Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman agama, karena
itu diperlukan adanya sikap menghargai. Toleransi merupakan sikap dapat saling
menghargai antara individu yang satu dengan yang lain tanpa memperhatikan latar
belakang agama setiap individu. Indonesia yang memiliki beragam ajaran agama yang
bebas untuk dianut setiap masyarakatnya , membuat sikap toleransi ini sangat
diperlukan dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat.
Asas Bhineka Tunggal Ika merupakan asas yang mengandung makna
berbeda beda tetapi tetap satu jua dimana asas ini menyatakan bahwa meskipun
manusia itu berbeda latar belakangnya, namun tetap satu jiwa dalam Indonesia.
Adanya sikap toleransi dalam diri setiap manusia harus mulai ditumbuhkan sejak
individu tersebut mulai mengenal lingkungan sekitarnya. Peran keluarga menjadi
sangat penting dalam pengembangan sikap toleransi tersebut dalam diri anak.
Pluralisme atau yang biasa disebut sebagai kemajemukan adalah suatu konsep
yang menyatakan adanya perbedaan latar belakang agama tersebut yang
menyebabkan suatu bangsa memiliki keanekaragaman kebiasaan dalam
masyarakatnya. Pluralisme beragama mengandung arti adanya keberagaman dari
agama. Adanya pluralisme beragama ini merupakan suatu kekayaan bangsa karena
setiap latar belakang agama pasti memiliki cara tersendiri dalam hidup
bermasyarakat. Negara yang berhasil adalah negara yang dapat menyatukan segala
perbedaan dari masing masing latar belakang agama tersebut menjadi sebuah
fondasi yang kuat untuk memajukan bangsa.
B. Tujuan dan manfaat
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa besar
hubungan antara sikap toleransi dalam menghadapi pluralisme.
Manfaat dari toleransi yang dilakukan di lingkungan adalah dapat membangun
kerukunan diantara individu karena adanya sikap saling menghargai.
C. Rumusan masalah
1. Apa itu pengertian dari toleransi?
2. Apa Fungsi Toleransi ?
3. Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi sikap toleransi dalam individu ?

1
BAB II
TOLERANSI DALAM KEBERAGAMAN

A. Pengertian Toleransi

Toleransi awalnya berasal dari bahasa Latin, tolerare yang berarti menahan diri,
bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan memiliki hati yang lapang bagi
orang lain yang memiliki pendapat berbeda. Kata toleransi sendiri juga dalam bahasa Inggris
dikenal sebagai tolerance (Wibowo, 2009).
Toleransi memiliki definisi yaitu sikap mental sebagai perwujudan dari kesiapan
untuk menerima perbedaan dari orang lain, bahkan dipadukan dengan kesiapan untuk
memahami diri mereka dalam keberbedaan mereka. Adanya sikap toleransi dapat
memberikan kesadaran bagi seseorang untuk memberikan kebebasan kepada seseorang atau
sekelompok orang untuk bisa mengatur kehidupan mereka sendiri (termasuk beribadah)
asalkan tidak bertentangan dengan stabilitas di masyarakat (Schumann, 2006).
Pluralisme awalnya berasal dari bahasa Latin yaitu plures yang memiliki arti
beberapa dengan implikasi perbedaan. Dalam bahasa Inggris dikenal pluralism . Dengan
demikian pluralisme beragama dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang memandang
keberagaman secara positif dan dapat menerimanya sebagai kenyataan dan berusaha untuk
berbuat sebaik mungkin terhadap kenyataan itu. Dari asal usul kata ini diketahui bahwa
pluralism beragama tidak menghendaki keseragaman bentuk agama. Sebab jika keragaman
sudah terjadi , maka tidak akan ada lagi pluralitas agama . Agama agama jelas berbeda
antara satu dengan yang lain. Setiap agama memiliki konsep partikularitasnya sendiri
sehingga sangat tidak mungkin jika semua agama menjadi sama persis. Yang dikehendaki
dari gagasan pluralisme adalah pengakuan secara aktif terhadap agama lain (Moqsith, 2009).

Toleransi adalah suatu sifat yang dimiliki dalam diri seseorang untuk dapat saling
menghormati dalam kehidupan bermasyarakat. Toleransi berhubungan dengan sikap dan
perbuatan yang melarang adanya diskriminasi antara kelompok kelompok yang berbeda
atau tidak dapat diterima oleh mayoritas suatu masyarakat.

Rasa toleransi sangat penting dalam kehidupan manusia, baik dalam berkata-kata
maupun dalam bertingkah laku. Dalam hal ini, toleransi berarti menghormati dan belajar dari
orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, sehingga tercapai
kesamaan sikap. Toleransi juga merupakan awal dari sikap menerima bahwa perbedaan
bukanlah suatu hal yang salah, justru perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai
kekayaan. Misalnya perbedaan ras, suku, agama, adat istiadat, cara pandang, prilaku,
pendapat dan lain sebagainya. Dengan perbedaan tersebut diharapkan manusia bisa
mempunyai sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang ada, dan berusaha hidup rukun,
baik individu dengan individu, individu dengan kelompok masyarakat, dan kelompok
masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lainnya.
Dalam kehidupan di kampus Undiksha misalnya, sangat perlu sekali memupuk rasa toleransi
tersebut, karena mahasiswa yang kuliah disana bukan hanya dari satu daerah saja, melainkan

2
dari berbagai daerah, bahkan dari luar Bali pun ada. Di Bali saja sudah terdapat berbagai
kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda, bahkan memiliki dialek yang bebeda-beda setiap
daerah dan itu merupakan ciri khas dari daerang masing-masing. Sehingga sangat dibutuhkan
sifat saling menghargai antar individu dengan individu yang lainnya. Perbedaan pendapat
juga sering terjadi, misalnya dalam forum diskusi, baik diskusi dalam lingkup yang besar
maupun lingkup yang kecil. Dalam lingkup yang kecil misalnya diskusi dalam kelas, banyak
perbedaan pendapat antara pemakalah dengan peserta yang bertanya. Pada saat pemakalah
menjawab pertanyaan dari salah satu peserta, ada yang pro dan kontra antara peserta yang
satu dengan peserta yang lainnya. Disaat seperti itu, rasa saling menghargai pendapat orang
lain sangat dibutuhkan. Jangan sampai selesai diskusi terjadi pertikaian karena perbedaan
pendapat atau ada salah satu peserta yang pendapatnya melenceng dari materi kemudian ada
yang mengejek. Kita sebagai mahasiswa seharusnya tidak melakukan hal seperti itu, karena
manusia takkan luput dari kesalahan dan manusia tidak ada yang sempurna.
Dalam pergaulan sehari-hari juga, kita harus bisa menghargai dan menghormati orang
lain. Dalam pergaulan ada teman, dalam pertemanan juga banyak sekali perbedaan. Misalnya
dari beda sifat, karakter, cara berpikir, dari fisik pun banyak perbedaan karena ada yang
tinggi, ada yang pendek, ada yang kurus, dan ada yang gemuk. Tapi kita masih bisa berteman
dengan baik, karena kita dapat saling mengerti dan tidak memperdulikan perbedaan yang ada.
Kadang antara teman yang satu dengan yang lainnya bisa saling ejek, tapi kita harus tahu
batasannya, jangan sampai terlalu memojokkan teman kita, jangan sampai menyakiti teman
kita sendiri. Selain kita harus tahu batasan-batasannya, kita juga harus mengerti bahwa hal
tersebut hanyalah bercanda yang tujuannya untuk mengakrabkan persahabatan yang sudah
ada. Dalam hal ini, dibutuhkan suatu pengertian bahwa kita hidup di dunia ini tidak bisa
hidup sendiri. Manusia selalu membutuhkan seorang teman dalam hidupnya karena manusia
adalah mahluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Sehingga dalam hal
ini kita harus selalu memupuk rasa toleransi dengan selalu bersikap yang baik dan bisa
menghargai orang lain.
Jadi dalam hal ini, rasa toleransi sangat diperlukan oleh manusia dalam menjalani
hidup di dunia ini, karena tanpa rasa saling menghargai dan saling menghormati, manusia
tidak akan dapat hidup dengan tenang. Pertengkaran dan pertikaian mungkin akan terjadi
apabila manusia tidak memiliki rasa toleransi terhadap orang lain, bahkan peperangan antar
ras, suku, bangsa dan negara juga bisa terjadi. Oleh karena itu, konsep tentang toleransi harus
diajarkan sejak dini agar setelah dewasa nanti bisa menjadi anak yang berbudi pekerti yang
luhur. Dalam mengenalkan sikap toleransi pada anak dapat dilakukan dengan menunjukkan
sikap menghargai orang lain, memberikan contoh yang baik, mengajarkan berbicara dengan
berhati-hati, dan bersikap jujur. Dengan begitu anak tersebut akan menanamkan sikap yang
sama seiring perkembangannya

B. Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi sikap toleransi dalam individu

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesadaran dalam menumbuhkan sikap


toleransi. Faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu faktor

3
internal ( yang terdapat dalam diri seseorang ) dan faktor eksternal ( faktor yang berasal dari
lingkungan sekitar / dari luar diri kita ).

Faktor internalnya adalah :

Adanya sikap tidak peduli pada perbedaan yang ada, dan hanya ingin cara pandang
pandangnya sendiri yang diterima oleh masyarakat luas.
Kurangnya pemahaman yang mendalam mengenai maksud Tuhan menciptakan
berbagai macam ajaran agama adalah untuk saling melengkapi antara satu dengan
yang lain dalam suatu pemikiran , bukan untuk saling menghakimi.
Adanya sikap fanatik dalam seseorang. Fanatik merupakan sifat yang tidak dapat
menerima sama sekali terhadap perbedaan ajaran agama yang ada. Orang yang
memiliki karakteristik seperti ini tidak segan segan menghakimi setiap orang yang
memiliki sudut pandang yang berlainan dengan sudut pandanag yang ia miliki
berdasarkan ajaran agama yang dipeluknya.

Faktor eksternalya adalah :

Lingkungan yang terdekat misalnya keluarga atau teman kurang dapat menanamkan
rasa toleransi antara sesama. Pada akhirnya , seseorang tersebut akan terpengaruh dari
sikap itu dan menjadi radikal terhadap perbedaan yang ada.

C. Fungsi Toleransi

Manusia adalah makhluk individu yang memiliki cara berfikir yang berbeda beda namun
didalam kehidupannya sehari hari tidak akan mungkin bisa lepas dari yang namanya
beradaptasi, bergaul atau bersosialisasi dengan manusia yang lainnya. Didalam hidup
bersosialisasi sangat dibutuhkan sikap toleransi agar didapatkan pergaukan yang penuh
dengan suasana dan rasa saling menghargai, saling menghormati dan saling merasa sebagai
saudara.

Beberapa sikah hidup bertoleransi

1. Bersifat negatif Ajaran sikap bertoleransi yang mendokrin banyak orang yaitu
mengkukuhkan dengan ajaran ajaran yang tidak baik yang dapat memecah persatuan
dan kesatuan anatara umat beragaama bahkan mengancam pertahanan nasional.
Contohnya tentang ajaran komunis yang dulu pernah diterapkan PKI yang
menagajarkan kekerasan, kecurangan, pemberontakan serta penghianatan pada
negara.
2. Bersifat Positif Aliran atau ajaran yang ditolak tetapi penganutnya tetap mendapat
support dan tetap dihormati serta dihargai lingkungannya. hal ini berhubungan dengan
tradisi atau kebiasaan sebuah etnis tertentu. mereka tetap dihormati tetapi ajaran
mereka hanya berlaku pada etnis yang bersangkutan. sepanjang keberadaan mereka
tidak merugikan pihak lain maka kehadiran mereka tetap bisa diterima ditengah
tengah masyarakat.

4
3. Bersifat Dinamis atau Ekumenis Aliran atau ajaran beserta penganutnya yang
dihormati atau dihargai lingkungannya karena ajaran mereka dengan agama lain sama
sama mengukuhkan kebaikan dan jalan kebenaran, tidak saling menyalahkan, tidak
saling menghina, tidak saling menjatuhkan, saling menghormati perbedaan ibadah dan
saling menghormati hak dan kewajiban atasa kepercayaan masing masing. sikap
toleransi ini sangat dibutuhkan karena dapat mempersatukan kerukunan antar umat
beragama , menimbulkan rasa persaudaraan dan memperkuat persatuan dalam
bernegara.

Fungsi Toleransi dalam Kehidupan adalah :

1. Terhindar dari perpecahan

Sikap toleransi yaang tinggi yaitu saling menghormati. saaling mengahrgai dan mengabaikan
perbedaan dapat menghindari terjadinya pertikaian, permusuhan , peperangan dan perpecahan
yang dapat memicu konflik didalam negara , kondisi ini dapat mengancam keutuhan
persatuan negara Indonesia dan tidak sesuai dengan semboyan kita bhinneka tunggal ika.
keadaan ini bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi negara lain yang mempunyai
kepentingan tertentu.

2. Meningkatkan rasa persaudaraan

Sikap toleransi dapat menimbulkan rasa sayang dan meningkatakan rasa persaudaraan antara
umat beragama. kondisi ini dapat membuat terhindar adanya kesalahpahaman dan pertikaian
yang tidak perlu .

3. Meningkatkan kekuatan dalam iman

Perbedaan agama dan tradisi dapat membuat sikap toleransi semakin kuat. tradisi yang
berbeda dapat membuat orang lain ingin mengetahui dan mempelajari tradisi daerah lain. hal
ini dapat menumbuhkan rasa bangga seseorang terhadap negara yang memiliki keaneka
ragaman agama, tradisi dan budaya yang tidak dimiliki bangsa lain. Menghormati agama
orang lain dan menghargai perbedaan tradisi dapat meningkatkan kekuatan dalam iman dan
lebih menyadari bahwa rasa persaudaraan sangat dibutuhkan dalam pergaulan.

4. Meningkatkan rasa nasionalisme

Jika sikap toleransi yang positif diterapkan dalam kehidupan sehari hari oleh semua
masyarakat indonesia maka akan meningkatkan rasa nasionalisme terhadap bangsa dan
negara. karena bangsa yang maju adalah bangsa yang bisa menerima perbedaan satu orang
dengan orang yang lainnya tanpa harus merasa paling benar dan akan mengurangi penyebab
terjadinya tindakan penyalahgunaan kewenangan .

5. Dapat mencapai kata mufakat

5
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang demokrasi dan mengutamakan musyawarah
untuk pencapaian kata mufakat tanpa ada pertikaian, permusuhan, pertemngkaran dan
kesalahpahaman. didalam bermusyawarah sangat penting dibudidayakan sikap toleransi
antara sesama manusia yang memiliki perbedaan agama, suku, tradisi atau budaya daerahnya.

6. Meruntuhkan rasa paling benar pada diri sendiri


Tidak ada satu manusiapun yang akan luput dari yanag namanya kesalahan ataupun
kekurangan. sikap toleransi akan menghindari seseorang untuk bersikap egois dan merasa diri
paling benar. sikap toleransi dapat membuat manusia lebih cerdas dalam berfikir positif.
Sikap seperti ini adalah yang paling banyak disukai masyarakat dan tak heran jika seseorang
yang memiliki sikap toleransi yang kuat akan menjadi seorang pemimpin yang adil.

7. Dapat mempersatukan perbedaan

Masih banyak manusia yang menganggap apa yang dianutnya atau apa yang telah menjadi
sejarah nenek moyangnya adalah yang paling baik dan paling benar, padahal pada
kenyataannya tuhan menciptakan manusia penuh dengan perbedaan dan penuh dengan
kekurangan. Semua itu semata mata agar manusia satu dengan yang lainnya dapat saling
menghormati dan menghargai. sikap toleransi dapat mempersatukan perbedaan menjadi
sebuah kekuatan bagi pertahanan negara.

8. Mempermudah pembangunan negara menjadi lebih maju

Sikap toleransi dapat mempermudah pembangunan negara menjadi lebih baik dan selalu
selangkah lebih maju. Negara manapun tidak akan menjadi maju dan besar jika sikap
toleransi tidak membudaya . karena sikap toleransi dapat memperkuat rasa persatuan dan
kesatuan didalam perbedaan yang akhirnya dapat membuat sebuah negara tidak mudah
dirongrong dan diancam oleh bangsa lain.

Pentingnya Sikap Toleransi

Peperangan dan pertikaian yang terjadi bukan hanya karena konflik perebutan tanah sengketa
atau wilayah tertentu, namun lebih kepada sikap toleransi yang mulai berkurang dan tidak ada
lagi didalam iman mereka. Sebuah negara yang mengutamakan hidup saling bertoleransi
maka perdamaian akan selalu menjadi tujuannya. Perdamaian dunia terlahir karena
didalmnya terdapat nilai nilai toleransi yang tinggi dan ajaran ajaran norma yang baik yang
mementingkan persatuan didalam perbedaan. karena adanya perbedaan yang diabaikan tetapi
lebih mengutamakan rasa saling persaudaraan dan merasa sebagai makhluk yang tidak
sempurna maka perasaan perasaan tersebut menjadi sebuah senjata lebih berbahaya daripada
nuklir, maka kekuatan sebuah perdamaian tidak akan mudah hancur.

Sikap toleransi entah itu toleransi beragama, toleransi didalam bersosialisasi atau toleransi
didalam bermusyawarah dapat meningkatkan rasa aman, tentram dan aman dalam
kehidupan bermasyarakat sehingga masyarakat dapat mengembangkan sumber daya alam dan
sumber daya manusianya dengan lebih tenang dan semangat, kondisi ini dapat mempermudah
6
pembangunan diberbagai aspek kehidupan yang nantinya dapat dinikmati oleh seluruh warga
negara Indonesia.

Bagian sikap toleransi

1. Sikap toleransi yang dibutuhkan karena perbedaan agama


2. Karena perbedaan tradisi dan budaya
3. Karena perbedaan status sosialnya (kaya dan miskin)
4. Karena perbedaan status pendidikan
5. Karena perbedaan suku atau etnis
6. Karena perbedaan pendapat dan prinsip
7. Karena perbedaan dalam berfikir
8. Karena perbedaan pekerjaan
9. Karena perbedaan usia dan pengalaman
10. Karena perbedaan fisik (antara yang cacat dan yang normal)

Sikap toleransi yang harus diajarkan pada anak usia dini

1. Mengajarkan berbagi dengan orang lain


2. Mengajarkan tidak menghina orang lain
3. Mengajarkan mau mengakui kesalahan
4. Tidak menertawakan cara bicara teman
5. Tidak menertawakan cara berpakaian teman
6. Tidak membicarkan perbedaan agama teman
7. Tidak bicar tentang keburukan teman
8. Mengajarkan untuk memberi maaf pada teman yang telah memohon maaf
9. Mengajarkan untuk tidak mencela hasil karya orang lain
10. Mengajarkan tidak mengambil barang orang lain tanpa ijin terlebih dahulu

Perubahan jaman dan peradaban manusia yang semakin berubah maka akan mengakibatkan
hidup semakin penuh dengan persaingan yang bukan tidak mungkin akan menurunkan sikap
toleransi antara satu manusia dengan manusia lain.

Sikap toleransi akan semakin dibutuhkan dalam porsi yang lebih besar dan lebih besar lagi
ketika perubahan jaman terjadi karena menghadapi peradaban dunia yang baru. generasi
dimasa depan akan mengalami perubahan perilaku yang tidak terjadi pada masa sebelumnya,
semuanya dikarenakan adanya tumbuh kembangnya budaya baru yang lahir dari perilaku
manusia itu sendiri, maka sikap toleransi tetap sangat dibutuhkan agar tidak menimbulkan
pertikaian dan kesalahapahaman. ketika jaman semakin berubah maju maka hidup akan
semakin penuh dengan persaingan, penuh dengan sikap yang egois dan merasa paling beanar
yang biasaanya sikap toleransi antara sesama manusia semakin berkurang.

7
Waktu sikap toleransi yang harus dimiliki individu

Sikap toleransi paling mudah diterapkan, diperkenalkan dan diajarkan adalah ketika
usia masih kanak kanak atau usia dini karena pentingnya pendidikan anak usia dini.
Tentang Manfaat Sikap toleransi semakin cepat anak anak mengetahuinya maka akan
bermafaat dimasa depannya. Sikap toleransi akan terpupuk dan terbentuk pada usia
dini lalu lambat laun berkembang dan mendarah daging dalam perilaku sehari hari,
sehingga dapat digunakan dalam kehidupan bersosialisasi ditengah tengah
kemajemukan manusia dimasa yang akan datang.
Sikap toleransi dapat didapat dari berbagai lembaga pendidikan yang mengajarkan
tentang pentingnya sikap toleransi dalam beragama yang biasanya ada pada pelajaran
Agama dan dapat dipelajari oleh jenjang pendidikan apa saja dari buku buku yang
mengembangkan serta memberi informasi yang valid tentang manfaat dari sikap
bertoleransi.
Sikap toleransi harus diterapkan pada awalnya didalam keluarga, kemudian
lingkungan sekolah kemudian lingkungan masyarakat. Untuk memahami tentang
sikap toleransi yangb baik mudah didapat dari pengalaman orang orang yang
memiliki wawasan luas tentang budi pekerti misalnya para ulama, guru agama, guru
spiritual dan lain lain yang hidupnya berhubungan dengan ajaran yang mengarah pada
kebaikan dan kebenaran.

Sikap toleransi sangat penting diterapkan pertama kali dalam lingkungan keluarga , karena
kebiasaan yang telah dilakukan sesuai aturan yang dibuat oleh orangtuanya dirumah akan
terbawa keluar rumah, terutama dilingkungan sekolahnya. Jika sejak dari rumah anak anak
sudah diajarkan untuk bersikap santun, menghormati agama yang berbeda dan mau
menghargai pendapat berbeda dari orang lain atau tidak melihat perbedaan atas tradisi dan
etnis seseorang ketika ingin bersosialisasi, maka sikap sikap tersebut tanpa disadarinya akan
diterapkan dalam kehidupannya ditengah masyarakat secara permanen.

D. Toleransi Antar Kebudayaan dalam Masyarakat Multikultural

Belajar dari pengalaman yang pernah dihadapi bangsa kita, usaha untuk membentuk
masyarakat multikultural menjadi sangat penting.

Secara sederhana, masyarakat multikultural dapat dimengerti sebagai masyarakat


yang terdiri atas beragam kelompok sosial dengan sistem norma dan kebudayaan yang
berbeda-beda. Masyarakat multikultural merupakan bentuk dari masyarakat modern yang
terdiri atas berbagai golongan, suku, etnis (suku bangsa), ras, agama, dan budaya. Mereka
hidup bersama dalam wilayah lokal maupun nasional. Bahkan, mereka juga berhubungan
dengan masyarakat internasional, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Multikulturalisme tidak hanya bermakna keanekaragaman (kemajemukan), tetapi juga


kesederajatan antarperbedaan. Maksudnya, dalam multikulturalisme terkandung pengertian
bahwa tidak ada sistem norma dan budaya yang lebih tinggi daripada budaya lain. Semua
perbedaan adalah sederajat. Kesederajatan dalam perbedaan merupakan jantung dari
8
multikulturalisme. Dengan demikian, secara konsep masyarakat multikultural tidak sama
dengan masyarakat majemuk. Masyarakat majemuk lebih menitikberatkan pada
keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya. Sementara itu, masyarakat multikultural
merujuk pada kesetaraan atau kesederajatan kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat.

Di dalam masyarakat multikultural, perbedaan kelompok sosial, kebudayaan, dan


suku bangsa dijunjung tinggi. Namun, hal itu tidak berarti bahwa ada kesenjangan atau
perbedaan hak dan kewajiban di antara kelompok sosial, kebudayaan, dan suku bangsa yang
berbeda itu. Masyarakat multikultural tidak mengenal perbedaan hak dan kewajiban antara
kelompok minoritas dan kelompok mayoritas, baik secara hukum maupun sosial.

Multikulturalisme menuntut masyarakat untuk hidup penuh toleransi, saling


pengertian antarbudaya dan antarbangsa dalam membina suatu dunia baru. Dengan demikian,
multikulturalisme dapat menyumbangkan rasa cinta terhadap sesama dan sebagai alat untuk
membina dunia yang aman dan sejahtera. Dalam multikulturalisme, bangsa-bangsa duduk
bersama, saling menghargai, saling membantu, dan tidak memandang apakah suatu kelompok
masyarakat merupakan kelompok mayoritas ataupun kelompok minoritas, sehingga tidak
terjadi dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Pemahaman manusia dalam memahami
multikulturalisme akan memberi peran dan sumbangan yang besar terhadap pembangunan
dunia yang lebih baik. Suatu masyarakat modern tidak hanya memikirkan generasinya, tetapi
juga mampu mewariskan kehidupan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang.

Ketika seseorang atau suatu kelompok lebih mementingkan egonya dan tidak bersedia
memahami perasaan dan kepentingan pihak lain, terjadinya konflik. Bagaimanapun konflik
adalah bunga kehidupan, tanpa konflik, hidup menjadi hambar dan tidak berwarna.
Masalahnya adalah bagaimana agar konflik itu mulai mengancam integrasi sosial atau
bangsa. Ini membutuhkan kemampuan untuk menahan diri. Dan kemampuan manahan diri
itu mencerminkan rendah tingginya peradaban. Makin tinggi peradaban suatu masyarakat
atau bansga, makin mampu mereka menahan diri dan sebaliknya. Dilihat dari segi
kemampuan menahan diri ini dengan bangga kita bisa menyalakan diri sebagai bangsa yang
berperadaban cukup tinggi karena selama ini kita selalu berhasil keluar dari kemelut konflik,
baik konflik politik maupun konflik sosial. Memang dalam setiap konflik itu selalu ada
korban jiwa namun keutuhan bangsa kita masih tetap terjaga. Pengalaman berkonflik
biasanya akan memeberikan hikmah bagaimana caranya untuk menahan diri.

Kemampuan menahan diri bisa dibantu dengan sikap toleran tadi. Makin terbuka sikap
individu terhadap pendapat yang berbeda, makin tinggi toleransi. Itulah sebabnya perbedaan
pendapat jangan diredam atau dilarang secara berlebihan. Biarkan saja masyarakat saling
mengungkapkan aspirasinya secara bebas. yang penting mereka diberitahu, melalui aturan
hukum dan nilai-nilai sosial-politik yang diajarkan, sampai dimana batas kebebasan
menyatakan pendapat itu. Yang melanggar batas itu harus diberi sanksi yang tegas dan jelas
agar masyarakat mengetahui bahwa perbuatan itu dilarang. Dengan demikian kita bsia
mengajarkan sikap toleran dan sikap menahan diri itu. Kita sendiri punya banyak contoh
mengenai keberhasilan bangsa kita menahan diri dan menunjukkan toleransi yang tinggi demi
keutuhan bangsa. Kita memiliki masyarakat yang mampu saling menghargai kebudayaan,

9
agama, kepercayaan, dan adat istiadat masing-masing dan hidup harmonis tanpa saling
mengganggu. Hal ini harus dijaga terus sebab kelangsungan hidup Indonesia sangat
bergantung pada ada tidaknya toleransi tersebut. Berikut ini adalah solusi agar sikap toleransi
senantiasa dapat terbentuk, yakni:

1. Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap nilai-nilai dan norma sosial yang
berbeda dari anggota-anggota masyarakat yang kita temui, tidak mementingkan
kelompok, ras, etnik, atau kelompok agamanya sendiri dalam menjalankan tugas-
tugasnya.
2. Meninggalkan sikap primodialisme, terutama sikap yang menjurus pada sikap
etnosentrisme dan sikap yang berlebih-lebihan.
3. Menegakkan peraturan perundang-undangan kepada semua warga negara tanpa
memandang kedudukan sosial, ras, etnik, dan agama yang mereka anut.
4. Mengembangkan rasa nasionalisme terutama melalui penghayatan wawasan berbangsa
dan bernegara.
5. Menyelesaikan semua konflik dengan cara akomodatif, melalui mediasi, kompromi dan
adjukasi.
6. Mengembangkan kesadaran sosial dan menyadari peranan bagi setiap individu terutama
para pemegang kekuasaan dan penyelenggaraan negara secara formal.

Dengan melaksanakan solusi seperti itu, akan tercipta suatu masyarakat yang
harmonis dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam hal ini, sosialisasi masyarakat
multikultural begitu strategis dan dibutuhkan dalam rangka mewujudkan masyarakat
Indonesia yang ideal dan lestari.

Untuk mewujudkan maysarakat multikultural yang hidup dalam suasana harmonis,


diperlukan beberapa cara untuk memecahkan masalah yang sering timbul sebagai akibat
perbedaan budaya. Bales mengemukakan tiga tahap pemecahan masalah, yaitu sebagai
berikut :

1. Tahap orientasi. Dalam tahap ini, anggota kelompok saling bertanya dan saling
memberi informasi sehingga terhindar dari pemahaman atau pengertian yang keliru
antar pihak yang berkepentingan.
2. Tahap evaluasi. Dalam tahap ini, tiap anggota kelompok membahas informasi dan
saling bertukar pendapat. Dari tahap ini, keterbukaan antar kelompok atau golongan
terjadi sehungga muncul berbagai alternatif baru dalam menyelesaikan masalah.

3. Tahap kontrol. Dalam tahap ini, tiap anggota kelompok menyarankan untuk
mencari jalan keluar untuk mencapai suatu kesimpulan akhir.

Pengaruh yang paling dominan dalam terbentuknya maysarakat multikultural adalah sikap
mental masyarakat itu sendiri. Sikap masyarakat yang cenderung primordial dan cenderung
tidak adil akan menjadi faktor penghambat terciptanya masyarakkat multikultural. Kondisi itu
dapat diminimalisasi atau bahkan dihilangkan apabila manfaat dari terciptanya masyarakat
multikultural disadari oleh semua pihak. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari
masyarakat multikultural adalah sebagai berikut :

10
a. Melalui hubungan yang harmonis antar masyarakat, dapat digali kearifan budaya yang
dimiliki oleh setiap budaya.
b. Memunculkan rasa penghargaan terhadap budaya lain sehingga muncul sikap
toleransi yang merupakan syarat utama dalam masyarakat multikultural.
c. Menjadi benteng pertahanan terhadap ancaman yang timbul dari budaya kapital yang
cenderung melumpuhkan budaya yang beraga. Paham kapitalisme cenderung bersifat
diskriminatif dan mengabaikan eksistensi budaya setempat.
d. Menjadi alat untuk membina dunia yang aman dan sejahtera. Dengan
multikulturalisme, bangsa-bangsa duduk bersama, saling menghargai, dan saling
membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Masalah yang dihadapi
oleh suatu masyarakat secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh pada
masyarakat lain pula.
e. Mengajarkan suatu pandangan bahwa kebenaran itu tidak dimonopoli oleh satu orang
atau kelompok saja, tetapi ada dimana-mana, tergantung dari sudut pandang setiap
orang. Masyarakat multikultural menganggap bahwa dengan saling mengenal dan
saling menghargai budaya orang lain, dapat tercipta kehidupan yang penuh toleransi,
sehingga tercipta masyarakat yang aman dan sejahtera.

Dari manfaat-manfaat diatas, sudah selayaknya kita menerima masyarakat multikultural tidak
hanya sebagai realita sosial budaya saja, tetapi harus menjadi sebuah kewajiban agar
keintegritasan bangsa selalu terjaga.

11
BAB III

KESIMPULAN

Indonesia memiliki bermacam macam ajaran agama yang memiliki cara tersendiri
untuk dapat berkembang dalam kehidupan. Untuk itu asas Bhinneka Tunggal Ika dapat
dijadikan pedoman untuk membina persatuan dan kesatuan yang ditimbulkan oleh rasa
toleransi. Meskipun setiap ajaran agama memiliki sudut pandang masing masing , namun
setiap agama pasti mengajarkan setiap umat pemeluknya untuk memiliki rasa toleransi untuk
menuju kerukunan bangsa. Adanya sikap saling terbuka dan saling membantu antar umat
agama yang satu dengan yang lainnya juga dapat mengawali pertumbuhan sifat toleransi
dalam hati manusia.

SARAN

Adanya kesadaran untuk dapat memiliki rasa toleransi antara umat beragama dapat
mulai ditumbuhkan sejak manusia itu bertumbuh dalam lingkungannya. Keluarga adalah
pemula dari pengembangan sikap toleransi dalam diri anak. Seorang anak akan memiliki sifat
toleransi apabila ia telah dibiasakan dalam kehidupan di keluarganya untuk dapat saling
mengerti dan menghormati cara dari masing masing ajaran agama untuk dapat
menjalankan. Jika kesadaran tersebut telah muncul dalam diri individu, maka rasanya tidak
sulit lagi untuk menghormai sesamanya.

Lembaga pendidikan formal juga seharusnya ikut dalam berpartisipasi dalam


pembentukan karakter diri bangsa dalam menyikapi toleransi, misalnya mulai bisa
memberikan kebebasan bagi siswa siswinya untuk menjalankan kegiatan keagamaannya,
meskipun lembaga tersebut merupakan lembaga yang menganut prinsip salah satu ajaran
agama. Selain itu, dibutuhkan campur tangan pemerintah dalam meningkatkan rasa peka
terhadap sesamanya. Hal ini dapat diwujudkan antara lain dengan cara mengadakan
komunikasi antara umat beragama agar masyarakat dapat mengkomunikasikan dengan baik
masalah masalah dalam agama yang memungkinkan terjadinya konflik agama.

12
DAFTAR PUSTAKA

Moqsith, A., 2009, Merayakan Kebebasan Beragama , ICRP, Jakarta, pp. 387-388.
Schumann, O., 2006, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan, PT BPK
Gunung Mulia, Jakarta, pp.59.

Wibowo, S., 2009, Manusia, Teka Teki Yang Mencari Solusi, Kanisius, Yogyakarta,
pp.138.

https://www.kompasiana.com/fransiskuspratama/pentingnya-toleransi-di-
indonesia_58cc8a497eafbd3854475979

13

Anda mungkin juga menyukai