Anda di halaman 1dari 5

7.

PSAK 16: Aset Tetap

A. Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 16 (Revisi 2011)

PSAK 16 (Revisi 2011): Aset Tetap merevisi PSAK 16 (Revisi 2007): Aset Tetap. Secara substantif tidak
terdapat perbedaan di kedua revisi PSAK tersebut. PSAK (Revisi 2011) hanya untuk
menyesuaikan dengan versi IFRS per 1 Januari 2009. PSAK ini mengadopsi IAS 16 (2009):Property,
Plant and Equipment. Tujuan dan ruang lingkup PSAK 16 (Revisi 2011) terlihat pada Tabel II.15.

Tabel II.15 Tujuan & Ruang Lingkup PSAK 16 (Revisi 2011)

Perihal Deskripsi
Tujuan Tujuan PSAK 16 (Revisi 2011) adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi aset
tetap agar pengguna aporan keuangan dapat memahami informasi mengenai
investasi entitas di aset tetap dan perubahan dalam investasi tersebut.

Ruang PSAK 16 (Revisi 2011) harus diterapkan dalam akuntansi aset tetap kecuali PSAK
lingkup lain menetapkan atau mengizinkan perlakuan akuntansi yang berbeda
PSAK 16 (Revisi 2011) tidak berlaku untuk hak penambangan dan reservasi
tambang, seperti minyak,gas alam, dan sumber daya alam sejenis yang tidak dapat
diperbarui.
PSAK lain bisa saja mensyaratkan pengakuan aset tetap berdasarkan pendekatan
yang berbeda dari PSAK 16. Contohnya adalah PSAK 30 tentang sewa yang
mensyaratkan suatu entitas untuk mengevaluasi pengakuan aset tetap sewaan atas
dasar pemindahan risiko dan imbalan. Namun demikian, dalam aspek perlakuan
akuntansi lain tertentu untuk aset tersebut, termasuk penyusutan,PSAK 16 (Revisi
2011) mengaturnya.
PSAK 16 (Revisi 2011) diterapkan untuk properti yang dikonstruksi atau
dikembangkan untuk digunakan di masa depan sebagai properti investasi, tetapi
belum memenuhi kriteria definisi Properti Investasi dalam PSAK 13: Properti
Investasi. Ketika konstruksi atau pembangunannya telah selesai,properti tersebut
menjadi properti investasi dan entitas diharuskan menerapkan PSAK 13.Properti
investasi yang sedang dikembangkan ulang untuk dilanjutkan penggunaannya di
masa depan sebagai properti investasi juga harus mengacu pada PSAK 13. Entitas
yang menggunakan model biaya untukproperti investasi sesuai PSAK 13 harus
menggunakan model biaya dalam PSAK 16 (Revisi 2011).

Sumber: Paragraf 1-5 PSAK 16 (Revisi 2011) (IAI, 2011) dan IAS 16 (IASCF, 2009)

B. Konsep Utama

Masalah utama dalam akuntansi untuk aset tetap adalah saat (timing) pengakuan aset,penentuan jumlah
tercatat dan beban penyusutan, serta penentuan dan perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai tercatat
aset tetap. Di dalam paragraf 6 PSAK 16 (Revisi 2011), aset tetap didefinisikan sebagai aset berwujud
yang

a) dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalka kepada
pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
b) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Pengertian aset tetap tersebut terkait dengan beberapa istilah umum lainnya, seperti diuraikan dalam
Tabel II.16.
Tabel II.16 Pengertian-pengertian Terkait dengan Aset Tetap

Perihal Deskripsi
Jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan lain
yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau
Biaya perolehan (cost)
konstruksi atau, jika dapat diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke aset pada saat
pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan tertentu dalam PSAK lain.
Jumlah tercatat Nilai yang disajikan dalam neraca setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan
(carrying amount) akumulasi rugi penurunan nilai
Jumlah yang dapat
Nilai yang lebih tinggi antara harga jual neto dan nilai pakai (value in use) suatu
diperoleh kembali
aset
(recoverable amount)
Jumlah yang dapat
Biaya perolehan suatu aset atau jumlah lain yang menjadi pengganti biaya
disusutkan
perolehan,dikurangi nilai residunya.
(depreciable amount)
Nilai kini dari arus kas suatu entitas yang diharapkan timbul dari penggunaan aset
Nilai khusus entitas
dan dari pelepasannya pada akhir umur manfaat atau yang diharapkan terjadi
(entity specific value)
ketika penyelesaian kewajiban
Jumlah yang diperkirakan akan diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset
Nilai residu aset setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jika aset tersebut telah mencapai
umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.
Jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang
Nilai wajar berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan
wajar (arms length transaction)
Alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur
Penyusutan
manfaatnya
Rugi penurunan nilai Selisih dari jumlah tercatat suatu aset dengan jumlah yang dapat diperoleh
(impairment loss) kembali dari aset tersebut
a) suatu periode dimana aset diharapkan akan digunakan oleh entitas, atau
Umur manfaat (useful
b) jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset
lif)
tersebut oleh entitas

Sumber: Paragraf 1-5 PSAK 16 (IAI, 2009) dan IAS 16 (IASCF, 2009)

C. Perlakuan Akuntansi

Tabel II.17 menjelaskan perlakuan akuntansi utama untuk aset tetap sesuai dengan PSAK 16 (Revisi
2011). Perlakuan tersebut merujuk pada paragraf berhuruf miring dan tebal di PSAK 16 (Revisi 2011).
Namun demikian, Tabel II.17 juga mencakup beberapa paragraf yang tidak berhuruf miring dan tebal
untuk lebih memperjelas uraian tentang perlakuan akuntansi aset tetap.

Tabel II.17 Perlakuan Akuntansi untuk Aset Tetap dalam PSAK 16 (Revisi 2011)

Perihal Deskripsi
Pengakuan Biaya perolehan aset diakui jika dan hanya jika
a) besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan
dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas, dan
b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal [par.7]
PSAK 16 (Revisi 2011) tidak menentukan unit ukuran dalam pengakuan
suatu aset tetap.Karena itu, diperlukan pertimbangan dalam penerapan
kriteria pengakuan yang sesuai dengan kondisi tertentu entitas.
Pertimbangan tersebut tepat terhadap agregasi unit-unit yang secara
individual tidak signifikan, seperti cetakan dan perkakas, kemudian
menerapkan kriteria atas nilai agregat tersebut [par.9]

Pengukuran Awal Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset pada
1) Komponen biaya awalnya harus diakui berdasarkan biaya perolehan, yang meliputi.
perolehan
a. harga perolehan, termasuk bea impor dan non-creditable tax dikurangi
diskon dan potongan
b. biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke
lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai
dengan keinginan dan maksud manajemen
c. estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan
restorasi lokasi aset.[par.15-16]

2) Pengukuran Biaya a. Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunainya dan diakui
Perolehan pada saat terjadinya.Jika pembayaran untuk suatu aset ditangguhkan
hingga melampaui jangka waktu kredit normal,perbedaan antara nilai tunai
dengan pembayaran total diakui sebagai beban bunga selamaperiode
kredit, kecuali dikapitalisasi sesuai dengan perlakuan alternatif yang
diizinkan dalamPSAK 26 tentang Biaya Pinjaman. [par.23]
b. Aset yang diperoleh melalui pertukaran non moneter atau kombinasi aset
moneter dan non moneter diukur sebesar nilai wajar, kecuali
1) Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
2) Nilai wajar aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara
andal [par.24]
c. Biaya perolehan aset tetap yang dicatat oleh lessee dalam sewa
pembiayaan ditentukan sesuai dengan PSAK 30 (Revisi 2011): Sewa
[par.27]
d. Nilai tercatat aset tetap dapat dikurangi dengan hibah pemerintah sesuai
dengan PSAK 61:Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan
Bantuan Pemerintah [par.28]

PengukuranSetelah Entitas memilih model biaya (cost model) atau model revaluasi (revaluation model)
Pengakuan Awal sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap
seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama [par.29]
1) Model Biaya Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan
dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset
2) Model Revaluasi [par.30]
a. Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat
diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai
wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan
akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi.
Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk
memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari
jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada akhir
periode pelaporan [par.31].
b. Jika suatu aset direvaluasi, seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama
harus direvaluasi[par.36].
c. Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut
langsung dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun,
kenaikan tersebut harus diakui dalam laporan laba rugi hingga sebesar
jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah diakui
sebelumnya dalam laporan laba rugi [par.39].
d. Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui
dalam laporan laba rugi. Namun, penurunan nilai akibat revaluasi tersebut
langsung didebit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama
penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit sruplus untuk aset tersebut
[par.40].
e. Jika entitas mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke model
revaluasi dalam pengukuran aset tetap, perubahan tersebut berlaku
prospektif [par.43]

Penyusutan a. Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan secara
signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan
secara terpisah [par.44].
b. Beban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laporan laba
rugi, kecuali jika beban tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset
lainnya [par.49].
c. Jumlah tersusutkan dari suatu aset dialokasikan secara sistematis
sepanjang umur manfaatnya [par.51].
d. Nilai residu dan umur manfaat setiap aset tetap harus di-review minimum
setiap akhir tahun buku. Bila ternyata hasil review berbeda dengan
estimasi sebelumnya, perbedaan tersebut harus diperlakukan sebagai
perubahan estimasi akumulasi sesuai dengan PSAK 25 (Revisi 2009):
Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Koreksi Kesalahan
Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi [par.52].
e. Metode penyusutan yang digunakan harus mencerminkan ekspektasi pola
konsumsi manfaat ekonomis masa depan dari aset oleh entitas [par.61].
f. Metode penyusutan harus di-review minimum setiap akhir tahun buku. Bila
terjadi perubahan signifikan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat
ekonomi masa depan dari aset tersebut, metode penyusutan harus diubah
untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode
penyusutan harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi
sesuai dengan PSAK 25: Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan,
Koreksi Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi
[par.62].

Penurunan Nilai Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mengalami penurunan nilai,
entitas menerapkan PSAK 48: Penurunan Nilai Aset. PSAK ini
menjelaskan
1. bagaimana entitas me-review jumlah tercatat asetnya,
2. bagaimana menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari
aset, dan
3. kapan mengakui atau membalik rugi penurunan nilai [par.64].
Dalam hal terdapat kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang
mengalami penurunan nilai, hilang, atau dihentikan, kompensasi tersebut
harus dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat kompensasi itu
diakui sebagai piutang [par.65]

Penghentian 1. Pengakuan jumlah tercatat aset tetap dihentikan pada saat


Pengakuan a. dilepaskan; atau
b. tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari
penggunaan atau pelepasannya [par.67].
2. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap harus
dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat pengakuan aset tersebut
dihentikan (kecuali PSAK 30 mengharuskan perlakuan berbeda dalam hal
transaksi jual dan sewa balik). Laba tidak boleh diklasifikasikan sebagai
pendapatan [par.68].
3. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian suatu aset tetap
harus ditentukan sebesar perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan,
jika ada, dan jumlah tercatat dari aset tersebut [par.72].

Sumber: PSAK 16 (Revisi 2011) (IAI, 2011) dan IAS 16 (IASCF, 2009)