Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metabolisme sekunder yang terjadi pada tumbuhan akan menghasilkan
beberapa senyawa yang tidak digunakan sebagai cadangan energi melainkan untuk
menunjang kelangsungan hidupnya seperti untuk pertahanan dari predator. Tanin,
merupakan salah satu metabolit sekunder yang dihasilkan tanaman. Tanin adalah
kelas utama dari metabolit sekunder yang tersebar luas pada tanaman. Tanin
merupakan polifenol yang larut dalam air dengan berat molekul biasanya berkisar
1000-3000( Buckle, 1987)
Tanin adalah zat aktif penyamak dari tumbuh-tumbuhan yang pertama kali
digunakan untuk menyamak kulit hewan yang dikenal sebgai bahan penyamak nabati
(vegetable tannin). Tanin mempunyai beberapa sifat seperti amorf (berisi), astringent
(mengencangkan) dan mengawetkan kulit dari serangan mikrobia serta dapat
memberikan warna pada kulit yang disamak yaitu sebagai efek sekunder tanin.
Pewarnaan menggunakan pewarna alami.
Zat warna alami merupakan zat warna yang berasal dari berbagai macam
bagian dari suatu tumbuhan, dapat berasal dari bagian daun, akar, batang, maupun
kulitnya. Zat warna alami saat ini belum banyak dimanfaatkan hal tersebut
dikarenakan banyak beranggapan penggunaannya yang kurang praktis, selain itu
karena sudah tersedianya pewarna sintetis yang memiliki warna lebih bervariasi dan
penggunaannya lebih praktis. Namun seiring dengan perkembangan Ipteks, dirasakan
dampaknya bahwa penggunaan bahan-bahan kimia termasuk beberapa zat warna
sintetis berpotensi mencemari lingkungan, sehingga penggunaan bahan penyamak
ramah lingkungan mulai menjadi suatu pilihan sehingga lingkungan disekitar tidak
tercemar.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang Dimaksud dengan Tanin?
2. Apa Saja Tumbuhan yang Dapat Menghasilkan Tanin?
3. Apakah Manfaat dari Tanin dan Zat Warna Alami?
C. Tujuan Makalah :
1. Untuk Mengetahui Apa yang Dimaksud dengan Tanin dan Zat Warna Alami
2. Untuk Mengetahui Tumbuhan Apa Saja yang Dapat Menghasilkan Tanin dan Zat
Warna
3. Untuk Mengetahui Manfaat dari Tanin dan Zat Warna Alami
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tanin dan Zat Warna Alami


1. Pengertian Tanin
Tanin adalah kelas utama dari metabolit sekunder yang tersebar luas pada
tanaman. Tanin merupakan polifenol yang larut dalam air dengan berat molekul
biasanya berkisar 500 - 3000 serta mmepunyai gugus hidroksil fenolik (1-2 tiapa
100 satuan bobot molekul) dan dapat membentuk ikatan silang yang stabil dengan
protein dan bipolimer lain ( Cheeke, P.R., and L.R. Shull. 1985)
Tanin adalah zat aktif penyamak dari tumbuh-tumbuhan yang pertama kali
digunakan untuk menyamak kulit hewan yang dikenal sebagai bahan penyamak
nabati (vegetable tannin). Tanin mempunyai beberapa sifat seperti amorf (berisi),
astringent (mengencangkan) dan mengawetkan kulit dari serangan mikrobia serta
dapat memberikan warna pada kulit yang disamak yaitu sebagai efek sekunder
tanin.

Senyawa tanin dibagi menjadi dua berdasarkan pada sifat dan struktur
kimianya, yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi.Tanin
terhidrolisis biasanya ditemukan dalam konsentrasi yang lebih rendah pada
tanaman bila dibandingkan dengan tanin terkondensasi. Tanin terkondensasi
terdiri dari beberapa unit flavanoid (flavan-3-ol) dihubungkan oleh ikatan-ikatan
karbon. Tanin terkondensasi banyak ditemukan dalam berbagai jenis tanaman
seperti Acacia spp, sericea Lespedeza serta spesies padang rumput seperti Lotus
spp.

Tanin terkondensasi (condensed tannins) biasanya tidak dapat dihidrolisis,

tetapi dapat terkondensasi menghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan

terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Salah satu contoh

jenis tanin iniadalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari

karbohidrat denganasam galat. Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan

membentuk tanin terhidrolisis yang biasa disebut Ellagitanin. Ellagitanin


sederhana disebut juga ester asam hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini

dapat terpecah menjadi asam galic jika dilarutkan dalam air.

2. Pengertian Zat Warna Alami


Zat warna alami merupakan zat warna yang berasal dari berbagai macam
bagian dari suatu tumbuhan, dapat berasal dari bagian daun, akar, batang, maupun
kulitnya dan juga dapat berasal dari buah-buahan dan hewan. Zat warna alam dari
bahan kayu merupakan zat warna mordan (mordant dyestuffs). Mordan berfungsi
sebagai sarana atau pelekatan untuk penyerapan warna dan sebagai jembatan
(ikatan) kimia antara molekul warna dengan molekul jaringan serta dapat
membuat warna menjadi permanent. Mordan juga dikenal dengan istilah striker
dan beitz (Mc Cabe, dkk, 1993)
Mordan yang digunakan untuk pewarnaan kulit umumnya berasal dari
garam-garam metal (chrome, aluminium, copper, timbal, zink, ferro sulfat, dan
lain sebagainya). Mordan yang ramah lingkungan adalah aluminium/tawas dan
ferro sulfat. Zat warna alam dengan pengaruh mordan akan menghasilkan warna
bervariasi, tergantung pada jenis mordan yang digunakan.
Kelebihan dari Zat Warna Alami
1. Aman dikonsumsi.
2. Warna lebih menarik.
3. Terdapat zat gizi.
4. Mudah didapat dari alam.
Kekurangan dari Zat Warna Alami
1. Seringkali memberikan rasa dan flavor khas yang tidak diinginkan.
2. Tidak stabil pada saat proses pemasakan.
3. Konsentrasi pigmen rendah.
4. Stabilitas pigmen rendah.
5. Keseragaman warna kurang baik.
6. Spektrum warna tidak seluas seperti pada pewarna sintetis.
7. Susah dalam penggunaannya.
8. Pilihan warna sedikit atau terbatas.
9. Kurang tahan lama.

B. Macam Tanaman Penghasil Tanin dan Zat Warna


Menurut Wiryawan,dkk (1999) beberapa tumbuhan penghasil Tanin yaitu,
1. Macam Tanaman Penghasil Tanin
1.1 Mahoni (Swietenia mahagoni)
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathophyta
SubDivisi : Angiospermae
Kelas : Dycotyledoneae
Ordo : Geranialis
Famili : Meliaceae
Genus : Swietenia
Spesies : Swietenia mahagoni

Mahoni berdaun kecil kadar tannin 17,8% & kadar non tannin 4,4 %. Warna
kayu mahoni adalah coklat muda kemerah-merahan atau kekuning-kuningan
sampai coklat tua ke merah-merahan, dan lambat laun menjadi tua dan dapat
digunakan sebagai zat warna.
1.2 Mimosa
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Acacia
Spesies : Acacia auriculiformis
Mimosa adalah ekstrak kulit kayu akasia (Acasia auriculiformis) yang diolah
melalui proses penguapan atau secara kimiawi. Kulit yang disamak menggunakan
bahan nabati umumnya menghasilkan kualitas kulit yang lebih padat dan kompak
dengan warna natural coklat (Hangerman A.E, 1992). Menurut Hangerman A.E.
(1992) sifat-sifat zat penyamak kulit kayu akasia adalah: (1) zat penyamaknya
mudah disarikan (mudah larut dalam air), (2) Mempunyai daya menyamak yang
baik, (3) baik untuk menyamak segala macam kulit, (4) mudah bercampur dengan
semua bahan penyamak nabati lainnya, (5) sifat kulit dengan babakan akasia akan
lebih berisi (padat), warnanya cokelat muda, cukup lemas, dan kekuatan tariknya
cukup tinggi.
1.3 Tingi (Ceriops tagal)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Family : Rhizophoraceae
Genus : Ceriops
Species : Ceriops tagal
kulit batangnya merupakan salah satu komponen warna tradisional soga Jawa
(coklat) pada batik halus, yang memberi arah warna coklat kemerahan.
Kandungan tannin tinggi (20 - 40%). Daunnya juga dapat digunakan sebagai
pewarna karena masih mengandung tannin 15%. Proses fiksasi pada akhir
pewarnaan akan merubah arah warna dari warna merah maroon muda sampai ke
gelap, tergantung pada modifier color yang dipakai.
1.4 Secang (Caesalpinia sappan)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathophyta
SubDivisi : Angiospermae
Kelas : Dycotyledoneae
Ordo : Fabales
Famili : Leguminosae
Genus : Caesalpinia
Spesies : Caesalpinia sappan
Secang termasuk jenis kayu yang sangat keras dan mempunyai serat yang halus.
Pada waktu dipotong kayunya berwarna pucat, tetapi karena pengaruh udara
warnanya menjadi lebih tua. Makin dekat dengan empulur makin tua warnya dengan
merah jingga sampai ungu sehingga dapat dimanfaat kan sebagai zat warna.
1.2 Macam Tanaman Penghasil Zat Warna.
Menurut Winarno F. G. (1997) ada beberapa jenis zat warna yang terkandung
dalam tumbuh-tumbuhan diantaranya yaitu,
1. Karoten
Menghasilkan warna jingga sampai merah. Digunakan untuk mewarnai
produk-produk minyak dan lemak seperti minyak goreng dan margarin. Dapat
diperoleh dari pepaya, wortel dan lain-lain.
2. Biksin
Memberikan warna kuning mentega sampai kuning buah persik. Biksin
diperoleh dari biji pohon Bixa orellana yang terdapat di daerah tropis. Biksin
sering digunakan untuk mewarnai mentega, margarin, minyak jagung, dan salad
dressing.
3. Karamel
Berwarna cokelat gelap hasil dari pemanasan terkontrol molase, hidrolisis
(pemecahan) zat pati, dekstrosa, gula pasir, laktosa, sirup malt, dan gula invert.
Karamel tediri dari tiga jenis; karamel tahan asam yang digunakan untuk
minuman berkarbonat
4. Klorofil
Menghasilkan warna hijau, diperoleh dari daun. Banyak digunakan untuk
makanan. Saat ini bahkan mulai digunakan pada berbagai produk kesehatan.
Pigmen klorofil banyak terdapat pada dedaunan (misal daun suji, pandan, katuk
dan sebaginya). Daun suji, daun pandan, dan daun katuk sebagai penghasil warna
hijau untuk berbagai jenis kue jajanan pasar. Selain menghasilkan warna hijau
yang cantik, juga memiliki harum yang khas.
5. Antosianin
Penyebab warna merah, oranye, ungu dan biru banyak terdapat pada bunga
dan buah-buahan seperti bunga Mawar, Pacar Air, Kembang Sepatu, Bunga
Tasbih/Kana, Krisan, Pelargonium, Aster Cina, Dan Buah Apel,Chery, Anggur,
Strawberi, juga terdapat pada buah Manggis Dan Umbi ubi jalar. Bunga telang,
menghasilkan warna biru keunguan. Bunga belimbing sayur menghasilkan warna
merah. Penggunaan zat pewarna alami, misalnya pigmen antosianin masih
terbatas pada beberapa produk makanan, seperti produk minuman (sari buah,
juice dan susu).
6. Kurkumin
Berasal dari kunyit sebagai salah satu bumbu dapur sekaligus pemberi warna
kuning pada masakan yang dibuat.

C. Manfaat dari Tanin dan Zat Warna Alami


Tanin selain dapat digunakan sebagai zat warna diketahui dapat juga

digunakan sebagai antivirus, antibakteri, dan antitumor. Tanin tertentu dapat

menghambat selektivitas replikasi HIV dan juga digunakan sebagai diuretik (Heslem,

1989). Fungsi tanin pada tanaman biasanya sebagai senjata pertahanan untuk

menghindari terjadinya over grazing oleh hewan ruminansia dan menghindari diri dari

serangga, sebagai penyamak kulit,bahan untuk pembuatan tinta (+ garam besi(III)

senyawa berwarna tua), sebagai reagen untuk deteksi gelatin, protein, alkaloid

(karena sifat mengendap, obat diare karena inflamasi saluran gastro intestinal, dan

sebagai obat topikal (lesi terbuka, luka, hemoroid).

1. Kandungan Tanin dalam Daun Teh Berfungsi sebagai Obat Diare

Tanin yang terkandung dalam teh memiliki korelasi yang positif antara kadar

tanin pada teh dengan aktivitas antibakterinya terhadap penyakit diare yang

disebabkan oleh Enteropathogenic Esclierichia coli (EPEC) pada bayi. Hasil

penelitian Yulia (2006) menunjukkan bahwa daun teh segar yang belum mengalami
pengolahan lebih berpotensi sebagai senyawa antibakteri, karena seiring dengan

pengolahan menjadi teh hitam, aktivitas senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai

antibakteri pada daun teh menjadi berkurang.

Menurut Winarno F. G. (1997) Zat warna alami memilki kelebihan

dibandingkan pewarna sintesis yaitu dalam penggunaannya lebih aman untuk

dikonsumsi hal tersebut dikarenakan berbahan dasar dari alam. Selain itu beberapa

tanaman yang menghasilkan zat warna juga memilki manfaat sebagai obat yang

bermanfaat untuk kesehatan tubuh, karena adanya kandungan gizi dari bahan tersebut.

D. Prospek Tumbuhan Penghasil Tanin dan Zat Warna dalam Bidang Ekonomi

1. Tanin dapat dijadikan bahan obat diare

2. Tanin dapat digunakan sebagai bahan pembuatan tinta


BAB III
KESIMPULAN
1. Tanin adalah zat aktif penyamak dari tumbuh-tumbuhan yang pertama kali
digunakan untuk menyamak kulit hewan yang dikenal sebagai bahan
penyamak nabati (vegetable tannin).
Zat warna alami merupakan zat warna yang berasal dari berbagai macam
bagian dari suatu tumbuhan, dapat berasal dari bagian daun, akar, batang,
maupun kulitnya dan juga dapat berasal dari buah-buahan dan hewan.
2. Tanaman penghasil tanin antara lain Acasia auriculiformais, Swetenia
mahagoni, Caesalpinia sappan, dan Ceriops tagal. Tanaman penghasil warna
alami antara lain yaitu kunyit, daun pandan, daun katuk, wortel, pepaya, dkk.
3. Tanin banyak dimanfaatkan sebagai zat warna sebagai antivirus, antibakteri,
dan antitumor. Manfaat zat pewarna alami yaitu memberi warna makanan,
bahan tekstil. Selain itu juga pewarna alami memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan pewarna sintetis yaitu aman dikonsumsi tubuh, memiliki
kandungan gizi, mudah didapatkan dialam.
Daftar Rujukan

Buckle, 1987. Ilmu Pangan.UI Press, Jakarta

Cheeke, P.R., and L.R. Shull. 1985. Tannins dan Polyphenolic. Compounds. In : Cheeke,
P.R. (Ed.). Natural Toxicants in Feeds and Poisonous Plants. AVI Publishing Company,
Connecticut. USA.

Hangerman A.E. 1992. Tannin-Protein Interaction. Phenolic Compounds In Food and Their
Effects on Health 1. American Chemical Society, Washington D.C.

Mc Cabe, W. L., Smith, J. C. dan Harriot, 1993, Operasi Teknik Kimia ,


Erlangga, Jakarta

Winarno F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Wiryawan, Wina, K.G.E., Ernawati, R. 1999. Pemanfaatan tanin kaliandra (Calliandra


calothyrsus) sebagai agen pelindung beberapa sumber protein pakan (In Vitro). Bogor.
Institut Pertanian Bogor.