Anda di halaman 1dari 4

Beban yang Bekerja pada Gunting Kuku

Oleh Iskandar Agung (NPM : 1406551916)

Tidaklah asing bagi kita mendengar kata gunting kuku, entah ketika Pak/Ibu guru kita
melakukan razia kuku saat masih di bangku sekolah dasar atau bagi para wanita yang melakukan
perawatan kuku di salon, karena ini adalah sebutan bagi alat untuk membantu memotong kuku
(dalam bahasa inggris disebut dengan nail clipper atau nail cutter atau nail trimmer). Alat ini diduga
sudah ada sejak tahun 1875 berdasarkan paten yang dibuat mengenai sebuah pengembangan gunting
kuku di Amerika Serikat oleh Valentine Forgety. Dari berbagai macam jenis gunting kuku yang telah
dikembangkan sejak saat itu hingga kini hanya terdapat dua
jenis yang paling dikenal yaitu, plier dan compound lever (lihat
Fig.1). Kembali ke definisi kata gunting kuku, arti kata
membantu di sini memunculkan adanya kemungkinan
bahwa tanpa alat ini atau pun menggunakan alat sejenis kita
tetap bisa memotong kuku. Kemungkinan tersebut memang Fig.1 (sebelah kiri adalah plier, tengah dan kanan adalah
compound lever)
benar, misalkan gunting kertas yang cukup kuat bisa
digunakan untuk memotong kuku. Namun, menggunakan gunting kertas tentunya akan lebih sulit, jika
tidak percaya, Anda boleh mencobanya sendiri. Terlepas dari hal-hal yang telah dibahas, bagaimana cara
beban yang diberikan pada lever1 dapat memotong kuku yang sedang berada diantara kedua mata pisau
gunting kuku atau kenapa gunting kuku memiliki bentuk seperti pada Fig.1? Penulis akan mencoba
memberikan penjelasan tersebut hanya pada jenis compound lever karena mekanisme jenis plier
menyerupai gunting kertas, selain itu juga jenis compound lever paling umum digunakan oleh
masyarakat di Indonesia.

Mekanisme Kerja Gunting Kuku. Secara garis besar, mekanisme gunting kuku menggunakan
prinsip kerja tuas. Oleh karena itu, dengan sedikit beban yang diberikan pada lever dapat memberikan
efek yang cukup untuk memotong kuku. Lihat Fig.2. Beban awal yang cukup untuk memotong kuku
(beban awal dalam hal ini adalah ibu jari pada satu tangan yang bergerak ke bawah dan jari-jari yang

Fig.2 (mekanisme kerja)

lainnya menahan gunting kuku pada bagian lower clipper arm1) diberikan pada ujung lever (Effort1)
kemudian diteruskan oleh lever yang bersentuhan dengan upper clipper arm2 dan lalu menjadi Effort2

1
Nama-nama komponen gunting kuku diberikan pada Appendix.
(tentunya beban awal menjadi suatu kelipatan r > 1, r R, sesuai dengan prinsip kerja tuas), setelah itu
Effort2 mendorong upper clipper arm ke bawah (lower clipper arm dianggap hanya diam karena ditahan
oleh jari-jari selain ibu jari), mata pisau yang telah dimasuki kuku dengan gaya tahannya (Resistance2)
juga terdorong ke bawah dan pada akhirnya memotong kuku tersebut. Terlihat pada Fig.2 terdapat
Resistence1, ini adalah gaya elastik yang disebabkan oleh perubahan lebar celah antara upper clipper
dengan lower clipper (yang dimaksud di sini adalah lebar celah selain di bagian penyambung antara
lower dan upper clipper) antara sebelum dan sesudah diberi beban, di mana beban tersebut
menyebabkan defleksi pada upper clipper arm, sehingga perubahan lebar celah terjadi.

Geometri Gunting Kuku. Apabila kita perhatikan Fig.3, bagian bawah (terlepas dari bagian
penghubung upper dan lower clipper arm yang terlihat pada Fig.2 sebelumnya, bagian yang dimaksud
diberi warna biru) terlihat lebih kecil dibandingkan yang di atas (abaikan tampilan
Atas
atas mata pisau). Hal ini tidak semata-mata hanya untuk memperindah tampilan,
tetapi juga salah satunya untuk mengurangi reaksi beban Resistance2 yang timbul
akibat defleksi dari upper clipper arm, sehingga dapat mengurangi beban yang
dibutuhkan. Kita bisa lihat dari Elastic Curve Equation, ()

Bawah
( ) ( )

Dengan ( ) = momen internal upper clipper, dan = modulus elastisitas, disaat


yang sama juga perhatikan Inersia upper clipper arm dengan mengamsumsikan Fig.3 (tampilan atas)
cross section-nya bebentuk rectangular dan memiliki tebal sebesar ,

( )
( )

dengan ( ) adalah lebar dari upper clipper arm yang bervariasi di setiap sumbu (sumbu tegak lurus
ke atas terhadapat bidang kertas, dengan anggapan upper clipper arm sejajar dengan bidang kertas).
Persaman ini mempunyai solusi2 ( ), di mana nilai yang diberikan menandakan selisih lebar celah awal
(ketika komponen antara upper dan lower clipper arm dilepaskan dari komponen-komponen lainnya)
dengan lebar celah setelah diberikan Effort2. Perlu ditekankan terlebih dahulu bahwa beban Effort2
dapat menggerakkan kedua pisau gunting kuku agar saling bertemu diakibatkan oleh adanya deflaksi
pada upper clipper. Deflaksi upper clipper tidak terjadi secara signifikan di sekitar bagian atas atau bisa
diabaikan (Fig.3), tetapi cukup signifikan di sekitar bagian bawah (kecuali pada bagian yang dekat
dengan penghubung lower dan upper clipper, atau bisa dikatakan sangat kecil perubahan yang terjadi).
Kenapa hal ini bisa terjadi? Kita kembali kepada kedua persamaan sebelumnya, nilai dari percepatan
perubahan lebar celah semakin besar apabila ( ) semakin membesar atau ( ) semakin
mengecil, melalui perhitungan, nilai ( ) bernilai besar (tetapi bernilai negatif, sehingga menyebabkan

2
Perlu ditekankan solusi ( ) di sini tidak diubah ke dalam suatu komponen sumbu yang sesuai karena untuk
mempermudah penulisan. Apabila diubah akan menjadi , di mana adalah sudut yang dibentuk upper
dan lower clipper, dan adalah lebar celah dihitung sejajar dengan garis yang tegak lurus terhadap lower clipper
arm.
upper clipper berbentuk concave down) terjadi pada daerah bawah. Sama halnya dengan nilai inersia,
bernilai relatif lebih kecil pada daerah bagian bawah. Ini menyebabkan terjadinya penurunan lebar celah
(diingatkan karena momen internal bernilai negatif) yang cukup untuk mempertemukan kedua mata
pisau gunting kuku. Kita tidak memperhitungkan sekitar bagian atas, karena dareah tersebut relatif lebih
rigid (inersia lebih besar) dan momen internal relatif lebih kecil dibandingkan dengan daerah bagian
bawah. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa beban Effort2 hasil dari perubahan beban Effort1
menimbulkan momen internal pada daerah bagian bawah yang kemudian menimbulkan defleksi yang
cukup untuk mempertemukan kedua mata pisau gunting kuku.

Geometri yang menarik lainnya adalah mata pisau gunting kuku yang cekung. Mudah untuk
dipahami jika kita kaitkan dengan penggunaan gunting kertas untuk memotong kuku (selain karena
perbedaan ukuran dimensi). Yaitu, hanya untuk menyesuaikan dengan bentuk kuku manusia normal.
Appendix
Nama-nama komponen gunting kuku