Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No.

I Juni 2003 : 43 - 57 43

RADIKALISME AGAMA
SEBAGAI
SALAH SATU BENTUK PERILAKU MENYIMPANG:
Studi Kasus Front Pembela Islam

Ninin Prima Damayanti, Imam Thayibi,


Listya Adi Gardhiani, Indah Limy

Abstract

This article explores vigilant activities taken by Front Pembela Islam (the Front of Islamic
Defender) which was set up during this reform era. Heavily spirited by fundamental spirit
or Islam, this organization radically againsts secularistic phenomenon in Indonesian
society as the members of FPI thought it has been too much away of Islamic principles.
Using status-frustration theory by Cohen, the writers have encouraged to see FPI as
deviant organization performed deviant behavior.

Key Words: Front Pembela Islam, fundamentalis, radikal

Pendahuluan diwarnai oleh aksi-aksi perusakan


Indonesia adalah negara yang dan penghancuran terhadap tempat-
mayoritas penduduknya beragama tempat hiburan yang mereka anggap
Islam. Jumlah yang mayoritas maksiat, ataupun kantor lembaga-
tersebut kemudian dijadikan lembaga tertentu, seperti Komnas
landasan bagi sejumlah kelompok HAM, yang mereka anggap tidak
untuk menuntut diberlakukannya cukup representatif untuk
aturan hukum yang berdasarkan mengakomodir aspirasi dan
syariat Islam. Front Pembela Islam kepentingan mereka sebagai umat
(FPI) adalah salah satu kelompok Islam.
yang secara intens menuntut Aksi-aksi mereka ini
diberlakukannya syariat Islam di sebenarnya dibalut oleh rasa
Indonesia. Lebih jauh lagi, tuntutan kekhawatiran yang mendalam
FPI untuk memberlakukan syariat terhadap terjerembabnya Islam
Islam di Indonesia dilakukan dengan dalam bayang-bayang Barat sekuler,
berbagai cara yang seringkali diikuti yang mereka yakini tengah
dengan aksi-aksi yang melanggar menjalankan agenda untuk
hukum. Mereka sering melakukan menghancurkan umat Islam dengan
razia-razia yang tidak jarang
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 44

berbagai cara.1 Ini dapat kita lihat of conduct yang ada dalam
saat perusakan yang dilakukan FPI masyarakat. Menurut Cohen4 :
terhadap kawasan wisata di Jalan
Jaksa, Jakarta Pusat pada hari Rabu ...behavior which violates
26 Juni 2002.2 institutionalized expectations
Dari tindakan yang mereka that is expectations that are
lakukan tersebut, muncul berbagai shared and recognized as
reaksi yang cukup keras dari legitimate within social system
berbagai pihak, baik masyarakat (terjemahan bebas: perilaku
maupun aparat penegak hukum. yang melanggar harapan yang
Tindakan mereka melakukan razia diinstitusionalisasikan, harapan
tanpa surat izin dari aparat, yang dibagi dan dipahami
misalnya, dianggap sebagai secara legal dalam sistem
perbuatan semena-mena. sosial)
Ketidakjelasan penyerbuan yang
dilakukan oleh FPI, membuat warga Melalui pandangan tersebut,
sekitar merasa kaget dan berang, dalam makalah ini akan dicoba
bahkan sejumlah warga menyatakan untuk dianalisa tindakan-tindakan
siap melawan jika FPI menyerbu yang dilakukan oleh kelompok yang
lagi.3 Reaksi juga dilontarkan oleh menganut radikalisme agama,
Wakil Ketua II Komnas HAM, dengan menggunakan contoh kasus
Bambang W Suharto, saat kelompok Front Pembela Islam
menyesalkan aksi perusakan yang (FPI). Dari sini, dapat diihat apakah
dilakukan oleh Laskar FPI terhadap perilaku tersebut dapat dikategorikan
kantor Komnas HAM di Jalan sebagai perilaku menyimpang atau
Latuharhari, Jakarta Pusat. tidak, dengan menggunakan salah
Artikel ini selanjutnya satu teori dari kelompok strain
membahas perilaku menyimpang theory, yaitu status-frustation theory
berdasarkan konsepsi makro- yang dikemukakan oleh Albert
obyektivis. Menurut pandangan Cohen.
ini, suatu penyimpangan adalah Singkatnya, permasalahan
tindakan yang melanggar norma yang diajukan adalah sebagai
atau aturan yang merupakan rules berikut: Apa yang melatarbelakangi
dan mendasari FPI melakukan
berbagai perilaku tersebut? Apakah
perilaku FPI tersebut merupakan
salahsatu bentuk dari radikalisme
agama?"
1
Radikalisme Agama (FPI, FKAWJ, MMI,
dan Hammas) dan Perubahan Sosial di DKI
Jakarta, available at "http://www.pbb-
iainjakarta.or.id/researchDetail.cfm?Researc
h=1
2
Kawasan Wisata Jalan Jaksa Diobrak-
abrik, available at
4
http://www.kompas.com/metro/news/0206/2 Ward, David et. al. 1994, Social Deviance :
6/041200.htm Being, Behaving and Branding, Allyn and
3
Ibid. Bacon,. p.6
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 45

Radikalisme Agama5 dengan cara keras dan drastis. Islam


Menurut Afif Muhammad, radikal merupakan aliran dalam
radikal berasal dari kata radic yang Islam yang mencita-citakan
berarti akar, dan radikal adalah terlaksananya syariat Islam dalam
(sesuatu) yang bersifat mendasar kehidupan sosial politik. Dan untuk
atau hingga ke akar-akarnya. mencapai cita-cita itu dilakukan
Predikat ini bisa dikenakan pada tindak-tindak kekerasan yang
pemikiran atau paham tertentu, drastis.8
sehingga muncul istilah pemikiran Kerangka pemikiran Islam
yang radikal dan bisa pula gerakan. radikal9 tersebut pada dasarnya
Berdasarkan itu, radikalisme adalah sebagai berikut:
diartikan dengan paham atau aliran
keras yang menginginkan perubahan - Islam harus menjadi dasar
atau pembaruan sosial dan politik negara
dengan cara keras atau drastis dan - Syariat harus diterima sebagai
sikap ekstrem suatu aliran politik.6 konstitusi negara
Radikalisme agama berarti - Kedaulatan politik ada di tangan
tindakan-tindakan ekstrim yang Tuhan
dilakukan oleh seseorang atau - Gagasan tentang negara-bangsa
sekelompok orang yang cenderung (nation-state) bertentangan
menimbulkan kekerasan dengan dengan konsep umat yang tidak
mengatasnamakan agama. Misalnya mengenal batas-batas politik
saja sweeping dan razia atas atau kedaerahan
tempat-tempat seperti perjudian, - Prinsip syura (musyawarah)
diskotik dan pelacuran; demonstrasi berbeda dengan gagasan
dan perusakan kantor lembaga- demokrasi
lembaga tertentu, pengerahan
massa dengan simbol dan atribut Faktor yang paling menonjol
keagamaan tertentu, pernyataan dari kemunculan ekstremisme Islam
politik dengan tendensi dan adalah krisis kepercayaan kepada
ancaman tertentu, orasi dengan lembaga-lembaga negara, lembaga-
substansi yang bertendensi lembaga agama dan lembaga-
mengobarkan kekerasan dan lembaga politik.
sebagainya.7 Istilah Islam radikal diambil
Islam radikal merupakan dari kerangka yang telah dibuat oleh
sebuah paham keislaman yang Horace M. Kallen, bahwa radikalisasi
menginginkan dilakukannya paling tidak ditandai dengan tiga
10
perubahan sosial politik sesuai kecenderungan umum yaitu:
dengan syariat Islam, yang dilakukan Pertama, radikalisasi merupakan
respon terhadap kondisi yang
5
Radikalisme Agama (FPI, FKAWJ, MMI, sedang berlangsung. Biasanya
dan Hammas) dan Perubahan Sosial di DKI
Jakarta , Loc. Cit.
6 8
Afif, Muhammad. Akar-akar Gerakan Ibid
9
Islam Radikal, available at Zada, Khamami.2002, Islam Radikal :
http://www.pikiran- Pergulatan Ormas-ormas Islam Garis Keras
rakyat.com/cetak/0103/24/0801.htm di Indonesia, Jakarta : Teraju. hlm.11
7 10
Ibid. Ibid. hlm 16-17
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 46

respon tersebut muncul dalam diri, kekauan yang menolak


bentuk evaluasi, penolakan atau pertumbuhan dan seluruh
bahkan perlawanan. Masalah yang perkembangan, kembali ke masa
ditolak bisa berupa asumsi, ide, lalu dan memisahkan diri kepada
lembaga atau nilai-nilai yang dapat warisan lama, tidak toleran.
dipandang bertanggungjawab
terhadap keberlangsungan kondisi Deviant Subculture
yang ditolak. Berkaitan dengan FPI sebagai
Kedua, radikalisasi tidak suatu kelompok dalam masyarakat,
berhenti pada upaya penolakan, tentu saja mereka memiliki nilai-nilai
melainkan berupaya mengganti tertentu yang berlaku, dianut dan
tatanan tersebut dengan suatu diterapkan pada anggotanya. Untuk
bentuk tatanan yang lain. Ciri ini menjelaskan itu, dapat digunakan
menunjukkan bahwa dalam teori Subculture dari Albert K.
radikalisasi atas sesuatu hal, Cohen. Subkultur adalah salah satu
terdapat suatu program atau sub divisi dalam budaya induk yang
pandangan dunia sendiri. Kaum memiliki norma-norma, keyakinan-
radikalis berupaya kuat menjadikan keyakinan dan nilai-nilainya sendiri.
tatanan tersebut sebagai ganti dari Menurut Cohen, suatu kelompok
tatanan yang sudah ada. dapat dikatakan sebagai subkultur
Ketiga, kuatnya keyakinan karena didalamnya terdapat norma-
kaum radikalis akan kebenaran norma yang hanya berlaku bagi
program atau ideologi yang mereka mereka yang sama-sama
bawa. Sikap ini, pada saat yang mengharapkan kebaikan atau
sama, dibarengi dengan penafsiran keuntungan dari norma tersebut, dan
kebenaran dengan sistem lain yang diharapkan menemui iklim moral
akan diganti. Dalam gerakan sosial, yang simpatik sehingga norma
keyakinan tentang ide ini sering tersebut semakin menguat dan
dikombinasikan dengan cara-cara berkembang.12
pencapaian yang mengatasnamakan Subkultur biasanya timbul
nilai kemanusiaan. Akan tetapi, ketika orang-orang dalam keadaan
kuatnya keyakinan ini dapat yang serupa mendapati diri mereka
mengakibatkan munculnya sikap terpisah dari mainstream (arus
emosional yang menjurus pada terbesar) masyarakat dan
kekerasan. mengikatkan diri secara bersama
Menurut Geraudy, gerakan untuk saling mendukung.13 Adanya
fundamentalis11 adalah mazhab pemahaman terhadap norma-norma
yang fanatik, mengisolasi diri dan yang sama serta dianut dan dijalani
selanjutnya mengarah kepada bersama, membentuk mereka
benturan serta memiliki sifat-sifat sebagai kelompok serta
stagnasi, menolak menyesuaikan
12
Earl Rubington. Martin S. Weinberg, 1981,
11
Arif, Abdul Rasyid. 2002. Reaksi Front Deviance The Interactionist Perspective, 4th
Pembela Islam terhadap Perilaku Edition, New
Menyimpang Berdasarkan Hukum Islam York: McMillan Publishing. Co., Inc, p.262
13
sebagai Bentuk Kontrol Sosial Vigilantisme, Bynum, Jack E. and William Thompson,
Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Juvenile Delinquency : Sociological
Ilmu Politik. Tidak Diterbitkan. hlm. 9 Approach, Boston : Allyn and Bacon, p.172
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 47

mengembangkan iklim moral yang yaitu: beberapa anak ditolak


sangat mendukung mereka sebagai statusnya oleh masyarakat
kelompok sehingga norma tersebut dikarenakan ia tidak mampu
semakin menguat dan berkembang. memenuhi kriteria status yang
Subkultur-subkultur mungkin diharapkan dari sistem. Sub
terbentuk dengan anggota sesama kebudayaan delinkuen ini
suku atau ras minoritas, sesama menyikapi masalah status ini
penghuni penjara, sesama kelompok dengan menciptakan kriteria
pekerja atau sesama penghuni yang dapat mereka penuhi.)
daerah kumuh. Subkultur hadir di
dalam suatu masyarakat yang lebih Cohen menjelaskan, muncul-
besar dan tidak terpisah dari nya penyimpangan yang diawali
masyarakat itu. Dengan demikian dengan adanya frustrasi status yang
mereka sama-sama berbagi nilai. mengarah pada deviant subculture
Meski demikian, gaya hidup dari dikarenakan pelaku tidak mampu
anggota mereka berbeda secara memenuhi standar yang telah
signifikan dengan gaya hidup ditetapkan kebudayaan dominan.
budaya kultural.14 Menurut Cohen, "...self evident that
Dalam menjelaskan tentang people whose status potitions are
penyimpangan, Albert K. Cohen low must necessarily feel deprived,
menerangkan dalam teorinya injured, or ego involved in that low
tentang delinquent subculture yang status..." (keyakinan diri yang dimiliki
disebabkan oleh status frustration. oleh mereka yang posisi statusnya
Menurutnya : rendah pasti berupa perasaan
dibatasi, terluka, dan melibatkan ego
"The delinquent subculture, karena status rendahnya)
we suggest, is a way of dealing Oleh karena itu mereka
with the problem of adjusment. membentuk deviant subculture yang
These problems are chiefly mempunyai dan merumuskan nilai
status problems : certain dan norma sendiri; selanjutnya
children denied status in the mereka menginternalisasikannya
respectable society because dalam kelompok mereka.16 Subkultur
they cannot meet the criteria of ini mengambil nilai dan norma dari
the respectable status system. kebudayaan induk, tetapi kemudian
The delinquent sub culture menolaknya dan menganggap nilai
deals with these problems by dan norma delinkuen yang mereka
providing criteria of status miliki adalah benar dan dijadikan
which children can meet" standar bertingkah laku. Kemudian
(Cohen. 1955 :121)15 mereka menyesuaikan dengan nilai
(terjemahan bebas: sub dan norma yang ada didalamnya.
kebudayaan delinkuen, kami Hal ini disebut tahap Reaction
kira, adalah cara menyikapi Formation. Setelah itu subkultur ini
masalah penyesuaian. Masalah cenderung melakukan tindakan-
tersebut adalah masalah satus tindakan dalam menerapkan nilai
dan norma yang mereka, yang
14
Ibid., p.171-172
15 16
Ward, David et. al., Op.Cit., p.28 Bynum, Jack E., Op.Cit., p.165-166
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 48

mereka yakini kebenarannya, namun penjaga. Vigilantisme tersebut


dianggap menyimpang oleh memiliki pengertian berbagai
kebudayaan induk yang dominan.17 tindakan yang bertujuan
Mereka akan melakukan tindakan- mengembalikan keseimbangan dari
tindakan yang oleh Cohen suatu situasi yang diluar kontrol.
dikategorikan sebagai non-utilitarian Para anggota organisasi vigilante
deviance. berusaha untuk menekan pelanggar
Dalam menjelaskan perilaku hukum dengan cara mereka sendiri
FPI ini, digunakan teori Subculture dikarenakan anggapan mereka
Deviant dari Cohen mengingat ingin bahwa hukum sudah tidak berfungsi
diihat bagaimanakah proses lagi.
terjadinya perilaku menyimpang
yang disebabkan oleh frustasi FPI Sebagai Bentuk Gerakan
status. Fundamentalis Radikal Berbasis
Selanjutnya, konsep yang Agama
juga muncul adalah kekerasan FPI memperjuangkan Islam
(Violence) yang dapat diartikan secara kaffah (totalistik); dengan
sebagai berikut: syariat Islam sebagai hukum negara,
Islam sebagai dasar negara
"All types of behavior, either sekaligus Islam sebagai sistem
threathened or actual, that politik, sehingga bukan demokrasi
result in or are intended to yang menjadi sistem politik nasional.
result in damage or destruction Sebaliknya, dasar paktek
of property or the injury or keagamaannya ada pada orientasi
death of an individual"18 masa lalu.20
(terjemahan bebas: semua tipe Kemunculan gerakan Islam
tindakan, baik yang hanya radikal di Indonesia sejauh ini
sekedar mengancam maupun nampaknya disebabkan oleh dua
telah melakukan aksi yang faktor, yaitu21:
akan atau telah mengakibatkan
rusaknya ataupun hancurnya Faktor internal dari dalam umat
properti atau lukanya atau Islam sendiri
meninggalnya seseorang) Faktor ini dilandasi oleh
kondisi internal umat Islam sendiri
Selanjutnya, juga terdapat yang telah menjadi sumber
konsep vigilante. Vigilante atau penyimpangan norma-norma
vigilantism dalam Encyclopedia of agama. Kehidupan sekular sudah
19
Crime and Justice dijelaskan masuk ke dalam umat Islam dengan
sebagai berikut: Vigilantism berasal segala dampaknya, mendorong
dari kata vigilante yang berarti mereka melakukan gerakan-gerakan
kembali kepada otentitas
17
Joseph G. Weis (ed.), Readings Juvenile (fundamen) Islam. Sikap ini ditopang
Delinquency, Crime and Society Vol.2 , oleh pemahaman Islam yang
1996, Pine Forge Press, p.244-246 totalistik dan formalistik, yang
18
Dressler, Joshua (ed.). 2002.
Encyclopedia of Crime and Justice Second
20
Edition, p.1619 Zada, Khamami. Op Cit., hlm 17
19 21
Ibid., p.1616-1618 Ibid., hlm 95
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 49

bersikap kaku dalam memahami masyarakat sudah bernuansa Islami


teks-teks agama, sehingga dan syariat Islam sudah berjalan,
cenderung menolak perubahan maka negara Islam akan berdiri
sosial. Lalu mereka frustrasi dengan sendirinya. Bentuk negara
terhadap perubahan dunia dan dan struktur pemerintahan tidak
selanjutnya konsep-konsep modern diperma-salahkan, selama
seperti sekularisme, demokrasi dan sistemnya tidak bertentangan
HAM juga mereka tolak secara dengan syariat Islam. Orientasi
radikal. tentang negara Islam disandarkan
pada realitas historis pemerintahan
Faktor eksternal baik yang Nabi Muhammad di Madinah.22
dilakukan rezim penguasa maupun FPI menyarankan adanya
hegemoni Barat pentahapan dalam pemberlakuaan
Berkaitan dengan faktor syariat Islam. Pertama, pemetaan
eksternal tersebut, dapat ditunjuk daerah-daerah di Indonesia. Daerah
sikap represif rezim penguasa yang siap menjalankan syariat Islam,
terhadap kelompok-kelompok Islam langsung diterapkan, misalnya Aceh.
seperti yang dilakukan Orde Baru. Kedua, setelah dipetakan,
Selanjutnya, adanya krisis dirumuskan dalam UU dan
kepemimpinan yang terjadi pasca- dilaksanakan secara bertahap.
Orde Baru yang ditunjukkan dengan Ketiga. Bagi daerah yang belum
lemahnya penegakkan hukum, telah siap, disosialisasikan lebih dahulu.23
mendorong gerakan Islam guna Jika demokrasi diartikan sebagai
menampilkan bahwa syariat Islam pemerintahan dari oleh dan untuk
adalah solusi terbaik. Radikalisme rakyat, maka bagi FPI, Islam tidak
dijadikan jawaban atas lemahnya selaras dengan demokrasi, karena
aparat penegak hukum dalam dalam Islam kedaulatan ada di
menyelsaikan kasus yang terkait tangan Tuhan. Selanjutnya, menurut
dengan umat Islam. FPI, larangan wanita menjadi
Selanjutnya, faktor dominasi presiden sudah sangat jelas
Barat terhadap negara-negara Islam dinyatakan dalam Islam.
juga dapat disebut sebagai faktor FPI berjuang dengan menggunakan
eksternal yang penting untuk dua pola perjuangan; kultural dan
dikemukakan. struktural. Dua pola perjuangan ini
FPI memiliki pandangan dilakukan secara bersama-sama
bahwa relasi Islam dan negara demi tegaknya syariat Islam. Karena
bersifat integratif, yakni bahwa Islam itu, FPI sangat giat memperjuangkan
adalah agama dan negara. aspirasi Islam kepada pemerintah,
Paradigma penyatuan agama dan sekaligus melakukan dakwah di
negara ini biasanya dianut oleh tengah-tengah masyarakat.24
kelompok fundamentalisme Islam
yang cenderung berorientasi pada Empat Isu / Tema
nilai-nilai Islam yang dianggapnya
mendaasar dan prinsipil, bahwa
Islam meliputi seluruh aspek 22
Ibid., hlm 124
kehidupan. Bagi FPI, bila 23
Ibid.
24
Ibid., hlm 161-167
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 50

Sejauh ini terdapat empat isu SAW Tahun 1423 H, sekitar


atau tema yang diperjuangkan 650 anggota Front Pembela
kelompok Islam radikal FPI sebagai Islam (FPI) kembali bergerak
berikut: keliling Jakarta untuk menyapu
berbagai kegiatan yang
1. Piagam Jakarta dianggap maksiat. Paling tidak
FPI selalu mendesak anggota tiga tempat hiburan, yaitu Hailai
legislatif untuk mengembalikan di Ancol, diskotik Eksotis, dan
Piagam Jakarta atau pemberlakuan dua rumah biliar menjadi
syariat Islam di Indonesia. Karena sasaran, sehingga kaca-kaca
menurut mereka, Piagam Jakarta dan peralatan di dalamnya
adaalah pintu gerbang penegakkan dihancurkan."27
syariat Islam di Indonesia yang
memiliki asas legalitas konstitusi dan 3. Konflik agama
historis sangat kuat dalam Kepedulian dalam menyikapi tragedi
kehidupan berbangsa dan bernegara berdarah di Ambon dilakukan dalam
bagi rakyat Indonesia.25 wujud aksi solidaritas dan turun ke
lapangan. Sekitar 200 laskar FPI dan
Front Pembela Islam (FPI) sejumlah pimpinan umat yang
menjanjikan akan menggelar tergabung dalam MUI
ribuan pendukungnya di menyampaikan sikap dukungan
Gedung DPR/MPR Senayan, kepada umat Islam Ambon di
Jakarta, Senin (5/8) sekitar Gedung MPR/DPR.28
pukul 10.00 pagi, dalam rangka
mendesak dimasukkannya 4. Solidaritas dunia Islam
agenda syariat Islam dalam Aksi demonstrasi solidaritas untuk
amandemen UUD 1945 pasal Afganistan yang digelar beberapa
29."26 waktu lalu, berujung bentrokan
antara aparat kepolisian dengan
2. Pemberantasan tempat-tempat massa FPI di depan Gedung
maksiat MPR/DPR.29
Konsentrasi perjuangan mem-
berantas tempat-tempat maksiat, Perilaku FPI Sebagai Bentuk
seperti lokalisasi dan perjudian, Perilaku Menyimpang
banyak dilakukan oleh FPI. FPI Analisa penulis mengenai
adalah ormas yang sangat keras dan perilaku menyimpang akan diawali
tidak mentolerir praktek-praktek dengan analisis mengenai subkultur.
prostitusi dan perjudian. Subkultur adalah salah satu sub

Bertepatan dengan peringatan 27


FPI Kembali Sapu Tempat Hiburan.
Isra dan Miraj Nabi Muhammad available at
http://www.kompas.com/utama/news/0210/0
25
Ibid., hlm 161-162 4/003823.htm
26 28
"Ribuan Anggota FPI Akan Berunjuk Rasa MUI dan FPI Tuntut Tragedi Maluku
di DPR/MPR : Tuntut Pemberlakuan Syariat Dihentikan. Republika, 13 Januari 2000.
Islam."available at hlm 12
29
http://www.kompas.com/utama/news/0208/0 Aparat Tak Paham Perasaan Umat
5/212314.htm Islam. Berita Kota. 18 Oktober 2001
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 51

divisi dalam budaya induk yang Dalam hal ini, kami akan
memiliki norma-norma, keyakinan- menggunakan sudut pandang teori
keyakinan dan nilai-nilainya sendiri. makro obyektivis, yaitu Status
Menurut Cohen, pada setiap Frustration Theory dari Albert K.
kebudayaan induk selalu ada sub- Cohen.
sub kebudayaan yang memiliki Menurut Cohen, dalam
norma dan nilai yang tidak masyarakat juga berkembang
semuanya sesuai dengan subkultur-subkultur yang mengarah
kebudayaan induknya yang dianut pada penyimpangan (subculture
oleh masyarakat secara umum.30 deviance) yang diakibatkan adanya
FPI sebagai sebuah kelompok frustrasi status.32 Dalam kaitannya
merupakan sebuah subkultur yang dengan perilaku, status erat
mengembangkan nilai-nilai agama kaitannya dengan konformitas
Islam dan berpatokan pada norma- terhadap seperangkat norma, yang
norma Islam dalam bertingkah laku tidak perlu dibantah lagi juga
bagi para anggotanya. Hal ini menjelaskan mengenai keberadaan
berbeda dengan nilai dan norma dan efektivitas norma tersebut saat
yang berlaku umum pada dihadapkan dengan norma lain yang
masyarakat Indonesia sebagai bertentangan.
kebudayaan induk. Walaupun Fenomena radikalisme agama
mayoritas penduduk Indonesia jelas tidak bisa dilepaskan dari arus
beragama Islam, namun masyarakat deras modernisasi dan
Indonesia tidak sepenuhnya pembangunan yang dijalankan
menganut nilai dan norma agama negara dalam rentang tiga puluh
Islam dalam bertingkah laku. Pada tahun terakhir ini.33 Perubahan-
tingkat ekstrim, FPI menganggap perubahan sosial, politik dan budaya
nilai-nilai yang dianutnya adalah membawa masyarakat kepada nilai-
benar. Bahkan, secara terang- nilai tertentu yang juga mengalami
terangan mereka melakukan perubahan. Karena perubahan
perlawanan terhadap nilai dan sosial berupa modernisasi dan
norma yang bertentangan dengan globalisasi tersebut, nilai-nilai dan
mereka. Salah satu bentuknya norma yang dianut oleh masyarakat
adalah dengan melakukan cenderung mengarah pada nilai-nilai
perusakan tempat hiburan dan kafe barat-sekuler.
tenda di Jalan Jaksa serta Selain itu, adanya krisis
menyerang sebuah kafe di multidimensi pada tahun 1998,
31
Kemang. membuat beberapa ormas beraliran
Apakah yang menyebabkan Islam radikal mencuat. Hal ini
FPI menjadi sebuah subkultur yang dikarenakan, pada masa Orde Baru,
menganut nilai yang berbeda negara mempunyai standar yang
dengan kebudayaan induk yaitu diterapkan pada semua organisasi
masyarakat Indonesia dan massa atau partai politik dimana
dikategorikan sebagai menyimpang? ormas atau partai politik haruslah
menjadi sebuah organisasi yang
30
Rubington and Weinberg, p.262
31 32
Kawasan Wisata Jalan Jaksa Diobrak- Weis, Op.Cit., hlm 244-246
33
abrik. Loc.Cit. Radikalisme Agama (FPI, .... Loc. Cit.,
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 52

mampu mendorong jalannya proses ketidakmampuan memenuhi


modernisasi dan model harapan status sebagai organisasi
pembangunan yang menjadi tolak massa tersebut. Bentuk-bentuk
ukur keberhasilan negara dan kekecewaan yang lain disebabkan
masyarakat.34 Tekanan politik pada karena standar norma yang
masa Orde Baru yang memaksakan digunakan negara untuk mengatur
Pancasila sebagai satu-satunya masyarakat dalam berperilaku
asas tunggal, merupakan salah satu ternyata tidak mampu untuk
contohnya. Dan, kelompok yang mengatur secara perilaku-perilaku di
menolak asas tunggal tersebut masyarakat.37 Misalkan saja
dianggap akan mengganggu penegakan hukum pidana yang
jalannya proses modernisasi dan lemah, sistem peradilan pidana yang
model pembangunan yang tidak berfungsi, ketiadaan tindakan
diterapkan, selanjutnya ekspresi aparat terhadap penyimpangan-
politik mereka dihambat. penyimpangan tersebut serta
Kelompok ini mengalami hukuman terhadap pelaku kejahatan
status frustration disebabkan karena yang dianggap tidak memberikan
pelaku, seseorang atau sejumlah penjeraan.
anggota dari kelompok tersebut, Kekecewaan ini merupakan
tidak mampu memenuhi standar salah satu faktor munculnya
yang telah ditetapkan kebudayaan kelompok radikal, dan radikalisasi
dominan. Mereka adalah individu tersebut merupakan respons
atau kelompok orang yang terhadap kondisi yang sedang
mengalami kegagalan status berlangsung. Biasanya respons
dikarenakan mereka tidak memenuhi tersebut muncul dalam bentuk
harapan-harapan tersebut, atau evaluasi, penolakan atau bahkan
mempunyai standar harapan lain, perlawanan. Masalah yang ditolak
yang disebabkan adanya bisa berupa asumsi, ide, lembaga
keberagaman standar nilai dan atau nilai-nilai yang dapat dipandang
norma yang ia internalisasikan. bertanggungjawab terhadap
Sehingga, sulit bagi dirinya keberlangsungan kondisi yang
memenuhi harapan norma suatu ditolak.38 Kekecewaan ini pada
kelompok, mengingat ia masih akhirnya akan membawa mereka
menganut harapan dari kelompok kepada suatu tindakan membentuk
yang lain.35 kelompok yang terdiri dari orang-
Pada akhirnya, kelompok- orang yang memiliki akumulasi
kelompok Islam radikal merasa kekecewaan yang sama. Oleh
termarjinalisasi karena tidak mampu karena itu mereka membentuk
memenuhi standar norma yang deviant subculture yang mempunyai
diterapkan atau mereka tidak dan merumuskan nilai dan norma
menyetujui norma yang berlaku di sendiri, dan mereka menginter-
masyarakat.36 Mereka mengalami nalisasikannya dalam kelompok
kekecewaan yang disebabkan oleh mereka39. Karena kekecewaan

34 37
Ibid., Ibid.,
35 38
Weis, Op.Cit., Zada, Khamami. Op Cit., hlm 11
36 39
Afif, Muhammad. Loc.Cit., Bynum, Jack E., Op.Cit., p.165-166
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 53

tersebut, pada tanggal 17 Agustus dimana gerakan tersebut berusaha


1998, dibawah pimpinan Habib mengislamkan masyarakat pada
Mohammad Riziq Shihab, berdiri level grass-root melalui penerapan
organisasi Front Pembela Islam hukum Islam tanpa harus diformat
dengan menggunakan dasar Islam.40 dalam sebuah negara Islam.43 Hal ini
FPI kemudian menggalang massa, tentu saja bertentangan dengan
menciptakan gerakan-gerakan yang nilai-nilai politik yang dianut
fundamentalis radikal dan masyarakat Indonesia secara umum
membentuk jaringan nasional untuk norma-norma yang tidak
menggalang kekuatan berbasiskan berbasiskan agama (sekuler).
Islam41. Dalam deviant subculture
Kehidupan sekular yang tersebut, mereka menentukan
sudah masuk dalam umat Islam standar berperilaku yang diyakini
dengan segala dampaknya, oleh mereka adalah benar. Ada
mendorong mereka melakukan reaction-formation dimana subkultur
gerakan-gerakan kembali kepada ini mengambil nilai dan norma dari
otentitas (fundamen) Islam. Sikap ini kebudayaan induk, tetapi kemudian
ditopang oleh pemahaman Islam menolaknya dan menganggap nilai
yang totalistik dan formalistik, yang dan norma delinkuen yang mereka
bersikap kaku dalam memahami miliki adalah benar dan dijadikan
teks-teks agama, sehingga standar bertingkah laku. Kemudian,
cenderung menolak perubahan mereka menyesuaikan dengan nilai
sosial. Lalu mereka frustrasi dan norma yang ada didalamnya.
terhadap perubahan dunia, dan Setelah itu, subkultur ini cenderung
selanjutnya konsep-konsep modern melakukan tindakan-tindakan dalam
seperti sekularisme, demokrasi dan menerapkan nilai dan norma yang
HAM mereka tolak secara radikal.42 mereka yakini kebenarannya, namun
Mereka menetapkan hukum dianggap menyimpang oleh
Islam dan norma-norma agama kebudayaan induk yang dominan.
Islam sebagai standar berperilaku. Radikalisasi tidak berhenti
Mereka percaya bahwa Indonesia, pada upaya penolakan melainkan
yang mayoritas penduduknya terus berupaya mengganti tatanan
beragama Islam, seharusnya tersebut dengan suatu bentuk
memakai hukum Islam sebagai tatanan yang lain. Ciri ini
dasar aturan dalam kehidupan menunjukkan bahwa dalam
berbangsa dan bernegara. Padahal, radikalisasi ini terdapat suatu
Indonesia merupakan bentuk negara program atau pandangan dunia
demokratis yang memiliki sendiri. Kaum radikalis berupaya
keberagaman standar nilai dan kuat menjadikan tatanan tersebut
norma termasuk norma hukum, sebagai ganti dari tatanan yang
sosial dan adat istiadat. Gejala ini sudah ada.44 Salah satu wujud
didefinisikan oleh Oliver Roy sebagai perilakunya adalah dengan
gejala fundamentalisme radikal menerapkan syariat Islam yang
betul-betul murni dan diterapkan
40
Arif, Abdul Rasyid, Loc.Cit., hlm 12
41 43
Radikalisme Agama (FPI, .... Loc. Cit., Radikalisme Agama (FPI, .... Loc. Cit.,
42 44
Zada, Khamami. Op Cit., hlm 17 Zada, Khamami. Op Cit., hlm 11
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 54

dalam kehidupan sosial untuk kekeasan.47 Pada tahap ini, oleh


menciptakan kembali masyarakat Cohen dirumuskan sebagai
Islam sejati45, syariat Islam harus nonutilitarian deviance (seperti yang
menjadi konstitusi negara serta dijelaskan oleh Robert K. Merton
menonjolkan simbol-simbol tertentu dalam teori Adaptation) dimana
sebagai identitas (berpakaian putih- penyimpangan yang dilakukan oleh
putih, memakai peci putih, pelaku, tidak lagi berorientasi pada
membawa bendera FPI, materi, melainkan hanya sekedar
menggunakan surban atau jubah), membuktikan keberadaan mereka
berorientasi pada ajaran Islam yang sebagai suatu kelompok.48
konservatif (menggunakan tolak ukur Bentuk-bentuk tindakan
Alquran dan Sunnah Rasul), mereka adalah seperti, melakukan
melakukan tindakan vigilantisme vandalisme dengan melakukan
(tindakan-tindakan yang bertujuan perusakan kantor pemerintah dan
untuk mengembalikan fasilitas umum, menggerebek
keseimbangan dari suatu situasi tempat-tempat yang mereka anggap
yang dianggapnya sudah tidak maksiat, demontrasi, pembakaran,
terkontrol, mengkombinasikan jihad menciptakan teror di masyarakat,
politik dengan militansi terhadap tindakan main hakim sendiri,
segala hal yang berkaitan dengan membawa dan menggunakan
barat-sekuler46, menentang senjata tajam atau tumpul dalam
kepemimpinan perempuan dan lain setiap aksinya, bentrok dengan
sebagainya. aparat atau ormas lain, melakukan
Untuk menerapkan standar razia di tempat hiburan dan
norma yang mereka miliki dan sebagainya. Tindakan-tindakan ini
mereka yakini bersama tersebut, mereka lakukan untuk
mereka implementasikan dalam mengembalikan nilai-nilai murni
bentuk-bentuk tindakan nyata yang Islam dalam kehidupan
menyimpang. Tindakan-tindakan ini bermasyarakat.
muncul karena kuatnya keyakinan Yang menjadi permasalahan
kaum radikalis akan kebenaran adalah, kelompok ini melakukan
program atau ideologi yang mereka tindakan-tindakan yang
bawa. Sikap ini pada saat yang bertentangan dengan nilai dan
sama dibarengi dengan penafsiran norma yang berlaku dalam
kebenaran dengan sistem lain yang masyarakat. Batasan yang biasa
akan diganti. Dalam gerakan sosial, dipergunakan adalah norma legal
keyakinan tentang ide ini sering yang dirumuskan dalam bentuk
dikombinasikan dengan cara-cara undang-undang.
pencapaian yang mengatasnamakan Dari sudut pandang hukum,
nilai kemanusiaan. Akan tetapi, ormas Front Pembela Islam ini
kuatnya keyakinan ini dapat masuk kategorisasi lembaga
mengakibatkan munculnya sikap extrajudicial. Lembaga extrajudicial
emosional yang menjurus pada adalah suatu lembaga di luar sistem
peradilan pidana yang secara aktif

45 47
Radikalisme Agama (FPI.... Loc. Cit., Zada, Khamami. Op Cit., hlm 17
46 48
Afif, Muhammad. Op.Cit., Weis, Joseph G. Op.Cit., p.244-246
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 55

ikut berperan melaksanakan Perbuatan kelompok tersebut dapat


49
penegakkan hukum. Contoh lain, dikatakan perilaku menyimpang
organisasi Komando Operasi karena nilai-nilai dan norma-norma
Keamanan dan Ketertiban yang mereka anut berbeda dan
(Kopkamtib) pada masa Orde Baru. bahkan bertentangan dengan nilai-
Secara semantik, organisasi ini nilai yang berlaku umum dalam
adalah organisasi yang turut masyarakat, dalam hal ini salahsatu
menegakkan hukum, padahal acuannya adalah KUHP. FPI
tindakannya banyak yang sebagai sebuah kelompok
bertentangan dengan hukum, merupakan sebuah subkultur yang
mengingat sesungguhnya otoritas mengembangkan nilai-nilai agama
penegakan hukum ada pada agen- Islam dan berpatokan pada norma-
agen sistem peradilan pidana.50 norma Islam dalam bertingkah laku
Bilamana aktivitas lembaga- oleh para anggotanya. Hal ini
lembaga-lembaga tersebut telah berbeda dengan nilai dan norma
dipandang menyimpang dan masuk yang berlaku umum pada
dalam kategori tindak pidana, polisi masyarakat Indonesia sebagai
dapat menjaring mereka dengan kebudayaan induk.
menerapkan pasal 55-56 KUHP51. Walaupun mayoritas
Tindakan-tindakan mereka penduduk Indonesia beragama
merupakan tindakan yang tidak Islam, namun masyarakat Indonesia
hanya menyimpang dari norma yang tidak sepenuhnya menganut nilai
telah ditetapkan masyarakat tetapi dan norma agama Islam dalam
juga melanggar rumusan norma bertingkah laku. Pada tingkat
tersebut. Secara legal, tindakan ini ekstrim, FPI menganggap nilai-nilai
bisa dikategorikan sebagai tindak yang dianutnya adalah benar.
kejahatan, dan secara sosiologis Bahkan, secara terang-terangan
dikategorikan sebagai tindakan mereka melakukan perlawanan
menyimpang. terhadap nilai dan norma yang
bertentangan dengan mereka.
Penutup Yang membuat ia menjadi
Akhirnya dapat disimpulkan radikal adalah ketika cita-cita bagi
bahwa FPI merupakan kelompok terlaksananya kehidupan seperti itu
subculture deviance yang melakukan ditempuh dengan menggunakan
perbuatan-perbuatan yang kekerasan dan cara-cara yang
melanggar norma-norma legal yang drastis. Kekerasan dan cara-cara
berlaku dalam masyarakat. drastis itu kadang-kadang
menimbulkan ketakutan pada diri
49 banyak orang serta dapat pula
Ronny Nitibaskara, Ototritas Penegakkan
Hukum dan Peran Serta Masyarakat, Ketika mengganggu stabilitas suatu negara.
Kejahatan Berdaulat, 2001, Jakarta: Selanjutnya, perlu dikemuka-
Peradaban , hlm229
50
kan pula bahwa salah satu hal yang
Ibid. hlm 236 menjadi permasalahan dalam
51
Ibid.
konsepsi makro obyektifis adalah
bahwa norma yang dianggap
sebagai patokan dalam berperilaku
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 56

justru diragukan keobyektifannya. Nitibaskara, T.R.


Padahal, norma ini digunakan untuk 2001 Ketika Kejahatan Berdaulat,
mengukur perilaku secara obyektif. Jakarta: Peradaban
Hal ini terlihat ironis dan
bertentangan. Alasannya adalah, Rubington, E., and M. S. Weinberg
norma merupakan standar yang 1981 Deviance The Interactions
sifatnya abstrak dan belum tentu Perspective, Fourth Edition,
dapat terbukti secara obyektif. New York: MacMillan
Namun, apakah norma dapat Publishing Co. Inc.
diidentifikasikan dan diukur secara
obyektif? Apabila jawabannya tidak, Ward, D. et. al.
pendekatan ini lalu menjadi ambigu 1994 Social Deviance : Being,
dan tidak valid. Norma memiliki dua Behaving and Branding,
aspek utama yaitu sebagai harapan Allyn and Bacon.
bersama masyarakat dalam
berperilaku dan memberikan Joseph G. Weis (ed.)
evaluasi dari perilaku tersebut 1996 Readings Juvenile
apakah sesuai dengan norma atau Delinquency, Crime and
tidak. Permasalahannya adalah, Society Vol.2, Pine Forge
sejauh manakah norma tersebut Press.
merupakan permasalahan bersama
dan apakah norma tersebut memang Zada, Khamami
diberlakukan secara adil dalam 2002 Islam Radikal : Pergulatan
masyarakat. Ormas-ormas Islam Garis
Hal inilah yang menjadikan Keras di Indonesia, Jakarta :
kesulitan dalam menganalisa kasus Teraju.
FPI, karena KUHP yang digunakan
sebagai standar legal normatif
masyarakat kita, dianggap tidak Artikel Media Massa
cukup mengakomodir kepentingan
berbagai pihak dan diterapkan Berita Kota
sepihak. Terjadi bias, dikarenakan 2001 Aparat Tak Paham Perasaan
kita menggunakan standar normatif Umat Islam," 18 Oktober.
yang ternyata tidak obyektif.
Republika
2000 MUI dan FPI Tuntut Tragedi
Maluku Dihentikan, 13 Januari.
Daftar Pustaka

Buku Internet
Bynum, J. E., and W. Thompson Afif, Muhammad. Akar-akar
1989 Juvenile Delinquency : Gerakan Islam Radikal, available at
Sociological Approach, http://www.pikiran-
Boston : Allyn and Bacon. rakyat.com/cetak/0103/24/0801.htm
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. I Juni 2003 : 43 - 57 57

FPI Kembali Sapu Tempat


Hiburan. available at
http://www.kompas.com/utama/news
/0210/04/003823.htm

Kawasan Wisata Jalan Jaksa


Diobrak-abrik, available at
http://www.kompas.com/metro/news/
0206/26/041200.htm
Radikalisme Agama (FPI, FKAWJ,
MMI, dan Hammas) dan Perubahan
Sosial di DKI Jakarta , available at
"http://www.pbb-
iainjakarta.or.id/researchDetail.cfm?
Research=1

Ribuan Anggota FPI Akan Berunjuk


Rasa di DPR/MPR : Tuntut
Pemberlakuan Syariat
Islam.available at
http://www.kompas.com/utama/news
/0208/05/212314.htm

Skripsi

Arif, Abdul Rasyid


2002 Reaksi Front Pembela Islam
terhadap Perilaku
Menyimpang Berdasarkan
Hukum Islam sebagai Bentuk
Kontrol Sosial Vigilantisme,
Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik. Tidak
Diterbitkan.