Anda di halaman 1dari 22

TUGAS UTILITAS II

MAKALAH
POWER SUPPLAY DAN SISTEM DISRTIBUSI

YOHANES Y. KERAF
221 15 068

DOSEN PENGASUH MATA KULIAH :

- HERMAN HARMANS FLORIANUS ST.,MT.,


- APRIDUS K. LAPENANGGA ST.,MT.,

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
KUPANG
2017

Makalah Utilitas II. 1


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa atasselesainya
makalah yang berjudul Makalah Power Suplay. Atas dukungan moral dan materil yang
diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Apridus K. Lapenangga ST.,MT., dan Bapak Herman Harmans Florianus
ST.,MT., sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tanpa ada halangan yang
berarti sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun dengan tujuan memenuhi tugas perkuliahan. Semoga makalah
ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan bisa menjadi pemacu semangat belajar
tentang power suplay dan spesifikasinya.
Demikian kiranya makalah ini saya buat, makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini
masih terdapat banyak kesalahan. Untuk itu saran dan koreksi sangat saya harapkan, dan
atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Kupang, 14 Oktober 2017

Penyusun

Makalah Utilitas II. 2


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN..............................................4
1.1. Latar Belakang .........................................4
1.2. Rumusan Masalah....................................5
1.3. Batasan Masalah......................................5
1.4. Tujuan dan Sasaran ................................ .5

1.5. Sistematika Penulisan ............................. .5

BAB II : PEMBAHASAN................................................ ..7

2.1. Power Supplay .........................................7


2.1.1 Fungsi power supplay .......................7
2.1.2 Jenis jenis power supplay ..............7
2.2. Kuat arus ..................................................9
2.2.1Tegangan ...........................................10
2.2.2 Daya .................................................11
2.3. Sistem Distribusi .....................................11
2.3.1 Ruang Lingkup Jaringan Distribusi . ... .12
2.3.2 Klasifikasi Menurut NIlai Teganganya.12
2.3.3 Klasifikasi Menurut Jenis Konduktornya.. .13
2.3.4 Klasifikasi Menurut Susunan Salurannya. 13
2.3.5 Klasifikasi Menurut Susunan Rangkainya. ...13
2.3.6 Klasifikasi Menurut Susunan Rangkainya..14
BAB II : PENUTUP .........................................................21

3.1. Kesimpulan ................................................21


3.2. Saran .........................................................21

DAFTAR PUSTAKA ...................................................... .22

Makalah Utilitas II. 3


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan bertambahnya kebutuhan manusia maka teknologi juga akan semakin
berkembang, Fenomena ini akan semakin memacu konsumsi energi listrik. Setiap
kebutuhan manusia banyak menggunakan peralatan - peralatan elektrik yang lebih praktis
dan efisien, sehingga semakin tinggi tingkat konsumsi energi listrik maka pihak PLN
(Pembangkit Listrik Negara) sebagai penyedia energi
listrik dan sebagai pengelola energi kelistrikan nasional memiliki kewajiban memenuhi
kebutuhan energi listrik nasional yang semakin tahun semakin meningkat. Hal tersebut
maka pihak PLN sering melakukan pemadaman listrik secara bergilir. Pemadaman listrik
ini dilakukan karena kapasitas beban sudah melebihi kapasitas yang
telah ditentukan, sehingga pembangkit listrik yang ada tidak mencukupi. Pemadaman
listrik yang dilakukan secara tiba tiba akan menyebabkan peralatan elektronika menjadi
cepat rusak dan pekerjaan (data) yang kita kerjakan akan hilang.
Untuk mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik secara tiba tiba dibutuhkan
suatu sumber energi seperti Power Supply yang dapat mensupply peralatan elektronika
apabila ada gangguan pemadaman energi listrik. Di dalam UPS terdapat rectifier untuk
merubah tegangan
AC to DC, dan terdapat pula buck konverter, buck konverter ini yang memegang peranan
penting untuk mencharger battery, dan outputan battery disambungkan dengan boost
konverter, setelah itu terdapat inverter untuk merubah tegangan DC to AC, dari output
battery yang kemudian disambungkan ke trafo step up untuk menaikan tegangan dari
110Vac ke 220Vac yang kemudian ke beban.
Dengan berkembangnya teknologi UPS, maka alat tersebut diharapkan mampu
memberikan tegangan regulasi yang baik serta mampu memberikan arus yang cukup
kepada beban. Dengan demikian bila terjadi pemadaman listrik secara tiba tiba,
peralatan elektronik tidak mudah rusak dan masih dapat aktif selama beberapa saat.

Makalah Utilitas II. 4


1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengetahui sistem kerja dari power supplay
2. Bagaimana mengetahui suatu kuat arus, tegangan dan daya
3. Bagaimana mengetahui sistem distribusi, skema distribusi vertikal dan skema
distribusi horizontal

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah pada makalah ini adalah :
1. Membahas tentang power supplay, kuat arus, tegangan, daya, sistem distribusi,
skema distribusi vertikal dan skema distribusi horisontal
2. Tidak membahas hal yang tidak menyangkut pembahasan pada makalah ini

1.4 Tujuan dan Sasaran


1. Tujuan
- Agar mengetahui sistem kerja dari power supplay
- Agar mengetahui suatu kuat arus, tegangan dan daya
- Agar mengetahui sistem distribusi, skema distribusi vertikal dan skema distribusi
horizontal
2. Sasaran
- Mengidentifikasi sistem kerja dari power supplay
- Mengidentifikasi suatu kuat arus, tegangan dan daya
- Mengidentifikasi sistem distribusi, skema distribusi vertikal dan skema distribusi
horizontal

1.5 Sistematika Penulisan


Berikut model sistematika penulisan makalah yang dapat dijadikan acuan
penulisan sbb :
i. Cover
ii. Kata Pengantar
iii. Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah

Makalah Utilitas II. 5


3. Batasan Masalah
4. Tujuan dan Sasaran
5. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
1. Materi yang berkaiatan dengan pengetahuan power supplay
2. Materi yang berkaitan dengan pengetahuan kuat arus, tegangan dan daya
3. Materi yang berkaitan dengan pengatahuan sistem distribusi, skema vertikal dan
skema horizontal

BAB II PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran

iv. Daftar Pustaka

Makalah Utilitas II. 6


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Power Supply
Pada dasarnya power supply termasuk dari bagian power conversion. Power
conversion terdiri dari tiga macam :
a. AC/DC power supply
b. DC/DC converter
c. DC/AC inverter
Power supply untuk PC sering juga disebut PSU (Power Supply Unit) PSU termasuk
power conversion AC/DC. Fungsi utamanya mengubah listrik arus bolak balik (AC) yang
tersedia dari aliran listrik ( di Indonesia, PLN) menjadi arus listrik searah (DC)yang
dibutuhkan oleh komponen pada PC.

2.1.1 Fungsi Power Supply


Power supply diharapkan dapat melakukan fungsi berikut ini :
Rectification : konversi input listrik AC menjadi DC
Voltage Transformation : memberikan keluaran tegangan / voltage DC yang sesuai
dengan yang dibutuhkan
Filtering : menghasilkan arus listrik DC yang lebih "bersih", bebas dari ripple
ataupun noise listrik yang lain
Regulation : mengendalikan tegangan keluaran agar tetap terjaga, tergantung
pada tingkatan yang diinginkan, beban daya, dan perubahan kenaikan temperatur
kerja juga toleransi perubahan tegangan daya input
Isolation : memisahkan secara elektrik output yang dihasilkan dari sumber input

Protection : mencegah lonjakan tegangan listrik (jika terjadi), sehingga tidak terjadi
pada output, biasanya dengan tersedianya sekering untuk auto shutdown jika hal
terjadi.

2.1.2 Jenis - Jenis Power Supply


Power Supply adalah sebuah perangkat atau sistem yang memasok listrik atau
energi ke output yang dihubungkan pada beban atau kelompok beban. Perangkat
elektronika mestinya dicatu oleh power supply DC (Direct Current) yang stabil agar dapat
bekerja dengan baik. Baterai adalah sumber power supply DC yang paling baik. Namun
untuk aplikasi yang membutuhkan daya lebih besar, daya dari baterai tidak mencukupi.

Makalah Utilitas II. 7


Sumber daya yang besar adalah sumber arus bolak-balik AC (Alternating Current) dari
PLN. Untuk itu diperlukan suatu perangkat yang dapat mengubah arus AC menjadi arus
DC. Berdasarkan teknik regulasi, terdapat dua jenis power supply yaitu linier regulated
power supply dan switching regulated power supply.
Liniear regulator digunakan sebagai bagian dari power supply sederhana untuk arus
tinggi yang terdiri atas jaringan pembangkit tegangan acuan, jaringan pengendali, dan
komponen elektronika daya. Pembangkit tegangan acuan (Vi) menyediakan tegangan
acuan yang tidak terpengaruh perubahan tegangan masukan dan tidak terpengaruh
perubahan suhu. Bagian kendali terdiri dari jaringan umpan balik dan penguat. Pada
Gambar 2.1 hambatan dari linear regulator bervariasi sesuai dengan hambatan beban
sehingga menghasilkan tegangan output konstan. Liniear regulator menurunkan kelebihan
tegangan dan mengurangi ripple yang dihasilkan dari tegangan input.

Gambar 1.1 Linear Regulator (Rahman, 2007: 3).

Pengaturan tegangan konvensional telah dilakukan oleh linear regulator, namun


perlahan-lahan digantikan dengan switching regulator. Tidak seperti linear regulator,
switching regulated power supply atau yang lebih dikenal dengan switched-mode power
supply (SMPS) adalah power supply elektronik yang dapat menyediakan tegangan
keluaran lebih tinggi atau lebih rendah dari tegangan masukan sesuai dengan kebutuhan
(Pressman, 2009: 10). Pada Gambar 2.2, sebuah switching regulator sederhana yang
berada pada kondisi on dan off pada suatu nilai frekuensi antara 50 Khz sampai 100 Khz
yang diatur pada rangkaian.

Makalah Utilitas II. 8


Gambar 1.2 Rangkaian dasar switching regulator (Rahman, 2007: 4).
Perancang switching,Friedolin Hasian Tampuboion, FT UI, 2010

Pada saat switch tertutup maka IL mengalir dari Vin ke beban ( Rl). Karena terdapat
perbedaan tegangan antara tegangan output ( ) dan tegangan input ( ) maka IL naik. Pada
saat switch terbuka maka energi yang tersimpan di dalam induktor (L) memaksa agar IL
tetap mengalir ke beban dan IL turun. Arus rata-rata yang melewati induktor sama dengan
arus beban. Karena tegangan Vo dijaga konstan oleh kapasitor (C) maka Io akan
konstant. Kondisi ini terus berulang sehingga menghasilkan suatu gelombang yang
periodik dan operasi kerja regulator dalam kondisi steady state.

2.2 Kuat Arus


Pada dasarnya dalam kawat penghantar terdapat aliran elektron dalam jumlah yang
sangat besar, jika jumlah elektron yang bergerak ke kanan dan ke kiri sama besar maka
seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun jika ujung sebelah kanan kawat menarik
elektron sedangkan ujung sebelah kiri melepaskannya maka akan terjadi aliran elektron ke
kanan (tapi ingat, dalam hal ini disepakati bahwa arah arus ke kiri). Aliran elektron inilah
yang selanjutnya disebut arus listrik. Besarnya arus listrik diukur dengan satuan
banyaknya elektron per detik, namun demikian ini bukan satuan yang praktis karena
harganya terlalu kecil. Satuan yang dipakai adalah ampere, dimana
i= dq/dt
1 ampere = 1coulomb/det.
Contoh di bawah ini menggambarkan besarnya arus listrik untuk beberapa
peralatan:
Stasiun pembangkit ................... 1000 A
Starter mobil ................... 100 A
Bola larnpu ................... 1 A
Radio kecil ................... 10 mA
Jam tangan ................... 1 A

Makalah Utilitas II. 9


2.2.1 Tegangan (Volte)
Pada dasarnya akan mudah menganalogikan aliran listrik dengan aliran air. Misalkan
kita mempunyai 2 tabung yang dihubungkan dengan pipa seperti pada gambar 1.1. Jika
kedua tabung ditaruh di atas meja maka permukaan air pada kedua tabung akan sama
dan dalam hal ini tidak ada aliran air dalam pipa. Jika salah satu tabung diangkat maka
dengan sendirinya air akan mengalir dari tabung tersebut ke tabung yang lebih rendah.
Makin tinggi tabung diangkat makin deras aliran air yang melalui pipa.

Gambar 1.3 Aliran air pada bejana berhubungan

Terjadinya aliran tersebut dapat dipahami dengan konsep energi potensial. Tingginya
tabung menunjukkan besarnya energi potensial yang dimiliki. Yang paling penting dalam
hal ini adalah perbedaan tinggi kedua tabung yang sekaligus menentukan besarnya
perbedaan potensial. Jadi semakin besar perbedaan potensialnya semakin deras aliran
air dalam pipa.
Konsep yang sama akan berlaku untuk aliran elektron pada suatu penghantar. Yang
menentukan seberapa besar arus yang mengalir adalah besarnya beda potensial
(dinyatakan dengan satuan volt). Jadi untuk sebuah konduktor semakin besar beda
potensial akan semakin besar pula arus yang mengalir.
Perlu dicatat bahwa beda potensial diukur antara ujung-ujung suatu konduktor.
Namun kadang-kadang kita berbicara tentang potensial pada suatu titik tertentu. Dalam
hal ini kita sebenarnya mengukur beda potensial pada titik tersebut terhadap suatu titik
acuan tertentu. Sebagai standar titik acuan biasanya dipilih titik tanah ( ground ).
Lebih lanjut kita dapat menganalogikan sebuah baterai atau accu sebagai tabung air
yang diangkat. Baterai ini mempunyai energi kimia yang siap diubah menjadi energy listrik.
Jika baterai tidak digunakan, maka tidak ada energi yang dilepas, tapi perlu diingat bahwa
potensial dari baterai tersebut ada di sana. Hampir semua baterai memberikan potensial
Makalah Utilitas II. 10
(tepatnya electromotive force - e.m.f) yang hampir sama walaupun arus dialirkan dari
baterai tersebut.

2.2.2 Daya (Power)


Misalkan suatu potential v dikenakan ke suatu beban dan mengalirlah arus i seperti
diskemakan pada gambar 1.3. Energi yang diberikan ke masing-masing elektron yang
menghasilkan arus listrik sebanding dengan v (beda potensial). Dengan demikian total
energi yang diberikan ke sejumlah elektron yang menghasilkan total muatan sebesar dq
adalah sebanding dengan v dq . Energi yang diberikan pada elektron tiap satuan
waktu didefinisikan sebagai daya ( power ) p sebesar
p= v dq/dt = vi
dengan satuan watt
dimana 1 watt = 1 volt 1 amper

Gambar 1.4 Aliran arus pada beban karena potensial v

2.3 Sistem Distribusi


Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya
listrik besar (Bulk Power Source) sampai ke konsumen.
Jadi fungsi distribusi tenaga listrik adalah:
1) pembagi atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (pelanggan)
2) merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan pelanggan,
karena catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan
distribusi.

Makalah Utilitas II. 11


Berikut ini pengelompokkan sistem tenaga listrik :

Gambar 1.5 Pengelompokkan sistem tenaga listrik

Daerah I : Bagian pembangkitan (Generation)


Daerah II : Bagian penyaluran (Transmission) , bertegangan tinggi (HV,UHV,EHV)
Daerah III : Bagian Distribusi Primer, bertegangan menengah (6 atau 20kV).
Daerah IV : (Di dalam bangunan pada beban/konsumen), Instalasi,bertegangan rendah

2.3.1 Ruang lingkup Jaringan Distribusi


1. SUTM, terdiri dari : Tiang dan peralatan kelengkapannya, konduktor dan peralatan
perlengkapannya, serta peralatan pengaman dan pemutus.
2. SKTM, terdiri dari : Kabel tanah, indoor dan outdoor termination dan lain-lain.

Makalah Utilitas II. 12


3. Gardu trafo, terdiri dari : Transformator, tiang, pondasi tiang, rangka tempat
trafo,panel2, pipa-pipa pelindung,
Arrester, kabel-kabel, peralatan grounding,dan lain-lain.
4. SUTR dan SKTR, terdiri dari: sama dengan perlengkapan/material pada SUTM dan
SKTM. Yang membedakan hanya dimensinya.

2.3.2 Klasifikasi Menurut Nilai Tegangannya


a. Saluran distribusi Primer, Terletak pada sisi primer trafo distribusi, yaitu antara titik
Sekunder trafo substation (Gardu Induk) dengan titik primer trafo distribusi. Saluran ini
bertegangan menengah 20 kV. Jaringan listrik 70 kV atau 150 kV, jika langsung melayani
pelanggan, bisa disebut jaringandistribusi.
b. Saluran Distribusi Sekunder, Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara
titik sekunder dengan titik cabang menuju beban (Lihat Gambar)

2.3.3 Klasifikasi Menurut Jenis Konduktornya


a. Saluran udara, dipasang pada udara terbuka dengan bantuan penyangga (tiang) dan
perlengkapannya, dan dibedakan atas:
- Saluran kawat udara, bila konduktornya telanjang, tanpa isolasi pembungkus.
- Saluran kabel udara, bila konduktornya terbungkus isolasi.
b. Saluran Bawah Tanah, dipasang di dalam tanah, dengan menggunakan kabel tanah
(ground cable).
c. Saluran Bawah Laut, dipasang di dasar laut dengan
menggunakan kabel laut (submarine cable)

2.3.4 Klasifikasi Menurut Susunan (Konfigurasi) Salurannya


1). Saluran Konfigurasi Horisontal

Gambar 1.5 Saluran konfigurasi horizontal

Makalah Utilitas II. 13


2). Saluran Konfigurasi Vertikal

Gambar 1.6 Saluran konfigurasi vertikal

2). Saluran Konfigurasi Delta

Gambar 1.7 Saluran konfigurasi delta

2.3.5 Klasifikasi Menurut Susunan Rangkainnya


1). Rangkaian Jaringan Sistem Distribusi Primer, yaitu:
a. Jaringan Distribusi Radial
Bila antara titik sumber dan titik bebannya hanya terdapat satu saluran (line), tidak
ada alternatif saluran lainnya. Bentuk Jaringan ini merupakan bentuk dasar, paling
sederhana dan paling banyak digunakan. Dinamakan radial karena saluran ini ditarik
secara radial dari suatu titik yang merupakan sumber dari jaringan itu,dan dicabang-
cabang ke titik-titik beban yang dilayani.

Spesifikasi dari jaringan bentuk radial ini adalah:


a). Bentuknya sederhana.(+)
b). Biaya investasinya relatip murah.(+)

Makalah Utilitas II. 14


c). Kualitas pelayanan dayanya relatip jelek, karena rugi tegangan dan rugi daya yang
terjadi pada saluran relatip besar.(-)
d). Kontinyuitas pelayanan daya tidak terjamin, sebab antara titik sumber dan titik beban
hanya ada satu alternatif saluran sehingga bila saluran tersebut mengalami gangguan,
maka seluruh rangkaian sesudah titik gangguan akan mengalami "black out secara total.
(-)
Jaringan distribusi radial ini memiliki beberapa bentuk modifikasi, antara lain:

- Radial tipe pohon


Bentuk ini merupakan bentuk yang paling dasar. Satu saluran utama dibentang
menurut kebutuhannya, selanjutnya dicabangkan dengan saluran cabang (lateral
penyulang) dan lateral penyulang ini dicabang-cabang lagi
dengan sublateral penyulang (anak cabang). Sesuai dengan kerapatan arus yang
ditanggung masing-masing saluran, ukuran penyulang utama adalah yang terbesar,
ukuran lateral adalah lebih kecil dari penyulang utama, dan ukuran sub lateral adalah yang
terkecil.

Gambar 1.8 Radial tipe pohon

- Radial dengan tie dan switch pemisah


Bentuk ini merupakan modifikasi bentuk dasar dengan menambahkan tie dan switch
pemisah, yang diperlukan untuk mempercepat pemulihan pelayanan bagi konsumen,
dengan cara menghubungkan area-area yang tidak terganggu pada penyulang yang
bersangkutan, dengan penyulang di sekitarnya. Dengan demikian bagian penyulang yang
terganggu dilokalisir, dan bagian penyulang lainnya yang "sehat" segera dapat
2 Suhadi, Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 1, 2008, Departemen Pendidikan Nasional Hal.18

Makalah Utilitas II. 15


dioperasikan kembali, dengan cara melepas switch yang terhubung ke titik gangguan,
dan menghubungkan bagian penyulang yang sehat ke penyulang di sekitarnya.

Gambar 1.9 Radial dengan tie dan switch pemisah

- Radial dengan pusat beban


Bentuk ini mencatu daya dengan menggunakan penyulang utama (main feeder)
yang disebut "express feeder" langsung ke pusat beban, dan dari titik pusat beban ini
disebar dengan menggunakan "back feeder" secara radial.

Gambar 1.10 Radial dengan pusat beban


- Radial dengan pembagian phase area
Pada bentuk ini masingmasing fasa dari jaringan
bertugas melayani daerah beban yang berlainan. Bentuk ini akan dapat menimbulkan
akibat kondisi sistem 3 fasa yang tidak seimbang (simetris), bila digunakan pada
daerah beban yang baru dan belum mantap pembagian bebannya. Karenanya hanya
cocok untuk daerah beban yang stabil dan penambahan maupun pembagian bebannya
dapat diatur merata dan simetris pada setiap fasanya.
2 Suhadi, Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 1, 2008, Departemen Pendidikan Nasional Hal.18

Makalah Utilitas II. 16


Gambar 1.11 Radial dengan pembagian phase area

b. Jaringan Distribusi Radial Ring (Loop)


Bila pada titik beban terdapat dua alternatip saluran berasal lebih dari satu sumber.
Jaringan ini merupakan bentuk tertutup, disebut juga bentuk jaringan "loop". Susunan
rangkaian penyulang membentuk ring, yang memungkinkan titik beban dilayani dari dua
arah penyulang, sehingga kontinyuitas pelayanan lebih terjamin, serta kualitas dayanya
menjadi lebih baik, karena rugi tegangan dan rugi daya pada saluran menjadi lebih kecil.

Gambar 1.12 Jaringan distribusi radial

3 Suhadi, Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 1, 2008, Departemen Pendidikan Nasional Hal.21
c. Jaringan Distribusi Jaring-Jaring (Net)

Makalah Utilitas II. 17


Jaringan distribusi ini merupakan gabungan dari beberapa saluran mesh, dimana
terdapat lebih satu sumber sehingga berbentuk saluran interkoneksi. Jaringan ini
berbentuk jaring-jaring, kombinasi antara radial dan loop.

Gambar 1.13 Jaringan distribusi jarring-jaring


Titik beban memiliki lebih banyak alternatip saluran/penyulang, sehingga bila salah
satu penyulang terganggu, dengan segera dapat digantikan oleh penyulang yang lain.
Dengan demikian kontinyuitas penyaluran daya sangat terjamin.

Spesifikasi Jaringan NET ini adalah:


1). Kontinyuitas penyaluran daya paling terjamin.(+)
2). Kualitas tegangannya baik, rugi daya pada saluran amat kecil.(+)
3). Dibanding dengan bentuk lain, paling flexible (luwes) dalam mengikuti pertumbuhan
dan perkembangan beban.(+}
4). Sebelum pelaksanaannya, memerlukan koordinasi perencanaan yang teliti dan rumit.
5). Memerlukan biaya investasi yang besar (mahal) (-)
6). Memerlukan tenaga-tenaga terampil dalam pengoperasiannya.(-)
Dengan spesifikasi tersebut, bentuk ini hanya layak (feasible) untuk melayani daerah
beban yang benar-benar memerlukan tingkat keandalan dan kontinyuitas yang tinggi,
antara lain: instalasi militer, pusat sarana komunikasi dan perhubungan, rumah sakit, dan
sebagainya. Karena bentuk ini merupakan jaringan yang
menghubungkan beberapa sumber, maka bentuk jaringan NET atau jaring-jaring disebut
juga jaringan "interkoneksi".
3 Suhadi, Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 1, 2008, Departemen Pendidikan Nasional Hal.21
d. Jaringan Distribusi Spindle

Makalah Utilitas II. 18


Selain bentuk-bentuk dasar dari jaringan distribusi yang telah ada, maka
dikembangkan pula bentuk-bentuk modifikasi, yang bertujuan meningkatkan keandalan
dan kualitas sistem. Salah satu bentuk modifikasi yang populer adalah bentuk spindle,
yang biasanya terdiri atas maksimum 6 penyulang dalam keadaan dibebani, dan satu
penyulang dalam keadaan kerja tanpa beban.

Gambar 1.14 Jaringan distribusi jarring-jaring

Fungsi "express feeder" dalam hal ini selain sebagai cadangan pada saat terjadi
gangguan pada salah satu "working feeder", juga berfungsi untuk memperkecil terjadinya
drop tegangan pada sistem distribusi bersangkutan pada keadaan operasi normal. Dalam
keadaan normal memang "express feeder" ini sengaja dioperasikan tanpa beban.

2). Rangkaian Jaringan Sistem Distribusi Sekunder, yaitu:


Sistem distribusi sekunder digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik dari gardu
distribusi ke beban-beban yang adadi konsumen. Pada sistem distribusi sekunder bentuk
saluran yang paling banyak digunakan ialah sistem radial. Sistem ini dapat menggunakan
kabel yang berisolasi maupun konduktor tanpa isolasi. Sistem ini biasanya disebut sistem
tegangan rendah yang langsung akan dihubungkan kepada konsumen/pemakai tenaga
listrik dengan melalui peralatan-peralatan sbb:
- Papan pembagi pada trafo distribusi,
- Hantaran tegangan rendah (saluran distribusi sekunder).
-Saluran Layanan Pelanggan (SLP) (ke konsumen/pemakai)

Makalah Utilitas II. 19


- Alat Pembatas dan pengukur daya (kWH. meter) serta fuse atau pengaman pada
pelanggan.
Komponen saluran distribusi sekunder seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 1.15 Jaringan sistem distribusi sekunder

4 Suhadi, Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 1, 2008, Departemen Pendidikan Nasional Hal.24
BAB III

Makalah Utilitas II. 20


PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebuah power supply adalah sebuah perangkat yang memasok energi listrik untuk
satu atau lebih beban listrik. Istilah ini paling sering diterapkan ke perangkat yang
mengkonversi salah satu bentuk energi listrik yang lain, meskipun mungkin juga
merujuk ke perangkat yang mengkonversi energi bentuk lain (misalnya, mekanis,
kimia, surya) menjadi energi listrik. Sebuah catu daya diatur adalah salah satu yang
mengontrol tegangan output atau saat ini untuk nilai tertentu, nilai dikendalikan
mengadakan hampir konstan, meskipun variasi baik dalam beban arus atau
stegangan yang diberikan oleh sumber energi catu daya.

Prinsip kerja power supply : Tegangan jala-jala 220 volt dari listrik PLN diturunkan
oleh trafo atau transformator penurun tegangan yang menerapkan perbandingan
lilitan. Dimana perbandingan lilitan dari suatu transformator akan mempengaruhi
perbandingan tegangan yang dihasilkan. Tegangan yang dihasilkan oleh trafo
masih berbentuk gelombang AC dan harus disearahkan dengan menggunakan
penyearah. Rangkaian penyearah yang digunakan memanfaatkan 4 buah dioda
yang telah dirancang untuk bisa meloloskan kedua siklus gelombang ac menjadi
satu arah saja.

3.2 Saran
Menurut Saya makalah ini masih kurang sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan lebih detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-
sumber yang lebih banyak dan bisa dapat dipertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

Makalah Utilitas II. 21


Pressman, Abraham I. 2009. Switching Power Supply Design ( ed.). New York: Mc Graw Hill.
Suhadi, 2008 Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 1, Departemen Pendidikan Nasional.

Gapsari, F., Sugiarto, & N. Bagus. 2011. Pengaruh Besar Arus Listrik Pada Proses Wire EDM
Terhadap Profile Error Involute Roda Gigi Lurus. Jurnal Rekayasa Mesin, 2(3): 199-204.

Sutrisno. 1986. Elektronika Teori Dasar dan Penerapannya. Bandung: ITB.

Wikipedia.(2010, Juli 24).Switched-mode power supply.April 10,2010.


http://en.wikipedia.org/wiki/Switched-mode_power_supply

Makalah Utilitas II. 22

Anda mungkin juga menyukai