Anda di halaman 1dari 18

Good Corporate Governance

Good Corporate Governance Di Dunia, Asia dan Indonesia

[SAP 4]

OLEH:

Kelompok 3

Ida Bagus Komang Wiryadana (1415351129)

Ni Luh Putu Sinta Ratna Dewi (1415351148)

Agus Krisna Saputra (1415351198)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2017
A. GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI DUNIA
1. Pemicu Timbulnya Good Corporate Governance di Dunia
Pada awal dekade 2000an dunia dikejutkan oleh tumbangnya perusahaan
perusahaan raksasa terkemuka di berbagai negara industri maju termasuk Amerika
Serikat, Inggris, Itali, Australia, Singapura, dan Hongkong. Regulator pemerintah
tiap negara dan pakar manajemen memberikan kesimpulan bahwa penyebab
utama tumbangnya perusahaan perusahaan besar tersebut adalah karena lemahnya
penerapan prinsip prinsip good corporate governance mereka.
Kelemahan corporate governance tersebut antara lain ditandai oleh berbagai
macam hal, diantaranya yaitu :
1. Renggangnya hubungan antara para pemegang saham dengan manajemen
perusahaan.
2. Lemahnya peranan dewan pengurus dalam mengarahkan dan mengendalikan
kebijaksanaan dan pengelolaan harta, utang, dan operasi bisnis perusahaan.
3. Semakin bebasnya manajemen perusahaan mengelola dan mengambil
keputusan keputusan penting yang bersangkutan dengan kelangsungan hidup
perusahaan.
4. Tidak transparan, akurat, dan tepat waktunya penyampaian laporan
perkembangan bisnis dan laporan keuangan oleh manajemen perusahaan
kepada para pemegang saham dan kreditur.
5. Dalam banyak kasus auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan
tidak bekerja di bawah pengawasan langsung dari komite audit
Kelemahan - kelemahan corporate governance itulah yang memberikan
peluang dewan pengurus dan manajemen perusahaan yang memiliki moral dan
etika bisnis yang buruk mengelola perusahaan demi kepentingan pribadi atau
golongan mereka bukan demi kepentingan perusahaan. Dalam melakukan
penyalah gunaan jabatan tersebut tidak sedikit manajemen perusahaan berkolusi
dengan institusi profesi papan atas seperti penasehat hukum, perusahaan
konsultan, dan perusahaan akuntan publik.
Skandal bisnis perusahaan perusahaan raksasa dunia tersebut telah
melukai kehidupan ekonomi banyak negara. Dampak negatif skandal tersebut
antara lain adalah menurunnya kepercayaan investor untuk menanamkan dananya
dalam perdagangan surat berharga. Selain itu bank dan lembaga keuangan non
bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit mereka. Sejak terjadinya skandal

1
bisnis tersebut diatas para investor surat berharga dan bank - bank kreditur sadar
bahwa hak dan kepentingan mereka di perusahaan dimana mereka menanamkan
dananya tidak sepenuhnya terlindungi.
2. Reaksi Dunia Internasional
Kejatuhan perusahaan raksasa multinasional pada awal tahun 2000an
menyadarkan masyarakat bisnis dan pemerintah bahwa corporate governance di
negara mereka perlu di reformasi. Dua negara yang paling serius menangani
imbas skandal perusahaan perusahaan publik di dunia itu adalah Inggris dan
Amerika Serikat. Hal itu disebabkan karena pasar modal di kedua negara itu
merupakan motor perkembangan ekonomi mereka.
Reaksi pemerintahan kerajaan Inggris terhadap skandal yang terjadi di
perusahaan perusahaan serta kejatuhan perusahaan publik adalah :
1. Pemerintah Inggris mengeluarkan pendapat tentang reformasi persyaratan
perusahaan publik. Pendapat tersebut dituangkan dalam sebuah makalah yang
berjudul Modernizing Company Law. Selain itu regulator keuangan Inggris
The Financial Service Authority (FSA) menerbitkan pedoman tentang
penyusunan laporan keuangan perusahaan public, dimana mereka diharuskan
untuk mengungkapkan secara transparan semua transaksi bisnis yang
dilakukan.
2. Pemerintah Inggris membentuk komite komite corporate governance.
Komite tersebut menyusun laporan laporan yang memuat pendapat dan saran
bagaimana cara memperbaharui peraturan tentang corporate governance dan
nantinya perusahaan perusahaan harus mematuhi saran saran yang
diajukan komite tersebut.

Reaksi Amerika Serikat terhadap skandal yang terjadi di perusahaan


perusahaan serta kerjatuhan perusahaan publik adalah :

1. Pemerintah Amerika Serikat mengundangkan undang undang tentang


reformasi corporate governance yang disebut Sarbanes Oxley Act yang
memuat tentang ketentuan ketentuan baru yang tegas tentang perlindungan
hak dan kepentingan pemegang saham dan karyawan perusahaan publik.
Selain itu Sarbanes Oxley Act menentukan bahwa anggota dewan pengurus
wajib menguasai dasar dasar ilmu manajemen keuangan.

2
2. Sarbanes Oxley Act mewajibkan perusahaan melakukan pengungkapan
laporan keuangan secara transparan serta diwajibkan untuk menggunakan
auditor independen dan menerapkan standar auditing yang ditetapkan US
Public Accounting Oversight Board (PCAOB).

Reaksi Australia terhadap skandal yang terjadi di perusahaan perusahaan


serta kerjatuhan perusahaan publik adalah :

1. Pemerintah Australia menerbitkan pedoman good corporate governance bagi


perusahaan perusahaan publik serta memperbaharui undang undang
tentang perusahaan Australia.
2. Pemerintah Australia menyusun program untuk meninjau kembali regulasi
audit dan pengungkapan informasi perusahaan yang disebut Corporate Law
Economic Reform Program (CLERP). Program tersebut juga mengaktifkan
partisipasi pemegang saham dalam meningkatkan akuntabilitas dan
transparansi perusahaan perusahaan public.
3. Perkembangan Good Corporate Governance
Corporate governance sudah bukan merupakan pilihan lagi bagi pelaku
bisnis, tetapi sudah merupakan suatu keharusan dan kebutuhan vital serta sudah
merupakan tuntutan masyarakat. Setiap tindakan memerlukan
pertanggungjawaban yang baik. Penerapan GCG didukung oleh Organisation for
Economic Cooperation and Development dengan penerbitan prinsip prinsip GCG
yang bertujuan untuk membantu negara-negara baik negara anggota OECD
maupun bukan anggota OECD untuk menerapkan GCG di negaranya terutama
untuk dapat menyediakan pedoman dan saran-saran bagi bursa saham, investor,
perusahaan, dan pihak-pihak lain yang memiliki peranan dalam proses
pengembangan GCG.

B. GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI ASIA


Good Corporate Governance menjadi penting untuk Asia dalam beberapa tahun
terakhir dengan sebagian besar pasar telah memperkenalkan peraturan yang
komprehensif. Regulator perusahaan dan investor memiliki peran penting dalam Good
Corporate Governance.Meskipun masih ada beberapa kekurangan dalam kerangka
peraturan di banyak negara di kawasan Asia ini yang berfungsi untuk melumpuhkan
manfaat apa yang telah dicapai.Meskipun ada perusahaan yang sadar melebihi standar

3
tata kelola juga ada bukti yang jelas bahwa pendekatan terhadap masalah pemerintahan
oleh banyak perusahaan di Asia berjumlah lebih sedikit. Hal ini menunjukkan hubungan
yang kuat antara praktik Good Corporate Governanceyang baik dan keuntungan
finansial.
1. Pedoman Good Corporate Governance Di Malaysia
Pedoman Good Corporate Governance (The Malaysian Code on Corporate
Governance) ini diterbitkan oleh Bursa Efek Malaysia dan kewajiban untuk
melaksanakan Pedoman ini diatur dalam peraturan tentang pencatatan efek di bursa
efek tersebut. Pedoman ini diterbitkan pada tahun 2007 dan merupakan revisi atas
pedoman yang diterbitkansebelumnya.
a. Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bagi perusahaan bersifat
complyand explain. Dengan demikian tidak ada sanksi apabila perusahaan tidak
menerapkanseluruh aspek dalam Pedoman tersebut.Bagi perusahaan yang tercatat
di bursa efekMalaysia, prinsip prinsip Good Corporate Governance dan praktik-
praktik terbaik yangtelah diterapkan perusahaan wajib diungkapkan dalam laporan
tahunan. Perusahaanjuga wajib mengidentifikasi prinsip dan praktik terbaik yang
tidak dilaksanakan disertaialasan atas ketidakpatuhan tersebut. Apabila
perusahaan mengadopsi praktek tatakelola negara lain, hal ini juga harus
diungkapkan.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and explains
sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan seluruh
aspekdalam Pedoman Good Corporate Governance. Namun terdapat kewajiban
untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman tersebut dalam laporan tahunan.
Dengandemikian bagi perusahaan yang tercatat atau akan mencatatkan sahamnya
di bursatidak mengungkapkan dalam laporan tahunannya terkait dengan
penerapan tata kelola,Bursa Malaysia dapat mengambil tindakan terhadap
perusahaan atau direksisebagaimana tercantum dalam Persyaratan Listing di Bursa
Malaysia.

4
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Pedoman Good Corporate Governanc terdiri dari tiga bagian yaitu :
a) Bagian 1 :
Memuat prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang luas yang
berlaku di Malaysia. Tujuan dari prinsip-prinsip ini adalah untuk
memungkinkan fleksibilitas perusahaan dalam menerapkan prinsip-
prinsip sesuai dengan keadaan masingmasing perusahaan.
b) Bagian 2 :
Menetapkan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan.
Mengidentifikasi seperangkat pedoman atau praktek yang dimaksudkan
untuk membantu perusahaan dalam merancang pendekatan mereka
terhadap tata kelola perusahaan yang baik bagi perusahaannya.
c) Bagian 3 :
Dorongan atau himbauan bagi pihak-pihak selain tersebut di atas yang
bersifat sukarela. Hal ini tidak ditujukan kepada perusahaan yang
terdaftar tetapi untuk investor dan auditor untuk meningkatkan peran
mereka dalam tata kelola perusahaan. Adapun ruang lingkup dari
Pedoman Good Corporate Governance tersebut adalah :
The Board Structure, Duties and Effectiveness
The Audit Committee and its Challenges
Assessing the Risk and Control Environment
Effective Oversight of Financial Reporting
Internal and External Audit: Eyes And Ears of Audit Committee
Conflict of Interest and Related Party Transactions
Nominating Committee
Remuneration Committee
Shareholder Relations

2. Pedoman Good Corporate Governance Di Singapura


a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and
explain. Selanjutnya berdasarkan ketentuan pencatatan efek di Bursa efek
Singapore mengharuskan perusahaan tercatat untuk mengungkapkan praktik tata

5
kelola mereka dalam laporan tahunan dengan referensi khusus kepada prinsip-
prinsip yang terdapat dalam Pedoman. Perusahaan juga wajib mengungkapkan
dan menjelaskan setiap perbedaan pelaksanaannya dari Pedoman tersebut.
Perusahaan juga didorong untuk melakukan konfirmasi positif tentang pemenuhan
prinsip-prinsip tata kelola dan mengungkapkan setiap ketidak patuhan terhadap
prinsip-prinsip tersebut dalam laporan tahunan perusahaan.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat
voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan
untuk tidak menerapkannya.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Ruang lingkung Tata Kelola perusahaan
a) Board Matters
b) Remuneration Matters
c) Accountability and Audit
d) Communication with Shareholders
e) Disclosure of Corporate Governance Arrangements

3. Pedoman Good Corporate Governance Di Thailand


a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Thailand bersifat
Comply or Explain . Oleh karena itu, Stock Exchange of Thailand (SET)
mengharapkan perusahaan untuk mengikuti Pedoman Good Corporate
Governance tersebut. Selain itu, perusahaan dapat mengadaptasi prinsip-prinsip
Good Corporate Governance sesuai kebutuhan fungsional tiap perusahaan. Bagi
perusahaan yang memilih untuk tidak mematuhi prinsip Good Corporate
Governance, diharuskan menjelaskan secara rinci alasan untuk tidak
menerapkannya.Perusahaan Tercatat telah diminta untuk mulai mengungkapkan
pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada tahun 2007 pada
Laporan Tahunan perusahaan. Selain itu, perusahaan yang terdaftar harus
mengungkapkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik
(Good Corporate Governance) melalui media komunikasi yang yang paling
nyaman bagi Perusahaan, pemegang saham, investor, stakeholder lainnya dan

6
pihak-pihak terkait. Salah satu saluran yang disarankan adalah situs web
perusahaan.

b. Sanksi atas ketidakpatuhan


Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat
voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan
untuk tidak menerapkannya.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Prinsip-prinsip dan praktek-praktek terbaikGood Corporate Governance
Perusahaantercatat yang direkomendasikan oleh SET (Stock Exchange of
Thailand) mencakup 5 kategori yaitu:
a) Hak Pemegang Saham (Rights of Shareholders)
b) Perlakuan Adil kepada Pemegang Saham (Equitable Treatment of
Shareholders)
c) Peran Pemangku Kepentingan (Role of Stakeholders)
d) Keterbukaan dan Transparansi (Disclosure and Transparency)
e) Tanggung Jawab Dewan Direksi (Responsibilities of the Board)

4. Pedoman Good Corporate Governance Di Philipina


Sesuai dengan kebijakan Negara untuk secara aktif mempromosikan reformasi
tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor,
mengembangkanpasar modal dan membantu mencapai pertumbuhan yang tinggi dan
berkelanjutan untuksector korporasi dan ekonomi, Securities Commission, melalui
Resolusi No.135, Seri 4 April2002, menyetujui berlakunya dan pelaksanaan Pedoman
Good Corporate Governance ini.Pedoman ini berlaku untuk perusahaan efek yang
tercatat atau terdaftar, perusahaanpenerima izin/lisensi dan perusahaan publik.
Pedoman Good Corporate Governance ini jugaberlaku untuk cabang atau anak
perusahaan dari perusahaan asing yang beroperasi diFilipina yang terdaftar.
a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Philipina merupakan suatu
kewajiban. Penegakan hukum atas pelaksanaan Pedoman Good Corporate
Governance tersebut dilakukan oleh Securities and Exchange Commission dan
dapat dikenakan sanksi. Bursa Efek Philipina mewajibkan perusahaan tercatat

7
untuk melaporkan secara periodic mengenai kepatuhan terhadap manual tata
kelola termasuk hal-hal yang belum dapat dipenuhi wajib diungkapkan lengkap
dengan alasannya.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate
Governance
Kegagalan untuk mengadopsi manual tata kelola perusahaan seperti yang
ditentukanuntuk perusahaan, setelah pemberitahuan waktu dan alasan jatuh tempo
dikenakandenda sebesar P100, 000.00.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
a) The Board Governance
b) Supply Information
c) Accountability and Audit
d) Stockholders Rights and Protection of Minority Stockholders Interests
e) Evaluation Systems
f) Disclosure and Transparency
g) Commitment to Corporate Governance
h) Administrative Sanction

C. GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI INDONESIA


Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate
Governance (GCG) kian populer. Tak hanya populer, istilah tersebut juga ditempatkan di
posisi terhormat. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk
tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan
bisnis global. Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini
muncul karena kegagalan penerapan GCG. Pada tahun 1999, kita melihat negara-negara
di Asia Timur yang sama-sama terkena krisis mulai mengalami pemulihan, kecuali
Indonesia. Harus dipahami bahwa kompetisi global bukan kompetisi antarnegara,
melainkan antarkorporat di negara-negara tersebut. Jadi menang atau kalah, menang atau
terpuruk, pulih atau tetap terpuruknya perekonomian satu negara bergantung pada
korporat masing-masing . Pemahaman tersebut membuka wawasan bahwa korporat kita
belum dikelola secara benar. Dalam bahasa khusus, korporat kita belum menjalankan
governansi . Survey dari Booz-Allen di Asia Timur pada tahun 1998 menunjukkan
bahwa Indonesia memiliki indeks corporate governance paling rendah dengan skor 2,88
jauh di bawah Singapura (8,93), Malaysia (7,72) dan Thailand (4,89). Rendahnya

8
kualitas GCG korporasi-korporasi di Indonesia ditengarai menjadi kejatuhan perusahaan-
perusahaan tersebut.
a. Tahap-Tahap Penerapan GCG
Salah satu tujuan utama ditegakannya good corporate governance ialah untuk
menciptakan sistem yang dapat menjaga keseimbangan dalam pengendalian
perusahaan sedemikian rupa sehingga mampu mengurangi peluang terjadinya
kesalahan mengelola (missmanagement), menciptakan insentif bagi manajer untuk
memaksimumkan produktivitas penggunaan aset sehingga menciptakan nilai tambah
perusahaan yang optimal. Dalam pelaksanaan penerapan GCG di perusahaan adalah
penting bagi perusahaan untuk melakukan pentahapan yang cermat berdasarkan
analisis atas situasi dan kondisi perusahaan, dan tingkat kesiapannya, sehingga
penerapan GCG dapat berjalan lancar dan mendapat dukungan dari seluruh unsur di
dalam perusahaan. Beberapa tahapan dalam menerapkan GCG yaitu:
1. Tahap persiapan
Tahap ini terdiri atas tiga langkah utama yaitu:
Awareness Building
Awareness Building merupakan langkah sosialisasi awal untuk membangun
kesadaran mengenai arti pentingnya GCG dan komitmen bersama dalam
penerapannya. Upaya ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan tenaga ahli
independen dari luar perushaan. Kegiatan dapat dilakukan melalui seminar,
lokakarya, dan diskusi kelompok.
GCG Assessment
GCG Assessment merupakan upaya untuk mengukur atau memetakan kondisi
perusahaan dalam penerapan GCG saat ini. Langkah ini perlu guna memastikan
titik awal atau level penerapan GCG dan untuk mengidentifikasi langkah-langkah
yang tepat guna mempersiapkan infrastruktur dan struktur perusahaan yang
kondusif bagi penerapan GCG secara efektif.
GCG Manual Building
GCG Manual Building adalah langkah berikutnya setelah GCG Assessment
dilakukan. Berdasarkan hasil pemetaan tingkat kesiapan untuk kesiapan
perusahaan dan upaya identifikasi prioritas penerapannya, penyusunan manual
atau pedoman implementasi GCG dapat disusun.

9
2. Tahap implementasi
Tahap ini terdiri atas tiga langkah utama yaitu:
Sosialisasi
Sosialisasi diperlukan untuk memperkenalkan kepada seluruh perusahaan
berbagai aspek yang terkait dengan implementasi GCG khususnya mengenai
pedoman penerapan GCG. Upaya sosialisasi perlu dilakukan dengan suatu tim
khusus yang dibentuk untuk itu, langsung berada dibawah pengawasan Direktur
Utama.
Implementasi
Implementasi adalah kegiatan yang dilakukan sejalan dengan pedoman GCG
yang ada, berdasarkan roadmap yang telah disusun. Implementasi harus bersifat
top down approach yang melibatkan Dewan Komisaris dan Direksi perusahaan.
Internalisasi
Internalisasi mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan GCG di dalam
seluruh proses bisnis perusahaan melalui berbagai prosedur operasi, sistem kerja,
dan berbagai peraturan perusahaan. Dengan upaya ini dapat dipastikan bahwa
penerapan GCG bukan sekadar dipermukaan atau sekadar suatu kepatuhan yang
bersifat superficial, tetapi benar-benar tercermin dalam seluruh aktivitas
perusahaan.
3. Tahap evaluasi
Tahap evaluasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara teratur dari waktu ke
waktu untuk mengukur sejauh mana efektifitas penerapan GCG telah dilakukan
dengan meminta pihak independen melakukan audit implementasi dan scoring
atas praktek GCG yang ada. Dalam hal membangun GCG, dan terkait dengan
pengembangan sistem, yang diharapkan akan mempengaruhi perilaku setiap
individu dalam perusahaan yang pada gilirannya akan membentuk kultur
perusahaan yang bernuansa GCG, maka diperlukan langkah-langkah berikut:
1. Menetapkan visi, misi, rencana strategis, tujuan perusahaan, serta system
operasional pencapaiannya secara jelas;
2. Mengembangkan suatu struktur yang menjaga keseimbangan peran dan
fungsi organ perusahaan (check and balance);
3. Membangun sistem informasi, baik untuk keperluan proses pengambilan
keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan
mengenai perusahaan;

10
4. Membangun sistem audit yang handal, yang tak terbatas pada kepatuhan
terhadap peraturan dan prosedur operasi standar, tetapi juga mencakup
pengendalian risiko perusahaan;
5. Membangun sistem yang melindungi hak-hak pemegang saham secara
adil dan setara diantara pemegang saham;
6. Membangun sistem pengembangan SDM, termasuk pengukuran
kinerjanya.

Penerapan GCG di Indonesia

Krisis ekonomi yang menghantam Asia yang terjadi beberapa tahun lalu. ternyata
berdampak luas teutama dalam merontokkan rezim-rezim politik yang berkuasa di Korea
Selatan, Thailand, dan Indonesia. Ketiga Negara yang diawal tahun 1990-an dipandang
sebagai the Asian tiger, harus mengakui bahwa pondasi ekonomi mereka rapuh, yang pada
akhirnya merambah pada krisis politik.

Setelah itu, sejak krisis tersebut melanda, kita sekarang dapat melihat pertumbuhan
kembali Negara-negara yang amat terpukul oleh krisis tersebut. Korea Selatan yang pernah
terjangkit kejahatan financial yang melibatkan para eksekutif puncak perusahaan-perusahaan
blue-chip, kini telah pulih. Perkembangan yang sama juga terlihat dengan Thailand maupun
Negara-negara ASEAN lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia?. Era pascakrisis ditandai dengan goncangan ekonomi


berkelanjutan. Mulai dari restrukturisasi sektor perbankan, pelelangan asset para
konglomerat, yang berakibat pada penurunan iklim berusaha (Bakrie,2003).

Kajian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menunjukkan beberapa
faktor yang memberi kontribusi pada krisis di Indonesia. Pertama, konsentrasi kepemilikan
perusahaan yang tinggi; kedua, tidak efektifnya fungsi pengawasan dewan komisaris, ketiga;
inefisiensi dan rendahnya transparansi mengenai prosedur pengendalian merger dan akuisisi
perusahaan; keempat, terlalu tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal; dan
kelima, ketidak memadainya pengawasan oleh para kreditor.

Tantangan terkini yang dihadapi masih belum dipahaminya secara luas prinsip-prinsip
dan praktek good corporate governance oleh kumunitas bisnis dan publik pada umumnya
(Daniri, 2005). Akhirnya komunitas internasional masih menempatkan Indonesia pada urutan

11
bawah rating implementasi GCG sebagaimana dilakukan oleh Standard & Poor, CLSA,
Pricewaterhouse Coopers, Moody`s Morgan, and Calper`s.

Kajian Pricewaterhouse Coopers yang dimuat di dalam Report on Institutional


investor Survey (2002) menempatkan Indonesia di urutan paling bawah bersama China dan
India dengan nilai 1,96 untuk transparansi dan keterbukaan. Jika dilihat dari ketersediaan
investor untuk memberi premium terhadap harga saham perusahaan publik di Indonesia, hasil
survey tahun 2002 menunjukkan kemajuan dibandingkan hasil survey tahun 2000. Pada tahun
2000 investor bersedia membayar premium 27%, sedang di tahun 2002 hanya bersedia
membayar 25% saja. Hal ini menunjukkan persepsi investor terhadap resiko tidak
dijalankannya GCG, menjadi lebih baik. Secara keseluruhan urutan teratas masih ditempati
oleh Singapura dengan skor 3,62, Malaysia dan Thailand mendapat skor 2,62 dan 2,19.

Laporan tentang GCG oleh CLSA (2003), menempatkan Indonesia di urutan terbawah
dengan skor 1,5 untuk masalah penegakan hukum, 2,5 untuk mekanisme institusional dan
budaya corporategovernance, dan dengan total 3,2. Meskipun skor Indonesia di tahun 2004
lebih baik dibandingkan dengan 2003, kenyataannya, Indonesia masih tetap berada di urutan
terbawah di antara Negara-negara Asia. Faktor-faktor penyebab rendahnya kinerja Indonesia
adalah penegakan hukum dan budaya corporate governance yang masih berada di titik paling
rendah di antara Negara-negara lain yang sedang tumbuh di Asia.

Penilaian yang dilakukan oleh CLSA didasarkanpada faktor eksternal dengan bobot
60% dibandingkan faktor internal yang hanya diberi bobot 40% saja. Fakta ini menunjukkan
bahwa implementasi GCG di Indonesia membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan

12
penegakan yang lebih nyata lagi.

Implementasi GCG

Terdapat tiga arah agenda penerapan GCG di Indonesia (BP BUMN, 1999) yakni,
menetapkan kebijakan nasional, menyempurnaan kerangka nasional dan membangun inisiatif
sektor swasta. Terkait dengan kerangka regulasi, Bapepam bersama dengan self-regulated
organization (SRO) yang didukung oleh Bank Dunia dan ADB telah menghasilkan beberap
proyek GCG seperti JSX Pilot project. Seiring dengan proyek-proyek ini, kementerian
BUMN juga telah mengembangkan kerangka untuk implementasi GCG.
Dalam kaitan dengan peran dan fungsi tersebut, BAPEPAM dapat memastikan bahwa
berbagai peraturan dan ketentuan yang ada, terus menerus disempurnakan, serta berbagai
pelanggaran yang terjadi akan mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.Dalam hal
regulatory framework, untuk mengkaji peraturan perundang-undangan yang terkait engan
korporasi dan program reformasi hukum, pada umumnya terdapat beberapa capaian yang
terkait dengan implementasi GCG seperti diberlakukannya undang-undang tentang Bank
Indonesia di tahun 1998, undang-undang anti korupsi tahun 1999, dan undang-undang
BUMN, serta privatisasi BUMN tahun 2003.
Demikian pula dengan proses amandemen undang-undang perseroan terbatas,
undang-undang pendaftaran perusahaan, serta undang-undang kepailitan yang saat ini masih
sedang dalam proses penyelesaian. Dalam pelaksanaan program reformasi hukum, terdapat
beberapa hal penting yang telah diterapkan, misalnya pembentukan pengadilan niaga yang
dimulai tahun 1997 dan pembentukan badan arbitrasi pasar modal tahun 2001.
Bergulirnya reformasi corporate governance masih menyisakan hal-hal strategis yang
harus dikaji, seperti kesesuaian dan sinkronisasi berbagai peraturan perundangan yang terkait.
Demikian pula yang terkait dengan otonomi daerah, permasalahan yang timbul dalam
kerangka regulasi adalah pemberlakuan undang-undang otonomi daerah yang cenderung
kebablasan tanpa diikuti dengan kesadaran dan pemahaman good governance itu sendiri.
Inisiatif di sektor swasta terlihat pda aktivitas organisasi-organisasi corporate governance
dalam bentuk upaya-upaya sosialisasi, pendidikan, pelatihan, pembuatan rating, penelitian,
dan advokasi. Pendatang baru di antara organisasi-organisasi ini adalah IKAI dan LAPPI.
IKAI adalah asosiasi untuk para anggota komite audit, sedangkan LAPPI (lembaga advokasi,
proxi, dan perlindungan investor) pada dasarnya berbagi pengalaman dalam
shareholdersactivism, dengan misi utama melindungi kepentingan para pemegang saham
minoritas.

13
Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh pemangku kepentingan turut
berpartisipasi. Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance yang diawal tahun 2005 di
ubah menjadi Komite Nasional Kebijkan Governance telah menerbitkan pedoman GCG pada
bulan Maret 2001. Pedoman tersebut kemudian disusul dengan penerbitan Pedoman GCG
Perbankan Indonesia, Pedoman untuk komite audit, dan pedoman untuk komisaris
independen di tahun 2004. Semua publikasi ini dipandang perlu untuk memberikan acuan
dalam mengimplementasikan GCG.
Pemerintah pun melakukan upaya-upaya khusus bergandengan tangan dengan
komunitas bisnis dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan GCG. Dua sektor
penting yakni BUMN dan Pasar Modal telah menjadi perhatian pemerintah. Aspek baru
dalam implementasi GCG di lingkungan BUMN adalah kewajban untuk memiliki statement
ofcorporate intent (SCI). SCI pada dasarnya adalah komitmen perusahaan terhadap
pemegang saham dalam bentuk suatu kontrak yang menekankan pada strategi dan upaya
manajemen dan didukung dengan dewan komisaris dalam mengelola perusahaan. Terkait
dengan SCI, direksi diwajibkan untuk menanda tangani appointment agreements (AA) yang
merupakan komitmen direksi untuk memenuhi fungsi-fungsi dan kewajiban yang
diembannya. Indikator kinerja direksi terlihat dalam bentuk rewardand punishment system
dengan meratifikasi undang-undang BUMN.
Pasar modal juga perlu menerapkan prinsipprinsip GCG untuk perusahaan publik. Ini
ditunjukkan melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang
menyatakan bahwa seluruh perusahaan tercatat wajib melaksanakan GCG. Implementasi
GCG dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan kepentingan investor, terutam para
pemegang saham di perusahaan-perusahaan terbuka.
Di samping itu, implementasi GCG akan mendorong tumbuhnya mekanisme check
and balance di lingkungan manajemen khususnya dalam member perhatian kepada
kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Hal ini terkait dengan
peran pemegang saham pengendali yang berwenang mengangkat komisaris dan direksi, dan
dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Di samping pelindungan investor, regulasi
mewajibkan system yang menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam transaksi bisnis
antar perusahaan dalam satu grup yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan.
Semangat untuk memperoleh persetujuan publik dalam transaksi, merupakan bentuk
penerapan prinsip akuntabilitas. Diperkenalkannya komisaris independen, komite audit, dan
sekretaris perusahaan juga menjadi fokus regulasi BEJ. Independensi komisaris dimaksudkan
untuk memastikan bahwa komisaris independen tidak memiliki afiliasi dengan pemegang

14
saham, dengan direksi dan dengan komisaris; tidak menjabat direksi di perusahaan lain yang
terafiliasi; dan memahami berbagai regulasi pasar modal. Sedangkan terkait dengan
kewajiban untuk memiliki direktur independen, dalam sistem two tier yang kita anut, justru
akan lebih efektif bilamana bursa mewajibkan perusahaan untuk memiliki komite nominasi
dan remunerasi. Tujuan pedoman tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas disclosure
perusahaan-perusahaan publik. Pedoman ini merupakan hasil kolaborasi antara BEJ, IAI,
AEI, dan Bapepam. Perkembangan terbaru di Pasar modal adalah batas waktu penyerahan
laporan tahunan yakni 90 hari sejak tutup buku, lebih pendek dari regulasi sebelumnya yakni
120 hari. Regulasi ini merupakan indikasi kekonsistenan penegakan GCG oleh Bapepam.

GCG di Lingkungan Perbankan


Dalam undang-undang No. 10 tahun 1998 tentangPerbankan, secara umum telah
diatur ketentuan yang terkait dengan GCG baik yang termasuk governance structure,
governance process, maupun governance outcome.Governance structure terdiri atas (LAN
dan BPKP,2000) : pertama, uji kelayakan dan kepatutan,(fit and proper test), yang mengatur
perlunya peningkatan kompetensi dan integritas manajemen perbankan melalui uji kelayakan
dan kepatutan terhadap pemilik, pemegang saham pengendali,dewan komisaris, direksi, dan
pejabat eksekutif bank dalam aktivitas pengelolaan bank.
Kedua, independensi manajemen bank, di mana para anggota dewan komisaris dan
direksi tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan atau memiliki hubungan financial dengan
dewan komisaris dan direksi atau menjadi pemegang saham pengendali di perusahaan lain.
Ketiga, ketentuan bagi direktur kepatutan dan peningkatan fungsi audit bank publik.
Dalam standar penerapan fungsi internal audit bank publik, bank diwajibkan untuk menunjuk
direktur kepatuhan yang bertanggung jawab atas kepatuhan bank terhadap regulasi yang ada.
Strategi dan rencana Bank Indonesia mewajibkan bank untuk memikili rencana dan
anggaran jangka panjang dan menengah dalam bentuk keputusan dewan direksi bank
Indonesia tahun 1995, yang dimaksudkan bagi bank untuk memiliki strategi korporasi dan
yang tertuang dengan jelas, termasuk nilai-nilai yang harus dikomunikasikan kepada seluruh
tingkatan di dalam organisasi dan resiko-resiko pengendalian.
Mengenai governance outcome, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan beberapa
peraturan, antara lain transparansi mengenai kondisi keuangan bank dan peningkatan peran
auditor eksternal. Bank diwajibkan untuk mengungkapkan non performingloan (NPL),
pemegang saham pengendali danafiliasinya, praktik manajemen resiko dalam pelaporan
keuangan.

15
Peran BAPEPAM
Bapepam secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong implementasi
prinsip-prinsipGCG di Indonesia, dengan menerbitkan peraturan dan kebijakan yang terkait
dengan GCG. Peraturanperaturan tersebut antara lain menyangkut keputusan Bapepam
mengenai prinsip transparansi yang mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi
kepada publik, disclosure mengenai beberapa aspek yang terkait dengan pemegang saham,
transaksi material, dan perubahan dalam aktivitasbisnis inti, keputusan mengenai merger dan
akuisisi perusahaan publik, serta ketentuan tentang pengungkapan mengenai apakah suatu
perusahaan tengah dalam proses peradilan kepailitan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Wulandari, Etty Retno.Good Corporate Governance(Konsep, Prinsip dan


Praktik).Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia(LKDI)
www.bapepam.go.id
Sutojo, Siswanto & Aldridge, John. Good Corporate Governance (Tata Kelola
Perusahaan Yang Sehat), Jakarta : PT Damar Mulia Pustaka, 2008

17