi pendidikan
g. Peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat
h. Pemenuhan Standar pelayanan minimal (SPM) bidang pendidikan.
4. Beberapa Aspek Standar Pengelolaan Sekolah yang Harus Dipenuhi Adalah
Meliputi:
a. Perencanaan Program
1. Visi Sekolah/Madrasah.
2. Misi Sekolah/Madrasah.
3. Tujuan Sekolah/Madrasah.
4. Rencana Kerja Sekolah/Madrasah.
b. Pelaksanaan Rencana Kerja
1. Pedoman Sekolah/Madrasah.
2. Struktur Organisasi Sekolah/Madrasah.
3. Pelaksanaan Kegiatan Sekolah/Madrasah.
4. Bidang Kesiswaan.
5. Bidang Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran.
6. Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
7. Bidang Sarana dan Prasarana.
8. Bidang Keuangan dan Pembiayaan.
9. Budaya dan Lingkungan Sekolah/Madrasah.
10. Peran serta Masyarakat dan Kemitraan Sekolah/Madrasah.
c. Pengawasan Dan Evaluasi

6
1. Program Pengawasan.
2. Evaluasi Diri.
3. Evaluasi dan Pengembangan KTSP.
4. Evaluasi Pendayagunaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
5. Akreditasi Sekolah/Madrasah.

d. Kepemimpinan Sekolah/Madrasah
1. Setiap sekolah/madrasah dipimpin oleh seorang kepala
sekolah/madrasah.
2. Kriteria untuk menjadi kepala dan wakil kepala sekolah/madrasah
berdasarkan ketentuan dalam standar pendidik dan tenaga
kependidikan.
3. Kepala SMP/MTs/SMPLB dibantu minimal oleh satu orang wakil
kepala sekolah/madrasah.
4. Kepala SMA/MA dibantu minimal tiga wakil kepala sekolah/madrasah
untuk bidang akademik, sarana-prasarana, dan kesiswaan. Sedangkan
kepala SMK dibantu empat wakil kepala sekolah untuk bidang
akademik, sarana-prasarana, kesiswaan, dan hubungan dunia usaha dan
dunia industri. Dalam hal tertentu atau sekolah/madrasah yang masih
dalam taraf pengembangan, kepala sekolah/madrasah dapat
menugaskan guru untuk melaksanakan fungsi wakil kepala
sekolah/madrasah.
5. Wakil kepala sekolah/madrasah dipilih oleh dewan pendidik, dan proses
pengangkatan serta keputusannya, dilaporkan secara tertulis oleh kepala
sekolah/madrasah kepada institusi di atasnya. Dalam hal
sekolah/madrasah swasta, institusi dimaksud adalah penyelenggara
sekolah/madrasah.
6. Kepala dan wakil kepala sekolah/madrasah memiliki kemampuan
memimpin yaitu seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
yang dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diwujudkannya dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan sesuai dengan Standar Pengelolaan
Satuan Pendidikan.
7. Kepala sekolah/madrasah.
8. Kepala sekolah/madrasah dapat mendelegasikan sebagian tugas dan
kewenangan kepada wakil kepala sekolah/madrasah sesuai dengan
bidangnya.

7
e. Sistem Informasi Manajemen
1. Sekolah/Madrasah.
2. Komunikasi antar warga sekolah/madrasah di lingkungan
sekolah/madrasah dilaksanakan secara efesien dan efektif

2.3 Kajian Empirik Standar Pengelolaan Pendidikan


Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal sistem pendidikan di
seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Bab I Pasal 1 butir 1). Standar pengelolaan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan
pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan menjadi
tanggung jawab kepala satuan pendidikan.
Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan
oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar
pengelolaan oleh Pemerintah. Setiap satuan pendidikan harus memiliki pedoman
yang mengatur tentang:
1. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus.
2. Kalender pendidikan/akademik, yang menunjukkan seluruh kategori aktivitas
satuan pendidikan selama satu tahun dan dirinci secara semesteran, bulanan,
dan minggu.
3. Struktur organisasi satuan pendidikan.
4. Pembagian tugas di antara pendidik.
5. Pembagian tugas di antara tenaga kependidikan.
6. Peraturan akademik.
7. Tata tertib satuan pendidikan, yang minimal meliputi tata tertib pendidik,
tenaga kependidikan dan peserta didik, serta penggunaan dan pemeliharaan
sarana dan prasarana.
8. Kode etik hubungan antara sesama warga di dalam lingkungan satuan
pendidikan dan hubungan antara warga satuan pendidikan dengan
masyarakat.
9. Biaya operasional satuan pendidikan.
Setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang
merupakan penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah satuan
pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun yaitu:

8
1. Kalender pendidikan/akademik yang meliputi jadwal pembelajaran, ulangan,
ujian, kegiatan ekstrakurikuler, dan hari libur.
2. Jadwal penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk tahun ajaran
berikutnya.
3. Mata pelajaran atau mata kuliah yang ditawarkan pada semester gasal,
semester genap, dan semester pendek bila ada.
4. Penugasan pendidik pada mata pelajaran atau mata kuliah dan kegiatan
lainnya.
5. Buku teks pelajaran yang dipakai pada masing-masing mata pelajaran.
6. Jadwal penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pembelajaran.
7. Pengadaan, penggunaan, dan persediaan minimal bahan habis pakai.
8. Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang meliputi
sekurang-kurangnya jenis, durasi, peserta, dan penyelenggara program.
9. Jadwal rapat Dewan Pendidik, rapat konsultasi satuan pendidikan dengan
orang tua/wali peserta didik, dan rapat satuan pendidikan dengan komite
sekolah/madrasah, untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
10. Jadwal rapat Dewan Dosen dan rapat Senat Akademik untuk jenjang
pendidikan tinggi.
11. Rencana anggaran pendapatan dan belanja satuan pendidikan untuk masa
kerja satu tahun; l. jadwal penyusunan laporan akuntabilitas dan kinerja
satuan pendidikan untuk satu tahun terakhir.
Dalam melaksanakan penjaminan mutu standar pengelolaan, sekolah perlu
memperhatikan dua hal. Pertama, kriteria minimal yang harus dicapai berdasarkan
Permendiknas No. 19 Tahun 2007, indikator operasional, dan kriteria pencapaian
tujuan. Kedua, sekolah perlu memperhatikan indikator dan kriteria keunggulan
tingkat satuan pendidikan sehingga sekolah dapat memiliki target yang lebih
tinggi daripada kriteria pada standar nasional pendidikan (SNP). Sekolah idealnya
memiliki program peningkatan mutu dan instrumen pengukuran antara lain:

a. Standar
Pengelolaan satuan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar
pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah, otonomi,
akuntabel, jaminan mutu, dan evaluasi yang trasparan.
b. Kegiatan

9
Evaluasi, pengembangan, dan pejaminan mutu dalam penerapan prinsip-
prinsip manajemen berbasis sekolah dengan menitik beratkan pada kegiatan di
bawah ini Menerapkan standar berbasis data.
1. Meningkatkan otonomi sekolah.
2. Meningkatkan prinsip manajemen peningakatan mutu.
3. Melaksanakan sistem penjaminan mutu.
4. Melakukan evaluasi berkelanjutan.
c. Indikator Kinerja
1. Indikator Target Kinerja Pengawas
1) Melaksanakan tugas sesuai jadwal pelaksanakan tugas dengan jadwal
yang disepakati bersama dengan sekolah.
2) Memiliki bukti kehadiran.
3) Mendapatkan data profil penerapan standar pengelolaan sekolah binaan
melalui pengisian instrumen penjaminan mutu kinerja.
4) Mengelola sistem informasi kinerja pembinaan.
5) Melaporkan hasil supervisi kepada Kepala Dinas Pendidikan
2. Indikator Target Kinerja Sekolah
Melalui kegiatan supervisi sekolah meningkatkan kinerja dalam
meningkatkan mutu dan melaksanakan penjaminan mutu standar
pengelolaan dengan indikator operasional sebagai berikut;
1) Menerapkan standar berbasis data.
2) Melakukan evaluasi kinerja.
3) Mengolah data hasil evaluasi kinerja.
4) Mengelola data kinerja yang diintegrasikan pada sistem informasi
sekolah.
5) Menafsirkan hasil evaluasi.
6) Menggunakan hasil evaluasi untuk mengambil keputusan perbaikan
mutu.
7) Meningkatkan otonomi sekolah.
8) Menetapkan keputusan bersama.
9) Meningkatkan akurasi keputusan berbasis data.
10) Menetapkan target mutu dengan dasar pertimbangan hasil evaluasi.
11) Menetapkan standar pengelolaan tingkat satuan pendidikan..
12) Mensosialisasikan data secara trasparan.
13) Meningkatkan prinsip manajemen peningakatan mutu.
14) Menetapkan indikator pencapaian target.
15) Menetapkan kriteria minimal pencapai target.
16) Mengembangkan pentahapan kegiatan meliputi plan, do, chek, dan
act.

10
BAB III
PENGUMPULAN DATA

3.1 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan
kuesioner (angket). Mulyana (1994:156) mengemukakan: penelitian kualitatif
bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang otentik mengenai pengalaman
orang-orang. Sebagaimana dirasakan orang-orang yang bersangkutan. Penelitian
kualitatif menggunakan pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman
historis (dokumentasi) dan merupakan instrument yang akurat untuk memperoleh
data yang diperlukan dalam penelitian ini.
Menurut Arikunto (2010) observasi seringkali diartikan sebagai suatu aktiva
yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Dalam
Burhan (2011) observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan
pengalamannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta dibantu dengan
pancaindra lainnya. Menurut Sudjana (2011) observasi atau pengamatan sebagai
alat penilaian banyakdigunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun
proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat
mengukur atau menilai hasil proses belajar mengajar misalnya tingkah laku siswa
pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiaqtan diskusi
siswa, partisipasi siswa dalam simulasi, dan penggunaan alat peraga pada waktu

11
mengajar. Melalui pengamatan dapat diketahui bagaimana sikap dan prilaku
siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasi dalam suatu kegiatan,
proses kegiatan yang dilakukannya, kemampuan, bahkan hasil yang diperoleh dari
kegiatannya.
Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa observasi adalah
suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan dan
pencatatan secara sistematis, objektif, logis dan rasional mengenai berbagaib
fenomena. Observasi sebagi teknik pengumpulan data mempunyai cirri-ciri yang
spesifik dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner
dimana wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka
observasi tidak terbatas pad orang, tetapi juga objek-objek yang lain.
Sedangkan pengertian kuesioner (angket) menurut Arikunto
(2006:151)angket adalah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh
informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yang ia
ketahui. Menurut Sugiono (2008:199) angket atau kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara member seperangkat pertanyaan
atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Dari pengertian diatas
dapat disimpulkan bahwa angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan
teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable
yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari respon. Selain itu
kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar
di wilayah yang luas.
Untuk mengatahui bagaimana pelaksanaan peran kepala sekolah dan guru
dalam merancang standar pengelolaan pendidikan di sekolah dasar maka peneliti
terlebih dahulu melakukan observasi secara langsung ke21 sekolah dasar yang
tersebar di kota Singaraja. Setelah melakukan observasi peneliti kemudian
menyebar kuesioner atau angket yang terdiri dari 84 butir pertanyaan yang harus
diisi oleh kepala sekolah dan guru sesuai dengan petunjuk yang telah ditentukan
peneliti.

3.2 Instrumen

12
Instrument merupakan suatu alat yang memenuhi persyaratan, sehingga
dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau
mengumpulkan data mengenai suatu variable. Adapun kisi-kisi dari instrument
penelitian ini dapat dilihat pada table dibawah ini:

Tabel. 2.1 Kisi-Kisi Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Dasar Dan
Menengah
BENTUK JUMLAH RESPON
NO DIMENSI SUB DIMENSI INDIKATOR
INSTRUMEN BUTIR DEN
1 Perencanaan 1. Visi sekolah 1.1 Dijadikan sebagai Kuesioner 3 Kepala
Program cita-cita bersama Sekolah
1.2 Memberikan 1 / Guru
inspirasi 1
1.3 Memberikan
motivasi

2. Misi sekolah 2.1 Memberikan arah 1


dalam mewujudkan
visi sekolah
2.2 Tujuan yang akan 2
dicapai
2.3 Memberikan 1
keluesan dan ruang
gerak dalam
pengembangan
kegiatan sekolah

3. Tujuan sekolah 3.1 Mengacu pada misi 2

4. Rencana kerja
sekolah 4.1 Membuat rencana 2
kerja jangka
menengah
4.2 Membuat rencana 2
kerja tahunan
2 Pelaksanaan 1. Pedoman 1.1 Memiliki kalender Kuesioner 1 Kepala
Rencana sekolah pendidikan/akadem Sekolah
Kerja ik / Guru
1.2 Membuat struktur 2
organisasi sekolah
1.3 Membuat 2
pembagian tugas
guru
1.4 Membuat 1
pembagian tugas

13
BENTUK JUMLAH RESPON
NO DIMENSI SUB DIMENSI INDIKATOR
INSTRUMEN BUTIR DEN
tenaga
kependidikan
1.5 Membuat peraturan 1
akademik
1.6 Membuat tata 2
tertib sekolah
1.7 Memiliki kode etik 1
sekolah
1.8 Membuat 2
rancangan biaya
rancangan
operasional
sekolah

2. Struktur 2.1 Pemimpin 1


organisasi mempunyai tugas,
sekolah wewenang, dan
tanggung jawab
yang jelas
2.2 Pendidik 1
mempunyai tugas,
wewenang, dan
tanggung jawab
yang jelas
2.3 Tenaga 2
kependidkan
mempunyai tugas,
wewenang, dan
tanggung jawab
yang jelas

3. Pelaksanaan 3.1 Dilaksanakan 1


kegiatan berdasarkan
sekolah rencana kerja
tahunan
3.2 Dilaksanakan 3
berdasarkan
ketersediaan
sumber daya yang
ada

4. Bidang 4.1 Calon peserta didik 1


kesiswaan berusia 6 tahun
4.2 Penerimaan peserta 1
didik secara
objektif,
transparan, dan
akuntabel
4.3 Memberikan 1
layanan konseling
kepada peserta

14
BENTUK JUMLAH RESPON
NO DIMENSI SUB DIMENSI INDIKATOR
INSTRUMEN BUTIR DEN
didik
4.4 Melaksanakan 1
kegiatan ektra dan
kokurikuler untuk
peserta didik
4.5 Melaksanakan 1
pembinaan prestasi
unggulan

5. Bidang 5.1 Pendayagunaan 1


pendidik dan pendidik dan
tenaga tenaga
kependidikan kependidikan
disusun dengan
memerhatikan
standar pendidik
dan tenaga
kependidikan
5.2 Pendayagunaan 1
pendidik dan
tenaga
kependidikan
dikembangkan
sesuai dengan
kondisi sekolah

6. Bidang sarana 6.1 Merencanakan 1


dan prasarana sarana dan
prasarana sekolah
6.2 Mengevaluasi dan 1
melakukan
pemeliharaan
sarana dan
prasarana sekolah
6.3 Melengkapi 1
fasilitas
pembelajaran
6.4 Menyusun skala 1
prioritas
pengembangan
fasilitas pendidikan
6.5 Pemeliharaan
semua fasilitas 1
fisik dan peralatan

7. Bidang 7.1 Pengelolaan 1


keuangan dan sumber pemasukan
pembiayaan 7.2 Pengelolaan 1
sumber

15
BENTUK JUMLAH RESPON
NO DIMENSI SUB DIMENSI INDIKATOR
INSTRUMEN BUTIR DEN
pengeluaran 1
7.3 Pengelolaan jumlah
dana yang dikelola

8. Budaya dan 8.1 Memiliki prosedur 1


lingkungan tertulis mengenai
sekolah informasi
pelaksanaan,
penciptaan
suasana, iklim dan
lingkungan
pendidikan 1
8.2 Mempumyai
pedoman tata tertib

9. Peran serta 9.1 Melibatkan warga 1


masyarakat sekolah dala
dan kemitraan pengelolan
sekolah akademik

3 Pengawasan 1. Program 1.1 Sekolah menyusun Kuesioner 1 Kepala


dan Evaluasi pengawasan program Sekolah
pengawasan secara / Guru
objektif
1.2 Sekolah menyusun 2
program
pengawasan secara
bertanggung jawab
1.3 Menyusun program 2
pengawasan secara
berkelanjutan

2. Evaluasi diri 2.1 Melaksanakan 1


evaluasi
pembelajaran (2
kali dalam setahun)
2.2 Melaksanakan 1
evaluasi program
tahunan (1kali
dalam setahun)
2.3 Pengevaluasian diri 1
sekolah berdasar
pada data dan
informasi yang
sahih

3. Evaluasi 3.1 Melaksanakan 2


pendayaguna evaluasi
an pendidik pendayagunaan
dan tenaga pendidik dan
kependidikan tenaga

16
BENTUK JUMLAH RESPON
NO DIMENSI SUB DIMENSI INDIKATOR
INSTRUMEN BUTIR DEN
kependidikan
secara
konprehensif
3.2 Melakukan evaluasi 3
kinerja pendidik
dengan
memerhatikan
pencapaian prestasi
dan perubahan
peserta didik

4. Akreditasi 4.1 Menyiapkan bahan- 1


sekolah bahan yang
diperlukan untuk
mengikuti
akreditasi sesuai
dengan peraturan
perundang-
undangan yang
berlaku
4.2 Meningkatkan 1
status akreditasi
4.3 Meningkatkan 1
kualitas
kelembagaan
secara holistic
4 Kepemimpin - 1. Memenuhi kriteria Kuesioner 4 Kepala
an Sekolah kepala dan wakil Sekolah
kepala sekolah / Guru
berdasarkan
ketentuan dalam
standar pendidik
dan tenaga
kependidikan.
2. Kepala sekolah 3
melaksanakan
tugas sesuai
TUPOKSI
5 Sistem - 1. Mengelola sistem Kuesioner 3 Kepala
Informasi informasi Sekolah
Managemen manajemen yang / Guru
memadai untuk
mendukung
administrasi
pendidikan yang
efektif, efisien dan
akuntabel.
2. Menyediakan 1
fasilitas informasi
yang efisien,
efektif dan mudah

17
BENTUK JUMLAH RESPON
NO DIMENSI SUB DIMENSI INDIKATOR
INSTRUMEN BUTIR DEN
diakses
3. Melaksanakan 2
penugasan kepada
guru atau tenaga
kependidikan untuk
melayani
permintaan
informasi maupun
pemberian
informasi atau
pengaduan
4. Melaporkan data 1
informasi sekolah
yang
terdokumentasikan
kepada Dinas
Pendidikan
Kabupaten/Kota
5. Melaksanakan 1
komunikasi yang
baik antar warga
sekolah secara
efektif dan efisien

18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabulasi Data

SKOR PEROLEHAN SKOR PERSENTIL SKOR DISKRIPANSI


NO RESPONDEN
A B C D E A% B% C% D% E% A B C D E
SD N 2 Tukad
1 Sumaga 75 170 64 34 30 100.00 89.47 80.00 97.14 75.00 0.00 10.53 20.00 2.86 25.00
2 SD Lab. Undiksha 75 186 80 35 40 100.00 97.89 100.00 100.00 100.00 0.00 2.11 0.00 0.00 0.00
3 SD N 1 Sangsit 74 183 80 34 36 98.67 96.32 100.00 97.14 90.00 1.33 3.68 0.00 2.86 10.00
4 SD N 4 Banyuasri 75 183 80 35 40 100.00 96.32 100.00 100.00 100.00 0.00 3.68 0.00 0.00 0.00
5 SD N 3 Bungkulan 69 165 66 31 30 92.00 86.84 82.50 88.57 75.00 8.00 13.16 17.50 11.43 25.00
6 SD N 1 Kerobokan 75 181 80 33 40 100.00 95.26 100.00 94.29 100.00 0.00 4.74 0.00 5.71 0.00
7 SD N 1 Bakti Seraga 62 139 59 26 29 82.67 73.16 73.75 74.29 72.50 17.33 26.84 26.25 25.71 27.50
8 SD N 1 Banyuning 73 187 80 35 40 97.33 98.42 100.00 100.00 100.00 2.67 1.58 0.00 0.00 0.00
9 SD N 3 Tinga-tinga 67 180 76 31 38 89.33 94.74 95.00 88.57 95.00 10.67 5.26 5.00 11.43 5.00
10 SD N 4 Kaliuntu 75 180 79 34 38 100.00 94.74 98.75 97.14 95.00 0.00 5.26 1.25 2.86 5.00
11 SD N 1 Pemaron 75 180 79 34 38 100.00 94.74 98.75 97.14 95.00 0.00 5.26 1.25 2.86 5.00
SD N 3
12 Sambirenteng 75 177 80 35 39 100.00 93.16 100.00 100.00 97.50 0.00 6.84 0.00 0.00 2.50
13 SD N 5 Sangsit 74 175 72 35 40 98.67 92.11 90.00 100.00 100.00 1.33 7.89 10.00 0.00 0.00
14 SD N 1 Suwug 75 175 80 35 40 100.00 92.11 100.00 100.00 100.00 0.00 7.89 0.00 0.00 0.00
15 SD N 1 Sinabun 75 178 71 35 35 100.00 93.68 88.75 100.00 87.50 0.00 6.32 11.25 0.00 12.50
16 SD N 1 Tinga-tinga 72 174 79 35 40 96.00 91.58 98.75 100.00 100.00 4.00 8.42 1.25 0.00 0.00

19
17 SD N 2 Musi 73 179 80 34 39 97.33 94.21 100.00 97.14 97.50 2.67 5.79 0.00 2.86 2.50
18 SD N 2 Paket Agung 70 161 63 29 33 93.33 84.74 78.75 82.86 82.50 6.67 15.26 21.25 17.14 17.50
19 SD N 2 Tinga-Tinga 68 157 67 31 34 90.67 82.63 83.75 88.57 85.00 9.33 17.37 16.25 11.43 15.00
20 SD N 1 Banjar Jawa 65 181 64 30 32 86.67 95.26 80.00 85.71 80.00 13.33 4.74 20.00 14.29 20.00
21 SD N 2 Banyuasri 70 183 80 35 40 93.33 96.32 100.00 100.00 100.00 6.67 3.68 0.00 0.00 0.00
Rata-Rata 72 175 74 33 37 96 92.08 92.798 94.694 91.786 4 7.9198 7.2024 5.3061 8.2143
Kriteria:
1-20 = Deskripansi Sangat Kecil
21-40 = Deskripansi Kecil
41-60 = Deskripansi Cukup Puas
61-80 = Deskripansi Luas
81-100 = Deskripansi Sangat Luas

KRITERIA DISKRIPANSI
A B C D E
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Kecil Deskripansi Kecil Deskripansi Kecil Deskripansi Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil

20
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil
Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil Deskripansi Sangat Kecil

21
4.2 Pembahasan
A. Rancangan Perencanaan Program
Rancangan perencanaan program sekolah merupakan proses perencanaan atas
semua hal, untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini, program sekolah dapat
disesuaikan dengan kekasan kondisi, potensi daerah, sosial budaya masyarakat, potensi
sekolah dan kebutuhan peserta didik. Sementara itu, penyususna rencana kerja sekolah
mengacu pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang System
Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan, Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan Dan Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014.
Setiap sekolah pada umumnya telah memiliki visi, misi dan tujuan yang menjadi
acuan dalam penyelengaraan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, mutlak diperlukan
adanya suatu pengembangan program sekolah. Berbagai program yang dikembangkan
harus relevan dengan visi dan misi sekolah, serta sebagai bentuk penjabaran yang rinci,
tersetruktur, dan mungkin untuk dilaksanakan di dekolah. Pengembangan program
sekolah hendaknya melalui tahapan yang sistematis dan langkah-langkahnya dapat di
pertanggungjawabkan, baik secara akademik, yuridis, maupun sosial. Dalam
pengembangan program sekolah juga harus mempertimbangkan potensi dan kemampuan
sekolah, sejauh mana kekuatan sekolah dan lingkungan mendukung keterlaksanaan
program, apakah terdapat hambatan dalam pelaksanaan.
Dalam kesempatan ini observers memilih sekolah dasar yang tersebar di kota
Singaraja. Terdapat 21 sekolah dasar sebagai objek observasi dengan beberapa
pertimbangan diantaranya, ada izin dari pihak kepala sekolah tersebut kepada observers
untuk melakukan observasi, kondisi sekolah yang memungkinkan dan menunjang untuk
dilakukan observasi.
Adapun waktu dalam melakukan observasi tanggal 8 Desember 2016, meskipun
waktu yang digunakan dalam observasi ini relative singkat dan sedikit terkendala pada
penyesuaian jadwal sekolah dan kuliah karena pada waktu itu bertepatan sekolah akan
memasuki libur semester genap tahun ajaran 2016-2017, tetapi tidak menjadi kendala
yang signifikan untuk mencapai tujuan sasaran observasi itu sendiri.
Dalam hal ini observers melakuan observasi tentang Rancangan Perencanaan
Program. Bentuk instrumennya adalah kuisioner dan terdapat 15 penyataan yang nantinya
diisi oleh responden, renponden itu sendiri adalah kepala sekolah dan guru dari tiap-tiap
sekolah tempat melakukan observasi. 15 pernyataan itu dapat dilihat sebagai berikut:
1. Merumuskan dan menetapkan visi sekolah

22
2. Mengembangkan visi sekolah berdasarkan budaya lokal
3. Menjadikan visi sekolah sebagai pedoman/cita-cita bersama dalam
pengelolaan sekolah
4. Menjadikan visi sekolah sebagai inspirasi bagi seluruh civitas sekolah
5. Menjadikan visi sekolah sebagai motivasi dalam pengembangan
pengelolaan sekolah
6. Menjadikan misi sekolah sebagai arah dalam mewujudkan visi sekolah
7. Menjadikan misi sekolah sebagai tujuan yang akan dicapai sekolah
8. Merumuskan tujuan sekolah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat
9. Merumuskan misi sekolah yang memberikan keluwesan dan ruang gerak
dalam pengembangan kegiatan sekolah
10. Merumuskan tujuan sekolah mengacu pada misi pendidikan Nasional
11. Merumuskan tujuan sekolah yang mengakomodasi masukan dari berbagai
pihak yang berkepentingan
12. Sekolah menyusun rencana kerja jangka menengah yang menggambarkan
tujuan yang akan dicapai
13. Sekolah menyusun rencana kerja jangka menengah berkaitan dengan mutu
lulusan
14. Sekolah menyusun rencana kerja tahunan atas dasar persetujuan dewan
pendidik
15. Sekolah menyusun rencana kerja tahunan yang dituangkan dalam bentuk
dokumen yang dapat dibaca oleh pihak terkait
Sebagaimana dengan peryatan-peryataan diatas, nantinya responden hanya
memberikan tanda centang pada salah satu alternatif jawaban pada setiap
pernyataan sesuai dengan kenyataan yang responden ketahui dan ada lima
alternative jawaban yang bisa di pilih yaitu: SL (Selalu), SR (Sering), KK
(Kadang-kadang), JR (Jarang), TP (Tidak Pernah). Menurut penjelasan tersebut,
misalnya pada pernyataan pertama responden memberikan jawaban pada pilihan
jawaban SL (selalu) maka responden akan memberikan tanda centang pada kolom
SL dan begitupun seterusnya.
Setelah melakukan observasi, observers mendapatkan hasil (lihat tabulasi
data) pada skor diskripansi pada kolom A bahwa nilai rata-ratanya adalah 4 itu

23
artinya nilai diskripansinya sangat kecil. Maksud dari diskripansi sangat kecil
dikategorikan bagus dan apa bila diskripansinya sangat luas maka dikategorikan
tidak bagus. Dalam hal ini hasil dari analisis diskripansi terhadap Rancangan
Perencanaan Program pada sekolah dasar yang tersebar di kota Singaraja
dikategorikan sebagai diskripansi sangat kecil. Itu artinya bahwa Rancangan
Program pada sekolah dasar yang tersebar di kota Singaraja rata-rata bagus.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai program yang
dikembangkan oleh sekolah-sekolah tersebut nantinya diharapkan relevan dengan
visi dan misi sekolah, serta sebagai bentuk penjabaran yang rinci, tersetruktur, dan
mungkin untuk dilaksanakan di dekolah tersebut.

B. Pelaksanaan Program Kerja


Standar pelaksanaan rencana kerja sekolah, harus terpenuhi dan terealisasi
beberapa aspek dalam penyelenggaraan pendidikan yaitu: kepemilikan pedoman-
pedoman sekolah yang mengatur berbagai aspek pengelolaan secara tertulis,
struktur organisaisi sekolah, pelaksanaan kegiatan, bidang kesiswaan, bidang
kurikulum dan kegiatan pembelajaran, bidang pendidik dan tenaga kependidikan,
bidang sarana dan prasarana, bidang keuangan dan pembiayaan, budaya danyang
berlaku secara nasional lingkungan sekolah, dan peran serta masyarakat dan
kemitraan.
Sekolah membuat dan memiliki pedoman yang mengatur berbagai aspek
pengelolaan secara tertulis yang mudah dibaca oleh pihak terkait. Perumusan
pelaksanaan rencana kerja sisesuaikan dengan visi dan misi sekolah tersebut.
Pedoman pengelolaan sekolah meliputi: kalender pendidikan, struktur organisasi,
pembagian tugas, tata tertib dan biaya operasionalsekolah. Pedoman sekolah
berfungsisebagai petunjuk pelaksanaan operasional.
Berdasarkan tabulasi data analisis deskripansi dimensi Pelaksanaan
Program Kerja, diperoleh hasil yaitu dari 21 sekolah yang dijadikan sampel untuk
survai terdapat 20 sekolah yang terkategori deskripansi kecil dan 1 sekolah yang
mendapatkan deskripansi kecil. Penyebab terjadinya 1 sekolah yang mendapatkan
deskripansi yang berbeda dari sekolah yang lainnya (dengan kategoori deskripansi
sangat kecil) disebabkan oleh rendahnya skor butir kuesioner pada poin Terjadi

24
kekeliruan dalam perhitungan biaya operasional. Berdasarkan observasi lanjutan
di sekolah yang mendapatkan deskripansi kecil, diketahui bahwa penyebab terjadi
rendahnya skor pada poin Terjadi kekeliruan dalam perhitungan biaya
operasional, adalah karena petugas yang menangani perhitungan biaya
operasional kurang teliti dalam melakukan perhitungan.

C. Pengawasan dan Evaluasi


Penyusunan program pengawasan di sekolah atau madrasah di dasarkan
pada Standar Nasional Pendidikan dan program pengawasan disosialisasikan
keseluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Setiap pihak yang menerima laporan
hasil pengawasan menindaklanjuti laporan hasil pengawasan tersebut dalam
rangka meningkatkan mutu, termasuk memberikan sangsi atas penyimpangan
yang ditemukan, mendokumentasikan dan menggunakan hasil pemantauan,
suvervisi, evaluasi dan laporan serta catatan tindak lanjut untuk memperbaiki
kinerja, dalam pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan secara keseluruhan.
Berdasarkan tabulasi data pada analisis Diskripansi diatas, pada dimensi
Pengawasan dan Evaluasi didapatkan hasil bahwa dari 21 sekolah yang dijadikan
sample untuk survey terdapat 19 sekolah yang terkategori sangat kecil, dan 2
sekolah mendapatkan diskripansi kecil. Penyebab terjadinya 2 sekolah yang
mendapatkan deskripansi yang berbeda dengan kategori deskripansi kecil
disebabkan oleh skor butir kuisioner pada poin berikut;
a) Kepala sekolah menggunakan rubrik atau pedoman penilaian dalam melakukan
pengawasan terhadap guru
b) Membuat laporan hasil evaluasi pelaksanaan program penilaian kinerja guru
c) Menyusun program pengawasan secara obyektif, bertanggung jawab dan
berkelanjutan
d) Melaksanakan evaluasi pembelajaran (2 kali dalam setahun)
e) Melaksanakan evaluasi program tahunan (1 kali dalam setahun)
f) Evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan meliputi
keseimbangan beban kerja
g) Evaluasi kinerja pendidik, memperhatikan pencapaian prestasi dan perubahan-
perubahan peserta didik
Berdasarkan observasi lanjutan di sekolah yang mendapatkan deskripansi
kecil, diketahui bahwa penyebab terjadi rendahnya skor pada 7 poin diatas yaitu
sebagai berikut;

25
a. Kepala sekolah menggunakan rubrik atau pedoman penilaian dalam
melakukan pengawasan terhadap guru
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena, 1) kepala sekolah belum
memahami penggunaan dan pentingnya pedoman penilaian dalam melakukan
pengawasan terhadap guru, 2) ketika melakukan pengawasan terhadap guru,
kepala sekolah jarang menggunakan rubrik atau pedoman penilaian dalam
menilai guru ketika melakukan kegiatan belajar mengajar
b. Membuat laporan hasil evaluasi pelaksanaan program penilaian kinerja guru
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena kepala sekolah jarang
membuat laporan hasil evaluasi pelaksanaan program penilaian kinerja guru
c. Menyusun program pengawasan secara obyektif, bertanggung jawab dan
berkelanjutan. Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena kepala
sekolah belum mampu dalam menyusun program pengawasan secara
obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan, selain itu kepala sekolah
kurang tahu teknik penyusunan program pengawasan yang obyektif,
bertanggung jawab dan berkelanjutan
d. Melaksanakan evaluasi pembelajaran (2 kali dalam setahun)
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena jarangnya kepala sekolah
dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran selama 1 semester dan kepala
sekolah kurang paham teknik dan pentingnya dalam melaksanakan evaluasi
pembelajaran
e. Melaksanakan evaluasi program tahunan (1 kali dalam setahun)
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena kepala sekolah hanya
kadang-kadang saja dalam melaksanakan evaluasi program tahunan
f. Evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan meliputi
keseimbangan beban kerja
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena 1) kepala sekolah hanya
kadang-kadang saja dalam melakukan evaluasi pendayagunaan pendidik dan
tenaga kependidikan yang meliputi keseimbangan beban kerja, 2) beban
mengajar berlebih yang dimiliki pada guru tertentu, kurang ditanggapi secara
cepat oleh kepala sekolah
g. Evaluasi kinerja pendidik, memperhatikan pencapaian prestasi dan
perubahan-perubahan peserta didik
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena 1) kepala sekolah jarang
melakukan evaluasi kinerja pendidik yang meliputi 4 kompetensi guru, 2)
kepala sekolah hanya memperhatikan pencapaian prestasi dan perubahan-

26
perubahan yang terjadi pada peserta didik

D. Kepemimpinan Sekolah/Madrasah
Setiap sekolah atau madrasah dipimpin oleh seorang kepala sekolah atau
kepala madrasah. Kepala sekolah atau madrasah dalam satuan pendidikan
merupakan pemimpin. Ia mempunyai dua jabatan dan peran penting dalam
melaksanakan peroses pendidikan. Pertama, kepala sekolah atau madrasah adalah
pengelola pendidikan di sekolah. Kedua, kepala sekolah adalah pemimpin formal
pendidikan di sekolahnya.
Berdasarkan tabulasi data analisis deskripansi dimensi kepemipinan sekolah
diperoleh hasil yaitu dari 21 sekolah yang dijadikan sampel untuk survai terdapat
20 sekolah yang terkategori deskripansi kecil dan 1 sekolah yang mendapatkan
deskripansi kecil. Penyebab terjadinya 1 sekolah yang mendapatkan deskripansi
yang berbeda dari sekolah lainnya (dengan kategoori deskripansi sangat kecil)
disebabkan oleh rendahnya skor butir kuesioner pada poin kepala sekolah
melakukan monitoring dan evaluasi PBM dan kepala sekolah memberikan
uraian pekerjaan masing-masing bidang dan kepegawaian.
Berdasarkan observasi lanjutan di sekolah yang mendapatkan deskripansi
kecil, diketahui bahwa penyebab terjadi rendahnya skor pada poin kepala sekolah
melakukan monitoring dan evaluasi PBM, adalah karena kepala sekolah jarang
melakukan evaluasi terhadap bawahannya. Selain itu sekolah kurang memahami
pentingnya evaluasi bawahan. Adapun penyebab terjadi rendahnya skor pada poin
kepala sekolah memberikan uraian pekerjaan masing-masing bidang dan
kepegawaian adalah karena kepala sekolah belum memperjelas pembagian tugas
dari masing-masing bawahan.

E. Sistem Informasi Manajemen


Sistem Informasi Manajemen dan Pendidikan adalah suatu sistem data
sekolah berbasis ITC dimana segala data base sekolah bisa tersimpan dengan
aman serta dapat terkoneksi melalui suatu server. Sekolah yang dapat di cover
dengan SIMDIK ini adalah sekolah TK, SD, SMP, SMA dan sederajat. Sistem
Informasi Manajemen Pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya
manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah,

27
dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung kembali proses
pengambilan keputusan bidang pendidikan. Data-data tersebut adalah data empiris
atau data/fakta sebenarnya yang benar-benar ada dan dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
Dengan mempertimbangkan uraian-uraian di atas dapat dikemukakan
definisi alternatif sistem informasi manajemen pendidikan, yakni: sistem, yang
terdiri dari sekelompok orang, pedoman, dan perangkat pengolah data, yang
memantau dan mengambil kembali data dari lingkungan, yang memperoleh data
dari transaksi dan operasi dalam organisasi, dan yang menyaring, mengatur, dan
memilih data serta menyajikannya sebagai informasi kepada para pemangku
kepentingan pendidikan/sekolah, terutama bagi para manajer pendidikan pada
semua level dan fungsi organisasi, untuk mendukung pengambilan keputusan
dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen, untuk mendukung komunikasi, dan
untuk mendukung kegiatan operasional, termasuk di dalamnya kegiatan
instruksional.
SIMDIK dikembangkan secara terpadu dimulai dari proses operasional
pendaftaran siswa baru, proses akademik, pengelolaan keuangan, sampai
operasional siswa menjadi alumni. SIMDIK merupakan proses operasional
sekolah. Segala kebutuhan pelaporan dari sekolah ke Dinas Pendidikan Daerah
maupun untuk kebutuhan Depdiknas dapat dilakukan dengan mudah. Dengan
adanya SIMDIK manajemen pendidikan menjadi lebih mudah dan terkontrol.
Berdasarkan tabulasi data pada analisis Diskripansi diatas, pada dimensi
Sistem Informasi Manajemen didapatkan hasil bahwa dari 21 sekolah yang
dijadikan sample untuk survey terdapat 18 sekolah yang terkategori sangat kecil,
dan 3 sekolah mendapatkan diskripansi kecil. Penyebab terjadinya 3 sekolah yang
mendapatkan deskripansi yang berbeda dengan kategori deskripansi kecil
disebabkan oleh skor butir kuisioner pada poin berikut;
a) Mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung
administrasi pendidikan yang efektif.
b) Mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung
administrasi pendidikan yang efisien
c) Menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani
permintaan informasi maupun pemberian informasi.
d) Menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani
pengaduan dari masyarakat

28
Berdasarkan observasi lanjutan di sekolah yang mendapatkan deskripansi
kecil, diketahui bahwa penyebab terjadi rendahnya skor pada 4 poin diatas yaitu
sebagai berikut.
a. Mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung
administrasi pendidikan yang efektif.
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan oleh sekolah kurang mampu
dalam Mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk
mendukung administrasi pendidikan yang efektif
b. Mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung
administrasi pendidikan yang efisien.
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena sekolah belum mampu
mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung
administrasi pendidikan yang efisien.
c. Menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani
permintaan informasi maupun pemberian informasi.
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena 1) kepala sekolah, guru
dan tenaga kependidikan belum memahami pentingnya pelayanan
permintaan informasi maupun pemberian informasi, 2) kurangnya
koordinasi dari kepala sekolah dalam menugaskan seorang guru atau
tenaga kependidikan untuk melayani permintaan informasi maupun
pemberian informasi.
d. Menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani
pengaduan dari masyarakat
Rendahnya skor pada poin ini disebabkan karena 1) kurangnya koordinasi
kepala sekolah dalam menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan
untuk melayani pengaduan dari masyarakat, 2) kurang harmonisnya
hubungan sosial kepala sekolah dengan guru dan tenaga kependidikan, 3)
kurang harmonisnya hubungan sosial sekolah dengan masyarakat.

29
BAB V
PENUTUP

Standar Pengelolaan adalah Standar nasional pendidikan yang berkaitan


dngan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada
tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, propinsi, atau nasional agar tercapai
efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan. Standar Pengelolaan terdiri
atas 3 (tiga) bagian, yakni Standar Pengelolaan oleh satuan pendidikan, Standar
Pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan Standar Pengelolaan oleh Pemerintah.
Berdasarkan hasil analisis Rancangan Perencanaan Program, Pelaksanaan
Program Kerja, pengawasan dan evaluasi, Kepemimpinan Sekolah/Madrasah, dan
sisten informasi managemen dapat disimpulkan bahwa hasil diskripansi masing-
masing aspek tergolong dalam kriteria sangat kecil. Hal ini berarti bahwa
kesenjangan pengelolaan di sekolah dasar yang tersebar di Singaraja kecil.
Sehingga secara umum, standar pengelolaan SD yang tersebar di kota singaraja
rata-rata bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi, A. 2010. Prosedur Penelitian SuatuPendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta

-------. 2006. Metedologi Penelitian. Yogyakarta: Bina Aksara

Burhan, B. 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana

30
Dedi, M. 1994. Metode Penelitian Kualitatif.bandung: Remaja Rosda Karya

Peraturan Menteri pendidikan Nasional Republik Indonesia No 19 Tahun 2007


tentang Standar Pengelolaan pendidikan oleh Satuan pendidikan Dasar dan
Menengah.

Nana, S. 2011. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru


Algensindo

Sugiono. 2003. Metode Penelitian Bisnis.Bandung: Pusat Bahasa Depdiknas

31