Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. TOPIK PERCOBAAN


Resultan Gaya Sejajar

1.2. TUJUAN PERCOBAAN


Menyelidiki hubungan lengan gaya terhadap posisi resultannya.

1.3. DASAR TEORI


Resultan gaya sejajar adalah sebuah gaya yang bisa mewakili sekumpulan
gaya sejajar serta mempunyai syarat :
1. Arah yang sama dengan semua gaya tersebut.
2. Besar sama dengan penjumlahan besar semua gaya.
3. Garis kerja yang dapat dicari berdasar syarat bahwa momen resultan harus sama
dengan penjumlahan momen setiap gaya.
Gaya-gaya sejajar F1 dan F2 dapat dibuat sumbu x yang tegak lurus terhadap
gaya-gaya dan titik O adalah titik sembarang yang dijadikan resultan gaya :
R = Fy = F1 + F2

Sedangkan resultan momennya terhadap titik O adalah :


0 = x1 F1 + x2 F2

Dan jika x adalah jarak dari O ke garis kerja resultan, maka momen dari
resultan terhadap O adalah:

R x = (F1 + F2) x

Biasanya x dapat ditentukan dengan:

0=R x

1
x1 F1 + x2 F2 = (F1 + F2) x

x F1x1 F2 x2
F1 F2
Resultan dari sembarang gaya sejajar dapat ditentukan dengan cara yang
sama degan besar resultannya:
R=F

Dan jika gaya gaya itu sejajar dengan sumbu y, maka koordinat x dari
garis kerjanya (resultan) adalah:

x Fx Fx
F R

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. ALAT DAN BAHAN

Dasar statif 2
Batang statif pendek 1
Batang statif panjang 2
Balok penahan 1
Beban 50 gram 6
Katrol kecil (50mm) 2
Benang 1
Batang pensil baru 1
Penggaris 1

2.2. TAHAPAN PERCOBAAN

2.2.1 Persiapan Percobaan

Setelah seluruh alat dan bahan disiapkan sesuai daftar di atas, maka:
1. Rakit statif sesuai petunjuk
2. Rakit balok penahan pada kedua ujung batang statif, kemudian pasang katrol kecil
pppada masing-masing balok penahan.
3. Ikatkan tali pada masing-masing ujung pensil, masing-masing ujung tali yang lain
diikatkan pada satu beban. Ikatkan tali ketiga secara kendur di tengah-tengah
pensil, ujung lainnya diikatkan pada 2 beban.
4. Pasang kedua benang pada katrol dan atur kedudukan kedua dasar statif dan
benang ketiga agar ystem seimbang dan ketiga benang sejajar.

3
2.2.2 Langkah Percobaan
1. Catat massa beban A, B dan C ke dalam tabel.
2. Ukur panjang DE dan EF kemudian catat ke dalam tabel.
3. Tambahkan 1 beban pada B dan 1 beban pada C.
4. Ulangi langkah a sampai c dengan penambahan 1 beban.
5. Geser ikatan tali yang di tengah pensil (yang digantungi C) ystem tali B
sehingga tercapai keadaan setimbang yang baru.
6. Ulangi langkah a dan b

2.3. HASIL PENGAMATAN


a. Catat hasil pengamatan pada tabel di bawah dan selesaikan isian lainnya:

Ma Mb Mc F1=Wa=( F2=Wb=( F3=Wc=(Mc. F1+F2 DE EF F1(DE) F2(EF)


Ma.g) Mb.g) g)
0,5 0,4 0,3 50 N 40 N 30 N 90 N 29 N 29 N 1305 Nm 1160 Nm

1. Bagaimana hubungan nilai F1+F2 dengan F3 ?


Berdasarkan tabel percobaan, nilai F1 dan F2 jika di jumlahkan maka
hasilnya tidak sama dengan F3.
2. Apabila arah F3 ke atas, apakah berlaku F1+F2= F3 ?
Tidak, karena resultan gaya hanya dapat di hitung/ diukur jika resultan
gaya F1 dan F2 sama besar.
Jika arah F3 ke atas maka yang berlaku ialah RF=F1+F2+F3, jadi
F1+F2=RF-F3. Itu dikarenakan arah gaya semuanya sama jika arah F3 ke
atas. Tetapi jika arah F3 ke bawah sesuai dengan praktikum kami kali ini
maka F3 berfungsi sebagai pusat rotasi. Jika dalam ystem jungkat-jungkit
di sebut titik tumpu.
3. Bagaimana hubungan F1(DE) dengan F2(EF)
F1(DE) = F2(EF) , karena dalam resultan gaya sejajar (ketiga benang
sejajar). F1(DE)= torsi 1 dan F2(EF)= torsi 2.

4
BAB 3
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian/ pengamatan kami berdasarkan tabel yaitu :
1. F1 bila dijumlahkan dengan F2 maka akan menghasilkan nilai
yang tidak sama dengan F3 (F1+F2F3). Dikarenakan ketiga
benang tidak dalam kondisi sejajar, Apabila ketiga benang tersebut
sejajar maka jumlah F1 dengan F2 menghasilkan nilai yang sama
dengan F3
2. Jika F3 arahnya ke atas, maka F1+F2F3 karena resultan gaya
hanya dapat di ukur jika gaya F1 dan F2 sama besar.
Jika arah F3 ke atas maka yang berlaku ialah RF=F1+F2+F3, jadi
F1+F2=RF-F3. Itu dikarenakan arah gaya semuanya sama jika arah
F3 ke atas. Tetapi jika arah F3 ke bawah sesuai dengan praktikum
kami kali ini maka F3 berfungsi sebagai pusat rotasi. Jika dalam
sistem jungkat-jungkit di sebut titik tumpu.
3. Karena sistem kerjanya sama dengan sistem kerja jungkat-jungkit,
maka z1=z2 untuk menjadikan ketiga benang menjadi sejajar
(resultan gaya sejajar) atau dalam sistem jungkat-jungkit adalah
seimbang.

3.2. SARAN
1. Untuk mencapai praktikum yang lebih baik, waktu harus
dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
2. Penentuan bahan serta alat juga harus diperhatikan dikarenakan
berhubungan langsung dengan hasil praktik
3. Ketersediaan alat serta bahan juga sedikit mempengaruhi kerja
praktik
4. Jika masih ada yang kurang dalam laporan kami, mohon diberi
petunjuk agar pada praktikum selanjutnya bisa lebih baik.

5
LAMPIRAN