Anda di halaman 1dari 8

Elisha Loisiana J Simanjuntak

145020301111046
PENGANGGARAN & EVALUASI KINERJA SEKTOR PUBLIK (CA)

RESUM 2
PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA
A. Pengertian Anggaran Berbasis Kinerja
Anggaran kinerja adalah perencanaan kinerja tahunan secara
terintegrasi yang menunjukan hubungan antara tingkat pendanaan program
dan hasil yang diinginkan dari program tersebut.
Anggaran dengan pendekatan kinerja merupakan suatu sistem
anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari
perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Anggaran kinerja yang
efektif lebih dari sebuah objek anggaran program atau organisasi dengan
outcome yang telah diantisipasi. Hal ini akan menjelaskan hubungan biaya
dengan hasil (result). Ini merupakan kunci dalam penanganan program secara
efektif. Sebagai variasi antara perencanaan dan kejadian sebenarnya, manajer
dapat menentukan input-input resource dan bagaimana input-input tersebut
berhubungan dengan outcome untuk menentukan efektivitas dan efisiensi
program.
Program pada anggaran berbasis kinerja didefinisikan sebagai
instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga untuk mencapai sasaran
dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang
dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Aktivitas tersebut disusun sebagai
cara untuk mencapai kinerja tahunan. Dengan kata lain, integrasi dari rencana
kerja tahunan yang merupakan rencana operasional dari perencanaan strategik
dan anggaran tahunan merupakan komponen dalam penganggaran berbasisi
kinerja.
Elemen-elemen yang penting untuk diperhatikan dalam penganggaran
berbasis kinerja adalah:
Tujuan yang telah disepakati dan ukuran pencapaiannya.
Pengumpulan informasi yang sistematis atas relisasi pencapaian kinerja
dapat diandalkan dan konsisten, sehingga dapat diperbandingkan antara
biaya dengan pretasinya. Penyediaan informasi secara terus-menerus
sehingga dapat digunakan dalam manajemen perencanaan, pemrograman,
penganggaran dan evaluasi.
Kondisi yang harus dipersiapkan sebagai faktor pemicu keberhasilan
implementasi penggunaan anggaran berbasis kinerja:
Kepemimpinan dan komitmen dari seluruh komponen organisasi
Fokus penyempurnaan administrasi secara terus-menerus.
Sumber daya yang cukup untuk usaha penyempurnaan tersebut (uang,
waktu, dan orang).
Penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) yang jelas.
Keinginan yang kuat untuk berhasil.

B. Ciri-ciri anggaran berbasis kinerja


Anggaran berbasis kinerja memilikin ciri-ciri antara lain:
1. Secara umum sistem ini mengandung tiga unsur pokok yaitu:
a. Pengeluaran pemerintah diklasifikasikan menurut program dan
kegiatan.
b. Pengukuran hasil kerja (Performance Measurement).
c. Pelaporan program (Program Reporting).
2. Titik perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kerja, bukan pada
pengawasan.
3. Setiap kegiatan harus dilihat dari sisi efisiensi dan memaksimalkan output.
4. Bertujuan untuk menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat
digunakan untuk penyusunan target dan evaluasi pelaksanaan kerja.
5. Keterkaitan yang erat antara tujuan, sasaran dan proses penganggaran

C. Keunggulan dan kelemahan dari anggaran berbasis kinerja


Kunggulan anggaran berbasis kinerja:
1. Memungkinkan pendelegasian wewenang dalam pengambilan keputusan.
2. Merangsang partisipasi dan memotivasi satuan kerja melalui proses
pengusulan dan penilaian anggaran yang bersifat faktual.
3. Membantu fungsi perencanaan dan mempertajam pembuatan keputusan
pada semua tingkat.
4. Memungkinkan alokasi dana secara optimal dengan didasarkan efisiensi
satuan kerja.
5. Menghindari pemborosan.
6. Dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan setiap satuan,lebih efektif
dalam mencapai sasaran.
Kelemahan anggaran berbasis kinerja:
1. Tidak semua kegiatan dapat distandarisasikan.
2. Tidak semua hasil kerja dapat diukur secara kuantitatif.
3. Tidak ada kejelasan mengenai siapa pengambil keputusan dan siapa yang
menanggung beban atas keputusan.

D. Karakteristik Anggaran berbasis kinerja


APBD dengan pendekatan kinerja harus memuat beberapa hal:
1. Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja.
2. Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen
kegiatan yang bersangkutan.
3. Persentase dari jumlah pendapatan APBD yang mendanai pengeluaran
administrasi umum, operasi, dan pemeliharan serta belanja modal atau
pembangunan.

E. Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja


Dalam menyusun anggaran berbasis kinerja ada hal yang perlu
diperhatikan yaitu prinsip-prinsip penganggaran, aktivitas semua dalam
penyusunan anggaran berbasis kinerja, peranan legislatif, siklus perencanaan
anggaran daerah, struktur APBD, dan penggunaan anggaran berbasis kinerja.
Prinsip-prinsip penganggaran
- Transparansi dan akuntabilitas anggaran. APBD harus dapat menyajikan
informasi yang jelas mengenai tujuan, sasaran, hasil, dan manfaat yang
diperoleh dari masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang
dianggarkan. Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama
untuk mengetahui proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan
kepentingan masyarakat terutama pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup
masyarakat.
- Disiplin anggaran. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan
adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah cukup dan tidak
dibenarkan melaksanakan kegiatan/proyek yang belum atau tidak tersedia
anggarannya dalam APBD atau perubahan APBD.
- Keadilan anggaran. Pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan
anggarannya secara adil agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok
masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian pelayanan karena
pendapatan daerah pada hakekatnya diperoleh melalui peran serta
masyarakat.
- Efisiensi dan efektivitas anggaran. Penyusunan anggaran hendaknya
dilakukan berlandaskan azas efisiensi, tepat guna, tepat waktu
pelaksanaan, dan penggunaannya dapat dipertanggung jawabkan. Dana
yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk dapat
menghasilkan peningkatan dan kesejahteraan untuk kepentingan
masyarakat.
- Disusun dengan pendekatan kinerja. APBD disusun dengan pendekatan
kinerja yaitu mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja
(output/outcome) dari perencanaan alokasi biaya atau input yang telah
ditetapkan. Hasil kerjanya harus sepadan atau lebih besar dari biaya atau
input yang ditetapkan.

Selain prinsip-prinsip secara umum seperti apa yang telah diuraikan di


atas, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 mengamanatkan perubahan-
perubahan kunci tentang penganggaran sebagai berikut:
1. Penerapan pendekatan penganggaran dengan perspektif jangka menengah.
Pendekatan dengan perspektif jangka menengah memberikan kerangka
yang menyeluruh, meningkatkan keterkaitan antara proses perencanaan
dan penganggaran, mengembangkan disiplin fiskal, mengarahkan alokasi
sumber daya agar lebih rasional dan strategis, dan meningkatkan
kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dengan pemberian pelayanan
yang optimal dan lebih efisien.
2. Penerapan anggaran secara terpadu.
Dengan pendekatan ini, semua kegiatan instansi pemerintah disusun
secara terpadu, termasuk mengintegrasikan anggaran belanja rutin dan
anggaran belanja pembangunan. Hal tersebut merupakan tahapan yang
diperlukan sebagai bagian upaya jangka panjang untuk membawa
penganggaran menjadi lebih transparan, dan memudahkan penyusunan
dan pelaksanaan anggaran yang berorientasi kinerja.
3. Penerapan penganggaran berdasarkan kinerja.
Pendekatan ini memperjelas tujuan dan indikator kinerja sebagai
bagian dari pengembangan sistem penganggaran berdasarkan kinerja. Hal
ini akan mendukung perbaikan efisiensi dan efektifitas dalam pemanfaatan
sumber daya dan memperkuat proses pengambilan keputusan tentang
kebijakan dalam kerangka jangka menengah.
Aktivitas Utama dalam Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja
Aktivitas Utama dalam Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja adalah
mendapatkan data kuantitatif dan membuat keputusan penganggarannya.
Proses mendapatkan data kuantitatif bertujuan untuk memperoleh informasi
dan pengertian tentang berbagai program yang menghasilkan output dan
outcome yang diharapkan. Sedangkan proses pengambilan keputusannya
melibatkan setiap level dari manajemen pemerintahan. Pemilihan dan prioritas
program yang akan dianggarkan tersebut akan sangat tergantung pada data
tentang target kinerja yang diharapkan dapat dicapai.
Peranan Legislatif dalam Penyusunan Anggaran
Alokasi anggaran setiap program di masing-masing unit kerja pada
akhirnya sangat dipengaruhi oleh kesepakatan antara legislatif dan eksekutif.
Prioritas dan pilihan pengalokasian anggaran pada tiap unit kerja dihasilkan
setelah melalui koordinasi diantara bagian dalam lembaga legislatif dan
eksekutif. Dalam usaha mencapai kesepakatan, seringkali keterkaitan antara
kinerja dan alokasi anggaran menjadi fleksibel dan longgar namun dengan
adanya analisa standar belanja, alokasi anggaran menjadi lebih rasional.
Berdasarkan kesepakatan tersebut pada akhirnya akan ditetapkanlah Perda
APBD.
Siklus Perencanaan Anggaran Daerah
Perencanaan anggaran daerah secara keseluruhan yang mencakup
penyusunan kebijakan umum APBD sampai dengan disusunnya rancangan
APBD terdiri dari beberapa tahapan proses perencanaan anggaran daerah
berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 serta Undang-Undang
Nomor 32 dan 33 Tahun 2004, tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah daerah menyampaikan kebijakan umum APBD tahun
anggaran berikutnya sebagai landasan penyusunan rancangan APBD
paling lambat pada pertengahan bulan Juni tahun berjalan. Kebijakan
umum APBD tersebut berpedoman pada RKPD. Proses penyusunan
RKPD tersebut dilakukan antara lain dengan melaksanakan musyawarah
perencanaan pembangunan yang selain diikuti oleh unsur-unsur
pemerintahan juga mengikutsertakan dan atau menyerap aspirasi
masyarakat terkait antara lain asosiasi profesi, perguruan tinggi, lembaga
swadaya masyarakat, pemuka adat, pemuka agama, dan kalangan dunia
usaha.
2. DPRD kemudian membahas kebijakan umum APBD yang disampaikan
oleh pemerintah daerah dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahunan
anggaran berikutnya.
3. Berdasarkan kebijakan umum APBD yang telah disepakati dengan DPRD
pemerintah daerah bersama DPRD membahas prioritas dan plafon
anggaran sementara untuk dijadikan acuan bagi setiap SKPD.
4. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun RKA-SKPD tahun
berikutnya dengan mengacu pada prioritas dan plafon anggaran sementara
yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah bersama DPRD.
5. RKA-SKPD tersebut kemudian disampaikan kepada DPRD untuk dibahas
dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD.
6. Hasil pembahasan RKA-SKPD disampaikan kepada pejabat pengelola
keuangan daerah sebagai bahan penyusunan rancangan perda tentang
APBD tahun berikutnya.
7. Pemerintah daearah meng ajukan rancangan perda tentang APBD disertai
dengan penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD
pada minggu pertama bulan Oktoberb tahun sebelumnya.
8. Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai rancangan perda tentang
APBD dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran
yang bersangkutan dilaksanakan.
Siklus APBD
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Standar
Akuntansi Pemerintahan, struktur APBD merupakan satu kesatuan yang
terdiri dari: Anggaran pendapatan, Anggaran belanja, Transfer, dan
Pembiayaan.

F. Penggunaan Analisis Standar Belanja dalam Penyusunan Anggaran


Berbasis Kinerja.
Salah satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penetapan belanja
daerah sebagimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
Pasal 167 (3) adalah Analisa Standar Belanja (ASB). Alokasi belanja ke
dalam aktivitas untuk menghasilakan output seringkali tanpa alasan dan
justifikasi yang kuat. ASB mendorong penetapan biaya dan pengalokasian
anggaran kepada setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih logis dan mendorong
dicapainya efisiensi secara terus-menerus karena adanya pembandingan biaya
per unit setiap output dan diperoleh praktik-parktik terbaik dalam desain
aktivitas.
Dalam membuat ASB terdapat beberapa pertimbangan yang dapat
dipergunakan yaitu:
o Pemulihan biaya
o Keputusan-keputusan pada tingkat penyediaan jasa
o Keputusan-keputusan berdasarkan benefit atau cost.
o Keputusan investasi

G. Metode Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja


Pengelolaan anggaran daerah telah menjadi perhatian utama bagi para
pengambil keputusan dipemerintahan, baik ditingkat pusat maupun daerah.
Sejauh ini perundang-undangan dan produk hukum telah dikeluarkan dan
diberlakukan dalam upaya untuk menciptakan sistem pengelolaan anggaran
yang mampu memenuhi berbagai tuntutan dan kebutuhan masyarakat, yaitu
terbentuknya semangat desentralisasi, demokratisasi, transparasi, akuntabilitas
dalam proses penyelenggaraan pemerintahan pada umumnya dan proses
pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.
Untuk menghasilkan penyelenggaraan anggaran daerah yang efektif
dan efisien, tahap persiapan atau perencanaan anggaran merupakan salah satu
faktor penting dan menentukan dan keseluruhan siklus anggaran daerah.
Namun demikian tahap persiapan atau perencanaan anggaran harus diakui
memang hanyalah salah satu tahap penting dalam keseluruhan siklus atau
proses anggaran daerah. Dengan kata lain, sebaik apa pun perencanaan yang
telah disusun oleh pemerintah daerah tidak akan memberikan ari apa-apa
manakala dalam tahap pelaksanaan dan tahap pengendaliannya tidak berjalan
dengan secara tidak baik.
Anggaran pendapatan dan belanja daerah merupakan amanat rakyat
kepada pemerintah daerah untuk mewujudkan aspirasi dan kebutuhan mereka.
Anggaran merupakan refleksi aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam satu
tahun fiskal tertentu yang dinyatakan dalam satuan mata uang. Di sisi
pemerintah daerah, perwujudan amanat rakyat ini dinyatakan dalam bentuk
rencana kerja yang akan dilaksanakan pemerintah daerah dengan
menggunakan sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian, penyusunan
anggran daerah harus berorientasi pada kepentingan masyarakat atau publik.
Sejalan dengan hal itu, pengelolaan anggaran daerah (APBD) di era
reformasi ini, ditekankan perlunya perubahan paradigma yang
mempertimbangkan hal berikut:
1. Adanya keterkaitan yang erat dan jelas antara proses pengambilan
keputusan politis DPRD, perencanaan operasional di eksekutif, dan
penganggaran di masing-masing unit organisasi atau satuan kerja teknis
2. APBD harus berorientasi pada kepentingan publik.
3. APBD disusun berdasarkan pendekatan kinerja.
4. Didukung oleh sistem dan prosedur akuntansi yang memadai.

H. Sistem Anggaran Berbasis Kinerja


Sistem anggaran kinerja pada dasarnya mencakup dua hal yaitu
struktur (bentuk dan susunan) anggaran, proses (mekanisme) penyusunan
anggaran.
1. Struktur anggaran kinerja.
terdiri atas elemen-elemen pendapatan, belanja, dan pendanaan daerah
yang memberikan gambaran antara lain mengenai:
Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja.
Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan
komponen kegiatan yang bersangkutan.
Bagian APBD yang mendanai belanja administrasi umum, belanja
operasi dan pemeliharaan dan belanja modal atau investasi untuk
pelayanan publik dan aparatur.
2. Proses penyusunan anggaran kinerja
meliputi beberapa tahap yaitu:
Penyusunan arah dan kebijakan umum APBD berdasarkan hasil
penjaringan aspirasi masyarakat dan dokumen perencanaan daerah.
Berdasarkan arah dan kebijakan umum APBD dengan
mempertimbangkan kondisi dan kemampuan daerah disusun strategi
dan prioritas APBD.
Strategi dan prioritas APBD selanjutnya menjadi dasar penyusunan
program dan kegiatan.
Anggaran disusun berdasarkan program dan kegiatan yang telah
direncanakan