Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan. Mata


pelajaran matematika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar sampai
ke jenjang yang lebih tinggi. Kegunaan matematika bukan hanya memberikan
kemampuan dalam perhitungan-perhitungan kualitatif tetapi juga dalam penataan
cara berpikir, terutama dalam pembentukan kemampuan menganalisis, membuat
sintesis, melakukan evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah. Dengan
kenyataan ini bahwa matematika mempunyai potensi yang sangat besar dalam hal
memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan tepat maupun dalam
mempersiapkan masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan dengan
cara berpikir dan bersikap pula.

Pembelajaran hendaknya lebih menekankan pada bagaimana upaya guru


mendorong atau memfasilitasi siswa belajar, bukan pada apa yang dipelajari
siswa. Jadi, pembelajaran matematika merupakan upaya guru mendorong atau
memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi pemahamannya akan matematika.
Keberhasilan guru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar
siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran tersebut.

Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa,


khususnya mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model
pembelajaran problem solving atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran
melalui pendekatan problem solving, siswa dimungkinkan memperoleh
pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki
untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Proses
pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif
dalam mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi atau data untuk
diolah menjadi konsep, prinsip atau simpulan.

1
Cara pemecahan masalah adalah hal yang terpenting dalam matematika. Hal
ini sesuai dalam The National Council of Teacher of Mathematics (NCTM dalam
Jacob, 2010:8) yang menyatakan untuk membuat pemecahan masalah fokus dari
matematika sekolah memiliki pertanyaan fundamental tentang ciri matematika
sekolah. Seni pemecahan masalah merupakan jantung dari matematika. Jadi
pembelajaran matematika dapat didesain sedemikian sehingga pengalaman
matematika sebagai pemecahan masalah.

Dari rekomendasi NCTM tersebut dapat diartikan bahwa problem solving


sangat penting dalam pelajaran matematika, mengingat masih banyak siswa yang
merasa kesulitan dalam mengkonstruksikan dan mengaplikasikan ide-ide dalam
problem solving matematika. Tidak hanya sebuah formula yang dapat digunakan
untuk memastikan keberhasilan dalam problem solving (pemecahan masalah). Hal
ini diperjelas dalam Sumarmo (2005) yang mengatakan kemampuan peserta didik
dalam keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir kreatif, keterampilan
mengorganisir otak, dan keterampilan analisis disebut dengan daya matematis
(mathematical power) atau keterampilan matematis (doing math). Dalam
keterampilan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik masa kini
dan kebutuhan peserta didik masa akan datang.

Dengan demikian pembelajaran matematika pada jenjang sekolah manapun


diharapkan dapat mengembangkan kemampuan matematis peserta didik melalui
tugas matematika yang dapat mendukung tujuan di atas. Hal inilah yang
melatarbelakangi penulisan makalah kelompok 1 tentang problem solving yaitu
mengembangkan keterampilan matematis peserta didik dengan pendekatan
pemecahan masalah pada pembelajaran matematika.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Apakah pengertian problem solving (pemecahan masalah)?


2. Bagaimanakah pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran
matematika?

2
1.3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan dalam penulisan


makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian problem solving (pemecahan masalah).


2. Untuk mengetahui pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran
matematika.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Problem Solving (Pemecahan Masalah)


2.1.1. Pengertian masalah

Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang suatu


pertanyaan bisa menjadi suatu masalah sedangkan bagi orang lain tidak. Masalah
adalah kesenjangan antara kenyataan yang terjadi dengan sesuatu yang kita
harapkan atau kita capai. Kata Problem terkait erat dengan suatu pendekatan
pembelajaran yaitu pendekatan problem solving. Dalam hal ini tidak setiap soal
dapat disebut problem atau masalah. Ciri-ciri suatu soal disebut problem dalam
perspektif ini paling tidak memuat 2 hal yaitu:

1. soal tersebut menantang pikiran (challenging),

2. soal tersebut tidak otomatis diketahui cara penyelesaiannya (nonroutine).

Munurut Polya (dalam Hujono, 2003:150), terdapat dua macam masalah :

a. Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau


konkret, termasuk teka-teki. Kita harus mencari variabel masalah tersebut,
kemudian mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi
semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah
tersebut. Bagian utama dari masalah adalah sebagai berikut:

(a) Apakah yang dicari?

(b) Bagaimana data yang diketahui?

(c) Bagaimana syaratnya?

b. Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu


pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus menjawab
pertanyaan : Apakah pernyataan itu benar atau salah ?. Bagian utama dari
masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus
dibuktikan kebenarannya.

4
2.1.2. Pengertian Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah dapat diartikan suatu proses untuk menemukan solusi


atas satu atau lebih masalah yang dihadapi. Pemecahan masalah menurut Polya
(1975) sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan mencapai suatu
tujuan yang tidak dengan segera dapat dicapai.

Konsep pemecahan masalah menurut Jacob (2010) diartikan dengan


menggunakan tiga interpretasi umum, yaitu diantaranya :

1. Pemecahan masalah sebagai suatu tujuan (goal), artinya independen dari


masalah spesifik, prosedur, atau metode dan konten matematis.
Pertimbangan penting di sini adalah belajar untuk bagaimana menyelesaikan
masalah merupakan alasan utama untuk mempelajari matematika.

2. Pemecahan masalah sebagai proses (process), artinya menggunakan


pengetahuan yang diperoleh sebelumnya untuk situasi baru dan tidak
familiar. Apa yang dipandang penting dalam interpretasi ini adalah metode,
prosedur, strategi, dan heuristik yang siswa gunakan dalam menyelesaikan
masalah.

3. Pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar (basic skill) menyangkut


dua hal, yaitu (a) Keterampilan umum yang baru dimiliki siswa untuk
keperluan evaluasi

(b) Keterampilan minimum yang diperlukan siswa agar dapat


mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari.

Dalam belajar matematika pada dasarnya seseorang siswa tidak terlepas dari
masalah. The National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menyatakan:
Belajar menyelesaikan masalah adalah alasan utama untuk mempelajari
matematika (NCTM dalam Jacob, 2010:8) Adanya peningkatan kemampuan
untuk menyelesaikan suatu masalah, berarti siswa tersebut telah mengalami
perubahan dalam tingkah lakunya, dengan demikian dalam pembelajaran
matematika kemampuan memecahkan masalah sangat penting.

5
Kemampuan yang terkandung dalam matematika seluruhnya bermuara pada
penguasaan konsep dan memampukan siswa memecahkan masalah dengan
kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis dan terstruktur. Dalam pemecahan
masalah siswa didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif
dan berpikir sistematis dalam menghadapi suatu masalah dengan menerapkan
pengetahuan yang didapat sebelumnya.

2.2. Indikator dalam Problem Solving (Pemecahan Masalah)

Berikut indikator dalam pemecahan masalah. Menurut Polya (Suherman,


2001: 84) dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus
dilakukan yaitu:

1. Memahami masalah ( Understanding the Problem )

Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah hal-hal apa saja yang
diketahui, apa yang tidak diketahui (ditanyakan), membuat notasi dari unsur
yang diketahui dan yang ditanyakan.

2. Merencanakan Penyelesaiannya ( The Vising a Plan )

Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau
mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan
masalah yang akan dipecahkan, mencari pola atau aturan, menyusun prosedur
penyelesaian ( Membuat Konjektur ).

3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana ( Carring Out The Plan )

Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur
yang telah dibuat pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian.

4. Memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian ( Looking Back )

Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah menganalisis dan
mengevaluasi apakah prosedur yang diterapkan dan hasil yang diperoleh
benar, apakah ada prosedur lain yang lebih efektif, apakah prosedur yang
dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sejenis, atau
apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya.

6
Dari beberapa langkah atau tahapan problem solving yang dikemukakan,
pada prinsipnya problem solving dilakukan secara teratur, logis, analitis, kritis,
kreatif, sistematis atau prosedural dan mutlak menggunakan serta
menghubungkan pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya, termasuk
penggunaan fakta-fakta (berupa konvensi yang diungkapkan dengan simbol
tertentu), konsep-konsep (ide abstrak yang dapat digunakan untuk
menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek), operasi (proses
pengerjaan perhitungan, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika lainnya),
dan prinsip (sekumpulan objek matematika yang kompleks, prinsip dapat terdiri
atas beberapa fakta dan konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi).

2.2.1. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving

Beberapa indikator pemecahan masalah dapat diperhatikan dari paparan


Sumarmo (2005), adalah sebagai berikut:

a) Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan


kecukupan unsur yang diperlukan,

b) Merumuskan masalah matematika atau menyusun model matematika,

c) Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan


masalah baru) dalam atau di luar matematika,

d) Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, dan.

e) Menggunakan matematika secara bermakna.

Beberapa strategi yang sering digunakan dalam pemecahan masalah matematika


adalah :

1. Membuat gambar atau diagram.

Strategi ini terkait dengan pembuatan sketsa atau gambar coret-coret guna
mempermudah dalam memahami masalah dan mendapatkan
penyelesaiannya.

2. Bergerak dari belakang


Dengan strategi ini, kita mulai dengan menganalisa bagaimana cara
mendapatkan tujuan yang hendak dicapai. Dengan strategi ini, kita bergerak
dari yang diinginkan lalu menyesuaikan dengan yang diketahui.

7
3. Memperhitungkan setiap kemungkinan
Strategi ini terkait dengan penggunaan aturan-aturan yang dibuat sendiri
oleh si pelaku selama proses pemecahan masalah sehingga tidak akan ada
satupun alternative yang terabaikan.
4. Mencobakan pada soal yang lebih sederhana
Strategi ini terkait dengan penggunaan contoh khusus tertentu pada masalah
tersebut agar lebih mudah dipelajari, sehingga gambaran umum
penyelesaian yang sebenarnya dapat ditentukan.
5. Membuat tabel
Strategi ini digunakan untuk membantu menganalisis permasalahan atau
jalan pikiran kita, sehingga segala sesuatunya tidak dibayangkan hanya oleh
otak yang kemampuannya sangat terbatas.
6. Menemukan pola
Strategi ini terkait dengan pencapaian keteraturan-keteraturan pola.
Keteraturan tersebut akan memudahkan kita menemukan penyelesaiannya.
7. Memecah tujuan
Strategi ini berkaitan dengan pemecahan tujuan umum yang hendak kita
capai menjadi satu atau beberapa tujuan bagian. Tujuan bagian ini dapat
digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang
sesungguhnya.
8. Berpikir logis
Strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran maupun penarikan
kesimpulan yang sah atau valid dari berbagai informasi atau data yang ada.
9. Mengabaikan hal yang tak mungkin
Dari berbagai alternative yang mungkin, alternative yang sudah jelas-jelas
tidak mungkin agar dicoret atau diabaikan, sehingga perhatian dapat
tercurah sepenuhnya untuk hal-hal yang tersisa dan masih mungkin saja.
10. Mencoba-coba
Strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan gambaran umum
pemecahan masalahnya dengan mencoba-coba dari yang diketahui.

8
Dengan demikian, inti dari belajar memecahkan masalah adalah supaya
peserta didik terbiasa mengerjakan soal-soal yang tidak hanya mengandalkan
ingatan yang baik saja, tetapi peserta didik diharapkan dapat mengaitkan dengan
situasi nyata yang pernah dialaminya atau yang pernah dipikirkannya. Kemudian
peserta didik bereksplorasi dengan benda kongkrit, lalu akan mempelajari ide-ide
matematika secara informal, selanjutnya belajar matematika secara formal.

Terkait dengan kurikulum 2013 yaitu pembelajaran dengan pendekatan


saintifik, peran guru pada setiap fase/sintaks dalam pembelajaran dengan metode
pemecahan masalah adalah sebagai berikut:

Fase ke - Indikator Peran Guru

1 Orientasi siswa Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,


pada masalah menjelaskan peralatan yang
dibutuhkan,memotivasi siswa terlibat pada
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

2 Mengorganisasikan Guru membantu siswa mendefinisikan dan


siswa untuk belajar mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut.

3 Membimbing Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan


penyelidikan informasi yang sesuai, melaksanakan
individual maupun eksperimen untuk mendapatkan penjelasan
kelompok dan pemecahan masalah.

4 Mengembangkan Guru membantu siswa dalam merencanakan


dan menyajikan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
hasil karya laporan, video, dan model yang membantu
mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

5 Menganalisis dan Guru membantu siswa untuk melakukan


mengevaluasi refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
proses pemecahan mereka dan proses yang mereka gunakan.
masalah

9
Proses pembelajaran di kelas yang mengkondisikan siswa untuk belajar
memecahkan dan menemukan kembali ini akan membuat para siswa terbiasa
melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu. Kegiatan belajarnya biasanya
dimulai dengan penayangan masalah nyata yang pernah dialami atau dapat
dipikirkan para siswa, dilanjutkan dengan kegiatan bereksplorasi dengan benda
konkret, lalu para siswa akan mempelajari ide- ide matematika secara informal,
belajar matematika secara formal dan diakhiri dengan kegiatan pelatihan. Dengan
kegiatan seperti ini, diharapkan para siswa akan dapat memahami konsep, rumus,
prinsip dan teori- teori matematika sambil belajar memecahkan masalah.

2.2.2. Contoh Penyelesaian Soal Sesuai Indikator dalam Pemecahan Masalah


(Problem Solving)

Contoh 1

Susunlah bilangan bilangan 1 sampai dengan 9 kedalam tiap daerah persegi


pada gambar dibawah ini sehingga jumlah tiap baris, kolom dan diagonal utama
nya adalah sama.

Penyelesaian :

Memahami masalah :

Apa yang perlu dilakukan adalah kita harus menempatkan tiap bilangan 1, 2, 3 ....
9 dalam tiap daerah persegi ( tiap bilangan hanya di gunakan satu kali ),
sedemikian sehingga jumlah bilangan bilangan pada tiap baris, kolom dan
diagonal utamanya adalah sama.

10
Merencanakan Penyelesaian Masalah :

Jika kita sudah tau jumlah untuk tiap baris, kolom dan diagonal utamanya, maka
pekerjaan kita akan lebih mudah. Dengan demikian yang menjadi tujuan bagian
dari penyelesaian keseluruhan adalah bagaimana menentukan jumlah yang
diinginkan tersebut. Jumlah 9 bilangan 1 + 2 + 3 + .... + 9 sama dengan tiga kali
jumlah dari satu kolom atau baris. Akibatnya, jumlah untuk satu baris atau kolom
adalah sepertiga dari jumlah keseluruhan atau 45/3 = 15. Dengan kata lain jumlah
untuk masing-masing baris, kolom atau diagonal utama adalah 15. Langkah
selanjutnya adalah bahwa kita harus menentukan kombinasi tiga bilangan
sedemikian hingga jumlahnya 15.

Menyelesaikan Masalah :

Jumlah 15 dapat diperoleh melalui kombinasi jumlah tiga bilangan seperti berikut
ini .

9+5+1

9+4+2

8+6+1

8+5+2

8+4+3

7+6+2

7+5+3

6+5+4

11
Jika kita perhatikan banyaknya kemunculan untuk tiap angka, ternyata
tidaklah sama. Misalnya 1 hanya muncul dua kali, sedangkan 2 muncul tiga kali.
Frekuensi kemunculan tiap angka dapata terlihat dalam tabel dibawah ini :

Angka 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Frekuensi
2 3 2 3 4 3 2 3 2
Kemunculan

Dengan melihat frekuensi kemunculan tiap angka pada tabel tersebut, maka
selanjutnya penempatan untuk tiap angka akan dengan mudah dilakukan. Sebagai
contoh 5 pasti harus ditempatkan ditengah. Sedangkan 2, 4, 6, dan 8 harus
menempati daerah pojok. Dengan demikian, salah satu penyelesaian akhirnya
adalah sebagai berikut :

2 7 6

9 5 1

4 3 8

Pengecekan Kembali :

Kita lihat bahwa 5 adalah satu satunya bilangan di antara sembilan bilangan
yang diberikan yang dapat ditempatkan di tengah. Akan tetapi bilangan yang bisa
ditempatkan di daerah pojok bisa beberapa pilihan. Jadi, penyelesaian yang
diberikan diatas salah satu kemungkinan dari beberapa kemungkinan yang ada.

Cara lain untuk meihat bahwa 5 harus ditempatkan ditengah dapat dilakukan
melalui ilustrasi berikut :

1 2 3 4 5 6 7 8 9

10

10

10

10

12
Dari ilustrasi ini terlihat bahwa untuk memperoleh jumlah 15, 5 dapat
dipasangkan dengan empat pasangan bilangan lain yang masing-masing
jumlahnya 10.

Contoh 2
Ketika seorang Matematika Jerman duduk di Sekolah Dasar, guru disekolahnya
meminta anak anak untuk menetukan jumlah 100 bilangan asli pertama. Dengan
memberikan soal ini, guru mengira bahwa waktu penyelesaiansoal tersebut akan
berlangsung cukup lama. Namun demikian, diluar dugaan Gauss mampu
menyelesaikan soal tersebut dengan sangat cepat. Apakah kamu menyelesaikan
masalah tersebut dengan cepat ?
Penyelesaian :

Memahami Masalah : Bilangsan asli yang dimaksud adalah 1, 2, 3, 4 ... dengan


demikian masalah tersebut adalah menentukan jumlah 1 + 2 + 3 + 4 ... + 100.

Merencanakan Penyelesaian : Salah satu strategi yang bisa diterapkan untuk


menyelesaikan masalah ini adalah mencari kemungkinan adanya suatu pola. Cara
yang paling jelas untuk menyelesaikan maslah ini adalah dengan menjumlahkan
bilangan bilangan tersebut secara berurutan. Akan tetapi, bila dilakukan langkah
berikut : 1 + 100, 2 + 99, 3 + 98, ... , 50 + 51 , pada akhirnya akan diperoleh 50
pasangan bilangan yang masing masing berjumlah 101.

Menyelesaikan Masalah. Terdapat 50 pasang bilangan yang masing masing


berjumlah 101. Dengan demikian jumlah keseluruhannya adalah 50 (101), atau
5050.

Memeriksa Kembali.

Metode yang digunakan secara matematis sudah benar sebab penjumlahan dapat
dilakukan dalam urutan yang berbeda-beda, dan perkalian dapat dipandang
sebagai penjumlahan berulang. Masalah lebih umum dari soal yang diberikan
adalah menentukan jumlah n bilangan asli pertama 1 + 2 + 3 + 4 + ... + n. Dengan
n nilai asli. Jika n merupakan bilangan genap, maka dengan menggunakan cara
yang sama dengan sebelumnya didapat n/2 pasang bilangan yang masing-masing
berjumlah n + 1. Dengan demikian, jumlah keseluruhannya adalah 1 + 2 + 3 + ...
+ n atau (n/2) ( n + 1 ).

13
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa,


khususnya mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model
pembelajaran problem solving atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran
melalui pendekatan problem solving, siswa dimungkinkan memperoleh
pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki
untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Proses
pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif
dalam mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi atau data untuk
diolah menjadi konsep, prinsip atau simpulan

Dari beberapa langkah atau tahapan problem solving yang dikemukakan,


pada prinsipnya problem solving dilakukan secara teratur, logis, analitis, kritis,
kreatif, sistematis atau prosedural dan mutlak menggunakan serta
menghubungkan pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya, termasuk
penggunaan fakta-fakta (berupa konvensi yang diungkapkan dengan simbol
tertentu), konsep-konsep (ide abstrak yang dapat digunakan untuk
menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek), operasi (proses
pengerjaan perhitungan, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika lainnya),
dan prinsip (sekumpulan objek matematika yang kompleks, prinsip dapat terdiri
atas beberapa fakta dan konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi).

3.2. Saran
Keberhasilan guru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar
siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran tersebut. Untuk itu hendaklah
guru mata pelajaran matematika dapat menerapkan berbagai macam kemampuan
matematis selain problem solving untuk dapat melatih berfikir tingkat tinggi
siswa.

14
DAFTAR PUSTAKA

Jacob. C. 2010. Matematika Sebagai Pemecahan Masalah. Bandung. FPMIPA


UPI.

Fadjar Shadiq, M.App.Sc. 2007. Penalaran, Pemecahan Masalah dan


Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika (Makalah Diklat Guru
pemandu/Pengembang matematika SMP Jenjang Dasar), Yogyakarta:
PPPPTK Matematika

Hujono, Herman. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran


Matematika. Malang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Malang.

Polya, G.1973. How to Solve It (2nd Ed). Princeton University Press.

Sumarmo, U. 2005. Daya dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa dan


Bagaimana Dikembangkan pada Siswa Sekolah Dasar dan Menengah.
Makalah disajikan pada Seminar Sehari di Jurusan Matematika ITB,
Oktober 2003.

Suherman, Erman, dkk, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,


Bandung: JICA-Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

15