Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

ORGANISASI MULTINASIONAL

DISUSUN OLEH:

FIMAN AFAIT (A31114502)

INDAH CHAERUNNISA (A31114520)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2016

1|Page
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 28 November 2016

Penyusun

2|Page
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... 2

DAFTAR ISI..................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................. 4


B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 4
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Organisasi Multinasional ........................................................................... 6


B. Perbedaan Budaya ...................................................................................... 6
C. Harga Transfer ........................................................................................... 8
D. Nilai Tukar Mata Uang ............................................................................ 15

BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 21

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 22

3|Page
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar praktik-praktik untuk pengendalian operasi di luar negeri memiliki
kesamaan dengan pengendalian operasi domestik. Proses perencanaan dan pengendalian
umumnya dapat diterapkan kepada organisasi multinasional, tetapi mereka harus disesuaikan
dengan konteks organisasi ini. Sebagai contoh, operasi di luar negeri dapat diorganisir
sebagai pusat pengeluaran, pusat pendapatan, pusat keuntungan, bahkan sebagai pusat
investasi berikut pertimbangan yang menentukan pilihan dari tipe-tipe tertentu pusat
tanggung jawab, yang dalam banyak hal, adalah sama dengan operasi domestik. Akan tetapi
terdapat satu perbedaan penting, yaitu jika operasi di luar negeri tersebut merupakan pusat
pengeluaran atau pusat laba untuk tujuan pengendalian, kerap kali ini merupakan pusat laba
untuk tujuan akuntansi. Banyak operasi di luar negeri merupakan entitas legal, yang didirikan
di negara tuan rumah, dan oleh karena itu mereka harus memelihara seperangkat catatan
akuntansi yang lengkap untuk kepentingan hokum dan perpajakan.
Terdapat tiga masalah khusus dalam organisasi global: perbedaan kebudayaan,
harga transfer, dan perbedaan nilai tukar mata uang.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari organisasi multinasional?
2. Bagaimana perbedaan budaya dapat mempengaruhi organisasi secara global?
3. Bagaimana harga transfer dapat mempengaruhi organisasi multinasional?
4. Bagaimana nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi organisasi multinasional?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
1. Memahami pengertian dari organisasi multinasional.
2. Mengetahui perbedaan budaya dapat mempengaruhi organisasi global.

4|Page
3. Mengetahui harga transfer dapat mempengaruhi organisasi multinasional.
4. Mengetahui nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi organisasi global.

5|Page
BAB II

PEMBAHASAN

A. Organisasi Multinasional
Organisasi multinasional yaitu suatu perusahaan yang berbasis di satu negara
(negara induk) akan tetapi perusahaan itu memiliki kegiatan produksi ataupun pemasaran
cabang di negara-negara lain (negara cabang). Organisasi multinasional adalah perusahaan
yang beroperasi di dua atau lebih Negara. Ini menjadi fenomena yang dominan dalam
hubungan internasional saat ini terkait dengan adanya globalisasi perdagangan dan
perkembangan perekonomian dunia. Dalam hal perkembangan perekonomian domestik suatu
negara, memiliki pengaruh yang signifikan sebab keberadaan organisasi multinasional pada
suatu negara menjadi salah satu penyumbang pajak tertinggi bagi pendapatan suatu negara
sekaligus bagi perkembangan ekonominya.
Organisasi multinasional adalah bentuk korporasi baru yang tidak dapat dihindari
sebagai sebuah konsekuensi logis dari adanya globalisasi itu sendiri. Organisasi
multinasional merupakan wujud dari perdagangan modern dimana profit merupakan orientasi
utama dari keberadaan setiap organisasi multinasional di suatu negara.

B. Perbedaan Budaya
Salah satu variabel kontekstual yang penting yang memengaruhi pengendalian manajemen di
dalam sebuah perusahaan multinasional adalah perbedaan budaya antarnegara. Menurut
definisinya, sebuah organisasi multinasional akan beroperasi di banyak negara dan harus siap
menghadapi perbedaan budaya seiring dengan koordinasi dan pengendalian yang dilakukan
oleh kantor pusat terhadap anak-anak perusahaannya. Baik dalam konteks sebuah organisasi
atau suatu bangsa, kata budaya akan merujuk kepada nilai-nilai, asumsi dan norma perilaku
yang diakui bersama. Ketika sebuah organisasi merentangkan operasinya melintasi berbagai
negara, perbedaan budaya yang sangat besar yang berkaitan dengan karakter nasional dan

6|Page
regional yang ada; mempunyai hubungan yang penting dengan pengendalian manajemen.
Menurut Hofstede, budaya dapat berbeda pada empat dimensi:
1. Jangkauan kekuasaan merujuk kepada sejauh mana kekuasaan didistribusikan dan
dipusatkan secara tidak seimbang. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang tinggi
termasuk Filipina, Venezuela, dan Meksiko. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang
rendah termasuk Israel, Denmark, dan Austria.
2. Individualism/kolektivisme merujuk kepada sejauh mana seseorang mendefinisikan
dirinya sendiri sebagai seorang individu atau sebagai bagian dari kelompok yang lebih
besar. Budaya individualistik yang tinggi termasuk Amerika Serikat, Australia, dan
Inggris. Budaya kolektivitas yang tinggi termasuk Saudi Arabia, Venezuela, dan Peru.
3. Menghindari ketidakpastian merujuk sampai sejauh mana seseorang akan merasa
terancam oleh situasi yang tidak menentu. Budaya penghindaran ketidakpastian tertinggi
termasuk Jepang, Portugal, dan Yunani. Budaya penghindaran ketidakpastian terendah
termasuk Singapura, Hongkong, dan Denmark.
4. Maskulinitas/feminitas merujuk kepada sampai sejauh apakah pengaruh yang dimiliki
oleh salah satu dari kedua nilai dominan tersebut berupa penekanan ketegasan dan
materialism (maskulin) versus perhatian pada orang lain dan kualitas hidup
(feminin). Contoh dari budaya maskulin tinggi termasuk Austria, Swiss, dan Italia.
Budaya feminin yang tinggi termasuk Swedia, Norwegia, Belanda, dan Denmark.

Skema klasifikasi lain diusulkan oleh Hall. Menurut pendapatnya kebudayaan


berbeda satu sama lain dalam spektrum yang dimulai dari budaya berkonteks rendah pada
satu sisi (Jerman, Swiss, Skandinavia, Amerika Utara, Inggris) dimana orang langsung
melaksanakan bisnisnya dan bernegosiasi seefisien mungkin, hingga ke budaya berkonteks
tinggi pada sisi yang lain (Cina, Korea, Jepang, Saudi Arabia) dimana orang berusaha
membangun hubungan pribadi sebelum melakukan bisnis dan negosiasi berjalan dengan
lambat dan bersifat ritual.

Beberapa kesimpulan dapat ditarik mengenai jenis sistem perencanaan dan system
pengendalian yang akan lebih efektif di dalam budaya yang berbeda. Pada budaya
individualistis karyawan mungkin lebih menyukai imbalan berdasarkan prestasi individu,
sedangkan imbalan yang berdasarkan kelompok mungkin lebih disukai oleh karyawan di

7|Page
dalam budaya kebersamaan. Dalam budaya dengan jangkauan kekuasaan yang rendah,
desentralisasi dalam pengambilan keputusan dan kesempatan berpartisipasi yang lebih besar
pada penyiapan anggaran mungkin lebih disukai. Sedangkan hal yang sebaliknya mungkin
berlaku di dalam budaya dengan jangkauan kekuasaan yang tinggi. Evaluasi performa kinerja
subjektif akan lebih efektif pada budaya penghindaran ketidakpastian yang rendah daripada
yang tinggi. Sistem perencanaan dan pengendalian formal akan diterima dengan lebih baik di
dalam budaya berkonteks rendah, sedangkan di dalam budaya berkonteks tinggi, membangun
keakraban dan kepercayaan antarpersonal dirasakan sangat penting sehingga pengendalian
secara informal kemungkinan besar akan lebih efektif.

Para eksekutif di dalam organisasi multinasional harus memahami dan


menghormati perbedaan budaya dan menyesuaikan pengendalian manajemen antarnegara.

C. Harga Transfer
Harga transfer untuk barang, jasa, dan teknologi merupakan salah satu dari perbedaan besar
yang terjadi antara pengendalian manajemen operasi domestik dan luar negeri. Dalam operasi
luar negeri, dibutuhkan beberapa pertimbangan penting lainnya untuk dapat sampai kepada
suatu harga transfer. Pertimbangan-pertimbangan tersebut termasuk perpajakan, peraturan
pemerintah, tarif, pengendalian devisa, akumulasi dana, dan joint venture.
Perpajakan
Tingkat pajak penghasilan efektif dapat memiliki perbedaan yang sangat jauh di masing-
masing negara-negara asing. Sistem harga transfer yang memungkinkan pengalihan
keuntungan ke negara-negara dengan tingkat pajak yang rendah dapat mengurangi jumlah
pajak penghasilan perusahaan yang digabungkan dari seluruh dunia.
Peraturan Pemerintah
Jika tidak diatur oleh pemerintah, perusahaan akan menetapkan harga transfer untuk
meminimalkan laba kena pajak di negara-negara dengan tingkat pajak penghasilan yang
tinggi. Namun demikian, otoritas pajak pemerintah menyadari adanya kemungkinan ini
dan mengeluarkan peraturan yang menentukan bagaimana harga transfer dapat dihitung.
Tarif

8|Page
Tarif sering kali dipungut berdasarkan presentase tertentu dari nilai impor suatu produk.
Semakin rendah harganya semakin rendah pula tarif yang akan dikenakan. Timbulnya
tarif biasanya memiliki hubungan terbalik dengan timbulnya pajak pendapatan di dalam
harga transfer. Merskipun tarif untuk barang-barang yang dikirimkan ke suatu negara
tertentu akan lebih rendah jika harga transfernya juga rendah, keuntungan yang dicatat di
negara itudan karenanya pajak penghasilan lokal atas labaakan ikut tinggi. Jadi, efek
bersih dari faktor-faktor ini harus ikut diperhitungkan dalam menentukan harga transfer
yang tepat. Karena pajak penghasilan umumnya memiliki jumlah yang lebih besar
daripada tarif, harga transfer internasional biasanya lebih banyak didasarkan pada pajak
penghasilan daripada tarif.
Pengendalian Devisa
Beberapa negara membatasi jumlah devisa yang tersedia untuk mengimpor beberapa
komoditas tertentu. Dalam kondisi ini, harga transfer yang lebih rendah memungkinkan
anak perusahaan untuk memasukkan komoditas tersebut dalam jumlah yang lebih besar.
Akumulasi Dana
Perusahaan mungkin ingin mengakumulasikan dananya di satu negara tertentu daripada
di negara lain. Harga transfer adalah salah satu cara untuk mengalihkan dana tersebut ke
dalam atau ke luar negara tertentu.
Joint Venture
Joint venture memberikan komplikasi tambahan dalam harga transfer. Andai kata sebuah
perusahaan AS mempunyai operasi joint venture di Jepang dengan perusahaan local
Jepang. Jika induk perusahaan AS membebankan harga lebih tinggi bagi komponen yang
dikirimkan ke Jepang, mitra joint venture Jepang kemungkinan besar akan menolak harga
tersebut karena harga itu akan memperkecil laba operasinya dan mengakibatkan bagian
keuntungan dari mitra joint venture Jepang tersebut juga semakin kecil.
Penggunaan Metode Harga Transfer
Pertimbangan Hukum
Hampir semua negara melakukan beberapa pembatasan pada fleksibilitas
perusahaan dalam menetapkan harga transfer untuk transaksi dengan anak-anak
perusahaan di luar negeri. Alasannya adalah untuk mencegah perusahaan
multinasional melakukan penghindaran pajak penghasilan di negara tuan rumah.

9|Page
Peraturan yang berhubungan dengan pengenaan pajak multinasional
mungkin akan mengalami perubahan sebagai konsekuensi adanya penyalahgunaan.
Saat ini, peraturan untuk Amerika Serikat pada dasarnya dipaparkan dalam Section
482 dari Internal Revenue Code (Undang-undang Perpajakan AS). Umumnya,
Section 482 memcoba untuk memastikan bahwa transaksi-transaksi finansial antara
unit-unit dari wajib pajak yang sepengendali (perusahaan yang dapat mengendalikan
transaksi yang terjadi antara pusat keuntungannya di dalam negeri dan luar negeri)
diselenggarakan seakan-akan unit-unit tersebut merupakan wajib pajak yang tidak
sepengendali (entitas independen yang melakukan transaksi satu sama lain secara
sesuai dengan prinsip ekonomi yang wajar (arms length). Jika timbul perselisihan,
Section 482 mengizinkan Internal Revenue Service (Kantor Pajak AS) menghitung
apa yang dianggap sebagai harga transfer yang paling tepat, dan selanjutnya
perusahaan menanggung beban untuk membuktikan bahwa harga yang dihitung
tersebut adalah tidak wajar. Hal ini berbeda dengan kebanyakan ketetapan dari
Internal Revenue Code yang memperkenankan perusahaan memilih apa saja alternatif
yang diizinkan yang diinginkannya dan meletakkan beban pembuktian kepada
Internal Revenue Service (Kantor Pajak AS) untuk memperlihatkan bahwa metode
perusahaan tersebut tidak dapat diterima.
Section 482 memberikan aturan-aturan untuk menentukan harga transfer
pada penjualan antaranggota dari kelompok yang sepengendali. Metode-metode harga
antarperusahaan sepengendali yang dapat diterima, disusun menurut prioritasnya dari
yang paling penting adalah sebagai berikut:
1. Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali. Harga yang wajar dapat
dipastikan dari penjualan barang atau jasa yang dapat diperbandingkan antara
perusahaan multinasional dan pelanggan yang tidak memiliki hubungan istimewa,
atau antara dua perusahaan yang masing-masing tidak saling memiliki hubungan
istimewa. Hal-hal yang dapat mempengaruhi harga adalah antara lain, kualitas
produk, syarat penjualan, tingkat pasar, dan wilayah geografis di mana jenis
barang tersebut dijual; tetapi untuk diskon jumlah, penyisihan promosi dan
kerugian khusus yang disebabkan oleh perbedaan nilai tukar mata uang dan
selisih kredit tidak diperhitungkan.

10 | P a g e
2. Metode harga jual kembali. Dalam metode ini, wajib pajak bekerja mundur dari
harga penjualan final pada saat kekayaan yang dibeli dari perusahaan afiliasi
dijual kembali dalam sebuah penjualan tidak sepengendali. Harga jual kembali ini
dikurangi dengan presentase keuntungan (markup) yang semestinya berdasarkan
penjualan tidak sepengendali oleh afiliasi yang sama atau oleh penjual lain yang
menjual barang yang sama di pasar yang dapat diperbandingkan. Presentase
markup dari pesaing dan rata-rata industri juga dapat membantu dalam kaitannya
dengan hal ini. Peraturan meminta metode ini digunakan jika (1) jika tidak
tersedia penjualan tidak sepengendali yang sebanding, (2) penjualan kembali
dilakukan dalam jangka waktu yang wajar sebelum atau sesudah pembelian
antarperusahaan sepengendali, (3) penjualan kembali tidak menambahkan nilai
yang berarti kepada barang yang bersangkutan dengan mengubahnya secara fisik,
selain dari kemasan, label, dan seterusnya, atau dengan penggunaan atau
pemanfaatan kekayaan yang tak berwujud (intangible property).
3. Metode biaya-plus. Menurut metode ini, yang menjadi prioritas terendah di antara
ketiga metode yang diuraikan, titik awal untuk menentukan harga yang wajar
adalah biaya untuk memproduksi produk, dihitung menurut praktik akuntansi
yang benar. Ke dalam biaya ini ditambahkan laba kotor yang wajar yang
dinyatakan dalam presentase tertentu dari biaya dan didasarkan pada penjualan
tidak sepengendali yang serupa yang dilakukan oleh pihak penjual, atau penjual
lain, atau tingkat yang berlaku untuk industri tersebut.

Gambaran skematis ketiga metode ini adalah sebagai berikut:

1. Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali:


Harga transfer = Harga yang digunakan dalam penjualan tidak sepengendali
yang sebanding Penyesuaian
Dalam penjualan sepengendali, transaksi yang terjadi adalah antara dua anggota
kelompokn sepengendali. Dalam penjualan tidak sepengendali, salah satu pihak
bukan anggota kelompok sepengendali.
2. Metode harga jual kembali:

11 | P a g e
Harga transfer = Harga jual kembali yang berlaku Markup yang memadai
Penyesuaian
Harga jual kembali yang berlaku adalah harga di mana aktiva yang dibeli melalui
penjualan sepengendali, dijual kembali oleh pembeli dalam penjualan yang tidak
sepengendali.
Markup yang memadai = Harga jual kembali yang berlaku * Presentase markup
yang wajar
Presentase markup yang wajar = Presentase dari laba kotor (diekspresikan dalam
presentase dari penjualan) yang didapatkan oleh
pembeli (atau penjual kembali) atau pihak lain
di dalam sebuah pembelian dan penjualan
kembali yang tidak sepengendali yang serupa
dengan penjualan kembali sepengendali.
3. Metode biaya-plus:
Harga transfer = Biaya + Markup memadai Penyesuaian
Markup yang memadai = Biaya * Presentase laba kotor yang memadai
Presentase laba kotor yang memadai = Presentase laba kotor (diekspresikan
dalam presentase dari biaya) yang
diperoleh oleh penjual kembali atau
pihak lain pada penjualan tidak
sepengendali yang sama dengan
penjualan sepengendali.
Implikasi dari Section 482
Dari sudut pandang pengendalian manajemen, terdapat dua implikasi penting dari
Section 482, yang masing-masing dibahas dibawah ini:
1. Meskipun terdapat pembatasan hukum terhadap fleksibilitas perusahaan dalam
menentukan harga transfer, namun masih terdapat cukup ruang gerak di dalam
pembatasan ini.
2. Dalam situasi tertentu, pembatasan hukum dapat mendikte jenis-jenis harga
transfer yang harus diterapkan.

Ruang Gerak dalam Harga Transfer

12 | P a g e
Di banyak perusahaan multinasional terdapat perbedaan antara harga
transfer yang murni akan digunakan oleh manajemen hanya untuk tujuan
pengendalian dan harga transfer yang secara hukum diperkenankan untuk
meminimalkan akibat dari dampak jumlah pajak dan tarif. Manajemen dapat
meminimalkan jumlah pajak penghasilan dan tarif dengan menetapkan harga transfer
sejauh mungkin dari ujung rangkaian yang memadai. Terdapat dua kebijakan ekstrem
dalam menangani masalah ini yaitu:

1. Beberapa perusahaan mengizinkan anak perusahaan berurusan satu sama lain


sesuai dengan prinsip ekonomi yang wajar dan membiarkan dampak akibat pajak
serta tarif apa adanya. Dengan kebijakan ini, tak ada lagi keraguan tentang
legalitas harga transfer karena anak perusahaan mencoba melakukan hal ini sesuai
dengan yang diminta oleh peraturan yang berlakumelakukan transaksi secara
wajar. Dengan kebijakan ini, kebijakan harga transfer untuk negara asing pada
pokoknya akan sama dengan harga transfer untuk domestik. Akibatnya, sistem
harga transfer akan mendukung sistem pengendalian manajemen. Namun pada
sisi yang lain, kebijakan ini dapat menghasilkan total biaya yang lebih tinggi.
2. Harga transfer untuk negara asing dapat hamir seluruhnya dikontrol oleh kantor
pusat perusahaan dengan maksud untuk meminimalkan biaya total perusahaan,
memaksimalkan arus kas dalam dolar atau memperoleh kombinasi yang optimum
untuk posisi mata uang. Akan tetapi, kebijakan semacam ini dapat sangat
membatasi kegunaan sistem pengendalian, karena dalam keadaan tertentu harga
transfer tersebut tidak berhubungan dengan harga yang berlaku jika unit-unit yang
melakukan pembelian dan penjualan adalah independen.

Salah satu kemungkinan adalah menyesuaikan laba untuk tujuan evaluasi


internasional agar merefleksikan harga-harga pasar yang kompetitif. Sebagai contoh,
total perbedaan antara harga aktual yang dibebankan dengan harga-harga yang tidak
mempertimbangkan pajak dapat ditambahkan kepada pendapatan anak perusahaan
yang menjual dan biaya anak perusahaan yang membeli ketika laporan anggaran
keuntungan dianalisis. Akan tetapi, hal ini adalah praktik yang dapat dipertanyakan
dan hanya sedikit perusahaan yang menggunakannya. Jika diminta, perusahaan akan

13 | P a g e
diharuskan untuk mengungkapkan penyesuaian-penyesuaian ini kepada Internal
Revenue Service, dan keberadaannya dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan
tentang keabsahan harga transfer yang dipergunakan untuk tujuan perpajakan

Banyak perusahaan yang menggunakan harga transfer untuk


meminimalkan pajak dan tarif menggunakan harga transfer yang sama untuk
persiapan anggaran keuntungan dan pelaporan sebagaimana yang digunakan untuk
tujuan akuntansi dan perpajakan. Anggaran yang disetujui merefleksikan segala
ketidakseimbangan yang ditimbulkan oleh harga transfer. Sebagai ilustrasi, anak
perusahaan yang menjual lebih rendah dari harga normal dapat mengalami rugi sesuai
anggaran. Jika laporan atas kinerja aktual menunjukkan bahwa kerugian anak
perusahaan ternyata lebih kecil dari yang dianggarkan, maka kinerjanya dapat
dianggap memuaskan, dengan catatan hal yang lain tetap sama. Singkatnya, harga
transfer akan dipertimbangkan dalam baik penyiapan anggaran maupun analisis hasil-
hasilnya.

Jika anggaran dan laporan laba merefleksikan harga transfer yang tidak
ekonomis, kehati-hatian harus diambil untuk memastikan para manajer anak
perusahaan membuat keputusan yang terbaik bagi kepentingan perusahaan.

Pembatasan Hukum dalam Sistem Harga Transfer

Dalam beberapa situasi, pembatasan hukum dapat meminta digunakannya sistem


harga transfer tertentu, atau sebuah sistem transfer yang disukai untuk tidak
digunakan. Dalam situasi yang lain, pendekatan full cost yang implisit dapat
membatasi kemampuan perusahaan untuk mentransfer beberapa produk kurang dari
full costnya. Contoh, departemen pemasaran ingin memperkenalkan produk baru
dalam pasar pada harga yang lebih rendah dari harga normalnya, bahkan mungkin
tidak cukup tinggi untuk menutupi full cost tersebut.

Kepentingan Minoritas
Sewaktu-waktu kepentingan minoritas ikut terlibat, fleksibilitas manajemen puncak
dalam mendistribusikan laba antara anak-anak perusahaan dapat sangat dibatasi
karena pihak minoritas mempunyai hak hukum untuk memperoleh pembagian laba

14 | P a g e
yang adil di perusahaan. Dalam kasus ini, anak perusahaan harus sebisa mungkin
melakukan transaksi secara wajar.

D. Nilai Tukar Mata Uang


Arus kas perusahaan multinasional didominasikan dalam beberapa mata uang dimana nilai
setiap mata uang relatif kepada nilai dolar akan berbeda seiring dengan perbedaan waktu.
Variasi ini memperumit masalah pengukuran kinerja anak perusahaan dan para manajernya.
Lebih spesifik lagi, perusahaan multinasional memiliki eksposur akibat translasi, transaksi,
dan ekonomi perubahan nilai tukar.
Nilai Tukar
Nilai tukar adalah harga dari sebuah mata uang jika dibandingkan dengan mata
uang yang lainnya. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah unit dari mata uang
negara induk perusahaan yang diperlakukan untuk membeli satu unit mata uang asing
(penawaran langsung) atau sejumlah unit mata uang asing yang diperlukan untuk
membeli satu unit mata uang induk perusahaan (penawaran tidak langsung).
Nilai tukar yang biasanya ditawarkan disebut nilai tukar nominal. Nilai tukar spot
adalah nilai tukar nominal yang berlaku pada satu hari tertentu. Nilai tukar riil adalah
nilai tukar spot setelah penyesuaian perbedaan inflasi antara dua negara yang dihitung.
Ada juga nilai tukar forward yaitu, nilai tukar hari ini yang dapat digunakan menjadi
dasar penyelesaian suatu transaksi yang terjadi di suatu waktu di masa depan.
Apabila menggunakan penawaran langsung, jika jumlah dolar yang dibutuhkan
untuk membeli satu unit mata uang asing mengalami kenaikan, maka dolar tersebut
dikatakan telah mengalami depresiasi realtif terhadap mata uang asing; sedangkan
peristiwa kebalikannya disebut dengan apresiasi.
Berbagai Jenis Eksposur Nilai Tukar
1. Eksposur translasi atas nilai tukar adalah eksposur dari neraca dan laporan laba rugi
perusahaan multinasional terhadap perubahan yang terjadi di dalam nilai tukar
nominal. Hal ini dikarenakan adanya fakta bahwa perusahaan multinasional harus
mengonsolidasikan pembukuan mereka dalam satu mata uang (biasanya mata uang

15 | P a g e
negara induk perusahaan), meskipun arus kas mereka didenominasi dalam banyak
mata uang.
2. Eksposur transaksi adalah eksposur nilai tukar yang dimiliki oleh perusahaan untuk
transaksi-transaksi antarnegaranya ketika transaksi semacam itu dicatat hari ini tetapi
penyelesaian pembayarannya dilaksanakan di kemudian hari. Selama masa dimana
pembayaran atau komitmen penerimaannya masih belum dilakukan, nilai tukar
nominal dapat berubah dan menimbulkan adanya risiko pada nilai dari transaksi.
Contoh transaksi semacam ini termasuk piutang, kewajiban dan utang atau
pembayaran bunga yang belum dilaksanakan dalam mata uang asing.
3. Eksposur ekonomi adalah eksposur nilai tukar atas arus kas perusahaan terhadap
perubahan nilai tukar riil. Eksposur ekonomi juga disebut eksposur operasional atau
eksposur kompetitif terhadap nilai tukar.
Pilihan Metrik dalam Evaluasi Kinerja
Dalam survey perusahaan-perusahaan multinasional, Choi dan Czechowich
mengemukakan bahwa hampir semua responden memiliki sistem evaluasi kinerja yang
membandingkan aktual terhadap anggarannya dalam menilai kinerja anak perusahaan.
Pada dasarnya, terdapat tiga kemungkinan pemilihan metrik dalam penetapan dan
pelacakan anggaran: nilai tukar yang berlaku pada saat anggaran ditentukan (nilai tukar
awal), nilai tukar yang diproyeksikan pada saat anggaran ditentukan (nilai tukar yang
diproyeksikan), atau nilai tukar aktual yang berlaku pada saat anggaran dilacak (nilai
tukar akhir). Terdapat 9 kemungkinan kombinasi metrik dalam menentukan dan melacak
anggaran seperti pada gambar di bawah ini.

Menelusuri Anggaran
Awal Proyeksi Akhir
Awal 1 2 3
Mempersiapkan Proyeksi 4 5 6
Anggaran
Akhir 7 8 9

*Pemilihan metrik dalam evaluasi kinerja.

16 | P a g e
Namun demikian tidak semua 9 sel tersebut layak dipergunakan; hanya 5 sel yang
diberi garis bawah yang layak. Yang jelas-jelas layak terdiri dari 3 sel dimana anggaran
ditetapkan dan dilacak dengan menggunakan metrik yang sama (awal ke awal, sel 1;
proyeksi ke proyeksi, sel 5; akhir ke akhir, sel 9). Demikian pula dengan menetapkan
anggaran dengan menggunakan nilai tukar awal dan melacaknya dengan menggunakan
nilai tukar akhir (sel 3), dan menentukan dengan menggunakan nilai tukar proyeksi dan
melacak pada nilai tukar akhir (sel 6). Namun bagaimanapun, tidaklah logis jika
menetapkan anggaran pada nilai tukar akhir dan melacak aktualnya dengan menggunakan
nilai tukar awal atau nilai tukar proyeksi (mengesampingkan sel 7 dan 8). Begitu pula
memproyeksikan nilai tukar dalam menetapkan anggaran dan kemudian melacaknya
dengan nilai tukar yang berlaku di awal (mengesampingkan sel 4).
Efek Translasi
Manajer anak perusahaan tidak perlu ambil pusing terhadap keputusan-keputusan
strategis dan operasional (seperti penetapan harga dan sumbernya) untuk merespon
perubahan nilai tukar. Selain itu, perubahan nilai tukar seluruhnya berada di luar kendali
manajer anak perusahaan. Oleh karena itu, terlihat cukup adil jika para manajer anak
perusahaan dianggap tidak perlu mempertanggung-jawabkan dampak dari translasi.
Ketika perusahaan memberikan laporannya kepada para pemegang saham,
mereka harus mengonsolidasikan angka-angka akuntansi dari induk perusahaan. Laba
dan rugi akibat translasi yang ditimbulkan dari konversi neraca dan laporan laba rugi
anak perusahaan di luar negeri ke dalam unit moneter dari induk perusahaan seharusnya
tidak memengaruhi evaluasi kinerja dari manajer anak perusahaan.
Eksposur Ekonomi
Ketika anak perusahaan memiliki transaksi antarnegara, mereka juga akan
menjadi subjek dari eksposur ekonomi. Sebuah sistem pengendalian yang secara efektif
menangani eksposur ekonomi, memiliki perbedaan cara yang fundamental dari yang telah
kita uraikan untuk eksposur translasi. Dalam eksposur ekonomi, hal ini merupakan suatu
hal yang tepat bagi sistem pengendalian untuk mengevaluasi manajer anak perusahaan
atas keputusan-keputusan yang seharusnya memungkinkan anak perusahaan merespon
perubahan yang terjadi pada nilai tukar riil. Kita akan menjelaskan bagaimana ini

17 | P a g e
dilakukan dengan mempertimbangkan dua tipe generik dari anak perusahaan
multinasional:
1. Importir murni adalah anak perusahaan yang menjual sebagian besar produknya di
dalam negaranya sendiri, tetapi mengimpor sebagian besar barang mentahnya dari
luar negeri (baik itu dari anak perusahaan lain atau dari anak perusahaan luar).
2. Eksportir murni adalah anak perusahaan yang menjual kebanyakan produknya ke luar
negeri (baik kepada anak perusahaan lain maunpun kepada anak perusahaan luar
lainnya), tetapi membeli sebagian besar bahan mentahnya di dalam negara tersebut.
Efek Transaksi
Pendekatan dasar dalam menangani eksposur transaksi adalah dengan
menggunakan strategi lindung nilai mata uang asing yang tepat. Lindung nilai (hedging)
adalah transaksi-transaksi yang dapat menurunkan kemungkinan risiko yang
berhubungan dengan arus kas di masa depan. Dalam prosesnya, perusahaan yang
membeli instrumen lindung nilai mengalihkan risiko kepada entitas yang menjual
instrumen tersebut, biasanya adalah bank komersial dalam kasus untuk pasar valuta. Dan
jasa semacam itu sudah pasti membutuhkan biaya.
Lindung nilai adalah praktik yang berlaku umum di banyak perusahaansebagai
contoh, kapan saja perusahaan membeli asuransi, secara tidak langsung perusahaan
tersebut telah melakukan transaksi lindung nilai internasional, dan hal itu dipergunakan
sebagai cara untuk mengatasi efek dari eksposur transaksi. Terdapat banyak cara
melakukan lindung nilai atas eksposur transaksi. Untuk memberikan ilustrasi yang
sederhana yaitu: jika sebuah perusahaan Amerika menjual produknya kepada perusahaan
Prancis dengan harga yang dinyatakan dalam franc Prancis, ia dapat secara bersamaan
membeli hak untuk membeli franc Prancis dengan nilai tukar yang sama seperti jika
terjadi pada tanggal di masa depan di mana piutangnya akan jatuh tempo. Jika perusahaan
tersebut mengalami rugi transaksi di dalam penjualan, maka ia akan mendapatkan
keuntungan yang sama melalui lindung nilai. Teknik lindung nilai yang lain meliputi
penggunaan pasar opsi dan menyamakan aktiva/pasiva dan pendapatan/pengeluaran
dengan mata uang yang sama. Teknik lindung nilai yang umum, menggunakan pasar
transaksi forward dan masa depan, juga pasar opsi valuta asing.

18 | P a g e
Transaksi lindung nilai mungkin paling baik dilakukan pada tingkat induk
perusahaan, daripada memberikan izin kepada masing-masing anak perusahaan untuk
melakukannya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini dilakukan yaitu:
1. Di banyak perusahaan multinasional terdapat utang dan piutang di berbagai bagian
dari keseluruhan perusahaan yang tentu saja dapat melakukan lindung nilai satu sama
lain, jika informasi atas semua transaksi semacam itu dikumpulkan dan ditangani
melalui satu lokasi pemusatan. Hal ini akan mengurangi biaya transaksi yang
berhubungan dengan lindung nilai.
2. Induk perusahaan mungkin mempunyai akses yang lebih luas (dan mungkin lebih
canggih) terhadap berbagai jenis instrumen lindung nilai, dengan jangka waktu jatuh
tempo yang lebih lama, daripada yang biasanya dimiliki oleh anak perusahaan.
3. Tidak ada alasan untuk menduga bahwa manajer dari anak perusahaan dapat
meramalkan nilai tukar secara lebih baik daripada bendahara korporat; bahkan, induk
perusahaan mungkin tidak menginginkan para manajer anak perusahaan melakukan
lindung nilai, Karena hal ini dapat menimbulkan risiko menjadikan para manajer anak
perusahaan menjadi spekulan nilai tukar.

Jadi dari perspektif evaluasi kinerja, membuat para manajer anak perusahaan
bertanggung jawab atas efek transaksi adalah tidak diperlukan.

Kinerja Anak Perusahaan


Sejauh ini, kita telah mengusulkan bahwa adalah penting untuk membedakan
antara kinerja ekonomi anak perusahaan dan kinerja manajernya, dan pedoman-pedoman
yang dibicarakan atas semata-mata hanya menangani pengisolasian dampak nilai tukar
terhadap kinerja manajer anak perusahaan. Hal ini penting untuk disadari bahwa kinerja
ekonomi anak perusahaan itu sendiri harus merefleksikan akibat-akibat negatif atau
positif atas eksposur translasi, eksposur transaksi, dan eksposur ekonomi.
Pertimbangan Manajemen
Dalam mendesain sistem evaluasi kinerja anak perusahaan multinasional, perusahaan
dapat menggunakan pedoman-pedoman berikut ini:
1. Para manajer anak perusahaan seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab
terhadap efek translasi. Cara mudah untuk mencapai tujuan ini adalah

19 | P a g e
membandingkan anggaran terhadap hasil aktual dengan menggunakan metrik yang
sama dan mengisolasi efek yang berhubungan dengan inflasi melalui analisis varian.
Tidak ada gunanya bagi manajer untuk khawatir tentang metrik yang tepat.
Perusahaan multinasional hendaknya memilih metrik yang dianggap lebih mudah
untuk digunakan.
2. Efek transaksi paling baik ditangani melalui koordinasi terpusat dari kebutuhan
lindung nilai perusahaan multinasional secara keseluruhan. Hal ini kemungkinan
besar akan jauh lebih murah dan sederhana, dan dapat mencegah anak perusahaan
menjadi peramal dan spekulan nilai tukar.
3. Manajer anak perusahaan harus bertanggung jawab terhadap efek ketergantungan dari
nilai tukar yang diakibatkan oleh eksposur ekonomi.
4. Evaluasi anak perusahaan sebagai basis dari pengambilan keputusan untuk
menentukan lokasi operasi di sebuah negara atau merelokasi operasi dari sebuah
negara seharusnya merefleksikan konsekuensi-konsekuensi dari adanya eksposur
translasi, eksposur transaksi, dan eksposur ekonomi.

20 | P a g e
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan:

Dari sudut pandang pengendalian manajemen, terdapat tiga topik yang unik bagi
perusahaan multinasional yaitu: perbedaan budaya, harga transfer, dan nilai tukar. Sebagai
tambahan dari kesesuaian tujuan, dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan penting lainnya untuk
memperoleh harga transfer pada perusahaan multinasional yaitu: perpajakan, peraturan
pemerintah, tarif, pengendalian nilai tukar luar negeri, akumulasi dana, dan joint venture.

Sebuah evaluasi atas kinerja ekonomi anak perusahaan sebaiknya menggabungkan


konsekuensi negatif atau positif dari eksposur translasi, eksposur transaksi, dan eksposur
ekonomi. Akan tetapi, selagi mengevaluasi kinerja manajer yang berwenang dari anak
perusahaan, efek dari eksposur translasi dan transaksi harus di hilangkan. Meskipun demikian,
manajer anak perusahaan harus dapat mempertanggung jawabkan efek-efek ketergantungan dari
nilai tukar yang diakibatkan eksposur ekonomi.

21 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Robert N. Anthony, dan Vijay Govindarajan. 2005. Management Control System. Jakarta:
Salemba Empat.

22 | P a g e