Anda di halaman 1dari 13

Debby Syahru Romadlon

fainnal mangal ngusri yusro

Sabtu, 07 April 2012

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) APENDIKSITIS

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

APENDIKSITIS

Topik : Apendiksitis

Sub Pembahasan :Pengertian, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi,


pemeriksaan radiologi dan laboratorium, penatalaksanaan

Sasaran : Semua Pasien dan keluarga pasien di ruang 18

Tempat : Ruang 18 RSSA Malang

Hari/Tanggal : Jumat, 2 Maret 2012

Waktu : 1 x 30 menit ( jam 09.30 -10.00 WIB)

Penyuluh :

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Pada akhir proses penyuluhan, pasien dan keluarga pasien dapat mengetahui dan
memahami tentang penyakit apendiksitis, meliputi pengertian, penyebab, tanda dan
gejala, komplikasi, pemeriksaan radiologi dan laboratorium, penatalaksanaan.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti penyuluhan, maka diharapkan pasien dan keluarga pasien:

1. Memahami dan menyebutkan pengertian dan penyebab apendiksitis

2. Memahami dan mengenali tanda dan gejala serta komplikasi apendiksitis

III. SASARAN

Pasien dan keluarga pasien

IV. PEMBAHASAN MATERI

1. Pengertian
2. Anatomi

3. patofisiologi

4. Penyebab

5. Klasifikasi

6. Tanda dan gejala

7. Komplikasi

8. Pemeriksaan radiologi

9. Pemeriksaan laboratorium

10. Penatalaksanaan

V. METODE

1. Ceramah

2. Tanya Jawab / Diskusi

VI. MEDIA

- Leaflet

- Banner

VII. KRITERIA EVALUASI

Evaluasi Struktur

- Semua pasien dan keluarga pasien berkumpul di ruang 18

- Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di ruang 18

Kesiapan SAP

Kesiapan media: Leaflet, banner

1. Evaluasi Proses

- Semua pasien dan keluarga pasien antusias terhadap materi penyuluhan

- Tidak ada pasien ataupun anggota keluarga yang meninggalkan tempat saat
penyuluhan

- Semua pasien dan anggota keluarga pasien mengajukan pertanyaan


danmenjawab pertanyaan secara benar

2. Evaluasi Hasil

Semua pasien dan keluarga pasien mengetahui dan paham tentang penyakitleukemia,
meliputi definisi, etiologi, klasifikasi leukemia, tanda dan gejala, carapencegahan
dan pengobatannya.

3. Pengorganisasian dan Uraian Tugas

a. Moderator :

b. Penyaji :

c. Fasilitator :

d. Observer :

VIII. KEGIATAN PENYULUHAN

NO

WAKTU

KEGIATAN PENYULUH

KEGIATAN PESERTA

METODE

3 menit

Pembukaan:

- Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam

- Pembukaan

- Menjelaskan tujuandari penyuluhan

- Menyebutkan materi yang akan diberikan

- Menjawab salam

- Mendengarkan

- Memperhatikan

Ceramah

2
15 menit

Pelaksanaan :

- Menjelaskan tentang pengertian apendiksitis

- Menjelaskan anatomi apediksitis

- Menjelaskan tentang macam-macam penyebab apendiksitis

- Menjelaskan klasifikasi tentang apendiksitis

- Menjelaskan tanda dan gejala apendiksitis

- Menjelaskan komplikasi yang terjadi pada penderita apendiksitis

- Menjelaskan pemeriksaan dan penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien


dengan apendiksitis

- Memberi kesempatan pada peserta untuk bertanya

- Memperhatikan

- Mendengarkan

Ceramah dengan menggunakan banner

10 menit

Evaluasi :

Menanyakan kepada peserta tentang materi yang telah diberikan, dan reinforcement
kepada para peserta yang dapat menjawab pertanyaan

Menjawab pertanyaan

Tanya jawab dan diskusi

2 menit

Terminasi :

- Menyampaikan kesimpulan

- Mengucapkan salam penutup

- Mendengarkan

- Menjawab salam
Ceramah dan membagikan leaflet

MATERI PENYULUHAN

1. Pengertian

- Apendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari,melekat pada


sekum tepat dibawah katup ileocecal (Brunner & Sudart 2002 :1097)

- Apendiksitis adalah salah satu peradangan pada apendiks yang berbentuk


cacing,yang berlokasi dekat katup ileocecal (Long,Barbara c,1996 hal 228)

- Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks vermiforis dan merupakan


peyebab abdomen akut yang paling sering (Arif Mansjoer .dkk.200:307)

- Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada


kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen
darurat (Smeltzer, 2001).

2. Anatomi

Embriologi appendiks berhubungan dengan caecum, tumbuh dari ujung


inferiornya. Tonjolan appendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol
pada apek caecum sepanjang 4,5 cm. Pada orang dewasa panjang appendiks rata-rata 9
10 cm, terletak posteromedial caecum kira-kira 3 cm inferior valvula
ileosekalis. Posisi appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis,
memberikan gambaran klinis yang tidak sama. Persarafan para simpatis berasal dari
cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri
appendikkularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis x,
karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus. Perdarahan pada
appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan artei tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka
appendiks akan mengalami gangren

Appendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung


amilase, erepsin dan musin. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan
selanjutnya mengalir ke caecum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan
pada patofisiologi appendiks.

Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue)
yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah Ig A.
Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi
pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan
limfe kecil sekalisehingga jika dibandingkan dengan jumlah pada saluran cerna dan
di seluruh tubuh. ( R.Syamsu ; 1997)

3. Patofisiologi
Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat disebabkan
oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,adanya fekalit
dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti cacing, stiktura karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid).

Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin
lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta
merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan
appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai
rasa sakit disekitar umblikus.

Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian
timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang
timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa
sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan
appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah,
dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat
mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal,
keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak anak karena omentum
masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang
lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua
karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila
appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul
dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982)

4. Penyebab

- Fekalit/massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat

- Tumor apendiks

- Cacing ascaris

- Erosi mukosa apendiks karena parasit E. Histolytica

- Hiperplasia jaringan limfe

- Benda asing

5. Klasifikasi

Apendisitis dibagi atas :

a. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis,


yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi,
yaitu sudah bertumpuk nanah.

b. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial,


setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu
appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.

6. Tanda dan gejala


- Sakit dan kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah

- Anoreksia

- Mual

- Muntah (tanda awal yang umum, kurang umum pada anak yang lebih besar)

- Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonitis

- Nyeri lepas

- Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali

- Konstipasi

- Diare

- Kencing sedikit-sedikit / Disuria

- Iritabilitas

- Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian


perut

- Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di
daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa

- Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat

- Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam


setelah munculnya gejala pertama.

7. Komplikasi

- Perforasi

- Peritonitis

- Infeksi luka

- Abses intra abdomen

- Obstruksi intestinum

8. Pemeriksaan radiologi

foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.

Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71


97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak.

Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93 98
%). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks

9. Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan darah : leukosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana
lebih dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya leukositosis
tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri

- Pemeriksaan urin : sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan


eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau
vesika

- Pemeriksaan laboratorium leukosit meningkat sebagai respon fisiologis


untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis
akut dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi

- Hb (hemoglobin) nampak normal

- Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrate

- Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.

10. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :

Pencegahan

Dapat di lakukan dengan banyak mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti buah
pepeya, pisang dan sayur-sayuran seperti kangkung, kacang panjang, serta menjaga
kebersihan, tidak sering makan makanan yang terlalu pedas dan asam, buang air
besar secara teratur, olah raga teratur, tidak makan makanan seperti mie instan
secara berlebihan.

Sebelum operasi

o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi

o Pemasangan kateter untuk control produksi urin.

o Rehidrasi

o Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.

o Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk


membuka pembuluh pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.

o Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.

Operasi

o Apendiktomi.

o Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen dicuci


dengan garam fisiologis dan antibiotika.

o Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau


abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi
dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.

Pasca operasi
1
o Observasi TTV.

o Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung
dapat dicegah.

o Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.

o Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien
dipuasakan.

o Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan


sampai fungsi usus kembali normal.

o Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam.
Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan
lunak.

o Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur
selama 230 menit.Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.

o Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

DAFTAR PUSTAKA

Long C Barbara, Perawatan Medikal Bedah (Suatu pendekatan proses Keperawatan),


Yayasan Ikatan alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, Bandung, 1996

Smeltzer C. Suzannne, (2002 ), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa
Andry

Hartono, dkk., Jakarta, EGC.


Doenges, EM. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa I Made Kariasa, dkk. (2001),
Jakarta, EGC.

Price, S.A. R. Wilson CL (1991), Pathophisiology Clinical Concept of Disease


Process, Alih Bahasa Adji Dharma (1995), Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses
Penyakit, Jakarta, EGC.

Soeparman. 1990. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai penerbit FKUI

S. Heru Adi. 1995. Kesehatan Masyarakat. Jakarta. : EGC

Mansjoer, Arief. Et all. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media


Aesculapius.

Soeparman (1995), Ilmu Penyakit Dalam, Edisi Kedua, Jakarta, Balai Penerbit FKUI.

--------. 2010.laporanpendahuluanapendiksitis.blogspot.com

SATUAN ACARA PENYULUHAN

APENDIKSITIS

DISUSUN OLEH :

TIM PKRS RUANG 18

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)

RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG

2012

Diposting oleh Debby Syahru Romadlon di 00.23

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Plurk

Plurk.com
Great Job

Loading...

Man Jadda Wa Jadda

Pengikut

Arsip Blog

2013 (1) 2012 (17) Juni (1) April (11)LAPORAN PENDAHULUAN ATRESIA
ANILAPORAN PENDAHULUAN AUTISME PADA ANAKDampak Negatif Dan Positif Mie
InstanPROMOSI KESEHATAN HIV/AIDSICE CREAM 2012Es Krim atau Ice CReamMy
Plendd..FOTOQ di DEpan kampusSATUAN ACARA PENYULUHAN GIZI PADA IBU HAMILSATUAN
ACARA PENYULUHAN (SAP) APENDIKSITISTOP 12 INDONESIAN IDOL
2012 Februari (2) Januari (3) 2011 (106) 2010 (4)

Mengenai Saya

Debby Syahru Romadlon

optimis itu penting

keoptimisan modal dasar kesuksesan


Entri Populer

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) APENDIKSITIS

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) APENDIKSITIS Topik :


Apendiksitis Sub Pembahasan :Pengertian, penyebab...

LAPORAN PENDAHULUAN AUTISME PADA ANAK

LAPORAN PENDAHULUAN AUTISME PADA ANAK A.


KONSEP DASAR AUTISME 1. Pengertian Autisme...

Management Perawatan Kaki untuk Mencegah Luka Ulkus Diabetikum

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes adalah suatu kumpulan gejala yang
timbul pada seseorang yang disebabkan adanya peningkatan ...

SATUAN ACARA PENYULUHAN GIZI PADA IBU HAMIL

SATUAN ACARA PENYULUHAN I. Dasar Pemikiran Menu seimbang adalah susunan


makanan yang terdiri dari beraneka ragam makanan, yang bergun...

Asuhan Keperawatan Sifilis (Syphilis)

Asuhan Keperawatan Sifilis (Syphilis) A. Definisi Sifilis adalah salah satu


penyakit menular seksual. Penyakit tersebut ditular...

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Cholangitis

1. PENDAHULUAN Cholangitis akut merupakan infeksi bakteri dari sistem duktus


bilier, yang bervariasi tingkat keparahannya dari ringan ...

PROMOSI KESEHATAN HIV/AIDS

TUGAS PROMOSI KESEHATAN HIV/AIDS Disusun oleh: Agista Paramitha (0901100045)


Debby Syahru R (09011000 52) Fathu...

(tanpa judul)

Selasa, 01 Juni 2010 Pemasangan Kateter CVP ( Centra Venouse Pressure) Diposkan
oleh _Ly_`s pageS di Selasa, Juni 01, 2010 Teka...

Dampak Negatif Dan Positif Mie Instan

Dampak Negatif Dan Positif Mie Instan Mie instan di klaim oleh beberapa pihak
sebagai jenis makanan yang berbahaya karena mengandung lapis...

TOP 12 INDONESIAN IDOL 2012


Go spekta 10 5 hasil voting REGINA (voting tertinggi) YODA DERA DION RIO 5 pilihan
juri SEAN BELINDA (menurut 3 juri dia palin...

Follow by Email

Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.