Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM Hari, Tanggal : Rabu, 27 September 2017

BIOKIMIA KLINIS Waktu : 11.00-14.00 WIB


PJP : dr. Husnawati, MSi.
Asisten : M Rastra Teguh
Chintia Ayu Puspita
Yunisa Anugrah

FOSFAT DARAH

Kelompok 21

Riyan Hidayatullah (G84140055)


Siska Putriani (G84140002)
Dewi Puja Delita (G84140044)
Eva Aolia Zuhra (G84140050)

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Mineral adalah senyawa anorganik yang memiliki fungsi tertentu dalam tubuh
dan harus terpenuhi kebutuhannya. Mineral diperoleh dari makanan dan minuman
yang dikonsumsi sehari-hari. Mineral dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil,
tetapi peranannya dalam tubuh sangat penting. Konsumsi mineral harus tepat
jumlahnya, jika tidak tercukupi akan menimbulkan defisiensi dan gangguan pada
tubuh dan jika berlebihan, keberadaan mineral tersebut akan menjadi toksik bagi
tubuh (Nelson dan Cox 2002). Mineral memegang peranan penting dalam
pemeliharaan fungsi tubuh, baik tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh
secara keseluruhan. Keseimbangan mineral dalam cairan tubuh diperlukan untuk
pengaturan pekerjaan enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam-basa,
membantu transfer ikatan-ikatan penting melalui membrane sel dan pemeliharaan
kepekaan otot dan saraf terhadap rangsangan (Almatsier 2005).
Berdasarkan kegunaannya mineral dibedakan menjadi mineral esensial dan
mineral non-esensial, sedangkan berdasarkan jumlahnya mineral dibedakan menjadi
makro, mikro dan renik (trace) (Arifin 2008). Mineral makro adalah mineral yang
dibutuhkan dalam jumlah yang banyak dan biasanya memiliki peranan yang sangat
penting. Mineral makro terdiri atas Ca, P, K, Na, Mg, S dan Cl. Mineral mikro adalah
mineral yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif sedikit. Unsur Fe, Cu, Zn, Co,
Mn, Se dan I adalah golongan mineral mikro. Mineral renik (trace) adalah kelompok
mineral yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit. Golongan mineral trace
terdiri atas Mo, Cr, As dan Si (Nelson dan Cox 2002).
Fosfor adalah senyawa penting dari semua jaringan tubuh yang mempunyai
variasi luas dalam fungsi vital, termasuk pembentukan subtansi penyimpangan energi
(misal adenosintrifosfat (ATP) dan pembentukan sel darah merah 2,3 difosfogliserat
(DPG)), yang memudahkan pengiriman oksigen ke jaringan-jaringan, metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak, dan pemeliharaan keseimbangan asam basa. Fosfor
merupakan mineral makro terbanyak kedua di dalam tubuh, yakni sebesar 1% dari
total berat badan. Fosfor dalam tubuh lebih banyak terdapat pada tulang dan gigi,
selebihnya terdistribusi di dalam sel-sel tubuh (Keviena et al. 2010). Menurut
Indrasari (2006), fosfor memiliki berbagai peranan dalam metabolisme tubuh, seperti
penyerapan glukosa dan gliserol, transportasi asam lemak, metabolisme lemak, serta
mengontrol keseimbangan asam basa darah.
Fosfor hadir sebagai fosfat di dalam sistem biologis. Kadar normal serum fosfor
bervariasi pada manusia sesuai usia, pada balita berkisar 4.5 - 8.3 mg/dL dan pada
orang dewasa berkisar 2.5 - 4.5 mg/dL (Penido dan Alon 2012). Kontrol homeostatis
fosfat di cairan ekstrasel diatur oleh ginjal dan hormon paratiroid (PTH). Kadar fosfat
yang cukup sangat penting bagi keseimbangan fosfat dalam tubuh. Terganggunya
kadar fosfat dalam tubuh maka dapat mengalami kondisi hipofosfatemia maupun
hiperfosfatemia., Hipofosfatemia merupakan suatu keadaan kadar fosfat di bawah
normal, sedangkan hiperfosfatemia merupakan suatu keadaan kadar fosfat di atas
normal. Hiperfosfatemia merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis
yang diakibatkan adanya gangguan metabolisme fosfat dan berhubungan pada
penurunan fungsi laju filtrasi glomerulus dengan kadar fosfat yang mencapai 4.5
mg/dL. Praktikum kali ini menggunakan sampel serum darah sapi. Tujuan praktikum
ini adalah menganalisis fosfat darah melalui pengujian biokimia.

METODE

Tempat dan Waktu


Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu, 27 September 2017 pukul 11.00-
14.00 WIB di Laboratorium Pendidikan, Departemen Biokimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini meliputi tabung reaksi, tabung
sentrifus, pipet tetes, pipet Mohr, spektrofotometer, sentrifus, vortex, dan gelas piala.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah darah sapi, larutan fosfor standar
1 mg/mL, reagen campuran (molibdovanadat dan HCl) dan akuades.

Prosedur Percobaan
Persiapan serum darah. Sebanyak 10 mL sampel darah dipipet dan
dimasukkan ke dalam sebuah tabung sentrifus. Tabung kemudian disentrifus selama
15 menit pada kecepatan 3,000 rpm. Setelah itu, supernatan hasil sentrifus diambil
dan dipisahkan dari pelet. Pelet dibuang dan supernatan dimasukan ke dalam tabung
sentrifus untuk percobaan penentuan kadar kalsium.
Pembuatan larutan standar fosfor. Standar fosfor dibuat dengan konsentrasi
0 g/mL, 10 g/mL, 20 g/mL, 50 g/mL, 100 g/mL, 150 g/mL, dan 200 g/mL.
Standar fosfor dengan masing-masing konsentrasi dipipet sebanyak 2 mL dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Akuades ditambahkan ke masing-masing tabung
sebanyak 6 mL. Campuran dihomogenkan lalu ditambahkan reagen campuran
sebanyak 2 mL. Larutan dikocok dan diukur nilai absorbansinya dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 400 nm. Larutan standar dengan
konsentrasi 0 g/mL digunakan sebagai blanko.
Pembuatan sampel. Sebanyak 1 mL serum darah dipipet dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. TCA ditambahkan ke dalam tabung sebanyak 4 mL lalu dikocok
dengan vortex. Campuran disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15
menit. Supernatan dipipet sebanyak 2 mL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Supernatan ditambahkan akuades sebanyak 6 mL lalu dikocok. Reagen campuran
ditambahkan sebanyak 2 mL lalu dikocok. Larutan diukur nilai absorbansinya pada
panjang gelombang 400 nm. Sampel dibuat 3 kali ulangan. Blanko yang digunakan
berupa 8 mL akuades dan ditambahkan reagen campuran sebanyak 2 mL.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan konsentrasi atau kadar fosfat dalam darah menggunakan metode


molibdat-vanadat. Menurut Wilson dan Walker (2000), prinsip uji molibdat-vanadat
yaitu mengukur serapan kompleks warna yang dihasilkan oleh reaksi antara reagen
molibdat-vanadat dengan fosfat dalam darah dalam suasana asam pada panjang
gelombang 400 nm. Reaksi yang terjadi yaitu ketika fosfat dalam sampel bereaksi
dengan asam nitrat akan mengubah metafosfat dan parafosfat menjadi bentuk reaktif
ortofosfat. Ortofosfat yang terbentuk akah bereaksi dengan reagen molibdat-vanadat
sehingga membentuk kompleks berwarna kuning yaitu fosfomolibdat yang dapat
diukur serapannya (Suarsana et al. 2011).
Fosfor akan dipecah oleh enzim alkalin fosfatase lalu diserap ke dalam tubuh
melalui usus secara difusi aktif dan pasif. Kadar fosfor di dalam darah diatur oleh
hormon paratiroid (PTH) yang dikeluarkan oleh hormon paratiroid dan hormon
kalsitonin. Kedua hormon tersebut akan berikatan oleh vitamin D. PTH berperan
dalam penurunan reabsorpsi fosfor oleh ginjal, sedangkan kalsitonin meningkatkan
ekskresi fosfor keluar tubuh. Jumlah kandungan fosfat dalam tubuh dapat diperiksa
melalui serum darah. Salah satu cara mengukur fosfor dalam serum dapat dilakukan
dengan metode molibdovanadat. Larutan molibdovanadat sendiri merupakan
campuran antara asam molibdat dengan asam vanadat. Penggunaan HCl pada
praktikum ini bertujuan untuk mengubah serum menjadi lebih asam sehingga fosfat
dapat berikatan menjadi senyawa kompleks. TCA berperan sebagai pengendap
protein-protein yang terdapat dalam serum darah sehingga tidak akan menggangu
pengukuran kadar fosfat (Bintang 2010).

Tabel 1 Absorbansi larutan standar fosfor


Standar fosfor (ppm) A terukur A terukur
Blanko 0.117 -
10 0.353 0.236
20 0.606 0.489
50 1.271 1.154
100 2.347 2.23
ContohPerhitungan
[10 ppm] = A terukur-Aterkoreksi
= 0.353 - 0.117
A = 0.236
2.5
y = 0.022x + 0.0217
R = 0.999
2

1.5

0.5

0
0 20 40 60 80 100 120

Gambar 1 Grafik absorbansi standar fosfor


Hasil absorbansi standar praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1. Kurva
standar dibuat dari larutan standar fosfat dengan berbagai konsentrasi yaitu 0
(blanko), 10, 20, 50, dan 100 ppm. Kurva standar yang didapatkan memiliki
persamaan garis y=0.222x + 0.0217 dan nilai R2 0.9995. Nilai tersebut termasuk
dalam kategori R yang baik dan sesuai standar. Menurut Sinambela et al. (2014), nilai
R2 akan semakin baik apabila nilainya mendekati 1 dan memiliki nilai paling buruk
yaitu 0.
Tabel 2 menunjukkan kadar fosfor pada sampel. Pengujian dilakukan sebanyak
dua kali ulangan. Ulangan pertama didapatkan Aterkoreksi sebesar 0.531 , sedangkan
ulangan kedua didapatkan A terkoreksisebesar 1.333 . Perhitungan konsentrasi kadar
fosfor menggunakan kurva standar sebagai acuan dengan hasil ulangan pertama
didapatkan konsentrasi fosfor 22.5 g/mL dan ulangan kedua 58.95 g/mL. Menurut
Ambeng dan Alif (2009) kadar fosfat normal berada pada kisaran 25 45 g/mL. Hal
ini mengindikasikan bahwa kadar fosfat pada sampel berada pada kisaran normal
pada filtrat 1, sedangkan filtrat 2 melebihi batas normal. Hipofosfatemia merupakan
keadaan dimana kandungan fosfat tubuh dibawah angka normal. Hipofosfatemia
dapat terjadi karena adanya hiperparatiroidisme sehingga PTH meningkat. Selain
diakibatkan oleh kondisi hiperparatiroidisme, hipofosfatemia dapat juga disebabkan
oleh genetik yang sering disebut X-linked dominan. Faktor genetik tersebut
menyebabkan inaktivasi hormon pengatur fosfat yaitu fosfatonin (Noer et al. 2011).
Hiperfosfatemia merupakan keadaan ketika kadar fosfat dalam darah melebihi batas
normal. Penyebab utama tingginya fosfat dalam darah adalah kerusakan ginjal
mengeksresikan fosfat serta tingginya asupan fosfat.
Keuntungan metode molibdat-vanadat yang digunakan diantaranya, metodenya
tergolong mudah, murah, dan hasil yang didapat dalam bentuk kuantitatif sehingga
dapat diketahui jelas kadar fosfor darah dan orientasinya terhadap kesehatan. Metode
lain yang juga dapat digunakan dalam analisis fosfor darah adalah metode Fardiaz.
Contoh metode lainnya adalah sampel darah dianalisis dengan prinsip fotometer
menggunakan kit komersial. Prinsip dasar fotometri adalah pengukuran penyerapan
sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan
larutan atau zat warna yang dilewatinya. Penggunaan fotometer lebih sering
digunakan untuk kebutuhan laboratorium klinis (analisa darah) (Irfan et al. 2014).
Tabel 2 Konsentrasi fosfor serum darah
Sampel A terukur A terkoreksi [fosfor] (g/mL)
Blanko 0.118 - -
Filtrat 1 0.631 0.531 22.5
Filtrat 2 1.451 1.333 58.95
contohperhitungan
Standar filtrat 1
A terkoreksi = A terukur A blanko
= 0.631 0.118
= 0.531
[Fosfor]
y = 0.022x + 0.036
A terkoreksi = 0.022 [fosfor] + 0.036
0.531 = 0.022 [fosfor] + 0.036
[Fosfor] = (0.531- 0.036) / 0.022
[Fosfor] = 22.5 g/mL

SIMPULAN

Konsentrasi fosfor serum darah sapi pada sampel yaitu 22.5 g/mL dan 58.95
g/mL. Hasil perhitungan didapat pada filtrat 1 dalam batas normal kandungan fosfor
dalam darah, sedangkan filtrat 2 melebihi batas normal. Hal ini menunjukkan pada
filtrat 2 tergolong hiperfosfatemia.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka
Utama.
Ambeng YY, Alif S. 2009. Gambaran pasien batu ginjal dan batu ureter dengan
fungsi ginjal normal yang dilakukan pemeriksaan kalsium, asam urat, fosfat,
dalam darah dan urin per 24 jam di RSU Dr. Soetomo Surabaya Januari-
Desember 2006. Media JurnalUrologi. 10(1): 1-13.
Arifin Z. 2008. Beberapa unsur mineral esensial makro dalam sistem biologi dan
metode analisisnya. Jurnal Litbang Pertanian. 27(3): 99-105.
Indrasari SD. 2006. Kandungan mineral padi varietas unggul dan kaitannya dengan
kesehatan. Jurnal Litbang Pertanian. 1(1): 89-99.
Irfan IZ, Esfandiari A, Choliq C. 2014. Profil protein total, albumin, globulin dan
rasio albumin globulin sapi pejantan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 19(2):
123-129.
Keviena et al.. 2010. Tulang. Jakarta (ID): UI Press.
Nelson DL, Cox MM. 2002. Lehninger Principles of Biochemistry 4th edition. New
York (US): W.H. Freeman and Company.
Noer MS, Soemyarso NA, Subandiyah K, Prasetyo RV, Alatas H, Tambunan T,
Trihono PP, Pardede SO, Hidayati EL et al. 2011. Kompendium Nefrologi
Anak. Jakarta (ID): Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Penidp MG, Alon US. 2012. Phosphate homeostatis and its role in bone health.
Pediatr Nephrol. 27(11): 2039-2048.
Sinambela SD, Ariswoyo S, Sitepu HR. 2014. Menentukan koefisien determinasi
antara estimasi M dengan type welsch dengan least trimmed square dalam data
yang mempunyai pencilan. Saintia Matematika. 2(3): 225-235.
Suarsana IN, Dharmawan INS, Gorda IW, Priosoeryanto BP. 2011. Tepung tempe
kaya isoflavon meningkatkan kalsium, posfor, dan estrogen plasma tikus betina
normal. Jurnal Veteriner. 12(3): 229-234.
Wilson K, Walker J. 200. Principles and Techniques of Practical Biochemistry 5th
Edition. Cambridge (US): Cambridge University Press.