Anda di halaman 1dari 51

1.1. Latar belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Anak merupakan karunia Tuhan yang harus di syukuri, dimana seseorang

yang sudah berkeluarga sangat berharap mempunyai seorang anak. Suatu proses

hidup yang harus dilalui oleh seorang anak adalah tumbuh dan berkembang. “Lima

tahun pertama kehidupan anak merupakan awal bagi proses tumbuh kembang anak,

baik fisik maupun psikisnya. Anak-anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas

tumbuh kembangnya pada tahap ini akan mengalami keterlambatan pada tahap

tumbuh kembang berikutnya” (Wong, 2009)

Pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung sangat cepat pada usia 1-

3 tahun (toddler), dimana ini menjadi usia emas/ golden period seorang anak dalam

tahap tumbuh kembangnya. “Perkembangan psikologis pada usia toddler merupakan

perubahan dari fase percaya dan tidak percaya menjadi fase otonomi dan ragu-ragu

malu yang ditunjukkan dengan sikap kemandirian” (Kyle & Carman, 2015)

Peningkatan kemandirian anak usia 1-3 tahun (toddler) yang diperkuat

dengan kemampuan mobilitas fisik dan kognitif lebih besar, inilah waktu yang sangat

tepat bagi orang tua untuk mengoptimalkan perkembangan otak si kecil dengan

memberikan stimulasi.

Salah satu stimulasi yang penting dilakukan orang tua adalah stimulasi

terhadap kemandirian anak dalam melakukan BAB (buang air besar) dan BAK

(buang air kecil) karena pada fase ini anak sudah masuk ke fase anal dimana anak

mulai mampu untuk mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).

Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun masih dianggap sebagai hal

yang wajar. Anak mengompol di bawah usia 2 tahun disebabkan karena anak belum

mampu

mengontrol

kandung

kemih

secara

sempurna

Tidak

jarang

kebiasaan

mengompol masih terbawa sampai usia 4-5 tahun. “Kasus yang ditemukan di

Indonesia anak usia 6 tahun yang masih mengompol sekitar 12 %” (Asti, 2008). Hal

ini disebabkan karena dalam mendidik anak dalam melakukan BAB dan BAK akan

efektif apabila dilakukan sejak dini. “Melatih anak sejak dini dapat membantu dalam

respon terhadap kemampuan untuk buang air kecil dan buang air besar. Salah satu

cara yang dapat dilakukan dalam mengajarkan BAB dan BAK pada anak adalah

melalui toilet training” (Hidayat, 2009)

“Toilet training merupakan salah satu tugas utama anak pada usia 1-3 tahun

(toddler). Toilet training merupakan sebuah pelatihan yang sangat dibutuhkan anak

agar mampu mengontrol kemampuan untuk buang air kecil (BAK) dan buang air

besar (BAB)” (Hidayat, 2009) Suskesnya toilet training tergantung pada kesiapan

anak seperti kesiapan fisik, psikologis, mental, dan kesiapan anak itu sendiri.

Mengajarkan toilet training pada anak bukanlah hal yang mudah untuk

dilakukan orang tua. ”Dalam mengajarkan toilet training dibutuhkan metode atau

cara yang mudah dimengerti oleh anak. Penggunaan metode yang mudah akan

mempengaruhi keberhasilan dalam mengajarkan konsep toilet training pada anak”

(Hutabarat, 2007 dalam Riyani, 2010).

Metode yang dapat dilakukan sehingga mudah dimengerti oleh anak salah

satunya adalah dengan menggunakan teknik modeling. Keberhasilan teknik modeling

dapat didukung oleh suatu media yang digunakan seperti media audio visual. Audio

visual merupakan salah satu media yang menyajikan informasi atau pesan secara

audio dan visual. Media ini memberikan stimulus pada pendengaran dan penglihatan

sehingga hasil yang diharapkan lebih maksimal (Sadiman dalam Luh putu, 2015).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmatika Ammelda, dalam

jurnal penelitiannya untuk mengetahui pengaruh modeling media video dan gambaran

terhadap peningkatan kemampuan toilet training pada anak toddler di TPA AL-

Fityah, TPA TWAT ASI, TPA Harapan dan TPA FKIP UNRI Hasil penelitian yang

telah dilakukan tentang

peningkatan

kemampuan

pengaruh modeling

media video

dan gambar terhadap

toilet

training

pada

anak

toddler

disimpulkan

bahwa

modeling media video dan gambar berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan

toilet training pada anak toddler.

Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh

Kartika, Mulidah, Girindra

(2016) untuk mengetahui efektivitas teknik oral dan modeling terhadap keberhasilan

toilet training pada toddler di Desa Pamijen Kecamatan Baturraden Yogyakarta.

Karakteristik responden berdasarkan umur, paling

banyak adalah 2,1-2,6 tahun

sebesar 56,67%. Tingkat pendidikan orang tua responden paling banyak adalah SMA

yaitu 40%. Keberhasilan toilet training teknik oral sebanyak 33,33%. Keberhasilan

toilet training teknik modelling sebanyak 80%. Ada perbedaan yang signifikan antara

teknik

oral dan teknik

modelling

terhadap

keberhasilan toilet

training.

Teknik

modelling lebih efektif dari pada teknik oral terhadap keberhasilan toilet training pada

anak usia toddler di Desa Pamijen Kecamatan Baturraden.

Penelitian yang relevan selanjutnya oleh Luh Putu Karsi Ekayani (2015)

mengenai Efektivitas penyuluhan dengan audio visual terhadap keberhasilan toilet

training pada anak umur 2-3. Berdasarkan dari penelitian tersebut maka penyuluhan

dengan audio visual efektif terhadap keberhasilan toilet training anak pada umur 2-3

tahun.

Observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo pada anak usia 2-3 tahun menunjukkan masih 61 % dari total keseluruhan

siswa masih menggunakan popok (diapers) karena belum mampu mengontrol buang

air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) mereka.

Berdasarkan

hasil

melakukan penelitian untuk

observasi

tersebut

di

atas,

peneliti

tertarik

untuk

mengetahui

“Pengaruh Teknik

Modeling

Terhadap

Penerapan Toilet Training Pada Anak Usia Toddler di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo.

1.2.

Identifikasi Masalah

1.

Hasil observasi awal oleh peneliti di PAUD Muslim Kids kota Gorontalo

menunjukkan masih 61 % dari total keseluruhan siswa masih menggunakan

popok (diapers) karena belum mampu mengontrol buang air kecil (BAK) dan

buang air besar (BAB) mereka.

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat disimpulkan rumusan masalah

pada penelitian ini apakah ada pengaruh teknik modeling video terhadap penerapan

toilet training pada anak usia toddler di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo?

1.4.

Tujuan Penelitian

1.4.1

Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya

pengaruh teknik modeling video terhadap penerapan toilet training pada anak usia

toddler di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

1.4.2 Tujuan Khusus

1.

Mengidentifikasi penerapan toilet training sebelum dilakukan teknik modeling

video di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

2.

Mengidentifikasi penerapan toilet training sesudah dilakukan teknik modeling

video di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

3.

Menganalisis pengaruh teknik modeling terhadap penerapan toilet training pada

anak usia toddler di PAUD Muslim Kids kota Gorontalo

1.5.

Manfaat penelitian

1.5.1

Manfaat teoritis

Hasil

penelitian

ini

diharapkan

mampu

mengembangkan

ilmu

pengetahuan terkait dengan penggunaan model video dalam keterampilan buang air

kecil dan buang air besar anak usia toddler serta dapat menjadi referensi keilmuan

dalam pengembangan metode toilet training.

1.5.2 Manfaat praktis

1. Bagi keperawatan

Hasil penelitian berupa model video diharapkan dapat digunakan dalam

keperawatan

sebagai

upaya

promosi

untuk

optimalisasi

tumbuh

kembang

terutama anak usia batita pada aspek keterampilan buang air kecil dan buang air

besar, sehingga perawat dapat memenuhi salah satu perannya sebagai edukator.

2. Bagi pendidikan

Sebagai referensi untuk memberikan pembelajaran toilet training di sekolah

dengan menggunakan audio visual dan juga sebagai informasi kepada mahasiswa

dalam kegiatan proses belajar mengajar tentang penerapan toilet training pada

anak usia toddler.

3. Bagi peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang penerapan toilet training

pada anak usia toddler dengan metode modeling video.

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

2.1

Konsep Anak

2.1.1

Definisi Anak

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan

pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia toddler (1-

3 tahun), usia pra-sekolah (3- 6 tahun), usia sekolah (6-11 tahun),

hingga remaja

(11-20

tahun).

Pada

anak

terdapat

rentang

perubahan

pertumbuhan

dan

perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses perkembangan anak

memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial” (Hidayat,

2009).

 

Anak adalah individu yang berusia antara 0 sampai 18 tahun, yang sedang

dalam

proses

tumbuh-kembang,

mempunyai

kebutuhan

yang

spesifik

(fisik,

psikologis, sosial, dan spiritual ) yang berbeda dengan orang dewasa, apabila

kebutuhan tersebut terpenuhi maka anak akan mampu beradaptasi dan kesehatanya

terjaga, sedangkan bila anak sakit maka akan mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan

fisik,

psikologis,

intelektual,

sosial,

dan

spiritual

(Ramdianati,

2011).

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan

perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Pada anak terdapat rentang

perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam

proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping

dan perilaku social” (Hidayat, 2009).

2.1.2 Usia Bayi (0-1 tahun)

Periode bayi baru lahir atau neonatal pada masa bayi didefenisikan

sebagai periode sejak lahir sampai usia 28 hari. Masa bayi didefenisikan sebagai

periode

sejak

lahir

sampai

usia

12

bulan.

Pertumbuhan

dan

perkembangan

merupakan proses berkelanjutan yang saling terkait dimasa bayi dan kanak-kanak.

(Kyle & Carman, 2015).

Pertumbuhan dan perkembangan yang berubah dalam satu tahun pertama

kehidupan sangat banyak dan dramatis. Pertumbuhan fisik, maturasi/kematangan

sistem tubuh, dan keterampilan motorik kasar dan halus berkembang secara teratur

dan berurutan. Meskipun waktu dapat beragam antara satu bayi dengan bayi lain,

urutan pencapaian keterampilan perkembangan terjadi secara konsisten. Bayi juga

memperlihatkan jumlah pembelajaran yang sangat banyak dalam psikososial dan

kognitif, bahasa dan komunikasi, serta social dan emosional (Kyle & Carman,

2015).

2.1.3

Usia Toddler (1-3 tahun)

Masa bayi adalah waktu pertumbuhan dan perkembangan yang intens.

Pertumbuhan fisik dan pencapaian keterampilan motorik baru sedikit melambat

selama masa toddler. Penghalusan keterampilan motorik, kelanjutan pertumbuhan

kognitif, dan pencapian keterampilan bahasa yang tepat merupakan pokok penting

selama masa toddler (Kyle & Carman, 2015).

2.1.4

Usia Anak Prasekolah (3-6 tahun)

 

Periode prasekolah adalah periode antara usia 3 dan 6 tahun. Ini adalah

waktu

kelanjutan

pertumbuhan

dan

perkembangan.

Pertumbuhan

secara

fisik

menjadi

jauh

lebih

lambat

dibandingkan

dengan

tahun-tahun

sebelimnya.

Peningkatan perkembangan kognitif, bahasa dan psikososial penting selama periode

prasekolah. Banyak tugas yang dimulai selama masa toddler dikuasai dan sempurna

selama usia prasekolah. Anak belajar menoleransi perpisahan dari orang tua,

memiliki rentang perhatian lebih lama dan terus mempelajari keterampilan yang

akan

memicu

keberhasilan

nanti

pada

periode

usia

sekolah.

Persipan

untuk

kesuksesan disekolah terus berlanjut selama periode prasekolah karena sebagian

besar anak memasuki sekolah dasar diakhir periode prasekolah (Kyle & Carman,

2015).

2.1.5

Usia Anak Sekolah (6-11 tahun)

Anak

usia

sekolah,

antara

usia

6

dan

12

tahun,

mengalami

waktu

pertumbuhan

fisik

yang

progresif

yang

lambat,

sedangkan

kompleksitas

pertumbuhan social dan perkembangan mengalami percepatan dan meningkat.

Fokus

dunia mereka berkembang dari keluarga

ke guru, teman sebaya,

dan

pengaruh luar lainnya. Pada tahap ini anak semakin mandiri ketika berpartisipasi

dalam aktivias diluar rumah (Kyle & Carman, 2015).

Usia

sekolah

adalah

waktu

berlanjutnya

maturitas/kematangan

karakteristik fisik, social, dan psikologik anak. Selama saat ini anak bergerak

kearah abstrak dan mencari pengakuan dari teman sebaya, guru dan orang tua (Kyle

& Carman, 2015).

2.1.6 Usia Remaja (11-20 tahun)

Masa

remaja

adalah

waktu

cepatnya

pertumbuhan

dengan

perubahan

dramatis dalam ukuran dan porposi tubuh. Cepat dan besarnya perubahan ini

menempati urutan kedua setelah cepat dan besarnya pertumbuhan dimasa bayi.

Remaja

akan

Carman, 2015).

menunjukkan

beragam

tingkat

pembentukan

identitas

(Kyle

&

Masa remaja memiliki rentang waktu transisi dari masa kanak-kanak ke

masa dewasa, yang biasanya terjadi pada usai antara 11 dan 20 tahun. Terdapat

beberapa tumpang tindih antara akhir usia sekolah dan masa remaja. Remaja

mengalami

perubahan

drastis

pada

area

fisik,

kognitif,

psikososial,

dan

psikoseksual.

Dengan

cepatnya

pertumbuhan

ini

selama

masa

remaja,

perkembangan karakteristik seksual sekunder, dan ketertarikan pada jenis kelamin

yang berbeda, remaja memerlukan dukungan dan bimbingan dari orang tua dan

perawat untuk memfasilitasi gaya hidup sehat dan untuk mengurangi perilaku

resiko (Kyle & Carman, 2015).

2.2

Konsep Usia Toddler

2.2.1

Usia Toddler

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita atau

toddler, dimana pada periode ini pertumbuhan dan perkembangan berlangsung

sangat

cepat

dan

akan

mempengaruhi

perkembangan

(Soetjiningsih, 2014 dalam Luh Putu 2015).

anak

selanjutnya

Periode toddler mencakup 2 tahun kedua kehidupan, sejak usia 1 sampai 3

tahun. Periode ini adalah waktu pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak

yang signifikan. Periode ini juga dapat menjadi waktu yang sulit bagi orang tua.

Perilaku khas selama masa toddler adalah memegang dan melepaskan. Setelah

belajar bahwa orang tua dapat diprediksikan dan terpercaya, toddler kini belajar

bahwa perilakunya memiliki efek yang dapat diprediksian dan terpercaya pada

orang lain. Tantangannya adalah mendukung kemandirian dan otononomi sambil

menjaga keamanan toddler yang rasa ingin tahunya tinggi (Kyle & Carman, 2015).

Toddler adalah anak antara rentang usia 12 sampai 36 bulan. Toddler

tersebut

ditandai

dengan

peningkatan

kemandirian

yang

diperkuat

dengan

kemampuan

mobilitas

fisik

dan

kognitif

lebih

besar.

Perkembangan

fisik,

perkembangan

keterampilan

motorik

yang

cepat

membolehkan

anak

untuk

berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri sendiri seperti makan, berpakaian, dan

eliminasi (Wong, 2003 dalam Fahmid, 2015).

Masa

usia

toddler

yaitu

masa

dimana

perkembangan

otak

anak

berkembang secara luar biasa. Inilah waktu yang sangat tepat bagi orang tua untuk

mengoptimalkan

perkembangan

otak

si

kecil

dengan

memberikan

stimulasi

maksimal. Lingkungan yang nyaman dan penuh kasih sayang akan mengenalkan

anak pada rasa cinta kasih, pertumbuhan otaknya pun akan berkembang dengan

baik (Musbikin, 2012).

2.2.2 Pertumbuhan dan perkembangan usia toddler

Menurut devianti, 2013 dalam Fadhilatul (2014) pada umumnya masa

kanak-kanak adalah

masa

terpanjang

dalam

rentang

kehidupan

seseorang,

saat

individu dimana relatif tidak berdaya dan tergantung dengan orang lain. Tumbuh

kembang merupakan suatu proses utama yang hakiki dan khas pada anak dan

merupakan sesuatu yang terpenting pada anak tersebut.

Menurut (Setiawan, 2014) Pada periode toddler anak mengalami beberapa

fase perkembangan, yaitu :

1. Perkembangan psikososial (fase Autonomy vs shame)

Anak mulai dapat mengatur dirinya sendiri, jika hasilnya baik anak meningkatkan

control diri. Jika hasilnya tidak baik (negative) ia akan merasa malu. Pada fase ini

kebutuhan tidak dipenuhi dengan baik maka akan timbul perasaan malu, ragu-ragu,

keras kepala. Menentang, paranoid.

2. Perkembangan psikointelektual (fase preoperasio anal )

Ciri pada fase ini adalah sifat egosentris dan belum mampu berpikir dari sudut

pandang orang lain.

3. Perkembangan psikoseksual (fase Anal)

Pada fase ini, dimana anak mulai mampu untuk mengontrol buang air kecil

(BAK) dan buang air besar (BAB).

Pada periode toddler (1-3 tahun) tugas perkembangan pada usia ini yaitu mampu

belajar toilet training, belajar otonomi dan belajar independent (Wong, 2009).

Menurut Kyle & Carman, 2015 pertumbuhan dan perkembangan diusia

toddler yaitu :

1.

Perkembangan Psikososial

 

Erikson mendefinisikan periode toddler sebagai waktu otonomi versus rasa malu

dan

ragu.

Ini

adalah

waktu

memperlihatkan

kemandirian.

Sejak

toddler

mengembangkan sensai percaya dimasa bayi, ia siap menyerahkan kebergantungan

dan menegaskan sensai control dan otonominya sendiri (Erikson, 1963 dalam Kyle &

Carman 2015).

Toddler berjuang untuk penguasan diri, belajar untuk melakukan sesuatu untuk

dirinya sendiri, selama ini yang dilakukan oleh orang lain untuk mereka. Toddler

sering kali mengalami ambivalensi tentang perpindahan dari kemandirian ke otonomi,

dan ini menghasilkan labilitas emosional. Toddler dapat dengan cepat berubah dari

rasa

bahagia

dan

senang

menjadi

dan

berteriak.

Peggunaan

kemandirian

juga

menghasilkan respons favorit toddler untuk mengatakan “tidak” (Kyle & Carman,

2015).

2. Perkembangan kognitif

Toddler melewati dua subtahap terakhir dalam tahap pertama perkembangan

kognitif, tahap sensorimotor, antara usia 12 dan 24 bulan. Toddler muda terlibat

dalam reaksi sirkular tersier dan berkembang menjadi kombinasi mental. Bukan

hanya mengulangi perilaku, toddler mampu bereksperimen dengan prilaku untuk

melihat apa yang akan terjadi. Pada usia 2 tahun, toddler mampu menggunakan

simbol untuk memungkinkan imitasi/peniruan. Dengan peningkatan kemampuan

kognitif, toddler kini terlimbat dalam imitasi lambat. Misalnya meraka dapat meniru

tugas rumah tangga yang mereka lihat dilakukan oleh orang tua beberapa hari yang

lalu (Kyle & Carman, 2015).

Piaget mengidentifikasi tahap kedua perkembangan kognitif sebagai tahap

praoperasional. Tahap praoperasional ini terjadi ketika anak berusia 2 dan 7 tahun.

Selama tahap ini toddler mulai menjadi lebih pandai dengan pemikiran simbolik

(Kyle & Carman, 2015).

Menurut wong dalam fadhilatul (2014) tumbuh kembang anak yang lebih

spesifik pada anak usai toddler yaitu usia 1-3 tahun mempuyai periode, yakni:

1.

Anak lebih banyak bergerak

2.

Mengebangkan rasa ingin tahu

3.

Eksplorasi terhadap benda yang ada disekelilingnya

4.

Melakukan sesuatu sendiri seperti memakai pakaian sendiri, mengosok gigi,

mencuci tangan sendiri dan toilet training

5.

Harus diwaspadai bahaya atau resiko terjadinya bahaya atau resiko terjadinya

kecelakaan

6.

Orang tua perlu mendapatkan bimbingan antisipasi terhadap kemungkinan bahaya

atau ancaman kecelakaan.

2.3

Konsep Toilet Training

2.3.1

Definisi Toilet Training

Toilet training adalah suatu usaha untuk melatih anak agar mampu

mengontrol dalam melakukan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).

Toilet training juga merupakan sebuah pelatihan yang sangat dibutuhkan anak agar

mampu mengontrol kemampuan untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar

(BAB)”. Toilet training juga membutuhkan kesiapan mental maupun fisik dari

anak. (Hidayat, 2009).

Toilet training merupakan proses pengajaran untuk kontrol buang air

besar dan buang air kecil secara benar dan teratur. Biasanya kontrol buang air kecil

lebih dahulu dipelajari oleh anak, kemudian kontrol buang air besar (Zavier, 2008

dalam Fahmid 2015).

Toilet

training

merupakan

latihan

kebersihan,

dimana

diperlukan

kemampuan fisik untuk mengontrol sfingter ani dan urethra dan tercapai kadang-

kadang setelah anak bisa berjalan (Whaley & Wong, 1999).

Toilet training juga dapat menanamkan suatu kebiasaan yang baik pada

anak mengenai kebersihan diri. Dalam kegiatan toilet training ini, anak tidak hanya

harus

memiliki

persipan

secara

intelektual (Hidayat, 2009).

fisik

dan

psikologis

namun

juga

persiapan

Salah satu tugas mayor masa toddler adalah toilet training. Kontrol

volunter sfingter anal dan uretra terkadang dicapai kira-kira setelah anak berjalan,

mungkin antara usia 18 dan 24 bulan. Namun, diperlukan faktor psikofisiologis

kompleks

untuk

kesiapan.

Anak

harus

mampu

mengenali

urgensi

untuk

mengeluarkan dan menahan elimanasi serta mampu menggomunikasikan sensai ini

kepada

orang

tua

dengan

menahan,

mengeluarkan eliminasi (Wong, 2009).

dari

pada

memuaskan

diri

dengan

Biasanya, kesiapan fisiologis dan psikologis belum lengkap sampai anak

berusia 18 sampai 24 bulan. Pada saat ini, anak telah menguasai mayoritas

keterampilan motorik kasar yang penting, mampu berkomunikasi dengan pintar,

jarang mengalami konflik dengan negativise dan pernyataan diri, dan menyadari

kemampuan untuk mengontrol tubuh dan memuaskan orang tua (Wong, 2009).

Latihan defekasi biasanya selesai sebelum latihan berkemih karena latihan

defekasi lebih teratur dan lebih mudah diramalkan. Sensasi defekasi lebih kuat dari

pada berkemih dan dapat menarik perhatian anak. Nyatanya, latihan berkemih di

malam hari belum bisa diselesaikan sampai usia 4 atau 5 tahun, dan bahkan

penyelesaian latihan yang lebih dari usia tersebut masih normal (Wong, 2009).

Toilet trainining juga diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAK

dan

BAB

ditempat

yang

telah

ditentukan.

Selain

itu,

toilet

training

juga

mengajarkan anak dapat membersihkan kotoran sendiri dan memakai celananya

sendiri (Mufattah, 2008 dalam Noer, 2014).

2.3.2 Teknik Mengajarkan Toilet Training

Latihan buang air kecil atau buang air besar pada anak atau dikenal

dengan nama toilet training merupakan suatu hal yang harus dilakukan pada orang

tua anak, mengingat dengan latihan itu diharapkan anak mempuyai kemampuan

sendiri dalam melaksanakan buang air kecil dan buang besar tanpa merasakan

ketakutan

atau

kecemasan

sehingga

anak

akan

mengalami

pertumbuhan

dan

perkembangan sesuai usai tumbuh kembang anak (Hidayat, 2009),

Mengajarkan toilet training pada anak bukanlah hal yang mudah untuk

dilakukan. Dalam mengajarkan toilet training dibutuhkan metode atau cara yang

tepat sehingga mudah dimengerti oleh anak. Penggunaan metode yang tepat akan

mempengaruhi keberhasilan dalam mengajarkan konsep toilet training pada anak.

(Hutabarat, 2007 dalam Riyani, 2010).

Berikut adalah yang dapat dilakukan dalam melatih anak untuk buang air

besar dan kecil pada usia toddler:

1. Teknik lisan

Merupakan usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan instruksi pada

anak dengan kata-kata, yaitu sebelum dan sesudah buang air kecil dan besar. Cara ini

kadang-kadang merupakan hal biasa yang dilakukan pada orang tua, akan tetapi

apabila kita perhatikan bahwa

lisan ini mempunyai nilai yang cukup besar, dalam

memberikan ransangan untuk buang air kecil dan buang air besar dimana dengan

lisan ini persiapan psikologis pada anak akan semakin matang dan akhirnya anak

akan mampu dengan baik dalam melaksanakan buang air kecil dan buang air besar

(Hidayat, 2009).

2. Teknik modelling

Merupakan usaha untuk melatih anak dalam melakukan buang air besar dan

buang air kecil dengan cara meniru untuk atau memberikan contoh. Cara ini juga

dapat dilakukan dengan memberikan contoh-contoh buang air kecil dan buang air

besar ataupun bisa dengan membiasakan buang air kecil dan besar secara benar

(Hidayat, 2009).

3. Teknik pemilihan tempat duduk untuk eliminasi, misalnya :

a.

Tempat duduk berlubang (potty chair) dan/atau penggunaan toilet. Tempat

duduk

berlubang

untuk

eliminasi

yang

tidak

ditopang

oleh

benda

lain

memungkinkan anak merasa aman (Stark, 1994 dalam Sri, 2012).

 

b.

Tempat

duduk

portable

yang

diletakkan

di

atas

toilet

biasa,

yang

memudahkan transisi dari kursi berlubang untuk eliminasi ke toilet biasa dan

menempatkan bangku panjang yang kecil di bawah kaki untuk membantu

menstabilkan posisi anak (Wong, 2008 dalam Sri, 2012).

 

c.

Menempatkan

kursi

berlubang

untuk

eliminasi

di

kamar

mandi

dan

membiarkan anak mengamati ekskresinya ketika dibilas ke dalam toilet untuk

menghubungkan aktivitas ini dengan praktik yan biasa (Wong, 2008 dalam

Sri, 2012).

 

2.3.3

Manfaat Toilet Training

Pada toilet training selain melatih buang air kecil dan buang air besar juga

dapat bermanfaat dalam pendidikan seks sebab saat anak melakukan kegiatan

tersebut, anak akan mempelajari anatomi tubuhnya sendiri serta fungsinya. Dalam

proses toilet training diharapkan terjadi pengaturan implus atau ransangan pada

insting anak dalam melakukan buang air besar atau buang air kecil dan perlu

diketahui bahwa buang air besar merupakan suatu alat pemuasan untuk melepaskan

ketegangan dengan latihan ini anak diharapkan dalam melakukan usaha penundaan

pemuasan (Hidayat, 2009).

Manfaat

toilet

training

dapat

berkaitan

dengan

kemandirian

anak.

Kebersihan tubuh itu termasuk dalam keterampilan bantu diri yang harus dimiliki

anak sesuai tahap perkembanngan sosialnya selain keterampilan berpakaian (

dressing) serta keterampilan makan (eating). Pada usia toddler umumnya anak

lebih siap untuk melakukan toilet training. Asalkan dilatih secara teratur, si anak

akan terbiasa, orang tua bisa melepaskan ketergantungan pada popok (Gilbert 2012,

dalam Fadhilatul 2014).

2.3.4 Pengkajian Toilet Training

Menurut Hidayat, 2009 pengkajian kebutuhan terhadap toilet training

merupakan sesuatu yang harus diperhatikan sebelum anak melakukan buang air

kecil dan buang air besar, mengingat anak yang melakukan bang air kecil dan

buang air besar akan mengalami proses keberhasilan dan kegagalan, selama buang

air kecil dan buang air besar. Proses tersebut akan dialami oleh setiap anak, untuk

mencegah terjadinya suatu kegagalan maka dilakukan suatu pengkajian sebelum

melakukan latihan toilet training yang meliputi :

1. Pengkajian fisik

Pengkajian fisik yang harus diperhatikan pada anak yang akan melakukan

buang air kecil dan besar dapat meliputi kemampuan motorik kasar seperti berjalan,

duduk, meloncat dan kemampuan motorik halus seperti mampu melepas celena

sendiri. Kemampuan motorik ini harus mendapat perhatian karena kemampuan

buang air besar dan buang air kecil ini lancar dan tidaknya dapat ditunjang dari

kesiapan fisik sehingga ketika anak berkeinginan

untuk buang kecil dan besar

sudah mampu dan siap untuk melaksanakannya.

2. Pengkajian psikologis

Pengkajian psikologis yang dapat dilakukan adalah gambaran psikologis pada

anak ketika akan melakukan buang air kecil dan besar seperti anak tidak rewel

ketika akan buang air besar, anak tidak menangis sewaktu buang air besar atau

kecil,

espresi

wajah

menunjukkan

kegembiraan

dan

ingin

melakukan

secara

mandiri, anak sabar dan sudah mau tetap tinggal ditoilet selama 5-10 menit tanpa

rewel atau meninggalkannya.

3. Pengkajian intelektual

Pengkajian intelektual pada latihan buang air kecil dan besar anatara lain,

kemampuan

anak

untuk

mengerti

buang

air

kecil

atau

besar,

kemampuan

mengkomunikasikan buang air kecil dan besar, anak menyadari timbulnya buang

air besar dan buang air kecil, mempuyai kemampuan kognitif untuk meniru perilaku

yang tepat seperti buang air kecil dan besar pada tempatnya serta etika dalam buang

air kecil dan buang air besar.

2.3.5 Faktor-faktor yang mendukung penerapan toilet training

Menurut Rusmil, 2008 faktor-faktor yang mendukung toilet training pada

anak adalah sebagai berikut:

1. Kesiapan Fisik

a. Usia telah mencapai 18-24 bulan

b. Dapat jongkok kurang dari 2 jam

c. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan

d. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan pakaian

2. Kesiapan Mental

a. Mengenal rasa ingin berkemih dan devekasi

b. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih

c. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang

lain

3. Kesiapan Psikologis

a. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu

b. Mempunyai rasa ingin tahu dan penasarsan terhadap kebiasaan orang dewasa

dalam BAK dan BAB

c. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana

dan ingin segera diganti

4. Kesiapan Anak

a. Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan devekasi

b. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan devekasi

pada anaknya

c. Tidak mengalami koflik tertentu atau stress keluarga yang berarti (Perceraian)

2.3.6 Faktor-faktor yang memperngaruhi penerapan toilet training

 

Menurut

Notoatmodjo

2003

faktor-

faktor

yang

dapat

mempengaruhi

penerapan toilet training yaitu :

 

a.

Pendidikan ibu

 
 

Tingkat

pendidikan

ibu

turut

menentukan

mudah

tidaknya

seseorang

menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh (Kodyat, 1996) Dari

kepentingan keluarga pendidikan itu sendiri amat diperlukan seseorang lebih

tanggap adanya masalah perkembangan anak salah satunya penerapan toilet

training didalam keluarganya. Tingkat pendidikan berpengaruh pada pengetahuan

ibu

tentang

penerapan

toilet

training,

apabila

pendidikan

ibu

rendah

akan

berpengaruh

pada

pengetahuan

tentang

penerapan

toilet

training

sehingga

berpengaruh pada cara melatih secara dini penerapan toilet training

b. Pekerjaan Ibu

Status pekerjaan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dengan penerapan

toilet training secara dini pada anak usia toddler, dimana pekerjaan ibu dapat

menyita waktu ibu untuk melatih anak melakukan toilet training secara dini

sehingga akan berdampak pada terlambatnya anak untuk mendiri melakukan toilet

training.

c. Kualitas perhatian ibu

Kasih sayang dan perhatian ibu yang dimiliki mempengaruhi kualitas dalam

penerapan toilet training secara dini, dimana ibu yang perhatian akan memantau

perkembangan anak usia toddler, maka akan berpengaruh lebih cepat dalam

melatih anak usia toddler melakukan toilet training secara dini. Dengan dukungan

perhatian ibu maka anak akan lebih berani atau termotivasi untuk mencoba karena

mendapatkan perhatian dan bimbingan.

d. Tingkat pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki ibu pada dasarnya dapat berpengaruh pada cepat

atau lambatnya ibu melakukan penerapan

toilet training, dimana ibu

yang

memiliki pengetahuan yang baik tentang toilet training akan berdampak pada

cepatnya ibu melatih toilet training secara dini pada anak usia toddler, hal ini

berdampak positif bagi ibu maupun anak usia toddler yaitu anak dapat mandiri

melakukan toilet training.

2.3.7 Keberhasilan toilet training

Keberhasilan

menguasai

tugas-tugas

perkembangan

(mulai

belajar

mengontrol buang air besar dan buang air kecil) pada toddler memerlukan bimbingan.

Keberhasilan toilet training dapat dicapai apabila anak mampu mengenali keinginan

untuk mengontrol sfinngter anal dan uretra akan dicapai pada usia anak 18-24 bulan

(Whaley & Wong dalam Fahmid, 2015)

Toilet training dikatakan berhasil apabila :

1. Anak mau memberi tahu bila merasa buang air kecil atau buang air besar

2. Anak mengatakan pada ibu bila buang air kecil atau buang air besar

3. Anak mampu menahan buang air kecil atau buang air besar

4. Anak tidak pernah ngompol atau buang air besar dicelana

5. Anak mampu jongkok ditoilet

2.4

Konsep Teknik Modeling

2.4.1

Definisi Teknik Modelig

modeling merupakan usaha melatih anak dalam melakukan buang air kecil

atau buang air besar dengan memberikan contoh, seperti menampilkan video toilet

training. Cara ini juga dapat dilakukan dengan memberikan contoh-contoh buang air

kecil dan buang air besar secara benar. Dampak yang jelek pada tehknik ini memiliki

kekurangan

yakni

apabila

contoh

yang

diberikan

salah

sehingga

akan

dapat

diperlihatkan pada anak akhirnya anak juga mempunyai kebiasaan yang salah. Selain

cara tersebut diatas terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan seperti melakukan

observasi waktu pada saat anak melakukan buang air besar dan buang air kecil,

tempatkan anak di atas pispot atau ajak ke kamar mandi,berikan pispot dalam posisi

aman dan nyaman, ingatkan pada anak bila akan melakukan buang air besar dan

buang air kecil, dudukan anak di atas pispot atau orang tua duduk atau jongkok

dihadapannya sambil mengajak bicara atau bercerita, berikan pujian jika anak

berhasil jangan disalahkan dan dimarahi, biasakan akan pergi ke toilet pada jam-jam

tertentu dan beri anak celana yang mudah dilepas dan dikembalikan (Hidayat, 2009).

modeling adalah suatu perilaku atau tingkah laku yang dibentuk melalui

model dengan mengamati dan meniru perilaku orang lain. Dan

modeling lebih

memanfaatkan proses belajar melalui pengamatan, dimana perilaku atau tingkah

laku seseorang atau beberapa orang model berperan sebagai perangsang terhadap

fikiran, sikap, atau perilaku subjek pengamat tindakan untuk ditiru (Bandura, 2005

dalam Khanif 2016).

Mengajarkan toilet training terhadap anak dibutuhkan metode atau cara

yang tepat sehingga mudah dimengerti oleh anak salah satunya adalah dengan

penyuluhan.

Keberhasilan

dari

penyuluhan

didukung

oleh

suatu

media

yang

digunakan dalam penyuluhan tersebut seperti media audio visual.

Media audio visual merupakan metode belajar yang mudah. Pesan yang

disampaikan dalam modelling media video lebih konsisten dan dapat di ulang-

ulang.

Selain

itu,

media

video

dapat

dikombinasikan

dengan

animasi

dan

pengaturan kecepatan untuk mendemonstrasikan perubahan dari waktu ke waktu.

Materi yang memerlukan visualisasi seperti mendemonstrasikan hal-hal seperti

gerakan motorik tertentu, ekspresi wajah, ataupun suasana lingkungan tertentu

adalah paling baik disajikan melalui pemanfaatan teknologi video dibandingkan

dengan media lainnya (Daryanto, 2011).

Audio visual merupakan salah satu media yang menyajikan informasi atau

pesan secara audio dan visual. Media ini memberikan stimulus pada pendengaran

dan penglihatan sehingga hasil yang diharapkan lebih maksimal (Sadiman, 2009

dalam Luh putu, 2015).

Audio visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari sasaran.

Penggunaan

audio

visual

melibatkan

semua

alat

indra

pembelajaran,

sehingga

semakin banyak alat indra yang terlibat untuk menerima dan mengolah informasi,

semakin

besar

kemungkinan

isi

informasi

tersebut

dapat

dimengerti

dan

dipertahankan dalam ingatan Menurut Pieget, sejak lahir hingga dewasa pikiran anak

berkembang melalui jenjang-jenjang berperiode sesuai dengan tingkat kematangan

anak itu dan kepercayaan yang dimiliki anak untuk menampilkan perilaku tersebut.

Kemampuan dan kepercayaan diri ini yang disebut den self-efficacy atau efikasi diri.

Dengan menonton modeling video dan pengamatan yang berulang-ulang maka akan

meningkatkan self-efficacy anak. Seperti yang telah disampaikan peningkatan self-

efficacy ini bersumber dari penguasaan pengalaman, pengalaman tak langsung,

persuasi verbal dan keadaan fisiologis. Sumber utama dari self-efficacy adalah

melalui pengalaman langsung. Intervensi modeling video mendukung peningkatan

kemampuan anak dengan cara meniru atau imitasi. Imitasi dan mengamati adalah

awal dari belajar anak. (Bandura1997, dalam Sumarti 2012).

2.4.2 Manfaat Teknik Modeling

Manfaat

penggunaan

modeling

adalah

untuk

mempermudah

proses

pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh

anak sehingga anak dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran (Khanif,

2016)

2.5.

Kajian Penelitian Yang Relevan

Pada penelitian terdahulu dari Luh Putu Karsi Ekayani mengenai Efektivitas

Penyuluhan dengan Audio Visual terhadap Keberhasilan Toilet Training Anak Umur

2-3 Tahun di Banjar Taman Palekan Batubulan pada tahun 2015 menemukan bahwa

penyuluhan

toilet

training

dengan

audio

visual

menunjukkan

17

anak

(68%)

dikategorikan

cukup

berhasil

dalam

melakukan

toilet

training,

5

anak

(20%)

dikategorikan tidak berhasil, dan 3 anak (12%) dikategorikan berhasil. Keberhasilan

toilet training anak umur 2-3 tahun setelah diberikan penyuluhan dengan audio visual

menunjukkan 12 anak (48%) termasuk dalam kategori berhasil, 11 anak (44%)

termasuk dalam kategori cukup berhasil, dan 2 anak (8%) masih dikategorikan tidak

berhasil. Selain itu, berdasarkan uji beda dua sampel berpasangan untuk skala ordinal

yaitu Wilcoxon Signed Rank Test, perbedaan rata-rata skor pre dan posttest ini

bermakna secara statistic dimana didapatkan nilai p =0.001 yang artinya penyuluhan

dengan audio visual efektif terhadap keberhasilan toilet training pada anak umur 2-3

tahun di banjar Taman Palekan Batubulan tahun 2015.

Pada penelitian selanjutnya

yang dilakukan oleh Rahmatika Ammelda

mengenai pengaruh modeling video dan gambar terhadap peningkatan kemampuan

toilet training pada anak toddler di Tempat penitipan Anak Pekanbaru didapatkan

bahwa ada

pengaruh modeling media video dan gambar terhadap peningkatan

kemampuan

toilet

training

pada

anak

toddler,

didapatkan

rata-rata

tingkat

kemampuan

toilet

training

sebesar

9.47

sebelum

pemberian

intervensi

pada

kelompok eksperimen dan didapatkan rata-rata tingkat kemampuan toilet training

sebesar 11.93 sesudah diberikan intervensi. Hasil ujipaired sample t test (dependent t

test) menunjukkan nilai p sebesar 0.001 atau nilai p < (0.05), artinya modeling media

video dan gambar berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan toilet training pada

anak toddler.

2.6.

2.7.1

Kerangka berfikir

Kerangka Teori

Teknik mengajarkan toilet training
Teknik mengajarkan toilet training
Teknik mengajarkan toilet training

Teknik mengajarkan toilet training

Teknik mengajarkan toilet training
Teknik mengajarkan toilet training
Teknik mengajarkan toilet training
Teknik mengajarkan toilet training
berfikir Kerangka Teori Teknik mengajarkan toilet training Teknik lisan Teknik modeling Penerapan toilet training
berfikir Kerangka Teori Teknik mengajarkan toilet training Teknik lisan Teknik modeling Penerapan toilet training
berfikir Kerangka Teori Teknik mengajarkan toilet training Teknik lisan Teknik modeling Penerapan toilet training

Teknik lisan

Teori Teknik mengajarkan toilet training Teknik lisan Teknik modeling Penerapan toilet training pemilihan tempat

Teknik modeling

mengajarkan toilet training Teknik lisan Teknik modeling Penerapan toilet training pemilihan tempat duduk

Penerapan toilet

training

pemilihan tempat

pemilihan tempat

duduk

pemilihan tempat duduk
pemilihan tempat duduk
pemilihan tempat duduk
Penerapan toilet training pemilihan tempat duduk Gambar 2.1 (Sumber: Hidayat 2009) 2.7.2 Kerangka Konsep

Gambar 2.1 (Sumber: Hidayat 2009)

2.7.2

Kerangka Konsep

Pengaruh teknik

modeling

2009) 2.7.2 Kerangka Konsep Pengaruh teknik modeling Keterangan gambar: Penerapan toilet training pada anak

Keterangan gambar:

Penerapan toilet training pada anak usia toddler
Penerapan toilet
training pada anak
usia toddler
gambar: Penerapan toilet training pada anak usia toddler : Variabel Bebas (Variabel yang diteliti) : Berpengaruh

: Variabel Bebas (Variabel yang diteliti)

training pada anak usia toddler : Variabel Bebas (Variabel yang diteliti) : Berpengaruh : Variabel Terikat
training pada anak usia toddler : Variabel Bebas (Variabel yang diteliti) : Berpengaruh : Variabel Terikat

: Berpengaruh

: Variabel Terikat

Gambar 2.2

2.7.

Hipotesis

2.7.1

Hipotesis Penetlitian

Ada pengaruh teknik modeling video dalam penerapan toilet training pada

anak usia toddler diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

2.7.2

Hipotesis Statistik

H0

: Tidak ada pengaruh teknik modeling video dalam penerapan toilet training

pada anak usia toddler diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

H1

: Ada pengaruh teknik modeling video dalam penerapan toilet training pada

anak usia toddler diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian

3.3.1

Lokasi :

Penelitian ini dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

3.3.2

Waktu penelitian :

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 sampai 19 mei 2017

3.2

Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian Pre Experiment dengan rancangan

one group pre-post-test Design without control yaitu sebuah rancangan eksperimen

yang tidak menggunakan sampel kontrol. (Nursalam, 2016)

3.3 Variabel Penelitian

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda

terhadap sesuatu (benda, manusia, dan lain-lain) (Nursalam, 2016)

3.3.1 Variabel Independen (Bebas)

Variabel yang mempengaruhi atau nilainya menetukan variabel lain. Suatu

kegiatan stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada

variabel dependen (Nursalam, 2016). Variabel independen yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah Teknik Modeling.

3.3.2 Variabel Dependen (Terikat)

Variabel yang dipengaruhi nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel

respons akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel-varibel lain. Dalam

ilmu perilaku, variabel terikat adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu

organisme yang dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel terikat adalah faktor

yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh

dari vaiabel bebas (Nursalam, 2016). Variabel dependen yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah penerapan toilet training

3.4 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel

Definisi

Alat Ukur

Cara Ukur

Skala

Kriteria

Operasional

Variabel

Menggunakan audio visual dengan video yang berisi animasi tentang toilet training yang diberikan 3 kali dalam 2 minggu

Video

     

Independ

en:

Teknik

modeling

Variabel

Toilet training

 

Lembar

Berhasil

nominal

Depende

merupakan

Observasi

jika jumlah

n:

toilet

proses

skor100 %

training

pengajaran

untuk kontrol buang air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur

untuk kontrol buang air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur

untuk kontrol buang air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur
untuk kontrol buang air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur
untuk kontrol buang air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur
untuk kontrol buang air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur

3.5

Populasi dan Sampel

 

3.5.1

Populasi

Populasi

adalah

seluruh

subjek

yang

akan

diteliti

dan

memenuhi

karakteristik yang ditentukan (Riyanto, 2011)

Populasi pada penelitian ini adalah anak-anak di Paud Muslim Kids kota

Gorontalo yang berjumlah 18 orang

3.5.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili

atau representatif populasi. (Riyanto, 2011)

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak-anak yang

masuk dalam kategori usia toddler di Paud Muslim Kids Kota Gorontalo pada saat

penelitian dilakukan, dengan jumlah sebanyak 10 sampel. Teknik yang digunakan

yakni

purposive

Sampling

yaitu

teknik

pegambilan

sampel

berdasarkan

pertimbangan tertentu yang telah dibuat oleh peneliti, berdasarkan ciri atau sifat-

sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Riyanto, 2011)

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen

yang

digunakan

peneliti

pada

variabel

independen

yakni

pemberian perlakuan/ intervensi dengan menggunakan audio visual. Instrumen

yang digunakan pada variabel dependen yakni menggunakan lembar observasi

(melihat kemandirian dalam BAK dan BAB).

3.7

Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

3.7.1

Data Primer

Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi. Diminggu

pertama

dihari

pertama

penelitian

sebelum

diberikan

teknik

modeling

video

dijadikan hasil pre test dan dihari kedua penelitian diberikan tampilan berupa video

yang berisi animasi toilet training, dihari ketiga, empat dan lima melakukan

obeservasi. Diminggu kedua hari pertama penelitian diberikan tampilan berupa

video yang berisi animasi toilet training, dihari kedua dilakukan observasi, dan

dihari ketiga diberikan tampilan berupa video yang berisi animasi toilet training

dan dihari keempat dan kelima diobservasi kemudian dijadikan hasil post test.

3.7.2 Data Sekunder

Data sekunder disebut juga data tangan kedua. Data sekunder adalah data

yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subjek

penelitiannya. Biasanya berupa data dokumentasi atau data laporan yang telah

tersedia (Saryono, 2011)

3.8 Analisa Data

1. Analisa univariat

Analisa

univariat

bertujuan

untuk

menjelaskan

atau

mendeskripsikan

karakteristik setaip variable penelitian. Pada umumnya dalam analisi ini hanya

menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo,

2012)

2. Analisa bivariat

Analisa

bivariat

yang

dilakukan

terhadap

dua

variabel

yang

diduga

berhubungan atau berkorelasi. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis

dengan menentukan pengaruh variable bebas dan variable terikat

melalui uji

statistic Wilcoxon Signed (Notoatmodjo, 2012)

3.9. Etika Penelitian

Etika penelitian dalam keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian, karena dalam keperawatan penelitian yang dilakukan

langsung

berhubungan dengan

manusia,

maka

dari itu

etika penelitian harus

diperhatikan. Menurut (Pratiwi, 2013) dalam penelitian sebelumnya mengatakan

etika penelitian yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut:

3.9.1 Informed Consent (Persetujuan)

Diberikan pada responden, agar responden mengetahui maksud dan tujuan

penelitian

serta

dampak

yang

diteliti selama

pengumpulan

data.

Jika

subjek

bersedia diteliti, maka harus menandatangani lembar persetujuan, jika menolak

tidak akan dipaksa dan tetap menghormati haknya. Lembar permohonan menjadi

responden pada lampiran.

3.9.2 Anomity (Tanpa Nama)

Menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan

nama lengkap responden pada lembar pengumpulan data, tapi cukup dengan inisial

atau kode.

3.9.3 Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subjek terjamin oleh peneliti

dan tidak akan disampaikan pada pihak lain yang tidak terkait dengan peneliti.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran umum lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo pada

tanggal 1 19 Mei 2016. PAUD Muslim Kids berdiri pada tanggal 27 Maret 2006,

PAUD Muslim Kids kini berada dibawah naungan PW Muslimat NU Provinsi

Gorontalo. Yang dipimpin oleh ibu Marwitan Tamayahu serta para staf dewan guru

Ibu lusiana K Latif dan ibu Desnawati Rahman PAUD muslim kids memiliki

jumlah siswa sebanyak 18 siswa. PAUD muslim kids berlokasi di Jl. Prof. DR. H.B

Jassin No. 393 Kelurahan Dulalowo Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo.

4.2.

Distribusi Berdasarkan Karakteristik Responden

4.2.1

Gambaran Umum Responden

Penelitian ini dilaksanakan pada anak usia dini di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo dengan cara melakukan eskperimen menggunakan teknik modeling video.

data penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer

dari 10 orang anak usia dini yang menjadi responden.

4.2.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan umur responden dapat dilihat

pada tabel 4.1 di bawah ini :

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan umur diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

No

Umur

(n)

(%)

1

2 Tahun

3

30.0

2

3 Tahun

7

70.0

 

Total

10

100

Sumber : Data primer, 2017

Berdasarkan tabel 4.1

menunjukkan

bahwa

jumlah responden paling

banyak berdasarkan karakteristik umur adalah umur 3 tahun yakni sebanyak 7

responden

(70%),

sedangkan

umur

2

tahun

sebanyak

3

responden

(30%).

Berdasarkan umur responden, anak dengan umur 3 tahun yang mendominasi dalam

penelitian ini.

4.2.3 Distribusi responden berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin responden dapat

dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini :

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

No

Jenis Kelamin

(n)

(%)

 

1 Laki-laki

6

60.0

2 Perempuan

4

40.0

 

Total

10

100

Sumber : Data primer, 2017

Berdasarkan

tabel 4.2 menunjukkan anak dengan jenis kelamin laki-laki

lebih banyak yaitu dengan jumlah 6 orang (60.0%), dan anak yang berjenis kelamin

perempuan berjumlah 4 orang (40.0%).

4.2.4 Distribusi responden berdasarkan yang pernah diajarkan toilet traing

oleh orang tua

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan yang pernah diajarkan toilet

traing oleh orang tua dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini :

Tabel 4.3. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan yang pernah diajarakan toilet training oleh orang tua di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

No

Pernah diajarkan toilet training

(n)

(%)

1

Pernah

7

70

2

Belum

3

30

 

Total

10

100

Sumber : Data primer, 2017

Berdasarkan

tabel 4.3

menunjukkan anak

yang

sebelumnya pernah

diajarkan Toilet training oleh orang tua 7 responden (70 %), dan anak yang belum

pernah diajarkan Toilet training oleh orang tua yaitu 3 responden 30%).

4.3.

Analisis Univariat Variabel Penelitian

4.3.1

Variabel hasil Toilet Training Sebelum dilakukan teknik modeling video

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan hasil analisis variabel toilet

training sebelum dilakukan teknik modeling video pada anak usia toddler, dilihat

pada tabel 4.4 di bawah ini :

Tabel 4.4. Distribusi frekuensi hasil toilet training sebelum dilakukan teknik modeling video diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

No.

Kategori

(n)

(%)

1.

Tidak Berhasil

10

100

2.

Berhasil

0

0

 

Total

10

100

Sumber : Data primer, 2017

Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan distribusi frekuensi hasil Pre

Test toilet training pada anak usia toddler dimana keseluruhan responden 10

(100%) dengan kategori tidak berhasil.

4.3.2

Variabel Hasil Toilet Training Sesudah dilakukan teknik modeling

video

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota

Gorontalo diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan hasil analisis variabel Post test

toilet training pada anak usia toddler, dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini :

Tabel 4.5. Distribusi frekuensi hasil Post Test toilet training pada anak usia toddler diPAUD Muslim Kids diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

No.

 

(n)

(%)

1.

Tidak Berhasil

3

30

2.

Berhasil

7

70

 

Total

10

100

Sumber : Data primer, 2017

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan distribusi frekuensi hasil Post

Test toilet training pada anak usia toddler yang berhasil 7 responden (70 %) dan yang

tidak berhasil 3 responden (30 %).

4.4.

Analisa Bivariat

4.4.1

Pengaruh teknik modeling video terhadap penerapan toilet training

pada anak usia toddler

Tabel. 4.6 pengaruh teknik modeling video terhadap penerapan toilet training pada anak usia toddler diPAUD Muslim Kids Kota Gorontalo

 

n

Mean

Asym. Sig. 2- tailed

(rata-rata)

(P Value )

Penerapan

toilet

training

sebelum

10

2.50

0,004

penyuluhan

Penerapan

toilet

training

sesudah

10

4,70

penyeluhan

Sumber : Pengolahan data SPSS, 2017

Berdasarkan

uji

normalitas

didapatkan

data

tidak

berdistribusi

normal

sehingga peneliti menggunakan uji non parametrik

yaitu

uji Wilcoxon

Signed.

Berdasarkan tabel 4.6 hasil penelitian diketahui mean variabel sebelum dilakukan

penyuluhan

toilet

training

dengan

teknik

modeling

video

adalah

2.50

satuan

Sedangkan

mean

untuk

variabel

sesudah

dilakukan

penyuluhan

toilet

training

menggunakan teknik modeling video adalah 4.70 satuan, dari tingkat mean tersebut

ditemukan bahwa nilai post test jauh lebih besar dibandingkan pre test sehingga dapat

dikatakan terjadi perubahan. Kemudian didapatkan juga dari hasil uji non parametrik

dengan menggunakan uji Wilcoxon didapatkan 2-tailed bernilai, karena 0,004, karena

nilai 0,004

< 0,05

maka dapat

disimpulkan

bahwa

H1 diterima.

Artinya ada

perbedaan hasil penyuluhan toilet training menggunakan teknik modeling video

dalam pre test dan post test. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik

modeling video terhadap penerapan toilet training pada anak usia toddler di PAUD

Muslim Kids Kota Gorontalo.

4.5

Pembahasan

4.5.1

Penerapan Toilet Training Sebelum dilakukan teknik modeling video

Toilet training merupakan proses pengajaran untuk kontrol buang air

besar dan buang air kecil secara benar dan teratur. Biasanya kontrol buang air kecil

lebih dahulu dipelajari oleh anak, kemudian kontrol buang air besar (Zavier, 2008)

Toilet training juga dapat menanamkan suatu kebiasaan yang baik pada

anak mengenai kebersihan diri. Dalam kegiatan toilet training ini, anak tidak hanya

harus

memiliki

persiapan

intelektual (Hidayat, 2009)

secara

fisik

dan

psikologis

namun

juga

persiapan

Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa penerapan

toilet training sebelum dilakukan penyuluhan toilet training menggunakan teknik

modeling

video

nampak

bahwa

10

respoden

(100

%)

yang

belum

berhasil

melakukan toilet training. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada saat

sebelum dilakukan penyuluhan dengan teknik modeling. Menunjukkan bahwa

keseluruhan responden belum memenuhi kriteria keberhasilan toilet training.

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap orang tua responden,

dimana terdapat 2 orang anak

yang belum pernah diajarkan

toilet training

walaupun sebagian besar anak sudah pernah diajarkan toilet training oleh orang

tuanya tapi belum ada yang memenuhi kriteria keberhasilan toilet training. Hal ini

salah

satunya

dipengaruhi

oleh

status

pekerjaan

ibu,

dimana

sebagian

besar

pekerjaan orang tua responden yang memungkinkan menyita waktu ibu bersama

anak dalam hal melakukan toilet training.

Menurut (Notoatmodjo, 2003) status pekerjaan Ibu mempunyai hubungan

yang bermakna dengan penerapan toilet training secara dini pada anak usia toddler

(2-3 tahun), dimana pekerjaan ibu dapat menyita waktu ibu untuk melatih anak

melakukan toilet training secara dini sehingga berdampak pada keterlambatan anak

untuk mandiri melakukan toilet training.

Selain itu faktor pengetahuan orang tua yang sudah memahami dan belum

memahami toilet training dengan baik memiliki peranan yang penting dalam

keberhasilan toilet training pada anak, dimana ibu yang memiliki pengetahuan yang

baik tentang toilet training akan berdampak pada cepatnya ibu melatih anak dalam

melakukan toilet training.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anggita Kesuma Putri, 2016

menunjukkan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet

training

terhadap

pelaksanaan

toilet

training

dimana

ibu

yang

mempenyuai

pengetahuan yang baik cenderung melakukan pelaksaan toilet training dengan baik

pada anak.

4.5.2 Penerapan Toilet Training Sesudah dilakukan teknik modeling video

Teknik Modeling merupakan usaha melatih anak dalam melakukan buang

air kecil atau buang air besar. Media audio visual merupakan metode belajar yang

mudah. Pesan yang disampaikan dalam modeling media video lebih konsisten dan

dapat diulang- ulang. Selain itu media video dapat dikombinasikan dengan animasi

dan pengaturan kecepatan untuk mendemonstrasikan perubahan dari waktu ke

waktu.

Hasil

penelitian

yang

dilakukan

oleh

peneliti

pada

saat

penelitian

didapatkan bahwa pada hari ke 6 di minggu pertama setelah dilakukan pengamatan

terhadap responden, terdapat 4 orang anak (40%) yang berhasil melakukan toilet

training

dan

6

orang

(60%) yang

belum berhasil

melakukan

toilet

training.

Kemudian pada minggu kedua setelah dilakukan pengamatan kembali kepada

responden, terdapat 7 orang anak (70%) yang berhasil melakukan toilet training

serta 3 orang anak (30 %) yang belum berhasil dalam melakukan toilet training.

Tabel

4.5

menunjukkan

bahwa

terjadi

peningkatan

yang

signifikan

terhadap keberhasilan penerapan toilet training pada responden dimana sebanyak 7

orang anak atau sebanyak 70 % responden memenuhi kriteria keberhasilan toilet

training melalui teknik modeling video.

Menurut peneliti perubahan keberhasilan anak dalam penerapan toilet

training

pada saat

pre test

dan setelah dilakukan penyuluhan

toilet

training

dikarenakan perhatian yang besar dari responden pada saat peneliti memberikan

teknik menggunakan audio visual dan dukungan orang tua dalam melatih anak

dalam

melakukan

toilet

training

sehingga

keberhasilan

toilet

training

anak

meningkat karena kualitas latihan yang diberikan orang tua.

Menurut teori yang dikemukakan oleh Bandurah, 2005 bahwa sebagian

besar manusia belajar melalui pengamatan secara selekstif dan mengingat tingkah

laku orang lain. Terdapat 3 orang anak atau sebanyak 30 % responden yang belum

berhasil dalam melakukan toilet training. karena anak kurang perhatian pada saat

peneliti menampilkan video animasi toilet training. Serta faktor kurangnya peran

orang tua dalam melatih anak dalam melakukan toilet training, karena peran orang

tua berpengaruh lebih cepat dalam keberhasilan penerapan toilet training pada

anak, Anak yang hanya dijaga oleh pengasuhnya mengalami keterlambatan dalam

penerapan toilet training. Hal ini

akan berpengaruh pada keberhasilan toilet

training anak. Dukungan langsung yang didapat dari orang tua dapat membantu

keberhasilan toilet training.

Menurut (Daryanto, 2011) Media audio visual merupakan metode belajar

yang mudah. Pesan yang disampaikan dalam modelling media video lebih konsisten

dan dapat di ulang-ulang. Selain itu, media video dapat dikombinasikan dengan

animasi dan pengaturan kecepatan untuk mendemonstrasikan perubahan dari waktu

ke waktu. Menurut (Pieget, 1997) Audio visual mengandalkan pendengaran dan

penglihatan dari sasaran. Penggunaan audio visual melibatkan semua alat indra

pembelajaran, sehingga semakin banyak alat indra yang terlibat untuk menerima

dan mengolah informasi, semakin besar kemungkinan isi informasi tersebut dapat

dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan Menurut Piaget, sejak lahir hingga

dewasa pikiran anak berkembang melalui jenjang-jenjang berperiode sesuai dengan

tingkat

kematangan

anak

itu

dan

kepercayaan

yang

dimiliki

anak

untuk

menampilkan perilaku tersebut. Kemampuan dan kepercayaan diri ini yang disebut

dengan self-efficacy atau efikasi diri. Dengan menonton modeling video

dan

pengamatan yang berulang-ulang maka akan meningkatkan self-efficacy anak.

Seperti

yang

telah

disampaikan

peningkatan

self-efficacy

ini

bersumber

dari

penguasaan pengalaman, pengalaman tak langsung, persuasi verbal dan keadaan

fisiologis. Sumber utama dari self-efficacy adalah melalui pengalaman langsung.

Modeling video dan pengamatan yang berulang-ulang maka akan meningkatkan

self-efficacy anak. Hal tersebut didukung oleh Penelitian (Luh Putu, 2015) Audio

visual merupakan salah satu media yang menyajikan informasi atau pesan secara

audio

dan

visual.

Media

ini

memberikan

stimulus

pada

pendengaran

dan

penglihatan sehingga hasil yang diharapkan lebih maksimal. Modeling lebih dari

sekedar peniruan atau mengulangi perilaku model tetapi modeling melibatkan

penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir

berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif.

4.5.3 Pengaruh teknik modeling video terhadap penerapan toilet training

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon

didapatkan 2 tailed 0,004 < α (0,05) yang menunjukkan bahwa teknik modeling

video mempunyai pengaruh terhadap penerapan toilet training pada anak usia

toddler yang telah dilakukan di PAUD Muslim Kids Kota Gorontalo. Berdasarkan

Tabel. 4.6 dapat dilihat bahwa nilai mean didapatkan pada hasil pre test pada

penerapan toilet

training

sebesar 2.50

satuan sedangkan pada post

test

pada

penerapan toilet training sebesar 4.70 satuan, jika dibandingkan hasil mean pre test

dan post test didapat bahwa hasil mean pada post test jauh lebih besar dari nilai

mean pre test sehingga terjadi perubahan.

Dari

penelitinaan

yang

menggunakan

teknik

pemberian

health

education

tentang

toilet

training

modeling

antara

lain

video

dalam

:

penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmatika Ammelda melihat pengaruh modeling

media video dan gambar terhadap peningkatan kemampuan toilet training pada

toddler.

(Kartika,

2016)

melihat

efektivitas

penyuluhan

toilet

training

menggunakan teknik oral dan modeling terhadap keberhasilan toilet training pada

toddler. Dari hasil penelitian ini

didapatkan bahwa teknik modeling lebih efektif

dalam pemberian penyuluhan toilet training diusia toddler dibandingkan dengan

teknik oral. (Faikoh, 2014)

melihat pengaruh modeling media video terhadap

peningkatan kemampuan toilet training pada anak retardasi mental usia 5-7 tahun di

SLB N Semarang dari

hasil penelitian ini menunjukkan sebelum dilakukan intervensi

pemberian modeling media video didapatkan 15 anak (50%) mampu dan 15 anak (50%)

tidak mampu. Sedangkan setelah dilakukan intervensi didapatkan peningkatan sebanyak 26

anak (86,6 %) mampu dan 4 anak (13,4%) tidak mampu di SLB N Semarang.

Dari beberapa penjelasan penelitian diatas dapat

disimpulkan bahwa

penyuluhan

atau

health

education

menggunakan

teknik

modeling

video

berpengaruh dalam keberhasil seorang anak dalam melakukan toilet training.

4.6 Keterbatasan Penelitian

1. Dalam penelitian ini peneliti mengalami kesulitan pada saat melakukan

pemutaran video tentang toilet training, karena ada beberapa anak yang

tidak memperhatikan.

2. Dalam penelitian

ini peneliti mengalami kesulitan pada saat

ingin

mewawancarai orang tua karena anak sering hanya dititipkan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan

 

1. Penerapan toilet training sebelum dilakukan tehnik modeling video di

Paud Muslim Kids Kota Gorontalo sebagian besar siswa yaitu sebanyak

10 responden belum berhasil melakukan toilet training.

 

2. Penerapan toilet training sesudah dilakukan tehnik modeling video di

Paud

Muslim Kids Kota Gorontalo

sebagian besar

siswa di Paud

Muslim Kids kota Gorontalo yaitu sebanyak 7 responden (70%) berhasil

melakukan toilet training.

 

3. Ada pengaruh tehnik modeling video terhadap penerapan toilet training

di PAUD Muslim Kids kota Gorontalo. (P value : 0,004 (α = 0,05).

5.2

Saran

1. Bagi Keperawatan

Diharapakan tehnik modeling video ini dapat digunakan dalam dunia

keperawatan dalam upaya promosi kesehatan yang mengoptimalkan tumbuh

kembang anak pada usia toddler pada aspek keterampilan buang air kecil dan

buang air besar.

2. Bagi Pendidikan

Dapat

dijadikan

sebagai

salah

satu

referensi

dalam

memberikan

pembelajaran toilet training pada anak di sekolah dan juga sebagai informasi

Daftar Pustaka

Ekayani,

K.L.P

(2015).

Efektivitas

penyuluhan

dengan

audio

visual

terhadap keberhasilan

toilet

training

pada

anak

umur

2-3

tahun.

fakultas kedokteran, jurusan keperawatn.

 

Faikoh,

E.N.

(2014).

Pengaruh

modeling

video

terhadap

peningkatan

kemampuan toilet training pada anak retardasi mental usia 5-7 tahun

Hidayat, A. A. (2009). Pengantar Ilmu keperawatan anak 1. Jakarta:

Salemba Medika.

tingkat

keberhasilan toilet training pada batita. Fakultas Olahraga kesehatan, jurusan keperawatan.

Istiqomah, K (2016). Teknik modeling terhadap kemampuan toilet training anak cerebral palsy. Fakultas Ilmu Pendidikan, jurusan pendidikan luar biasa.

Kartika,

terhadap

Ishak,

R.F

(2015).

Hubungan

pola

asuh

orang

tua

dengan

U.

(2016).

Efektivitas

teknik

oral

dan

modelling

keberhasilan toilet training pada todler. Jurusan keperawatan

Kyle,

T., & Carman,

S.

(2015).

Keperawatan

pediatric Nursing) . Jakarta: EGC.

pediatrik (Essential

of

Musbikin, Imam. 2002. Tumbuh Kembang Anak. Jogjakarta: FlashBooks.

Ningsih, F.S (2012). Hubungan pengetahuan dan prilaku ibu dalam menerapkan toilet training dengan kebiasan mengompol pada anak usia sekolah. Fakulatas Kedokteran dan ilmu kesehatan, jurusan keperawatan.

Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Jakarta:

Nursalam.

(2016).

Metodologi

Penelitian

Ilmu

Keperawatan.

Salemba Medika.

Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S.(2003). Pendidikan dan prilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Ramdaniati, S. (2011). Analisis Determinan Kejadian Takut Pada Anak Pra Sekolah dan Sekolah yang Mengalami Hospitalisasi di Ruang Rawat Anak RSU Blud dr. Slamet Garut. Retrieved 12 28, 2015, from http://lib.ui.ac.id/

Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta:

Nuba Medika.

Rusmil, K. 2008. Petumbuhan dan Perkembangan Anak. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.

Saryono. (2011). Metodologi Penelitian Kesehatan Penuntun Praktis Bagi Pemula. Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.

Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (2010). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi ke-3. Jakarta: CV Sagung Seto.

Setiadi.

(2007).

Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Setiawan, D. (2014). Keperawatan anak dan tumbuh kembang. Yogyakarta.

Sumantri, A. (2011). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tambipi, F.J (2014). Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Toilet Training Dengan Penggunaan Diaper Pada Anak Usia Toddler. Fakultas ilmu- ilmu kesehatan dan keolahragaan, jurusan keperawatan.

Wong, D. L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik eidisi 6. Jakarta:

EGC.

Wulandari, R (2010). Toielet training pada usia todler. Dosen sekolah tinggi ilmu kesehatan aissyiah Surakarta