Anda di halaman 1dari 5

RMK

FRAUD DAN ATESTASI

STATEMENT OF AUDITING STANDARD NO. 99

DISUSUN

OLEH

HENDRIKO RAJAGUKGUK (P3400216003)

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
STATEMENT OF AUDITING STANDARD NO. 99

SAS (Statement on Auditing Standards) 99 adalah regulasi yang dikeluarkan oleh American
Institute of Certified Public Accountant (AICPA). SAS 99 dikeluarkan terkait skandal akuntansi
di perusahaan besar Amerika yaitu Enron, WorldCom, Adelphia, dan Tyco.
Statement on Auiditing Standard (SAS) No. 99 Consideration of Fraud in a Financial
Statement Audit diterbitkan pada bulan Desember 2002 menggantikan SAS No. 82 dengan judul
yang sama. SAS No. 99 ini merupakan Pernyataan Standar Audit signifikan yang pertama kali
diterbitkan setelah diundangkannya Sarbanes-Oxley Act.
SAS No. 99 ini efektif bagi audit keuangan untuk periode yang dimulai pada atau setelah 15
Desember 2002. Secara garis besar komponen dari SAS yaitu:
1. Penjelasan mengenai fraud dan karakteristiknya
Fraud adalah suatu tindakan disengaja yang menyebabkan kesalahan dalam laporan keuangan.
Ada dua tipe fraud yaitu: memberikan informasi yang salah dalam laporan keuangan
(misalnya melalui pencatatan akuntansi yang tidak benar) dan menyalahgunakan aset
(misalnya mencuri aset, memalsukan kuitansi, dsb).
2. Auditor dan yang diaudit (auditee) harus melakukan brainstorming untuk mendiskusikan
apa saja kemungkinan fraud dalam laporan keuangan auditee
Ada dua tujuannya, yang pertama supaya auditor bisa sharing experience dengan auditee
mengenai bagaimana fraud biasanya dilakukan dan disembunyikan. Tujuan yang kedua adalah
untuk menyampaikan tone at the top atau gambaran umum mengenai audit yang dilakukan.
3. Auditor harus mengumpulkan informasi terkait dengan risiko fraud dalam laporan keuangan.
Misalnya dengan melakukan interview ke komite audit, tim internal audit, manajemen, dan
staff perusahaan. Kalau dirasa perlu, auditor dapat memberikan pengertian kepada manajemen
mengenai fraud dan apa saja jenis kontrol untuk mencegahnya.
4. Auditor harus mengevaluasi program dan kontrol perusahaan dalam mengurangi risiko fraud
dalam laporan keuangan.
5. Auditor harus melakukan evaluasi resiko fraud dalam laporan keuangan pada keseluruhan
proses audit yang dilakukan. Harus dipertimbangkan juga apakah ada prosedur atau observasi
audit yang berpengaruh pada hasil evaluasi tersebut.
6. SAS 99 mengharuskan auditor untuk mengkomunikasikan temuan fraud kepada manajemen,
komite audit, dan pihak lain, tidak tergantung besar-kecil nilainya.
Sejalan dengan SAS No. 99 ini, the American Institute of Certified Public Accountants
(AICPA) telah membentuk Fraud Task Force of the AICPAs Auditing Standards Board yang
bertugas untuk melakukan studi tentang pencegahan dan pendeteksian fraud dengan disponsori
oleh Association of Certified Fraud Exminers (ACFE) dan beberapa organisasi lain yakni IMA,
IIA, dan FEI.

Fraud Triangle
Sebuah teori yang dikenal sebagai fraud triangle, yaitu bahwa terdapat tiga kondisi yang
selalu hadir saat terjadi kecurangan laporan keuangan. Ketiga kondisi tersebut adalah tekanan
(pressure), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization) yang kemudian dikenal
dengan istilah fraud triangle. Tekanan adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan
kecurangan. Pada umumnya yang mendorong terjadinya kecurangan adalah kebutuhan finansial
tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan.
Tekanan situasional berpotensi muncul karena adanya kewajiban keuangan yang melebihi
batas kemampuan yang harus diselesaikan manajemen. Kesempatan adalah peluang yang
memungkinkan kecurangan terjadi. Biasanya disebabkan karena pengendalian internal suatu
organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, atau penyalahgunaan wewenang. Rasionalisasi
menjadi elemen penting dalam terjadinya kecurangan karena pelaku mencari pembenaran atas
tindakannya. Pembenaran ini bisa terjadi saat pelaku ingin membahagiakan keluarga dan orang-
orang yang dicintainya, pelaku merasa berhak mendapatkan sesuatu yang lebih (posisi, gaji,
promosi) karena telah lama mengabdi pada perusahaan, atau pelaku mengambil sebagian
keuntungan karena perusahaan telah menghasilkan keuntungan yang besar.
Berikut ini penjelasan eksplisit mengenal pressure, opportunity dan rationalization:
1. Tekanan
Salah satu kondisi yang selalu hadir saat terjadi kecurangan laporan keuangan adalah tekanan.
Tekanan dapat terjadi saat manajemen sedang membutuhkan uang untuk memenuhi
kebutuhan pribadinya misalnya tekanan untuk biaya pengobatan, tekanan dari keluarga yang
menuntut keberhasilan secara ekonomi, serta pola hidup mewah. Bonus akhir tahun akan
menjadi sumber penghasilan yang besar sehingga manajemen akan sengaja untuk
memanipulasi labanya demi mendapatkan pendapatan. Tekanan juga bisa timbul saat kinerja
perusahaan berada pada titik di bawah rata-rata kinerja industri. Kondisi seperti ini
menunjukan bahwa perusahaan sedang dalam kondisi tidak stabil karena tidak mampu
memaksimalkan aset yang dimiliki serta tidak dapat menggunakan sumber dana investasi
secara efisien. Kinerja perusahaan yang buruk akan berdampak pada kurangnya aliran dana
yang masuk ke dalam perusahaan, terutama dana yang didapatkan dari para investor potensial.
Namun semakin banyak aliran dana yang masuk dalam perusahaan tentunya semakin banyak
pula beban yang ditanggung manajemen untuk melunasi hutang perusahaan.
2. Kesempatan
Kesempatan akan timbul saat sistem pengendalian internal perusahaan lemah. Perusahaan
dengan pengendalian internal yang lemah akan memiliki banyak celah yang menjadikan
kesempatan bagi manajemen untuk memanipulasi transaksi. Adanya informasi asimetri yang
terjadi antara pemilik perusahaan selaku prinsipal dan manajemen selaku agen juga bisa
menjadi sebuah kesempatan untuk melakukan kecurangan laporan keuangan. Informasi
asimetri dialami oleh prinsipal saat seluruh tindakan yang dilakukan manajemen tidak bisa
diawasi secara langsung. Menyadari peluang yang timbul dari kondisi ini memberikan
peluang bagi manajemen untuk melakukan kecurangan laporan keuangan. Konsep Good
Corporate Governance (GCG) semakin banyak dikemukakan oleh para praktisi bisnis sebagai
salah satu alat untuk mencegah terjadinya kasus kecurangan. Salah satu komponen yang
berperan penting dalam proses penerapan tata kelola perusahaan yang baik adalah komite
audit. Peranan komite audit dalam menjamin kualitas pelaporan keuangan perusahaan telah
menjadi sorotan sejak terjadi skandal akuntansi yang menjadi perhatian publik. Untuk menguji
hubungan antara kesempatan dengan kecurangan laporan keuangan.
3. Rasionalisasi
Rasionalisasi lebih sering dihubungkan dengan sikap dan karakter seseorang yang
membenarkan nilai-nilai etis yang sebenarnya tidak baik. Rendahnya integritas yang dimiliki
seseorang menimbulkan pola pikir di mana orang tersebut merasa dirinya benar saat
melakukan kecurangan, sebagai contoh manajemen membenarkan untuk melakukan praktik
manajemen laba. Penyimpangan yang dilakukan manajemen juga disebut dengan moral
hazard problem. Banyaknya praktik kecurangan yang banyak terjadi menjadi salah satu
pemicu manajemen untuk melakukan hal yang sama seperti perusahaan lain sehingga
manajemen menganggap bahwa kecurangan adalah suatu hal yang biasa dilakukan. Untuk
menguji hubungan antara rasionalisasi dengan kecurangan laporan keuangan.

Tanggung Jawab Audit oleh Kantor Akuntan Publik

1. Memahami kunci elemen dari segitiga fraud


Landasan SAS 99 adalah untuk mendidik kedua pihak, yaitu auditor dan manajemen, tentang
kondisi yang biasanya hadir ketika fraud terjadi, dan hal ini paling baik apabila dipahami
dengan mempertimbangkan tiga sudut segitiga fraud seperti yang dibahas sebelumnya. Yakni,
insentif, Peluang dan Rasionalisasi.
2. Meningkatkan perencanaan audit dengan meminta sesi diskusi antara anggota tim audit
SAS 99 mengharuskan tim audit untuk meningkatkan kualitas audit berdasarkan mandat yang
didokumentasikan oleh sesi brainstorming antara personil audit untuk menilai risiko fraud
klien.
Cara yang paling efektif untuk melakukan sesi brainstorming antara Audit anggota tim adalah
dengan menunjuk seorang fasilitator sesi, biasanya salah satu staf senior.
3. Pemahaman yang lebih baik dari bisnis klien
SAS 99 mengharuskan auditor untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang bisnis klien,
untuk lebih baik menilai risiko fraud.
4. Pertanyaan personil utama dari klien yang berkaitan dengan penyimpangan yang ada atau
potensial pada pengendalian internal yang dapat menyebabkan terjadinya fraud
5. Prosedur analitis berdasarkan skeptisisme professional
SAS 99 mengharuskan penggunaan prosedur analitis untuk mengidentifikasi laporan
keuangan yang menyesatkan dalam mengindikasikan fraud.