Anda di halaman 1dari 12

1.

Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae


1.1 Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae secara Makroskopis
Panggul merupakan articulation sferoidea synovial . Memiliki artikulasi
antara kaput femoralis yang bulat dengan acetabulum yang seperti bahu, tepinya
dipertinggi oleh adanya cincin fibrokartilaginosa- labrum acetabulare. Bangian sentral
dan inferior dari acetabulum sama sekali tidak memiliki permukaan artikularis. Regio
ini disebut acetabularis yang merupakan tempat lewat ligamentum teres menuju fovea
pada kaput femoralis. Batas inferior di bawah incissura acetabularis memiliki
ligamentum transversum acetabuli.
Kapsula articulation coxae melekat di atas batas acetabulum, termasuk
ligamentum transversum acetabuli. Kapsul ini melekat ke femur di anterior pada linea
trokanterika dan ke basis trokanter. Di posterior kapsula ini melekat ke femur di tempat
yang lebih tinggi, 1 cim di atas crista trochanterika.
Stabilitas ligamentosa dipertahankan oleh tiga ligamentum, yaitu:
- Ligamentum iliofemorale (ligamentum Bigelow), keluar dari spina iliaca anterior
inferior dan masuk ke tiap sisi linea trochanterica, mencegah hiperekstensi
panggul.
- Ligamentum pubofemorale, keluar dari sambungan iliopubis dan melewati kapsula
di atas linea trokanterika yang merupakan tempat melekat.
- Ligamentum iskiofemorale, keluar dari iskium dan sebagian melingkar ke lateral
untuk melekat ke basis M.Trochanter major.

Sumber: Syamsir, M. 2014. Muskuloskeletal Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Bagian


Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Sumber: Faiz, Omar dan David Moffat. 2004. At a Glance Series Anatomi. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
Articulatio coxae
Tulang : Antara caput femoris dan acetabulum
Jenis sendi : Enarthrosis spheroidea
Penguat sendi :Terdapat tulang rawan pada facies lunata, kelenjar
Havers terdapat pada acetabulum
Ligamentum iliofemorale yang berfungsi mempertahankan art. coxae
tetap extensi, menghambat rotasi femur, mencegah batang badan berputar
ke belakang pada waktu berdiri sehingga mengurangi kebutuhan kontraksi
otot untuk mempertahankan posisi regak.
Ligamentum ischiofemorale yang berfungsi mencegah rotasi interna.
Ligamentum pubofemorale berfungsi mencegah abduksi, ekstensi,
dan rotasi externa.
Selain itu diperkuat juga oleh Ligamentum transversum acetabuli dan
Ligamentum capitisfemoris. Bagian bolong disebut zona orbicularis.
Capsula articularis: membentang dari lingkaran acetabulum ke linea
intertrochanterica dan crista intertrochanterica.
Gerak sendi:
Fleksi : m. iliopsoas, m. pectinus, m. rectus femoris, m. adductor
longus, m. adductor brevis, m. adductor magnus pars anterior tensor fascia
lata
Ekstensi : m. gluteus maximus, m. semitendinosis, m. semimembranosus,
m. biceps femoris caput longum, m. adductor magnus pars posterior
Abduksi :m. gluteus medius, m. gluteus minimus, m. pirirformis, m.
sartorius, m. tensor fasciae lata
Adduksi : m. adductor magnus, m. adductor longus, m. adductor brevis,
m. gracilis, m. pectineus, m. obturator externus, m. quadratus femoris
Rotasi medialis : m. gluteus medius, m. gluteus minimus, m. tensor
fasciae latae, m. adductor magnus (pars posterior)
Rotasi lateralis : m. piriformis, m. obturator internus, mm. gameli, m.
obturator externus, m. quadratus femoris, m. gluteus maximus dan mm.
adductores.
Articulatio ini dibungkus oleh capsula articularis yang terdiri dari jaringan
ikat fibrosa. Capsula articularis berjalan dari pinggir acetabulum os. coxae
menyebar ke latero-inferior mengelilingi colum femoris untuk melekat
pada linea introchanterica bagian depan dan meliputi pertengahan bagian
posterior colum femoris kira-kira sebesar jari di aytas crista introchanterica.
Oleh karena itu, bagian lateral dan distal belakang colum femoris adalah di
luar capsula articularis. Sehubungan dengan itu fraktur colum femoris dapat
extracapsular dan dapat pula intracapsular.
2. Memahami dan menjelaskan Fraktur
2.1 Memahami dan menjelaskan Definisi
Fraktur adalah pemecahan suatu bagian, khususnya tulang atau pecah (ruptur)
pada tulang. (Dorland, 2011)
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis yang bersifat total maupun parsial.
Sumber: Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang: Bintang Lamupate

2.2 Memahami dan menjelaskan Klasifikasi

Menurut Mansjoer (2002) ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia
luar di bagi menjadi dua antara lain:
1. Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan
keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
Tingkat 3: Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman sindroma kompartement.
2. Fraktur terbuka (open/compound fraktur)
Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan/potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk
ke dalam luka sampai ke tulang yang patah. Derajat patah tulang terbuka :
Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal.
Derajat II
Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.

Menurut Mansjoer (2002) derajat kerusakan tulang dibagi menjadi 2 yaitu:


1. Patah tulang lengkap (Complete fraktur)
Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya,
atau garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen
tulang biasanya berubah tempat.
2. Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )
Bila antara patahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi
patah yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut green stick.

Menurut Mansjoer (2002) bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma ada 5 yaitu:
1. Fraktur Transversal
Fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma
angulasi atau langsung.
2. Fraktur Oblik
Fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan
merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
3. Fraktur Spiral
Fraktur yang arah garis patahnya spiral yang di sebabkan oleh trauma rotasi.
4. Fraktur Kompresi
Fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah
permukaan lain.
5. Fraktur Afulsi
Fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya
pada tulang.

Menurut Smeltzer dan Bare (2001) jumlah garis patahan ada 3 antara lain:
1. Fraktur Komunitif
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2. Fraktur Segmental
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3. Fraktur Multiple
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
Sumber: Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 2014. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta:
BINARUPA AKSARA Publisher

3. Memahami dan menjelaskan Fraktur Femoris


3.1 Memahami dan menjelaskan Definisi
Fraktur femoris adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat
disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti
degenerasi tulang/osteoporosis.

Sumber: Grace, Pierce A dan Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Edisi 3.
Jakarta: Penerbit Erlangga

3.2 Memahami dan menjelaskan Etiologi


Fraktur dapat terjadi akibat beberapa sebab, yaitu:
Trauma langsung
Benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut, misalnya
penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung
terbentur dengan benda keras.
Trauma tidak langsung
Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan,
misalnya disebabkan oleh gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.
Karena kepala femur terikat kuat dengan ligamen didalam acetabulum oleh ligamen
iliofemoral dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah kolum femur.
Fraktur patologis
Fraktur yang disebabkan trauma yang minimal atau tanpa trauma. Contoh
fraktur patologis: Osteoporosis, infeksi tulang dan tumor tulang. Fraktur colum
femur sering tejadi pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat
kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause.

3.3 Memahami dan menjelaskan Klasifikasi


Klasifikasi fraktur collum femoris, yaitu:
1. Fraktur intrakapsular, fraktur ini terjadi di kapsul sendi pinggul
Fraktur capital : Fraktur pada kaput femur
Fraktur subkapital : Fraktur yang terletak di bawah kaput femur
Fraktur transervikal : Fraktur pada kolum femur

2. Fraktur ekstrakapsular, fraktur yang terjadi di luar kapsul sendi pinggul

Klasifikasi fraktur collum femur menurut Gardens adalah sebagai berikut :


Grade I : Fraktur inkomplit
Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran
Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)
Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen
yang bersinggungan

Klasifikasi Pauwels untuk fraktur kolum femur juga sering digunakan. Klasifikasi ini
berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang horizontal pada
posisi tegak.
Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak
Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal pada
posisi tegak
Tipe III : garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak
3.4 Memahami dan menjelaskan Patofisiologi
Ketika terjadi patah tulang yang diakibatkan oleh trauma, peristiwa tekanan
atau pun patah tulang patologik karena kelemahan tulang, akan terjadi kerusakan di
korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut
adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini
menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium
dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat
sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit.
Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk
memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang.
Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum
tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut
masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon
menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian
menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma
hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang
terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan
syndroma compartement.

Sumber: Apley, A.G., dan Solomon, L. 1995. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem apley.
Alih bahasa; fr. Edi Nugroho. Jakarta: Widya medika
Sumber: Simbardjo, Djoko. 2008. Fraktur Batang Femur dalam Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah. Jakarta: FKUI.

3.5 Memahami dan menjelaskan Manifestasi Klinik


Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung
pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
Deformitas ada 4 yaitu :
Penonjolan yang abnormal
Angulasi
Rotasi
Pemendekan
Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm.
Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik
tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau
beberapa hari setelah cedera.
Spasme otot involunter dekat fraktur
Kehilangan sensasi karena putusnya saraf atau terjadi pendarahan.
Syok hipovolemik.

3.6 Memahami dan menjelaskna Pemeriksaan


1. Anamnesa: ada trauma
Bilamana tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci
jenisnya, besar ringannya trauma, arah trauma, dan posisi penderita atau ekstremitas
yang bersangkutan (mekanisme trauma).
2. Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum, misalnya: shock, tanda-tanda sepsis.
3. Pemeriksaan status lokalis
Look
a. Deformitas:
- Penonjolan yang abnormal
- Angulasi
- Rotasi
- Pemendekkan
b. Fungsio laesa:
Hilangnya fungsi

Feel
Terdapat nyeri tekan dan nyeri sumbu

Move
a. Krepitasi
Terasa krepitasi bila fraktur digerakkan. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau
beradunya ujung-ujung tulang kortikal.
b. Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun gerakan pasif.
c. Memeriksa seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang tidak mampu
dilakukan, range of motion dan kekuatan.

Pemeriksaan Penunjang
Pada fraktur collum femoris dilakukan beberapa Pemeriksaan Radiologis, yaitu:
1. Radiografi polos:
Pemeriksaan ini telah diperintahkan sebagai langkah awal dalam pemeriksaan
patah tulang pinggul. Tujuan utama dari film X-ray adalah untuk menyingkirkan
setiap patah tulang dengan jelas dan menentukan lokasi & luas fraktur
Kekurangan : kurang sensitif
Pemeriksaan radiografi standar pinggul ialah pandangan AP dari pinggul dan
panggul dan tampilan tabel silang Lateral kadang jika diperlukan axial. Jika
fraktur leher femur diketahui, pandangan rotasi internal panggul dapat
membantu untuk mengidentifikasi patah tulang nondisplaced atau impaksi. Jika
patah tulang pinggul yang telah diketahui tetapi tidak terlihat pada standar x-ray
film, scan tulang atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) harus dilakukan.
2. CT-Scan
Scan tulang dapat membantu ketika fraktur stres, tumor, atau infeksi diketahui Scan
tulang adalah indikator yang paling sensitif dari stres tulang,tapi memiliki
spesifitas yang kurang.
3. MRI
Pemeriksaan MRI menunjukkan bahwa temuan MRI adalah 100% sensitif,
spesifik, dan akurat dalam mengidentifikasi fraktur collum femoralis.

Sumber: Sapardan Subroto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Bagian Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

3.7 Memahami dan menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis banding


Diagnosis biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan X-ray. Jika pada X-ray
tidak terdapat gambaran fraktur, maka dilakukan MRI atau CT untuk melihat fraktur
yang sangat kecil.
Fraktur femur biasanya terdapat pada dua lokasi, yaitu:
a. Leher femur (femoral neck) yang terletak di bagian atas femur, dibawah caput
femur. Tempat ball pada bagian ball-and-socket joint.
b. Regio intertrochanteria. Regio ini terletak di bawah sendi panggul di bagian atas
femur yang menonjol keluar.

Diagnosis Banding Fraktur Collum Femur


a. Osteitis Pubis
Peradangan dari simfisis pubis - sendi dari dua tulang panggul besar di bagian
depan panggul.
b. Slipped Capital Femoral Epiphysis
Patah tulang yang melewati fisis (plat tembat tumbuh pada tulang), yang
menyebabkan selipan terjadi diatas epifisis.
c. Snapping Hip Syndrome
Kondisi medis yang ditandai oleh sensasi gertakan terasa saat pinggul yang
tertekuk dan diperpanjang. Hal ini dapat disertai oleh gertakan terdengar atau
muncul kebisingan dan rasa sakit atau ketidaknyamanan.Dinamakan demikian
karena suara retak yang berbeda yang berasal dari seluruh daerah pinggul ketika
sendi melewati dari yang tertekuk untuk menjadi diperpanjang. Secara medis
dikenal sebagai iliopsoas tendinitis, mereka sering terkena adalah atlet, seperti
angkat besi, pesenam, pelari dan penari balet, yang secara rutin menerapkan
kekuatan yang berlebihan atau melakukan gerakan sulit yang melibatkan sendi
panggul.

3.8 Memahami dan menjelaskan Komplikasi


Komplikasi awal
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah
eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal kejaringan
yang rusak.
b. Sindrom emboli lemak
Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah
karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena
katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilisasi asam lemak
dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah.
c. Sindrom kompartemen
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari
yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa disebabkan karena penurunan
ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat,
penggunaan gips atau balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompartemen
otot karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misal :
iskemi, cidera remuk). Sindrom ini dapat ditangani dengan fascioctomi untuk
tindakan operatif dan hindari elevasi.
d. Trombo-emboli
Obtruksi pembuluh darah karena tirah baring yang terlalu lama. Misalnya
dengan di traksi di tempat tidur yang lama.
e. Infeksi
Pada fraktur terbuka akibat kontaminasi luka, dan dapat terjadi setelah tindakan
operasi.
f. Osteonekrosis (avaskular)
Tulang kehilangan suplai darah untuk waktu yang lama (jaringan tulang mati
dan nekrotik).
g. Osteoarthritis
Terjadi karena faktor umur dan bisa juga karena terlalu gemuk.
h. Koksavara
Berkurangnya sudut leher femur.
i. Anggota gerak memendek (ektrimitas).

Komplikasi lambat
a. Delayed union
Proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang lebih lama dari
perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan).
b. Non union
Kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan.
c. Mal union
Proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya,
namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
d. Kekakuan pada sendi.
e. Refraktur
Terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union yang solid.

Sumber: Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang: Bintang
Lamupate

3.9 Memahami dan menjelaskan Penatalaksanaan


Tata laksana
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian
fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a. Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi
terbuka, yang masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur.
1. Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke posisinya
(ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.
2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi.
Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi.
Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya
sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
b. Immobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di
imobilisasi atau di pertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau
inernal.
1. Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik
gips atau fiksator eksternal.
2. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai
inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di
butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik
10-12 minggu, batang 18 minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu:
1. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
2. Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
3. Memantau status neurologi.
4. Mengontrol kecemasan dan nyeri
5. Latihan isometrik dan setting otot
6. Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
7. Kembali keaktivitas secara bertahap.

Tindakan Debridement
1. Penderita diberi toksoid atau ATS
2. Antibiotic untuk bakteri gram positif dan negative
3. Kultur dan resistensi kuman dari dasar luka terbuka
4. Tourniquet disiapkan tetapi tidak perlu ditiup
5. Setelah dalam narkose seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dan dicukur
6. Luka diirigasi dengan cairan fisiologis atau air matang 5-10 liter, luka derajat 3
disemprot hingga bebas kontaminasi (jet lavage)
7. Tindakan desinfeksi dan pemasangan duk (draping)
8. Eksisi luka lapis demi lapis, fragmen tulang besar untuk stabilitas dipertahankan
9. Bila letak luka tidak menguntungkan, dibuat insisi baru yang biasa digunakan
10. Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup setelah 1
minggu atau edema hilang. Luka untuk reposisi primer dijahit primer
11. Fiksasi eksterna yang paling baik, bagi yang pengalaman, dibolehkan fiksasi
interna. Antibiotik diteruskan 3 hari kedepan

Operatif
Dipasang intermedullary nail, ada 3 macam:
1. Kuntsher mail (paling terkenal)
2. Sneider nail
3. Ao nail
Pemasangan intermedullary nail dapat dilakukan secara:
Terbuka
Menyayat kulit fascia sampai tulang yang patah. Pen dipasang secara retrograde
Tertutup
Tanpa sayatan di daerah patah. Pen dimasukkan melalui ujung trochanter major
dengan bantuan image intersifier(C.arm). Tulang dapat direposisi dan pen dapat
masuk kef ragmen bagian distal

Indikasi operatif, apabila:


- Cara non operatif gagal
- Multiple fraktur
- Rupture A. femoralis
- Patologik fraktur
- Usia lanjut

Farmakologi

Obat-obatan seperti biphosphonates dapat meningkatkan densitas tulang sehingga


mengurangi resiko re-fracture. Kebanyakan obat-obatan ini diminum.

Efek samping : Nausea, nyeri abdominal, dan inflamasi pada esofagus.

Farmakokinetik : Oral, jika intoleran dapat digunakan IV tubing.

Sumber: Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 2014. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta:
BINARUPA AKSARA Publisher

3.10Memahami dan menjelaskan Prognosis


Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan.
Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa
jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada
penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila
lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis
yang penting seperti immobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam
penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat
essensial dalam penyembuhan fraktur.