Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH OBAT BAHAN ALAM

MUTU BAHAN BAKU OBAT BAHAN ALAM

Disusun Oleh:

1. Rizal Hartanto ( 15040077 )


2. Nadiyah Windasaputri ( 15040078 )
3. Lia Apriliani ( 15040079 )
4. Fina Fajriah ( 15040080 )
5. Nurafifah Husniah Fadlah ( 15040081 )

SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH

Jl. Syekh Nawawi (Raya Pemda) KM 4 No. 13 Matagara Tigaraksa

TANGERANG

2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun mengucapkan kehadirat Allah SWT atas segala
nikmat dan karunia-Nya serta izinNya sehingga makalah ini dapat diselesaikan
tepat waktu. Makalah ini disusun dengan judul Mutu Bahan Baku Obat Bahan
Alam untuk memenuhi tugas mata kuliah Obat Bahan Alam.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa, masih banyak kesalahan dan kekurangan di
dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini di masa yang akan
datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Tangerang, Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................ 1

A. Latar Belakang ........................................................................ 1


B. Rumusan Masalah .................................................................. 1
C. Tujuan Makalah ..................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................... 3

A. Obat Bahan Alam ................................................................... 3


B. Bahan Baku Obat Bahan Alam ............................................. 3
C. Simplisia ................................................................................... 4
D. Ekstrak ..................................................................................... 10
E. Standar Mutu Bahan Baku .................................................... 13

BAB III KESIMPULAN .................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 15

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan
keanekaragaman hayati terutama tumbuh-tumbuhan. Ada lebih dari 30.000
jenis tumbuhan yang terdapat di bumi Nusantara ini, dan lebih dari 1000
jenis telah diketahui dapat dimanfaatkan untuk pengobatan.
Tumbuhan obat sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat
untuk meningkatkan kesehatan (promotif), memulihkan kesehatan
(rehabilitative), pencegahan penyakit (preventif), dan penyembuhan
penyakit (kuratif). Ramuan obat bahan alam hampir dimiliki oleh setiap
suku bangsa di Indonesia dan digunakan secara turun temurun sebagai obat.
Pada era globalisasi ini obat bahan alam baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar negeri sangat pesat perkembangannya, dengan
demikian supaya produk-produk herbal tersebut dapat terjaga kualitas dan
khasiatnya maka diperlukan suatu pengendalian mutu baik pada bahan baku
ataupun dalam bentuk sediaan ekstrak atau sediaan galenik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Obat Bahan Alam ?
2. Apa saja yang termasuk Bahan Baku Obat Bahan Alam ?
3. Apa yang dimaksud dengan simplisia ?
4. Apa saja sumber dari simplisia ?
5. Apa saja persyaratan dari simplisia ?
6. Apa saja mutu dari simplisia ?
7. Apa yang dimaksud dengan ekstrak ?
8. Apa saja mutu dari ekstrak ?

1
2

C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Obat Bahan Alam
2. Untuk mengetahui Bahan Baku Obat Bahan Alam
3. Untuk mengetahui pengertian dari simplisia
4. Untuk mengetahui sumber - sumber simplisia
5. Untuk mengetahui syarat simplisia
6. Untuk mengetahui mutu dari simplisia
7. Untuk mengetahui pengertian dari ekstrak
8. Untuk mengetahui mutu dari ekstrak
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Obat Bahan Alam


Obat alami adalah sediaan obat, baik berupa obat tradisional,
fitofarmaka dan farmasetik, dapat berupa simplisia (bahan segar atau yang
dikeringkan), ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni yang berasal
dari alam, yang dimaksud dengan obat alami adalah obat-obatan yang
berasal dari alam, tanpa rekayasa atau buatan, bisa berupa obat yang biasa
digunakan secara tradisional, namun cara pembuatannya dipermodern.
Apabila obat tersebut diperuntukkan bagi hewan maka obat alami tersebut
diberi keterangan tambahan untuk hewan.
Sedangkan Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia disebut juga Obat
Asli Indonesia. Menurut Keputusan Kepala BPOM RI No.
HK.00.05.4.2411 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan &
Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, Obat Bahan Alam (OBA)
Indonesia adalah obat bahan alam yang diproduksi di Indonesia. Artinya
diproduksi di Indonesia adalah bahwa bahan bakunya di ambil dari
tumbuhan berkhasiat obat yang ada di Indonesia & diolah (langsung) di
Indonesia, sehingga dapat digunakan dalam usaha pengobatan baik bersifat
tradisional maupun modern oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Obat Bahan Alam diketegorikan menjadi 3 Bagian yaitu : Jamu,
Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.

B. Bahan Baku Obat Bahan Alam


Sesuai batasan obat asli Indonesia, maka bahan bakunya adalah
bahan alamiah (tumbuhan, hewan dan mineral) Bahan baku obat bahan alam
dapat berupa simplisia dan sediaan galenik. Simplisia adalah bahan alam
yang digunakan sebagai bahan obat jika tidak dinyatakan lain berupa bahan
yang telah dikeringkan. Sediaan galenik adalah hasil ekstraksi, fraksinasi,
atau subfraksinasi.

3
4

C. Simplisia
Adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan . Jenis simplisia alamiah ada 3 macam yaitu :
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel
yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau isi sel yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia
murni
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian
hewan atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum
berupa zat kimia murni.
Simplisia pelikan (mineral) adalah adalah simplisia yang berupa
mineral (pelikan) yang belum diolah atau diolah dengan cara sederhana
dan belum berupa zat kimia murni
1. Bahan baku simplisia
Dalam pembuatan simplisia, kualitas bahan baku simplisia
merupakan faktor yang penting yang perlu diperhatikan. Sumber bahan
baku dapat berupa tumbuhan, hewan, maupun mineral. Simplisia nabati
yang ideal dapat ditinjau dari asal tumbuhan tersebut. Tumbuhan
tersebut dapat berasal dari tanaman budidaya maupun tumbuhan liar.
Tumbuhan liar
Tumbuhan liar artinya tumbuhan tersebut tidak dibudidaya atau
tumbuh liar. Sebetulnya tumbuhan liar tersebut dapat
dibudidayakan. Namun hal ini jarang dilakukan oleh petani karena
tradisi atau kebiasaan. Agar bahan tumbuhan yang berasal dan
tumbuhan liar ini mutunya dapat dipertahankan, diperlukan
pengawasan kualitas secara intern yang baik. Apabila suatu bahan
baku simplisia yang berasal dari tumbuhan liar ini melangka,
padahal permintaan pasar tinggi, maka sering kita jumpai adanya
pemalsuan. Dan pengalaman dapat kita lacak kemudian dicatat asal-
5

usul bahan tumbuhan yang berasal dari tumbuhan liar tersebut, kita
periksa kadar bahan berkhasiat, sehingga kita dapat memilih bahan
simplisia serupa untuk produk kita di masa mendatang.
Tumbuhan Budidaya
Tanaman ini sengaja dibudidaya untuk itu bibit tanaman harus
dipilih yang baik, ditinjau dari penampilan dan kandungan senyawa
berkhasiat, atau dengan kata lain berkualitas atau bermutu tinggi.
Simplisia yang berasal dari tanaman budidaya selain berkualitas,
juga sama rata atau homogen sehingga dari waktu ke waktu akan
dihasilkan simplisia yang bermutu mendekati ajeg atau konsisten.
Dari simplisia tersebut akan dihasilkan produk obat tradisional yang
reproducible atau ajeg khasiatnya. Perlu diperhatikan pula bahwa
tanaman budidaya dapat bervariasi kualitasnya bila ditanam secara
monokultur (tanaman tunggal) dibanding dengan tanaman
tumpangsari. Demikian juga terdapat faktor lain yang berpengaruh
terhadap penampilan dan kandungan kimia suatu tanaman, antara
lain tempat tumbuh, iklim, pemupukan, waktu panen, pengolahan
pasca panen dsb.
2. Pemanenan simplisia pada saat yang tepat
Waktu pemanenan yang tepat akan menghasilkan simplisia yang
mengandung bahan berkhasiat yang optimal. Kandungan kimia dalam
tumbuhan tidak sama sepanjang waktu. Kandungan kimia akan
mencapai kadar optimum pada waktu tertentu. Di bawah ini akan
diuraikan kapan waktu yang tepat untuk memanen bagian tumbuhan..
Ketentuan saat pemanenan tumbuhan atau bagian tumbuhan adalah
sebagai benikut.
Biji (semen) dipanen pada saat buah sudah tua atau buah
mengering, misalnya biji kedawung.
Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau
sudah tua tetapi belum masak, misalnya Iada (misalnya pada
pemanenan lada, kalau dilakukan pada saat buah sudah tua tetapi
6

belum masak akan dihasilkan lada hitam (Piperis nigri Fructus);


tetapi kalau sudah masak akan dihasilkan lada putih (Piperis aIbi
Fructus).
Daun (folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang
berbunga atau sedang berbunga tetapi belum berbuah.
Bunga (flores/flos) dipanen pada saat masih kuncup (misalnya
cengkeh atau melati) atau tepat mekar (misalnya bunga mawar,
bunga srigading).
Kulit batang (cortex) diambil dari tanaman atau tumbuhan yang
telah tua atau umun yang tepat, sebaiknya pada musim kemarau
sehingga kulit kayu mudah dikelupas.
Umbi Iapis (bulbus) dipanen pada waktu umbi mencapai besar
optimum, yaitu pada waktu bagian atas tanaman sudah mulai
mengering (misalnya bawang putih dan bawang merah).
Rimpang atau empon-empon (rhizomad) dipanen pada waktu
pertumbuhan maksimal dan bagian di atas tanah sudah mulai
mengering, yaitu pada permulaan musim kemarau.
3. Proses pembuatan simplisia
Tahapan pembuatan simplisia adalah sebagai berikut :
Sortasi basah.Tahap ini perlu dilakukan karena bahan baku simplisia
harus benar dan murni, artinya berasal dari tanaman yang merupakan
bahan baku simplisia yang dimaksud, bukan dari tanaman lain.
Dalam kaitannya dengan ini, perlu dilakukan pemisahan dan
pembuangan bahan organik asing atau tumbuhan atau bagian
tumbuhan lain yang terikut. Bahan baku simplisia juga harus bersih,
artinya tidak boleh tercampur dengan tanah, kerikil, atau pengotor
lainnya (misalnya serangga atau bagiannya).
Pencucian. Pencucian seyogyanya jangan menggunakan air sungai,
karena cemarannya berat. Sebaiknya digunakan air dari mata air,
sumur, atau air ledeng (PAM). Setelah dicuci ditiriskan agar
kelebihan air cucian mengalir. Ke dalam air untuk mencuci dapat
7

dilarutkan kalium permanganat seperdelapan ribu, hal ini dilakukan


untuk menekan angka kuman dan dilakukan untuk pencucian
rimpang.
Perajangan. Banyak simplisia yang memerlukan perajangan agar
proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Perajangan dapat
dilakukan manual atau dengan mesin perajang singkong dengan
ketebalan yang sesuai. Apabila terlalu tebal maka proses
pengeringan akan terlalu lama dan kemungkinan dapat membusuk
atau berjamur. Perajangan yang terlalu tipis akan berakibat rusaknya
kandungan kimia karena oksidasi atau reduksi. Alat perajang atau
pisau yang digunakan sebaiknya bukan dan besi (misalnya stainless
steel eteu baja nirkarat).
Pengeringan. Pengeringan merupakan proses pengawetan simplisia
sehingga simplisia tahan lama dalam penyimpanan. Selain itu
pengeringan akan menghindari teruainya kandungan kimia karena
pengaruh enzim. Pengeringan yang cukup akan mencegah
pertumbuhan mikroorganisme dan kapang (jamur). Jamur
Aspergilus flavus akan menghasilkan aflatoksin yang sangat beracun
dan dapat menyebabkan kanker hati, senyawa ini sangat ditakuti oleh
konsumen dari Barat. Menurut persyaratan obat tradisional tertera
bahwa Angka khamir atau kapang tidak Iebih dari 104. Mikroba
patogen harus negatif dan kandungan aflatoksin tidak lebih dari 30
bagian per juta (bpj). Tandanya simplisia sudah kering adalah mudah
meremah bila diremas atau mudah patah. Menurut persyaratan obat
tradisional pengeringan dilakukan sampai kadar air tidak lebih dari
10%. Cara penetapan kadar air dilakukan menurut yang tertera
dalam Materia Medika Indonesia atau Farmakope Indonesia.
Pengeringan sebaiknya jangan di bawah sinar matahari langsung,
melainkan dengan almari pengering yang dilengkapi dengan kipas
penyedot udara sehingga terjadi sirkulasi yang baik. Bila terpaksa
dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari maka perlu ditutup
8

dengan kain hitam untuk menghindari terurainya kandungan kimia


dan debu. Agar proses pengeringan berlangsung lebih singkat bahan
harus dibuat rata dan tidak bertumpuk. Ditekankan di sini bahwa
cara pengeringan diupayakan sedemikian rupa sehingga tidak
merusak kandungan aktifnya.
Sortasi kering. Simplisia yang telah kering tersebut masih sekali lagi
dilakukan sortasi untuk memisahkan kotoran, bahan organik asing,
dan simplisia yang rusak karena sebagai akibat proses sebelumnya.
Pengepakan dan penyimpanan. Bahan pengepak harus sesuai
dengan simplisia yang dipak. Misalnya simplisia yang mengandung
minyak atsiri jangan dipak dalam wadah plastik, karena plastik akan
menyerap bau bahan tersebut. Bahan pengepak yang baik adalah
karung goni atau karung plastik. Simplisia yang ditempatkan dalam
karung goni atau karung plastik praktis cara penyimpanannya, yaitu
dengan ditumpuk. Selain itu, cara menghandelnya juga mudah serta
cukup menjamin dan melindungi simplisia di dalamnya. Pengepak
lainnya digunakan menurut keperluannya. Pengepak yang dibuat
dari aluminium atau kaleng dan seng mudah melapuk, sehingga
perlu dilapisi dengan plastik atau malam atau yang sejenis dengan
itu. Penyimpanan harus teratur, rapi, untuk mencegah resiko
tercemar atau saling mencemari satu sama lain, serta untuk
memudahkan pengambilan, pemeriksaan, dan pemeliharaannya.
Simplisia yang disimpan harus diberi label yang mencantumkan
identitas, kondisi, jumlah, mutu, dan cara penyimpanannya. Adapun
tempat atau gudang penyimpanan harus memenuhi syarat antara lain
harus bersih, tentutup, sirkulasi udara baik, tidak lembab,
penerangan cukup bila diperlukan, sinar matahari tidak boleh leluasa
masuk ke dalam gudang, konstruksi dibuat sedemikian rupa
sehingga serangga atau tikus tidak dapat Ieluasa masuk, tidak mudah
kebanjiran serta terdapat alas dari kayu yang baik (hati-hati karena
balok kayu sangat disukai rayap) atau bahan lain untuk meletakkan
9

simplisia yang sudah dipak tadi. Pengeluaran simplisia yang


disimpan harus dilaksanakan dengan cara mendahulukan bahan yang
disimpan Iebih awal (First in First out = FIFO).
4. Kontrol mutu simplisia
Simplisia sebagai produk pertanian atau tumbuhan liar memiliki
kualitas mutu yang dipengaruhi oleh:
Variasi bibit: Identitas (spesies)
Tempat tumbuh dan iklim: lingkungan (tanah dan atmosfer), energi
(cuaca, temperatur, cahaya) dan materi (air, senyawa organik dan
anorganik)
Proses tumbuh (fertilizer, pestisida,...)
Kondisi panen (umur dan cara): Periode pemanenan hasil tumbuhan:
dimensi waktu terkait metabolisme pembentukan senyawa
terkandung
Proses pasca panen dan preparasi akhir:
Untuk simplisia dari tumbuhan hasil budidaya, dipengaruhi juga
oleh proses GAP (Good Agricultural Practice)
Untuk simplisia dari tubuhan liar (wild crop), dipengaruhi juga oleh
proses pengeringan yang umumnya dilakukan di lapangan.
Penyimpanan bahan tumbuhan: berpengaruh pada stabilitas bahan
(kontaminasi biotik dan abiotik)
5. Syarat bahan baku simplisia
Kadar air: tidak lebih dari 10%
Angka lempeng total: tidak lebih dari 10
Angka kapang dan khamir: tidak lebih dari 10
Mikroba patogen: Negatif
Aflatoksin: tidak lebih dari 30 bagian per juta
Sari Jamu:
Diperbolehkan mengandung etanol tidak lebih dari 1% v/v (20oC)
Kadar metanol: tidak lebih dari 0,1% dari kadar etanol
10

6. Syarat mutu simplisia nabati / hewani / pelikan


Harus bebas serangga, fragmen hewan, kotoran hewan
Tidak boleh menyimpang dari bau, warna
Tidak boleh mengandung lendir, cendawan, menujukkan tanda-
tanda pengotoran lain
Tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya
Kadar abu yang tidak larut dalam asam maksimal 2%
PELIKAN : Harus bebas dari pengotoran tanah, batu, hewan,
fragmen hewan dan bahan asing lainnya

D. Ekstrak
Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang
terdapat didalam bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan
menggunakan pelarut dan metode yang tepat. Sedangkan ekstrak adalah
hasil dari proses ekstraksi, bahan yang diekstraksi merupakan bahan alam.
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, Ekstrak adalah sediaan
kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia
nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah
ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan
baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara
destilasi dengan menggunakan tekanan.
1. Prinsip ekstraksi
Pada prinsipnya ekstraksi adalah melarutkan dan menarik senyawa
dengan menggunakan pelarut yang tepat. Ada tiga tahapan proses pada
waktu ekstraksi yaitu:
Penetrasi pelarut kedalam sel tanaman dan pengembangan sel
Disolusi pelarut ke dalam sel tanaman dan pengembangan sel
Difusi bahan yang terekstraksi ke luar sel
11

Proses diatas diharapkan terjadinya kesetimbangan antara linarut


dan pelarut. Kecepatan untuk mencapai kesetimbangan umumnya
tergantung pada suhu, pH, ukuran partikel dan gerakan partikel. Prinsip
yang utama adalah yang berkaitan dengan kelarutan, yaitu senyawa
polar lebih mudah larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar akan
mudah larut dalam pelarut nonpolar.
2. Metode metode ekstraksi
Ada beberapa macam cara untuk melakukan ekstraksi berdasarkan
bahan yang akan kita ambil diantaranya:
Berdasarkan energy yang digunakan
Terbagi menjadi ekstraksi cara panas dan ekstraksi cara
dingin.ekstraksi cara panas antara lain reflukx, soxhlet, destilasi,
infusa, dekokta. Sedangkan ekstraksi cara dingin antara lain
pengocokan, maserasi, perkolasi.
Ekstraksi cara panas lebih cepat untuk mendapatkan senyawa yang
diinginkan karena panas akan memperbesar kelarutan suatu
senyawa. Sedangkan untuk ekstraksi cara dingin dikhususkan
untuk senyawa yang tidak tahan terhadap pemanasan.
Kelemahan ekstraksi cara panas terkadang akan terbentuk suatu
senyawa baru akibat peningkatan suhu menjadi senyawa yang
berbeda. Maka dari pada itu untuk senyawa yang diperkirakan
tidak stabil maka digunakanlah ekstraksi cara dingin.
Berdasarkan bentuk fase
Ekstraksi ini didasarkan berdasarkan pada larutan yang bercampur
dan pelarut yang tidak bercampur. Berdasarkan bentuk fasenya
ekstraksi dibagi menjadi beberapa golongan yaitu ekstraksi cair-
cair dan ekstraksi cair-padat
3. Kontrol mutu ekstrak
Mutu ekstrak berkaitan dengan senyawa kimia yang dikandung
karena respon biologis yang diakibatkan oleh ekstrak disebabkan oleh
senyawa kimia
12

Ditinjau dari asalnya, senyawa kimia dalam ekstrak terbagi menjadi:


Senyawa kandungan asli dari tumbuhan asal: senyawa yang
memang sudah ada sejak masa tumbuhan tsb hidup
Senyawa hasil perubahan dari senyawa asli: Dari penelitian telah
diprediksi terjadinya perubahan kimia senyawa asli karena sifat
fisikokimia yang labil
Senyawa kontaminasi: polutan atau aditif
Senyawa hasil interaksi kontaminasi dengan senyawa asli atau
senyawa perubahan
4. Faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak
Faktor Biologi: Bahan asal tumbuhan
a. Identitas (spesies)
b. Lokasi tumbuhan asal: lingkungan (tanah dan atmosfer),
energi (cuaca, temperatur, cahaya) dan materi (air, senyawa
organik dan anorganik)
c. Periode pemanenan hasil tumbuhan: dimensi waktu terkait
metabolisme pembentukan senyawa terkandung
d. Penyimpanan bahan tumbuhan: berpengaruh pada stabilitas
bahan (kontaminasi biotik dan abiotik)
e. Umur tumbuhan dan bagian yang digunakan
f. Untuk simplisia dari tumbuhan hasil budidaya, dipengaruhi
juga oleh proses GAP (Good Agricultural Practice)
g. Untuk simplisia dari tubuhan liar (wild crop), dipengaruhi juga
oleh proses pengeringan yang umumnya dilakukan di
lapangan.
Faktor Kimia:
a. Faktor internal:
Jenis senyawa aktif dalam bahan
Komposisi kualitatif senyawa aktif
Komposisi kuantitatif senyawa aktif
Kadar total rata-rata senyawa aktif
13

b. Faktor eksternal:
Metode ekstraksi
Perbandingan ukuran alat ekstraksi (diameter dan tinggi
alat)
Ukuran, kekerasan dan kekeringan bahan
Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi
Kandungan logam berat
Kandungan pestisida
E. Standar mutu bahan baku
1. Kebenaran jenis (identifikasi spesies tumbuhan)
Parameter makroskopik: deskripsi morfologis simplisia
Parameter mikroskopik: mencakup pengamatan terhadap
penampang melintang simplisia atau bagian simplisia dan terhadap
fragmen pengenal serbuk simplisia
Reaksi identifikasi: Reaksi warna untuk memastikan identifikasi dan
kemurnian simplisia (terhadap irisan/serbuk simplisia)
2. Kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia, biologis): tidak selalu
mungkin memperoleh simplisia sepenuhnya murni. Bahan asing yang
tidak berbahaya dalam jumlah sangat kecil pada umumnya tidak
merugikan
3. Aturan penstabilan: wadah, penyimpanan, trasportasi
Pengawetan: Simplisia nabati boleh diawetkan dengan penambahan
kloroform, karbon tetraklorida, etilenoksida atau bahan pengawet
lain yang cocok, yang mudah menguap dan tidak meninggalkan sisa
Wadah dan bungkus: tidak boleh mempengaruhi bahan yang
disimpan baik secara kimia/fisika, tertutup baik dan rapat.
Penyimpanan: agar dihindari dari cahaya dan penyerapan air.
4. Simplisia sebagai bahan/produk yang dikonsumsi manusia sebagai obat
yaitu mutu, aman, manfaat
5. Harus memiliki spesifikasi kimia yaitu informasi komposisi (jenis dan
kadarnya) senyawa kandungan
BAB III

KESIMPULAN

1. Obat alami adalah sediaan obat, baik berupa obat tradisional, fitofarmaka
dan farmasetik, dapat berupa simplisia (bahan segar atau yang dikeringkan),
ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni yang berasal dari alam,
2. Bahan baku obat bahan alam dapat berupa simplisia dan sediaan galenik.
3. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain,
berupa bahan yang telah dikeringkan
4. Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai
5. Mutu bahan baku simplisia terdiri dari variasi bibit: Identitas (spesies),
Tempat tumbuh dan iklim, Proses tumbuh, Kondisi panen (umur dan cara)
dan Proses pasca panen dan preparasi akhir
6. Mutu bahan baku ekstrak terdiri dari Senyawa kandungan asli dari
tumbuhan asal, Senyawa hasil perubahan dari senyawa asli, Senyawa hasil
perubahan dari senyawa asli, Senyawa hasil interaksi kontaminasi dengan
senyawa asli atau senyawa perubahan

14
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Goeswin. (2007). Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB: Bandung.

Badan Pengawas Obat dan Makanan.2015.Obat Bahan Alam Indonesia.


http://www.pom.go.id/index.php/oai ( akses 9 Oktober 2017 )

Departemen Kesehatan RI. (1976). Materia Medika Indonesia, Jilid I-VI, Dirjen
Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (1990). Cara Pembuatan Simplisia. Departemen


Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

Direktorat Jenderal.2014.Pengendalian Mutu Simplisia dan Ekstrak.


http://binfar.depkes.go.id/v2/wp-content/uploads/2014/06/Pengendalian-
Mutu-Simplisia-dan-ekstrak.pptx ( akses 9 oktober 2017 )

Henrich, M., Barnes, J., Gibbons, S., dan Williamson, E.M. (2010). Farmakognosi
dan Fitoterapi. EGC: Jakarta.

15