Anda di halaman 1dari 4
   

Anemia Defisiensi Besi / No. ICD-10: 280

   
Iron Deficiency Anemias
 

Iron Deficiency Anemias

Iron Deficiency Anemias
 

No.Dokumen

: /UKP/SOP/

SOP

No.Revisi

: 00

TanggalTerbit

:

 

Halaman

: 1/2/3/4

 

PUSKESMAS

 

Dr. Maria Inge Jammin

KENALI BESAR

NIP19801118.200903.2.004

  • 1. Pengertian

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah cukup ke jaringan perifer.

 
  • 2. Tujuan

Sebagai pedoman di dalam memberikan penatalaksanaan terhadap Anemia defisiensi besi agar pasien mendapatkan tindakan dan terapi yang cepat dan tepat.

  • 3. Kebijakan

Keputusan kepala Puskesmas Kenali Besar Nomor layanan klinis.

Tahun

tentang Pemberian

  • 4. Referensi

Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, Bakti Husada IDI Edisi revisi Tahun 2014

 
  • 5. Langkah -

1.

Anamnesa

 

langkah

  • 1.1 Keluhan berupa lemah, lesu, letih, lelah, penglihatan berkunang-kunang,

pusing, telinga berdenging, penurunan konsentrasi, dan sesak nafas.

 
  • 1.2 Faktor risiko :

 
 
  • a. Ibu hamil

  • b. Remaja putri

  • c. Status gizi kurang

  • d. Faktor ekonomi kurang

 
  • e. Infeksi kronik

  • f. Vegetarian

2

Pemeriksaan Klinis

 
  • 2.1 Gejala Umum Pucat dapat terlihat pada: konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, dan jaringan di bawah kuku.

  • 2.2 Gejala Defisiensi Besi a. Disfagia

 
 
  • b. Atrofi papil lidah

  • c. Stomatitis angularis

  • d. Koilonikia

  • 3 Pemeriksaan Penunjang

  • 3.1 Pemeriksaan darah: hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), leukosit, trombosit, jumlah eritrosit, morfologi darah tepi (apusan darah tepi), MCV, MCH, MCHC, feses rutin, dan urin rutin.

  • 3.2 Pemeriksaan Khusus (dilakukan di layanan sekunder) : Serum iron, TIBC, saturasi transferin, dan feritin serum.

  • 4 Diagnosis

Anemia Defisiensi Besi

  • 5 Diagnosis Banding

  • 5.1 Anemia defisiensi vitamin B12

  • 5.2 Anemia aplastik

  • 5.3 Anemia hemolitik

  • 5.4 Anemia pada penyakit kronik

  • 6 Penatalaksanaan

  • 6.1 Prinsip penatalaksanaan anemia harus berdasarkan diagnosis definitif yang telah ditegakkan. Setelah penegakan diagnosis dapat diberikan sulfas ferrosus 3 x 200 mg (200 mg mengandung 66 mg besi elemental).

  • 6.2 Konseling dan edukasi

1. Memberikan pengertian kepada pasien dan keluarga tentang perjalanan penyakit dan tata laksananya, sehingga meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam berobat serta meningkatkan kualitas hidup pasien. 2. Pasien diinformasikan mengenai efek samping obat berupa mual, muntah, heartburn, konstipasi, diare, serta BAB kehitaman. 3. Bila terdapat efek samping obat maka segera ke pelayanan kesehatan.

  • 7 Komplikasi

  • 7.1 Penyakit jantung anemia

  • 7.2 Pada ibu hamil: BBLR dan IUFD

7.3 Pada anak: gangguan pertumbuhan dan perkembangan 8 Prognosis 8.1 Ad vitam : dubia ad bonam
7.3
Pada anak: gangguan pertumbuhan dan perkembangan
8
Prognosis
8.1
Ad vitam : dubia ad bonam
8.2
Ad functionam : dubia ad bonam
8.3
Ad Sanationam : dubia ad bonam
9
Kriteria Rujukan
9.1
Anemia tanpa gejala dengan kadar Hb <8 g/dL.
9.2
Anemia dengan gejala tanpa melihat kadar Hb segera dirujuk.
9.3
Anemia berat dengan indikasi transfusi (Hb <7 g/dL).
9.4
Anemia karena penyebab yang tidak termasuk kompetensi dokter layanan
primer misalnya anemia aplastik, anemia hemolitik dan anemia
megaloblastik.
Jika didapatkan kegawatan (misal perdarahan aktif atau distres pernafasan) pasien
segera dirujuk.
6.
Bagan Alir
7.
Hal –hal yang
perlu
diperhatikan
  • 8. Unit terkait

Tempat pendaftaran, Poli Pemeriksaan, Laboratorium, Apotek

  • 9. Dokumen

 

terkait

10. Rekaman historis perubahan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai

diberlakukan