Anda di halaman 1dari 4

Asma Bronkial

Tips Membantu Pasangan/ Anggota Keluarga Berhenti Merokok


Tuberkulosis Paru / TBC paru

3 Februari 2010 oleh ahliparu

TBC / TB / flek paru adalah suatu penyakit menular yang di sebabkan kuman Mikobakterium
Tuberkulosis. Kuman ini pertama ditemukan oleh sarjana Koch, maka penyakit ini biasa juga disebut
dengan KP (Koch Pulmonum). Organ tubuh yang paling sering diserang kuman ini adalah Paru-paru,
tapi bisa juga mengenai organ lain seperti : kelenjar getah bening (limfadenitis TB), tulang belakang
(Spondilitis TB), selaput otak (meningitis TB), perut (peritonitis TB), kulit, juga tenggorokan (laryngitis
TB). Semua usia dari bayi sampai kakek- nenek dapat terkena penyakit ini tapi paling sering
mengenai penderita usia muda antara 20-30 tahun. Dulu mengenai masyarakat sosial ekonomi
rendah. Oleh karena itu banyak penderita malu kalau ketahuan menderita TB. Namun saat ini siapa
saja dapat tertular TB.

Berikut beberapa hal yang sering ditanyakan pasien:

T : Apakah penyakit paru sama dengan TBC ?

J : Tidak sama. Tidak semua penyakit paru adalah TBC. Penyakit paru sangat banyak jenisnya antara
lain: asma bronchial, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), pneumonia, bronchitis, tumor paru,
penyakit paru akibat kerja (pneumoconiosis) dll. Salah satu penyakit paru adalah TBC.

(banyak pasien menganggap dokter paru hanya mengobati TBC, pendapat tersebut Salah)

T : Apakah TBC penyakit keturunan?

J : TBC bukan penyakit keturunan. Tapi TBC merupakan penyakit menular. Jadi misalnya dalam satu
keluarga beberapa anggota terkena TBC, bukan berarti penyakit tsb diturunkan tapi anggota
keluarga yang lain tertular dari penderita pertama.

T : Bagaimana penularannya?

J : Kuman TBC menyebar dari penderita TBC melalui batuk, dahak, hembusan nafas, bersin (droplet
infection). Jadi bukan dari alat2 makan atau barang2 penderita. Penderita yang dapat menularkan
yaitu yang masih Aktif / infeksius/ yg belum berobat teratur. Orang 2 yang beresiko tertular biasanya
yg dekat dengan penderita misalnya serumah atau sekantor, juga penderita Diabetes harus lebih
hati2.

T : Bagaimana gejalanya?

J : Kita curiga TBC jika:


Batuk lebih dari 2 minggu, terutama dengan dahak banyak berwarna kuning , coklat, atau hijau.
Batuk darah lebih mengarah.
Badan sumer2, panas, meriang
Sering berkeringat meskipun malam hari
Berat badan menurun
Ada keluarga yang menderita
Lalu akan diperiksa foto rontgen dan pemeriksaan dahak mencari kuman TBC

T : Apakah TBC dapat disembuhkan ?

J : YA, BISA. Dengan berobat teratur selama 6 bulan penyakit ini dapat sembuh. Dengan mengenali
gejalanya dan segera ke dokter maka kelainan yang berat dapat dicegah. (sebagian penderita
meskipun dinyatakan sembuh tapi masih merasakan keluhan misalnya batuk, sesak. Hal ini karena
saat mulai berobat sudah terjadi kerusakan yang luas dari paru2nya sehingga menimbulkan
kecacatan.)

T : Dimana dapat obat TBC ?

J : Sampai saat ini masih disediakan obat2an GRATIS di rumah sakit pemerintah dan puskesmas. Bisa
juga minta resep utk beli di apotik manapun.

Yang terpenting adalah KOMITMEN untuk meminum obat tersebut secara benar dan teratur.

Karena sifat kuman TBC yang spesial, diperlukan kombinasi 4 macam obat untuk membunuh kuman
tsb. Jika obat tersebut diminum tidak teratur maka akan terjadi kekebalan kuman (resisten)
terhadap obat TBC. Hal ini yang saat ini sangat ditakutkan kalangan medis di dunia.

Efek samping Obat Anti TB yg dapat muncul (jarang):

-Mual, lemas, nyeri-nyeri sendi, pusing , muntah, gatal-gatal, nafsu makan menurun, mata kuning

jika keluhan tsb muncul, biasanya pada 2 minggu awal, jangan di stop sendiri obatnya tapi kontrol /
minta rujuk ke spesialis paru.

Jadi apakah ada kenalan anda atau bahkan keluarga anda sesuai dengan gejala-gejala tersebut..???
Mari Membaca Rontgen

Rontgen sebagai suatu sarana diagnostik penting untuk kita ketahui, terutama bagi praktisi
kesehatan layaknya seorang dokter. Saya jujur saja juga seringkali mengalami kesulitan saat
menemui rontgen-rontgen yang hitam putih itu, kebanyakan gambarnya sama dan mirip-mirip.
Alhasil yang saya lakukan hanyalah menebak-menebak sambil bingung sendiri (gak pake garuk-garuk
kepala ya^^). saya kan juga masih belajar itu tuh alasannya. heheee

Tapi, mau tidak mau yah kita mesti berusaha untuk manjadi familiar dengan si mr. rontgen ini, harus
bisa githu meski dikit-dikit aja.. Nah, oleh karena disebabkan oleh itulah, saya berusaha menyusun
cara sistematik buat membaca rontgen, ringkasnya gini..

PERTAMA

Sebelum lebih jauh membaca dan mentelaah suatu foto rontgen, kita harus memastikan terlebih
dahulu kelengkapan IDENTITAS foto rontgennya. Nama, umur, jenis kelamin, nomor foto, tanggal
foto dan klinisnya. Harus dipastikan supaya tidak tertukar. Setelah lengkap dan jelas barulah kita
memusingkan kepala kita dengan menerawang lalu membacanya. okeh !

KEDUA

tapi.. sebelum kita baca (lagi-lagi) pastikan dulu, foto tersebut LAYAK BACA atau tidak. Beberapa
foto dengan kualitas yang tidak baik sebaiknya tidak kita baca untuk menghindari misinterpretasi.
Seperti misalnya, foto yang terlalu keras, yang terpotong, posisinya tidak baik, inspirasi kurang
(inspirasi cukup jika costa 6 memotong hemidiafragma di tengah) dll. Untuk menghindari kesalahan
pembacaan, kita bisa minta ulang fotonya.

KETIGA

Mari Membaca. Untuk tulisan ini, kita fokuskan pada foto rontgen thorak saja

Tentukan posisi foto terlebih dahulu. Yang penting pada foto thorak adalah apakah posisi
pengambilan foto adalah AnteroPosterior (AP) atau PosteroAnterior (PA). Karena posisi foto akan
sangat mempengaruhi pembacaannya. Foto AP berarti sinar X berasal dari bagian depan tubuh dan
film berada di belakang. Sementara foto PA berarti sinar X ada di belakang dan film berada di bagian
depan tubuh. Hal ini penting, karena semakin jauh letak organ dari film maka gambaran foto yang
didapat akan termagnifikasi (diperbesar) sehingga tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. So
yang lebih mendekati keadaan organ yang sebenarnya adalah foto PA (jika kita menilai jantung dan
paru, karena lebih dekat ke film).

Nah, bagaimana membedakan foto AP atau PA?

Pada foto AP clavicula akan tampak mendatar, scapula berada di dalam lapangan paru, dan yang
tampak depan adalah costae anterior. Sedangkan pada foto PA yang tampak depan adalah costae
posterior, clavicula menjungkit, dan scapula berada di luar lapangan paru.

Selanjutnya.

KEEMPAT
Untuk membaca foto rontgen prinsipnya adalah membandingkan keadaan kiri dan kanan, jadi jika
kita melihat suatu keadaan di bagian kanan maka bandingkan dengan bagian kirinya. Selanjutnya
untuk pembacaan dapat dilakukan dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam (saya sih lebih suka dari
luar ke dalam ><). Tulisan ini dari pembacaan dibuat luar ke dalam yah,,,

Pertama perhatikan soft tissuenya terlebih dahulu, apakah terdapat soft tissue swelling atau tidak.
Soft tissue swelling bisa terjadi misalnya pada trauma, tumor, dll.

Kemudian nilai tulang-tulang, intak atau tidak. Apakah ada kelainan, fraktur, destruksi, dan lainnya.
Fraktur bisa kita lihat dari putusnya kontinuitas jaringan tulang. Dari gambaran rontgen ini dapat
pula kita nilai jenis frakturnya. Destruksi bisa terjadi misal akibat metastasis tumor ganas ke tulang
sehingga tulang menjadi tidak utuh bahkan bisa hilang. Gambaran metastasis yang ada dapat berupa
gambaran radiolusen (hitam) atau radioopaque (putih) yang abnormal pada gambaran tulang.
Kelainan, misalnya lordosis, kifosis, atau scoliosis pada vertebrae yang juga bisa kita nilai lewat foto
rontgen.

Mediastinum dinilai normal atau tidak, apakah terdapat pembesaran atau tidak. Misal, adanya
tumor pada mediastinum akan menampakkan gambaran mediastinum yang melebar atau tampak
adanya massa pada mediastinum. Trakea juga dapat kita nilai. Trakea yang normalnya berada di
tengah, bisa mengalami pergeseran akibat desakan atau proses-proses lain.

Pleura, bagaimana sudut costofrenikusnya, lancip atau tumpul, normalnya lancip. Sudut
costofrenikus yang tumpul dapat menandakan suatu efusi pleura. Bisa juga berupa suatu
perselubungan atau massa yang belum bisa ditentukan. Sehingga untuk lebih jelasnya kita bisa
melihat foto lateralnya. Jelasnya, lokasi sudut costofrenikus lihat di gambar di bawah ini,,,

Sketsa Thorak Normal

Kemudian nilai juga parenkim paru, keadaan hilus, corakan bronkovaskuler, dan apakah terdapat lesi
atau tidak. Hilus merupakan tempat keluar masuknya arteri dan vena pulmonalis, bronkus, dan juga
saluran limfe. Normalnya diameter hilus sama dengan diameter trakea. Pada foto rontgen, hilus
memberikan gambaran yang padat. Untuk corakan bronkovaskuler, normalnya hanya terdapat pada
1/3 lapangan paru dari central pada dewasa, sedangkan pada anak hanya 1/4 dari lapangan paru.
Corakan bronkovaskuler yang meningkat dapat menjadi suatu tanda suatu proses perandangan paru
misalnya pada bronkitis, pneumonia, dll. Kemudian lesi pada parenkim paru. Terdapat banyak
gambaran lesi yang mungkin terjadi. Misal pada Tuberkulosis (TB) bisa terdapat gambaran infiltrat,
fibrotik, kavitas, dan lain-lain. Proses TB aktif ditandai dengan adanya lesi kavitas atau infiltat.
Sementara bekas TB lama atau yang sudah tidak aktif lagi bisa tampak gambaran fibrotik berupa
garis-garis radioopaque dengan batas yang tegas. Bisa juga tampak gambaran metastasis pada
parenkim paru dengan adanya bentukan-bentukan lesi yang noduler, milier, koin, cannon ball, dll
(masalah lesi pada parenkim paru buanyakkk sangat,,, lengkapnya silahkan browsing lebih lanjut,
okeh ! )

Selanjutnya jantung, nilai besar dan ukurannya, normal atau tidak. Ukuran bisa kita nilai dengan
menghitung CTR (Cardio Thoracic Ratio), normalnya pada orang dewasa adalah 48%-50%, sedangkan
pada anak-anak sebesar 52%-53%. Cara menghitungnya adalah a + b : c. Jelasnya lihat gambar