Anda di halaman 1dari 16

MANAJEMEN KONFLIK

MAKALAH
Untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Manajemen Pendidikan
yang dibimbing oleh Haris Syamsuddin, S.S., M.Pd.I

oleh

Qurotul Aini (17208153064)


Rizal Miftakhul Khoirudin (17208153062)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
November 2016
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas pertama kali diucapan selain ucapan syukur kepada
ALLAH SWT dengan ucapan Alhamdulillahirrabilaalamin yang mana kita telah
diberi nikmat yang luar biasa dan dengan petunjuknya sehingga kita dapat
menyelesaikan makalah tepat dengan waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa
kami ucapkan kepada baginda nabi Muhammad SAW. serta para keluarga,
sahabat, tabiin dan para pengikutnya dan dengan itu kita selalu menantikan
syafaatnya kelak di hari pembalasan.
Pada kesempatan yang sangat baik ini kami menyusun sebuah makalah
yang berjudul MANAJEMEN KONFLIK. Sebelumnya kami mengucapkan
terimakasih kepada.
1. Rektor IAIN Tulungagung bapak Maftukhin yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk belajar di kampus tercinta ini.
2. Dosen matakuliah Manajemen Pendidikan Bapak Haris Syamsuddin yang
telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyusun makalah ini.
3. Teman-teman yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. Dengan
amanat itu kami akan memberikan hasil yang terbaik untuk makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak untuk mengevaluasi makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semuanya.

Tulungagung, November 2016

Tim penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen konflik ..................................................... 3
B. Faktor-faktor penyebab timbulnya konflik ................................... 4
C. Unsur- unsur konflik .................................................................... 5
D. Kategori konflik ........................................................................... 6
E. Fungsi dan disfungsi konflik ......................................................... 7
F. Strategi penyelesaian konflik ........................................................ 8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ....................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konflik secara umum didefinisikan sebagai perselisihan internal atau
eksternal akibat adanya perbedaan gagasan, nilai, atau perasaan antara dua
orang atau lebih. Konflik juga dapat terjadi jika ada perbedaan ekonomi dan
nilai profesional serta jika ada kompetisi antar profesional. Sumber yang
tidak adekuat dan buruknya uraian peran yang diharapkan sering juga
menjadi sumber konflik di dalam organisasi.
Terjadinya konflik dalam setiap organisasi merupakan sesuatu hal yang
tidak dapat dihindarkan. Hal ini terjadi karena di satu sisi orang-orang yang
terlibat dalam organisasi mempunyai karakter, tujuan, visi, maupun gaya
yang berbedabeda. Di sisi lain adanya saling ketergantungan antara satu
dengan yang lain yang menjadi karakter setiap organisasi. Setiap kelompok
dalam satu organisasi, dimana didalamnya terjadi interaksi antara satu
dengan lainnya, memiliki kecenderungan timbulnya konflik. Dalam institusi
pendidikan terjadi kelompok interaksi, baik antara kelompok guru dengan
guru, guru dengan peserta didik, guru dengan wali murid, guru dengan kepala
sekolah, maupun dengan lainnya yang mana situasi tersebut seringkali dapat
memicu terjadinya konflik.
Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk
perasaan diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga
perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja. Perasaan-perasaan tersebut
sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya kemarahan. Keadaan tersebut akan
mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan kegiatannya secara langsung,
dan dapat menurunkan produktivitas kerja organisasi secara tidak langsung
dengan melakukan banyak kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.
Dalam suatu organisasi, kecenderungan terjadinya konflik, dapat disebabkan
oleh suatu perubahan secara tiba-tiba, antara lain: kemajuan teknologi baru,
persaingan ketat, perbedaan kebudayaan dan sistem nilai, serta berbagai
macam kepribadian individu.

1
2

Tetapi tidak semua konflik merugikan organisasi. Konflik yang ditata


dan dikendalikan dengan baik dapat menguntungkan organisasi sebagai suatu
kesatuan. Dalam menata konflik dalam organisasi diperlukan keterbukaan,
kesabaran serta kesadaran semua fihak yang terlibat maupun yang
berkepentingan dengan konflik yang terjadi dalam organisasi. Maka dari itu
kami menyusun makalah yang berjudul Manajemen Konflik
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian manajemen konflik ?
2. Apa saja faktor-faktor penyebab timbulnya konflik?
3. Apa saja unsur-unsur dalam konflik?
4. Apa saja kategori konflik?
5. Apa fungsi dan disfungsi konflik?
6. Bagaimana strategi penyelesaian konflik?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian manajemen konflik.
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab timbulnya konflik.
3. Mengetahui unsur-unsur konflik.
4. Mengetahui kategori konflik.
5. Mengetahui fungsi dan disfungsi konflik.
6. Mengetahui strategi penyelesaian konflik.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Manajemen Konflik


Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1997) manajemen adalah
proses penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai
suatu tujuan. Manajemen merupakan proses penting yang menggerakkan
organisasi karena tanpa manajemen yang efektif tidak akan ada usaha yang
berhasil cukup lama. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa manajemen sebuah tindakan yang berhubungan dengan
usaha tertentu dan penggunaan sumber daya secara efektif.
Konflik secara etimologis berasal dari bahasa Latin con yang artinya
bersama, dan fligere yang berarti benturan atau tabrakan. Secara sosiologis,
konflik diartikan sebagai suatu proses social antara dua orang atau lebih (bisa
juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain
dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Konflik adalah
suatu kondisi dimana pihak yang satu menghendaki agar pihak yang lain
berbuat sesuai dengan yang lain berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan
yang diinginkan, tetapi pihak lain menolak keinginan itu.
Jadi manajemen konflik merupakan tindakan memperbaiki kondisi
hubungan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok,
maupun individu dengan kelompok dengan usaha tertentu dan penggunaan
sumber daya secara efektif.1
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik. Persaingan erat
hubungannya dengan konflik karena dengan persaingan berbagai pihak
menginginkan hal yang sama. Tetapi hanya satu yang mungkin
mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan konflik, tetapi persaingan
dapat menjurus kepada konflik. Terutama jika persaingan menggunakan cara-
cara yang bertentangan dengan aturan yang disepakati. Permusuhan bukanlah

1
Winardi. Manajemen Konflik (Konflik Perubahan Dan Pengembangan). (Bandung.
Penerbit: CV. Mandarmaju. 1994.)

3
4

konflik karena orang yang terilibat konflik bisa saja tidak memiliki rasa
permusuhan. Sebaliknya orang saling bermusuhan bisa saja tidak berada
dalam keadaan konflik.
B. Faktor-Faktor Timbulnya Konflik
Setiap organisasi cenderung, menyimpan potensi konflik, oleh karena
itu walaupun terlihat bersepakat, tetap pada hakikatnya anggota-anggota
masyarakat berbagai dalam kelompok-kelompok yang berlawanan. Menurut
Ralf Dahrendorf. ada beberapa anggapan dasar berkenan denagn konflik,2
yaitu sebagi berikut:
1. Setiap masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang tiada
akhir.
2. Setiap masyarakat menimpan konflik-konflik didala dirinya, dengan kata
lain, konflik adalah gejala yang melekat pada suatu masyarakat.
3. Setiap unsure dalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi
terjadinya disentegrasi dan perubahan social.
4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi sejumlah
orang yang lain.
Untuk mengetahui penyebab timbulnya konflik, dapat diidentifikasi
dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, adapun faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya konflik, diataranya:
1. Adanya benturan kepentingan dari berbagi pihak.
2. Terjadinya perubahan social yang terlalu cepat.
3. Timbulnya rasa benci dan dendam terhadap saingan.
4. Adanya pemaksaan dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.
5. Timbulnya anarki yang sulit dikendalikan.
6. Meletuskan revolusi politik yang menjurus pada perbuatan kekerasan.

2
Hendrik William, Bagaimana Mengelola Lonflik, (Bumi aksara, Jakarta, 1996.)
5

Sedangkan Faktor-faktor yang memengaruhi konflik dapat


dikelompokkan kedalam dua kelompok besar, yaitu faktor intern dan faktor
ekstren.3
1. Faktor Intern
a. Oraganisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri
sehingga tidak mudah terlibat konflik dan mudah menyelesaikannya.
Analoginya adalah seseorang yang matang mempunyai pandangan
hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan nilai.
b. System nilai suatu oraganisasi, yaitu sekumpulan batasan yang meliti
landasan maksud dan cara berinteraksi suatu organisasi, apakah
sesuatu itu baik, beruk, salah atau, benar.
c. Tujuan suatu organisasi dapat menjadi dasr tingkah laku organisasi itu
serta para anggotanya.
d. System lain dalam organisasi, seprti system komunikasi, system
kepemimpina, system pengambilan keputusan, atau system imbalan.
2. faktor Ekstern
a. Keterbatasan sumber dayayaitu kelangkaan suatu hal yang dapat
menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi
konflik.
b. Kekaburan aturan norma dalam organisasi memperbesar peluang
perbedaan persepsi dan pola bertindak.
c. Derajat kebergantungan dengan pihak lain, Artinya semakin
bergantung suatu pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik
terjadi.
d. Pola interaksi denagn pihak lain yang terdiri pola bebas dan pola
tertutup.

3
Alex S, Manajemen Personalia. (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1996.)
6

C. Unsur Konflik
Unsur-unsur konflik merupakan suatu bentuk sikap atau perilaku yang
bisa menyebabkan terjadinya konflik antar 2 orang atau lebih. Unsur-unsur
konflik diantaranya

1. Adanya pihak-pihak (dua orang atau lebih).


2. Tujuan yang berbeda, yakni pihak yang satu menghendaki agar pihak yang
lain berbuat atau bersikap sesuai dengan yang dikehendaki.

Pihak yang lain menolak keinginan tersebut atau keinginan itu tidak
dipersatukan
D. Kategori Konflik
Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis yakni, konflik intrapersonal,
interpersonal dan antar kelompok.4

1. Intrapersonal.

Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Keadaan ini merupakan


masalah internal untuk mengklarifikasi nilai dan keinginan dari konflik
yang terjadi hal ini sering dimanifestasikan sebagai akibat dari kompetisi
peran.

2. Interpersonal.
Konflik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih di mana
nilai, tujuan dan keyakinan berbeda. Konflik ini sering terjadi karena
seseorang secara konstan berinteraksi dengan orang lain, sehingga
ditemukan perbedaan-perbedaan. Manajer sering mengalami konflik
dengan teman sesame manajer, atasan dan bawahannya.
3. Antarkelompok (intergroup).

4
Wiley & Sons, Inc. Garry Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia. Jilid 2, (Jakarta :
PT. Prehelinso, 1989.)
7

Konflik terjadi antara dua atau lebih dari kelompok orang,


depertemen atau organisasi. Sumber konflik jenis ini adalah hambatan
dalam mencapai kekuasaan dan otoritas (kualitas jasa layanan), serta
keterbatasan prasarana.

konflik yang terjadi pada suatu organisasi merefleksikan konflik


intrapersonal, interpersonal, dan antarkelompok. Tetapi didalam organisasi,
konflik dipandang secara vertical dan horizontal (Marquis dan Huston, 1998).
Konflik vertical terjadi antara staf dengan posisi dan kedudukan yang sama,
misalnya, konflik horizontal ini meliputi wewenang, keahlian dan praktik.

E. Fungsi Dan Disfungsi Konflik


Konflik sebenarnya bisa di sengaja untuk tujuan tertentu. Untuk itu
adanya konflik tidak selamanya membawa dampak negative (disfungsi),
tetapi konflik juga mempunyai dampak positif (fungsi). Oleh karena itu
konflik memiliki dua sisi, yaitu:

1. Fungsi konflik:
a. Dapat mempromosikan identitas
Adanya konflik, akan dikenal dengan berbagai kelompok sehingga bila
konflik berakhir baik, maka akan memiliki tambahan kolega yang
saling memperkuat posisi dan keberagaman yang ada.
b. Dapat membentuk, menegaskan dan menyesuaikan dengan beberapa
nilai yang telah ada. Karena adanya konflik amka yang tadinya
menutup diri dengan pihak luar, secara tidka langsung akan bisa
meniru nilai-nilai yang baik.
c. Sering dapat membantu perkembngan atas kesadaran berdasarkan
kesmaan.
Perkembangan sesuatu akan berjalan baik bila ada kesadaran atau
koreksi diri bahwa pencapaian saat ini masih ada kekurangan, sehingga
8

bisa bekerjasama bersama dengan yang lain untuk menjadi maju


berkembang.
d. Sering utuk menyatukan persamaan pikiran
Adanya kesamaan pola piker akan menjadikan posisi tawar kelompok
menjadi tinggi apalagi terbukti bahwa kelompok kita lebih baik dari
yang lain.
2. Disfungsi dari konflik, yaitu:
a. Sering mengancam keinginan atau kepentingan pribadi
b. Mengancam sistem social yang dibutuhkan untuk menjamin
keseimbangan dalam upaya penyelesaian.
c. Sering menjadi penghambat perubahan.
d. Dapat menyebabkan hilangnya dukungan, bila ada yang merasa
terancam.
e. Memicu aksi atau reaksi ketimbang tanggapan yang dipikirkan secara
hati-hati.
f. Menodai kepercayaan bila konflik berlangsung lama.
g. Dapat mengakibatkan perpecahan di antar sesama.

F. Strategi Penyelesaian Konflik


1. Penyelesaian konflik secara damai
Penyelesaian konflik secara damai biasanya ada dilevel unit orgnisasi
atau berada dalam naungan satu bendera, sehingga seharusnya semua
masalah konflik yang sifatnya individu maupun kelompok akan selesai
secara damai.
2. Penyelesaian Konflik Secara Luas
a. Mediasi
Mediasi berasal dari Inggris mediation yang berarti
penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga sebagai
penengah atau penyelesaian sengeta secara me-nengahi, yang
menengahinya dinamakan mediator atau orang yang menjadi
penengah.
9

Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan masalah dimana pihak


luar yang tidak memihak (impartial) dan netral bekerja dengan
pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh
kesepakatan perjanjian dengan memuaskan.
b. Konsiliasi
Konsiliasi atau Conciliation adalah penyelesaian perselisihan
yang dilakukan melalui seorang atau beberapa orang atau badan
sebagai penengah yang disebut konsiliator dengan mempertemukan
atau member fasilitas kepada pihak-pihak yang berselisih untuk
menyelesaikan perselisihannya secara damai.
c. Abitrase
Abitrase berarti kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu
menurut kebijaksanaan atau damai oleh arbiter atau wasit. Arbiter
adalah suatuproses yang mudah atau simple yang dipilih oleh para
pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya diputus oleh juru
pisah yang netral sesuai dengan pilihan mereka dimana keputusan
mereka berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut.
d. Mutual Gains Approach to Negotiations
Mutual Gains Approach to Negotiations (MGA) adalah
pendekatan kerjasama untuk melakukan perjanjian (to negoating
contracts). Daripada pendekatan merugikan (win-lose) proses
mutual gains melibatkan pembentukan consensus, pendekatan win-
win solution. Oleh karena itu untuk mutual gains negotiations akan
lebih berhasil. Pihak-pihak membutuhkan sling pengertian tentang
luas dan kompleksitas masalah, menyetujui suatu solusi yang
bermanfaat bersma dan pihak-pihak saling mempercayai.
Adapun prinsip-prinsip (Fisher dan Hutchinson, 2) Mutual Gains
Negotiations ada lima, antara lain:
1. Identify interests
Yaitu setiap pihak yang bernegosiasi seharusnya
mengidentifikasi kepentingannya sendiri dan mencoba mengerti
10

kepentinga orang lin. Kepentingan diartikan sebagai kebutuhan,


perhatian, motif, tujuan atau sasaran dari pihak yang terlibat.
2. Consider all option
Consider all option yaitu menjadi kreatif dan
mempertimbangkan semua opsi untuk menemukan solusi yang
menguntungkan dan dapat diterima semua pihak.
3. Develop standards or criteria
Yaitu menggunakan standard an membuat criteria yang bisa
membantu pembentkan consensus lewat diskusi yang berfokus
pada fakta daripada sekedar opini. Satu contoh adalah bahwa staf
memprakirakan jam bimbingan saat ini dibawah arahan Supervisor.
4. Understand your alternatives
Yaitu setiap pihak bernegosiasi seharusnya menentukan
alternative terbaik untuk membuat persetujuan negosiasi/ best
alternative to a negotiated agreement (BATNA). Apakah akan
ambil posisi mundur bila negosiasi gagal?
5. Build relationship
Yaitu mengganti masalah pribadi denga aspek yang berfokus
pada masalah saat ini. Salah satu tujuan mutual gains negotiations
adalah membangun dan memperkuat hubungan antara pihak yang
terlibat dan konsultan (PennDOT and Consultants). Semua pihak
berusaha terbuka dan melakukan komunikasi jujur selama
negosiasi. Bila komunikasi terus terang dan berdasarkan fakta
bukan opini maka hubugan akan tumbuh dan tidak akan gagal.
11

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. manajemen konflik merupakan tindakan memperbaiki kondisi hubungan
antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, maupun
individu dengan kelompok dengan usaha tertentu dan penggunaan sumber
daya secara efektif
2. adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik, diataranya:
Adanya benturan kepentingan dari berbagi pihak, Terjadinya perubahan
social yang terlalu cepat, Timbulnya rasa benci dan dendam terhadap
saingan, Adanya pemaksaan dari pihak yang kuat terhadap pihak yang
lemah, Timbulnya anarki yang sulit dikendalikan, Meletuskan revolusi
politik yang menjurus pada perbuatan kekerasan.
3. Unsur-unsur konflik diantaranya, Adanya pihak-pihak (dua orang atau
lebih),Tujuan yang berbeda, yakni pihak yang satu menghendaki agar
pihak yang lain berbuat atau bersikap sesuai dengan yang dikehendaki.
4. Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis yakni, konflik intrapersonal
(Konflik yang terjadi pada individu sendiri), interpersonal (terjadi antara
dua orang atau lebih di mana nilai, tujuan dan keyakinan berbeda) dan
antar kelompok.
5. Fungsi konflik: dapat mempromosikan identitas, dapat membentuk,
menegaskan dan menyesuaikan dengan beberapa nilai yang telah ada.
sering dapat membantu perkembngan atas kesadaran berdasarkan
kesamaan. sering utuk menyatukan persamaan pikiran
Disfungsi dari konflik, yaitu: sering mengancam keinginan atau
kepentingan pribadi, mengancam sistem social yang dibutuhkan untuk
menjamin keseimbangan dalam upaya penyelesaian, sering menjadi
penghambat perubahan, dapat menyebabkan hilangnya dukungan, bila ada
yang merasa terancam, memicu aksi atau reaksi ketimbang tanggapan
yang dipikirkan secara hati-hati, menodai kepercayaan bila konflik
berlangsung lama, dapat mengakibatkan perpecahan di antar sesama.
12

6. Penyelesaian konflik secara damai, semua masalah konflik yang sifatnya


individu maupun kelompok akan selesai secara damai.
Penyelesaian Konflik Secara Luas diantaranya Mediasi (dengan bantuan
mediator sebagai penengah), Konsiliasi(penyelesaian perselisihan yang
dilakukan melalui seorang atau beberapa orang atau badan sebagai
penengah yang disebut konsiliator), Abitrase(menyelesaikan sesuatu
menurut kebijaksanaan atau damai oleh arbiter atau wasit), Mutual Gains
Approach to Negotiations (pendekatan kerjasama untuk melakukan
perjanjian),
DAFTAR PUSTAKA

Alex S,. 1996. Manajemen Personalia. Jakarta : Ghalia Indonesia

Haryanti, Nik. 2014. Ilmu Pendidikan Islam. Malang: Gunung Samudra.

Wiley & Sons, Inc. Garry Dessler. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jilid

2, Jakarta : PT. Prehelinso

Winardi. 1994. Manajemen Konflik (Konflik Perubahan Dan Pengembangan).

Bandung. Penerbit: CV. Mandarmaju.

13