Anda di halaman 1dari 19

kLIPING

sejarah Indonesia

Disusun Oleh:
Nama : Henrika
Kelas : X IPS 3
No. Absen : 9

SMA NEGERI 2 MAGELANG


2017
Candi Borobudur

Borobudur merupakan candi terbesar di Indonesia. Candi Borobudur

menjadi obyek wisata yang ramai dikunjungi, juga menjadi pusat ibadah bagi

penganut Buddha di Indonesia khususnya pada setiap perayaan Waisak. Hal ini

sesuai dengan arti namanya yaitu "biara di perbukitan". Saat ini Borobudur

ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia UNESCO. Borobudur adalah

candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi

adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di

sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para

penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa

pemerintahan wangsa Syailendra.


Candi Prambanan

Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak

di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini

terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta,

40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan

antaraprovinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara

Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara

kabupaten Sleman dan Klaten. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi

oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua

wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak

lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Candi Pandawa Lima

Disini terdapat situs reruntuhan candi purbakala hindu yang konon

dibangun bersamaan dengan zaman dengan dibangunnya Candi Borobudur, sekitar

abad ke-8 Masehi, dulu merupakan pusat penyebaran agama Hindu pertama di

Jawa Tengah. Para ahli arkeolog yakin komunitas hindu didataran tinggi dieng
adalah awal lahirnya Dinasty Syailendra yang pada jamannya membangun candi

yang monumental dalam sejarah. Selain reruntuhan candi kita juga menemukan

reruntuhan sisa sisa kerajaan masa lampau. Yang unik, candi-candi disekitar

dieng ini dinamai tokoh-tokoh pewayangan Pandawa Lima. Untuk itu candi ini

dinamakan Candi Pandawa Lima.

Candi Kalasan

Candi Kalasan atau Candi Kalibening[1] merupakan sebuah candi yang

dikategorikan sebagai candi umat Buddha terdapat di desa Kalasan, kabupaten

Sleman, provinsi Yogyakarta, Indonesia. 7462.33S 1102820.04E Candi ini

memiliki 52 stupa dan berada di sisi jalan raya antara Yogyakarta dan Solo serta

sekitar 2 km dari candi Prambanan. Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang

ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka

ditemukan lebih banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini.

Selain candi Kalasan dan bangunan - bangunan pendukung lainnya ada juga tiga

buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa.

Berdasarkan prasasti Kalasan bertarikh 778 yang ditemukan tidak jauh dari

candi ini menyebutkan tentang pendirian bangunan suci untuk

menghormatiBodhisattva wanita, Tarabhawana dan sebuah vihara untuk para

pendeta.[2][1] Penguasa yang memerintah pembangunan candi ini

bernama Maharaja Tejapurnapana Panangkaran (Rakai Panangkaran) dari keluarga

Syailendra. Kemudian dengan perbandingan dari manuskrip pada prasasti


Kelurak tokoh ini dapat diidentifikasikan dengan Dharanindra[3] atau

dengan prasasti Nalanda adalah ayah dari Samaragrawira[4]. Sehingga candi ini

dapat menjadi bukti kehadiran Wangsa Syailendra,

penguasa Sriwijaya di Sumatera atas Jawa. Pada bagian selatan candi terdapat

dua relief Bodhisattva, sementara pada atapnya terdiri dari 3 tingkat. Atap

paling atas terdapat 8 ruang, atap tingkat dua berbentuk segi 8, sedangkan atap

paling bawah sebangun dengan candi berbentuk persegi 20 yang dilengkapi

kamar-kamar setiap sisinya.

Candi Dieng

Candi Dieng berada di dataran tinggi Dieng yang dianggap merupakan

suatu tempat yang memiliki kekuatan misterius sebagai tempat bersemayamnya

arwah para leluhur, sehingga tempat ini dianggap suci. Dieng berasal dari kata

Dihyang yang artinya tempat arwah para leluhur. Terdapat beberapa komplek

candi di daerah ini, komplek Candi Dieng dibangun pada masa agama Hindu,

dengan peninggalan Arca Dewa Siwa,Wisnu, Agastya, Ganesha dan lain-lainya

bercirikan Agama Hindu.


Candi Cetha

Candi Cetha merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan

masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama

mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga

melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan

rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia

Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini

memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi candi berada di Dusun

Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian

1400m di atas permukaan laut. Sampai saat ini, komplek candi digunakan oleh

penduduk setempat yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer

sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa/Kejawen.


Candi Pawon

Candi Pawon adalah nama sebuah candi. Candi Pawon dipugar tahun 1903.

Nama Candi Pawon tidak dapat diketahui secara pasti asal-usulnya. J.G. de

Casparis menafsirkan bahwa Pawon berasal dari bahasa Jawa Awu yang

berarti abu, mendapat awalan pa dan akhiran an yang menunjukkan suatu tempat.

Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti dapur, akan tetapi De

Casparis mengartikan perabuan. Penduduk setempat juga menyebutkan candi

Pawon dengan nama Bajranalan. Kata ini mungkin berasal dari

kata Sansekerta vajra = "halilintar" dan anala = "api". Di dalam bilik candi ini

sudah tidak ditemukan lagi arca sehingga sulit untuk mengidentifikasikannya

lebih jauh. Suatu hal yang menarik dari Candi Pawon ini adalah ragam hiasnya.

Dinding-dinding luar candi dihias dengan relief pohon hayati (kalpataru) yang

diapit pundi-pundi dan kinara-kinari(mahluk setengah manusia setengah

burung/berkepala manusia berbadan burung). Letak Candi Pawon ini berada di

antara candi Mendut dan candi Borobudur, tepat berjarak 1750 meter dari candi

Borobudur dan 1150 m dari Candi Mendut. 73621.98S 1101310.3E


Candi Brahma

CANDI BRAHMA terletak di sebelah candi Siwa, bentuk dan ukurannya

lebih kecil. Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter. Ditinjau dari

segi arsitektur seperti halnya candi SIwa candi ini juga terdiri dari tiga bagian

yaitu kaki, badan dan atap candi. Kaki candi yang tingginya 3,30 m mempunyai

hiasan yaitu sebuah relung yang berisi motif prambanan, berupa singa diapit oleh

dua pohon kalpataru penuh dengan bunga-bunga teratai biru, putih dan merah

yang di bawahnya ada kinara dan kinari (makhluk setengah manusia setengah

dewa).

Candi Sambisari

Candi Sambisari adalah candi Hindu (Siwa) yang berada kira-kira 12 km di

sebelah timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum

kompleks candi Prambanan. Candi ini dibangun pada abad ke 9 pada masa

pemerintahan raja Rakai Garung di zaman kerajaan Mataram Kuno. Posisi Candi

Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar

karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran

pada awal abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya
batu material volkanik di sekitar candi. Dengan dikelilingi oleh tembok candi yang

asli dengan ukuran 50 m x 48 m, kompleks ini mempunyai candi utama didampingi

oleh tiga candi perwara (pendamping). Di dalam candi ini terdapat

patung Durga (di sebelah utara), patung Ganesha (sebelah timur), patung Siwa

Agastya(sebelah selatan), dan di sebelah barat terdapat dua patung dewa

penjaga pintu: Mahakala dan Nadisywara. Di dalam candi utama terdapat

patungLingga dan Yoni dengan ukuran cukup besar. Pada saat penggalian, benda-

benda bersejarah, di antaranya beberapa tembikar, perhiasan, cermin logam

serta prasasti lempengan emas juga ditemukan. Candi ini ditemukan pada tahun

1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari yang diabadikan menjadi nama candi

tersebut, dan dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala.

Candi Banyunibo

Candi Banyunibo (yang berarti air jatuh-menetes dalam bahasa Jawa)

adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian

sebelah timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun

pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian

atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha.

Keadaan dari candi ini terlihat masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief

kala-makara dan bentuk relief lainnya yang masih nampak sangat jelas. Candi

yang mempunyai bagian ruangan tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki

kembali pada tahun 1940-an, dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.
Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek

bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa

Candi, Kecamatan Bandungan,Kabupaten Semarang, Jawa

Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini

terdapat sembilan buah candi. Candi ini diketemukan oleh Raffles pada

tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa

Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini memiliki persamaan dengan

kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar

1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar

antara 19-27 C). Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini

memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan

pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.
Candi Plaosan

Candi Plaosan adalah sebutan untuk kompleks percandian yang terletak

di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten,Provins

i Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah

timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca

Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang

berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha.

Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri

Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang, atau juga dikenal dengan nama Kerajaan

Mataram Kuno. Kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Candi

Plaosan Kidul.

Candi Badut

Candi Badut terletak di kawasan Tidar, Arah ITN[institutTeknologi

Nasional] ke barat kota Malang. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum jurusan

Tidar. Lokasinya bisa dilihat di Wikimapia [1]. Candi ini diperkirakan berusia lebih

dari 1400 tahun dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa
kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam

prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Kata Badut di sini berasal dari bahasa

sansekerta Bha-dyut yang berarti sorot Bintang Canopus atau Sorot Agastya.

Hal itu terlihat pada ruangan induk candi yang berisi sebuah pasangan arca tidak

nyata dari Siwa dan Parwati dalam bentuk lingga dan yoni. Pada bagian dinding

luar terdapat relung-relung yang berisi arca Mahakal dan Nadiswara. Pada relung

utara terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Relung timur terdapat arca

Ganesha. Dan disebelah Selatan terdapat arca Agastya yakni Syiwa sebagai

Mahaguru. Namun di antara semua arca itu hanya arca Durga

Mahesasuramardhini saja yang tersisa. Candi ini ditemukan pada tahun 1921

dimana bentuknya pada saat itu hanya berupa gundukan bukit batu, reruntuhan

dan tanah. Orang pertama yang memberitakan keberadaan Candi Badut adalah

Maureen Brecher, seorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang.

Candi Badut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De

Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan

pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali

bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya.

Candi Gebang

Candi Gebang adalah candi Hindu yang berada di dusun Gebang, kelurahan

Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DIY. Candi yang ditemukan pada tahun 1936 ini

diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke-8 M pada saat wangsa

Sanjaya berkuasa di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi yang dipugar oleh Van
Romondt tahun 1937-1939 ini mempunyai ukuran kira-kira 5 x 5 meter dengan

tinggi 8 meter. Candi Gebang mempunyai puncak berbentuk lingga, dan pada

relung sebelah barat dan timur terdapat arca Ganesa, Nandiswara dan yoni.

Candi Mendut

Candi Mendut adalah sebuah candi berlatar belakang agama Buddha. Candi

ini terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kota Mungkid,Kabupaten

Magelang, Jawa Tengah, beberapa kilometer dari candi Borobudur.

73617.17S 1101348.01E. Reruntuhan candi Mendut sebelum dipugar, tahun

1880. Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari

dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi,

disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci

bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi

Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut
Candi Lumbung

Candi Lumbung adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman

Wisata Candi Prambanan, yaitu di sebelah candi Bubrah. Menurut perkiraan,

candi ini dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini

merupakan kumpulan dari satu candi utama (bertema bangunan candi Buddha)

yang dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup

bagus.

Candi Sukuh

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang terletak

di Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini

dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek

pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena bentuknya yang

kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang

melambangkan seksualitas. Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk

menjadi salah satu Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.


Candi Pari

Candi Pari adalah sebuah candi yang terletak sekitar 2 km ke arah barat

laut pusat semburan lumpur PT Lapindo Brantas saat ini. Candi ini berada di

Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur.

Candi ini merupakan suatu bangunan persegi empat dari batu bata, menghadap ke

barat dengan ambang serta tutup gerbang dari batu andesit batu alam. Dahulu,

diatas gerbang ada batu dengan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi.

Merupakan peninggalan zaman Majapahit di masa pemerintahan PrabuHayam

Wuruk 1350-1389 M.

Candi Brahu

Candi Brahu merupakan salah satu candi yang terletak di Jawa Timur.

Lokasi persisnya ada di Dukuh Jamu Mente, Desa Bejijong atau sekitar 2

kilometer dari jalan raya Mojokerto, Jombang. Candi ini terletak di dalam

kawasan situs arkeologi Trowulan, bekas ibu kotaMajapahit. Candi Brahu

dibangun dari batu bata merah, dibangun di atas sebidang tanah menghadap ke

arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan punya
ketinggian 20 meter. Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Budha. Candi

ini didirikan pada abad 15 Masehi namun terdapat perbedaan pendapat. Ada yang

mengatakan candi ini berusia jauh lebih tua ketimbang candi lain di sekitar

Trowulan.

Candi Sari Wringin Branjang

Candi Wringin Branjang adalah sebuah candi terletak di Desa

Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi ini

letaknya masih satu kompleks dengan Situs Gadungan, jaraknya sekitar 100 m di

sebelah barat Situs Gadungan I. Candi yang terbuat dari batu andesit ini

memiliki bentuk yang sangat sederhana. Struktur bangunannya tidak memiliki

kaki candi, tetapi hanya mempunyai tubuh dan atap candi saja, dengan ukuran

panjang 400 cm, lebar 300 cm dan tingginya 500 cm. Sedangkan pintu masuknya

berukuran lebar 100 cm, tingginya 200 cm dan menghadap ke arah selatan. Pada

bagian dinding tidak terdapat relief atau hiasan lainnya, tetapi dinding-dinding

ini memiliki lubang ventilasi yang sederhana. Bentuk atap candi menyerupai atap

rumah biasa, dan diduga bangunan candi ini merupakan tempat penyimpanan alat-

alat upacara dari zaman Kerajaan Majapahit yakni pada abad ke 15 M.


Candi Ajuna

Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan dari abad

ke-7-8 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa

Tengah, Indonesia. Dibangun pada tahun 809, Candi Arjuna merupakan salah satu

dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Ketujuh candi lainnya

adalah Semar,Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati.

Lokasi di Wikimapia [1]. Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8

yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam kondisi yang

memprihatinkan. Batu-batu candi ada yang telah rontok, sementara di beberapa

bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm. Selain itu,

bangunan ini sudah mulai miring ke arah barat. Fondasi timurnya telah amblas

sekitar 15 hingga 20 cm. Lingkungan sekitar candi juga tidak mendukung

pemeliharaan. Lahannya sudah lama digarap penduduk untuk lahan pertanian

tanaman kentang, sayur-mayur, dan bunga-bungaan.


Candi Plumbangan

Candi Plumbangan adalah sebuah candi yang terletak di Desa

Plumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Bentuk bangunan

candi ini berupa pintu gerbang paduraksa dengan puncak berbentuk kubus. Pintu

gerbang ini terbuat dari batu andesit, dengan ukuran panjang 4.09 m, lebar 2,27

m dan tingginya 5,6 m. Pintu gerbang memiliki sayap pada kanan kirinya dan tidak

mempunyai relief, namun hanya mempunyai pelipit garis saja. Pada bagian atas

ambang pintu terdapat pahatan angka tahun 1312 Saka (1390 M). Secara umum

kondisi candi saat ini masih cukup terawat.

Candi Sewu

Candi Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang

berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara candi Prambanan. Candi

Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar kedua setelah candi

Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua daripada candi
Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 249 candi, oleh masyarakat setempat

candi ini dinamakan Candi "Sewu" yang berarti "seribu" dalam bahasa Jawa.

Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.

Candi Ngawen

Candi Ngawen adalah candi Buddha yang berada kira-kira 5 km

sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan

Muntilan, Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa

Syailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan

candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah yang tersebut dalam prasasti Karang

Tengah pada tahun 824 M. Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di

antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada

keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa

yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya.

Beberapa reliefpada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah

ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.