Anda di halaman 1dari 18

PAPER PENGANTAR ILMU LINGKUNGAN

KEGIATAN PERTAMBANGAN DAN IMPAK TERHADAP


LINGKUNGAN DAN MANUSIA

Diusulkan oleh
Landep Ayuningtias 151810301065 Angkatan 2015
Ulva Widyawati 161810301027 Angkatan 2016
Debora Limay P. 161810301040 Angkatan 2016
Hadi Birnando 161810301050 Angkatan 2016
Marifatul Jannah 161810301055 Angkatan 2016
Amalia Anggreini 161810301057 Angkatan 2016
Wilda Kamilia 161810301072 Angkatan 2016

UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2017
A. Pemanfaatan Sumber Daya Tambang dan Klasifikasinya
Sumber daya alam mencakup seluruh kekayaan alam berupa benda mati
maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Pengertian sumber daya alam ditentukan
berdasarkan kegunaannya bagi manusia. Oleh karena itu nilai sumber daya alam
ditentukan pula oleh nilai manfaatannya bagi manusia. Sumber daya tambang
merupakan sumber daya yang tersimpan di dalam perut bumi yang memiliki nilai
ekonomi dan manfaat lainnya terhadap kehidupan manusia. Barang tambang
merupakan bahan baku yang sangat penting. Barang tambang merupakan sumber
daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Hal ini mengandung makna bahwa
apabila sumber daya alam tersebut habis maka akan membutuhkan waktu yang
sangat lama untuk mendapatkan gantinya. Negara-negara di dunia sangat
membutuhkan barang tambang untuk dapat memenuhi segala kebutuhan negara
tersebut, sehingga negara yang mempunyai banyak sumber tambang dianggap
sebagai negara yang kaya. Terdapat beberapa macam sumber daya alam yang
dapat dimanfaatkan dengan berbagai cara. Keberadaan tambang ternyata
mendatangkan beberapa keuntungan bagi kehidupan manusia, diantaranya sebagai
berikut:
a. Memenuhi Kebutuhan Manusia
Tujuan utama dari kegiatan pertambangan yakni guna memenuhi
kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Manusia membutuhkan rumah,
bangunan infrastruktur, dan hal yang berkaitan dengan bahan dalam mendukung
kemajuan teknologi.
b. Sebagai Sumber Mata Pencaharian dan Pendapatan
Sumber daya alam juga sering dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu
sumber mata pencaharian dan juga sumber pendapatan. Contohnya adalah pada
pekerja-pekerja tambang dan pengusaha tambang. Segala kegiatan ekonomi global
yang saat ini berlangsung, merupakan proses transaksi ekonomi yang 90% nya
melibatkan sumber daya alam. Mulai dari perdagangan hasil bumi, mineral, gas
dan banyak lagi, merupakan suatu keterlibatan dari sumber daya alam.
c. Sebagai Cadangan Devisa Negara
Devisa merupakan salah satu alat yang dapat digunakan oleh suatu Negara
untuk melakukan transaksi yang diakui secara Internasional. Manfaat sumber daya
alam bagi negara sebagai cadangan devisa bisa digunakan ketika negara
membutuhkan sumber dana, sumber daya alam dapat dijual dan dikomersilkan
sehingga Negara pun akan mendapatkan keuntungan.
Salah satu klasifikasi sumber daya alam adalah sumber daya alam materi
dan sumber daya alam energi. Berikut merupakan klasifikasi bahan tambang
berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Pertambangan. Barang tambang atau bahan galian dibedakan
atas tiga golongan, antara lain sebagai berikut:
1. Barang Tambang Golongan A (Golongan bahan galian strategis)
Barang tambang golongan A terdiri atas minyak bumi, gas bumi, batubara,
nikel, dan timah,bitumen cair, lilin bumi, gas alam, bitumen padat, aspal, antrasit,
batubara, uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya.
a. Minyak Bumi
Minyak dan gas bumi terdiri atas berbagai campuran unsur karbon dan
hidrogen yang disebut hidrokarbaon. Minyak bumi yang beredar di pasaran
merupakan minyak yang sudah diolah sehingga memiliki warna yang jernih. Akan
tetapi minyak bumi yang masih mentah memiliki warna yang keruh atau hitam
karena belum mengalami proses penyulingan.
Minyak bumi merupakan cairan hidrokarbon yang mudah terbakar.
Hampir semua bahan bakar menggunakan minyak bumi sehingga keberadaan
minyak bumi menjadi sangat penting. Cadangan minyak bumi di Indonesia
tersebar hampir di seluruh pulau, yaitu di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Papua,
Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku.
b. Gas Bumi
Gas bumi dihasilkan pada waktu penyulingan minyak bumi yang disebut
Liquified Petroleum Gas (LPG). Gas bumi dibedakan atas gas asosiasi dan gas
non-asosiasi. Gas asosiasi yaitu dalam satu reservoir terdapat gas bumi dan
minyak bumi. Gas non asosiasi yaitu hanya terdapat gas bumi. Berdasarkan lokasi
penambangannya, gas bumi dibedakan atas offshore dan onshore. Offshore
merupakan lokasi penambangan gas di lepas pantai. Pengeboran lepas pantai
terdapat di wilayah Pidi (Aceh), lepas pantai utara Jawa Barat, Jawa Tengah, lepas
pantai Riau, pantai timur Sumatra dan Balikpapan.
c. Batubara
Batubara termasuk bahan bakar fosil. Batubara merupakan mineral
organik yang terbentuk dari endapan sisa tumbuhan purba yang mengalami
tekanan dan berubah akibat proses fisika dan kimia selama jutaan tahun. Batubara
terdiri atas unsur karbon yang mudah terbakar. Proses pembentukan mulai dari
awal pembentukan yang menghasilkan gambut, lignit, subbituminous, bituminous,
dan akhirnya terbentuk antrasit. Batubara merupakan bahan bakar yang lebih
murah dibandingkan solar, minyak, dan gas bumi. Kualitas batubara tidak
terpengaruh oleh cuaca. Batubara banyak digunakan untuk sektor industri.
Batubara juga digunakan sebagai bahan bakar dalam rumah tangga pengganti
minyak, yaitu briket.
d. Nikel
Nikel digunakan sebagai bahan paduan logam yang banyak digunakan
pada berbagai industri logam. Pusat penggolahan biji nikel di Pomala Sulawesi
Tenggara oleh PT Aneka Tambang dan PT.Inco (International Nickel Indonesia)
di Soroako Sulawesi Selatan. Cadangan Nikel di Soroako sebesar 94 juta ton.
Selain itu, terdapat di Pulau Gee, Pulau Pakal, Pulau Obi (Maluku), Pulau Gag
dan pegunungan Cyclops (Papua). Negara utama tujuan ekspor nikel adalah
Jepang.
e. Timah Putih
Timah adalah logam berwarna putih keperakan, dengan tingkat kekerasan
yang rendah. Berat jenisnya mencapai 7,3 g/cm3, serta memiliki sifat
konduktivitas panas dan listrik yang tinggi. Logam ini bersifat mengkilap dan
mudah dibentuk. Kegunaan timah antara lain untuk bahan baku logam pelapis,
solder, cenderamata, bahan pembuatan kaleng, mata peluru, dan pipa. Potensi
timah di Indonesia terdapat di Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Singkep, dan
Pulau Karimun. Pulau bangka memiliki 60% dari cadangan timah Indonesia.
Pusat pengolahan timah berada di Pangkal Pinang dan Muntok (Bangka).
2. Barang Tambang Golongan B (Golongan bahan galian vital)
Barang tambang golongan B memiliki peranan penting dalam
perekonomian bangsa Indonesia. Barang tambang golongan B antara lain emas,
perak, platina, tembaga, intan, belerang, besi, dan bauksit, air raksa, intan, arsen,
antimon, bismut, berillium, korundum, zircon, kristal kwarsa, kriolit, fluorspar,
barit, yodium, brom, klor, belerang.
a. Emas
Emas dan perak termasuk logam mulia yang sangat disukai masyarakat.
Kedua logam ini selalu berasosiasi dengan tembaga, besi, dan platina. Potensi
emas hampir terdapat di setiap pulau-pulau besar di Indonesia. Di Indonesia
persebaran emas terdapat di Aceh (Meulaboh), Sumatera Utara (Muara Sipongi),
Sumatera Barat (Salida, Gunung Arum), Riau (Bengkalis), Bengkulu (Lebong
Donok), Jawa Barat (Purwakarta, Sukabumi), Jawa Timur (Dawuhan, Tegalrejo),
Kalimantan Barat (Bengkayang, Sintang, Melawi), dan daerah lainnya.
b. Perak
Perak merupakan hasil sampingan dari pengolahan bijih emas, tembaga.
Sifat perak yaitu lunak, sehingga mudah dibentuk, dicetak, dan ditarik, warna
putih mengkilat, sukar teroksidasi, memiliki daya hantar listrik. Perak digunakan
untuk perhiasan, kerajinan tangan, pelapis logam, dan mata uang, campuran
logam, fotografi, dan industri alat-alat listrik. Penambangan perak di Indonesia
antara lain di Banten (Cikotok) dan Riau (Sungai Sangingi).
c. Platina
Platina memiliki ciri berwarna putih keperakan hingga abu-abu kehitaman,
mudah ditempa, tidak mudah berkarat, dapat diregangkan, dan sukar dicairkan.
Platina terbentuk akibat konsentrasi magma pada batuan beku basa. Platina
banyak digunakan untuk perhiasan, alat kedokteran dan peralatan telekomunikasi.
Di Indonesia, bijih platina ditemukan di Riau (Bengkalis) dan Kalimantan Selatan
(Martapura).
d. Intan
Intan merupakan satu-satunya jenis batu permata yang hanya memiliki
satu unsur yaitu karbon. Intan terbentuk jauh di dalam bumi sekitar 95 km atau
lebih dengan suhu 1500 2000 derajat celcius. Intan muncul ke permukaan bumi
akibat proses tektonik berupa pengangkatan lapisan bumi. Di Indonesia, intan
banyak terdapat pada endapan aluvial. Intan Indonesia sangat terkenal keras dan
paling berat di dunia.
e. Belerang
Belerang adalah mineral yang dihasilkan oleh proses vulkanisme.
Belerang banyak digunakan untuk industri pupuk, kertas, cat, plastik, bahan
sintesis, pengolahan minyak bumi, industri karet dan ban, industri gula pasir,
accu, industri logam, dan besi baja.
f. Besi
Besi merupakan logam yang paling banyak di lapisan litosfer setelah
alumunium. Besi digunakan untuk alat pertanian, industri, mesin dan bahan
bangunan. Bijih besi banyak terdapat di daerah sedimentasi dan magmatik. Di
Indonesia persebarannya antara lain yaitu di Aceh (Krueng Rigaih), Sumatera
Utara (Nias), Sumatera Barat (Gunung Besi, Paninggahan, dan Sungai Lasi) dsb.
g. Tembaga
Tembaga merupakan bahan tambang yang terbentuk dari larutan
hydrothermal. Tembaga jika digabungkan dengan besi menjadi perunggu. Logam
tembaga banyak digunakan dalam industri peralatan listrik. Kawat tembaga dan
paduan tembaga digunakan dalam pembuatan motor listrik, generator, kabel
transmisi, instalasi listrik rumah dan industri, kendaraan bermotor, konduktor
listrik, kabel dan tabung coaxial, tabung microwave, kalar, rektifier transistor, dan
bidang telekomunikasi. Potensi tembaga terbesar yang dimiliki Indonesia terdapat
di Papua. Potensi lainnya menyebar di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi
Selatan.
h. Bauksit
Bauksit merupakan jenis mineral alumunium hidroksida. Bauksit terjadi
karena proses pelapukan batuan granit. Ciri dari bauksit yaitu sangat lunak, relatif
ringan, memiliki warna putih kekuningan. Bauksit digunakan sebagai bahan
utama pembuatan alumunium, dan bahan dasar industri kimia. Di Indonesia
bauksit ditemukan di Kepulauan Riau (Bintan), Kalimantan Barat, dan Bangka
Belitung.
3. Barang Tambang Golongan C
Barang tambang golongan C disebut juga bahan galian industri yang biasa
dikelola oleh masyarakat. Bahan galian industri sangat potensial dikembangkan
karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti peralatan rumah tangga,
bahan bangunan, obat, kosmetik, barang pecah belah, dan media seni. Bahan
galian industri yang banyak terdapat di Indonesia antara lain pasir vulkanik, batu
andesit dan basalt, obsidian, batu granit, marmer, kaolin, fosfat, gypsum, mangan,
dan zeolit.
B. Limbah Pertambangan
Limbah merupakan suatu bahan yang dihasilkan oleh suatu proses yang
tidak dapat digunakan lagi dalam bentuk sampah liar dari suatu lingkungan yang
terdiri dari air yang dipergunakan hampir 0.4% padatannya berupa benda-benda-
benda padat terdiri dari zat-zat organik dan anorganik, termasuk partikel-partikel
besar dan kecil dari benda padat. Sisa-sisa bahan larutan dalam keadaaan terapung
dalam bentuk koloid dan setengah koloid (Mahida;1992 dan Endang;
1990 dalam Hartati; 2004). Berikut beberapa jenis limbah yang dihasilkan
pertambangan:
a. Limbah Tailing Tambang

Gambar 1. Limbah Tailing Tambang


Limbah tailing adalah limbah hasil proses penambangan yang berbentuk
lumpur kental dan pekat, serta dapat pula berupa cairan. Banyak pertambangan di
dunia bermasalah dengan tailing mereka. Penyebabnya adalah kandungan logam
berat yang tersimpan di perut bumi, ikut terangkat bersama limbah tailing saat
dibuang dan juga adanya penambahan bahan kimia. Dalam penambangan emas,
perak, dan tembaga, tailing dihasilkan oleh proses penggerusan atau pemisahaan
mineral (emas, perak tembaga) dari batuan biji. Batuan biji (ore) dalam jumlah
besar dihancurkan hingga mineral yang diinginkan mudah tertangkap. Sekitar 2%
sampai 5 % mineral yang diinginkan terdapat dalam batuan biji yang digerus.
Sisanya menjadi tailing dan dibuang sebagai limbah. Dalam proses inilah logam-
logam berat dan senyawa kimia ikut terbuang ke alam.
b. Limbah pertambangan batu bara
Limbah batu bara biasanya tercemar asam sulfat dan senyawa besi, yang
dapat mengalir ke luar daerah pertambangan. Air yang mengandung kedua
senyawa ini dapat berubah menjadi asam. Bila air yang bersifat asam ini melewati
daerah batuan karang/ kapur, maka akan melarutkan senyawa Ca dan Mg dari
batuan tersebut. Selanjutnya senyawa Ca dan Mg yang larut terbawa air akan
memberi efek terjadinya air sadah, yang tidak bisa digunakan untuk mencuci
karena sabun tidak bisa berbuih. Bila dipaksakan akan memboroskan sabun,
karena sabun tidak akan berbuih sebelum semua ion Ca dan Mg mengendap.
Limbah pertambangan yang bersifat asam bisa menyebabkan korosi dan
melarutkan logam-logam sehingga air yang tercemar bersifat racun dan dapat
memusnahkan kehidupan akuatik.
c. Limbah Pertambangan Emas

Gambar 2. Limbah Air Raksa Tambang Emas


Pertambangan emas menghasilkan limbah yang mengandung merkuri,
yang banyak digunakan penambang emas tradisional atau penambang emas tanpa
izin, untuk memproses bijih emas. Para penambang ini umumnya kurang
mempedulikan dampak limbah yang mengandung merkuri karena kurangnya
pengetahuan yang dimiliki. Biasanya mereka membuang dan mengalirkan limbah
bekas proses pengolahan pengolahan ke selokan, parit, kolam atau sungai.
Merkuri tersebut selanjutnya berubah menjadi metil merkuri karena proses
alamiah. Bila senyawa metil merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui
media air, akan menyebabkan keracunan seperti yang dialami para korban Tragedi
Minamata.
C. Bahaya Keberadaan Limbah Tambang Bagi Lingkungan
Masalah utama yang timbul pada wilayah bekas tambang adalah
perubahan lingkungan. Perubahan kimiawi berdampak pada air tanah dan air
permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan. Lebih
jauh lagi adalah perubahan iklim mikro yang disebabkan perubahan kecepatan
angin, gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, serta penurunan
produktivitas tanah dengan akibat menjadi tandus atau gundul. Kegiatan
pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan sangat rumit, sarat
risiko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang, melibatkan teknologi tinggi,
padat modal, dan aturan regulasi yang dikeluarkan dari beberapa sektor. Selain
itu, kegiatan pertambangan mempunyai daya ubah lingkungan yang besar,
sehingga memerlukan perencanaan total yang matang sejak tahap awal sampai
pasca tambang. Pada saat membuka tambang, sudah harus difahami bagaimana
menutup tambang. Rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat progresif, sesuai
rencana tata guna lahan pasca tambang (Suprapto, 2008).
Dampak nyata dari kegiatan pertambangan akan menyebabkan terjadinya
pencemaran baik udara, air, dan tanah. Hal ini adalah sangat mengganggu, dimana
setiap kegiatan manusia berdasarkan ketiga unsur ini. Jika terjadi penurunan
kualitas dari ketiga unsur ini, setiap kegiatan manusia akan memberikan suatu
kondisi yang tidak diinginkan atau berdampak buruk. Salah satu contoh nyatanya
adalah dengan hilangnya kesuburan tanah akibat pertambangan, maka hasil
pertanian yang didapatkan tidak memuaskan dan bisa menyebabkan kerugian bagi
petani.
Keberadaan tambang sering kali menimbulkan kerusakan yang cukup
parah bagi lingkungan sekitar, misalnya lubang besar terbengkalai bekas PT
Timah di daerah Bangka Belitung. Hal ini merupakan bentuk nyata adanya
dampak pertambangan dari aspek keberlangsungan lingkungan. Kegiatan
pertambangan seringkali mengancam sumber daya air, kesuburan tanah dan biota-
biota yang melindungi manusia dari bencana. Banyak sekali kerusakan yang
dibuat maupun ditinggalkan oleh kegiatan pertambangan. Di berbagai daerah
banyak terdapat lobang-lobang bekas pertambangan yang bisa mengakibatkan
kematian bagi anak atau orang yang tercebur didalamnya. Lobang-lobang tersebut
saat musim hujan tergenang air dan bisa menjadi tempat bersarangnya nyamuk
dan mengakibatkan munculnya banyak kasus demam berdarah dan malaria
maupun penyakit lainnya yang ditularkan oleh nyamuk. Selain itu, kolam-kolam
yang terbentuk karena lobang tambang tersebut juga menyimpan kandungan
logam berat berbahaya bagi makhluk hidup. Logam berat yang tersimpan di perut
bumi muncul ke permukaan salah satunya disebabkan oleh aktivitas
penambangan.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, sejak pertambangan batubara mulai
beroperasi, bencana banjir menjadi ancaman yang buruk bagi Samarinda. Belasan
hektar lahan persawahan rusak parah, karena sumber air bagi sawah penduduk
tercemar limbah pertambangan batubara. Jika hujan deras mengguyur lebih dari
dua jam, beberapa titik di Samarinda menjadi kolam raksasa. Di Kabupaten
Sumbawa Barat, NTB, dimana PT. Newmont melakukan operasi
pertambangannya, limbah-limbah hasil pengolahan pertambangan langsung
dibuang ke danau dan sungai.
Gambar 3. Air limbah PT. Newmont yang dibuang ke tanah dan langsung
mengalir ke Sungai Tongo Sejorong. Sumber: Jatam dalam www.mongabay.co.id

Gambar 4. Bekas galian batubara yang menganga seperti danau di Kalteng.


Sumber: Walhi Kalteng dalam www.mongabay.co.id
D. Bahaya Limbah Tambang Tambang Bagi Mahkluk Hidup
Beberapa kasus mengenai dampak negatif dari limbah yang ditimbulkan
oleh pertambangan yaitu keracunan logam berat seperti merkuri atau air raksa
pernah terjadi di Minamata Jepang namun pernah pula terjadi di Indonesia pada
tahun 2004 yaitu tragedi Teluk Buyat dimana penduduk di daerah tersebut
menderita banyak benjolan di tubuhnya yang disinyalir sebagai akibat dari limbah
merkuri dan logam berat lainnya. Benjolan ini bukan hanya diderita masyarakat
tapi juga ikan-ikan karang yang ada di sekitar Teluk. Masyarakat menanggung
external cost yang diakibatkan oleh perusahaan yang membuang limbahnya ke
laut.

Gambar 5. Dampak Limbah Pertambangan bagi manusia


E. Reklamasi Lahan Bekas Tambang Dan Aspek Konservasi Bahan Galian
Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan,
sehingga menyebabkan penurunan mutu lingkungan, berupa kerusakan ekosistem
yang selanjutnya mengancam dan membahayakan kelangsungan hidup manusia
itu sendiri. Kegiatan seperti pembukaan hutan, penambangan, pembukaan lahan
pertanian dan pemukiman. Akibat yang ditimbulkan antara lain kondisi fisik,
kimia dan biologis tanah menjadi buruk, seperti contohnya lapisan tanah tidak
berprofil, terjadi bulk density (pemadatan), kekurangan unsur hara yang penting,
pH rendah, pencemaran oleh logam-logam berat pada lahan bekas tambang, serta
penurunan populasi mikroba tanah. Untuk itu diperlukan adanya suatu kegiatan
sebagai upaya pelestarian lingkungan agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.
Upaya tersebut dapat ditempuh dengan cara merehabilitasi ekosistem yang rusak.
Dengan rehabilitasi tersebut diharapkan akan mampu memperbaiki ekosistem
yang rusak sehingga dapat pulih, mendekati atau bahkan lebih baik dibandingkan
kondisi semula (Rahmawaty, 2002).
Tahapan kegiatan perencanaan tambang meliputi penaksiran sumberdaya
dan cadangan, perancangan batas penambangan (final/ultimate pit limit),
pentahapan tambang, penjadwalan produksi tambang, perancangan tempat
penimbunan (waste dump design), perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja,
perhitungan biaya modal dan biaya operasi, evaluasi finansial, analisis dampak
lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility)
termasuk pengembangan masyarakat (Community Development) serta Penutupan
tambang. Perencanaan tambang, sejak awal sudah melakukan upaya yang
sistematis untuk mengantisipasi perlindungan lingkungan dan pengembangan
pegawai dan masyarakat sekitar tambang (Arif, 2007).
Kegiatan pertambangan pada umumnya memiliki tahap-tahap kegiatan
sebagai berikut :
Eksplorasi
Ekstraksi dan pembuangan limbah batuan
Pengolahan bijih dan operasional pabrik pengolahan
Penampungan tailing, pengolahan dan pembuangannya
Pembangunan infrastuktur, jalan akses dan sumber energi
Pembangunan kamp kerja dan kawasan pemukiman
Pengaruh pertambangan pada aspek lingkungan terutama berasal dari
tahapan ekstraksi dan pembuangan limbah batuan, dan pengolahan bijih serta
operasional pabrik pengolahan (Suprapto, 2008).
Salah satu kegiatan pengakhiran tambang, yaitu reklamasi yang
merupakan upaya penataan kembali daerah bekas tambang agar bisa menjadi
daerah bermanfaat dan berdayaguna. Reklamasi tidak berarti akan mengembalikan
seratus persen sama dengan kondisi rona awal. Sebuah lahan atau gunung yang
dikupas untuk diambil isinya hingga kedalaman ratusan meter bahkan sampai
seribu meter, walaupun sistem gali timbun (back filling) diterapkan tetap akan
meninggalkan lubang besar seperti danau (Herlina, 2004).
Pada prinsipnya kawasan atau sumberdaya alam yang dipengaruhi oleh
kegiatan pertambangan harus dikembalikan ke kondisi yang aman dan produktif
melalui rehabilitasi. Kondisi akhir rehabilitasi dapat diarahkan untuk mencapai
kondisi seperti sebelum ditambang atau kondisi lain yang telah disepakati.
Kegiatan rehabilitasi dilakukan merupakan kegiatan yang terus menerus dan
berlanjut sepanjang umur pertambangan sampai pasca tambang. Tujuan jangka
pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam (landscape) yang stabil
terhadap erosi. Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk mengembalikan lokasi
tambang ke kondisi yang memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan
produktif. Bentuk lahan produktif yang akan dicapai menyesuaiakan dengan
tataguna lahan pasca tambang. Penentuan tata guna lahan pasca tambang sangat
tergantung pada berbagai faktor antara lain potensi ekologis lokasi tambang dan
keinginan masyarakat serta pemerintah. Bekas lokasi tambang yang telah
direhabilitasi harus dipertahankan agar tetap terintegrasi dengan ekosistem
bentang alam sekitarnya. Teknik rehabilitasi meliputi regarding, reconturing, dan
penaman kembali permukaan tanah yang tergradasi, penampungan dan
pengelolaan racun dan air asam tambang (AAT) dengan menggunakan
penghalang fisik maupun tumbuhan untuk mencegah erosi atau terbentuknya
AAT. Permasalahan yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan rencana
reklamasi meliputi :
Pengisian kembali bekas tambang, penebaran tanah pucuk dan penataan
kembali lahan bekas tambang serta penataan lahan bagi pertambangan yang
kegiatannya tidak dilakukan pengisian kembali.
Stabilitas jangka panjang, penampungan tailing, kestabilan lereng dan
permukaan timbunan, pengendalian erosi dan pengelolaan air.
Keamanan tambang terbuka, longsoran, pengelolaan B3 dan bahaya radiasi.
Karakteristik fisik kandungan bahan nutrient dan sifat beracun tailing atau
limbah batuan yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan revegetasi.
Pencegahan dan penanggulangan air asam tambang, potensi terjadinya AAT
dari bukaan tambang yang terlantar, pengelolaan tailing dan timbunan limbah
batuan (sebagai akibat oksidasi sulfida yang terdapat dalam bijih atau limbah
batuan).
Penanganan potensi timbulnya gas metan dan emisinya dari tambang batubara
(Karliansyah, 2001).
Sulfida logam yang masih terkandung pada tailing atau waste merupakan
pengotor yang potensial akan menjadi bahan toksik dan penghasil air asam
tambang yang akan mencemari lingkungan, pemanfaatan sulfida logam
tersebut merupakan salah satu alternatif penanganan.
a. Rekonstruksi Tanah
Untuk mencapai tujuan restorasi perlu dilakukan upaya seperti rekonstruksi
lahan dan pengelolaan tanah pucuk. Pada kegiatan ini, lahan yang masih belum
rata harus terlebih dahulu ditata dengan penimbunan kembali (back filling) dengan
memperhatikan jenis dan asal bahan urugan, ketebalan, dan ada tidaknya sistem
aliran air (drainase) yang kemungkinan terganggu. Pengembalian bahan galian ke
asalnya diupayakan mendekati keadaan aslinya. Ketebalan penutupan tanah (sub-
soil) berkisar 70-120 cm yang dilanjutkan dengan re-distribusi tanah pucuk.
Lereng dari bekas tambang dibuat bentuk teras, selain untuk menjaga kestabilan
lereng, diperuntukan juga bagi penempatan tanaman revegetasi.
b. Revegetasi
Perbaikan kondisi tanah meliputi perbaikan ruang tubuh, pemberian tanah
pucuk dan bahan organik serta pemupukan dasar dan pemberian kapur. Kendala
yang dijumpai dalam merestorasi lahan bekas tambang yaitu masalah fisik, kimia
(nutrients dan toxicity), dan biologi. Masalah fisik tanah mencakup tekstur dan
struktur tanah. Masalah kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah (pH),
kekurangan unsur hara, dan mineral toxicity. Untuk mengatasi pH yang rendah
dapat dilakukan dengan cara penambahan kapur. Sedangkan kendala biologi
seperti tidak adanya penutupan vegetasi dan tidak adanya mikroorganisme
potensial dapat diatasi dengan perbaikan kondisi tanah, pemilihan jenis pohon,
dan pemanfaatan mikroriza.
Secara ekologi, spesies tanaman lokal dapat beradaptasi dengan iklim
setempat tetapi tidak untuk kondisi tanah. Untuk itu diperlukan pemilihan spesies
yang cocok dengan kondisi setempat, terutama untuk jenis-jenis yang cepat
tumbuh, misalnya sengon, yang telah terbukti adaptif untuk tambang. Dengan
dilakukannya penanaman sengon minimal dapat mengubah iklim mikro pada
lahan bekas tambang tersebut. Untuk menunjang keberhasilan dalam merestorasi
lahan bekas tambang, maka dilakukan langkah-langkah seperti perbaikan lahan
pra-tanam, pemilihan spesies yang cocok, dan penggunaan pupuk.
Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman pada lahan
bekas tambang, dapat ditentukan dari persentasi daya tumbuhnya, persentasi
penutupan tajuknya, pertumbuhannya, perkembangan akarnya, penambahan
spesies pada lahan tersebut, peningkatan humus, pengurangan erosi, dan fungsi
sebagai filter alam. Dengan cara tersebut, maka dapat diketahui sejauh mana
tingkat keberhasilan yang dicapai dalam merestorasi lahan bekas tambang
(Rahmawaty, 2002).
c. Penanganan Potensi Air Asam Tambang
Pembentukan air asam cenderung intensif terjadi pada daerah
penambangan, hal ini dapat dicegah dengan menghindari terpaparnya bahan
mengandung sulfida pada udara bebas. Secara kimia kecepatan pembentukan
asam tergantung pada pH, suhu, kadar oksigen udara dan air, kejenuhan air,
aktifitas kimia Fe3+, dan luas permukaan dari mineral sulfida yang terpapar pada
udara. Sementara kondisi fisika yang mempengaruhi kecepatan pembentukan
asam, yaitu cuaca, permeabilitas dari batuan, pori-pori batuan, tekanan air pori,
dan kondisi hidrologi. Penanganan air asam tambang dapat dilakukan dengan
mencegah pembentukannya dan menetralisir air asam yang tidak terhindarkan
terbentuk.
Pencegahan pembentukan air asam tambang dengan melokalisir sebaran
mineral sulfida sebagai bahan potensial pembentuk air asam dan menghindarkan
agar tidak terpapar pada udara bebas. Sebaran sulfida ditutup dengan bahan
impermeable antara lain lempung, serta dihindari terjadinya proses pelarutan, baik
oleh air permukaan maupun air tanah. Produksi air asam sulit untuk dihentikan
sama sekali, akan tetapi dapat ditangani untuk mencegah dampak negatif terhadap
lingkungan. Air asam diolah pada instalasi pengolah untuk menghasilkan keluaran
air yang aman untuk dibuang ke dalam badan air. Penanganan dapat dilakukan
juga dengan bahan penetral, umumnya menggunakan batugamping, yaitu air asam
dialirkan melewati bahan penetral untuk menurunkan tingkat keasaman (Suprapto,
2006).
d. Pengaturan Drainase
Pada lingkungan pasca tambang dikelola secara seksama untuk
menghindari efek pelarutan sulfida logam dan bencana banjir yang sangat
berbahaya, dapat menyebabkan rusak atau jebolnya bendungan penampung tailing
serta infrastruktur lainnya. Kapasitas drainase harus memperhitungkan iklim
dalam jangka panjang, curah hujan maksimum, serta banjir besar yang biasa
terjadi dalam kurun waktu tertentu baik periode waktu jangka panjang maupun
pendek. Arah aliran yang tidak terhindarkan harus meleweti zona mengandung
sulfida logam, perlu pelapisan pada badan alur drainase menggunakan bahan
impermeabel. Hal ini untuk menghindarkan pelarutan sulfida logam yang
potensial menghasilkan air asam tambang.
e. Tata guna Lahan Pasca Tambang
Lahan bekas tambang tidak selalu dikembalikan ke peruntukan semula. Hal
ini tergantung pada penetapan tata guna lahan wilayah tersebut. Perkembangan
suatu wilayah menghendaki ketersediaan lahan baru yang dapat dipergunakan
untuk pengembangan pemukiman atau kota.
Reklamasi lahan bekas tambang bauksit untuk pemukiman dan
pengembangan kota, Tanjungpinang, Bintan (Rohmana dkk., 2007). Pemilihan
spesies untuk revegetasi terkait juga tataguna lahan pasca tambang.
Perkembangan harga minyak bumi akhir-akhir ini, memberikan peluang untuk
pengembangan bio-energi, diantaranya dengan pengembangan tanaman jarak
pagar untuk menghasilkan minyak. Sebagian lahan bekas tambang telah
dicanangkan untuk program pengembangan bio-energi tersebut. Kelebihan jarak
pagar adalah selain mampu mereklamasi bekas lahan tambang dalam waktu
singkat, tanaman ini juga menghasilkan sumber energi terbarukan biodisel
(Soesilo, 2007 dalam Ridwan, 2007).
Daftar Pustaka

Arif, I. 2007. Perencanaan Tambang Total Sebagai Upaya Penyelesaian


Persoalan Lingkungan Dunia Pertambangan. Manado: Universitas Sam
Ratulangi.
Herlina, 2004. Melongok Aktivitas Pertambangan Batu Bara Di Tabalong,
Reklamasi 100 Persen Mustahil. Banjarmasin: Banjarmasin Post.
Karliansyah, M.R., 2001. Aspek Lingkungan Dalam AMDAL Bidang
Pertambangan. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Penerapan AMDAL.
Rahmawaty, 2002. Restorasi Lahan Bekas Tambang berdasarkan Kaidah
Ekologi. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Ridwan, M., 2007. Tanaman Jarak di Bekas Tambang Batu Bara. Harian Umum
Sore Sinar Harapan.
Rohmana, Djunaedi, E.K., dan Pohan, M.P., 2007. Inventarisasi Bahan Galian
Pada Bekas Tambang di Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau.
Bandung: Pusat Sumber Daya Geologi.
Suprapto, S.J., 2008. Reklamasi Lahan Bekas Tambang Dan Aspek Konservasi
Bahan Galian. Buletin Sumber Daya Geologi. Vol. 1 No. 2.