Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI TEKNOLOGI SEDIAAN SOLID

SUPPOSITORIA

Disusun Oleh :

Nama : Kiki Septiyani


Nim : A1152093
Kelas : Rombel A Reguler

PROGRAM DIPLOMA III FARMASI

AKADEMI FARMASI NUSAPUTERA SEMARANG

2017
I. TUJUAN

1. Mengenal dan memahami cara pembuatan dan evaluasi bentuk


sediaan semi solid.
2. Menerapkan metode yang baik pembuatan sediaan semi solid
dalam praktikum dan dunia kerja.
3. Mengetahui bentuk sediaan suppositoria
4. Mengetahui bahan dasar suppositoria
5. Mengtahui dan memahami cara pembuatan suppositoria
6. Mengetahui persyaratan suppositoria.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Supositoria adalah sediaan


padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal,
vagina atau uretra.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, Supositoria adalah
sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk
torepedo dapat melarut, melunak atau meleleh pada subu tubuh.
Berdasarkan tempat pemberiannya suppositoria dibagi menjadi:
a. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan.
Biasanya suppositoria rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk
silinder dan kedua ujungnya tajam. Bentuk suppositoria rektum antara lain
bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis
bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 gram
untuk yang menggunakan basis oleum cacao.
b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola
lonjong atau seperti kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 gram apabila
basisnya oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juga disebut bougie, bentuknya
rampiung seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau
wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris tengah 3-6 mm dengan
panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang
lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 gram. suppositoria
untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria,
panjang 70 mm dan beratnya 2 gram, inipun bila oleum cacao sebagai
basisnya.
d. Suppositoia untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga,
keduanya berbentuk sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran
panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. suppositoria telinga umunya diolah
dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin. Seperti dinyatakan
sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang jarang
digunakan.
Tujuan penggunaan Suppositoria :
1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan
penyakit infeksi lainnya. Suppositoria juga dapat digunakan untuk
tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam
rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak
memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih
cepat karena obat diserap oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke
dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran
gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hati
(Syamsuni, 2005).
Keuntungan penggunaan suppositoria adalah :
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
3. Obat dapat masuk langsung dalam saluradarah dan berakibat obat dapat

(Anief, 2004)
Kerugiaan suppositoria antara lain :

1. Tidak dapat disimpan pada suhu ruangan.


2. Pemakaiannya tidak menyenangkan

Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan


melebur, melarut dan terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan
peranan penting. Maka dari itu basis supositoria harus memenuhi syarat
utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan akan melebur
maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat
yang dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian
menghasilkan efek terapi lokal maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal
juga harus mempunyai beberapa sifat seperti berikut :
1. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
2. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
3. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan
bau serta pemisahan obat.
4. Kadar air mencukupi.
5. Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan
bilangan penyabunan harus diketahui jelas. (Soetopo, dkk. 2002)

Persayaratan basis Suppositoria:


1. Secara fisiologi netral ( tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini
dapat disebabkan oleh massa yang tidak fisiologis ataun tengik, terlallu
keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang diracik)
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat)
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil)
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat
berlangsung cepat dalam cetakan,kontraksibilitas baik, mencegah
pendinginan mendaak dalam cetakan)
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih
(ini dikarenakan untuk kemantapan bentuk dan daya penyimpanan,
khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap stabil). (Soetopo, dkk. 2002)
Macam-macam basis suppositoria :
1. Lemak coklat (Fatty bases / oil soluble bases )
Contoh : cacao butter (ctheobroma oil oleum cacao/lemak biji coklat)
2. Minyak nabati yang terhidrogenasi
Contoh : Trigliserida (paim coconat oil)
3. Basis larut dalam air :
Contoh : PEG,Coliserin,Gelatin.
4. Surfaktan :
Contoh : Tween, campuran Tween-PEG, ( Tjay Tan Hoon, 2007)

III. FORMULA

No. Nama Bahan

1. Ibuprofen 100mg
2. PEG 400 25%
3. PEG 4000 75%
4. Nipagin 0,1%

1. Ibuprofen (FI edisi IV halaman 449)


Pemerian : Serbuk hablur, putih hingga hampir putih; berbau khas
lemah
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam
etanol, dalam methanol, dalam aseton dan dalam
kloroform, sukar larut dalam etil asetat
2. PEG 400 (FI edisi III halaman 504)
Pemerian :Cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktis tidak
berwarna, bau has lemah, agak higroskopik.
Kelarutan : Larut dalam air, dalam etanol 95% P, dalam aseton P,
dalam glikol lain dan dalam hidrokarbon aromatik, pratis
tidak larutdalam eter P dan dalam hidrokarbon aromatik
3. PEG 4000 (FI edisi III halaman 506)
Pemerian : Serbuk licin putih atau potongan putih kuning gading,
praktis tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol 95% P dan dalam
kloroform P, praktis tidak larut dalam eter P

4. Nipagin (FI edisi III halaman 378)

Pemerian :Serbuk hablur, putih, hampir tidak berbau, tidak


mempunyai rasa,kemudian agak membakar dan diikuti
rasa tebal
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,
dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian
aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali
hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan
dalam 40 bagian minyak nabati panas jika didinginkan
larutan tetap jernih

IV. ALAT DAN BAHAN

No ALAT BAHAN
1 Lumpang dan mortir Ibuprofen
2 Timbangan PEG 400
3 Alat pencetak Suppositoria PEG 4000
4 Sudip Nipagin
5 Batang pengaduk Parafin Liquid
6 Cawan porselen
7 Penangas air
8 Pipet tetes

V. PERHITUNGAN BAHAN DAN DOSIS


a. Perhitungan Kalibrasi

n Nama Bahan Perhitungan Penimbangan


o
Missal bobot suppo = 3,5 g X 5 = -
@3,5 gram dibuat 5 17,5 g
suppo
1. PEG 400 25% X17,5 g= 4,375g
4,375g
2 PEG 4000 17,5g-4,375g= 13,125g
13,125g
Rata-rata Supposritoria
I = 4,778 g
II = 4,776 g
III = 4,807 g
X = 4,787 g
4,787g x 15 = 71,805g

b. Perhitungan Jumlah Bahan


Rata-rata suppositoria 4,787 g x 15 = 71,805 g

Basis suppo = 71,805 g 1,5 g = 70,305 g


1. Ibuprofen = 100mg x 15= 1,5 g

2. Nipagin = 0,1/100 x 70,305 g = 0,070 g


3. PEG 400 = 25/100 x 70,305 g = 17,576 g
4. PEG 4000 = 70,305 g - (0,070 +17,576 g) = 52,65 g
c. Perhitungan Dosis
1x = 100 mg x 2 = 200 mg
1 hari = -
Dosis pemakaian
1x = 2 x 125 mg = 250 mg
1 hari = 3-4 x 250 mg = 750 mg 1 g
Kesimpulan : Dosis < DP
VI. CARA PEMBUATAN
A. Kalibrasi Cetakan

B. Rectal suppositoria dengan basis PEG


C. Cara Evaluasi
1. Uji Organoleptis

2. Uji homogenitas

3. Uji keseragaman bobot


4. Uji waktu hancur

5. Uji kekerasan suppositoria

VII. Hasil Evaluasi


1. Uji Keseragaman Bobot

No Bobot tiap % X-X ( X-X) %


suppo keseragama penyim
n pangan
1. 4,650 g 101,06 0,049 2,4x10-3 1,06 %
2. 4,676 g 101,63 0,075 5,625x10-3 1,6 %
3. 4,555 g 99,9 0,046 2,116x10-3 0,9 %
4. 4,645 g 100,95 0,044 1,936x10-3 0,95 %
5. 4,514 g 98,11 0,087 7,56x10-3 1,8 %
6. 4,482 g 97,4 0,119 0,014 2,58 %
7. 4,581 g 99,5 0,02 4x10-4 0,4 %
8. 4,821 g 104,7 0,22 0,048 1,04 %
9. 4,497 g 97,7 0,104 0,0108 2,26 %
10. 4,604 g 100,06 0,003 9x10-6 0,06 %

46,010 g
Berat 10 suppositoria = =4,601 g
10
SD = ( xx)/ N 1
=

= 0,101
0,093
9

0,101
SDR = X 100
4,601
= 2,21%
Tidak ada yang menyimpang dari kolom A (5%) dan B (10%).
(FI ed III)
2. Uji Organoleptis

Bentuk : Seperti torpedo dan padat


Warna : Puith
Bau : Seperti paraffin

3. Uji Homogenitas
Uji homogenitas ditandai dengan tidak adanya bintik-bintik pada
suppositoria
4. Uji Kerapuhan
Diberi beban 1,8 g tidak hancur jadi memenuhi syarat kerapuhan
5. Uji Waktu hancur
Tidak Dilakukan

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, dibuat suppositoria ibuprofen dengan
metode pencetakan tuang. Metode ini dipilih karena lebih efektif dan
efisien digunakan dalam pembuatan suppositoria skala lab. Sedangkan
basis yang digunakan yaitu PEG. Polietilena glikol (PEG) adalah polimer
yang banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, dan farmasi.
Secara kimiawi, PEG merupakan sekelompok polimer sintetik yang larut
air dan memiliki kesamaan struktur kimia berupa adanya gugus hidroksil
primer pada ujung rantai polieter yang mengandung oksietilen (-CH2-CH2-
O-). Beberapa sifat utama dari PEG adalah stabil, tersebar merata,
higroskopik (mudah menguap), dapat mengikat pigmen, dll.

Sifat kekerasan PEG yang semakin meningkat dengan semakin


meningkatnya berat molekulnya dapat digunakan untuk dijadikan bahan
dasar ataupun campuran bahan dasar sediaan suppositoria, tanpa khawatir
sediaan suppositoria yang dihasilkan nantinya tidak akan meleleh karena
PEG juga memiliki sifat sangat efektif pada lingkungan yang berair dan
didukung lagi oleh sifat PEG lainnya yakni tidak beracun, non-korosif dan
tidak berbau. Sehingga penggunaan PEG untuk basis maupun campuran
bahan dasar suppositoria sangatlah menguntungkan.

Pertama kali yang dilakukan dalam praktikum ini adalah kalibrasi


cetakan yang sebelumnya sudah di olesi paraffin cair, kalibrasi cetakan
dengan menggunakan bahan PEG 400 dan PEG 4000. Setelah dikalibrasi
dilakukan penimbangan bahan. Setelah semua bahan ditimbang sesuai
dengan perhitungan bahan. Panaskan PEG 400 diatas penangas air sampai
melebur sempurna, tambahkan PEG 4000 aduk ad homogeny kemudian
tambahan nipagin serta bahan aktifnya yaitu ibuprofen, aduk semua bahan
sampai homogen. Ibuprofen memiliki efek analgetik dan antipiretik. obat
analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan
sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, serta demam. Digunakan
dalam sebagian besar resep obat analgesik selesma dan flu.
Selanjutnya yaitu setelah semua bahan tercampur homogen, lakukan
pencetakan ke dalam cetakan suppositoria. Bagi campuran bahan menjadi
12 bagian sama banyak. Kemudian dinginkan dalam lemari es selama 24
jam. Hal ini bertujuan supaya suppositoria menjadi beku. Setelah 1 hari,
diperoleh suppositoria padat, kemudian suppos dikeluarkan dari cetakan
dan diuji keseragaman bobot.
Dari hasil suppos yang diperoleh, dilakukan uji keseragaman bobot
dan didapatkan keseragaman bobot rata - rata yaitu 4,601 gram. Dengan
berat minimal yang diperoleh yaitu 4,481 gram, dan berat maksimal yaitu
4,821 gram. Suppositoria yang baik adalah keseragaman bobot tidak boleh
melebihi 5%. Dari hasil praktikum didapatkan SDR sebesar 2,21%.
Kemudian dilakukan uji homogenitas yang ditandai dengan tidak
adanya bintik-bintik pada sediaan suppos yang kami buat, pada saat
dilakukan uji kerapuhan atau kekerasan dengan ditambahkan beban
sebesar 1800g sediaan tidak hancur, yang artinya sediaan suppos yang
dibuat memenuhi syarat kerapuhan.
Setelah dilakukan evaluasi terhadap suppos, maka suppos yang telah
jadi dibungkus agar tidak tembus cahaya dan sebaiknya dikemas dalam
wadah tertutup rapat untuk mencegah perubahan kelembapan dalam isi
suppositoria dan sangat baik bila disimpan pada suhu dibawah 25 C.

IX. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum kali ini, suppositoria yang kami buat
memenuhi semua persyaratan meliputi uji organoleptis, homogenitas,
keseragaman bobot, uji kerapuhan. Dosis Ibuprofen kami tidak
mencapai dosis pemakaian karena dosisnya <125mg.

X. DAFTAR PUSTAKA

Ansel. 2004. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press.


Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi ketiga.
Departemen Kesehatan. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi keempat.


Departemen Kesehatan. Jakarta.

Soetopo, dkk. 2002. Ilmu Resep dan Teori. Jakarta : Departemen


Kesehatan.

Tjay, Tan Hoan. 2007.Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-


Efek Sampingnya Edisi VI . Jakarta : PT Elex Media Komputindo.Voigt.
1995.

Syamsuni . 2005. Ilmu Meracik Obat. Jakarta. Erlangga.

XI. LAMPIRAN
a. Kemasan suppositoria Ibuprofen
b. Brosure suppositoria Ibuprofen
c. Hasil uji homogenitas

d. Hasil uji kekerasan


e. Hasil uji keseragaman bobot

Tugas mandiri