Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma abdomen adalah kerusakan organ abdomen (lambung, usus halus,
pankreas, kolon, hepar, limpa, ginjal) yang disebabkan oleh trauma tembus,
biasanya tikaman atau tembakan; atau trauma tumpul akibat kecelakaan,
pukulan langsung atau jatuh. Trauma abdomen merupakan salah satu dampak
terbesar dari kecelakaan lalu lintas yang semakin meningkat dari tahun ke
tahun. Cedera pada trauma abdomen dapat terjadi akibat tenaga dari luar
berupa benturan, perlambatan (deselerasi), dan kompresi. Akibat cedera ini
dapat berupa memar, luka jaringan lunak, cedera muskuloskeletal, kerusakan
organ dan ruptur pada berbagai organ. Ruptur adalah robek, atau pecahnya
suatu jaringan secara paksa yang dapat terjadi akibat rudapaksa tumpul
maupun tajam
Rongga abdomen memuat baik organ-organ yang padat maupun yang
berongga. Trauma tumpul disebabkan adanya deselerasi cepat dan adanya
organ-organ yang tidak mempunyai kelenturan (noncompliant organ) seperti
hati, limpa, pankreas, ginjal, atau pembuluh darah dapat menimbulkan
kehilangan darah substansional ke dalam rongga peritoneum. Salah satu
penyebab tingginya angka kematian pada pasien trauma tumpul abdomen
adalah perdarahan pada organ hepar yang umumnya disebabkan oleh karena
kecelakaan lalu lintas. Sebanyak 25% kasus trauma hepar merupakan trauma
tumpul, sedangkan lebih dari 70% merupakan trauma tajam akibat luka
tusukan atau tembakan. Meskipun persentase trauma tumpul hepar lebih
sedikit, namun kerusakan hepar bertanggung jawab lebih dari 50% kematian
akibat trauma tumpul abdomen. Hepar adalah organ terbesar pada rongga
abdomen yang letaknya terlindung dengan baik, namun organ tersebut sering
mengalami cedera selain organ lien. Cedera organ hepar paling utama
disebabkan karena ukurannya, lokasinya dan kapsulnya yang tipis Glisson
capsule . Cedera organ hepar umumnya cedera akibat trauma tumpul.
( Carmen,et al., 2013 )

1
Penanganan trauma hepar dalam 30 tahun terakhir telah mengalami
banyak perkembangan seiring dengan banyaknya penelitian dan literatur
dalam penanganan trauma hepar. Salah satu studi retrospective yang pernah
dilakukan oleh Carmen pada tahun 1992-2008 di kota Barcelona ,Spanyol
pada 143 pasien dengan diagnosis trauma hepar, 87 pasien adalah konservatif
(74%) sedangkan 56 pasien dilakukan tindakan operasi ( 26% ). Penanganan
pasien konservatif dengan trauma hepar harus memenuhi kriteria yaitu
hemodinamik stabil dan pasien respons dengan pemberian cairan resusitasi,
pemberian tranfusi darah tidak melebihi dari 2-3 kantong, tidak adanya tanda-
tanda akut abdomen pada pemeriksaan fisik, tidak didapatkan cedera organ
abdomen pada pemeriksaan radiologi ( USG ataupun CT Scan Abdomen).
( Bernardo,et al.,2010 ).
Salah satu metode yang digunakan dalam mendiagnosis trauma abdomen
adalah USG abdomen. Metode ini dapat digunakan pada pasien dewasa dan
anakanak. Pemeriksaan Focused Abdominal Ultrasound for Trauma (FAST)
dapat mendeteksi adanya caairan bebas pada rongga intraperitoneal dalam hal
ini darah dengan sensitivitas 63% menjadi 99% pada dewasa. ( Fenandez, L,
et al., 2009 ). Sedangkan pada pasien anak sensitifitas mulai 56% menjadi
93% dan spesifisitas 79% menjadi 97% ( Soudack, M, et al., 2010 ). Jika
dalam pemeriksaan FAST ditemukan cairan bebas maka akan segera
dilakukan laparatomi eksplorasi.
Pada hakekatnya, pengenalan, penilaian cepat, dan tatalaksana awal yang
baik pada trauma tumpu abdomen sangat diperlukan karena hal ini
menentukan outcome dan tatalaksana lanjutan terbaik yang dapatdilakukan
untuk mencegah terjadinya komplikasi atau kematian yang tidak diharapkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan yang dibahas
dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pegertian rupture hepar?
2. Apa saja klasifikasi rupture hepar?
3. Bagaimanakah etiologi rupture hepar?
4. Apa saja tanda dan gejala/ manifestasi klinis rupture hepar?
5. Bagaimanakah patofisiologi rupture hepar?
6. Apa saja pemeriksaa diagnostic rupture hepar?
7. Bagaimanakah penatalaksanaan medis rupture hepar?

2
8. Apa aja yang menjadi komplikasi rupture hepar?
9. Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien rupture
hepar?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka dapat
diketahui tujuan penulisan sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan rupture hepar
2. Untuk mengetahui klasifikasi rupture hepar
3. Untuk mengetahui etiologi rupture hepar
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala/ manifestasi klinis rupture hepar
5. Untuk memahami patofisiologi rupture hepar
6. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic rupture hepar
7. Untuk memahami penatalaksanaan medis rupture hepar
8. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi komplikasi rupture hepar
9. Untuk memahami konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien
rupture hepar

D. Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan diatas, maka penulisan makalah ini diharapkan dapat
bermanfaat, sebagai berikut:
1. Manfaat Umum
Memberikan sumbangan pemikiran untuk memperkaya wawasan dan
pengetahuan tentang materi.

2. Manfaat Khusus
a. Bagi pembaca
Makalah ini diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam
memahami materi yang di sajikan. Selain itu pembaca makalah ini
diharapkan mampu menerima semua materi yang disampaikan.
b. Bagi penulis
Dapat memperluas kaidah-kaidah pengetahuan serta sumber ajar
yang berguna dalam proses pembelajaran khususnya pada materi
asuhan keperawatan gawat darurat

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. ANATOMI DAN FSIOLOGIS HEPAR
Hepar merupakan organ lunak yang lentur dan tercetak oleh
struktur sekitarnya, hepar memiliki permukaan superior yang cembung
dan terletak di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri,
bagian bawah hepar berbentuk cekung dan merupakan atap dari ginjal
kanan, lambung, pankreas dan usus. Berat rata-rata hepar sekitar 1.500 gr
atau 2% berat badan orang dewasa normal.
Setiap lobus hepar terbagi menjadi struktur-struktur yang disebut
lobulus yang merupakan unit mikroskopis dan fungsional organ. Sikap
lobulus merupakan bagan heksagonal yang terdiri atas lempeng-lempeng

4
sel hepar berbentuk kubus tersusun radial mengelilingi vena sentralis
yang mengalirkan darah dari lobulus. Hepar manusia memiliki maksimal
100.000 lobulus. Diantara lempengan sel hepar terdapat kapiler kapiler
yang disebut sebagai sinusoid, yang merupakan cabang vena porta dan
arteria hepatika. Sejumlah 50% dari semua makrofag dalam hepar adalah
sel Kupffer, sehingga hepar merupakan salah satu organ penting dalam
pertahanan melawan infasi bakteri dan agen toksit.
Hepar mempunyai dua lobus utama yaitu lobus kanan yang dibagi
menjadi segmen anterior dan posterior oleh fisura segmentalis kanan dan
lobus kiri yang dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh
ligamentum falsiformis.

Gambar 1 : Anatomi Hepar

Hepar memiliki dua sumber suplai darah, saluran cerna dan limpa
melalui vena porta hepatika dan dari aorta melalui arteri hepatika. Sekitar
sepertiga darah yang masuk adalah darah arteri dan dua pertiganya adalah
vena dari vena porta. Volume total darah yang melewati hepar setiap menitnya
adalah 1.500 ml dan dialirkan melalui vena hepatika kanan dan kiri, yang
selanjutnya bermuara pada vena kava inferior. Vena porta bersifat unik karena
terletak di antara dua daerah kapiler yang satu terletak dalam hepar dan
lainnya dalam saluran cerna. Cabang-cabang terhalus arteria hepatika juga
mengalirkan darahnya ke dalam sinusoid, sehingga terjadi campuran darah
arteri dari arteria hepatika dan darah vena dari vena porta.

5
Gambar 2 : Vaskularisasi Hepar

LOKASI

Hepar merupakan kelenjar terbesar didalam tubuh, menempati


hampir seluruh regio hypochondrica dextra, sebagian besar epigastrium
dan seringkali meluas sampai ke regio hypochondrica sinistra sejauh linea
mammilaria.

Bentuknya seperti suatu pyramid bersisi tiga dengan basis


menunjuk ke kanan sedangkan apeks (puncak) nya ke kiri. Pada laki laki
dewasa beratnya 1400 1600 gram, perempuan 1200 1400 gram.ukuran
melintang (transversal) 20 22,5 cm, vertikal 15 17,5 cm sedangkan
ukuran dorsoventral yang paling besar adalah 10 - 12,5 cm.

PERMUKAAN HEPAR
1. Facies diaphragmatica (facies superior) hepar, ialah permukaan hepar
yang menghadap ke diaphragma, dibedakan atas empat bagian, yaitu
pars :
a. Anterior (pars ventralis)
b. Superior
c. Posterior
d. Dextra

Di sisi kanan, pars anterior dipisahkan oleh diaphragma dari costae


dan cartilage costae VI-X, sedangkan di sisi kiri dari costae dan
cartilago costae VII-VIII. Seluruhnya tertutup oleh peritoneum, kecuali
disepanjang perlekatannya dengan ligamentum falciforme hepatis.

6
Bagian dari pars superior dekat jantung mempunyai cekungan yang
dinamakan impresio (fossa) cardiaca. Di sebelah kanan, pars posterior
lebar dan tumpul sedangkan di sebelah kiri tajam. Agak ke kanan
bagian tengah terdapat sulcus venae cavae (ditempati oleh vena cava
inferior). Kira kira 2-3 cm ke sebelah kiri vena cava inferior terdapat
fissura ligamenta vensosi (ditempati oleh ligamentum venosum
arantii). Diantara keduanya terdapat lobus caudatus. Di sebelah kanan
vena cava inferior terdapat suatu daerah berbentuk segitiga yang
dinamakan impressio suprarenalis. Di sebelah kiri fissura ligamenti
venosi terdapat sulcus oesophagealis yang ditempati oleh antrum
cardiacum oesophagei. Pada pars dorsalis facies diaphragmaticae
terdapat suatu bagian yang tidak tertutup oleh peritoneum dan melekat
pada diaphragma melalui jaringan ikat longgar. Bagian tersebut
dinamakan area nuda hepatis (bare area of the liver) yang dibatasi oleh
partes superior et inferior ligamenti coronaria hepatis. Pars dextra
bersatu dengan ketiga bagian lainnya dari facies diaphragmatica.

2. Facies visceralis (fascia inferior) hepar


Cekung dan menghadap ke dorsokaudal kiri, ditandai oleh adanya
alur dan bekas alat yang berhubungan dengan hepar. Facies visceralis
tertutup peritoneum kecuali di tempat vesica fellea. Alur alur
memberikan gambaran seperti huruf H dan dibentuk oleh :
a. Fossae sagitalis dextra et sinistra (kaki huruf H)
b. Porta hepatis (bagian yang melintang)
Fossa sagitalis sinistra (fisura longitudinalis) memisahkan
lobus dextra dan lobus sinistra hepatis. Porta hepatis memotong tegak
lurus dan membaginya menjadi dua bagian, yaitu fissura ligamenti
teretis dan fossa duktus venosus. Fisura ligamenti teretis merupakan
bagian ventral, ditempati oleh ligamentum teres hepatis (embriologi
berasal dari V. umbilikalis) dan terdapat diantara lobus quadratus dan
lobus sinister hepatis. Fossa ductus venosus terdapat dibagian dorsal
diantara lobus caudatus an lobus sinistra hepar. Ditempati oleh
ligamentum venosum arantii (embriologik berasal dari ductus venosus
arantii).

7
Fossa sagitalis dextra dibagi oleh porta hepatis menjadi dua
bagian, yaitu fossa vesiva fellea (dibagian ventral, ditempati oleh
vesika fellea) dan fossa vena cava inferior (di bagian dorsal ditempati
oleh ven cava inferior).
Porta hepatis (fissura transversa) panjangnya kira kira 5 cm,
memisahkan lobus quadratus disebelah ventral serta lobus caudatus
dan proc. caudatus di dorsal. Porta hepatis ditempati oleh:
a. Vena porta
b. Arteri hepatica
c. Ductus choledochus
d. Nervus hepaticus
e. Ductus lymphaticus
Vena porta, arteri hepatica dan ductus choledochus terbungkus oleh
ligamentum hepato-duodenale. Biasanya hepar dianggap mempunyai
dua lobi, yaitu lobus dextra dan lobus sinistra hepar.
2. DEFINISI
Ruptur adalah robek atau putusnya otot yang diakibatan karena
trauma dimana dapat terjadi pada perut otot atau pada sambungan
musculotendineus. Secara umum rupture bisa terjadi secara langsung
maupun secara tidak langsung. Secara langsung bisa terjadi karena adanya
benturan benda keras yang menyebabkan robekan pada otot. Secara tidak
langsung, bisa terjadi karena penarikan otot yang melampaui batas
maksimal kemampuan otot untuk memanjang.
Hepar merupakan kelenjar terbesar didalam tubuh, yang terletak di
bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di bawah
diafragma. Hepar menempati hampir seluruh regio hypochondrica dextra,
sebagian besar epigastrium dan seringkali meluas sampai ke regio
hypochondrica sinistra sejauh linea mammilaria.
Ruptur hepar adalah robek atau putusnya otot pada hepar yang
diakibatan karena trauma dimana dapat terjadi pada perut otot atau pada
sambungan musculotendineus yang bisa terjadi secara langsung ataupun
tidak langsung.

3. KLASIFIKASI
a. Trauma Hepar menurut penyebabnya, dibagi atas :
1) Trauma Tembus : yaitu dengan penetrasi kedalam rongga perut,
dapat disebabkan oleh luka tusuk atau luka tembak.

8
2) Trauma Tumpul : yaitu tanpa penetrasi kedalam rongga perut,
dapat disebabkan oleh ledakan, benturan atau pukulan
b. Cidera Pada Hepar
Setelah limpa, hepar adalah organ abdomen yang paling umum
mengalami cidera, baik trauma tumpul penetrasi dapat menyebabkan
cidera. Trauma hepatik dapat menyebabkan kehilangan banyak darah
kedalam peritoneum.
Trauma hepar lebih banyak disebakan oleh trauma tumpul. Pasien
dengan trauma tumpul adalah suatu tantangan karena adanya potensi
cidera tersembunyi yang mungkin sulit dideteksi. Insiden komplikasi
berkaitan dengan trauma yang penanganannya terlambat lebih besar
dari insiden yang berhubungan dengan cidera tusuk

4. ETIOLOGI
Adanya trauma hepar tumpul yang biasa disebabkan karena
kecelakaan motor, jatuh atau pukulan. Dengan adanya kompresi yang
berat hepar dapat tertekan terhadap tulang belakang. Dan trauma hepar
tumpul lebh bahaya dibandingkan dengan trauma hepar tembus karena
trauma tupul sulit terdeteksi
Sedangkan Trauma Hepar tembus biasanya disebabkan oleh benda
tajam seperti pisau tembakan sehingga menimbulkan adanya kerusakan
dan lubang pada Hepar
Kecelakaan atau trauma yang terjadi pada hepar, umumnya banyak
diakibatkan oleh trauma tumpul. Pada kecelakaan kendaraan bermotor,
kecepatan, deselerasi yang tidak terkontrol merupakan kekuatan yang
menyebabkan trauma ketika tubuh klien terpukul setir mobil atau benda
tumpul lainnya.
Trauma akibat benda tajam umumnya disebabkan oleh luka tembak
yang menyebabkan kerusakan yang besar didalam abdomen. Selain luka
tembak, trauma abdomen dapat juga diakibatkan oleh luka tusuk, akan
tetapi luka tusuk sedikit menyebabkan trauma pada organ internal
diabdomen.

5. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis rupture hepar
a. Syok,
b. Iritasi peritoneum dan

9
c. Nyeri pada epigastrium kanan.
Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu
a. Hipotensi, takikardi,
b. Penurunan jumlah urine,
c. Tekanan vena sentral yang rendah, dan
d. Adanya distensi abdomen memberikan gambaran suatu trauma hepar.

6. PATOFISIOLOGI
Pukulan langsung, misalnya kena pinggir bawah stir mobil atau pintu
yang masuk (intruded) pada tabrakan kendaraan bermotor, dapat
mengakibatkan cedera tekanan atau tindasan pada isi abdomen. Kekuatan
ini merusak bentuk organ padat atau berongga dan dapat mengakibatkan
ruptur, khususnya pada organ yang menggembung (misalnya uterus yang
hamil), dengan perdarahan sekunder dan peritonitis. Shearing injuries
pada organ isi abdomen merupakan bentuk trauma yang dapat terjadi bila
suatu alat penahan (seperti sabuk pengaman jenis lap belt atau komponen
sabuk bahu)dipakai dengan cara yang salah. Penderita yang cedera dalam
tabrakan kendaraan bermotor juga dapat menderita cedera deceleration
karena gerakan yang berbeda dari bagian badan yang bergerak dan yang
tidak bergerak, pada hati dan limpa yang sering terjadi (organ bergerak)
ditempat jaringan pendukung (struktur tetap) pada tabrakan tersebut. Pada
penderita yang dilakukan laparatomi oleh karena trauma tumpul (blunt
injury), organ yang paling sering cedera, adalah limpa (40 55%), hati
(35 45%) dan hematoma retroperitoneum (15%).
Hepar merupakan organ intraabdomen yang paling sering terkena
trauma setelah limpa. Perlukaan pada hati dapat bersifat superficial dan
ringan, tetapi dapat pula bersifat laserasi yang berat, yang menimbulkan
kerusakan pada sistem saluran empedu intrahepatic.
Perlukaan dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau luka tembus
dinding perut yang mungkin berupa trauma tajam. Mekanisme yang
menimbulkan kerusakan hepar pada trauma tumpul adalah efek kompresi
dan deselerasi. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tusukan benda tajam
atau oleh peluru
Berat ringan kerusakan akibat trauma pada hepar bergantung pada
jenis trauma, penyebab, kekuatan, dan arah datangnya trauma. Lebih dari
50% trauma berat hepar disertai trauma organ intraabdomen lain.

10
Mortalitas berbanding lurus dengan jumlah organ lain yang terkena. Yang
paling sering kena cedera bersama dengan hepar adalah organ intratoraks,
yaitu jantung, paru, atau diafragma, disusul berurutan oleh lambung, usus
halus, ginjal, usus besar, limpa, pankreas, dan pembuluh darah besar
Perlukaan parenkim hati yang superficial dan dalam kadang sulit
dibedakan. Komplikasi yang dapat terjadi akibat trauma hepar adalah
perdarahan, infeksi, kebocoran empedu, dan hemobilia.

7. PATHWAY

Paksaan : Benda tajam :


Jatuh, benda tumpul, kompresi, dll Pisau, peluru, ledakan, dll

Gaya predisposisi trauma > elastisitas & viskositas tubuh

Ketahanan jaringan tidak mampu mengkompensasi

11
Trauma Abdomen

Trauma Tajam Trauma Tumpul

Kompresi organ abdomen

Kerusakan organ
abdomen Perdarahan intra
Abdomen

Hepar
Peningkatan TIA
Peningkatan
Cidera pada hepar jumlah sel darah
putih
Mendesak organ intra
abdomen
Nyeri akut
Risiko Infeksi

Menekan reseptor
Resiko Hambatan nyeri di abdomen Mendesak
Perdarahan Mobilitas Fisik lambung

Nyeri akut Lambung distres

Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang dari produksi HCl
Rasa eneg di perut
Kebutuhan Tubuh

(Sumber : Mansjoer, 2007)


8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Meskipun dapat diduga sebelum operasi, trauma hepar lebih sering
baru diketahui sew aktu laparotomi eks ploras i. D apat juga
diketahui melalui pemeriks aan CT scan. Kecurigaan dibuat
berdasarkan lokasi trauma dan terdapatnya fraktur iga kanan
bawah, pneumotoraks, kontusio paru, syok
Peningkahaemoragik,
ta
serta
n TIA
ditemukannya darah dan empedu padalavase peritoneal positif untuk
darah dan empedu.

12
Cara diagnostik terbaik adalah berdasarkan penilaian
klinis yang ditunjang dengan pemeriksaan berulang. Laparotomi
dapat menemukan perdarahan yang tidak diketahui sebelumnya. Apabila
terjadi hemobilia, terdapat trias, yaitu tanda perdarahan saluran cerna
bagian atas, ikterus , dan nyeri perut kanan atas , yang
ditemukan s etelah riwayat trauma abdomen, setelah operasi,
atau tindakan manipulasi saluran empedu beberapa jam sampai
beberapa minggu sebelumnya. Tanda perdarahan berupa
hematemesis atau melena sering didahului nyeri. Perdarahan ke dalam
saluran empedu nyarinya berlainan dengan perdarahan di jalan cerna
a. Pemeriksaan Laboratorium
Banyaknya perdarahan akibat trauma pada hepar akan diikuti
dengan penurunan kadar hemoglobin dan hematokrit. Ditemukan
leukositosis lebih dari 15.000/ul, biasanya setelah ruptur hepar akibat
trauma tumpul. Kadar enzim hati yang meningkat dalam serum darah
menunjukkan bahwa terdapat cidera pada hepar, meskipun juga dapat
disebabkan oleh suatu perlemakan hati ataupun penyakit-penyakit
hepar lainnya. Peningkatan serum bilirubin jarang, dapat ditemukan
pada hari ke-3 sampai hari ke-4 setelah trauma.
b. Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaaan rontgen servikal lateral, toraks anteroposterior
(AP), dan pelvis adalah pemeriksaan yang harus dilakukan pada
penderita dengan multitrauma.
X-ray toraks berguna untuk evaluasi trauma tumpul abdomen
karena beberapa alasan. Pertama, dapat mengidentifikasi adanya
fraktur iga bawah. Bila hal tersebut ditemukan, tingkat kecurigaan
terjadinya cedera abdominal terutama cedera hepar dan lien
meningkat dan perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut dengan CT scan
abdomen-pelvis. Kedua, dapat membantu diagnosis cedera diafragma.
Pada keadaan ini, x-ray toraks pertama kali adalah abnormal pada
85% kasus dan diagnostik pada 27% kasus. Ketiga, dapat menemukan
adanya pneumoperitoneum yang terjadi akibat perforasi hollow viscus.
Sama dengan fraktur iga bawah, fraktur pelvis yang ditemukan pada
x-ray pelvis dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera intra-

13
abdominal sehingga evaluasi lebih lanjut perlu dilakukan dengan CT
scan abdomen-pelvis.
c. Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL)
Diagnostik peritoneal lavage merupakan tes cepat dan akurat
yang digunakan untuk mengidentifikasi cedera intra-abdomen setelah
trauma tumpul pada pasien hipotensi atau tidak responsif tanpa
indikasi yang jelas untuk eksplorasi abdomen. Kerugiannya adalah
bersifat invasif, risiko komplikasi dibandingkan tindakan diagnostik
non-invasif, tidak dapat mendeteksi cedera yang signifikan (ruptur
diafragma, hematom retroperitoneal, pankreas, renal, duodenal, dan
vesica urinaria), angka laparotomi non-terapetik yang tinggi, dan
spesifitas yang rendah. Dapat juga didapatkan positif palsu bila
sumber perdarahan adalah imbibisi dari hematom retroperitoneal atau
dinding abdomen.
Pemeriksaan ini harus dilakukan oleh tim bedah yang merawat
penderita dengan hemodinamik abnormal dan menderita multitrauma,
teristimewa kalau terdapat situasi sebagai berikut :
Perubahan sensorium cedera kepala, intoksikasi alkohol,
penggunaan obat terlarang.
Perubahan perasaan cedera jaringan saraf tulang belakang.
Cedera pada struktur berdekatan tulang iga bawah, panggul,
tulang belakang dari pinggang bawah (lumbar spine).
Pemeriksaan fisik yang meragukan.
Antisipasi kehilangan kontak panjang dengan pasien
d. Ultrasound diagnostik (USG)
USG telah sering digunakan dalam beberapa tahun terakhir di
Amerika Serikat untuk evaluasi pasien dengan trauma tumpul
abdomen. Tujuan evaluasi USG untuk mencari cairan intraperitoneal
bebas. Hal ini dapat dilakukan secepatnya, dan ini sama akuratnya
dengan diagnostik peritoneal lavage untuk mendeteksi
hemoperitoneum. USG juga dapat mengevaluasi hati dan limpa
meskipun tujuan USG adalah untuk mencari cairan bebas di
intrapreitoneal. Mesin portabel dapat digunakan di ruangan resusitasi

14
atau di gawat darurat pada pasien dengan hemodinamik stabil tanpa
menunda tindakan resusitasi pada pasien tersebut. Keuntungan lain
dari USG daripada diagnostik peritoneal lavage adalah USG
merupakan tindakan yang non-invasif. Tidak diperlukan adanya
tindakan lebih lanjut setelah USG dinyatakan negatif pada pasien yang
stabil. Hasil CT dari abdomen biasanya sama dengan USG bila
hasilnya positif pada pasien yang stabil. Keuntungan dan kerugian
dari USG perut terdapat dalam Kotak 20-4. Sensitivitas berkisar dari
85% sampai 99%, dan spesifisitas dari 97% sampai 100%.
Penggunaan USG untuk evaluasi trauma tembus abdomen
dilaporkan terbatas. Baru-baru ini, sebuah studi prospektif dilakukan
untuk mengevaluasi kegunaan USG sebagai tes skrining pada trauma
tembus dan pada trauma tumpul. Penelitian ini melibatkan luka tusuk
serta luka tembak. Sensitivitas USG keseluruhan adalah 46% dan
spesifisitas adalah 94%. Studi ini menunjukkan bahwa USG pada
trauma tembus tidak dapat diandalkan seperti pada trauma tumpul.
Jika USG positif, pasien harus dioperasi. Jika negatif, pemeriksaan
lebih lanjut harus dilakukan.

e. Computed Tomography Abdomen (CT Scan Abdomen)


Pemeriksaan CT-scan tetap merupakan pemeriksaan pilihan
pada pasien dengan trauma tumpul abdomen dan sering dianjurkan
sebagai sarana diagnostik utama. CT-scan bersifat sensitif dan spesifik
pada pasien yang dicurigai suatu trauma tumpul hepar dengan keadaan
hemodinamik yang stabil. Penanganan non operatif menjadi
penanganan standar pasien trauma tumpul abdomen dengan
hemodinamik stabil. Pemeriksaan CT-scan akurat dalam menentukan
lokasi dan luas trauma hepar, menilai derajat hemoperitoneum,
memperlihatkan organ intraabdomen lain yang mungkin ikut cedera,
identifikasi komplikasi yang terjadi setelah trauma hepar yang
memerlukan penanganan segera terutama pada pasien dengan trauma
hepar berat, dan digunakan untuk monitor kesembuhan. Penggunaan
CT-scan terbukti sangat bermanfaat dalam diagnosis dan penentuan
penanganan trauma hepar. Dengan CT-scan menurunkan jumlah

15
laparatomi pada 70% pasien atau menyebabkan pergeseran dari
penanganan rutin bedah menjadi penanganan non operastif dari kasus
trauma hepar.

9. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Penatalaksanaan Non-Operatif
Merupakan pilihan pertama pada penderita dengan
hemodinamik stabil. Angka keberhasilan yang tinggi tidak tergantung
pada derajat keparahan berdasarkan CT scan, atau derajat
hemoperitoneum yang terjadi. Keuntungan dari penatalaksanaan non-
operatif adalah menghindari terjadinya laparotomi non-terapetik
beserta komplikasinya, mengurangi kebutuhan transfusi, dan
komplikasi intra-abdominal yang lebih sedikit.
CT abdomen merupakan studi yang paling sensitif dan spesifik
dalam mengidentifikasi dan menentukan derajat kerusakan hepar dan
lien. Adanya kontras yang bebas atau perdarahan yang sedang
berlangsung merupakan indikasi untuk angiografi dan embolisasi.
Penatalaksanaan non-operatif meliputi observasi tanda vital,
pemeriksaan fisik, dan nilai laboratorium yang dilakukan secara serial.
Bila salah satu memburuk, maka hal tersebut merupakan indikasi
untuk intervensi pembedahan
b. Penatalaksanaan Operatif
Tatalaksananya meliputi tiga upaya dasar, yaitu mengatasi
perdarahan, mencegah infeksidengan debrideman jaringan hati yang
avaskuler dan penyaliran, serta rekonstruksi saluran empedu.
Penghentian untuk sementara waktu dilakukan dengan cara
penekanan manual langsung d a e r a h y a n g b e r d a r a h d e n g a n
tampon, atau dengan klem vaskuler atraumatik di
daerah foramen winslow. Penutupan ligamentum
hepatoduodenale di dinding foramen winslow dengan jari atau
klem vaskuler, yang disebut perasat Pringle menyebabkan a. hepatika
dan v. porta tertutup sama sekali. Jaringan hati dapat menahan
keadaan iskemia sampai 60 menit apabila dilakukan oklusi itu. Waktu
tersebut umumnya cukup untuk melakukan resusitasi dan
menghentikan perdarahan secara definitive

16
Upaya kedua adalah mencegah atau mengatasi infeksi dengan
memasang penyalir ektern karena penyebab infeksi adalah kebocoran
empedu dan jaringan nekrotik. Kadang di pasang penyalir T ke dalam
duktus koledokus dengan tujuan dekompresi dan
mencegah pembuntuan akibat edema.
Upaya ketiga adalah rekonstruksi saluran empedu. Karena
kerusakan empedu yang besar tidak mungkin sembuh spontan maka
tempat kebocoran harus dicar dan dilakukan rekonstruksi.

10. KOMPLIKASI
Sebagian besar pasien dengan trauma hepar berat mempunyai
komplikasi, khususnya jika tindakan operasi dilakukan.
Komplikasi signifikan setelah trauma hati termasuk adalah
1) perdarahan post operatif,
2) koagulopati,
3) fistula bilier,
4) hemobilia, dan
5) pembentukan abses.
Perdarahan post operasi terjadi sebanyak < 10% pasien. Hal ini terjadi
mungkin karena hemostasis yang tidak adekuat, koagulopati post operatif
atau karena keduanya. Jika pasien tidak dalam keadaan hipotermi,
koagulopati atau asidosis, maka tindakan eksplorasi ulang haruslah
dilaksanakan. Pembuluh darah yang tampak mengalami perdarahan harus
secara langsung di visualisasi dan ligasi, meskipun kerusakan lebih luas
diperlukan untuk eksplorasi yang adekuat.

17
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Dalam pengkajian pada trauma abdomen harus berdasarkan prinsip
prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang mempunyai skala
prioritas A (Airway), B (Breathing), C (Circulation). Hal ini dikarenakan
trauma abdomen harus dianggap sebagai dari multi trauma dan dalam
pengkajiannya tidak terpaku pada abdomennya saja.
a. Anamnesa
b. Biodata : Biasanya bisa menimpa siapa saja baik laki-laki maupun
perempuan.
c. Keluhan Utama : Biasanya mengeluh nyeri hebat.
d. Riwayat penyakit sekarang (Trauma)
1) Penyebab dari traumanya dikarenakan benda tumpul atau peluru.
2) Kalau penyebabnya jatuh, ketinggiannya berapa dan bagaimana
posisinya saat jatuh.
3) Kapan kejadianya dan jam berapa kejadiannya.
4) Berapa berat keluhan yang dirasakan bila nyeri, bagaimana sifatnya
pada kuadran mana yang dirasakan paling nyeri atau sakit sekali
e. Riwayat Penyakit yang lalu
1) Kemungkinan pasien sebelumnya pernah menderita penyakit yang
sama
2) Apakah pasien menderita penyakit asthma atau diabetesmellitus
dan gangguan faal hemostasis.
f. Riwayat psikososial spiritual
1) Persepsi pasien terhadap musibah yang dialami.
2) Apakah musibah tersebut mengganggu emosi dan mental.
3) Adakah kemungkinan percobaan bunuh diri (tentamen-suicide).
g. Pemeriksaan Fisik
1) Sistem Pernapasan (B1 = Breathing)
a) Pada inspeksi bagian frekwensinya, iramanya dan adakah jejas
pada dada serta jalan napasnya.
b) Pada palpasi simetris tidaknya dada saat paru ekspansi dan
pernapasan tertinggal.
c) Pada perkusi adalah suara hipersonor dan pekak.
d) Pada auskultasi adakah suara abnormal, wheezing dan ronchi.
2) Sistem Kardiovaskuler (B2 = blood)

18
a) Pada inspeksi adakah perdarahan aktif atau pasif yang keluar
dari daerah abdominal dan adakah anemis.
b) Pada palpasi bagaimana mengenai kulit, suhu daerah akral dan
bagaimana suara detak jantung menjauh atau menurun dan
adakah denyut jantung paradoks.
3) Sistem Neurologis (B3 = Brain)
a) Pada inspeksi adakah gelisah atau tidak gelisah dan adakah
jejas di kepala.
b) Pada palpasi adakah kelumpuhan atau lateralisasi pada anggota
gerak
c) Bagaimana tingkat kesadaran yang dialami dengan
menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS)
4) Sistem Gatrointestinal (B4 = bowel)
a) Pada inspeksi :
Adakah jejas dan luka atau adanya organ yang luar.
Adakah distensi abdomen kemungkinan adanya
perdarahan dalam cavum abdomen
Adakah pernapasan perut yang tertinggal atau tidak.
Apakah kalau batuk terdapat nyeri dan pada quadran
berapa, kemungkinan adanya abdomen iritasi.
b) Pada palpasi :
Adakah spasme / defance mascular dan abdomen.
Adakah nyeri tekan dan pada quadran berapa.
Kalau ada vulnus sebatas mana kedalamannya.
c) Pada perkusi :
Adakah nyeri ketok dan pada quadran mana.
Kemungkinankemungkinan adanya cairan/udara bebas
dalam cavum abdomen.
d) Pada Auskultasi : Kemungkinan adanya peningkatan atau
penurunan dari bising usus atau menghilang.
e) Pada rectal toucher :
Kemungkinan adanya darah / lendir pada sarung tangan.
Adanya ketegangan tonus otot / lesi pada otot rectum.
5) Sistem Urologi (B5 = bladder)
a) Pada inspeksi adakah jejas pada daerah rongga pelvis dan
adakah distensi pada daerah vesica urinaria serta bagaimana
produksi urine dan warnanya.
b) Pada palpasi adakah nyeri tekan daerah vesica urinaria dan
adanya distensi.
c) Pada perkusi adakah nyeri ketok pada daerah vesica urinaria.
6) Sistem Tulang dan Otot (B6 = Bone)

19
a) Pada inspeksi adakah jejas dan kelaian bentuk extremitas
terutama daerah pelvis.
b) Pada palpasi adakah ketidakstabilan pada tulang pinggul atau
pelvis.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri Akut
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Hambatan mobilitas fisik
d. Risiko Perdarahan
e. Risiko Infeksi

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Nyeri Akut NOC : NIC :
a. Pain level Pain Management
b. Pain control 1 Lakukan pengkajian nyeri secara
c. Comfort level
komprehensif termasuk lokasi,
Setelah dilakukan tindakan
karakteristik, furasi, frekuensi,
keperawatan selama ... x ... ....
kualitas dan faktor presipitasi
diharapkan masalah 2 Observasi reaksi nonverbal dari
keperawatan dapat teratasi ketidaknyamanan
3 Guakan teknik komunikasi
dengan Kriteria Hasil :
terapeutik untuk mengetahui
1. Mampu mengontrol nyeri
pengalaman nyeri pasien
(tahu penyebab nyer,
4 Evaluasi pengalaman nyeri masa
mampu menggunakan
lampau
teknik nonfarmakologi 5 Evaluasi bersama pasien dengan
untuk mengurangi nyeri, tim kesehatan lain tentang
mencari bantuan) ketidakefekifan kontrol nyeri masa
2. Melaporkan bahwa nyeri
lampau
berkurang dengan 6 Kontrol lingkungan yang dapat
menggunakan manajemen mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri rungan, pencahayaan dan

20
3. Mampu mengenali nyeri kebisingan
7 Kurangi faktor presipitasi nyeri
(skala, intensitas, frekuensi
8 Pilih dan lakukan penanganan
dan tanda nyeri)
nyeri (farmakologi, non
4. Menyatakan rasa nyaman
farmakologi dan inter personal)
setelah nyeri berkurang
9 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
5. Tanda vital dalam rentang
menentukan intervensi
normal
10 Ajarkan tentang teknik non
6. Tidak mengalami
farmakologi : napas dalam,
gangguan tidur
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/dingin
11 Berikan analgetik utnuk
mengurangi nyeri
12 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
13 Tingkatkan istirahat
14 Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
15 Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic Administration
1 Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
2 Cek instruksi doketr tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
3 Cek riwayat alergi
4 Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
5 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri
6 Tentukan analgesik pilhan, rute
pemberian dan dosis optimal
7 Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara
teratur
8 Monitor vital sign sebelum dan

21
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
9 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
2. Ketidakseimba NOC NIC
ngan
a. Nutritional status: Nutrition Management
Nutrisi Kurang 1 Kaji adanya alergi makanan
b. Nutritional status : food 2 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
dari
and fluid intake menentukan jumlah kalori dan
Kebutuhan
Tubuh c. Nutrional status: nutrient nutrisi yang dibutuhkan pasien
3 Anjurkan pasien untuk
intake
meningkatkan intake Fe
d. Weight control 4 Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan
Setelah dilakukan tindakan
vitamin C
keperawatan selama ... x ... .... 5 Berikan substansi gula
diharapkan masalah 6 Yakinkan diet yang dimakan

keperawatan dapat teratasi mengandung tinggi serat untuk

dengan Kriteria hasil: mencegah konstipasi


1. Adanya peningkatan berat 7 Berikan makanan yang terpilih

badan sesuai dengan tujuan (sudah dikonsultasikan dengan


2. Berat badan ideal sesuai ahli gizi)
dengan tinggi badan 8 Ajarkan pasien bagaimana
3. Mampu mengidentifikasi membuat catatan makanan harian
kebutuhan nutrisi 9 Monitor jumlah nutrisi dan
4. Tidak ada tanda-tanda kandungan kalori
malnutrisi 10 Berikan informasi tentang
5. Menunjukkan peningkatan kebutuhan nutrisi
fungsi pengecapan dari 11 Kaji kemampuan pasien untuk

menelan mendapatkan nutrisi yang


6. Tidak terjadi penurunan dibutuhkan
berat badan yang berarti Nutrition Monitoring
1 BB pasien dalam batas normal
2 Monitor adanya penurunan berat
badan
3 Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
4 Monitor interaksi anak atau orang

22
tua selama makan
5 Monitor lingkungan selama
makan
6 Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam makan
7 Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
8 Monitor turgor kulit
9 Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
10 Monitor mual dan muntah
11 Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
12 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
13 Monitor kalori dan intake kalori
14 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papilla lidah dan
cavitas oral
3. Hambatan
NOC: NIC
Mobilitas Fisik a. Joint movement : active Exercise therapy : ambulation
b. Mobility level 1 Monitoring vital sign
c. Self care : ADLs
sebelum/sesudah latihan respon
d. Transfer perfoormance
Setelah dilakukan tindakan pasien saat latihan
2 Konsultasikan dengan terapi fisik
keperawatan selama ... x ... ....
tentang rencana ambulansi sesuai
diharapkan masalah
dengan kebutuhan
keperawatan dapat teratasi
3 Bantu klien untuk menggunakan
dengan Kriteria hasil:
tongkat saat berjalan dan cegah
1 Klien meningkat dalam
terhadap cidera
aktivitas fisik
4 Ajarkan pasien atau tenaga
2 Mengerti tujuan dari
kesehatan lain tentang teknik
peningkatan mobilitas
3 Memverbalisasikan ambulansi
5 Kaji kemampuan pasien dalam
perasaan
mobilisasi
dalammeningkatkan
6 Latih pasien dalam pemenuhan
kekuatan dan
kebutuhan ADLs secara mandiri
kemampuan berpindah
sesuai kemampuan

23
7 Damping dan bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi
4 Memperagakan
kebutuhan ADLs pasien
penggunaan alat bantu 8 Berikan alat bantu jika pasien
untuk mobilisasi memerlukan
9 Ajarkan psien bagaimana
(walker)
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan
4. Risiko Setelah dilakukan tindakan NIC
Bleeding Precautions
Perdarahan keperawatan selama ..x.. jam
1 Monitor dengan ketat resiko
diharapkan perdarahan tidak
terjadinya perdarahan pada pasien
terjadi dengan kriteria : 2 Catat nilai hemoglobin dan
NOC : hematokrit sebelum dan setelah
Blood Loss Severity pasien kehilangan darah sesuai
1 Tidak terjadi indikasi
3 Monitor tanda dan gejala
kehilangan darah yang
perdarahan menetap (contoh : cek
terlihat
semua sekresi darah yang terlihat
2 Tidak terjadi hematuria
jelas maupun yang tersembunyi/
3 Tidak ada darah yang
for frank or accult blood)
terlihat keluar dari anus
4 Monitor komponen koagulasi
4 Tidak terjadi
darah (termasuk Protrombin time
hemoptysis
(PT), Partial Thromboplastin
5 Tidak terjadi
Time (PTT), fibrinogen,
hematemesis
degradasi fibrin/ split products,
6 Tidak terjadi distensi
dan trombosit hitung dengan cara
abdomen
yang tepat
7 Tidak terjadi 5 Monitor tanda-tanda vital
perdarahan vagina ortostatik, termasuk tekanan
8 Tidak terjadi darah
6 Pertahankan agar pasien tetap
perdarahan paska
tirah baring jika terjadi
pembedahan
perdarahan aktif
9 Tidak terjadi penurunan
7 Berikan produk-produk
tekanan darah sistol (<

24
90 mmHg) penggantian darah (misalnya,
10 Tidak terjadi penurunan trombosit dan Plasma Beku Segar
tekanan darah diastolic (FFP)) denga cara yang tepat
8 Lindungi pasien dari trauma yang
(< 70 mmHg)
dapat menyebabkan perdarahan
11 Tidak terjadi
9 Hindarkan pemberian injeksi (IV,
peningkatan denyut
IM atau Subkutan) dengan cara
nadi apical (>
yang tepat
100x/menit) 10 Instruksikan pasien-pasien yang
12 Suhu tubuh dalam batas masih bisa berjalan untuk selalu
normal (36,5C menggunakan sepatu
11 Gunakan sikat gigi yang berbulu
37,5C)
lembut untuk perawatan rongga
13 Kulit dan membrane
mulut
mukosa tidak pucat
12 Gunakan alat cukur elektrik
14 Pasien tidak cemas
daripada menggunakan silet
15 Tidak terjadi penurunan 13 Beritahu pasien untuk
kognisi pencegahan tindakan-tindakan
16 Tidak terjadi penurunan invasive, jika tidak dapat
hemoglobin (Hgb) dihindari, monitor dengan ketat
17 Tidak terjadi penurunan tanda-tanda perdarahan
14 Lakukan prosedur invasive
hematokrit (Hct)
bersamaan dengan pemberian
transfuse trombosit (TC) atau
Submissive Behavior
plasma segar beku (FFP), jika
Recommended Treatment
dibutuhkan
1 Membuat daftar semua
15 Hindari mengangkat benda berat
obat-obatan dengan 16 Berikan obat-obatan (misalnya,
dosis dan frekuensi antasida) jika diperlukan
17 Instruksikan pasien untuk
pemberian
menghindari konsumsi aspirin
2 Memperoleh obat yang
atau obat-obatan antikoagulan
dibutuhkan
18 Instruksikan pasien untuk
3 Menginformasikan
meningkatkan makanan yang
professional kesehatan
kaya vitamin K
mengenai semua obat 19 Cegah konstipasi (misalnya,

25
yang sudah dikonsumsi memotivasi untuk meningkatkan
4 Mengonsumsi semua asupan cairan dan mengonsumsi
obat sesuai interval pelunak feses) jika diperlukan
20 Instruksikan pasien dan keluarga
yang ditentukan
untuk memonitor tanda-tanda
5 Minum obat sesuai
perdarahan dan mengambil
dosis
tindakan yang tepat jika terjadi
6 Memodifikasi dosis
perdarahan (misalnya, lapor
sesuai instruksi
kepada perawat )
Bleeding Reduction
Gastrointestinal Function 1 Identifikasi penyebab perdarahan
2 Monitor pasien akan perdarahan
1 Toleransi [terhadap]
secara ketat
makanan yang lembek
3 Beri penekanan langsung atau
2 Nafsu makan baik
penekanan pada balutan, jika
3 Frekuensi BAB dalam
sesuai
batas normal (minimal 4 Beri kompres es pada daerah
1 x/hari) yang terkena dengan tepat
5 Monitor jumlah dan sifat
4 Warna feses normal
kehilangan darah
(kuning kecoklatan)
6 Monitor ukuran dan karakter
5 Konsistensi feses
hematoma, jika ada
lembek 7 Perhatikan kadar hemoglobin/
6 Bising usus dalam batas hematokrit sebelum dan sesudah
normal (dewasa : 5 kehilangan darah
8 Monitor kecenderungan dalam
35x/menit, anak : 5
tekanan darah serta parameter
15 x/menit)
hemodinamik, jika tersedia
7 Warna cairan lambung
(misalnya, tekanan vena sentral
tidak merah
dan kapiler paru/ artery wedge
8 Jumlah residu cairan
pressure)
ketika aspirasi dalam
9 Monitor status cairan, termasuk
batas normal (10 ml)
asupan (intake) dan haluaran
9 pH cairan lambung
(output)
dalam batas normal 10 Monitor tinjauan koagulasi,
(1,5-3,5) termasuk waktu prothrombin

26
10 Serum albumin (3.80 (Prothrombin Time / PT), waktu
5.10 g/dL) thromboplastin parsial (Partial
11 Hematokrit dalam batas Thrombioplastin Time / PTT),
normal ( Pria dewasa fibrinogen, degradasi Fibrin/
40 48 %, Wanita produk split, dan jumlah
dewasa 37 43 % ) trombosit dengan tepat
11 Monitor penentu dari jaringan
12 Glukosa darah dalam
pelepasan oksigen (misalnya,
batas normal (puasa:
PaO2, SaO2, dan kadar
55-110 mg/dl, 2 jam
hemoglobin dan cardiac output),
PP: 55-115 mg/dl,
jika tersedia
sewaktu: 70-115 mg/dl)
12 Monitor fungsi neurologis
13 Periksa perdarahan dari selaput
lendir, memar setelah trauma
minimal, mengalir dari tempat
tusukan, dan adanya peteki
14 Monitor tanda dan gejala
perdarahan peristen (yaitu :
periksa semua sekresi darah yang
tampak ataupun yang
tersembunyi / okultisme)
15 Atur ketersediaan produk-produk
darah untuk transfuse, jika perlu
16 Pertahankan kepatenan akses IV
17 Beri produk-produk darah
(misalnya, trombosit dan plasma
beku segar), dengan tepat
18 Lakukan hematest semua kotoran
dan amati darah pada emesis,
dhak, tinja, urin, drainase NG,
dan drainase luka, dengan tepat
19 Lakukan tindakan pencegahan
yang tepat dalam menangani
produk darah atau sekresi yang
berdarah
20 Evaluasi respon psikologis pasien

27
terhadap perdarahan dan
persepsinya pada peristiwa
(perdarahan)
21 Instruksikan pasien dan keluarga
akan tanda-tanda perdarahan dan
tindakan yang tepat (yaitu,
memberitahu perawat), bila
perdarahan lebih lanjut terjadi
22 Instruksikan pasien akan
pembatasan aktivitas
23 Instruksikan pasien dan keluarga
mengenai tingkat keparahan
kehilangan darah dan tindakan-
tindakan yang tepat untuk
dilakukan
Medication Management
1 Tentukan obat apa yang
diperlukan, dan kelola menurut
resep dan/ atau protocol
2 Diskusikan masalah keuangan
yang berkaitan dengan regimen
obat
3 Tentukan kemampuan pasien
untuk mengobati diri sendiri
dengan cara yang tepat
4 Monitor efektifitas cara
pemeberian obat yang sesuai
5 Monitor pasien mengenai efek
terapeutik obat
6 Monitor tanda dan gejala
toksisitas obat
7 Monitor efek samping obat
8 Monitor level serum darah
(misalnya, elektrolit, protrombin,
obat-obatan) yang sesuai
5 Resiko Infeksi NOC NIC

28
a. Imumune status Infection Control (Control infeksi)
- Bersihkan lingkungan setelah
b. Knowledge: infection
dipakai px lain
control - Pertahankan teknik isolasi
- Batasi pengunjung bila perlu
c. Risk control - Instruksikan pada pengunjung

Setelah dilakukan tindakan untuk mencuci tangan saat

keperawatan selama ... x ... .... berkunjung dan setelah berkunjun

diharapkan masalah meninggalkan px


- Gunakan sabun antimikroba untuk
keperawatan dapat teratasi
cuci tangan
dengan Kriteria hasil: - Cuci tangan setiap sebelum dan
1. Klien bebas dari tanda dan
sesudah tindakan kolaboratif
gejala infeksi - Gunakan baju,sarung tangan
2. Mendeskripsikan proses
sebagai alat pelindung
penularan penyakit , faktor - Pertahankan lingkungan aseptik
yang memengaruhi selama pemasangan alat
penularan serta - Ganti letak IV perifer dan line

penatalaksanaannya central dan dressing sesuai dg


3. Menunjukkn kemampuan petunjuk
untuk mencegahtimbunya - Gunakan kateter intermiten utk

infeksi menurunkan infeksi kandung


4. Jumlah leukosit dalam batas kemih
normal - Tingkatkan intake nutrisi
5. Menunjukkan perilaku - Berikan terapi antibiotik bila perlu

hidup sehat infection protection (proteksi


terhadap infeksi)
- Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
- Monitor hitung granulosit, WBC
- Monitor kerentanan terhadap
infeksi
- Pertahankan teknik aseptik pd px
yg beresiko
- Pertahankan teknik isolasi k/p
- Berikan perawatan kulit pada area
epidema
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan, panas

29
dan drainase
- Inspeksi kondisi luka/insisi bedah
- Dorong masukan nutrisi yg cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan px utk minum
antibiotik sesuai resep
- Ajarkan px dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
- Ajarkan cara menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
- Laporkan kultur positif

4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan atau implementasi merupakan realisasi dari rangkaian
dan penentuan diagnosa keperawatan. Tahap pelaksanaan dimulai setelah
rencana tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir proses asuhan keperawatan. Pada
tahap ini kita melakukan penilaian akhir terhadap kondisi pasien dan
disesuaikan dengan kriteria hasil yang sebelumnya telah dibuat.

30
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ruptur hepar adalah robek atau putusnya otot pada hepar yang diakibatan
karena trauma tumpul pada abdomen yang terjadi pada perut otot atau pada
sambungan musculotendineus yang bisa terjadi secara langsung ataupun tidak
langsung. Secara langsung bisa terjadi karena adanya benturan benda keras
yang menyebabkan robekan pada otot. Secara tidak langsung, bisa terjadi
karena penarikan otot yang melampaui batas maksimal kemampuan otot untuk
memanjang. Adanya trauma hepar tumpul yang biasa disebabkan karena
kecelakaan motor, jatuh atau pukulan. Dengan adanya kompresi yang berat
hepar dapat tertekan terhadap tulang belakang. Dan trauma hepar tumpul lebih
berbahaya dibandingkan dengan trauma hepar tembus karena trauma tupul
sulit terdeteksi. Tanda dan gejala dari rupture hepar meliputi syok, Iritasi
peritoneum dan nyeri pada epigastrium kanan. Ruptur hepar dapat diketahui
dengan melakukan pereriksaan medis seperti pemeriksaan laboratorium,

31
pemeriksaan rontgen, diagnostik peritoneal lavage (DPL), ultrasound
diagnostik (USG), CT Scan Abdomen. Pengkajian keperawatan yang
ditekankan pada kasus ruptur hepar adalah system gastrointestinal, sisem
urologi, dan system tulang dan otot.

B. Saran
Dengan membaca makalah ini semoga dapat memberi manfaat bagi kita
semua, terutama pembaca dalam hal ini dapat menambah wawasan kita
mengenai asuhan keperawatan gawat darurat

32