Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia

dan rahmatNya sehingga penyusunan studi kasus ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Keperawatan Maternitas

di kelas Program B Angkatan III STIKES Eka Harap Palangka Raya.

Dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga

penulis mengharapkan saran yang sifatnya membangun dan memotivasi untuk berkarya lebih

baik di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak.

Palangka Raya, Juli 2013

Penulis

i
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Plasenta adalah separasi premature plasenta dengan implantasi normalnya di

uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir.

Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat

nutrisi dari ibu ke janin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa

kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Hebatnya perdarahan

tergantung pada luasnya area plasenta yang terlepas. Frekuensi solusio plasenta adalah

sekitar 1 dari 200 pelahiran. Intensitas solusio plasenta sering bervariasi tergantung pada

seberapa cepat wanita mendapat pertolongan. Angka kematioan perinatal sebesar 25 %.

Ketika angka lahir mati akibat kausa lain telah berkurang secara bermakna, angka lahir

mati akibat solusio plasenta masih tetap menonjol.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta

previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina

hampir tidak ada atau tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang

sangat banyak. Pemandangan yang menipu inilah sebenarnya yang membuat solusio

plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan yang demikian seringkali perkiraan jumlah

darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada

dalam keadaan syok Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada

kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskuler menahun, dan

15,5% disertai pula oleh preeklamsia. Faktor lain yang diduga turut berperan sebagai

penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin

1
bertambahnya usia ibu. Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif

umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah

mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan

pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan

bahkan mortalitas pada janin dan bayi baru lahir. Angka kematian janin akibat solusio

plasenta berkisar antara 50-80%. Tetapi ada literatur lain yang menyebutkan angka

kematian mendekati 100%.

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian

maternal di Indonesia pada tahun 1998-2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.

Angka tersebut masih cukup jauh dari tekad pemerintah yang menginginkan penurunan

angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup untuk tahun 2010.

Angka kematian maternal ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

Angka kematian maternal di Singapura dan Malaysia masing-masing 5 dan 70 orang per

100.000 kelahiran hidup.

B. Batasan Masalah

Makalah yang kami buat ini dibatasi pada hal-hal yang mengenai konsep dasar

solusio plasenta dan asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta.

C. Rumusan Masalah

1. Apa definisi solusio plasenta ?

2. Apa etiologi solusio plasenta?

3. Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?

4. Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

5. Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?

6. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?

7. Apa prognosis dari solusio plasenta ?

2
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta

D. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui tentang Solusio

Plasenta dan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Solusio Plasenta.

a. Untuk mengetahui definisi solusio plasenta.

b. Untuk mengetahui etiologi dari solusio plasenta.

c. Untuk mengetahui patofisiologi dan solusio plasenta.

d. Untuk mengetahui kalsifikasi dari solusio plasenta.

e. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari solusio plasenta.

f. Untuk mengetahui pemeriksaan pemnunjang untuk solusio plasenta.

g. Untuk mengetahui klasifikasi dari solusio plasenta.

h. Untuk mengetahui prognosis dari solusio plasenta.

i. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta.

E. Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan informasi kepada

mahasiswa tentang solusio plasenta sampai asuhan keperawatan pasien dengan solusio

plasenta.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. KONSEP DASAR PENYAKIT

I. Pengertian

Solutio Plasenta adalah lepasnya plasenta dengan implantasi normal sebelum

waktunya pada kehamilan yang berusia di atas 28 minggu. (Arif Mansjoer. Kapita Selekta

edisi 3 jilid 1, Media Aeskulapius. 2001).

Solutio Plasenta adalah suatu keadaan dalam kehamilan viable, dimana plasenta

yang tempat implantasinya normal (pada fundus atau korpus uteri) terkelupas atau terlepas

sebelum kala III. (Dr. Chrisdiono. M. Achadiat,SP.2003)

Solutio Plasenta adalah pelepasan sebagian atau seluruh plasenta yang normal

implantasinya antara minggu 22 dan lahirnya anak. (Obstetri dan Ginekologi, FKU

Padjadjaran Bandung, 2004)

Jadi solution plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada

korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan 22 minggu sampai 28 minggu /

berat janin di atas 500 gr.

Gambar 2. 1 Solusio Plasenta (Placental abrubtion)

4
II. Etiologi

Penyebab utama dari solusio plasenta ,masih belum di ketahui dengan jelas

beberapa hal yang merupakan factor-faktor yang berpengaruh pada kejadian antara lain :

1. Hipertensi esensialis atau preeklamsia

2. Tali pusat yang pendek

3. Trauma

4. Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena kava inferior

5. Uterus yang sangat mengecil(hidramnion)pada waktu ketuban pecah,kehamilan ganda

pada waktu anak pertama lahir. (Ilmu kesehatan reproduksi edisi II penerbit buku

kedokteran EGC,2003 hal.92)

6. Dekrompresi uterus mendadak

7. Anomali atau tumor uterus

8. Defisiensi gizi

9. Merokok

10. Konsumsi alcohol

11. Penyalagunaan kokain

12. Obstruksi vena kava inferior dan vena ovarikal (Manjoer Ariff 2001 hal.279).

III. Patofisiologi

Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang

membentuk hematoma pada desidua, sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas.

Apabila perdarahan sedikit, hematoma yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan

plasenta, peredaran darah anatara uterus dan plasenta belum terganggu, dan tanda serta

gejalanyapun tidak jelas kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada

pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah

lama yang berwarna kehiam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus

5
menerus karna otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mampu untuk

lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya. Akibatnya, hematoma retroplsenter akan

bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding

uterus sebagian darah akan menyelundup dibawah selaput ketuban keluar dari vagina atau

menembus selaput ketuban masuk kedalam kantong ketuban atau mengadakan

ekstravasasi diantara serabut-serabut diotot uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung

hebat, seluruh permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu. Hal ini disebut uterus

couvelaire, menurut orang yang pertama kali menemukannya uterus seperti itu akan terasa

sangat tegang dan nyeri. Akibat kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan

retroplasenter, banyak tromboplastin akan masuk kedalam peredaran darah ibu, sehingga

terjadi pembekuan intravaskuler dimana-mana yang akan menghabiskan sebagian besar

persediaan fibrinogen akibatnya terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan

pembekuan darah tidak hanya diuterus, akan tetapi juga pada alat-alat tubuh lainnya.

Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan pemberian intravaskule.

Oliguria dan proteinuria akan terjadi akibat nekrosis tubuli ginjal mendadak yang

masih dapat sembuh kembali, atau akibat nekrosis korteks ginjal mendadak yang biasanya

berakibat fatal. Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding

uterus. Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama

sekali, atau mengakibatkan gawat janin.

Gambar 2. 2 Plasenta normal dan solusio plasenta dengan hematom

6
IV. Manifestasi Klinis

1. Perdarahan pervaginam disertai rasa nyeri diperut yang terus-menerus, warna darah

merah kehitaman.

2. Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan

darah yang berkumpul dibelakang plasenta hingga rahim teregang (uterus embosis,

Wooden uterus).

3. Palpasi janin sulit karena rahim keras.

4. Fundus uteri makin lama makin naik.

5. Auskultasi DJJ sering negative.

6. KU pasien lebih buruk dari jumlah darah yang keluar.

7. Sering terjadi renjatan (hipovolemik dan neurogenik)

8. Pasien kelihatan pucat, gelisah dan kesakitan.

V. Klasifikasi

Menurut derajat lepasnya plasenta dibagi menjadi :

1. Solusio plasenta partsialis : Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat

pelekatnya.

2. Solusio plasenta totalis : Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.

3. Prolapsus plasenta : Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan

dalam.

Menurut derajat solusio plasenta dibagi menjadi :

1. Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah

banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit.

Perut terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah

diraba

7
2. Solusio plasenta sedang

Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan

atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan.

Dinding uterus teraba tegang.

3. Solusio plasenta berat

Plasenta telah lepas dari dua pertiga permukaan disertai penderita syok.

VI. Komplikasi

1. Langsung (immediate)

a. Perdarahan

b. Infeksi

c. Emboli dan syok obstetric.

2. Tidak langsung (delayed)

a. Couvelair uterus, sehinga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.

b. Hipofibrinogenamia dengan perdarahan post partum.

c. Nekrosis korteks neralis, menyebabkan anuria dan uremia

d. Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofisis.

3. Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.

Komplikasi pada ibu ialah perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang

dari 150 mg % dan produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat

janin, kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin dapat

diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah dan sindrom

gagal nafas.

8
VII. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu

protombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan

elektrolit plasma.

2. Cardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin.

3. USG untuk menilai letak plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.

Gambar 2. 3 Ultrasonografi kasus solusio plasenta

VIII. Penatalaksanaan

1. Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .

2. Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri ,

tidak melakukan senggama , menghindari eningkatan tekanan rongga perut .

3. Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan, berikan cairan peroral .

4. Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya

hipotensi / syk akibat perdarahan . pantau pula BJJ & pergerakan janin .

5. Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak

teratasi , upayakan penyelamatan optimal dan bila teratsi perhatikan keadaan janin .

9
6. Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau

persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat

diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .

7. Setelah syok teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan

ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .

8. Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin

kurang dari 2.500 gr . penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

- Solusi plasenta ringan .

a. Ekspektatif, bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada ,

janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu

persalinan spontan .

b. Aktif, bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi ,

dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi /

infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 /

persalinan masih lama, lakukan seksio caesarea.

- Solusio plasenta sedang / berat .

a. Resusitasi cairan .

b. Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .

c. Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam

bila tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500

gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan

berlangsung lama .

IX. Prognosis

1. Terhadap ibu

Mortalitas ibu 5 10 % hal ini karena adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.

10
2. Terhadap anak

Mortalitas anak tinggi mencapai 70 80 % hal ini tergantung derajat pelepasan dari

plasenta.

3. Terhadap kehamilan berikutnya

Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio plasenta, maka

kehamilan berikutnya sering terjadi solusio plasenta yang lebih hebat.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Biodata

Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta antara lain

a. Nama

Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan merupakan identitas untuk

membedakan dengan pasien lain dan menghindari kemungkinan tertukar nama dan

diagnosa penyakitnya.

b. Jenis kelamin

Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah dan mengalami

kehamilan.

c. Umur

Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi

penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa

menopause.

d. Pendidikan

Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah karena mereka tidak

mengetahui cara perawatan kehamilan dan penyebab gangguan kehamilan.

11
e. Alamat

Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena

mereka tidak pernah dapat pelayanan kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.

f. Riwayat persalinan

Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah mengalami pelepasan

plasenta.

g. Status perkawinan

Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan (KET) atau hanya

sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

h. Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai memudahkan dalam

memberikan bimbingan kegamaan.

i. Nama suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan memberi

persetujuan dalam perawatan.

j. Pekerjaan

Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam pembinaan selama istrinya

dirawat.

k. Keluhan utama

1) Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri

2) Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan

dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

3) Perdarahan yang berulang-ulang.

12
l. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang

keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan

pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre

eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion

gameli) dll.

m. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat

pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

n. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui

asal dan penyebabnya.

2. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum

1) Kesadaran : composmetis s/d coma

2) Postur tubuh : biasanya gemuk

3) Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa

4) Raut wajah : biasanya pucat

b. Tanda-Tanda Vital

1) Tensi : normal sampai turun (syok)

2) Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)

3) Suhu : normal / meningkat (> 370 c)

4) RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

c. Pemeriksaan cepalo caudal

13
1) Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya

rontok / tidak rontok.

2) Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma

3) Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung

4) Mata : conjunctiva anemis

5) Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal,

hiperpegmentasi aerola.

6) Abdomen

a) Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba

dan ligra

b) Palpasi rahim keras, fundus uteri naik

c) Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.

7) Genetalia

Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah

kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.

8) Ekstimitas

Akral dingin, tonus otot menurun.

c. Pemeriksaan Penunjang

1) Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.

2) USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin

B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan

conjungtiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka pucat & lemas.

14
2. Kurang volume cairan tubuh b/d kehilangan vaskular berlebihan ditandai dengan

hipotensi, peningkatan frekwensi nadi, penurunan tekanan nadi, penurunan pengisian

vena

3. Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta

berkurang.

4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi

distress / pengerasan uterus, nyeri tekan uterus.

5. Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami.

6. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan.

7. Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan

dengan kurangnya informasi.

C. Intervensi Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan

conjunctiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

a. Tujuan : Suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

b. Kriteria hasil

Conjunctiva tidak anemis, akral hangat, Hb normal muka tidak pucat, tidak lemas.

c. Intervensi

1) Bina hubungan saling percaya dengan pasien

R/ Pasien percaya tindakan yang dilakukan

2) Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

R/ Pasien paham tentang kondisi yang dialami

3) Monitor tanda-tanda vital

R/ Tekanan darah turun, nadi yang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi

menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

15
4) Kaji tingkat perdarahan setiap 15 30 menit

R/ Mengantisipasi terjadinya syok

5) Catat intake dan output

R/ Produksi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi

ginjal.

6) Kolaborasi pemberian cairan infus isotonic

R/ Cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akibat

perdarahan.

7) Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

R/ Tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskular berlebihan

ditandai dengan hipotensi, peningkatan frekwensi nadi, penurunan tekanan nadi, urin

menurun / terkonsentasi, penurunan pengisian vena, perubahan mental.

a. Tujuan : Klien akan mendemonstrasikan kestabilan / perbaikan keseimbangan

cairan yang dibuktikan

b. Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium tepat,

dan haluaran serta berat jenis urin adekuat secara individual.

c. Intervensi :

1) Evaluasi, laporkan dan catat jumlah serta sifat kehilangan darah, lakukan

penghitungan pembalut, timbang pem-balut/pengalas.

R/ Perkiraan kehilangan darah membantu membedakan diagnosa setiap gram

pening-katan berat pembalut sama dengan kehi-langan kira-kira 1 ml darah.

2) Lakukan tirah baring, instruksikan klien untuk menghindari valsava anu-ver dan

koltus.

16
R/ Perdarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan

abdomen atau orgasme (yang meningkatkan aktivitas uterus) dapat meransang

perdarahan.

3) Posisikan klien dengan tepat, telentang dengan panggul ditinggikan atau po-

sisi semi-fowler pada plasenta previa, hindari posisi trendelenburg.

R/ Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian panggul

meng-hindari kompresi vena kava, posisi semi fowler memungkinkan janin

bertindak sebagai tampan. Posisi trendelenburg dapat menurunkan keadaan

pernafasan ibu.

4) Catat tanda-tanda vital pengisian ka-piler pada dasar kuku, warna membran

mukosa/kulit, dan suhu ukur tekanan vena sentral bila ada.

R/ Membantu menentukan beratnya kehilang-an darah, meskipun sianosis dan

perubahan pada tekanan darah (TD) dan nadi adalah tanda-tanda lanjut dari

kehilangan sirkulasi dan / atau terjadinya syok. Juga pantau keadekukatan

pengagantian cairan.

5) Dapatkan atau tinjau ulang pemeriksa-an darah cepat : HDL, jenis dan pen-

cocokan silang, titer Rn, kadar fibri-nogen, hitung trombosit, APTT, PT dan

kadar HCG.

R/ Menetukan jumlah darah yang hilang dan dapat memberikan informasi

mengenai penyebab. Ht harus dipertahankan diatas 30% untuk mendukung

transpor oksigen dan nutrien.

6) Siapkan untuk kelahiran saecaria bila ada diagnosa berikut : abrupsi plasenta

berat bila janin hidup dan persalinan tidak terjadi.

17
R/ KID, atau plasenta previa bila janin matur, kelahiran vagina ti-dak

mungkin, dan perdarahan berle-bihan atau tidak teratasi dengan tirah baring

Hemoragi berhenti bila plsenta diangkat dan sinus-sinus vena tertutup.

7) Berikan larutan intravena sesuai advis dokter, expander plasma, darah lengkap,

atau sel-sel keemasan, sesuai indikasi.

R/ Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejala-gejala syok.

3. Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta

berkurang.

a. Tujuan : tidak terjadi fetal distress

b. Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi,

bayi lahir selamat.

c. Intervensi

1) Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

R/ Kooperatif pada tindakan

2) Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

R/ Tekanan uterus pada vena cava aliran darah kejantung menurun sehingga

terjadi perfusi jaringan.

3) Observasi tekanan darah dan nadi klien

R/ Penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava

sehingga klien harus di monitor secara teliti.

4) Observasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

R/ Penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin

sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.

5) Berikan O2 10 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

R/ Meningkatkan oksigen pada janin.

18
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai terjadi

distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

a. Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

b. Kriteria hasil :

1) Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.

2) Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

c. Intervensi

1) Jelaskan penyebab nyeri pada klien

R/ Dengan mengetahui penyebab nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan

2) Kaji tingkat nyeri

R/ Menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

3) Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.

R/ Dapat mengalihkan perhatian klien pada nyeri yang dirasakan.

4) Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

R/ Posisi miring mencegah penekanan pada vena cava.

5) Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

R/ Memberi dukungan mental.

5. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan keadaan yang dialami

a. Tujuan : klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.

b. Kriteria hasil : penderita tidak cemas, penderita tenang, klien tidak gelisah.

c. Intervensi :

1) Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.

R/ Dengan mengungkapkan perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.

2) Ajak klien mendengarkan denyut jantung janin

R/ Mengurangi kecemasan klien tentag kondisi janin.

19
3) Beri penjelasan tentang kondisi janin

R/ Mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.

4) Beri informasi tentang kondisi klien

R/ Mengembalikan kepercayaan dan klien.

5) Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat

R/ Dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien

6) Anjurkan klien untuk berdoa kepada Tuhan

R/ Dapat meningkatkan keyakinan kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.

7) Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan

R/ Pasien kooperatif dalam tindakan.

6. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

a. Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

b. Kriteria hasil :

1) Perdarahan berkurang

2) Tanda-tanda vital normal

3) Kesadaran compos mentis

c. Intervensi

1) Kaji perdarahan setiap 15 30 menit

R/ Mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.

2) Monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi

dilakukan setiap 30 menit.

R/ Mengetahui keadaan pasien

3) Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala

pusing.

R/ Menentukan intervensi selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin

20
4) Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundus uteri.

R/ Mengetahui perdarahan yang tersembunyi

5) Catat intake dan output

R/ Produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam merupakan penurunan fungsi

ginjal.

6) Berikan cairan sesuai dengan program terapi

R/ Mempertahankan volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian

persiapan bila diperlukan transfusi darah.

7. Kurangnya pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan

dengan kurangnya informasi

a. Tujuan : penderita dapat mengerti tentang penyakitnya.

b. Kriteria hasil : dapat menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.

c. Intervensi :

1) Kaji tingkat pengetahuan penderita tentang keadaanya

R/ Menentukan intervensi keperawatan selanjutnya.

2) Berikan penjelasan tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.

R/ Penderita mengerti dan menerima keadaannya serta pederita menjadi

kooperatif.

D. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan salah satu tahap dalam proses keperawatan

keluarga di mana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga

dalam mengadakan perbaikan kearah perilaku hidup sehat.

21
E. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi sebagai langkah terakhir proses keperawatan adalah upaya untuk

menentukan apakah seluruh proses sudah berjalan dengan baik dan apakah tindakan

berhasil dengan baik.

22
BAB III

PEMBAHASAN

I. TINJAUAN KASUS

A. Studi Kasus

Ny. M (45 Tahun) datang ke RSIA bersama suaminya dengan membawa surat

rujukan dari bidan. Tertulis disurat tersebut bahwa riwayat obstetric G6P4A dengan Susp.

Solusio Plasenta. Setelah dilakukan anamnesa, klien mengeluh mengalami perdarahan

melalui vagina yang berwarna kehitaman sejak tadi malam, disertai dengan nyeri dan kram

pada perut yang terus menerus serta janin bergerak sangat aktif. Klien berpikir akan segera

melahirkan dan datang ke bidan keesokan harinya, tapi klien justru dirujuk ke RS. Klien

menceritakan bahwa selama kehamilan ini baru memeriksakan kehamilannya sekali, yaitu

pada saat dinyatakan (+) hamil 12 mgg oleh bidan. Setelah itu tidak pernah lagi

memeriksakan diri karena ini bukan kehamilan pertama bagi klien. Sebelum kehamilan

ini, klien mempunyai riwayat perdarahan dan mengalami keguguran pada usia kehamilan

16 mgg.

Selama pemeriksaan fisik, perawat mencatat TTV klien sebagai berikut :

TD=80/50 mmHg, N=110x/mnt, P=28x/mnt, S=36C. Hasil lainnya adalah uterus keras,

tegang, seperti papan, nyeri tekan, TFU=36 cm, His (-), DJJ dan palpasi janin sulit, klien

terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan, kulit terba dingin, kinjungtiva anemis, pembalut

penuh darah berwarna kehitaman. Klien kemudian melakukan pemeriksaan USG dan

terlihat solusio plasenta partialis dengan hematoma, DJJ 82x/menit, aktifitas janin lemah,

perdarahan aktif (+).

23
B. Analisa Data

Data Fokus Etiologi Masalah


DS : Kehilangan vaskular Kekurangan Volume Cairan
1. Klien mengeluh mengalami berlebihan ditandai Tubuh
perdarahan mll vagina dengan hipotensi,
berwarna kehitaman sejak tadi peningkatan frekwensi
malam. nadi, penurunan tekanan
2. Klien mengatakan nadi, penurunan pengisian
mempunyai riwayat vena
perdarahan pada kehamilan
sebelumnya.
DO :
1. TTV : TD=80/50 mmHg,
N=110x/mnt, P=28x/mnt,
S=36C
2. Klien terlihat lemah, pucat.
3. Kulit klien teraba dingin
4. TFU = 36 cm
5. Konjungtiva anemis
6. Pembalut penuh dengan darah
kehitaman
7. Perdarahan aktif (+)

DS : Kontraksi uteres ditandai Gangguan rasa nyaman nyeri


1. Klien mengeluh nyeri dan terjadi distrensi uterus, (Akut)
kram pada perut terus nyeri tekan uterus, trauma
menerus jaringan
DO :
1. TTV : TD=80/50 mmHg,
N=110x/mnt, P=28x/mnt,
S=36C
2. Uterus keras
3. Uterus tegang seperti papan
4. Nyeri tekan (+)
5. Klien tampak kesakitan
6. Hasil USG : terlihat solusio
plasenta parsialis dengan
hematoma.

8.

24
DS : Perfusi darah ke placenta Resiko tinggi terjadinya fetal
1. Klien mengeluh janin didalam berkurang distress berhubungan dengan
kandungannya aktif perfusi darah ke plasenta
DO : berkurang

1. Tertulis di status obstetric


G6P4A1
2. Hasil Pemfis : His (-), DJJ dan
palpasi janin sulit
3. USG : DJJ 82x/mnt, aktivitas
janin lemah.

C. Diagnosa Keperawatan

1. Kekurangan volume cairan tubuh b/d kehilangan vaskular berlebihan ditandai dengan

hipotensi, peningkatan frekwensi nadi, penurunan tekanan nadi, penurunan pengisian

vena.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri (akut) b/d kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi

uterus, nyeri tekan uterus, trauma jaringan

3. Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta

berkurang b/d perfusi darah ke placenta berkurang

25
D. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Kekurangan Volume Setelah dilakukan tindakan 1) Evaluasi, laporkan dan catat jumlah serta R/ Perkiraan kehilangan
Cairan Tubuh b/d keperawatan selama sifat kehilangan darah, lakukan darah membantu
kehilangan vaskular ..xdiharapkan suplai / penghitungan pembalut, timbang pem- membedakan diagnosa
berlebihan ditandai kebutuhan darah kejaringan balut/pengalas. setiap gram pening-katan
dengan hipotensi, terpenuhi, dengan kriteria hasil : berat pembalut sama
peningkatan frekwensi 1. Conjunctiva tidak anemis dengan kehi-langan kira-
nadi, penurunan tekanan 2. Akral hangat kira 1 ml darah.
nadi, penurunan 3. Hb normal muka tidak pucat,
pengisian vena tidak lemas
2) Lakukan tirah baring, instruksikan klien R/ Perdarahan dapat
untuk menghindari valsava anu-ver dan berhenti dengan reduksi
koltus. aktivitas. Peningkatan
tekanan abdomen atau
orgasme (yang
meningkatkan aktivitas
uterus) dapat meransang
perdarahan.

3) Posisikan klien dengan tepat, telentang R/ Menjamin keadekuatan


dengan panggul ditinggikan atau po-sisi darah yang tersedia untuk
semi-fowler pada plasenta previa, hindari otak, peninggian panggul
posisi trendelenburg. meng-hindari kompresi
vena kava, posisi semi
fowler memungkinkan
janin bertindak sebagai
tampan. Posisi

26
trendelenburg dapat
menurunkan keadaan
pernafasan ibu.

4) Catat tanda-tanda vital pengisian ka-piler R/ Membantu menentukan


pada dasar kuku, warna membran beratnya kehilang-an
mukosa/kulit, dan suhu ukur tekanan vena darah, meskipun sianosis
sentral bila ada. dan perubahan pada
tekanan darah (TD) dan
nadi adalah tanda-tanda
lanjut dari kehilangan
sirkulasi dan / atau
terjadinya syok. Juga
pantau keadekukatan
pengagantian cairan.

5) Dapatkan atau tinjau ulang pemeriksa-an R/ Menetukan jumlah


darah cepat : HDL, jenis dan pen-cocokan darah yang hilang dan
silang, titer Rn, kadar fibri-nogen, hitung dapat memberikan
trombosit, APTT, PT dan kadar HCG. informasi mengenai
penyebab. Ht harus
dipertahankan diatas 30%
untuk mendukung
transpor oksigen dan
nutrien.

6) Siapkan untuk kelahiran saecaria bila ada R/ KID, atau plasenta


diagnosa berikut : abrupsi plasenta berat previa bila janin matur,
bila janin hidup dan persalinan tidak kelahiran vagina ti-dak
terjadi. mungkin, dan perdarahan
berle-bihan atau tidak
teratasi dengan tirah

27
baring
Hemoragi berhenti bila
plsenta diangkat dan
sinus-sinus vena tertutup.

7) Berikan larutan intravena sesuai advis R/ Meningkatkan volume


dokter, expander plasma, darah lengkap, darah sirkulasi dan
atau sel-sel keemasan, sesuai indikasi. mengatasi gejala-gejala
syok.
Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan tindakan 1) Jelaskan penyebab nyeri pada klien R/ Dengan mengetahui
nyeri (akut) b/d keperawatan selama penyebab nyeri, klien
Kontraksi uteres ditandai ..xdiharapkan klien dapat kooperatif terhadap
terjadi distrensi uterus, beradaptasi dengan nyeri dengsn tindakan
nyeri tekan uterus, kriteria hasil :
trauma jaringan 1. Klien dapat melakukan tindakan 2) Kaji tingkat nyeri R/ Menentukan tindakan
untuk mengurangi nyeri. keperawatan selanjutnya.
2. Klien kooperatif dengan
tindakan yang dilakukan. 3) Bantu dan ajarkan tindakan untuk R/ Dapat mengalihkan
mengurangi rasa nyeri. perhatian klien pada nyeri
yang dirasakan.

4) Memberikan posisi yang nyaman (miring R/ Posisi miring


kekiri / kanan) mencegah penekanan pada
vena cava.

5) Berikan masage pada perut dan penekanan R/ Memberi dukungan


pada punggung mental.

28
Resiko tinggi terjadinya Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / R/ Kooperatif pada tindakan
fetal distress keperawatan selama kematian janin pada ibu
berhubungan dengan ..xdiharapkan tidak terjadi fetal
perfusi darah ke plasenta distress dengan kriteria hasil : 2. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur R/ Tekanan uterus pada
berkurang b/d perfusi 1. DJJ normal / terdengar ke posisi kiri vena cava aliran darah
darah ke placenta 2. Bisa berkoordinasi kejantung menurun
berkurang 3. Adanya pergerakan bayi yang sehingga terjadi perfusi
normal jaringan.
4. Bayi lahir selamat
3. Observasi tekanan darah dan nadi klien R/ Penurunan dan
peningkatan denyut nadi
terjadi pad sindroma vena
cava sehingga klien harus di
monitor secara teliti.

4. Observasi perubahan frekuensi dan pola R/ Penurunan frekuensi


DJJ janin plasenta mengurangi kadar
oksigen dalam janin
sehingga menyebabkan
perubahan frekuensi
jantung janin.

5. Berikan O2 10 12 liter dengan masker R/ Meningkatkan oksigen


jika terjadi tanda-tanda fetal distress pada janin.

29
II. PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan dibahas mengenai hal-hal yang menjadi perbedaan

dan persamaan antara teori dan praktek keperawatan yang ada dengan situasi nyata yang

ditemukan saaat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan solusio plasenta,

selain itu juga membahas mengenai faktor pendukung dan penghambat selama penulis

memberikan asuhan keperawatan klien.

A. Pengkajian

Pengkajian adalah tahapan seorang perawat mengumpulkan informasi secara

terus-menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya. Pada saat pengkajian pada

Ny.M ditemukan data-data seperti: klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina

yang berwarna kehitaman, nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin

bergerak sangat aktif, TTV : TD=80/50 mmHg, N=110x/mnt, P=28x/mnt, S=36C, uterus

keras, tegang, seperti papan, nyeri tekan, TFU=36 cm, His (-), DJJ dan palpasi janin sulit,

klien terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan, kulit teraba dingin, kinjungtiva anemis,

pembalut penuh darah berwarna kehitaman.

Sedangkan menurut Arif Mansjoer (2001), tanda dan gejala dari solusio plasenta

yaitu : perdarahan pervaginam disertai rasa nyeri diperut yang terus-menerus, warna darah

merah kehitaman, rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim

bertambah dengan darah yang berkumpul dibelakang plasenta hingga rahim teregang

(uterus embosis, wooden uterus), palpasi janin sulit karena rahim keras, fundus uteri

makin lama makin naik, auskultasi DJJ sering negative, ku pasien lebih buruk dari jumlah

darah yang keluar, sering terjadi renjatan (hipovolemik dan neurogenik, pasien kelihatan

pucat, gelisah dan kesakitan.

Dari hasil perbandingan antara pengkajian dan teori yang diungkapkan oleh Arif

Mansjoer (2001) terdapat hampir semua manifestasi klinis tersebut muncul pada Ny.M.
Hal tersebut menandakan bahwa kemungkinan besar setiap pasien solusio plasenta akan

mengalami manifestasi klinis yang hampir sama.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik mengenai individu, keluarga, atau

masyarakat yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan data dan analisis data secara

cermat, memberikan dasar untuk menetapkan tindakan-tindakan yang akan dilakukan

perawat bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Berdasarkan pengkajian, ditemukan

3 diagnosa pada kasus Ny. M yaitu kekurangan volume cairan tubuh b/d kehilangan

vaskular berlebihan ditandai dengan hipotensi, peningkatan frekwensi nadi, penurunan

tekanan nadi, penurunan pengisian vena; gangguan rasa nyaman nyeri (akut) b/d kontraksi

uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus, trauma jaringan; dan resiko

tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang

b/d perfusi darah ke placenta berkurang.

Adapun diagnosa keperawatan yang dikemukakan Anonimous (2008) terdapat

tujuh diagnosa yaitu antara lain : gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan

perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis, akral dingin, hb turun, muka pucat &

lemas; kurang volume cairan tubuh b/d kehilangan vaskular berlebihan ditandai dengan

hipotensi, peningkatan frekwensi nadi, penurunan tekanan nadi, penurunan pengisian

vena; resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta

berkurang; gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai

terjadi distress / pengerasan uterus, nyeri tekan uterus; gangguan psikologi ( cemas )

berhubungan dengan keadaan yang dialami; potensial terjadinya hypovolemik syok

berhubungan dengan perdarahan;dan kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi

yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi.

31
Diagnosa yang diprioritaskan pada kasus Ny.M adalah kurang volume cairan

tubuh b/d kehilangan vaskular berlebihan ditandai dengan hipotensi, peningkatan

frekwensi nadi, penurunan tekanan nadi, penurunan pengisian vena; resiko tinggi

terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang. Hal ini

mengacu pada tingkat bahaya yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin.

Diagnosa keperawatan yang kedua pada Ny.M adalah gangguan rasa nyaman

nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus,

nyeri tekan uterus; gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang

dialami. Diagnosa ini dijadikan prioritas kedua karena akan menganggu kenyamanan ibu

sehingga dapat menghambat proses perawatan dan pemulihan ibu.

Diagnosa keperawatan yang kedua pada Ny.M adalah resiko tinggi terjadinya

fetal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang. Diagnosa ini

diangkat sebagai diagnosa paling akhir karena masih berada dalam status resiko yang

kemungkinan terjadi (belum aktual) sehingga penanganannya masih bisa dilaksanakan

setelah diagnosa-diagnosa lain teratasi.

Bila dibandingkan dengan diagnosa keperawatan pada klien dengan solusio

plasenta secara teoritis terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang tidak muncul pada

Ny. M, seperti diagnosa gangguan perfusi, gangguan psikologi ( cemas ), Potensial

terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan dan kurang pengetahuan

klien tentang penyakitnya. Hal ini disebabkan karena data-data yang menunjang untuk

keenam diagnosa tersebut tidak muncul pada Ny.M.

C. Intervensi Keperawatan

Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan yang direncanakan

oleh perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah

32
kesehatan/masalah keperawatan yang telah diidentifikasi. Rencana keperawatan yang

berkualitas menjamin keberhasilan dalam mencapai tujuan serta penyelesaian masalah.

Rencana keperawatan untuk diagnosa kurang volume cairan tubuh b/d kehilangan

vaskular berlebihan ditandai dengan hipotensi, peningkatan frekwensi nadi, penurunan

tekanan nadi, penurunan pengisian vena; resiko tinggi terjadinya fetal distress

berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang yang disusun penulis untuk Ny.

M adalah evaluasi, laporkan dan catat jumlah serta sifat kehilangan darah, lakukan

penghitungan pembalut, timbang pem-balut/pengalas, lakukan tirah baring, instruksikan

klien untuk menghindari valsava anuver dan koltus, posisikan klien dengan tepat,

telentang dengan panggul ditinggikan atau posisi semi-fowler pada plasenta previa, hindari

posisi trendelenburg., catat tanda-tanda vital pengisian ka-piler pada dasar kuku, warna

membran mukosa/kulit, dan suhu ukur tekanan vena sentral bila ada, dapatkan atau tinjau

ulang pemeriksa-an darah cepat : HDL, jenis dan pencocokan silang, Titer Rn, kadar fibri-

nogen, hitung trombosit, APTT, PT dan kadar HCG, siapkan untuk kelahiran saecaria bila

ada diagnosa berikut : abrupsi plasenta berat bila janin hidup dan persalinan tidak terjadi,

berikan larutan intravena sesuai advis dokter, expander plasma, darah lengkap, atau sel-sel

keemasan, sesuai indikasi.

Adapun rencana keperawatan untuk diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri

berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus, nyeri

tekan uterus; gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami

yang disusun penulis untuk Ny. M adalah jelaskan penyebab nyeri pada klien, kaji tingkat

nyeri, bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri, memberikan posisi yang

nyaman (miring kekiri / kanan), berikan masage pada perut dan penekanan pada

punggung.

33
Adapun rencana keperawatan untuk diagnosa resiko tinggi terjadinya fetal distress

berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang yang disusun penulis untuk Ny.

M adalah jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu, hindari tidur

terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri, observasi tekanan darah dan nadi klien,

observasi perubahan frekuensi dan pola djj janin, berikan O2 10 12 liter dengan masker

jika terjadi tanda-tanda fetal distress.

D. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan salah satu tahap dalam proses keperawatan

keluarga di mana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga

dalam mengadakan perbaikan kearah perilaku hidup sehat.

E. Evalusi Keperawatan

Evaluasi sebagai langkah terakhir proses keperawatan adalah upaya untuk

menentukan apakah seluruh proses sudah berjalan dengan baik dan apakah tindakan

berhasil dengan baik.

F. Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi pengkajian antara lain menggunakan format yang sistematis, jelas,

mudah, dapat diisi, dan sederhana; mengkaji respon individu terhadap kesehatan dan

penatalaksanaan kesehatan; mengkaji riwayat pengobatan; data dimasukkan ke dalam

format pengkajian; data dikelompokkan data-data dalam kategori respon klien,

mencatat data subjektif atau objektif tersebut dalam format.

Dokumentasi diagnosa antara lain menggunakan proses pemecahan masalah yang

didasarkan pada identifikasi masalah (Problem), penyebab masalah (Etiologi), dan

tanda atau gejala masalah (Symptom); diagnosis keperawatan bukan diagnosis medis;

dapat diatasi dengan intervensi keperawatan; catat diagnosis aktual dan potensial pada

format; dan tuliskan diagnosis dalam format yang telah ditetapkan oleh institusi.

34
Dokumentasi perencanaan antara lain penentuan langkah pemecahan masalah dan

penentuan prioritasnya; perumusan tujuan yang ingin dicapai, penentuan rencana

tindakan untuk membantu klien memecahkan masalah kesehatannya, dan penentuan

rencana penilaian keberhasilan dan penilaian proses.

Dokumentasi pelaksanaan antara lain siapkan klien sebelum tindakan dimulai,

pelaksanaan tindakan keperawatan : tindakan keperawatan berdasarkan kebutuhan

klien; tindakan keperawatan harus realistis; tindakan keperawatan harus aman bagi

klien; dan mendokumentasikan tindakan keperawatan secara baik dan benar.

Dokumentasi evaluasi antara lain mengevaluasi pencapaian tujuan; modifikasi

rencana keperawatan; catat waktu (tanggal, jam) untuk reevaluasi kembali; laksanakan

intervensi modifikasi; dan semua data tersebut dicatat dalam format dokumentasi yang

telah ditetapkan.

35
BAB IV

PENUTUP

E. Kesimpulan

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum

janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Keadaan

klien dengan solutio plasenta memiliki beberapa macam berdasarkan tingkat

keparahannya, tingkat keparahan ini dilihat dari volume perdarahan yang terjadi mulai dari

solutio ringan hingga berat. Trauma langsung abdomen, hipertensi ibu hamil, umbilicus

pendek atau lilitan tali pusat, janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas, tekanan

pada vena kafa inferior, dan lain-lain diketahui bahwa sebagai penyebab dari solution

plasenta.

Beberapa faktor yang menjadi faktor predisposisi solution plasenta itu sendiri

didapat dan diketahui mulai dari faktor fisik dan psikologis dengan kata lain ditinjau dari

kebiasaan-kebiasaan klien yang dapat mendukung timbulnya solution plasenta. Adapun

komplikasi dari nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina). pada ibu dan

janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya nadi,

jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina). berlangsung. Komplikasi terparah

dari solution plsenta dapat mengakibatkan syok dari perdarahan yang terjadi, keadaan

seperti ini sangat berpengaruh pada keselamatan dari ibu dan janin. Penatalaksanaan dari

solution plaseenta dapat dilakukan secara konservatif dan secara aktif. Masing-masing dari

penatalaksaan tersebut mempunyai tujuan demi keselamatan baik bagi ibu, janin, ataupuun

keduanya.

36
F. Saran

Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu memahami dan

mendalami dari solution plasenta. Perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu

meminimalkan faktor risiko dari solution plasenta demi mempertahankan dan

meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak. Institusi kesehatan terkait dapat

menyediakan dan mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalm kejadian-

kejadian abnormalitas ibu terkait dengan kehamilan dan persalinan.

Masyarakat mampu dan mau mempelajari keadaan abnormal yang terjadi pada

mereka sehingga para tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan secara dini dan

mampu mengurangi jumlah mortalitas padaibu dan janin. Pemerintah mengeluarkan

kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan mampu

menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan pada masyarakat secara

menyeluruh.

37
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif. Dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarata : EGC.

Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi & obstetriginekologi

sosial untuk profesi bidan. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo S, Hanifa W. 2002. Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini dan Kelak. Dalam:

Ilmu Kebidanan, edisi III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Wong, Dona L, dkk,. 2002. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis: Mosby Inc.

Anonimous. (2008). Karakteristik Kasus Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan Ginekologi
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode 1 Januari 2002-31 Desember 2006. (Akses tanggal
10 Juni 2013). http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/16/karakteristik-kasus-solusio-
plasenta-di-bagian-obstetri-dan-ginekologi-rsud-arifin-achmad-pekanbaru-periode-1-januari-
2002-31-desember-2006/

38