Anda di halaman 1dari 95

About Me

Contact Me
Kotak Request
Hadist Online
Al Quran Online

Husein Muhibbi
Belajar Adalah Berbagi Untuk Kemajuan Agama dan Bangsa

Makalah
Artikel
Ebook
Blogger Tips Blogger
Sitemap

Home Makalah FUNGSI DAN TUJUAN PERENCANAAN SISTEM PEMBELAJARAN


PAI

FUNGSI DAN TUJUAN PERENCANAAN


SISTEM PEMBELAJARAN PAI
FUNGSI DAN TUJUAN PERENCANAAN SISTEM PEMBELAJARAN PAI

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Setiap kegiatan betapa sederhananya tentulah punya tujuan tertentu yang


hendak dicapai pada akhir kegiatan tersebut. Berhasil atau tidaknya sesuatu
kegiatan memang bisa diukur dari sejauh mana kegiatan tersebut mencapai
tujuannya. Mendidik dan mengajar adalah suatu kegiatan atau proses yang
bertujuan, yaitu suatu proses kegiatan yang selalu terikat oleh tujuan, terarah pada
tujuan dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan. Taraf pencapaian tujuan
pengajaran merupakan petunjuk praktis tentang sejauh mana kegiatan edukatif yaitu
kegiatan interaksi belajar-mengajar harus dibawa untuk mencapai tujuan akhir atau
tujuan umum pendidikan.
Guru sebagai pendidik di sekolah, telah dipersiapkan secara formal dalam
lembaga pendidikan guru. Ia telah mempelajari ilmu, keterampilan, dan seni sebagai
guru. Ia juga telah dibina untuk memiliki kepribadian sebagai pendidik. Lebih dari itu
mereka juga telah diangkat dan diberi kepercayaan oleh masyarakat menjadi guru,
bukan sekadar dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang, tetapi juga
pengakuan dan penghargaan dari masyarakat. Guru melaksanakan tugasnya
sebagai pendidik dengan rencana dan persiapan yang matang. Mereka mengajar
dengan tujuan yang jelas, dan bahan-bahan yang telah disusun secara sistematis
dan rinci, dengan cara dan alat-alat yang dipilih dan dirancang secara cermat. Di
sekolah, guru melakukan interaksi pendidikan secara berencana dan sadar.

Akan tetatpi pada saat ini, masih banyak terdapat guru-guru mengajar dengan
tidak mempunyai rencana dan persiapan mengajar yang matang, dan metode
pembelajaran yang cenderung monoton, yang pada akhirnya para guru mengajar
hanya sebatas mentransfer ilmu. Guru juga seringkali dihadapkan pada masalah
media pembelajaran, mereka mengajar tanpa menggunakan media yang tepat. Hal
ini dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah. Sehingga, hasil yang
dicapai jauh dari apa yang diharapkan.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana konsep perencanaan sistem pembelajaran pendidikan agama Islam?
2. Apa fungsi dan tujuan dari perencanaan pembelajaran itu?

PEMBAHASAN

A. Pengertian Perencanaan sistem Pembelajaran PAI


a. Pengertian perencanaan
Dalam ilmu manajemen perencanaan sering disebut dengan istilah planning
yaitu persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian
suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada tujuan
pencapaian tujuan tertentu.[1]

Perencanaan menurut Willian H. Newman menjelaskan bahwa perencaan


adalah menentukan apa yang akan dilakukan.1[2] Perencanaa berisi rangkaian
putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan tentang tujuan, penentuan kebijakan,
penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan
penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.

Sedangkan Ulbert Silalahi menyatakan bahwa perencanaan merupakan


kegiatan menetapkan tujuan serta merumuskan dan mengatur pemberdayaan
manusia, informasi, finansial, metode, dan waktu untuk memaksimalkan efisiensi
dan efektivitas pencapaian tujuan.[3]

Cunningham mendefinisikan bahwa perencanaan yaitu, menyeleksi dan


menghubungkan pengetahuan, fakta-fakta, imajinasi-imajinasi dan asumsi-asumsi
untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi
hasil yang diinginkan urutan kegiatan yang diperlukan dan prilaku dalam batas-batas
yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian.[4]

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan adalah


suatu cara yang dilakukan seseorang secara sistemik untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.

b. Pengertian sistem
Menurut Oemar Hamalik sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-
unsur yang saling terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan.2[5] Sedangkan dalam

1[1] Dr. Kasful Anwar Us. M.Pd. Perencanaan Sistem Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), Bandung; Alfabeta, 2010, hlm. 21

2[2] Ibid. Hlm. 21

3[3] Ibid. Hlm. 22

4[4] Made Pidarta, Perencanaan Pendidikan Parsipatori, (Jakarta, : PT Asdi Mahasatya, 2005, ) Cet
III, hlm. 1

5[5] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi aksara, 1995, hlm.1
kamus besar bahasa Indonesia sistem adalah perangkat atau unsur yang secara
langsung saling berkaitan dan sehingga membentuk totalitas.

Dapat dipahami bahwa, sistem itu tersusun dari berbagai macam komponen
yang saling berhubungan dan bahu membahu dalam mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Misalnya sistem pembelajaran yang terdiri dari tujuan, pembelajaran,
materi, metode, dan alat, sumber belajar, serta evaluasi pembelajaran. Semua ini
akan bermuara kepada pencapaian tujuan pembelajaran yang dimaksud.

c. Pengertian pembelajaran
Pengertian pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi
unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Dalam definisi yang paling umum,
sebuah sistem adalah sekumpulan objek/benda yang memiliki hubungan diantara
mereka.[6]

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses komunikasi yang


bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa
yang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hal ini sejalan dengan
pendapatnya Syaiful bahwa pembelajaran merupakan komunikasi dua arah,
mengajar dilakukan oleh guru dan belajar dilakukan oleh siswa.

Jadi perencanaan sistem pembelajaran PAI adalah suatu pemikiran/


persiapan untuk melaksanakan tujuan pengajaran atau aktifitas pengajaran dengan
menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran serta melalui langkah-langkah dalam
pembelajaran yang menjadi suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen
yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk
keseluruhan yang kompleks menjadi kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

B. Fungsi dan Tujuan Perencanaan Sistem Pembelajaran PAI

6[6] Ibid. hlm. 57


Fungsi guru dalam suatu sistem pengajaran adalah sebagai perancang dan
sebgai guru yang mengajar. Di samping itu, guru telah berpengalaman dalam
hubungannya dengan para siswanya dan menguasai prinsip-prinsip dan teknik
pengajaran. Dalam hal itu, berarti guru mendesain dirinya sendiri dalam kerangka
sistem belajar yang dikembangkannya.
Perencanaan pembelajaran memainkan peranan penting dalam pelaksanaan
pembelajaran yang meliputi rumusan tentang apa yang akan diajarkan pada siswa,
bagaimana cara mengajarkannya, dan seberapa baik siswa dapat menyerap semua
bahan ajar ketika siswa telah menyelesaikan proses pembelajarannya.
Perencanaan tersebut sangat penting bagi guru karena kalau tidak ada
perencanan yang baik, tidak hanya siswa yang akan tidak terarah dalam proses
belajarnya tapi guru juga tidak akan terkontrol, dan bisa salah arah dalam proses
belajar yang dikembangkannya pada siswa.

a) Fungsi Perencanaan Pembelajaran PAI


Pada hakikatnya perencanaan pengajaran secara umum mempunyai dua
fungsi pokok, yaitu:
1. Dengan adanya perencanaan, maka pelaksanaan pengajaran akan menjadi baik
dan efaektif. Maksudnya adalah, karena perencanaan atau persiapan tersebut,
maka seorang guru akan dapat memberikan pengetahuan yang baik. Karena ia
dapat menghadapi situasi di kelas dengan tegas dan mantap serta fleksibel.
2. Dengan membuat perencanaan yang baik, maka seorang guru akan tumbuh dan
berkembang menjadi guru professional. Maksudnya adalah, karena dalam
perbuatan perencanaan yang baik, maka seorang guru yang baik adalah berkat
pertumbuhan dan perkembangan dari hasil pengalaman atau belajar yang continue,
walaupun faktor bakat sangat menentukan.

Selain yang di jabarkan di atas, Oemar Hamalik (2001) mengemukakan bahwa pada
garis besarnya perencanaan pembelajaran berfungsi sebagai berikut:
1. Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan
hubungannya dengan pembelajaran yang dilakssiswaan untuk mencapai tujuan itu.

2. Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pembelajarannya


terhadap pencapaian tujuan pendidikan.
3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pembelajaran yang diberikan dan
prosedur yang dipergunakan.
4. Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat-- minat
siswa, dan mendorong motivasi belajar.
5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya
organisasi yang baik dan metoda yang tepat.
6. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan
bahan-bahan yang up to date kepada siswa.7 [7]

b) Tujuan Perencanaan Pembelajaran PAI


Perencanaan Pembelajaran bertujuan untuk memberikan acuan bagi guru
untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran agar lebih mudah, terarah, serta
berjalan dengan efisien dan efektif. Dengan kata lain, perencanaan pembelajaran
berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh karena itu, hal tersebut
hendaknya bersifat luwes (fleksibel) dan memberi kemungkinan bagi guru untuk
menyesuaikannya dengan siswa dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya.

Pada garis besarnya, perencanaan pembelajaran itu bertujuan untuk


mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses
pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Sagala bahwa:

Tujuan perencanaan bukan hanya penguasaan prinsip-prinsip fundamental


tetapi juga mengembangkan sikap yang positif terhadap program pembeljaran,
meneliti dan menentukan pemecahan masalah pembelajaran. Secara ideal tujuan
perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar,
metode dan penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan
kurikulum atas dasar bahasan dan mengelola alokassi waktu yang tersedia dan
membelajarkan siswa sesuai yang diprogramkan.

Tujuan perencanaan itu memungkinkan guru memilih metode mana yang


sesuai sehingga proses pembelajaran itu mengarah dan dapat mencapai tujuan
yang telah dirumuskan. Bagi guru, setiap pemilihan metode berarti menentukan jenis
proses belajar mengajar mana yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang
telah dirumuaskan. Hal ini juga mengarahkan bagaimana guru mengorganisasikan
kegiatan-kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang telah dipilihnya. Dengan
demikian betapa pentingnya tujuan itu diperhatikan dan dirumuskan dalam setiap
pembelajaran, agar pembeljaran itu benar-benar dapat mencapai tujuan
sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum.

Maka tujuan yang paling mendasar dari sebuah perencanaan pembelajaran


adalah sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru, serta mengarahkan dan
membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

C. Critical Thinking
Perencanaan pembelajaran berarti pemikiran tentang penerapan prinsip-
prinsip umum mengajar didalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu situasi
interaksi pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar kelas.
Makin baik dipikirkan, maka makin baiklah persiapan perencanaan pembelajaran itu,
sehingga bisa diharapkan makin baik pula dalam pelaksanaannya.
Karena perencanaan pembelajaran digunakan sebagai pedoman kegiatan guru
dalam mengajar dan pedoman siswa-siswinya dalam kegiatan belajar yang disusun
secara sistematis dan sistemik. Perencanaan menjadi sangat penting karena dapat
berfungsi sebagai dasar, pemandu, alat kontrol, dan arah pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran yang baik akan melahirkan proses pembelajaran yang
baik pula.
Selain itu, perencanaan pembelajaran seharusnya dipandang sebagai suatu
alat yang dapat membantu para pengelola pendidikan lebih berdaya guna dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik. Perencanaan dapat
menolong pencapaian suatu sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu, dan
memberi peluang untuk lebih dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya.
Semua perencanaan yang baik adalah suatu proses pertumbuhan. Pada
mulanya suatu konsep hanya samar-samar, lambat laun berkat pemikiran yang
matang maka konsep itu makin jelas dan terperinci. Setiap perencanaan harus
bersifat fleksibel (bisa berubah-ubah) sehingga ada usaha untuk selalu memperbaiki
dan mempertinggi mutu pengajarannya.
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Perencanaan sistem pembelajaran PAI adalah suatu pemikiran/ persiapan


untuk melaksanakan tujuan pengajaran atau aktifitas pengajaran dengan
menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran serta melalui langkah-langkah dalam
pembelajaran yang menjadi suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen
yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk
keseluruhan yang kompleks menjadi kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

tujuan yang paling mendasar dari sebuah perencanaan pembelajaran adalah


sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru, serta mengarahkan dan membimbing
kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Sedangkan fungsi dari perencanaan adalah mengorganisasikan dan


mengakomodasikan kebutuhan siswa secara spesifik, membantu guru dalam
memetakan tujuan yang hendak dicapai, dan membantu guru dalam mengurangi
kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Kasful Anwar Us. M.Pd. 2010. Perencanaan Sistem Pembelajaran Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Bandung; Alfabeta
Pidarta, Made.2005. Perencanaan Pendidikan Parsipatori, Jakarta : PT Asdi
Mahasatya, Cet III
Hamalik, Oemar. 1995, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi aksara

[7] Ibid. hlm.65


Tags :

Makalah

Tweet
Share
Share
Share
Share

Tentang Saya
Number of Entries : 35

Hanyalah seseorang yang sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk esok
yang lebih baik

Makalah

Next PUASA DAN PERMASALAHANNYA


Previous Fungsi dan Hakikat karya ilmiah

No comments:

Baca Dulu yak


Ini Tentang Barokah

Populer Post
Blog Archive
Post Kategori

Organisasi Profesi Guru dan Fungsinya (Profesi keguruan)


FUNGSI DAN TUJUAN PERENCANAAN SISTEM PEMBELAJARAN PAI
Fungsi Manajemen Menurut Para Ahli Manajemen
HADIST TENTANG EVALUASI PENDIDIKAN
MAKALAH KONSEP BIMBINGAN KONSELING
Fungsi dan Hakikat karya ilmiah
NORMA-NORMA ALAM, SOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEBERAGAMAAN

Pos Terbaru

Betapa Mulianya Kedudukan Wanita dalam Islam
Khadijah Binti Khuwalid Sang Istri Setia yang Selalu Siap Sedia
PENDIDIKAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL: SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Cara Meringkas Buku/Naskah Secara Cepat dan Efektif
HAK ANAK DAN PEMENUHAN HAK ANAK MENURUT PANDANGAN
ISLAM
PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN HUKUM MAQASIDUL SYARIAH

Software Gratis
Add-ins Alquran di ms Word
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
SPSS v.16
Nitro Pro 9 (PDF Converter)

Ebook Gratis
Novel Moga Bunda Disayang Allah by TereLiye
Novel Sepotong Hati yang Baru by TereLiye
Novel Bidadari-bidadari Syurga by TereLiye
Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu by TereLiye
Novel Hafalan Sholat Delisa by TereLiye

Google+ Followers
Total Pageviews

111600
DMCA
Disclaimer
Privacy Policy
Term of Service

Contact us

All Rights Reserved by Husein Muhibbi 2015 - 2016

MITRA KERJA INDONESIA


Home
Vechicles
Price List
Dropdown
Modification
All Cars
Features Template

STRATEGI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA


ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Berlakang
Tugas utama guru ialah mendidik dan mengajar yang berarti mendidik dan
membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan tertentu atau kompetensi. Tujuan atau
kompetensi tersebut telah dirumuskan dalam kurikulum yang berfungsi sebagai pedoman
pelaksanaan proses pembelajaran. Persoalan berikut adalah bagaimana melaksanakannya
dalam proses pembelajaran agar kompetensi yang diharapkan tercapai. Dalam proses
pembelajaran yang menjadi persoalan pokok ialah bagaimana memilih dan menggunakan
strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menentukan jenis interaksi di dalam proses
pembelajaran strategi pembelajaran yang digunakan harus menimbulkan akttivitas belajar
yang baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Khususnya dalam
makalah ini mengenai strategi pembelajaran dalam PAI.
Berkaitan dengan di atas, untuk itu dalam makalah ini akan menjelaskan tentang
strategi pembelajaran PAI. Guna mengingat betapa pentingnya strategi pembelajaran dalam
proses belajar mengajar yang dapat mempengaruhi akhir suatu pembelajaran.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat ditarik beberapa rumusan masalah diantaranya:

1. Bagaimana pengertian strategi pembelajaran?


2. Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?
3. Bagaimana strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?
4. Bagaimana strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?
5. Bagaimana implementasi strategi pengelolaan dan penyampaian pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI)?
6. Bagaimana analisis strategi pengelolaan dan penyampaian pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI)?

C. Tujuan
1. Untuk mendeskripsikan pengertian strategi.
2. Untuk mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI).
3. Untuk mendeskripsikan strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
4. Untuk mendeskripsikan strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
5. Untuk mendeskripsikan implementasi strategi pengelolaan dan penyampaian pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI).
6. Untuk mendeskripsikan analisis strategi pengelolaan dan penyampaian pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Strategi
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di tentukan[1]. Namun jika di
hubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa di artikan sebagai pola umum kegiatan
guru murid dalam perwujudan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah di
gariskan.[2]
Strategi dasar dari setiap usaha meliputi 4 masalah, yaitu :
1. Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dan kualifikasi yang harus di capai dan menjadi
sasaran usaha tersebut dengan mempertimbangkan aspirasi masyaraklat yang memerlukanya.
2. Pertimbangan dan penetapan pendekatan utama yang ampuh untuk mencapai sasaran
3. Pertimbangan dan penetapan langkah langkah yang di tempuh sejak awal sampai akhir.
4. Pertimbangan dan penetapan tolak ukur dan ukuran buku yang akan di gunakan untuk
menilai keberhasilan usaha yang di lakukan.[3]
Dari keempat poin yang di sebuttkan di atas bila di tulis dengan bahasa yang
sederhana, maka secara umum hal yang harus di perhatikan dalam strategi dasar yaitu;
pertama menentukan tujuan yang ingin di capai dengan mengidentifikasi, penetapan
spesifikasi, dan kualifikasi hasil yang harus di capai. kedua, melihat alat alat yang sesuai di
gunakan untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan. ketiga, menentukan langkah
langkah yang di gunakan untuk mencapai tujuan yang telah di rumuskan, dan yang
keempat, melihat alat untuk mengevaluasi proses yang telah di lalui untuk mencapai tujuan
yang ingin di capai.
Penentuan setrategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh
karena itu, segala kegiatan pembelajaran yang dilakukan yang tidak berorientasi pada
pencapaian tujuan pembelajaran tidak dapat dikategorikan sebagai setrategi pembelajaran.[4]
Secara umum setrategi mempunyai pengertian suatau garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di tentukan, di hubungkan dengan belajar
mengajar, strategi bisa di artikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam
perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan.[5]

B. Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)


Strategi pengelolaan pembelajaran sangat penting dalam sistem strategi pembelajaran
secara keseluruhan. Bagaimanapun baiknya perencanaan strategi umumnya khususnya
strategi pengorganisasian pembelajaran, namun jika strategi pengelolaan tidak diperhatikan
maka efektivitas pembelajaran tidak bisa maksimal. Pada dasarnya strategi pengelolaan
pembelajaran terkait dengan usaha penataan interaksi antar siswa dengan komponen strategi
pembelajaran yang terkait, baik berupa strategi pengorganisasian maupun strategi
pengelolaan pembelajaran.
Strategi pengelolaan berkaitan dengan penetapan kapan suatu strategi atau komponen
strategi dapat dipakai dalam suatu situasi pembelajaran. Menurut Degeng, paling tidak ada
empat hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu:
1. Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran,
2. Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa,
3. Pengelolaan motivasional dan
4. Kontrol belajar.[6]
a. Penjadwalan Penggunaan Strategi Pembelajaran
Dalam setiap tindak pembelajaran, seorang siswa atau santri harus mampu membuat
perhitungan secara akal sehat tentang strategi pembelajaran apa saja yang akan digunakan
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dalam suatu kegiatan pembelajaran seorang siswa tidak
mungkin menggunakan satu strategi saja, melainkan harus mampu meramu berbagai strategi
sehingga menjadi satu kesatuan yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh
karena itu seorang siswa dituntut mampu merancang tentang kapan, strategi apa dan berapa
kali suatu strategi pembelajaran digunakan dalam suatu pembelajaran. Untuk menentukan
strategi apa, kapan dan berapa kali suatu strategi digunakan tentu sangat berhubungan dengan
kondisi pembelajaran yang ada.
b. Pembuatan Catatan Kemajuan Belajar Siswa
Dalam belajar seorang siswa tentu harus tahu seberapa jauh isi pembelajaran yang
telah dipelajari oleh siswa. Karena hal tersebut merupakan suatu kewajiban, maka siswa perlu
mengadakan evaluasi terhadap materi yang sudah diterimanya dari guru. Agar dapat
diketahui tingkat kemajuan belajar siswa. Namun, permasalahannya adalah kapan, berapa
kali dan bagaimana cara melakukan tes hasil belajar tersebut? Hal ini tentu perlu
dipertimbangkan oleh seorang siswa. Dalam hal ini pengetahuan siswa tentang evaluasi
pembelajaran akan sangat membantu untuk menjawab pertanyaan: kapan, berapa kali dan
bagaimana cara melakukan tes hasil belajar.
Catatan kemajuan belajar siswa sangat penting untuk diadakan, karena dapat
digunakan untuk melihat efektivitas dan efisiensi pembelajaran yang dilakukan oleh
siswa. Dari hasil analisa terhadap efektivitas dan efisiensi pembelajaran, siswa dapat
menentukan langkah-langkah selanjutnya, seperti (1) apakah strategi pembelajaran yang
digunakan telah sesuai atau belum, (2) apakah rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh
faktor guru atau teman lain, (3) apakah penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran sudah
sesuai atau belum dan lain sebagainya. Faktor-faktor tersebut menjadikan pembuatan catatan
kemajuan belajar siswa atau santri sangat penting.
c. Pengelolaan Motivasional
Pengelolaan motivasional terkait dengan usaha untuk meningkatkan motivasi siswa
dalam kegiatan pembelajaran. Jika motivasi belajar siswa rendah, strategi apapun yang akan
digunakan dalam pembelajaran, tidak akan mampu untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Oleh karena itu, pengelolaan motivasional menjadi bagian integral dan esensial dalam setiap
proses pembelajaran. Setiap strategi pembelajaran pada dasarnya secara implisit telah
mengandung komponen motivasional, walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Namun,
juga ada beberapa strategi pembelajaran yang secara khusus dirancang untuk meningkatakan
motivasi siswa.
d. Kontrol Belajar
Kontrol belajar terkait dengan kebebasan guru untuk melakukan pilihan pada bagian
isinya yang dipelajari, kecepatan belajar, komponen strategi pembelajaran yang dipakai dan
strategi kognitif yang digunakan.[7] Agar guru dalam kegiatan pembelajaran dapat
melakukan pilihan-pilihan tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang kegiatan
pembelajaran yang mampu memberikan berbagai alternatif pilihan belajar bagi dirinya
(siswa). Jika siswa mampu merancang pembelajaran yang demikian maka sistem
pembelajaran yang bersifat individu akan dapat dilakukan. Dengan sistem pembelajaran yang
demikian, siswa akan lebih berperan sebagai perancang pembelajaran (instruction
designer).[8]

Bagan 2.1 Strategi Pengelolaan Pembelajaran


Proses pembelajaran selain diawali dengan perencanaan yang bijak serta didukung
dengan komunikasi yang baik, juga harus didukung dengan pengembangan strategi yang
mampu membelajarkan siswa. Pengelolaan pembelajaran merupakan suatu proses
penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan. Proses pengelolaan pembelajaran berada dalam empat variabel interaksi, yaitu :
1). Variabel pertanda (presage variables) yang berupa pendidik; 2). Variabel konteks
(contexts variables) yang berupa peserta didik; 3). Variabel proses (process variables) dan
variabel produk (product variables) yang berupa perkembangan peserta didik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Guna mencapai tujuan pembelajaran yang optimal maka
keempat variabel di atas harus dikelola dengan baik. Dan inilah uraian pengelolaan variable
pembelajaran :[9]
1. Pengelolaan guru / pendidik
Pengelolaan guru ataupun pendidik disebut juga sebagai variabel pertanda (presage
variable). Guru adalah orang yang bertugas membantu murid untuk mendapatkan
pengetahuan sehingga ia dapat mengembangkan potensi yang dimiliki. Tugas mengajar
bukan hanya sekedar sebagai profesi kerja, melainkan lebih sebagai suatu tuntutan kewajiban
yang harus dilaksanakan dengan baik dan terencana. Dalam pengelolaan pembelajaran yang
baik seorang pendidik diharapkan memiliki prinsip mengajar yang baik.
Sebagai seorang pendidik guru harus dapat menempatkan diri dan menciptakan
suasana yang kondusif. Karena fungsi guru di sekolah sebagai "Bapak atau Ibu" kedua yang
bertanggungjawab atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Sebagaimana yang telah
digariskan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu sebagai berikut :
Ing Ngarsa Sung Tuladha yang bererti di depan memberi teladan. Di sini
menekankan pentingnya modeling atau keteladanan yang merupakan cara yang paling ampuh
dalam mengubah perilaku inovasi seseorang (peserta didik).
Ing Madya Mangun Karsa berarti di tengah menciptakan peluang berprakarsa. Asas
ini memperkuat peran dan fungsi guru sebagai mitra setara (di tengah), serta sebagai
fasilitator (pencipta peluang). Dengan menerapkan asas ini para guru perlu mendorong
keinginan berkarya dan berkembang pada peserta didik.
Tut Wuri Handayani artinya dari belakang memberikan dorongan dan arahan. Hal ini
sama dengan motivator yang harus mengarahkan atau membimbing dan tidak membiarkan
peserta didik melakukan hal yang kurang baik ataupun kurang sesuai dengan tujuan
pendidikan.
2. Pengelolaan peserta didik (variable konteks)
Belajar merupakan kegiatan yang bersifat universal dan multi dimensional. Dikatakan
universal karena belajar bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Pengelolaan
peserta didik dapat digunakan dengan cara pengelompokan. Guru dapat mengatur dan
merekayasa segala pengaturannya berdasarkan situasi dan kondisi siswa ketika proses belajar
mengajar. Menurut Andree ada beberapa macam pengelompokan siswa yaitu :
Task planning group, yaitu bentuk pengelompokan berdasarkan rencana tugas yang akan
diberikan oleh guru.
Teaching group, kelompok ini biasa digunakan untuk group teaching, dimana guru
memerintahkan suatu hal pada siswa, pada tahap yang sama mengerjakan tugas yang sama
dan pada saat yang sama.
Seating group, yaitu pengelompokan yang bersifat umum dimana 4-6 siswa duduk
mengelilingi satu meja.
Joint learning group, yaitu pengelompokan siswa dimana satu kelompok siswa bekerja
dengan kegiatan yang saling terkait dengan kelompok yang lain. Hasilnya bisa seperti suatu
hal yang terkait pula.
Collaborative group, yaitu kelompok kerja yang menitik beratkan pada kerjasama tiap
individu dan hasilnya sebagai suatu hal yang teraplikasi.
Pengelompokan siswa juga dapat dibuat berdasarkan kepribadian ataupun perilaku
mereka. Hal ini seperti dikemukakan oleh Pollard yang membagi pengelompokan menjadi 5
kelompok besar yaitu :
Impulsivity/Reflexivity. Impulsivity adalah orang yang mengerjakan tugas tanpa berpikir
terlebih dahulu ataupun bisa dikatakan tergesa-gesa. Sedangkan reflexivity adalah orang yang
sangat mempertimbangkan tugas tersebut tanpa berkesudahan.
Extroversion/Introversion. Extroversion adalah orang yang ramah, terbuka, bahkan kadang-
kadang tergantung pada perlakuan teman-teman sekelompoknya. Sedangkan introversion
adalah orang yang sangat tertutup dan pribadi malah terkadang tidak ingin bergaul dengan
orang lain.
Anxiety/Adjusment. Gambaran anxiety adalah orang yang merasa kurang dapat bergaul
dengan teman, guru atau tidak dapat menyelesaikan permasalahan dengan baik sedangkan
adjustment orang yang merasa dapat bergaul dengan baik dengan siappun dan dapat
menyelesaikan masalah dengan baik.
Vacillation/Perseverance. Gambaran vacillation adalah orang yang konsentrasinya rendah
dan berubah-ubah serta cepat menyerap dalam pekerjaan. Sedangkan perseverance adalah
orang yang mempunyai daya konsentrasi kuat dan terfokus serta pantang menyerah dalam
menyelesaikan pekerjaan.
Competitiveness/Collaborativeness. Gambaran mengenai competitiveness adalah orang yang
mengukur prestasinya dengan orang lain dan sukar bekerjasama dengan orang lain.
Sedangkan collaborativeness adalah orang yang sangat bergantung pada orang lain dan tidak
dapat bekerja sendiri.
3. Pengelolaan pembelajaran (variable proses)
Pengelolaan pembelajaran dikatakan sebagai proses karena pada dasarnya
pengembangan kegiatan harus diorientasikan pada fitrah manusia yang mana fitrah itu terdiri
dari dimensi yang kesemuanya harus bisa seimbang. Guna menyeimbangkan semuanya
diperlukan adanya suatu ketepatan dalam pendekatan dan metode.
a. Pendekatan
Konsep pendekatan dalam pembelajaran meliputi :
Keimanan, dalam hal ini adalah memberikan peluang kepada peserta didik untuk
mengembangkan pemahamannya tentang Tuhan sebagai sumber kehidupan.
Pengalaman, yaitu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempraktekkan dan
merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhlak guna meghadapi tugas dan masalah
dalam kehidupan.
Pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk membiasakan sikap dan
perilaku baik yang sesuai dengan norma.
Rasionalitas, yaitu usaha memberikan peranan pada akal (rasio) dalam memahami dan
membedakan berbagai bahan ajar dalam standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang
baik dan buruk dalam kehidupan duniawi.
Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati prilaku yang
sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
Fungsional, yaitu menyajikan bentuk semua standar materi dari segi manfaatnya bagi peserta
didik dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan, yaitu menjadikan figur guru serta petugas sekolah ataupun orang tua peserta
didik sebagai cermin manusia yang berkepribadian.
b. Metode
Beberapa metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran yaitu :
1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada
anak didik dilakukan secara lisan. Yang hendaknya ceramah mudah diterima, isinya mudah
dipahami serta mampu menstimulasi peserta didik untuk melakukan hal-hal yang baik dan
benar dari ceramah yang disampaikan.
2) Metode Tanya Jawab
Adalah mengajukan pertanyaan kepada peserta didik yang mana metode ini dimaksudkan
untuk merangsang cara berpikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.

3) Metode Tulisan
Adalah metode mendidik dengan huruf atau simbul apapun, ini merupakan suatu hal yang
sangat penting dan merupakan jembatan untuk mengetahui segala sesuatu yang belum pernah
diketahui.
4) Metode Diskusi
Merupakan salah satu cara mendidik yang berupa memecahkan masalah yang dihadapi baik
dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat
pendapatnya.

5) Metode Pemecahan Masalah (problem solving)


Problem solving merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik
untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang sesuatu masalah tersebut guna
memecahkannya.
4. Pengelolaan lingkungan kelas
Iklim belajar yang kondusif merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang
dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Namun sebaliknya, iklim
belajar yang kurang menyenangkan dan suasana yang kurang baik akan menimbulkan
kejenuhan dan rasa bosan.
Berkenaan dengan hal tersebut sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus diperhatikan
yaitu: ruang belajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempat duduk, penerangan, suhu
pemanasan sebelum masuk pada materi yang akan dipelajari .

C. Strategi Penyampaian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)


Strategi penyampaian adalah cara untuk menyampaikan pembelajaran pada siswa
atau santri atau untuk menerima serta merespons masukan dari siswa atau santri.
Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen veriabel metode untuk
melaksanakan proses pembelajaran. Sekurang-kurangnya ada dua fungsi dari strategi ini,
yaitu:1. menyampaikan isi pembelajaran kepada si-belajar, dan 2. menyediakan informasi
atau bahan-bahan yang diperlukan siswa untuk menampilkan unjuk-kerja ( seperti latihan dan
tes ).[10]
Paling tidak ada lima cara dalam mengklasifikasi media untuk mempreskripsikan
strategi penyampaian: 1. tingkat kecermatannya dalam menggambarkan sesuatu, 2.tingkat
interaksi yang mampu ditimbulkannya, 3. tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya,
4.tingkat motivasi yang dapat ditimbulkannya, 5.tingkat biaya yang diperlukan.

Pada intinya cara penyampaian bahan pembelajaran ini hampir sama atau bisa saja
dikatakan sama dengan tahap pengajaran. Akan tetapi agar lebih jelas dan detail, serta
mempermudah pemahaman pembaca, penulis akan memilah menjadi sub bab tersendiri.
Aspek yang perlu diperhatikan katika guru atau pengajar menyampaikan bahan
pembelajaran ini pada dasarnya sama dengan aspek yang harus diperhatikan pada tahap
pengajaran. Karena kegiatan pada tahap pengajaran akan lebih dijelaskan secara rinci disub-
bab ini.

1. Pra Intruksional
Tahap pra instruksional adalah tahapan yang ditempuh guru pada saat ia memulai
proses belajar mengajar. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh guru atau siswa pada
tahapan ini: (1) Guru mencatat kehadiran siswa dan mencatat siapa yang tidak hadir, tidak
perlu diabsensi satu per satu, cukup ditanyakan yang tidak hadir saja dengan alasannya. (2)
Bertanya kepada siswa sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya. (3) Mengajukan
pertanyaan kepada siswa tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya. (4)
Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum
dikuasainya dari pengajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya. (5) Mengulang kembali
bahan pelajaran yang lalu secara singkat tapi mencakup semua aspek bahan yang telah
dibahas sebelumnya.
Pada intinya tahap ini mengingatkan siswa atau peserta didik akan pelajaran yang
sudah diajarkan dan tanggapan siswa terhadap pelajaran tersebut yang menunjukkan
keberhasilan proses pembelajaran. Disamping itu juga menumbuhkan kondisi siswa dalam
merespon kegiatan belajar di kelas.

2. Intruksional

Tahap kedua adalah tahap pembelajaran atau tahap inti. Yakni tahapan memberikan
bahan pelajaran yang disusun guru sebelumnya. Secara umum dapat diidentifikasi beberapa
kegiatan sebagai berikut: (1) Menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran yang harus
dicapai siswa. (2) Menuliskan pokok materi yang akan dibahas pada hari itu. (3) Membahas
pokok materi yang telah dituliskan tadi. Pembahasan dimulai dari gambaran yang umum
menuju gambaran yang khusus atau sebaliknya. (4) Pada setiap pokok materi yang dibahas
sebaiknya diberikan contoh-contoh konkret. (5) Penggunaan alat bantu pengajaran untuk
memperjelas pembahasan setiap pokok materi sangat diperlukan. Dalam hal ini guru
dianjurkan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan cocok. (6) Menyimpulkan
hasil pembelajaran dari semua pokok materi. Biasanya kesimpulan ini dibuat oleh guru.

3. Evaluasi

Tahapan ketiga atau yang terakhir dari strategi belajar mengajar adalah tahap evaluasi
atau penilaian dan tindak lanjut. Tujuan dari tahapan ini adalah mengetahui tingkat
keberhasilan dari tahapan yang kedua. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini antara lain:
(1) Mengajukan pertanyaan kepada kelas atau kepada beberapa siswa, mengenai semua
pokok materi yang telah dibahas pada tahapan yang kedua. (2) Apabila pertanyaan yang
diajukan belum dapat dijawab oleh siswa kurang dari 70%, maka guru harus mengulang
kembali materi yang belum dikuasai oleh siswa. (3) Untuk memperkaya pengetahuan siswa,
materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas atau pekerjaan rumah yang ada
hubungannya dengan topik atau pokok materi yang telah dibahas. (4) Akhiri pelajaran dengan
menjelaskan atau memberitahukan pokok materi yang akan dibahas pada pelajaran
berikutnya.
Ketiga tahap yang dibahas diatas merupakan satu rangkaian kegiatan yang terpadu
yang tidak dapat dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Guru harus
menguasai ketiga tahapan tersebut agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan
efisien. Dan hal ini membutuhkan keprofesionalisasian seorang guru atau pendidik dalam
mengorganisasikan pembelajaran.
Hendaknya institusi mengadakan atau mengusahakan pendidikan yang profesional,
baik profesional dari segi pendidik maupun hal yang berkaitan dengan pendidikan. Demikian
juga profesionalisme dalam pengelolaan atau manajemen atau boleh dikatakan secara lebih
detail lagi yaitu pengorganisasian pembelajaran. Guru yang profesional selalu dapat
mengorganisasikan pembelajaran dengan baik, tepat dan cepat atau dengan kata lain efektif
dan efisien. Maka dari itu kita sebagai calon pendidik harus selalu meningkatkan kualitas dan
pengalaman kita agar dapat mengorganisasikan pembelajaran dengan baik, karena suatu
pengorganisasian mengilhami keberhasilan peserta didik dalam menerima pelajaran.

D. Implementasi Strategi Pengelolaan dan Penyampaian Pembelajaran Pendidikan


Agama Islam (PAI)
Walaupun secara teoritis seorang siswa telah paham tentang langkah-langkah
operasional atau strategi pembelajaran. Namun, belum tentu seorang siswa akan mampu
berhasil menerapkan strategi tersebut dalam pelaksanaan pembelajarannya. Keberhasilan
seorang siswa dalam menerapkan suatu strategi pembelajaran, sangat tergantung dari
kemampuan siswa dalam menganalisis kondisi pembelajaran yang ada, seperti tujuan
pembelajaran, karakteristik diri (siswa), kendala sumber belajar dan karakteristik bidang
studi. Hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran tersebut dapat dijadikan pijakan dasar
dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.

1. Tujuan pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, siswa harus menetapkan terlebih dahulu tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Menurut taksonomi Bloom, secara teoritis tujuan
pembelajaran dibagi menjadi atas tiga kategori, yaitu (1) tujuan pembelajaran ranah kognitif,
(2) tujuan pembelajaran ranah Afektif dan (3) tujuan pembelajaran ranah psikomotorik.
Adanya perbedaan tujuan pembelajaran akan berimplikasi pula akan adanya
perbedaan strategi pembelajaran yang harus diterapkan. Jadi, dalam penerapan suatu strategi
pembelajaran tidak bisa mengabaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

2. Karakteristik siswa atau santri

Karakteristik siswa atau santri sangat berhubungan dengan aspek-aspek yang melekat
pada diri siswa, seperti motivasi, bakat, minat, kemampuan awal, gaya belajar, kepribadian
dan sebagainya.
Karateristik siswa yang kompleks tersebut harus juga dijadikan pijakan dasar dalam
menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Tanpa mempertimbangkan
karakteristik siswa tersebut, maka penerapan strategi pembelajaran tertentu tidak bisa
mencapai hasil belajar secara maksimal. Misalnya, siswa yang memiliki motivasi belajar
yang rendah dengan siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, tentu membutuhkan
strategi yang berbeda pula dalam pembelajaran. Demikian pula siswa atau santri yang
memiliki gaya belajar visual dan siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik, tentu tidak bisa
disamakan dalam proses penerapan strategi pembelajaran. Oleh karena itu, seorang siswa
hendaknya betul-betul memahami karakteristik diri (siswa) dalam mengikuti
pembelajaran.[11]

3. Kendala sumber atau media belajar

Media pembelajaran adalah pranata atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima
pesan.[12] Sedang AECT menyatakan media sebagai bentuk dari saluran yang digunakan
orang untuk menyalurkan pesan atau informasi.[13] Ketersediaan sumber atau media belajar,
baik berupa manusia maupun non manusia (hardware dan software), sangat mempengaruhi
proses pembelajaran.
Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa ketersediaan sumber belajar sangat
mempengaruhi hasil belajar siswa. Terkait dengan penerapan strategi pembelajaran bahwa
setiap strategi pembelajaran digunakan untuk materi atau sisi pembelajaran tertentu, dan juga
membutuhkan media atau sumber belajar tertentu. Penyampaian pembelajaran dalam kelas
besar menuntut penggunaan jenis media yang berbeda di kelas kecil. Demikian pula untuk
pembelajaran perseorangan dan belajar mandiri. Tanpa adanya sumber belajar yang memadai
amat sulit bagi seorang siswa untuk melaksanakan proses pembelajaran. Mengingat begitu
pentingnya keberadaan sumber balajar, maka setiap siswa sudah seharusnya memiliki
kemampuan dalam mengembangkan sumber belajar atau media pembelajaran.
Untuk mengembangkan media pembelajaran diperlukan prosedur-prosedur tertentu
yang sesuai dengan jenis kemampuan yang ingin dicapai, struktur isi bidang studi serta
memenuhi kriteria umum yang berlaku bagi pengembangan bagi produk-produk
pembelajaran. Guna membuat produk media ini digunakan model pengembangan media
pembelajaran yang diajukan Sadiman (1990) seperti bagan berikut:

Bagan 2.2. Model Pengembangan Media Pembelajaran


Analisis kebutuhan dilakukan agar media yang dikembangkan betul-betul sesuai
dengan yang dibutuhkan. Jika membuat program media, tentu saja berharap agar media
tersebut digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran. Program media tersebut
hanya digunakan atau dimanfaatkan kalau memang dibutuhkan atau diperlukan oleh siswa
atau santri. Oleh karena itu, langkah pertama dalam pengembangan media pembelajaran
adalah melakukan analisis kebutuhan.
Perumusan tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pembelajaran.
Tujuan dapat memberi arah kepada proses pembelajaran yang dilakukan, dan tujuan
pembelajaran dapat dijadikan acuan dalam mengukur apakah tindakan kita betul atau salah.
Dalam pengembangan media pembelajaran, tujuan harus dijadikan pijakan dalam proses
pengembangan. Media yang dikembangkan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
telah dirumuskan.
Dan tujuan yang telah ditetapkan, kegiatan selanjutnya adalah pengembangan atau
merumuskan butir-butir materi pembelajaran. Materi pembelajaran harus terkait dengan
tujuan, dan setelah materi dirumuskan baru dibuat alat untuk mengukur keberhasilan belajar.
Tahap selanjutnya adalah mengembangkan atau melakukan penulisan naskah media
pembelajaran. Untuk melihat validitas media pembelajaran, harus dilakukan uji coba. Jika
dalam tahap uji coba ternyata media yang dikembangnkan masih ada kekurangan maka harus
dilakukan revisi. Jika media pembelajaran sudah dianggap baik, baru dilakukan proses
produksi media.
4. Karakteristik atau struktur bidang studi
Struktur bidang studi berkaitan dengan hubungan diantara bagian-bagian suatu bidang
studi. Struktur bidang studi mata pelajaran fiqih tentu berbeda dengan struktur bidang studi
Al-Quran. Perbedaan struktur bidang studi tersebut membutuhkan strategi pembelajaran
yang berbeda pula. Misalnya dalam mata pelajaran fiqih seorang siswa atau santri dapat
memulai pembelajaran dari pokok pelajaran apa saja, sebaliknya mata pelajaran Al-Quran
tidak bisa dilakukan seperti itu. Itulah sebabnya, pemahaman seorang siswa atau santri
terhadap struktur bidang studi yang dipelajarinya sangat penting dalam penetapan metode
pembelajaran yang akan digunakan.

E. Analisis Strategi Pengelolaan dan Penyampaian Pembelajaran Pendidikan Agama


Islam (PAI)
Pembelajaran disebut efektif apabila dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang ditentukan. Untuk itu pengajar perlu menyusun strategi yang sesuai
dengan karakteristik peserta didik dan mampu membuatnya mencapai kompetensi yang
ditentukan dalam tujuan pembelajaran. Berikut langkah-langkah pengembangan strategi
instruksional.
1. Melihat makna kompetensi masa depan dan bebas berkreasi
Hal yang penting harus dinyakini bersama oleh pengajar dan peserta didik adalah
makna kompetensi yang terkandung dalam tujuan pembelajaran. Kompetensi dalam tujuan
pembelajaran itu bukan saja perlu dipahami artinya tetapi juga dinyakini manfaatnya oleh
peserta didik bagi kehidupannya sekarang dan terutama masa datang, yang dalam memahami
dan menghayati makna tersebut peserta didik harus sampai pada taraf mendapatkan harapan
baru, cita-cita baru, dalam hidupnya pada masa depan. Bagi pengajar itulah visi dalam sistem
pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu pembelajaran yang mampu
menciptakan impian ke masa depan bagi peserta didiknya.
Pengajar tidak perlu diharuskan mematuhi buku pintar tentang satu-satunya
bimbingann teknis yang mengikat dan membelenggu kreatifitasnya. Biarkan pengajar
mencari sendiri cara yang dipandang terbaik dalam menyampaikan visi pembelajaran tersebut
dan menguasai berbagai cara yang dipilihnya setiap saat. Yang harus tetap hidup dalam dada
peserta didik adalah dicapinya keyakinan tentang makna kompetensi yang akan dicapainya
bagi kehidupannya yang lebih baik saat ini dan terutama masa depan.
2. Belajar yang konsisten dengan visi
Yang perlu dikuasai pengajar adalah digunakannya pendekatan sistem dalam
melaksanakan pembelajaran. Pengajar perlu mempunyai dan menerapkan wawasan
bersistem, bahwa untuk mewujudkan visi pembelajaran itu perlu mempunyai dan
menerapkan wawasan bersistem, bahwa untuk mewujudkan visi pembelajaran itu diperlukan
cara-cara tentang mendayagunkan semua sumber belajar yang sudah ada dan bila perlu yang
harus diadakan olehnya agar interaksi peserta didik dengan sumber belajar tersebut dapat
berlangsung dengan aktif, lancar, menarik, menyenangkan, menantang, dan akhirnya
menhasilkan kompetensi yang telah ditentukan.cara-cara itu dapat diciptakan secara bebas
oleh pengajar dan dapat diubah-ubah sewaktu-waktu sesuai dengan daya cipta, keinginan,
perasaan, yang ada padanya. Disamping pengusaan materi yang diajarkan, perbendeharaan
tentang pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai metode, dan media yang
diperoleh dari berbagai pelatihan, diperkaya dengan pengalamannya dalam menggunakan
berbagai urutan kegiatan penyajian, metode dan media pembelajaran, dan manajemen waktu
dalam pembelajaran merupakan referensi bagi pengajar dalam menciptakan cara-cara tersebut
agar sesuai dengan karakteristik peserta didik, yang dihadapinya dan visi pembelajaran yang
ditentukan. Cara-cara itu disebut strategi pembelajaran.
3. Pengukuran yang valid dan reliable
Pada akhir proses pembelajaran harus ada bentuk konkrit dari impian itu, yaitu biasa
disebut prestasi belajar. Tanpa pengukuran, peserta didik dan pengajar tidak punya dasar
untuk mengaku berhasil atau gagal dalam memberikan makna dalam proses
pembelajaran.[14] Oleh sebab itu pengembangan strategi pembelajaran ini mutlak diketahui
dan diterapkan dalam proses pembelajaran bagi pendidik guna trercapinya keberhasilan suatu
pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah di tentukan

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Strategi mempunyai pengertian suatau garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam
usaha mencapai sasaran yang telah di tentukan, di hubungkan dengan belajar mengajar,
strategi bisa di artikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan
kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan.
Strategi pengelolaan, yaitu: 1) Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran, 2)
Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, 3) Pengelolaan motivasional dan 4) Kontrol
belajar
Keberhasilan seorang guru dalam menerapkan suatu strategi pembelajaran, sangat
tergantung dari kemampuan siswa dalam menganalisis kondisi pembelajaran yang ada,
seperti tujuan pembelajaran, karakteristik diri (siswa), kendala sumber belajar dan
karakteristik bidang studi. Hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran tersebut dapat
dijadikan pijakan dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan
Strategi penyampaian adalah cara untuk menyampaikan pembelajaran pada siswa atau
santri atau untuk menerima serta merespons masukan dari siswa

DAFTAR PUSTAKA

Anitah W., Sri, Materi Pokok Strategi Pembelajaran SD. Cet. 2, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.

Baharudin Uril, Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: Sukses Offset, 2008

Garis kwww.scried.com/doc/22461833/makalah-konsep-strategi-bahasa-arab

Reigeluth, C.M. dan Merill, M.D. Classes of Instrutional Variabel, Educational Technology,1983

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional,
Jakarta: Bumi Aksara, 2010

Sadiman, A, Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta Rajawali


Press 1990

AEST Tas Force, Educational Technology: Definiti and Glossary of Trem, Washington, DC:
Associational For Educational Communication and Technologi 1997
EDISI REVISI

MAKALAH
STRATEGI PENGELOLAAN DAN PENYAMPAIAN
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah "Desain Pembelajaran Pendidikan Dasar Islam"

Dosen Pengampu:
Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I
Dr. Luk-luk Nur Mufidah, M.Pd.I

Disusun Oleh:

EKA PUTRA
NIM. 284134055
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) TULUNGAGUNG

2015
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah ini
dapat terselesaikan dan sampai di hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya
membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi
pendidikan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad saw. Yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Ketua IAIN Tulungagung yang telah mengupayakan kelancaran
perkuliahan.
2. Prof. Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag, selaku direktur Pascasarjana IAIN Tulungagung.
3. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I dan Dr. Luk-Luk Nur Mufidah, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing
4. Semua pihak dan segenap civitas Akademika IAIN Tulungagung yang telah membantu
kelancaran penyelesaian makalah ini.
Sebagaimana pepatah yang menyatakan tiada gading yang tak retak, maka penulisan
makalah inipun tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami
mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap saran-saran penyempurnaan, agar
kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi
pengembangan studi Islam pada umumnya.

Tulungagung, Januari 2015


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................. i

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................... 1
C. Tujuan Pembelajaran.2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 3
A. Pengertian Strategi................................................................................... 3
B. Strategi Pengelolaaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)..... 4
C. Strategi Penyampaian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).... 12
D. Implementasi Strategi Pengelolaan dan Penyampaian Pembelajaran Agama Islam (PAI) 15
E. Analisis Strategi Pengelolaan dan Penyampaian Pembelajaran Agama Islam
(PAI) 19
BAB III PENUTUP............................................................................................ 22
Kesimpulan.............................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA
iii

iii

[1]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka
Cipta, 1997), hal. 5
[2]Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo, Strategi belajar Mengajar (Bandung: Pustaka
Setia, 1997), hal. 11
[3]Ahmadi dan Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, hal. 12.
[4] Sri Anita W., Materi Pokok Strategi Pembelajaran SD, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2007), hal1.24
[5] Garis kwww.scried.com/doc/22461833/makalah-konsep-strategi-bahasa-arab
[6] Degeng, N.S. Ilmu Pembelajaran; Taksonomi Variabel, (Jakarta: Dirjen Dikti,
1989), h. 11
[7] Ibid.., h. 13.
[8] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif , h. 13.
[9] Abdul Majid. Perencanaan Pembelajaran; Mengembangkan Standar Kompetensi Guru.
(Bandung. PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hal 111-112
[10]I Nyoman Sudana Degeng, Teori Pembelajaran 1 (Surabaya: Unipa Surabaya, 2005),
[11]Ibid., h. 13-15
[12]Sadiman, A, Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan
Pemanfaatannya, (Jakarta Rajawali Press 1990), h. 15.
[13]AEST Tas Force, Educational Technology: Definiti and Glossary of Trem,
(Washington, DC: Associational For Educational Communication and Technologi 1997), h.
15.
[14] www.ilmupendidikan.net/2010/03/16/strategi-pembelajaran-inovatif-untuk-peningkatan-mutu-pendidikan-
suatu-tinjauan-konseptual-dengan-pendekatan-teknologi-pendidikan.php.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Search..

BERLANGGANAN VIA EMAIL


About
Contact
Disclaimer
Privacy
Sitemap
Template

2015 MITRA KERJA INDONESIA - Template by Agamnp & Kaizen Template - Support
KZN | KSF

fakultas tarbiyah dan keguruan

Home
Menu 1
o Sub Menu 1
o Sub Menu 2
o Sub Menu 3
Menu 2
o Sub Menu 1
Sub Menu 1
Sub Menu 2
Sub Menu 3
o Sub Menu 2
o Sub Menu 3
Menu 4
Menu 5
Error Page
Static Page

Search...

JUAL HAP LENGKAP BERBAGAI MERK BISA DI


CICIL 0%
Home PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Tentang :MENGIDENTIFIKASI KONSEP DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Tentang :MENGIDENTIFIKASI KONSEP
DASAR PENGELOLAAN
PEMBELAJARAN
Arif Setyawan 22.27 Add Comment PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

MAKALAH
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Tentang
MENGIDENTIFIKASI
KONSEP DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara
untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber
daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa.
Di Sekolahlah segala aspek pembelajaran atau pendidikan bertemu dan berproses.
Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat
individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran
dengan segala pokok bahasannya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan
hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh
sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan baik, professional, dan harus terus-
menerus
Pengelolaan pembelajarn tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan
rutinitas. Kegiatan pengelolaan pembelajaran dimaksudkan untuk menciptakan dan
mempertahankan suasana dan kondisi belajar. Sehingga proses belajar mengajar dapat
berlangsung secara efektif dan efisien.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengelolaan pembelajaran?
2. Apa tujuan dan fungsi pengelolaan pembelajaran ?
3. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan pembelajaran?
C. Manfaat
Makalah ini dapat mempermudah pembaca dalam mempelajari pengelolaan
pembelajaran dalam rangka pengertiann tujuan, manfaat, dan faktor yang mempengaruhi
pengeloaan pembelajaran serta memperoleh ilmu dan pengetahuan tentang masalah yang
dibahas dalam makalah ini. Terutama dalam hal yang berkaitan dengan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengelolaan
Pengelolaan itu berakar dari kata kelola dan istilah lainnya yaitu manajemen yang
artinya ketatalaksanaan, tata pimpinan. Maka disimpulkan pengelolaan itu adalah
pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan Atau proses yang memberikan
pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian
tujuan[1]
Banyak didefenisikan oleh para ahli tenatang pengelolaan. Terry , mengartikan
pengelolaan sebagai usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya melalui
usaha orang lain. Jhon D. Millet, pengelolaan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian
fasilitas kerja kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal untuk mencapai
tujuan. Andrew F. Siulus, pengelolaan pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas
perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasion,
komunikasi, dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan
untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh organisasi sehingga akan
dihasilkan suatu produk atau jasa secara efesien. Sedangkan Stoner sebagaimana dikutip oleh
T. Hani Handoko, adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya manusia dan
daya organisasi lainya, agar mencapai organisasi yang telah ditetapkan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan adalah
serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, mengendalikan, dan
mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya
manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi. Agar bisa tercapai hasil
yang optimal, maka segala sesuat perlu pengelolaan.[2]
Pengelolaan atau disebut juga dengan manajemen adalah pengadministrasi,
pengaturan atau penataan suatu kegiatan yang akan dilakukan.[3] Pengelolaan pembelajaran
merupakan suatu proses penyelengaraan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Dunkin dan Biddle, proses pembelajaran
berada dalam empat variable interaksi, yaitu;
1. Variable pertanda (presage variables) berupa pendidik
2. Variable konteks (contex variables) berupa peserta didik
3. Variable proses (process variables)
4. Variable produk (product variables) berupa perkembangan peserta didik baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka keempat variabel pembelajaran
tersebut harus dikelola dengan baik. Adapun pengelolaan variabel dalam pembelajaran
diantaranya;
a. Pengelolaan siswa
Siswa dalam Kedudukan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan produsen
artinya siswa sendirilah yang mencari tahu pengetahuan yang dipelajarinya. Siswa dalam
suatu kelas biasanya mermiliki kemampuan yang beragam, karenanya guru perlu mengatur
kapan siswa bekerja perorangan, berpasangan, berkelompok, siswa dikelompokkan
berdasarkan kemampuan sehingga ia dapat berkonsentrasi membantu yang kurang, dan kapan
siswa dikelompokkan secara campuran sebagai kemampuan sehingga terjadi tutor sebaya.
Belajar merupakan kegiatan yang bersifat universal dan multi dimensional. Dikatakan
universal karena belajar bisa dilakukan siapapun, kapanpun, dimanapun. Karena itu bisa saja
siswa merasa tidak butuh dengan proses pembelajaran yang terjadi dalam ruangan terkontrol
atau lingkungan terkendali. Waktu belajar bisa saja waktu yang bukan dikehendaki siswa.
Dan untuk itulah guru dapat merekayasa segala sesuatunya. Guru dapat mengatur siswa
berdasarkan situasi yang ada ketika prosses belajar mengajar berlangsung.
b. Pengelolaan Guru
Guru adalah orang yang bertugas membantu murid untuk mendapatkan pengetahuan
sehingga ia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Guru harus dapat menempatkan
diri dan menciptakan suasana yang kondusif, karena fungsi guru disekolah sebagai bapak
kedua yang bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.

c. Pengelolaan Pembelajaran
Pengembangan pembelajaran pendidikan agama islam memerlukan model-model
pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan isi dan hasil yang diharapkan.
d. Pengelolaan Lingkungan Kelas
Iklim belajar yang kondusif merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang
dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Berkenaan dengan hal
tersebut, sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus diperhatikan yaitu; ruang belajar,
pengaturan sarana belajar, susunan tempat duduk, penerangan, pemanasan sebelum masuk ke
materi yang akan dipelajari (pembentukan kompetensi), dan bina suasana dalam
pembelajaran.

B. Tujuan Pengelolaan Pembelajaran


Setiap organisasi yang ingin sukses, apakah itu organisasi kemasyrakatan, pendidikan,
kelompok sementara, dan keluarga. Harus tau dan menyadari betul apa sebenarnya yang akan
dicapai melalui pembentukan organisasi [4]
Tujuan merupaka komponen utama yang lebih dahulu dirumuskan guru dalam proses
belajar-mengajar, peranan tujuan sangat penting sebab menentukan arah proses belajar-
mengajar. Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan
bahan pelajaran, penetapan metode mengajar dan alat bantu pengajaran serta memberi
petunjuk terhadap penilaian, untuk dapat memahami persoalan tujuan akan dijelaskan hal
yang berkenaan dengan tingkat dan klasifikasi tujuan dan cara merumuskan terutama tujuan
instruksional/tujuan pengajaran.
1. Tujuan umum pendidikan, yakni pembentukan manusia pancasila yang ditetapkan oleh
pemerintah biasanya melalui undang-undang
2. Tujuan institusional, yakni tujuan lembaga pendidikan berupa niat dan harapan siswa.
3. Tujuan kurikuler, yakni tujuan bidang studi/mata pelajaran program-program pendidikan
sesuai kurikulum lembaga pendidikan
4. Tujuan instruksional, yakni tujuan proses belajar dan mengajar yaitu tujuan yang hendak
dicapai dalam kegiatan pendidikan sehari-hari[5]

C. Fungsi-fungsi pengelolaan dalam pembelajaran


Ketika seorang guru merancang pembelajaran harus dapat mengenali kebutuhan-
kebutuhan dan mewaspadai kendala-kendala serta batasan-batasan yang barang kali dijumpai
daam realitas. Dalam mengkaji kebutuhan-kebutuhan belajar suatu program pembelajaran
direncanakan atau mulai dipertimbangkan, guru sebagai perencana sering mendapat informasi
tentang kendala yaitu:
1. Keterbatasan dana atau anggaran untuk mendukung pembelajaran
2. Penyesuaian waktu dan program yang harus dipersiapkan untuk dilaksanakan pada tahun
depan, semester depan, minggu depan atau besok
3. Keterbatasan perlengkapan pembelajaran yang diperlukan
4. Ruangan belajar yang tersedia dan
5. Keterbatasan kebutuhan belajar lainnya.
Untuk memahami materi perencanaan pengajaran atau pembelajaran ada baiknya
lebih dulu memahami manajemen atau pengelolaan, karena perencanaan merupakan bagian
dari fungsi manajemen. Seperti yang dikemukakan oleh Tery manajemen merupakan proses
yang khas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan
pengawasan yang dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan melali pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber daya yang lainnya.
Winardi, pendapat ini dipertegas lagi oleh Gibson, Ivancevich, dan Donnely (1982)
mengatakan bahwa manajemen adalah suatu tindakan, kegiatan, atau tindakan dan dengan
tujuan tertentu melaksanakan pekerjaan manajerial. Jadi, manajemen adalah suatu tindakan
atau kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan atau
melakukan pengawasan. Manajemen pembelajaran di sekolah merupakan pengelolaan pada
beberapa unit pekerjaan oleh personil yang diberi wewenang untuk itu yang muaranya pada
suksesnya program pembelajaran. Dengan demikian mengacu pada prinsip yang dkemukakan
tersebut, maka keefektifitasan manajemen pembelajaran dapat dicapai jika fungsi
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan dapat diimpletasikan dengan
baik dan benar dalam program.
1. Penerapan fungsi perencanaan dalam kegiatan pembelajaran
Perencanaan adalah proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya
secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiataan dan upaya-upaya yang akan
dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini Gaffar (1987)
menegaskan bahwa perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyususnan berbagai
keputusan yang akan ditentukan. Sedangkan Banghart dan Trull (1973) mengumukakan
bahwa perencanaan adalah awal dari semua proses yang rasional, dan mengandung sifat
optimisme didasarkan atas percayaan bahwa akan dapat mengatasi berbagai macam
permaslahan.
Jadi perencanaan pembelajaran adalah awal dari semua proses yang rasional
sebagai proses penetapan, penyusunan berbagai keputusan penyelenggaraan pembelajaran
yang akan di laksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan pembelajaran
dan pemanfaatan sumber daya pendidikan yang tersedia secara terpadu
Artinya perencanaan pembelajaran pada prinsipnya meliputi:
a. Menetapkan apa yang mau dilakukan oleh guru, kapan dan bagaimana cara melakukannya
dalam implemtasi pembelajaran
b. Membatasi sasaran atas dasar tujuan intruksional khusus dan menetapkan pelaksanaan
kerjauntuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target pembelajaran
c. Mengembangkan alternatif-altrernatif yang sesuai dengan strategi pembelajaran
d. Mengumpulkan menganalisis informasi yang penting untuk mendukung kegiatan
pembelajaran
e. Mempersiapkan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan yang
berkaitan dengan pembelajaran kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
2. Penerapan fungsi pengorganisasian dalam kegiatan pembelajaran
Kegiatan pengorganisasian pembelajaran bagi tiap guru dalam institusi sekolah
dimaksudkan untuk siapa yan melaksanakan tugas sesuai prinsip pengorganisasian, dengan
membagi tanggung jawab setiap personel sekolah dengan jelas sesuai dengan bidang,
wewenang, mata ajaran, dan tanggung jawabnya.
Dalam hal ini Gorton mengemukakan pengorganisasian adalah terbaginya tugas
kedalam berbagai unsur organisasi, dengan kata lain pengorganisasian yang efektif adalah
membagi habis dan menstrukturkan tugas kedalam sub-sub atau komponen-komponen
organisasi. Sedangkan Oteng Sutisno menyatakan bahwa pengorganisasian sebagai kegiatan
menyusun stuktur dan membentuk hubungan-hubungan agar di peroleh kesesuaian dalam
usaha mencapai tujuan bersama.[6]
Administrsi pendidikan di lingkungan sekolah pada dasarnya meliputi dua unsur
pokok sebagai berikut :
a. unsur menejemen admiistratif yang terdiri dari :
1) Perencanaan kegiatan sekolah
2) Pengorganisasian sekolah
3) Bimbingan dan pengarahan kegiatan di sekolah
4) Koordinasi kegiatan-kegiatan di sekolah
5) Penilaian dan kontrol kegitan di sekolah
6) Komunikasi di sekolah
b. Unsur menejemen operatif yang terdiri dari
1) Ketatausahaan sekolah
2) Keuangan sekolah
3) Kepagawaian di sekolah
4) Perbekalan di sekolah
5) Hubungan masyarakat di sekolah[7]
3. Penerapan fungsi penggerakan dalam kegiatan pembelajaran
Menggerakan (actuating). menurut Terry, berarti merangsang anggota-anggota
kelompok yang baik dalam konteks pembelajaran disekolah tugas pengerakan dilakukan oleh
kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional, sedangkan dalam konteks penggerakan
dilakukan oleh guru sebagai penanggung jawab pembelajaran.
Pnggerakan dalam proses pembelajaran di lakukan oleh pendidik dengan suasana
edukatif agar siswa apat melaksanakan tugas belajar dengan penuh antusias, dan
mengoptimalkan kemampuan belajarnya dengan baik. Peran guru sangat penting dalam
menggerakkan dan memotivasi para siswanya melakukan aktifitas belajar dalam kelas, labor
atorium, perpustkaan, praktek kerja lapangan dii.
Sedangkan kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional menggerakkan personel
dan potensi sekolah untuk mendukung sepenuhnya kegiatan pembelajaran yang di kendalikan
oleh guru dalam upaya membelajarkan anak didik. Penggerakan yang dilakukan kepala
sekolah sebagai pemimpin instruksional dan guru sebagai pemimpin pembelajaran paling
tidak meliputi:
1) Menyusun kerangka waktu dan biaya yang di perlukan baik untuk institusi maupun
pembelajaran secara rinci dan jelas
2) Memprakarsai dan menampilkan kemimpinan dalam melaksanakan rencana dan
pengambilan keputusan
3) Mengeluarkan instruksi-instruksi yang pesifik ke arah pencapaian tujuan
4) Membimbing, memotivasi, dan melakukan supervisi oleh kepala sekolah terhadap guru.[8]
D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengelolaan Pembelajaran
1. Faktor kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan
itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan
mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran mempengaruhi belajar siswa.
Kurikulum yang kurang baik berpengaruh terhadap belajar. Kurikulum yang tidak baik itu
misalnya kurikulum yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat,
minat dan perhatian siswa. Perlu diingat bahwa sistem intruksional sekarang menghendaki
proses belajar-mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa. Guru perlu mendalami siswa
dengan baik, harus memiliki perencanaan yang mendetail, agar dapat melayani siswa belajar
secara individual. Kurikulum sekarang belum dapat memberikan pedoman perencanaan yang
demikian.

2. Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar
itu sendiri menurut ing. S. Ulih Bukit Karo Karo adalah menyajikan bahan peljaran oleh
orang kepada orang lain agar orang itu menerima, menguasai dan mengembangkannya. Di
dalam lembaga pendidikan, orang lain yang disebut di atas adalah sebagai murid/siswa atau
mahasiswa, yang dalam proses belajar dapat menerima, menguasai dan lebih-lebih
mengembangkan bahan pelajaran itu, maka cara-cara mengajar serta cara belajar haruslah
setepat-tepatnya serta seefektif mungkin.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa metode mengajar itu mempengaruhi belajar. Metode
belajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.
Metode mengajar yang kurang baik dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan
kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru menyajikanya tidak jelas atau sikap guru
terhadap siswa dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa tidak
senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk mempelajarinya
3. Fakto relasi guru dengan siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga
dipengaruhi oleh lerasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga
dipengaruhi oleh relasinya. Di dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan
menyukai gurunya juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan sehi ngga siswa
berusaha mempelajarinya dengan sebaik baiknya.
Firman Allah SWT dalam QS Ali-Imran 159








Artinya:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya

4. Faktor relasi siswa dengan siswa


Guru yang kurang mendekati siswa dan kurang bijak sana tidak akan melihat bahwa di
dalam kelas ada grup yang saling bersaing secara tidak sehat. Jiwa kelas tidak terbina bahkan
hubungan masing-masing siswa tidak tampak
Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang tidak menyenangkan teman
lain, mkempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan batin, akan diasingkan
dari kelompok. Akibatnya mangkin parah masalahnya dan akan terganggu pelajarannya.
Akibatnya malas masuk sekolah dengan berbagai alasan disebabkan di sekolah mendapatkan
perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temanya.
5. Disiplin Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga
dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan
melaksanakan tata tertib, disiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan administrasi dan
kebersihan, keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain, kedisiplinan Kepala
Sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisiplinan tim dalam
pelayananya kepada siswa.
Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin mebuat siswa
menjadi disiplin pula, selain itu juga memberi pengaruh positif terhadap pelajaranya, banyak
sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, sehingga mempengaruhi sikap siswa dalam
belajar, kurang bertanggung jawab, karena bila tidak melaksanakan tugas, toh tidak ada
sangsi. Dengan demikian agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin di dalam belajar
baik di sekolah, di rumah dan diperpustakaan. Agar siswa disiplin haruslah guru beserta staf
yang lain di siplin pula.
6. Alat pelajaran
Alat pelajaran erat hubunganya dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang
dipakai oleh guru pada waktu mengajar yang dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan
yang diajarkan itu. Alat peljaran yang lengkap dan tepat yang akan mempelancar penerimaan
bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa sudah menerima pelajaran dan
menguasainya, maka belajarnya lebih giat dan lebih maju. Mengusahakan alat pelajaran yang
baik dan lengkap adalah perlu agar guru dapat mengajar dengan baik serta dapat belajar
dengan baik pula.
7. Waktu Sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, pagi, siang,
sore dan malam. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa. Jika terjadi siswa terpaksa
masuk sekolah pada sore hari, sebenarnya kurang dapat di pertanggungjawabkan. Di mana
siswa harus beristirahat, tetapi terpaksa masuk sekolah, sehingga mereka mendengarkan
pelajaran sambil mengantuk dan sebagainya.
8. Standar pelajaran di atas ukuran
Guru berpendirian mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas ukuran
standar. Akibatnya siswa merasa kurang mampu dan takut kepada guru, bila banyak siswa
yang tidak berhasil dalam mempelajari mata pelajaran, guru semacam itu merasa senag,
Tetapi berdasarkan teori belajar, yang mengingat perkembangan psikis dan kepribadian siswa
yang berbeda-beda, hal tersebut tidak boleh terjadi. Guru dalam menuntut penguasaan materi
harus sesuia dengan kemampuan siswa masing-masing. Yang penting tujuan yang telah
terumuskan dapat tercapai.
9. Faktor kehidupan lingkungan sekitar
Kehidupan masyarakat sekitar adalah perlu untuk mengusahakan lingkungan yang baik
agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap anak/siswa sehingga dapat belajar dengan
sebaik-baiknya.
Tempat belajar hendaknya tenag, jangan diganggu oleh perangsang-perangsang dari
sekitar . untuk belajar diperlukan konsentrasi pikiran, jangan sampai belajar sambil
mendengarkan. Akan tetapi keadaan yang terlampau menyenangkan seperti kursi yang
empuk dapat merugikan. Sebelum belajar harus disediakan segala sesuatu yang diperlukan.
Buku-buku, buku tulis, kertas, pensil dan lain-lain harus tersedia rapi, hingga pelajaran tidak
terputus karena mencari-cari buku atau meruncingkan pensil, dan lain-lain[9].
10. Faktor guru
Guru adalah pelaksana utama penerapan pembelajaran tuntas yang meliputi: Pertama,
penepatan tujaun pembelajaran, Hal-hal; yang harus diperhatikan dalam menetapkan tujuan
pembelajaran adalah:
a) Keterkaitan dengan kondisi yang ada dan standar kompetensi yang harus dicapai.
b) Kandungan tugas-tugas yang berkaitan dengan fakta, konsep, prosedur, aturan atau prinsip.
c) Urutan pencapaian kompetensi dan urusan indikatornya.
d) Modul-modul yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan.
Kedua, pengorganisasian pembelajaran. Ciri pengorganisasian pembelajaran dalam belajar
tuntas adalah:
a) Guru melkukan siklus pembelajaran mulai dari persiapan, presentasi, interaksi dan refleksi
dengan pendekatan pedagogis
b) Menetapkan sasaran pembelajaran, memperkirakan waktu dan menginformasikan prasyarat
keterampilan serta memonitor pemahaman siswa.
c) Melakukan proses pembelajaran. Adapun proses pembelajaran tersebut mencakup: (a)
pembelajaran yang mengacu pada tujuan pembelajaran yang dibaca dari lingkup dan urutan
pembelajaran yang ada pada kurikulum, (b) menggunakan aktivitas-aktivitas yang sesuai
dengan tujuan atau sasaran pembelajaran, (c) memberikan umpan balik yang humanis dan
akademis dengan segera, (d) memaksimalkan prilaku dalam bertugas dan menggunakan
waktu dengan efektif, (e) menerapkan berbagai alternatif strategi belajar mengajar, (f)
menetapkan acuan patokan untuk tes formatif, (g) menyiapkan pembelajaran remedial, tes
ulang, dan kunci jawaban, serta (h) menyediakan glosari untuk istilah teknis, akronim,
kepanjangan istilah.
Ketiga, melakukan evaluasi, dalam evaluasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Menyiapkan kisi-kisi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan matyeri ajar.
b) Menyiapkan jenis-jenis pengukuran melalui tes formatif, tes sumatif, dan non tes.
c) Reliabilitas dan validitas tes.
Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasi
suatu kompetensi mengacu ke indikator-indikator yang telah ditentukan. Tidak semua
indikator harus dinilai guru. Sekolah menetapkanminimal 75% indikator-indikator yang
dianggap sangat penting dan mewakili masing-masing kompetensi dasar dan hasil belajarnya
untuk dinilai. Untuk mengumpulkan informasi apakah suatu indikator telah tampil pada diri
peserta didik dilakukan penilaian sewaktu pembeljaran berlangsung atau setelah
pembelajaran.

11. Faktor peserta didik


Peserta didik dalam belajar tuntas harus memiliki sikap mandiri. Ketahanan fisik
dan mental dalam belajar, semangat mencari ilmu yang tinggi, bersungguh-sungguh dalam
belajar, dapat belajar secara mandiri, dan memiliki sifat proaktif dan mudah berkomunikasi
dengan yang lain untuk mendapatkan ilmu
Jadi, faktor guru dan peserta didik sangatlah berpengaruh pada ketuntasan hasil
belajar, karena guru sebagi pelaksana utama penerapan pembelajaran tuntas dan peserta didik
sebagai subjek dan objek pendidikan.
12. Kegiatan Pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak
didik dengan bahan perantaranya. Guru yang mengajar, anak didik yang belajar. Maka guru
adalah orang yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar anak didik.
Strategi penggunaan metode mengajar amat menentukan kualitas hasil belajar mengajar.
13. Bahan dan alat evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di daam kurikulum yang sudah
dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan pelajaran itu sudah
dikemas dalam bentuk buu paket untuk dikonsumsi oleh anak didik. Guru yang membuat
perencanaan yang sistematis dan penggunaan alat evaluasi.
14. Suasana Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi biasanya dilakukan dalam kelas masing-masing. Selama
pelaksanaan evaluasi, selama itu juga seorang pengawas mengamati semua sikap, gerak gerik
yang dilakukan oleh anak didik.[10]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengelolaan pembelajaran adalah suatu penataan atau pengaturan kegiatan dalam
proses menuntut ilmu. Atau suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai
tujuan pengajaran atau upaya mendayagunakan potensi kelas yang bertujuan dari pengelolaan
pembelajaran ini adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera
tercapai tujuan pengajaran secaara efektif dan efesien. Pengelolaan pembelajaran dapat
diartikan sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan saling menunjang antara
berbagai unsur atau komponen yang ada di dalam pembelajaran. Dengan kata
lain,pembelajaran merupakan suatu proses mengatur, mengkoordinasikan, dan menetapkan
unsur-unsur atau komponen-komponen pembelajaran.

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca dan
terutama pada pemakalah sendiri. Oleh karena itu pemakalah meminta kritik dan saran yang
dapat untuk membangun, demi kelancaran dan kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, PT. Rineka Cipta,
Jakarta
Djamarah, Syaiful Bahri dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta:Rineka Cipta
Nawawi, Hadari. 1989. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga,
Jakarta: PT Unung
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran, Bndung: Alfeta
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta
Sobri, dkk. 2009. Pengelolaan Pendidikan, Yogyakarta: Multi Pressindo
Sudiana, Nana. 2005. Dasar-dasr Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru
Algensindo

[1] syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta:Rineka Cipta, 1996), h. 196
[2]Sobri, dkk, Pengelolaan Pendidikan, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2009), h. 1-2
[3] Suharsimi Arikunto, Manajemen pengajaran secara Manusiawi, (PT. Rineka
Cipta, Jakarta,1990), h.2
[4] Op.cit., h. 13
[5] Nana Sudiana, Dasar-dasr Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2005), h. 56-57
[6] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bndung: Alfeta, 2010), h. 131-
143
[7] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga,
(Jakarta: PT unung , 1989), h. 73
[8] Op.Cit., h. 145
[9] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi nya, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2003), h. 64-68
[10] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2011), h.17-20

Related Posts:
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN : analisis tugas pembelajaran
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN Tentang :MENGIDENTIFIKASI KONSEP
DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

0 Response to " PENGELOLAAN PEMBELAJARAN Tentang


:MENGIDENTIFIKASI KONSEP DASAR PENGELOLAAN
PEMBELAJARAN"

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

FASHION LENGKAP

Entri Populer
Label
Arsip Blog

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN Tentang :MENGIDENTIFIKASI KONSEP


DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

MAKALAH PENGELOLAAN PEMBELAJARAN Tentang MENGIDENTIFIKASI


KONSEP DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN BAB 1 PENDAH...

MAKALAH :MASAILUL FIQIH TENTANG SAHAM DAN OBLIGASI

SAHAM DAN OBLIGASI BAB I


PENDAHULUAN Dimasa dewasa ini banyak dari kal...

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN : analisis tugas pembelajaran

ANALISIS TUGAS PEMBELAJARAN PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Dalam sebuah kegiatan pembelajaran diperlukan banyak hal untuk ...

TASYRI PADA MASA RASUL, AYAT AL-MAKYY, MADANI, AZAZ TASYRI


AL-ISLAMI, OTORITAS DAN SUMBER TASYRI
TASYRI PADA MASA RASUL, AYAT AL-MAKYY, MADANI, AZAZ TASYRI
AL-ISLAMI, OTORITAS DAN SUMBER TASYRI A. TASYRI PADA MASA
RASULULLAH Perk...

Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN Tentang :MENGIDENTIFIKASI KONSEP
DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

MAKALAH PENGELOLAAN PEMBELAJARAN Tentang MENGIDENTIFIKASI


KONSEP DASAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN BAB 1 PENDAH...

MAKALAH :MASAILUL FIQIH TENTANG SAHAM DAN OBLIGASI

SAHAM DAN OBLIGASI BAB I


PENDAHULUAN Dimasa dewasa ini banyak dari kal...

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN : analisis tugas pembelajaran

ANALISIS TUGAS PEMBELAJARAN PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Dalam sebuah kegiatan pembelajaran diperlukan banyak hal untuk ...

TASYRI PADA MASA RASUL, AYAT AL-MAKYY, MADANI, AZAZ TASYRI


AL-ISLAMI, OTORITAS DAN SUMBER TASYRI

TASYRI PADA MASA RASUL, AYAT AL-MAKYY, MADANI, AZAZ TASYRI


AL-ISLAMI, OTORITAS DAN SUMBER TASYRI A. TASYRI PADA MASA
RASULULLAH Perk...

About Me
Arif Setyawan
Lihat profil lengkapku
Copyright 2014 fakultas tarbiyah dan keguruan
Design by Evo Templates

About
Sitemap
Privacy Policy
Disclaimer
Hubungi Saya

Tugas Kuliahku

Memberikan Kemudahan Bagi Tugas Kuliah dan Sekolah Anda.

Home
Adm Perkantoran
o
o
o
o
o
o
o
o
o
Bahasa
o
o
Catatan Harian
o
o
o
o
o
Ekonomi
o
o
o
o
o
o
Pendidikan
Karya Ilmiah
o
o
o
o
Makalah
Politik
RPP
Sejarah
o
o
o
o
o
o
Silabus
o
o
o
o
Soal
o
o
o
o
o
o
Komputer
o
o
o
o
o
Teknologi
o
o
o
Tips
o
o
o
o
o
UN
o
o




o
o




o




SBMPTN
o
o
o
o
o
Defenisi

Search...

Home Ilmu Pendidikan Makalah Makalah Pengelolaan Pembelajaran


Ilmu Pendidikan, Makalah

Makalah Pengelolaan Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan dapat dipandang sebagai suatu proses pemberdayaan dan pembudayaan
individu agar mampu memenuhi kebutuhan perkembangan dan memenuhi tuntutan sosial,
kultural, serta religius dalam lingkungan kehidupannya.
Pengertian pendidikan seperti ini mengimplikasikan bahwa upaya apapun yang
dilakukan dalam konteks pendidikan seyogyanya terfokus pada upaya memfasilitasi proses
perkembangan individu sesuai dengan nilai agama dan kehidupan yang dianut.

Pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang sangat diperlukan dalam pembelajaran


karena kegiatan ini berguna untuk mengatur system pembelajaran dan mengatur jalannya
pembelajaran agar bisa mencapai kepada tujuan yang diinginkan, karena pengelolaan itu
sangat penting bagi seorang guru.
Keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan sangat tergantung pada keberhasilan
guru merancang Materi Pelajaran. Materi Pelajaran dapat ditentukan dengan langkah-langkah
:identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar, identifikasi jenis-jenis Materi
Pelajaran,penentuan cakupan Materi Pelajaran, urutan materi pembelajaran.
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan.
Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan
anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukasi
dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Disana semua komponen pengajaran
diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum
pengajaran dilaksanakan.
Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan
kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ketujuan. Di sini tentu saja
tugas guru berusaha menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan
bagi semua anak didik. Suasana belajar yang tidak menggairahkan dan menyenagkan bagi
anak didik biasanya lebih banyak mendatangkan kegiatan belajar mengajar yang kurang
harmonis. Anak didik gelisah duduk berlama-lama di kursi mereka masing-masing. Kondisi
ini tentu menjadi kendala yang serius bagi tercapainya tujuan pengajaran. Sebagai kegiatan
yang bernilai edukatif, belajar mengajar mempunyai ciri, dan komponen.
Metode adalah cara yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. makin baik
metode itu, makin efektif pula pencapaian tujuan. dengan demikian tujuan merupakan faktor
utama dalam menetapkan baik tidaknya penggunaan suatu metode.
Dalam hal metode mengajar, selain faktor tujuan, murid, situasi, fasilitas, dan faktor
guru turut menentukan efektif tidaknya penggunaan suatu metode karenanya metode
mengajar itu banyak sekali dan sulit menggolongkannya lebih sulit lagi menetapkan metode
mana yang memiliki efektifitas paling tinggi. Sebab metode yang kurang baik di tangan
seorang guru dapat menjadi metode yang baik sekali ditangan guru yang lain dan metode
yang baik akan gagal di tangan guru yang tidak menguasai teknik pelaksanaannya.
Namun demikian, ada sifat-sifat umum yang terdapat pada metode yang satu tidak
terdapat pada metode yang lain. Dengan mencari ciri-ciri umum itu, menjadi mungkinlah
untuk mengenali berbagai macam metode yang lazim dan praktis untuk dilaksanakan dalam
proses belajar mengajar.
Belajar mengajar merupakan kegiatan yang kompleks. Mengingat kegiatan belajar
mengajar merupakan kegiatan yang kompleks, maka tidak mungkin menunjukkan dan
menyimpulkan bahwa suatu metode belajar mengajar tertentu lebih unggul dari pada metode
belajar mengajar tertentu lebih
unggul dari pada metode belajar mengajar yang lainnya dalam usaha mencapai semua
pelajaran, dalam situasi dan kondisi, dan untuk selamanya.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka hal-hal yang akan dibahas dalam makalah
ini, yaitu :
a. Apa yang dimaksud dengan tujuan pengelolaan pembelajaran?
b. Apa yang dimaksud dengan materi pembelajaran ?
c. Bagaimana proses belajar mengajar dan apa saja ciri serta komponen kegiatan belajar
mengajar?
d. Apa saja macam macam metode pembelajaran ?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini tentu memiliki tujuan yaitu:
a. Untuk menjelaskan tujuan pengelolaan pembelajaran.
b. Untuk menjelaskan mengenai materi pembelajaran.
c. Untuk menjelaskan mengenai kegiatan belajar mengajar. Ciri-ciri, dan komponennya.
d. Untuk menjelaskan macam-macam metode pembelajaran.
1.4 Kegunaan Penulisan
1. Penulis, untuk menambah wawasan pengetahuan tentang tujuan pengelolaan, materi
pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan macam-macam metode pembelajaran.
2. Mahasiswa, khususnya mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, untuk menambah referensi
bahan bacaan yang berkaitan dengan tujuan pengelolaan, materi pembelajaran, kegiatan
belajar mengajar, dan macam-macam metode pembelajaran.
3. Umum, dapat dijadikan sarana untuk menambah wawasan pengetahuan.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Tujuan Pengelolaan
Tujuan pengelolaan adalah agar segenap sumber, peralatan atausarana yang ada dalam
suatu organisasi dapat digerakan sedemikian rupasehingga dapat menghindarkan dari segenap
pemborosan waktu, tenaga,materi guna mencapai tujuan yang diinginkan.
Pengelolaan dibutuhkan dalam semua organisasi, karena tanpaadanya pengelolan atau
manajemen semua usaha akan sia-sia danpencapaian tujuan akan lebih sulit. Disini ada 3
alasan diperlukannya pengelolaan :
1. Untuk mencapai tujuan. Disini pengelolaan dibutuhkan untuk mencapaitujuan organisasi dan
pribadi.
2. Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan- tujuan yang salingbertentangan. Pengelolaan
dibutuhkan untuk menjaga keseimbanganantara tujuan- tujuan, sasaran- sasaran dan kegiatan-
kegiatan yangsaling bertentangan dari pihak yang berkepentingan dalam suatuorganisasi
ataupun sekolahan. Seperti kepala sekolah, Guru, siswa,pegawai dan wali murid.
3. Untuk mencapai efisien dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapatdiukur dengan banyak
cara yang berbeda. Salah satu cara yang umumyaitu efisien dan efektivitas.
Jadi, tujuan pengelolaan pembelajaran adalah untuk menciptakanproses belajar
mengajar yang dengan mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan dan dikendalikan
dengan baik.
Tujuan pengelolaan atau manajemen akan tercapai jika langkahlangkahdalam
pelaksanaan manajemen di tetapkan secara tepat, Dr. Made Pidarta, menyatakan bahwa
langkah- langkah pelaksanaan manajemenberdasarkan tujuan sebagai berikut:
1. Menentukan strategi
2. Menentukan sarana dan batasan tanggung jawab
3. Menentukan target yang mencakup criteria hasil, kualitas dan batasanwaktu.
4. Menentukan pengukuran pengoperasian tugas dan rencana.
5. Menentukan standar kerja yang mencakup efektivitas dan efisiensi
6. Menentukan ukuran untuk menilai
7. Mengadakan pertemuan
8. Pelaksanaan.
9. Mengadaan penilaian
10. Mengadakan review secara berkala.
11. Pelaksanaan tahap berikutnya, berlangsung secara berulang- ulang

2.2 Materi Pembelajaran


2.2.1 Pengertian Bahan Ajar (Materi Pelajaran)
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri
dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka
mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi
pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan
sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang,
nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart; Negara RI merdeka pada
tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus,
komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada
sandaran dan lengan-lengannya).
Termasuk materi prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat, teorema, atau
hubungan antar konsep yang menggambarkan jika..maka., misalnya Jika logam
dipanasi maka akan memuai, rumus menghitung luas bujur sangkar adalah sisi kali sisi.
Materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah secara
sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah
mengoperasikan peralatan mikroskup, cara menyetel televisi. Materi jenis sikap (afektif)
adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang,
tolong-menolong, semangat dan minat belajar, semangat bekerja, dsb.
Untuk membantu memudahkan memahami keempat jenis materi pembelajaran aspek
kognitif tersebut, perhatikan tabel di bawah ini.
Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau disampaikan
dalam kegiatan pembelajran. Ditinjau dari pihak siswa bahan ajar itu harus dipelajari siswa
dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan
menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator pencapaian belajar.

2.2.2 Pengertian Materi Pelajaran


Materi Pelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus,
yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat
Kegiatan Pembelajaran.
Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi Pelajaran (instructionalmaterials)
adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka
memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi Pelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum,
yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran
tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai
oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya
materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar,
serta tercapainya indikator .
Materi Pelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam
mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal yang perlu diperhatikan
berkenaan dengan pemilihan Materi Pelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan
(treatment) terhadap Materi Pelajaran tersebut.
Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna, dituntut
memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan Materi Pelajaran, baik
berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur pengembangan materi serta
mengukur efektivitas persiapan tersebut.

2.2.3 Jenis-Jenis Materi Pelajaran


Jenis-jenis Materi Pelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut :
a. Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek,
peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu
benda, dan sebagainya.
b. Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai
hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya.
c. Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil,
rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang
menggambarkan implikasi sebab akibat
d. Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu
aktivitas dan kronologi suatu sistem.
e. Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih
sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja.

2.2.4 Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi


Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan Materi Pelajaran
adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
a. Relevansi artinya kesesuaian. Materi Pelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian
standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan
dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka Materi Pelajaran yang diajarkan harus
berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya :
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Menjelaskan hukum permintaan
dan hukum penawaran serta asumsi yang mendasarinya (Ekonomi kelas X semester 1)
maka pemilihan Materi Pelajaran yang disampaikan seharusnya Referensi tentang hukum
permintaan dan penawaran (materi konsep), bukan Menggambar kurva permintaan dan
penawaran dari satu daftar transaksi (materi prosedur).
b. Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada
empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi Aljabar
bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi penambahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi
teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.
c. Adequacy artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam
membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh
terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu
tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka
akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian
keseluruhan SK dan KD).

Adapun dalam pengembangan Materi Pelajaran guru harus mampu mengidentifikasi


Materi Pelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
1. potensi peserta didik;
2. relevansi dengan karakteristik daerah;
3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4. kebermanfaatan bagi peserta didik;
5. struktur keilmuan;
6. aktualitas, kedalaman, dan keluasan Materi Pelajaran;
7. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8. alokasi waktu.

2.2.5 Langkah-Langkah Penentuan Materi Pelajaran


a. Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar
Sebelum menentukan Materi Pelajaran terlebih dahulu perlu di identifikasi aspek-
aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta didik. Aspek tersebut
perlu ditentukan, karena setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis
materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Harus ditentukan apakah standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik termasuk ranah kognitif,
psikomotor ataukah afektif.
o Ranah Kognitif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis, dan penilaian.
o Ranah Psikomotor jika kompetensi yang ditetapkan meliputi gerak awal, semirutin, dan rutin.
o Ranah Afektif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pemberian respons, apresiasi,
penilaian, dan internalisasi.

b. Identifikasi Jenis-jenis Materi Pelajaran

1.Ranah Kognitif
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian Materi Pelajaran dengan
tingkatan aktivitas /ranah pembelajarannya. Materi yang sesuai untuk ranah kognitif
ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan,
pengertian, dan keterampilan berpikir. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk
ranah kognitif adalah fakta, konsep, prinsip dan prosedur.
Identifikasi materi pokok pada kompetensi dasar
Materi pokok merupakan berisikan butir-butir bahan pembelajaran pokok yang dibutuhkan
peserta didik untuk mencapai suatu kompetensi dasar. Setiap kompetensi dasar sekurang-
kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tuntutan atau tingkat kompetensi dan Materi Pelajaran.
Dengan demikian dalam identifikasi materi pokok maka dengan mencermati unsur Materi
Pelajaran pada kompetensi dasar.
Analisis struktur isi pada materi pokok
Dari materi pokok dapat dianalisis struktur isinya yang meliputi fakta, konsep, dan prinsip
serta prosedur. Cara yang paling mudah untuk menentukan struktur isi pada materi pokok
yang akan dibelajarkan adalah dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada materi
pokok.
2.Ranah Afektif
Materi Pelajaran yang sesuai untuk ranah afektif ditentukan berdasarkan perilaku
yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk ranah afektif meliputi rasa
dan penghayatan, seperti pemberian respon, penerimaan, internalisasi, dan penilaian.
Materi Pelajaran yang sesuai untuk ranah psikomotor ditentukan berdasarkan perilaku
yang menekankan aspek keterampilan motorik. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai
untuk ranah psikomotor terdiri dari gerakan awal, semirutin, dan rutin.

c. Penentuan cakupan Materi Pelajaran


Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup Materi Pelajaran harus
memperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur)
aspek afektif, ataukah aspek psikomotor, karena ketika sudah diimplementasikan dalam
proses pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian materi tersebut memerlukan strategi dan
media pembelajaran yang berbeda-beda.
Selain memperhatikan jenis materi juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang
perlu digunakan dalam menentukan cakupan Materi Pelajaran yang menyangkut keluasan dan
kedalaman materinya.
Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak materi-materi
yang dimasukkan ke dalam suatu Materi Pelajaran.
Kedalaman materi menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya
yang harus dipelajari oleh peserta didik.
Sebagai contoh, proses fotosintesis dapat diajarkan di SD, SMP dan SMA, juga di
perguruan tinggi, namun keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut
akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan aspek
proses fotosintesis yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari. Di
SD dan SMP aspek kimia disinggung sedikit tanpa menunjukkan reaksi kimianya. Di SMA
reaksi-reaksi kimia mulai dipelajari dan di perguruan tinggi reaksi kimia dari proses
fotosintesis semakin diperdalam.
Kecukupan atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan. Memadainya
cakupan aspek materi dari suatu Materi Pelajaran akan sangat membantu tercapainya
penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Misalnya, jika dalam pembelajaran
dimaksudkan untuk memberikan kemampuan kepada peserta didik di bidang jual beli, maka
uraian materinya mencakup:
1) penguasaan atas konsep pembelian, penjualan, laba, dan rugi;
2) rumus menghitung laba dan rugi jika diketahui pembelian dan penjualan;
3) penerapan/aplikasi rumus menghitung laba dan rugi.
Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi
yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga terjadi
kesesuaian dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
Misalnya dalam mata pelajaran Biologi di kelas X, salah satu kompetensi dasar yang
harus dicapai peserta didik adalah " Membuat produk daur ulang limbah ". Setelah
diidentifikasi, ternyata Materi Pelajaran untuk mencapai kemampuan tersebut termasuk jenis
prosedur. Jika kita analisis, secara garis besar cakupan materi yang harus dipelajari peserta
didik agar mampu membuat Surat Dagang sekurang-kurangnya meliputi: (1) membuat desain
produk, (2) menentukan alat dan bahan yang digunakan, (3) menentukan langkah-langkah
pembuatan.

d. Urutan Materi Pembelajaran


Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran. Tanpa
urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang
bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya.
Misalnya, materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Peserta didik akan mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika materi penjumlahan
belum dipelajari. Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan pembagian jika materi
perkalian belum dipelajari.
Materi Pelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat
diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.

1. Pendekatan prosedural.
Urutan Materi Pelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara
urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah:
dalam menelpon, dalam mengoperasikan peralatan kamera video, cara menginstalasi
program computer, dan sebagainya.
Contoh : Urutan Prosedural (tatacara)
Pada mata pelajaran Biologi, peserta didik harus mencapai kompetensi dasar
Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses sintesisprotein. Agar
peserta didik berhasil mencapainya, harus melakukan langkah-langkah berurutan mulai dari
cara hubungan DNA-RNA-polipeptida, transkripsi dan replikasi DNA, urutan proses sintesis
protein. Prosedur tersebut dapat disajikan dalam Materi Pelajaran sebagaimana dalam tabel di
bawah ini :
2. Pendekatan hierarkis
Urutan Materi Pelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat
berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari
dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
3. Penentuan Sumber Belajar
Berbagai sumber belajar dapat digunakan untuk mendukung Materi
Pelajaran tertentu. Penentuan tersebut harus tetap mengacu pada setiap standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Beberapa jenis sumber belajar antara lain:
1. Buku
2. laporan hasil penelitian
3. jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah)
4. majalah ilmiah
5. kajian pakar bidang studi
6. karya profesional
7. buku kurikulum
8. terbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan
9. situs-situs Internet
10. multimedia (TV, Video, VCD, kaset audio, dsb)
11. lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri)
12. narasumber

Perlu diingat bahwa tidaklah tepat jika seorang guru hanya bergantung pada satu jenis
sumber sebagai satu-satunya sumber belajar. Sumber Belajar adalah rujukan, artinya dari
berbagai sumber belajar tersebut seorang guru harus melakukan analisis dan mengumpulkan
materi yang sesuai untuk dikembangkan dalam bentuk bahan ajar. Di samping itu, kegiatan
pembelajaran bukanlah usaha mengkhatamkan (menyelesaikan) keseluruhan isi suatu buku,
tetapi membantu peserta didik mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru
menggunakan sumber belajar maupun Bahan Ajar secara bervariasi, untuk pengembangan
bahan ajar dapat berpedoman dengan panduan pengembangan bahan ajar yang diterbitkan
oleh Direktorat Pembinaan SMA.

Analisis Materi Pelajaran


Analisis Materi Pelajaran adalah kegiatan pemilihan materi esensial dari keselulruhan
materi suatu pelajaran yang merupakan materi pelajaran minimal yang harus dikuasai dan
dimiliki dalam proses pelajarannya. Materi pelajartan yang esensial itu mencakup tentang
konsep kunci keilmuwan, tema-tema utama, dan nilai-nilai dasar yang memiliki karakteristik
antara lain sebagai berikut :
o Universal, konsep kunci keilmuwan itu memiliki tingkat generalisasi yang tinggi
o Adaptf, artinya dapat memberikan kemampuan kepada siswa untuk mengadaptasi perubahan
dan perkembangan pengetahuan dan teknologi
o Transferable, artinya konsep-konsep yang ada dalam pokok-pokok bahasan tersebut dapat
dimanfaatkan atau digunakan bagi pemecahan masalah dalam berbagai pihak
o Aplikatif, memungkinkan untuk diterapkan atau diaplikasikan secara luas pada berbagai
bidang keilmuwan dan teknologi
o Meaningful, artinya layak bermakna dan bermanfaat untuk diketahui dan dan dikuasi oleh
siswa

Kaitan Tujuan Dengan Materi Pelajaran


Dalam konteks pendidikan, tujuan merupakan persoalan tentang misi dan visi suatu
lembaga pendidikan. Artinya, tujuan penyelenggaraan pendidikan diturunkan dari visi dan
misi lembaga, dan sebagai arah yang harus dijadikan rujukan dalam proses pembelajaran.
Komponen ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Kalau
diibaratkan, tujuan pembelajaran adalah jantungnya, dan suatu proses pembelajaran terjadi
manakala terdapat tujuan yang harus dicapai.
Tujuan pembelajaran membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya,
dengan tujuan yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pelajaran, metode
atau strategi pembelajaran, alat, media dan sumber belajar, serta dalam menentukan dan
merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa.

Kaitan Evaluasi Dengan Materi Pelajaran


Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran
secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan
sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik.
Kaitannya dengan materi pelajaran, dalam evaluasi pembelajaran itu terdapat evaluasi
masukan pembelajaran menekankan pada evaluasi karakteristik peserta didik, kelengkapan
dan keadaan sarana dan prasarana pembelajaran, karakteristik dan kesiapan tutor, kurikulum
dan Materi Pelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran, serta keadaan
lingkungan dimana pembelajaran berlangsung.

2.3 Kegiatan Proses Belajar Mengajar


Kegiatan Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara
keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar
banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu perwujudan proses
belajar mengajar dapat terjadi dalam berbagai model. Bruce Joyce dan Marshal Weil
mengemukakan 22 model mengajar yang di kelompokan ke dalam 4 ha, yaitu : Proses
informasi, perkembangan pribadi, interaksi sosial dan modifikasi tingkah laku ( Joyce &
Weil, Models of Teaching, 1980 )
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian
perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan
siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi
dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan
antara guru dan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya
penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri
siswa yang sedang belajar.
Proses belajar mengajar memeiliki makna dan pengertian yang lebih luas daripada
pengertian mengajar semata. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya suatu kesatuan
kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara
kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.

2.3.1 Ciri ciri kegiatan belajar mengajar


Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri
tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu
perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud kegiatan belajar mengajar itu sadar akan
tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. Anak didik mempunyai
tujuan, unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung.
2. Ada suatu prosedur (jalanya interaksi) yang direncanakan, di desain untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan
interaksi perlu ada prosedur, atau langkah-langkah sistematik dan relevan. Untuk mencaapi
suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur
dan desain yang berbeda pula. Sebagai contoh, misalnya tujuan pembelajaran agar anak
didik dapat menunjukkan letak kota NEW yoRK tentu kegiatannya tidak cocok kalau anak
didik disuruh membaca dalam hati, dan begitu seterusnya.
3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan materi yan khusus. Dalam
hal ini materi harus didesain sedimikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Sudah
barang tentu dalam hal ini perlu memperhatikan komponen-komponen yang lain, apabila
kompenen anak didik yang merupakan sentral. Materi harus sudah didesain dan disiapkan
sebelum berlangsungnya keiatan belajar mengajar.
4. Ditandai dengan aktifitas anak didik. Sebagai konsekuensi , bahwa anak didik merupakan
syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Aktivitas anak didik dalam hal
ini, baik secara fisik maupun secara mental, aktif. Inilah yang sesuai dengan konsep CBSA.
Jadi, tidak ada gunanya melakukan kegiatan belajar mengajar, kalau anak didik hanya pasif.
Karena nak didiklah yang belajar, maka merekalah yang harus melakukanya.
5. Dalam kegiatan belajar megajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya
sebaai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar
terjadi proses interaksi yang kondusif guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi
proses belajar mengajar, sehingga guru akan merupakan tokoh yang dilihat dan ditiru tingkah
lakunya oleh anak didik. Guru (akan lebih baik bersama anak didik) sebagai designer akan
memimpin terjadinya interaksi.
6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disipli dalam kegiatan belajar
mengajar ini diartikan sebagai suatu pula tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut
ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar. Mekanisme
konkret dari ketaatan pada ketentuan pada ketentuan atau tata tertib itu akan terlihat dari
pelaksanaan prosedur. Jadi, langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang
sudah digariskan. Penyimpangan dari prosedur berarti suatu indikator pelanggaran disiplin.
7. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas
(kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan.
Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
8. Evaluasi. Dari seluruh kegiatan diatas, masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa
diabaikan, setelah guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus guru lakukan
untuk mengetahui tercapai tidaknya tujusn pengajaran yang telah ditentukan.

2.3.2 Komponen komponen Belajar Mengajar


Sebagai suatu sistem tentu saja kehiatan belajar mengajar mengandung sejumlah
komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan
sumber, serta evaluasi.

1. Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaansuatu
kegiatan. Tidak adasuatu kegiatan yang diprogaramkan tanpa tujuan, karena hal ini adalah
suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akn
dibawa.
Dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan adalah suatu cita-cita yang dicapai dalam
kegiatanya. Kegiatan belajar mengajar tidak bisa dibawa sesuka hati, kecuali untuk mencapai
tujuan yng telah ditetapkan.
Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yangbernilai normatif.
Dengan perkataan lain, dalam tujuan terdpat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada
anak didik. Nilai-nilai itu nanti yang akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat
dlam lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran yang
lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajr mengajar, pemilihan metode, alat sumber, dan
alat evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai
tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satu kmponen tidak sesuai dengan tujuan,
maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencaapi tujuan yang telah
ditetapkan.
Ny.Dr.Roestiyah, N.K. (1989 :44) mengatakan bahwa suatu tujuan pengajaran adalah
deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah
mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan
suatu hasil yang kita harappkan dari pengajaran itu dan bukan sekadar suatu proses dari
pengajaran itu sendiari.

2. Bahan pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar
mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu,
guru yang mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang kan disampaikan
pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, iaknipenguasaan
bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan
pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan propesinya
(disalam mengajar disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau
penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seoran guru agar dalam
belajar mengajar dapat menunjang penyampaiaan bahan pelajaran pokok.
Bahan adalah salah satu sumber belajar bagi anak didik. Bahan yang disebut
sebagai sumber belajar (pengajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan
pengajaran. (sudirman, N.K, 1991; 203). Bahan belajarmenuurt Dr. Suharsimi Arikunto
(1990) merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang
bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Karena itu, guru
khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, tidak bolehlupa harus memikirkan sejauh
mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabi berkaitan dengan kebutuhan anak didik
pada usia tertentu dan dalam lingkungan tertentu pula minat anak didik akan bangkit bila
suatu bahan diajarkan sesuai denagn kebutuhan anak didik. Maslow berkeyakinan bahwa
minat seseoarang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya. (Sadirman,
A.M, 1988;81). Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akn meotivasi
anak didik dalam jangka waktu tertentu.
Dengan demikian, bahan pelajaran mrupakan komponen yang tidak bisa diabaikan
dalam pengajaran, sebab bahan adalh inti dalam proses belajar mengajar yan akan
disampaikan kepada anak didik.

3. Kegiatan belajar mengajar


Kegiatan belajar mengajar adalah inti keiatan dalam pendidikan. Seala sesuatu yang
sudah diprogaramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan
belajar menagjar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan
menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan
individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, inter=lektual, dan psikolois. Kerangka
berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap
anak didik secara individual. Anak didik sebagi individu memiliki perbedaan dalam hal
sebagimana disebutkan diatas. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut akan merapatkan
mastery learning dalam mengajar. Mastery learning adalah salah satu strategi belajar
mengajar pendekatan individual (Drs. Muhammad Ali, 1992: 94). Mastery learning adalah
kegiatan yang meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan program perbaikan (Dr.
Suharsimi Arikunto, 1988; 31). Dalam kegiatan belajar mengajar, guru akan menemui bahwa
anak didiknya sebagian ada yang dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas (mastery).
Kenyataan tersebut merupakan persoalan yang perlu diatasi dengan segera, dan mastery
learning-lah sebagai jawabannya.
Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar yang bagaimana pun, juga ditentukan
dari baik atau tidaknya program pengajaran yang teklh dilakukan; dan akan berpengaruh
tujuan yang akan tercapai.

4. Metode
Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan
penggunannya yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran
berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai
satupun metode mangajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan
pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991:72)
Pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan
bila guru mengabaikan factor-faktor yang mempengaruhi penggunaanya. Prof. Dr. Winarno
Surakhmad, M. Sc. Ed., mengemukakan lima macam factor yang mempengaruhi penggunaan
metode mengajar sebagai berikut:
a. Tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya
b. Anak didik yang berbagai-bagai tingkat kematangannya
c. Situasi yang berbagai-bagai keadaanya
d. Fasilitas yang berbagai-bagai kualitas dan kuantitasnya
e. Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
5. Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan
pengajaran. Sebagai sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran, alat
mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai pelengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah
usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989:51)
Alat dapat dibagai menjadi dua macam, yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Yang
dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan
alat bantu pengajaran adalah berupa glode, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar,
diagram, slide, video, dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan penganjaran
menjadi alat material nan nonmaterial.
Alat material termasuk alat bantu audiovisual di dalamnya. Penggunaan alat bantu
audiovisual dalam proses belajar mengajar sangat didukung oleh Dwyer (1967), salah satru
tokoh aliran Realisme. Aliran realism berasumsi bahwa belajar yang sempurna hanya dapat
tercapai jika digunakan bahan-bahan audiovisual yang mendekati realitas. Menurut Miller,
ddk. (1957), lebih banyak sifat bahan audiovisual yang menyerupai realisasi, makin mudah
terjadi belajar. Karenanya, ada kecenderungan dari pihak guru untuk memberikan bahan
pelajaran sebanyak mungkin dengan memberikan penjelasan yang mendekati realisasi
kehidupan dan pengalaman anak didik.
Sebagai alat bantu dalam pendidikan dan pengajaran, alat material (audiovisual)
mempunyai sifat sebagai berikut:
a. Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
b. Kemampuan untuk meningkatkan pengertian
c. Kemampuan untuk meningkatkan transper (pengalihan) belajar
d.Kemampuan untuk memberikan penguatan (rein forcement) atau pengetahuan hasil yang
dicapai
e. Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan).

6. Sumber pelajaran
Belajar mengajar, telah diketahui, bukanlah berproses dalam kehampaan, tetapi
berproses dalam kemaknaan, didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak
didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi telambil dari berbagai sumber
guna dipakai dalam proses belajar mengajar.
Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahandan belajar adalah sebagai sesuatu yang
dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar
seseorang (Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata,
1991:165). Sumber belajar merupakan bahan/ materi untuk menambah ilmu pengetahuan
yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk
mendapatkan hal-hal baru (perubahan).
Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana: di sekolah, di
halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran
tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainya.
(Drs. Sudirman N. ddk., 1991:203).

Ny. Dr. Roestiyah, N.K. (1989:53) mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu
adalah:
a. Manusia ( dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat).
b. Buku/perpustakaan.
c. Mass media (majalah, surat kabar, radio, tv, dan lain-lain)
d. Dalam lingkungan
e. Alat pengajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol,
dan lain-lain).
f. Museum ( tempat penyimpanan benda-benda kuno)

Drs. Sudirman N,ddk. (1991:203) mengemukakan macam-macam sumber belajar


sebagai berikut:
a. Manusia (people)
b. Bahan (materials)
c. Lingkungan (setting)
d. Alat dan perlengkapan (tool and equipment)
e. Aktivitas (activities)
1. Pengajaran berprogram
2. Simulasi
3. Karyawisata
4. System pengajaran modul.

Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya meliputi:


- Tujuan khusus yang harus dicapai oleh siswa
- Materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari
- Aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa utuk mencapai tujuan
pengajaran.

Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata (1991 :165)
berpendapat bahwa terdapat sekurang-kurangnya lima macam sumber belajar, yaitu:
a. Manusia
b. Buku/perpustakaan
c. Media massa
d. Alam lingkungan
1. Alam lingkungan terbuka
2. Alam lingkungan sejarah atau peninggalan sejarah
3. Alam lingkungan manusia.
e. Media pendidikan.

7. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris, yaitu evaluation. Dalam buku Essentials
of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown.dikatakan bahwa
Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Jadi, menurut
Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N
Sumartana, (1983:1) evaluasi pendidikan dapt diartikan sebagai tindakan atau suatu proses
untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala yang sesuatu
yang ada hubunganya dengan dunia pendidikan.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K.(1989:85) mengatakan


bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang
bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa
yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.L. Pasaribu
dan Simanjuntak menegaskan bahwa:
a. Tujuan umum dari evaluasi adalah:
1. Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai
tujuan yang diharapkan.
2. Memungkinkan pendidikan/guru menilai aktivitas/ pengalaman yang didapat.
3. Menilai metode mengajar yang dipergunakan.

b. Tujuan khusus dari evaluasi adalah:


1. Merangsang kegiatan siswa
2. Menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan.
3. Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa
yang bersangkutan
4. Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan
lembaga pendidikan
5. Untuk memperbaiki mutu pelajaran/carabelajar dan metode mengajar. (Abu Ahmadi dan
Widodo Supriyono, 1991:189).

Dalam tujuan-tujuan yang dikemukakan tersebut, maka pelaksanaan evaluasi


mempunyai menfaat yang sangat besar. Manfaat itu dapat ditinjau dari pelaksanaannya dan
ketika akan memprogramkan serta melaksanakan proses belajar mengajar di masa mendatang
(H. Muhammad Ali, 1992:113).
Dari tujuan itu juga dapat dipahami bahwa pelaksanaan evaluai diarahkan kepada
evaluasi proses dan evaluasi produk (W.S. Winkel, 1989:318). Evaluasi proses dimaksud
adalah suatu evaluasi yang diarahkan untuk menilai bagaimana pelaksanaan proses belajar
mengajar yang telah dilakukan mencapai tujuan, apakah dalam proses itu ditemui kendala,
dan bagaimana kerja sama setiap komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam
satuan pelajaran. Evaluasi produk dimaksud, adalah suatu evaluasi yang diarahkan kepada
bagaimana hasil belajar yang telah dilakukan oleh siswa, dan bagaimana penguasaan siswa
terhadap bahan/materi pelajaran yang telah guru berikan ketika proses belajr mengajar
berlangsung.

Ketika evaluasi dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa, maka evaluasi
menjadi fungsi sebagai berikut:
a. Untuk memberikan umpan balik (feed back) kepada guru sebagai dasar untuk
memperbaiki proses belajar mengajar, serta mengadakan perbaikin program bagi murid.
b. Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap
murid. Antara lain dipergunakan dalam rangka pemberian laporan kemajuan belajar murid
kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas, serta penentuan lulus tidaknya seseorang murid.
c. Untuk menentukan murid didalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan
tingkat kemampuan ( dan karakteristik lainya) yang dimiliki oleh murid.
d. Untuk mengenal latar belakang (psikologis, fisik dan lingkungan) murid yang
mengalami kesulitan-kesulitan belajar, nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam
pemecahan kesulitan-kesulitan belajar yang timbul. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono,
1991:189).

2.4 Macam macam Metode Pembelajaran

Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan
segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak
didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang
harus dilakukan oleh guru adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting
adalah performance guru di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas
sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus
menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.
Tiap-tiap kelas bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda
dengan kelas lain. Untuk itu seorang guru harus mampu menerapkan berbagai metode
pembelajaran. Disini saya akan memaparkan beberapa metode pembelajaran menurut Ns.
Roymond H. Simamora, M.Kep yang dapat kita digunakan.

Macam-Macam Metode pembelajaran :


1. Metode Ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan
pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu
dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah,
dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya
inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan
dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan
belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2. Metode Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih
untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam
pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang
menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne &
Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah,
metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan
memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi
hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif
untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.

3. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat
efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti:
Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana proses
mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana seorang guru
atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa
memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat
pencuci otomatis, cara membuat kue, dan sebagainya.

Kelebihan Metode Demonstrasi :


a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.

Kelemahan metode Demonstrasi :


a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa
yang didemonstrasikan.

4. Metode Ceramah Plus


Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang menggunakan
lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya.
Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)

5. Metode Resitasi
Metode Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan
siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan Metode Resitasi adalah :
a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat
lebih lama.
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif,
bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :
a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik hanya meniru
hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.

6. Metode Eksperimental

Metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di


mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri
suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami
sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek,
menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang
dipelajarinya.

7. Metode Study Tour (Karya wisata)

Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan
mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan
selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil
kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.

8. Metode Latihan Keterampilan

Metode latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar dengan
memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya
langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan
manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan
membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.

9. Metode Pengajaran Beregu

Metode pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya


lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.Biasanya salah seorang pendidik
ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya,setiap pendidik membuat soal, kemudian
digabung. Jika ujian lisan maka setiapsiswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan
team pendidik tersebut.

10. Peer Theaching Method

Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu suatu
metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.

11. Metode Pemecahan Masalah (problem solving method)

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanyasekadar metode


mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebabdalam problem solving dapat
menggunakan metode-metode lainnya yang dimulaidengan mencari data sampai pada
menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir
danmenggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan olehsiswa.
Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencobamengeluarkan
pendapatnya.
12. Project Method

Project Method adalah metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan
meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.

13. Taileren Method

Teileren Method yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-


sebagian,misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentusaja
berkaitan dengan masalahnya

14.Metode Global (ganze method)

Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca
keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil
intisaridari materi tersebut.

15.Metode SAS

Menurut Supriyadi (1996) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita
yang disertai dengan gambar, yang didalamnya terkandung unsur struktur analitik sintetik.
Metode SAS menurut Djauzak (1996) adalah suatu metode pembelajaran menulis permulaan
yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan
menampilkan cerita yang diambil dari dialog siswa dan guru atau siswa dengan siswa.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Pak Insan Kamil mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Suaka
Maju. Topik yang diajarkan adalah Membaca Permulaan. Metode yang digunakan adalah
metode SAS. Selama plajaran berlangsung siswa dilatih membaca dengan langkah-langkah
yang dianjurkan dalam metode SAS. Akan tetapi para siswa membaca tujuh langkah
membaca permulaan yang disarankan metode SAS tampak seperti menghafal unsur-unsur
kalimat tersebut. Akibatnya, hasil pembelajaran membaca permulaan tidak seperti yang
diharapkan. Para siswa mampu membaca (membunyikan) tetapi tidak mampu menunjuk
unsur kalimat yang dibaca pada waktu membacanya.
1. Selama pelajaran berlangsung siswa Pak Insan Kamil kurang mampu menunjuk unsur
kalimat yang dibaca pada waktu pembacaan berlangsung
2. Evaluasi hasil belajar siswa yang dilakukan Pak Insan Kamil menunjukkan bahwa 25 %
siswa mendapatkan nilai kurang baik; siswa belum mampu membaca unsur kalimat dengan
tepat
Dari kasus itu dapat diketahui bahwa para siswa SD kelas II yang Pak Insan Kamil
bina dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menunjukan bahwa ada sebagian siswa
yang mendapatkan masalah. Masalah itu adalah sebagian siswa belum mampu membaca
dengan penunjukan yang benar anatara yang dibaca dengan penunjuknya, sehingga dari
evaluasi yang dilakukan ditemukan siswa yang hasil belajarnya kurang mencapai 25%.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah :

1. Mengapa sebagian siswa Pak Insan Kamil kurang mampu membaca dengan penunjukan
unsur yang dibacanya secara tepat? Tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal
tersebut?
2. Bagaimana perbaikan pelaksanaan metode SAS harus dilakukan agar hasil belajar siswa
menjadi lebih baik?
Sumber :
http://sinarbahasa.wordpress.com/2012/06/21/contoh-kasus-pembelajaran/

3.2 Penyelesaian Kasus

Untuk menyelesaikan permasalahan kasus pembelajaran yang dilakukan Pak Ahmad


tersebut perlu dilakukan langkah berikut.

1. Siswa yang kurang mampu membaca dengan penunjukan yang tepat, seperti telah
dijelaskan di atas, disebabkan pada saat latihan membaca siswa kurang mendapatkan
perhatian ketepatan penunjuk dengan yang dibacanya. Tujuh langkah metode SAS
yang dianjurkan tidak dilaksanakan guru secara benar. Para siswa waktu membaca
seperti membaca kelimat biasa. Pada hal langkah (1) metode SAS kalimat dibaca
sebagai kalimat, (2), kalimat dibaca berdasar unsur kata-katanya, (3) kalimat dibaca
berdasar unsur suku katanya, (4) kalimat dibaca berdasar unsur fonem (huruf) nya, (5)
kalimat dibaca berdasar unsur suku katanya, (6) kalimat dibaca berdasar unsur
katanya, dan langkah (7) kalimat dibaca sebagai kalimat. Dengan langkah pembacaan
seperti itu diharapkan pembelajaran membaca permulaan melibatkan siswa secara
mental dalam bentuk proses struktural-analitis-sintetis (SAS).
2. Untuk memperbaiki teknik pembelajaran membaca permulaan sebagaimana
dijelaskan tersebut, guru harus melakukan beberapa perbaikan teknis penggunan
metode SAS. Perbaikan teknik pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan
beberapa kemungkinan sebagai berikut; (a) menerapkan secara tepat teknik
pembacaan bahan ajar sebagaimana dianjurkan metode SAS, (b) menerapkan teknik
pembacaan bahan ajar dengan metode SAS yang dimodifikasi, (c) memodifikasi
tataan materi ajar yang memberi peluang siswa membaca lebih melibatkan mental
psyche dalam metode SAS, atau yang lain. Dengan memodifikasi tataan materi ajar
yang disajikan dengan model SAS itu diharapkan proses siswa membaca menghafal
itu dapat dieliminir.

Pemanfaatan model metode SAS sebagaimana telah berlangsung selama ini ternyata
ada kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Meskipun kendala itu dapat diatasi,
mengatasinya tidak mudah. Para guru akan kesulitan mempertahankan dan menepatkan
model teknik SAS sebagaimana tuntutan SAS. Kemungkinan (b) juga tidak dianjurkan
(dipilih) karena momodifikasi teknik pembacaan model teknik SAS, masih cenderung
memelesetkan guru kembali ke teknik model SAS yang selama ini mereka laksanakan. Oleh
karena itu yang dianjurkan adalah model teknik memodifikasi bahan ajar SAS.

Model teknik SAS yang memodifikasi bahan ajar ini dimaksudkan agar dalam
pelaksanaannya para guru tidak terpeleset dengan hanya mendrill bahan ajar yang
mengakibatkan para siswa hanya menghafal, tanpa mampu membaca secara tepat. Salah satu
alternatif yang diajukan dapat dipakai untuk menghindari tubian yang menjadikan anak
terjebak dalam penghafalan adalah dengan menata ulang bahan ajar model teknik SAS.

Caranya adalah, bahan ajar yang akan didrill-kan disusun sedemikian rupa variasinya
sehingga tidak akan terhafal oleh siswa. Cara ini akan dapat memaksa siswa mengenali
dan memahami bahan ajar tersebut, tanpa mengurangi kebermaknaan bahan ajar itu bagi
kehidupan nyata sehari-hari si anak. Dengan demikian, anak diharapkan mendapatkan
susunan kalimat yang mengandung makna positif, sekaligus mendapatkan peluang
kebermaknaan bahan tubian sebagai sarana belajar membaca secara cepat, tepat, dan lancar.

Untuk sementara penulis berpendapat model bahan ajar itu kita sebut saja dengan
metode SAS yang diperbaiki. Ke depan, sarana tubian yang diharapkan dapat dilakukan anak
SD kelas rendah dalam belajar membaca permulaan harus terdiri atas beberapa paket,
mengingat jumlah huruf yang dipakai dalam bahasa Indonesia ada 28 (dua puluh delapan)
huruf. Setiap paket diharapkan minimal mengandung 5 (lima) huruf, sehingga secara
keseluruhan akan terdiri atas 6 (enam) paket. Namun karena keterbatasan waktu, sambil terus
menunggu hasil pelaksanaan uji coba, untuk sementara disajikan salah satu paket model
tubian yang sekaligus dipakai sebagai bahan pemerjelas paparan dalam makalah ini.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka kami menyimpulkan metode pembelajaran adalah
cara, model, atau serangkaian bentuk kegiatan belajar yang diterapkan pendidik kepada anak
didiknya guna meningkatkan motivasi belajar si terdidik guna tercapainya tujuan
pengajaran.Dalam menggunakan metode pembelajaran ada beberapa prinsi-prinsip
pembelajaran yaitu: Pembelajaran efektif menguatkan pembelajaran praktek dalam tindakan,
Pembelajaran efektif mengintegrasikan komponen-komponen kurikulum inti, Pembelajaran
efektif bersifat dinamis dan dapat mengbangkitkan kegairahan, Pembelajaran efektif
merupakan perpaduan antara seni dan ilmu tengtang pengajaran, Pembelajaran efektif
membutuhkan pemahaman komprehensif tentang siklus pembelajaran dan Pembelajaran
efektif dapat menemukan ekspresi terbaiknay ketika guru berkolaborasi untuk
mengembangkan, mengimplementasikan, dan menemukan bentuk praktek mengajar yang
efektif.
Jenis jenis metode pembelajaran yaitu metode ceramah, metode Tanya jawab,
metode diskusi, metode pemberian tugas belajar (resitasi), metode demonstrasi dan
eksperimen, metode kerja kelompok, metode sosiodrama, metode karyawisata, metode
permainan simulasi, metode studi kasus, metode symposium, metode seminar, metode
bermain peran (role playing), metode tutorial, metode deduktif, metode induktif, dan metode
problem solving.
Materi Pelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus,
yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat
Kegiatan Pembelajaran.
Jenis-jenis Materi Pelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut: Fakta, Konsep,
Prinsip, Prosedur, dan Sikap atau Nilai. Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi: Prinsip-
prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan Materi Pelajaran adalah kesesuaian
(relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy). Langkah-langkah penentuan
Materi Pelajaran: identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar, identifikasi jenis-
jenis Materi Pelajaran, penentuan cakupan Materi Pelajaran, urutan materi pembelajaran.
Analisis Materi Pelajaran adalah kegiatan pemilihan materi esensial dari keselulruhan
materi suatu pelajaran yang merupakan materi pelajaran minimal yang harus dikuasai dan
dimiliki dalam proses pelajarannya.
Tujuan pembelajaran membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya,
dengan tujuan yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pelajaran.
Evaluasi pembelajaran itu terdapat evaluasi masukan pembelajaran menekankan pada
evaluasi karakteristik peserta didik, kelengkapan dan keadaan sarana dan prasarana
pembelajaran, karakteristik dan kesiapan tutor, kurikulum dan Materi Pelajaran.
Inti proses pengajaran adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan
pengajaran.
Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif
untuk mencapainya.
Ciri-ciri belajar mengajar yaitu:
1. Belajar mengajar memiliki tujuan
2. Ada suatu prosedur
3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan materi yang khusus.
4. Ditandai dengan aktifitas anak didik
5. Guru berperan sebagai pembimbing
6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin
7. Ada batas waktu
8. Evaluasi.
Yang komponen-komponen belajar mengajar yaitu:
1. Tujuan
2. Bahan pengajaran
3. Kegiatan belajar mengajar
4. Metode
5. Alat
6. Sumber pelajaran
7. Evaluasi
4.2 Saran
Setelah memaparkan materi metode pembelajaran, maka kamimenyarankan bahwa
sebelum melakukan kegiatan pembelajaran sebagai seorang pebelajar terlebih dahulu mencari
dan mengkaji metode mana yang tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran, sehingga
tujuan pembelajaran tercapai.
Adapun saran yang diberikan adalah para guru atau calon guru hendaklah jitu dan
tepat dalam memilih media pembelajaran sehingga peserta didik dapat mempelajari dengan
mudah.

DAFTAR PUSTAKA

Ginting. 2010. Belajar Pembelajaran. Bandung : Humaniora.

Hamzah, B. Uno. 2009. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang
kreatif dan efektif. Jakarta : Bumi Aksara.

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2258046-tujuan-pengelolaan-
pembelajaran/#ixzz2sjgFTjrw
http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/02/pengertian-bahan-ajar-materi-pembelajaran/

http://darulpalah.blogspot.com/2012/11/makalah-materi-pembelajaran.html

http://blog.tp.ac.id/analisis-materi-pelajaran-amp-esensial

http://inspirasibelajar.wordpress.com/2011/03/19/pengertian-proses-belajar-mengajar

http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran/

http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/17/macam-macam-metode-pembelajaran-
619058.html

Share2
0
inShare

Related Posts :

Hakekat Pendidikan Nasional PENDIDIKAN


NASIONAL I. Penghidupan Rakyat Kekuatan rakyat itulah jumlah
kekuatan tiap-tiap anggota dari rakyat itu, Read More...

RPP Otomatisasi Perkantoran Kurikulum 2013 Rencana Pelaksanaan


Pembelajaran ( RPP ) Satuan pendidikan : SMKN 1 Amborgang
Program/Program Keahlian : Admin Read More...

Teori Gestalt TEORI GESTALT Dasar pokok aliran psikologi ini


pertama kalinya dirumuskan Max Wertheimer pada tahun 1912 yang berbunyi, ke
Read More...
Makalah Pengelolaan Pembelajaran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar
Belakang Pendidikan dapat dipandang sebagai suatu proses pemberdayaan dan
pembudayaan individu agar Read More...

Makalah Sistem Pendidikan Eropa Timur BAB I PENDAHULUAN 1.1


Latar Belakang Kawasan Eropa Timur adalah kawasan yang didominasi oleh negara-
negara pecahan dari Uni Soviet yan Read More...

Newer Post Older Post Home


Arsip Blog

Anda Pengunjung Ke
2460490

About Me

jhon miduk
Sukses bukan Pilihan, tetapi Sukses adalah Keharusan
View my complete profile

TERPOPULER
Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah

CARA MENGGANTI HALAMAN TERTENTU MENJADI LANDSCAPE DI


MS.WORD

Makalah Asuransi
KONSEP DASAR DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Berpikir Kronologi dan Sinkronik dalam Sejarah
Contoh Berpikir Kronologi dan Diakronik dalam Sejarah
Daftar Urut Kepangkatan (DUK)
Tes Afektif, Kognitif, dan Psikomotorik
Makalah Komunikasi Interpersonal
Pengertian dan Fungsi Administrasi

Mohon Dilike Untuk Mendukung Kami

Get This Widget

Web Ini Sangat Bermanfaat


Popular This Week
CARA MENGGANTI HALAMAN TERTENTU MENJADI LANDSCAPE DI
MS.WORD
Makalah Asuransi
Makalah Budaya Organisasi
KONSEP DASAR DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Tes Afektif, Kognitif, dan Psikomotorik
Pengertian Populasi dan Sampel Menurut Para Ahli
Pengertian RIP (Rest in Peace)
Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah
Makalah Komunikasi Interpersonal
Makalah Strategi Pembelajaran

Copyright 2011 by Jhon Miduk Sitorus : Tugas Kuliahku


Desain by Blogger

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru sebagai komponen penting dari tenaga kependidikan, memiliki tugas untuk
melaksanakan proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru diharapkan
paham tentang bagaimana cara mengelola pembelajaran dengan baik. Pengelolaan
pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam pendidikan karena, tanpa pengelolaan
yang baik maka peoses pembelajaran tidak akan terarah dengan baik sehinga tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan tidak akan tercapai secara optimal.
Sebelum pelaksanaan proses pembelajaran dikelas dilakukan, seorang guru terlebih dahulu
harus menata, mengorganisasikan isi pembelajaran yang akan diajarkan. Hal ini perlu
dilakukan agar isi pembelajaran yang akan diajarkan mdah dipahami siswa.
Demikian pula selama proses pembelajaran, guru diharapkan mampu menumbuhkan,
meningkatan, dan mempertahankan motivasi belajar siswa. Tanpa adanya motivasi belajar
siswa yang tinggi, kiranya sulit bagi guru untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Oleh karena itu, guru harus mampu menerapkan strategi motivasional dalam tindak
pembelajarannya.
Pada hakikatnya program pembelajaran betujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa
dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga member pemahaman dan penguasaan tentang
mengapa hal itu terjadi. Berpijak pada permasalahan tersebut, maka penmbelajaran
pemecahan masalah sangat penting unuk diajarkan.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengorganisasian pembelajaran ?
2. Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran ?
3. Apakah faktor penunjang keberhasilan pembelajaran
4. Berapakah strategi pemecahan masalah ?
5. Bagaimana pengelolaan motivasional ?
6. Apa yang dimaksud dengan taksonomi pemecahan masalah ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
1. Taksonomi Variable Pembelajaran
Dalam memahami strategi pembelajaran terlabih dahulu perlu dipahami variable-variabel
pembelajaran. Variable pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga yaitu, kondisi
pembelajaran, strategi pembelajaran, dan hasil pembelajaran.
a. kondisi pembelajaran dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
Tujuan dan karakteristik bidang studi
Kendala dan karakteristik bidang studi
Karakteristik siswa
b. strategi pembelajaran diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :
Strategi pengorganisasian
Strategi penyampaian
Strategi pengelolaan

c. hasil pembelajaran diklasifikasikan


Keefektifan
Efesiensi
Daya tarik

Di dalam hubungannya, Strategi pembelajaran dipengaruhi oleh kondisi pembelajaran.


Strategi pengorgannisasian pembelajaran lebih banyak dipengaruhi pleh tujuan pembelajaran
dan karekteristik bidang studi. Strategi penyampaian pembelajaran lebih banyak dipengaruhi
oleh kendala dan karakteristik bidang studi. Strategi pengelolaan pembelajaran lebih banyak
dipengaruhi oleh karakteristik siswa. Hal ini berarti strategi pembelajaran apa yang akan
diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Hal ini juga menunjukan bahwa tidak
ada satupun atrategi pembelajaran yang sesuai atau cocok diterapkan untuk semua bidang
studi atau siswa.

2. Strategi Pengorganisasian Pembelajaran

Strategi pengorganisasian adalah cara untuk membuat urutan (sequencing) dan mensintesis
(synthesizing) fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang berkaitan suatu isi pembelajaran.
Sequencing berkaitan dengan cara pembuatan urutan penyajian isi suatu bidang studi, dan
synthesizing terkait dengan cara untuk menunjukkan kepada siswa hubungan antara fakta,
konsep, prosedur atau prinsip suatu pembelajaran.

Synthesizing bertujuan untuk membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih
bermakna bagi siswa. Hal ini dilakukan dengan menunjukan keterkaitan topik-topik itu
terkait dalam keseluruhan isi bidang studi. Adanya kebermaknaan tersebut akan
menyebabkan siswa memiliki retensi yang lebih baik dan lebih lama terhadap topic-topik
yang dipelajari. Penataan urutan sangat penting artinya, karena amat diperlukan dalam
pembuatan sintesis. Sintesis yang efektif hanya dapat dibuat apabila isi telah ditata dengan
cara tertentu dan yang lebih penting, karena pada hakikatnya semua isi bidang studi memiliki
prasyarat belajar.

Strategi pengorganisasian pembelajran ada dua yaitu strategi makro dan strategi mikro.
Strategi pengorganisasian makro adalah strategi unttuk menata keseluruhan isi bidang studi
(lebih dari satu ide), sedangkan strategi mikro adalah untuk menata urutan sajian untuk suatu
ide tunggal (konsep, prinsip, dan sebagainya)

3. Strategi Penyampaian Pembelajaran


Uraian mengenai strategi penyampaian pembelajran menekankan pada media apa yang
dipakai untuk menyampaikan pembelajran, kegiatan belajar apa yang dilakukan siswa, dan
stuktur belajar mengajar bagaimana yang digunakan. Strategi penyampaian adalah cara-cara
yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa, dan sekaligus untuk
menerima serta merespon masukan-masukan dari siswa. Dengan demikian, strategi ini
jugadapat disebut sebagai strategi untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Gagne dan Briggs (1979) menyebut strategi ini dengan delivery system, yang didefenisikan
sebagai the total of all components necessary to make an instructional system operate as
intended. Pada dasarnya strategi penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru, bahan
pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dalam hal ini
media pembelajaran merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian
pembelajaran. Menurut Degeng (1989) ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam
memreskripsikan strategi penyampaian, Yaitu, a. Media Pembelajaran b. Interaksi Siswa
Dengan Media c. Bentuk Belajar Mengajar.

4. Strategi Pengelolaan Pembelajaran


Strategi pengelolaan pembelajran sangat penting dalam system strategi pembelajaran secara
keseluruhan. Bagaimanapun baiknya perencanaan strategi pengorganisasian dan
penyampaian pembelajaran, namun jika strategi pengelolaan tidak diperhatikan maka
efektivitaas pembelajran tidak bisa maksimal. Pada dasarnya strategi pengelolaan
pembelajaran terkait dengan usaha penataaan interaksi antar siswa dengan komponen strategi
pembelajaran yang terkait, baik berupa strategi pengorganisasian maupun strategi
penyampaian pembelajran.
Strategi pengelolaan berkitan dengan penetapan kapan suatu strategi atau komponen strategi
tepat dipakai dalam suatu situasi pembelajaran. Paling tidakada empat hal yang menjadi
urusan strategi pengelolaan pembelajran, yaitu :
a. Penjadwalan pengguanaan strategi pembelajaran
b. Pembuatan catatan kemaujan belajar siswa
c. Pengelolaan motivasional
d. Kontrol belajar
5. Penerapan Strategi Pembelajaran
Walaupun secara teoritis seorang guru telah paham tentang langkah-langkah operasional
suatu strategi pembelajaran. Namun, belum tentu seorang guru akan mampu menerapkan
strategi tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas. Keberhasilan guru menerapkan
suatu strategi pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan guru menganalisis kondisi
pembelajaran yang ada, seperti tujuan pembelajran, karakteristik siswa, kendala sumber
belajar, dan karakteristik bidang studi.
a. Tujuan pembelajaran
dalam proses pembelajaran, guru harus menetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajran yang
ingin dicapai. Menurut taksonomi Bloom, secara teoritis tujuan pembelajaran dibagi atas tiga
kategori, yaitu tujuan pembelajaran ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik
b. Karakteristik siswa
karakteristik siswa berhubungan denagn aspek-aspek yang melekat pada diri siswaa, seperti
motivasi, bakat, minat, kemampuan awal, gaya belajar, kepribadian, dan

sebagainya. Karakteristik siswa yang amat kompleks tersebut harus juga dijadikan pijakan
dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.
c. Kendala sumber/media belajar
media pembelajaran adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Beberapa hasil penelitian menyimpulakan bahwa ketersediaan sumber belajar sangat
mempengaruhi hasil belajar siswa. Tanpa adanya sumber belajar yang memadai amat sulit
bagi seorang guru untuk melaksanakan proses pembelajaran.
d. Karakteristik bidang studi
struktur bidang studi terkait hubungan-hubungan diantara bagian-bagian suatu bidang studi.
Struktur bidang studi mata pelajaran matematika tentu berbeda dengan struktur bidang studi
sejarah. Perbedaan struktur bidang studi tersebut membutuhkan atrategi pembelajaran yang
berbeda pula. Misalnya dalam mata pelajaran sejarah guru dapatmemulai mata pelajran dari
pokok bahasan apa saja, sebaliknya mata pelajaran matematika tidak bisa dilakukan seperti
itu. Itulah sababnya, pemahaman seorang guru terhadap struktur bidang studi yang diajarnya
sangat penting dalam penetapan metode pembelajaran yang akan digunakan.

6. Faktor Penunjang Keberhasilan Pembelajaran


Dalam pekasanaan pembelajaran, banyak variable yang mempengaruhi kesuksesan seorang
guru. Ppenugasan dan keterampilan guru dalam penguasaan materi pelajaran dan strategi
pembelajaran tidak menjadi jaminan untuk mempu meningkatkan hasil belajar siswa secara
optimal.
Secara umum ada beberapa variable baik teknis maupun nontaknis yang berpengaruh dalam
keberhasilan proses pembelajaran. Antara lain:

a. Kemampuan guru dalam membuka pelajaran


pada awal proses pembelajaran dan begitu guru memasuki ruang kelas, sudah selayaknya
seorang guru harus mengucapkan salam pada semua siswa yang ada di kelas dan berdoa
bersama siswa. Dalam setiap mulai pembelajran guru harus menjalaskan tujuan yang yang
ingin dicapai dan manfaatnya bagi kehidupan siswa.

b. Kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan inti pembelajran


kegiatan inti pemebelajaran adalah kegiatan yang paling berpengaruh dalam meningkatkan
hasil belajar siswa. Baik buruknya keterampilan guru dalam kegiatan inti menunjukan baik
buruknya hasil belajar siswa.

c. Kemampuan guru dalam melakukan penilaian pembelajaran


untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai kompetensi yang telah ditetapkan maka
seorang guru dituntut untuk mampu mengadakan penilaian guna mengetahui
kemampuiannyaan guru melakukan penilaian pembelajaran. Dengan dilakukan penilaian
terhadap proses pembelajaran, maka siswa akan mengetahui kemampuannya secara jelas
sehingnga siswa dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pemebelajaran. Demikian
pula dengan kegiatan penilaian ama penting bagi seorang guru karena hasil evaluasi yang
dilakukan seorang gur dapat mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan tercapai.
Disamping itu, sengan evaluasi seorang akan dapat memahami kelemhan-kelemahan strategi
pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian, evaluasi juga menjadi salah satu
teknik untuk memperbaiki program pembelajaran

d. Kemampuan guru menutup pembelajaran


kemampuan menutup pembelajaran sangat penting bagi seorang guru. Pada akhir
pembelajaran guru sering menutup pembelajaran hanya dengan mengatakan bahwa pelajaran
sudah berakhir. Menutup proses pembelajaran bukan hanya sekedar mengeluarkan
pernyataan bahwa pelajaran sudah berakhir. Untuk mengetahui kemampuan guru dalam
proses penutupan pembelajaran, pertanyaan berikut dapat dijadikan indikator penilaiannya.
Apakah gurumemberikan umpan balik atau kesimpulan terhadap materi yang diajarkan ?
Dalam memberi umpan balik atau kesimpulan, apakah guru telah menghubungkan isi
pembelajaran denagn isu-isu dan teknologi yang berkembang di masyarakat ?
Apakah guru guru memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah ?
Apakah guru melakukan pemantapan terhadap perolahan belajar siswa ?

e. Faktor penunjang lainnya


disamping variable-variabel seperti yang telah dijelaskan diatas, masih ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kemampuan guru dalam menerapkan suatu strategi pembelajaran.
Adapun faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
Kemampuan guru menggunakan bahasa secara jelas dan mudah dipahami siswa
Sikap yang baik, santun, dan menghargai siswa

Kemampuan mengorganisasi waktu yang sesuai dengan alokasi yang disediakan


Cara berbusana dan berdandan yang sopan sesuai denagn norma yang berlaku

B. STRATEGI PENGORGANISASIAN DAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN


1. Teori Elaborasi
Strategi atau teori elaborasi dikategorikan sebagai strategi pengorganisasian isi pembelajaran
tingkat makro. Teori elaborasi mendeskripsikan cara-cara pengorganisasian isi pembelajaran
dengan mengikuti urutan umum ke rinci. Yaitu :
a. Langkah pertama dimulai dengan menampilkan epitome (struktur isi bidang studi yang
dipelajari)
b. Langkah selanjutnya mengelaborasi bagian-bagian yang ada dalam epitome secara rinci.
Dalam melakukan pengorganisasian isi pembelajaran harusmemperhatikan komponen-
komponen yang dijadikan dasar teori elaborasi. Pada dasarnya terdapat tujuh komponen yang
diintegrasikan dalam teori elabirasi, yaitu sebagai berikut :
a. Urutan elaboratif yaitu urutan isi pembelajaran dari yang bersifat sederhana ke kompleks
atau dari yang bersifat umumke rinci
b. urutan prasyarat belajar menampilkan hubungan prasyarat untuk suatu konsep, prosedur,
atau prinsip.
c. rangkuman adalah tinjauan kembali terhadap apa yang telah dipelajari. Dalam teori
elaborasi rangkuman diklasifikasikan menjadi dua, yaitu rangkuman internal dan rangkuman
eksternal
d. pesintesis ialah berfungsi untuk menunjukan kaitan-kaitan di antara konsep, prosedur, atau
prinsip yang diajarkan
e. analogi yaitu dibuat untuk dapat memudahkan pemahaman terhadap pengetahuan yang
baru dengan cara membandingkannya dengan pengetahuan yang sudah dikenal siswa.
f. pengaktifan strategi kognitif adalah ketrampilan yang diperlukan siswa untuk mengatur
proses internalnya ketika belajar, menigat dan berfikir
g. kontrol belajar terkait dengan kebebasan siswa dalam melakukan pilihan dan pengurutan
terhadap isi yang dipelajari
Dalam melakukan pengorganisasian pembelajaran teori elaborasi juga harus dilakukan
langkah-langkah yang sistematis. Menurut degeng (1989) langkah-langkah pengorganisasian
pembelajaran dengan menggunakan model elaborasi adalah sebagai berikut.
a. Penyajian kerangka isi. Stuktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari
bidang studi
b. Elborasi tahap pertama. Mengelaborasi tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi
c. Pemberian rangkuman. Berisi pengertian pengertian singkat mengenai konstuk-konstruk
yang diajarkan dalam elaborasi
d. Elaborasi tahap kedua. Membawa siswa pada tingkat kedalaman sebagaimana ditetapkan
dalam tujuan pembelajaran
e. Pemberian rangkuman dan sintesis eksternal. Pada akhir elaborasi tahap kedua, diberikan
rangkuman dan sintesis eksternal, seperti pada elaborasi tahap pertama
f. setelah semua tahap elaborasi tahap kedua disajikan, disintesiskan, dan diintegrasikan
kedalam kerangka isi, pola seperti ini akan berulang kembali untuk elaborasi tahap ketiga,
dan seterusnya sesuai denagn tingkat kedalaman yang ditetapkan oleh tujuan pembelajaran
2. Strategi Pengelolaan Motivasional
Menurut martin dan briggs (1986), motivasi adalah kondisi internal dan eksternal yang
mempengaruhi bangkitnya arah serta tetap berlangsungnya suatu kegiatan atau tingkah laku.
Motivasi seseorang dapat dilihat atau disimpulkan dari usaha yang ajeg, adanya
kecenderungan untuk bekerja terus meskipun sudah tidak berada dalam pengawasan, atau
adanya kesediaan mempertahankan kegiatan secara sukarela kea rah penyelesaian suatu tugas
(Ardhana,1992). Dalm hal ini secara lebih spesifik motivasi belajar dapat dilihat dari
karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi,
dan ketekunan dalam belajar. Disamping itu motivasi belajar dapat dilihat dari indicator-
indikator seperti keantusiasan dalam belajar, minat atau perhatian pada pembelajaran,
keterlibatan dalam kegiatan belajar, rasa ingin tahu pada isi pembelajaran, ketekunan dalam
belajar, selalu berusaha mencoba, dan aktif mengatasi tantangan yang ada dalam
pembelajaran
Ditinjau dari tipe motivasi, para ahi membagi motivasi menjadi dua jenis yaitu sebagai
berikut.
a. Motivasi intrinsik, yaitu keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari diri
individu. Dalam proses belajar mengajar siswa yang termotivasi secara intrisik dapat dilihat
dari kegiatan yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena merassa butuh dan
ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya.
b. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang keberadaannya karena pengaruh rangsangan dari
luar. Motivasi ekstrinsik bukan merupakan keinginan yang sebenarnya yang ada didalam diri
siswa untuk belajar, tujuan individu melakukan kegiatan adalah mencapai tujuan yang
terletak diluar aktivitas belajar itu sendiri, atau tujuan itu tidak terlibat di dalam aktivitas
belajar.
Antara motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik saling menambah atau memperkuat, bahkan
motivasi ekstrinsik dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan baik
yang bersifat internal maupun eksternal yang membuat siswa bergerak, bersemangat, dan
senang belajar secara serius dan terus-menerus selama kegiatan proses belajar.
Salah satu komponen strategi pengelolaan motivasional adalah menarik dan mempertahankan
perhatian siswa selama pembelajaran dan salah satunya adalah menggunakan elemen
pembelajaran secara variatif. Dalam usaha mempertahankan perhatian siswa terhadap
pembelajaran, dapat dilakukan dengan jalan menggunakan elemen atau unsure-unsur
pembelajaran yang bberaneka ragam. Keller mengungkapkan, variasii dal pembelajaran dapat
dilakukan dengan jalan memvariasikan format tulisan dalam teks, menyajikan gambar-
gambar yang bervariasi, warna-warna yang beraneka ragam dan sebagainya.
Dalam pengelolaan motivasi siswa, guru juga diharapkan memberikan penguatan yang positif
kepada siswa dalam hal ini untuk menumbuhkan kepuasan dilakukan dengan member umpan
balik dan penguatan yang akan mempertahankan perilaku yang diinginkan. Menurut Gagne
91985) umpan balik sebagai fase terakhir dalam proses belajar mengajar merupakan suatu
proses penguatan dan ini sangat penting artinya dalam kehidupan manusia, khususnya dalam
kaitan yang berhubungan dengan pembelajran,

C. STRATEGI PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH


1. Taksonomi Pemecahan Masalah
Wankat dan oreovocz (1995) mengklasifikasikan lima tingkat taksonomi pemecahan masalah
sebagai berikut :

a. Rutin
Tindakan rutin atau bersifat alogaritmik yang dilakukan tanpa membuat suatu keputisan.
Beberapa operasi matematika seperti persamaan kuadrad, operasi integral, analisis varian
termasuk masalah rutin.
b. Diagnostic
Pemilihan suatu prosedur atau cara yang tepat secara rutin. Beberapa rumus yang digunakan
dalam menentukan tegangan suatu balok, dan diagnosis adalah memilih prosedur yang tepat
untuk memecahkan masalah tersebut.
c. Strategi
Pemilihan prosedur secara ruti untuk memecahkan suatu masalah. Strategi merupakan bagian
dari tahap analisis dan evaluasi dalam taksonomi Bloom.
d. Interpretasi
Kegiatan pemecahan masalah yang sesungguhnya, karena melibatkan kegiatan mereduksi
masalah yang nyata, sehingga dapat dipecahkan.

e. Generalisasi
Pengembangan prosedur yang bersifat rutin untuk memecahkan masalah-masalah yang baru.
2. Strategi Pemecahan Masalah Solso Dan Wankat
Solso (dalam wankat dan oreovocz,1995) mengemukakan enam tahap dalam pemecahan
masalah.
a. identifikasi permasalahan
b. representasi permasalahan
c. menerapkan perencanaan
d. menilai perencanaan
f. menilai hasil perencanaan

Wankat dan oreovocz mengemukakan tahap-tahap strategi operasional dalam pemecahan


masalah sebagai berikut.
a. Saya mampu. Tahap membangkitkan motivasi dan membangun keyakinan siswa
b. Mendefenisikan. Membuat daftar hal yang diketahui dan tidak diketahui, menggunakan
gambar untuk memperjelas permasalahan
c. Mengeksplorasi. Merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan
membimbing untuk menganilis dimensi-dimensi permasalahan yang dihadapi
d. Merencanakan. Mengenbangkan cara berfikir logis siswa untuk menganalisis masalah dan
menggunakan flowchart untuk menggambarkan permasalahan yang dihadapi
e. Mengerjakan. Membimbing siswa secara sistematis untuk memperkirakan jawaban yang
mungkin untuk memecahkan masalah yang dihadapi
f. Mengoreksi kembali. Membimbing siswa untuk mengecek kembali jawaban yang dibuat,
mungkin ada beberapa kesalahan yang dilakukan
g. Generalisasi. Membimbing siswa untuk mengajukan pertanyaan, dalam hal ini siswa
didorong untuk melakukan umpan balik/refleksi dan mengoreksi kembali kesalahan yang
mungkin ada.

3. Strategi Pemecahan Masalah Sistematis


Pemecahan masalah sistematis adalah petunjuk untuk melakukan suatu tindakan yang
berfungsi untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Secara
operasional tahap-tahap pemecahan masalah sistematis terdiri atas empat tahap.
a. memahami masalahnya
b. membuat rencana penyelesaian
c. melaksanakan rencana penyelesaian
d. memerikasa kembali, mengecek hasilnya
4. Strategi Pembelajaran Inkuiri Biologi
Model pembelajaran inkuiri biologi pada mulanya dikemangkan oleh Schwab tahun 1965
yang termuat dalam Biologi Sience Curriculum Study (BSCS) membahas tentang

pengembangan kurikulum dan bentuk pembelajaran biologi pada sekolah menengah. Esensi
dari model pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan
seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian. Sedangkan prosedurnya adalah
melibatkan siswa dalam penyelidikan masalah yang sebenarnya. Dengan cara melibatkan
dalam penelitian, membantu siswa mengidentifikasi konsep atau metode dan mendorong
siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Pembelajaran model
inkuiri biologi terdiri atas empat tahap, yaitu:
a. Investigasi
b. Penentuan masalah
c. Identifikasi masalah
d. Penyelesaian masalah
5. Strategi Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial
Model ini dikembangkan oleh Donald Oliver an James P.Shaver. model ini bertujuan
mengajari siswa untuk menganalisis dan berfikir secara sistematis dan kritis terhadap isu-isu
yang sedang hangat di masyarakat. Secara umum tahap pembelajaran inkuiri jurisprudensial
yaitu :
a. Orientasi kasus. Guru memperlihatkan atau mendiskusikan kasus yang sedang hangat di
masyarakat
b. Identifikasi isu. Siswa dibimbing untuk mensintesis fakta-fakta yang ada kedalam sebuah
isu yang dibahas kaitannya dengan kebijakan public dll
c. Penetapan posisi/pendapat. Siswa mengartikulasikan terhadap kasus yang ada
d. Menyelidiki cara berpendirian. Menetapkan keputusan pada bagian mana terjadi
pelanggarannilai-nilai secara factual
e. Memperbaiki dan mengkualifikasi posisi. Siswa menyatakan posisinya dan alasannya
terhadap masalah
f. Melakukan pengujian asumsi-asumsi terhadap posisinya. Siswa mengidentifikasi asumsi-
asumsi factual dan melakukan pengujian validitas faktualnya
6. Strategi Latihan Inkuiri
Strategi inkuiri ini dikembangkan oleh Richard Suchman (1962)untuk mengajar para siswa
memahami proses meneliti dan menerangkan suatu kejadian. Model inkuiri tercipta
melalui konfrontasi intelektual, dimana siswa dihadapkan pada suatu situasi yang aneh dan
mereka mulai bertanya-tanya tentang hal tersebut. Dikarenakan tujuan akhir model ini adalah
pembentukan pengetahuan baru, maka siswa dihadapkan pada suatu yang memungkinkan
untuk diselisiki dengan lebih cermat (Joice and Weil) setelah situasi tersebut disajikan pada
siswa, kepada mereka diajarkan bahwa pertama-tama mereka perlu mengupas beberapa aspek
dari situasi ini, misalnya sifat dan identitas objek serta kejadian yang berhubungan dengan
situasi tersebut.
Menurut Joice and Weil (1986). Strategi pembelajaran inkuiri secara umum terbagi atas lime
tahap, yaitu :
a. Penyajian masalah
b. Pengumpulan data verifikasi
c. Pengumpulan data eksperimentasi
d. Organisasi data dan formulasi
e. Analisis proses inkuiri
7. Strategi Pembelajaran Inkuiri Sosial
Strategi pembelajaran inkuiri sosial dikembangkan oleh Massialas & Cox (1966). Pemilihan
strategi pembelajaran inkuiri pembelajaran inkuiri sosial untuk memecahkan masalah dalam
pembelajaran sosial karena :
a. strategi ini khusus dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa
dalam memecahkan masalah-masalah sosial
b. beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa strategi ini terbukti efektif meningkatkan
kemampuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah sosial
c. strategi ini merupakan sinkronisasi antara teori mengajar dan teori belajar, yang memiliki
prosedur yang sistematis dan mudah diterapkan oleh pengajar.
Semenjak diperkenalkan dan dikembangkan oleh Massialas & Cox (1996), strategi
pembelajaran inkuiri sosial telah banyak diterapkan dalam pembelajran dan terbukti dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Uji penerapan strategi ini yang dilakukan pada mata
pelajaran ilmu sosial di sekolah menengah menunjukan bahwa hamper 80% siswa mengalami
peningkatan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah masalah sosial secara
signifikan
8. Strategi Pemecahan Masalah IDEAL
Meyer (dalam Kirkley, 2003) mengungkapkan bahwa terdapat tiga karakteristik pemecahan
masalah, yaitu 1 pemecahan masalah merupakan aktivitas kognitif, tetapi dipengaruhi oleh
perilaku, 2. Hasil-hasil pemecahan masalah dapat dilihat dari tindakan dalam mencari
pemecahan, dan 3 pemecahan masalah adalah merupakan suatu proses tindakan manipulasi
dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Jika suatu masalah terlalu konpleks untuk dipecahkan dengan iterasi/proses tunggal maka
siswa harus memecah masalah ke dalam beberapa sub masalah yang sesuai dengan tujuan,
kemudian baru melakukan pemecahan masalah.
Strategi pemecahan masalah IDEAL terdiri dari lima tahap pembelajaran
a. Identifikasi masalah
b. Mendefenisikan masalah
c. Mencari solusi
d. Melaksanakan strategi
e. Mengkaji kembali dan mengevaluasi pengaruh
9. Strategi Belajar Berbasis Masalah
Strategi belajar berbasis masalah merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan
siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan
kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan.
Savoie dan Hughes ( 1994) menyatakan bahwa strategi belajar berbasis masalah memiliki
beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut
a. Belajar dimulai dengan suatu permasalahan
b. Permasalahan yang diberikan harus berhubungan dengan dunia nyata siswa
c. Mengorganisasikan pembelajaran di seputar permasalahn, bukan di seputar disiplin ilmu
d. memberikan tanggung jawab yang besar dalam membentuk dan menjalankan secara
langsung proses belajar mereka sendiri
e. Menggunakan kelompok kecil
f. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajarinya dalam bentuk
produk dan kinerja

disamping memiliki karakteristik seperti disebutkan diatas, strategi belajar berbasis masalah
juga harus dilakukan dengan tahap-tahap tertentu. Menurut Fogarty (1997) tahap-tahap
strategi belajar berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. menemukan masalah
b. mengidentifikasi masalah
c. mengumpulkan fakta
d. menyusun hipotesis
e. melakukan penyelidikan
f. menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan
g. menyimpulkan alternative pemecahan secara kolaboratif
h. melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah
Berdasarkan hasil penelitian pelajran berbasis masalah memberikan peluang bagi siswa untuk
melibatkan kecerdasan majemuk siswa (Gardner, 1999). Dapat mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Didalam melakukan proses pembelajaran, para pihak yang terlibat didalamnya menginginkan
tercapainya suatu pembelajaran yang berhasil. Dan dalam pelaksanaan pembelajaran guru
sebagai komponen penting diharapkan mampu mengelola pembelajran yang efektif dan
efesien. Seorang guru juga diharapkan memiliki seni mengajar dan menggunakan stragi
pembelajaran dalam kegitan pembelajaran.
Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah
proses pembelajaran sehingng dapat mencapai hasil yang optimal, tanpa strategi yang jelas,
proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
sulit tercapai.
Penggunaan teori elaborasi adalah salah satu cara untuk menata dan mengorganisasikan isi
pembelajaran. Teori elaborasi terdiri dari beberapa komponen dan terdapat langkah-langkah
pengorganisasiannya seperti penyajian kerangka isi elaborasi tahap pertama dan lain-lain
sebagainya.
Seorang guru juga diharapkan mampu untuk mengelola motivasional siswa, yaitu menarik
dan mempertahankan perhatian siswa selama pembelajaran dan mengaitkan pembelajaran
dengan kebutuhan siswa. Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasikan siswa
yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang kelak
dihadapi di masyarakat. Mengingat jenis permasalahan yang akan dihadapi berbagai macam
masalah, maka tardapat juga berbagai macam strategi pemecahan masalah, seperti inkuiri
biologi,inkuiri sosial, berbasis masalah, dan lain-lain sebagainya.