Anda di halaman 1dari 10

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN

KEJURUAN

Makalah Pengumpulan Data untuk Pengembangan Kurikulum


Pendidikan Kejuruan

Oleh :
Farta Wendy Herdianta (17138066)
Tofan Dwi Cahyo (17138046)
Alfiyandri (17138058)

PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN


PROGRAM PASCA SARJANA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
PENGUMPULAN DATA UNTUK PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENDIDIKAN KEJURUAN

A. Pengumpulan Data dan Informasi yang Berkaitan Dengan Sekolah


Pengambilan keputusan dalam merencanakan kurikulum pendidikan harus
mempertimbangkan banyak faktor. Salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh para
perencana kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan adalah school setting atau
pengontrolan sekolah. Hal ini harus diperhatikan mengingat tujuan utama dari proses
pembelajaran di pendidikan teknologi dan kejuruan adalah mempersiapkan siswa untuk
sukses sebagai pekerja atau pegawai yang sukses di dunia kerja. Dalam bab ini
difokuskan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan sistem yang
mempengaruhi proses pembelajaran di sekolah. Beberapa faktor yang yang berkaitan
tersebut yaitu :
1. Status Kejuruan Terkini dan Program Pendidikan Teknik Kejuruan

Program kejuruan dan keteknikan terkini, penerimaan dan kapasitasnya


dimulai dengan penilaian program dengan cara mengindentifikasi dan membuat
daftar pelatihan atau kursus individu yang ditawarkan. Pembuatan daftar pelatihan
ini membantu perencana kurikulum untuk mengeliminasi masalah masalah dalam
pengembangan kurikulum.
Penilaian status kejuruan dibuat dalam bentuk blanko formulir penilaian yang
memungkinkan perencana kurikulum untuk memperjelas dan meringkas gambaran
mengenai kebutuhan program pendidikan kejuruan dan keteknikan dalam dunia
kerja.
Gambar 1. Contoh Blanko Pengumpulan Data Program Kejuruan
2. Tingkat Droupout dan Berbagai Alasan yang Mendasarinya.
Para perencana kurikulum perlu memperhatikan tingkat droupout yang
secara tidak langsung menggambarkan kecenderungan minat dari peserta didik.
Tingkat dropout sangat berhubungan dengan bahasan mengenai minat atau
ketertarikan siswa dalam menetapkan pekerjaan. Ketertarikan atau minat memberikan
motivasi bagi siswa untuk mengenali dan mencari tahu tentang pekerjaan yang akan
ditekuni.
3. Menetapkan Ketertarikan atau Minat pada Pekerjaan
Menilai kecenderungan pada karir ini bisa dilakukan dengan cara melakukan
berbagai tes yang akan mampu menggambarkan minat/ kecenderungan peserta didik
terhadap bidang pekerjaan tertentu. Perencana kurikulum harus membawa data atau
laporan mengenai ketertarikan siswa pada pekerjaan sebagai standar program
Bentuk tes pengumpulan data yang dapat dilakukan antara lain : standardized
achievement test, Standardized Aptitude Test dan Survei. Bentuk tes ini dapat
dilakukan apabila tes memiliki standarisasi yang jelas, standarisasi tes yang biasanya
ditemukan menggambarkan tes sebagai alat ukur harus bersifat reliability yaitu
kemampuan alat ukur atau tes yang memiliki tingkat kesamaan hasil (konsistensi) bila
tes yang dilakukan secara berulang-ulang pada siswa dalam waktu yang berbeda.
Validity yaitu ketepatan atau kesahihan alat ukur dalam melakukan fungsi
pengukurannya.
Standarisasi tes merupakan pendekatan dalam menilai minat pekerjaan siswa,
namun tidak bisa mengidentifikasi secara spesifik pekerjaan apa yang dilakukan
individu kelak. Dalam standarisasi tes terdapat istilah Interest Inventories (Inventaris
Minat), yang membantu siswa memotivasi dan mencari tahu mengenai dirinya lebih
baik serta minat pekerjaan.
Faktor-faktor penggunaan standar inventaris minat bagi siswa dan perencana
kurikulum :
a. Inventaris minat tidak menafsirkan kemampuan, siswa mungkin tertarik pada
suatu pekerjaan tapi tidak memiliki kemampuan.
b. Membantu siswa mengenali minat dalam pekerjaan yang tidak mereka ketahui
c. Membantu siswa memastikan apa yang mereka pikirkan terhadap minat
pekerjaannya.
d. Tidak digunakan sebagai faktor mutlak dalam menilai minat pekerjaan siswa
tetapi harus mempertimbangkan faktor lain seperti pernyataan minat, pengamatan
individu dan aktifitas yang pernah diikuti.
Tes tes yang menunjukan minat pekerjaan siswa, sebagai contoh KIOS
(Kuder Occupational Interest Survey), DAT (Differential Apptitude Test), Carrier
Planning Program, SDS (Self Directed Search), World of Work Inventory dan OVIS
(Ohio Vocational Interest Survey).
Banyak perencana kurikulum telah didukung dengan instruktur melakukan
survei hal ini diperuntukan pada area program yang lebih spesifik, survei digunakan
untuk siswa yang telah terdaftar di program area tertentu, tujuannya untuk membantu
dan mengenali minat yang lebih spesifik di area tersebut.
Penafsiran (interpreting) hasil tes; penafsiran hasil tes dilakukan bila data yang
diperoleh dikelola, diringkas dan dianalisis. Keputusan akhir mencakup dari daftar
program studi sekolah atau kursus yang ditawarkan dalam dunia kerja dan
dihubungkan dengan wawancara siswa-siswa.
4. Ketertarikan dan Perhatian Orang Tua Siswa.
Keterlibatan orang tua siswa menjadi hal yang penting dalam menentukan
program pembelajaran di sekolah. Perhatian orang tua akan sangat mempengaruhi
terhadap pemilihan program pendidikan bagi anak-anaknya. Para perencana
kurikulum perlu selalu memperhatikan masukan dari para orang tua siswa.
5. Keberlanjutan Lulusan / Alumni
Keterserapan para lulusan di pasar kerja merupakan tujuan utama dari program
pendidikan teknologi dan kejuruan, oleh karena itu para perencana kurikulum perlu
memperhatikan faktor ini. Seberapa lama masa tunggu kerja lulusan dan seberapa
banyak lulusan terserap di dunia kerja
Alumni dapat menjadi sumber untuk mengumpulkan informasi tentang
kelebihan dan kelemahan suatu program. Tipe informasi yang dikumpulkan dari
alumni tergantung dari aktifitas apa yang dilakukan siswa sejak lulus dari sekolah.
Pengumpulan informasi dan data di pisah menjadi 2 kategori :
a. Alumni Bekerja atau melanjutkan pendidikan;
1) Desain blanko pengumpulan data untuk alumni yang bekerja informasi yang
dikumpulkan menunjukan bagaimana status pekerjaan, job title dan stabilitas
pekerjaan
2) Ketentuan ketentuan untuk alumni yang melanjutkan pendidikannya
ditunjukan dengan alasan mengapa mereka memilih melanjutkan sekolah
khusus dari jurusannya.
b. Individu dewasa yang terdaftar dalam kelas
Informasi yang dikumpulkan seperti mengapa orang dewasa terdaftar dalam
sekolah dan tujuan apakah yang akan dicapai setelah menyelesaikan sekolah,
serta standar lulusan kejuruan dalam pekerjaan dihubungkan dengan pelatihan
atau melanjutkan sekolah.

Gambar 2. Blanko Pengumpulan Data Alumni


6. Proyeksi Pasar Kerja dan Penerimaan Masa Depan
a. Data Masyarakat
Sebagian besar perencanaan dimulai dengan mempertimbangkan
penerimaan siswa disekolah saja, namun data tentang rasio kelahiran juga
berpengaruh bagi perencana kurikulum tentang penerimaan dimasa depan.
Pencarian data dan jawaban dilakukan melalui sensus data yang mungkin telah
mencegah situasi pelonjakan penerimaan siswa disekolah.
b. Proyeksi Penerimaan di Sekolah
Perencana kurikulum terus menjaga perpindahan populasi dalam
masyarakat, perampingan industri, tingkat pengangguran dan faktor lain yg
berpengaruh pada masyarakat dan sekolah.
Jadi, Para perencana kurikulum perlu memperhatikan kecenderungan pasar dunia
kerja pada masa yang akan datang. Kecenderungan ini akan dipengaruhi oleh berbagai
faktor, diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya adalah
perkembangan teknologi informasi akan menuntut untuk membuka program studi
baru misalnya ICT atau pembelajaran perlu diorientasikan dengan memanfaatkan
teknologi tersebut.
7. Penilaian Terhadap Ketersediaan Fasilitas
Dalam konteks pendidikan teknologi dan kejuruan, fasilitas memegang
peranan penting. Dengan fasilitas yang memadai akan sangat menunjang terhadap
proses pembelajaran. Output lulusan yang ditujukan untuk bekerja mengindikasikan
fasilitas yang idealnya sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang ada.
Mencari input dari masyakat melalui kemitraan dan usaha kolaborasi,
keterlibatan orangtua, lingkungan bisnis, industri dan publik akan membantu dalam
membangun program pendidikan yang tidak hanya diperuntukan bagi siswa tapi juga
masyarakat sekitar.
Input dari masyarakat bisa berfokus pada perekomendasian fasilitas, alat dan
kelengkapan, konten kurikulum, program-program yang ditekankan, material
instruksional dan elemen asosiasi program kejuruan.
B. Pengumpulan Data dan Informasi yang Berkaitan dengan Masyarakat
1. Keadaan Masyarakat
yang dimaksud perkembangan masyarakat di sini antara lain keadaan geografis
dimana sekolah tersebut berada, kecenderungan jumlah penduduk, dan nilai-nilai
yang berlaku di masyarakat.
a. Keadaan Geografis; perencana kurikulum menilai program pekerjaan yang
tersedia untuk siswa, dan membutuhkan pertimbangan pada lokasi geografis
sekolah dimana perencana kurikulum menilai permintaan tenaga kerja yang
dipengaruhi oleh permintaan masyarakat dan dunia kerja.
b. Kecenderungan Jumlah penduduk; imigrasi mampu meningkatkan penerimaan
sekolah dan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan permintaan pendidikan
kejuruan. Salah satu metode menetapkan kecenderungan populasi ini dengan
menggunakan sensus data. Perencana kurikulum mempelajari indikator dari
populasi seperti penerimaan sekolah, usaha kecil, bisnis atau industri baru di
area tertentu.
c. Tujuan atau nilai dalam masyarakat; tujuan dari masyarakat dapat berupa
menurunkan angka pengangguran, memberikan kualifikasi tertentu pada
tenaga kerja untuk memperluas area perusahaan, memberikan kesempatan
pendidikan bagi siapa saja terutama wanita dan memberikan pelatihan bagi
yang tidak bekerja. Perencana kurikulum harus membawa masalah ini dalam
menetapkan dan pengambilan keputusan untuk pengembangan kurikulum. Jika
perencana kurikulum menemukan tujuan masyarakat yang belum ada maka
langkah yang diambil adalah dalam penetapan keputusan bekerja sama dengan
masyarakat.
Jadi, langkah yang penting bagi perencana kurikulum adalah mengumpulkan data
yang aktual, perencana kurikulum bekerja sama dengan kemitraan seperti agensi,
perusahaan, masyarakat, individu dan kelompok lainnya untuk melengkapi data
yang diperlukan.
2. Arah dan Proyeksi Bidang Ketenagakerjaan
Meliputi bidang-bidang pekerjaan yang muncul sesuai dengan perkembangan
ilmu dan teknologi. Pengumpulan data oleh perencana kurikulum dapat diidentifikasi
melalui komisi pekerja/pegawai. Komisi pekerja menilai pegawai dalam menemukan
pekerjaan dan membantu mencari pekerjaan yang diperlukan, lalu data dari komisi
pekerja di identifikasi oleh perencana kurikulum. Tujuannya untuk mengetahui
peluang dunia kerja yang dapat dimasuki oleh siswa siswa dari perkembangan
teknologi yang ada.
3. Proyeksi dan Keseimbangan Tenaga Kerja
Para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini ,dengan harapan
jumlah lulusan yang dihasilkan disesuaikan dengan jumlah pekerjaan yang ada
sehingga tidak terjadi pengangguran.
Permasalahan bagi perencana kurikulum adalah ketepatan dan jaminan
terhadap penerimaan tenaga kerja dalam dunia industri, situasi ini berupa siswa tidak
mendapatkan pekerjaan karena perencanaan penerima tenaga kerja diluar batas.
Namun perencana kurikulum harus memiliki beberapa pendekatan yang berbeda
ketika mempersiapkan penilaian ketenagakerjaan.
a. Survei Pegawai/Pekerja; perencana kurikulum menggunakan pendekatan ini
dengan tujuan mengetahui batas penerimaan tetap pegawai. Pengumpulan data
akan mendukung dalam penetapan dan membangun pengembangan kurikulum.

Gambar 3. Contoh Survei Pegawai


b. Perhitungan (Extrapolation); pendekatan ini merencanakan penerimaan tenaga
kerja di masa depan didasari dari asumsi atau anggapan tentang penerimaan dimasa
lalu dengan kecenderungan penerimaan saat ini yang akan memberikan indikasi
tentang apa yang akan terjadi pada penerimaan di masa depan.
c. Isyarat Pemasaran Tenaga Kerja; konsep ini didasari alasan perubahan yang terjadi
antara suplai pemasaran pekerja dengan tenaga kerja yang dibutuhkan, tanda
perubahan ini dapat diamati dari perubahan yang sedang berlangsung. Perubahan
ini di analisis untuk menetapkan dampak tenaga kerja yang ada dengan suplai yang
dibutuhkan.
d. Lowongan Pekerjaan; pendekatan ini untuk memprediksi lowongan pekerjaan yang
ada dalam masyarakat diperuntukan bagi tenaga kerja. Pendekatan ini cukup kuat
tergantung dari informasi yang diperoleh dan dihimpun oleh agensi pegawaian
negeri. Perencana kurikulum dengan mudah dapat menyusun berdasarkan prioritas
yang lebih penting atau berdasarkan jumlah lowongan. Alasan penyusunan
lowongan pekerjaan ini dipakai sebagai pertimbangan pengembangan kurikulum,
dari lowongan pekerjaan bisa didapatkan data program kejuruan seperti apa yang
dibutuhkan oleh dunia kerja.
4. Penilaian Proyeksi Persediaan Tenaga Kerja
Penambahan suplai tenaga kerja diperoleh dari alumni atau lulusan program
kejuruan, perpindahan penduduk seperti tenaga kerja cenderung mencari pekerjaan
didaerah perkotaan yang tingkat kebutuhan kerja den ekonominya lebih tinggi,
pergantian pekerjaan, lulusan pada program pendidikan nonkejuruan dan pendatang
baru. Perencana kurikulum dapat mengumpulkan data melalui agensi kepegawaian
negeri terkaitan dengan banyaknya suplai tenaga kerja terhadap jumlah lowongan
pekerjaan yang dibutuhkan di dunia kerja.
DAFTAR PUSTAKA

Finch C.R and Crunkilton R. (1999). Curriculum Development in Vocational and Technical
Education (5th Ed) London: Allyn and Bacon, Inc

Widia Isma. Laporan Buku Model Pengembangan Kurikulum. Ebook (diakses tanggal 2
Oktober 2017)