Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 2 BLOK 2.1

SISTEM URINARIUS

Tutor : dr. Ave Olivia Rahman M.Sc

MERI SATRIYAWATI G1A116049


FAZILLA MAULIDIA G1A116050
ANNISA RAMADHANI G1A116051
DIANA OCTAVINA G1A116052
RIZA PUTRI OCTARIANTI G1A116053
RENI DWI ASTUTI G1A116054
OBRILIAN ISLAMI JUANY G1A116055
NANDA ANANDITA G1A116056
FEBI SOFIANA G1A116057
RIRIN HAYU PANGESTU G1A116058
PUTI ASSYIFA ALWIS G1A116059
SHOFIA WAHDINI G1A116060
LARASSATI G1A116061

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS JAMBI
2016/2017
SKENARIO :

Di suatu siang yang terik, B baru selesai menjalani perkuliahan di Fakultas


Kedokteran. Karena haus, B membeli segelas air jeruk di kantin. Setelah 30 menit,
B merasa ingin berkemih. Namun B yang sedang dalam perjalanan pulang ke
rumah harus menahan keinginannya tersebut. Sesampainya di rumah, B merasa
tidak nyaman di daerah suprapubik. Saat buang air kecil, B melihat urinnya
berwarna kuning muda. B berpikir mengapa dirinya yang baru menghabiskan
segelas air jeruk langsung merasa ingin berkemih sedangkan sewaktu B
berolahraga dan menghabiskan satu botol air mineral, B tidak merasa ingin
berkemih?

A. Klarifikasi Istilah

1. Haus : keadaan kekurangan cairan (dehidrasi)


2. Berkemih : proses pengeluaran cairan berupa urin
3. Area suprapubik : area di atas symphisis pubis
4. Urin : cairan hasil metabolisme yang diekskresikan ginjal

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana mekanisme dari haus?


2. Bagaimana mekanisme berkemih atau buang air kecil?
3. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi buang air kecil/eliminasi urin?
4. Bagaimanakah susunan anatomi dan histology dari sistem urinaria?
5. Mengapa urin berwarna kuning?
6. Hormone apa saja yang mempengaruhi produksi urin?
7. Bagaimana proses pembentukan urin?
8. Apa yang menyebabkan rasa tidak nyaman di area suprapubik ketika
menahan kemih?
9. Apa saja komponen dalam urine normal?
10. Bagaimana mekanisme menahan kemih?
11. Otot-otot apa saja yang berperan dalam perkemihan?
12. Apa penyebab warna urin dapat berbeda-beda?
13. Organ apa saja yang berada pada area suprapubik?
14. Mengapa saat suhu dingin urin banyak dikeluarkan?
15. Mengapa setelah meminum segelas air jeruk, B langsung ingin berkemih.
Sedangkan waktu berolahraga dan meminum segelas air mineral, B tidak
ingin berkemih?

C. Curah Pendapat

1. Bagaimana mekanisme dari haus?


Jawab :
Pusat mekanisme rasa haus terdapat pada hipotalamus yang disebut thrist
center. Ketika berkurangnya cairan tubuh akibat banyak berkeringat dan
diare atau saat mengkonsumsi makanan yang terlalu asin, hipotalamus
akan mengirimkan pesan kepada tubuh berupa rasa haus yang kita alami.

2. Bagaimana mekanisme berkemih atau buang air kecil?


Jawab :
Ketika vesika urinaria sudah penuh, akan mengirimkan sinyal ke
hipotalamus yang akan mengirimkan rangsangan agar m. detrusor
berkongtraksi sehingga urin akan masuk ke urethra melalui spingter
urethra interna dan akan keluar jika dikehendaki spingter urethra eksterna
yang bersifat volunter.

3. Apa saja factor yang mempengaruhi buang air kecil/eliminasi urin?


Jawab :
Hormone, suhu lingkungan, air yang dikonsumsi, konsumsi garam, dan
kondisi psikologi seseorang.

4. Bagaimanakah susunan anatomi dan histology dari sistem urinaria?


Jawab :
Anatomi : terdiri dari 2 ren, 2 ureter, 1 vesika urinaria, dan 1 urethra.
Histology : setiap organ dari sistem urinaria dilapisi oleh sel epitel.
5. Mengapa urin berwarna kuning?
Jawab :
Karena adanya pigman urochrom dan urobilin.

6. Hormone apa saja yang mempengaruhi produksi urin?


Jawab :
Hormone yang terlibat adalah hormone ADH, insulin, rennin, dan
aldosteron.

7. Bagaimana proses pembentukan urin?


Jawab :
Terdiri dari proses filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi.

8. Apa yang menyebabkan rasa tidak nyaman di area suprapubik ketika


menahan kemih?
Jawab :
Karena adanya peregangan m. detrusor pada vesika urinaria yang terisi
penuh sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

9. Apa saja komponen dalam urine normal?


95% air, hormone, zat buangan nitrogen, bahan keton, elektrolit berupa ion
natrium, klor dan kalium.

10. Bagaimana mekanisme menahan kemih?


Jawab :
Ketika vesika urinaria telah terisi penuh dan hipotalamus telah
memberikan sinyal ingin berkemih lalu spingter urethra interna telah
membuka namun spingter urethra eksterna mengirimkan sinyal untuk
menahan sehingga urin tidak di keluarkan.
11. Otot-otot apa saja yang berperan dalam perkemihan?
Jawab :
m. detrusor, m. spingter urethra interna, m. spingter urethra eksterna.

12. Apa penyebab warna urin dapat berbeda-beda?


Jawab :
Urin normal berwarna kuning pucat hingga kuning gelap yang dipengaruhi
pigmen urochrom, yang tergantung bagaimana urin tersebut diencerkan
atau dikonsentrasikan. Selain itu karena ada senyawa lain yang tergantung
pada makanan dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Dan jika urin
berwana pink maka ada kemungkinan infeksi saluran kemih dan jika
berwarna kuning gelap akibat kurangnya minum air.

13. Organ apa saja yang berada pada area suprapubik?


Jawab :
Colon sigmoid, vesica urinaria dan beberapa organ genitalia.

14. Mengapa saat suhu dingin urin banyak dikeluarkan?


Karena pori-pori tubuh mengecil, cairan tubuh yang seharusnya keluar
melalui berkeringat beralih memjadi urin.

15. Mengapa setelah meminum segelas air jeruk, B langsung ingin berkemih.
Sedangkan waktu berolahraga dan meminum segelas air mineral, B tidak
ingin berkemih?

Jawab :
Karena saat berolahraga cairan dalam tubuh dibantu pengeluarannya
melalui keringat. Sedangkan setelah minum air jeruk B tidak melakukan
kegiatan yang membuatnya berkeringat sehingga vesika urinara terisi
penuh.
D. Analisis Masalah

1. Mekanisme rasa haus


Ginjal meminimalkan kehilangan cairan selama terjadi kekurangan air,
melalui sistem umpan balik osmoreseptor-ADH. Akan tetapi, asupan
cairan yang adekuat diperlakukan untuk mengimbangi kehilangan cairan
yang terjadi melalui keringat dan napas serta melalui saluran pencernaan.
Asupan cairan diatur oleh mekanisme rasa haus, yang bersama mekanisme
osmoreseptor ADH, mempertahankan control osmolaritas cairan ekstrasel
dan konsentrasi natrium secara tepat.
Pusat rasa haus pada sistem saraf pusat terdapat pada daerah kecil
yang terletak anterolateral dari nucleus preoptik, yang bila distimulasi
secara listrik, menyebabkan kegiatan ingin minum dengan segara dan
berlanjut selama rangsangan berlangsung. Selain itu pada daerah
sepanjang dinding anteroventral dan ventrikel ketiga yang meningkatkan
pelepasan ADH juga merangsang rasa haus. Semua daerah ini bersama-
bersama disebut pusat rasa haus.
Neuron-neuron di pusat rasa haus member respon terhadap
penyuntikan larutan garam hipertonik dengan cara merangsang perilaku
minum. Peningkatan osmolaritas cairan cerebrospinal di ventrikel ketiga
member pengaruh yaitu menimbulkan keinginan untuk minum. 1

Tabel pengaturan rasa haus

Peningkatan Rasa Haus Pengurangan Rasa Haus


Osmolaritas Osmolaritas
Volume darah Volume darah
Tekanan darah Tekanan darah
Angiotensin Angiotensin II
Kekeringan mulut Distensi lambung
2. Mekanisme berkemih

Urin yang dihasilkan oleh ginjal ditampung sementara di kandung


kemih melalui ureter. Kandung kemih terdiri dari otot polos yang dilapisi
oleh epitel khusus. Otot kandung kemih dapat teregang sedemikian, dan
lipatan-lipatan di dalamnya menjadi rata sewaktu pengisian untuk
meningkatkan kapasitas penyimpanan.

Otot polos kandung kemih banyak mengandung serat parasimpatis,


yang stimulasinya menyebabkan kontraksi kandung kemih. Jika saluran
melalui uretra keluar terbuka maka kontraksi kandung kemih akan
mengosongkan urin dari kandung kemih. Pintu kandung kemih dijaga oleh
spingter uretra internus dan eksternus. Miksi atau berkemih diatur oleh dua
mekanisme yaitu refleks berkemih dan control volunter.
a) Refleks Berkemih

Refleks berkemih terpicu ketika reseptor regang di dalam dinding


kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada orang dewasa dapat
menampung hingga 250 400 ml urin sebelum tegangan di
dindingnya mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor
regang. Semakin besar regangan melebihi ukuran maka semakin besar
pengaktifan reseptor. Serat-serat aferen dari reseptor regang membawa
impuls ke medulla spinalis dan akhirnya melalui antarneuron,
merangsang saraf parasimpatis untuk kandung kemih dan menghambat
neuron motoris ke spingter eksternus. Stimulasi saraf parasimpatis
kandung kemih menyebabkan organ ini berkontraksi kemudian
spingter uretra internus terbuka. Secara bersamaan spingter uretra
eksternus melemas karena neuron-neuron motoriknya dihambat. Kini,
kedua spingter terbuka dan urin terdorong melalui uretra oleh gaya
yang ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih. Refleks berkemih
ini, yang seluruhnya adalah refleks spinal, mengatur pengosongan
kandung kemih pada bayi.
b) Control Volunter Berkemih

Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga


menyadarkan yang bersangkutan akan keinginan untuk berkemih.
Persepsi penuhnya kandung kemih muncul sebelum spingter eksternus
secara refleks melemas, member peringatan bahwa miksi akan segera
terjadi. Akibatnya, control volunter berkemih yang dipelajari selama
toilet training pada masa anak-anak ini dapat mengalahkan refleks
berkemih sehingga pengosongan kandung kemih dapat berlangsung
sesuai keinginan yang bersangkutan. Jika waktu refleks miksi tersebut
kurang sesuai maka yang bersangkutan dapat dengan sengaja
mencegah pengosongan kandung kemih dengan mengencangkan
spingter eksternus dan diafragma pelvis. Impuls eksitatorik volunteer
dari korteks serebri mengalahkan sinyal inhibitorik refleks dari
reseptor regang ke neuron-neuron motorik yang terlibat sehingga otot
spingter berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar. 2
3. Factor-faktor yang mempengaruhi buang air kecil atau eliminasi urin
Factor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urin menurut Tartowo dan
Wartonah (2006) antara lain:
1) Pertumbuhan dan Perkembangan
Usia dan berat badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran
urin. Pada usia lanjut volume kandung kemih berkurang,
perubahan fisiologis banyak ditemukan setelah usia 50 tahun.
Demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga
akan lebih sering.
2) Sosiokultural
Budaya masyarakat di mana sebagian masyarakat hanya dapat
berkemih pada tempat tertutup dan sebaliknya ada masyarakat
yang dapat berkemih pada lokasi terbuka.
3) Psikologis
Pada keadaan cemas dan stress akan meningkatkan stimulasi
berkemih.
4) Kebiasaan seseorang
Misalnya seseorang hanya bisa berkemih di toilet sehingga
sehingga ia tidak dapat berkemih pada pot urin.
5) Tonus otot
Eliminasi urin membutuhkan tonus otot kandung kemih, otot
abdomen, dan pelvis untuk berkontraksi. Jika ada gangguan tonus
otot, dorongan untuk berkemih juga akan berkurang. Salah satu
peristiwa awal adalah relaksasi otot-otot dasar panggul, hal ini
mungkin menimbulkan tarikan yang cukup besar pada otot detrusor
untuk merangsang kontraksi.
6) Intake cairan dan makanan
Alcohol menghambat antideuritik hormone sedangkan kopi, teh,
coklat dan cola (yang mengandung kafein) dapat meningkatkan
pembuangan dan ekskresi urin.
7) Kondisi penyakit
Pada pasien yang demam akan terjadi penurunan produksi urin
karena banyak cairan yang di keluarkan melalui kulit. Peradangan
dan iritasi organ kemih menyebabkan retensi urin.
8) Pembedahan
Penggunaan anestesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga
produksi urin akan menurun.
9) Pengobatan
Penggunaan deuritik meningkatkan output urin, anti kolinergik dan
antihipertensi menimbulkan retensi urin.
10) Pemeriksaan diagnostic
Intravenous pyelogram dimana pasien dibatasi intake sebelum
prosedur untuk mengurangi output urin.

Rata-rata individu mengeluarkan urin sebanyak 1200-1500 ml selama


24 jam. Jumlah ini tergantung asupan cairan, respirasi, suhu lingkungan,
muntah dan diare. 3

4. Susunan anatomi fisiologi dan histology sistem urinaria


Anatomi sistem urinarius
1) GINJAL

Ginjal adalah organ retroperitoneal karena hanya permukaan


anteriornya yang dilapisi oleh peritoneum dan permukaan posteriornya
berhadapan langsung dengan dinding posterior abdomen. Kutub
superior dari ginjal kiri berada pada setinggi vertebra thorakal 12 dan
kutub inferiornya di sekitar vertebra lumbal 3. Kutub superior dari
ginjal kanan lebih rendah kurang lebih 2cm dari ginjal kiri untuk
mengakomodasi besarnya ukuran hepar. Sebuah kelenjar suprarenal
bertumpu pada setiap kutub superior dari ginjal.

Ginjal memiliki batas medial cekung yang disebut hilus di mana


pembuluh darah, saraf dan ureter terhubung ke gunjal. Hilus diteruskan
ke ruangan dalam pada setiap ginjal yaitu sinus renalis yang di
dalamnya terdapat arteri dan vena renalis, jaringan limfe, saraf, pelvis
renalis, calyx-calyx renalis, dan jaringan ikat adipose. Batas lateral
ginjal berbentuk cembung.

Ginjal terdiri dari beberapa lapisan yaitu :

1. Kapsula fibrosa/ kapsula renalis


Terdiri dari jaringan ikat padat yang tidak teratur yang melekat
pada ginjal. Kapsula fibrosa ini mempertahankan bentuk ginjal,
melindungi dari trauma dan mencegah pathogen memasuki
ginjal.
2. Kapsula adipose/ lemak perirenal
Berada di luar dari kapsula fibrosa yang terdiri dari jaringan
ikat adipose yang bervariasi ketebalannya, melapisi seluruh
ginjal, dan berfungsi sebagai sekat dan bantalan ginjal.
3. Fascia renalis
Terletak di luar kapsula adipose yang terdiri dari jaringan ikat
padat tidak beraturan yang mengaitkan ginjal ke peritoneum
dan dinding posterior abdomen.
4. Lemak pararenal
Merupakan lapisan terluar ginjal terdiri dari jaringan ikat
adipose yang terbentang antara fascia renalis dan peritoneum.

Pada potongan koronal ginjal dapat terlihat lapisan luar (korteks


renalis) dan lapisan dalam (medulla renalis), medulla cenderung
berwarna lebih gelap dari korteks. Korteks renalis mengalami
invaginasi menjadi kolumna renalis menjorok ke medulla dan
membagi medulla menjadi pyramid-piramid. Ginjal orang dewasa
biasanya terdiri dari 8-15 piramid.

Darah dibawa ke ginjal melewati A.Renalis melewati A.aorta


abnominalis setinggi vertebra L1 L2, A.renalis bercabang mencapai
kurang lebih 5 A.segmentalis pada sinus renalis yang kemudian
bercabang menjadi A.lobaris dan bercabang lagi menjadi
A.interlobaris selama masih di sinus renalis. A.interlobaris berjalan
melewati columna renalis bertini menuju corticomedullaris junction
dimana mereka bercabang menjadi A.Arcuata, arteri ini berjalan
mengelilingi basis piramid medulla dan bercabang menjadi
A.interlobularis yang menjulur ke korteks dan berjalan bergantian
dengan Processus Ferreini, di korteks mereka memberikan cabang-
cabang kecil yaitu arteriol afferen. Afferen yang masuk kedalam
struktur renal corpuscle membentuk jaringan kapiler yang disebut
glomerulus sebagian darah difiltrat disini, darah yang tidak difiltrat
meninggalkan glomerulus melewati arteriol efferen yang pada nefron
kortikalis akan bercabang menjadi kepiler peritubular di korteks ginjal
sedangkan dan pada nefron juxtamedullaris bercabang menjadi kapiler
vasa recta di medulla di kapiler inilah terjadi pertukaran gas, nutrisi,
dan zat-zat sisa dari ginjal, kapiler peritubular dan vasa recta
mengalami arus balik ke vena-vena renalis, yang terkecil adalah vena
interlobularis yang berjalan berdampingan dengan A.interlobularis,
V.interlobularis bergabung membentuk V.arcuata yang berjalan
sepanjang basis piramid dan kemudian bergabung membentuk
V.interlobaris yang berjalan menelusuri columna renalis bertini dan
membentuk V.renalis yang bermuara ke V.cava inferior. Ginjal tidak
memiliki V.segmentalis dan V.lobaris.
Nefron

Nefron merupakan unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri


dari korpus Malpighi (glomerulus dan kapsula Bowman), tubulus
kontortus proksimal, ansa henle segmen tebal descendens dan
ascendens, tubulus kontortus distal, tubulus kolektivus, duktus
kolektivus, dan duktus papailaris bellini. 4
2) URETER

Manunisa memiliki sepasang ureter. Kedua ureter merupakan


saluran muscular yang terbentang dari ren ke facies posterior vesika
urinaria. Setiap ureter mempunyai panjang sekitar 10 inchi (25 cm)
dan mempunyai tiga penyempitan, yaitu:
Di tempat pelvis renalis berhubungan dengan ureter
Di tempat ureter melengkung pada waktu menyilang
aperture pelvis superior
Di tempat ureter menembus dinding vesika urinaria.
Arteri yang memperdarahi ureter adalah : ujung atas diperdarahi
oleh arteri renalis, bagian tengah ureter diperdarahi oleh arteri
testicularis atau asteri ovarica, dan di dalam pelvis diperdarahi oleh
arteri vesicalis superior. Sedangkan yang mempersarafi ureter adalah
plexus renalis, testicularis, dan plexus hypogastricus (di dalam pelvis).
Serabut-serabut aferen berjalan bersama dengan saraf simpatis dan
masuk medulla spinalis setinggi segmen lumbalis 1 dan 2. 5
3) VESIKA URINARIA

Vesica urinaria terletak tepat di belakang pubis di dalam cavitas


pelvis. Vesica urinaria yang kosong pada orang dewasa seluruhnya
terletak di dalam pelvis, bila vesica urinaria terisi dinding atasnya
terangkat sampai masuk region hypogastrium. Pada anak kecil, vesika
urinaria yang kosong menonjol di atas aperture pelvis superior,
kemudian bila cavitas pelvis membesar, vesika urinaria terbenam di
dalam pelvis untuk menempati posisi seperti pada orang dewasa.
Vesica urinaria yang kosong berbentuk pyramid, mempunyai apex,
basis, sebuah facies superior, dua buah facies inferolateral dan
mempunyai collum.
Apex vesicae mengarah ke depan dan terletak di belakang pinggir
atas symphysis pubis. Apex vesicae dihubungkan dengan umbilicus
oleh ligamentum umbilicale medianum.
Basis, atau facies posterior vesicae, menghadap ke posterior dan
berbentuk segitiga. Sudut superolateralis merupakan tempat muara
ureter, dan sudut inferior merupakan tempat asal uretra.
Facies superior vesicae diliputi peritoneum dan berbatasan
dengan lengkung ileum atau colon sigmoideum. Sepanjang pinggir
lateral permukaan ini, peritoneum melipat ke dinding lateral pelvis.
Facies inferolateralis di begian depan berbatasan dengan bantalan
lemak retropubica dan pubis. Lebih ke porterior, facies tersebut
berbatasan di bagian atas dengan musculus obturatorius internus dan
di bawah dengan musculus levator ani.
Collum vesicae berada di inferior dan terletak pada facies superior
prostat. Collum vesicae dipertahankan pada tempatnya oleh
ligamentum puboprostaticum pada laki-laki dan ligamentum
pubovesicale pada perempuan.
Vesica urinaria diperdarahi oleh arteri vesicalis superior dan
inferior, cabang arteri iliaca interna. Sedangkan persarafannya berasal
dari pleksus hypogastricus inferior. 5

4) URETRA
Uretra Maskulina
Uretra maskulina panjangnya sekitar 8 inchi (20 cm) dan
terbentang dari collum vesicae urinaria sampai ostium uretra
eksternum pada glands penis. Uretra maskulina dibagi menjadi tiga
bagian yaitu:
1. Uretra pars prostatica
Uretra pars prostatica mempunyai panjang kurang lebih 3cm
dan berasal dari collum vesicae. Uretra pars prostaatica berjalan
dari basis prostatae, selanjutnya di apex prostatae diteruskan
sebagai uretra pars membranacea. Uretra pars prostatica
merupakan bagian yang paling lebar dan berdiameter paling
lebar dari seluruh bagian uretra.
2. Uretra pars membranacea
Memiliki panjang kurang lebih 1,25 cm dan terletak dalam
diafragma urogenital serta dikelilingi oleh musculus spingter
uretrae.
3. Uretra pars spongiosa
Panjangnya sekitar 15,75 cm dan dibungkus di dalam bulbus
dan corpus spongiosum penis. 5
Uretra Feminina
Panjang uretra feminine kurang lebih 3,8 cm. uretra terbentang dari
collum vesicae sampai ostium uretra eksternum yang bermuara ke
vestibulum sekitar 2,5 cm distal dari clitoris. Uretra menembus
musculus spingter uretra dan terletak tepat di depan vagina.

Histology Sistem Urinarius


1) GINJAL
Ginjal memiliki korteks di luar dan medulla pada bagian dalam.
Medulla ginjal terdiri atas 8-15 struktur berbentuk kerucut yang
disebut piramida ginjal, yang dipisahkan oleh penjuluran korteks yang
disebut columna renalis. Setiap piramida medulla ditambah jaringan
korteks di dasarnya dan di sepanjang sisinya membentuk lobus ginjal.
Setiap ginjal terdiri atas 1-1,4 juta unit fungsional yang disebut
nefron. Cabang utama setiap nefron adalah:
Korpuskel ginjal, yaitu pelebaran bagian awal korteks.
Tubulus kontortus proksimal, yang terutama berada di korteks.
Bagian tipis dan tebal gelung nefron (ansa Henle) yang
menurun ke dalam medulla, dan menanjak kembali ke korteks.
Tubulus kontortus distal.
Tubulus colligens
Tubulus colligens dari sejumlah nefron berkonvergensi ke dalam
ductus colligens yang mengangkut urin ke calyx dan ureter. Nefron
korteks berada hampir sepenuhnya di korteks sementara nefron
jukstamedular di dekat medulla memiliki gelung panjang di medulla.
1. Korpuskel ginjal
Pada bagian awal setiap nefron terdapat sebuah korpuskel
ginjal yang mengandung seberkas kapiler, glomerulus dan
dikelilingi oleh simpai epitel berdinding ganda yang disebut
simpai (Bowman) glomerular. Simpai Bowman terdiri dari
lapisan internal (lapisan visceral) yang menyelubungi kapiler
glomerulus dan lapisan parietal yang membentuk permukaan
luar simpai Bowman. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat
ruang kapsular atau perkemihan yang menampung cairan yang
di saring melalui dinding kapiler dan lapisan visceral. Pada
korpuskel ginjal memiliki kutub vascular, tempat masuknya
arteriol aferen dan keluarnya arteriol eferen, serta memiliki
kutub tubular, tempat tubulus kontortus proksimal berasal.
Lapisan parietal simpai glomerular terdiri atas selapis epitel
squamosa yang ditunjang lamina basal dan selapis tipis serat
reticular di bagian luar. Di kutub tubular, epitelnya berubah
menjadi epitel selapis kuboid yang menjadi ciri tubulus
proksimal.
Selama perkembangan embrional, epitel selapis pada
lapisan parietal relative tidak mengalami perubahan, sedangkan
lapisan visceral sangat termodifikasi. Sel-sel lapisan visceral ini
yaitu podosit, memiliki badan sel yang menjulurkan beberapa
prosesus primer. Setiap prosesus primer menjulurkan banyak
prosesus sekunder, atau pedikel yang memeluk bagian kapiler
glomerulus. Bahan sel podosit tidak berkontak dengan
membrane basal kapiler, tetapi setiap pedikel berkontak
langsung dengan struktur tersebut.
Pedikel ini saling mengunci dan membentuk celah-celah
memanjang selebar lebih kurang 30-40 nm yang berfungsi
sebagai celah filtrasi. Suatu diafragma semipermiabel tipis
dengan ketebalan seragam merentangi prosesus yang
berdekatan dan menjembatani celah-celah filtrasi.
Di antara sel-sel endotel bertingkap dari kapiler glomerulus
dan podosit yang menutupi bagian luarnya, terdapat membrane
basal glomerular. Membrane basal ini terbentuk dari penyatuan
lamina basal yang dihasilkan kapiler dan podosit dan
dipertahankan oleh podosit.
Selain sel endotel kapiler dan podosit, korpuskel ginjal
juga mengandung sel mesangial yang menyerupai perisit dalam
menghasilkan komponen suatu selubung lamina eksternal. Sel
mesangial sulit dikenali.
2. Tubulus Kontortus Proksimal

Keterangan: P = tubulus kontortus proksimal


D = tubulus kontortus distal
Di kutub tubular korpuskel ginjal, epitel skuamosa lapisan
parietal simpai Bowman berhubungan langsung dengan epitel
kuboid tubulus kontortus proksimal. Sel-sel tubulus proksimal
memiliki sitoplasma yang asidofilik yang di sebabkan adanya
sejumlah besar mitokondria. Apeks sel memiliki banyak
mikrovili panjang, yang membentuk suatu brush border untuk
reabsorpsi.
Secara ultrastruktural, sitoplasma apical sel-sel ini memiliki
banyak lekuk dan vesikel di dekat dasar mikrovili, yang
mengindikasikan pinositosis aktif.
3. Gelung Nefron (Ansa Henle)

Ansa henle

Tubulus kontortus proksimal berlanjut sebagai tubulus lurus


yang lebih pendek dan memasuki medulla serta menjadi gelung
nefron. Gelung ini merupakan struktur berbentuk U dengan
segmen desendens dan segmen asendens, keduanya terdiri atas
selapis epitel kuboid di dekat korrteks, tetapi berupa epitel
skuamosa di dalam medulla. Di medulla luar, bagian lurus
tubulus proksimal dengan diameter luar sekitar 60 mikrometer,
tiba-tiba menyempit sampai sekitar 12 mikrometer dan
berlanjut sebagai segmen tipis desendens gelung nefron.
Lumen pada segmen nefron ini lebar dan dindingnya terdiri
atas sel epitel skuamosa dengan inti yang hanya sedikit
menonjol ke dalam lumen.
Kira-kira sepertujuh dari semua nefron terletak dekat
perbatasan korteks-medulla sehingga disebut nefron
jukstamedular. Nefron jukstamedular biasanya memiliki gelung
yang sangat panjang dan masuk jauh ke dalam medulla dengan
segmen lurus tebal di proksimal, segmen desendens dan
asendens tipis yang panjang, dan segmen asendens tebal yang
panjang.
4. Tubulus Kontortus Distal dan Apparatus Juxtaglomerularis

Segmen tebal asendens gelung nefron menjadi lurus saat


memasuki korteks, dan kemudian berkelok-kelok sebagai
tubulus kontortus distal. Selapis sel kuboid tubulus tersebut
berbeda dengan sel kuboid tubulus kontortus proksimal karena
lebih kecil dan tidak memiliki brush border. Karena sel-sel
tubulus distal lebih gepeng dan lebih kecil daripada sel tubulus
proksimal, tampak lebih banyak inti di dinding tubulus distal
ketimbang di dinding tubulus proksimal. Sel-sel tubulus
kontortus distal banyak mengalami invaginasi membrane basal
dan mitokondria terkait yang serupa dengan mitokondria
tubulus proksimal yang menunjukkan fungsi transport ionnya.
Bagian awal tubulus distal yang lurus berkontak dengan
kutub vascular di korpuskel ginjal nefron induknya dan
membentuk struktur khusus yaitu apparatus juxtaglomerularis.
Di tempat kontak arteriol, sel-sel di tubulus distal menjadi
kolumnar dan lebih erat terkemas dengan inti apical, kompleks
golgi basal, dan sistem kanal dan pengangkut ion yang lebih
rumit dan bervariasi. Bagian tebal dinding tubulus ini disebut
macula densa. bersebelahan dengan macula densa, tunika
media arteriol aferen juga termodiifikasi. Sel otot polos
membentuk suatu fenotif sekretorik dengan inti yang lebih
bulat, RE kasar, komples Golgii dan granula zimogen dan
disebut sel granular juxtaglomerular. Di kutub vascular juga
terdapat sel lacis.
5. Tubulus dan Ductus Colligens

Duktus
colligens

Urin mengalir dari tubulus kontortus distal ke tubulus


colligens, bagian terakhir setiap nefron yang saling bergabung
membentuk ductus colligens yang lebih besar dan lebih lurus,
berjalan di tepi piramida ginjal dan bermuara ke dalam calyx
minor. Tubulus colligens dilapisi epitel kubpid dan berdiameter
sekitar 40 mikrometer. Sel-sel ductus colligens yang
berkonvergensi berbentuk kolumnar dan berdiameter ductus
mencapai 200 mikrometer di dekat puncak piramida medulla
ginjal.
Di sepanjang perjalanannya, tubulus dan ductus colligens
terutama terdiri atas epitheliocytus prinpalis (principal cell)
yang terpulas lemah dengan sedikit organel dan mikrovili.
Batas antarsel tersebut jelas terlihat dengan mikroskop cahaya.
Sel yang tersebar di antara epitheliocytus principalis adalah
epitheliocytus intercalates (intercalated cell) yang lebih gelap
dengan lebih banyak mitokondria yang membantu mengatur
keseimbangan asam basa dengan menyekresi H+ dan menyerap
HCO3-.

2) URETER

Terdiri atas tiga lapisan yaitu tunika lapisan mukosa, muskularis


dan tunika adventisia. Mukosa organ ini dilapisi oleh epitel
transisional. Pada lapisan muskularisnya, bagian 2/3 atas tersusun oleh
otot polos longitudinal pada bagian dalam dan sirkular pada bagian
luar. Sedangkan pada bagian 1/3 bawah diluar lapisan otot sirkular
terdapat lagi lapisan otot longitudinal. Pada tunika adventisia, terdiri
atas jaringan ikat longgar dan banyak ditemukan pembuluh darah,
saraf, dan pembuluh limfatik.
3) VESICA URINARIA (KANDUNG KEMIH)

Struktur histologis kandung kemih sama seperti pada ureter yaitu


terdiri atas 3 lapisan. Namum pada kandung kemih tunika mukosanya
dilapisi epitel transisional yang lebih tebal dibanding ureter. Pada
keadaan penuh, sel pada bagian permukaan menjadi datar. Lamina
propria kandung kemih dan jaringan ikat ireguler padat submukosa
banyak vaskularisasi. Lapisan muskularis terdiri atas tiga lapisan yang
tidak berbatas tegas, secara kolektif disebut otot detrusor. Ketiga
lapisan otot ini terlihat paling jelas di leher kandung kemih dekat
uretra.
4) URETRA

Sel epitel

Uretra merupakan suatu saluran yang membawa urin dari kandung


kemih ke luar. Mukosa uretra memiliki lipatan longitudinal yang besar,
yang memberikannya tampilan khusus dalam potongan melintang.
Pada pria, dua duktus untuk transport sperma selama ejakulasi
menyatukan uretra dengan kelenjar prostat. Uretra pria lebih panjang
dan terdiri dari tiga segmen, yaitu :
Uretra pars prostatica yang dilapisi oleh epitel transisional.
Uretra pars membranacea dilepisi oleh epitel silindris
bertingkat/bertingkat semu.
Uretra pars spongiosa dilapisi oleh epitel silindris
bertingkat dan silindris berlapis serta epitel berlapis gepeng
pada bagian distal.
Uretra wanita awalnya dilapisi oleh epitel transisional, kemudian
oleh epitel berlapis gepeng dan sejumlah area dengan epitel silindris
bertingkat. Bagian tengah uretra wanita di kelilingi oleh otot rangka
spingter uretra eksterna. 6
5. Penyebab urin bisa berwarna kuning

Warna kuning pada urine disebabkan karena adanya suatu zat yang
disebut urochrome (urobilinogen) yang merupakan turunan dari bilirubin.
Normalnya, zat tersebut memiliki warna bervariasi mulai dari kuning
pucat hingga amber tua. Warna urine sendiri tergantung dari konsentrasi
urochrome di urine, jika sedikit mengkonsumsi cairan maka warna urine
akan terlihat kuning tua, sebaliknya jika mengkonsumsi banyak cairan
maka warnanya menjadi kuning muda (terkadang bahkan terlihat bening).
Warna urine yang kuning muda juga dapat disebabkan karena
mengkonsumsi obat diuretik yang merangsang tubuh untuk mengeluarkan
banyak cairan melalui urine. Urochrome sendiri sebenarnya adalah produk
hasil rombakan dari sel darah merah yang telah mati yang sebelumnya
telah diproses di hati untuk mengalami proses detoksifikasi, baru
kemudian disaring oleh ginjal dan akhirnya keluar melalui urine sekaligus
berperan dalam memberi warna urine itu sendiri. Warna urine tidak hanya
dipengaruhi oleh urochrome, tetapi juga oleh makanan atau mungkin obat
yang kita konsumsi. Contoh saja ketika banyak mengkonsumsi jus wortel
maka urine akan berwarna oranye, jika mengkonsumsi Asparagus maka
warna urine kamu akan menjadi lebih cerah sebagaimana mengkonsumsi
vitamin-vitamin seperti vitamin B dan C. Obat-obatan seperti Rifamycin
dapat membuat urine menjadi berwarna merah darah, pasien yang minum
obat ini harus diberitahu kalau urine-nya akan berwarna merah darah,
kalau tidak dia akan berpikir kalau air seninya mengandung darah. Warna
urine juga merefleksikan kondisi kesehatan seseorang, sebagai contoh
seperti yang telah dikatakan di atas bahwa warna merah darah dalam urine
mengindikasikan bahwa orang tersebut menderita hematuria (urine
mengandung darah). 7
6. Hormone yang mempengaruhi produksi urin
Hormon yang mempengaruhi produksi urin adalah:
1) Norepinefrin dan epinefrin
Hormon ini dilepaskan dari medula adrenal. Hormon ini memberi
sedikit pengaruh pada hemodinamika ginjal, kecuali pada kondisi
ekstrim, seperti pada pendarahan hebat. Hormon ini memberikan
efek berupa konstriksi arteriol aferen dan eferen sehingga
menurunkan GFR dan RBF.
2) Endotelin
Hormon ini dihasilkan oleh sel endotel vaskuler ginjal atau
jaringan lain yang rusak. Jika pembuluh darah rusak, maka
endotelnya pun akan rusak dan melepaskan endotelin. Hormon ini
memiliki efek untuk vasokonstriktor kuat sehingga dapat
mencegah hilangnya darah. Efeknya terhadap ginjal adalah
menurunkan GFR.
3) Angiotensin II dan Aldosteron
Angiotensin II dapat merangsang sekresi hormon aldosteron oleh
korteks adrenal. Keduanya memainkan peranan penting dalam
mengatur reabsorpsi natrium oleh tublus ginjal. Bila asupan
natrium rendah, peningkatan kadar kedunya akan merangsang
reabsorpsi natrium oleh ginjal sehingga dapat mencegah
kehilangan natrium yang besar. Sebaliknya, dengan asupan natrium
yang tinggi, penurunan pembentukan kedua hormon ini
memungkinkan ginjal mengeluarkan natrium dalam jumlah besar.
4) Prostaglandin dan Bradikinin
Kedua hormon ini cenderung mengurangi efek vasokonstriktor
ginja akibat aktivitas saraf simpatis, sehingga meningkatkan GFR.
5) Antideuritik Hormon (ADH)/ Vasopresin
ADH berperan dalam pengaturan konsentrasi urin, sehingga juga
turut mengatur osmolaritas plasma dan konsenrasi natrium. Jika
osmolaritas plasma meningkat di atas normal (zat terlarut dalam
cairan tubuh terlaru pekat), kelenjar hipofisis posterior akan
terangsang untuk menyekresikan ADH. ADH akan meningkatkan
permeabilitas tubulus distal dan duktus koligentes terhada air
sehingga meningkatkan reabsorpsi air dan mengurangi volume
urin. Sebaliknya, jika terdapat kelebihan air di dalam tubuh
(osmolaritas cairan ekstrasel menurun), sekresi ADH akan
dikurangi. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya permeablitas
tubulus distal & duktus koligentes terhadap air sehingga urin
menjadi encer. 8

7. Proses pembentukan urin


Darah yang mengalir ke ginjal normalnya sekitar 22% dari curah jantung
atau sekitar 1100ml/menit. Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum
dan kemudian bercabang-cabang secara progresif membentuk arteri
interlobaris, arteri arkuata, arteri interlobularis dan arteriol aferen yang
menuju ke kapiler glomerulus, tempat sejumlah besar cairan dan zat
terlarut (kecuali protein plasma) difiltrasi untuk pembentukan urin.
1) Filtrasi Glomerulus

Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan


melalui kapiler glomerulus ke dalam kapsula bowman. Kapiler
glomerulus relative impermeable terhadap protein, sehingga cairan
cairan hasil filtrasi (filtrate glomerulus) pada dasarnya bebas protein
dan tidak mengandung elemen selular, termasuk sel darah merah. 1

Cairan yang difiltrasi dari glomerulus ke dalam kapsul Bowman


harus melewati tiga lapisan berikut yang membentuk membrane
glomerulus, yaitu : (1) dinding kapiler glomerulus yang terdiri dari
satu lapis sel endotel gepeng. Lapisan ini memiliki banyak pori besar
yang menyebabkan 100 kali lebih permeable terhadap air dan zat
terlarut daripada kapiler di bagian lain tubuh. (2) membrane basal yang
merupakan lapisan gelatinosa aselular (tidak mengandung sel) yang
terbentuk dari kolagen dan glikoprotein yang tersisip di antara
glomerulus dan kapsula Bowman. Kolagen menghasilkan kekuatan
structural, dan glikoprotein menghambat filtrasi protein plasma yang
kecil. (3) lapisan dalam kapsul Bowman yang merupakan lapisan yang
terdiri dari podosit, sel mirip gurita yang mengelilingi glomerulus.
Setiap podosit memiliki banyak foot process yang memanjang yang
saling menjalin dengan foot process podosit sekitar, seperti anda
menjalinkan jari-jari tangan anda ketika anda memegang bola dengan
kedua tangan. 2

Konsentrasi isi filtrart glomerulus lainnya, termasuk sebagian besar


garam dan molekul organic, serupa dengan konsentrasinya dalam
plasma. Pengecualian terhadap keadaan umum ini ialah beberapa zat
dengan berat molekul yang ringan, seperti kalsium dan asam lemak,
yang tidak difiltrasi secara bebas karena zat tersebut sebagian terikat
pada protein plasma. Hampir setengah dari kalsium plasma dan
sebagian asam lemak plasma terikat pada protein, dan bagian yang
terikat ini tidak difiltrasi dari kapiler glomerulus. 1

2) Reabsorbsi Tubulus

Selain zat sisa dan kelebihan bahan yang harus dikeluarkan oleh
tubuh, cairan filtrasi juga mengandung nutrient, elektrolit, dan bahan
lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Bahan-bahan esensial yang terfiltrasi
dikembalikan ke dalam tubuh melalui reabsorpsi tubulus.

Dari 125 ml/menit cairan yang terfiltrasi, biasanya 124 ml/menit


direabsorbsi. Tubulus biasanya mereabsorpsi 99% dari H2O yang
terfiltrasi, 100% gula yang terfiltrasi dan 99,5% garam yang terfiltrasi.
Reabsorpsi tubulus melibatkan transpor transepitel, berikut
tahapannya:

Tahap pertama, bahan harus meninggalkan cairan tubulus


dengan melewati membrane luminal sel tubulus.
Tahap kedua, bahan harus melewati sitosol dari satu sisi sel
tubulus ke sisi lainnya.
Tahap ketiga, bahan harus melewati membrane basolateral
sel tubulus untuk masuk ke cairan interstisium.
Tahap keempat, bahan harus berdifusi melalui cairan
interstisium.
Tahap kelima, bahan harus menembus dinding kapiler
untuk masuk ke plasma darah.

Reabsorpsi tubulus adalah suatu proses yang sangat


selektif. Terdapat dua jenis reabsorpsi tubulus yaitu reabsorpsi
pasif dan reabsorpsi aktif, bergantung pada apakah diperlukan
pengeluaran energy local untuk mereabsorpsi bahan tertentu. Pada
reabsorpsi pasif, semua tahap dalam transpor transepitel tidak ada
pengeluaran energy pada perpindahan nettokimia atau osmotic.
Pada reabsorpsi aktif, dalam transport transepitel memerlukan
energy karena melawan gradient elekrokimia. Bahan yang secara
aktif direabsorpsi bersifat penting bagi tubuh, misalnya glukosa,
asam amino, dan nutrient organic lainnya, serta Na+ dan elektrolit
lain seperti PO43-. 2,9
Tabel tampat dan zat yang direabsorpsi

Tempat Zat yang direabsorpsi


Glukosa, asam amino, ion-
Tubulus kontortus proksimal
ion organic, air.

Lengkung henle Ion natrium, air

Tubulus kontortus distal Ion natrium, air

Duktus kolektivus Ion natrium, urea, air

3) Sekresi Tubulus
Seperti reabsorpsi tubulus, sekresi tubulus melibatkan transport
transepitel, tetapi langkah-langkahnya dibalik. Sekresi tubulus
adalah pemindahan diskret bahan dari kapiler peritubulus ke dalam
lumen tubulus, menjadi mekanisme pelengkap yang meningkatkan
eliminasi bahan-bahan dari dalam tubuh. Bahan-bahan penting
yang disekresikan oleh tubulus adalah ion hydrogen (H+), ion
kalium (K+), serta anion dan kation organic, yang banyak di
antaranya merupakan senyawa yang asing bagi tubuh. 2

8. Penyebab rasa tidak nyaman pada area suprapubik ketika menahan kemih
Vesika urinaria adalah kantong berotot yang dapat mengempis, terletak 3
sampai 4 cm dibelakang simpisis pubis (tulang kemaluan). Vesika urinaria
mempunyai 2 fungsi, yaitu :
a. Sebagai tempat penyimpanan urin sebelum meninggalkan tubuh.
b. Dibantu uretra, vesika urinaria berfungsi mendorong urin keluar tubuh
Retensi urin adalah penumpukan urine dalam vesika urinaria dan
ketidakmampuan vesika urinaria mengosongkan isinya, sehingga
menyebabkan overdistensi dari vesika urinaria. Kandungan urine normal
dalam vesika urinaria sebesar 250-450 ml, sampai batas jumlah tersebut
urine merangsang refleks untuk miksi. Karena vesika urinaria terletak di
daerah suprapubik, sehingga ketika vesika urinaria terisi penuh ia akan
meregang sehingga menyebabkan rasa nyeri atau rasa tidak nyaman di
daerah suprapubik tersebut.10

9. Komponen pada urin normal

Komposisi zat dalam urine bervariasi tergantung jenis makanan serta


air yang diminumnya. Urine normal berwarna jernih transparan, sedang
warna urine kuning muda berasal dari zat warna empedu (bilirubin darn
biliverdin). Urin normal pada manusia terdiri dari air, urea, asam urat,
amoniak, kreatinin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida, garam-
garam terutama garam dapur,dan zat-zat berlebihan dalam darah misalnya
vitamin c dan obat-obatan. Semua cairan dan materi pembentuk urin
tersebut berasal dari darah atau cairan intestinal. Komposisi urin berubah
sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh,
missal glukosa diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.
(Kus Irianto, Kusno Waluyo, 2004). 11

KOMPONEN JUMLAH
Asam urat 1,2 gr
Ion bikarbonat 1,2 gr
Kreatinin 2,7 gr
Ion potassium 3,2 gr
Ion sodium 4,1 gr
Ion khlor 6,6 gr
Urea 25,5 gr
10. Mekanisme menahan kemih

Sebanarnya mekanisme memahan kemih ini merupakan control


volunter berkemih di mana yang bersangkutan dapat dengan sengaja
mencegah pengosongan kandung kemih dengan mengencangkan spinter
uretra eksternus dan diafragma pelvis. Impuls eksitatorik volunteer dari
korteks serebri mengalahkan sinyal inhibitorik refleks dan reseptor regang
ke neuron-neuron motorik yang terlibat sehingga otot-otot spingter uretra
eksternus tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang di keluarkan.

Namun, berkemih tidak bisa ditahan selamanya. Karena kandung


kemih terus terisi maka sinyal refleks dari reseptor regang meningkat
seiring waktu. Akhirnya sinyal inhibitorik refleks ke neuron motorik
spingter eksternus menjadi sedemikian kuat sehingga tidak dapat lagi
diatasi oleh sinyal eksitatorik volunteer sehingga spingter melemas dan
kandung kemih secara tak terkontrol mengosongkan isinya.

Ada sebuah kasus yaitu Inkontinensia urin, atau ketidakmampuan


mencegah keluarnya urin, terjadi ketika jalur-jalur desendens di medulla
spinalis yang memerantarai control volunteer spingter eksternus dan
diafragma pelvis terganggu, misalnya pada cedera medulla spinalis.
Karena komponen-komponen lengkung refleks berkemih masih utuh di
medulla spinalis bawah, maka pengosongan kandung kemih diatur oleh
refleks spinal yang tidak dapat dikendalikan, seperti pada bayi. Derajat
inkontinensia yang lebih ringan yang ditandai oleh keluarnya urin ketika
tekanan kandung kemih dengan mendadak meningkat, seperti ketika batuk
atau bersin, dapat terjadi akibat gangguan fungsi spingter. Hal ini sering
terjadi pada wanita yang pernah melahirkan atau pada pria yang
spingternya mengalami cedera sewaktu pembedahan prostat. 2
11. Otot- otot yang berperan dalam perkemihan
1) Muskulus Detrusor pada kandung kemih
Kandung kemih merupakan suatu organ yang berfungsi untuk
menampung urin sebelum di keluarkan melalui uretra. Di dalam
kandung kamih terdapat susunan otot polos yang berlapis-lapis.
Seperti karakteristik oto polos pada umumnya, otot kandung kemih
dapat teregang sedemikian besar tanpa menyebabkan peningkatan
tegangan dinding kandung kemih. Otot pada kandung kemih ini
banyak mengandung serat simpatis, yang stimulasinya
menyebabkan kontraksi kandung kemih.
2) Muskulus Sfingter Uretra Internus dan Eksternus
Sfingter adalah cincin otot yang ketika berkontraksi, menutup
saluran melalui suatu lubang. Spingter uretra internus terdiri atas
otot polos. Ketika kandung kemih melemas, susunan anatomic
region sfingter uretra internus menutup pintu keluar kandung
kemih. Di bagian lebih bawah saluran keluar, uretra dilingkari oleh
satu lapisan otot rangka, yaitu sfingter uretra eksternus. Sfingter ini
diperkuat oleh diafragma pelvis, suatu lembaran otot rangka yang
membentuk dasar panggul dan membantu menunjang organ-organ
panggul. Dalam keadaan normal, ketika kandung kemih melemas
dan terisi, baik sfingter internus maupun eksternus menutup dan
menjaga agar urin tidak menetes. 2

12. Penyebab warna urin dapat berbeda-beda

Warna urin yang di keluarkan tergantung dari konsentrasi dan sifat


bahan yang larut dalam urin. Warna urin dapat berubah karena: obat-
obatan, makanan, serta penyakit yang diderita. Urin normal berwarna putih
jernih, kuning muda atau kuning. Warna urin berhubungan dengan
derasnya diueresis (banyak kencing), lebih besar dieresis warna urin lebih
condong putih jernih. Warna kuning urin normal disebabkan antara lain
oleh urochrom dan urobilin. Pada keadaan dehidrasi atau demam, warna
urin lebih kuning dan pekat dari biasanya. (Gandasoebrata,2006)

Adanya infeksi traktus urinarius urin akan berwarna putih seperti susu
yang disebabkan oleh bakteri, lemak dan adanya silinder. Warna urin
patologis lain adalah:
1) Warna kuning coklat (seperti teh) penyebabnya adalah bilirubin.
2) Warna merah coklat penyebabnya hemoglobinuria dan popyrin
3) Warna merah dengan kabut coklat penyebabnya darah dengan
pigmen-pigmen darah
4) Warna coklat hitam penyebabnya melanin dan warna hitam
disebabkan oleh pengaruh obat-obatan. (Kee, Joyce LeFever,
1997). 12

13. Organ-organ yang berada pada area suprapubik


Area suprapubik/ region hipogastrik merupakan area di atas tulang
kemaluan. Organ-organ yang berada pada area suprapubik adalah vesica
urinaria dan ileum. 13

14. Mekanisme mengapa saat udara dingin urin banyak dihasilkan


Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air, maka pada saat cuaca
panas, tubuh berkeringat untuk menstabilkan suhu tubuh dan juga menjaga
cairan dalam tubuh agar tetap normal. Dalam cuaca atau lingkungan
sekitar yang dingin, tubuh manusia cenderung untuk tidak mengeluarkan
banyak keringat. Padahal tubuh membutuhkan jalan keluar cairan lain agar
jumlah cairan dalam tubuh tetap normal, salah satu caranya adalah dengan
lebih sering mengeluarkan cairan melalui urin.
Ketika berada dalam lingkungan atau udara yang dingin tubuh tetap
berusaha menstabilkan suhunya, sehingga manusia harus mengeluarkan
kelebihan air dalam tubuh. Ketika cuaca dingin, tubuh bereaksi
berbeda terhadap produksi urin. Paparan dingin menyebabkan penurunan
aliran darah ke permukaan kulit yang menyebabkan penyempitan
pembuluh darah sehingga menghambat keluarnya cairan dalam tubuh dari
hasil uap pembakaran energi, sehingga secara tidak langsung tubuh
merespon dengan melepaskan cairannya melalui urin dan menjadikan
manusia lebih sering buang air kecil. Saat cuaca dingin, alat eksresi ginjal
lebih aktif mengeluarkan sisa metabolisme berupa air, garam mineral, dan
urea sehingga membuat kantong kemih lebih cepat penuh. Kantong kemih
yang sudah penuh akan mendesak katup uretra untuk mengeluarkan air
seni.
Frekuensi buang air kecil pada saat cuaca dingin sangat berbeda pada
setiap orang. Namun pada umumnya, wanita cenderung lebih dominan dari
pada pria dalam hal ini, ini disebabkan saluran kemih wanita lebih pendek
dari saluran kemih laki-laki. Pria cenderung memakan waktu lebih lama
untuk memenuhi kandung kemihnya sehingga mereka lebih jarang buang
air kecil.
Meskipun begitu, intensitas buang air kecil yang meningkat selama
udara dingin adalah suatu hal yang wajar. Karena ini adalah mekanisme
pertahanan tubuh terhadap udara dingin itu sendiri untuk menjaga suhu
tubuh tetap stabil. 14

15. Mengapa setelah meminum segelas air jeruk, B langsung ingin berkemih.
Sedangkan waktu berolahraga dan meminum segelas air mineral, B tidak
ingin berkemih?
Seperti kita tahu, bahwa cairan yang masuk dalam tubuh akan
dikeluarkan kembali melalui organ tubuh untuk proses keseimbangan.
Tubuh manusia membutuhkan keseimbangan antara pemasukan dan
pengeluaran. Cairan dimasukkan melalui mulut, atau secara parenteral dan
cairan meninggalkan tubuh dari saluran pencernaan, paru paru, kulit, dan
ginjal.
1) Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh
ginjal, kulit paru, dan gastrointestinal.
a. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang memiliki peran cukup besar
dalam mengatur kebutuhan cairan dan elektrolit. Hal ini
terlibat pada fungsi ginjal, yaitu sebagai pengatur air,
pengatur konsentrasi garam dalam dara, pengatur
keseimbangan asam basa darah, dan ekskresi bahan
buangan atau kelebihan garam.
Proses pengaturan kebutuhan kaseimbangan air ini diawali
oleh kemampuan bagian ginjal, seperti glomerulus, dalam
menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah
mengandung 500 cc plasma yang mengalir melalui
glomerulus, 10 persennya disaring keluar. Cairan yang
tersaring (filtrat glomerulus), kemudian mengalir melaui
tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua bahan yang
dibutuhkan. Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat
dipegruhi okleh ADH dan aldosteron rata-rata 1
ml/kg/bb/jam.
b. Paru-Paru
Organ paru berperan mengeluarkan cairan dengan
menghasilkan insensible water loss kurang lebih 400
ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respons
akibat perubahan upaya kemampuan bernapas.
c. Kulit
Kulit merupakan bagian penting pengaturan cairan yang
terkait dengan proses pengaturan panas. Proses ini diatur
oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vaso motorik
dengan kemampuan mengendalikan arteriol kutan dengan
cara vasodilatasi dan vasokonstriksi. Proses pelepasan
panas dapat dilakukan dengan cara penguapan panas.
Jumlah keringat yang dikeluarkan tergantung pada
banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah
dalam kulit. Proses pelepasan panas lainnya dapat
dilakukan melaui cara pemancaran panas keudara sekitar
konduksi (yaitu, pengalihan panas kebenda yang disentuh),
dan konveksi (yaitu, pengaliran udara panas kepermukaan
yang lebih dingin). Keringat merupakan sekresi aktif dari
kelenjar keringat dibawah pengendalian saraf simpatis.
Melalui kelenjar keringat ini suhu dapat diturunkan dengan
jumlah air yang dapat dilepaskan, kurang lebih setengah
liter sehari. Perangsangan kelenjar keringat yang dihasilkan
dapat diperoleh melalui aktivitas otot, suhu lingkungan ,
dan kondisi sushu tubuh yang panas.
d. Gastrointestinal
Gastrointestinal merupakan organ saluran pencernaan yang
berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses
penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal,
cairan yang hilang dalam sistem ini sekitar 100-200
ml/hari. Hasil-hasil pengeluaran cairan adalah:
1. Urin
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan
melalui vesika urinaria (kandung kemih). Proses ini
merupakanproses pengeluaran cairan tubuh yang
utama. Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus
dan dalam tubulus ginjal untuk kemudian diserap
kembali ke dalam aliran darah. Hasil ekskresi terakhir
proses ini adalah urine. Jika terjadi penurunan volume
dalam sirkulasi darah, reseptor atrium jantung kiri dan
kanan akan mengirimkan impuls kembali nke ginjal
dan memproduksi ADH sehingga memengaruhi
pengeluaran urine.
2. Keringat
Keringat terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat
pengaruh suhu yang panas. Keringat banyak
mengandung garam, urea, asam laktat, dan ion kalium.
Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan
memengaruhi kadar natrium.
Jadi, kondisi meminum air mineral yang banyak
namun diiringi langsung oleh olahraga akan
mempercepat regulasi cairan didalam tubuh lewat kulit
untuk mengeluarkan keringat. Sedangkan jika kita
meminum air namun tanpa melakukan aktivitas fisik
yang memicu timbulnya regulasi cairan lewat keringat,
makan akan diteruskan untuk dikeluarka. Lewat traktus
urinarius, sehingga vesica urinaria cepat penuh dan
menimbulkan rangsang untuk segera dikeluarkan,
15
sehingga timbullah rasa ingin segera miksi.
Mind Mapping

Seorang Mahasiswa
bernama B

Haus

Merasa Ingin Menahan Kemih


Minum Air Jeruk
Berkemih

Mekanisme Otot-otot yang Hormon yang Tidak Nyaman


Kemih berperan
ber pengaruh
di suprapubik

Berkemih

Urin berwarna Kuning


DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . EGC : Jakarta; 2006.

2. Sherwood, Lauralee..fisiologi manusia. EGC : Jakarta; 2011.

3. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/123/jtptunimus-gdl-soesilowat-6105-

3-babii.pdf Diakses pada tanggal 6 Maret 2017 pukul 15:00 WIB.

4. http://dokumen.tips/documents/anatomi-sistim-saluran-kemih.html

Diakses pada tanggal 6 Maret 2017 pukul 15:35 WIB.

5. Snell, Richard S. Anatotomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. EGC :

Jakarta; 2006.

6. Mescher, Anthony L. Histologi Dasar Junqueira Teks dan Atlas. EGC:

Jakarta; 2011.

7. Ganong, W.F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta; 2005.

8. www.matrapendidikan.com Diakses pada tanggal 6 Maret 2017 pukul

17:00 WIB.

9. http://www.softilmu.com/2015/01/proses-pembentukan-urin-ginjal-

adalah.html Diakses pada tanggal 6 Maret 2016 pukul 14:15 WIB.

10. Watson, Roger. Anatomi dan Fisiologi. EGC : Jakarta; 2002.

11. www.jurnalhealthyscience.com Diakses pada tanggal 5 Maret 2017 pukul

19:20 WIB.

12. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/114/jtptunimus-gdl-langgengse-

5657-2-babii.pdf Diakses pada tanggal 6 Maret 2017 pukul 15:15 WIB.

13. http://fk.unand.ac.id/images/berita/2015/Blok/Penuntun_KK_Blok_1.4.pdf

Diakses pada tanggal 5 Maret 2017 pukul 9:30 WIB.


14. https://www.google.com/amp/s/gulangguling.com/2016/02/10/mengapa-

kita-lebih-sering-buang-air-kecil-ketika-dingin/amp/?espv=1 Diakses pada

tanggal 5 Maret 2017 pukul 8:00 WIB.

15. jurnal.fk.unand.ac.id Diakses pada tanggal 5 Maret 2017 pukul 13:20

WIB.