Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

APLIKASI SEISMIK INVERSI AI DAN MULTIATRIBUT


UNTUK KARAKTERISASI RESERVOAR BATUPASIR
DAERAH X

DIAJUKAN KEPADA

TAC Pertamina EP Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi

Oleh :

REZA PUTRA PRATAMA


115.130.086

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PERSETUJUAN

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

APLIKASI SEISMIK INVERSI AI DAN MULTIATRIBUT


UNTUK KARAKTERISASI RESERVOAR BATUPASIR

diusulkan oleh

REZA PUTRA PRATAMA


115.130.086

Telah disetujui oleh:


26 September 2016

Pembimbing

Dosen Pembimbing Mahasiswa

Ardian Novianto, S.T, M,T Reza Putra Pratama


NIP. 2.78.10.07.0241.12 NIM.115130086

Mengetahui
Ketua Program Studi
Teknik Geofisika

Ir. Firdaus Maskuri, MT


NIP.19580822.199203.1.001
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL KERJA PRAKTEK

Diajukan untuk memperoleh Kerja Praktek di PT. PERTAMINA EP


ASET 1 JAMBI, sebagai salah satu syarat kelulusan di Program Studi Teknik
Geofisika, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta tahun akademik 2015/2016.

Diajukan Oleh :

Nama : Reza Putra Pratama


NPM : 115.130.086
Program Studi : Teknik Geofisika, Fakultas Teknologi
Mineral, Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta

Yogyakarta, 15 Agustus 2016

Dosen Pembimbing` Mahasiswa

Ardian Novianto, ST, MT Reza Putra Pratama


NIK.19620923.199003.1.001 NPM. 115.130.086

Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Geofisika

Ir. Firdaus Maskuri, MT


NIP.19580822.199203.1.001
APLIKASI SEISMIK INVERSI AI DAN MULTIATRIBUT UNTUK
KARAKTERISASI RESERVOAR BATUPASIR DAERAH X

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Metode Seismik merupakan metode geofisika yang paling baik dalam
memberikan informasi geologi bawah permukaan dengan resolusi yang tinggi
dalam eksplorasi hidrokarbon. Metode Seismik mengalami perkembangan yang
pesat sejak abad ke-20. Metode seismik, khususnya seismik refleksi tidak hanya
digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon melainkan dalam eklploitasi dan
pengembangan dikarenakan kompleks permasalahan dilapangan. Pada tahap
eksploitasi dan pengembangan dilakukan karakterisasi reservoar yang banyak
memanfaatkan evaluasi data seismik untuk mendukung usaha pencarian
hidrokarbon. Hal ini terkait erat dengan proses perolehan informasi geofisika
semaksimal mungkin untuk dapat menggambarkan model geologi bawah
permukaan. Oleh karena itu diperlukan suatu metode pemodelan sifat fisis bawah
permukaan bumi yang komprehensif dan mudah dipakai oleh ahli geofisika,
geologi, dan ahli perminyakan (reservoar).
Banyak penelitian telah dilakukan oleh berbagai perusahaan minyak untuk
meningkatkan produksinya, antara lain dengan melakukan analisa dan evaluasi
pada data seismik. Salah satu metoda analisa yang dilakukan adalah analisa
inversi seismik dan atribut seismik. Metode seismik inversi meruapakan teknik
memodelkan geologi bawah permukaan menggunakan data seismik sebagai input
dan data sumur sebagai kontrol (Sukmono, 2000). Proses inversi ini dapat
diperoleh parameter fisis yaitu impedansi akustik yang dapat digunakan dalam
identifikasi reservoar. Impedansi akustik adalah parameter batuan yang
dipengaruhi oleh tipe litologi, porositas, kandungan fluida dan kedalaman.
Sehingga impedansi akustik dapat menghasilkan perlapisan yang lebih
representatif dalam memetakan keadaan geologi bawah permukaan.
Atribut seismik merupakan sifat fisis yang dapat diturunkan dari data
seismik, baik pengukuran secara secara langsung maupun secara fungsi logika dan
matematis. Informasi dari atribut seismik yaitu waktu, amplitudo, frekuensi dan
atenuasi. Dari keempat jenis atribut tersebut merupakan klasifikasi utama yang
kemudian terdiri ratusan atribut lainnya. Atribut seismik dalam perkembangannya
dapat membantu dalam mengkarakterisasi reservoar disuatu lapangan.

1.2. Rumusan Masalah


Beberapa poin utama yang ingin diteliti di dalam konteks topik ini adalah
1. Bagaimana tahapan alur kerja inversi seismik acoustic impedance dan
multiatribut seismik ?
2. Bagaimana melakukan inversi seismik dan multiatribut untuk
karakterisasi reservoar ?
3. Bagaiamana memetakan reservoar batupasir pada daerah studi.

1.3. Batasan Masalah


Karakterisasi reservoar merupakan proses keseluruhan dari berbagai data
yang ada dan melibatkan multidisiplin ilmu sehingga dalam penelitian ini perlu
dibatasi pada beberapa hal:
1. Penelitian hanya dilakukan pada zona target yang ditentukan
kemudian.
2. Proses inversi dan multiatribut hanya dilakukan pada data post-stack
dan volume data seismik daerah yang diteliti.
3. Data log yang digunakan adalah data log sumur yang diperlukan untuk
daerah yang diteliti.
4. Metode yang digunakan yaitu seismik inversi impedansi akustik dan
multiatribut.
5. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak yang ditentukan
kemudian.

I.4. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian yang dilakukan adalah:
1. Melakukan inversi acoustic impedance pada volume data seismik
untuk mengkarakterisasi reservoir dengan lebih baik dan lebih detail.
2. Melakukan analisa multiatribut seismik untuk memetakan distribusi
reservoar dengan lebih baik.
3. Mempelajari tahapan kerja yang dilakukan oleh perusahaan dalam
mengkarakterisasi propertis batuan dalam sistem reservoar.

1.5. Manfaat Penelitian


1. TAC Pertamina EP Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi
Membangun hubungan kemitraan antara TAC Pertamina EP
Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi dengan UPN Veteran
Yogyakarta.
Memperoleh tenaga kerja tambahan dari mahasiswa yang melaksanakan
Tugas Akhir.
Mempermudah perusahaan dalam merekrut calon pegawai atau
karyawan yang profesional dengan mahasiswa sebagai parameternya

2. UPN Veteran Yogyakarta


Membina hubungan kemitraan antara UPN Veteran Yogyakarta dan
TAC Pertamina EP Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi dalam
sarana dan prasarana pendidikan
Membekali kemampuan dasar kepada mahasiswa UPN Veteran
Yogyakarta untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam dunia
kerja.

3. Mahasiswa
Melengkapi ilmu teori yang didapatkan di bangku kuliah terutama
tentang inversi dan atribut seismik untuk karakterisasi reservoar.
Memperoleh kesempatan mencari pengalaman, wawasan dan promosi
pada perusahaan yang memanfaatkan penerapan ilmu geofisika.
II. Tinjauan Pustaka
2.1. Metode Seismik Refleksi
Metode seismik refleksi adalah satu metode geofisika eksplorasi yang
memanfaatkan gelombang pantul yang menembus batas bidang lapisan batuan
bedasarkan sifat fisisnya. Sumber gelombang seismik yang digunakan di darat
umumnya adalah ledakan dinamit, sedangkan di laut menggunakan sumber getar
berupa air gun. Respon yang yang ditangkap batuan diukur dengan sensor yang
disebut geofon atau hidrofon. Gelombang yang datang mengenai lapisan-lapisan
batuan akan mengalami pemantulan, pembiasan, dan penyerapan. Respon batuan
terhadap gelombang yang datang akan berbeda-beda tergantung sifat fisik batuan
yang meliputi densitas, porositas, kepadatan, dan kedalaman batuan. Gelombang
yang dipantulkan akan ditangkap oleh geofon di permukaan dan diteruskan ke
instrumen untuk direkam. Hasil rekaman akan mendapatkan penampang seismik.

2.2. Kompenen Seismik Refleksi


2.2.1 Impedansi Akustik dan Koefisien Refleksi
Refleksi seismik awalnya berasal dari bidang batas yang menunjukkan
kontras densitas dan kecepatan ( dan ) yang cukup. Masing-masing lapisan
tersebut memiliki impedansi akustik yang dirumuskan sebagai berikut :
= . (2.1)
Sedangkan bidang batas antar lapisan umumnya berkaitan dengan bidang
sedimentasi, ketakselarasan dan lain-lain. Dalam penjalarannya, gelombang
seismik sering dituliskan dalam bentuk raypath, dan berlaku hukum Snell. Respon
seismik dari sebuah muka gelombang terpantul bergantung dari besarnya
perubahan dan nya, yang dinyatakan dalam nilai densitas dan kecepatan dari
tiap-tiap lapisan pada interfacenya
Faktor kecepatan dari batuan lebih mempunyai arti penting dalam
mengontrol harga IA dibandingkan dengan densitas. Anstey (1977)
menganalogikan IA dengan acoustic hardness dimana batuan yang keras dan
susah dimampatkan mempunyai IA yang tinggi, sedangkan batuan lunak lebih
mudah dimampatkan dan mempunyai IA yang rendah.
Energi seismik yang terus menjalar ke dalam bumi akan diserap dalam tiga
bentuk berikut :
Divergensi spherical dimana kekuatan gelombang (energi per unit
area dari muka gelombang) menurun sebanding dengan jarak akibat
adanya spreading geometris. Besar pengurangan densitas ini adalah
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak penjalaran gelombang.
Absorbsi atau Q dimana energi berkurang karena terserap oleh massa
batuan. Besar energi yang terserap ini meningkat dengan frekuensi.
Terpantulkan yang merupakan dasar penggunaan metode seismik
refleksi. Perbandingan antara energi yang dipantulkan dengan energi
yang datang pada keadaan normal (Koefisien Refleksi) adalah:

2 1
KR = (2.2)
2 +1

2.2.2 Polaritas dan fase


Polaritas (gambar 2.4) merupakan suatu konvensi rekaman dan penampang
dari data seismik. SEG (Society Exploration of Geophysics) mendefinisikan
polaritas normal sebagai berikut:
Sinyal seismik positif akan menghasilkan tekanan akustik positif
pada hidropon di air atau pergerakan awal ke atas pada geopon.
Sinyal seismik yang positif akan terekam sebagai nilai negatif pada
tape, defleksi negatif pada monitor dan trough pada penampang
seismik.
Polaritas mempunyai peranan sangat kritis dalam interpretasi dan oleh
karenanya harus dipahami pada awal interpretasi. Polaritas dapat ditentukan dari :
1. Keterangan penampang seismik
2. Menghitung jenis polaritas untuk batas impedansi akustik yang
pasti.
3. Membandingkan data seismik dengan data sumur pada saat
pengikatan data seismik dan sumur.
Gambar 2.4 Polaritas wavelet (a) fase nol, (b) fase minimum (Abdullah, 2007)

Gelombang seismik yang ditampilkan dalam rekaman seismik dapat


dikelompokan menjadi dua jenis yaitu fase minimum dan fase nol. Pada
gelombang fase minimum, energi yang berhubungan dengan batas IA
terkonsentrasi pada onset di bagian muka gelombang tersebut, sedangkan pada
fase nol batas IA akan terdapat pada peak bagian tengah. Dibandingkan dengan
fase minimum, fase nol mempunyai beberapa kelebihan:
Untuk spektrum amplitudo yang sama, sinyal fase nol akan selalu
lebih pendek dan beramplitudo lebih besar daripada fase minimum,
sehingga rasio sinyal-noise-nya juga akan lebih besar.
Amplitudo maksimum sinyal fase nol umumnya akan selalu berimpit
dengan spike refleksi, sedangkan pada kasus fase minimum amplitudo
maksimum tersebut terjadi setelah spike refleksi terkait.

2.2.3 Well-Seismic Tie


Well-seismic tie atau pengikatan data seismik dan sumur dilakukan untuk
meletakkan horison seismik dalam skala waktu pada posisi kedalaman sebenarnya
dan agar data seismik dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang diplot
pada skala kedalaman.
a. Seismogram Sintetik
Seismogram sintetik dibuat dengan cara mengkonvolusikan wavelet
dengan data KR (Koefisien Refleksi). Data KR diperoleh dari data log
sonik dan densitas. Wavelet yang digunakan sebaiknya mempunyai
frekuensi dan bandwith yang sama dengan penampang seismik.
Seismogram sintetik final merupakan superposisi dari refleksi-refleksi
semua reflektor.

Gambar 3.6. Seismogram sintetik yang diperoleh dari konvolusi RC dan


wavelet

b. Check-Shot Survey
Check-shot survey dilakukan untuk mendapatkan Time-Depth curve
yang digunakan untuk pengikatan data seismik dan sumur, perhitungan
kecepatan interval, kecepatan rata-rata dan koreksi data sonik pada
pembuatan seismogram sintetik. Pada check-shot survey, kecepatan diukur
dalam lubang bor dengan sumber gelombang di atas permukaan.
Pengukurannya dilakukan pada horison-horison yang ditentukan
berdasarkan data log geologi dan waktu first-break rata-rata untuk tia
horison dilihat dari hasil pengukuran tersebut.

c. Vertical Seismic Profile (VSP)


VSP hampir sama dengan check-shot survey. Perbedaannya adalah
pada VSP dipakai geopon yang lebih banyak dan interval pengamatannya
lebih tidak lebih dari 30 m, sehingga didapatkan rekaman penuh selama
beberapa detik. Gelombang ke bawah berasal dari refleksi first-
break/mutipel-nya dan pada rekamannya akan menentukkan waktu tempuh
yang meningkat terhadap kedalaman. VSP mempunyai beberapa
kelebihan, yaitu:
Refleksi dapat diikat langsung dari rekaman seismik ke data sumur.
Multipel dapat dengan mudah diidentifikasi.
Refleksi dari reflektor di bawah TD masih dapat dievaluasi.
Kecepatan interval dan KR dapat dihitung secara akurat.

2.3. Seismik Inversi


Inversi Seismik dapat didefinisikan sebagai suatu teknik pembuatan model
geologi bawah permukaan menggunakan data seismik sebagai input dan data
sumur sebagai pengontrolnya (Sukmono,2007). Inversi merupakan kebalikan dari
pemodelan dengan metoda ke depan (forward modelling) yang berhubungan
dengan pembuatan seismogram sintetik berdasarkan model bumi. Tujuan dasar
dari inversi seismik adalah melakukan transformasi data seismik refleksi menjadi
nilai kuantitatif sifat fisik sera deskripsi reservoar.

Gambar 3.3 Skema proses inversi seismik


Metode seismik inversi secara garis besar dapat di bagi menjadi dua yaitu
inversi post-stack dan inversi pre-stack (Gambar 3.4). Inversi pre-stack
merupakan pengolahan data seismik sebelum di stacking sedangkan post-stack
dilakukan setelah data seismik di stacking. Inversi pre-stack bertujuan untuk
menurunkan parameter elastik dalam penentuan karakter batuan, sedangkan
inversi post-stack bertujuan mendapatkan kembali nilai koefisien refleksi dari
rekaman seismik yang selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai impedansi
akustik lapisan batuan.

Gambar 3.4 Berbagai macam tipe metode seismik inversi (Sukmono, 2000)

2.3.1 Model Based Inversion


Prinsip metoda ini adalah membuat model geologi dan
membandingkannya dengan data rill seismik. Hasil perbandingan tersebut
digunakan secara iteratif memperbaharui model untuk menyesuaikan dengan data
seismik. Metode ini dikembangkan untuk mengatsi masalah yang tidak dapat
dipecahkan menggunakan metode rekursif. Teknik ini dilakukan dengan cara:
1) Membuat model inisial dan versi blocky dari model tersebut dengan merata
ratakan AI sepanjang lapisan block yang digunakan.
2) Nilai AI diubah menjadi reflektivitas.
3) Membangun model konvolusi antara nilai reflektivitas yang didapat dengan
suatu wavelet untuk mendapatkan sintetik.

4) Untuk mendapatkan residual, maka tras seismik dikurangi dengan sintetik.


5) Memodifikasi nilai AI dan ketebalan dengan menggunakan metode
Generalized Linear Inversion (GLI), sehingga eror yang dihasilkan berkurang.
6) Dilakukan iterasi hingga didapat hasil yang memuaskan.

Model geologi dikembangkan melalui tiga tahapan:


1) Tambahkan kontrol kecepatan (dan juga densitas, jika diperlukan) pada
line seismik yang di-inversi.
2) Stretch dan squeeze kan data log pada titik kontrol.
3) Tambahkan kontrol lateral pada reflektor seimik utama dengan picking
dan membuat interpolasi dari well log sedemikian rupa sehingga cocok
dengan reflektornya.

Gambar 3.5Diagram alir proses Inversi Model Based


Keuntungan penggunaan metoda inversi berbasiskan model adalah metode
ini tidak menginversi langsung dari seismik melainkan menginversi model
geologinya. Permasalahan potensial menggunakan metoda inversi berbasis model
adalah:
1) Sifat sensitif terhadap bentuk wavelet, dimana dua wavelet berbeda dapat
menghasilkan tras seismik yang sama.
2) Sifat ketidak-unikan (non-uniqueness) untuk wavelet tertentu dimana semua
hasil sesuai dengan tras seismik pada lokasi sumur yang sama.

3.2.2 Sparse Spike Inversion


Metode Sparse-spike ini mengasumsikan bahwa reflektivitas yang
sebenarnya dapat diasumsikan sebagai seri dari spike-spike besar yang
bertumpukan dengan spike-spike yang lebih kecil sebagai background.
Kemudian dilakukan estimasi wavelet berdasarkan asumsi model tersebut.
Sparse-spike mengasumsikan bahwa hanya spike yang besar yang penting.
Inversi ini mencari lokasi spike yang besar dari tras seismik. Spike-spike
tersebut terus ditambahkan sampai tras dimodelkan secara cukup akurat.
Amplitudo dari blok impedansi ditentukan dengan menggunakan algoritma inversi
Model Based. Input parameter tambahan pada metoda ini adlah menentukan
jumlah maksium spike yang akan dideteksi pada tiap tras seismik dan treshold
pendeteksian seismik. Model dasar trace seismik didefinisikan dengan (Sukmono,
2007) :
s(t) = w (t) * r (t) + n (t) (3.13)

Persamaan (3.13) mengandung tiga variabel yang tidak diketahui


sehingga sulit untuk menyelesaikan persamaan tersebut, namun dengan
menggunakan asumsi tertentu permasalahan dekonvolusi dapat diselesaikan
dengan beberapa teknik dekonvolusi yang dikelompokkan dalam metoda sparse-
spike. Teknik-teknik tersebut meliputi :
1) Inversi dan dekonvolusi maximum-likelihood
2) Inversi dan dekonvolusi norm-L1
3) Dekonvolusi entropi minimum (MED)
2.4. Seismik Atribut
Seismik atribut didefinisikan sebagai karakterisasi secara kuantitatif dan
deskriptif dari data seismik yang secara langsung dapat ditampilkan dalam skala
yang sama dengan data awal (Barnes, 1999). Dengan kata lain seismik atribut
merupakan pengukuran spesifik dari geometri, dinamika, kinemat ika dan juga
analisis statistik yang diturunkan dari data seismik. Informasi utama dari seismik
atribut adalah amplitudo, frekuensi, dan atenuasi yang selanjutnya akan
digunakan sebagai dasar pengklasifikasian atribut lainnya. Semua horison dan
bentuk dari atribut-atribut ini tidak bersifat bebas antara satu dengan yang
lainnya, perbedaannya hanya pada analisis data pada informasi dasar yang akan
berpengaruh pada gelombang seismik dan juga hasil yang ditampilkan
(Sukmono, 2002). Informasi dasar yang dimaksud disini adalah waktu,
frekuensi, dan atenuasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar klasifikasi
attribut (Brown, 2000).

Gambar 3.7 Klasifikasi Atribut Seismik (Brown, 2000)


Secara umum, atribut turunan waktu akan cenderung memberikan
informasi perihal struktur, sedangkan atribut turunan amplitudo lebih cenderung
memberikan informasi perihal stratigrafi dan reservoir. Peran atribut turunan
frekuensi sampai saat ini belum betul-betul dipahami, namun terdapat keyakinan
bahwa atribut ini akan menyediakan informasi tambahan yang berguna perihal
reservoir dan stratigrafi. Atribut atenuasi juga praktis belum dimanfaatkan saat
ini, namun dipercaya bahwa atribut ini dimasa datang akan berguna untuk lebih
memahami informasi mengenai permeabilitas.
Atribut-atribut yang terdapat umumnya adalah atribut hasil pengolahan
post-stack yang dapat diekstrak sepanjang satu horison atau dijumlahkan
sepanjang kisaran window tertentu. Umumnya analisis window tersebut
merupakan suatu interval waktu atau kedalaman yang datar dan konstan sehingga
secara praktis tampilannya berupa suatu sayatan yang tebal, dan sering dikenal
dengan sayatan statistika (Sukmono, 2002). Analisis window pada ekstraksi
atribut dapat ditentukan dengan empat cara, yaitu :
Analisis window konstan, yaitu dengan mengambil nilai interval yang
selalu tetap dengan interval waktu/kedalaman yang selalu sama.
Analisis window yang dipusatkan pada sebuah horison, yaitu dengan
mengambil nilai interval mengikuti horison dengan lebar yang sama
besar untuk bagian atas dengan bagian bawah dari horison tersebut.
Analisis window dengan nilai tertentu pada horison, yaitu dengan nilai
interval yang dapat ditentukan berbeda untuk bagian atas dan bagian
bawah dari horison.
Analisis window antar horison, dimana interval yang diambil dibatasi
bagian atas dan bagian bawahnya, masing-masing oleh sebuah horison
yang berbeda.

III. Metode Penelitian


3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilakukan tanggal 16 Januari 2017 sampai dengan 19
Februari 2017 di TAC Pertamina EP Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi.
Tanggal : 16 Januari 2017 19 Februari 2017
Tempat : TAC Pertamina EP Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi
3.2. Peralatan yang Digunakan
Untuk mencapai tujuan dalam pelaksanaan penelitian, digunakan beberapa
alat penunjang yang tersedia, di antaranya perangkat keras dan perangkat lunak
computer.
3.3. Skema Penelitian
Pada gambar 3.1 dibawah dijelaskan proses penelitian dari pengumpulan
data hingga menghasilkan peta yang akan diinterpretasi.

Mulai

Informasi
Geologi

Data Seismik Well Data


3D PSTM
Analisa Zona Target

Ekstraksi Wavelet Analisa Cross Plot

Log AI (Accoustic
Impedance)

Seismogram Sintetik

Tidak Well
Seismic
Tie

Ya

Picking Horizon

Peta Time Structure

Intepretasi

Kesimpulan

Selesai
Gambar 3.1 Diagram alir penelitian
3.4. Jadwal Penelitian
Minggu
Jenis Kegiatan
ke 1 ke 2 ke 3 ke 4
Studi Literatur
Pengumpulan Data
Interpretasi
Laporan
Analisis Data dan
Diskusi
Evaluasi
Keterangan :
1. Studi Pustaka
Melakukan studi pustaka dari literatur, makalah dan laporan dari penulis-
penulis terdahulu mengenai tahapan dan cara interpretasi data seismik.
Sebagai langkah awal untuk pendalaman materi sebelum melakukan
interpretasi data seismik secara langsung di lapangan.
2. Pengumpulan Data
Merupakan tahapan pengumpulan data-data yang diperlukan dalam
pelaksanaan penelitian berupa data yang telah diperoleh dari tahapan
akuisisi di lapangan.
3. Pengolahan dan Interpretasi Data
Melakukan pengolahan data dan interpretasi data terhadap data-data yang
telah dikumpulkan untuk mencapai tahapan penelitian yang telah disusun
dan direncanakan sehingga dapat mencapai tujuan dari penelitian tersebut
yang sesuai dengan tema yang diangkat.
4. Penulisan Laporan dan Evaluasi:
Pengerjaan laporan hasil penelitian dan melakukan evaluasi berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan.

IV Penutup
Kesempatan yang diberikan pada mahasiswa dalam melakukan kerja
praktek akan dapat membuka wawasan mahasiswa pada bidang teknologi
geofisika yang dipakai dalam dunia perusahaan. Dan dalam kesempatan ini
mahasiswa akan memanfaatkanya semaksimal mungkin hasil dari kerja praktek
ini dibuat dalam bentuk laporan dan akan dipresentasikan di universitas (prodi).
Semoga akan selalu terjalin kerjasama yang baik dan menguntungkan antara
Lembaga Perguruan Tinggi dalam hal ini Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta dengan pihak perusahaan yaitu TAC Pertamina EP
Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, H. 1996, Migrasi Seismik 2-D Dengan Metode Somasi-Kirchoff (Tugas


Akhir 1996, Program_in_Geophysics). Departemen Meteorologi dan
Geofisika ITB. Bandung.
Ekasapta, A. S. 2008, Peranan MIGRASI dalam Seismic Data Processing (all
about seismic). A little bit of adventure on the earth.

Kruk, V. D. 2001, Reflection Seismic 1, Institut fr Geophysic ETH, Zrich : 86


pp.
Sanny, T. A. 2004, Panduan Kuliah Lapangan Geofisika Metode Seismik Refleksi.
Dept. Teknik Geofisika, ITB, Bandung : 34 hal.
Sanny, T. A. 1998, Seismologi Refleksi. Dept. Teknik Geofisika, ITB, Bandung :
31 hal.
Sismanto, Dr. 2006, Dasar-dasar Akuisisi dan Pengolahan Data Seismik.
Lab.Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UGM
: hal. 177.
Sun, S., dan Bancroft, J. C. 2001, The Migration Aperture Actually Contribute To
The Migration Result.
Wibowo, E. A. 2007, Studi Migrasi Kirchoff 2D: Implementasi MPI pada
Komputer Cluster. Departemen Meteorologi dan Geofisika ITB.
Bandung.
Yilmaz, O. 1987, Seismic Data Processing: Society of Exploration of Geophysics-
Investigations in Geophysics, V.2, 526 p.