Anda di halaman 1dari 18

10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Lainnya Blog Berikut Buat Blog Masuk

Geologi
Kamis, 29 Oktober 2015 Mengenai Saya
agus turino
"geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma
Ikuti 63

Lihat profil lengkapku


Topik 4
A.Teori Tentang unsur kimia magma Arsip Blog
Sebelum membahas tentang unsur kimia magma sebelumnya alangkah baiknya kita Oktober (2)
mengetahui terlebih dahulu mengenai asal-usul magma,Condie (1982) menyebukan bahwa Februari (1)

kebanyakan kemunculan magma dihasilkan dibatas lempeng, kecuali pada sesar transform November (1)
Oktober (1)
yang bilamanapun ada dihasilkan magma dalam jumlah sedikit. Lingkungan dimana
September (2)
magma dihasilkan dapat dikelompokkan ke dalam lingkungan tepi lempeng (plate margin)
Agustus (1)
dan bagian tengah lempeng (intraplate) yang didalamnya dapat dibagi lagi menjadi tujuh
Juni (1)
tataan tektonik lempeng (tabel 1.1). Dipihak lain Wilson (1989) menjelaskan bahwa Mei (2)
lingkungan tataan tektonik pembentuk magma meliputi tepi lempeng konstruktif, tepi
lempeng destruktif, tataan bagian tengah lempeng samudra dan tataan bagian tengah
lempeng benua (tabel 1.2). selain itu McBirney (1984) memberikan perkiraan angka
kecepatan pembentukan magma (km3 per tahun) didalam lingkungan-lingkungan tektonik
yang berbeda-beda tersebut (tabel 1.3). tampak bahwa kecepatan pembentukan magma pada
batuan plutonik jauh lebih cepat (29,5 km3/tahun) dibanding pada batuan gunung api (4,1
km3/tahun) untuk masing-masing lokasi tataan tektoniknya.
Magma adalah cairan ataularutan silika pijar yang terbentuk secara ilmiah,terbentuk akibat
mencairnya batuan di dalam bumi sehingga menghasilkan panas. Magma memiliki suhu
antara 900 1200 0C dan bersifat mobile atau mudah bergerak dan terbentuk atau berasal
dari kerak bumi bagian bawah hingga selubung bumi bagian atas.
Pada dasarnya distrubusi magma tampak berhubungan denga tegasan tektonik didalam
kerak maupun dimantel bagian atas seperti yang digambarkan oleh Ringwood (1969;
Gambar 1.1). lingkungan tegasan ekstensif seperti punggungan samudera, cekungan tepi
lautan dan regangan benua dicirikan oleh seri magma tholeit, atau dalam hal ini diregangan
benua dicirikan oleh vulkanisme bimodal yang meliputi seri magma tholeit dan seri magma
alkali. Jalur subduksi/penekukan diasosiasikan dengan dominasi tegasan kompresif yang
menghasilkan seri magma kapur alkali. Daerah dengan tegasan minor (kompresif atau
ekstensif) seperti cekungan samudera adalah daerah kraton/atau inti benua dicirikan oleh
seri magma tholeit atau seri magma alkali.
Telah dijelaskan dimuka bahwa sebagian besar pembentukan magma berlangsung pada
batas lempeng litosfer seperti yang sering dijumpai di punggungan tengah samudera, busur
kepulauan dengan bagian tepi benua aktif yang merupakan batas-batas persentuhan
lempeng. Namun demikan pembentukan magma juga berlangsung secara terpisah-pisah
menempati bagian tengah lempeng yaitu pusat-pusat magmatisme yang bersumber dari hot
spot. Seperti yang ditunjukkan gambar 1.1. diatas, bahwa lokasi hotspot terletak didekat
punggungan samudera, bagian tengah lempeng samudera dan berada pada lempeng-
lempeng benua. Berdasarkan hal itu maka diperkirakan magma yang membentuk kerak
samudera dipunggungan tengah samudera berasal dari peluburan bagian paling atas

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 1/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

astenosfer, sedangkan yang membangun pulau-pulau samudera (Hawaii) berasal dari


peluburan bahan dibagian dalam mantel bumi.

Description:
http://4.bp.blogspot.com/-9y_i0xTpB_4/UWQLqh0aFaI/AAAAAAAABXE/JJnSgm8vZ0o/s1600/ngeo14
39-f1.jpg
Batasan tersebut diatas adalah berdasarkan sifat fisik magma,maka secara kimia-
fisika,magma adalah sistem komponen ganda (multi component system)dengan fasa cairan
dan sejumlah Kristal yang mengapung didalamnya magma tersebut sebagai komponen
utama,disamping fasa gas pada keadaan tertentu.Beberapa batasan dan hipotesis magma
telah diberikan oleh para ahli seperti Grout (1947),Turner dan Verhoogen (1960),dan
Taneda (1970),dll.

Hipotesis magma primer menurut Dally (1933).


1. .Magma yang terisolasi pada earth-shell,bersifat heterogen dan dapat dikatakan mewarisi
keadaaan bumi semula.Kemudian dengan adanya pengaruh tekanan relief yang memadai
akan menghasilkan apa yang disebut liqua faqtion secara setempat dan berasal dari bahan
habluran.Pencairan batuan dapat dipengaruhi oleh tenaga panas yang diakibatkan gesekan
karena deformasi (deformation) & peluruhan mineral radioaktif.surutnya gas secara
setempat juga akan menyebabkan terpisahnya magma,pada umumnya magma jenis ini
mengggambarkan suatu lidah cair yang terperas keatas dari asalnya yang jauh didaerah
habluran dibawah permukaan bumi.
2. Magma yang bersifat homogeny,misalnya basalt habluran ataun eglokit yang
meleleh,perubahan balastic durovitreous menjadi liqua vitreous akibat surutny gas secara
setempat,basaltan yang tepat vitreous kecuali pada bagian upper shell dimana bahan telah
menghablur,peridotit habluran dan karena pelelehan setempat akan mengakibatkan
terjadinya cairan basaltan,serta liqua vitreous peridotit .
3. Magma primer tanpa spesifikasi awal,yaitu magma granitic dan magma basaltic.
Magma adalah bahan induk batuan beku.Lava adalah magma yang keluar melalui lubang
pada gunung api.kebanyakan magma membeku dibawah permukaan dan bahan yang
terakhir saja yang dapat terlihat yaitu batuan beku.Magma diartikan sebagai bahan batuan
yang melebur,mengandung fasa uap yang menguap sewaktu membeku,dalam proses ini
memaikan proses yang sangat penting dalam arah pembentukan hablur.
Menurut Bunsen magmaprimer terdiri dari dua jenis yaitu granit dan basalt,dan batuan
beku yang mengandung campuraedahn batuan.Batuan beku yang terdapat dibumi ini
kebanyakan bisa dimasukan kedalam kedua jenis batu ini yaitu granit dan basalt.

UNSUR KIMIA MAGMA


Senyawa kimiawi magma,yang dianalisis melalui hasil konsolidasinya dipermukaan
dalam bentuk batuan gunung api,dapat dikelompokan menjadi :
1. Senyawa-senyawa volatile yang terutama terdiri dari fase gas,seperti CH4 ,CO2, HCL,
H2S, SO2,NH3,dll. Komponen ini akan mempengaruhi magma antara lain :
a. Kandungan volatile,khususnya H2O,akan menyebabkan pecahnya ikatan Si-O-Si yang
akan mempengaruhi inti Kristal,apabila nilai viskositas magma ini rendah,maka difusi akan
bertambah dan pertumbuhan Kristal akan terjadi.

b. Kandungan volatile khususnya H2O,akan mempengaruhi suhu kristalisasi sebagian fase


mineral. Pada beberapa jenis magma fase mineral yang menghablur akan berubahsehingga
terjadi penyimpangan terhadap reaksi Bowen.

c. Volatile dalam magma menentukan besarnya tekanan selama proses naiknya magma
kepermukaan.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 2/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

d. Unsur unsur tersebut akan mempengaruhi jenis kegiatan gunung api seperti terbentuknya
piroklastik,awan panas dan sebagainya disamping tekstur dan bentuk Kristal seperti lubang-
lubang gas.

e. Unsur-unsur volatile akan mempengarusi prose pemisahan unsur-unsur tersebut dari


magma. Apabila tekanan total lebih besar dari tekanan air dalam magma dengan catatan
landaian tekanan rata-rata dalam bumi adalah 0,28 k bar/km,maka uap air tidak akan
terbentuk.

2. Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile dan merupakan unsur-unsur oksida dalam
magma. Jumlahnya yang mencapai 99% isi,sehingga merupakan mayor element,terdiri dari
oksida-oksida SiO2,Al2O3,FE2O3 ,FeO ,MnO ,MgO ,CaO, Na2O ,K2O,TiO2,dan P2O5.
3. Unsur lain yang disebut unsur jejak atau trace element,dan merupakan minor
element,seperti Rubidium (Rb), Barium (Ba), Stronsium (Sr), Nikel (Ni),Cobalt (Co)
,Vanadium (V),Croom (Cr),Lithium (Li),Sulphur (S),dan Plumbun (Pb). Unsur-unsur ini
terdapat tidak sebagai oksida dan tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk penggolongan
magma, unsur-unsur ini sangat membantu dalam menentukan genesa magma,seperti halnya
kandungan Sr dan Pb dalam basalt samudra yaitu mencirikan asalnya dari selubung
bumi.gejala pelelehan sepihak (partial melting) akan mengkonsentrasikan isotope.
Sedangkan pelelehan selubung bumi yang menhasilkan magma primer basaltic ditunjukan
oleh perbandingan Sr87/Sr86 > 0,704 dan Pb206/Pb204 < 18,6 . lava basaltic dari lantai
samudra akn memiliki nilai perbandingan K/Rb tinggi (Charmichael,1974). Sedangkan
basalt benua mengandung Ni, Cr dan Co yang lebih rendah dari yang dikandung oleh lantai
samudra (Ringwoad,1975)
Komposisi gas gunungapi dalam persen isi,ternyata berbeda untuk semua jenis batuan
dan gunungpi,seperti yang terlihat dalam table (Mc.Donald,1972).
Kandungan 1 2 3 4
Co2 21,40 46,20 40,90 10,10
Co 0,80 0,70 2,40 2,00
H2 0,90 0,03 0,80 0,20
So2 11,50 14,30 4,40 -
S2 0,70 0,00 - 0,50
So3 1,80 38,80 - -
Cl2 0,10 0,00 - 0,40
F2 0,00 0,00 - 3,30
HCL - - - -

N dan Gas jarang 10,10 16,60 8,30 0,90

H2O 52,70 71,40 43,20 82,50

B. Teori tentang Susunan kimia dan komposisi mineral batuan beku


Menurut Hulburt (1977) Pembagian batuan beku berdasarkan komposisi ini telah lama
menjadi standar dalam geologi, dan di bagi dalam empat golongan yaitu :

a. Batuan Beku Asam

Termasuk golongan ini bila batuan beku tersebut mengandung silika (SiO2) lebih dari
66%.contoh batuan ini dalah Granit dan Ryolit. Batuan yang tergolong kelompok ini
mempunyai warna terang (cerah) karena (SiO2) yang kaya akan menghasilkan batuan
dengan kandungan kuarsa, dan alkali feldspar dengan atau tanpa muskovit.
b. Batuan Beku Menengah (intermediat)

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 3/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Apabila batauan tersebut mengandung 52 66% silika maka termasuk dalam kelas ini.
Batuan ini akan berwarnagelap karena tingginya kandungan mineral feromagnesia. Contoh
batuan ini adalah Diorit dan Andesit.

c. Batuan Beku Basa


Yang termasuk kelompok batuan beku ini adalah bataun yang mengandung 45 52% silika.
Batuan ini akan memiliki warna hitam kehijauan karena terdapat kandungan mineral
olivine. Contoh batuan ini adalah Gabbro dan Basalt.

d. Batuan Beku Ultra Basa

Golongan batuan beku ini adalah apabila bataun beku mengnadung 45% SiO2 . Warna
batuan ini adalah hijau kelam karena tidak terdapat silika bebas sebagai kuarsa. Contoh
batuan ini adalah Peridotit dan Dunit.

B. Teori tentang Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Mineralogi


Analisa kimia batuan beku itu pada umumnya memakan waktu, maka sebagian
besar klasifikasi batuan beku berdasarkan atas susunan mineral dari batuan itu. Mineral-
mineral yang biasanya dipergunakan ialah mineral kuarsa, plagioklas, potassium feldspar
dan foid untuk mineral felsik. Sedangkan untuk mafik mineral biasanya mineral amphibol,
piroksen, dan olivine (Graha 1987).

Klasifikasi yang didasarakan atas mineralogi dan tekstur akan lebih dapat mencerminkan
sejarah pembentukan batuan daripada atas dasar komposisi kimia. Tekstur batuan beku
adalah mengambarkan keadaan yang mempengaruhi pembentukan batuan itu sendiri.
Seperti tekstur granular memberi arti akan keadaan yang serba sama, sedangkan tekstur
porfiritik memberikan artibahwa terjadi dua generasi pembentukan mineral. Dan tekstur
afanitik mengambarkan pembekuan yang cepat (Graha, 1987).

Klasifikasi batuan beku yang dibuat oleh Russell B Travis (1955), dalam klasifikasi ini
tekstur batuan beku yang didasrkan pada ukuran butir mineralnya dapat dibagi menjadi:

a. Batuan Dalam

Bertekstur faneritik yang berarti mineral-mineral menyusun batuan tersebut dapat dilihat
dengan mata biasa tanpa bantuan alat pembesar.

b. Batuan Gang bermasa dasar faneritik

Bertekstur porfiritik dengan masa dasar faneritik.

c. Batuan Gang bermasa dasar afanitik

Bertekstur porfiritik dengan masa dasar afanitik.

d.Batuan Lelehan

Bertekstur afanitik, dimana individu mineralnya tidak dapat dibedakan atau dilihat dengan
mata biasa.

C. Teori tentang Pengelompokan batuan beku secara kimia

Dalam siklus Batuan (Rock cycle), selain terbentuk langsung dari pembekuan
magma, batuan beku dapat juga terbentuk dari batuan lain seperti batuan metamorf yang
megalami peleburan dan pembekuan, lalu dapat juga terbentuk dari batuan sedimen yang
telah mengalami melting lalu mendingin menjadi batuan beku.
Jika magma adalah awal dari terbentuknya batuan beku, maka seharusnya komposisi batuan
tidaklah jauh berbeda dengan komposisi asalnya, yaitu magma. Magma adalah cairan atau
larutan silikat pejar yang terbentuk secara alamiah, bersifat mudah bergerak (mobile),
bersama antara 90-110C dan berasal atau terbentuk pada kerak bumi bagian bawah
hingga selubung bagian atas (F.F Grounts,1947; Turner&Verhoogen,1960;

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 4/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

H.Williams,1962). Secara fisika, magma merupakan sistem berkomponen ganda (multi


compoent system) dengan fase cair dan sejumlah kristal yang mengapung di dalamnya
sebagai komponen utama, dan pada keadaan tertentu juga berfase gas.
Dally (1933) berpendapat bahwa magma asli bersifat basa dan encer atau memiliki
viskositas rendah, dengan kandunganunsur kimia berat, kadar H+, OH-, dan gas tinggi,
sedangkan magma yang bersifat asam memiliki sfat-sifat yang berlawanan dengan magma
basa.
Bunsen (1951), berpendapat bahwa ada 2 jenis magma, yaitu magma Basaltis (basa) dan
magma Granitis (asam). Dan batuan beku merupakan hasil pembekuan dari salah satu jenis
atau pencampuran kedua jenis magma ini yang kemudian mempunyai komponen lain.
Komponen-komponen kima yang terdapat dalam magma tentunya sangat berkaitan
denngan komposisi akhir batuan beku yang terbentuk. Secara lebih jauh, sebenarnya
magma dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan kandungan-kandungan
unsur kimia tertentu, namun pada akhirnya pada proses pembekuan magma menjadi batuan
beku mengalami proses-proses yang tiidak jauh berbeda. Proses-proses yang terjadi pada
saat pembekuam magma secara kimiawi adalah terjadinya proses pengelompokan unsur-
unsur kimia sejenis, yang nantinya akan membentuk kristal atau mineral-mineral tertentu
sesuai dengan sifatnya, asam atau basa. Proses ini dapat dijelaskan secara diagramatik
dalamBowens Reaction Series.

Bowens Reaction Series


Pada seri reaksi Bowen ini sacara garis besar menjelaskan bahwa pada saat proses
pendinginan magma, sebenarnya magma tidak langsung semuanya membeku, namun
terjadi proses pembentukan mineral-mineral seiring dengan turunnya suhu magma secara
perlahan, dan pada tiap penurunan suhu tertentu menghasilkan jenis mineral yang berbeda.
Mineral-mineral yang terbentuk pertama, seperti Olivine, Anortit, dan lain-lain, merupaka
mineral-mineral yang bersifat basa, memiliki kristal besar karena proses pembekuan yang
lambat, serta secara lebih jauh batuan beku yang mengandung mineral-mineral bersifat basa
ini juga akan bersifat basa. Sedangkan mineral-mineral yang terbentuk di akhir reaksi
Bowen, seperi Muscovite dan Quartz merupakan mineral yang bersifat asam. Dan dari seri
reaksi Bowen, semakin asam mineral, maka kandungan unsur-unsur silikanya semakin
banyak. Jadi, salah satu komponen yang diperhitungkan dalam pengklasifikasian batuan
beku secara kimiawi dapat dilihat dari kandungan unsur silika dalam batuan dan karena
secara kimiawi unsur-unsur terdapat dalam mineral, maka batuan beku juga diklasifikasikan
berdasarkan mineralogi yang sebenarnya merupakan representasi lebih kompleks dari
pengklasifikasian berdasarkan komposisi kimianya. Selanjutnya, kahadiran mineral-mineral
tertentu dalam batuan beku ini mempengaruhi pemberian nama serta memberikan gambaran
proses pembentukan, serta menggambarkan komposisi kima batuan.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 5/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Berdasarkan sifat kimianya, secara umum batuan beku di kelompokkan dalam4 jenis
kelompok seperti berikut:
1. Batuan beku asam (acid), kandungan silika > 65%
Granit : faneritik atau faneroporfiritik, berwarna cerah
Ryolit : seperti granit namun bertekstur afanitik atau porfiroafanitik, merupakan
batuan lelehan granit.
2. Batuan beku intermediet, kandungan silika 52% - 66%.
Diorit : faneritik atau faneroporfiritik, berwarna abu abu hingga abu abu gelap.
Andesit : seperti Diorit namun bertekstur afanitik atau porfiroafanitik, merupakan
batuan lelehan Diorit
3. Batuan beku basa, kandungan silica 45% - 52%
Gabro : faneritik atau faneroporfiritik, berwarna abu abu gelap hingga hitam
Basalt : seperti Gabro namun bertekstur afanitik atau porfiroafanitik, merupakan
batuan lelehan Gabro
4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan silika < 15%
Dunite : berkomposisi olivin hampir 100%
Peridotite : berkomposisi olivin dominan dengan pyroxene
Piroksenit : berkomposisi piroksen hampir 100%

Senyawa-senyawa oksida seperti SiO2, TiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, MgO, CaO,
Na2O, K2O,H2O, dan P2O5 yang terkandung dalam mineral dapat digunakan sebagai acuan
untuk mengklasifikasikan batuan beku berdasarkan kandungan kimianya. Analisis kimia
batuan dapat digunakan sebagai jalan untuk menentukan bagaimana pembentukan magma,
pendugaan temperatur dankedalaman magma asal. Saat akan menganalisis komposisi kimia
pada batuan beku, syarat utama batuan beku tersebut dapat dianalisis adalah bahwa sampel
batuan haruslah segar dan tidak lapuk, karena proses-proses seperti pelapukan atau ubahan
dapat mengubah komposisi kimia batuan.
Kandungan senyawa kima batuan ekstrusi identik dengan batuan intrusinya, asalkan dalam
1 kelompok. Perbedaan yang ada hanyalah tempat pembentukannya saja yang
mengakibatkan perbedaan tekstur batuan, seperti ukuran butir mineral dan derajat
kristalisasi.
Tabel Kesamaan Senyawa Kimia dari Batuan Intrusi dan Batuan Ekstrusi Yang Masih
Dalam Satu Kelompok
Batuan Intrusi Batuan Ekstrusi
Granit Riolit
Syenit Trachyte
Diorit Andesit
Tonalit Dasit
Monzonit Latite
Gabro Basalt

D. Evolusi unsur kimia magma


1. Proses Pembentukan Magma

Description: http://4.bp.blogspot.com/-XGIY4QNrc-
w/UTG1Rawz4eI/AAAAAAAAAL8/rGr3rK2Y8cQ/s1600/magma.jpg

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 6/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Para ahli geologi dan vulkanologi bahwa panas bumi berasal dari proses pembusukan
mineral radioaktif. Pada unsur radioaktif yang terkandung pada suatu mineral, pada saat
unsur tersebut meluruh (desintegration) menjadi unsur radioaktif yang susunannya lebih
stabil, akan mengeluarkan sejumlah bahan (tenaga) panas yang mampu melelehkan batuan
disekitarnya.

Secara teoritik, zat radioaktif akan semakin berkurang, pada kedalaman yang semakin
besar. Dari pemahaman seperti ini pula maka lahir beberapa istilah yang berhubungan
dengan suhu dan kedalaman. Landaian panas bumi normal (geothermal gardien) adalah
istilah yang menerangkan bertambah besarnya suhu apabila kita susun hingga kedalaman
tertentu, yakni sekitar 3oC/100 m. Sedangkan besarnya derajat geothermal normal
(geothermal degree) adalah 1o C/33 m 1o C/45 m. Variasi derajat geothermal ini
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain; kondisi batuan, proses hidrokimia batuan,
kerja air tanah, kerja air permukaan dan konsentrasi mineral radioaktif. Secara teoritis
semakin kearah inti bumi, derajat geothermal akan mencapai 193.600o C sehingga unsur-
unsur di dalam selubung dan inti bumi berada dalam keaadaan cair.

Syarat-syarat yang dibutuhkakan bagi suatu proses pembentukan magma (Ringwood, 1975)
adalah:
a. Bahan kerak dimana lelehan bahan kerak (magma anateknik) apabila sempurna akan
membentuk magma sintaksis, jika prosesnya tidak sempurna akan membentuk neoformis
saja.
b. Bahan selubung dimana dalam laporan ini terdapat basalt peridotit dengan perbandingan
1:3
Di permukaan Bumi, magma muncul di tiga lokasi yaitu di daerah pemekaran lempeng, di
jalur vokanik yang berasosiasi dengan zona penunjaman lempeng, dan di daerah hot spot
yang muncul di lantai samudera.
Magma yang muncul di zona pemekaran lempeng kerak Bumi berasal dari mantel dan
membeku membentuk kerak samudera.
Demikian pula magma yang muncul sebagai hot spot, berasal dari mantel. Hot spot ini di
lantai samudera membentuk gunungapi atau pulau-pulau gunungapi di tengah samudera.
Karena lempeng samudera terus bergerak, maka terbentuk deretan pulau-pulau tengah
samudera, seperti Rantai Pulau-pulau Hawai di Samudera Pasifik.
Sementara itu, magma yang muncul di zona penunjaman berasal dari kerak samudera yang
meleleh kembali ketika dia menunjam masuk kembali ke dalam mantel. Ketika berjalan
naik ke permukaan Bumi, magma ini juga melelehkan sebagian batuan yang diterobosnya.
Kemunculan magma ini membentuk deretan gunungapi. Di Indonesia, sebagai contoh,
deretan gunungapi seperti ini memanjang mulai dari Sumatera, Jawa, Nusatenggara sampai
ke Maluku. Di sekeliling Samudera Pasifik, deretan gunungapi ini membentuk apa yang
dikenal sebagai Ring of fire.
Komposisi kimiawi magma dari contoh-contoh batuan beku terdiri dari :
Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile dan merupakan senyawa oksida
dalam magma. Jumlahnya sekitar 99% dari seluruh isi magma , sehingga
merupakan mayor element, terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, CaO,
Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
Senyawa volatil yang banyak pengaruhnya terhadap magma, terdiri dari fraksi-
fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2 dsb.
Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor
element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S dan Pb.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 7/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda tentang Magma Primer, diantaranya :
Dally 1933, Winkler (Vide W. T. Huang 1962) berpendapat lain yaitu magma asli (primer)
adalah bersifat basa yang selanjutnya akan mengalami proses diferensiasi menjadi magma
yang bersifat lain.
Bunsen (1951, W. T. Huang, 1962) mempunyai pandapat bahwa ada dua jenis magma
primer, yaitubasaltis dan granitis dan batuan beku merupakan hasil campuran dari dua
magma ini yang kemudian mempunyai komposisi lain.
Magma pada perjalanannya dapat mengalami perubahan atau disebut dengan evolusi
magma. Proses perubahan ini menyebabkan magma berubah menjadi magma yang bersifat
lain oleh proses-proses sebagai berikut :
Hibridasi : proses pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma yang berlainan
jenis.
Sintetis : Pembentukan magma baru karena adanya proses asimmilasi dengan batuan
samping.
Anateksis : proses pembentukan magma dari peleburan batu-batuan pada kedalaman yang
sangat besar.
Dan dari proses-proses diatas, magma akan berubah sifatnya, dari yang awalnya bersifat
homogen pada akhirnya akan menjadi suatu tubuh batuan beku yang bervariasi.
Diferensiasi magma adalah suatu tahapan pemisahan atau pengelompokan magma dimana
material-material yang memiliki kesamaan sifat fisika maupun kimia akan mengelompok
dan membentuk suatu kumpulan mineral tersendiri yang nantinya akan mengubah
komposisi magma sesuai penggolongannya berdasarkan kandungan magma. Proses ini
dipengaruhi banyak hal. Tekanan, suhu, kandungan gas serta komposisi kimia magma itu
sendiri dan kehadiran pencampuran magma lain atau batuan lain juga mempengaruhi proses
diferensiasi magma ini. Secara umum, proses diferensiasi magma terbagi menjadi :
Fraksinasi (Fractional Crystallization)
Proses ini merupakan suatu proses pemisahan kristal-kristal dari larutan magma karena
proses kristalisasi perjalan tidak seimbang atau kristal-kristal tersebut pada saat
pendinginan tidak dapat mengubah perkembangan. Komposisi larutan magma yang baru ini
terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan temperatur dan tekanan yang mencolok serta
tiba-tiba.

Crystal Settling / gravitational settling


Proses ini meliputi pengendapan kristal oleh gravitasi dari kristal-kristal berat yang
mengandung unsur Ca, Mg, Fe yang akan memperluas magma pada bagian dasar magma
chamber. Disini, mineral-mineral silikat berat akan berada di bawah. Dan akibat dari
pengendapan ini, akan terbentuk suatu lapisan magma yang nantinya akan menjadi tekstur
kumulat atau tekstur berlapis pada batuan beku.
Liquid Immisbility
Larutan magma yang memiliki suhu rendah akan pecah menjadi larutan yang masing-
masing akan membentuk suatu bahan yang heterogen.
Crystal Flotation
Pengembangan kristal ringan dari sodium dan potassium akan naik ke bagian atas magma
karena memiliki densitas yang lebih rendah dari larutan kemudian akan mengambang dan
membentuk lapisan pada bagian atas magma.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 8/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Vesiculation
Vesiculation merupakan suatu proses dimana magma yang mengandung komponen seperti
CO2, SO2, S2, Cl2, dan H2O sewaktu-waktu naik ke permukaan sebagai gelembung-
gelembung gas dan membawa komponen-komponen sodium (Na) dan potassium (K).
Rittmann (1967) berpendapat bahwa ada 2 kerabat suite magma yaitu kerabat simatik
(simatic suite) dan kerabat sialik (sialic suite). Berasal samudera adalah hasil I juvenil
yang berasal dari primary magma shell.
Nieuwenkamps (1968) mengatakan bahwa pada tahapan kedua perkembangan bumi, bahan
selubung atas dan kerak telah mengalami suatu kesetimbangan geokimia yang dinamik,
sehingga berasal samudera yang telah terpisah dari selubung atas bumi bukan merupakan
bahan juvenil dari bakal bumi (proto earth), tapi berasal dari lapisan sima. Demikian pula
dengan dataran tinggi (plateau basalt), sedangkan pluton granitic dan kerabat kapur alkali
(calc alkali suite) berasal dari bahan kerak sialek. Teori ini dikenal dengan
Neohuttoniansism Theory.
Geongeaud & Lettok (1960) mengatakan bahwa magma benua umumnya bersifat bebas
(independent), sedangkan magma basaltic berasal dari selubung atas bumi. Magma asam
atau magma Riolitik diduga berasal dari kerak Sialik.

2. Evolusi Magma
Magma dapat berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh proses-proses sebagai
berikut:
a. Hibridisasi = pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma yang berlainan
jenis.
b. Sintesis = pembentukan magma baru karena proses asimilasi dengan batuan gamping.
c. Anateksis = proses pembentukan magma dari peleburan batuan pada kedalaman yang
sangat besar.
Sehingga dari akibat-akibat proses tersebut magma selanjutnya mengalami perubahan daya
kondisi awal yang homogen dalam skala besar sehingga menjadi suatu tubuh batuan beku
yang bervariasi.

Description:
http://1.bp.blogspot.com/-8j7YcKXZ598/Ul_44nGdy1I/AAAAAAAAAl8/aKoDNXyZEhE
/s400/diferensiasi-dapur-magma.jpg
Gambar Skematik proses differensiasi magma pada fase magmatik cair

Proses-proses differensiasi magma (keterangan untuk Gambar 7) meliputi:

1. Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O), Karbon
dioksida (CO2), Sulfur dioksida (SO2), Sulfur (S) dan Klorin (Cl). Pada saat magma naik
kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti buih pada air soda.
Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-unsur yang lebih volatile
seperti Sodium dan Potasium.

2. Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari
batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat. Proses
diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang lain. Walaupun
demikian, proses diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu
pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat kehilangan
beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar.

3. Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung Sodium dan Potasium cenderung


untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsur-unsur

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 9/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Sodium dan Potasium.

4. Gravitational Settling, Mineral-mineral berat yang mengandung Kalsium, Magnesium


dan Besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah reservoir
dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal badan bijih dalam
bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih
berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-
mineral Silikat yang lebih ringan.

5. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari dinding
reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau secara
sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding
kaya akan Sodium, Potasium dan Silikon, magma akan berubah menjadu komposisi
granitik. Jika batuan dinding kaya akan Kalsium, Magnesium dan Besi, magma akan
berubah menjadi berkomposisi Gabroik.

6. Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi
magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoir. Jika bagian sebelah
dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat
yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.

7. Fragsinasi, Proses pemisahan Kristal-kristal dari larutan magma, karena proses


kristalisasi berjalan tidak seimbang atau Kristal-kristal mengubah perkembang. Komposisi
larutan magma yang baru ini terjadi terutama karena adanya perubahan temperatur dan
tekanan yang menyolok dan tiba-tiba.

8. Liquid Immisbility, Ialah larutan magma yang mempunyai suhu rendah akan pecah
menjadi larutan yang masing-masing akan membelah membentuk bahan yang heterogen.

E. Teori tentang indek unsur kimia magma


Secara umum bauan beku disusun oleh enam kelompok mineral seperti olivin,
piroksen, amfibol, mika, feldspar dan kuarsa. Kita ketahui bahwa batuan beku merupakan
hasil pembekuan langsung magma baik didalam bumi maupun diatas permukaan bumi, jadi
komposisi magma dapat diketahui dari studi batuan beku. Contoh terbaik magma
dipermukaan bumi adalah lava. Unsur-unsur yang terkandung didalm mineral-mineral
penyusun batuan beku adalah Si (silikon), Al (Aluminium), Ca (Kalsium), Na (Sodium), K
(Potasium), Fe (Besi), Mg (Magnesium), H (Hidrogen), O (Oksigen), unsur-unsur ini selalu
diekspresikan dalam ion oksida sebagai SiO2, Al2O3, dst., oleh sebab itu unsur-unsur ini
merupakan unsur-unsur terpenting didalam magma sehingga unsur ini sering dipakai para
ahli sebagai komponen pembanding untuk klasifikasi batuan magma.
Secara mendasar komposisi kimia dan mineralogi daerah sumber mengendalikan kelebihan
kimiawi btuan magma (gambar 1.2). komposisi unsur-unsur utama dan jejak ditentukan
oleh jenis proses peleburan dan derajat peleburan sebagaian, walaupun komposisi peleburan
dapat dimodifikasi dalam jumlah besar selama menuju permukaan bumi (Rollinson, 1993).
Daerah sumber merupakan ciri khas terbaik dengan komposisi isotop radiogeniknya karena
perbandingan isotop tidak berubah selama proses peleburan sebagian dan proses-proses
dapur magma. Komposisi sumber sendiri adalah fungsi dari proses-proses pencampuran
yang ada didalam daerah sumber.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 10/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Gambar 1.2. Diagram alir yang memperlihatkan proses-proses penting yang mengedalikan
komposisi batuan beku (Rollinson, 1993)
Dari gambar diatas dapat diketahhui bahwa batuan magma disaring terlebinh dulu melelui
dapur magma sebelum perpindahannya ke permukaan bumi atau dekat permukaan bumi.
Proses-proses dalam dapur magma sering merubah komposisi kimia magma primer produk
peleburan sebagian sumber melalui fraksinasi kristal, pencampuran magma, kontaminasi,
atau pencampuran dinamis beberapa proses-proses tersebut. Selanjutnya kemungkinan
batuan beku secara kimiawi berubah kerena pelepasan gas atau karena interaksinya dengan
cairan yang dapat mempengaruhi kimia isotop stabil.
Flint (1977) menjelaskan bahwa komposisi magma hasil analisis kimia memnjukkan
kisaran 45% berat dan sampai 75% berat SiO2. Hanya sedikit lava yang komposisi SiO2
mencapai serendah 30% berat dan setinggi 80% berat, tetapi variasu ini terbentuk apabila
magma terasimilasi oleh fragmen batuan sedimen dan batuan malihan atau ketika
diferensiasi magma sehingga menyebabkan komposisi magma berubah.
Berdasarkan analisis kimia tersebut didapt tiga jenis magma (gambar 1.3) yaitu:
Magma mengandung sekitar 50% SiO2 membentuk batuan beku basal, diabas dan gabro.
Magma mengandung sekitar 60% SiO2 membentuk batuan beku andesit dan diorit.
Magma mengandung sekitar 70% SiO2 membentuk batuan beku riolit dan granit.
Selain komposisi senyawa SiO2, pada gambar juga memperlihatkan bahwa batuan beku
basal/gabro didominasi oleh mineral yang berkomposisi Al2O3, FeO, MgO, dan CaO,
sedangkan batuan riolit/granit didominasi oleh mineral yang mempunyai komposisi Al2O3,
Na2O3, dan K2O.
Dipihak lain Peccerillo dan Taylor (1976) membagi magme berdasarkan kandungan SiO2
(tabel 1.5). dan kombinasi antara SiO2 dan K2O (gambar 1.4). komposisi kombinasi
menunjukkan adannya afinitas magma K-rendah (low-K series) atau sering disebut
Tholeiite, K-menengah rendah (calc-alckaline series), K-menengah tinggi (high-K calc
alkaline series), dan K-tinggi (shoshonite series). Pada gambar 1.4. dapat dijelaskan bahwa
terdapat beragam komposisi batuan beku seperti; andesit tholeiit, andesit kapur alkali dan
andesit shosonit, begitupun juga untuk komposisi batuan beku yang lain. Sebagai contoh
andesit tholeiit berarti batuan beku volkanik yang disusun oleh silika sebesar 57 -63 %
berat dan berasal dari magma dengan kandungan potasium rendah (K < 0,2 % berat).
Tentang iklan-iklan ini
F. Teori tentang kristalisasi magma
Ahli geologi membedakan dua bentuk hasil peleburan yaitu magma dan lava. Kita
ketahui bahwa magma yang terdapt didalam bumi dpat berupa cairan sempurna,
kemungkinan berupa cairan sempurna antara larutan dengan kristal padat dan gas yang
terlarut didalamnya.
Kristal padat melebur bilammana ikatan-ikatan antar ion-ion terurai/lepas, membiarkan
partikel-partikel dengan tiba-tiba bergerak bebas (gambar 1.5). pada waktu suhu dibawah
permukaan bumi bertambah tinggi, maka tidak lama kemudian batuan kristal padat
terpanaskan dan akhirnya ikatan-ikatan dalam mineral hancur sehingga tinggal sedikit
sedikit fragmen padat yang terkandung dalam larutan magma. Bebagai jenis mineral
mempunyai titik lebur berbeda dan perbedaan titik lebur mineral sejalan dengan
meningkatnya panas secara berangsur. Berhubungan terjadinnya pengayaan dan masuknya
mineral peleburan baru maka komposisi magma berubah. Sementara itu, ion-ion yang
http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 11/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

terdapat didalam magma terus-menerus bergerak membentuk ikatan yang bersifat


sementara yang secara periodik hancur dan terbentuk kembali.

Gambar 1.6. Panas menyebabkan atom-atom padat bergetar sampai beberapa ikatan kimia
menjadi lemah dan hancur yang kemudian terjadi peleburan.
Perbandingan mekanisme antara tahap peleburan batuan dan tahap kristalisasi
batuan ditunjukkan oleh gambar 1.7. dalam contoh tersebut kristalisasi awal terjadi pada
temperatur sekitar 1225o C terbentuk mineral olivin, sedangkan peleburan awal terjadi pada
temperatur 1100o C meleburkan mineral piroksin, yang kemudian diikuti oleh plagioklas
dan olivin.
Perkembangan magma primer dari menuju permukaan bumi dari pemisahan
kedalaman yang beragam atau berkisar lebih besar dari pada 100 km sekurang-kurangnya
50 km dalam tataan tektonik yang berbeda, magma akan mulai mebeku dan akhirnya
mengkristal. Pembekuan magma ini terjadi pada suhu yang spesifik (gambar 1.8) yaitu
dikenal sebagai suhu dimana terjadi awal kristalisasi (liquidis) dan suhu di akhir kristalisasi
(solidus). Liquidus dan solidus tergantung pada tekanan dan keduannya subparalel dalam
ruang P T. Wilson (1989) menyebutkan bahwa secara umum diperkirakan thap awal
menyerupai garis kenaikan adiabatik dan oleh sebab itu diberikan lereng P T pada
liquidus, magma basal mungkin tidak mengkristal hingga merekan mencapai kedalaman
kerak bumi. Bagaimananpun juga, magma primer pikrit mengkristal sejumlah olivin dalam
perjalanannya ke permukaan bumi.

Gambar 1.7. Memperlihatkan perbandingan antara tahap peleburan batuan dan kristalisasi
batuan pada setiap perubahan temperatur. Sebagai contoh mineral olivin, piroksen dan
plagioklas.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 12/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

Gambar 1.8. Skema yang memperlihatkan magma basal naik menuju permukaan bumi
yang berhubungan dengan selang kristalisasi. Magma primer jalur A membentuk dapur
magma porfiritik dan magma primer jalur B membentuk batuan hipabasal atau plutonik
(Wilson, 1989).
Pertannya mendasar bagaimana magma dengan komposisi berbeda dapat
terbentuk?. Beberapa magma mafik akan bergenerasi pada daerah yang dalam dikerak bumi
bagian bawah atau mantel bagian atas karena peleburan bumi dari batuan ultra mafik.
Mineral yang mempunyai titik lebur rendah akan melebur lebih awal dan mineral yang
mempunyai titik tinggi tidak melebur. Bila kedudukannya lebih dalam lagi didalam kerak
maka berbagai batuan akan melebur secara sempurna, menghasilkan magma dan komposisi
magma yang sama. Namun, ketika magma membeku, akan menghasilkan mineral yang
spesifik pada suhu yang spesifik pula sesuai dengan aturan kristalisasi mineral penyusun
batuan beku. Aturan kristlaisasi ini dapat dilihat pada fractional crystallization atau
differentiation. Dari magma yang ditunjukkan oleh Norman Levi Bowen (1928; Kushiro,
1979).
Fraksionasi kristal adalah proses pemisahan kristal dari suatu kristalisasi magma karena
grafitasi, baik yang melayang ataupun yang tenggelam (atau beberapa proses lain). Menurut
Condie (1982) proses inilah yang membuat larutan magma menjadi lebih asam atau
meningkatnya kandungan SiO2 dan kaya alkali. Rollinson (1993) menyebutkan bahwa
fraksionasi kristal merupakan proses utama didalam evolusi batuan beku, dan seringkali
menyebabkan kecenderungan yang tampak pada diagram variasi bataun beku. Secara
normal penggabungan frasionasi mineral ditunjukkan oleh kehadiran fenokris. Jika
kecendrungan pada diagram variasi dikontrol oleh komposisi fenorkis maka hal ini
mungkin dapat disimpulkan bahwa kimia batuan dikendalikan oleh fraksionasi kristal.
Sementara itu Huang (1962) mendefinisikan fraksionasi kristal sebagai proses dimana
magma menghasilkan bagian yang berbeda karena pemisahan kristal dari larutan didalam
suatu pendinginan magma, sedangkan Middlemost (1985) menyatakan bahwa fraksionasi
kristal adalah proses diferensiasi magma yang penting karena proses ini dapat
menghasilkan seri larutan sisa yang mempunyai komposisi berbeda dibandingkan dengan
magma induknya. Beberpa penjelasan yang telah disebutkan sebelumnya ini memberikan
gambaran yang kita sebut sebagai magma akibat kristalisasi adalah perubahan komposisi
yang terjadi didalm magma karena pemisahan mineral-mineral yang terbentuk lebih dulu
dari cairan sisa.
Fraksionasi magma merupakan pemisahan magma menjadi dua bagian (fraksi) yang
lebih kecil dalam material asam melalui peleburan sebagian dan atau kristalisasi sebagian.
Dua bagian yang lebih kecil tersebut dapat dijelaskan sebagian massa yang berbeda
komposisi, berbeda dengan material asal, dipisahkan melalui gravity settling atau
pergerakan larutan ke arah atas (gambar 1.9). untuk menghasilkan suatu fraksionasi kristal
dibutuhkan suatu mekanisme alami yaitu mekanisme yang dapat memisahkan kristal dari
magma atau memisahkan kristal tersebut sehingga tidak lagi bereaksi dengan magma.
Gambar tersebut memperlihatkan mekanisme batuan induk yang berkomposisi mafik (A)
berupa basal/gabro menjalani fraksionsi menghasilkan sisa padat yang berkomposisi ultra
mafik (B) berupa peridotit, dan larutan berkomposisi intermediet (C) berupa anadesit/diorit,

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 13/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

sementara larutan intermediet masih mejalani frakasionasi menghasilkan sisa padat


berkomposisi mafik (D) berupa basal/gabro, dan larutan berkomposisi felsik (E)
riolit/granit. Tampak pula pada gambar bahwa larutan sisa mempunyai komposisi lebih
asam dibandingkan dengan sisa endapan yang terbentuk terlebih dahulu dan demikian
seterusnya hingga sampai pada titik dimana unsur-unsur berat Mg-Fe penyusunnya habis
dan tinggal unsur-unsur ringan (K, Al, Na) yang membentuk batuan beku yang
berkomposisi lebih asam. Bandingkan dengan persentase komposisi pada gambar 1.4.

Mekanisme yang memperlihatkan proses fraksionasi magma.

Kita ketahui bahwa keseluruhan yang terjadi didalm bumi tidak semuannya berjalan
normal, artinya bumi bersifat dinamis, selalu berubah. Sebagai contoh magma dari yang
ultra basa kearah yang lebih asam, tidak selalu mengikuti hukum diferensiasi normal,
melainkan juga dipengaruhi oleh proses lain yang menyertainnya. Diferensiasi magma
merupakan pembagian kelas-kelas magma sesuai dengan komposisi kimianya yang terjadi
pada saat magma mulai membeku. Pembekuan magma dan kristalisasi akan membentuk
batuan dengan barbagai modifikasi komposisi melalui kristalisasi fraksional dan setimbang,
asimilasi, difusi dan transfer gas, larutan tak bercampur (liquid immiscibility), hibridisasi
(hybridiztion), autometasomatisme, dan pencampuran magma (magma mixing). Kombinasi
dari berbagai proses tersebut menghasilkan keanekaragaman batuan beku di permukaan
bumi.
Asimilasi menggambarkan magma yang melebur, larut dan atau bereaksi dengan
batuan samping sehingga menghasilkan batuan lebur dengan densitas dan viskositas yang
kontras, sedangkan pencampuran dua magma (magma mixing/mingling) yang berbeda
komposisi membentuk magma tunggal dengan komposisi sebagian berasal dari magma asal
tersebut. Batuan beku yang terbentuk karena proses asimilasi dengan batuan samping
(masuknya batuan samping kedalam tubuh magma) akan banyak dijumpai xenoliths
(accidental rocks) dan atau xenocrysts.
Terjadinnya proses asimilasi magma sebagai akibat adanya material asing dalam
tubuh magma. Adanya batuan disekitar magma yang masuk atau hadir sebagai xenolit dan
bereaksi dengan magma induk. Penambahan material asing kedalam tubuh magma ini
menyebabkan komposisi magma induk berubah. Komposisi magma baru tergantung pada
batuan yang bereaksi dengan magma induk, sehingga magma baru tersebut akan
menghasilkan batuan beku dengan komposisi yang berbeda.
Pencampuran magma merupakan pembentukan magma baru karena terjadinya
pencampuran dua magma atau lebih yang berbeda sifat dan sumbernya. Misal magma yang
berkomposisi basal dengan riolit. Proses ini sering disebut dengan hibridisasi yang dicirikan
oleh kandungan mineral yang heterogen dan tidak mengikuti Seri Reaksi Bowen.

Lava
Lava adalah cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari
dalam bumi melalui kawah gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian
membeku menjadi batuan yang bentuknya bermacam-macam.
Bila cairan tersebut encer akan meleleh jauh dari sumbernya membentuk aliran
seperti sungai melalui lembah dan membeku menjadi batuan seperti lava ropi atau lava blok
http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 14/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

(umumnya di Indonesia membentuk lava blok). Bila agak kental, akan mengalir tidak jauh
dari sumbernya membentuk kubahlava dan pada bagian pinggirnya membeku membentuk
blok-blok lava tetapi suhunya masih tinggi, bila posisinya tidak stabil akan mengalir
membentukawan panas guguran dari lava.
Berdasarkan komposisi dan sifat fisik dari magma asalnya, siaft-sifat eksternal dari
lava seperti cara-cara bergerak atau (mengalir), sebaran dan sifat eksternalnya seperti
bentuk dan strukturnya setelah membeku, tipe lava dapat dibagi menjadi tiga kelompok;
lava basltis, lava andesitis, lava riolitis.
Lava Basaltis
Merupakan lava yang paling banyak dikeluarkan berasal dari magma yang
bersusunan mafis, bersuhu tinggi dan mempunyai viskositas yang rendah. Lava ini aka
mudah mengalir pada lembah yang ada dan mampu menyebar hingga mencapai jarak yang
sangat jauh apabila lerengnya cukup besar, tipis dan magma yang keluar cukup banyak. Di
Hawaii lava basaltis mampu menempuh jarak hingga 50 km dari sumbernya dengan
ketebalan rata-rata 5 meter.di Iceland bahkan jaraknya dapat mencapai hingga 100 km
lebih, dan ditaran Columbia lebih dari 150 km. Lava basaltis akan membeku menghasikan
dua macam bentuk yang khas, yaitu bentuk Aa dan Pahoehoe (istilah Polynesia di Hawaii,
dilafalkan pa-hoy-hoy, yang artinya tali).
Lava yang encer akan bergerak mengalir dengan kecepatan 30 km/jam, menyebar
sehingga mampu mencapai ketebalan 1 meter, dan membeku dengan permukaan yang
masih elastis sehingga akan terseret-seret dan membentuk lipatan-lipatan melingkar seperti
tali (gambar 1.10). semakin jauh dari pusatnya kekentalannya akan meningkat dan
membeku dengan permukaan yang rapuh namun bagian dalamnya yang masih panas dan
encer tetap bergearak dan menyeret bagian permukaan yang membeku. Karena bagian
dalamnya bergerak lebih cepat dari permukaanya, maka akibatnya akan membentuk
permukaan lava yang kasar, dengan ujung-ujungnya yang runcing-tuncing. Bentuk lava
seperti itu disebut lava Aa (dilafalkan ah-ah).

Lava berbentuk tali (kiri) , lava yang ujungnya runcing-runcing (kanan) (sumber;
google.com)
Block lava atau lava bongkah merupakan istilah yang diterpakan untuk segala jenis
lava yang mempunyai permukaan yang kasar berbongkah-bongkah. Kedalamnya juga
termasuk lava Aa. Bentuk bongkah yang terjadi karna permukaanya yang cepat membeku
sedangkan bagian dalamnya masih bergerak karena panas yang agak kental. Sifat hal
lainnya yang terdapat pada beberapa jenis lava basaltis adalah kehadiran lubang-lubang dari
bekas kandungan gas yang keluar pada saat lava membeku. Gas yang terlarut didalam
magma akan naik kebagian atas dari magma pada saat mendingin dan kemudian
meninggalkan lubang-lubang (vesicles) sebesar kacang pada bagian permukaan lava. Basalt
yang mempunyai lubang-lubang dalam jumlah yang cukup banyak disebut skoria.
Lava basaltis pada saat membeku juga sering membentuk struktur seperti tiang
(gambar 1.11). dengan penampang segi lima (columnar jointing). Apabila keluarnya lava
basalt berlangsung dibawah laut (submarine), lava akan membeku membentuk struktur
mebulat lonjong dengan permukaan yang licin seperti permukaan gelas akibat proses
pendinginan yang cepat, dan cembung tetapi dengan dasar yang mendatar. Lava yang
mengalir kemudian diatasnya, akan mengikuti permukaan membulat yang telah ada

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 15/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

dibawaahnya. Disamping bentuknya menyerupai tumpukkan-tumpukkan bentuk lonjong


dengan permukaan yang membulat, juga penampangnya mempunyai struktur rekahan radial
sebagai akibat perenggangan.
Ciri khas lainnya dari lava bantal adalah adanya sedimen yang mengisi ruang
diantara bentuk lonjongnya, yaitu endapan laut yang terperangkap pada saat lava mengalir
dan membeku.

Lava bantal (kiri), lava segi lima/columnar jointing (kanan) (sumber; google.com).
Lava Andesit
Lava ini mempunyai susunan antara basaltis dan riolitis, atau intermediate. Lava andesitis
yang mempunyai sifat fisik kental, tidak mampu mengalir jauh dari pusatnya. Pada saat
membeku, seperti halnya lava basaltis juga dapat membentuk struktur Aa, kekar tiang dan
struktur bantal. Tetapi jarang sekali terbentuk struktur pahoe-hoe.
Lava Riolit
Karena magmajenis ini sifatnya sangat kental, jarang sekali dijumpai sebagai lava, karena
sudah membeku dibawah permukaan karena telah terjadi erupsi.

Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan, melt
(campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi juga
merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, di mana terjadi perpindahan
massa (mass transfer) dari suat zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke fase kristal padat.
Proses Kristalisasi Magma,Karena magma merupakan cairan yang panas, maka ion-ion
yang menyusun magma akan bergerak bebas tak beraturan. Sebaliknya pada saat magma
mengalami pendinginan, pergerakan ion-ion yang tidak beraturan ini akan menurun, dan
ion-ion akan mulai mengatur dirinya menyusun bentuk yang teratur. Proses inilah yang
disebut kristalisasi.
Pada proses ini yang merupakan kebalikan dari proses pencairan, ion-ion akan saling
mengikat satu dengan yang lainnya dan melepaskan kebebasan untuk bergerak. Ion-ion
tersebut akan membentuk ikatan kimia dan membentuk kristal yang teratur. Pada umumnya
material yang menyusun magma tidak membeku pada waktu yang bersamaan.Kecepatan
pendinginan magma akan sangat berpengaruh terhadap proses kristalisasi, terutama pada
ukuran kristal.
Apabila pendinginan magma berlangsung dengan lambat, ion-ion mempunyai
kesempatan untuk mengembangkan dirinya, sehingga akan menghasilkan bentuk kristal
yang besar. Sebaliknya pada pendinginan yang cepat, ion-ion tersebut tidak mempunyai
kesempatan bagi ion untuk membentuk kristal, sehingga hasil pembekuannya akan
menghasilkan atom yang tidak beraturan (hablur), yang dinamakan dengan mineral gelas
(glass).
Pada saat magma mengalami pendinginan, atom-atom oksigen dan silikon akan saling
mengikat pertama kali untuk membentuk tetrahedra oksigen-silikon. Kemudian tetahedra-
tetahedra oksigen-silikon tersebut akan saling bergabung dan dengan ion-ion lainnya akan
membentuk inti kristal dan bermacam mineral silikat. Tiap inti kristal akan tumbuh dan
membentuk jaringan kristalin yang tidak berubah. Mineral yang menyusun magma tidak
terbentuk pada waktu yang bersamaan atau pada kondisi yang sama. Mineral tertentu akan
mengkristal pada temperatur yang lebih tinggi dari mineral lainnya, sehingga kadang-

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 16/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

kadang magma mengandung kristal-kristal padat yang dikelilingi oleh material yang masih
cair.Komposisi dari magma dan jumlah kandungan bahan volatil juga mempengaruhi proses
kristalisasi.
Karena magma dibedakan dari faktor-faktor tersebut, maka penampakan fisik dan
komposisi mineral batuan beku sangat bervariasi. Dari hal tersebut, maka penggolongan
(klasifikasi) batuan beku dapat didasarkan pada faktor-faktor tersebut di atas. Kondisi
lingkungan pada saat kristalisasi dapat diperkirakan dari sifat dan susunan dari butiran
mineral yang biasa disebut sebagai tekstur. Jadi klasifikasi batuan beku sering didasarkan
pada tekstur dan komposisi mineralnya.
Jenis Kristalisasi Berdasarkan Proses Utama Dipandang dari asalnya, kristalisasi
dapat dibagi menjadi 3 proses utama :
1. Kristalisasi dari larutan ( solution ) : merupakan proses kristalisasi yang umum dijumpai di
bidang Teknik Kimia : pembuatan produk-produk kristal senyawa anorganik maupun
organic seperti urea, gula pasir, sodium glutamat, asam sitrat, garam dapur, tawas, fero
sulfat dll.
2. Kristalisasi dari lelehan ( melt ) : dikembangkan khususnya untuk pembuatan silicon single
kristal yang selanjutnya dibuat silicon waver yang merupakan bahan dasar pembutan chip-
chip integrated circuit ( IC ). Proses Prilling ataupun granulasi sering dimasukkan dalam
tipe kristalisasi ini.
3. Kristalisasi dari fasa Uap : adalah proses sublimasi-desublimasi dimana suatu senyawa
dalam fasa uap disublimasikan membentuk kristal. Dalam industri prosesnya bisa meliputi
beberapa tahapan untuk.
Asimilasi magma
Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material asing dalam tubuh magma seperti adanya
batuan disekitar magma yang kemudian bercampur, meleleh dan bereaksi dengan magma
induk dan kemudian akan mengubah komposisi magma.
Dalam proses asimilasi, terkadang batuan-batuan yang ada di sekitar magma chamber yang
kemudian masuk ke dalam magma membeku sebagai satu bentuk inklusi batuan yang
disebut dengan xenolith. Namun bentukan inklusi ini juga dapt terbentuk sebagai suatu
inklusi kristal yang disebut dengan xenocrsyt.
Skema differensiasi magma menurut Jackson K.C.(1970)
Dr. Lucas Donni Setiadji, seorang petrologist yang juga merupakan dosen Jurusan Teknik
Geologi FT-UGM menyatakan bahwa Diferensiasi (Differentiation) merupakan suatu
proses yang menghasilkan magma turunan (derivative magmas) yang berbeda komposisi
kimia dan mineralogi dari Primitive Parental Magma atau yang kita sebut sebagai magma
induk. Secara umum proses diferensiasi dianggap terjadi dalam reservoir magma di dalam
kerak (kedalaman < 10 km), dimana magma dalam kondisi yang stagnan, mendingin secara
perlahan dan memiliki waktu ysng cukup untuk mengkristal. Proses diferensiasi yang
paling penting adalah Kristalisasi Fraksinasi (fractional crystallization), sedangkan proses
lainnya antara lain asimilasi dan magma mixing.
Magma mixing
terjadi saat dua jenis magma yang berbeda bertemu dan kemudian bercampur menjadi satu
menghasilkan satu jenis magma lain yang homogen yang disebut dengan magma turunan.
Magma turunan ini biasanya bersifat pertengahan dari kedua jenis magma yang bercampur.
Sebagai contoh, magma andesitic dan dacitic kemungkinan adalah magma intermediet yang
terbentuk dari hasil pencampuran magma asam dan magma basa. Kedua jenis magma ini
dpat bertemu apabila dalam suatu regional terdapat 2 magma chamber yang memiliki
potensi dan berjarak tidak jauh dan kemudian terjadi intrusi magma berupa sill atau dike
dari salah satu magma chamber lalu intrusi ini mencapai magma chamber yang lain. Dari
intrusi yang menerobos dan bertemu dengan magma chamber inilah kemudian terjadi

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 17/18
10/8/2017 Geologi: "geokimia",unsur kimia,komposisi,evolusi magma

proses pencampuran 2 jenis magma yang berbeda menghasilkan satu jenis magma baru
yang bersifat tengahan dari 2 jenis magma yang bercampur tersebut.

http://angghajuner.blogspot.co.id/2009/12/magma.html

http://abekabek.blogspot.co.id/2013/04/magma-lava-dan-batuan-beku-dalam.html
https://ptbudie.wordpress.com/2012/03/29/klasifikasi-batuan-beku-berdasarkan-komposisi-kimia-dan-mineralogi/
http://shin-shanshan.blogspot.co.id/2011/07/klasifikasi-batuan-beku-berdasarkan.html
http://tambangunp.blogspot.co.id/2013/03/magma-pembentukan-dan-evolusi.html
http://dunia-atas.blogspot.co.id/2011/05/kristalisasi-magma.html

Diposting oleh agus turino di 12.15

1 komentar:

Dicky Harianto 23 September 2016 06.07


makasih, sangat membantu
Balas

Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai: Select profile...

Publikasikan Pratinjau

Posting Lebih Baru Beranda Posting Lama

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Tema Perjalanan. Gambar tema oleh macroworld. Diberdayakan oleh Blogger.

http://newblogagusturino.blogspot.co.id/2015/10/geokimiaunsur-kimiakomposisievolusi.html 18/18