Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Sejak lampau telah banyak dilakukan percobaan-percobaan untuk mengukur besar


kecepatan cahaya seperti Einstein, Galileo, Romer, Fizeau, dan Foucault. Banyak dari
kalangan masyarakat terutama di kalangan pendidikan bertanya-tanya bahwa
bagaimana orang-orang tersebut dapat mengukur besar kecepatan cahaya, tidak hanya
banyak juga pertanyaan jika mereka dapat mengukur kecepatan cahaya , bagaimana
mereka melakukan percobaannya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kami kelompok satu tertarik untuk


menunjukan bagaimana cara yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu untuk
mengukur kecepatan dari cahaya serta bagaimana cara mengukur kecepatan cahaya
tersebut, sehingga kami melakukan percobaan Kecepatan Cahaya menggunakan
peralatan PASCO SCIENTIFIC.

1.2.Tujuan
1. Mampu mempraktekkan cara mengukur kecepatan cahaya dengan
menggunakan pasco.
2. Menghitung besarnya kecepatan cahaya ( c ).

1
1.3.Alat Dan Bahan
1. Laser He-Ne
2. Lensa 48 mm
3. Lensa 127 mm FL
4. Mikroskop pengukur
5. Bangku optik 1 m
6. Bangku laser
7. Pengatur dudukan laser
8. Cermin tetap
9. Cermin putar dengan kecepatan tinggi
10. Komponen jig 2 buah
11. Adaptor laser
12. Pegangan lensa 2 buah
13. Mistar 100 cm
14. High speed rotasi

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Pustaka

Kelajuan cahaya (kelajuan cahaya dalam ruang vakum; kecepatan cahaya) adalah
sebuah konstanta fisika yang disimbolkan dengan huruf c, singkatan dari celeritas
(yang dirujuk dari dari bahasa Latin) yang berarti "kecepatan". Konstanta ini sangat
penting dalam fisika dan bernilai 299.792.458 meter per detik. Nilai ini merupakan nilai
eksak disebabkan oleh panjang meter didefinisikan berdasarkan konstanta kelajuan
cahaya. Kelajuan ini merupakan kelajuan maksimum yang dapat dilajui oleh segala
bentuk energi, materi, dan informasi dalam alam semesta. Kelajuan ini merupakan
kelajuan segala partikel tak bermassa dan medan fisika, termasuk radiasi
elektromagnetik dalam vakum. Kelajuan ini pula menurut teori modern adalah kelajuan
gravitasi (kelajuan dari gelombang gravitasi). Partikel-partikel maupun gelombang-
gelombang ini bergerak pada kelajuan c tanpa tergantung pada sumber gerak maupun
kerangka acuan inersial pengamat. Dalam teori relativitas, c saling berkaitan dengan
ruang dan waktu. Konstanta ini muncul pula pada persamaan fisika kesetaraan massa-
energi E = mc2.

Kelajuan cahaya yang merambat melalui bahan-bahan transparan seperti gelas


ataupun udara lebih lambat dari c. Rasio antara c dengan kecepatan v(kecepatan rambat
cahaya dalam suatu materi) disebut sebagai indeks refraksi n material tersebut
(n = c / v). Sebagai contohnya, indeks refraksi gelas umumnya berkisar sekitar 1,5,
berarti bahwa cahaya dalam gelas bergerak pada kelajuan c / 1,5 200.000 km/s; indeks
refraksi udara untuk cahaya tampak adalah sekitar 1,0003, sehingga kelajuan cahaya
dalam udara adalah sekitar 90 km/s lebih lambat daripada c.

Meski bergerak dengan kecepatan tinggi, bukan berarti cahaya tidak dapat
dihentikan. Ilmuwan telah berhasil menghentikan laju cahaya selama satu menit
menggunakan prinsip fisika kuantum. Sebelumnya pada tahun 1999 mereka mampu

3
memperlambat gerak cahaya higga 17 meter per detik. Hal ini mampu memberikan
kemajuan dalam mengembangkan komunikasi kuantum.

Dalam banyak hal, cahaya dapat dianggap bergerak secara langsung dan instan,
namun untuk jarak yang sangat jauh, batas kelajuan cahaya akan memberikan dampak
pada pengamatan yang terpantau. Dalam berkomunikasi dengan wahana antariksa,
diperlukan waktu berkisar dari beberapa menit sampai beberapa jam agar pesan yang
dikirim oleh wahana tersebut diterima oleh Bumi. Cahaya bintang yang kita lihat di
angkasa berasal dari cahaya bintang yang dipancarkan bertahun-tahun lalu. Hal ini
mengijinkan kita untuk mengkaji dan mempelajari sejarah alam semesta dengan
melihat benda-benda yang sangat jauh. Kelajuan cahaya yang terbatas juga membatasi
kecepatan maksimum komputer, oleh karena informasi harus dikirim dari satu chip ke
chip lainnya dalam komputer.

Observasi Romer dengan mengamati gerakan planet Jupiter dan menghitung


pergeseran periode orbit dari salah satu bulan satelitnya yang bernama Io, dan
kemudian Rmer dapat memperkirakan jarak tempuh cahaya dari garis tengah orbit
bumi.

Metode Foucault
Angka yang paling akurat ditemukan di Cambridge pada pengukuran melalui
kondensat Bose-Einstein dengan elemen Rubidium. Tim pertama dipimpin oleh
Dr. Lene Vestergaard Hau dari Harvard University and the Rowland Institute for

4
Science. Tim yang kedua dipimpin oleh Dr. Ronald L. Walsworth, dan, Dr.
Mikhail D. Lukin dari the Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.
Notasi laju cahaya (c) mempunyai makna "konstan" atau tetap,yang digunakan
sebagai notasi laju cahaya dalam ruang hampa udara, namun terdapat juga
penggunaan notasi c untuk laju cahaya dalam medium material sedangkan c0 untuk
kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara. Notasi subskrip ini dimaklumkan
karena dalam literatur SI sebagai bentuk standar notasi pada suatu konstanta, ada
juga berbentuk seperti: konstanta magnetik 0, konstanta elektrik e0, impedansi
ruang kamar Z0.
Menurut Albert Einstein dalam teori relativitas, c adalah konstanta penting
yang menghubungkan ruang dan waktu dalam satu kesatuan struktur dimensi ruang
waktu. Di dalamnya, c mendefinisikan konversi antara materi dan energi E=mc2,
dan batas tercepat waktu tempuh materi dan energi tersebut. c juga merupakan
kecepatan tempuh semua radiasi elektromagnetik dalam ruang kamar[21] dan
diduga juga merupakan kecepatan gelombang gravitasi. Dalam teori ini, sering
digunakan satuan natural units di mana c=1, sehingga notasi c tidak lagi digunakan.

Diagram Metode Foucault

5
Gambar Analisis Gambar Virtual
Geometri kritis gambar virtual adalah sama seperti untuk gambar yang
terpantul. Melihat gambar virtual, masalahnya menjadi sebuah aplikasi sederhana
optik lensa tipis. Dengan MR di sudut 1, titik S1 adalah pada sumbu fokus lensa L2.
Titik S adalah di bidang fokus lensa L2, tetapi itu adalah jarak S = S1 - S jauh dari
sumbu fokus. Dari teori lensa tipis, kita tahu bahwa sebuah benda dari ketinggian S
di bidang fokus dari L2 akan difokuskan pada bidang titik S dengan ketinggian (i / o)
S. Di sini i dan o adalah jarak dari lensa dari gambar dan objek, masing-masing, dan
tanda minus sesuai dengan inversi gambar. Seperti ditunjukkan dalam gambar 3,
refleksi dari splitter balok membentuk gambar yang sama dari ketinggian yang sama.
Oleh karena itu, mengabaikan tanda minus karena kita tidak khawatir bahwa gambar
terbalik, kita dapat menuliskan ungkapan perpindahan (s') dari titik gambar:

(Persamaan 2)

menggabungkan persamaan 1 dan 2, dan mencatat bahwa S = S1-S, perpindahan dari


titik gambar berhubungan dengan posisi awal dan sekunder MR dengan rumus:

(Persamaan 3)

6
sudut tergantung pada kecepatan rotasi dari MR dan di waktu yang dibutuhkan
pulsa cahaya untuk perjalanan bolak-balik antara cermin MR dan MF, jarak
2D. Persamaan untuk hubungan ini adalah:

(Persamaan 4)
Di mana c adalah kecepatan cahaya dan adalah kecepatan rotasi cermin dalam radian
per detik. (2D / c adalah waktu yang dibutuhkan pulsa cahaya untuk perjalanan dari
MR ke MF dan kembali.)
Menggunakan persamaan 4 untuk menggantikan dalam persamaan 3 akan
memberikan:

(Persamaan 5)
Persamaan 5 dapat disusun kembali untuk memberikan persamaan akhir untuk
kecepatan cahaya :

(Persamaan 6)

Dimana:
c = kecepatan cahaya
= kecepatan rotasi cermin berputar (MR)
A = jarak antara lensa L2 dan lensa L1, minus panjang fokus Ll
B = jarak antara lensa L2 dan cermin berputar (MR)
D = jarak antara cermin berputar (MR) dan cermin tetap (MF)
s = perpindahan dari titik gambar, seperti yang dilihat melalui mikroskop.
(sebagai s =s1 - s; di mana s adalah posisi titik gambar ketika cermin berputar
(MR) adalah stasioner, dan s1 adalah posisi titik gambar ketika cermin berputar
berputar dengan kecepatan sudut .)

7
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian eksperimen murni, yaitu
penelitian yang semua variable variable dalam penelitian daapat dikontrol sepenuhnya.

3.2.Waktu Dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada Jumat, 10 Desember 2015 bertempat di


Laboratorium Fisika Modern, yang berlokasi di Laboratorium Fisika, Program Studi
Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako,
Palu.

3.3.Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Merangkai alat dan bahan seperti pada gambar di bawah ini

3. Menempatkan bangku optic pada bidang yang mendatar


4. Menempatkan laser pada dudukan laser

8
5. Menggunakan sekrup yang disediakan untuk menghubungkan bangku optic
dan dudukan laser (sekrup jangan di pasang terlalu kencang agar memudahkan
mengatur laser)
6. Meletakan kaca putar pada bagian ujung bangku optic atau ujung kaca putar
berada pada jarak 17 cm
7. Memastikan laser berada dalam segaris dengan kaca putar dengan cara
memasang satu jig di depan laser dan satu jig lainnya di depan kaca putar.
8. Menyalakan laser.
9. Melepaskan ji kedua agar kita bisa melihat pantulan cermin putar itu kembali
pada sumber sinar, jika pantulannya tidak kelihatan kita bisa menggunakan
kertas untuk melihat pantulannya.
10. Memutar cermin putar sedemikian agar pantulan kembali ke jig pertama, lalu
mengatur agar sinar dapat melewati lubang jig pertama.
11. Setelah melepas jig kedua pada depan kaca putar maka pantulannya akan
dikembalikan ke jig pertama.
12. Melepaskan keselarasan jig pertama yang berada di depan laser
13. Memasang lensa 48 mm sebagi L1 pada pegangan optic setelah itu
meletakkannya pada dudukan optic sehingga sejajar dengan tanda 93,0 cm
pada skala dudukan optic tanpa menggesarkan pegangan optic L1
14. Memasang lensa 127 mm FL sebagai L2 pada pegangan optic setelah itu
meletakkannya pada dudukan optic sehinga sejajar dengan tanda 62,2 cm pada
skala dudukan optic.
15. Meletakkan mikroskop pengukur pada dudkan optic sehingga sejajar dengan
tanda 82,0 cm pada skala duduk optic.
16. Menempatkan cermin tetap 2 sampai 15 m dari MR. Sudut Antara dudukan
optic dan garis dari MR untuk MF harus sekitar 12 derajat.
17. Menghidupakan High Speed Rotation Mirror dan menghubungkan ke dynamo
untuk menggerakan MR dengan posisi CW 600 REV /SEC.

18. Menggeser L2 secara bolak-balik untuk memfokuskan sinar ke cermin putar.

9
19. Mengatur keselarasan cermin tetap dengan memutar sekrup pada cermin tetap
sehingga sinar dapat di pantulkan kembali ke cermin putar.

20. Mengatur tabung mikroskop dengan memutar mikrometer pada tabung, agar
terlihat titik hitam pada tabung dapat diamati.

21. Membaca penunjukan micrometer pada tabung sebagai SCW.

22. Mengubah posisi CW menjadi CCW sebesar 1000 rev/sec

23. Mengatur kembali mikrometer sekrup sampai titik hitam pada mikroskop
kembali terlihat.

24. Membaca penunjukan micrometer pada tabung sebagai SCCW.

25. Mematikan high speed cermin putar.

26. Mengukur jarak antara L1 dan L2 sebagai A, kemudian mengukur jarak L2


dengan cermin putar sebagai B, mengukur jarak antara cermin putar dan cermin
tetap sebagai D.

27. Mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.

10
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil Pengamatan

A B D CW CCW S CW S CCW
(m) (m) (m) (rev/ (rev/ (m) (m)
sec) sec)
31x10-2 44,5x 10-2 139x10-2 600 1.000 10,30x10-3 10,26x10-3

Keterangan:

Nst mistar = 0,1 cm = 1,0 x 10-3 m

Nst micrometer = 0,01 mm = 1,0 x 10-5 m

A = jarak antara L1 (lensa 1) dengan L2 (lensa 2)

B = jarak antara L2 (lensa 2) dengan MR (cermin putar)

D = jarak antara MR (cermin putar) dengan MF (cermin tetap)

4.2.Analisa Data
1. Perhitungan umum

, = ( ) = (10,30 103 10,26 103 )


= 4,0 105 /

8 ()2 ( + )
=
( + ) ,

11
8 3,14 31 102 (139 102 )2 (600 + 1000)
=
(44,5 102 + 139 102 ) 4,0 105
24073,03859
=
7,34 105
= 3,28 108 /

2. PerhitunganRalat


c = + + + +


1
A= B = D = 2 NST mistar = 5 104 m
1
Scw = Sccw = 2 NST Mikrometer = 5 106

8 2 (+) 8 2 ( + )
c = (+ )( ) A + ( + )2 ( ) B +

16 ( +)8 2 (+ ) 8 2 ( + )
D+( + )( )2Scw
( +)2 ( )

8 ( )2 ( + )
+( + )( )2Sccw )

8 3,14 (139 102 )2 (600 + 1000)


= | | |5 104 |
(139 102 + 44,5 102 )(10,30 103 10,26 103 )
8 3,14 31 102 (139 102 )2 (600 + 1000)
+| | |5 104 |
(139 102 + 44,5 102 )2 (10,30 103 10,26 103 )
[16 3,14 31 102 139 102 (44,5 102 + 139 102 )]
+| | |5 104 |
(139 102 + 44,5 102 )2 (10,30 103 10,26 103 )
8 3,14 31 102 (139 102 )2 (600 + 1000)
| | |5 104 |
(139 102 + 44,5 102 )2 (10,30 103 10,26 103 )

8 3,14 31 102 (139 102 )2 (600 + 1000)


+ || || |5 106 |
(139 102 + 44,5 102 )(10,30 103 10,26 103 )2

8 3,14 (31 102 139 102 )2 (600 + 1000)


+| | |5 106 |
(139 102 + 44,5 102 )(10,30 103 10,26 103 )2

12
= |528984,7629 + 89365,27 + 147,46888 + 89365,27 26237644,2
+ 8133669,72|
= 3,49 107 2

3,49107
KTP r = 100% = 100% = 10,64 %
3,28108

AB = 1 ( ) = 1 log(0,106402) = 1,97 2

Pelaporan = ( ) 2 = (3,30 0,35)108

13
4.3.Pembahasan
Kecepatan cahaya dalam ruang hampa merupakan salah satu konstanta dasar alam.
Kecepatan cahaya demikian besarnya kira-kira 3 x 108 sehingga baru dalam tahun
1676 dapat diukur dengan eksperimen. Sebelumnya orang mengaagap bahwa cahaya
merambat dengan kecepatan yang tak terhingga. Kecepatan cahaya dalam ruang
hampa merupakan salah satu hal yang terpenting di alam. Cahaya berjalan (merambat)
dengan begitu cepat sehingga tidak ada sesuatu didalam pengalaman kita sehari-hari
yang menganjurkan bahwa lajunya tidak berhingga.
Percobaan ini menggunakan Metode Foucault. Pada tahun 1862, metode foucault
diperkenalkan oleh fisikawan Foucuolt dalam mengukur kecepatan cahaya didalam.
Beliau memperbaiki metode Fizeu dengan menggunakan cermin berputar bukan roda
bergigi yang berputar kemudian menempatkan cermin putar pada roda bergerigi akan
tetapi prinsip yang diterapkan hampir sama. Hasil pengukuran terbaiknya adalah
2.99774 x 108 m/s.
Dalam percobaan ini kami menggunakan beberapa alat antara lain yaitu Cermin
tetap, dipasang untuk berdiri dan mempunyai sekrup penyelarasan x dan y yang
terpisah. Mikroskop Pengukur sebagai alat untuk mengamati titik fokus cahaya pada
saat pengukuran. OS-9103 Bangku Optik sebagai alat untuk meletakan alat-alat optik,
Jigs Penyelaras (2) yang digunakan untuk menyelaraskan sinar laser. He-Ne Laser 0,5
mW digunakan untuk melakukan laser yang biasa, optik dan serat optik, SE-9367
Laser dengan Bangku Penyelarasan OS-9172 memiliki Modus TEM00, 0,5 mW, laser
acak polarisasi memiliki panjang gelombang output 632.8 nm. Bangku Penyelarasan
menempel ke bangku optik posisi laser yang stabil dan tetap.
Pada percobaan yang kami lakukan, kami mengamati kecepatan cahaya dengan
menggunakan laser yang di teruskan melalui 2 buah jig, kemudian mengenai cermin
putar. Lensa yang digunakan yaitu 48 mm dan 127 mm FL. kemudian pada bangku
opik diletakkan mikroskop pengukur dan 2 buah lensa tersebut. Mikroskop pengukur
tersebut diletakkan di antara lensa. Setelah itu kita dapat melihat cahaya laser yang
terbentuk pada mikroskop pengukur tersebut dengan cara mengatur micrometer yang
terdapat pada mikroskop pengukur, sehingga kami dapat melihat pola bintik bayangan
pada mikroskop pengukur seperti pada gambar :

14
Pada hasil pengamatan nilai yang di peroleh utuk kecepatan cahaya pada
percobaan yaitu sebesar 3,28 108 /. sedangakan nilai kecepatan cahaya pada
literatur yaitu 2, 998 x 108 m/s atau sama dengan 3 x 108 m/s. Sedangkan persentase
kesalahan yaitu 10,64 %. Dari nilai tersebut dapat dilihat bahwa percoban yang
dilakuakan sudah hampir memenuhi nilai yang sebenarnya walaupun dengan sedikit
kesalah sebesar 10,64%. Hal ini di sebabkan karena pengamatan yang dilakukan
kurang tepat terutama dalam penggunaan misatr pada dudukan optik. Pada percobaan
ini juga tidak digunakan polarisator, yang seharusnya pada percobaan ini
menggunakan polarisator dan tidak adanya lensa 252 mm. Kesalahan yang terjadi
selanjutnya yaitu pengukuran jarak antara cermin tetap dan cermin putar yang kurang
tepat, sehingga dapat mempengaruhi nilai kecepatan cahaya. Selain itu peletakan
benda yang dilakukan sert tidak digunakan busur derajat dalam percobaan ini sangat
mempengaruhi hasil percobaan.

15
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Kecepatan cahaya dalam ruang hampa merupakan salah satu konstanta dasar
alam. Kecepatan cahaya demikian besarnya kira-kira 3 x 108 m/s sehingga baru
dalam tahun 1676 dapat diukur dengan eksperimen.
2. Metode yang digunakan untuk mengukur kecepatan cahaya yaitu Metode
Foucault. Pada tahun 1862, metode foucault diperkenalkan oleh fisikawan
foucuolt dalam mengukur kecepatan cahaya didalam. Beliau memperbaiki
metode Fizeu dengan menggunakan cermin berputar bukan roda bergigi yang
berputar kemudian menempatkan cermin putar pada roda bergerigi akan tetapi
prinsip yang diterapkan hampir sama. Hasil pengukuran terbaiknya adalah
2.99774 x 108 m/s.
3. Untuk menghitung besarnya kecepatan cahaya (c) dapat digunakan persamaan
berikut.
8AD 2 (Re v / sec cw Re v / sec ccw )
c
( D B)( s' cw s' ccw )

4. Pada percobaan ini diperoleh kecepatan cahaya (c) yaitu 3,28 x 10 8 m/s

sedangkan ketetapan untuk kecepatan cahaya yaitu 3 x 108 m/s.

5.2. Saran

Diharapkan untuk selanjutnya yang akan melakukan percobaan ataupun meneliti


tentang percobaan ini agar dapat memperhatikan alat-alat yang akan digunakan dalam
hal ini kelengkapan alat dan kondisi alat serta cara pengamatan dan pengambilan data
adalah hal yang utama karena sangat menentukan hasil yang akan di peroleh.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Laju Cahaya. Dari http://wikipedia.co.id/laju-cahaya/.


Dikases Pada 09 Desember 2015.

Anonim. Percobaan 1 Kecepatan Cahaya. Laboratorium Fisika 1, ITB : Bandung.

Anonim. 2015. Laporan Praktikum Kecepatan Cahaya Di Udara. Dari


https://www.scribd.com/doc/283868150/laporan-praktikum-kecepatan-
cahaya-di-udara. Diakses pada 16 Desember 2015.

Beiser, Arthur. 1983. Konsep Fisika Modern, Terjemahan The Houw Liong, Edisi 4.
The McGraw-Hill : America, New York.

Nugraha, Romi. 2013. Eksperimen Kecepatan Cahaya. Dari


http://nugraharomi.blogspot.co.id/2013/10/eksperiemen-kecepatan-
cahaya.html. Diakses Pada 16 Desember 2015

Pasco. 2011. Speed Of Light Aparatur. Foothils Blvd : Roseville,CA.

Shafar, Moh. 2014. Laporan Kecepatan Cahaya. Program Studi Pendidikan Fisika,
Universitas Tadulako : Palu

Tim Penyusun. 2015. Penuntun Praktikum Fisika Modern. Laboratorium Fisika,


FKIP, Universitas Tadulako: Palu

17