Anda di halaman 1dari 2

ABSTRAK

Ibn al-Qayyim sebagaimana dikutip oleh Abdul Gani Isa:Kebijakan


apapaun yang membawa orang lebih dekat kepada salah( kebaikan dan kecocokan
dalam hidup) dan menjauhkan orang dari fasad (semua yang merusak) telah
melakukan siyasah (kebijaksana) yang adil, sekalipun tidak ditentukan oleh Nabi
s.a.w., atau tidak diatur oleh wahyu Illahi. Dalam hal ini khususnya tentang
implementasi syariat Islam terhadap Kebijakan pemerintah dalam mengeluarkan
Intruksi No 2 tahun 2015 Tentang pengawasan dan penertiban pelayanan tempat
wisata/ rekreasi /hiburan, penyediaan layanan internet, cafe/ sejenisnya dan sarana
olahraga di Banda Aceh. Atas inilah penulis merumuskan sebuah judul penelitian
dengan judul Respon Perempuan Aktivis terhadap Implementasi Syariat Islam di
Aceh (Studi Kasus tiga Organisasi di Banda Aceh).
Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana
respon perempuan aktivis di Banda Aceh berkontribusi memperluas pemahaman
tentang syariat Islam yang berperspektif gender di Aceh, Bagaimana perempuan
aktivis di Banda Aceh mengkritis implementasi syariat Islam di Aceh dan
Bagaimana perempuan aktivis di Banda Aceh menggunakan pemahaman mereka
tentang hukum Islam untuk melegitimasi pandangan kritis mereka tentang
implementasi syariat Islam di Aceh. kegunaan penelitian ini adalah untuk
menambah wawasan keilmuan penulis dalam bidang Hukum Islam, khususnya
yang menyangkut tentang perempuan aktivis terhadap implementasi Syariat Islam
di Aceh. pembahasan tesis ini menggunakan metode kualitatif sedangkan
memperoleh data yang diperlukan menggunakan penelitian yang bersifat data
kualitatif yaitu data yang disajikan dalam bentuk verbal, bukan dalam bentuk
angka. Adapun teknik analisa data dapat dilakukan dengan melalui obseevasi,
wawancara maupun dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pembahasan
tentang intruksi Walikota Banda Aceh terhadap pengawasan dan penertiban
pelayanan tempat wisata/ rekreasi /hiburan, penyediaan layanan internet, cafe/
sejenisnya dan sarana olahraga di Banda Aceh yang terdapat dalam Intruksi
Walikota Banda Aceh No 2 tahun 2015 serta buku pendukung lainnya.
Berdasarkan hasil analisa data pembahasan hasi penelitian bahwa respon
perempuan aktivis di Banda Aceh berkontribusi memperluas pemahaman tentang
syariat Islam yang berperspektif gender di Aceh ialah organisasi KKTGA tidak
setuju dengan pemberlakuan jam kerja malam bagi perempuan. Karena itu
menghambat perempuan yang berprofesi, dan kekerasan itu terjadi bukan diluar
tapi dirumah. Organisasi GeRAK Aceh pun tidak setuju dengan alasan peraturan
itu tidak perlu dibuat karena sudah cukup dengan tradisi saja. Berbeda dengan
organisasi LKBHuWK malah setuju dengan alasan menjaga marwah perempuan.
Menurut KKTGA bahwa syariat Islam yang berspektif gender agak sulit untuk
diterapkan di Aceh karena orang Aceh memahami syariat hanya yang tertulis di
dalam Qanun saja. Dalam hal ini, tiga organisasi ini mengkritis terhadap kebijkan
tersebut tidak perlu dibatasi, hukum tajam kebawah tumpul keatas dan perlu
evaluasi, dan harus mempunyai kesadaran sendiri. Tiga organisasi ini memahami
hukum Islam dalam melegitimasi syariat Islam tersebut yaitu Hukum Islam itu
instrumen, lembaga hukumnya, dan masyarakat.
ABSTRACT

Ibn al-Qayyim, as quoted by Abdul Gani Isa: "Policy Any and bring
people closer to one (goodness and suitability in life) and keep people away from
the facade (all destructive) has done siyasah (kebijaksana) fair, though not
specified by the Prophet, or not regulated by divine revelation. In this case,
particularly on the implementation of Islamic law against government policy in
issuing Instruction No. 2 of 2015 On the supervision and control of service tourist
/ recreation / entertainment, provision of internet services, cafe / like and sports
facilities in Banda Aceh. On this writer formulate a title of the study entitled
"Women Activist Response to the implementation of sharia in Aceh (Case Study
three organizations in Banda Aceh).
As for the problem in this research is how the responses of women
activists in Banda Aceh contributed to broaden understanding of Islamic law
gender perspective in Aceh, How women activists in Banda Aceh criticize the
implementation of Islamic law in Aceh and How women activists in Banda Aceh
using their understanding of Islamic law to legitimize their critical views on the
implementation of Islamic law in Aceh. usefulness of this research is to increase
knowledge of science writers in the field of Islamic law, especially those
concerning women activists against the implementation of Islamic Sharia in Aceh.
discussion of this thesis using qualitative methods, while obtaining the necessary
data using qualitative research that is the data that the data presented in the form
of verbal and not in the form of numbers. The technique of data analysis can be
done through obseevasi, interviews and documents related to the discussion about
the instructions Mayor of Banda Aceh on the supervision and control of service
tourist / recreation / entertainment, provision of internet services, cafe / like and
sports facilities in Banda Aceh Instructions contained in the Mayor of Banda Aceh
No. 2 in 2015 as well as other supporting books.
Based on the results of data analysis research hasi discussion that the
response of women activists in Banda Aceh contributed to broaden understanding
of the gender perspective of Islamic law in Aceh is KKTGA organization does not
agree with the imposition of hours of night work for women. Because it inhibits
women's profession, and the violence is not outside but in the home. Aceh
GeRAK organization did not agree with the reasons that rule does not need to be
made because it had enough with tradition alone. Unlike the organization
LKBHuWK even agree with the premise of maintaining dignity of women.
According KKTGA that Islamic law is gender berspektif rather difficult to
implement in Aceh for Acehnese understand the law only written in the Qanun
alone. In this case, these three organizations to criticize the development policy
does not need to be restricted, the law sharply upwards and downwards blunt need
evaluation, and must have their own consciousness. Three of these organizations
understand Islamic law in legitimizing the Islamic Shari'a is the Islamic law
instruments, legal institutions, and communities.