Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan dalam Bencana


1. Pengertian
Bencana adalah kejadian yang mendadak atau tidak diperkirakan
yang mengakibatkan rumah sakit dan/atau sarana masyarakat lainnya
mengalami kerusakan dan fungsinya terganggau. Bencan dapat disebabkan
oleh kebakaran, cuaca atau iklim, misalnya: gempa bumi, angin rebut, dan
ternado, ledakan, aktifitas teroris, radiasi atau tumpahan zat kimia. Bencana
dapat terjadi karena kesalahan manusia yang mencakup kecelakaan lallul
intas,kecelakaan pesawat udara, bangunan runtuh, atau kejadian serupa
lainnya.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia definisi
Bencana adalah peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan
kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya
kesehatan dan pelayanan kesehatan dan pelayanan kesehatan yang
bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor.
Bencana ( disaster ) menurut WHO adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia
atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala
tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang
terkena.

2. Prinsip-Prinsip Dalam Penatalaksanaan Bencana


a. Mencegah berulangnya kejadian.c
b. Meminimalkan jumlah korban
c. Mencegah korban selanjutnya.
d. Menyelamatkan korban yang cedera
e. Memberikan pertolongan pertama
f. Mengevakuasi korban yang cidera.
g. Memberikan perawatan definitive.
h. Memperlancar rekonstruksi atau pemulihan.
3. Komponen Yang Disiapkan Dalam Menghadapi Bencana
a. Perencanaan menghadapi bencana akan mencakup banyak sumber daya
1. Pejabat polisi, pemadam kebakaran, pertahanan sipil, pamong praja
terutama yang terlibat dalam penanganan bencana dan bahan
berbahaya.
2. Harus sering dilatih dan di evaluasi.
3. Memperhitungkan gangguan komunikasi, misalnya karena jaringan
telepon rusak atau sibuk.
4. Mempunyai pusat penyimpanan perbekalan, tergantung dari jenis
bencana yang di duga dapat terjadi.
5. Mencakup semua aspek pelayanan kesehatan dari pertolongan
pertama sampai terapi definitip.
6. Mempersiapkan transportasi penderita apabila kemampuan local
terbatas.
7. Memperhitungkan penderita yang sudah di rawat untuk kemudian
di rujuk karena masalah lain

b. Perencanaan Pada Tingkat Rumah Sakit


1) Pemberitahuan kepada semua petugas.
2) Kesiapan daerah triase dan terapi.
3) Klasifikasi penderita yang sudah di rawat, untuk penentuan sumber
daya.
4) Pemeriksaan perbekalan (darah, cairan IV, medikasi) dan bahan
lain(makanan, air, listrik, komunikasi) yang mutlak di perlukan
rumah sakit
5) Persiapan dekontaminasi(bila diperlukan).
6) Persiapan masalah keamanan.
7) Persiapan pembentukan pusat hubungan masyarakat.

4. Pembagian Daerah Kejadian


a. Area 1 : Daerah kejadian (Hot zone)
Daerah terlarang kecuali untuk tugas penyelamat(rescue) yang sudah
memakai alat proteksi yang sudah benar dan sudah mendapat ijin masuk
dari komandan di area ini.
b. Area 2 :Daerah terbatas (Warm zone)
Di luar area 1, hanya boleh di masuki petugas khusus, seperti tim
kesehatan, dekotanminasi, petugas atau pun pasien. Pos komando utama
dan sektor kesehatan harus ada pada area ini.
c. Area 3 : Daerah bebas (Cold zone)
Di luar area 2, tamu, wartawan, masyarakat umum dapat berada di zone
ini karena jaraknya sudah aman. Pengambilan keputusan untuk
pembagian area itu adakah komando utama.

5. Sistem Komando Pada Musibah Masal


Pada setiap bencana atau musibah masal harus ada komandan. Pada
umumnya komandan ini berasal dari kepolisian, di daerah militer
(komandan adalah militer setempat) atau pelabuhan (komandan adalah
syahbandar yang dilakukan di pos komando). Unsur yang mungkin
terllibat:
a. Keamanan : kepolisian dan TNI
b. Rescue : pemadam kebakaran, Basarnas
c. Kesehatan
d. Sukarelawan (hampir selalu PMI terlibat)
e. Masyarakat umum

Bila bencana pada tingkat kabupaten, dan masih dapat


menanggulangi sendiri, maka pimpinan akan diambil ahli oleh bupati
melalui satlak PBP (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Dan
Pengungsi). Bila pada tingkat provinsi dan skalanya bencana lebih besar,
maka pimpinan akan diambiil ahli oleh gubernur malalui satkorlak PBP
(Satuan Koordinasi Palaksana Penanggulangan Bencana Dan Pengungsi).
Bila bencana sangat besar dan mencapai tingkatan nasional, maka
pimpinan diambil oleh pimpinan negagra dan dilaksanakan oleh Bakornas
PBP (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Dan
Pengungsi).

6. Triase Lapangan
Triase lapangan merupakan proses memilih atau mengkaji korban
bencana berdasarkan beratnya cidera dan besarnya kemungkinankorban
untuk diselamatkan dengan tindakan medis. Penderita gawat darurat dapat
terbagi atas:
a. Prioritas utama atau prioritas tertinggi (warnah merah) ada gangguan
A-B-C. Contoh: Penderita sesak (gangguan airway), cervical-spine
injury, pneumothorax, perdarahan hebat, shock, hypotermi.
b. Prioritas tidak gawat, darurat warna kuning. Contoh cedera abdomen
tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura mayor
tanpa shok, cedera kepala atau tulang belakang leher tidak berat, serta
luka bakar ringan). Tindakan kegawat daruratan pada klien ini dengan
menilai kesadaran klien (GCS) jika klien dapat mengikuti perintah
maka termasuk tidak gawat tapi darurat.
c. Prioritas rendah (warna hijau Contoh: Patah tulang paha, luka bakar
tanpa gangguan airway. Klien di tempatkan pada tempat yang aman
dan menangani cidera klien.
d. Bukan prioritas (warna hitam). Contoh: Sudah meninggal. Pasien
meninggal atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.

7. Langkah-langkah dalam penanggulangan bencana.


a. Pengkajian awal terhadap korban bencana,yang mencakup :
1) Keadaan jalan napas, apakah terdapat sumbatan napas. Sifat
pernapasan dengan cepat, lambat, tidak teratur.
2) Sistem Kardiovaskular, meliputi tekanan darah tinggi atau
rendah,nadi cepat atau lemah.
3) Sistem muskuloskletal, seperti luka, trauma, fraktur.
4) Tingkat kesedaran, composmentis coma.
b. Pertolongan darurat
Evaluasi melalui sistem triaget sesuai dengan urutan Prioritas.
1) Atasi masalah jalan napas, atur posisi (semi fowler, fowler tinggi),
bebaskan jalan nafas dari sumbatan, berikan oksigen sesuai
kebutuhan, awasi pernapasan.
2) Atasi perdarahan,bersihkan luka dari kotoran dan benda asing,
desinfektan luka,biarkan darah yang membeku, balut luka.
3) Fraktur atau trauma, imobilisasi dengan memakai spalak,balut.
4) Kesadaran terganggu, bebaskan jalan napas, awasi tingkat
kesadaran dan tanda vital
c. Rujukan segera ke puskesmas/rumah sakit
Dengan menyiapkan ambulans dan melakukan komunikasi sentral ke
pusat rujukan.
B. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Masyarakat
1. Pengertian
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya
pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan
sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau
paramedik. Ini berarti pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau
penanganan yang sempurna, tetapi hanyalah berupa pertolongan sementara
yang dilakukan oleh petugas P3K (petugas medik atau orang awam) yang
pertama kali melihat korban.
Pemberian pertolongan harus secara cepat dan tepat dengan
menggunakan sarana dan prasarana yang ada di tempat kejadian. Tindakan
P3K yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau penderitaan
dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian, tetapi bila tindakan P3K
dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk akibat kecelakaan bahkan
menimbulkan kematian.
Pertolongan pertama pada kecelakaan sifatnya semantara. Artinya
kita harus tetap membawa korban ke dokter atau rumah sakit terdekat
untuk pertolongan lebih lanjut dan memastikan korban mendapatkan
pertolongan yang dibutuhkan.

2. Pelaksanaan P3K
Sebelum melaksanakan Tindakan P3K maka perlu dilakukan
tahapan awal sebelum P3K yaitu:
a. Penolong mengamankan diri sendiri ( memastikan penolong telah
aman dari bahaya)
b. Amankan Korban ( evakuasi atau pindahkan korban ketempat yang
lebih aman dan nyaman.
c. Tandai tempat Kejadian jika diperlukan untuk mencegah adanya
korban baru.
d. Usahakan Menghubungi Tim Medis
e. Tindakan P3K
1) Prioritas dalam P3K
a) Cari keterangan penyebab kecelakaan
b) Amankan korban dari tempat berbahaya
c) Perhatikan keadaan umum korban; gangguan pernapasan,
pendarahan dan kesadaran.
d) Segera lakukan pertolongan lebih lanjut dengan sarana yang
tersedia.
e) Apabila korban sadar, langsung beritahu dan kenalkan.
Selain itu ada juga yang dinamakan prinsip life saving,
artinya kita melakukan tindakan untuk menyelamatkan jiwa
korban (gawat darurat) terlebih dahulu, baru kemudian setelah
stabil disusul tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang
lain. Gawat darurat adalah suatu kondisi dimana korban dalam
keadaan terancam jiwanya, dan apabila tidak ditolong pada saat
itu juga jiwanya tidak bisa terselamatkan.

2) Pembalutan
Tujuan dari pembalutan adalah untuk mengurangi resiko
kerusakan jaringan yang telah ada sehingga mencegah maut,
menguangi rasa sakit, dan mencegah cacat serta infeksi.
a) Pembalutan segitiga atau mitela
Pembalut segitiga dibuat dari kain putih yang tidak berkapur
(mori), kelihatan tipis, lemas dan kuat. Bisa dibuat sendiri,
dengan cara memotong lurus dari salah satu sudut suatu kain
bujur sangkar yang panjang masing-masing sisinya 90 cm
sehingga diperoleh 2 buah pembalut segitiga.
b) Pembalut Plester
Digunakan untuk merekatkan kain kassa, balutan penarik
(patah tulang, sendi paha/ lutut meradang), fiksasi (tulang iga
patah yang tidak menembus kulit), Beuton (alat untuk
merekatkan kedua belah pinggir luka agar lekas tertutup).
c) Pembalut Pita Gulung.
d) Pembalut Cepat
e) Pembalut ini siap pakai terdiri dari lapisan kassa steril, dan
pembalut gulung.

3) Pembidaian
Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan
kedudukan (fiksasi) tulang yang patah. Tujuannya, menghindari
gerakan yang berlebihan pada tulang yang patah. Syarat
pemasangan bidai:
a) Bidai harus melebihi dua persendian yang patah
b) Bidai harus terbuat dari bahan yang kuat, kaku dan pipih.
c) Ikatan tidak boleh terlalu kencang karena merusak jaringan
tubuh tapi jangan kelonggaran.

4) Pernafasan Buatan
Sering disebut bantuan hidup dasar (BHD) atau resusitasi
jantung paru (RJP) intinya adalah melakukan oksigenasi darurat.
A = Airway control (pengeuasaan jalan napas),
B = Breathing support (ventilasi buatan dan oksigenasi paru
darurat)
C = Circulation (pengenalan ada tidaknya denyut nadi)

5) Evakuasi dan Transportasi


Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban dari lokasi
kecelakaan ke tempat lain yang lebih aman dengan cara-cara yang
sederhana di lakukan di daerah daerah yang sulit dijangkau
dimulai setelah keadaan darurat. Penolong harus melakukan
evakuasi dan perawatan darurat selama perjalanan.

C. Pertolongan Pertama Pada Keracunan di Masyarakat


1. Pengertian
Racun merupakan suatu bahan dimana suatu ketika diserap oleh
organisme hidup dapat melukai bahkan membunuhnya. Racun dapat diserap
melalui pencernaan, hisapan, intravena, kulit atau melalui rute lain.
Reaksinya seketika itu juga, cepat, lambat atau kumulatif.
Keracunan dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya keracunan
karena terminum cairan atau bahan yang bersifat korosif seperti : minyak
tanah, bensin, karbol, asam, lindi, keracunan karena tumbuhan,
makanan,minuman,obat-obatan atau gigitan ular.
Gejala yang dialami oleh korban keracunan berbeda. begitu pula
dengan pertolongan yang dilakukan pada korban keracunan berbeda-
beda.tergantung pada penyebab keracunan dan kondisi korban.
Dekontaminasi lambung (menghilangkan racun dari lambung) efektif
bila dilakukan sebelum masa pengosongan lambung terlewati (1-2 jam,
termasuk penuh atau tidaknya lambung).
Keputusan untuk melakukan tindakan ini harus mempertimbangkan
keuntungan dan kerugian (risiko) yang mungkin terjadi akibat tindakan
dekontaminasi dan jenis racun. Dekontaminasi lambung tidak menjamin
semua bahan racun yang masuk bisa dikeluarkan, oleh karena itu tindakan
dekontaminasi lambung tidak rutin dilakukan pada kasus keracunan.

2. Penanganan
a. Encerkan racun yang ada di lambung sekaligus menghalangi
penyerapannya dengan cara memberikan cairan dalam jumlah banyak
b. Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan
cara :
1) Dimuntahkan : Bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan reflek
muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam atau sirup ipekak.
Kontraindikasi : cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat
korosif (asam/basa kuat, minyak tanah, bensin), kesadaran menurun
dan penderita kejang.
2) Bilas lambung
a) Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah
b) Pasang NGT dan bilas dengan : air, larutan norit, Natrium
bicarbonat 5 %, atau asam asetat 5 %.
c) Pembilasan sampai 20 X, rata-rata volume 250 cc. Pada koma
derajat sedang hingga berat tindakan bilas lambung sebaiknya
dilakukan dengan bantuan pemasangan endotrakeal berbalon,
untuk mencegah aspirasi pnemonia
Kontraindikasi : keracunan zat korosif dan kejang.
3) Bilas Usus Besar : bilas dengan pencahar, klisma (air sabun atau
gliserin).
4) Mengeluarkan racun yang telah diserap dilakukan dengan cara:
Diuretic(lasix atau manitol), Dialisa, Transfusi exchange
5) Pengobatan simptomatis / mengatasi gejala: Gangguan sistem
pernapasan dan sirkulasi lakukan RJP, Gangguan sistem susunan
saraf pusat: Jika Kejang beri diazepam atau fenobarbital, dan jika
Odem otak beri manitol atau dexametason.
6) Awasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita
muntah
7) Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan
sebagainya sebaiknya diamankan untuk identifikasi.
8) Penatalaksanaan syok bila terjadi

D. Pertolongan Pertama Pada Sengatan Binatang


1. Pengertian
Gigitan binatang adalah gigitan atau serangan yang di akibatkan
oleh gigitan hewan seperti anjing, kucing, monyet,dll. Rabies adalah
penyakit infeksi akut susunan saraf pusat pada manusia dan mamalia yang
berakibat fatal yang salah satunya disebabkan oleh gigitan binatang seperti
anjing, monyet dan kucing.
Gigitan ular adalah suatu keadan yang disebabkan oleh gigitan ular
berbisa. Bisa ular adalah kumpulan dari terutama protein yang mempunyai
efek fisiologik yang luas atau bervariasi. Yang mempengaruhi sistem
multiorgan, terutama neurologik, kardiovaskuler, dan sistem pernapasan.
(Suzanne Smaltzer dan Brenda G. Bare, 2010)
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk
melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan
diri.Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan
oleh kelenjar khusus.Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu
modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi
kepala di belakang mata.Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi
tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang
memiliki aktivitas enzimatik.

2. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang umum ditemukan adalah :
a. Tanda-tanda bekas taring, laserasi
b. Bengkak dan kemerahan, kadang-kadang bulae atau vasikular
c. Sakit kepala, mual, muntah
d. Rasa sakit pada otot-otot, dinding perut
e. Demam
f. Keringat dingin
3. Penatalaksanaan pada gigitan bintang berbisa
Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah pergi
segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban.selanjutnya
lakukan prinsip :
R = Reassure
yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan korban,
kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga racun akan
lebih cepat menyebar ke tubuh. terkadang pasien pingsan / panik
karena kaget.
I = Immobilisation
jangan menggerakan korban, perintahkan korban untuk tidak berjalan
atau lari. Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak datang:
lakukan tehnik balut tekan ( pressure-immoblisation ) pada daerah
sekitar gigitan (tangan atau kaki) lihat prosedur pressure
immobilization (balut tekan)

G = Get
bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
T =Tell the Doctor
informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul pada korban.

4. Penatalaksanaan gigitan bintang


a. Jika segera dilakukan tindakan pencegahan yang tepat, maka
seseorang yang digigit hewan yang menderita rabies kemungkian
tidak akan menderita rabies. Orang yang digigit kelinci dan hewan
pengerat (termasuk bajing dan tikus) tidak memerlukan pengobatan
lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut jarang terinfeksi
rabies.Tetapi bila digigit binatang buas (sigung, rakun, rubah, dan
kelelawar) diperlukan pengobatan lebih lanjut karena hewan-hewan
tersebut mungkin saja terinfeksi rabies.
b. Tindakan pencegahan yang paling penting adalah penanganan luka
gigitan sesegera mungkin. Daerah yang digigit dibersihkan dengan
sabun, tusukan yang dalam disemprot dengan air sabun.Jika luka
telah dibersihkan, kepada penderita yang belum pernah mendapatkan
imunisasi dengan vaksin rabies diberikan suntikan immunoglobulin
rabies, dimana separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan.
c. Jika belum pernah mendapatkan imunisasi, maka suntikan vaksin
rabies diberikan pada saat digigit hewan rabies dan pada hari ke 3, 7,
14, dan 28. Nyeri dan pembengkakan di tempat suntikan biasanya
bersifat ringan.Jarang terjadi reaksi alergi yang serius, kurang dari
1% yang mengalami demam setelah menjalani vaksinasi.
d. Jika penderita pernah mendapatkan vaksinasi, maka risiko menderita
rabies akan berkurang, tetapi luka gigitan harus tetap dibersihkan dan
diberikan 2 dosis vaksin (pada hari 0 dan 2).
e. Sebelum ditemukannya pengobatan, kematian biasanya terjadi dalam
3-10 hari. Kebanyakan penderita meninggal karena sumbatan jalan
nafas (asfiksia), kejang, kelelahan atau kelumpuhan total. Meskipun
kematian karena rabies diduga tidak dapat dihindarkan, tetapi
beberapa orang penderita selamat.Mereka dipindahkan ke ruang
perawatan intensif untuk diawasi terhadap gejala-gejala pada paru-
paru, jantung, dan otak.Pemberian vaksin maupun imunoglobulin
rabies tampaknya efektif jika suatu saat penderita menunjukkan
gejala-gejala rabies.

E. Pertolongan Pertama Pada Sengatan Listrik


1.. Pengertian Sengatan Listrik
Sengatan listrik (electric shock) adalah sebuah fenomena dalam
kehidupan. Secara sederhana tersetrum dapat dikatakan sebagai suatu
proses terjadinya arus listrik dari luar ke tubuh. Sengatan listrik dapat
terjadi karena terjadinya kontak antara bagian tubuh manusia dengan suatu
sumber tegangan listrik yang cukup tinggi sehingga mampu
mengakibatkan arus listrik melalui tubuh manusia tepatnya melalui otot.
Selain itu arus ini sifatnya mengalir dari potesial tinggi ke potensial
rendah.
Dalam kasus sehari- hari sumber tegangan listrik ini memiliki
potensial tinggi, sementara bumi tempat berpijak memiliki potensial
rendah. Jadi, tegangan ini ingin mengalirkan arusnya ke bumi. Pada saat
terjadi kontak antara manusia dengan sumber tegangan saat manusia ini
menginjak bumi, maka tubuh manusia ini akan menjadi suatu konektor
antara sumber tegangan dengan bumi. Perlu diingat bahwa tubuh manusia
sebagian besar terdiri dari air, sehingga tubuh manusia merupakan
konduktor yang baik.
Tersetrum adalah fenomena yang terjadi karena adanya arus yang
resistansi dengan plasma darah dalam tubuh kita. Arus terjadi karena ada
perpindahan elektron dan proton, pergerakan arus yang terhambat akan
menghasilkan energy panas. Sakit yang ditimbulkan akibat sengatan listrik
disebabkan karena elektron akan berpindah semakin cepat jika ada
hambatan. Elektron yg bertumpuk pada plasma darah dan tidak bisa keluar
maka akan terjadi panas dan terbakar, sehingga system syaraf
menstimulasi otak bahwa hal tersebut adalah sengatan listrik.

2.. Penyebab Sengatan Listrik


Penyebab tersetrum bukanlah tegangan listrik, tetapi karena adanya
arus listrik yang mengalir. Sebenarnya arus listrik pun memang sudah ada
di tubuh kita sebagai pengantar informasi dari indera ke otak (seperti
sensor dan prosesor).
Listrik mengalir dari saluran positif ke saluran negatif. Dengan
listrik arus searah jika kita memegang hanya kabel positif (tapi tidak
memegang kabel negatif), listrik tidak akan mengalir ke tubuh kita (kita
tidak terkena strum). Demikian pula jika kita hanya memegang saluran
negatif. Seseorang bisa tersengat listrik karena ada banyak
kemungkinan,antara lain :
a. Menyentuh kabel telanjang berarus listrik
b. Menyentuh kabel berarus yang isolasinya rusak
c. Kegagalan peralatan
d. Terkena muatan listrik statis
e. Disambar petir (akan dibahas khusus dalam proteksi petir)
Arus listrik menimbulkan gangguan karena rangsangan terhadap
saraf dan otot. Energi panas yang timbul akibat tahanan jaringan yang
dilalui dapat menyebabkan luka bakar. Luka bakar ini timbul dapat akibat
dari bunga api listrik yang suhunya dapat mencapai 2.500 derajat celcius.
Tegangan lebih dari 500 volt merupakan risiko tinggi terhadap
keselamatan jiwa. Arus bolak-balik menimbulkan rangsangan otot berupa
kejang-kejang. Bila arus tersebut melalui jantung, kekuatan sebesar 60
milliamper saja sudah cukup untuk menimbulkan gangguan jantung
(fibrilasi ventrikel)
Bila kawat berarus listrik terpegang oleh tangan, maka pegangan
akan sulit dilepaskan karena arus listrik tersebut menimbulkan kontraksi
dari otot-otot jari tangan. Otot fleksor atau otot menggenggam jari lebih
kuat dari otot ekstensor. Jika arus listrik tegangan tinggi mengenai dada
akan menyebabkan gangguan pernafasan. Bila mengenai kepala, dapat
menyebabkan tidak sadarkan diri. Pada tegangan rendah, arus searah tidak
berbahaya dibandingkan dengan arus bolak-balik.
Kelancaran arus masuk ke tubuh tergantung juga basah atau
keringnya kulit yang kontak dengan arus listrik. Bila kulit basah atau
lembab, arus listrik akan mudah masuk ke dalam tubuh. Pada tempat
masuknya arus listrik, akan tampak luka masuk yang berupa luka bakar
sedangkan pada tempat luka keluar akan terkesan loncatan arus keluar.
Arus keluar biasanya sulit ditemukan. Panas yang timbul yang mengenai
pembuluh darah akan dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang
semakin lama dapat menyebabkan kematian jaringan.
Kadang luka bakar yang tampak dari luar tampak ringan tetapi
kerusakan jaringan yang lebih dalam luas dan berat. Kerusakan otot yang
berat dapat terlihat pada kencing yang berwarna gelap karena bercampur
dengan mioglobin yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Akibat dari
sengatan listrik bisa bermacam-macam yaitu:
a. Sekedar terkejut
b. Luka bakar
c. Epilepsi/ayan
d. Membuat jantung berhenti berdenyut,serangan jantung,dan masalah
pada irama jantung (arrhythmias)
e. Otot berkontraksi (mengerut) dan kesakitan
f. Tidak sadar diri/pingsan
g. Pernafasan berhenti karena pusat saraf yang mengatur pernafasan
menjadi lumpuh
h. Kematian

3.. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Akibat Sengatan Listrik.


a. Segera bertindak dengan mematikan aliran listrik. Cabut steker,atau
matikan sekring/MCB pusat. Kemudian minta seseorang untuk
mencari bantuan,memanggil ambulans, atau pertolongan lain.
b. Jauhkan penderita dari sumber listrik. Untuk dapat memegang
penderita tanpa kesetrum anda memerlukan benda yang tidak bisa
mengantarkan listrik. Gunakan misalnya, sarung tangan karet yang
kering (air juga dapat mengantarkan listrik), atau tongkat sapu.
Setelah itu, segera pindahkan korban ke tempat aman serta
bersirkulasi udara lancar. Baringkan korban lalu evaluasi kesadaran
penderita apakah sadar atau tidak, serta periksa denyut nadi dan
pernapasannya.
c. Periksa denyut nadi di lehernya. Jika tidak ada tanda-tanda setelah 5
detik, tekan dadanya sebanyak 5 kali dengan kedua telapak tangan,
telapak tangan kiri berada di atas dada dan yang lain di atas punggung
tangan kiri. Pastikan posisi tangan Anda berada satu garis dengan
putingnya. Periksa lagi. Jika tetap tidak ada. Ulangi.
d. Untuk pernapasan buatan, mungkin karena pertimbangan tertentu, bisa
tidak dilakukan lewat mulut. Pembuatan nafas buatan boleh disalurkan
lewat hidung korban. Kalau setelah dilakukan pernapasan buatan,
ternyata paru-paru juga tidak mengembang, periksa mulut, hidung,
dan kerongkongan. Mungkin ada sesuatu yang menghambat aliran
udara untuk masuk. Bila penderita masih bernapas dengan normal
baringkan dengan posisi sisi mantap. Yaitu miringkan penderita ke sisi
kanan, tangan kiri penderita letakkan di pipi kanan. Hal ini dilakukan
supaya penderita bisa bernapas spontan (tidak tertutup oleh lidah ).
Untuk pembuatan nafas buatan pada kasus sengatan listrik yaitu :
1. Pertama, telentangkan korban, lalu tekuk kepalanya ke belakang.
2. Kemudian, anda buka mulut, tarik napas kuat-kuat, baru tutup
mulut.
3. Kemudian tiupkan udara ke mulut korban sekuat-kuatnya sampai
rongga paru-paru terangkat.
4. Ketika melakukannya, jangan lupa tekan hidung korban supaya
udara yang anda tiupkan tidak keluar. Sebisa mungkin, segera
lakukan pernapasan buatan ketika korban tersengat. Tiga sampai
empat kali pernapasan buatan awalan akan sangat membantu
korban. Jika korban adalah anak kecil, dibutuhkan lebih banyak
lagi pernapasan buatan, sampai 20 kali dalam semenit.

e. Bila mengalami luka bakar, segera berikan pertolongan pertama


Tutupi titik luka bakar yang terjadi akibat masuk dan keluarnya arus
listrik pada tubuh karena bisa mempercepat pengurangan cairan dalam
tubuh. Gunakan kain, perban atau benda apapun yang bersifat tidak
mengantarkan panas. Kemudian segera dilarikan ke dokter. Bila
korban mengalami muntah, upayakan untuk dikeluarkan. Agar lubang
tenggorokannya tidak tertutup, tarik rahangnya ke depan.
f. Letakkan kain atau pakaian yang kering dan tidak berbulu pada
permukaan luka.
g. Untuk memulihkan fungsi jantung, urut rusuk korban. Bagi orang
dewasa, dibutuhkan pengurutan rusuk sampai 60 kali dalam satu
menit. Sedang untuk anak-anak lebih banyak lagi, sampai 90 dalam
semenit. Dan yang perlu diperhatikan ketika mengurut, hindari
menekan rusuk terlalu keras. Karena bisa berakibat fatal menyebabkan
rusaknya rusuk korban. Setelah diberikan pertolongan pertama, segera
bawa untuk mendapat pertolongan medis lebih lanjut.

f. Pertolongan Pertama Pada Luka Bakar


1. Pengertian Luka Bakar
Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan
api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas
(kontak panas), akibat sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia,
serta sengatan matahari (sunburn) (Moenadjat, 2001).
Luka bakar adalah kondisi atau terjadinya luka akibat terbakar, yang
hanya disebabbkan oleh panas yang tinggi, tetapi oleh senyawa kimia,
llistrik, dan pemanjanan (exposure) berlebihan terhadap sinar matahari.
(Aziz Alimul Hidayat, A, 2008)

Luka bakar adalah luka yang di sebakan oleh kontak dengan suhu
tinggi seperti api,air panas,listrik,bahan kimia dan radiasi; juga oleh sebab
kontak dengan suhu rendah,luka bakar ini bisa menyebabkan kematian
,atau akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi maupun estetika.
(Kapita Selekta kedokteran edisi 3 jilid 2).

2. Etiologi Luka Bakar


Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena panas, dingin ataupun
zat kimia. Ketika kulit terkena panas, maka kedalaman luka akan
dipengaruhi oleh derajat panas, durasi kontak panas pada kulit dan
ketebalan kulit (Schwarts et al, 1999).
Tipe luka bakar:
a. Luka Bakar Termal (Thermal Burns)
Luka bakar termal biasanya disebabkan oleh air panas (scald) , jilatan
api ke tubuh (flash), kobaran apai di tubuh (flame) dan akibat terpapar
atau kontak dengan objek-objek panas lainnya (misalnya plastik
logam panas, dll.) (Schwarts et al, 1999).
b. Luka Bakar Kimia (Chemical Burns)
Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali
yang biasa digunakan dalam bidang industri, militer, ataupun bahan
pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga
(Schwarts et al, 1999).
c. Luka Bakar Listrik (Electrical Burns)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan
ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang
memiliki resistensi paling rendah; dalam hal ini cairan. Kerusakan
terutama pada pembuluh darah, khususnya tunika intima, sehingga
menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali kerusakan
berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus
maupun ground (Moenadjat, 2001).
d. Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber
radioaktif. Tipe injuri ini sering disebabkan oleh penggunaan
radioaktif untuk keperluan terapeutik dalam dunia kedokteran dan
industri. Akibat terpapar sinar matahari yang terlalu lama juga dapat
menyebabkan luka bakar radiasi (Gillespie, 2009).

3. Manifestasi Klinis
Untuk mengetahui gambaran klinik tentang luka bakar (Combustio)
maka perlu mempelajari :
a. Luas Luka Bakar
Luas luka bakar dapat ditentukan dengan cara Role of nine
yaitu dengan tubuh dianggap 9 % yang terjadi antara :
1) Kepala dan leher : 9%
2) Dada dan perut : 18 %
3) Punggung hingga pantat : 18 %
4) Anggota gerak atas masing-masing : 9 %
5) Anggota gerak bawah masing-masing : 18 %
6) Perineum : 9%

b. Derajat Luka Bakar


1) Grade I
a) Jaringan yang rusak hanya epidermis.
b) Klinis ada nyeri, warna kemerahan, kulit kering.
c) Tes jarum ada hiperalgesia.
d) Lama sembuh + 7 hari.
e) Hasil kulit menjadi normal.

2) Grade II
a) Grade II a
(1) Jaringan yang rusak sebagian dermis, folikel, rambut, dan
kelenjar keringat utuh.
(2) Rasa nyeri warna merah pada lesi.
(3) Adanya cairan pada bula.
(4) Waktu sembuh + 7 - 14 hari.
b) Grade II b
(1) Jaringan yang rusak sampai dermis, hanya kelenjar
keringan yang utuh.
(2) Eritema, kadang ada sikatrik.
(3) Waktu sembuh + 14 21 hari.
c) Grade III
(1) Jaringan yang rusak seluruh epidermis dan dermis.
(2) Kulit kering, kaku, terlihat gosong.
(3) Terasa nyeri karena ujung saraf rusak.
(4) Waktu sembuh lebih dari 21 hari.
d) Grade IV
Luka bakar yang mengenai otot bahkan tulang.

c. Pengelolaan Luka Bakar


1) Luka bakar ringan
a) Luka bakar grade I dan II luasnya kurang 15 % pada orang
dewasa.
b) Luka bakar grade I dan II luasnya kurang 10 % pada anak
c) Luka bakar grade III luasnya kurang 2 %
2) Luka bakar sedang
a) Luka bakar grade II luasnya 15 25 % pada orang dewasa
b) Luka bakar grade II luasnya 10 20 % pada anak
c) Luka bakar grade II luasnya kurang 10 %

3) Luka bakar berat


a) Luka bakar grade II luasnya lebih dari 25 % pada orang
dewasa
b) Luka bakar grade II luasnya lebih dari 20 % pada anak
c) Luka bakar grade III luasnya lebih dari 10 %
d) Luka bakar grade IV mengenai tangan, wajah, mata, telinga,
kulit, genetalia serta persendian ketiak, semua penderita
dengan inhalasi luka bakar dengan konplikasi berat dan
menderita DM.

4. Pertolongan pertama luka bakar


Prinsip utama pertolongan luka bakar adalah mengakhiri dengan
segera dan cepat kontak dengan sumber panas untuk mengurangi luas dan
dalamnya luka bakar yang terjadi. Mematikan api dengan menyelimuti dan
menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi
api yang menyala merupakan upaya pertama saat,terbakar.
a. Luka bakar ringan
1) Penanganan pertama adalah mendinginkan daerah yang terbakar
dengan air dengan segera, rendam kulit yang terbakar ke dalam air
dingin sekurang kurangnya 15 menit.
2) Untuk luka yang tidak dapat direndam, kompres dengan es yang
dibungkus dalam kain atau pergunakan kain peresap yang
dicelupkan ke dalam air es.
3) Ganti kompres tersebut beberapa kali agar tetap dingin, lakukan
sampai rasa sakitnya hilang.
4) Hindarkan penggunaan salep luka, lemak dan soda masak,
terutama pada luka yang cukup parah yang memerlukan perawatan
medis segera. Penggunaan antiseptik topikal dianjurkan pada luka
bakar.
5) Cegah timbulnya infeksi. Bila kulit menggelembung, tutup
gelembung dengan kain yang steril, jangan memecahkan
gelembung tersebut.
6) Luka dapat dirawat terbuka atau tertutup. Awas , luka bakar yang
dangkal dapat menjadi berbahaya, bila daerah yang terbakar cukup
luas mintalah bantuan dokter/ RS terdekat

b. Terbakar Bahan Kimia


1) Prinsip, siramlah daerah yang terbakar dengan air sebanyak
banyaknya untuk mengencerkan atau membuang sebagian bahan
kimia itu, selanjutnya rawat seperti luka bakar lainnya.
2) Bila mengenai mata, terutama oleh zat asam atau bahan dasar
seperti soda, bilaslah secara berhati-hati dengan air bersih, tutp
dengan kain kasa atau kain bersih dan segera periksakan.

c. Luka bakar berat


1) Jika pakaian dalam keadaan terbakar, padamkan nyala api itu
dengan jas, selimut, atau permadani kecil.
2) Biarkan korban berbaring untuk mengurangi syok.
3) Potong dan buang pakaian dari daerah yang terbakar. Bila pakaian
yang terbakar menempel pada luka, jangan menariknya, biarkan
dan potonglah sekitarnya saja.
4) Cuci tangan anda dengan bersih untuk mencegah kontaminasi.
5) Tutup luka dengan kain kasa yang tebal, sehingga dapat
memisahkan dari udara, kontaminasi oleh debu dan mengurangi
rasa sakit. Bila tidak ada kain kasa dapat digunakan sprei atau
handuk yang bersih.
6) Jangan pergunakan salep, minyak, tapi penggunaan anti septik
topikal dianjurkan, jangan berusaha mengganti kain penutup
tersebut.
7) Panggil ambulans atau bawa korban ke RS terdekat.

8) Bila luka bakar cukup luas mengenai sebagian besar tubuh,


berikanlah pertolongan pertama untuk syok. Kalau perlu lakukan
resusitasi bila korban menunjukkan gejala syok seperti gelisah,
dingin, pucat, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah
menurun.
9) Bila korban sadar, larutkan sendok the soda masak dan 1 sendok
the garam dapur dalam dalam liter air. Minumkanlah larutan ini
pada korban sebanyak gelas tiap 15 menit untuk mengganti
cairan tubuhnya yang hilang, hentikan pemberian cairan ini bila
korban muntah.