Anda di halaman 1dari 6

RMK

CORPORATE GOVERNANCE

1.1. Perlindungan Terhadap Hak Pemegang Saham

Untuk menjamin hak dari para pemegang saham, Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG) menetapkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia
Bab V tentang Pemegang Saham dan Organisation for Economic Co-Operation and
Development (OECD) Principles of Corporate Governance Bagian I Bab II tentang Hak
Pemegang Saham dan Fungsi Kepemilikan Utama .
Pada dasarnya, pemegang saham berhak mempertahankan haknya sehubungan dengan
saham yang dimilikinya dengan cara menggugat segala tindakan perseroan yang merugikan
kepentingannya dalam perseroan yang bersangkutan. Tindakan perseroan tersebut dapat
berupa tindakan RUPS, Komisaris dan atau Direksi (lihat ps.54 (1) Undang-undang No.1
tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas atau UUPT).
Salah satu efek dari struktur kepemilikan melalui saham adalah terciptanya struktur
pemegang saham mayoritas dan minoritas. Pada dasarnya masing-masing mempunyai hak
yang sama. Terutama terhadap hak suara. Yaitu 1 saham adalah 1 suara. Ketentuan tambahan
terhadap hak suara dapat diatur secara tegas-tegas sehubungan dengan klasifikasi saham.
Dengan mekanisme pemilikan yang demikian, pemegang saham mayoritas menjadi pihak
yang diuntungkan dengan sendirinya. Semakin banyak saham yang dimilikinya, maka makin
dapat berkuasa ia dalam menentukan keputusan mengenai keberadaan dan jalannya suatu
perseroan terbatas.

Persoalannya adalah bagaimana melindungi kepentingan pemegang saham minoritas


yang berisiko dirugikan oleh kekuasaan pemegang saham mayoritas. Ini beberapa pasal yang
dapat berusaha mengatur kepentingan pemegang saham baik mayoritas dan minoritas:

1. Tindakan Derivatif : Ketentuan ini mengatur bahwa Pemegang saham dapat


mengambil alih untuk mewakili urusan perseroan demi kepentingan perseroan,
karena ia menganggap Direksi dan atau Komisaris telah lalai dalam kewajibannya
terhadap perseroan.
a) Pemegang saham dapat melakukan tindakan-tindakan atau bertindak selaku
wakil perseoran dalam memperjuangkan kepentingan perseroan terhadap
tindakan perseroan yang merugikan, sebagai akibat kesalahan atau kelalaian

1
yang dilakukan oleh anggota Direksi dan atau pun oleh komisaris (lihat ps.85
(3) jo. ps.98 (2) UUPT).
b) Melalui ijin dari Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi
kedudukan perseroan, pemegang saham dapat melakukan sendiri pemanggilan
RUPS (baik RUPS tahunan maupun RUPS lainnya) apabila direksi ataupun
komisaris tidak menyelenggarakan RUPS atau tidak melakukan pemanggilan
RUPS (lihat ps.67 UUPT).
2. Hak Pemegang Minoritas: Pada dasarnya ketentuan-ketentuan di bawah ini terutama
ditujukan untuk melindungi kepentingan pemegang saham minoritas dari kekuasaan
pemegang saham mayoritas.
a) Hak Menggugat: Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan
terhadap perseroan melalui Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya
meliputi kedudukan perseroan, bila tindakan perseroan merugikan
kepentingannya (ps. 54 UUPT)
b) Hak Atas Akses Informasi Perusahaan: Pemegang saham dapat melakukan
pemeriksaan terhadap perseroan, permintaan data atau keterangan dilakukan
apabila ada dugaan bahwa perseroan dan atau anggota direksi atau komisaris
melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang saham atau
pihak ketiga (lihat ps.110 UUPT).
c) Hak Atas Jalannya Perseroan: Pemegang saham dapat mengajukan
permohonan kepada Pengadilan Negeri untuk membubarkan perseroan (lihat
ps.117 UUPT).
d) Hak Perlakuan Wajar: Pemegang saham berhak meminta kepada perseroan
agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang bersangkutan
tidak menyetujui tindakan perseroan yang merugikan pemegang saham atau
perseroan, berupa:
(1) perubahan anggaran dasar perseroan;
(2) penjualan, penjaminan, pertukaran sebagian besar atau seluruh
kekayaan perseroan; atau
(3) penggabungan, peleburan atau pengambilalihan perseroan.

2
1.2. Kasus PT Matahari Putra Prima Tbk

PT Matahari Department Store Tbk. adalah salah satu perusahaan ritel terkemuka di
Indonesia yang menyediakan perlengkapan pakaian, aksesoris, produk-produk kecantikan
dan rumah tangga dengan harga terjangkau. Matahari berubah nama menjadi PT Matahari
Department Store Tbk (MDS) sesudah menjadi entitas terpisah dari PT Matahari Putra Prima
Tbk (MPP) pada tahun 2009. Asia Color Company Limited, anak Perseroan CVC Capital
Partners Asia menjadi pemegang saham mayoritas Matahari pada bulan April 2010 sebesar
98,15% (90.76% dibeli dari PT Matahari Putra Prima Tbk dan 7.24% dibeli dari PT. Pasific
Asia Holding Ltd) dan sisanya 1,85% dimiliki oleh publik dan lain-lain.
Pada Januari 2010 Matahari Putra Prima melakukan pendandatanganan sales purchase
agreement dengan PT CVC Capital Partner. CVC akan melakukan akuisisi terhadap anak
perusahaan MPP yakni Matahari Department Store dengan total kepemilikan sebesar 90,76%
melalui anak perusahaanya yakni Meadow Asia Company Limited. Kemudian pada 5 Maret
2010, Matahari Putra Prima berniat menggelar RUPS dengan agenda persetujuan penjualan
saham tersebut. MAC mengalokasikan Rp 7,16 triliun untuk membeli 90,76% saham
Matahari Putra Prima di Matahari Department Store. MPP akan menerima pembayaran tunai
sebesar Rp. 5.28 triliun, piutang sebesar Rp. 1 triliun, 20% saham biasa MAC, 20,72% saham
preferen MAC, dan 8 juta warrant dengan total transaksi sebesar Rp. 7,16 triliun. Selain
membeli saham MPP yang ada pada MDS, MAC juga berencana membeli saham Pasific
Asia Holding Ltd sebesar 7,24% sehingga total kepemilikan saham MAC pada MDS adalah
sebesar 80%.
Sementara seperti telah diketahui dari profil perusahaan tersebut, MAC merupakan
perusahaan patungan (joint venture) antara Matahari Putra Prima dan CVC Capital Partners.
Dimana MPP memiliki kepemilikan saham sebesar 20% pada MAC dan CVC memiliki
kepemilikan sebesar 80%. Hal ini tentu mengindikasikan adanya insider trading yang
dilakukan oleh MPP dan juga terindikasi adanya praktek korporasi guna menaikan harga
saham MDS.
Transaksi yang mengandung benturan kepentingan (conflict of interest) mendapatkan
pengaturan secara ekspliit dalam hukum pasar modal Indonesia. Transaksi benturan
kepentingan diatur dalam Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang
Pasar Modal (UUPM). Pasal 82 ayat (2) UUPM menentukan bahwa Badan Pengawas Pasar
Modal (Bapepam) dapat mewajibkan emiten atau persahaan publik untuk memperoleh
mayoritas pemegang saham independen apabila emiten atau perusahaan publik melakukan

3
transaksi dimana kepentingan ekonomis emiten atau perusahaan publik tersebut berbenturan
dengan kepentingan ekonomis pribadi direktur, komisaris atau pemegang saham utama
emiten atau pemegang saham dimaksud. Berkaitan dengan penjualan saham MDS oleh MPP
kepada MAC, pada hari Jumat tanggal 9 April 2010 pihak menejemen MPP telah mendapat
persetujuan dari RUPS sehingga secara yuridis MAC sebagai perusahaan joint venture
anatara CVC dengan MPP telah berdiri sekaligus berkedudukan sebagai pemegang saham
pengendali dari MDS.

Kembali pada bahasan mengenai transaksi yang mengandung benturan kepentingan,


transaksi ini diatur secara lebih tegas dalam Peraturan Bapepam No.IX.E.1 sebagaimana telah
diperbarui dengan Keputusan Ketua Bapepam LK No: Kep-412/BL/2009. Berdasakan Pasal
1 huruf e peraturan tersebut, benturan kepentingan adalah perbedaan antara kepentngan
ekonomis perusahaan dengan kepentingan ekonomis pribadi anggota direksi, anggota dewan
komisaris atau pemegang saham utama yang dapat merugikan perusahaan dimaksud.

1.3. Penyelesaian Kasus PT Matahari Putra Prima Tbk

Menganggapi isu tersebut, Bapepam-LK selaku badan pengawas pasar modal di


Indonesia melakukan penyelidikan terhadap transaksi tersebut. Kemudian Bapepam-LK
menyelenggarakan pertemuan dengan pihak menejemen MPP. Pada pertemuan tersebut
Bapepam LK meminta kepada pihak menejemen MPP untuk memberikan penjelasan secara
lebih rinci kepada publik mengenai transaksi yang bernilai triliunan rupiah tersebut.
Setelah pertemuan yang pertama dengan menejemen MPP tersebut, Bapepam LK
kembali meminta kepada pihak manajemen MPP uuntuk memberikan penjelasan kepada
publik mengenai segala bentuk utang yang dimiliki MPP dan juga rencana penggunaan dana
hasil penjualan saham MDS sebesar Rp 7,16 triliun. Dan kemudian memperoleh hasil bahwa
hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk melunasi hutang MPP kepada PT. Multipolar
dan juga untuk membagikan dividen yang sebagian juga mengalir ke PT. Multipolar.
Selanjutnya karena hasil keterangan tersebut oleh Bapepam-LK dirasa kurang jelas,
Bapepam-LK pun meminta MPP untuk menunda pelaksanaan RUPS dan membuat bussines
plan mengenai penggunaan dana hasil penjualan tersebut dan ditampilkan dalam bentuk
public expose guna menjamin transparansi agar pihak pemegang saham minoritas pun dapat
mengetahui tujuan dari penjualan saham tersebut.
Pada akhirnya Bapepam-LK tetap mengalami kesulitan untuk mengumpulkan bukti-bukti
penyimpangan transaksi penjualan yang dilakukan MDS. Hal tersebut dikarenakan transaksi

4
yang terjadi dan pihak-pihak yang melakukan hanya sedikit jumlahnya. Walaupun analisa
Bapepam-LK menemukan indikasi transaksi mencurigakan, tetapi untuk melakukan proses
hukum memerlukan bukti yang materiil.
Kamis 18 Februari 2010, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa mereka
tidak berniat menindaklanjuti kasus penjualan saham PT Matahari Department Store Tbk
(LPPF), anak usaha PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Otoritas bursa memaklumi
tindakan Matahari menjual saham Matahari Department Store untuk membayar sebagian
utang dan memperkuat bisnisnya. Eddy menjelaskan, pihaknya telah bertemu dengan
manajemen Matahari dan CVC Capital Partners beberapa waktu lalu. Perseroan menjelaskan
mengenai rencana penjualan, skema pembayaran, serta hal lain tentang penjualan saham itu.
Menurut Eddy, Matahari mengakui bahwa pihaknya tengah menjajaki beberapa peluang
bisnis untuk meningkatkan usaha yang sudah ada. Pendanaan akan dipenuhi dari hasil
penjualan saham Matahari Department Store. Selain itu, Matahari berniat mengalokasikan
sebagian dana penjualan saham untuk mengurangi utang.
Dan kemudian tanggal 26 Maret 2010 dilaksanakanlah RUPS guna membahas rencana
penjualan saham MDS kepada MAC dan semua shareholder menyetujui rencana penjualan
tersebut. PT. Matahari Putra Prima pun secara resmi menjual 90,7% saham PT. Matahari
Department Store kepada PT. Meadow Asia Company.

5
DAFTAR PUSTAKA

BAPEPAM. 2009. Peraturan No.IX.E.1 Tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan


Kepentingan. Jakarta: Departemen Keuangan dan Bapepam RI.

Brooks, Robert. 2016. Kasus Pt Matahari Putra Prima Tbk. Diambil dari:
https://www.scribd.com/doc/299291548/Kasus-Pt-Matahari-Putra-Prima-Tbk. (Diakses
pada tanggal 9 Oktober 2017)

Fauzi, Abdul Wahid. 2010. Bapepam Turut Periksa Kasus Saham Matahari. Diambil dari:
http://investasi.kontan.co.id/news/bapepam-turut-periksa-kasus-saham-matahari.
(Diakses pada tanggal 9 Oktober 2017)

Putra, Aditiya. Perlindungan Terhadap Pemegang Saham. 2006. Diambil dari:


http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl1017/perlindungan-terhadap-pemegang-
saham. (Diakses pada tanggal 9 Oktober 2017)

Putri, Asri Dwija, dan Agung Ulupui. 2017. Pengantar Corporate Governance. Denpasar:
CV Sastra Utama.

Wibowo, Arianto. 2010. BEI Tak Ungkit Lagi Kasus Matahari. Diambil dari:
http://www.viva.co.id/berita/bisnis/130667-bei-tak-ungkit-lagi-kasus-matahari.
(Diakses pada tanggal 9 Oktober 2017)