Anda di halaman 1dari 3

1.

1 Tipologi system akuifer

Pengertian mengenai geometri keterdapatan airtanah di bawah permukaan, merupakan hal yang mutlak
diketahui. Dengan memahami geometri akuifer, maka permasalahan mengenai karakteristik dan sifat
airtanah akan lebih mudah dijelaskan. Pendekatan yang digunakan meliputi berbagai aspek kimia fisika
di alam.

Kondisi dan distribusi system akuifer dalam system geologi dikontrol oleh factor litologi, stratigrafi dan
struktur dari endapan-endapan geologi. Litologi adalah penyusun secara fisik meliputi komposisi mineral,
ukuran butir dan kemas dari endapan-endapan atau bahan yang membentuk system geologi. Sedangkan
struktur geologi merupakan bentuk atau sifat geometri dari system geologi yang diakibatkan deformasi
yang terjadi setelah batuan terbentuk. Pada sedimen yang belum terkonsolidasi atau kompak, kontrol
yang berperan adalah litologi dan stratigrafi. Pengetahuan akan ketiga factor di atas memberikan arahan
kepada pemahaman karakteristik dan distribusi system akuifer ( Freeze dan Cherry, 1979)

Kesamaan iklim dan kondisi geologi di suatu daerah akan memberikan kesamaan system airtanah.
Kondisi ini akn berpengaruh terhadap karakter fisika dan kimia serta kualitas airtanah dalam system
tersebut. Berdasarkan karakter tersebut, serta mengacu pada klasifikasi mandel dan shiftan (1981) dan
kondisi geografis serta morfologis keberadaan dan penyebaran airtanah di Indonesia, maka Puradimadja
(1993) mengajukan 5 tipologi system akuifer untuk wilayah Indonesia, yaitu : 1) Tipologi system akuifer
endapan gunungapi 2) tipologi system akuifer endapan alluvial 3) tipologi system akuifer batuan
sedimen 4) tipologi system akuifer batuan kristalin dan metamorf 5) tipologi system akuifer endapan
glasial

2.1 Tipologi Sistem Akuifer Endapan GunungApi

Keberadaan airtanah di daerah ini umunya pada batuan yang sangat berpori dan tidak kompak.
Berselang-seling dengan lapisan-lapisan aliran lava yang umumnya kedap air. Hal ini menyebabkan
terakumulasinya airtanah yang cukup besar dan muncul sebagi mataair-mataair dengan debit bervariasi.

Airtanah pada daerah ini dapat dijumpai pada akuifer-akuifer dengan system media rekahan yang
banyak dijumpai pada lava. Rekahan tersebut terbentuk oleh kekar-kekar yang terjadi akibat proses
pada saat pembekuannya ataupun akibat tektonik atau vulkanisme. Di beberapa daerah mataair dengan
system rekahan ini menunjukkan debit air yang sangat besar.

2.2 Tipologi Sistem Akuifer Endapan Aluvial

Secara geologi, batuan penyusun system akuifer tersebut umumnya beurpa batuan lempung, pasir dan
kerikil hasil dari erosi, transportasi dari batuan di bagian hulunya. Dengan melihat keberadaan ini
umumnya batuan di endapan alluvial bersifat tidak kompak sehingga potensi airtanahnya cukup baik.

A. Sistem Akuifer Endapan Fluvial

System akuifer ini terbentuk akibat proses transportasi dan sedimentasi yang terjadi di sepanjang aliran
sungai. Umumnya berkembang pada sungai besar yang bermeander dan sungai teranyam.
B. Sistem Akuifer Endapan Aluvial Pantai

Morfologi di daerah alluvial pantai umumnya datar sampai sedikit bergelombang, memanjang sejajar
dengan garis pantai.

Di segi kuantitas, airtanah di sekitar daerah ini menjadi sumber airtanah yang baik terutama pada
daerah pematang pantai atau pada lensa-lensa batu pasir lepas. Namun dari segi kualitas airtanah pada
akuifer alluvial pantai tergolong buruk tetapi kualitas airtanah yang baik umumnya terdapat di akuifer
alluvial pantai berupa akuifer tertekan. Pada derah hulunya, endapan alluvial dapat menjadi tebal jika
cekungan yang membatasi terus menurun karena beban endapannya.

C. Sistem Akuifer Endapan Rawa atau Delta

Sistem akuifer ini memiliki potensi airtanah dangkal yang relative rendah dengan kualitas buruk. Lapisan
pelapukan umunya tebal dan bersifat impermeable. Karakteristik akuifer daerah ini adalah media pori
dengan ketebalan akuifer yang relative tipis pada lapisan yang berukuran butir pasir.

2.3 Tipologi Sistem Akuifer Batuan Sedimen

A. Sistem Akuifer Batu Pasir-Batu Serpih / Batu Lempung Terlipat

Sistem akuifer ini mirip dengan system akuifer endapan alluvial atau delta yang terdiri dari perselingan
pasir dan lempung. Hanya saja pada system ini mempunyai umur yang lebih tua dan telah mengalami
proses diagenesa yang menyebabkan terjadinya kompaksi, sementasi, dan lithikasi.

B. Sistem Akuifer Sedimen Terlipat dan/ atau Terpatahkan

Indonesia terletak di sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng yang menyebabkan kondisi tektoniknya
memberikan deformasi terhadap satuan-satuan geologi yang terendapkan dalam berbagai cekungan-
cekungan sedimen yang ada sehingga batuan terlipat dan/atau terpatahkan.

Potensi airtanah di daerah ini umumnya kecil mengingat batuan penyusunnya berupa serpih, napal atau
lempung yang kedap air. Batupasir jika ada umumnya berupa sisipan dan sangat kompak karena
berumur tua dan telah mengalami proses tektonik kuat, sehingga sedikit kemungkinan lapisan batupasir
tua ini dapat bertindak sebagai akuifer yang baik. Begitu pula dengan breksi sedimen. Batu gamping,
sekalipun sangat umum dijumpai pada daerah lipatan, apabila penyebarannya cukup luas, dipisahkan
menjadi system akuifer tersendiri mengingat karakter hidrogeologinya yang spesifik.

c. Sistem Akuifer Batuan Karbonat/Batu Gamping

daerah pegunungan yang batuanya terdiri dari batu gamping dan memperlihatkan morfologi yang khas
berupa kumpulan bukit-bukit membulat serta kehadiran sungai-sungai bawah tanah disebut perbukitan
karst. Hal itu disebabkan batuan yang kompak, batu gamping bersifat impermeable. Adanya system
rekahan pelarutan di dalamnya, menyebabkan batu gamping dapat bertindak sebagai akuifer yang
cukup baik.
Batu gamping mempunyai sifat khas yaitu dapat melarut dalam air sehingga adanya sifat ini porositas
pada batu gamping berupa porositas sekunder atau rekahan. Hal ini menyebabkan penyaluran bawah
permukaan umumnya lebih menonjol dibandingkan penyaluran air permukaan. Maka, jarang sekali
ditemukan sungai yang berair terus sepanjang tahun, karena air lebih banyak mengalir sebagai aliran
bawah permukaan melalui system rongga-riongga pelarut yang bercabang-cabang dan bertingkat-
tingkat sesuai dengan sejarah pelarutan batu gamping yang akhirnya dapat membentuk suatu jaringan
system aliran sungai bawah tanah.

2.4 Tipologi Sistem Akuifer Batuan Kristalin dan Metamorf

Potensi air di daerah ini sangatlah kecil karena sifat batuannya yang umumnya kompak, padat dan keras
sehingga kurang meneruskan air (impermeable). Morfologi pegunungan dengan batuan kristalin berupa
batuan beku dan metamorf umunya berbukit terjal sehingga kecil sekali kesempatan airtanah
berakumulasi dan dengan demikian kecil sekali kemungkinan muncul mataair, ataaupun jika ada hanya
berupa rembasan dengan debit kecil. Airtanah dalam jumlah terbatas, berupa airtanah dangkal dapat
dijumpai di daerah penggunungan dengan batuan kristalin dan metamorf pada endapan-endapan kipas
lerengnya atau pada soil hasil pelapukannya dan pada batuan padatnya dengan dikontrol oleh system
rekahan dan rekahan intensif.

2.,5 Tipologi System Akuifer Endapan Glasial

Endapan in umum dijumpai di daerah dengan iklim beriklim subtropics dingin. Di Indonesia endapan ini
hanya terjadi di pegunungan Jaya Wijaya