Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS ALIRAN BEBAN SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB 1. PENGANTAR

Analisis Sistem tenaga listrik akan memberikan jawaban terhadap persoalan perencanaan
kerja, perbaikan dan pengembangan suatu system tenaga yang meliputi analisis Aliran Beban,
Analisis Gangguan dan Analisis Stabilitas Sistem.

Analisis Aliran Beban akan meliputi perhitungan untuk menentukan tegangan, arus pada
setiap bus dan aliran daya pada setiap cabang dalam system tenaga untuk kondisi operasi normal
pada saat terjadi beban puncak.

Analisis ini penting dalam perencanaan, pengembangan system di masa dating karena
operasi yang memuaskan pada suatu system tergantung pada pengetahuan mengenai akibat
interkoneksi dengan system tenaga yang lain, akibat penambahan beban baru, stasiun
pembangkit yang baru, dan saluran transmisi baru, dan sebelum semuanya terpasang.

Ketika computer digital belum ada, analisis aliran beban untuk suatu system tenaga yang
kompleks, memakai panel penghitung arus bolak-balik (AC calculating card), dengan
menirukan system yang sebenarnya dalam skala kecil, fase tunggal dan saling menghubungkan
komponen rangkaian serta sumber tegangan. Menyusun rangkaian, mengatur penyesuaian dan
membaca data merupakan pekerjaan yang melelahkan dan memakan waktu. Masalah tersebut
dapat diatasi dengan adanya computer digital, dimana hasil lengkap dari analisis aliran beban
dapat diketahui dengan cepat sehingga pengambilan keputusan juga dapat dilakukan dengan
cepat.

Hasil hitungan analisis aliran beban akan diperoleh

- Vektor tegangan pada tiap bus dalam kondisi operasi normal dan beban puncak.
- Aliran Daya dan rugi-rugi daya pada setiap cabang pada system yang dianalisis.
- Daya yang seharusnya dibangkitkan oleh swing bus.
- Daya total pembangkit.
- Beban total.
- Rugi daya total

Dari hitugan tersebut dapat digambarkan peta aliran daya, yang dapat dipergunakan untuk
menyempurnakan kondisi-kondisi operasi system di masa dating yang meliputi:
- Tegangan
- Aliran daya
- Cadangan putar
- Pembangkit
- Rugi daya

BAB 2. ANALISIS JARINGAN


Analisis jaringan merupakan dasar dari analisis Aliran Beban yang merupakan
pengetrapan dari perluasan hukum Kirchoff I dan II serta hukum Ohm, pada jaringan system
yang lebih besar dan kompleks, yang dipadukan dengan penggunaan metode-metode dalam teori
matematika. Tujuan dari analisis adalah untuk menghitung harga arus pada tiap canbang dan
harga tegangan pada tiap simpul dari jaringan yang dianalisis.
Analisis Jaringan bias dikerjakan menurut dua cara yakni:
1. Dengan konsep simpul yang disebut Analisa Simpul (Nodal Analysis).
2. Dengan konsep cincin, disebut Analisis Cincin (Loop Analysis).

Analisis Simpul (Nodal Analysis) merupakan pemakaian dari Hukum Kirchoff Pertama,
yang mengatakan bahwa: Jumlah aljabar arus pada sebuah simpul sama dengan nol, atau bias
diungkapkan dalam bentuk:

= 0 (1)

Dimana : k menunjukkan cabang-cabang yang membentuk simpul, dan arah arus yang
masuk/menuju simpul adalah negative, dan arah arus yang keluar/meninggalkan simpul adalah
positif.

Analisa Cincin (loop analysis) merupakan pemakaian dari hokum Kirchoff Kedua, yang
menyatakan bahwa: Jumlah aljabar beda tegangan dalam sebuah cincin (loop) sama dengan
nol, atau bias dinyatakan dalam bentuk persamaan:
= 0 (2)

dimana Uk adalah beda tegangan antara dua simpul pada cabang k, dari jaringan system.

Karena simpul D dianggap sebagsi simpul referensi, maka Ud sama dengan nol dan
persamaan tegangan dari system jaringan seperti gambar 1 adalah:

A B C
U1 1 1 -1 VA
U2 2 1 -1 VB
U3 = 3 -1 VC
U4 4 1
U5 5 1

dimana : U = beda tegangan antara dua simpul dari suatu cabang

V = tegangan simpul

Atau bentuk diatas dapat pula ditulis dalam bentuk:

Uk = (DAK ) t VA

= (DBK ) t VB

dimana : Uk = (DAK ) t = bentuk transposisi dari DAK

Penggunaan hokum Ohm pada system gambar 1 memberikan pula bentuk persamaan
seperti berikut:

1 2 3 4 5
U1 1 z11 i1
U2 2 z22 i2
U3 = 3 z33 i3
U4 4 z44 i4
U5 5 z55 i5
atau bias pula dalam bentuk :

1 2 3 4 5
1
i 1 y11 U1
i2 2 y22 U2
i3 = 3 y33 U3
i4 4 y44 U4
i5 5 y55 U5

dan dalam bentuk umum, kedua bentuk diatas bias ditulis :

Uk = Zkj ij

atau ik = ykj Uj

dimana : k menunjukkan baris, dan j meunjukkan kolom dari bentuk matriks diatas

Zkj disebut primitive impedance matrix, dan

ykj disebut primitive admittance matrix.

Pada matriks diatas diberikan unsure-unsur matriks Zkj dan ykj sama dengan nol untuk
jk, yang berarti bahwa pada system diatas tidak ada mutual coupling antara cabang-cabangnya.

Bila persamaan (8) dikalikan dengan DAK diperoleh bentuk sebagai berikut :

DAK ik = DAK ykj Uj

atau SA = DAK ykj (DBK )t VB (9)

sehingga :

SA = YAB VB

dimana :

YAB = DAK ykj (DBK )t


Dapat dilihat bahwa persamaan (10) merupakan hasil transformasi dari persamaan (8)
dan persamaan tersebut disebut hokum ohm bagian frame simpul. YAB disebut matriks
admitansi simpul.

Berdasarkan transformasi diatas, matriks impedansi simpul diperoleh melalui invers


matriks admitansi simpul YAB dalam bentuk sebagai berikut:

ZAB = (YAB)-1 (12)

Unsur diagonal matriks YAB disebut driving point admittance, dan yang non diagonal
disebut transfer admittance.

Skema pengerjaan analisa jaringan, menurut konsep simpul ini yaitu dengan mamakai
hokum Kirshoff I, bila tiap simpulnya diberikan injeksi arus sebesar SA, dapat dikerjakan
menurut gambar 2, yakni berdasarkan cara diatas dapat diturunkan pembentukan unsure-unsur
matriks admitansi simpul yang dapat diterapkan dalam analisa aliran beban.

2.2 Analisa Cincin

e1 - + - +
I1 B e2 I2
A C
3
I
-
e5

+ +
-
e4 + e3
-
I5
4
I

Gambar 3. Jaringan dengan sumber tegangan pada tiap cabangnya.

Bila pada system seperti gambar 3, tiap cabangnya diberikan sumber tegangan e, maka
untuk cabang ke-k diperoleh bentuk persamaan yang menurut hokum Kirchoff II sebagai berikut:
(Uk ek) = 0 (13)
atau Uk = ek = E (14)
start

Bentuk DkA dari jaringan

ZAB = DkA ykj (DjB)

VA = ZAA SA

Uk = (DjB)t VA

Ik = ykj Uj

stop

Gambar 2.
Flow chart analisis simpul sebuah jaringan bila pada simpulnya diberi injeksi arus sebesar SA

dimana : E = jumlah sumber tegangan pada sebuah cincin (loop).

1 2 3 4 5

1 -1 -1
Rk =
1 1

, = nomor urut cincin pada system.


Arus pada masing-masing cabang adalah:


i1
1 1 J
i2 2 1 J
i3 = 3 -1 1
i4 4 -1
i5 5 1

Persamaan (16) ini bias ditulis dalam bentuk:


Ik = (Rk)t Jk
dimana : (Rk) = bentuk transposisi dari Rk
JL, untuk L = , adalah arus cincin.
Hukum ohm untuk system ini adalah sebagai berikut:
Uk = Zkj ij
atau bila dikalikan dengan Rk, diperoleh hasil :
Uk = Zkj ij (18)
Kedalam persamaan (18) ini, bila disubstitusikan persamaan (14) dan (17) akan diperoleh
bentuk:

E = Zkj ij ( )t J (19)

atau : E = Z J

dimana : Z = Zkj ij ( )t (20)

= matriks impedans cincin


Berdasarkan persamaan (20) ini dapat pula diperoleh harga matriks admitansi cincin
sebagai berikut :
Y = (Z)-1 (21)
Pengerjaan analisa jaringan dengan konsep cincin yaitu dengan menggunakan Hukum
Kirchoff II untuk memperoleh harga arus tiap cabang dan harga tegangan tiap simpulnya bias
pula dilukiskan dalam bentuk aliran kerja (flow chart) seperti gambar 4 berikut:
start

Bentuk Rka

Z = Rk zkj (Rj)t

E = R k e k

J = (Z)-1 E

Ik = (Rk)t J

Uk = zkj Ij

end

Gambar 4. Flow chart analisis cincin suatu jaringan.


BAB 3. ANALISIS ALIRAN BEBAN

3.1. Analisis Umum


3.1.1. Tujuan Analisis

Tujuan dari analisis aliran beban adalah untuk mengetahui besarnya vector tegangan pada
tiap bus, dan besarnya aliran daya pada tiap cabang dari suatu system jaringan untuk suatu
kondisi beban tertentu dalam operasi normal.
Hasil perhitungan dari analisis ini bias digunakan utuk menelaah berbagai persoalan
sehubungan dengan system jaringan tersebut yakni meliputi hal-hal sebagai berikut ini:
- Operasi jaringan yakni meliputi:
Penentuan pengaturan tegangan (voltage regulation)
Perbaikan power factor system jaringan
Kemampuan saluran transmisi termasuk rugi-rugi daya
- Perluasan atau perkembangan system jaringan yakni penentuan lokasi yang tepat untuk
penambahan bus-bus beban dan unit-unit pembangkitan baru dari system yang terpasang.
- Perencanaan system jaringan yakni kondisi-kondisi system yang diinginkan pada masa
mendatang untuk melayani pertambahan beban karena kenaikan permintaan terhadap
kebutuhan tenaga listrik.
Dalam analisis aliran beban sesuai dengan maksud penganalisisan maka besaran-besaran
yang memegang peranan dalam hal ini ada 4 macam yaitu:
- Magnitude tegangan
- Sudut phase tegangan
- Daya riil (real power)
- Daya reaktif (reactive power)

pada masing-masing bus dari system jaringan yang dianalisis.

Dua diantara empat besaran tersebut pada tiap bus adalah diketahui/tertentu, sedang dua
lainnya merupakan harga-harga yang dicari melalui proses iterasi.
Pada system jaringan yang dianalisis, dikenal 3 kategori bus yang mempunyai besaran-
besaran tertentu yakni:

1. Swing bus (sering juga disebut floating bus, slack bus atau referensi bus) yang dipilih
diantara bus-bus generator yakni generator yang mempunyai kapasitas yang tertinggi
diantara generator yang terpasang pada suatu system yang dianalisis. Bus ini mempunyai
harga magnitude dan harga sudut phase tertentu, untuk membangkitkan tegangan yang
diperlukan biasanya diberikan harga 1.0 + j 0.0 s/d 1.06 + j 0.0. Swing bus ini harus
mampu membangkitkan daya riil dan daya reaktif yang diperlukan untuk melayani
kebutuhan bus beban dan untuk mengimbangi rugi-rugi daya yang diderita oleh saluran
transmisi pada system jaringan yang dianalisis.
2. Voltage control bus yakni bus yang mempunyai harga magnitude tegangan dan harga
daya reaktif tertentu.
3. Load bus yakni bus yang mempunyai harga daya riil dan daya reaktif yang tertentu yang
diperoleh berdasarkan hasil pengukuran pada saat tertentu dalam kondisi beban puncak.
Harga tegangan pada bus ini harus dicari dengan memberikan harga asumsi terlebih
dahulu untuk kemudian diproses secara iterasi sampai tercapai harga konvergen yang
sesuai dengan batas-batas ketelitian yang diinginkan (antara 10-3 s/d 10-5).

3.1.2 Data-data yang diperlukan

Data-data yang diperlukan untuk perhitungan analisis aliran beban adalah meliputi data-
data sebagai berikut:
a. Data-data dari system transmisi
Data-data ini berupa harga impedansi tiap-tiap cabang dan harga element shunt
dari equivalen untai yang dipakai, sebagai akibat dari adanya shunt capacitance line
to neutral, parallel capacitor, element shunt dari equivalent tap transformer dan lain-
lain.
b. Data-data beban pada tiap bus
Data-data beban (Mwatts dan Mvars) diperoleh dari hasil pengukuran pada tiap
bus dalam system pada kondisi beban puncak untuk keadaan kondisi normal, atau
diberikan berdasarkan perkiraan-perkiraan buat melayani kebutuhan masa depan.
c. Data-data yang dibangkitkan oleh generator
Data-data daya (active dan reactive power) yang dibangkitkan oleh tiap generator
terpasang, diperoleh berdasarkan kapabilitas dari generator yang bersangkutan. Tetapi
pada swing bus berpa besarnya daya yang harus dibangkitkannya, baru bias diketahui
setelah proses perhitungan analisis aliran beban selesai.
d. Data-data transformator
Data-data transformator yang dimasukkan kedalam perhitungan analisis aliran
beban adalah data-data reaktansi dan data-data tiap trafo dari tranformator tersebut,
bila dijumpai pemakaian jenis-jenis trafo tertentu dalam jaringan transmisi yang
dianalisa misalnya:
- Fixed tap setting transformator
- Tap changing under load transformers
- Phase shifting transformers
Dalam hal ini trafo-trafo tersebut digambarkan sebagai suatu cabang dalam
jaringan transmisi yang dianalisis.

3.1.3. Cara pengerjaan analisis aliran beban

Secara umum pengerjaan analisa aliran beban adalah menurut langkah-langkah sebagai
berikut ini :

Langkah ke 1

Pembentukan matriks parameter yang dipakai, apakah berupa matriks admittansi ataukah
matriks impedansi.

Langkah ke 2

Memberikan harga asumsi tegangan-tegangan pada tiap bus dari system, yaitu harga yang
tertentu (fixed) untuk magnitude dan sudut phase tegangan padaswing bus, dan harga asumsi
sementara dari besaran-besaran tersebut pada bus-bus lainnya.

Langkah ke 3
Prose iterasi yang bias dikerjakan dalam berbagai metode penyelesaian (akan dibicarakan
kemudian).

Langkah ke 4

Melakukan perhitungan aliran daya tiap cabang dan tegangan (magnitude dan sudut
phase) tiap bus, termasuk daya aktif dan daya reaktif yang dibangkitkan oleh swing bus, daya
aktif dan daya reaktif total yang dibangkitkan oleh semua bus generator yang ada pada jaringan
system yang dianalisis, dan jumlah total dari beban pada semua bus (Mwatts dan Mvars)
termasuk perhitungan rugi-rugi daya tiap cabang.

Langkah-langkah pengerjaan analisis aliran beban seperti diatas dapat disusun kembali
dalam bentuk aliran kerja (flow chart) yang dilukiskan seperti pada gambar 5.

3.1.4. Persamaan umum system tenaga

Persamaan-persamaan yang digunakan dalam perhitungan-perhitungan analisis aliran


beban secara umum adalah sebagai berikut :

a. Persamaan Karakteristik Jaringan


Persamaan yang menggambarkan karakter dari suatu jaringan tenaga listrik dapat
dinyatakan dalam bentuk :
- Untuk konsep simpul dalam penganalisisan
EBUS = ZBUS IBUS (22)
atau IBUS = YBUS EBUS (23)
dimana: EBUS = vector tegangan bus yang diukur terhadap referensi bus
IBUS = vector arus injeksi pada bus
ZBUS = matriks impedansi bus
YBUS = matriks admitansi bus
- Untuk konsep cincin dalam penganalisisan dinyatakan dalam bentuk :
ELOOP = ZLOOP ILOOP (24)
atau ILOOP = YLOOP ELOOP (25)
dimana tiap-tiap besaran dinyatakan dalam bentuk loop.
start

Baca Data

Bentuk Matriks Parameter

Tentukan Kondisi Awal

Kerjakan Proses Iterasi

Tidak
Konvergen ?

Ya

Hitung Aliran Daya

Tidak
Semua Data Sudah Diproses?

Ya

stop

Gambar 5. Flow chart (umum) analisis aliran beban.


b. Persamaan arus bus
- Apabila dalam pemberntukan parameter matriks, dimasukkan pengaruh dari elemen-
elemen shunt jaringan tiap cabang terhadap tanah, maka besar arus tiap bus dihitung
berdasarkan rumus sebagai berikut :
PP j QP = E*P IP (26)
Ppj Qp
atau IP = (27)
Ep

dimana : PP = daya aktif pada bus p


QP = daya reaktif pada bus p
IP = arus pada bus p
E*P = koyugate dari Ep
- Apabila pengaruh dari elemen-elemen shunt tersebut tidak dimasukkan kedalam
pembentukan parameter matriks yang dipakai, maka besar arus tiap bus adalah sebagai
berikut:
Ppj Qp
IP = yP Ep
Ep

dimana : yp = jumlah total shunt admitansi tiap bus

yp Ep = arus shunt yang mengalir dari bus p ke tanah

Elemen-elemen shunt tiap bus terhadap tanah dapat dianggap sebagai sumber arus
dan harga-harga dari :

- Ip positif, berarti arus mengalir menuju/masuk bus, atau ditentukan bahwa bus yang
bersangkutan adalah sumber arus
- Ip negative, berarti arus meninggalkan/keluar bus, atau bus yang bersangkutan dianggap
sebagai bus beban.

c. Persamaan aliran daya tiap cabang


Persamaan aliran daya tiap cabang didasarkan pada aliran arus yang mengalir
pada cabang tersebut dari suatu bus tertentu ke bus yang lain, yang biasa dinyatakan
dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
ipq = (Ep - Eq) ypq + Ep ypq/2 (29)
dimana : Ep = tegangan bus p yang diperoleh sesudah iterasi

Eq = tegangan bus q yang diperoleh sesudah iterasi

ypq = admitansi cabang pq

ypq/2 = shunt admitansi cabang pada tiap bus

Arus ipq ini akan memberikan daya pada cabang pq tersebut sebesar:

Ppq j Qpq = E*p ipq

= E*p (Ep - Eq) ypq + E*p Ep ypq/2 (30)

yang mengalir dari bus p ke q.

Dengan cara yang sama, bias pula ditentukan besar aliran daya pada cabang pq
tersebut, bila arah alirannya dari bus q ke bus p yaitu:

Pqp j Qqp = E*q (Eq - Ep) ypq + E*q Ep ypq/2 (31)

d. Rugi-rugi daya pada tiap cabang antara bus


Rugi-rugi daya cabang antara bus p dan bus q adalah jumlah aljabar aliran daya
bus p ke bus q dan dari bus q ke bus p pada cabang yang bersangkutan dan dapat
dinyatakan dalam persamaan:
Ppq(loss) = Ppq + Pqp
Qpq(loss) = Qpq + Qqp
Berdasarkan aliran daya tiap cabang dalam jaringan system tenaga listrik yang
dianalisis bias ditentukan rugi-rugi daya yang terjadi selama operasi untuk keadaan beban
tertentu, dan kemampuan (cabacity) kawat transmisi yang dipakai apakah masih
memenuhi syarat batas-batas kemampuannya dalam mengalirkan arus untuk beban
tersebut, ataukah harus diganti dengan kawat dalam ukuran penampang yang lebih besar
demi untuk menyempurnakan operasi system tenaga listrik yang terpasang.
e. Tugas-tugas perhitungan yang lain
Selain perhitungan-perhitungan yang diuraikan diatas, masih ada tugas-tugas
perhitungan lain yang bias ditentukan sebagai berikut:
- Besar daya yang harus dibangkitkan oleh swing bus yang dapat dinyatakan sebagai
jumlah aljabar dari semua aliran daya pada cabang yang berhubungan dengan swing bus
tersebut, apabila swing bus diberi nomor satu, maka daya yang dibangkitkan oleh swing
bus ini dapat dinyatakan oleh persamaan sebagai berikut:
P1 jQ1 = nq=2(P1q jQ1q) (33)

dimana n adalah jumlah bus yang langsung berhubungan dengan swing bus.

Semua rugi-rugi daya yang timbul pada saluran transmisi dapat diimbangi oleh
swing bus tersebut.

- Besar total dari beban yang harus dilayani system.


- Besar total dari kapabilitas generator-generator yang mendukung beban tersebut.
Dari hasil perhitungan-perhitungan ini bias dilihat sampai batas ukuran berapa system
tenaga listrik yang dianalisis tersebut sanggup melayani beban yang dipunyainya, dan apakah
generator-generator yang terpasang pada system tersebut masih berada dalam batas-batas
kapasitasnya untuk melayani beban yang didukungnya.

3.2. Metode-metode penyelesaian analisis aliran beban

Cukup banyak metode untuk menyelesaikan analisis aliran beban yang dalam bab ini
akan dibicarakan berbagai macam metode pemecahan secara singkat.

Dalam metode-metode pemecahan aliran beban, mula-mula harga daripada besaran-


besaran yang tak diketahui dimisalkan terlebih dahulu, yang merupakan pendekatan pertama, dan
mencari harga koreksi daripada besaran-besaran tersebut untuk mendapatkan harga pendekatan
kedua. Hal ini dikerjakan untuk semus bus.
Kalau harga-harganya belum sama (mendekati) dengan harga-harga yang dikehendaki,
maka iterasi (eliminasi) ini dilanjutkan lagi sampai mendapatkan harga dalam toleransi yang
dikehendaki dan proses iterasi dihentikan.

Berdasarkan proses metode matematika yang dipakai untuk keperluan analisis aliran
beban, maka metode-metode yang digunakan untuk keperluan ini dapat digolongkan menjadi 4
macam metode sebagai berikut:

i. Metode Matriks Admitansi Simpul


ii. Metode Matriks Impedansi Simpul
iii. Metode Matriks Admitansi Cincin
iv. Metode Variasi Matriks
Keempat metode ini akan dibahas satu persatu dibaawah ini secara singkat.

3.2.1. Metode matriks Admitansi Simpul

Didalam metode ini digunakan rumus dasar yang akan dipakai pada semua metode
matriks admitansi simpul yakni persamaan untuk arus dan tenaga sebagai berikut:
Ip = nq=1 YpqEq (34)
Pp jQp = E*p Ip (35)
dimana: n = jumlah bus
Ip = jumlah daripada arus yang masuk ke bus p
Ypq = elemen-elemen daripada matriks admitansi.
Bila p = q, Ypq sama dengan jumlah harga dari semua dari pada yang
dihubungkan ke bus p
Bila p # q, Ypq sama dengan harga negative dari pada admitansi yang
menghubungkan bus p dan bus q
Eq = tegangan pada bus (simpul) q
Pp = daya riil yang masuk ke simpul p
Qp = Daya reaktif yang masuk ke simpul p
Dalam berbagai pemecahan yang memakai metode dasar ini yang dipakai adalah
persamaan (34) dan (35) diatas untuk mencari harga-harga tegangan yang tak diketahui sebagai
fungsi daripada variable-variabel yang diketahui dengan merubah-ubah persamaan-persamaan
diatas tanpa mengadakan invers matriks.
Dalam pemakaian metode matriks admitansi simpul ini, relative bahwa jumlah iterasi
untuk mencapai konvergensi adalah lebih besar.
Cara-cara yang termasuk dalam kategori ini adalah metode Ward & Hale, metode Glimn
& Stagg atau disebut juga metode iterasi Gauss Siedel dengan menggunakan YBUS dan metode
Jordan yang memakai metode Relaksasi yang masing-masing akan dibahas secara singkat
dibawah ini.

3.2.1.1. Metode Ward & Hale

Yang mula-mula mengembangkan metode yang betul-betul otomatis untuk memecahkan


persoalan-peroalan analisis aliran beban adalah Ward & Hale, yang dipublikasikan pada tahun
1956 dalam majalah AIEE yang kemudian tulisan ini merupakan awal dari semua pemecahan
dalam masalah analisis aliran beban ini.
Berdasarkan persamaan (34) dan (35) bias diturunkan perumusan untuk tenaga dimana
persamaan diatas dipecah ke dalam bagian riil dan imajiner sebagai berikut:
Bagian riil : Pp = Re (E*p Ip) (36)
Bagian imaginair : Qp = Im (E*p Ip) (37)
Dalam hal ini diadakan koreksi pada tegangan dan arus sehingga Ep menjadi Ep + dEp
dan Ip menjadi Ip + dIp dan diperoleh persamaan sebagai berikut:

=1 ()
= = = Yp

dIp = Ypq dEp (38)


Pps = Re {(Ep + dEp)* (Ip + Ypq dEp)} (39)
Qps = Im {(Ep + dEp)* (Ip + Ypq dEp)} (40)
[Eps]2 = [ Ep + dEp]2 (41)
dimana: Pps = bagian riil dari daya yang diketahui
Qps = bagian imaginair dari pada yang diketahui
Eps = tegangan bus yang diketahui
Ep = estimate voltage
Ip = arus yang dihitung dengan persamaan simpul
dEp = tegangan koreksi yang bias dijumlahkan pada Ep akan membuat persamaan (39)
dan (40) serta (41) sama dengan besaran-besaran yang diketahui.
Untuk bus generator digunakan persamaan-persamaan (39) dan (41) sedangkan untuk bus
beban digunakan persamaan (39) dan (41).
Iterasi dikerjakan sampai selesai dimana harga-harga dari pada semua besaran sampai
aliran pada ketelitian yang dikehendaki, baru kemudian dihitung aliran bebannya dengan
menggunakan persamaan (42) sebagai berikut:
Ppq jQpq = Ep* Ypq (Ep Eq) (42)
Iterasi masih bias dipercepat dengan memasukkan factor percepatan yaitu dengan
mengalikan harga-harga koreksi dalam persamaan (39), (40), dan (41) dengan suatu factor yang
lebih besar dari satu.
Metode Ward & Hale ini juga masih bias diperbaiki agar konvergensinya bias lebih cepat
dengan menggunakan metode Aitken, yaitu dengan mengadakan extrapolasi dari pada tiga hasil
iterasi yang berurutan. Untuk iterasi ke-3, tegangannya:
(Ep)k+2 (Ep)k+1
(Ep)k+3 = (Ep)k+1 - ()2 (43)
+2 ()+1 + ()

3.2.1.2. Metode Glimn & Stagg

Metode Glimn & Stagg merupakan penyederhanaan dari pada metode Ward & Hale.
Pada umumnya usaha utama dalam analisis aliran beban adalah pengembangan metode
perhitungan dan khususnya untuk pemecahan dengan metode simpul adalah untuk mempertinggi
kecepatan konvergensi dari pada iterasi.
Untuk suatu bus p, arus input Ip yang disebabkan karena adanya tenaga sebesar Pp jQp
pada bus p adalah:
Ip = ypo (Ep Eo) + yp1 (Ep E1) + + ypn (Ep En) (44)
dimana n adalah jumlah bus (tidak termasuk ground), untuk ground mempunyai index nol.
Apabila E yaitu tegangan pada tanah, nol dan diketahui pula bahwa E*p Ip = Pp jQp
maka didapatkan :

= (ypo + yp1 + + ypn) Ep yp1 E1 yp2 E2 - - ypn En (45)


+ 1 1 + 2 2 + ..+

Ep = (46)
ypo + yp1 + + ypn

+
=1


Ep = n
(47)
q=0 ypq
qp

Dalam persamaan diatas, dalam penyebut sudah termasuk admitansi ketanah dari line
charging, static capasitor atau admitansi ke ground yang lain.
Bila p adalah bus beban, langsung dihitung tegangan Ep dengan harga-harga tegangan
sebelumnya, harga-harga Pp & Qp sudah diketahui, sedangkan bila bus p adalah bus generator
maka Qp harus dihitung dulu dengan harga-harga Ep sebelumnya. Disamping itu Pp sudah
diketahui dan tegangan bus generator sudah ditentukan nilainya dari persamaan (47). Karena
pada bus generator harga mutlak dari tegangan sudah ditentukan, maka untuk mengkoreksi agar
harga mutlak dari tegangan yang sesungguhnya, komponen riil dan imaginair harus dibagi
dengan factor [Ep]/[Eps] dimana [Eps] adalah harga mutlak dari pada tegangan bus yang
sebenarnya.

3.2.1.3. Metode Iterasi Gauss dengan manggunakan YBUS

Pada prinsipnya metode ini sama dengan metode Glimn & Stagg dimuka. Penyelesaian
problem aliran beban dengan metode ini mengasumsikan tegangan pada setiap bus (kecuali slack
bus).
Arus pada semua bus, kecuali slack bus (yang diberi indeks huruf s) dihitung dari
persamaan berikut ini:


Ip = p = 1,2,,n (48)

ps
Untuk seluruh system bias diadakan perumusan matriks sebagai berikut :
IBUS = YBUS EBUS (49)
Dimana : IBUS adalah matriks kolom dari pada arus-arus bus
YBUS adalah matriks kolom dari pada tegangan-tegangan bus
EBUS adalah matriks admitansi dari pada system
Kalau tanah (ground) dipilih sebagai bus referensi, maka dari persamaan (49) didapat
persamaan arus dan tegangan untuk setiap bus adalah sebagai berikut:

Ipp = Ypp Ep + =1 (50)



1
Ep = (Ip =1 ) p = 1,2,,n (51)

ps
Mula-mula semua arus dihitung dengan menggunakan persamaan (48) dengan
memasukkan asumsi dari tegangan. Arus-arus yang telah dihitung tadi bersama-sama dengan
tegangan asumsi diapakai untuk menghitung tegangan-tegangan yang baru dengan menggunakan
persamaan (51). Tegangan-tegangan yang baru ini digunakan untuk menghitung arus-arus bus
dengan memakai persamaan (48) yang kemudian dipakai lagi untuk menghitung tegangan yang
baru. Demikian seterusnya sehingga perubahan tegangan pada semua bus bias diabaikan (dalam
batas toleransi yang dikehendaki).
Setelah semua tegangan didapat, aliran beban dan daya yang dibangkitkan oleh slack bus
bias dihitung. Untuk memudahkan perhitungan, maka perlu diadakan perubahan-perubahan
dalam persamaan-persamaan diatas, seperti halnya persamaan (48) dan (51) bias digabungkan
menjadi :

1
Ep = ( - =1 ) p = 1,2,..,n (52)

ps
sehingga variabelnya hanya tegangan saja. Persamaan ini merupakan persamaan non-linear, yang
dapat diselesaikan dengan metode iterasi.
Selain itu diadakan pula perubahan-perubahan bentuk matematiknya, agar waktu yang
digunakan untuk menghitungnya bias dikurangi dengan mengambil :

1
= Lp

Maka persamaan (52) dapat dituliskan sebagai berikut :


( )
Ep = - =1 ) p = 1,2,.,n (53)

ps
Dan bila mengambil (Pp jQp) Lp = K Lp dan Ypq Lp = Y Lpq
Persamaan (53) diubah menjadi :


Ep = - =1 p = 1,2,.,n (54)

ps
Dengan menggunakan persamaan (54) tersebut, arusnya sudah tidak perlu dihitung lagi.
Untuk mempermudah pengertian tersebut, bias dilihat contoh dibawah ini :

Gaambar 6. Contoh Jaringan

Matriks Admitansi dari system jaringan diatas :

1 2 3 4 5 6
1 Y11 Y21 Y31 Y41
2 Y21 Y22 Y25 Y26
YBUS = 3 Y31 Y33 Y35
4 Y41 Y44 Y46
5 Y52 Y53 Y55
6 Y62 Y64 Y66

Bus no 2 adalah slack bus, sehingga persamaan-persamaan untuk iterasiGauss adalah


sebagai berikut :

1+1 = (1) - YL12 E2 YL13 E2 YL13 E3k - YL14 E4k
1

E2 = ditentukan sebagai tegangan yang tetap (fix)



3+1 = (3) - YL12 E2 YL31 E1k YL35 E5k
3

4
4+1 = () - YL41 E1k YL46 E6k
4


5+1 = (5) - YL52 E2 YL53 E3k
5

6
6+1 = () - YL62 E2 YL64 E4k
6
3.2.1.4. Metode Iterasi Gauss Seidel dengan menggunakan YBUS

Metode Gauss Seidel merupakan modifikasi dari pada metode Gauss. Persamaan
tegangan bus (54) dapat diselesaiakan sebagai berikut :
Tegangan +1 yang baru saja didapat dipakai langsung sebagai pengganti untuk
menghitung persamaan-persamaan berikutnya. Untuk contoh system jaringan pada gambar 6
persamaan-persamaannya menjadi :

1+1 = (1) - YL12 E2 YL13 E2 YL13 E3k - YL14 E4k
1

E2 = harganya tetap (fix)



3+1 = (3) - YL31 E1k+1 YL35 E5k
3

4
4+1 = () - YL41 E1k+1 YL46 E6k
4


5+1 = (5) - YL52 E2 YL53 E3k+1
5


6+1 = (6) - YL62 E2 YL64 E4k+1
6

3.2.1.5. Metode Relaksasi

Metode ini merupakan modifikasi dari pada metode Ward & Hale yang dikembangkan
oleh Jordan pada tahun 1957, yakni memproses besaran arus tiap bus secara iterasi untuk
memperoleh harga tegangannya dengan menggunakan parameter matriks admitansi simpul
(YBUS). Dengan metode ini konvergensinya akan jauh lebih cepat.
Berdasarkan persamaan (34) maka arus untuk bus p :
Ip = Yp1 E1 + Yp2 E2 + + Ypn En
Pada umumnya harga Ip ini tidak sama dengan harga Ip yang didapatkan dari persamaan
(35). Beda antara kedua harga tersebut adalah sebagai berikut :

= - = ( )

Dimana : k = nomor iterasi


= disebut residu arus beban pada iteras ke-k dan menunjukkan error arus pada bus p.
Kita lihat disini, apabila semua Rp telah berkurang menjadi atau mendekati nol, berarti
semua tegangan yang diperoleh telah memenuhi kondisi-kondisi yang telah ditentukan sehingga
tegangan bus akan didapat.
Pada dasarnya relaksasi dikerjakan dengan membagi harga negative dari pada harga
residu yang terbesar, -Rp dengan -Ypp untuk memperoleh harga koreksi tegangan sebagai berikut:

Beri Nilai