Anda di halaman 1dari 9

2.

1 PENGERTIAN

Ekosistem merupakan hubungan saling mempengaruhi antara makhluk hidup


dengan lingkungannya. Sedangkan Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
ekosistem

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang
artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai
ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara
makhluk hidup dan lingkungannya.

Kata ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Haeckel seorang ahli
biologinJerman pada tahun 1866. Beberapa para pakar biologi pada abad ke 18 dan 19
juga telah mempelajari bidang-bidang yang kemudian termasuk dalam ruang lingkup
ekologi. Misalnya Anthony Van Leuwenhoek, yang terkenal sebagai pioner penggunaan
mikroskop, juga pioner dalam studi mengenai rantai makanan dan regulasi populasi.
Bahkan jauh sebelumnya, Hippocrates, Aristoles, dan para filosuf yunani yang menulis
beberapa materi yang sekarang termasuk dalam bidang ekologi.

Ekologi Kesehatan adalah Ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia


dengan lingkungan biologis, lingkungan fisik, lingkungan sosial didalam suatu daerah
dan waktu tertentu yang mempunyai pengaruh dalam status kesehatan.

Struktur ekosistem menurut Odun (1983),terdiri dari beberapa indikator yang


menunjukan keadaan dari sytem ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Beberapa
penyusun struktur ekosistem antara lain adalah densetas (kerapatan), biomas, materi,
energi, dan faktor faktor fisik kimia lain yang mencirikan keadaan sytem tersebut.
Fungsi ekosistem menggambarkan hubungan sebab akibat yang terjadi dalam sytem.

Berdasarkan struktur dan fungsi ekosistem,maka seseorang yang belajar ekologi


harus didukung oleh pengetahuan yang komprehensip berbagai ilmu pengetahuan yang
relevan dengan kehidupan seperti: taksonomi, morfologi,matematika,kimia,fisika,agama
dan lain-lain. Belajar ekologi tidak hanya mempelajari ekosistem tetapi juga otomatis
mempelajari organisme ada tingkatan organisasi yang lebih kecil seperti individu,
populasi dan komunitas.
Menurut Zoeraini (2003), seseorang yang belajar ekologi sebernanya
menanyakan berbagai hal antara lain:

1. Bagaimana alam bekerja


2. Bagaimana species beradaptasi dalam habitatnya
3. Apa yang diperlukan organisme dari habitatnya untuk melangsungkan
kehidupan
4. Bagaimana organisme mencukupi kebutuhan materi dan energi
5. Bagaimana interaksi antar species dalam lingkungan
6. Bagaimana individu-individu dalam species diatur dan berfungsi sebagai
populasi
7. Bagaimana keindahan ekosistem tercipta

Dari pepaduan harafiah dan berbagai kajian, maka ekologi dapat dikatakan
sebagai ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal-balik antar makhluk
hidup dan juga antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Manusia sebagai mahluk
hidup juga menjadi pembahasan dalam kajian ekologi. Ekologi menjadi jembatan antara
ilmu alam dengan ilmu sosial.

A. Pembagian Ekologi
Ekologi dapat dibagi menjadi autekolgi dan sinekologi
1. Autekologi membahas sejarah hidup dan pola adaptasi individu-individu
organisme terhadap lingkungan.
2. Sinekologi membahas golongan atau kumpulan organisme yang berasosiasi
bersama sebagai satu kesaatuan.

Bila studi dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis serangga dengan


lingkungannya, kajian ini bersifat autekologi. Apabila studi dilakukan untuk mengetahui
karakteristik lingkungan dimana serangga itu hidup maka pendekatannya bersifat
sinekologi.

B. Aplikasi Ekologi

Aplikasi ilmu ekologi dengan prinsip-prinsip dasarnya apabila dipergunakan


secara benar dan bertanggungjawab sebenarnya dapat memperbaiki segala kerusakan
yang telah terjadi mencegah terulangnya peristiwa-pertiwa yang sangat tidak
diinginkan. Ekologi menganut prinsip keseimbangan dan keharmonisan semua
komponen alam. Terjadinya bencana alam seperti tsunami di Aceh, Sumatra Utara,
pengandaran dan terakhir terjadinya banjir pasang di sebagian Jakarta, fenomena angin
puting beliung dibeberapa tempat di Indonesia dan lain-lain adalah merupakan salah
satu contoh keseimbangan dan harmonisasi alam terganggu. Ketika timpangan sudah
mencapai pada puncaknya maka alam akan mengatur kembali dirinya dalam
keseimbangan baru. Proses menuju keseimbangan baru tersebut sering kali
menimbulkan perubahan yang dratis dan dianggap bencana bagi komponen alam yang
lain (manusia). Terjadinya ledakan populasi beblalang dilampung, ledakan populasi
hama wereng, kutu loncat, tikus, DBD, flu burung dan lain-lain adalah merupakan salah
satu bentuk terjadinya ketidak seimbangan dalam ekosistem dan komponen-komponen
alam yang terlibat dalam sytem sedang mengatur strategi masing-masing untuk menuju
kearah keseimbangan baru.

Ekologi memandang hidup mahluk hidup sesuai dengan perannya masing-


masing dan memandang individu dalam species menjadi salah satu unsur terkecil.
Aplikasi ekolgi yang nyata saat ini adalah analisis mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) dari semua kegiatan pembangunan dan desain lansekap. Lansekap adalah
wajah dan karakter lahan atau tapak bagian dari muka bumi dengan segala kegiatan
kehidupan dan apa saja di dalamnya, baik bersifat alami, non alami atau kedua-duanya
yang merupakan bagian atau total lingkungan hidup manusia berserta makhluk-makhluk
lainnya.

2.2 KONSEP

Secara konsep pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya


perhatian utama dikaitkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu
tumbuhan atau hewan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik secara
material (bahan makanan) maupun non material (keindahan, estetika, dan nilai ilmiah).
Oleh karena itu kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat
dipengaruhi oleh unsur biotik (tumbuhan dan hewan) dan abiotik (tak hidup). Alam
memiliki sifat yang beranekaragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena itu
perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan
keserasian dan keseimabagan tersebut, terutama dalam bidang kesehatan lingkungan.

Kesehatan lingkungan dapat dilihat dari berbagai segi, tergantung dari mata
angin yang ingin memulai. Kesehatan lingkungan dari frame-work melalui konsep
pendekatan ekologis yaitu dikenal dengan the nature of man environment
relationship,namun bagi pendekatan tersebut terakhir ini kesehatan lingkungan dilihat
sebagai kumpulan program maupun kegiatan kesehatan dalam rangka upaya manusia
melalui teknologisnya menciptakan suatu kondisi kesehatan yang kemudian dikenal
sebagai kesehatan lingkungan.

Dalam kaitannya dengan masalah ini kita menempatkan terminology kesehatan


lingkungan dalam deretan akronim setingkat dengan kesehatan kerja, kesehatan jiwa,
kesehatan angkasa dan lain sebagainya. Disamping kesehatan lingkungan itu dapat
dikaji dari segi pendekatan ekologis maupun pendekatan operasional, ternyata kita
masih dapat mengkaji dari pendekatan perkembangan ilmu terapan baru (applied
science) yang bersifat komprehensif (pendekatan multi disipliner).

Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dibidang lingkungan (Ecology) kita lebih
menekankan sistem tersebut pada arti interaksi antar elemen didalamnya. Interaksi yang
senantiasa bersifat dinamis sehingga sering dijabarkan dalam pengertian interactions
between environment and mans biological system

Bertitik tolak dari model timbangan Gordon, kemudian dimodifikasikan pada suatu
model lanjutannya dijelaskan oleh empat factor, yaitu:

1. Faktor penentu kahidupan atau life support


2. Aktifitas manusia atau mans activites
3. Bahan buangan & residu karena kehadiran adan aktifitas manusia (residues and
wastes
4. Gangguan lingkungan (environmental hazards)

Dalam pendekatan ekologis ini justru menekanakan titik masalah pada mans activities.
Dari titik ini terdapat komunikasi dua arah yang masing-masing dapat ke arah Life
Support, Residues and Wastes serta Gangguan Lingkungan. Namun di lain pihak dari
segi kausal tidak digambarkan adanya interaksi antar-antar faktor.
Di dalam kaitan ini, kesehatan lingkungan menempatkan dan menggantungkan diri pada
keseimbangan ekologi, sehingga karenanya berusaha menjalin suatu keseimbangan
interaksi manusia dengan lingkungannya pada tarap optimal dan batas-batas tertentu
untuk menjamin kehidupan yang tetap sehat (well being). Kehidupan yang sehat
meliputi baik dimensi kesehatan fisik, kesehatan mental maupun hubungan sosial yang
optimal dengan lingkungan sekitar. Bila kondisi yang optimal dapat dicapai karena
timbulnya interaksi yang menekan kehidupan, maka kesehatan lingkungan sampai
batas-batas dimungkinkan dapa menyerasikan diri melalui berbagai upaya.

Perubahan yang sesungguhnya ditimbulkan oleh manusia sendiri pada umumnya, dan
dipengaruhi oleh:

1. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, yang sering dikenal dengan istilah
peledakan penduduk dengan segala implikasi kaitannya lebih lanjut.
2. Urbanisasi, yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kota-
desa, dimana dampaknya tidak saja dirasakan bagi system kehidupan kota
melainkan juga ikut merugikan kehidupan sistem pedesaan sendiri.
3. Industrialisasi, yang menimbulkan berbagai mata rantai implikasi serta sebagai
akses secara luas.
4. Perkembangan teknologi yang sangat cepat, khususnya bagi negara-negara yang
sedang berkembang yang belum dapat menyiapkan diri dalam sistem sosialnya
(infra structural).
5. Kebutuhan yang meningkat dari masyarakat untuk memaksakan meningkatkan
standart kehidupan, pada hal syarat-syarat untuk mendukung ini juga belum
disiapkan.

Walaupun demikian ada tiga pokok yang dapat dilakukan dalam mengembangkan
upaya-upaya kesehatan lingkungan yaitu :

A. Di mana dimungkinkan gangguan-gangguan yang dapat berakibat terhadap


kesehatan lingkungan perlu di cegah.
B. Apabila gangguan tersebut telah ada, langkah berikutnya adalah mengusahakan
mengurangi atau meniadakan efeknya terhadap kecenderungan timbulnya penyakit
didalam masyarakat.
C. Mengembangkan lingkungan yang sehat, khususnya pada daerah-daerah padat
melalui sistem perencanaan dan pengendalian yang mudah terhadap
pemukiman,perumahan dan fasilitas rekreasi yang sesungguhnya bisa menjadi
pusat kunjungan manusia dan sumber penularan.

2.3 Pengertian dan Definisi Ekosistem

Di dalam ekosisten, organisme yang ada selalu berinteraksi secara timbal balik
dengan lingkungannya. Interaksi timbal balik ini membentuk suatu sistem yang
kemudian kita kenal sebagai sistem ekologi atau ekosistem. Dengan kata lain ekosistem
merupakan suatu kesatuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi
organisme hidup dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa
lingkungan biotik (makhluk hidup) maupun abiotik (non makhluk hidup). Sebagai
sistem, di dalam suatu ekosistem selalu dijumpai proses interaksi antara makhluk hidup
dengan lingkungannya, antara lain dapat berupa adanya aliran energi, rantai makanan,
siklus biogeokimiawi, perkembangan dan pengendalian.

Ekosistem juga dapat didefinisikan sebagai suatu satuan lingkungan yang


melibatkan unsur-unsur biotik (jenis-jenis makhluk) dan faktor-faktor fisik (iklim, air,
dan tanah) serta kimia (keasaman dan salinitas) yang saling berinteraksi satu sama
lainnya. Gatra yang dapat digunakan sebagai ciri keutuhan ekosistem adalah energetika
(taraf trofi atau makanan, produsen, komsumen, dan redusen), pendauran hara (peran
pelaksana taraf trofi), dan produktivitas (hasil keseluruhan sistem). Jia dilihat komponen
biotanya jenis yang dapat hidup dalam ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan
jenis lain yang ditinggal dalam ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan jenis
lain yang tinggal dalam ekosistem tersebut. Selain itu keberadaannya ditentukan juga
oleh keseluruhan jenis dan faktor-faktor fisik serta kimia yang menyusun ekosistem
tersebut.

Struktur Ekosistem

Bila kita memasuki suatu ekosistem, baik ekosistem daratan maupun perairan,
akan dijumpai adanya dua macam organisme hidup yang merupakan komponen biotik
ekosistem. Kedua macam komponen biotik tersebut adalah (a) autotrofik dan (b)
hetertrofik.
a. Autotrofik terdiri atas organisme yang mampu menghasilkan (energi)
makanan dari bahan-bahan anorganik dengan proses fotosintesis ataupun
kemosintesis. Organisme ini tergolong mampu memenuhi kebutuhan dirinya
sendiri. Organisme ini sering disebut produsen.
b. Heterotrofik terdiri atas organisme yang menggunakan, mengubah atau
memecah bahan organik kompleks yang telah ada yang dihasilkan oleh
komponen autotrofik. Organisme ini termasuk golongan konsumen, baik
makrokonsumen maupun mikrokomsumen.

Secara struktural ekosistem mempunyai enam komponen sebagai berikut :

1. Bahan anorganik yang meliputi C, N, CO2, H2O, dan lain-lain. Bahan-bahan ini
akan mengalami daur ulang.
2. Bahan organik yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, bahan humus, dan
lain-lain. Bahan-bahan organik ini merupakan penghubung antara komponen
biotik dan abiotik.
3. Kondisi iklim yang meliputi faktor-faktor iklim, misalnya angin, curah hujan,
dan suhu.
4. Produsen adalah organisme-organisme autotrof, terutama tumbuhan berhijau
daun (berklorofil). Organisme organisme ini mampu hidup hanya dengan
bahan anorganik, karena mampu menghasilkan energi makanan sendiri,
misalnya dengan fotosintesis. Selain tumbuhan berklorofil, juga ada bakteri
kemosintetik yang mampu menghasilkan energi kimia. Tetapi peranan bakteri
kemosintek ini tidak begitu besar jika dibandingkan dengan tumbuhan
fotosintetik.
5. Makrokonsumen adalah organisme heterotrof, terutama hewan-hewan seperti
kambing, ular, serangga, dan udang. Organisme ini hidupnya tergantung pada
organisme lain, dan hidup dengan memakan materi organik.
6. Mikrokonsumen adalah organisme-organisme heterotrof, saprotrof, dan
osmotrof, terutama bakteri dang fungi. Mereka ini yang memecah materi organik
yang berupa sampah dan bangkai, menguraikannya sehingga terurai menjadi
unsur-unsurnya (bahan anorganik). Kelompok ini juga disebut sebagai
organisme pengurai atau dekomposer.
Komponen komponen 1, 2, 3, merupakan komponen abiotik/nonbiotik, atau
komponen yang tidak hidup, sedangkan komponen-komponen 4, 5, 6, merupakan
komponen yang hidup atau komponen biotik.

Secara fungsional ekosistem dapat dipelajari menurut enam proses yang


berlangsung di dalamnya, yaitu :

1. Lintasan atau aliran energi


2. Rantai makanan
3. Pola keragaman berdasar waktu dan ruang
4. Daur ulang (siklus) biogeokimiawi
5. Perkembangan dan evolusi
6. Pengendalian atau sibernetika

Paradigma Ekologi Kesehatan

Manusia adalah bagian tidak terpisahkan dari lingkungannya


Lingkungan yang baik dan stabil akan membuat kehidupan manusia sehat
Lingkungan rusak dan tidak stabil membuat manusia sakit / tidak sehat

Kebutuhan Manusia akan Lingkungannya

Sebagai sumber energi (harus mencakupi kebutuhan tubuh)


Sebagai tempat tinggal (harus menunjang aktivitasnya)

Lingkungan yang mengganggu kualitas hidup

Rusak : Kehilangan sumber daya alam yang menunjang kehidupan manusia


Tercemar : komposisinya berubah menjadi tidak sesuai lagi dengan peruntukannya ,
berbahaya bagi lingkungan manusia

Peran manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan


Satu hal yang tak dapat dilepaskan dari ekosistem adalah jumlah populasi manusia yang
kian meningkat dari waktu ke waktu akan berakibat menurunnya nilai ekosistem kita.
Pemanfaatan berbagai sumber daya alam secara tak terkendali dapat membawa
ekosistem secara keseluruhan menjadi tak seimbang. Oleh sebab itu pengendalian
jumlah populasi manusia perlu diatur sediemikian rupa agar tidak melampaui
kemampuan alam untuk mendukungnya. Manusia harus berperan aktif dalam menjaga
keseimbangan lingkungannya agar Ekologi kesehatan tetap terjaga dan bebas dari segala
macam bentuk permasalahan kesehatan

PRINSIP DASAR EKOLOGI KESEHATAN

1. Lingkungan lingkup makro


Harus dikelola supaya bisa memberi kecukupan kebutuhan primer, sekunder, tersier
dengan distribusi yang mencukupi need semua penduduk
Upaya mengatasinya harus melalui Proses manajemn Negara dan Wilayah yang
benar
Tugas semua jajaran birokrasi Pemerintah untuk mengatasi tantangan sampai ke
akar permasalahannya.
2. Lingkungan lingkup meso
Harus memenuhi persyaratan lingkungan kerja sehat, terkendali tidak eksploitatif
dan mencemari sekitar.
Semua penanggung jawab tempat kerja seperti Industri, Pertanian, Kantor
Perdagangan/Jasa termasuk sekolah perguruan tinggi berkewajiban :
A. Menertibkan lingkungan kerja mereka supaya bebas dari polutan organik dan
anorganik.
B. Bagi kegiatan bisnis tidak melakukan kebijakan eksploitatif pada masyarakat
dan lingkungan luas
3. Lingkungan lingkup mikro
Harus sesuai persyaratan rumah sehat, baik aspek luas dan kebersihannya
Semua keluarga harus membenahi lingkungan rumah tangganya seperti aspek
makanan, air minum, ruangan, kamar mandi, pembuangan sampah, selokan, dan
lainnya supaya terjaga bersih