Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

PENGKAJIAN BUDAYA

Oleh :
Kelompok 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2016
ANGGOTA KELOMPOK 2

NO NAMA NIM
1 Shella Octaviani 11151040000012
2 Noviyanti 11151040000013
3 Nita Rahmawati 11151040000014
4 Dwi Murtiningsih 11151040000015
4 Nilna Camelia 11151040000016
6 Aanisa Zahran 11151040000017
7 Ika Maratus Sholihah 11151040000018
8 Nurul Istiqomah 11151040000019
9 Fiani Dwi Anggita 11151040000020
10 Rima Fetiani 11151040000021
11 Siska Ardya Cahyani 11151040000022
12 Sri Nur Aeni 11151040000112
KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu tercurah kehadirat Ilahi Robbi Khaliqul Alam, yang telah melimpahkan
rahmat, taufiq, hidayah serta inayahnya sehingga Makalah Pengkajian Budaya dapat
terselesaikan guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Fundamental of Nursing 4

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Agung Muhammad SAW, insan
termulia, yang senantiasa kita nantikan syafaatnya baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Terima kasih kami ucapkan kepada segenap pihak yang telah berpartisipasi dalam proses
penyelesaian makalah ini. Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam makalah
ini oleh karena itu penyusun menerima kritik, saran, dan masukan guna menyempurnakan
makalah ini.

Akhirnya harapan dari kami semoga makalah ini dapat memberi banyak manfaat baik
bagi penyusun maupun pembaca.

Jakarta, September 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................2


2.1 Pengkajian Budaya........................................................................................................................ 2
2.1.1 Pengertian Budaya ................................................................................................................ 3
2.1.2 Pengertian Spiritual ............................................................................................................... 3
2.1.3 Pengertian kekerasan............................................................................................................. 3
2.1.4 Pengertian Psikososial........................................................................................................... 4
2.1.5 Cara Pengkajian Budaya ....................................................................................................... 4
2.1.6 Cara Pengkajian Spiritual...................................................................................................... 5
2.1.7 Pengkajian kekerasan ............................................................................................................ 7
2.1.8 Cara Pengkajian Psikososial ................................................................................................. 7
2.1.9 Diet yang di Syaratkan .......................................................................................................... 8
2.1.10 Pola Nutrisi yang Dilakukan ............................................................................................... 11
2.1.11 Perbedaan Budaya ............................................................................................................... 13
2.1.12 Pengkajian Nutrisi ............................................................................................................... 14
2.1.13 Penilaian Umum dan Tandatanda Vital ................................................................... 18

BAB III PENUTUP ................................................................................................28


Kesimpulan ............................................................................................................................................. 28

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................29

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penyususun merumuskan masalah
sebagai berikut :

1. Apa pengertian dari budaya, spiritual, kekerasan, dan psikososial ?

2. Apa yang dimaksud dengan pengkajian budaya, spiritual, kekerasan, dan psikososial ?

3. Apa yang dimaksud dengan nutrisi ?

4. Bagaimana cara melakukan penilaian umum dan tandatanda vital ?

1.3 Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun memiliki beberapa tujuan, yaitu :

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengkajian Budaya


Dunia yang luas terdiri dari berbagai negara tentu saja memiliki beraneka ragam
corak budaya. Indonesia termasuk di dalamnya yang memberikan corak budya tersendiri.
Faktor geografis merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia memiliki beranekaragam
budaya. Luas Indonesia yang sebagian besar adalah luas lautan menjadikan wilayah
Indonesia secara topografi terpisah menjadikan ciri khas atau perbedaan budaya dari masing-
masing daerah. Budaya antar wilayah Indonesia berbeda melainkan tetap dalam satuan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beragam budaya yang dimiliki adalah
tantangan tersendiri untuk bangsa Indonesia. Tetap utuh terjaga dan menghargai perbedaan di
era globalisasi. Globalisasi membawa dampak tersendiri bagi kebudayaan Indonesia.
Kemajuan IPTEK dan transportasi membuat seseorang ingin tahu mengenai kebudayaan di
negri sendiri dan negeri seberang. Kita dapat melihat dari arus pariwisata. Turis asing yang
begitu antusias mendatangi tempat pariwisata di Indonesia yang di dalamnya terdapat wisata
budaya. Kota yang mewakili seperti Bali dan Yogyakarta. Tidak tanggung- tanggung ada
yang tinggal dalam beberapa waktu yang lama agar mereka mampu mempelajari kebudayaan
wilayah setempat. Hal ini akan menjadi ironis mengingat bangsa Indonesia yang justru
enggan mempelajari bahkan mempertahankan kebudayaannya sendiri dan telah
terjadi westernisasi. Saat ini yang menjadi pertanyaan mampukah bangsa Indonesia menjaga
kekayaan budaya yang ada?
Pentingnya mempelajari budaya yang ada dalam rangka melestarikan dan memahami
kebudayaan Indonesia agar tetap terjaga, dari Sabang sampai Merauke. Sosialisasi tentang
budaya sampai tahap internalisasi seharusnya diikuti dengan adanya kajian budaya.
Kajian budaya merupakan suatu konsep budaya yang dapat dipahami seiring dengan
perubahan perilaku dan struktur masyarakat. Berbicara tentang cultural studies atau yang kita
kenal sebagai studi kajian budaya, di wilayah barat perhatian kita tidak dapat dilepaskan dari
dasar suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi
serta kebudayaan mereka dan untuk wilayah timur kajian budaya digunakan untuk untuk

2
meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi.
Kajian budaya tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya
mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara
lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada.

2.1.1 Pengertian Budaya


Pengertian secara umum kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta
buddhayah,yaitu bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Dengan demikian
kebudayaan berarti hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Ki Hajar Dewantara
berpendapat bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia yang merupakan hasil
perjuangan manusia terhadapdua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan
masyarakat). Sedangakan A. L. Kroeber dan C.Kluckhon. A. L. dalam bukunya Culture,
A Critcal Review of Concepts and devinitions (1952) mengatakan bahwa kebudayaan
adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas luasnya.
(Noorkasiani,2009)

2.1.2 Pengertian Spiritual


Berasal dari bahasa latin spiritus, yang berrti bernafas atau angin. Ini berarti
segala sesuatu yang menjadi pusat semua aspek dari kehidupan seseorang (McEwan,
2005). Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan
Maha Pencipta (Achir Yani, 2000). Spiritual merupakan kompleks yang unik pada tiap
individu dan tergantung pada budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan
dan ide-ide tentang kehidupan seseorang (Mauk dan Schmidt, 2004 cit Potter Perry,
2009).

2.1.3 Pengertian kekerasan


Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan / kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman. Perilaku
kekerasan adalah suatu kondisi maladaktif seseorang dalam berespon terhadap marah.
Tindakan kekerasan / perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu
melakukan atau menyerang orang lain / lingkungan. Tindak kekerasan merupakan suatu
agresi fisik dari seorang terhadap lainnya (Stuart dan Sundeen, (1995); Townsend,
(1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)). Dari beberapa pengertian diatas,

3
penulis dapat menarik kesimpulan bahwa perilaku kekerasan atau tindak kekerasan
merupakan ungkapan perasaan marah dan bermusuhan yang mengakibatkan hilangnya
kontrol diri dimana individu bisa berperilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan
yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

2.1.4 Pengertian Psikososial


Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan sitem terbuka
serta salng bernteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan
hidupnya. keseimbangan yang dipertahankan individu untuk dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat.sedangkan seseorang dikatakan
sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan
lingkungannya.sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasan dalamkehidupan,
mereka harus membina hubungan interpersonal positif.

2.1.5 Cara Pengkajian Budaya


Sebagai perawat professional, melakukan semua pengkajian dengan kompetensi
budaya adalah hal yang penting. Hal ini melibatkan pemahaman tentang budaya klien
sehingga dapat memberikan perawatan yang lebih baik dalam system nilai yang berbeda,
dan bertindak dengan penghormatan dan pemahaman tanpa menghalangi perilaku dan
kepercayaan anda sendiri (Seidel et al., 2003).

Pengkajian tidak dapat dilakukan dengan lengkap dan akurat tanpa


mempertimbangkan latar belakang budaya klien. Jika terdapat perbedaan budaya antara
perawat dan lien, maka kenalilah dengan segera. Anda harus yakin bahwa anda telah
menangkap apa yang klien maksud, serta tau pasti apa yang klien pikirkan mengenai anda
dalam kata dan tindakan. Jika anda tidak yakin pada apa yang dikatakan klien,
bertanyalah untuk memperjelas hal tersebut. Hal ini dapat menghindarkan anda dari
kesimpulan diagnosis yang salah. Jangan membuat asusmsi mengenai nilai budaya dan
perilaku tanpa melakukan konfirmasi pada klien (Seidel et al., 2003).

Teknik komunikasi yang baik merupakan hal yang penting saat anda mengkaji
klien yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan anda. Jika dilihat dari
segi perasaan yang diungkapkan secara verbal maupun nonverbal, maka komunikasi dan
budaya saling berhubungan. Jika anda dapat mempelajari bagaimana orang dengan
budaya yang berbea saling berkomunikasi, anda akan dapat mengumpulkan informasi
yang lebih akurat dari klien. Sebagai contoh, bangsa spanyol dan perancis menggunakan
kontak mata saat berkomunikasi. Namun, hal ini merupakan sesuatu yang kasar dan tidak
sopan bagi budaya bangsa Asia dan Timur Tengah. Orang Amerika cenderung suka
menggerakkan bola matanya (Seidel et al., 2003).
4
Menggunakan pendekatan yang tepat mengenai kontak mata akan menunjukan
penghargaan kepada klien anda sehingga klien akan memberikan informasi lebih banyak.
Adalah hal yang mudah untuk mengeksplorasi perbedaan budaya jika anda menyisihkan
sedikit waktu untuk memikirkan dengan cermat jawaban klien dan memberikan
pertanyaan dengan nyaman.\ (Seidel et al., 2003)

Berikut ini adalah contoh (pada saat membicarakan penyakit klien) :

Apa yang menurut Anda salah pada diri Anda?


Orang-orang mengatakan pada saya bahwa ada beberapa penyakit yang
tidak diketahui oleh dokter dan perawat. Apakah Anda pernah dengar hal
ini sebelumnya? Penyakit apakah itu?
Apakah Anda mengenal seseorang yang mengalami penyakit itu?
Apakah Anda pernah menderita salah satu penyakit tersebut?
Apakah Anda pikir Anda mengalaminya saat ini?
Saat anda berinteraksi untuk mengkaji klien khusus, ketahuilah budaya anda
terlebih dahulu. Anda harus menghindari bentuk perepsi terhadap klien berdasarkan
pengetahuan anda mengenai budaya klien. Lebih baik ingat pengetahuan tersebut,
kemudian ajukan pertanyaan dengan cara yang membangun agar anda dapat mengenal
klien lebih baik.

2.1.6 Cara Pengkajian Spiritual


Ketika sakit, kehilangan, duka cita, atau perubahan hidup yang besar, individu
menggunakan sumber daya spiritual untuk membantu mereka beradaptasi atau
menimbulkan kebutuhan dan masalah spiritual. Tekanan Spiritual adalah Gangguan
kemampuan untuk mengalami dan mengintegrasikan arti dan tujuan hidup melalui
hubungan dengan diri sendiri, orang lain, kesenian, music, literature, alam dan/atau
kekuatan lebih tinggi dari diri sendiri (NANDA Internasional, 2007). Sebagai contoh,
suatu penyakit yang merupakan bencana, dapat mengganggu kesejahteraan spiritual
seseorang sepenuhnya sehingga menyebabkan keraguan dan kehilangan kepercayaan.
Tekanan spiritual sering menyebabkan seseorang merasa sendiri atau bahkan merasa
diabaikan. Individu sering menanyakan nilai-nilai spiritual mereka, menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan tentang jalan hidup mereka, tujuan kehidupan, dan sumber
pemahaman. Tekanan spiritual juga timbul saat ada konflik antara kepercayaan seseorang
dan regimen kesehatan yang diresepkan atau ketidakmampuan auntuk mempraktikan
ritual seperti biasanya.

Karena spiritualitas bersifat subjektif, ini berarti spiritualitas berbeda untuk


individu yang berbeda pula (McSherry dan Ross, 2002). Kemampuan untuk mendapatkan
gambaran tentang spiritualitas klien bersifat terbatas ketika perawat memiliki
keterbatasan kontak atau gagal untuk membangun hubungan atau dasar kepercayaan
dengan klien mereka. Sekali perawat berhasil membangun hubungan kepercayaan dengan
5
seseorang klien dan mereka mencapai inti dari pembelajaran bersama, maka perawatan
spiritual dapat terjadi (Taylor, 2003).

Focus pengkajian keperawatan pada aspek spiritualitas adalah bahwa pengalaman


dan kejadian-kejadian kehidupan akan sangat mempengaruhi. Lakukan pengkajian yang
bersifat terapeutik, karena hal tersebut menunjukan suatu bentuk pelayanan dan
dukungan.

Bentuk alat pengkajian spiritual berguna untuk membantu perawat menjelaskan


nilai-nilai dan mengkaji spiritualitas klien (Elkins dan Cavendish, 2004). Alat pengkajian
B-E-L-I-E-F membantu perawat mengevaluasi klien anak, serta kebutuhan spiritualdan
keagamaan keluarga (McEvoy, 2003). Akronim memiliki arti sebagi berikut :

B Belief System (sistem kepercayan)

E Ethics or values (etika atau nilai-nilai)

L - Lifestyle (gaya hidup)

I Involvement in a spiritual community (keterlibatan dalam komunikasi spiritual)

E Education (pendidikan)

F Future events (kejadian-kejadian yang akan dating)

Skala Spiritual Well-Being (SWB) memiliki 20 hal yang mengkaji pandangan


individu tentang kehidupan dan hubungan dengan kekuatan tertinggi (Gray, 2006). The
Spiritual Perspective Scale (SPS) berisi 10 poin alat yang dikembangkan oleh seseorang
perawat. Ini mengukur hubungan dengan kekuatan tertinggi, orang lain dan diri sendiri
(Gray, 2006). Skala kesejahteraan spiritual JAREL juga memberikan perawat dan profesi
pelayanan kesehatan lainnya alat sederhana untuk mengkaji kesejahteraan spiritual klien
(Hungelmann et al., 1996). Poin dalam alat dibuat dalam tiga kunci dimensi, yaitu
:kepercayaan/keyakinan, kehidupan/tanggungjawab diri, kepuasan hidup/aktualisasi diri.

Alat pengkajian spiritual yang efektif seperti B-E-L-I-E-F dan skala SWB mudah
digunakan dan membantu perawat mengingat area yang penting untuk dikaji. Respon
terhadap alat pengkajaina biasanya akan menunjukan area yang memerlukan investigasi
segera. Sebagai contoh, setelah menggunakn alat pengkajian, seseorang menemukan
bahwa seorang klien memiliki kesulitan untuk menerima perubahan, peawat akan
memerlukan waktu untuk memahai bagaimana klien menerima dan megatasi penyakit
baru. Ketika perawat memahami keseluruhan pendekatan terhadap pengkajian spiritual,
mereka dapat masuk ked alma diskusi yang mendalam dengan klien mereka,
mendapatkan kesadaran terbesar tentang sumber daya personal klien membawa pada

6
suatu kondisi, dan menggabungkan sumber daya ke dalam rencana perawatan ynag
efektif.

2.1.7 Pengkajian kekerasan


Menurut Fitria ( 2009 ) data yang perlu dikaji pada pasien dengan perilaku
kekerasan yaitu pada data subyektif klien mengancam, mengumpat dengan kata-kata
kotor, mengatakan dendam dan jengkel. Klien juga menyalahkan dan menuntut.
Sedangkan pada data obyektif klien menunjukkan tanda-tanda mata 13 melotot dan
pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, postur
tubuh kaku dan suara keras.

2.1.8 Cara Pengkajian Psikososial


Cara Melakukan Wawancara Pengkajian psikososial harus dilakukan di
lingkungan yang nyaman, tersendiri, dan aman baik bagi klien maupun perawat.
Lingkungan yang cukup tenang dan tidak banyak distraksi memungkinkan klien memberi
perhatiannya secara penuh dalam wawancara. Dengan melakukan wawancara ditempat
seperti ruang konferensi, meyakinkan klien bahwa tidak seorang pun akan menguping
apa yang di diskusikan. Akan tetapi, perawat tidak boleh memilih lokasi yang terisolisasi
untuk wawancara, terutama jika perawat tidak mengenal klien atau jika ada perilaku yang
mengancam. Keamanan klien dan perawat harus dipastikan walaupun hal itu berart ada
orang lain selama pengkajian. Perawat selama pengkajian dapat menggunakan pertanyaan
terbuka. Hal ini memungkinkan klien mulai menjawab saat ia merasa nyaman. Contoh
pertanyaan terbuka :
1. Apa yang membuat anda datang kesini hari ini?
2. Jelaskan kepada saya apa yang telah terjadi kepada anda?
Apabila klien tidak dapat mengorganisasi pikirannya atau mengalami kesulitan saat
menjawab. Perawat perlu menggunakan lebih banyak pertanyaan langsung untuk
memperoleh informasi. Pertanyaan harus jelas, sederhana, dan terfokus pada satu
perilaku atau gejala tertentu. Pertanyaan tersebut tidak boleh membuat klien mengingat
dalam satu waktu. Berikut contoh pertanyaan terfokus :
1. Berapa lama anda tidur semalam?
2. Pernahkah anda berpikir untuk bunuh diri?
3. Seberapa nyenyak tidur anda?
Perawat harus menggunakan nada suara dan bahasa yang tidak menghakimi,
terutama ketika menanyakan informasi yang sensitif, misalnya penggunaan obat atau
alkohol, perilaku seksual, penganiayaan atau kekerasan, dan praktik mengasuh anak.
Penggunaan bahasa yang tidak menghakimi dan nada suara tanpa emosi mencegah klien
menerima isyarat verbal untuk bersikap bertahan atau tidak mengatakan kebenaran.
Hal yang perlu dikaji ialah:

7
a. Apakah mengenal masalah utamanya
b. Bagaimana sikapnya terhadap proses penyakit yang dialami
c. Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak
d. Apakah memandang kehidupan dengan optimis
e. Bagai mana mengatasi stres yang di alami
f. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri
g. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan
h. Apakah harapan pada saat ini dan akan datang
i. Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif, daya ingat, proses fikir, alam perasaan,
orientasi dan kemampuan dalam penyelesaian masalah
Petunjuk yang Bermanfaat Ketika Melakukan Pengkajian Psikososial
1. Pengkajian berupaya memperoleh semua informasi yang dibutuhkan untuk membantu
klien.penilaian bukan merupakan bagian dari proses pengkajian
2. Bersikap terbuka, jelas, dan langsung ketika bertanya tentang topik pribadi atau topik
yang tidak nyaman akan membantu mengurangi ansietas atau keraguan klien dalam
mendiskusikan topik tersebut.
3. Mengkaji keyakinan diri dan memperoleh kesadaran diri merupakan pengalaman yang
menghasilkan perkembangan bagi perawat.
4. Apabila keyakinan perawat sangat berbeda dari keyakinan klien, perawatharus
mengungkapkan perasaannya kepada rekan sejawat atau mendiskusikan perbedaan
tersebut dengan mereka. Keyakinan perawat sendiri sedapat mungkin tidak mengganggu
hubungan perawat-klien dan proses pengkajian.

2.1.9 Diet yang di Syaratkan


1. Referensi Asupan Diet
Pada tahun 1997, Food and Nutrition Board of National Intitute of
Medicine/National Academy of Science, bekerja sama dengan Health Canada,
mengeluarkan refensi asupan diet (dietary reference intakes/DRI) menanggapi
meningkatnya penggunaan suplemen makanan di masyarakat. DRI memberikan
kriteria berdasarkan bukti tentang rentang jumlah vitamin dan zat gizi yang dapat
diterima untuk mencegah defisiensi atau toksisitas pada masing-masing jenis
kelamin dan kelompok usia (Institute of Medicine,2005). Terdapat empat
komponen DRI. Kebutuhan rata-rata yang diperkirakan (Ear average
requirement/EAR) adalah jumlah zat gizi yang direkomendasikan yang sesuai
untuk mempertahankan fungsi tubuh spesifik untuk 50% populasi berdasarkan
umur dan jenis kelamin. Kebijakan diet yang direkomendasikan (recommended
dietary allowance/RDA) adalah kebutuhan rata-rata 98% populasi, bukan
kebutuhan masing-masing individu. Asupan adekuat adalah asupan yang
disarankan untuk individu berdasarkan perkiraan asupan zat gizi yang ditentukan
secara observasi atau pengalaman dan digunakan saat tidak terdapat bukti untuk

8
menyusuk RDA. Tingkat asupan yang lebih yang dapat ditoleransi adalah tingkat
paling tinggi yang cenderung menyebabkan tidak adanya risiko kejadian
kesehatan yang buruk. Tingkat ini bukanlah tingkat asupan yang direkomendasi
(Intitute of Medicine,2002).
2. Petunjuk Makanan
Piramida makanan (U.S.Department of Agriculture Center for Nutrition Policy
and Promotion, 2005) adalah petunjuk membeli
makanan dan persiapan makanan. Sistem dasar
memberikan rentang diet dari 1600-2800
kkal/hari (U.S.Department of Agriculture,2005).
Makanan tambahan dipilih dari sereal kaya
nutrisi, karbohidrat kompleks, dan gandum
tambahan untuk melengkapi makanan dan
memenuhi kebutuhan energi.

Untuk keterangan tentang piramida makanan yang lebih lanjut, U.S. Department
of Agriculture (USDA) dan USDHHS telah mengeluarkan petunujuk diet untuk Amerika
Serikat 2005 dan memberikan petunjuk konsumsi rata-rata harian untuk lima kelompok
makanan: gandum, sayur-sayuran, buah-buahan, makanan ternak, dan daging. Anda harus
mempertimbangkan prefensi makanan berdasarkan kelompok ras dan etnik yang berbeda,
vegetarian, dan lainnya saat merencanakan diet.

Petunjuk Diet 2005 untuk Penduduk Amerika: Rekomendasi Utama untuk Penduduk
secara Umum

Adopsi pola makan yang seimbang disertai berbagai makanan padat zat gizi dan
minuman di antara kelompok makanan dasar
Pertahankan berat badan dalam rentan yang sehat
Dorong aktivitas fisik dan kurangi aktivitas yang menetap
Dukung konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, dan susu bebas lemak atau
rendah lemak selama berada dalam rentan energy yang dibutuhkan
Pertahankan asupan lemak total antara 20% dan 35% kalori total dengan sebagian besar
lemak berasal dari asam lemak jenuh ganda atau asam lemak jenuh tunggal
Pilih dan persiapkan makanan dan minuman dengan sedikit tambahan gula atau
pemanis
Pilih dan persiapkan makanan dengan sedikit garam sementara di saat yang sama
memakan makanan kaya kalium
Batasi asupan alkohol
Pastikan keamanan makanan untuk mencegah penyakit yang berasal dari makanan
yang mengandung mikroba

9
DAGING DAN
KACANG-
SAYUR-
BUAH-BUAHAN SUSU KACANGAN
BIJI-BIJIAN SAYURAN
Fokus pada buah- Konsumsi makanan Konsumsi
Makanlah biji-bijian Variasikan jenis
buahan yang tinggi kalsium makanan yang
sayuran
mengandung
protein
Makan sedikitnya 3 Makan lebih banyak Makan berbagai jenis Minum susu rendah Pilih daging dan
ons sereal biji-bijian, sayur-sayuran buah-buahan lemak atau bebas kacang-
roti, krakers, nasi, atau
berdaun gelap lemak saat anda kacangan yang
pasta setiap hari seperti brokoli, Pilih buah-buahan memilih susu, rendah lemak
bayam atau sayuran segar, buah-buahan yoghurt, dan atau daging
1ons, sekitar 1 lembar berdaun gelap yang dibekukan, dan produk susu lainnya lemak
roti, sekitar 1 mangkuk lainnya buah-buahan kering
sereal sarapan pagi, Jika anda tidak Dimasak,
atau mangkuk nasi Makan lebih banyak Minum jus buah dapat mengonsumsi dibakar, atau
yang dimasak, sereal, sayur-sayuran susu, pilih produk dipanggang
atau pasta orange seperti wortel bebas laktosa atau
dan kentang manis sumber kalsium Variasikan
lainnya seperti rutinitas protein
Makan lebih banyak makanan yang anda. Pilih lebih
kacang-kacangan diawetkan atau banyak ikan,
kering dan kacang minuman lainnya kacang-
polong seperti kacangan, biji-
kacang-kacangan bijian, dan padi-
pinto, kacang- padian
kacangan berbentuk
ginjal, dan lentil
Untuk diet 2000 kalori, anda perlu mengonsumsi masing-masing kelompok makanan dibawah ini. Untuk
menentukan jumlah yang tepat untuk anda
Minum 3 gelas
setiap hari: untuk
Makan 6 ons setiap Makan 2,5 gelas Makan 2 gelas setiap Minum 5 1/2 ons
anak-anak usia 2-
hari setiap hari hari setiap hari
8ons, minum 2
gelas
Temukan keseimbangan antara makanan dan aktivitas Mengetahui batas lemak, gula, dan garam (nutrisi).
fisik. Sumber lemak terutama berasal dari ikan,
Pastikan anda memenuhi kebutuhan kalori kacang-kacangan, dan minyak nabati
harian Batasi lemak padat seperti mentega, margarin,
Lakukan latihan fisik setidaknya 30 menit shortening (sejenis lemak), dan makanan lain
setiap hari dalam seminggu yang mengandung lemak tersebut diatas
Sekitar 60 menit latihan fisik harian Periksa label fakta nutrisi untuk menyimpan
dibutuhkan untuk mencegah peningkatan lemak jenuh. Lemak trans, dan rendah natrium
berat badan Pilih makanan dan minuman rendah gula
Untuk kehilangan berat badan yang tetap, tambahan. Tambahkan gula yang berkontribusi
setidakya dibutuhkan latihan fisik selama 60- pada lemak dengan beberapa zat gizi
90 menit
Anak-anak dan remaja seharusnya aktif secara
fisik selama 60 menit setiap hari, atau
sepanjang hari

10
3. Nilai Harian
The food and drug administration (FDA) membuat nilai harian pada label
makanan untuk merespons Nutrition Labeling and Education Act (NLEA). FDA
pertama kali memberikan dua set niali referensi. Asupan harian yang dianjurkan
(RDI) adalah set pertama, yang terdiri atas protein, vitamin, dan mineral
berdasarkan RDA. Nilai referensi harian (DRV) adalah set kedua dan terdiri atas
zat gizi seperti lemak total, lemak jenuh, kolesterol, karbohidrat, serat, natrium,
dan kalium. Kombinasi kedua set ini menyusun niali harian yang digunakan
dalam label makanan (USFDA,1999). Nilai harian tidak dapat menggantikan
RDA tetapi memberikan format yang terpisah dan lebih mudah dimengerti pada
masyarakat. Nilai harian didasarkan pada presentase diet yang terdiri atas 2000
kkal/hari.

2.1.10 Pola Nutrisi yang Dilakukan


Pengkajian
Pengkajian nutrisi penting khususnya bagi klien yang berisiko masalah nutrisi
yang berhubungan dengan stress, penyakit, hospitalisasi, kebiasan gaya hidup, dan faktor
faktor lain. Tujuan pengkajian Nutrisi :

1. Mengidentifikasi defisiensi dan kelebihan nutrisi


2. Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi pasien
3. Mengumpulkan informasi untuk membuat renpra
4. Menilai efektifitas asuhan keperawatan dan memodifikasi sesuai kondisi dan
kebutuhan.
Metode untuk pengkajian nutrisi adalah A,B, C, D

Pusat pengkajian nutrisi sekitar 4 area pokok yaitu :

1. Pengukuran fisik dan antropometrik

Pengukuran fisik meliputi tinggi badan dan berat badan klien, pengukuran
ini harus diperoleh ketika masuk rumah sakit atau pusat pelayanan apapun.
Antropometri adalah suatu system pemngukuran dan susunan tubuh dan
bagian khusus tubuh. Pengkajian nutrisi yang meliputi:
a. Sistem pengukuran dan susunan tubuh dan proporsi tubuh manusia
b. Mengevaluasi pertumbuhan, mengkaji status nutrisi, ketersediaan
energi tubuh

11
c. Identifikasi masalah nutrisi:
Tinggi badan ( jika tidak dapat diukur dengan posisi
berdiri, rentang lengan, atau jarak dari ujung jari ke ujung
jari dengan lengan diulurkan penuh pada tingkat bahu,
kurang lebih untuk ketinggian orang dewasa)
Berat badan
cara mengukur berat badan ideal :
(Tinggi Badan 100) *90%
Contoh : Misal A memiliki tinggi badan 173 cm, dengan
berat badan sekarang 70 Kg.
(173 100) = 73 * 90% = 65,7 kg
Maka berat badan ideal A adalah 65,7 kg
Body mass index (BMI)
BMI = Berat (kg) tinggi (m)2
Kemudian hasil dari BMI dicocokkan pada tabel klasifikasi
international dari underweight.
Lipatan trisep.
Ukuran kerangka = Tinggi badan (cm) lingkar
pergelangan tangan (cm). hasilnya dihitung dengan nilai r.
Ukuran kerangka Wanita = 11,0 (kecil), 10,1 11,0
(sedang), >10,1 (besar)
Ukuran kerangka Pria = 10,4 (kecil), 9,6 10,4 (sedang),
>9,6 (besar)
MAC memperkirakan massa otot skelet
TSF : pengukuran yang paling umum
Lingkar otot lengan bagian tengah atas (MAMC) = MAC
(TSF x 3,14)
2. Tes Laboratorium dan Biokimia
Biasanya digunakan untuk mempelajari status nutrisi, termasuk ukuran
protein plasma (waktu paruh >7 hari dan tidak akan merefleksikan perubahan
kurang dari seminggu) seperti albumin, transferrin, retinol yang mengikat protein,
total kapasitas ikatan zat besi, dan hemoglobin.
Faktor yang mempengaruhi tes laboratorium :
a. Keseimbangan cairan
b. Fungsi hati
c. Fungsi Ginjal
12
d. Adanya penyakit
3. Riwayat diet dan Kesehatan
Riwayat diet berfokus pada kebiasaan asupan makanan dan cairan klien.
Faktor yang mempengaruhi pola diet :
a. Status Kesehatan
b. Latar belakang Kultur ( budaya ) dan Agama
c. Status Sosial ekonomi
d. Pilihan Pribadi
e. Faktor Psikologis
f. Alkohol dan Obat
g. Kesalahan informasi dan keyakinan terhadap makanan
4. Observasi Klinis
Ini merupakan aspek terpenting diantara pengkajian nutrisi. Pemeriksaan
fisik pada pasien bertujuan mengetahui adanya mal nutrisi atau tidak, ini
membuktikan nutrisi yang tidak tepat mempengaruhi semua sistem tubuh.

2.1.11 Perbedaan Budaya


Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal
dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan
keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai
budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari
individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
Saat melakukan pemeriksaan, perbedaan budaya yang dimiliki klien harus
dihormati. Perbedaan budaya ini akan memengaruhi perilaku klien. Selama pemeriksaan
dan anamnesis, kepercayaan terhadap kesehatan yang dimiliki klien, penggunaan terapi
alternative, kebiasaan gizi, hubungan keluarga dan kenyamanan klien harus
dipertimbangkan.

Anda harus sadar budaya, dan hindari memberikan stereotip berdasarkan gender
atau ras. Terdapat perbedaan antara karakteristik budaya dan karakteristik fisik.
Belajarlah untuk mengenali kelainan yang umum ditemukan pada populasi etnik suatu
komunitas. Sebagai contoh, Indian Navajo biasanya memiliki kelainan telinga,
masyarakat Polynesia sering menderita clubfoot, dan banyak orang Afrika Amerika
mengalami penyakit anemia sel sabit. Pengenalan keragaman budaya akan membantu

13
perawat untuk menghormati keunikan klien dan penyediaan perawatan yang berkualitas
tinggi. Pengenalan dan penghormatan terhadap keragaman budaya akan mengahsilkan
kepuasan pada klien dan hasil yang lebih baik. (Potter& Perry.2009)

2.1.12 Pengkajian Nutrisi


Status nutrisi seseorang, dapat dikaji dengan menggunakan pedoman A-B-C-D.
A. Antropometri measurements
Pengkajian nutrisi yang meliputi:
1. Sistem pengukuran dan susunan tubuh dan proporsi tubuh manusia
2. Mengevaluasi pertumbuhan, mengkaji status nutrisi, ketersediaan
energi tubuh
3. Identifikasi masalah nutrisi:
a. Tinggi badan
b. Berat badan
c. Body mass index
d. Lipatan trisep, LLA, dan LOLA
B. Biochemical data
Pengkajian nutrisi menggunakan nilai biokimia seperti: total
limposit, serum albumin, zat besi, creatinin, Hb, Ht, keseimbangan
nitrogen, kadar kolesterol dll.
C. Clinical signs
Pemeriksaan fisik pada pasien yang berhubungan dengan adanya
mal nutrisi, prinsip: head to feet/ cephalo caudal.
D. Dietry history
Mengkaji riwayat diet meliputi:
a. Fead recall 24 jam: pola, jenis dan frekuensi makanan yang
dikonsumsi dalam 24 jam
b. Alergi, keemaran, intoleransi terhadap makanan
c. Faktor yang mempengaruhi pola makan

Komponen-komponen pengkajian nutrisi meliputi:

a. Pengukuran antropometrik
Metode pengaturan ini meliputi pengkajian ukuran dan proporsi ukuran dan
proporsi tubuh manusia. Pengukuran antropometrik terdiri atas:
1) Tinggi badan.
Pengukuran tinggi badan pada individu dewasa dan balita dilakukan dalam posisi
berdiri tanpa alas kaki, sedangkan pada bayi dilakukan dalam posisi berbaring.

14
Pada kasus-kasus tertentu, seperti pasien yang mengalami cedera dan fraktur
tulang belakang, pengukuran dilakukan dalam posisi berbaring. Satuan tinggi
badan adalah cm atau inci.
2) Berat badan.
Alat ukur yang lazim digunakan untuk mengukur berat badan adalah timbangan
manual, meskipun ada pula alat ukur yang menggunakan system digitalik elektrik.
Hal-hal yang harus diperhatikan saat mengukur berat badan adalah :
Alat serta skala alat ukur yang digunakan harus sama setiap kali menimbang.
Pasien ditimbang tanpa alas kaki.
Pakaian diusahakan tidak tebal dan relative sama beratnya setiap kali
menimbang.
Waktu penimbangan relatif sama, misalnya sebelum dan sesudah makan.
Dalam menilai berat badan pasien, kita perlu mempertimbangkan tinggi badan, bentuk
rangka, proporsi lemak, otot, dan tulang, serta bentuk dada pasien. Disamping itu, kita
juga perlu mengkaji kondisi patologis yang berpengaruh terhadap berat badan, seperti
edema, splenomegali, asites, gagal jantung atau kardiomegali.

3) Tebal lipatan kulit.


Pengukuran tebal lipatan kulit bertujuan untuk menentukan persentase lemak pada
tubuh. Pengukuran ini mencerminkan massa otot, jumlah lemak di jaringan
subkutan, dan status kalori. Selain itu, pengukuran ini juga digunakan untuk
mengkaji kemungkinan malnut risi. Berat badan normal, atau obesitas (Kamath,
1986). Area yang sering digunakan untuk pengukuran ini adalah lipatan kulit
trisep, scapula, dan suprailiaka. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengukuran
antara lain:
Anjurkan klien untuk membuka baju guna mencegah kesalahan pada hasil
pengukuran.
Perhatikan selalu privasi dan rasa nyaman klien.
Dalam pengukuran TSF, utamakan lengan klien yang tidak dominan.
Pengukuran TSF dilakukan pada titik tengah lengan atas, antaraakrpmion dan
olekranon.
Ketika pengukuran dilakukan, anjurkan klien untuk relaks.
Alat yang digunakan adalah kaliper.

4) Lingkar tubuh.
Umumnya, area tubuh yang digunakan untuk pengukuran ini adalah
kepala, dada, dan otot bagian tengah lengan atas. Lingkar dada dan kepala
digunakan dalam pengkajian pertumbuhan dan perkembangan otak bayi.
Sedangkan lingkar lengan atas (LLA) dan lingkar lengan otot atas (LOLA)
digunakan untuk menilai status nutrisi. Satuan ukuran untuk LLA adalah
sentimeter. LLA diukur dengan menggunakan alat ukur yang umum digunakan
tukang jahit (tape around). Pengukuran dilakukan pada titik tengah lengan yang
tidak dominan.
Lingkar pergelangan tangan merupakan area pengkajian yang digunakan
untuk menilai bentuk atau kerangka tubuh manusia. Untuk mengukurnya, meteran
diletakkan sekeliling bagian distal pergelangan tangan dekat prosesus stiloideus.

15
Bila hasil pengukuran lebih dari 10,4 cm, kerangka atau bentuk tubuh dianggap
besar. Jika hasilnya 9,6-10,4 cm kerangka atau bentuk tubuh dianggap sedang,
dan jika kurang dari 9,6 cm dianggap kecil (Potter & Perry, 2009).

b. Biochemical data
Pengkajian status nutrisi klien ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium. Klien
diperiksa darah dan urinnya yang meliputi pemeriksaan hemoglobin, hemaktokrit,
albumin. Albumin berfungsi untuk memelihara kesembangan cairan dan elektrolit
serta untuk transportasi nutrisi dan hormone.
1. Hemoglobin normal
Pria : 13-16 g/dl
Wanita : 12-14 g/dl
2. Hematokrit normal
Pria : 40-48 vol %
Wanita : 37-43 vol%
3. Albumin normal
Pria dan wanita: 4-5,2 g/dl
c. Clinical sign of nutrional status
Pemeriksaan fisik dilakuakan pada klien merupakan penilaian kondisi fisik
yang berhubungan dengan masalah malnutrisi. Prinsip pemeriksaan ini adalah
head to toe, yaitu dari kepala sampai ke kaki. Selanjutnya dilakukan pengamatan
terhadap tanda-tanda atau gejala klinis defesiensi nutrisi.
Klien dengan masalah nutrisi akan memperhatikan tanda-tanda abnormal
tersebut bukan saja pada organ-organ fisiknya tetapi juga fisiologisnya. Tanda-
tanda klinik untuk mengetahui status individu:
Organ / sistem Tanda normal Tanda abnormal
tubuh
Rambut Licin, berkilau, Kusam, rontok,
baik kering atau tumbuh tidak
berminyak sempurna
Kulit Halus, sedikit Kering, pecah-
basah, tugor baik pecah, bersisik
Mata Bersih dan Tidak bercahaya,

16
bersinar, konjungtiva pucat
konjuntiva tidak
pucat
Cardiovaskuler HR, tensi, nadi, HR, tensi tidak
irama jantung normal, irama
teratur jantung tidak
teratur
Otot-otot Kuat dan Lembek dan
berkembang biak berkembang tidak
baik
Gastrointestinal Nafsu makan baik, Nafsu makan
BAB/BAK teratur kurang, diare, sulit
dan normal menelan,
konstipasi
Aktifitas Bersemangat, giat Energi kurang,
dan tidur normal lemah, susah tidur
Neurologi Refleks normal, Refleks kurang,
emosi dan iritable, perhatian
perhatian baik kurang, dan emosi
labil

d. Riwayat Diet
Kira-kira remaja putri disekolah menegah pernah mencoba diet sedikitnya
satu kali, dan 40 % nya berdiet disembarang waktu. Untuk mengetahui riwayat
diet seseorang, kita bisa melakukan wawancara mengenai status gizi, kesehatan,
sosial -ekonomi, dan budaya orang tersebut, yang berpengaruh terhadap status
nutrisinya. Analisis diet klien dapat dilakukan dengan menggunakan kelompok
makanan harian (daily food groups) dan tabel ko mposisi makanan (food
composition table). Pengkajian asupan makanan dan pola makan meliputi
pengkajian dan informasi mengenai makanan yang biasa dikonsumsi, persiapan
makanan, dan kebiasaan makan. Pola makan dan kebiasaan makan dipengaruhi
oleh budaya, latar belakang etnis, status sosial ekonomi, dan aspek psikologi.

17
2.1.13 Penilaian Umum dan Tandatanda Vital
General assessment atau penilaian umum (atau general survey) adalah penilaian
terhadap pasien secarautuh dan cepat, mencakup fisik pasien, sikap, mobilitasdan
beberapa parameter fisik (misalnya tinggi, berat badan dan tanda-tanda vital). Penilaian
umummemberikan gambaran/kesan mengenai statuskesehatan pasien. Parameter fisik
yang diukur membantu evaluasi pasien karena menyangkut beberapa sistem organ tubuh.
Tampak Fisik, Sikap dan Mobilitas
Mulailah penilaian umum dengan mengamati secara cepat tampak fisik pasien.
Bagaimanakesan/impresi mengenai pasien dilihat darikarakteristik: (i) umur, (ii) warna
kulit, (iii) wajah, (iv)tingkat kesadaran, (v) tanda-tanda distress akut, (vi)nutrisi), (viii)
struktur tubuh, (viii) pakaian dan penampilan, (ix) sikap, dan (x) mobilitas/gerakan.Jika
anda melihat adanya abnormalitas pada karakteristik tersebut, catat temuan anda,dan
periksa lebih lanjut dengan cara mengajukan pertanyaan dan pemeriksaan fisik.
Umur
Ciri-ciri wajah pasien dan struktur tubuh harus sesuai dengan keterangan umur
yangdinyatakan oleh pasien. Jika pasien nampak jauh leih tua dari umurnya, mungkin hal
itumerupakan tanda penyakit kronis, akibat konsumsi alkohol atau merokok.
Warna Kulit
Perubahan sianosis dapat mudah diamati pada bibir dan rongga mulut, sedangkan
Pallor dan jaundice mudah dideteksi dari warna jari kuku dan konjungtiva mata. Warna
kulit pasien harus rata dan pigmentasi harus konsisten dengan latar belakang genetik
pasien. Lesi adalah area pada jaringan yang terganggu fungsinya akibat penyakit tertentu
atau traumafisik. Cyanosis adalah warna kebiruan akibat jumlah oksigen dalam darah
yang tidak adekuat; mungkin karena nafas pendek/shortness of breath (kesulitan
bernafas), penyakit paru-paru, gagal jantung, atau tercekik. Pallor adalah kulit yang pucat
yang tidak normalakibat berkurangnya aliran darah atau berkurangnya kadar hemoglobin,
dan dapat disebabkanoleh berbagai keadaan penyakit (misalnya anemia, syok,
kanker). Jaundice adalah warna kulit menjadi kuning akibat bilirubin berlebih (pigmen
empedu) dalam darah. Hal ini dapatmerupakan indikasi adanya penyakit hati atau saluran
empedu yang tersumbat oleh batuempedu.
Wajah

18
Gerakan wajah harus simetris, dan ekspresi wajah harus sesuai dengan
perkataan pasien (misalnya pasien mengatakan kepada anda bahwa dia baru saja
didiagnosis kanker,dan dia nampak kaget dan sedih). Jika salah satu sisi wajah paralisis
(tidak bergerak), pasienmungkin mengalami stroke atau trauma fisik atau salah satu
bentuk paralisis sementara yangdisebut palsi Bell. Wajah yang datar atau ekspresi seperti
topeng, di mana pasien tidak menunjukkan emosi pada wajah, mungkin terkait dengan
penyakit Parkinson dan depresi.Ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan perkataan dapat
merupakan indikasi adanya penyakit kejiwaan.
Tingkat Kesadaran
Pasien harus waspada dan sadar akan waktu, tempat dan orang. Disorientasi
terjadi pada gangguan otak (misalnya delirium, demensia), stroke, dan trauma fisik.
Pasien letargiumumnya mengantuk dan mudah tertidur, terlihat mengantuk, dan
merespon pertanyaandengan sangat lambat. Pasien stupor hanya merespon jika digoncang
dengan keras dan terusmenerus dan hanya dapat member jawaban yang terdengar seperti
menggerutu tidak jelas.Pasien yang sama sekali tidak sadar (pasien koma) tidak merespon
stimulus dari luar ataupun nyeri.
Tanda-Tanda Distress Akut
Tanda-tanda distress pernafasan termasuk nafas pendek, wheezing atau
menggunakan otot-otot aksesori untuk membantu bernafas. Wajah pasien yang
menunjukkan rasa sakit atau pasien yang mencengkeram bagian tubuh mungkin
merupakan tanda-tanda nyeri yang sangat parah. Distres emosi dapat muncul sebagai rasa
gelisah, tegang, mudah terkejut dan/atau menangis.
Nutrisi
Berat badan pasien harus sesuai dengan tinggi badannya, dan lemak tubuh harus
terdistribusi merata. Obesitas di mana lemak terutama pada wajah, leher dan dada
sedangkan tungkai tangan dan kaki kurus dapat disebabkan oleh sindroma Cushing
(hiperadrenalin) atau karena penggunaan kortikosteroid. Jika pinggang pasien lebih besar
daripada pinggul, maka pasien ini mempunyai resiko tinggi akan mengalami penyakit
yang terkait dengan obesitas (misalnya diabetes, hipertensi, penyakit arteri koroner) Jika
pasien tampak kakhektik, atau pasien kelihatan sangat kurus dengan mata cekung dan

19
pipi tirus, ini merupakan tandapenyakit wasting kronik (misalnya kanker,starvasi,
dehidrasi).
Struktur Tubuh
Kedua sisi tubuh pasien harus terlihat dan bergerak sama. Pasien harus berdiri
tegak sesuai usianya. Posisi seperti tripod, di mana pasien duduk condong ke depan
dengan tangan bersandar pada lengan kursi atau pada lutut, berkaitan dengan adanya
penyakit respirasi misalnya emfisema atau penyakit paru obstruktif kronik (COPD).
Amati jika ada deformitas fisik, misalnya kyphosis (Gambar 5-1) di mana pasien nampak
bungkuk karena osteoporosis (hilangnya densitas tulang). Lordosis (Gambar 5-2) di mana
terdapat lengkung ke arah dalam pada daerah punggung bawah, biasanya terlihat pada
wanita hamil trimester akhir.
Pakaian Dan Penampilan
Pakaian pasien harus sesuai dengan cuaca, bersih, dan pas. Pasien harus kelihatan
bersih dan berpenampilan sesuai usia, jenis kelamin, pekerjaan, golongan sosial ekonomi
dan latar belakang budayanya.
Sikap
Pasien harus mau bekerjasama/kooperatif dan berinteraksi dengan baik. Berbicara
jelas dan dapat dimengerti, dengan pilihan kata yang sesuai dengan tingkat pendidikan
dan budayanya.
Mobilitas
Cara berjalan pasien harus lancar, tetap dan seimbang dan kaki sesuai lebar bahu.
Jika pasien terlihat ragu-ragu atau sulit untuk berjalan, berjalan pendek-pendek dan susah
payah, dan merasa sulit untuk berhenti mendadak, biasanya berkaitan dengan penyakit
Parkinson. Ataksia adalah keadaan gemetar dan terhuyung-huyung, berjalan tidak tegak
yang mungkin disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan atau obat tertentu
(barbiturat, benzodiazepin, stimulan sistem saraf pusat).

PARAMETER FISIK
Parameter fisik yang diukur sebagai bagian dari penilaian umum menggambarkan status
kesehatan pasien secara umum. Parameter fisik tersebut termasuk (i) tinggi badan, (ii)
berat badan, (iii) tanda-tanda vital.
Tinggi Badan

20
Tinggi badan seseorang menunjukkan latar belakang genetik dan rutin digunakan
untuk mengevaluasi proporsi tubuh. Tinggi badan juga dapat dibandingkan dengan hasil
pengukuran sebelumnya untuk melihat ada tidaknya penurunan densitas tulang atau
osteoporosis, di mana tinggi badan akan menurun sejalan dengan progresi penyakit. Ukur
tinggi badan dengan cara meminta pasien berdiri tegak, tanpa sepatu, bersandar pada
bagian permukaan vertikal yang datar dari suatu alat pengukur, misalnya tiang pada alat
penimbang berat badan. Letakkan garis pengukur pada kepala dan lihat berapa angka
pada tiang pengukur tinggi badan. Tinggi badan dapat dicatat dalam satuan centimeter
atau inci.
Berat Badan
Berat badan seseorang menunjukkan status nutrisi dan status kesehatan secara
umum dan paling baik diukur dengan alat timbang badan terstandarisasi. Pasien harus
melepas sepatu dan pakaian luarnya yang berat sebelum berdiri di alat timbang. Jika
diperlukan pengukuran berat badan serial, maka sebaiknya dilakukan penimbangan pada
waktu/jam yang sama setiap hari dan pasien mengenakan pasien yang sama/mirip. Berat
badan dapat dinyatakan dalam pound atau kilogram. Untuk menilai berat badan pasien,
sebaiknya digunakan indeks massa tubuh (body mass index/BMI), yang menggambarkan
berat dan tinggi bada relatif dan berkorelasi langsung dengan kandungan lemak total
tubuh, BMI dihitung dengan rumus berikut:
Metrik : BMI = berat badan (kg) / tinggi badan (m2)
Non metrik : (Berat badan (pounds) / tinggi badan (inches2) x 703
Pasien yang berat badannya berlebih atau obes mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk
mengalami hipertensi, diabetes tipe 2, dislipidemia, penyakit jantung koroner, stroke,
penyakit kandung empedu, osteoarthritis, masalah respirasi, dan beberapa jenis kanker
(misalnya: endometrium, payudara, prostat, dan kolon). Selain itu, lingkar pinggang
pasien juga berkorelasi dengan kandungan lemak abdomen.perut dan oleh karena itu
merupakan faktor resiko mengalami penyakit-penyakit yang berkaitan dengan obesitas.
Untuk dapat menilai dengan tepat resiko pasien dengan berat badan berlebih, anda juga
harus mengukur lingkar pinggang pasien. Cari tulang panggul bagian atas dan bagian
atas krista iliaka. Letakkan tali pengukur mengitari perut. Sebelum melakukan

21
pembacaan, yakinkan bahwa tali pengukur pas tapi tidak menekan kulit dan paralel
dengan lantai.
Berikut ini adalah nilai BMI untuk dewasa antara 25-34,9: Resiko tinggi
Laki-laki >40 (102 cm) dan perempuan >35 (88 cm) Penurunan berat badan yang tidak
diinginkan mungkin merupakan tanda adanya penyakit jangka pendek (misalnya infeksi)
atau panjang (misalnya hipertiroidism,kanker). Selain itu, beberapa pengobatan juga
dapat menurunkan nafsu makan pasien, menyebabkan mual atau gastritis (misalnya
dekongestan, inhibitor selektif pengambilan kembali/reuptake serotonin SSRI,
antidepresan, obat antiinflamasi non-steroid/NSAID), yang pada gilirannya, efek samping
ini dapat menyebabkan pasien makan lebih sedikit sehingga berat badan turun.
Sebaliknya, proses penyakit seperti hipotiroidism dan depresi dan pengobatan dapat
menyebabkan peningkatan berat badan., namun, peningkatan berat badan umumnya lebih
menggambarkan asupan kalori yang berlebih dan gaya hidup yang kurang melibatkan
aktivitas badan (sedentary).
TANDA-TANDA VITAL
Pengukuran tanda-tanda vital memberikan informasi yang berharga terutama
mengenai status kesehatn pasien secara umum. Tanda-tanda vital meliputi (i)
temperatur/suhu tubuh, (ii) denyut nadi, (iii) laju pernafasan/respirasi, dan (iv) tekanan
darah.
Denyut Nadi
Ketika jantung berdenyut. jantung memompa darah melalui aorta dan pembuluh
darah perifer. Pemompaan ini menyebabkan darah menekan dinding arteri, menciptakan
gelombang tekanan seiring dengan denyut jantung yang pada perifer terasa sebagai
denyut/detak nadi. Denyut nadi ini dapat diraba/palpasi untuk menilai kecepatan
jantung,ritme dan fungsinya. Karena mudah diakses, nadi pada radial tangan adalah
metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur kecepatan jantung; dipalpasi
melalui arteri tangan(radial) pada pergelangan tangan anterior.
Untuk mengukur nadi radial:
1. Letakkan jari pertama dan kedua pada pergelangan tangan pasien antara tulang
medial dan radius.

22
2. Tekan sampai nadi dapat teraba, tetapi hati-hati jangan samapi mengoklusi arteri
(denyut nadi tidak akan teraba).
3. Hitung jumlah denyut dalam 30 detik, dan jika ritmenya teratur, kalikan dua
jumlah tadi.
4. Hindari menghitung nadi hanya dalam 15 detik, karena kesalahan 1-2 denyut saja
akan mengakibatkan kesalahan 4-8 kali kesalahan pada evaluasi kecepatan detak
jantung. Juga, lebih mudah mengalikan dua daripada mengalikan denyut janutng
empat kali.
5. Jika ritme tidak teratur, hitung denyut nadi dalam 1 menit. Catat temuan dalam
denyut per menit (beats per minute/bpm).
Kecepatan jantung normal untuk berbagai kelompok usia
Usia Jantung (BMP)
Bayi baru lahir (newborn) 70-170
1-6 tahun 75-160
6-12 tahun 80-120
Dewasa 60-100
Usia Lanjut 60-100
Atlet yang terkondisi baik 50-100

Kekuatan setiap kontraksi jantung, yang dinyatakan sebagai volume stroke jantung, dapat
dievaluasi dengan cara meraba/palpasi nadi. Biasanya, nadi yang normal dapat dengan
mudah dipalpasi, tidak muncul lalu hilang, dan tidak mudah terobstruksi. Kekuatan
nadi ini dapat digambarkan secara subyektif menggunakan 4 skala berikut:
0 Absen/tidak ada
1+ Lemah
2+ Normal
3+ Penuh
Tekanan Darah
Tekanan darah adalah kekuatan darah ketika mendorong dinding arteri. Tekanan
darah tergantung pada luaran kardiak, volume darah yang diejeksi oleh ventrikel
permenit, dan tahanan pembuluh darah perifer. Kecepatan jantung, kontraktilitas dan

23
volume darah total, yang tergantung pada kadar natrium, mempengaruhi luaran jantung
(cardiac output). Viskositas darah arteri dan elastisistas dinding mempengaruhi tahanan
pembuluh darah vaskular. Tekanan darah mempunyai dua komponen: sitolik dan
diastolik. Tekanan darah sistolik menggambarkan tekanan maksimum pada arteri ketika
kontraksi ventrikel kiri (atau sistol), dan diatur oleh volume stroke (atau volume darah
yang dipompa keluar pada setiap denyut janutng). Tekanan darah diastolik adalah
tekanan saat istirahat yaitu tekanan dari darah antar kontraksi ventrikel. Tujuan obyektif
utama mengidentifikasi, memberikan terapi dan memantau tekanan darah pasien adalah
untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler serta angka kesakitan dan kematian
yang terkait. Oleh karena itu, pengukuran tekanan darah yang akurat sangat penting,
karena pengukuran ini menjadi dasar keputusan klinis yang vital, misalnya untuk
menyesuaikan terapi antihipertensi untuk pasien.
Metode pemeriksaan
Metode pemeriksaan yang paling umum digunakan untuk menentukan tekanan
darah pasien adalah metode tak langsung, metode auskultasi menggunakan stetoskop dan
sfigmomanometer. Bagian alat yang digunakan untuk diikatkan pada lengan berisi
kantong karet yang dapat mengembang. Kantongnya terhubung ke manometer. Karena
manometeraeroid mudah hanyut, maka harus dikalibrasi paling sedikit sekali setahun dan
harus ditinggalkan pada keadaan nol. Karena lingkar lengan berbeda-beda, maka juga
tersedia berbagai macam ukuran pengikat lengan (misalnya untuk anak-anak, dewasa,
dan orang dewasa yang besar). Untuk menentukan ukuran pengikat lengan ini
bandingkan panjang kantong pengukur tekanan darah tadi dengan lingkar lengan pasien.
Anda harus merasakan kantong di dalam pengikat lengan tadi. Untuk pengukuran yang
paling akurat, panjang kantong harus paling sedikit 80% lingkar lengan.
Pengukuran tekanan darah dianggap tak langsung, kaena tekanan dalam pembuluh
darah secara tidak langsung diukur dengan melihat tekanan dalam pengikat lengan.
Ketika udara dipompakan ke dalam pengikat lengan, tekanan dalam pengikat lengan
tersebut akan meningkat. Ketika tekanan dalam pengikat lengan tadi melebihi tekanan
arteri brakhial pasien, arteri akan tertekan dan aliran darah akan berkurang dan akhirnya
berhenti. Bersamaan dengan mengeluarkan udara dari pengikat lengan, kantong akan
mengempis dan tekanan pada pengikat lengan berkurang. Ketika tekanan dalam pengikat

24
lengan sama dengan tekanan arteri, darah akan mulai mengalir kembali. Aliran darah
dalam arteri menghasilkan suara yang spesifik, yang disebut suara Korotkoff yang terjadi
dalam 5 fase:
Fase I : lemah, jelas dan ketuk (tekanan sistolik)
Fase II: swooshing
Fase III: nyaring (crisp), lebih intensif (tapping)
Fase IV: muffling (pada dewasa hal ini menunjukkan keadaan hiperkinetik jika fase ini
terus berlangsung selama pengikat lengan mengempis).
Fase V: hilangnya suara (pada dewasa, tekanan diastolik).
Suara-suara ini digunakan untuk mengidentifikasi tekanan darah sistolik dan
diastolik. Agar dapat mengukur dengan sangat akurat, ikuti langkah-langkah berikut:
1. Tanyakan kepada pasien apakah pasien merokok atau mengkonsumsi kafein
dalam 30 menit sebelum pemeriksaan. Jika ya, catat informasi ini.
2. Pasien harus didudukkan pada kursi dengan punggung tersangga dan lengan
kosong dan disangga pada keadaan paralel setara jantung.
3. Pengukuran dimulai paling sedikit setelah 5 menit beristirahat.
4. Tentukan ukuran pengikat lengan yang sesuai untuk pasien.
5. Palpasi arteri brakhial sepanjang lengan atas bagian dalam.
6. Posisikan agar kantong yang ada pada pengikat lengan di tengah di atas arteri
brakhial, kemudian ikat pengikat lengan tadi agar pas melingkari lengan,
usahakan ujung tepi bawah pengikat lengan tersebut 1 inci di atas antekubital.
7. Posisikan manometer agar lurus terhadap pandangan mata.
8. Instruksikan pada pasien untuk tidak berbicara selama pengukuran.
9. Tentukan tingkat inflasi maksimum. (Sembari palpasi nadi radial, pompa pengikat
lengan hingga ke titik di mana nadi tidak lagi terdengar, tambahkan 30 mmHg
pada pembacaan ini).
10. Dengan cepat kendurkan/biarkan udara keluar dari kantong lengan, dan tunggu 30
detik sebelum memompanya kemabali.
11. Sisipkan ujung stetoskop; cek agar mengarah ke depan pada tempatnya.
12. Tempatkan bel stetoskop tanpa menekan, tapi cukup erat hingga kedap udara, di
atas arteri brakhial. Lihat bahwa diafrgama stetoskop juga dapat digunakan;

25
namun, bel akan leih sensitif untuk mendengan suara frekuensi rendah (tekanan
darah) dan sedapat mungkin bel digunakan jika memungkinkan. Ketika pertama
kali belajar mendengarkan tekanan darah, mungkin lebih mudah menggunakan
diafragma daripada bel.
13. Pompa dengan cepat pengikat lengan sampai maksimum (seperti yang telah
ditentukan sebelumnya)
14. Perlahan biarkan udara keluar (deflate/kempiskan pengikat lengan) dengan
penurunan tekanan teratur sebesar 2-3 mmHg/detik.
15. Catat pembacaan tekanan ketika pertama kali terdengan dua suara berturutan
(Korotkoff Fase 1). Ini adalah tekanan darah sistolik.
16. Catat pembacaan tekanan ketika suara terakhir terdengar (Korokoff Fase V). Ini
adalah tekanan diastolik.
17. Tetap dengarkan sampai 20 mmHg di bawah tekanan diastolik, kemudian dengan
cepat kempeskan pengikat lengan.
18. Catat tekanan darah pasien dengan angka genap beserta posisi pasien (misalnya,
duduk, berdiri, berbaring), ukuran pengikat lengan, dan lengan yang diukur.
19. Tunggu 1-2 menit sebelum mengulangi kembali pembacaan menggunakan lengan
yang sama.
Untuk hasil pengukuran yang paling akurat, 2 atau lebih pembacaan, tiap pembacaan
terpisah 2 menit, dicari nilai rata-ratanya. Jika 2 pembacaan pertama berbeda lebih dari 5
mmHg harus dilakukan pembacaan ulang (pengukuran tekanan darah diulang lagi) dan
kemudian dirata-rata. Tekanan darah normal dewasa adalah sistolik kurang dari 120
mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg. Klasifikasi hasil pembacaan tekanan darah
berdasarkan kriteria The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC-VII) tertera pada
Tabel 5-5. Prehipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 130-139 mmHg atau
diastolik 80-90 mmHg. Pasien dengan prehipertensi memiliki resiko dua kali lebih tinggi
untuk menjadi hipertensi daripada individu dengan tekanan darah yang lebih rendah.
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih atau
diastolik 90 mmHg atau lebih dan diklasifikasikan (berdasarkan keparahannya) sebagai
stage 1 atau 2. Hipertensi sistolik saja (isolated systolic hypertension) didefinisikan

26
sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik 90
mmHg atau kurang dan harus diklasifikasikan lebih lanjut sesuai keparahannya (misalnya
170/82 berarti hipertensi sistolik stage 2).

27
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

28
DAFTAR PUSTAKA

1. American Pharmaceutical Association Comprehensive Weight Management Protocol


Panel. APhA drug treatment protocols: comprehensive weight management in adults. J
Am Pharm Assoc 2011 Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure. The Seventh Report of the Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(JNC-VII). NIH publication 03-5233. Bethesda, 2008
2. Azizah, Lilik Marifatul.. 2011. Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik.Yogyakarta:
Graha Ilmu
3. Barker, Chris. 2011. Cultural studies. Teori dan praktik. Yogyakarta : Kreasi wacana.
4. http:///E:/KDM/kebutuhan-dasar-manusia-psikososial.html di akses pada tanggal 1
september 2016 pukul 19.00
5. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/128/jtptunimus-gdl-ipungmdg0a-6384-2-babii.pdf
di akses pada tanggal 1 september 2016 pukul 19.00
6. Intansari Nurjanah, 2010, Intans Screening Diagnoses Assesment (ISDA), Mocomedia:
YogyakartaTaylor, Lilis, Lemone, Lyn, 2011, Fundamental of Nursing The art and
Sience of Nursing Care, Lippincott
7. Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,
8. NANDA, 2010, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2009-2010, Jakarta :
EGC.
9. Noorkasiani dkk.2009.Sosiologi Keperawatan.Jakarta:EGC
10. Potter Patricia A & Anne G Perry. 2010. Fundamental of Nursing: Edisi 7. Jakarta:
Salemba Medika.
11. Storey, John,. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, terj. Laily Rahmawati,
Jalasutra
12. Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies
13. Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawan Jiwa. Jakarta: EGC

29