Anda di halaman 1dari 3

GANGGUAN PENYESUAIAN

1. Definisi
Gangguan penyesuaian (adjustment disorder) merupakan suatu reaksi
maladaptif terhadap suatu stresor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan
sejak munculnya stresor, yang ditandai dengan adanya hendaya fungsi atau
tanda-tanda distres emosional yang lebih dari biasa. Gangguan ini termasuk
kelompok gangguan yang paling ringan yang dapat terjadi pada semua usia.
Orang awam menyebutnya sebagai nasib malang pribadi, sedangkan ahli
psikiatrik menyebut gangguan ini sebagai stresor psikososial.
Hendaya yang muncul dari reaksi maladaptif ini adalah hendaya yang
bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis. Diagnosis
gangguan penyesuaian bisa ditegakkan bila reaksi terhadap stres tersebut tidak
memenuhi kriteria diagnostik sindrom klinis yang lain seperti gangguan mood
atau gangguan kecemasan.
Reaksi maladaptif dalam bentuk gangguan penyesuaian ini mungkin
teratasi bila stresor dipindahkan atau individu belajar mengatasi stresor. Bila
reaksi maladaptif ini masih berlangsung lebih dari enam bulan setelah stresor
dialihkan, diagnosis gangguan penyesuaian perlu diubah.
2. Etiologi
Gangguan penyesuaian dicetuskan oleh satu atau lebih stresor. Beratnya
stresor tidak selalu meramalkan keparahan gangguan. Stresor pada masalah
penyesuaian atau keadaan stres ini dapat bersumber pada frustasi, tekanan,
konflik, atau krisis.
Frustasi timbul bila ada aral melintang antara kita dan maksud (tujuan
kita), misalanya bila kita mau berpiknik kemudian mendadak hujan turun atau
mobil mogok. Frustasi dapat datang dari luar atau pun dari dalam. Contoh
frustasi yang datangnya dari luar antara lain, bencana alam, kecelakaan,
kematian seorang yang tercinta, peperangan, norma-norma, adat-istiadat,
kegoncangan ekonomi, diskriminasi rasial atau agama, pengagguran, dan
ketidakpastian sosial. Sedangkan frustasi yang datang dari dalam dapat berupa
cacat badaniah, kegagalan dalam usaha dan moral sehingga penilaian diri sendiri
menjadi sangat tidak enak dan merupakan frustasi yang berhubungan dengan
kebutuhan rasa harga diri.
Konflik terjadi bila kita tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam
kebutuhan atau tujuan. Memilih yang satu berarti frustasi terhadap yang lain.
Umpamanya seorang pemuda ingin menjadi dokter, tetapi sekaligus takut akan
tanggung jawab kelak bila sudah jadi dokter. Atau jika kita harus memilih antara
sekolah terus atau menikah (mengurusi rumah tangga). Contoh lain lagi berupa
konflik yang terjadi bila kita harus memilih antara beberapa hal yang semuanya
tidak kita ingini, misalnya pekerjaan yang tidak menarik atau menganggur.
Tekanan sehari-hari biarpun kecil, tetapi bila bertumpuk-tumpuk dapat
menjadi stres yang hebat. Tekanan, seperti juga frustasi dapat berasal dari dalam
ataupun dari luar. Tekanan dari dalam datang dari cita-cita atau norma-norma
kita yang kita gantungkan terlalu tinggi dan kita mengejarnya tanpa ampun,
sehingga kita terus menerus berada di bawah tekanan. Contohnya adalah orang
tua yang menuntut anaknya prestasi anaknya terlalu tinggi, istri yang setiap hari
mengeluh pada suaminya mengenai uang belanja, dan lain-lain.
Krisis adalah suatu keadaan yang mendadak menimbulkan stres pada
seorang individu ataupun suatu kelompok, seperti suatu kecelakaan, penyakit
yang memerlukan operasi, dan masuk sekolah untuk pertama kali.
3. Gejala dan Tanda
Gejala gangguan penyesuaian sangat bervariasi, dengan depresi,
kecemasan, dan gangguan campuran adalah yang paling sering pada orang
dewasa. Manifestasi juga termasuk perilaku menyerang dan kebut-kebutan,
minum berlebihan, melarikan diri dari tanggung jawab hukum, dan menarik diri.
Gangguan penyesuaian memiliki beberapa suptipe dengan reaksi maladaptif
yang bervariasi (dapat dilihat pada Tabel).

4. Diagnosis
Dalam PPDGJ-III, gangguan penyesuaian termasuk dalam kriteria
diagnosis F.43 Reaksi Terhadap Stres Berat dan Gangguan Penyesuaian.
Karekteristik dari kategori ini adalah tidak hanya di atas identifikasi dasar
simtomatologi dan perjalanan penyakit, akan tetapi juga atas dasar salah satu
dari dua faktor pencetus:
a. Suatu stres kehidupan yang luar biasa, yang menyebabkan reaksi stres
akut. Atau
b. Suatu perubahan penting dalam kehidupan, yang menimbulkan situasi
tidak nyaman yang berkelanjutan. Stres yang terjadi atau keadaan tidak
nyaman yang berkelanjutan merupakan faktor penyebab utama, dan tanpa
hal itu gangguan tersebut tidak akan terjadi.
Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respons maladaptif
terhadap stres berat atau stres berkelanjutan. Dimana mekanisme penyesuaian
(coping mechanism) tidak berhasil mengatasi sehingga menimbulkan masalah
dalam fungsi sosial-nya.
F.43.2 Gangguan Penyesuaian
1) Diagnosis tergantung pada suatu evaluasi yang teliti terhadap hubungan
antara:
a. Bentuk, isi, dan keparahan gejala
b. Riwayat dan kepribadian sebelumnya, dan
c. Kejadian atau situasi yang penuh stres atau krisis kehidupan
2) Adanya ketiga faktor ini harus ditetapkan dengan jelas dan harus
mempunyai bukti yang kuat bahwa gangguan tersebut tidak akan terjadi
bila tidak mengalami gangguan tersebut.
3) Manifestasi dari gangguan bervariasi, dan mencakup afek depresif,
ansietas, campuran ansietas-depresif, gangguan tingkah laku, disertai
adanya disabilitas dalam kegiatan rutin sehari-hari. Tidak ada satu pun dari
gejala tersebut yang spesifik untuk mendukung diagnosis.
4) Onset biasanya terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya kejadian yang
stresful dan gejala biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan, kecuali
dalam hal reaksi depresif berkepanjangan (F.43.21).